#6 Time Capsule: Dillema

Time Capsule

Time Capsule

by awackywallflower

Starring:

Sydney Lee as OC ◊ Park Chanyeol ◊ Kim Jongin ◊ Oh Sehun ◊ Lilliana Tan as OC

Rating: PG-17 || Genre: Friendship, Romance, Drama, Adult-life.

Previous: Prolog | #1 A Little Reunion | #2 Comeback | #3 The Things Left Unsaid | #4 Wretch | #5 The Way to Escape | #6 Dillema

***

Bagi kebanyakan orang merokok, mabuk, berjudi adalah kebiasaan buruk yang bisa menghancurkan hidup perlahan-lahan. Namun bagi Sydney, Kim Jongin adalah definisi dari penghancur kehidupan yang sesungguhnya. Sudah tidak terhitung berapa batang rokok yang Sydney bakar, berapa botol minuman yang ia tenggak, berapa obat tidur yang ditelan setiap malamnya hanya untuk menghilangkan bayang-bayang Jongin yang selalu berhasil menginvasi otaknya.

“Aku baru tahu kau mengambil cuti minggu depan?” Suara Sehun menyapa ketika Sydney kembali dari membuat kopi. Cangkir ketiganya untuk hari ini.

Sydney yang tengah memijit satu keningnya menghentikan langkahnya tepat di samping kubikel Sehun. “Ah… itu─ Ugh─ Kurasa aku hanya membutuhkan,” Sydney mengedikkan kedua bahunya, “Kau tahu kan, short holiday. Semacam itu.” Lantas ia langsung menggiring langkahnya ke kubikel miliknya sendiri sebelum Sehun mencium kejanggalan pada air mukanya.

Sehun menaikkan kedua alisnya, bibir bawahnya sedikit ia majukan. “Kau tahu Sydney,” ucapnya tanpa memindahkan pandangannya dari monitor komputernya. Sydney tidak memberikan respon tapi Sehun tetap memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya, “Kau terlihat sama sekali tidak baik akhir-akhir ini.”

Sydney meletakkan cangkit kopi yang baru saja disesapnya di samping keyboard komputernya. “Jika maksudmu baik adalah cantik, Sehun. Memang sejak kapan aku bisa mengalahkan kecantikan Lily?” sahut Sydney yang sebisa mungkin bersikap seperti biasa padahal ia berusaha menahan bibirnya untuk tidak memberitahu perihal kedatangan Jongin dan tiket laknat tersebut.

Sehun terkekeh singkat. “Itu sih seperti mimpi di siang bolong. Tapi aku serius, apa semuanya baik-baik saja Sydney? Apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu kepadaku?”

Daripada menjawab pertanyaan Sehun, Sydney malah melemparkan pertanyaan baru yang berhasil membuat dahi Sehun berkerut. “Jika Lily mengajakmu berlibur hanya berdua saja selama beberapa minggu apa kau akan mengiyakannya?”

Kekehan Sehun terdengar lagi. “Pertanyaan macam itu, Sydney? Kau sedang mencoba mengukur kadar cintaku ke Lily atau bagaimana?”

Sehun tidak perlu tahu bahwa Sydney menyunggingkan senyum paling masam ketika kalimat tersebut terlontar dari bibir Sehun. “Anggap saja begitu.”

Kerutan di dahi Sehun masih ada kali ini ditambah bibirnya yang bergerak maju-mundur diakhiri lidahnya yang membasahi bibir bawahnya. “Well, depends. Mungkin aku akan senang berlibur dengan Lily tapi jika tidak dengan izin dari suaminya bukankah itu berarti aku sedang selingkuh? Menghancurkan rumah tangga orang bukanlah sesuatu yang baik apalagi jika itu rumah tangga─” Sehun membiarkan kalimatnya menggantung untuk beberapa detik, “─well, orang yang pernah menjadi sahabat baikmu.”

Sydney tersenyum timpang dibarengin sebuah dengusan halus. Jawaban apa yang diharapkan dari seorang Oh Sehun? Sydney berani bertaruh jika detik ini sebuah bom meledak di kantornya dan menewaskan mereka berdua maka Oh Sehunlah kandidat terkuat yang akan masuk surga. Kadang terlintas pertanyaan pada benak Sydney bagaimana ada seorang pria dengan tampang di atas rata-rata dengan hati yang suci di dekatnya tapi ia tetap tidak bisa menganggap Sehun lebih dari seorang sahabat. Sydney malah lebih memilih untuk menaruh hatinya pada pria berengsek bernama Kim Jongin.

“Ada yang mengajakmu berlibur? Siapa? Chanyeol?”

Sydney tertawa kali ini tawanya tulus. Oh Sehun si tampan berhati malaikat, bagaimana ia bisa menyebutkan nama Chanyeol daripada Jongin? Apakah pertanyaan dari Sydney kurang mencurigaan baginya?

“Dari banyaknya pria yang ada di muka bumi kenapa harus Chanyeol? For God sake, Sehun!

Sehun melongok melewati pembatas kubikel menatap Sydney yang juga memandangnya dengan kepala yang mendongak. “Bukankah kalian sudah pergi bersama? Kukira kalian sudah berteman?”

Sydney memutar bola matanya sebelum kedua mata dengan kantong hitam yang menggembung di bawahnya kembali terpancang pada layar komputer. “We are tapi bukan berarti kau bisa seenak jidat menjodoh-jodohkanku dengannya.”

“Kalau di dunia ini hanya tersisa aku dan Chanyeol. Siapa yang akan kau pilih?”

Sydney menghentikan jemarinya yang menari-nari di keyboard komputer di hadapannya. Tatapannya kembali menuju manik Sehun. “Tidak ada,” jawabnya singkat kemudian melanjutkan acara mengetiknya.

