[2] Note on the Desk: Beginnings are always Mess

Note on the Desk

Note on the Desk: Beginnings are always Mess

by awackywallflower ft. Key

Jeon Jungkook, Jung Jaehyun, BTS & OC || Friendship, Family, School Life, Romance || Series

Previous: [0[1]

Kelas masih lengang ketika Jungkook melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Hanya ada tiga orang murid yang tengah berkerubung di salah satu bangku―yang dapat Jungkook pastikan mereka tengah mengerjakan PR yang diberikan guru Kang minggu lalu―, dua orang lagi sedang sibuk dengan ponselnya dan satu orang yang duduk malas-malasan di bangku langganannya―yaitu dirinya sendiri.

Jungkook merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari kontak yang ia beri nama Jin Hyung.

From: Jin Hyung

Sejak kapan kau berani tidak membawa bekal buatanku?

To: Jin Hyung

Sejak aku menyadari umurku sudah lebih dari 17th,  hyung.

From: Jin Hyung

Ibumu tadi datang mencarimu.

Jungkook menghela napas ketika membaca pesan yang masuk dari Jin. Sudah tiga hari ini ia menginap di rumah Jin, ia tidak menyangka ibunya bisa melacak secepat ini. Padahal Jungkook akan mengira ia akan ditemukan sekitar seminggu lebih mengingat orang pertama yang akan ditemui ibunya adalah Taehyung diikuti dengan Namjoon dan Jimin. Ibu jarinya bergerak dengan cepat membalas pesan Jin kemudian kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Direbahkannya kepalanya di atas meja yang bertumpu dengan satu sisi pipinya. Pandangannya yang kosong mengarah pada meja dengan berbagai kalimat yang tertoreh di atasnya. Membuatnya teringat akan tulisannya satu tahun yang lalu.

Jungkook tiba-tiba menegakkan kepalanya, manik hitamnya bergulir mencari hasil tulisannya. Ia menemukannya di pojok kanan meja. Maniknya menangkap tulisan asing di sana. Ada tinta baru yang tertoreh di sana, Jungkook bisa mengetahui dari warna terang jika dibandingkan tulisan yang di sekitarnya.

Still alive? Let’s die together, then.

Jungkook tersenyum timpang membaca tanggapan baru tersebut. Ia kemudian mengeluarkan pensilnya, menorehkan tulisan tepat di bawah tulisan baru itu.

Apa alasanmu ingin mati?

•••

Apa alasanmu ingin mati?

Summer mengernyit. Ia tidak yakin dengan apa yang ditangkap kedua matanya. Lebih tidak yakin lagi bahwa orang yang menulis tanggapan baru ini orang yang sama. Tulisan baru itu tidak tertoreh dengan pulpen melainkan pensil namun Summer yakin kalimat tersebut ditujukan untuknya.

Summer mengambil pulpen dari tempatnya, ia sudah bersiap menggerakan tangan guna menuliskan jawaban namun ia tahan. Summer memukulkan bagian atas pulpen dengan pelipisnya secara perlahan kemudian membawanya turun dan membuatnya terjepit di antara gigi bagian atas dan bawahnya.

Well, well, should I change to pencil too? Or nah?” gumam Summer untuk dirinya sendiri.

Summer kemudian memutar bola matanya, “Yeah, sejak kapan hal ini menjadi sebuah hal yang harus kau pikirkan, Summer?” ujarnya lagi dengan suara hampir berbisik.

Summer kemudian membiarkan pulpennya menodai meja untuk kedua kalinya. Bibirnya komat-kamit ikut mengeja setiap kata yang ia tuliskan.

Ugh, too hard. Aku membutuhkan opsi bantuan seperti call a friend, bolehkah?

•••

“Ya Tuhan, kalau tahu begini aku membolos saja di kelas seni.” Lirih Zoey berujar di telinga Summer.

Ujung mata Summer melirik ke arah Zoey, menyempatkan diri untuk terkikik sebelum benar-benar menoleh menghadapnya. “Kenapa kau tidak tanya guru Nam sendiri tentang hal ini?”

“Ah, kau benar juga Summer.”

Summer benar-benar tidak menyangka ketika Zoey mengangkat satu tangannya ke udara membuat seisi kelas beralih memperhatikannya.

“Ya, Zoey? Apakah ada yang ingin kau tanyakan atau kau hanya ingin izin ke kamar mandi?” Suara parau guru Nam terdengar.

