Trouble Weekend – Kee-Rhopy

Trouble Weekend

Trouble Weekend – Kee-Rhopy

 

Author: Kee-Rhopy | Starring: Luhan & Kang Seri | Genre: Marriage Life, Romance, Comedy, AU | Rating: PG | Lenght: Oneshot

 

 

Luhan termenung di atas sofa. Berbagai pemikiran tentang ‘memiliki anak’ kini memenuhi hampir seluruh bagian otaknya. Bagaimana tidak? Ia belum sanggup menyandang status sebagai seorang ayah sementara Seri sudah hamil 3 bulan. Oh, ya ampun, membayangkan istrinya akan segera memiliki perut besar saja ia tak sanggup, apalagi jika isi perutnya sudah keluar. Pasti merepotakan sekali.

 

“Luhan…”

 

Luhan membulatkan mata begitu Seri memanggil namanya. Parasnya menunjukkan kewaspadaan yang kentara. Oh, apa yang akan terjadi? Kenapa Seri memanggilnya?! Apa jangan-jangan, istrinya itu akan menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak-tidak seperti dua hari yang lalu?

 

“Luhan…”

 

Luhan semakin waspada. Bukannya menjawab panggilan Seri, pria itu malah sibuk mencari celah untuk bersembunyi. Kakinya bergerak tak tentu arah, mencari tempat persembunyian yang sekiranya pas agar Seri tak menemukannya.

 

“YAK, LUHAN! HARUS BERAPA KALI KUPANGGIL AGAR KAU MENJAWABKU?!”

 

Skak mat.

 

Tamat. Luhan membatu di tempat karena Seri kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Sial. Kalau saja apartemen ini lebih luas, ia pasti bisa menemukan tempat sempurna untuk bersembunyi.

 

Mau tak mau Luhan memperlihatkan senyuman lebar yang menampilkan deretan giginya dengan terpaksa. “Kukira kau memanggil Lim,” ucapnya bodoh dengan menyebut nama kucing Persia kesayangannya.

 

“Sejak kapan aku memanggil Lim dengan nama Luhan?” Seri berkacak pinggang saat mengutarakan pertanyaan itu. Suaminya ini memang ada-ada saja. Tak seperti pria kebanyakan, tingkahnya masih diragukan untuk ukuran seorang pria dewasa.

 

“Ehm, sejak aku salah mengira?” jawab Luhan ragu. Telunjuknya terarah pada dirinya sendiri.

 

Seri menghembuskan napas keras. Tak habis pikir dengan kekonyolan suaminya sendiri. Oh, salahkan dirinya kenapa bisa mencintai pria seperti Luhan! “Sudahlah! Kau tak punya kegiatan, kan?”

 

Luhan memutar bola mata. Memikirkan alasan tepat agar terhindar dari perintah Seri. Karena setahunya, pertanyaan Seri barusan merupakan pertanda bahwa istrinya itu akan segera menyuruhnya melakukan sesuatu.

 

“Kuanggap kau tak punya kegiatan.” Seri menarik kesimpulan sendiri karena Luhan tak kunjung menjawab. Mengabaikan desahan Luhan yang sangat kentara. Pria itu pasti menyesal karena tak segera menjawab. Ia yakin itu. “Cepat belikan aku pembalut!”

 

Mwooo??! Kau tahu kalau aku laki-laki, kan?”

 

“Siapa juga yang menganggapmu banci?”

 

Luhan berdecak mendengar jawaban asal Seri. Pria itu hendak melayangkan protes sebelum sebuah persepsi penting menyentuh otaknya. Tu –tunggu! Seri menyuruhnya membeli pembalut sementara istrinya itu sedang hamil? Wanita hamil tak mungkin mengalami menstruasi, kan? “Apa maksudmu, Kang Se?” tanya Luhan akhirnya, tak sanggup menerka lebih jauh lagi.

 

“Aku menyuruhmu membali pembalut.” Seri tak menanggapi kekagetan yang tertera jelas di wajah suaminya dan malah duduk di atas sofa dengan tampang cemberut.