“Jadi kau lebih memilih menjadi perawan tua seumur hidupmu, begitu?” Sydney mengangguk. “How can?!

“Karena wanita menyukai pria yang berengsek. Kau itu terlalu baik, sedangkan Chanyeol? Dia terlalu berengsek.”

Sehun mengedikan kepalanya. “Aku baru tahu kalau keberengsekan memiliki kadarnya sendiri?”

Sydney bangkit berdiri dengan membawa cangkirnya yang sudah kosong―lagi. “Karena sekarang kau sudah tahu ada baiknya kau segera berlatih menjadi pria yang sedikit berengsek jika tidak ingin menjadi perjaka tua.” Candanya sambil berjalan menuju counter―mengisi lagi cangkirnya dengan cairan hitam kesukaannya.

Omong-omong soal berengsek dan Chanyeol. Percaya atau tidak Chanyeol adalah orang pertama―dan satu-satunya―yang Sydney beritahu perihal Jongin dan rencana kabur-kaburannya. Terkadang kita membutuhkan seseorang yang sama berengseknya dengan masalah yang menerpa kan? Dan tentu saja Sehun tidak masuk kualifikasi.

Sydney juga sadar menceritakan hal ini kepada Sehun hanya akan membuatnya berakhir menjadi pihak yang disalahkan dan Sydney tidak membutuhkannya. Sedangkan dengan Chanyeol berbeda, ia selalu bisa memandang sesuatu dari berbagai sisi―paling berengsek―dari sebuah masalah.

Ponselnya berbunyi ketika Sydney tengah bersandar di kursi kerjanya dengan kepala yang mendongak. Menatap kosong atap putih di atasnya. Menikmati keruwetan yang terjadi. Sydney meraih ponsel yang ada di meja kerjanya bahkan tanpa berpindah posisi. Tangannya meraba-raba meja sampai akhirnya jemarinya menyentuh benda kotak berwarna putih tersebut.

Ada sebuah pesan masuk. Sydney membukanya dengan malas. Dari Chanyeol.

Jadi, perlu bantuan untuk packing tidak?

Sydney mendesah pelan tapi bibirnya menggurat seulas senyum tipis tanpa ia sadari. Jemarinya dengan lincah menari di atas layar.

Jangan sok tahu. Bahkan aku belum memutuskan untuk pergi atau tidak.

Tidak perlu waktu lama untuk menunggu balasan dari Chanyeol karena selang lima detik Sydney mengirimkan pesannya, balasannya sudah ia terima juga―Sydney tidak benar-benar menghitung detiknya, hanya saja suara detik jam kantornya membuatnya berhitung dalam hati secara otomatis.

You’ll go. You must😉

Entahlah Chanyeol, aku masih merasa ada yang tidak benar.

Bahagia bukan tentang benar atau salah. Lagipula kau tidak bisa memaksa semua orang untuk bahagia bersamamu. Ada kalanya kau memang harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan bahagiamu sendiri.

Benar kan? Mulut orang berengsek memang selalu bisa membuat tindakan yang menurutmu salah menjadi sebuah tindakan paling heroik yang pernah kau lakukan. Jongin dan Chanyeol contohnya. Jongin dengan kalimat there’s no too much in love-nya dan Chanyeol dengan definisi bahagianya walau harus membuat pihak lain terluka.

Sydney memejamkan matanya dihirupnya dalam-dalam udara yang terasa cukup menyesakkan baginya kemudian menghembuskannya dengan membuka matanya. Kedua bola matanya seketika mendelik lebar saat maniknya bertubrukan dengan manik Sehun yang entah kapan sudah tertunduk menghadapnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari milik Sydney.

What?” tanya Sydney kemudian memecah diam yang berlangsung sejemang.

Sehun menegakkan kembali kepalanya kemudian menggeleng. Disandarkannya tubuh jangkunya pada meja kerja milik Sydney. “Kau sedang super stress ya sampai ingin segera berlibur?” Sydney melemparkan pandangan tak paham. “Boss yang memberitahuku kalau kau akan mengambil cuti mulai besok. Benar tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku?”

“Tidak. Aku hanya membutuhkan waktu sendiri saja.” Sydney membenarkan posisi duduknya. “Mau makan pizza tidak pulang kantor nanti? Aku yang traktir.”

Sehun memasang tampang pura-pura berpikir. Dagunya berkerut dengan tangan yang terlipat di depan dada walaupun pada akhirnya Sydney tahu pria itu akan menganggukan kepala. “Boleh. Dalam rangka?”

“Dalam rangka agar kau tidak terlalu merindukan kehadiranku di kantor selama beberapa hari ke depan.”

***

Lilliana sengaja pulang cepat hari ini. Ia tidak sabar untuk sampai di rumah dan memasak makanan kesukaan Jongin. Lily sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari. Merancang dinner special untuk Jongin. Langkah Lily terasa ringan padahal ia tengah membawa barang belanjaan cukup banyak.

Rumah lengang ketika Lily masuk. Ia menggiring tungkainya menju dapur, meletakkan semua barang belanjaannya di sana kemudian ia berjalan ke ruang kerja Jongin. Sayangnya, Lily tidak menemukan sosok Jongin di balik pintunya. Beberapa lipatan terbentuk di dahinya.

“Jongin? Are you home, honey?” Kini tungkainya berjalan menuju kamar. “Jongin?”

Jongin tersentak dari tempatnya. “Oh! Hai, sweety.” Sapanya kemudian seraya memutar pandangnya menatap Lily yang tengah berdiri di ambang pintu dengan dahi yang mengerut penuh tanya.

Lily berjalan mendekat. “Apa yang sedang kau lakukan dengan koper dan baju-baju itu, Jongin? Kau tidak berencana untuk pergi lagi kan?”

