ALL I ASK [PART IX] — by Neez

ask-copytt

 

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen 

Kim Seolhyun / AOA Seolhyun || Joon / OC || Ji Hyesoo / OC || Zhang Yixing / EXO Lay || Park Chanyeol / EXO Chanyeol || Seo Eunkwang / BTOB Eunkwang || Choi Yeonri / OC

Jung Yunho / TVXQ Yunho || Guru Ahn / Danny Ahn || Guru Han / Han Hyojoo

Alternative Universe, School Life, Family, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II] || [PART III] || [PART IV] || [Part V] || [PART VI] || [PART VII] || [PART VIII]

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

BETA : IMA

”Tenang saja, Cantik, mungkin memang bukan waktunya kau menjadi pemeran utama. Masih ada banyak pentas musikal lagi, benar?” Jongin adalah satu-satunya orang yang benar-benar berniat untuk menghibur Seolhyun, setelah gadis itu gagal mendapatkan peran Juliet. Jongin bahkan terang-terangan mengejek Oh Jaehee meski Jongdae sudah memperingatkannya dengan tatapan penuh arti.

   Jongin tetaplah Jongin.

   Maka, disinilah mereka, sebuah kedai pizza yang buka duapuluh empat jam, meski waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, karena audisi memang baru selesai malam. Jongin bersikeras untuk mentraktir Seolhyun sebagai penghiburan, dan memaksa Jongdae serta Joonmyun untuk turut serta.

   ”Gwenchana, Jongin-ah, aku tidak apa-apa.” Seolhyun tersenyum saat mendapati Jongin benar-benar memperlakukannya bak guci China yang antik. Menawarinya minum, mengoleskan butter pada garlic bread-nya, bahkan menjanjikannya gelatto yang enak jika Seolhyun berjanji mau makan sampai habis.

   ”Kau tahu, kegagalan ini bak patah hati, geuchi?”

   Jongdae menggelengkan kepalanya, meraih gelas berisi cider di hadapannya. Saat ia menenggak minuman itu, pandangannya jatuh pada Joonmyun yang duduk di hadapannya, namun sama sekali tidak ikut dalam perbincangan antara Jongin dan Seolhyun. Mengernyit, Jongdae kembali meletakkan gelasnya dan memperhatikan sahabatnya yang duduk gelisah sambil sesekali meraih ponselnya, memasukannya lagi, dan begitu terus.

   Bukan hanya Jongdae yang memperhatikan sikap antik Joonmyun. Seolhyun juga merasakan kejanggalan saat melihat Joonmyun yang begitu diam. Pria itu tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan sekolah tadi. Tidak juga memberikan kata-kata penghiburan yang Seolhyun harapkan.

   ”Aaahhh sepertinya enak,” Jongin—satu-satunya yang paling antusias saat mendapati dua buah loyang pizza dihidangkan di meja mereka, beserta dua piring pasta, dan sepiring besar chicken wing.

   Semua pesanan Jongin tentunya.

   ”Mari kita makan! Ayo, Seolhyun-ah, makan yang banyak. Kalian berdua juga, jangan diam saja, ini baru jam sepuluh, masa kalian berdua sudah mengantuk?” tegur Jongin, dan Jongdae hanya tersenyum kecil dan menarik piring pasta ravioli mendekat ke arahnya, dan menyendokkannya ke atas piringnya.

   ”Makan, Joonmyun-ah,” bujuk Seolhyun akhirnya, karena tidak tahan melihat betapa diamnya temannya itu.

   Joonmyun seperti tersadar dari sikap anti sosialnya dan tersenyum, mengambil pizza dan garlic bread yang belum dilumuri butter. ”Aku hanya sudah mengantuk, hari ini hari yang panjang.” Gumam Joonmyun.

   ”Eyy, bukan orang yang gagal dapat peran. Kenapa kau yang lelah?” tanya Jongin sambil menunjuk Joonmyun dengan garpu pastanya. Seolhyun mau tak mau tertawa mendengar pertanyaan Jongin tersebut. ”Kita disini untuk menghibur Seolhyun, Joonmyun-ah, jadi berhentilah bersikap seolah-olah bukumu dicuri.”

   Joonmyun memutar kedua matanya dengan geli dan berusaha menelan kekhawatirannya sendiri, dan ikut berbincang dengan ketiga temannya hingga semua makanan di meja sudah tak lagi tersisa. Joonmyun dan Jongdae sedikit takjub pada Jongin yang memang benar-benar menepati janjinya untuk membayar semua makanan ini demi menghibur Seolhyun, karena pada dasarnya bocah itu tergolong pelit dan jarang sekali ingin buka dompet jika mereka jalan bersama. Joonmyun merasa, mungkin Jongin benar-benar berempati pada Seolhyun karena ia sendiri kerap merasakan kegagalan saat audisi, dikalahkan oleh Zhang Yixing.

   Begitu mobil Joonmyun bergerak meninggalkan rumah Seolhyun, Joonmyun merasakan ponselnya bergetar. Dengan kecepatan dan hati berdebar, berharap setengah mati Jaehee akan membalas pesannya, mungkin setelah benar-benar tiba di rumah dan merebahkan diri. Dan harapannya tidak sia-sia saat melihat nama Jaehee lah yang melintas di layar, memberikan notifikasi bahwa gadis itu sudah membalas Kakao-nya.

    Sayangnya, senyumnya yang sudah keburu mengembang mendadak harus berubah menjadi kerutan saat membaca pesan yang masuk.Terima kasih. Aku bisa terpilih karena bantuanmu. Terima kasih. Mengernyit, mengira sinyal ponselnya yang bermasalah, Joonmyun berusaha merefresh laman chat-nya, namun tak ada pesan tambahan yang masuk. Pesan ini, terdengar datar, hambar, dan… entahlah. Berbagai kekhawatirkan kembali muncul dalam hati Joonmyun.

   Tadi, ketika Jaehee, Seolhyun dan dua pria lainnya turun dari panggung dan disambut oleh teman-teman dekat mereka, Jaehee memalingkan wajahnya darinya. Ia tahu, memang gadis itu tak mungkin juga langsung menghampirinya disana, tapi biasanya Jaehee tidak pernah membuang wajahnya begitu saja meskipun ada banyak orang di ruangan.

   ”Wae?”

   Joonmyun menggeleng dan menyandarkan kepalanya pada jok mobil sementara supirnya membawa mobil menuju kompleks rumah Jongdae.

>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<

Senin.

   Hari ini adalah hari pertama Jaehee akan berlatih untuk mempersiapkan pertunjukan musim semi yang akan diselenggarakan bulan depan. Jika pada awalnya, Jaehee membayangkan reaksinya akan berbunga-bunga setelah mendapatkan peran Juliet, ia salah besar. Rasanya seperti mengambang.

