[Se-Tae Series] Can You Trust Me?

Can You Trust Me

ohnajla | romance, marriage life, family, drama | teen| oneshoot

Casting :

Kim Tae Hyung aka V (BTS)

Oh Se Na (OC)

Han Min Jae aka Kim Min Jae (actor)

Mark Wu (OC)

other cameo

Perusahaan keluarga Oh, Daesang masih berada di tangan Kim Taehyung. Orang-orang kantor mengenalnya sebagai suami dari pewaris asli perusahaan ini. Hasil kerjanya bagus, karir perusahaan terus menanjak tiap bulannya. Konsep kerja untuk para karyawan pun telah ia ganti. Seperti contoh, para karyawan bebas datang jam berapa pun dengan syarat tugasnya selesai hari itu juga. Kebijakan baru itu disambut baik oleh para karyawan. Kim Taehyung hanya tidak mau perusahaan jatuh hanya karena buruknya kerja karyawan oleh faktor stress.

Daesang Company telah memulai kerjasamanya dengan DaeHan Gruop milik keluarga Kim sejak dulu, tapi baru-baru ini kerja sama mereka begitu intens. Direktur Oh Sehun –dari DaeHan Group– dan Kim Taehyung membangun kerja sama mereka melalui sistem kekeluargaan. Daesang yang terkenal sebagai perusahaan dengan popularitas tertinggi di Korea Selatan, selalu melakukan employee exchange dengan DaeHan Group. Sehingga kedua perusahaan keluarga ini maju pesat secara bersamaan, saling menguntungkan kedua belah pihak.

Meski telah mencapai kesuksesan besar, tidak menutup kemungkinan kalau masih ada masalah-masalah secara intern. Dan masalah ini lebih banyak mengganggu para atasan. Seperti Sehun dulu yang sempat digoda oleh bawahannya. Kim Taehyung pun tak luput dari permasalahan itu.

“Direktur Kim, apa hari ini kau punya waktu? Kemarin aku dapat kupon es krim gratis. Kuharap aku bisa menggunakan kupon itu denganmu.”

Taehyung semula menatapnya serius karena karyawan baru itu bilang ada sesuatu yang ingin dikatakan. Taehyung tidak menyangka kalau karyawan tersebut akan mengajaknya pergi makan es krim bersama. Ia pun tersenyum tipis, kedua matanya kembali melihat berkas yang sedang ia kerjakan.

“Kenapa tidak mengajak namjachingu-mu saja?”

Karyawan perempuan yang baru lulus SMA itu mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak punya namjachingu.”

Taehyung tertawa tanpa suara. “Lalu temanmu?”

“Teman-temanku sibuk dengan kuliah mereka.”

Setelah Taehyung memahami tulisan di berkas itu, ia pun menandatanganinya. Lalu menumpuk berkas tersebut di meja sisi kirinya. Diraihnya berkas lain di sisi kanan.

“Kau tidak lihat kalau aku juga sibuk? Apa semua tugasmu sudah selesai?”

Gadis berwajah manis itu mengangguk cepat. “Sudah. Tugas hari ini sudah kuselesaikan semua.”

“Kerja bagus. Tapi sayangnya aku tidak bisa pergi hari ini.” Taehyung mendongak. “Kau lihat sendirikan berapa banyaknya tumpukan map di mejaku?”

Gadis itu melirik sisi kanan meja Taehyung dengan sedikit kecewa. “Kalau begitu maafkan aku.”

Taehyung tersenyum. “Lain kali aku yang akan mentraktirmu.”

Perkataan Taehyung membuat Yoon Seyoung –nama karyawan itu- memupuk harapan kembali. Matanya berbinar-binar seperti seorang anak yang baru saja diberi lollipop. Wajahnya dihiasi dengan senyuman. Taehyung tahu gadis itu pasti senang mendengar ucapannya barusan.

“Janji?”

Taehyung mengangguk enteng. “Eum, aku janji.”

Seyoung menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang akan meluncur bak roket. Setelah puas bersenang-senang diri, akhirnya ia pun undur diri.

Taehyung hanya menggeleng pelan mengingat tingkah bahagia Yoon Seyoung tadi. Apa sebegitu bahagianya ditraktir es krim olehnya? Mungkin Seyoung saja yang tidak sadar kalau sebenarnya Taehyung tidak benar-benar ingin pergi makan es krim berdua dengannya. Hanya ditraktir, beli satu untuk Seyoung seorang. Entahlah bagaimana reaksi Seyoung nanti kalau realitinya ternyata diluar harapan.

Cklek

Seorang pria muda masuk sambil membawa beberapa map di tangannya. Dia tidak mengucapkan salam pada Taehyung, dan melenggang dengan santainya mendekati meja direktur.

“Apa yang barusan kau bicarakan dengan Yoon Seyoung?”

Pria yang tak lain Mark Wu itu langsung membombardir Taehyung dengan pertanyaan setelah dia duduk dan menumpuk map yang dibawanya ke meja sisi kanan Taehyung. Ini sudah pukul 1 siang dan dia tampak fresh. Pantas, Mark baru saja tiba di kantor beberapa menit. Dia adalah salah satu pekerja part time di perusahaan ini.