 

“Wanita hamil tak membutuh pembalut, Seri-ah.” suara Luhan melunak. Pria itu beranjak mendekati istrinya dan langsung duduk di samping wanita yang sudah tiga tahun dinikahinya itu.

 

“Aku tahu.”

 

Luhan membulatkan mata. “Lantas?”

 

“Aku hanya ingin kau membelinya.” Seri terlihat kesal saat menjawabnya. Wanita itu kini bahkan sudah beranjak berdiri, lantas meninggalkan Luhan yang masih terpekur dengan pikirannya sendiri menuju kamarnya.

 

Luhan terdiam sejenak. Lalu di detik ketiga belas, ia bergumam pelan dengan helaan napas berat sembari masih memandang kepergian istrinya. “Sudah kuduga, wanita hamil memang merepotkan.”

 

 

Luhan memasuki mini market terdekat dengan jaket tebal melekat di tubuh. Pria itu bahkan sengaja memakai topi dan menutupinya dengan tudung jaket, memakai kacamata hitam dan jangan lupakan masker hitam yang juga menutup mulutnya. Penampilannya persis seperti penculik anak amatir yang tersesat. Biar bagaimanapun Luhan pria tulen, dan ketahuan membali pembalut wanita padahal ia adalah pria merupakan hal memalukan. Bisa disimpulkan kalau penampilannya kali ini untuk menyembunyikan identitasnya sebagai Luhan. Yeah, katakan saja ia tak mau harga dirinya jatuh hanya karena membeli pembalut.

 

Luhan bergerak menuju rak yang berisi pembalut wanita. Matanya menatap menyelidik, menelusuri setiap bungkus pembalut yang berbeda warna. Tiba-tiba tatapannya berhenti pada pembalut berwarna biru. Senyumnya merekah karena warna biru adalah warna kesayangan Seri. Maka tanpa basa-basi lagi langsung diambilnya dan dibawanya pembalut berwarna biru tersebut menuju kasir.

 

Beruntung hanya Luhan pembeli yang mengantri saat ini. Langsung ditaruhnya pembalut itu di meja kasir. Dikeluarkannya ponsel sembari menunggu si penjaga kasir selesai dengan urusannya.

 

“Ini sedang promo. Beli dua gratis satu. Apa anda berminat–”

 

“–Tidak usah.” Luhan memotong cepat. Demi Tuhan, ia tak perlu memakai pembalut, jadi untuk apa membelinya sampai dua bungkus?! Merepotkan sekali!

 

“Sayang sekali. Padahal di dalamnya ada undian berhadiah mobil.” si penjaga kasir kembali bersuara.

 

Luhan tercenung. Berhadiah? Mobil? Woah, pasti menyenangkan sekali kalau ia bisa mendapatkan mobil gratis dari undian berhadiah. Ini kesempatan langka. Tak bisa begitu saja dilewatkan. “Baiklah. Aku beli dua.”

 

Akhirnya, Luhan pulang dengan tiga bungkus pembalut untuk Seri. Dua beli sendiri, satunya lagi karena mendapat promosi.

 

 

“Aku hanya menyuruhmu membeli satu. Kenapa kau malah–”

 

“–Ada undian berhadiah. Kalau menang bisa dapat mobil.” Luhan menjawab cepat dengan senyum lebar yang menampakkan deretan giginya yang putih.

 

Seri menampilkan waah cemberut. Seharusnya ia sadar kalau ketertarikan Luhan pada mobil sudah di atas batas normal. Bahkan mungkin melebihi rasa sukanya terhadap Seri. “Pergilah!”

 

Luhan membulatkan mata. Ia baru saja kembali dari membeli pembalut karena permintaan Seri, tapi sekarang wanita ini malah mengusirnya? Apa ia tak salah dengar?

 

“Kenapa diam saja? Bukankah sudah kukatakan kalau kau boleh pergi?” Seri bertanya retorik dengan nada yang sedikit meninggi.