Jika dilihat-lihat guru Nam cukup menarik. Ia masih muda, suaranya indah―namun sepertinya hari ini ia sedang sakit tenggorokan atau semacamnya―selera musiknya juga bagus―terbukti dari lagu yang ia buat sendiri dan beberapa lagu yang ia tugaskan untuk diobservasi―dan yang paling penting selera berpakaiannya tidak norak. Bagaimana bisa seseorang terlihat keren hanya dengan kemeja gombrong dan sebuah ripped jeans?! Hanya satu yang disayangkan, guru Nam sudah memiliki tunangan.

“Bukankah kita sudah mendapatkan kelas seni rupa minggu kemarin?”

“Ah!” Guru Nam menepuk tangannya sekali, “Terima kasih sudah mengingatkan, Zoey.”

Zoey tersenyum lebar. Saking lebarnya mungkin bisa sampai merobek kedua sisi wajahnya. Tangannya yang terangkat di udara langsung turun untuk membereskan beberapa peralatan seni rupanya―yang sebenarnya masih rapi di atas mejanya.

“Tapi maksudku di sini bukan menyuruhmu mengemas alat gambarmu, Zoey.” Ucapan itu seketika membuat Zoey membeku di tempatnya. Matanya mendelik penuh tanya sedangkan bibirnya menganga menagih jawaban. Beberapa murid terkikik karena respon Zoey dan Summer salah satu di antaranya.

Shut up!” perintah Zoey setengah kesal karena sedari tadi yang dilakukan Summer hanya terkikik tanpa berniat membantunya bebas dari kelas seni rupa.

“Adakah opsi bantuan yang bisa kupakai? Call a friend, mungkin?” sahut Summer masih dengan tawa yang melekat di bibirnya. “I’m sorry Zoey, but believe me I try not to.

Zoey menggerak-gerakkan kepalanya dengan maniknya yang berguling ke kanan dan kiri juga bibirnya yang mengucap kata whatever tanpa suara.

“Aku lupa memberitahu kalian bahwa kelas seni musik telah selesai yang berarti akan ada tugas akhir yang harus kalian kerjakan. Yaitu, membuat mix-tape dan lagu. Semuanya harus sudah aku terima sebelum semester ini berakhir jadi waktu kalian cukup panjang, sekitar tiga bulan.”

Seketika kelas menjadi gempar. Beberapa ada yang senang dengan tugas yang diberikan guru Nam, beberapa ada yang mengeluh dengan teman-temannya, beberapa ada yang protes langsung kepada guru Nam dan ada juga yang tidak memberikan respon apa-apa seperti Summer dan Jungkook.

Hell, kenapa aku tiba-tiba menoleh ke arahnya?

Summer cepat-cepat mengubah arah pandangnya ketika manik mereka hampir bersinggungan. Guru Nam mengetuk meja sebanyak tiga kali dengan penghapus papan tulis. Mengumpulkan perhatian para muridnya yang sempat berhamburan ke sana kemari.

“Dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai. Jika sekiranya penting boleh kalian catat. Ini terkait dengan tugas di kelas seni karena mulai bulan depan kita tidak lagi bisa bertatap muka.” Ucapan guru Nam sukses membuat seisi kelas sunyi. “Aku ada tugas belajar selama tiga bulan ke depan jadi aku tidak bisa mengisi kelas kalian sedangkan tidak ada guru kesenian yang bisa menggantikan guru kalian yang keren ini.”

Terdengar sorak-sorai protes dari para murid. Membuat guru Nam tertawa sampai kedua matanya membentuk sebuah garis lengkung. Guru Nam mencoba menghentikan kegaduhan yang terjadi. “Tenang, tenang, dengarkan dulu. Aku akan membuat tugas akhir ini menyenangkan.”

Riuh-rendah suara mulai surut. Guru Nam berdeham dua kali sebelum menjelaskan tentang tugas akhir kelas seni mereka. “Pertama, tugas akhir seni tari, sudah jelas kan? Kalian hanya disuruh membuat koreografi baru dengan durasi minimal dua menit, lagu pengiringnya bebas. Kedua, tugas seni musik. Kalian hanya perlu membuat mix-tape yang berisi minimal lima buah lagu yang menceritakan tentang hal yang paling berkesan dalam hidup kalian selama ini dan membuat satu buah lagu yang akan kalian pentaskan di akhir semester nanti.”

Zoey mengangkat tangannya lagi ke udara. “Ya, Zoey?”

“Apakah boleh memasukkan lagu yang saya buat ke dalam mix-tape?”