“Dari mana kau tahu kalau aku baru saja berbicara dengannya?” tanya Taehyung cuek di sela-sela membacanya.

“Jadi benar. Yaa, kau pasti telah menjanjikan sesuatu padanya ‘kan? Barusan aku berpapasan dengannya di koridor, dia menyebut-nyebut namamu dengan histeris.”

Taehyung menyeringai. “Namanya juga remaja.”

Mark menatap Taehyung tak suka. “Dia itu bukan anak-anak, Direktur. Kalau kau berjanji padanya, kau tidak boleh menarik kata-katamu lagi. Kalau kau mengecewakannya, bisa-bisa dia berubah menjadi monster. Kau mau hubunganmu dengan Sena hancur gara-gara dia?”

“Kenapa harus bawa-bawa Sena? Ini tidak ada hubungannya dengan ibu Taehun.”

Mark berdecak kesal. Taehyung memang sulit sekali dinasehati. Dia sadar kalau usia mereka itu sama, dan karena itulah Taehyung paling tidak mau dinasehati olehnya. Tapi Mark khawatir, Taehyung itu adalah orang yang suka semaunya sendiri. Bawaan sejak kecil karena hidup tanpa orangtua. Mark hanya tidak mau Taehyung salah jalan. Ia menghela napas.

“Pokoknya hati-hati saja kalau kau mengecewakan Seyoung. Aku berbicara seperti ini sebagai sahabatmu. Kau mau mendengarnya atau tidak, itu urusanmu. Aku pergi dulu.”

“Tidak perlu khawatir, Chingu. Hati-hati di jalan.”

Suara bedebam pintu terdengar membahana di ruang seluas 5 x 7 meter. Sepeninggal Mark ruangan itu kembali hening. Hanya terdengar deru napas Taehyung dan lalu lintas padat jauh di bawah sana. Dengan suasana setenang ini, pikiran Taehyung ikut hanyut ke dalamnya. Ia berencana untuk pergi makan siang setelah ini.

**

Hyung!

Taehyung reflek menoleh. Bibirnya tersenyum lebar saat seorang pria muda meraih tangan kirinya dan mengalungkannya di leher pria itu.

“Akhirnya sekretarisku datang juga. Dari mana saja kau, huh?”

Han Minjae, sekretaris Kim Taehyung itu tersenyum lebar. Ia membantu Taehyung mengambil makanan di meja pemesanan café Daesang Company. “Maafkan aku hyung, tadi pagi sampai tengah hari aku harus menghadiri upacara kelulusan Seongin. Kau tahu sendiri ‘kan, dia itu yatim piatu yang tidak memiliki kerabat. Jadi dia memintaku datang sebagai walinya.”

Minjae membantu Taehyung duduk di sebuah bangku. Dan meletakkan makanan Taehyung di meja. Ia sendiri kembali ke meja pemesanan untuk mengambil makanannya lalu duduk di hadapan sang direktur.

“Jadi hubunganmu dengan Seongin sudah sejauh itu ya?” ucap Taehyung sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya, diikuti lauknya.

Minjae tersenyum. Sama seperti sang direktur, dia juga mulai dengan melahap nasi terlebih dulu.

“Hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan hyung.”

“Memang kau tahu aku sedang memikirkan apa?” Taehyung terkekeh. Meraih segelas kopi dingin yang baru saja dihidangkan oleh pelayan.

Minjae hanya tertawa. Selera humor Taehyung lucu buatnya. Minjae seolah berbicara dengan teman bukan dengan atasan.

“Oh ya, aku sudah lama tidak berkunjung ke tempatmu, hyung. Apa Taehun masih mengingatku?”

Minjae tahu kalau Taehyung sudah punya keturunan. Minjae hadir dalam proses kelahiran anak sang direktur. Dia bahkan yang menjadi supir pribadi Taehyung selama Sena melahirkan.

“Taehun itu pengingat yang baik. Dia ingat semua samchon-nya.”

Sekretaris yang setahun lebih muda dari Taehyung itu tersenyum senang. Dia teringat saat pertama kali melihat Taehun hadir di dunia. Dia yang dulunya kurang begitu suka dengan anak kecil, dengan mengejutkannya malah banting setir menyukai mereka. Dia bahkan yang menggantikan Taehyung memandikan Taehun saat bayi itu berusia 48 jam.

“Hari ini aku tidak begitu semangat kerja. Setelah ini bantu aku menyelesaikan semua dokumen di meja. Kalau kita berhasil menyelesaikannya sebelum malam, aku akan mentraktirmu bulgogi, bagaimana?”

Minjae langsung setuju. Setelah makanan mereka habis, mereka pun segera kembali ke kantor.

***

Pukul 5 sore, pekerjaan Taehyung dan Minjae selesai sudah. Taehyung menepati janjinya mentraktir Minjae bulgogi. Saat ini mereka sedang menunggu lift. Rencananya mereka akan pergi dengan mobil Minjae, sekalian si sekretaris itu mengantar direkturnya pulang.

