[4] Note on the Desk: Bubble-bubble, Here Comes Trouble

notd1

Note on the Desk: Bubblebubble, Here Comes Trouble

by awackywallflower ft. Key

(Poster by bangsvt @ Poster Channel)

Jeon Jungkook, Jung Jaehyun, BTS & OC || Friendship, Family, School Life, Romance || Series

Previous: [0[1] [2[3]

Suara ketukan di meja berhasil membangunkan Summer dari tidurnya. Seorang wanita paruh baya dengan menenteng beberapa buku di tangannya menyapa Summer ketika matanya berkedip mencoba mengumpulkan fokusnya.

“Sebaiknya kau segera pulang. Sebentar lagi perpustakaan akan ditutup,” ujar wanita tersebut dengan menyungging senyum tipis pada bibirnya yang sudah memiliki beberapa kerutan tepat di atas bibir.

Summer mengangguk sebelum wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Summer seorang diri. Summer memandang ke langit dengan beberapa awan tipis yang berarak. Sinar mentari masih dengan semangat menyinari hari padahal jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri Summer sudah menunjukkan pukul lima sore. Bukan hal yang aneh, tentu saja. Musim panas di Seoul menyebabkan siang hari berjalan lebih lama dari malam hari, bahkan matahari baru terbenam pukul delapan.

Summer meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena tertidur di meja perpustakaan cukup lama. Ia lalu mengemasi peralatan tulis yang ia gunakan untuk menyalin beberapa materi dari buku yang ia pinjam. Dilepasnya earphone dari kedua telinganya dan ia letakkan earphone-nya ke dalam tas sedangkan ponselnya ia masukkan ke dalam saku kemejanya. Summer mengembalikan dua buku yang ia pinjam ke dalam rak sebelum melangkah pergi meninggalkan perpustakaan yang sudah lengang. Hanya ada ia, satu orang murid yang lain yang juga tengah mengemasi barang-barangnya dan seorang penjaga perpustakaan―wanita setengah baya dengan beberapa kerutan di sekitar mulutnya yang dikenal sebagai bibi ilmu pengetahun di sekolahnya.

Koridor sekolah pun sama lengangnya. Hanya ada beberapa murid yang berlalu-lalang, kebanyakan dari mereka bersiap pulang sama seperti Summer―karena memang gedung sekolah akan ditutup tepat pukul setengah enam. Summer mendengar dentuman suara bola dan beberapa decitan karet sepatu yang bergesekan dengan beton ketika tungkainya berhasil menjejak keluar dari gedung sekolah.

Summer memberi kesempatan kuriositas mengambil alih otaknya. Untuk beberapa saat yang ia lakukan hanya memandangi sepuluh orang berlari ke sana kemari menggiring bola berwarna hitam dengan garis-garis emas. Gedung sekolah memang ditutup tepat pukul setengah enam tapi halaman sekolah―termasuk taman, lapangan tenis dan juga lapangan basket―selalu terbuka dua puluh empat jam untuk umum. Siapa pun boleh menggunakannya asal di luar jam sekolah.

Baru siang tadi Zoey menceritakan para alumni yang masih sering bermain basket di sekolahnya dan sore ini Summer sudah bertemu dengan mereka. Awalnya Summer tidak yakin kalau mereka NCT27―gabungan nama tim basket dan juga nomor angkatan―seperti yang diceritakan Zoey. Namun, keraguan itu langsung sirna ketika salah satu dari mereka ada yang meneriakan nama Ten; kakak tingkat yang diidolakan Zoey.

Kesadaran Summer yang sempat hilang kini kembali ketika sebuah bola basket menabrak jeruji besi di hadapannya. Disusul seorang pria ber-headband hitam yang melingkar di kepala dengan langkah kaki setengah berlari ke arahnya.

“Kau okay?” tanya pria itu ditengah-tengah napasnya yang terengah-engah. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya, terlihat dari baju basketnya yang lepek. Sebuah senyum dengan tatapan penuh tanya disusulkan pria yang berjarak tidak lebih dari satu meter dengan Summer.