   Berbanding terbalik dengan reaksinya, ayah dan ibunya terpekik kaget saat Joon menggendong Jaehee di pundaknya, meski Jaehee sudah berteriak-teriak minta diturunkan, namun jika dobel kombo Joon ditambah Hana yang memegangi kedua tangannya sudah bertindak, ia takkan bisa melakukan apa pun.

   Untuk pertamakalinya, Jaehee bisa melihat kedua orangtuanya memiliki keyakinan akan mimpi yang ingin ia raih. Biasanya, meski mendukung, keduanya selalu diliputi keragu-raguan akan jalan yang ia pilih. Apalagi saat Joon mengatakan bahwa skor Jaehee benar-benar menyapu bersih Seolhyun, dan Hana menambahkan bahwa penggemar Jaehee menjadi banyak sejak ia audisi tadi.

   ”Saya yakin, Nona Jaehee akan seperti Jun Ji Hyun,” ujar Joon bangga. ”Atau Sandra Bullock.” Lagi, hanya satu aktris barat yang Joon kena. Hana mengangguk-angguk penuh semangat pada ayah dan ibunya.

   Tapi sebenarnya, Jaehee sudah kehilangan seluruh percaya dirinya untuk kesekian kalinya. Ia merasa ada banyak beban yang diletakkan di punggungnya begitu ia turun panggung dan menerima ucapan selamat dari semua orang. Mulai dari teman-teman sejurusannya yang ia kenal, sampai murid-murid lain yang hanya ia tahu wajah saja. Joon menggendongnya, Hana memimpin masa untuk menyorakinya. Minseok memberinya pelukan selamat, begitu pula Seolhyun yang tersenyum menyelamatinya.

   Saat kerumunan bubar, Jaehee bertemu dengan Yixing—yang ia yakini seratus persen sudah ditarik-tarik oleh Hana dari kesibukannya mengurus soundtrack, dan Yixing juga memberikan Jaehee pelukan selamat.

   Ada satu wajah yang Jaehee kenali, juga berada di ruangan tersebut. Joonmyun menatap ke arahnya, namun keduanya sama-sama tahu, mereka tak mungkin saling bertegur sapa disana. Sejujurnya, Jaehee pun tidak berniat menyapa Joonmyun pula, jadi dengan berat hati dan dengan segala daya upaya, Jaehee memalingkan wajah dan mengajak Hana, Joon, serta teman-temannya yang lain untuk meninggalkan tempat itu secepat yang ia bisa.

   Mungkin memang hanya perasaannya saja, tetapi ia sempat melihat kilatan kecewa tatkala ia memalingkan wajah dari kedua mata cokelat kelam milik Joonmyun yang terus menatap ke arahnya setelah ia turun dari panggung. Jika hanya mengikuti perasaannya saja, maka ia bisa saja berlama-lama di sekolah dan mencari kesempatan untuk bertemu Joonmyun lagi. Tetapi, setelah semua yang terjadi hari ini…

   Tidak baik untuk membiarkan perasaannya menggantung-gantung di langit terlalu lama. Jatuhnya akan jauh lebih sakit, pikir Jaehee.

   Namun, biar bagaimanapun juga, Jaehee tetap berpendapat Joonmyun adalah orang yang paling berjasa dalam terpilihnya ia sebagai Juliet. Meski merasa patah hati, Jaehee harus mengakui, akting tangisnya lebih keluar saat memikirkan betapa bodohnya ia bisa membiarkan dirinya terlarut dalam interaksi singkatnya dengan Joonmyun.

   Meraih ponselnya dari nakas, ia mendesah mendapati pesan dari Joonmyun yang semakin banyak, yang belum juga ia buka sejak tadi. Memijit tulang hidungnya, Jaehee memutuskan untuk membuka pesan-pesan tersebut tanpa benar-benar membacanya. Membutakan mata, Jaehee mengetikkan pesan singkat.

   Terima kasih. Aku bisa terpilih karena bantuanmu. Terima kasih.

   Tak ada lagi yang dapat benar-benar Jaehee utarakan pada Joonmyun selain rasa terima kasih yang besar.

   ”Haruskah kublokir ia?” gumam Jaehee menekan ikon pilihan dan menekan menu blokir pada akun Joonmyun. Menggelengkan kepalanya, Jaehee hanya memasang perintah mute, yang berarti jika Joonmyun membalas atau mengirimkannya pesan, maka takkan ada notifikasi yang muncul ke dalam laman KakaoTalk-nya.

   Ia belum tega untuk benar-benar memblokir Joonmyun dari KakaoTalk, dan dari hidupnya juga.

 

*        *        *

Ternyata, menjauhi pria yang selalu ada di dalam pikiranmu itu bukan perkara mudah. Tanya saja pada Jaehee. Menurut kedua orangtuanya, Jaehee adalah gadis yang keras kepala. Jika sudah menginginkan sesuatu, putri sematawayang mereka tersebut akan bekerja keras untuk mendapatkannya hingga akhir. Itulah mengapa, Oh Donghae dan istrinya Lee Haejin, memperbolehkan Jaehee untuk meniti karier sebagai seorang aktris musikal. Dan dalam hal ini, kekeraskepalaan Jaehee terbukti dengan tekadnya untuk menjauhi Kim Joonmyun dengan segala daya upaya. Sayangnya, yang ingin Jaehee buktikan usahanya kali ini bukanlah kedua orangtuanya, atau Hana atau Joon, atau teman-temannya, tapi dirinya sendiri. Menghindari Kim Joonmyun di sekolah ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan.

   Entah hanya perasaannya atau bukan, tetapi sepertinya setiap ia berbelok di koridor, ia akan selalu melihat sosok Kim Joonmyun yang menatap dengan serius ke arahnya. Kedua alis lebatnya mengerut, dan Jaehee tidak pernah tahu kalau kedua mata cokelat yang selalu ia sukai itu dapat berubah jadi begitu kelamnya saat ia kedapatan menatap ke dalam dua mata itu.

   Joonmyun yang Jaehee lihat pun tidak tersenyum—tentu ia tidak berharap juga, namun perasaannya mendadak tidak enak. Joonmyun pasti sudah merasakan bahwa Jaehee memang sengaja menjauhinya. Jaehee juga punya firasat kalau ia lengah sedikit saja dan sendirian tanpa Hana, pasti Joonmyun akan mengkonfrontasinya. Karena sumpah, tatapan Joonmyun yang biasa hangat kepadanya, menjadi dingin dan cukup mengintimidasi.

