The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 16

Date

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous ♣ Chapter 14—Meet Them ♣ Chapter 15—Realize

            Setelah memastikan nenek terlelap sehabis menyantap makan siangnya, Jongin memutuskan untuk menghirup udara segar di luar. Seharian ini ia menghabiskan waktunya di ruang rawat nenek, bermaksud menebus kesalahannya karena membuat nenek sampai jatuh sakit begini. Tentu saja meski tak langsung, dirinyalah penyebab neneknya masuk rumah sakit. Jika saja nenek tak membuatkannya makan malam khusus ulang tahunnya, mungkin nenek tidak akan sampai kelelahan.

Jongin menghela napas perlahan lalu membenahi letak selimut nenek. Ia lantas melangkah keluar ruangan neneknya, dan menutu pintu secara perlahan, berupaya tak menciptakan suara sekecil apa pun. Begitu berbalik, pemuda itu segera dikejutkan dengan sosok yang begitu dikenalnya duduk di kursi tunggu.

“Dahye?”

Dahye yang semula menundukan kepalanya, mendongak kala mendengar suara Jongin. Di pangkuannya terdapat sebuah kotak lumayan besar. Ia menepuk kursi di sampingnya, meminta Jongin ikut duduk di sana.

“Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya Jongin sembari memperhatikan Dahye yang kini sibuk membuka kotak di pangkuannya.

Sekilas Dahye mengerling Jongin. “Aku sengaja menunggumu di sini.”

Rupanya isi kotak itu merupakan kue coklat yang dihias sedemikian cantik. Dahye meletakannya di antara ia dan Jongin, lalu menancapkan berbatang-batang lilin warna-warna di permukaan kuenya. Jongin tertawa kecil melihat ini.

“Ini kue untukku?” tanyanya, lantas membantu Dahye menancapkan lilin.

“Yep. Kue ulang tahun untukmu,” tukas Dahye, lalu memasang cengiran untuk Jongin.

Jongin tertegun melihat cengiran itu. Ia masih tak terbiasa dengan Dahye yang tersenyum padanya.

Begitu selesai dengan lilinnya, Dahye mengeluarkan pemantik api dan menyalakan lilin-lilinnya. Ia lantas mengangkat kue itu ke hadapan Jongin sembari tersenyum.

“Selamat ulang tahun, Jongin. Maaf terlambat sekali mengucapkannya, tapi yah kuharap kau suka dengan kuenya,” ujar Dahye, senyum itu masih tetap menghias wajah cantiknya.

Jongin menatap Dahye lama lewat cahaya lilin yang berkilauan. Dari sini senyuman Dahye kelihatan lebih cerah dan mampu membuatnya merasa begitu hangat. Entah mengapa, kehadiran Dahye di sini terasa jauh lebih istimewa sebagai hadiah ulang tahunnya ketimbang pesta besar-besaran yang kemarin malam Chanyeol buat khusus untuknya.

Senyum Jongin perlahan mengembang. Ia kemudian meniup satu-persatu lilin hingga mati, dan kembali menatap Dahye yang rupanya masih saja tersenyum padanya

“Selamat ulang tahun.” Dahye berujar lagi, kali ini dalam bisikan pelan.

Jongin tertawa kecil kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah sangka ulang tahunku akan dirayakan di koridor rumah sakit seperti ini. Terlambat satu hari, pula.”

Dahye ikut tertawa, malu sebenarnya. Ia lalu mulai memotong kuenya, memberi potongan pertama untuk Jongin dan potongan kedua untuk dirinya sendiri.

“Maaf,” gumamnya pelan, menatap Jongin lurus-lurus. “Maaf karena telah jadi sepupu yang buruk.”

Jongin kembali menggeleng mendengar ini. “Aku juga bukan sepupu yang baik untukmu.”

“Memang benar,” tukas Dahye sambil mengangguk-angguk, sukses membuat Jongin tergelak setelahnya. Sambil menyuap kuenya, Dahye kemudian bertanya, “Omong-omong apa harapanmu tadi?”

Jongin menelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa memberi tahumu.”

“Eish, kenapa?” Dahye kedengaran jengkel sekarang. “Sejak dulu kau tak pernah berhenti jadi si-sok-misterius.”

