[Vignette] One Dance by slmnabil

PicsArt_07-02-05.46.50

One Dance

by slmnabil

EXO’s Kim Jongin x OC’s Hong Seoljin x EXO’s Park Chanyeol

Romance * PG-15 *Vignette

Cara Kim Jongin mencintai seseorang jelas salah sekali

*

Luar biasa melihat bagaimana ego Kim Jongin bertumbuh jauh lebih dewasa daripada dirinya sendiri. Seolah egonya perlu sekali dirawat, ditimang, dan dikejar apabila melarikan diri. Setidaknya untuk Hong Seoljin memang begitu adanya—dan dia meragukan ada yang lebih kenal Jongin daripada dirinya.

Hanya Seoljin yang tahu kaki mana dulu yang Jongin turunkan dari ranjang saat bangun tidur. Kelopak mata sebelah mana dulu yang akan ia hilangkan kotorannya. Bahkan sampai yang terinci seperti; berapa lama waktu yang Jongin hamburkan untuk menguap—juga selebar apa diameter mulutnya.

Tidak, tidak. Bukan karena Seoljin rajin mengawasi Jongin, pria itu sendiri yang menceritakan detailnya kepada Seoljin. Tidak penting memang. Tapi kalau kata Jongin itu romantis, bisa apa lagi dia? Toh, kemungkinan Jongin mau mendengarkan pendapatnya—kalau itu bodoh–nyaris tak ada, mengingat betapa dia mengutamakan dirinya di atas segalanya. Penyakit Jongin, begitu Seoljin menyebutnya.

“Jongin, tolong! Aku tidak bisa konsentrasi.” Suara Seoljin nyaris memekik, kalau dinaikkan sedikit lagi mungkin seisi restoran akan menjadikannya pusat perhatian.

Di sampingnya, Jongin tampak tak ambil pusing. Ia masih saja dengan kegiatannya memainkan rambut Seoljin. “Tapi rambutmu, aku suka.”

Dalam situasi normal, sungguh Seoljin juga akan menerima dengan senang hati sentuhan Jongin. Hanya saja kalau dia sedang dikejar waktu untuk menentukan potret-potret mana yang akan dipajangnya untuk pameran perdananya besok, tindakan Jongin ini tidak bisa ditoleransi. Seoljin bahkan sempat curiga kalau diam-diam Jongin dibayar saingannya untuk menyabotase pamerannya.

“Bagaimana kalau kau diam sampai aku menyelesaikan ini? Sebagai balasannya kau boleh mengepang, mewarnai atau bahkan menggunduli rambutku setelahnya. Itu milikmu, terserah saja.”

Sejenak Jongin berpikir, tawaran Seoljin agak jarang-jarang diberikan. Tapi kalau diiyakan, menunggu kekasihnya itu sama sekali tidak menyenangkan. Apa bagusnya buang waktu memilih foto-foto yang sekilas semua terlihat sama? Jongin terkadang meragukan profesi Seoljin sebagai photographer. Pekerjaan Jongin, ‘kan, lebih jelas. Keindahan untuk dirinya sekaligus orang lain. Dan Seoljin jelas tak akan kebosanan melihat Jongin menari selama apapun.

“Kesepakatannya tidak menguntungkan,” kata Jongin sukses mengundang ekspresi sebal di wajah Seoljin. “Tapi karena aku cinta sekali padamu, baiklah akan kulepaskan.”

Hong Seoljin tidak lantas senang. Sudah diberitahu, dia kenal sekali siapa Jongin. Mustahil Kim Jongin membuat kesepakatan yang cuma-cuma.

“Setelah selesai langsung ke studioku. Selamat bekerja, Sweetheart.” Jongin memasukkan barang bawaannya ke ransel kemudian meninggalkan kecupan di dahi Seoljin. Dan dia pergi.

Tidak kapan saja Seoljin diperbolehkan Jongin ke studionya. Tapi sekali menjejakkan kaki ke lantai kayunya, pernah hampir setengah hari dia di dalam sana. Melihat Jongin menumpukan kakinya ke kanan dan kiri, menyaksikannya banjir keringat, seolah itu sayang sekali bila dilewatkan.

Seoljin tak yakin apakah dia akan menuruti permintaan Jongin atau tidak. Besok hari penting buatnya dan bukan ide bagus untuk menghabiskan satu malam sebelumnya bersama Jongin.

Oh, ini tidak akan bagus, pikirnya sebelum deringan nyaring dari ponselnya menusuk-nusuk pendengarannya.