   Selain itu, satu perubahan yang terjadi dalam diri Jaehee adalah, ia menemukan dirinya kesulitan untuk mulai berakting. Lagi. Awalnya, Jaehee mengira keberhasilannya kemarin meraih peran Juliet akan memompa semangat dan rasa percaya dirinya, namun begitu ia dan Minseok mulai berlatih, yang terjadi justru Baek Jinmi terlihat kurang puas dengan aktingnya.

   ”NG!

   Entah sudah berapa kali Baek Jinmi berteriak, dan untuk kesekian kalinya pula Jaehee harus membungkuk meminta maaf atas ketidakmampuannya untuk memenuhi standar Jinmi dalam berakting.

   ”Break satu jam,” kata Jinmi akhirnya sambil memijat pelipisnya dan meninggalkan set dengan langkah gontai. Park Chanyeol, juga tim tata panggung bubar jalan begitu mendengar perintah dari Baek Jinmi. Sementara Jaehee hanya bisa menghela napas di atas panggung dan berjalan gontai menuju anak tangga dan mendudukkan dirinya disana.

   Meniupkan poninya, Jaehee menggeser posisi duduknya agar tidak menghalangi orang-orang yang berlalu lalang dari panggung dan kamar ganti. Mereka semua, yang awalnya begitu bersemangat untuk melihatnya berakting, mendadak berubah seratus delapan puluh derajat kembali begitu sepuluh kali usaha Baek Jinmi untuk menciptakan suasana romantis di bagian awal musikal gagal.

   Dan semua itu karena dirinya. Jaehee melihat tim tata panggung, yang dikepalai oleh Hyesoo terlihat begitu kerepotan, dan kelelahan, karena Jinmi meminta mereka semua untuk mengganti set panggung setiap kali Jaehee gagal menyelami karakternya. Di sudut lain ruangan, Kim Minseok menenggak air mineral. Pria itu sudah sangat sangat kooperatif berusaha menciptakan chemistry yang baik, namun Jaehee lagi-lagi menghancurkannya.

   ”Igeo.”

   Jaehee mendongak, Zhang Yixing berdiri di hadapannya, dengan senyum semanis sakarinnya, menyodorkan sebotol air mineral padanya. Tersenyum miris, Jaehee menerima botol air mineral dengan penuh terima kasih.

   ”Jadi, apa yang ada dalam pikiranmu hingga kau tidak bisa berkonsentrasi sama sekali hari ini, Jaehee-ya?” tanya Yixing sambil duduk di sampingnya.

   Kedua mata Jaehee melebar kaget. Astaga, apa begitu kelihatan kalau dia banyak pikiran?

   ”Ba…bagaimana…?”

   ”Bagaimana aku bisa tahu?” tanya Yixing dengan dua mata yang berkilat-kilat bersemangat. Jaehee hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya, heran. ”Tentu saja aku tahu,” dengan menggoda Yixing menyikut lengan Jaehee main-main, ”Kita bukan kenal satu dua hari, betul bukan? Jelas sekali kau tidak bisa berkonsentrasi hari ini… jasadmu disini, jiwamu melayang-melayang entah kemana…” ujarnya berlebihan.

   Jaehee terkekeh sebentar sebelum menundukan kepalanya dengan malu. ”Aku harus bagaimana, Yixing-ah? Semua kecewa dengan penampilanku hari ini… seharusnya benar aku menyerah saja kemarin.”

   “Wae? Aktingmu bagus kemarin.”

   Jaehee menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mulai merasa bahwa keputusannya kemarin untuk mundur sudah benar, karena sekarang ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih, dan tidak bisa fokus sama sekali. Ia yakin betul bahwa pada akhirnya ia akan menghancurkan reputasinya sendiri, lihat saja? Bahkan Yixing bisa tahu kalau otak dan tubuhnya tidak dalam keadaan sinkron.

   ”Ha~” Jaehee hanya mengembuskan napasnya lagi, berusaha mengabaikan Yixing yang menatap profilnya lekat-lekat.

   ”Apa kau belum makan? Geuchi? Biasanya aku kalau belum makan pun akan sulit berkonsentrasi…”

   Andai memang sesimpel itu.

   ”Halsuisseo,” Yixing membesarkan hati Jaehee dan menepuk bahunya, Jaehee hanya kembali meringis. ”Lebih baik kau cari makan…” bujuk Yixing lagi, ”Ayo kita makan…” baru saja Yixing mau berdiri dan menarik tangan Jaehee untuk ikut berdiri bersamanya, suara yang begitu familiar terdengar memanggil nama pria berdarah China itu.

   ”Zhang Yixing, bisa bicara sebentar?”

   Yixing mendongak, begitu pula dengan Jaehee yang langsung membeku di tempatnya duduk begitu melihat siapa yang muncul di hadapannya. Yixing cemberut dengan lucu, ia menoleh dengan sorot wajah menyesal ke arah Jaehee, ”Kurasa aku tidak bisa menemanimu makan. Tapi, kau harus makan, oke?”

   Jaehee menelan ludah, mengangguk. Berusaha menatap kemana saja kecuali pada pria dengan sorot mata yang biasanya hangat namun mendadak sejak kemarin berubah menjadi lebih dingin dari kulkas.

   ”Ada apa Joonmyun?” Yixing mengikuti Joonmyun dan suaranya masih terdengar cukup jelas meskipun mereka berdua sudah meninggalkan Jaehee sendirian. Jaehee berdiri, ia memutuskan untuk mencari Jinmi dan meminta maaf atas kurangnya konsentrasinya hari ini, sekaligus menghindar jika Joonmyun memutuskan untuk muncul secara tiba-tiba lagi. Apa yang pria itu lakukan disini? Bukankah Seolhyun tidak ikut produksi sama sekali?

   Menghela napas lega, Jaehee menemukan Jinmi di sisi yang berlawanan dari arah Yixing dan Joonmyun pergi barusan. Sang sutradara terlihat serius membaca naskah-naskah yang digelar di atas meja kayu panjang, Park Chanyeol berdiri disisinya dan bergumam dengan serius.

   ”Jinmi-ssi.” Panggil Jaehee.

   Jinmi dan Chanyeol menoleh.

   ”Boleh aku bicara sebentar denganmu?”

   Jinmi melirik Chanyeol yang menyeringai. Pria jangkung itu menepuk bahu Jinmi dua kali sebelum melewati Jaehee begitu saja sambil mengangguk sopan ke arahnya. Jaehee membungkukkan tubuhnya dalam-dalam begitu Chanyeol sudah tidak ada.

