Alunno Guerra [ Chapter 2 ]

kai

Title : Alunno Guerra

Cast  : Jung Soojung, Kim Jongin

Support Cast : Oh Sehun, Kang Seulgi, Park Chanyeol, Bae Joo Hyun

Genre : School life, Romance, Friendship, and action later

Desclimer : This story is pure mine, Don’t Plagiat!

Spoiler :

Semua ini berawal dari surat yang dikirim dirinya 15 tahu mendatang, dan membuatnya harus memperbaiki semua yang telah ia perbuat bahkan menyangkut keutuhan seluruh manusia.

Opening ,  Chapter 1

***

Semenjak kejadian beberapa hari lalu, hingga hari ini, alat elektronik dan lainnya yang membutuhkan daya tidak dapat berfungsi. Pemerintah Korea Selatan pun bekerja sama dengan negara-negara di dunia mencoba mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, hal itu tidak menghentikan kehidupan warga. Benda hitam raksasa masih diam di langit dan tidak melakukan atau bergerak sedikitpun di tempatnya. Untuk sementara, mereka menganggap tidak ada ancaman dari benda itu.

Begitupun juga dengan pendidikan. Semua sekolah masih aktif walau tidak menggunakan benda elektronik untuk kegiatan belajar mengajar. Murid-murid yang datang tidak menggunakan kendaraan seperti biasa. Murid yang jarak rumahnya dengan sekolah lumayan dekat hanya berjalan kaki, sedangkan seperti Soojung, ia memilih menggunakan sepeda.

Namun jangan bayangkan kelas-kelas terisi penuh seperti biasa, salah besar. Dua pertiga kursi di kelas kosong tak berpenghuni. Soojung tidak terkejut ketika hanya menemui sekitar 10 teman sekelasnya yang mengisi bangku di kelas, sedangkan sisanya hilang tanpa jejak. Kemarin, setelah kejadian itu melanda, orangtuanya sempat melarang yeoja bermanik almond itu untuk berangkat ke sekolah dan mungkin itu juga terjadi pada teman-teman kelasnya yang tidak masuk sekolah. Namun menurutnya tidak ada ancaman serius dari hari itu, jadi untuk apa ditakuti walau sebenarnya di dalam lubuk hatinya terbesit perasaan waspada yang cukup besar.

” Sepi sekali, ya?” Ucap Seulgi sambil menopang dagu. Tubuhnya menghadap ke belakang, ke meja Soojung.

” Eoh, orang-orang dewasa memang terlalu over. Lagipula mungkin jika benda itu memang sebuah ancaman, mau lari kemanapun juga percuma.” Ucap Soojung di hadapannya sambil membolak-balik buku favoritnya alias novel romansa.

Tak lama terdengar suara canda tawa dari luar. Soojung melihat Chanyeol, Sehun dan Jongin datang ke kelas sambil tertawa. Mereka bertiga sama-sama menenteng skateboard masing-masing, kendaraan sementara mereka menggantikan barang-barang mahal yang biasa mereka gunakan untuk pergi lebih cepat ke sekolah.

” Untung saja kau tadi sempat berhenti. Jika tidak, yeoja itu pasti akan menghajarmu dengan buku-buku tebalnya.” Ucap Chanyeol sambil menatap Sehun. Ia lantas duduk di kursi sebelah Seulgi dan Soojung diikuti Sehun juga Jongin.

Sehun mendengus kesal. ” Kenapa di dunia ini harus yeoja itu yang selalu hampir menjadi korban tabrakanku, aish!”

Seulgi mengernyitkan alisnya penasaran. ” Kau menabrak seorang yeoja lagi?” Tanyanya.

Gelengan kuat langsung dilakukan Sehun. ” Enak saja, bukan menabrak, tapi hampir, arra? Lagipula dia selalu berjalan di depanku, salahnya sendiri, bukan?”

” Haha, salahmu juga sok menikmati jiwa musikalmu  sampai tidak sadar ada orang di jalanmu.” Ucap Jongin sambil terkekeh.

” Yeoja yang sama yang kau maksud itu Joo Hyun?” Tanya Soojung.