Mata Summer mengerjap dua kali. “A-ah ya. Tentu. Aku tidak apa-apa kok sunbae.”

Jaehyun, stop flirting!

Teriakan itu membuat Summer dan pria bernama Jaehyun di hadapannya memindahkan atensinya. “I’m not!” protes Jaehyun tidak terima dengan tuduhan asal temannya.

Bye?” ucap Jaehyun dengan nada yang menggantung. Selama dua detik Summer hanya memandang dengan tatapan penuh kebingungan namun detik berikutnya sebuah tawa singkat lolos dari bibirnya.

Summer mengerti Jaehyun hanya bingung untuk mengakhiri perbincangan singkat―yang bahkan tidak bisa disebut berbincang karena saking singkatnya―namun dapat diyakini bahwa sunbae di depannya ini juga bukan orang yang tidak mengerti sopan santun. “Sunbae bisa langsung pergi tanpa berpamitan, aku tidak akan ambil pusing tapi karena sudah terlanjur jadi … bye too, kurasa?”

Jaehyun hanya menyunggingkan sebuah senyuman yang berhasil memperlihatkan lesung pipi yang hanya berada di sisi kiri wajahnya tepat pada guratan yang tercetak saat kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.

Jaehyun, come on!

Teriakan dari orang yang sama akhirnya mengakhiri sesi canggung di antara Summer dan Jaehyun. Jaehyun langsung berlari memunggungi Summer dengan bola yang ia pegang dengan kedua tangannya.

Kalau boleh jujur sesaat yang lalu tepat ketika Jaehyun tersenyum, Summer merasakan sebuah nostalgia pada gurat yang terbentuk di wajahnya juga satu lesung pipinya. Senyum Jaehyun mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama pergi meninggalkannya, pergi dari kehidupannya.

 Summer mulai merajut langkahnya lagi. Sebenarnya ia tidak sedang berselera pulang ke rumah tapi bukankah ia tidak memiliki pilihan lain selain pulang ke rumah?

Rumahnya cukup besar untuk ditempati satu orang manusia anti-sosial seperti dirinya. Tidak ada hiasan-hiasan khusus atau pun pajangan-pajangan besar yang meramaikan ruangan di rumahnya. Cat tembok yang berwarna putih juga perabot rumah yang didominasi warna hitam menambah kesan lengang. Damai yang akan di rasa untuk orang-orang yang terbiasa dengan hingar-bingar manusia tapi bagi Summer rumahnya lebih mirip sarang Dementor dimana kesunyian dan kekosongan yang ia dapati.

Tangannya sudah siap memutar kenop pintu sayangnya ingatannya akan bahan makanan yang tersisa di kulkas lebih dulu menyelinap membuatnya memutar kembali kunci rumah dan memasukkannya ke dalam tas.

Ia menggiring langkahnya menuju supermarket terdekat yang hanya membutuhkan satu kali naik bus dan berjalan sekitar tiga blok untuk sampai ke sana. Ponselnya berbunyi ketika kedua kakinya baru saja melangkah dari tangga terakhir bus. Summer tidak perlu melihat terlebih dahulu nama yang muncul pada layar ponselnya. Ayahnya adalah satu-satunya nomor yang ia simpan di ponselnya dan satu-satunya orang yang tidak pernah lupa untuk meneleponnya setiap hari.

 Suara baritone ayahnya menyapa dari seberang. Tanpa sadar sudut bibir Summer terangkat. “Halo juga ayah. Bagaimana kabarmu hari ini?” balas Summer yang langsung disambut cerita panjang lebar ayahnya tentang karyawan kantornya yang selalu ada saja tingkahnya.

Sesekali Summer tertawa membuat orang disekitarnya melirik ke arahnya untuk sepersekian detik. Mungkin mereka pikir Summer tengah menertawakannya. Sesekali Summer hanya mengeluarkan gumaman-gumaman tak jelas karena tengah sibuk memilih buah dan sayur yang ingin dibelinya.