Guru Nam mengangguk. “Aku tidak akan menyulitkan kalian. Tentu saja boleh. Mix-tape boleh berisi semua lagu buatan kalian sendiri, atau hanya beberapa saja, atau kalian juga bisa memasukkan lagu buatan kalian untuk tugas akhir ini ke dalam mix-tape­, lebih praktis kan? Jadi, kalian hanya perlu mengirimkan satu file saja nanti. Namun ….” Guru Nam memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya, “…. pastikan pesan dari ­mix-tape kalian sampai kepadaku. Kalau memang kalian ingin menceritakan tentang kisah hidup kalian yang bahagia, pastikan aku akan ikut berbunga-bunga ketika mendengarnya atau kalian bisa membuatku menangis semalaman karena kisah hidup kalian yang terlalu menyedihkan. Jelas?”

Seisi kelas dengan kompak menjawab bahwa mereka sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan guru Nam terkait tugas akhir mereka. “Bagus! Dan yang terakhir tugas seni rupa. Kalian akan berpasang-pasangan untuk mengabadikan wajah satu sama lain.”

Sorry?” Bukan, protes kali ini bukan dari Zoey melainkan gadis bersurai mahoni yang baru Summer ketahui bahwa namanya Kim Haneul―tentu saja Zoey yang memberitahunya.

“Ya, Haneul, kau tidak salah dengar. Kalian akan mengabadikan wajah masing-masing teman kalian. Aku tidak mengharuskan kalian untuk menggambar, kalian boleh membuat sebuah pahatan atau lukisan dari biji-bijian, terserah kalian asal ketika aku melihatnya aku tahu siapa yang kalian sedang abadikan.”

“Jadi, kita memilih sendiri pasangan kita, begitu?”

Guru Nam menggerak-gerakkan jari telunjuknya. “Tentu saja tidak. Hal seperti itu kurang menantang, kan?” guru Nam kemudian mengambil sebuah toples yang berisi gulungan-gulungan kertas merah muda berukutan dua senti meter di dalamnya. “Aku akan mengundinya,” ucap guru Nam dengan menggoyang-goyangkan toplesnya membuat gulungan kertas itu meloncat ke sana kemari.

“Semoga bukan Jungkook, semoga bukan Jungkook.” Ucap Zoey seperti merapal mantra dengan jari telunjuk dan jari tengahnya yang saling bersilangan.

Summer bertopang dagu menghadap Zoey yang bibirnya masih komat-kamit. “Aku tidak mengerti. Semua gadis berharap dapat berpasangan dengan Jungkook kenapa kau malah tidak menginginkannya?”

Zoey berhenti merapal doa. Satu alisnya naik. “Semua gadis? Termasuk dirimu?”

Summer mengedikkan bahu. “Aku tidak berada pada posisi mengharapkan berpasangan dengannya sih tapi aku juga tidak setidak menginginkannya sepertimu. Malah menurutku berpasangan dengan Kim Haneul akan lebih mengerikan.”

“Ck, kau salah jika berpikir seperti itu. Berpasangan dengan Haneul akan lebih memudahkanmu menyelesaikan tugas. Jika, karyamu tidak bagus Haneul tidak akan segan turun tangan untuk membantu agar wajahnya itu tampak sempurna. Sedangkan Jungkook? Dia memiliki sejarah kelam menghancurkan tugas partnernya tahun lalu, membuat pasangannya mendapatkan nilai D.”

“Kenapa bisa sampai seperti itu?!”

Zoey mengangkat kedua bahunya. “Tidak ada yang tahu. Kurasa karena BTS sengaja membuatnya seperti itu.”

“Seperti apa?” tanya Summer tak mengerti.

“Seperti tidak terjadi apa-apa diantara Jungkook dan partner kelompoknya. Setelah itu partner kelompoknya bahkan sampai pindah sekolah.”

Summer hendak menyahuti namun sebuah toples sudah berada di antara dirinya dan Zoey. “Sebelum melanjutkan obrolan kalian, silahkan ambil masing-masing satu.” Ucap guru Nam dengan mengulas senyum.

Summer menyempatkan diri untuk membalas senyum guru Nam sebelum memasukkan tangannya ke dalam toples, diikuti Zoey berikutnya.

“Apakah aku boleh menukarnya jika aku mendapatkan Jeon Jungkook?” tanya Zoey dengan suara sangat lirih―bahkan hampir tak terdengar.