Kekehan kecil lolos dari mulut Jongin. Tahu benar gadis itu merujuk pada kenangan di masa kecil mereka. Di mana dahulu Dahye pernah memaksa Jongin memberi tahu siapa perempuan yang disukainya.

Tentu saja Jongin tak bisa memberi tahu Dahye rahasia terbesarnya, juga harapan yang selama ini ia kubur di bagian terdalam hatinya—karena Jongin, selalu menaruh nama Dahye di setiap harapan terbesar dan tergelapnya. Ia seringkali berharap meski tahu tak mungkin, bahwa gadis di hadapannya ini bukanlah saudaranya.

Dahye yang asyik sendiri dengan kuenya sama sekali tak menyadari ada yang berubah dalam tatapan Jongin. Ketika akhirnya pemuda itu bergerak mendekat dan menyentuh dagunya, barulah Dahye tersentak. Disadarinya kini perlahan wajah Jongin mendekatinya, mencoba menghapus jarak yang memisahkan mereka.

            Sekali ini saja, sekali ini saja izinkan aku melupakan kenyatan bahwa dia adalah keluargaku sendiri …

“Jongin?”

Lalu suara Dahye berhasil membuat Jongin tersadar. Pemuda itu tertegun, dan seketika merasa langkah yang nyaris diambilnya benar-benar keliru. Bagaimana kalau Dahye kembali membencinya—atau kalau mungkin lebih benci dari sebelumnya?

Seharusnya Jongin sadar, bahwa mau bagaimana pun, tak peduli sebesar apa pun rasa sukanya, gadis di hadapannya ini tetaplah saudaranya sendiri. Son Dahye adalah saudaranya dan tak semestinya Jongin menyukainya. Sejak awal, perasaan yang Jongin miliki memang merupakan kesalahan besar. Sehingga apa pun yang ia lakukan untuk merawat perasaannya pada Dahye juga akan berujung pada kesalahan-kesalahan yang lain.

Tatapan Jongin jatuh pada sepasang manik kecokelatan milik Dahye yang tengah menatapnya bingung. Sambil mengulas senyum tipis, Jongin menggerakan jemarinya yang semula menyentuh dagu Dahye. Memindahkannya pada sudut bibir gadis itu, lantas menghapus seoles krim kue yang menempel di sana.

“Kau masih saja seperti dulu. Makan seperti anak kecil.” Jongin bergumam sembari melepas kekehan kecil.

Di hadapannya Dahye mencebikan bibir sebal. Ia memang tak sadar sudah makan sampai belepotan begini. Ketika ia membuka mulut hendak membalas ucapan Jongin, deheman dari balik punggungnya berhasil menginterupsinya.

“Apa yang kalian lakukan?”

Jongin segera melepaskannya, dan Dahye langsung berbalik untuk bersitatap dengan si pemilik tanya. Di belakangnya, berdiri sosok jangkung Sehun dengan raut wajah tak terbaca. Sebelah tangan membawa keranjang buah sementara tangannya yang lain ia kantungi di saku celana.

“Sehun? Kau kemari?” Dahye bertanya terkejut.

“Kelihatannya kau tak suka aku datang,” tukas Sehun sambil memasang senyum asimetris.

“Apa? Tentu saja tidak—“ Kalimat Dahye terputus begitu disadarinya perkataan Sehun tadi tak ditujukan untuknya.

Pemuda Oh itu tidak menatapnya ketika ia bicara. Tatapannya justru jatuh pada Jongin yang duduk di samping Dahye. Perlahan Dahye memutar kepala untuk memandang Jongin yang rupanya juga tengah membalas tatapan Sehun. Sepupunya itu memasang tampang keruh. Sehun memang benar, Jongin kelihatan tak suka dengan kehadirannya.

Dengusan kasar lolos dari hidung Jongin. Pemuda itu memutar matanya sebelum menyahut, “Kau mengganggu perayaan ulang tahunku dengan Dahye. Menurutmu bagaimana mungkin aku bisa senang?”

Mendengar ini, Dahye melayangkan tatapan memperingatkan pada Jongin. Namun sepupunya itu hanya membuang wajah pertanda ia tak peduli dengan apa yang sudah dikatakannya tadi.