“Kabarku? Aku baik.” Summer menjepit ponselnya di antara telinga dan bahu kirinya sedangkan kedua tangannya sibuk menimang antara susu rasa pisang atau susu cokelat yang harus ia bawa pulang, “Teman-temanku menyenangkan. Seperti remaja pada umumnya, kami pergi nonton film bersama, ke taman bermain bersama, makan siang di sekolah bersama-sama,” lanjut Summer yang pada akhirnya memasukkan susu rasa cokelat ke dalam troli belanjanya.

Berbohong sudah menjadi keahliannya semenjak tinggal jauh dari ayahnya. Tentu Summer tidak mungkin bercerita bahwa ia bahkan baru mendapatkan satu orang teman selama hampir dua tahun hidup sendiri di Seoul atau bahwa ia tidak pernah pergi ke taman bermain atau menonton film bersama, yang dilakukan Summer jika benar-benar jenuh dengan kesendiriannya hanya mencari udara segar dengan berjalan-jalan pada malam hari mengelilingi Hongdae, melihat berbagai kesenian jalanan yang disajikan di sana. Selain tidak ingin membuat ayahnya khawatir, ia juga tidak ingin―atau lebih tepatnya―belum siap kembali ke Amerika. Seperti ayahnya yang tidak akan pernah siap untuk menginjakkan kakinya lagi di Seoul.

Summer tersenyum ke pegawai supermarket sebelum berjalan menjauhi kasir. Ponsel yang semula menempel di telinga sebelah kiri kini berpindah ke sebelah kanan. “Semalam aku sibuk chatting dengan teman-temanku. Ayah tahu kan, girl’s stuff.” Kebohongan kedua hari ini. Summer bahkan belum sempat bertukar SNS dengan Zoey jadi sibuk chatting tentu hanya untuk menutupi aktifitas yang sebenarnya ia lakukan; membersihkan seragam dari bau busuk telor dan air bekas membersihkan lantai.

“Kurasa malam ini―” Ekor matanya seperti menangkap bayang-bayang seseorang. Summer memutar pandangnya tanpa mempedulikan ayahnya tengah memanggil-manggil namanya di telepon. Manik hitamnya menangkap sosok pria bersurai segelap bulu burung gagak yang tengah memakai hodie hitam, ripped jeans juga sepasang sepatu boots warna cokelat muda; Jungkook.

“Ayah, aku akan meneleponmu lagi malam ini. I love you. Bye!” Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya Summer langsung mematikan sambungan secara sepihak. Kakinya yang kecil berjalan semakin cepat mendekati objek yang kini memasuki outlet olahraga. “Jungkook!”

***

“Jungkook!”

Jungkook yang baru saja akan memasuki sebuah outlet perlengkapan olahraga bersama dengan Jin dan Jimin memutar kepalanya. Maniknya menyapu pandang mencari sumber suara yang baru saja meneriakan namanya. Sampai pada maniknya yang menangkap sosok perempuan yang berlari ke arahnya.

“Jungkook, kau nggak masuk?” tanya Jin kepada Jungkook yang masih berada di luar.

Jungkook menoleh ke arah Jin. “Duluan saja, hyung. Aku akan menyusul nanti.”

Jin mengangguk setuju. “Baiklah kalau begitu aku masuk duluan. Kalau kau tidak jadi dan akan pergi ke tempat lain, tolong kabari aku atau Jimin.”

Jungkook hanya menjawab dengan sebuah anggukan dan ketika ia memutar kembali kepalanya seperti semula di hadapannya sudah berdiri seorang perempuan yang tadi dilihatnya tengah berlari ke arahnya. Kepala Jungkook agak berjenggit, kaget mendapati sosok gadis itu sudah berada di depannya.