   ”Mianhaeyo, Jinmi-ssi. Karena aku, latihan hari ini kacau… aku menyesal tidak memenuhi ekspektasimu, Guru Han, dan Kepala Sekolah Jung kemarin. Aku benar-benar meminta maaf,” Jaehee kembali membungkuk dalam-dalam.

   Jinmi yang awalnya mengerutkan kening dengan heran, mendadak menyunggingkan senyum tipis. Gadis itu menepuk bahu Jaehee ringan, ”Tenanglah… aku tahu kau pasti gugup, dan aku tahu kemampuanmu kemarin memenuhi ekspektasiku, Guru Han, dan juga Kepala Sekolah Jung. Ini masih latihan hari pertama, kita masih punya dua puluh sembilan hari lagi,” namun si sutradara meringis, ”Walaupun aku berharap kau tidak benar-benar menggunakan keseluruhan duapuluh sembilan hari untuk menghilangkan kegugupanmu.”

   Jaehee tersenyum kikuk, membungkuk. ”Aku akan berusaha lebih keras lagi, maafkan aku, Jinmi-ssi.”

   ”Gwenchanayo, sekarang waktu istirahat, lebih baik kau juga istirahat. Mungkin setelah kembali kau akan jauh lebih rileks.” Sahut Jinmi lagi.

   ”Keurae. Aku akan makan dulu kalau begitu, Jinmi-ssi juga makan dulu,” tambah Jaehee, gadis di hadapannya hanya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya. Pamit, Jaehee pergi meninggalkan auditorium HHCC (Hanlim Hall Convention Center) berjalan sendirian menyusuri aspal kerikil yang membawanya ke sisi kanan gedung sekolah, dimana kafetaria berada.

   Untunglah di kafetaria, ternyata ada Hana yang sedang duduk bersama beberapa teman jurusannya menyantap makan siang. Jaehee membeli makan siangnya, chinese fried rice dan air mineral, dan membawanya duduk di meja Hana.

   ”Hai,” sapa Hana ceria.

   ”Hai,” jawab Jaehee hambar, membuka sumpit kayu dan menggosokkannya menggunakan dua tangannya agar tak ada serat kayu yang masih menempel, sebelum mulai menyantap makan siangnya.

   Hana mengernyitkan dahi melihat perangai Jaehee yang suram. ”Kau kenapa lagi?”

   ”Molla,” Jaehee mengunyah suapan pertama nasi-nya dan melirik Hana dengan sedih, ”Seharusnya kemarin kau tidak melarangku untuk berhenti dari audisi itu, Hana-ya. Lihat apa yang terjadi sekarang?”

   Kaget, karena disalahkan, alis Hana terangkat tinggi-tinggi. ”Oke, ada apa ini?” Hana meletakkan sendoknya dan memiringkan tubuhnya agar betul-betul jelas menghadap sahabatnya yang murung. ”Apa yang terjadi? Ya, kau berhasil memenangkan peran itu, Jaehee-ya. Memangnya peranmu dicabut?” Jaehee menggelengkan kepalanya, ”Lalu? Apa masalahnya? Kau terpilih dengan adil.”

   Jaehee menghela napas dalam-dalam, meletakkan sumpitnya. ”Aku tidak bisa berakting sebagai Juliet, Hana-ya. Ini terlalu berat untukku… aku tidak bisa berkonsentrasi, aku mengacaukan latihan hari ini, Hana-ya.”

   Hana mengerutkan keningnya.

   ”Ah, kau tahu? Semua orang terlihat kecewa dengan penampilanku tadi… kami bahkan tidak bisa menyelesaikan bagian pertama dengan lancar karena aku tidak bisa berkonsentrasi, tidak bisa menyelami karakter. Nyawanya hilang, Hana-ya… nyawa Juliet dalam diriku hilang!” seru Jaehee putus asa.

   Melihat betapa putus asanya sang sahabat, Hana jadi tidak tega mau mengomentari. Sebenarnya Hana bingung. Kenapa pula Jaehee jadi mendadak berubah sejak kemarin? Awalnya ia hanya mengira, sahabatnya itu kumat saja kebiasaan tidak percaya dirinya karena berhadapan dengan Seolhyun, sehingga Hana dengan sekuat tenaga terus mendorongnya agar terus maju. Pada akhirnya, Seolhyun berhasil dikalahkan bukan? Dan akting Jaehee begitu luar biasa kemarin, lalu kenapa mendadak hari ini gadis itu bilang ia tidak bisa menjiwai?

   ”Ini baru latihan hari pertama, Jaehee-ya,” akhirnya Hana merangkul bahu sahabatnya tersebut, dan meremasnya kuat-kuat memberikan dukungan moril. ”Kau pasti bisa menemukan jiwa Juliet seperti yang kau bilang tadi. Mungkin karena kau belum makan, makanaya kau jadi kurang konsentrasi, atau…” Hana diam, terlihat berpikir sebelum melanjutkan pelan-pelan, ”Mungkin juga karena sekarang sudah awal bulan, kau belum haid kan?”

   Jaehee melirik Hana tajam. Random sekali, Lee Hana!

   “Bisa saja, Jaehee-ya, karena faktor itu…”

   ”Bukan karena itu!” seru Jaehee keras kepala.

   ”Lalu karena apa? Kau berakting dengan sangat baik kemarin, kemudian tiba-tiba sekarang tidak baik. Ada faktor apa?”

   Terbelalak, seolah telah membocorkan sebuah rahasia besar, Jaehee langsung terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari dua mata elang Hana, dan melanjutkan makan dengan kikuk. Tidak mungkin dia bilang pada Hana kalau dia kesal karena objek fantasinya sebagai Juliet telah memporakporandakan fantasi itu sendiri.

   ”Lihat? Kau tidak bisa menjawab alasannya bukan? Itu hanya karena rasa kurang percaya dirimu saja, Oh Jaehee, dan kurasa juga karena faktor PMS. Jadi, sudahlah… jangan terlalu banyak berpikir, kau hanya perlu minum obat pelancar haidmu agar PMS-mu segera usai, dan kembali menjadi Juliet yang cantik jelita dan rajin menabung,” Hana menggoda Jaehee dengan menggaruk dagu gadis itu seperti anak anjing kecil.

   Jaehee memutar kedua matanya, sebal.

 

*        *        *

Ruang Tata Musik

HHCC

”Bagaimana kalau ketika adegan yang ini, musik yang masuk adalah…” Yixing mencari-cari di folder dalam flashdisk, dengan lincah telunjuknya menekan mouse putih dan tiba-tiba saja suara musik terdengar.

   Dan untuk ketiga kalinya, Joonmyun tidak merespon. Yixing bahkan harus menoleh dan mengernyit saat lagi-lagi mendapati Joonmyun menatapi kertas partitur musik di atas pangkuannya.