Ketiganya mengangguk. Bae Joohyun yang kemarin hampir Sehun tabrak rupanya satu sekolah dengan mereka dan ia berada di kelas seberang. Memang jarang keluar kelas namun Seulgi dan Soojung mengenalnya dengan baik karena mereka sama-sama bergabung dalam organisasi yang sama dengan Joohyun yaitu palang merah.

Tak lama kemudian Jung Do saem memasuki kelas sambil menenteng buku yang biasa ia bawa mengajar. Semua murid di kelas Soojung langsung berhambur kembali ke tempat duduk mereka menyisakan bangku-bangku kosong yang membuat kelas kali ini benar-benar terlihat sepi. Jung Do saem menghela nafas pelan lalu kembali tersenyum dan mengangguk pada Chanyeol, ketua kelas untuk meberi aba-aba hormat seperti pagi-pagi sebelumnya.

Pelajaran berjalan seperti biasa. Semua murid kini dengan serius mendengarkan Jung Do saem yang tengah menjelaskan bab struktur surat menyurat. Surat. Soojung tiba-tiba teringat akan surat yang didapatinya saat awal semester kemarin. Setelah ia berhasil pulang dengan selamat dan bertemu keluarganya, ia langsung menyimpan surat itu di tumpukan buku yang terpajang pada rak paling atas di kamarnya.

Ia berpikir tidak baik jika kita mengetahui hal yang akan terjadi lebih dulu, lagipula, suster di gerejanya pernah berkata tidak baik jika kita mengetahui hal yang akan terjadi lebih dulu karena kelak perasaan angkuh akan datang sebab kita akan merasa seperti Tuhan yang dapat mengetahui segalanya lebih dulu.
TUK!

Secarik kertas yang telah digumpal asal jatuh tepat di meja Soojung akhirnya membuyarkan lamunannya. Soojung mengernyit lalu dengan pelan dan hati-hati agar tidak diketahui Jung Do saem, ia membuka kertas itu.

Wajahmu konyol sekali jika sedang melamun

Soojung melihat sekeliling mencari tahu siapa yang melempar surat ini. Saat ia menoleh ke sebelah kanan, tepatnya ke arah Jongin, ia langsung tahu bahwa pengirim itu adalah Jongin karena namja itu tertawa kecil ke arahnya lalu mengedikkan bahu dan menghadap ke depan kembali.

Soojung lalu menuliskan sesuatu di kertas itu. Ia kembali menggumpal kertas itu asal lalu melirik singkat ke arah depan. Setelah dirasanya aman, ia melemparkan kertas itu ke meja Jongin.

Jongin terkekeh saat membuka kertas itu dan membaca isinya.

Sepertinya aku mendapat seorang penggemar rahasia yang suka mengawasiku kapanpun

Jongin lalu kembali menulis balasan di kertas itu. Ia lalu meremas kertas itu menjadi kusut dan membola lalu ketika hendak melempar kertas itu, Jung Do saem berjalan di barisan yang memisahkannya dengan Soojung. Dengan gesit dan ekspresi tenang, ia melipat tangannya di dada sambil berpura-pura mengangguk seakan mengerti dan mendengarkan dengan cermat penjelasan Jung Do saem. Kertas itu ia sembunyikan di balik lipatan tangannya.

” Orang-orang terutama anak muda jaman sekarang ini jarang sekali menggunakan surat. Karena, seperti yang kalian tahu, telah diciptakan email atau….” Blablabla. Penjelasan Jung Do saem itu masuk telinga kiri dan meluncur keluar tanpa menyangkut di otak Jongin begitu saja melalui telinga kanan.

Ketika Jung Do saem berbalik, ia lalu melempar kertas itu ke meja Soojung. Soojung tertawa tertahan melihat tindakan awal Jongin yang hampir tertangkap basah tadi lalu ia membuka kertas itu.

Kau berharap aku jadi penggemar rahasiamu, begitukah? Apa yang akan kau berikan padaku jika aku menjadi secret admirermu?

Soojung menulis balasannya dengan cepat lalu mengoper balasannya pada Jongin.