*

Hong Seoljin tidak tahu siapa yang seharusnya disalahkan. Dia atau Jongin? Bukan salahnya kalau kemarin tiba-tiba penanggung jawab pameran menghubunginya dan memanggil Seoljin untuk rapat dadakan, jadi ia tidak dapat memenuhi permintaan Jongin. Sampai rumah saja setengah dua belas mala plus hari itu terlalu melelahkan untuk Seoljin.

Tapi dari sekian banyaknya hari, kenapa Kim Jongin tidak bisa menyimpan egonya dan datang ke pameran foto perdananya? Pria itu pun jelas tahu momen ini sangat krusial.

Apakah kemarin Jongin terluka saat berlatih menari? Barangkali kakinya terpelintir. Atau mungkin ia terlambat bangun? Atau tuksedo yang ia beli seminggu sebelumnya mendadak ketumpahan wasabi?

Banyak sekali pikiran positif yang berdatangan, hanya Seoljin tidak yakin ada satupun yang tepat. Jongin marah. Justru itulah yang dirasanya benar, dan karena itu pula ia sangat marah sekaligus kecewa pada Jongin sekarang.

Kendati pameran perdananya dikunjungi oleh banyak sekali orang—bahkan beberapa di antaranya adalah orang penting—dan berapa potret yang sudah terjual membuat banyak tambahan nol dalam saldo rekeningnya, Seoljin tidak lantas bahagia. Sejak lima belas menit yang lalu ia menunggu Kim Jongin di pintu masuk, mengabaikan orang-orang yang hendak berbincang dengannya.

 Kim Jongin sialan.

“Nona Hong Seoljin.” Panggilan seorang pria mengusik umpatan Seoljin dalam hati.

Kesan pertama yang pria itu tinggalkan pada Seoljin adalah; tampan, sopan, dan jelas kaya. Kalau tak salah ingat Seoljin bahkan pernah melihatnya di majalah bisnis ayahnya. Pantas saja tidak terlalu asing.

“Park Chanyeol,” katanya memperkenalkan diri sembari menyodorkan tangan.

Seoljin melakukan hal serupa. “Anda tidak asing. Pebisnis muda tersukses tahun ini, ‘kan?”

Chanyeol agak tersipu. “Saya tersanjung.”

“Tapi saya tidak bermaksud menyanjung Anda,” timpal Seoljin diselengi tawa ringan. “Mari, saya perlihatkan koleksinya. Mungkin yang lebih spesial?”

Chanyeol harus tahu “spesial” dalam pikiran Seoljin adalah “yang nominalnya lebih tinggi” dibandingkan yang lain.

Pria itu tak bisa menahan tawanya, dan berani sumpah Seoljin melihat telinganya memerah. “Kalau itu berarti Anda menganggap saya juga spesial, tentu saja.”

“Lewat sini,” kata Seoljin seraya mengantarkan Chanyeol ke sisi gedung barat.

Untuk sejenak humor-humor ringan yang dilontarkan Chanyeol membuat Seoljin melupakan kemarahannya pada Jongin. Tidak, tidak. Mungkin ia malah sama sekali tidak memikirkannya.

*

Hong Seoljin sudah menduga kalau dirinyalah yang akan mendatangi Jongin. Selalu begitu.

Pamerannya sudah selesai dan kekasihnya bahkan tidak mau mengalah sampai akhir. Di saat kemarahannya sudah memuncak sampai ubun-ubun, Seoljin mengendarai Audinya menuju studio tari Jongin.

Lampu-lampunya menyala terang, bahkan suara musik balet terdengar samar-samar dari luar. Persis seperti yang Seoljin duga, Kim Jongin lebih memilih banjir keringat dibanding bersetelan rapi untuk datang ke pamerannya.

Ia membuka pintu studio tanpa mengetuk dan mendapati Jongin tengah melatih gerakan berputarnya. Pria itu bahkan tidak berhenti dan menoleh untuk sekadar mengatakan halo.

Sebenarnya kalau Jongin benar terluka atau mau setidaknya menjelaskan dan minta maaf atas ketidakhadirannya, Seoljin sudah berniat memaafkannya. Tapi diperlakukan seakan-akan justru dialah yang salah, apakah itu tidak keterlaluan?

“Kau harus membuat egomu jadi makanan kemasan dan menjualnya di minimarket. Jadi aku bisa memakannya kapan saja kalau lapar,” kata Seoljin diselipi sarkasme. Terdengar penekanan dalam setiap penggalan katanya.