   “Joonmyun-ah, waegeurae?”

   Joonmyun mendongak, dan tersadar bahwa untuk ketigakalinya dalam hari ini, dia telah mengabaikan Yixing yang berusaha berdiskusi dengannya mengenai lagu-lagu yang akan dipasang pada pentas musikal Romeo & Juliet.

   ”Apa kau baik-baik saja? Kau belum makan?”

   Joonmyun menggeleng. ”Jam pelajaran terakhir ada tes mendadak, aku sedikit kepikiran.” Ia beralasan sebelum mendengarkan dengan seksama lagu yang masih mengalun, mengabaikan tatapan Yixing yang penasaran padanya. ”Ini untuk adegan apa, maaf?” tanyanya.

   ”ACT III Scene 2,” sahut Yixing, masih menatap Joonmyun lekat-lekat. ”Atau kau ada masukan? Harus lagu apa?”

   Joonmyun menarik napas dalam-dalam dan memeriksa lembaran naskah. Ia sudah menghapal seluruh naskahnya, namun tentu saja ia harus mengecek untuk memastikan apakah ACT III Scene 2 adalah adegan yang ada di dalam ingatannya.

   ”Ada alternatif lain untuk adegan ini?” tanya Joonmyun sambil membuka-buka lembaran naskah.

   Yixing menggeleng, ”Masih belum ada, lagu-lagu ini masih jadi draft awal… tentu saja masih bisa berubah sampai nanti.”

   ”Keurae? Ini gubahan siapa?”

   ”Gubahanku,” jawab Yixing.

   Joonmyun mengangguk-angguk, ”Karena tidak ada pilihan lagi, aku masih merasa lagu ini yang cocok.”

   Yixing terkekeh, ”Bagaimana kalau ada pilihan lain?”

   ”Jika yang itu lebih cocok, tentu saja pilihan lain itu,” jawab Joonmyun sambil lalu, tanpa menghiraukan Yixing yang mencoba bercanda untuk mencairkan suasana. Yixing hanya tersenyum tipis, berpikir bahwa mungkin saja jika sedang tidak enak hati Kim Joonmyun yang biasanya ramah dan baik hati ini akan berubah dingin, seperti sekarang.

   ”Baiklah kalau begitu, kuberikan catatan… sampai ada yang lebih baik, sementara lagu ini akan jadi soundtrack…” Yixing mengetikkan kata demi kata tersebut di folder lagu yang bersangkutan. ”Sekarang, untuk lagu ketika Romeo dan Juliet mulai jatuh cinta.” Yixing memutar kursinya, ”Ada ide?”

   ”Missing You gubahanmu?” tanya Joonmyun, ia ingat Yixing sudah menggubah soundtrack dari film Romeo & Juliet yang dibintangi Leonardo DiCaprio itu tempo hari, tapi mengapa sekarang malah bertanya kembali?

   ”Hmm,” Yixing menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuknya sendiri. ”Tentu saja lagu Missing You itu harus tetap ada, tapi… aku berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang… Jaehee!”

   Oke, akhirnya pria di hadapan Joonmyun ini menyebutkan nama Oh Jaehee juga, alis Joonmyun sedikit terangkat dengan skeptisnya ekspresi wajahnya, meski tidak mengatakan apa-apa. Tidak mengiyakan, tidak pula menolak.

   ”Aku tidak tahu,” Yixing terdengar seperti tengah membayangkan sesuatu yang indah—jika mendengar cara bicaranya, yang memuja. ”Kau tahu… akting Jaehee itu seolah entahlah, bagiku dia membawa Juliet dengan caranya sendiri. Sehingga menurutku pantas jika ia dibuatkan sebuah lagu khusus.”

   Joonmyun mengangguk-angguk, malas, ”Semoga berhasil kalau begitu.”

   ”Berhasil apa?”

   ”Membuat lagu.” Gumam Joonmyun. ”Hmm, lalu lagu berikutnya apa?”

   Yixing membatin bahwa Joonmyun memang tidak menyukai Jaehee—faktor darah memang lebih kental daripada air benar-benar terbukti, pikirnya. Daripada lebih jauh membuat Joonmyun kesal, akhirnya Yixing menuruti partnernya itu untuk membahas lagu selanjutnya, dan mengesampingkan keinginannya untuk membuat lagu khusus bagi Jaehee.

 

*        *        *

Sugohesseoyo!”

   Teriakan-teriakan tersebut terdengar. Jaehee ikut membungkuk ke kanan dan ke kiri, mengucapkan kata-kata yang sama, pada rekan-rekannya, termasuk pada staff yang ikut hadir dalam latihan hari ini.

   Ya, latihan hari ini bisa dikatakan PA-YAH!

   Apakah Jaehee membuat perubahan setelah makan siang? Jawabannya iya, aktingnya sedikit jauh lebih baik, namun tidak mencapai kata cukup. Dan Jaehee merasa bersalah karenanya. Ia kurang lebih bersyukur karena tidak ada Kim Joonmyun—atau batanghidungnya sekalipun, karena Jaehee yakin jika pria itu muncul, aktingnya akan langsung payah lagi.

   Mengambil tasnya, Jaehee membungkuk untuk meraih botol minumnya yang ia letakkan di bawah kursi dan memasukkannya ke dalam ranselnya sebelum menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Latihan hari ini saja, yang masih hari pertama sudah menguras seluruh tenaganya hingga ia berkeringat seperti ini. Menyandangkan tasnya Jaehee keluar dari auditorium menuju gedung sekolah kembali, karena toilet di auditorium sudah dikunci. Ia membasuh wajahnya yang sudah terasa lengket dan kotor, kemudian mencuci tangannya sebentar sebelum keluar dan mendapati Kim Joonmyun tengah bersandar tepat di depan pintu toilet.

   Kaget. Jaehee benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresinya dan pekikan tertahannya. Kedua matanya melebar, saat melihat Joonmyun yang masih mengenakan seragam hanya bersandar dengan kedua tangan disilangkan di depan dada. Bodohnya, otaknya yang kecil itu malah memerintahkannya untuk berlalu begitu saja, bukannya bersikap biasa-biasa saja.

   ”Mau kemana?”

   Tak jadi ambil langkah seribu, Jaehee bisa mendengar decitan suara sepatunya yang menahan langkahnya untuk pergi. Tak berani menoleh, ia hanya bisa mengembuskan napas melalui mulutnya dan berusaha menenangkan diri. Bulu romanya meremang, Joonmyun mendekat dan sudah berdiri di hadapannya. Wajah tampannya, yang biasanya selalu terlihat menyenangkan, kini justru mengerikan (dan bukan karena lampu koridor yang sudah meremang).