“Ah, Sehun. Kemarilah, kau harus mencicipi kuenya.” Dahye menukas sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya, meminta Sehun untuk duduk di sana.

“Enak juga. Pilihanku memang tidak pernah salah,” ujar Sehun setelah mengigit kue yang Dahye potongkan untuknya.

Mendengar perkataan Sehun, tak pelak membuat kening Jongin mengerut. “Apa maksudmu dengan pilihanmu tak pernah salah?”

Sebelah alis Sehun lantas berjingkat, ia menunda melahap kuenya untuk menukas, “Oh? Jadi kau tidak tahu?”

“Tidak tahu apa?” Suara Jongin meninggi, tak suka Sehun membuatnya seperti idiot begini.

“Ah, jadi sebenarnya kue ini Sehun yang pilihkan.” Dahye lekas-lekas menjelaskan tanpa diminta. “Di toko kue ada terlalu banyak pilihan, aku jadi bingung mau membeli yang mana. Lalu akhirnya, Sehun yang memutuskan kue mana yang sekiranya kau sukai.”

“Kue ini? Kau beli karena dia yang memilihnya?” Jongin mencoba memastikan, bergantian menatap Sehun dan kue ulang tahunnya.

Dahye mengangguk perlahan sambil memasang cengiran kecil. Sementara Sehun, diam-diam mengirimi Jongin seringaian tipis. Pemuda Kim itu boleh saja sempat merasa bangga Dahye merayakan ulang tahunnya. Tapi lihat bagaimana reaksinya sekarang setelah mengetahui bahwa Sehunlah yang memilihkan kue ulang tahunnya. Memang bukan hal besar, tapi sebagai lelaki yang menyimpan rasa suka untuk Dahye, Jongin pastilah banyak mengharap gadis itu melakukan segalanya demi perayaan ulang tahunnya ini. Setelah tahu justru Sehun yang berdiri di balik persiapan ulang tahunnya, Jongin kelihatan lebih dari kecewa.

Sambil membersihkan tangannya dengan tisu yang Dahye bawa, Jongin akhirnya berujar pada sepupunya itu, “Kau mau melihat keadaan nenek? Masuk saja, tapi jangan berisik. Nenek sedang tidur siang.”

“Kuenya. Jangan lupa dibawa,” ujar Dahye pada Jongin yang kini telah bangun dari duduknya.

Jongin mengangguk lalu membawa kue ulang tahunnya dalam pelukan. “Aku mau cari udara segar dulu.”

Kemudian tanpa mengatakan apa pun lagi, pemuda itu segera berlalu dari hadapan Dahye dan Sehun. Meninggalkan Dahye yang kini dibuat bingung sendiri.

“Kenapa Jongin kelihatan tidak senang, ya?” Ia bertanya pada Sehun.

“Hm? Tidak tahu,” jawab Sehun sambil mengedikan bahunya. Ia tersenyum lantas mengajak Dahye berdiri bersamanya. “Ayo, aku ingin menengok nenekmu.”

Mereka berjalan tanpa suara ke dalam ruangan nenek. Sehun meletakan keranjang buahnya di atas nakas, lalu berdiri di samping Dahye.

“Keadaannya sudah baikan?” tanyanya seraya memandangi nenek yang terlelap dengan pulas.

Dahye mengangguk seraya tersenyum hangat, ikut memandangi neneknya. “Iya, kurasa begitu. Dokter bilang, nenek bisa pulang dalam waktu dekat jika keadaannya terus membaik.”

Melihat senyum Dahye, mampu membuat kedua sudut bibir Sehun ikut terjungkit membentuk senyuman manis. “Aku senang mendengarnya.”

“Dahye-ya?”

Suara parau itu berhasil mengalihkan atensi keduanya. Rupanya, nenek telah terjaga dari tidurnya. Nenek berusaha bergerak bangun dari posisinya, dan Dahye lekas-lekas membantunya.

Sehun bergegas menyapa nenek sambil tersenyum sopan. “Selamat sore, Nek. Aku Oh Sehun.”

Nenek membalas senyuman Sehun. Tangannya terangkat untuk menepuk-nepuk lengan pemuda itu perlahan. “Tampannya. Kau pasti pacar Dahye, ya?”