Hmm.. Aku akan memasakkanmu bento terlezatku selama seminggu penuh. Hahaha, aniya, aku hanya bercanda tau

Jongin menyeringai sambil menuliskan jawabannya di kertas yang kini tak berbentuk lagi. Tangan kirinya melempar kertas itu dan mendarat dengan sempurna di bagian paha Soojung. Soojung lantas mengambil kertas itu dan akan membukanya namun suara seseorang berlari menghentikannya.

” Semua murid, segera kemasi barang kalian dan berkumpul di aula utama. Jung Do saem tolong pandu mereka jangan sampai ada yang tertinggal.” Ucap Kim Seongsaenim, guru bimbingan konseling dengan terburu-buru. Jung Do saem terlihat bingung sambil berbincang dengan Kim saem yang saat itu cukup bahkan terlihat amat panik. Setelah mengangguk, Jung Do saem menoleh pada murid-muridnya yang masih mematung dan tidak berkemas seperti yang dikatakan Kim saem.

” Kemasi barang kalian semua, jangan ada yang tertinggal.” Ucapnya. Mereka masih mematung bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi namun Jung Do saem berdiri disana dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan kembali menyuruh mereka untuk berkemas.

Lantas dengan raut kebingungan, seisi kelas membereskan barangnya ke dalam tas masing-masing begitu juga dengan Soojung yang memasukkan kertas itu asal ke kantung bagian depan tasnya dan berjalan keluar menuju ke aula utama. Seperti biasa, Seulgi dan Soojung selalu bergandengan tangan ketika mereka tengah cemas.

Sesampainya di aula, setengah dari kursi di aula terisi. Yah, bisa dipastikan setengah siswa di sekolah ini tidak masuk hari ini. Soojung dan Seulgi duduk di baris terdekat. Di depan terlihat banyak guru yang tengah berbincang serius. Ketika guru yang berjaga di pintu masuk memastikan semua siswa yang masuk pada hari ini telah masuk seluruhnya di aula, Kepala Sekolah naik ke podium di depan dan berujar singkat namun membuat kepala para murid dirundung beribu-ribu pertanyaan.

” Kami telah menelpon orang tua kalian dan meminta untuk menjemput kalian karena keadaan darurat.” Ucapnya tanpa berbasa-basi. Kalimat itu langsung saja menimbulkan bisikan riuh di antara para siswa yang kebingungan. Soojung dan Seulgi pun juga berbisik-bisik kebingungan. Mereka berdua duduk dua baris lebih belakang dari Sehun, Chanyeol dan Jongin yang ada di depan.

” Mohon tenang.” Setelah dirasa tenang, kepala sekolah melanjutkan kalimatnya.

” Baru saja, saya menerima protokol dari pemerintah kota, telah terjadi gempa di Incheon apgi ini. Dari info yang saya dapat, kekuatannya cukup besar dan kemungkinan besar menimbulkan banyak korban. Demi meminimalisir kekhawatiran, kami memulangkan kalian semua pada keluarga.”

Penjelasan kepala sekolah itu seketika membuat Jongin mematung. Gempa di Incheon terjadi hari ini, dan sejak kemarin kedua orang tuanya tengah berada di kota itu.

Bagaimana nasib mereka? Ribuan kemungkinan berkecamuk di benaknya yang membuat Chanyeol dan Sehun di sebelahnya menatap khawatir ke arah namja tan itu. Yang mereka ketahui memang orang tua Jongin tengah berada di Incheon hingga minggu depan dan namja itu tinggal disini dengan noonanya.

” Jangan pergi sebelum keluarga kalian menjemput. Kami akan stay disini sampai semua dari kalian pulang. Terimakasih atas perhatiannya.” Ucap kepala sekolah lalu turun dari podium. Seisi aula lantas menjadi gaduh karena semua murid berkeluh kesah satu sama lain. Pandangan Soojung mengitari seluruh penjuru aula, mencari keberadaan eonninya. Di barisan seberang, bangku agak ke belakang terlihat Jessica melambaikan tangan ke arahnya. Soojung mengangguk memberi sinyal pada kakaknya bahwa ia melihatnya.