   Dua mata cokelat yang biasanya dalam itu kini gelap dan menatapnya tajam. Rahangnya keras, seolah-olah sedang menahan marah. Atau memang ia sudah marah.

   ”Pulang. Kau sendiri… apa yang kau lakukan disini?” tanya Jaehee pelan.

   ”Aku hanya mau bertanya padamu,” Joonmyun nampaknya sudah muak berbasa-basi dan memilih langsung berterus terang. ”Apa yang salah padamu, eoh? Atau padaku? Sampai-sampai kau ambil sikap seperti ini, defensif… dan begitu saja mengabaikanku berhari-hari.”

   Jaehee meneguk ludahnya kuat-kuat. Jika tadi ia merasa ketakutan, ketakutan itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan bagaimana rasanya ditatap begitu tajam oleh pria yang ia sukai. Jaehee bisa merasakan bahunya bergetar, dan tangannya mulai dingin.

   ”Apa yang salah? Ada apa sebenarnya?” tanya Joonmyun menatap lurus-lurus langsung ke kedua mata Jaehee sendiri.

   ”Tak ada yang salah,” Jaehee membuat wajahnya. ”Kita tidak mungkin bicara di depan orang banyak, bukan?” jawabnya pelan.

   Didengarnya Joonmyun terkekeh pelan. Dan sayangnya, tawa itu tidak terdengar menyenangkan. ”Jangan pura-pura, Jaehee-ya. Aku tahu kau menghindariku. Yang aku mau tahu, kenapa kau menghindariku.”

   ”Aku tidak…”

   ”Jangan bohong!” seru Joonmyun tanpa berusaha mengecilkan suaranya.

   Jaehee memejamkan matanya kuat-kuat. Entah kenapa setelah kemarin ia merasa sakit hati karena telah salah mengira bahwa lagu yang dibuat Joonmyun bukan untuknya, ia justru malah merasa jauh lebih sakit hati saat ini. Kim Joonmyun, pribadi yang ia kenal sebagai orang yang hangat dan lembut, kini benar-benar berubah. Jaehee tidak pernah membayangkan pria yang ia sukai dapat berubah menjadi begitu dingin seperti ini.

   ”Apa yang terjadi? Kenapa kau menghindariku?”

   Apa yang harus ia jawab? Karena kau ternyata menyukai orang lain saat aku menyukaimu? Tidak mungkin, bukan? Atau… Karena ternyata aku menyukaimu, dan kau menyukai orang lain, jadi sebaiknya aku segera jauh-jauh darimu.

   ”Kalau kau tidak bisa menjawab, sepertinya aku punya jawabannya sendiri…” suara Joonmyun yang tadinya keras, kini berubah pelan. Namun entah kenapa nada suaranya justru membuat dada Jaehee tambah sesak. ”Kau memang tidak pernah berniat berteman denganku, keurae?”

   Membelalak, Jaehee terbata-bata berusaha menyangkal, namun yang keluar dari mulutnya hanya gumaman tak jelas.

   ”Kau hanya memanfaatkanku, benar?”

   Jaehee menggelengkan kepalanya kuat-kuat. TIDAK PERNAH terlintas dalam pikirannya sedikitpun mengenai hal tersebut. Yang benar saja, ia menjauhi Joonmyun demi menjaga perasaannya, namun apa yang terjadi? Joonmyun berpikir yang jauh sekali dari kenyataan yang sebenarnya.

   ”Dan setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan… yaitu peran utama Juliet dengan naskah terbaik yang pernah ada, boom… kau pergi begitu saja, kau sudah tidak butuh lagi padaku. Benar, kan?”

   ”Anhi! Sama sekali bukan begitu…” Jaehee kaget menyadari suaranya bergetar begitu hebat, dan matanya memanas. Ia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Joonmyun atau membuat Joonmyun berpikir seperti itu.

   Joonmyun menggeleng, ”Sudahlah, tidak perlu dibahas lebih lanjut. Aku sudah mengerti. Kukira keluarga Oh tidak seburuk yang kedua orangtuaku katakan… rupanya aku salah.” Tandasnya, sambil berbalik pergi meninggalkan Jaehee yang berdiri kebingungan, dan justru menangis tersedu-sedu di tempatnya berdiri sekarang.

   Ternyata, apa yang ia pikirkan, apa yang ia lakukan, tidak pernah berarti sama dimata orang lain. Dalam hal ini Joonmyun. Jaehee hanya ingin melindungi dirinya dari rasa sakit, karena telah salah menyukai atau bahkan mencintai, tapi ia tidak menyangka bahwa Joonmyun akan menyangka bahwa dirinya hanya memanfaatkan pria itu selama ini. Jaehee tidak menyangka bahwa sikapnya menghindari Joonmyun justru berbalik membuat pria itu balik membencinya. Dan Jaehee menyesalinya.

 

*        *        *

Satu Minggu Kemudian

 

Good morning, boys~” sapa Kim Seolhyun meletakkan nampan berisi empat potong roti, dan empat botol susu pisang. Alis Jongdae terangkat naik, begitu juga dengan Jongin. Dua pekan terakhir, sepertinya merupakan dua pekan paling tidak enak di Hanlim. Entah kenapa. Tidak ada mood seorangpun di Hanlim yang bagus.

   Termasuk Kim Seolhyun, sejak ia kalah dari Oh Jaehee.

   Jadi, ketika melihat gadis berambut panjang itu tiba-tiba datang dengan wajah sumringah cerah ceria di meja kantin, sesaat sebelum bel masuk, wajar saja Jongdae dan Jongin heran. Sementara, Joonmyun, hanya diam saja.

   ”Ada hal baik yang terjadi, Seolhyun-ah?” tanya Jongin heran.

   Seolhyun mengangguk-angguk.

   ”Apa?” tanya Jongin bersemangat. Ia sudah penat dengan sikap Joonmyun yang bak gunung berapi siap menumpahkan larva dari dalam perut bumi sejak satu pekan lalu. Andai Joonmyun wanita, Jongin bisa menebak bahwa sahabatnya ini tengah PMS. Jongin tidak mau tahu lagi kenapa dengan sahabatnya yang selalu bermuka masam ini, yang Jongin inginkan adalah Joonmyun kembali normal.

   Seolhyun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ”Kalian makanlah… aku sedang berbaik hati mau mentraktir kalian, dan… igeo, kalian bisa tebak?”

   ”Ini kan naskah Romeo & Juliet,” kata Jongdae begitu Seolhyun meletakkan naskah di atas meja.

   ”Kenapa dengan ini?” tanya Jongin penasaran.