Jongin yang kini kembali memunggungi Lily hanya mengedikkan bahu. “Sayangnya iya. Aku harus ke Sydney untuk sebuah pekerjaan tapi aku janji tidak akan lama. Hanya seminggu dan paling lama mungkin dua minggu,” jawabnya enteng sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.

Lilliana tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jongin akan pergi lagi? Yang benar saja?! Padahal Jongin sudah berjanji kepada Lily kalau ia akan membayar kepergiannya selama ini untuk tidak meninggalkan Korea Selatan paling tidak selama satu tahun.

“Lagi?” Dari sekian banyak kalimat yang terlintas di otaknya hanya satu kata itu yang bisa keluar dari bibir Lily.

Jongin belum memberikan respon apa-apa, atau mungkin ia memang tidak ingin memberikan respon apapun. Karena dalam hening yang berlangsung hampir lima menit lamanya tidak ada satu pun kata yang terlontar dari bibir suaminya.

Lily menyadari bahwa mengharapkan maaf dari Jongin adalah suatu hal yang mustahil tapi paling tidak bisakah Jongin berbalik ke arahnya dan memberitahunya bahwa ia akan baik-baik saja, bahwa Jongin sebenarnya tidak ingin pergi meninggalkannya, bahwa Jongin juga akan sangat merindukannya sama seperti dirinya yang merindukan Jongin bahkan saat jarak di antara mereka hanya sejengkal tangan. Tapi Lily selalu merasa Jongin berada jauh di seberang samudera.

Jongin menutup koper dan menguncinya. Kemudian ia meletakkan koper di samping lemari. Bahunya yang lebar akhirnya berbalik menghadap Lily yang sudah terduduk di pinggir kasur dengan pandangan kosong. Jongin menghela napas. Ia memutuskan untuk mendekati Lily, mengambil tempat tepat di sampingnya.

Lily? Are you okay?

Kesadaran Lily seketika terkumpul ketika mendengar suara Jongin. Lily menoleh ke arah Jongin. Ditatapnya lekat manik Jongin. Ditatapnya bergantian kedua manik cokelat tersebut seraya mencari sesuatu di dalamnya, sesuatu yang mungkin bisa menjawab kegundahan hatinya selama ini, sesuatu yang bisa menenangkannya, sesuatu yang bisa meyakinkan dirinya bahwa Jongin benar-benar mencintainya.

Lily menyukai seorang pria yang memiliki mimpi yang besar, yang menyadari passion-nya, yang akan memperjuangkan impiannya sampai akhir, seperti yang dilakukan Jongin. Namun, Jongin dan kepergiannya kali ini adalah dua hal yang berbeda.

Lily masih tak habis pikir setelah Jongin meninggalkannya selama bertahun-tahun seorang diri kini ia pun akan berakhir ditinggalkan olehnya… lagi? Bilang Lily berlebihan tapi siapa yang tidak akan menjadi berlebihan jika suami sendiri bahkan terlihat lebih bersemangat meninggalkanmu dibandingkan menghabiskan waktu berdua.

 Setetes air mata berhasil lolos dari kelopak Lily. “Do you really love me, Jongin?

What kind of question is that, Lily? Of course―

“Lalu kenapa kau pergi meninggalkanku untuk kesekian kalinya?!” potong Lily cepat. Kini air matanya sudah tak terbendung. Tumpah ruah membasahi kedua pipinya.

Jongin hendak menarik Lily dalam peluknya namun Lily langsung mendorong dada bidang itu menjauh. “Apa kau tidak merindukanku? Apa kau tidak mengkhawatirkan diriku yang sendirian di rumah ini?”

“Lily, aku hanya pergi selama dua minggu. Jika memang tidak ingin sendirian kau bisa meminta Sehun untuk tinggal di sini menemanimu selama aku pergi.”

Lily berharap apa yang barusan ia dengar hanyalah khayalan saja. Lily berharap bahwa kalimat yang terlontar dari bibir Jongin hanyalah halusinasinya semata. Lily berharap yang telinganya tangkap hanya bisikan setan yang mencoba membuatnya membenci Jongin. Lily berharap bahwa ia benar-benar bisa membenci Jongin.

Lily mendengus dalam tangisnya. “Suami macam apa yang merelakan istrinya ditemani pria lain?” ucapnya pelan dengan bibir yang bergetar namun Jongin masih dapat mendengarnya.

“Tapi Sehun bukanlah pria lain, Lily. Dia sahabatku, sahabatmu, sahabat kita. Dialah satu-satunya orang yang aku percaya untuk menjagamu selama aku tidak ada!”

“Sedangkan kau tidak pernah mencoba untuk tinggal dan menjagaku!” sahut Lily dengan suara yang lebih nyaring kali ini. “Jawab Jongin, apa kau benar-benar mencintaiku?”

Jongin terdiam sejemang. “Kalau aku tidak mencintaimu bagaimana aku bisa memutuskan menikahimu?”

“Aku pun juga menanyakan hal yang sama Jongin!” Lily bangkit dari posisi duduknya. Tangannya sibuk menghapus airmata yang tak kunjung berhenti mengalir. Disibaknya kasar rambutnya yang panjang. “Apa kau tidak ingin menghabiskan waktu bersamaku? Apa kau tidak ingin memiliki anak dariku? Apa kau―”

Jongin langsung memotong ucapan Lily. “Lily! Kukira kita sudah membicarakan hal ini bahkan sebelum kita menikah. Kalau aku belum siap memiliki anak. Aku masih memiliki mimpi yang harus aku raih, begitu pula denganmu. Masih banyak impian yang belum kau wujudkan.”