” Kasihan sekali Jongin. Ia pasti khawatir dengan appa dan eommanya.” Ucap Seulgi sambil melihat Jongin yang sedang ditenangkan oleh Sehun dan Chanyeol. Soojung lalu turut melihat namja itu. Punggung lebarnya tampak meluruh bersandar di sandaran kursi dan kepalanya sedikit tertunduk. Huh, padahal baru saja ia surat menyurat dengan namja itu, dan melihatnya ceria, namun keceriaan itu hilang dalam sekejap.

Kim saem mulai memanggil murid-murid yang telah dijemput. Terlihat jelas raut kekhawatiran dari para orang tua yang menjemput. Soojung dan Seulgi masih menunggu giliran nama mereka dipanggil dalam diam seakan kehabisan topik untuk dibicarakan.

” Jung Soojung, Jessica Jung.” Akhirnya nama Soojung dan Jessica dipanggil. Jessica yang lebih dulu berdiri lalu berjalan menghampiri Soojung dan berjalan beriringan menuju pintu keluar. Telihat di ambang pintu, appa mereka berdiri sambil tersenyum menenangkan kedua putrinya. Ketika melewati deretan bangku yang diduduki Jongin, Soojung melirik sekilas ke arah namja itu. Wajahnya murung dan maniknya juga menyorot ke arahnya. Senyum tipis terpatut di wajah Jongin itu terpatri kuat di benak Soojung yang menolehkan kembali kepalanya ke depan berjalan ke arah ayahnya untuk pulang meninggalkan teman-temannya yang masih menunggu disana.

.

Soojung POV

Empat hari berlalu semenjak kami semua dipulangkan ke rumah masing-masing dan sejak hari itu pula aku tidak pernah bertemu dengan teman-teman. Aku dan keluarga berdiam diri di rumah kami. Banyak tetangga di sekitar rumah kami pindah entah kemana dan menggunakan apa. Kini hanya sekitar 4 keluarga yang masih bertahan di blok rumahku. Benda hitam itu pun masih ada dan kami menyebutnya ‘Stranger’ karena belum diketahui secara pasti benda apa itu.

Mengingat kejadian beberapa hari lalu, setelah terjadi gempa di Incheon, gempa susulan terjadi di berbagai kota di Korea Selatan. Surat kabar darurat yang hanya berupa kertas dengan tulisan hasil mesin ketik manual kuno diantarkan setiap ada bencana yang terjadi pada rumah-rumah penduduk. Dan baru saja kemarin, sebuah surat kabar diluncurkan yang berisi tsunami besar melanda daerah pesisir. Entah berapa korban yang tak selamat, karena tekhnologi benar-benar tidak berfungsi sampai hari ini membuat komunikasi menjadi suatu hal yang sulit.

Aku termenung menopang dagu di atas meja belajarku yang menghadap ke jendela. Mataku menangkap rumah-rumah kosong di sekitarku. Entah apa yang sedang terjadi disini, aku benar-benar tidak mengerti. Semua bencana, alat-alat tidak berfungsi dengan baik, banyak korban, dan yang paling penting, Stranger, benda yang menimbulkan teka-teki di benakku.

” Soojung-ah, bisa bantu eomma di dapur?” Suara eomma di ambang pintu menghancurkan lamunanku. Aku berbalik dan mengangguk lalu bangkit berjalan mengikuti langkah eomma menuju dapur.

Semua kantor dan tempat bekerja diliburkan kecuali bagi mereka yang bekerja di kantor pemerintahan dan terutama komunikasi seperti appa yang bekerja di gedung kedutaan besar. Tentu saja kali ini kantor-kantor itu dibutuhkan karena mendengar dari appa bahwa kejadian ini tidak hanya terjadi di Korea Selatan saja melainkan di semua negara.

Sesampainya di dapur aku melihat eomma yang telah sibuk menumis sesuatu di atas tungku. Lucu sebenarnya mengingat biasanya eomma memasak di atas kompor namun sekarang beralih ke tungku api, seperti kembali ke masa penjajahan jaman dahulu.

Aku lalu membantu memotong-motong buah dan sayuran lalu menata piring untuk makan siang. Appa biasa pulang di jam makan siang hanya sekedar makan dan memberi sedikit info penting yang perlu kami ketahui. Jes eonni, sepertinya ia lumayan kesulitan beradaptasi tanpa alat elektronik dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya di kamar. Entah melakukan apa karena ia hanya keluar untuk makan dan minum atau sekedar pergi ke kamar kecil.