“Nanti kau boleh pesan lebih dari satu porsi kalau kurang. Kita akan makan sampai perut kita meledak.”

Minjae terkekeh mendengar ocehan konyol atasannya.

TING!

Begitu lift terbuka, mereka pun langsung masuk ke dalamnya. Minjae menekan tombol nomor 1, setelah itu pintu lift pun tertutup kembali. Taehyung memilih bersandar di sudut lift. Melepas jas dan melonggarkan dasi. Setelahnya mengaca pada dinding lift.

“Kau tidak merasa tertekan bekerja denganku ‘kan?”

Minjae yang awalnya sedang membalasi pesan dari Seongin, langsung menoleh. “Tentu saja tidak hyung.”

“Benarkah? Tidak perlu sungkan, katakan apa adanya.”

Minjae terkekeh. “Aku serius hyung. Bekerja denganmu sangat menyenangkan malah.”

Puas berkaca, Taehyung pun kembali berdiri menyandar seperti sediakala. “Baguslah. Dengan begitu aku tidak akan mengirimmu ke DaeHan group.”

Minjae tidak tersinggung mendengarnya, dia justru menganggap itu sebagai guyonan ala Taehyung saja.

Lift berhenti saat berada di lantai 3. Taehyung menggeser tubuhnya mendekati Minjae, untuk memberi ruang bagi karyawan yang akan masuk ke lift ini.

Begitu pintu terbuka, Taehyung dan Minjae bisa melihat lima karyawan perempuan yang sudah mengantri lama di luar lift. Taehyung dan Minjae tidak begitu terkejut, tapi lima karyawati itu histeris tanpa sebab. Minjae membungkuk, menyapa mereka. Lain lagi dengan Taehyung yang hanya meluncurkan senyum tipis. Setelah dilihat baik-baik, ada Yoon Seyoung juga di sana.

Dalam hitungan detik lift itu pun mendadak penuh sesak. Taehyung sedikit menahan diri menghirup aroma parfum yang bercampur make up dari gadis-gadis di dekatnya. Pernapasannya yang tidak begitu baik sejak kejadian mengerikan setahun lalu, jadi semakin tidak baik oleh bau-bau produk kecantikan yang dipakai oleh karyawatinya.

“Direktur-nim dan Sekretaris Han sudah mau pulang?” tanya seorang gadis yang memakai lipstick berwarna merah mengkilat.

Han Minjae yang menjawab. “Ya, kami sudah mau pulang.”

“Sepertinya kalian memiliki banyak waktu luang,” ujar gadis berambut pendek sebahu yang berdiri tepat di sebelah Taehyung. “Bagaimana kalau Direktur­-nim dan Sekretaris Han ikut pergi minum dengan kami? Tenang saja, kami yang akan traktir.”

Sebenarnya bukan masalah siapa yang mau traktir. Taehyung hanya tidak begitu suka pergi minum dengan perempuan. Karena nantinya pihak yang susah adalah yang laki-laki. Lagi pula Taehyung tidak bisa minum alkohol lagi karena faktor kesehatannya sekarang.

Minjae seolah tahu apa yang dipikirkan Taehyung. Dia menggeleng sopan pada para gadis itu. “Maaf, tapi Direktur-nim tidak bisa minum alkohol. Aku minta maaf.”

Taehyung memuji Minjae dalam hati. Dia berjanji tidak akan mengirim Minjae kemana pun meski Sehun ingin Minjae mengisi posisi kosong di DaeHan group.

TING!

Lift telah sampai di lantai satu. Para gadis yang harus menelan kekecewaan mereka keluar terlebih dulu. Lalu Minjae dan Taehyung menyusul.

Baru saja menapakkan kaki di koridor lantai satu, keduanya sudah dihadang oleh Yoon Seyoung. Gadis itu memperhatikan Taehyung sedemikian rupa. Dia sendiri tahu kalau sikapnya ini sangat lancang karena menatap Direktur tempatnya bekerja baru sebulan dengan tatapan khawatir seperti ini.

“Direktur baik-baik saja?”

Taehyung menoleh, berpandangan dengan Minjae. Minjae juga tidak tahu apa maksud karyawan baru itu.

“Memang ada apa denganku?”

“Tadi Sekretaris Han bilang Direktur tidak bisa minum alkohol. Apa Direktur sakit?”

Taehyung maklum karena Seyoung adalah anak baru di sini. Ia pun tersenyum, melepaskan rangkulannya di leher Minjae dan berdiri dengan tegak meski tinggi sebelah. “Aku baik-baik saja. Kau lihat sendiri ‘kan?”

Kekhawatiran di mata sipit itu masih belum hilang. “Tapi Direktur….”

“Sudah sudah. Ibu Taehun saja tidak masalah kok kalau aku tidak bisa minum. Pergilah, teman-temanmu pasti sudah menunggu.”

“Ibu Taehun?” Matanya mengerjap-ngerjap minta penjelasan. “Siapa itu?”

“Oh? Kau tidak tahu?”