Lily menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu Jongin. Aku benar-benar tidak mengerti.” Maniknya menghunus Jongin. “Jika alasanmu hanya belum siap memiliki anak kau tidak perlu sampai harus meninggalkanku selama bertahun-tahun tepat setelah pernikahan kita, atau pun meminta pria lain menemani istrimu di rumah, atau lebih memilih tidur di ruang kerja dibandingkan tidur di kamarmu, di kamar kita.”

“Kukira saat ini bukan waktunya untuk egois, Lily.”

Lily mendelik tak percaya. Setelah apa yang ia ucapkan baru saja kepada Jongin dan Jongin hanya menganggapnya sedang bertingkah egois?! Dia yang meninggalkan Lily selama bertahun-tahun dan Lily dengan setia menunggunya kembali. Lily berusaha untuk menolak setiap ajakan pria yang tidak dikenal baik oleh Jongin. Lily mengorbankan beberapa tawaran yang selama ini diimpikannya hanya untuk bisa pulang lebih cepat dan menyambut serta memasak makan malam untuk Jongin dan apa yang Lily dapatkan? Tuduhan atas dirinya yang egois.

“Kenapa tidak kau ceraikan aku sekalian saja, Jongin?”

***

Sydney berbaring miring di atas sofa panjang di apartemennya. Matanya tidak lepas dari koper yang sudah berdiri rapi di dekat pintu. Tangannya yang terjuntai tengah menggenggam selembar tiket. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, lima jam lagi menuju penerbangan ke Sydney.

Sydney berharap ia bisa terlelap sekarang dan baru membuka matanya beberapa hari ke depan. Ia belum juga memutuskan untuk ikut kabur bersama Jongin atau tetap tinggal dan menangisi takdir. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia mengepak semua barang-barangnya tapi juga membiarkan pintu balkonnya terbuka lebar. Mengharap angin malam menerbangkan tiket yang ada di genggamannya jauh sampai Sydney tidak dapat melihatnya lagi untuk selamanya.

Sydney menutup matanya rapat dengan kepalan tangan yang memukup dahinya pelan. “God, dammit.

***

Setelah pertengkarannya dengan Lily kemarin Jongin tetap membiarkan kedua kakinya menjejak bandara. Jongin menghentikan langkahnya tepat di depan bandara. Satu jam sebelum keberangkatan dan Jongin belum juga melihat tanda-tanda kedatangan Sydney.

Jongin menghempaskan tubuhnya di atas koper cokelat dengan berbagai stiker yang ia dapatkan dari hasil menjelajah dunia selama ini. Pandangannya mengikuti setiap mobil yang sedang keluar masuk berharap satu di antaranya adalah mobil yang ditumpangi Sydney.

Jongin melirik jarum jam yang berputar di pergelangan tangannya. Tersisa empat puluh lima menit lagi. Jongin menghembuskan napasnya dari celah yang dibuat bibir tebalnya. Ekspektasinya tinggi maka dari itu luka yang disebabkannya pun cukup dalam.

Jongin yakin ia tidak salah membaca tatapan Sydney ketika melihatnya berjarak begitu dekat dengannya. Jongin yakin Sydney masih merasakan hal yang sama sepertinya. Jongin yakin Sydney masih mencintainya. Jongin yakin cintanya terbalaskan. Hanya satu yang membuatnya tak yakin, yaitu bahwa Sydney tidak memiliki nyali sebesar dirinya.

Jongin menghembuskan napasnya lagi ketika sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Bunga-bunga bermekaran kala mendapati sosok Sydney turun dari taksi tersebut. Sydney mengambil kopernya sebelum memberikan beberapa lembar uang kepada si sopir taksi. Jongin langsung menyambutnya dengan senyum merekah.

“Aku tahu kau akan datang, Sydney.”

Sydney tersenyum tipis sangat tipis sampai Jongin kira senyum Sydney hanyalah fatamorgana semata.

“Hai, Jongin.” Sapa Sydney kemudian.

Jongin bangkit berdiri, ia lalu menarik lengan Sydney untuk masuk ke bandara. Tidak ada waktu lagi untuk basa-basi pikirnya. Namun, Sydney menahan ajakan Jongin. Dan seketika Jongin tahu bahwa ia memang terlalu jauh melambungkan ekspektasinya. Dadanya berdenyut nyeri. Jongin tersenyum masam. “Ada apa?”

Sydney menyodorkan selembar tiket kepada Jongin. “Aku datang untuk mengembalikan ini.” Jongin menatap Sydney dengan pandangan penuh tanya. “Maaf Jongin, kurasa aku tidak bisa ikut denganmu.”

Jongin memberikan senyum tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. “Lalu jawab pertanyaanku, Sydney. Kenapa kau membawa serta kopermu jika kau tidak ingin ikut bersamaku?”

“Awalnya aku ingin melakukannya lalu aku tersadar apa yang akan kita lakukan adalah sebuah kesalahan, Jongin. Aku tidak sebaiknya melakukan hal ini. Aku tidak bisa membuat orang lain menderita hanya lantaran selama ini aku tersiksa karena tidak memilikimu.” Jelas Sydney yang semakin membuat nyeri pada dada Jongin semakin terasa. “Kembalilah ke sisi Lily, Jongin. Kau juga seharusnya tidak meninggalkannya terlalu lama.”

Sydney memberikan senyum terakhirnya sebelum berbalik memunggungi Jongin. Namun, Jongin dengan sigap meraih tangan Sydney sekali lagi. Sydney berbalik memandang Jongin. “Jongin, kumohon. Aku sudah membulatkan tekadku.”

Jongin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan menahanmu untuk pergi, Sydney. Aku hanya ingin memberitahumu, sejauh apa kau pergi, aku pasti akan meraihmu kembali. Akan tiba saat dimana kita akan bersama dan hidup bahagia. Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi, Sydney.”