Dahi Jungkook berkerut. Ia seperti tidak asing dengan wajah gadis yang kini menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Jungkook. Jungkook mencoba mengingat-ingat tentang gadis ini. Ingatannya kembali ke tempat makan Kill Kill Burger tapi dia tidak ingat pernah bertemu dengan gadis ini. Lalu, ingatannya berpindah ke club yang beberapa hari lalu ia datangi bersama dengan para hyung-nya tapi Jungkook rasa gadis di hadapannya ini tidak di sana juga. Kini ingatannya berpindah tempat lagi―sekolah. Jungkook tidak benar-benar memiliki teman baik di sekolah seharusnya hal itu mempermudahnya tapi para penggemarnya yang kebanyakan perempuan mempersulit ingatannya. Apakah gadis di hadapannya salah satu perempuan yang suka berkerumun untuk melihatnya?

Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Jungkook ingat juga dengan gadis di hadapannya sekarang. Ia gadis yang sempat beradu argumen dengan Haneul dan juga menjadi partnernya pada tugas seni rupa di kelas guru Nam.

Kedua alis Jungkook naik ke atas dengan jari telunjuknya yang mengarah pada sosok di hadapannya. “Kau …” Gadis di hadapannya ikut mendelik, kedua alis dan sudut bibirnya perlahan bergerak naik namun seketika berbalik ke tempatnya saat Jungkook melanjutkan kalimatnya, “… siapa?”

Jungkook tidak berbohong ketika ia ingat siapa gadis yang ada di hadapannya hanya saja ia benar-benat tidak tahu menahu siapa nama gadis tersebut.

Jungkook mendapati bola mata gadis itu berputar jenaka. “Seharusnya aku tahu bahwa suatu hal yang mustahil kau mengingatku,” ucap gadis itu, “Aku Summer, partnermu di tugas seni rupa guru Nam.”

Jungkook mengedikkan bahu kemudian dua tangannya masuk ke dalam saku celana yang berada di bagian kanan dan kiri. “Aku tidak bilang aku tidak mengingatmu. Aku hanya tidak tahu siapa namamu saja.”

Jungkook mendapati bola mata Summer yang sedikit menjingkat. “Ah, kau ingat?! Kau tidak ada keinginan untuk membicarakan tugas seni rupa dari guru Nam?”

Satu alis Jungkook terangkat. “Apa yang harus dibicarakan? Guru Nam hanya menyuruhmu menggambar partnermu bukan membangun sebuah ikatan pertemanan.” Jawab Jungkook sarkastis.

Jungkook mendapati tatapan Summer yang terlihat menantang dirinya. “Oh, well, tapi guru Nam menyuruh kita menyertakan foto partner kita bersamaan dengan hasil gambar yang akan kita berikan. Untuk informasi saja sih.” Summer menekankan ucapannya pada kalimat terakhirnya.

Bahu Jungkook mengedik lagi. “Aku tidak peduli. Aku memilih konsentrasi seni musik dan seni tari dan dengan kemampuan menggambarku walaupun aku tidak menyertakan fotomu, aku masih bisa mendapatkan nilai B-, kurasa.” Jelas Jungkook, “Untuk informasi saja sih.” Imbuhnya dengan kepala yang mengedik meledek Summer.

At least give me yours.”

No.” Jawab Jungkook langsung. “Lagipula tidak ada jaminan kalau kau tidak akan memperjual-belikan fotoku seperti yang dilakukan para gadis yang sudah-sudah.”

Setelah ucapannya barusan, Jungkook mendapati Summer menaruh kantong belanjaannya di lantai kemudian mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Dompet yang panjang berwarna hitam itu dibuka, sekilas Jungkook melihat sebuah foto keluarga di sana namun pandangannya terhalang oleh tangan Summer pada detik berikutnya. Summer mengeluarkan sebuah kartu kreditnya dan menyodorkannya kepada Jungkook. “Untuk jaminannya. Sekarang berikan aku fotomu.”

Jungkook menghela napas. Kini tangannya menjadi terlipat di depan dada. “Tidakkah kau pikir itu berlebihan untuk sebuah jaminan? Aku jadi curiga kalau kartu kreditmu sudah tidak bisa dipakai.” Summer hendak menyahut namun Jungkook segera memotongnya. “Aku akan memberikan dua pilihan. Pertama, aku akan memberikanmu fotoku kalau kau juga memberikan fotomu tapi fotomu saat berpose seperti monyet.”