” Panggil eonnimu, Sweetheart. Makanan sudah hampir siap.” Ucap eomma sambil menaruh makanan ke piring-piring yang telah kutata. Aku mengangguk lalu melangkah menuju ke lantai atas ke kamar Jes eonni. Setelah mencapai lantai atas, aku mengetuk pintu dengan label nama Jes eonni di depannya. Beberapa kali kuketuk tidak kudapat suara langkah mendekat untuk membuka pintu.

” Huh, dia pasti sedang tidur lagi.” Gerutuku. Langsung saja kubuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci. Aku melangkah masuk ke kamar serba pink itu. Benar dugaanku. Jes eonni tengah bergelut di bawah selimutnya dengan mata terpejam, tertidur pulas. Aku mendekatinya lalu menarik paksa selimutnya.

” Wake up, lazy!” Ucapku. Ia membuka sedikit matanya lalu berbalik memunggiku. Aish, menyebalkan.

” Ya! Ireonaa, eomma menyuruhmu turun untuk makan siang.” Aku mengguncang-guncangkan badannya. Ia tidak bangkit-bangkit. Huh, dasar pemalas.

Aku membuka tirai jendela di kamar itu. Segera sinar matahari berebut untuk masuk sehingga membuat kamar ini menjadi terang benderang. ” Palliwa! Aku sudah lapar tau!” Ucapku sambil melipat tangan di depan dada. Namun Jes eonni hanya mengibaskan tangannya menyuruhku untuk keluar dari kamarnya.

” Ck, Jinjaaa! Jika kau tidak bangun dalam hitungan ketiga, aku akan membuang semua koleksi mascaramu!” Aku menunggunya untuk merespon atau sekedar bergerak, namun nihil. Ish!

” Satu”

” Dua”

” Kau yakin akan melakukan ini?” Ucapku menunggunya merespon. Namun ia masih tetap diam.

” Huh, Ti-”

BRAK!

Hitunganku tertahan ketika mendengar suara sesuatu menabrak jendela di belakangku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati sebercak cairan merah menempel di jendela itu. Aku mengernyitkan alis bingung.

” Igo mwoya?” Aku bergumam bingung. Karena penasaran aku melangkah mendekati jendela. Namun tiba-tiba.

BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!

Hal yang serupa menabrak jendela itu berturut-turut. Aku terpaku di tempat. Mataku melebar seketika melihat apa yang menubruk jendela berturut-turut dari luar.

” Sudah kubilang keluar dari kamarku, Jung. Apa yang kau lakukan pada jen…de..laku.” Jes eonni terdengar terbata di belakangku.

” Apa yang terjadi? Apa itu?!” Ucapnya panik dan langsung turun dari tempat tidur. Aku menghadap ke arahnya dan hanya menggeleng.

” Kupikir tidak ada burung gagak di negara ini… tapi…itu tadi… semoga bukan.” Ucapku tergagap juga sambil gemetar. Aku menatapnya yang juga masih terpaku menatap jendela di belakangku. Lalu tanpa aba-aba ia berlari menuruni tangga. Akupun juga berlari mengikutinya.

Eomma yang ada di bawah juga terpaku melihat keluar melalui jendela di dapur.

” Eomma! Ada apa ini?” Tanya Jes eonni panik. Aku melihat semua jendela di rumah. Semua kaca berlumuran cairan merah pekat dari hewan itu. Aku mendekat ke arah eomma yang melepas apronnya. Ia bergegas menuju ke pintu belakang yang terbuat dari kaca tertutupi tirai. Dibukanya tirai itu dan membuat kami semua tercengang.

Puluhan atau mungkin ratusan burung gagak tergeletak mati menutupi halaman belakang rumah dan kolam renang yang membuat air jernih disana berubah menjadi merah pekat.

“Eomma… kenapa ada burung itu disini? Bukankah, burung itu sangat jarang.” Ucapku takut.