Guru Nam mengedipkan kedua matanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Zoey. “Kukira semua orang ingin berpasangan dengannya, Zoey. Kau sedang tidak mencoba menjadi tokoh yang membencinya agar disukai Jungkook karena kau bersikap berbeda dari gadis-gadis yang lain kan?”

No way!” sergah Zoey langsung. “Aku hanya―” Zoey seakan ragu untuk mengutarakannya, “―guru Nam tahu kan, kejadian tahun lalu. Kurasa guru Nam masih ingat, saat itu guru Nam juga yang mengampu kami. Guru Nam juga yang memberikan nilai―”

“Kejadian itu tidak seperti yang kau pikirkan Zoey.” Potong guru Nam cepat. Sebuah senyum lembut terulas di bibirnya. “Selalu ada rahasia dibalik rahasia. Bukan begitu?” lanjutnya dengan mengedipkan satu kelopak matanya ke arah Summer sebelum beranjak ke bangku berikutnya.

“Apa maksudnya?” bisik Zoey tepat di depan wajah Summer.

Summer menggeleng. “Mana aku tahu. Mungkin tandanya guru Nam ingin menikahiku?”

Tawa Zoey meledak namun masih berada pada volume yang aman untuk didengar. “Aku tahu guru Nam memang begitu ‘hot’ tapi kumohon jangan sampai membuatmu mengigau di siang bolong seperti ini. Okay?”

Summer tergelak. “Sial.”

“Hei, Summer, kau mau bertukar denganku tidak semisal aku mendapatkan Jungkook.”

Summer mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya beberapa kali. “Mmm…  jika dan hanya jika aku mendapatkan nomor yang sama dengan Kim Haneul. Selain itu, aku tidak mau menukarnya denganmu. Bagaimana?”

Deal!

Guru Nam menanyakan secara bergantian mulai dari deretan bangku dekat jendela. Sedangkan Summer dan Zoey baru saja membuka gulungan kertas yang berada di tangan mereka.

“Berapa?” tanya Zoey ketika melihat angka delapan tertulis di dalam gulungan kertasnya.

“Sebelas. Kau?”

“Delapan.”

“Kim Haneul? Berapa nomor yang ada di gulunganmu?” tanya guru Nam. Seketika atensi Summer dan Zoey teralihkan. Summer tidak bisa berbohong jika jantungnya berdebar cepat kali ini. Kalau saja Haneul bukan seorang perempuan Summer pasti berpikir kalau ia sedang jatuh cinta.

“Sebelas.” Jawab Haneul cepat.

Summer serasa sedang dihantam sebuah batu besar ketika mendengar suara Haneul mengucapkan nomor gulungannya. Kini Summer yang merapal doa agar Zoey mendapatkan Jungkook agar ia bisa bertukar tempat sedangkan Zoey masih setia dengan harapannya yang sebelumnya.

“Kau, Jungkook?”

Kali ini tidak hanya Zoey yang berdebar-debar melainkan para gadis yang belum menyebutkan nomor undiannya. Mereka masih mengharapkan agar mendapatkan nomor yang sama dengan milik Jungkook.

“Delapan.”

Ini kali pertama Summer mendengar suara Jungkook sayangnya ia tidak memiliki waktu untuk menyanjungnya karena detik setelah Jungkook menjawab, Summer dan Zoey sudah saling pandang dengan mata yang membelalak lebar.

Shit happen.

Let’s exchange before they know.

Summer mengangguk. Ia menukar kertasanya dengan milik Zoey.

Seumur hidup Summer di dunia. Satu pun doanya belum pernah terkabul dan hari ini adalah kali pertama Tuhan mengabulkan doanya.

“Summer, berapa nomor kertasmu?”

Summer melirik ke arah Jungkook sesaat sebelum menjawab. Summer berharap semoga hal ini adalah pertanda baik untuk kehidupannya.

“S―” Zoey menyenggol bahu Summer dengan sikunya, “S-Summer, a-aku mendapat nomor delapan,” lanjutnya mengoreksi ucapannya.

.to be continued…

Yes, baby, this is part 2. Semoga ga ada typo nama Kaia lagi di sini? Hahaha. Maafkan part sebelumnya ya. Btw, ditunggu komentar kalian!❤

Btw lagi, part tiga enaknya di post besok aja atau… nunggu hari Jumat? Hari Jumat aja kali ya biar ga terlalu spam SKF? LOL.