 

“Kau mengusirku?” Luhan bertanya dengan jari telunjuk menunjuk dada.

 

“Setengah iya, setengah tidak. Iya karena aku tak ingin melihatmu. Tidak karena aku hanya menyuruhmu pergi.”

 

Kini Luhan tak bisa mengontrol kinerja mulutnya untuk tak terbuka. Pria itu benar-benar tak bisa mengerti dengan kelakuan Seri saat ini. Jawaban yang diberikan istrinya itu mengindikasikan bahwa ia baru saja diusir –meski Seri mengatakannya dengan kalimat lain. “Baiklah kalau itu yang kau mau.”

 

Luhan memutar tubuh, lantas segera melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar kamar mereka. Namun di langkah ketiga, kakinya berhenti bergerak karena suara Seri kembali terdengar.

 

“Dan kau benar-benar pergi begitu saja hanya karena aku menyuruhmu pergi?” Seri mendengus kesal. Entah kenapa segala hal yang dilakukan Luhan membuatnya terusik. “Dasar jahat!” umpatnya kemudian.

 

Luhan menutup mata, menarik napas, menghembuskannya, lalu perlahan berbalik ke arah Seri. Sungguh! Ia dibuat bingung sekaligus kesal dengan tingkah istrinya ini. “Ada apa lagi?” tanyanya, mencoba bersabar.

 

Seri kembali mendengus, tak sudi melihat wajah suaminya yang terasa sangat menyebalkan.

 

“Bukankah kau menyuruhku pergi?” Luhan kembali bersuara.

 

Diam. Tak ada jawaban.

 

“Kau butuh sesuatu lagi?”

 

Tetap diam.

 

“Bagaimana aku tahu kalau kau tak mengatakannya?”

 

Nihil.

 

“Baiklah, kalau begitu aku pergi.” Setelah mengatakannya, Luhan kembali memutar tubuh dan hendak membuka engsel daun pintu saat tiba-tiba suara Seri muncul.

 

“Dasar jahat!”

 

Mungkin Luhan sudah terlalu lelah meladeni keanehan istrinya hingga pria itu tak lagi berniat menghentikan langkah seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia tetap membuka daun pintu, menggerakkan kaki satu langkah, berbalik, lalu menutup pintu kamar itu kembali. Ia benar-benar tak tahan dan kesal sekali dengan kelakuan Seri yang aneh dan menyusahkan. Ini hari libur dan sudah seharusnya Luhan bersantai saat ia tak perlu terbebas dari tumpukan dokumen yang berteriak meminta diselesaikan. Tapi Seri malah menghancurkan harinya yang indah dengan kelakuan aneh seperti membeli pembalut, marah tak jelas dan sebagainya. Kesabarannya habis dan ia memutuskan untuk mengabaikan Seri. Lagipula, dalam beberapa jam ke depan Seri pasti kembali ke sikap normal. Luhan yakin itu.

 

Sambil menanamkan keyakinan bahwa Seri akan pulih pada waktunya, Luhan menghela napas dan hendak melangkahkan kaki untuk menjauh dari kamar sebelum suara tangis menyentuh indera pendengarnya. Suara tangis yang perlahan diikuti dengan isakan keras itu sukses membuat Luhan membatu. Satu hal yang paling tak bisa membuat Luhan berkutik adalah tangisan Seri. Luhan bisa saja beradu argumen dengan sang istri selama berjam-jam dan tak mau mengalah sedikitpun, namun saat wanita itu mulai menangis, ia akan dengan senantiasa mengaku kalah dan memohon agar wanita yang dicintainya itu berhenti mengeluarkan air mata. Luhan bisa saja menghentikan segala bentuk pekerjaan saat mendengar suara tangis istrinya. Biarpun memalukan, harus Luhan akui bahwa kelemahan terbesarnya adalah tangisan Seri.

 

Luhan memutar tubuh kembali dan berhadapan langsung dengan pintu kamar yang tertutup. Dipandanginya pintu itu lama dengan beberapa helaan napas yang keluar secara paksa. Pada akhirnya ia harus mengalah untuk membuat tangis itu berhenti.