Beberapa waktu eomma termenung menatap pintu itu. Lalu ia menutup tirai di pintu dan berbalik sambil mencoba untuk tetap tenang.

” Jangan keluar dari rumah sampai appa kembali, arra? Eomma juga akan tetap disini.” Ucapnya tenang lalu menggiring aku dan eonni untuk duduk di meja makan.

” Nah, sekarang makanlah. Lupakan kejadian ini dulu, kita akan tunggu apa yang terjadi dari appa.” Ucapnya sambil menyodorkan piring berisi makanan ke arahku dan Jes eonni.

.

Author POV

Kota Seoul yang megah kini telah tertutupi ribuan unggas mati tergeletak. Jalanan seakan telah menjadi kolam bangkai dan tidak ada seorangpun dari warga yang berani keluar. Kalupun itu ada, mereka mengenakan pakaian tebal dengan masker rapat dan sepatu boot.

Dua hari telah berlalu, dua hari pula keluarga Soojung berdiam diri di dalam rumah menunggu kepastian dari suami dan appa mereka yang tak kunjung pulang. Namun berbeda dengan hari ini. Pagi ini saat mereka, eomma, Jessica dan Soojung, tengah berkumpul di ruang tamu, segerombolan orang bermasker dan berpakaian steril yang tertutup rapat masuk ke rumah mereka.

” Selamat pagi, Nyonya Jung. Kami dari departemen kesehatan pusat, kami diberi tugas untuk memeriksa semua warga di daerah sini dan pemvaksinan bagi yang belum terinfeksi.” Ucap seorang dari mereka yang dari suaranya bisa dipastikan seorang namja.

Nyonya Jung kebingungan seketika. Vaksin? Infeksi?

” Infeksi dan vaksin apa maksudnya?” Tanyanya.

” Serangan unggas di kota ini menyebarkan virus yang dapat menimbulkan penyakit flu burung. Kedengarannya memang agak remeh, namun virus ini lebih mematikan dari kanker.” Terangnya jelas dan membuat mereka kaget.

Jessica mengencangkan genggamannya pada eommanya tanda ia ketakutan dan khawatir.

” Bisa ikut kami? Anda semua bisa memakai masker ini dulu. Kami akan membawa Anda ke pusat kesehatan untuk pemeriksaan.” Ucapnya lalu menyerahkan 3 masker kesehatan yang terdesain khusus. Dengan cepat mereka mengenakan masker itu dan mengikuti para petugas keluar dari rumah menuju ke pusat kesehatan yang letaknya ada di lapangan luas di pusat perumahan mereka.

.

Di pusat kesehatan itulah Soojung mulai merasa ketakutan dan khawatir. Tidak seperti sebelumnya jika ia merasa biasa saja, hanya terbesit sedikit kekhawatiran akan eomma dan eonninya yang terlihat agak panik itu. Namun, pusat kesehatan ini membuat semua yang datang akan ketakutan. Jalan menuju ke tenda yang besar itu terbatasi oleh pagar-pagar yang ada di kanan dan kiri mereka. Sedangkan di dalam pagar itu, ratusan kantung jenazah tertata rapi dan itu berisikan mayat. Entah darimana mayat-mayat itu berasal namun ini bisa membuat semua yang datang kesana merasakan dekat akan kematian.

Kini mereka telah masuk ke tanda kesehatan. Tak beda jauh dengan di dalam tenda yang besar itu, atau bisa dibilang seperti markas kesehatan, pagar membatasi kanan dan kiri mereka. Namun berbeda dengan di luar, pagar itu terbuat dari kaca yang menjulang tinggi hingga ke bagian atas tenda, hingga menciptakan ruang khusus di baliknya sehingga yang membuat orang masuk tidak bersentuhan udara langsung dengan yang ada di sisi lain kaca.

Banyak orang yang ada di bagian kanannya tengah terbaring dan ditangani oleh petugas berpakaian steril dan rapat seperti seragam petugas yang tadi datang ke rumahnya.

Namun di sebelah kirinya, lebih sedikit orang yang tengah ditangani, dan petugasnya pun berbeda dari sisi kanan, tidak mengenakan pakaian tertutup dan hanya masker kesehatan yang mereka kenakan.