“Nenek!” Dahye menukas merasakan kedua pipinya memanas. Namun Sehun di sampingnya hanya tergelak, tak membantah sama sekali.

“Kenapa memangnya? Sehun ini tampan sekali, kalian kelihatan sangat serasi,” ujar nenek sambil terkekeh, membuat Dahye semakin merona.

“Terima kasih, Nek.” Sehun ikut tertawa menyahuti perkataan nenek barusan.

“Terima kasih untuk yang mana? Karena sudah memujimu tampan atau karena sudah mengatakan kau dan Dahye serasi?” Nenek melontarkan tanya sembari tersenyum jenaka, membuat wajahnya kelihatan lebih muda.

Sehun kembali tertawa mendengar ini. “Kurasa keduanya.”

Apa?

Dahye memutar kepalanya untuk menatap Sehun dengan terkejut. Tak sangka tanggapan seperti itu yang akan diberikannya. Pemuda Oh itu kemudian ikut menoleh menatapnya, mengiriminya senyuman manis yang membuat Dahye semakin malu. Ia memalingkan wajah lalu berdehem untuk menyembunyikan kenyataan dirinya tengah memerah.

“Nenek, kemarin Sehun yang membawa Nenek kemari. Sehun telah menolong kita berdua, Nek,” ujar Dahye berusaha mengalihkan topik dari pembicaraan yang membuatnya merona.

“Begitukah? Oh ya ampun, kau baik sekali.” Nenek menukas lalu menggenggam tangan Sehun sambil tersenyum tulus. “Terima kasih, ya, Sehun. Terima kasih banyak.”

Sehun menggeleng sembari membalas genggaman tangan nenek. “Bukan apa-apa, Nek. Aku senang bisa membantu Nenek dan Dahye.”

“Melihat pemuda sepertimu yang menjaga Dahye, kurasa aku bisa bernapas tenang,” ujar nenek kemudian, senyumnya belum luput untuk Sehun. “Aku bisa mempercayakan Dahyeku padamu, ‘kan, Sehun?”

Dahye tertegun mendengar perkataan nenek. Bagaimana mungkin nenek sampai berkata begitu pada Sehun? Nenek pasti mengira ia benar-benar sudah resmi berhubungan dengan Sehun, padahal tidak sama sekali. Dahye membuka mulutnya berusaha menjelaskan pada nenek. Namun sebelum ia sempat, suara Sehun telah menahannya lebih dulu.

“Tentu saja, Nek. Dahye bisa Nenek percayakan padaku.”

Tercatat dua kali banyaknya Sehun membuat Dahye tercengang. Gadis itu menatap pemuda di sampingnya dengan mata membola dan kening mengerut, tak tahu harus berkata bagaimana.

“Ah, aku tahu kalian pasti ingin menghabiskan waktu bersama, ‘kan? Sudah, sana pergi keluar dan berkencan.” Nenek menukas sambil membuat gerakan mengusir.

“Tapi kami tidak—aku ingin menemani Nenek di sini.” Dahye cepat-cepat menyahut sementara pipinya sudah memanas bukan main.

“Kau akan bosan kalau menemani Nenek. Nenek mau tidur,” tukas nenek. “Sudah, pergi saja dengan Sehun.”

Lalu setelah itu, nenek memejamkan kedua matanya, seolah menunjukan bahwa ia benar-benar ingin tidur dan mengizinkan Sehun dan Dahye pergi. Dahye menghela napas lesu melihat ini. Ia ingin bertahan di sana namun Sehun mulai menggenggam tangannya. Ia mendongak, dan mendapati Sehun tersenyum kecil padanya.

“Ayo. Nenek bilang juga kita boleh pergi.”

Dahye menurut saja ketika Sehun membawanya keluar ruangan. Mereka bergenggaman tangan sambil menyusuri koridor rumah sakit yang sibuk. Dahye bisa merasakan tangannya yang digenggam Sehun basah berkeringat, jantungnya bertalu cepat dan sesuatu dalam hatinya meletup-letup bahagia.

Perlahan Dahye mendongak menatap Sehun yang berjalan di sampingnya. Pemuda itu kelihatan tengah mengulum senyum, membuat Dahye tanpa sadar ikut tersenyum juga.