Sydney meletakkan tangannya di atas tangan Jongin kemudian melepaskan tangan Jongin dari miliknya. “Aku sudah cukup lama menunggu, Jongin. Sampai aku berpikir mungkin kita ditakdirkan untuk bersatu di kehidupan selanjutnya tapi untuk saat ini? Aku bukanlah orangnya.” Ujar Sydney. “Hati-hati di jalan, Jongin.”

***

Bel di rumahnya berbunyi. Chanyeol memandang ke arah jam dinding yang berada di kamarnya. Pukul sembilan pagi, terlalu dini untuk manajernya datang mengingat jadwal yang ia miliki untuk hari ini masih pukul empat sore. Sedangkan Chanyeol merasa tidak sedang memesan apapun untuk dimakan.

Chanyeol dengan langkah gontai berjalan menuju pintu masuk dan alangkah terkejutnya ketika menemukan Sydney ada di balik pintunya lengkap dengan sebuah koper besar berwarna hitam di sisinya.

“Kau mau memintaku menemanimu ke bandara? Oke, tunggu sebentar. Aku mau mengambil jaket dulu.” Chanyeol masuk ke kamar dan meraih asal jaket yang ada di dalam lemarinya, memakai masker hitamnya kemudian mengambil kunci mobilnya. “Ayo!” ajaknya kepada Sydney yang sedang duduk di ruang tamu.

“Kau sudah tidak bangkrut ya?”

Pertanyaan itu berhasil membuat alis Chanyeol menyatu tapi ia tetap menjawabnya juga. “Aku belum memberitahumu kalau aku pindah agensi? Aku sudah bukan lagi Park Chanyeol dengan utang yang menunggak.” Candanya dengan memamerkan deretan gigi indahnya.

Dan siapa sangka Sydney membalas senyumnya dengan senyum tak kalah lebar. Chanyeol benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu dari Sydney. Seorang Sydney? Wanita yang selama ini membencinya setengah mati? Tersenyum lebar ke arahnya? Chanyeol pasti sedang bermimpi.

“Aku hanya becanda. Aku juga tahu kau sudah pindah agensi. Beritanya ada dimana-mana.”

“Kenapa kau malah basa-basi. Ayo aku antar kau ke bandara. Jam berapa pesawatmu terbang?”

Sydney menutup majalah yang tadi ia buka secara acak lalu menatap Chanyeol yang tengah kebingungan. “Aku tidak jadi kabur bersama Jongin.”

Chanyeol kemudian melangkah mendekatinya. “Kau sinting ya, Sydney? Ini kesempatanmu satu-satunya untuk bisa hidup bahagia bersama Jongin!”

“Aku ada ide yang lebih sinting lagi.” Chanyeol mendelik penuh tanya. “Aku akan menumpang tinggal di sini sampai masa cutiku selesai.”

Chanyeol pasti masih mabuk. Sydney? Menumpang di rumahnya? Yang benar saja! Chanyeol mulai mengingat-ingat berapa botol minuman yang ia tenggak semalam sampai bisa membuatnya berhalusinasi berlebihan seperti ini.

“Kau tidak keberatan kan?”

“Apa?”

“Aku menumpang di rumahmu.”

Chanyeol menampar pipinya sendiri dan wanita dihadapannya yang ia kira hanyalah halusinasi terkekeh geli. Pipinya terasa sakit. Chanyeol yakin pengaruh alkohol sudah hilang dari tubuhnya. Dapat dipastikan wanita yang dihadapannya yang sedang tidak sehat.

“Kau sinting? Tidakkah kau berpikir seperti keluar kandang macan dan masuk ke kandang buaya? Kau tahu, aku bisa menyerangmu kapan saja dan aku tidak mau melakukannya. Kau adalah satu-satunya wanita yang tidak akan aku sentuh sembarangan, Sydney. Sebaiknya kau menumpang di rumah Sehun saja.”

“Dan membiarkan Jongin menemukanku? Tidak.” Sahut Sydney. “Oh, omong-omong. Aku tidak keberatan sih kalau buayanya sepertimu.” Lanjut Sydney kemudian mengerling kea rah Chanyeol.

Chanyeol siap jika menghadapi Sydney dengan seribu satu hujatan maupun kata-kata pedasnya tapi Sydney yang seperti ini? Benar-benar membuat Chanyeol segera ingin melarikan diri ke rumah sakit jiwa terdekat.

.to be continued ….

Author’s Note:

  1. Mohon maaf lahir dan batin ya semua readersku.
  2. Panjang ya part yang ini. Itung-itung bayaran karena beberapa minggu nggak update Time Capsule sekaligus permintaan maaf karena kayaknya bisa update part berikutnya lagi baru bulan depan. Udah mulai sibuk daaaaaaan… idenya baru mentok sampai sini. Belum kepikiran mau di bawa kemana. HA HA HA HA.
  3. Jadi, yang mau nyumbang ide silahkan tinggalkan komentar di kolom komentar di bawah ini. Kritik dan saran juga silahkan tinggalkan komentar di kolom komentar. Tapi kalo cuma mau minta THR silahkan close tab tanpa perlu dibaca.
  4. Sekali lagi, mohon maaf lahir dan batin ya, semuanya❤

 

 

52 responses to “#6 Time Capsule: Dillema

  1. akhirnya!! time capsule yg kutunggu akhirnya datang . mohon maaf lahir batin juga ka. duh sdney baikbener sumpah ku tambah suka… udah sama chanyeol aja deh /?. akhirnya kangen ku pada ff ini terbayarkan. ditunggu next chap nya ka. fightinggg 😇😇😇😇