Soojung dan keluarganya digiring masuk ke bilik depan yang tertutup. Ia tak bisa melihat apa yang ada di dalam karena dinding yang membatasinya, bukan kaca seperti yang sebelumnya ia lewati. Setelah ia masuk, petugas menyuruhnya dan keluarganya untuk duduk di masing-masing kursi di ruangan itu. Kursi di ruangan itu ada 7, dan 4 di antaranya telah terisi. Mereka lantas menduduki kursi yang bentuknya seperti kursi hidrolik yang biasa kalian temui saat periksa ke dokter gigi.

Setelah semua dari mereka duduk, petugas yang ada di kursi kendali memencet tombol biru dan seketika, turun tabung kaca berukuran besar pada setiap orang yang duduk di kursi itu, tabung itu seakan mengurung mereka dan menyemprotkan suatu gas khusus.

Satu menit mereka ada di dalam situ lalu tabung itu kembali naik dan petugas lain datang menuju ke Soojung, eomma, dan eonninya serta 2 orang yang telah diperiksa tadi untuk masuk ke ruangan luar yang berbatas kaca tadi. Sementara 2 orang lainnya dituntun ke arah berlainan.

Soojung dan yang lainnya masuk ke ruangan kaca dimana hanya sedikit yang ada disana dengan petugas yang santai dan tidak berpakaian tertutup. Ia bisa melihat di ruang kaca seberang, 2 orang tadi digiring masuk kesana sambil menangis.

” Eonni, ottokhae? Eomma appa ada disana sedangkan kita ada disini. Waeyo?” Ucap namja kecil, yang tadi datang bersama Soojung dari ruang pemeriksaan berkata sambil menangis pada eonninya. ” Gwenchana, kita akan bertemu dengan mereka nanti, uljima, eoh?” Ucap eonninya menenangkan.

Sedangkan Soojung dan Jessica yang masih menggenggam erat tangan eommanya masih kebingungan. ” Kenapa kita ada disini, eomma? Sedangkan yang lainnya ada disana?” Tanya Jessica ketakutan.

Nyonya Jung mengelus lembut kepala anak sulungnya itu menenangkan. Ia tersenyum hangat. ” Gwenchana, kita akan baik-baik saja, kau tidak usah takut. Kita mengahadapi ini bersama-sama, Sayang.”

Lalu ada dua orang petugas menghampiri mereka. Satu orang menuntun namja kecil dan eonninya duduk di kursi kosong sedangkan seorang lainnya menghampiri kami.

” Annyeong, Kim Taeyeon imnida. Aku akan memandu kalian untuk prosedur selanjutnya. Sebelum mengajukan pertanyaan, mohon ikuti aku ke sana, kita bisa sedikit santai sambil menunggu vaksin kalian datang.” Ucapnya lalu berjalan menuju ke sudut ruangan kosong dengan kursi-kursi empuk dan sebuah ranjang rumah sakit di depannya diikuti mereka.

Dalam waktu 5 detik Soojung menyadari bahwa Kim Taeyeon adalah noona Jongin yang kemarin juga sempat bertemu dengannya.

” Jadi, Taeyeon-ssi, bisa tolong jelaskan ada apa sebenarnya?” Tanya eomma setelah mereka duduk disana.

Kim Taeyeon tersenyum mengangguk mengerti karena semua yang masuk dan ia tangani di ruangan itu menanyakan hal yang serupa.

” Aku yakin kalian pasti sudah tau virus apa yang disebabkan bangkai-bangkai burung di jalanan. Virus flu burung tidak seremeh namanya. Virus itu dapat menyebabkan kematian jika yang terjangkit tidak ditangani dalam waktu lebih dari sehari, dan korban di daerah ini, ada di depan, di dalam kantung-kantung jenazah yang kalian lewati tadi.” Jelasnya lalu membaca sekilas map yang dibawanya.

” Nyonya Jung, Anda dan anak-anak Anda berada di fase aman. Warga yang dibawa ke ruangan ini adalah warga yang tidak terinfeksi dan akan diberi vaksin, sedangkan yang ada disana,” Ucapnya lalu menunjuk ruang kaca seberang.