“Sebelum kau datang keputusanku sudah bulat, tapi sekarang aku kacau lagi,” timpal Jongin sembari mematikan musiknya.

Seoljin menderapkan langkahnya masuk ke dalam lalu berdiri tepat di hadapan Jongin dengan menyilangkan lengan. “Coba pikirkan siapa yang sebenarnya lebih kacau.”

Jongin mengulurkan lengannya hendak menarik Seoljin dan memeluknya, hanya saja gadis itu cepat-cepat mundur defensif. Ekspresinya seolah-olah mengatakan, “Satu jari menyentuhku, kau habis.” Jadi Jongin lebih memilih untuk mengalah.

“Kalau ini soal aku yang tidak datang ke studiomu kemarin, itu karena ada rapat mendadak. Maaf. Tapi masa, sih, kau tidak bisa membiarkannya sekali saja dan datang ke pameranku? Kau tahu betapa pentingnya itu!” Perkataan Seoljin menggema di sepenjuru ruangan. Tubuhnya bergetar. Kalah sudah dia dari air mata yang berusaha ia bendung dari tadi.

“Biarkan aku memelukmu, Sweetheart.” Dari suaranya Jongin jelas tersiksa karena ingin menenangkan Seoljin tapi tak ingin seenaknya mengacuhkan ketidakinginannya untuk disentuh.

“Maafkan aku,” kata Jongin. “Ini adalah hari yang sangat berat untukku. Aku tidak mau menunjukkan wajah kacauku padamu.”

Pandangan Seoljin melembut. “Benar, kau terlihat kacau,” katanya sebelum menghambur ke pelukan Jongin.

Mereka berpelukan cukup lama, cukup untuk membuat air mata Seoljin berhenti dan merasa lebih baik. Karena Jongin sudah minta maaf, maka segalanya akan baik-baik saja.

“Berdansalah denganku,” kata Jongin.

Seoljin tersenyum lemah. “Kenapa itu lebih terdengar seperti ‘Matilah denganku’?” ujarnya. “Kemampuan dansaku payah. Kau boleh berdansa dengan bayanganku saja.”

Tapi Kim Jongin tetaplah Kim Jongin. Ego yang kuat adalah bagian dari dirinya. Ia meletakkan jari-jarinya di pinggang Seoljin, menempatkan tangan kanan gadisnya di bahu kirinya lalu jemari tangan yang satunya saling bertautan.

Jongin tersenyum. “Lebih dekat,” katanya seraya menarik Seoljin sehingga tubuhnya saling bertubrukan.

“Aku nyaris mendengar detak jantungmu kalau sedekat ini.” Seoljin bilang saat Jongin mulai menuntunnya berdansa.

“Tidak masalah.”

Seoljin mengeratkan lengannya ke leher Jongin lalu menyandarkan kepala di dadanya. “Apa yang terjadi hari ini? Kenapa terlalu berat untukmu?”

“Beban rasa bersalah karena tidak bisa datang ke hari penting kekasihku?” ujar Jongin lalu menghirup aroma rambut Seoljin.

“Aku tahu bukan karena itu.”

“Aku mencintaimu, Sweetheart.”

Itu artinya Jongin tidak akan membiarkan Seoljin bertanya lebih jauh. Baiklah, ia selalu bisa mendapatkan jawabannya nanti.

“Katakan lagi,” kata Seoljin.

“Aku sangat mencintaimu, Sweetheart.”

Seoljin sangat suka mendengar Jongin memanggilnya begitu, tapi mari rahasiakan saja. Kalau Jongin tahu bisa-bisa semakin besar kepala dia. Tapi, ada yang aneh dari Jongin hari ini. Seoljin baru menyadari kalau Jongin tidak balas bercanda seperti biasanya. Dia tidak melemparkan humor-humor garing atau bahkan memuji rambutnya. Kim Jongin terlalu … diam. Seoljin mulai merasa kalau Jongin serius soal perkataannya mengenai hari yang berat.

Seoljin melepaskan jarinya dari milik Jongin lalu melarikan lengannya memeluk kekasihnya erat-erat. Ia menyesal karena telah marah-marah tanpa tahu Jongin tengah mengalami sesuatu yang berat. Nilainya adalah nol besar untuk jadi kekasih Jongin.

Jongin balas memeluk Seoljin lebih erat, menghidup aroma rambutnya sebanyak mungkin seolah-olah hidupnya bergantung pada itu. Seolah-olah ia tak akan punya kesempatan lain untuk melakukan ini pada Hong Seoljin.