What the―

Jungkook tidak mempedulikan umpatan Summer. “Karena jika suatu saat kau akan menyalahgunakan fotoku, aku bisa menyebar fotomu itu juga. Adil kan?” tanyanya retoris. “Atau pilihan kedua. Aku tidak akan memberikan fotoku tapi aku akan memberikan waktu selama tiga jam untuk kau gambar. Kurasa salah satu konsentrasi yang kau ambil adalah seni rupa, mengingat kau begitu ngotot meminta foto. Jadi, kurasa lagi, kemampuan menggambarmu pastilah bagus dan waktu tiga jam kurasa cukup.”

Ugh, such pain in the ass.”

Lagi-lagi Jungkook tidak mempedulikan umpatan yang keluar dari bibir Summer. “Atau kau memilih pilihan ketiga? Tidak lulus dan harus rela menghabiskan libur semestermu dengan tugas baru dari guru Nam? Terserah kau saja.”

Then, the second one is it.” Sahut Summer cepat.

“Kalau begitu sampai jumpa besok di Kill Kill Burger pukul tujuh. Jika kau telat semenit saja sampaikan selamat tinggal pada libur semestermu.” Jungkook pun langsung berbalik memunggungi Summer dan melenggang pergi setelahnya.

***

Zoey sukses terbahak mendengar cerita Summer. Bahkan beberapa orang yang berpapasan dengan mereka memandang kesal ke arah Zoey. “See? He’s such a pain in the ass. Sudah kubilang Haneul adalah pilihan yang tepat.” Zoey mengunyah permen karetnya yang sudah setengah pahit, tawa masih terplester pada bibirnya. “Sayang sekali kau tidak memilih pilihan pertama. Padahal aku sudah berniat meminta fotomu dari Jungkook dan menyebarkannya lebih dulu.”

Summer melempar bungkus permen karet yang baru saja ia buka ke wajah Zoey namun sayangnya dengan sukses ditepis oleh Zoey. “Untuk seorang yang kau bilang sikapnya dingin, aku benar-benar tidak mengira dengan imajinasi liarnya itu.” Summer menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

“Sudah kubilang kan awalnya dia tidak sedingin itu.” Zoey masih berusaha menghentikan tawanya. “Lagipula, tidak ada hubungannya sikap dingin dengan imajinasi.”

Summer menghentikan langkahnya tepat di depan kelas matematika. “Kukira dia hanya akan menjawab ‘ya’, ‘tidak’, ‘apa?’, ‘oh’ tapi ternyata dia lebih banyak bicara dari yang aku kira. And his sarcasm really make him more annoying.”

Langkah Zoey pun ikut terhenti. “Dan kau masih harus menghadapinya selama tiga jam lagi nanti. Omong-omong, kau yakin tidak ingin kutemani ke Kill Kill Burger?”

Summer menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak mau membayar ganti rugi karena kau membolos kerja part-time. Kirimkan saja alamat Kill Kill Burger kepadaku nanti.”

“Kurasa kita perlu hang out bersama sekali-sekali. Untuk orang yang sudah tinggal di Seoul selama dua tahun kau cukup payah sampai tidak tahu Kill Kill Burger.”

Summer tertawa. “Tolong ya, tour guide-ku.” Canda Summer.

Zoey ikut tertawa. “Sial.” Sahutnya, “Kalau begitu aku pergi ke kelasku dulu. Aku takut otakku akan meledak kalau berlama-lama di sini. Bye!” ucap Zoey dengan melambaikan tangannya ke arah Summer.

Summer membalas lambaikan tangan Zoey. Tangannya mengibas ke kanan dan ke kiri beberapa kali sampai Zoey berbalik memunggungi Summer. Summer memandangi ponselnya yang kini telah berisi nomor baru selain milik ayahnya. Seulas senyum tergambar di wajahnya menyadari bahwa kembali mempunyai seseorang yang bisa diajak berbagi tidak selalu buruk.