Minjae bisa melihat dengan jelas kebingungan di wajah Seyoung. Pria itu paham, Seyoung selama ini tidak tahu kalau Direkturnya sudah beristri.

“Seyoung-sshi.”

Gadis baru lulus SMA itu sontak menoleh pada Minjae. Ada harapan di mata innocent-nya yang berbinar. Minjae sedikit bersalah harus mengatakan ini pada gadis itu.

“Aku akan menunggumu di mobil,” sela Taehyung tiba-tiba sembari berlalu dari mereka. Seyoung berniat mengejarnya tapi Minjae sudah menahannya lebih dulu.

“Seyoung-sshi, kau tidak boleh melakukan ini?”

Mata sipit itu melebar. “Apa maksudmu, sunbae?”

Minjae mengambil napas, lalu membuangnya di detik ketiga. “Kau tidak boleh melakukan ini.”

Masa bodoh dengan status mereka, Seyoung menepis kasar tangan Minjae. Matanya menatap tajam pada iris kecokelatan milik pria di hadapannya. “Jelaskan apa maksudmu, sunbae! Apa yang tidak boleh kulakukan?!”

Han Minjae menggeleng. “Jangan lakukan itu pada Direktur.”

“Hah? Bicaralah yang jelas!!”

Minjae menelan ludahnya susah payah. Dia bimbang untuk mengatakannya apa tidak. Dia tidak mau membuat Seyoung sakit hati dengan kata-katanya setelah ini. “Ibu Taehun … adalah istri Direktur.”

DEG!

Seyoung mundur selangkah. “Tidak mungkin.”

“Mereka sudah menikah sejak ibu Taehun seusiamu. Aku tahu ini akan menyakitimu tapi….”

PLAK!

“Haha, kau pasti sedang mengada-ada ‘kan Sekretaris Han? Tidak mungkin Direktur sudah menikah di usia semuda itu. Dan lagi, mungkin kau salah mengartikan kalau yang disebut ibu Taehun oleh Direktur adalah istrinya. Bisa saja Taehun itu nama sepupunya atau siapalah itu.”

Han Minjae sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Seyoung masih remaja, justru karena masih remaja itulah Minjae selalu kesulitan berbicara serius padanya. Bagaimana cara meyakinkan anak itu? Dia harus cepat karena Taehyung sedang menunggunya di mobil.

“Kau pasti sengaja berbicara seperti ini ‘kan?”

“Dia tidak sedang mengada-ada.”

Keduanya menoleh ke asal suara. Mengejutkan. Yang datang bukanlah Taehyung, melainkan Mark. Dia datang dari sisi yang berlawanan dari arah Taehyung pergi. Rambut pria itu berantakan, kedua matanya memerah, seperti baru bangun tidur.

“Kau ini bisa tidak tidak teriak. Suaramu membangunkanku.” Mark berhenti di sebelah Minjae. Menggaruk kepalanya sambil menguap lebar-lebar. Untung dia tampan, kalau tidak Seyoung sudah menjejalkan sepatu tingginya ke mulut Mark.

“Lalu kau siapa? Apa hubunganmu dengan Direktur?”

Mark menggeleng pelan, tersenyum meremehkan. “Lalu kau siapa? Kau bertanya begitu seolah kau ini orang penting bagi Taehyung.”

Pipi Seyoung memerah karena malu. “Setidaknya aku bukan pekerja paruh waktu sepertimu.”

Mark tertawa merendahkan. “Kau ini sama sekali tidak punya sopan santun pada yang lebih tua. Hanya karena Taehyung berjanji mentraktirmu es krim, kau pikir Taehyung menyukaimu? Sahabatku yang satu itu punya selera tinggi.”

Seyoung terkejut karena Mark tahu perihal itu. “Dari mana kau tahu?”

“Loh? Bukannya kau sendiri yang membeberkannya ke teman-temanmu? Aku hanya tidak sengaja mendengarnya.”

Sekarang wajah Seyoung memerah karena marah. “Dasar pria licik.”

Mark ingin menimpali tapi Minjae sudah menahannya. Mark pun hanya bisa mendengus kesal.

“Lebih baik kita hentikan pembicaraan ini sampai sini. Seyoung-sshi, kau mau percaya atau tidak itu terserah padamu. Yang penting aku sudah mengatakan padamu kalau Direktur sudah menikah. Jadi-”

“Sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku tidak akan memercayaimu. Apalagi kau, pria licik!”

Gadis itu berlalu begitu saja setelah menghentakkan kaki. Minjae dan Mark hanya memandang kepergiannya.

“Harusnya kau biarkan aku membalas si mulut pedas itu. Dia tidak akan mudah percaya kalau kau tidak mengatakannya dengan tegas.”

Minjae menoleh. “Aku tidak mau membuatnya sakit hati, hyung.”

Mark menggeleng pelan mendengarnya. “Kau benar-benar malaikat tanpa sayap, Sekretaris Han. Ya sudah, cepat susul Direkturmu.”

“Kenapa kau tidak ikut saja dengan kami?” Ide itu muncul begitu saja di pikiran Minjae. Taehyung mungkin akan setuju kalau Mark juga ikut serta.