” Adalah orang-orang terinfeksi. Dan butuh diisolasi dari ruangan terbuka.” Jelasnya. Di matanya tersirat kesedihan bagi orang-orang di ruangan seberang.

” Apa mereka bisa sembuh?” Tanya Soojung prihatin.

Taeyeon menghela nafas. ” Jika pertanyaan itu dilontarkan oleh mereka yang terinfeksi, aku akan menjawab ya. Tapi jika kau ingin yang sebenarnya, tidak.” Soojung menahan nafas seketika. Di dalam sana ada kurang lebih 50 orang yang tengah ditangani dan bila yang dimaksud Taeyeon mereka tidak bisa sembuh, maka mereka akan…meninggal.

” Kami belum memiliki penawar virus itu, dan yang memiliki penawarnya adalah Amerika sedangkan negara itupun juga tengah diserang virus serupa.” Ucapnya.

” Jadi, bukan hanya negara kita yang terjangkit, tapi juga Amerika?” Tanya Soojung dan Taeyeon mengangguk.

” Tepatnya, hampir seluruh dunia.”

Seusai memberi penjelasan yang cukup banyak pada mereka, seorang petugas datang dan memberikan 3 buah botol vaksin. Ia lalu mengambil suntikan dan memasukkan cairan itu ke dalamnya.

” Setelah kalian diberi vaksin ini, pergilah ke ruang penyimpanan untuk mengambil barang kalian yang telah petugas bawa dari rumah kalian dan sudah steril. Lalu, petugas akan memandu kalian untuk masuk ke camp pengungsian terdekat.” Ucapnya lalu menyuntikkan vaksin itu ke mereka bertiga.

Eomma dan Jessica berdiri lalu menunduk mengucapkan terimakasih diikuti dengan Soojung.

” Gamsahamnida, Taeyeon-ssi. Ehm…jika aku boleh bertanya, apakah Jongin baik-baik saja?” Ucapnya agak malu.

Taeyeon mengernyit terlihat menatap Soojung sambil berpikir.

” Siapa itu Jongin?” Ucapnya yang langsung membuat Soojung tertohok kebingungan.

Bukankah, Kim Tayeon ini kakak Jongin? Ketika mereka berjalan menuju ke sekolah, Taeyeon dan sepupu Sehun itu menolong mereka bukan? Apa mungkin Soojung salah orang? Ah, tapi ia yakin yeoja ini benar-benar yeoja yang menolongnya dan teman-temannya kemarin dan jelas-jelas Jongin mengatakan bahwa ia adalah noonannya.

” K-kau tidak mengenalnya? Dia adikmu, Kim Jongin? Kau ingat?” Tanyanya lagi.
Dahi Taeyeon kembali mengerut menandakan ia tengah berpikir keras.

” Aku hidup sendiri dan tidak memiliki adik dari dulu, Soojung-ssi.” Ucapnya ragu sambil menatap mata Soojung kosong.

.
.
.

TBC

 

6 responses to “Alunno Guerra [ Chapter 2 ]

  1. entah hrs gmn ngungkapin nya crita ini WOW bgtt 😍
    ide nya itu lhoh bikin speechless xD penasaran bgt sama next chap nya kok taeyeon ga anggep jongin knp , trs isi surat soojung apa wah ditunggu bgt kelanjutannya
    Hwaiting! 💕

  2. aduh sbnrnya apa yg trjadi??? knp jd sekacau ini thor? trs knp taeyeon g igt px adek? itu stranger sbnrx apa sih?? uugh too many questions.. lanjutannya ditunggu pake banget ya thor…🙂

  3. Kenapa jadi serem gini? Apalagi unggas yang pada mati gitu. Bener” ngeri deh. Terus benda apa sih “stranger” itu? Dan lagi kenapa taeyeon enggak kenal jongin? Jonin adekanya taeyeon kan? Taeyeon lupa ingatan atau ada hal lain? Ahh..gregetan juga sama soojunglah. Kenapa dia enggak baca aja sih suratnya itu. Siapa tau kan ada solusinya buat semua masalah ini, apalagi tentang jongin. Ayo kak cepet dilanjut. Penasaran banget sama apa yg terjadi selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s