  2. Ohmygod akhirnyaaa setelah nunggu lama duhh kangen yampun seneng bgt ini.
    kenapa sydney?kenapa gakjadi pergi?aelahh padahal udh ngebayangin juga liburan brg jongin waks kezell btw sm sydney nye huh..
    sehun berhati suci yak wkwk njirr xd
    mohon maaf lahir dan batin juga ya kak >.< lop u lahh

  3. Ini ending lucu banget.
    Serius ini alurnya ga ketebak. Aku ga nyangka Sydney mau tinggal sama chanyeol. Btw Chanyeol artis kan. Ga bahaya tuh tinggal di sana? Nanti malah kena skandal yg enggak2 terus karirnya chanyeol jadi ribet.
    Poor Jongin.
    Udah uangnya habis buat beli tiket double, eh ternyata tiketnya hangus. Ditambah sakit ati jugaan. Bawa aku saja mas😍😍

    Ini keren kak. Openingnya juga lumayanlah. No typo jugaan. Sukses terus ya kak. Semoga kemampuan menulis meningkat.
    Sekalian juga mau bilang minta maaf lahir dan batin kak.
    Ditunggu chapter selanjutnyaa❤

  4. Omaygaddffdddddddaf, akhitnya akhirnya,udah lah ama chanyeol aja di ending pliss,kayaknya lucu kalo amhirnya merek jadi satu/? Wkwk aaaa pokoknya seneng akhirnnya updateee

  5. Sydney ada di posisi yg sulit tapi untungnya dia masih bisa berpikir ke arah yg positif dan enggak menghancurkan hubungan jongin sama Lilian, meskipun masih cinta jongin seenggaknya Sydney memulai kehidupan baru sama chanyeol dan masalah dia tinggal di rumah chanyeol itu bisa di jadiin awal yg baru buat mereka.. Buat Sydney bersatu sama chanyeol aja yaa kak, itu lebih baik dari pada buat jongin dan lilian cerai yaa meskipun ada sehun yg tetep gak bisa miliki Lilian.. Duh bingung mau ngomong apa lagi >< pokoknya di tunggu deh kelanjutannya :v
    Jia you ^^

  6. Finally Liliana sadar sikap Jongin selama ini, aku berharap lebih baik Jongin berhenti berbuat sesuatu yg menyakiti org lain. And good job for Sydney, aku suka keputusannya walaupun awalnya dia tertarik sama penawaran Jongin. But she chooses right decision, maybe she’s too care person atau tepatnya dia tidak mau merusak hubungan org lain. Endingnya benar-benar tak terduga, Sydey ingin numpang di apartemen Chanyeol, aku berharap Sydney buka hatinya buat Chanyeol. Aku tunggu kelanjutannya, ka ajeng… Fighting, keep writing!!!

  7. Daebaaaaak hahahaha..
    aku suka sama Sydney, dia bener2 ga gampangan..
    aku kira dia bakal balik lagi ke Jongin, ternyata dia gamau..
    Sydney sama Chanyeol atau Sehun kayanya oke, at least Sydney ga sama Jongin lah..
    udah Jongin sama Lilian aja..
    di tunggu next chapternya ^^

  8. akhirnya update jugaaaa yeay! Jongin sinting !!! mau kabur bawa-bawa Sydney, kasian Lily nya tapi kasian sama semuanya
    disini Sehun paling alim ya haha so suci lo Hun wkwk
    dan chapter selanjutnya nyeritain Sydney di rumah Chanyeol, kayanya asik nih wkwk
    keep writing🙂

  9. Mohon maaf lahir batin juga…

    Yaaahhh kenapa mentok ide, padahal lg seru. Aku ga bs ksh ide sih jd aku doa aja spya kamu cepat dpt inspirasi hahaha..

    Kalo sehun ibarat malaikat, maka yeol itu setan dan jongin raja setan dong wkwkwk

    Masa liliana segitu butanya sih ga bs liat jongin gimana ke dia, manis tp palsu. uda cerai aja!!! 😛😛😛

  10. ahhh akhirnya di post juga ^^
    haahh, dikirain Sydney jadi pergi juga sama Jongin. tau”nya ga jadi syukurlahh🙂
    untung Sydney bisa milih pilihan yg bener..
    tapi ujung”nya liburan di rumah Chanyeol🙂
    kaya nya bakalan seru…
    di tunggu lanjutannya ^^
    Semangat terus🙂

  11. Yeayy akhirnya dipost juga ^^
    Ciee sydney nolak ajakan jongin :3 Trs buat chanyeol sabar ye hadapin gadis macam Sydney :3
    Sebenarnya gua ketawa saat sydney bilang sehun terlalu baik seperti malaikat? :3
    Lilyana kasian juga. Ini gara” Jongin sampe” Lily minta cerai? Entar kalo udh dicerai’in malah dia yg sendiri ntar :p

    Lanjut ya eon!!! ^^

  12. Kak ajengggg why kak why ???? Ah jongin lah yang harus jadi pria terbrengsek disini more than chanyeol 😁
    You’re confusing me deh kak seriusan ini aku berasa jadi sydney deh/wkwkw/gak deng/ ikut delima juga ah
    Tapi aku prefer sydney balikan aja deh sama jongin 😀 eh tapi sama sehun juga cocok keknya tapi sma chanyeol lebih bagus 😁 eh tau deh bingung ah
    Mangats ka ajeng buat next nyaaa 💜

  13. Yeayyyy ! Keluar juga chap 6 nyaaa makinn seruuu ..gpp atuh lah nginep di rumah chanyeol hahah lanjutt kakkk

  14. Sydney udah dewasa untuk menilai mana yg baik dan buruk buat hidupnya, jga hidup teman2nya.
    Aku tasa sydney dan chanyeol akan ada penggalan cerita baru haha

    Anyway, minal aidin authornim^^

  15. Akhirnya bisa baca ceritamu lagi kak….
    Huh jongin, makin hari makin kacau saja hidupmu. Masa menyuruh istri sendiri ditemani laki2 lain.
    Ini jadi kesempatan bagi chanyeol😁
    Bisa liat sydney tiap hari.