 

 

40 responses to “[2] Note on the Desk: Beginnings are always Mess

  1. Ternyata emang jongkook yg nulis yach….hmmmm…ehh doa y terkabul juga..so dia partner y ma jongkook..

  2. Waktu baca ff ini ,bawaan nya mau ketawa kalo gak deg2 mulu..
    Summer astaga kocak kali sma zoey ,hahah next ya eooni .
    Part 3 nya besok saja napa eooni ,klo jum’at lama kali eooni ,soal nya seru kali cerita nya.

  3. Waktu baca ff ini ,bawaan nya mau ketawa kalo gak deg2 mulu..
    Summer astaga kocak kali sma zoey .
    Part 3 nya besok saja napa eooni ,klo jum’at lama kali eooni ,soal nya seru kali cerita nya.
    😘🙌🙋

  4. hahahahahaaaa… summer dan xoey kocak abis …
    dan secara tdak lansung sunmer dan jongkook bertukar psan lwat meja…

    aku terserah aothor ajj mau kpan.. tpi, klau bsa besok soalnya kangen kekocakannya sunmer dan zoey..(ujung”nya mksa jga.. PLETAK)
    hheheeeeee……

  5. hahahahahaaaa… summer dan zoey kocak abis …
    dan secara tdak lansung sunmer dan jongkook bertukar psan lwat meja…

    aku terserah aothor ajj mau kpan.. tpi, klau bsa besok soalnya kangen kekocakannya sunmer dan zoey..(ujung”nya mksa jga.. PLETAK)
    hheheeeeee……

  6. Kann bener kan jungkook kek misterius” gitu anaknya
    As expected sih kak disini kan kek yang kentara masalahnya si summer tapi baiknya dia bisa langsung deket gitu sama zoey , asik kali ya punya temen kek zoey 😀 , jungkooknya malah yang lebih se introvert ituu /kukira/ dia bener”ga punya temen ya di sma ?
    Pokoknya cerita nya beda lah , gak seperti yang aku kira bakal gini-gini dan ternyata ini tak seperti yg dipikiranku 😀 banyak kejutan deh pokoknya

  7. Aku suka gaya mengajar gurunya hehehe…
    Mejanya jd tempat buat surat2an wkwkwk…
    Aku bingung cerita yg pas dia tukeran nomor hmmm…

    • Besok Sukkie kalo jadi guru kayak guru Nam ya😉
      Simple, awalnya Summer dapet 11 dan Zoey dapet 8. Haneul kan di kertanya dapet angka 11 berarti dipasangan sama Summer harusnya tapi karena Zoey dapet angka 8 yang berpasangan sama Jungkook makanya terus mereka memutuskan tukeran. Jadinya, Summer – Jungkook. Haneul – Zoey. Gitu🙂

      • Oh iya, baru bca ulang aku. Kmrn pas bca kirain kim haneul itu nama lain dr zoey, jd aku bingung hihihi

  8. Kok kertasnya ketuker gitu sih? Kan tadi udah tukeran?
    Btw, kalo ditanya mau di pos kapan sih ya aku jawabnya besok. Tapi terserah aja deh mau ngeposnya kapan

  9. Jungkook emg misterius banget kayaknyaa, suka bangett sama ceritanyaa. Ditunggu next chapnya yaa. Semangaatt!!!
    Buat part tiga, besok aja post nya wkwkk.

  10. Jadi akhirnya no summer emang dari awal 8? Kok bisa gitu? Padahal awalnya dia bilang sebelas 😯.. btw kookie punya masalah apa? Hmm ditunggu next chapnya thor^^

  11. Gataw knp ngakak pas baca ‘Shit happen’ 😂 btw itu jk sma summer kek bales2an pesan di meja
    Nice ff seru

  12. Haha tenang thor, part 2 udah bebas dari typo ‘kaia’ yeayy *apasih :’v

    Tuh kan? Yg nulis di meja tuh si JK. Duh si JK misterius bgt disini, bikin penasaran.