“Kemana? Kalian tidak berniat pulang?”

Minjae menggeleng. “Aku dan Direktur berencana pergi mencari bulgogi setelah ini.”

Pria jangkung yang lebih tinggi beberapa senti dari Minjae itu menyeringai. “Bulgogi? Ide bagus. Kuharap Taehyung mau merelakan isi dompetnya untukku.”

Minjae tertawa, kemudian mereka berdua memutuskan menyusul Taehyung yang sudah menunggu di mobil.

“Siapa yang kau bawa itu, Minjae?!”

Mark melambai saat menemukan batang hidung Taehyung. Ia tersenyum lebar sambil mengalungkan tangannya di leher Minjae. “Kau tidak lupa pada sahabat terkasihmu ‘kan?”

Sahabat terkasih? Taehyung mendadak ngeri mendengarnya. “Bukan mantan rival?”

Mark hanya nyengir. “Ya anggap begitu juga boleh.”

“Pasti Minjae yang mengajakmu ikut bergabung ‘kan? Baiklah, kau boleh ikut. Tapi bayar sendiri. Mantan rival tidak ada di daftar temanku.”

“Eiy, kenapa kau begitu?” Mark melepas rangkulannya pada Minjae, dan beralih melakukan hal yang sama pada Taehyung. Minjae hanya tersenyum melihat mereka. Ia pun memasukkan tasnya dan tas Taehyung ke tempat duduk di belakang.

***

Taehyung pulang pukul 9 malam. Didapatinya Sena yang meringkuk di sofa seberang televisi. Dipelukannya ada Taehun yang juga sedang tertidur. Televisi masih menyala, Taehyung tahu Sena ketiduran.

Diraihnya remote, menekan tombol off. Setelah itu ia pun duduk di sisi kosong sofa tersebut. Satu tangannya terulur, mengusap pipi Sena yang dingin. Sementara tangan lainnya menepuk-nepuk perut Taehun.

“Kalian lelah sekali?” bisiknya lembut. Taehun bergerak pelan, membuat Taehyung tidak bisa menahan senyum.

“Taehun-a, abeoji tidak bisa memindahkan ibumu. Apa yang harus abeoji lakukan?”

Tidak ada jawaban dari si mungil itu karena ia sedang terbuai mimpi. Taehyung pun harus memutar otak sendiri. Di tengah-tengah saat itulah, Sena tiba-tiba bangun. Ia berkedip-kedip sebentar menyesuaikan matanya.

“Kau sudah pulang?”

Taehyung tersenyum lebar. “Aku pulang….”

Sena membiarkan Taehun tetap berbaring, sementara dia merubah posisinya menjadi duduk. “Kau sudah makan malam?”

“Eum. Aku pergi makan malam dengan Minjae dan Mark. Kau?”

Sena menggeleng pelan. “Aku menunggumu.”

Taehyung mengusap pipi Sena sebentar. “Maaf, aku tidak tahu kalau kau menungguku. Tapi aku akan membayar penantianmu. Aku membawakanmu bulgogi.”

Bulgogi? Ah, sudah lama aku tidak makan itu,” ujar Sena di sela kegiatannya mengucek mata. Ia pun menguap lebar, dibiarkan begitu saja oleh Taehyung.

“Tidak takut gendut ‘kan?”

Sena tertawa. Memukul Taehyung tanpa kekuatan. “Kau ini bicara apa sih?”

Taehyung mengecup bibir Sena sekilas. “Kau sudah benar-benar menjadi seorang wanita, Nyonya Kim.”

Wanita yang baru menginjak usia dewasa itu tersenyum geli. “Itu pujian atau sebaliknya?”

“Atau.”

Keduanya tertawa.

Taehyung menghentikan tawanya saat teringat kejadian beberapa waktu lalu di kantor. Tatapannya berubah serius. Sena pun ikut menghentikan tawanya.

“Ada apa?”

Taehyung tersenyum. Menggeleng pelan. “Aku sempat berpikir bagaimana kalau kau datang ke kantor. Biar bagaimana pun aku ini hanyalah seorang Direktur sementara. Para pekerja harus tahu siapa Direktur asli mereka.”

“Kenapa? Lagi pula selama ini yang mengurus perusahaan adalah kau, aku belum memiliki andil apa pun.”

“Tapi Direktur asli secara hukum di sini adalah kau, Sena. Biar bagaimana pun Daesang Company adalah milikmu sekarang.”

Sena meraih kedua tangan Taehyung, menggenggamnya hangat. “Jagiya, mau itu kau atau aku, Daesang Company adalah milik kita berdua. Lupakan soal perjanjian antara kakek dengan Sehun appa. Sekarang perusahaan itu berada di bawah nama kita, kita pemiliknya. Kalau kau memintaku datang ke sana, baiklah aku akan datang. Tapi aku tidak mau kau mengumumkan pada mereka kalau aku juga Direktur di sana.”

Taehyung mengangguk puas. “Aku tidak akan mengenalkanmu sebagai Direktur, tenang saja.”