“Tentang semuanya, lagi-lagi aku berterima kasih.” Dahye membuka percakapan di antara mereka, mengisi hening yang nyaman. “Terima kasih banyak.”

Sehun menoleh pada Dahye sambil menjungkitkan kedua alisnya. “Kenapa harus berterima kasih terus?”

“Terima kasih karena sudah membawaku pulang menemui kedua orang tuamu,” mulai Dahye sambil mengunci tatapannya dengan Sehun. “terima kasih karena sudah datang ketika aku meminta pertolonganmu, terima kasih karena sudah menemaniku ketika aku benar-benar butuh seseorang di sisiku, dan,” ia berhenti sejenak untuk mengulas senyum hangat. “terima kasih karena sudah meyakinku bahwa kau memang ingin kembali. Terima kasih banyak, kau membuatku lebih dari sekadar senang.”

Butuh beberapa sekon bagi Sehun untuk mencerna maksud sebenarnya dari kalimat Dahye. Sampai akhirnya ia membeliakan kedua matanya, dan memutar kedua  bahu Dshye agar menghadapnya lurus-lurus.

“Maksudmu … maksudmu, kau … telah menerimaku?” Sehun mencoba memastikan.

Anggukan serta senyum merupakan jawaban yang Sehun terima atas pertanyaannya.

Lalu tak mempedulikan dimana mereka berdiri kini, Sehun segera menarik Dahye ke dalam pelukannya. Merengkuh gadis itu erat-erat seolah mereka hanya punya hari ini. Wajahnya ia kubur di bahu Dahye sementara kedua lengannya melingkari pinggang mungil gadis itu.

Dahye merasakan wajahnya lebih merah dari sebelumnya dan orang-orang di sekitar mereka mulai sibuk memandang. Tapi Sehun bahkan tak peduli. Pemuda itu justru semakin mengeratkan pelukannya pada Dahye.

“Terima kasih, Dahye-ya. Terima kasih.” Sehun bergumam, memejamkan kedua matanya dalam rasa syukur. Ia berterima kasih karena Tuhan masih mengizinkannya bersama dengan gadis yang disayanginya, yang benar-benar ingin ia jaga dan lindungi.

Dahye tertawa kecil lalu mulai membalas pelukan Sehun. Kedua tangannya melingkar di leher Sehun, agaknya sudah tak peduli dengan sekitar.

“Omong-omong, Sehun, kau ada waktu akhir pekan nanti?” tanya Dahye tanpa melepas pelukannya. “Kita bisa pergi?”

“Kau mengajakku kencan?” Sehun menarik dirinya dari Dahye, dan menatap gadis itu dengan jenaka.

“Kau tidak mau?”

“Bukan begitu. Seharusnya aku yang mengajakmu kencan,” sahut Sehun sambil terkekeh. “Jadi, Dahye-ya, akhir pekan nanti kau ada waktu? Kita bisa pergi?”

Dahye tertawa kecil, lalu memasang tampang berpikir. “Bagaimana, ya? Biar kulihat dulu jadwalku.”

“Yah—seharusnya kau langsung menyetujuinya!” Sehun tergelak dan menjawil puncak hidung Dahye dengan gemas.

“Baik, baik. Kita pergi,” tukas Dahye dan ikut tergelak bersama Sehun setelahnya.

Kala itu keduanya terlalu tenggelam dalam kebahagiaan untuk saling memiliki. Mereka sama sekali tak menyadari keadaan sekitar. Termasuk sesosok pemuda yang mengamati dari ujung koridor dengan raut sakit hati.

            Akhir pekan datang begitu cepat bagi Dahye.  Gadis itu terbangun di hari Minggu dengan seulas senyum terpeta di wajah. Sambil bersenandung kecil, ia masuk ke kamar mandi dan mulai bersiap untuk kencan pertamanya dengan Sehun.

Kencan.

Hanya memikirkannya saja sudah cukup untuk membuat wajah Dahye memanas. Meski tak bisa dipungkiri dirinya kelewat antusias menantikan ini. Dahye lantas menyibukan dirinya di dalam kamar, memilah pakaian mana yang kiranya paling cocok dikenakan untuk kencan, membubuhkan make-up tipis di wajahnya, dan menata rambut panjangnya sedemikian rupa hingga membentuk kepangan cantik yang disampirkan ke bahu.