    Ditunggu part 3 nya ^^

  13. gimana rasanya 1 team sama Jungkook, daebaaakk hahahaha..
    dan Summer masih gatau yg bales notenya itu Jungkook..
    di tunggu next chapternya ^^

  14. Pingback: [3] Note on the Desk: Friend? Friend! | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. hahaha penasaran ntar tugasnya Summer sama Jungkook jadinya kaya gimana😀 omong2an aja ngga pernah

    sudah kuduga yg nulis di meja itu Jungkook xDD

  16. Summer sma zoey emang pasangan kocak wkwk
    But i am still waiting summer_jungkok momen wkwk ditunggu part 4 nya yaa

  17. Kan bener, yang nulis itu Jungkook dia kan cowoo hahhhaaaa. Nanti Summer sama Kookie jadi patner kan? Semoga cintacintaan udah dimulai hihihi

  18. Awalnya aku ngira si summer bakal dapet nomor yg sama kaya jungkook. Kaya di drama2 gitu. Eh taunya sengaja dituker.
    Emang jalan pikirannya author/admin yg ini ga bisa ditebak. Semoga di next chapter ada kejadian yg ga diduga lagi. Tapi secara keseluruhan terserah kakak sih ceritanya mau dikemanain.

    Btw Forewordnya kenapa aku bilang nggak menarik soalnya masalah si summer itu udah diceritain di sana. Terus aku ngiranya kakak bakal nulis lagi dari awal ortunya cerai-summer nyoba bunuh diri-summer dibully-summer minta pindah-…
    Kan capek bacanya padahal kita udah tau masalah2nya. Tapi ternyata pas aku baca chapter 1, enggak sesuai dugaan.
    Terus aku pas baca foreword, aku ngerasa masalah summer itu terlalu dilebih2kan. Maksudnya masa gara2 ortu cerai summer pengen bunuh diri terus di sekolah dibully. Oke kalau yg bunuh diri itu wajar sih. Soalnya aku juga korban broken home. But dibully itu agak aneh. Tp pas baca di artikel lain aku baru tau kalo ada anak yg dibully gara2 ortunya cerai. Mksdnya dibully dalam artian dicaci maki atau bahan gosip.
    Tp mungkin ini genrenya agak ke drama jadi it’s okay ajalah. Mungkin karena akunya suka mikir terlalu rasional.
    Oke kak aku mau baca next chap duluuu

    • Halo, Laksani. Seneng sekali bisa ketemu kamu lagi di comment box. Beneran deh. Komentar kamu daripada menjatuhkan malah menurutku membangun sekali kok. Aku jadi tahu plot holes atau kejanggalan2 di cerita yang aku (tapi untuk kali ini cerita kami sih. Soalnya yg buat dua orang. Oho) buat. Tetep kayak gini ya Laksani, I dont mind mau kamu kritisi habis-habisan juga boleh kok. And I’m sorry to hear that. Maaf sekali kalo seandainya Summer bikin kamu inget hal-hal yg ga kamu inginkan ya. It was past, yg terpenting km udah sukses melewati badai, arent you?
      Yep. Nggak cuma kamu sih yg ngerasa forewordnya lame bgt. Kita yang nulis jg ngerasain kok. Monoton ga ada daya tariknya gitu kan, kek ga ada yg bisa bikin penasaran buat baca chapter pertamanya😐
      Dan untuk masalah perceraian sampai dibully, ada sih bbrpa yang emang dibully karena orgtuanya cerai tp biasanya kejadian sama bocah (yg umurnya emg masih sepantaran playgroup-TK gitu) kayak yg km blg biasanya jd bahan gosipan baik anak2nya yg kepo kmna ayah/ibunya atau bahan gosipan org tua temen2nya sendiri. Nah, untuk masalah Summer ini, dia kan udah SMP ya dibullynya jd masalahnya emg bukan sesepele itu, bukan cuma karena org tua cerai trus dibully, ada rahasia besar dibaliknya. Jadi, tetap setia baca aja😉 #sekalianngiklan.
      And yes, ini kayaknya bakal jadi drama sih apalagi dibbrpa bagian gitu. Hohohoho.
      Oke, Laksani. Sekali lagi makasih banget ya buat komentarnya. Kita malah nggak nyangka kalo ada yg mau baca cerita ini walaupun kita ga pake cast member exo.
      See you di chapter selanjutnya ❤

  19. Cieee yg komunikasinnya ngikut jamn batu ,bedanya mereka pake meja ,haduhh klo ketuan pak brison *kepsekgue dicincang mereka kkkk ..gatau ngakak sinting baca partnya si zoey ma summer tu cewe2 sinting kli yee ,teteplah emg ka ajeng klo bikin ff comedy nya ngenaaa,romantisnya ngenes hhhh ,oiyaa aq ktinggalan nii baru bca chap2 hri inii sosssorrry kaa ..

  20. Pingback: [4] Note on the Desk: Bubble-bubble, Here Comes Trouble | SAY KOREAN FANFICTION·

  21. Pingback: [5] Note on the Desk: Lucky-Unlucky | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s