 

Cklek!

 

Pintu kamar kembali terbuka, menampilkan sosok Luhan yang membatu melihat siluet Seri yang menangis sesenggukan di atas ranjang. Dengan langkah berat, dilangkahkannya kaki mendekati sang istri yang membenamkan wajahnya di atas bantal dengan posisi duduk.

 

“Seri-ah…” Luhan duduk tepat di samping Seri sambil memegang lembut pundak istrinya itu. “Kenapa menangis?”

 

Tak ada jawaban. Hanya suara isak tangis yang terdengar semakin menyanyat hati. Oh, apa yang harus Luhan lakukan?

 

“Baiklah, baiklah. Aku salah dan, aku minta maaf. Kumohon berhentilah menangis dan membuatku khawatir.”

 

“Bohong!” Seri tiba-tiba mendongak dari posisinya, menatap Luhan dengan pandangan tertajam yang ia punya.

 

Lagi-lagi Luhan kebingungan.

 

“Bohong kalau kau mengkhawatirkanku!” Mungkin Seri bisa membaca raut Luhan yang kebingungan hingga ia lebih memperjelas maksud dari kata-katanya.

 

“Apa maksudmu? Aku benar-benar–”

 

“Kalau kau mengkhawatirkanku, kau akan langsung menjawab saat kupanggil. Tapi apa yang kau lakukan? Kau menghindari panggilanku. Bahkan sampai membawa-bawa Lim segala!” Seri memberi penjelasan dengan nada yang terdengar kesal.

 

Oops, Luhan mengaku salah dalam hal ini. Maka ia memutuskan untuk diam saja dan terus mendengarkan penjelasan Seri.

 

“Lalu saat aku menyuruhmu membeli pembalut. Bukannya bertanya untuk apa pembalut itu, kau malah mengedepankan harga dirimu sebagai laki-laki. Aku–”

 

“–Tunggu! Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa wanita hamil tak butuh pembalut?” Luhan menginterupsi. Raut paniknya perlahan berubah karena Seri kini tak lagi mengeluarkan air mata.

 

“Memang. Tapi hanya sampai di situ saja. Saat aku berkata aku hanya ingin membelinya, seharusnya kau bertanya lebih lanjut kenapa aku ingin membelinya dan untuk apa aku membelinya!” Seri berapi-api. Wanita itu benar-benar tersulut emosi.

 

Luhan mengangguk tiga kali. Meski sebenarnya ia tak tahu dimana letak kesalahannya dalam hal ini.

 

“Lalu kau kembali dengan penampilan harga dirimu sebagai lelaki yang tak boleh ketahuan membeli pembalut wanita.” Seri menghela napas sambil mengingat penampilan Luhan yang serba tertutup saat kembali dari mini market terdekat. “Dan kau membelikanku tiga pembalut hanya karena undian mobil?! Yang benar saja, Luhan! Fakta bahwa kau membelikanku pembalut saja sudah membuatku marah, tapi kau malah membelikanku tiga buah! Kalau begitu kita berpisah saja!”

 

Luhan membulatkan mata, sebulat-bulatnya. Kali ini ia tak bisa diam saja mendengar Seri meminta berpisah hanya karena pembalut. Bayangkan! Karena pembalut?! Oh, tak elit sekali! “Kau serius meminta berpisah hanya karena pembalut?” Luhan mencoba bersabar dengan tidak meninggikan nada suaranya. Padahal emosinya juga tengah diuji.