**

Seyoung sedang berada di ruang Taehyung ketika Minjae masuk. Pemuda itu membungkuk pada Taehyung. Saat matanya tak sengaja bertemu dengan Seyoung, Minjae bisa merasakan hawa-hawa membunuh dari tatapan gadis itu.

“Kebetulan kau datang.”

Minjae sontak menoleh. “Apa ada yang bisa kubantu, Direktur?”

“Ya, aku perlu bantuanmu. Tolong pergi ke toko es krim terbaik. Pesan dua. Nona Yoon, kau pesan rasa apa?”

Seyoung gelagapan ditanya tiba-tiba seperti itu oleh Taehyung. Ia memutar otaknya cepat. “Green tea?”

“Oke. Satu Green tea dan satu lagi cokelat. Kembalilah dalam 15 menit.”

Minjae membungkuk, kemudian undur diri. Kembali tersisa Taehyung dan Seyoung di ruang itu.

Seyoung memandang Direktur yang sedang sibuk memberi tanda tangan di berkas-berkasnya itu dengan kagum. Dia tidak menyangka kalau Direkturnya akan menepati janji secepat ini. Apalagi mereka makan es krim di satu ruang yang sama. Benar ‘kan apa katanya kemarin, Mark dan Minjae itu hanya mengada-ada saja. Tidak mungkin pria semuda ini sudah menikah apalagi punya anak.

“Ng … Direktur, suka cokelat ya?”

Taehyung hanya berdehem, malas menjawab.

“Aku pikir Direktur tidak akan menepati janji.”

Taehyung menyeringai. “Aku bukan orang yang seperti itu.”

Seyoung tersenyum. “Ne, Direktur adalah orang yang selalu menepati janji.”

Ruangan itu kembali hening. Hanya suara detak jam dinding yang meramaikan ruang tersebut. Tiap detik yang berlalu, Seyoung tidak menyia-nyiakannya. Ini adalah waktu yang berharga, kapan lagi dia bisa memperhatikan Taehyung sedekat ini?

“Direktur, apa semasa sekolah dulu kau adalah seorang ulzzang?”

Taehyung menyingkirkan berkas yang sudah selesai ke sisi kanan. “Tidak. Kenapa?”

“Benarkah? Lalu apa kau menjadi idola?”

Pria itu menggeleng. Menatap Seyoung sekilas. “Aku ini bukan anak baik-baik.”

Seyoung terperanjat. Tidak yakin dengan jawaban Taehyung. “Tidak mungkin. Lalu bagaimana bisa kau menjadi Direktur?”

“Entahlah, itu terjadi begitu saja.”

“Ah ya benar. Manusia tidak akan tahu takdir hidup mereka di masa depan. Aku terkejut mendengarnya, Direktur. Apa kau sering jadi korban bully?”

Taehyung tertawa ringan. “Entahlah. Aku juga tidak yakin.”

“Maaf kalau aku menyinggungmu. Aku hanya ingin tahu lebih dalam tentangmu, Direktur.”

Tanda-tanda itu akhirnya makin jelas. Taehyung pun tahu kenapa anak ini terobsesi sekali dengannya. Alasannya sangat klise, Taehyung sedikit tidak menyukainya.

“Hasil kerjamu lumayan. Bagaimana menurutmu kalau aku menempatkanmu di Jungnang-gu? Di sana, mereka membutuhkan bagian administrasi sepertimu.”

Ekspresi Seyoung tampak muram. Dia tidak mau tidak satu atap dengan Taehyung. “Kenapa harus aku?”

“Karena hasil kerjamu baik. Kau akan mendapat posisi yang lebih baik di sana.”

Tanpa bisa mengendalikan diri, Seyoung menggeleng tegas. “Aku tidak mau, Direktur. Kau ‘kan bisa mengirim karyawan lain.”

Taehyung menghela napas.

Pintu tiba-tiba terbuka, muncullah sosok Minjae yang datang sambil membawa dua mangkuk es krim pesanan sang Direktur. Ia meletakkan dua mangkuk itu di atas meja. Taehyung mendorong mangkuk es krim rasa Green Tea ke hadapan Seyoung. Sementara mangkuk berisi es krim rasa cokelat sama sekali tidak ia sentuh.

Seyoung tidak bisa menahan diri bertanya. “Kenapa kau tidak makan es krim-nya, Direktur?”

“Nanti saja. Kau makanlah dulu.”

Seyoung menurut, karena dia percaya Taehyung akan menyusulnya.

“Han Minjae, kenapa kau masih ada di sini?” tanya Taehyung saat menyadari bahwa Minjae masih berdiri di dekat mejanya.

“Ada seseorang yang mencarimu, Direktur. Dia sudah menunggu di meja resepsionis.”

“Oh. Suruh saja masuk.”

Han Minjae pun segera melenyapkan diri dari ruang itu. Lagi-lagi membiarkan sang Direktur hanya berdua dengan Seyoung.

“Siapa yang akan datang, Direktur? Apakah itu tamu penting?” Antara gelisah dan kecewa Seyoung memberanikan diri menanyakan itu pada atasannya. Dalam hati dia mengutuk orang yang datang di saat tidak tepat seperti ini.