Ia mematut refleksinya sendiri di cermin berkali-kali. Seorang gadis berbalut dress tanpa lengan tengah balas menatapnya lewat cermin. Dress berwarna biru pastel itu jatuh dengan anggun tepat di atas lututnya. Sebenarnya pakaian seperti ini bukan gaya Dahye sama sekali. Gadis itu jauh lebih senang memadukan kemeja atau kaos dengan jeans, bukannya terusan manis seperti ini. Ia membeli dress ini juga setelah neneknya memaksa. Namun karena hari ini kelewat istimewa, maka Dahye juga harus berdandan demikian. Ia ingin kencan pertamanya dengan Sehun berjalan sempurna.

Tepat ketika jam menunjukan pukul sepuluh, Dahye melangkah keluar dari kamarnya dengan harum parfum mengiringi. Rumah terasa sepi karena nenek masih di rumah sakit dan Jongin tinggal di sana menemaninya. Sedikit banyak Dahye bersyukur juga tak ada orang di rumah, hingga ia tak perlu repot-repot menjelaskan kemana ia pergi sampai harus berdandan seperti ini.

Ketukan di pintu depan lantas membuat Dahye terlonjak. Dengan jantung berdebar ia berderap menuju ruang tamu, dan menarik pintu hingga terbuka. Segera setelahnya sosok jangkung Sehun menyambutnya. Pemuda itu berdiri di sana dengan senyum lebar dan kedua tangan yang dikantungi ke saku celana. Tepat setelah memandangi Dahye, Sehun sedikit terpaku di tempatnya.

“Cantik. Benar-benar cantik.”

Dahye tahu pipinya semakin merona saja. Cepat-cepat ia menundukan wajah dan melangkah keluar untuk mengunci pintu. Di sampingnya Sehun menggenggam sebelah tangannya lalu membawanya ke dalam mobil yang terparkir di depan. Ia membukakan pintu untuk Dahye, dan menunduk untuk memasangkan seatbelt-nya setelah gadis itu duduk di dalam mobil. Sehun lantas berjalan memutari mobilnya dan ikut melangkah ke dalam. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, pemuda itu mengerling Dahye di sampingnya, lalu mengiriminya senyuman manis.

“Kita mau ke mana?” tanya Dahye di tengah perjalanan.

Sehun melirik Dahye sebentar sebelum kembali pada roda kemudinya. “Bioskop, bagaimana? Aku sudah beli dua tiket untuk kita.”

“Memang kau tahu film seperti apa yang kusuka?” Dahye menjungkitkan sebelah alis.

“Tidak tahu, sih. Aku hanya beli tiket film yang paling populer,” sahut Sehun lalu memasang cengiran lebar. “Lagipula bukankah film apa pun akan seru jadinya jika kita menonton bersama seseorang yang spesial?”

Dahye melepas tawa kecil untuk menutupi kenyataan bahwa ia tengah merona untuk kesekian kalinya. “Jadi maksudmu aku orang yang spesial untukmu?”

Tepat ketika itu mereka tiba di lampu merah. Sehun menghentikan laju mobilnya, dan memutar tubuh untuk menghadap Dahye. Ia lantas mendekat dan mendaratkan satu kecupan di puncak hidung Dahye, setelahnya menjauh, dan bergumam kecil sambil tersenyum hangat.

“Kurasa kau bahkan lebih dari spesial untukku.”

“Kau tunggu di sini saja. Biar aku yang beli popcorn-nya.”

Dahye tak sempat menahan Sehun, pemuda itu telah lebih dulu berlari menjauhinya menuju counter popcorn. Mulanya, ia berniat untuk membeli sendiri popcorn-nya karena tak mau Sehun membayar segalanya hari ini. Namun Sehun malah memaksanya menunggu di sini. Pada akhirnya Dahye hanya bisa mengalah dan mengamati Sehun dari kejauhan yang kini mengantri untuk popcorn mereka.

“Kau sendirian?”

Dahye tersentak ketika seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Seorang pria yang kelihatannya beberapa tahun lebih tua dari Sehun tengah tersenyum pada Dahye. Membuat kening Dahye mengerut, dan diam-diam mengambil selangkah menjauh.