“Apapun yang aku lakukan padamu, ingatlah bahwa aku sangat mencintaimu.”

Seoljin khawatir, tapi ia tetap tertawa. “Iya, iya. Tidak perlu mendramatisir begitu.”

“Aku mencintaimu, Sweetheart.”

*

Pagi ini perasaan Hong Seoljin lebih bahagia dari sebelumnya. Pamerannya kemarin banyak menuai pujian, ia dan Jongin sudah berbaikan seperti biasanya, bahkan ada satu kejutan yang lain untuknya pagi ini. Sekertaris Park Chanyeol menghubunginya dan mengatakan bahwa pebisnis muda itu mengundang Seoljin ke perusahaannya untuk membeli beberapa foto lagi darinya. Bagaimana Seoljin tidak bahagia?

Jadi sekarang ia baru saja sampai di depan studio Jongin, bermaksud memberitahunya kabar gembira sekaligus meminta diantarkan ke perusahaan Park Chanyeol. Masalahnya kemarin pria itu tidak hanya menunjukkan ketertarikan pada jepretannya, tapi juga padanya. Seoljin berniat membawa Jongin yang maksudnya mengatakan, “Nih! Kau harus jauh-jauh, aku sudah ada yang punya!” secara halus.

Seoljin langsung menerobos masuk tanpa mengetuk, seperti biasa. Jongin tidak ada. Aneh, semalam dia bilang tidak akan pulang. Seoljin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Jongin cepat.

Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. 

“Masa sekarang dia menghanguskan nomornya juga?”

Seoljin mencoba sekali lagi, tapi lagi-lagi tidak tersambung. Baiklah, Seoljin mulai khawatir.

Bertepatan dengan itu seorang lelaki paruh baya yang Seoljin kenal sebagai pemilik studio datang dan menempelkan kertas DISEWAKAN pada kacanya. Jelas ia terkejut karena setahunya Jongin sudah melunasi biaya sewa sampai dua bulan ke depan.

“Permisi, Pak. Kenapa Anda memasang itu? Pacar saya, ‘kan, sudah membayar sewa,” kata Seoljin.

“Kau belum tahu? Ia mengambil uangnya semalam, katanya ia mendapat kesempatan yang lebih bagus dari sekadar bergabung di pertunjukan tari kolosal. Anak itu ingin membuat namanya lebih bersinar, jadi dia menandatangani kontrak dengan agensi. Kau pacarnya, dia tidak bilang?” jelasnya sebelum meninggalkan Seoljin sendirian.

“Tidak, Jongin tidak bilang padaku,” gumam Seoljin lemah.

Nomor yang tak terdaftar. Kontrak dengan agensi. Seoljin tahu ke mana semua ini mengarah, dan terlalu menyakitkan untuk sekedar mengatakannya.

“Cinta katanya? Cih, bodoh benar aku percaya.”

Dalam kepedihan yang melingkupi Seoljin, ponselnya berdering menandakan pesan masuk. Nomor yang tidak dikenal. Tapi Seoljin tak mau mengharap apa-apa.

*

Nona Hong, ini Park Chanyeol. Anda tidak perlu ke perusahaan, saya akan menunggu di restoran. Seketaris saya akan menjemput Anda ke gedung pameran kemarin. 

*

Saya akan bersiap-siap dan menunggu. Sampai ketemu Tuan Park Chanyeol.

—end.

  • Haloooo, udah lama nabil ngga ngepost di say, masih pada ingatkaaah? :))
  • Ini kok berasa gantung ya? Iya emang, hehe. Soalnya ini semacam intro gitu buat ff chaptered nabil selanjutnya woohoooo xd 
  • Minta supportnya yaaa semua❤

 

33 responses to “[Vignette] One Dance by slmnabil

  1. Gatau kenapa aku jadi baper bil!!!!!!!!
    Ehm, jongin ya? Ehm, GGMO yah? Wkwkwkwk
    Asli ini mah baper bil, Jongin YAWLOH ganteng

  2. Jongin ninggalin seoljin ya? Jahat banget! …😦 Halo kakk:) Bagus bgt cerita-nya apalagi kata2-nya ada Gendre Komedi-nya ya. Fighting kak buat ff lain-nya🙂

  3. Aku nemu typo akhirnyaa /sujud syukur /dijambak nabil. Kenapa harus suho? Kenapa harus Kai pergi? Hmm waktu baca Hong pikiran aku langsung terbang ke Jisoo 😏😏. Kai jahat ya dia lebih milih Krystal dibanding Nona Hong aku tahu itu😏😏😏. Wkwkwk gagal mupon ya ni anak. Kumpulan anak gagal mupon ya kita. Banyak bacot ya aku, maafkan /wink

  4. ugh, jongin,,, kasihan deh seoljin..
    dan ngeliat akhir nya,, apa selanjutnya seoljin bakal sama joonmyun?? kok ngerasa kayak ada signal2 seoljin bakal buka hati nya buat joonmyun selagi melupakan jongin…

    ditunggu deh kak kelanjutan nya..
    Fighting!