Summer berjalan ke bangkunya. Memasukkan ponselnya ke dalam tas. Matanya langsung menelusuri permukaan meja mencari balasan dari tulisanya yang ia torehkan terakhir kali di sana. Seketika deretan giginya yang rapi terlihat, bahkan Summer sempat tergelak singkat karena membaca balasan dari pesannya.

Dua tahun dan kau hanya memiliki  seorang teman? Wth. Memang kau selama ini hidup di mana? Di gua? Btw, kau sadar tidak rambut guru Kang lama sekali tumbuhnya?

ROFL. Guru Kang bisa memberimu nilai C kalau tahu kau mengatakan sesuatu tentang rambutnya.

 “Ada yang bernama Summer di sini?”

Summer yang tengah asyik menulis seketika mendongak. “Yes, I am?

“Ada yang mencarimu.” Summer memberikan pandangan penuh tanya, “Kau ditunggu di luar,” imbuhnya seraya menunjuk pintu dengan dagu.

Summer bergeming sejemang. Siapa yang mencarinya? Zoey? Tapi baru saja Summer bertemu dengan Zoey, lagipula tidak ada barang Zoey yang terbawa olehnya. Sampai pada maniknya menangkap surai mahoni yang terlihat dari kaca kecil yang menempel di pintu kelasnya. Perasaan Summer tidak enak. Yah, sejak kapan berurusan dengan Haneul menjadi suatu anugerah untuknya? Tapi Summer tidak memiliki pilihan lain selain menemui Haneul, kelasnya berada di lantai dua jadi dia tidak mungkin kabur dengan melompat dari jendela kan?

Btw, who are you?

Tulisnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan bangku dan tasnya di meja.

***

Firasat buruknya menjadi kenyataan. Kini ia sedang berada di kamar mandi dengan rambut yang dijambak kasar oleh Haneul, ada beberapa gadis lain yang mengelilinginya dengan pandangan mencemooh.

“Bukankah aku sudah memperingatkanmu?!” ucap Haneul bersamaan dengan tangannya yang mendorong kepala Summer sampai menabrak dinding. Summer mendesis menahan dahinya yang berkedut-kedut. “Jauhi Jungkook kalau kau tidak ingin lebih menderita dari ini, Summer!”

What’s wrong with you all?! Aku sama sekali tidak mendekati Jungkook! For God sake!!” pekik Summer yang semakin membuat Haneul mendorong kepalanya lebih kuat lagi.

Seorang gadis yang berdiri di samping Haneul dengan tangan yang mencengkeram erat tangan Summer mencebik. “Jangan kau kira kita tidak tahu apa yang kau lakukan semalam dengan Jungkook!”

Summer meronta, tangannya ia gerak-gerakkan minta dilepaskan tapi tentu saja mereka tidak akan melepaskan Summer dengan mudah. “What the fuck?! Berhenti menjadi orang yang mudah cemburu dengan hal-hal sepele. Aku hanya membicarakan tugas dengannya! Jungkook partnerku di kelas seni rupa!!”

Haneul membalik tubuh Summer membuat mereka kini saling berhadapan. Haneul meraup kedua pipi Summer dengan satu tangannya. “Dan kau kira aku tidak tahu kau menukar nomor undianmu? Ha?!” Haneul berteriak tepat di depan wajah Summer.

Summer membalas tatapan nyalang Haneul dengan tatapan yang tak kalah menantang. “Jika kau memang ingin bertukar tempat denganku seharusnya kau tidak perlu melakukan hal-hal kampungan seperti ini. Kau bisa datang dan bicarakan hal ini kepadaku secara baik-baik maka aku akan memberikan Jungkook kepadamu secara cuma-cuma.” Nadanya tenang namun berhasil membakar emosi Haneul sampai-sampai Haneul melayangkan tamparannya ke pipi Summer.