“Eh, tidak,” jawab Dahye singkat, lalu segera memalingkan wajah setelahnya.

Pria asing di sampingnya terkekeh kecil. Jenis kekehan yang membuat bulu kuduk Dahye meremang. “Kau kelihatan takut padaku. Jangan takut, aku hanya ingin mengajakmu berkenalan.”

Sial. Bagaimana mungkin Dahye bisa tidak takut pada pria menyeramkan begitu.

“Siapa yang mau kau ajak berkenalan?”

Sekujur tubuh Dahye seketika melemas rileks begitu merasakan Sehun berdiri begitu dekat di sampingnya. Pemuda Oh ini telah kembali. Ia menatap pria asing yang tadi mengajak bicara Dahye dengan dingin. Suaranya kedengaran begitu tak bersahabat. Sementara si pria asing kelihatan terkejut bukan main begitu menemukan Sehun berdiri untuk Dahye.

“Kau tidak lihat dia bersamaku?” tanya Sehun dingin pada si pria asing. Ia menyelipkan jemarinya di antara jari-jemari Dahye dan menggenggamnya erat. “Jangan berpikir untuk mengganggunya, sialan.”

Lalu tanpa menunggu reaksi si pria asing, Sehun segera membawa Dahye pergi bersamanya. Ia berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, dan menggerundel kesal setelahnya.

“Dasar bajingan. Lihat perempuan sendirian sebentar saja langsung didekati. Tidak tahu malu.”

Dahye tanpa sadar tertawa kecil melihat Sehun seperti ini. Tawanya membuat Sehun menunduk, dan memandanginya khawatir.

“Kau baik-baik saja? Pria asing itu tidak macam-macam, ‘kan?” tanyanya was-was.

Dahye menggeleng sambil tersenyum simpul. “Tidak, tentu tidak.”

Sehun menghela napas lega mendengar ini. Namun tak sampai semenit, ia telah kembali mendecak jengkel. Belum sempat Dahye bertanya kenapa, Sehun telah melepas genggaman mereka. Tangannya kini berganti memeluk pinggang Dahye dan menarik gadis itu mendekat padanya. Kedua mata Dahye melebar dan ia mendongak menatap Sehun terkejut. Mereka terlalu dekat sekarang, dan ini tak baik untuk jantung Dahye.

“Sehun ….”

“Semua lelaki di sini memandangimu seolah kau umpan manis. Aku tahu kau sangat cantik hari ini, tapi aku tak suka mereka memandangmu begitu,” gumam Sehun sambil menyurukkan hidungnya ke puncak rambut Dahye, menghidu harum yang menguar dari sana. “Biar seperti. Supaya mereka tahu kau sudah ada yang punya.”

Wajah Dahye benar-benar merona sekarang. Ia menundukan kepalanya untuk menyembunyikan kedua pipinya yang mungkin sudah menyaingi tomat.

Tak sampai sepuluh menit kemudian keduanya telah masuk ke dalam studio. Sehun memilih tempat duduk di barisan belakang, letaknya agak disudut. Mereka berbincang kecil sebelum film dimulai. Dahye pikir ia tak begitu menikmati filmnya. Ia melirik Sehun dan menemukan pemuda itu asyik menonton sambil sesekali menyuap popcorn. Di pertengahan film, Dahye menemukan kedua matanya terasa begitu berat dan tanpa disadarinya ia jatuh tertidur begitu saja.

Rasanya begitu cepat ketika kemudian didengarnya suara Sehun samar-samar di samping telinganya. Perlahan Dahye membuka kedua matanya, dan dilihatnya pengunjung lain telah beranjak meninggalkan studio. Rupanya film telah usai. Dahye terlelap sepanjang film.

“Oh, ya ampun.” Dahye bergerak perlahan, dan ketika itulah ia tersadar kepalanya berbaring di bahu tegap Sehun. Cepat-cepat Dahye menegakan tubuh, dan menatap Sehun bersalah. “Sehun, maaf … aku—“

Bukannya marah, Sehun justru tertawa kecil. Ia mengangkat sebelah tangan untuk mengusak kepala Dahye dengan sayang.

“Harusnya aku yang minta maaf. Kau tidak suka filmnya, ya?” Ia bertanya lembut.