   Seolhyun menggosokkan kedua tangannya dengan bersemangat, ”Jodoh memang tidak lari kemana, kalian tahu? Kurasa aku memang ditakdirkan untuk menjadi Juliet, dan kesempatan itu memang datang disaat yang tidak terduga, kalian tahu?”

   ”Ne?!” seru Jongdae kaget. Bahkan Jongin terlihat kaget. Joonmyun pun ikut mendongak menatap Seolhyun yang begitu berseri-seri. ”Juliet?”

   ”Err… bukankah si Oh Jaehee itu yang menjadi Juliet?” tanya Jongin bingung.

   Seolhyun mengibaskan rambutnya dan melipat kedua tangannya di atas meja kantin dan menatap ketiga temannya bergantian. ”Kalian tahu? Entahlah, akting gadis itu sepertinya tidak sebaik yang Kepala Sekolah Jung dan Guru Han harapkan, bahkan Baek Jinmi sang sutradara. Ia mengacaukan segalanya, ini sudah tiga minggu menjelang pementasan dan gadis itu sama sekali tidak melakukan perubahan sejak hari pertama berlatih,” Seolhyun memutar kedua matanya, ”Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, yang jelas… Guru Han sudah berbicara padaku bahwa aku kemungkinan akan menggantikan gadis itu menjadi Juliet.”

    ”Woah, daebak!” seru Jongin bersemangat. ”Chukae, Seolhyun-ah, sudah kukatakan bahwa memang kau yang pantas untuk menjadi Juliet! Kau profesional… cih, apa-apaan Gadis Oh itu, johta!”

   Jongdae melirik Joonmyun yang wajahnya menjadi semakin gelap, dan tidak mengatakan apa pun. Seolhyun dan Jongin tahu bahwa mood Joonmyun sepekan ini tengah jelek, maka mereka berdua mengabaikannya, namun Jongdae tidak bisa.

   ”Jongdae-ya, kau tidak mau memberiku selamat? Akhirnya aku yang jadi Juliet.”

   Jongdae terkekeh tidak enak, ”Ne… selamat Seolhyun-ah, kau memang… patut jadi pemeran utama.” Gumamnya.

   BRUK.

   ”Kau mau kemana?” tanya Seolhyun mengangkat alisnya, saat Joonmyun berdiri begitu saja sambil meraih ranselnya. ”Kau tidak mau memberiku selamat, Joonmyun-ah?”

   Joonmyun tersenyum tipis, ”Ne, chukae.” Lalu ia pergi begitu saja.

   ”Ya, kau mau kemana?!” seru Jongin kesal, matanya tak bisa lepas dari sosok Joonmyun yang mulai berjalan meninggalkan kantin. Ia berbalik menatap Jongdae. ”Kim Jongdae, apa kau tahu ada apa dengan Mr Kim Joonmyun?”

   Jongdae mengangkat bahu.

   ”Dia dan si Oh Jaehee itu sama saja, satu minggu ini aneh.” Decak Seolhyun melipat tangannya. ”Ada apa di auditorium? Apa ada sesuatu yang terjadi? Sepertinya semua orang yang terlibat musikal itu mood-nya turun. Tak hanya mereka berdua, Baek Jinmi, Park Chanyeol, dan semua yang terlibat semua mood-nya jelek sekali.”

   Jongdae menggelengkan kepalanya, tidak tahu.

   ”Aku benar-benar tidak tahan dengan sikapnya! Seolhyun-ah, gomawo… aku akan coba bicara dengan si keras kepala itu,” Jongin berdiri mengambil roti dan susunya sebelum lari mengejar sosok Joonmyun yang sudah tidak terlihat dari kantin.

   Langkah kaki Joonmyun rupanya cepat juga. Karena Jongin tidak mendapati sahabat sekaligus sepupu jauhnya itu diluar kantin. Mempercepat langkah Jongin berusaha mencari Joonmyun di koridor lantai satu, dan masih juga tidak menemunak sahabatnya. Ia beralih ke lantai dua, dimana murid-murid sudah banyak membanjiri koridor.

   ”Kau lihat Joonmyun?” tanya Jongin pada salah seorang teman sekelasnya yang juga mengenal Joonmyun.

   ”Oh, dia dan Zhang Yixing sepertinya bicara di ruangan tata musik.”

   Seperti bom meletus tepat di atas kepalanya, Jongin mengerjapkan matanya berkali-kali, dan menajamkan telinganya. Apa dia tidak salah dengar?

   ”Dengan siapa?!”

   ”Zhang Yixing, di ruang tata musik,”

   ”Zhang Yixing?!”

   ”Iya, Zhang Yixing. Mereka kan bekerjasama sebagai tim tata musik di musikal yang akan datang. Kau tak tahu?”

   Mengepalkan tangannya, Jongin berjalan ke arah ruang tata musik yang dimaksudkan. Dadanya rasanya hangus seperti dibakar. Joonmyun bicara dengan ZHANG YIXING?! Apa-apaan ini?! Kerjasama pula?!

   Dan tidak mengatakan apa pun padanya?!

 

 

 

*EXTRAS*

*Jongin’s Corner*

”ARRGHHH!” Jongin terjatuh berlutut di lantai studio, berusaha mengatur napasnya, mengabaikan sakit yang menusuk-nusuk punggung dan pinggangnya, mengabaikan peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya. ”DAMN!” dengan tertatih dia merangkak menuju CD Player yang terletak di pojok ruangan dan menekan tombol play sebelum memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan bergerak kembali.

   ”AAAAHHHHH! SHIT!!!”

   Sekali lagi Jongin terjatuh setelah memaksakan tubuhnya untuk membuat wave sempurna hingga punggung dan pinggangnya tak tahan lagi. ”SIAL! KIM JONGIN KAU HARUS BISA, BANGUN!” teriaknya sendiri.

    ”Hana dul set…”

   Lagu kembali berkumandang, Jongin memejamkan matanya, kembali mengesampingkan rasa sakit luar biasa kali ini pada sekujur tubuhnya. Hingga akhirnya ia terjatuh dalam posisi tengkurap, kehabisan napas, dan kecewa pada dirinya sendiri.

   ”DAMN! DAMN! DAMN!”

   ”SHIT! SHIT! FU*K!!!”

   ”AAAARRRGGGHHHHH!!!”

   ”Tsk, tsk, tsk, kau kira dengan kau berteriak-teriak seperti itu kau bisa maju sebagai perwakilan dance di festival tahunan, eoh?

   Jongin mengepalkan tangannya. Jika saat itu tubuhnya rasanya tidak seperti tengah dibelah-belah seperti ini, maka Jongin sudah pasti akan menghajar yang bicara barusan. Sayangnya, cedera punggung dan pinggangnya sepertinya kambuh lagi.