 

Mendengar pertanyaan Luhan, air mata Seri kembali menetes. “Membeli pembalut artinya kau tak menginginkan bayi kita. Wanita hamil butuh pembalut kalau mengalami keguguran, atau kalau sudah melahirkan. Dan aku belum mau melahirkan. Kenyataan bahwa kau membeli pembalut untuk wanita yang hamil 3 bulan menandakan bahwa kau belum siap menjadi ayah, Luhan! Kau ingin bayi kita kegu–”

 

“–Sttt…” Luhan meraih Seri ke dalam pelukan. Menenangkan istrinya yang dilanda kekhawatiran akan dirinya. Sungguh, ia merasa bersalah karena Seri merasa begitu. Tapi, bukankah Seri tak perlu mengetesnya dengan menyuruhnya membeli pembalut? Ah, benar juga! Bahkan ia sendiri tak tahu apa fungsi pembalut bagi wanita yang sedang hamil. “Aku benar-benar tak tahu tentang hal itu, Seri-ah. Salah besar kalau kau berkata aku tak menginginkan anak kita hanya karena aku membelikanmu tiga pembalut sekaligus.”

 

Seri sesenggukan dalam pelukan Luhan. “Aku tahu. Tak seharusnya aku mengukur kesiapanmu dengan cara menyuruhmu membeli pembalut. Tapi sikapmu memang menunjukkan kalau kau tak siap dengan kehadiran bayi kita.”

 

Luhan menghela napas sembari tangannya tak berhenti membelai rambut Seri. Harus ia akui kalau perkataan Seri barusan benar adanya. Ia berkali-kali menghindari panggilan Seri. Sengaja berlama-lama berada di luar rumah untuk mengindari istrinya. “Maafkan aku, Seri-ah. Aku hanya…” Luhan menghentikan kalimatnya, memikirkan kata apa yang pas untuk mendeskripsikan perasaannya mengenai kehadiran buah hati mereka. “…khawatir saja.”

 

Seri mendongak, lantas melepaskan diri dari pelukan suaminya. “Khawatir?” ucapnya dengan raut penuh tanya.

 

Luhan mengangguk. “Aku takut membuat kesalahan. Tanggung jawabku akan semakin besar sebagai kepala keluarga saat anak kita lahir nanti. Bagaimana kalau kau dan anak kita menderita kalau aku membuat kesalahan? Bagaimana kalau–” perkataan Luhan terhenti karena Seri berhambur memeluknya.

 

“Maaf, aku tak tahu kalau kau berpikir begitu.”

 

Luhan tersenyum memandangi sosok Seri dalam pelukannya. Senyum lega yang dalam hitungan detik menjadi senyum jahil. Karena akhirnya, ia berhasil menghentikan tangisan Seri dan berakhir dengan posisi menyenangkan seperti ini. Berpelukan sangat menyenangkan. Yeah, siapa juga sih, yang mengelak kesenangan dari sebuah pelukan dari orang yang dicinta?

 

Tapi sepertinya Luhan harus menelan dalam-dalam rasa senangnya karena Seri melepas pelukannya dalam waktu sepersekian detik dan menampilkan wajah kesal kembali. Oh, kali ini kesalahan apa lagi yang diperbuat Luhan? Dipandanginya Seri dengan raut penuh tanya.

 

“Kalau kau benar-benar menyesal, buktikan padaku.”

 

Luhan mengernyitkan kening. Tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang bisa berubah dalam hitungan detik.

 

“Kembalikan pembalut itu ke mini market. Kau tahu kalau aku tak membutuhkannya, kan?”

 

Mau tak mau Luhan mengangguk. Apa wanita hamil memang semenyusahkan ini?

 

“Jangan sampai kau menutup tubuhmu seperti tadi, mengerti?”

 

Rasanya Luhan ingin menangis saja.

 

 

“Maaf, barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi.”

 

Luhan mengernyitkan kening. “Kau hanya perlu menaruhnya lagi di rak sana. Apa susahnya, sih?”

 

Si penunggu kasir menelan ludah melihat Luhan. “Dan juga, sepertinya kau tak membelinya di sini,” ujarnya sedikit ragu. Karena seingatnya, ia tak pernah melihat pelanggan ini sebelumnya.