Pertanyaan Seyoung terjawab sudah setelah Han Minjae kembali bersama seseorang. Gadis itu hanya bisa terperangah di tempatnya. Ia tidak menyangka ada seorang gadis secantik itu di dunia ini. Saat pandangan mereka saling bertemu, Seyoung membeku melihat senyum gadis itu.

“Oh apa aku datang di waktu yang salah?” tanya gadis itu pada Minjae. Kemudian memandang Taehyung dan Seyoung bergantian.

“Tidak. Duduk saja.”

Seyoung menoleh saat Taehyung mendorong kotak es krim itu ke sebelahnya, lebih tepatnya di hadapan gadis cantik yang duduk di sampingnya.

“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya gadis itu ramah.

“Ng? Ah, dia hanya menyetorkan tugas-tugasnya padaku.” Taehyung tersenyum pada gadis itu. Seyoung mengernyit. Senyum itu sangat berbeda dengan senyum yang Taehyung perlihatkan padanya selama ini.

“Oh. Kau juga mentraktirnya es krim? Wah … kau benar-benar Direktur yang baik.”

“Aku tidak akan tersentuh dengan pujianmu itu, Sena.”

Ya, gadis yang membuat Seyoung terpana dengan kecantikannya itu adalah Sena. Dia datang sesuai janjinya kemarin.

“Kenapa tidak kau makan? Itu untukmu, Sena,” ujar Taehyung ketika mangkuk es krim rasa cokelat di hadapan gadisnya tidak disentuh sama sekali.

Sena menggeleng sambil tersenyum. “Aku sedang menstruasi, Taehyung. Darahnya akan membeku kalau aku makan es itu.”

“Ah … ah … ternyata ini harinya? Aku benar-benar lupa. Maafkan aku.”

Seyoung merasa menjadi lilin hiasan di ruang ini. Kedua manusia itu asyik mengobrol berdua, melupakan dia yang sudah lebih awal ada di sini sebelum gadis bernama Sena itu. Seyoung merasa aneh dengan mereka. Taehyung? Sena? Menstruasi? Kenapa obrolan mereka sejauh itu? Siapa Sena sebenarnya?

Taehyung akhirnya sadar kalau sejak tadi Seyoung memperhatikan mereka. Ia pun berdehem.

“Maaf, aku sampai melupakan keberadaanmu nona Yoon. Mungkin kau aneh dengan perbincangan kami berdua. Aku akan memperkenalkannya. Dia ini, adalah Oh Sena. Putri sulung dari direktur DaeHan group.”

Sena membungkuk sopan. “Senang bertemu denganmu, nona Yoon.”

Seyoung membalasnya kikuk. Ia pun kembali menatap Taehyung. “Lalu, apa hubungan kalian?”

Sena tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. “Kau tidak tahu?”

Seyoung menggeleng. “Tolong beritahu aku.”

“Kami suami istri,” jawab Sena cepat. Secepat itulah pisau membelah hati Seyoung jadi dua.

Suami istri? Mereka … suami istri?

Sena mengernyit melihat ekspresi Seyoung. “Aku tidak menyangka kau tidak tahu fakta itu. Apa nona Yoon ini karyawan baru?”

“Ja-jadi … kau adalah ibu Taehun yang dimaksud Direktur?”

Gadis Taehyung mengangguk enteng. “Eum. Dia selalu menyebutku begitu di depan banyak orang.”

Seyoung tidak tahu harus bagaimana. Tubuhnya lemas begitu saja. Selera makannya pun lenyap entah kemana. Dan pikirannya kacau. “Tidak mungkin. Kau pasti berbohong ‘kan? Direktur, dia hanya mengada-ada ‘kan? Jawab aku!!”

Sebagai istri Taehyung, Sena kesal pada Seyoung yang berani berteriak pada atasan. Kelakuan itu sangat tidak pantas. Emosinya pun ikut memanas. “Jaga cara bicaramu pada atasan, nona Yoon.”

“Kalian hanya berakting ‘kan?” Suaranya pun melemah. Air mata mulai menggenang di netranya yang sipit.

Taehyung menggeleng. Belum sempat dia bicara, Sena sudah mengambil kesempatannya.

“Kenapa reaksimu seperti itu setelah mendengarnya? Kau … apa kau sedang mencoba menggoda Taehyung?!”

Sena bangkit tiba-tiba. Membuat Taehyung juga ikut bangkit. Pria itu menggeleng pelan pada Minjae yang berniat untuk mendekat.

Dalam sedetik gadis bermarga Yoon itu tertawa keras. Ia pun berdiri, lalu dengan mengejutkannya mendorong tubuh Sena hingga gadis itu jatuh. Beruntung Minjae berhasil menangkapnya sebelum tubuh langsing itu terkapar di lantai.

Taehyung menatap Seyoung murka. “Apa yang baru saja kau lakukan?!”

Yoon Seyoung beralih menatap Taehyung. Ia meraih tangan lelaki itu dengan cepat dan menggenggamnya erat. “Direktur, bercandanya tidak lucu. Tidak bisakah kau katakan yang sebenarnya? Katakan kalau ibu Taehun itu adalah ibu sepupumu. Katakan kalau kau belum menikah. Jangan terus-terusan berbohong, Direktur.”