  16. di ff ini aku takut mihak, kalo di gg lain bisa seenak jidat nentuin sama ini aja, sama itu aja, atau gmana, kalo yg ini nggak. ya emang sih masih ff, tapi kan yaaa perasaan juga. jongin salah, jongin kasian, sydney kasian, lily juga kasian, tapi gimana? mau sydney sama jongin juga selingkuh, jahat banget, ga baik, tapi mau mreka bersatu juga kasian lily, sydney jongin yg bahagia, tapi gimana yaaaa
    btw, selamat chanyeooooool udah kaya lagiii!!!! HAHAHAHAHAHAHA
    sydney gila. chanyeol mampus. bisa2nyaaaa punya ide nginep di rumah pcy, dia artis wooooy, hahahahahhaha

  17. bulan depan yah? okeh deh aku tunggu ya kak!
    uhhh ini sydney beneran ga mabok? ato jangan-jangan dia mulai mo pindaah hati ke chanyeol/? sbenernya lebih rela sama sehun sih. tapi chanyeol juga gapapa kok.
    dan juga bersyukur banget sydney gajadi pergi sama jongin. duhh lily kasian banget yah, padahal dia ga tau apa apaTT jongin jahat hii.

  18. lahhhh kok ga jadiii pergii??? kok malah nginep di tempatnya di chanyeol, ya ampun sydney. inii gimanaaa ga bisa ginii ga kuat bacanya sydneynyaa ya ampunn huaaa. mohon maaf lahir batin juga ya. ditunggu kelanjutannya

  19. Maaf lahir batin jg ajeng. . . Dimaafin ya akunya kalo suka kasih komen asal??

    Hiks. . Kutadi udah komen tapi gak masuk keknya. . Jadi ulang aja deeeh

    Sumpah deh aku kesel sampe ke ubun2 sama jongin. Jadi cowo kek gak ada perasaan banget tau gak. Kalo gak cinta ya mending cerein aja si lily baru abis itu mau ajak bisa dapetin sydney lagi. Laah kalo gitu kan yg dirugiin juga sapa. . Sydney kan?? Lily juga. . . Benci guee!!! Benciiiiiii!!!

    Dan si sehun jugaa. . Duuuh piye iki bocah atinya kebuat dari apa coba. Dan lagi kek gak ada cewe lain aja didunia ini. Move on dong move oooooon. Kesel gue!!!!

    Tapi pokoknya yang terpenting sydney masih waras dan gak nurutin jongin. Lebih bagus juga masuk ke kandang buaya. Buayanya juga single, cinta lagi sama dia. Kurang apa coba. Kaopun ceye macem2, 200% bakalan tanggung jawab. Ya gak???

    Okay deeh updateannya selalu ditunggu kapanpun. . . Real life lebih penting pastinya.

    Keep writing!!!!

  20. Makin lama aku malah makin suka sydney sama chanyeol. Udaah, sama dia aja syd, tidak akan ada yang tersakiti nantinya :v

  21. Makin lama aku malah makin suka sydney sama chanyeol. Udaah, sama dia aja syd, tidak akan ada yang tersakiti nantinya :v
    Kak tolong jelasin dong kenapa jongin nikahin lily. I’m still confused

  22. bagus Sydney lebih milih gak berlibur sama jongin karna kasihan banget lily😥 disini yang egois bukan liliy tapi jongin yaampun harusnya lily lebih sadar lagi kalo jongin gak tulus cinta sama dia udhlah yang kayak begitu gausah di kejar kejar apalagi kalo masih ada yang tulus eakkk edisi baper max!!! kan kalo lebih milih bahagia tapi nyakitiin orang lain bahagianya sebentar doang, kenapa Sydney gak sama chanyeol aja atau sehun abisan jongin disini mah brengseknya udah ughhh parah!!!! gapapa chanyeol biarpun begitu tapi setia atau sehun udah ganteng hati malaikat lagi, kalo gaada yang mau sama sehun biar kasih ke aku aja aku terima dengan lapang dada kok ikhlas aku nerima sehun itung itung thr lebaran *loh
    sudah lah see u next!!!!
    selamat idul fitri😀

  23. mohon maaf lhir dan batin jga yaa, maaf tlat
    waahh plihn sydney daebak bgt, dia lgi2 mmkirkn kbaikn utk smuanya
    yahhh wlopun bsa dlht klo jong emng srius bgt utk mmprjuangkn dia, ttp aj msih brpkirn logis, brkat saran ohse jga sih kykny hehe
    nah lo kykny sydney mau bka hti utk yeol yah??
    next2 dtunggu
    pngenny si lily tau tntng kbnaranny
    spya mrk smua tdk sling trskiti

  24. Jempol buat sdyney….biar waktu aja yg nyatuin mrk..harap jongin sadar…lily yg begitu setia tlg jng disiasia…klo mmg dulu gak cinta knp nikahin lily????