Summer menggigit bagian dalam pipinya seraya merasakan pipinya yang memanas dan berdenyut-denyut. Sebuah seringai menghias bibirnya setelahnya, ditatapnya lekat manik mata Haneul. “Tapi karena kau sudah menamparku, sebaiknya lupakan saja ucapanku barusan karena aku telah mengubah keputusanku. Aku tidak akan menukar tempatku denganmu. ”

Haneul sukses meledak. Ia menampar sekali lagi pipi Summer sampai Summer merasakan asin di mulutnya akibat darah yang ada di sudut bibirnya. “Lepas baju seragamnya.” Ucap Haneul. “Kubilang lepas seragam gadis murahan ini!!” seru Haneul tak sabar yang membuat dua gadis di kanan kirinya maju melepaskan seragam milik Summer.

Summer tentu tidak serta merta merelakan seragamnya dilucuti tapi ada daya Summer tidak cukup kuat untuk melawan tiga orang sekaligus. “Tunggu sampai Jungkook mengetahui perbuatan yang mereka bilang penggemar ini!” Ancam Summer setelah seragamnya berhasil diambil meninggalkan kaos dalam dan pakaian dalam yang masih menempel di tubuhnya.

Haneul mengambil korek yang ada di saku roknya kemudian membakar seragam Summer tepat di hadapannya. Haneul lalu menyeringai menatap Summer. “It won’t happen darling, karena dapat kupastikan kau akan kutinggalkan tanpa selembar pakaian pun di pertemuan kita berikutnya.” Gigi-gigi Summer bergeretakkan. Haneul mendekati Summer dan mengelus  pipi Summer bak Summer adalah anjing piaraannya. “Cup … cup … cup … Aku sama tidak inginnya bertemu lagi denganmu jadi kuharap segera selesaikan urusanmu. Mulai minggu depan aku tidak ingin kau masih menjadi partner Jungkook. Mengerti?” ujar Haneul dengan tersenyum penuh ancaman.

Summer membuang ludahnya tepat di wajah Haneul. “Ops, sorry, it come out by itself.

Seketika Haneul mendorong tubuh Summer dengan kuat sampai tubuh Summer menghantam salah satu pintu toilet. “Jika kau tidak mau menuruti perintahku. Pertemuan berikutnya tidak hanya kau yang aku telanjangi tapi juga Zoey.”

Haneul dan beberapa anteknya keluar dari kamar mandi. Mengunci pintu kamar mandi dan memasang peringatan bahwa kamar mandi sedang rusak dan tidak bisa dipakai. Meninggalkan Summer terkunci sendiri di dalam.

to be continued ….

Key: Maaf ya kalo yang ngerasa pelajaran Summer kenapa matematika muluk kayak nggak ada yang lain. LOL. Dan terima kasih sudah membaca, ditunggu kritik dan sarannya.

Aku: Jadwal kita udah mulai nggak cocok nih jadi mungkin part-part berikutnya kita cuma bisa update seminggu sekali ya. Anyway, aku ngucapin makasih banget ya buat yang baca NOTD ini dan khususnya yang mau rela ninggalin komentar. Serius lho, aku sama sekali nggak nyangka untuk ff chapter dengan tokoh diluar exo  bisa dapet feedback sebanyak ini (Iya, komentar belasan udah aku anggap ajaib untuk ff diluar cast exo). Makasiiiih banget!❤

Key dan Aku: Yang tetap mau jadi silent reader, silahkan. Kita sadar kalau di dunia ini ada orang yang males dan orang yang susah mengeluarkan pendapatnya gitu aja. But, once again plenty of thank untuk orang-orang yang dengan rela menyisihkan waktu buat nulis komentar. Kalau nggak ada komentar dari kalian mungkin cerita ini udah berhenti dari part pertama di publish. Sampai jumpa di part berikutnya!❤

Bonus Jungkook sebagai penutup. Bye!