Taehyung melepas paksa genggaman Seyoung. Ia menghela napas gusar. Ini adalah masalah yang paling rumit dalam hidupnya. Karena yang ia hadapi adalah seorang perempuan yang masih remaja. Berbicara adalah hal yang paling sulit dilakukannya pada seorang remaja.

“Bisakah kau hentikan ini Yoon Seyoung? Aku harus melakukan apa untuk bisa membuatmu percaya kalau aku bukan pria dalam bayanganmu?” Taehyung menelan salivanya susah payah. Dia tidak boleh terbawa emosi. Dilihatnya Sena yang berdiri di samping Minjae, wanita itu sedang memandang Seyoung penuh kebencian.

“Haruskah aku lakukan tes DNA dengan Taehun? Haruskah kudatangkan pangacara untuk membuktikan kalau aku ini adalah suami Sena? haruskah aku melakukan semua itu hanya untuk membuatmu percaya?”

Seyoung diam di tempat. Terisak sambil memandang Taehyung yang meliriknya saja tidak.

“Aku tidak akan memecatmu karena masalah seperti ini. Tapi aku akan memindahkanmu ke Jungnang-gu. Kuharap dengan memindahkanmu ke sana, kau akan melupakan perasaan itu padaku.”

Seyoung menggeleng. Makin lama makin kuat. Dan kemudian ruangan itu bergetar oleh suara teriakannya. Taehyung sama sekali tidak berpaling. Sena mengernyit. Minjae memandang iba gadis itu.

“AKU BENCI KAU! AKU BENCI DIA! AKU BENCI SEMUANYA!!”

Minjae pun berlutut di dekatnya, berbisik pada gadis itu untuk tenang. Akan tetapi sia-sia saja, tangis gadis itu justru makin keras.

Di tengah-tengah melodrama itu, Taehyung dikejutkan dengan Sena yang tiba-tiba menariknya. Gadis itu membawanya ke tempat yang sepi, lebih tepatnya area tangga darurat.

“Bisakah kau jelaskan situasi ini padaku? Kenapa dia begitu?” tanya Sena tidak sabaran. Taehyung bisa melihat kedua mata indah itu tidak sejernih biasanya, ada semburat merah yang sedikit mengusik keindahan netra tersebut.

Taehyung hanya memeluknya. Tidak peduli kalau tulang rusuknya akan menekan paru-parunya. Saat ini yang dia inginkan hanyalah memeluk Sena.

“Kau sungguh tidak mau menjelaskannya?”

“Aku terlalu banyak bicara hari ini. Badanku jadi panas.”

Sena menghela napas. Balas memeluk pria itu. “Kenapa harus ada masalah seperti ini? Kenapa kau tidak pernah cerita?”

Taehyung tidak menjawab. Dia terpejam dengan dagu berada di atas bahu Sena. Selalu nyaman berada dipelukan ini. Dia ingat kalau akhir-akhir ini dia jarang memeluk gadis ini.

Gadis itu kembali menghela napas. Diusapnya lembut rambut Taehyung, berharap dengan begini pria itu akan baik-baik saja. Sena akhirnya sadar, alasan mengapa Taehyung ingin dia datang ke sini bukan untuk mengenalkannya sebagai direktur, tapi sebagai bukti pada karyawan keras kepala itu kalau Taehyung sudah memilikinya. Memikirkan itu membuat Sena senyum-senyum sendiri. Tingkah Taehyung sangat kekanak-kanakkan.

Entah bagaimana nasib Yoon Seyoung, mereka tidak peduli. Semua urusan itu sedang ada di tangan Han Minjae kali ini.

Semangat Han Minjae !

END

17 responses to “[Se-Tae Series] Can You Trust Me?

  1. wkwk urusan sama bocah emang ribet ya :p tp kok ya tiba2 bisa ada orang ketiga sih
    semoga aja gk ada kenekatan yg lain
    sedih bgt kalo udh diposisi gitu ya, kecewanya pasti

  2. Akhirnya ff ini di lanjut juga…. author aku nungguin ff ini hampir 1 tahun tau ….

    Jebal terusin yah… jgn hiatus mulu 😄

    화이팅

  3. ada ya namanya bawahan sampai menggila kayak gitu
    beuhhh parah
    harusnya mahhh taehyung gk terlalu baik ama tuh cewek ngasih harapan namanya
    biarlah han minjae yang mengurusnya

  4. whoaaaa cinta mereka diuji kembali kkkkk
    tp nggak goyah kok…
    suka ma sweet couple ini…saling percaya dan pengertian
    keep writing!!!!?

  5. apaan sih si seyong seyong itu-_- dasar kecentilan.
    udh dibilang si tae udh nikah dn punya anak msh ngeyel jg…bocah banget …
    buang sajalh si seyong itu-_-

  6. Ya ampun resek banget bawahannya itu bener lah kalo taehyung ngajak sena dan ngenalin sena udah lega

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s