  25. Ah.. It’s a good idea to leave Jongin alone to think what he’s done and how many heart will be broker cz of their affairs… But Did sydney like Chanyeol or did Chanyeol?? hmm.. Can’t wait for the next part >…<

  26. keputusan yg baik sydney,,
    tp, sebrengseknya chanyeol ttp msih kalah aja klau di hadpan sydney yah,,

  27. Akhirnyaa update hahahaa. Gak punya kritik sama saran jeng, soalnya oke sih. Oyaa entah kenapa aku pengen Sehun gak adem ayem lagi buat deketin Lily setelah tahu kalo Jongin suka Sydney. Terus pengen momen Chan-Ney lebih banyak, karena mereka samasama sinting hihihi

  28. Kak Ajeeeennngg💕💕💕💕
    FFnya makij keren aja kaakkk ><
    Jujur awalnya agak kecewa gitu yaaa sydney gajadi pergi ama jongin tp ya mau gmn lagi :b
    Masih bingung deh knp jongin nikahin liliana =|
    Oke oke nextcpart ditungguu💕💕semangat kak ajeeenngg

  29. Asdfghjklmnbvcczpoiuqtre
    Udah. Sekian dan terimakasih.
    HAHAHA
    *jahat* biarin 😝

    Entah kenapa… ati ku nyut2an kalo ada percakapan antara Jongin x Sydney. ….
    Rasanya! Uwh.
    Coba kapel Chanyeol x Sydney. … mereka seperti sepasang orang gila yang sedang di mabuk cinta. Tapi ga mungkin bersatu… yang satu brengsek ekstra brengsek. Yang satu orang gila yang kehilangan akal dan arah. *lalalala* 😂😂
    Kalo Chanyeol yang triple dan ekstra brengsek. Jongin ini super brengsek! Njir. Kampret. Dih.
    Gimana yha… mau di setara in sama Chanyeol. .. dia ini masih suci (?) Tapi kalo di bawah Chanyeol. .. dia itu brengsek! Ngapain nikah in Liliana kalo dia ga cinta?! Orang brengsek macem apa yang nikah in cewek yang tresno sama dia. Tapi malah cuman di jadiin pelarian saja?!!! Super Kampret!!!
    Ah. Aku sudah kehilangan kata buat mendiskripsikan manusia macem Jongin gini.
    Mending Chanyeol kemana mana dah.
    Tapi si super alim Oh Sehun juga boleh di berdayakan. Hahahaha 😂jangan sampe punah.

  30. Kak jeng, itu sydney minum kopi segt banyak g puyeng apa? :v trus sehun itu hm gmn y, baik sih, tp jujur bgt y :v emg sydney kurang cantik apa? :” malah dlm bayanganku sydney lbh cantik dr lily, dlm pesona dia sendiri. Y tp yg namany cantik sm ganteng itu relatif lah y, jd g bs maksa (walau ingin berkata kasar pd sehun). Trus itu emot yg dipake chanyeol buat ngechat sydney apa bgt ya lord :”v mau ngakak tp gmn gt AHAHAHAHA.

    Btw, i like the sassy side of sydney. “Kl buayanya kyk lu gpp.” Kasarny dia ngomong gt :v aku mah jg kl buaya macem mas ceye aku rela :”))) aku rela mas /plak/ aku mohon maaf lahir batin jg kak jeng. Kutunggu dirimu seperti lily nungguin jongin kok, kak. Tenang aja. Asal aku g kak jeng gantungin perasaanny aja (apasih). Semangat kak jeng nulisnyaaa, ditunggu yaaa ^^

  31. Udahh cerein ajja *bsikanGoibbb kkkkk ,kasian sydney.. ceilahhh ,tapi keknya idup pling bhagia tu si sydney ya ,udah dicintain setengah sinting ma bang chan ,punya shbat kelewat jujur seganteng Ohsehhh haduhhhhh bikin irrri tehh …
    Yahh kak ajeng mulai sibukk dehh ,tpi gpp yg pnting harus dilanjuttt yess ka ..nextnya fighting

  32. Wahhh kerennn bangettt.jadi .sidney pilih .masuk ke kandang buaya.dri pada kandang singa wkwkwk .keren d tunggu next chapter nya fighting🙋🙋🙋

  33. Aneh yh, awalnya gk mau kalau sydney ikut ama bang jong tapi kok jd sdikit kecewa sydney gk jadi liburan,
    okelah kk ajeng kalo dsruh kasih saran buat kelanjutan cerita akunya sih lebih nunggu biar kk dpet inspirasi krna akunya jga gk tahu mau ngorbanin siapa, semua pihak jadi korban

    jujur yah aku tuh lagi nungguin banget saat dmna sehun itu tau kalo si jongin mau bawa lari sydney, hihi penasaran mau lihat sehun yg baik hati kek malaikat brubah jadi semburat api emosi😀

    sukanya baca time capsule itu ada saat baper, kaget, seneng dan gokil kaya pcy, syd mau numpang dirumah pcy maka ceye hrus siap bangkrut lagi hihihi
    buat lily sabar aja yh dn jongin aku gk tahu mau bilang apa dn untuk kk ajeng mohon maaf lahir dn batin juga ^^

  34. Aku kitati kalo baca part jongin:’v lebih suka chanyeol :’v part selanjutnya panjangin juga dong thor~

  35. Keputusan yg bagus sydney. Bahagia d atas penderitaan org lain aku rasa bukanlahbukanlah ide bagus. Apa sama chanyeol aja ya ato sama sehun. Tp td sydney blg lbh milih jd perawan tua aja drpd sama salah satu dr mreka. Entah lah, apa kata author aja

  36. Hai kak, mohon maaf lahir batin juga. Lama ngga update. Do part ini greget. Kenapa Sydney kaga jadi pergi sama jongin. Mungkin terkesan jahat tapi aku berharap jong ly cerai. Kkkk~ . kasian lily sebenernya, tapi yaa aku lebih prefer Sydney. Ada moment chanyeol sama Sydney juga. Sydney pake nginep di tempatnya bang chanyeol lagi. Goddammit

  37. Nginep rumah chanyeol mah emang berfaedah daripada pergi sama kai yg udah dipawangin eh engga papa deng aku juga cinta kai *tetep* ini makin complicated aja akunya jadi makin suka. Ditunggu cerita selanjutnya author kucinta😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s