 

Luhan menggembungkan pipi, lalu menghembuskan napasnya hingga menghasilkan bunyi ‘bbrrr’. Setelah menarik napas, ia berkata dengan nada yang sengaja disabar-sabarkan, “Aku membelinya di sini. Kau bahkan berkata bahwa aku bisa mendapatkan bonus jika membeli dua bungkus. Kau juga yang mengatakan ada undian berhadiah mobil di dalamnya.”

 

Si penjaga kasir akhirnya mengangguk-anggukkan kepala dengan raut sumringah karena berhasil mengingat. “Ah, jadi kau adalah orang aneh yang seperti penculik itu,” ujarnya senang. “Tapi hyung, kupikir kau seorang wanita,” tambahnya sok akrab.

 

Luhan mendengus. Ia benar-benar jengkel. Pria itu menarik napas dan menghembuskannya keras-keras sembari melirik nametag di dada sebelah kiri si penjaga kasir. Kim Jongin. “Dengar, Kim Jongin. Aku kemari untuk mengembalikan pembalut-pembalut yang kau jual padaku. Bukan untuk berbicara panjang lebar denganmu.”

 

“Tapi barang yang sudah dibeli memang tidak boleh dikembalikan.” Pemuda bernama Kim Jongin itu akhirnya kembali pada statusnya –sebagai penjaga kasir, tentu saja.

 

“Kalau begitu untukmu saja. Sebagai hadiah.” Luhan menjawab santai disertai dengan langkah cepat yang terkesan buru-buru. Bukan apa-apa sih, ia hanya tak ingin berdebat lebih jauh dengan si penjaga kasir itu.

 

“Tapi aku tak membutuhkannya, hyung!”

 

Luhan yang mendengar kalimat yang disuarakan dengan sedikit berteriak itu dari belakang tak berniat menoleh. Ia menjawab singkat dengan kalimat, “Berikan saja pada pacarmu!”

 

“Tapi aku tak punya pacar.”

 

Kali ini Luhan berhenti melangkah, tepat saat kakinya berada di depan pintu keluar mini market. Tangannya memegang gagang pintu. Lalu sebelum pintu mini market itu benar-benar tertutup, ia berkata dengan santainya, “Kalau begitu gunakanlah! Gunakan dengan bijak, ok?”

 

 

Seminggu berlalu dengan cepat. Tak terasa, Luhan kini berada di apartemennya lagi untuk merasakan libur di akhir pekan. Tidak seperti seminggu sebelumnya, kondisi Seri sudah lebih baik dari sebelumnya. Wanita itu sudah lebih tenang meski kadang-kadang masih suka membuat Luhan kalang kabut dengan permintaannya yang aneh-aneh.

 

Mungkin lebih baik Luhan bersyukur karena setidaknya, di akhir pekan seperti ini Seri tak memintanya melakukan hal aneh. Pria itu bahkan sedang menikmati waktu berdua dengan sang istri di depan TV, menonton acara reality show bersama-sama.

 

“Hahaahaaa…” Seri tertawa bebas saat melihat acara TV menyuguhkan adegan lucu.

 

Luhan yang berada di samping Seri membelai lembut rambut istrinya itu dengan sayang. Pria itu ikut tersenyum melihat tawa Seri. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dari suasana tenang seperti ini.

 

Ya, Luhan kira akhir pekan kali ini ia tak akan mengalami kesusahan seperti minggu kemarin. Namun semua dugaan baiknya berakhir tepat saat suara ketukan pintu apartemen terdengar begitu mengganggu.

 

“Seri-ah, buka pintunya.” Luhan menyuruh dengan nada enteng.

 

Seri menghentikan tawanya dan menatap Luhan di sampingnya dengan pandangan protes. “Kenapa tak kau saja?”

 

“Ayolah, aku sedang–” Luhan menghentikan kalimatnya begitu dilihatnya Seri menampakkan wajah tak bersahabat tepat saat ia menolehkan pandangan ke arah samping. “Ok, aku akan membuka pintunya.”

 

Akhirnya Luhan melangkah dengan wajah kusut mendekati pintu. Keningnya berkerut saat pintu itu sudah terbuka dan menampilkan sosok penjaga kasir di mini market yang Luhan tahu bernama Kim Jongin.