  5. jongin tuh … cocok banget kalo dibikin yang jatohnya angsty gitu HAHAHAHA. btw haii nabiil for the 1st time aku nongol di tulisanmu di SAY. kita ini seatap dimana-mana ternyata yha nggak IFK nggak WS😄 semoga sukses ff chaptered-nya yhaaa ditunggu loh. laaff ♥

  6. HAE BIL! Pasukan gagal move on beneran inimah wkwk.. laik oggy said, pas pertama baca nama Hong, langsung mengarah ke Jisoo. Uuuh mabae(?)

    Jadi gini awalnya, terus Jongin ikutan agensi terus pacaran sama Krystal gitu? Ninggalin Seoljin gitu?? ((/slap/ ini beda cerita jul)) tapiii saya seneng gaya pacarannya mereka. Emang sih drama banget, tapi still oenyoe buat dibaca. Kalo junmyun itu chanyeol, saya makin semangat baca wkwk /ga

    Next ya thor, keep writing aku suka ceritanya.

  7. Sorry ka ada kalimat yg rada aneh apa guenya yg gangerti deh wkwk tp gapapa
    Pantes aja Jongin udah bilang klo dia emang bener2 cinta ama Seoljin sebelum ninggalin pergi, mungkin takutnya nanti pas Jongin balik jd ga bikin salah paham, tp tetep aja kan yg namanya ditinggalin tiba2 gada penjelasan pasti bikin down lahh-_- huhuuu

  8. Padahal jongin di sini boyfie material bgt ya lord :((( walopun egois, tapu dia ngapa gitu, cinta macem apa itu *emosi* kalo mo gabung ke agensi pan bisa cerita dulu nah ini -.- btw ini bakalan ada lanjutannya pan yha :((((

  9. Dari semua persangka Seoljin,berharapnya jas nya Kim Jongin kena wasabi aja biar kain nya teriak teriak kepedasan,,
    Padahal Seolji sama Jongin itu kayaknya uda cocok banget dan mengerti satu sama lain dan jujur,, itu menurut aku romantis banget
    Tapi

  10. seoljin nanti gk bkalan jdi fans yg bawa kamera2 moto2in jongin pas udah jdi idol kan???
    maaf,,hehehehhee
    tpi ini bneran bkin penasaran deh,,
    tulisan author emg selal keren,, dtungguin yaa
    keep writing

  11. IH SERIUS AKU SUKA BANGETTTTTTT BENERAN. jongin kenapa sih hal penting kaya gitu bukannya diceritain ke seoljin ini kalo seoljinnya diambil junmyeon gimana yaampunnnnnn. Tapi seriusan aku suka banget bahasanya😭😭😭 Semangat yaaa. Pasti aku tungguin kelanjutannya

  12. Pingback: [1st] Snapshots by slmnabil | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Pingback: [2nd] Snapshots by slmnabil | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. Maafkan hayati yang baru bisa comment sekarang. Baru ada waktu sekarang dan untungnya inget lagi.
    Suka pas bagian ‘cinta katanya? bodoh benar aku percaya’
    Tu tu yg berasa bgt klo Seoljin kecewa berat sama jongin. Ahhh pokoknya suka.
    Keep writing!!

  15. Knapa jongin gak blg aja klo dy dikontrak agensi???seoljin ngerasa digntung…chanyeol suka ya sama seoljin😄😄😄

  16. Pantesan jongin blg apapun yg terjadi seoljin hrus tau bhwa jongin cinta. Hmmm tp baper juga msa gk dkasih tau klo msuk agensi nyebelin kan

  17. hayy authorrrr! or nabil ya kalo gasalah. aku ngikutin ff kamu dr jaman yg boy’s problem ituu, terus break up contract yg ga dilanjutin padahal gemes bgt ama sehunnya ughh. maaf baru bisa komen sekarang yaa, suka banget ff kamu! bahasanya santai tapi enak dibacanya kyaa fangirling mode on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s