4e5b76c1ba8230af38a72561756ea0bf.gif

35 responses to “[4] Note on the Desk: Bubble-bubble, Here Comes Trouble

  1. Hahaha ngga lah tetep setia kok ak buka skf cuma nunggu ff ini wkwk btw kok taehyung ga kliatan ya?haha

  2. Eh ada Jaehyun sama Ten *anaknya lg keranjingan nct wkwk* Wah jungkook edun euy pikirannya sampe kesitu2 duh deq. Parah si haneul mah sunggu tida berfaedah ingin ku hardik masa. ditunggu karya selanjutnya ka^^

  3. Sadis amat yaa Haneul cees -,,-” Sampai segitu obsesinya sama Jungkook dan super salut sama Summer. Foto keluarga Summer ada sangkut pautnya sama Kookie ya thor? Soalnya kayak jadi misteri hahahaa. Aku nunggu Kimtae muncul jadi cast, dan semoga karakternya disini tetep aneh yaa thor-nim. Semangat buat nulis lagiii

  4. Waah finally di upload jg, udh aku cek dr kmrn tp blm di post jg.
    Akhirnya summer ketemu jg sm jaehyun dan ada moment sm jungkook.
    Ditunggu next chapnya ya, fighting!~

  5. kasihan summer… Gila haneul terlalu obsesi sma jungkook.. gimana klau antek”nya yg dket sma jungkook.. apa di juga di bully..??

    iya..typo pas haneul nyari summer kok jdi zoey..?

    Next chap. thor.. ttp tnggu ff ini..

  6. maaf banget sebelumnya….
    aq gk tau knp komentarq malah muncul dsini…
    pdahal dr td yg aq baca adlh ff sehun, tp saat aq nulis komentar malah munculnya dsini😥
    sekali lagi maaf….aq gk tau gimana cara menghapus komentar

  7. haneul kasar amat. jadi pengen berkata kasar
    bunuh tidak yaa.. bunuh tidak yaa..
    haha oke abaikan. :’v

    aduh.. ada Ten sama Jaehyun :*
    dan akhirnya ada moment summer JK. yeayy

    oke thor postingnya tiap seminggu gpp, yg penting ttep dilanjut sampe tamat. semangat nulisnya ^^

  8. Ughhhhhh haneul y pengen d bantai tuchh..and what jongkook ampe g tw nama summer..keterlaluan…

  9. di part tiga isinya simple banget yaa hehe kek cuma narasi doang ngejelasin summer dibully gara gara partner sama kookie :’) bukan ngebosenin sih tapi :v tapi akhirnya zoey sama summer temenan /atau sahabatan\ bikin seneng juga :’) ugh jaehyun maen basket terus keringetan pasti seksi syekali :3 entah yaa selalu suka liat atau bayangin cowo yang keringetan karna olahraga efeknya bikin seksi gitu hahaha dan masih bingung bts disini ceritanya semaceman flower boy kaya F4 di bbf atau emang artis kak ajeng? sikapnya haneul sama temen temennya ngingetin sama tokoh jahat di bbf juga yang suka over sama F4, yang bertiga itu. keterlaluan. sampe nelanjangin yaa ampun -_- dan aku suka ide komunikasi kookie sama summer yang nulis nulis meja. tapi kalau ketauan guru apa ngga dimarahin hahahaha

  10. Pingback: [5] Note on the Desk: Lucky-Unlucky | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Duhh ada kakak kakak nct juga yaa :3
    Itu haneul kok jahat bgt sihh anjaay jadi kesian deh sama summer :3
    Waiting for next chapter ‘-‘)/

  12. Apa yang aku pikirin sama kaya summer. Aku ngiranya Jungkook tipe cowok yg jawabnya ‘oh’, ‘ya’, ‘tidak’, ‘ehm’ tapi kenyataanya dia ngomongnya judes banget😄
    Nyesek banget pas summer harus bohong sama ayahnya.
    Terus adegan bullynya keren. Seru banget kayanya. Pinter banget summer njawabnya (y)
    Tinggal nunggu siapa penyelamatnya nanti :v
    Jaehyun or jungkook?

  13. Haneul kayanya terobsesi banget sama Jungkook, sama segitunya dia bully Summer..
    padahal Summer ga salah apa2, namanya satu team masa ga boleh ngobrol sih? lagian sedeket apa Summer sama Jungkook, Jungkooknya aja jutek gitu..
    kalo Summer di kunciin, dia ga bakal bisa ketemuan sama Jungkook dong??
    aku lanjut baca next chapternya dulu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s