 

“Halo, hyung!” Kim Jongin tersenyum lebar. Kentara sekali bahwa pemuda itu sedang dalam keadaan bahagia teramat sangat.

 

“Untuk apa kemari?” Luhan menjawab malas.

 

Hyung, terima kasih banyak.” Jongin mengatakannya dengan penuh energi. Pemuda itu bahkan menambahkan senyum lebar untuk menampilkan wajah paling bahagianya.

 

“Terima kasih?” kening Luhan semakin berkerut.

 

Jongin mengangguk cepat. “Hm, berkat pembalut yang kau berikan, aku punya mobil.”

 

Saat itulah Luhan membeku. Pria itu terdiam tak menyangka. Bahkan ia tak berbuat apa-apa saat Kim Jongin si penjaga kasir yang sok akrab ini memeluknya haru.

 

“Berkat kau, aku tak perlu bekerja paruh waktu lagi. Kau yang terbaik. Terima kasih, hyung!” Jongin melepas pelukannya, lalu melangkah menjauhi sosok Luhan yang masih terdiam di ambang pintu dengan lambaian tangan beberapa kali.

 

Luhan masih tak bergeming di tempatnya berdiri. Akhir pekan kali ini memang bukan akhir pekan yang menyusahkan seperti minggu kemarin, tapi akhir pekan yang paling membuatnya merasa menyesal seumur hidup. Kenapa juga ia menyerahkan tiga pembalut itu pada Jongin?!!

 

Ah, sial.

 

“KANG SERI, AKU KEHILANGAN MOBIL GRATIS KARENAMU!!” Luhan berteriak kencang di ambang pintu. Tapi sayang, Seri yang menjadi objek dari kalimatnya tak bergeming. Wanita itu sama sekali tak mempedulikan Luhan dan lebih memilih tertawa karena acara TV yang ditontonnya.

 

 

Fin.

 

Haloooo….

Pertama, maaf karena nggak bawa lanjutan BIG CHANCE dan malah bawa ff ini. entah kenapa aku nggak mood buat lanjutinnya. Hehehee. Tapi tetep dilanjut kok…

Udah lama nggak pake couple Luhan-Seri ini. Entah kenapa ngerasa kangen sama kekonyolan Luhan. hahahhaa. Setelah Wedding’s Deadline tamat gak pake cast Luhan lagi. maap ye bang, ane kilaf. Hahahaaa…

 

Oya, berhubung masih nuansa lebaran, aku mau ngucapi SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI. MINAL AIDZIN WAL FAIZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Bagi yang merayakan tentunya. Mungkin selama ini aku salah kata, dalam tulisanku ada yang menyinggung perasaan, baik sengaja maupun tidak, mohon dimaafkan…^^

 

Terima kasih….

Salam,

Kee-Rhopy

 

19 responses to “Trouble Weekend – Kee-Rhopy

  1. Hahahaha.. lucu banget di scene terakhir.. Jongin mlah dpt mobil, ya tenang ya Lu, masi bukan rejeki lu.. Wkwk Minal Aidin Wal Faidzin juga authoe Kee-Rhopy🙂

  2. wkwkwk beruntung banget jongin dapet mobil gratis wkwkw
    kasian banget luhan hahah yg sabar yaaa ngadepin ibu hamil

  3. Kyaaaaa kangen juga nih sama couple yg satu ini.. stlah lama baca wedding deadline…
    setu deh ngeliat ke kocakan mereka kkkkk
    btw, ditunggu ya kak kelanjutannya big chance.. semoga kakak tetep lanjutin *amien*
    Keep Writting kak ^^
    Fighting!

  4. luhan kena sial bertubi tubi wkwk yg sabar ya… makanya nabung biar bisa beli pembalut yg banyak supaya dapet mobil

  5. Duh kok ngakak ya wkwkw kukira jongin di nistakan ehh malah dapet mobil wkwkwk yang sabar ya han psti akan dapet balesannua dari yang doatas kok wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s