   ”Apa kau yang lakukan disini? Bukankah setelah jam enam studio ini giliranku?” tanya Jongin menatap tajam orang menginterupsinya tersebut.

   Lee Hana mengangkat sebelah alisnya. Ia bersandar pada gagang pintu, melipat kedua tangannya, dan menatap Jongin dengan sinis. ”Kau kira studio ini hanya punyamu saja, eoh? Yang pakai sebelum ini bukan aku.”

   ”Kalau begitu pergi! Ini giliranku berlatih.”

   ”Berlatih dengan tubuh seperti itu?!”

   ”Pergilah, jangan menyebalkan! Aku sudah cukup muak hari ini tanpa ditambah wanita sok tahu sepertimu.”

   Hana berdecak, ”Ya, aku memang tidak tahu apa masalahmu, tapi kau harus sadar diri. Kau kira bisa terus berlatih dengan tubuh seperti itu?” Hana berjalan menuju pojok ruangan dimana CD player berada dan menekan tombol stop, ”Lebih baik pulang, dan biarkan aku latihan.”

   ”Aku belum selesai latihan!” geram Jongin sambil berusaha bangkit, dan untunglah berhasil meski terhuyung. ”Pergi dari sini!” usirnya dengan dingin. ”Pergilah selama aku masih memperingatkanmu dengan kata-kata.”

   Hana mengangkat sebelah alisnya, ”Lalu, kalau aku tidak mau? Kau akan apa?”

   Jongin menatap gadis itu dengan tajam dan tanpa menghiraukannya, ia menekan kembali tombol play pada CD player setelah berhasil berjalan terseret-seret.

   ”Kenapa kau berusaha begitu keras?! Kau tidak lihat tubuhmu sudah sekarat seperti itu?!” seru Hana melihat Jongin tetap bersikukuh hendak menari di tengah studio. Gerakan-gerakan yang Jongin lakukan bukanlah gerakan yang mudah, ditambah lagi sepertinya pria itu kesakitan. ”Ya! Kau sebaiknya berhenti sebelum kau pingsan!”

   Jongin mengabaikannya.

   Hana menggigit bibirnya mulai takut. Jika terjadi apa-apa… masalah ini bisa jadi panjang, bukan? Oh kenapa dia harus terjebak dalam situasi tidak enak seperti ini?

   BRAK.

   ”AAAHHHHH!”

   ”YA!” jerit Hana sambil berlari ke tengah menangkap tubuh Jongin yang limbung ke belakang. Mengorbankan tubuhnya keduanya tersungkur bersamaan ke lantai, meski jauh lebih pelan jika dibandingkan dengan jika hanya Jongin yang terjatuh. ”Sudah kubilang apa, jangan memaksakan diri!!!”

   Namun Jongin meringis meringkuk memegangi belakang tubuhnya.

   ”Oh, shit!” Hana geragapan berdiri dan berlari mendekati tasnya untuk meraih ponsel dan menghubungi seseorang untuk memberikan pertolongan.

-Part IX Kkeutt-

Pertama-tama aku mau ucapin minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan bathin, buat semua teman-teman pembaca SKF. Maafin salahku sengaja / tidak, perbuatan dan kata-kata yang menyinggung kalian. Selamat lebaran walaupun terlambat *bow sama Joonmyun*

Yang kedua, mau minta maaf karena telat tiga minggu ya publishnya hiks hiks, kemarin sebelum lebaran udah mulai training, dan ya kepotong lebaran yang rempong gak bisa pegang laptop atau bahkan sekedar main twitter hehehe, tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk menuhin janji untuk tetap update AIA ke kalian. Di komen yaaa… dan untuk part ini, di akhir komen tolong cantumin email kalian lagi ya… data kemarin ke delete semua, dan ada beberapa yang masih belum dapat password untuk part 5, dan di part 10 aku mau protek lagi.

Akhir kata sampai ketemu di Part X, mudah-mudahan gak molor lama-lama lagi ya. 

XoXo

Neez,

PS : Makasih lho untuk temen-temen pembaca yang rekomendasiin FF-FF aku di postingan SKF, I love you to the moon and the back. Mudah-mudahan tulisanku tetap bisa menginspirasi dan menghibur kalian ^^

115 responses to “ALL I ASK [PART IX] — by Neez

  1. Asli dingin banget interaksi suho-jaehee :s
    Mana myeon salah paham ke jaehee dikira dimanfaatin T_T
    Complicated eonn

    Btw, ini email aku eonn : fennysuana@yahoo.com
    Meskipun aku baca ini ff baru skrg, tp aku meninggalkan jekak tiap chapt kok eonn.
    Btw, boleh aku minta tolong kirimin pass AIA chapt 5 & 10 juseyooo eonn~

  2. Pingback: ALL I ASK [PART XIII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: ALL I ASK [PART XIV] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. LAHHH???? Kenapa ini malah seolhyun yg jadi juliet?? NOOOOOO!! Jaehee yaampun segitu buruk mood nya kah sampe bener-bener gak bisa acting maksimal😦
    Joonmyeon juga sih salah sangka duluuu jaehee belum sempet jelasin juga udah ngambil kesimpulan sendiri :(((
    Yaampun part ini bikin darah tinggi bgt :(((
    Joonmyeon baikan lagi dong sama jaehee :(((
    Kak lanjut yaa sekalian mau ninggalin email destasari33@yahoo.co.id soalnya yg part 5 aku juga belom baca :((
    Semoga kakak berkenan memberikan password yaa maaf telat banget soalnya baru tau ff ini :(((
    Terima kasih sebelumnyaaa💞

  5. Nah, itu Kai adduuuuh… ksian lihat dy usaha bgt gitu gr2 tw Junmyun ikut bkrja sma bareng Yixing -_- Hana, tlong rawat Kai y, jgn lupa hbis ini baikan dan klo prlu sling mmerlukan 1 sama lain ok😀 Dddan Jaehee, ksian skli qm dimarahi sama Junmyun.. ya wjar sih ya Junmyun brprasangka sprti itu_ ikut nyesek jdinya_ Tp klo q jd Jinmi_krn trbiasa mjd sutradara tipe Direct, bisa2 Jaehee habis q marahin krn actingnya g bisa2 haha* Oh iya Author izin utk pw AIA 10 boleh,🙂 my email: Hayeon_seo@yahoo.com

  6. liat mereka salah paham tuh… rasanya nyesek banget. semoga aja mereka brdua ga lama salah pahamnya, aku kangen sama moment mereka yang bikin aku ikut-ikutan berdebar 😊

    ini alamat email aku: safilahkamil@gmai.com kak neez, aku belum dapet pw part5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s