“Tidak, aku hanya—“

“Baiklah. Lain kali biar kau yang memilih film apa yang harus kita tonton bersama. Oke?”

Dahye tersenyum kecil lalu mengangguk setuju.

Setelahnya mereka berjalan meninggalkan studio menuju parkiran. Sesampainya di mobil, Sehun tak langsung menyalakan mesinnya. Ia menatap Dahye lamat-lamat, membuat yang ditatap jadi gugup sendiri.

“K-kenapa?”

Alih-alih menjawab, Sehun justru mencondongkan tubuhnya hingga mengurung Dahye. Ia melarikan jemarinya perlahan pada lengan Dahye yang terbuka, membuat gadis itu seketika membeku.

“Sejak tadi semua lelaki memandangimu.” Sehun bergumam pelan sementara matanya mengunci Dahye. Sebelah tangannya lalu menjulur ke bagian belakang mobil. Ia menarik sesuatu dari sana, dan menyodorkannya pada Dahye. Rupanya sebuah sweater tipis berwarna navy. “Pakai ini. Aku tidak mau mereka menatap apa yang menjadi milikku.”

Dahye mengerjap beberapa kali. Diterimanya sweater itu dari tangan Sehun. Setelah Sehun menjauh dan memberinya kembali ruang untuk bernapas, barulah Dahye dapat kembali berpikir dengan baik.

“Apanya yang menjadi milikmu, huh?” tukas Dahye dengan nada jahil.

Di sampingnya Sehun mengirimi tatapan galak yang sukses membuat Dahye tergelak. Tanpa diminta dua kali, ia mengenakan sweater itu yang dengan segera membungkus tubuh mungilnya. Sweater ini punya harum yang persis seperti Sehun. Dahye seperti tenggelam dalam aroma khas pemuda Oh itu, membuat hatinya lantas menghangat.

Sehun menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan cepat saji. Mereka makan siang bersama, lalu segera melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan penuh gelak tawa dan obrolan ringan. Hingga ketika keduanya tiba di tempat tujuan selanjutnya, Dahye tak kuasa menahan keterkejutannya.

“Taman bermain!” Ia memekik kelewat senang.

Di sampingnya Sehun terkekeh kecil. “Aku tahu kau akan suka tempat ini.”

Mereka tak menghabiskan banyak waktu untuk segera keluar dari mobil dan menaiki satu per satu wahana permainan. Sehun lebih dari sekadar senang melihat Dahye yang begitu antusias. Gadis itu akan menjerit-jerit heboh ketika menaiki wahana ekstrem yang membuat jantung berpacu, lalu akan terkekeh senang ketika bermain wahana menyenangkan, dan memekik ketakutan ketika memasuki sebuah rumah hantu.

“Kau kelihatan takut sekali tadi.” Sehun terkekeh sambil menyodorkan sebuah es krim pada Dahye yang duduk terengah. Mereka baru saja keluar dari rumah hantu.

Dahye mendongak lalu menerima es krim dari Sehun. Ia menjilatinya, dan mengesah lega setelahnya.

“Kau juga menjerit takut saat hantu wanita itu muncul dari balik pintu,” tukasnya seolah tak terima Sehun menilainya ketakutan.

Sehun terkekeh geli lantas ikut mendudukan dirinya di samping Dahye. “Dia muncul begitu tiba-tiba. Bagaimana bisa aku tidak kaget?”

“Kau tidak kaget. Kau ketakutan,” koreksi Dahye keras kepala sambil melahap es krimnya.

Tawa kecil lolos dari mulut Sehun mendengar ini. Ia mendongak untuk menatap langit yang mulai gelap. Sudah sore, rupanya. Atensinya lantas beralih pada Dahye yang rupanya telah menghabiskan es krimnya.

“Lelah?” tanya Sehun kemudian.

“Tidak.” Dahye menukas.

“Mau main lagi?”

“Tentu saja!” Gadis itu menjawab cepat kelewat semangat, lalu segera bangun berdiri. Ia menarik Sehun agar ikut berlari bersamanya menuju salah satu wahana yang antriannya mengekor sampai bermeter-meter ke belakang. “Ayo kita naik yang itu, Sehun!”

Sehun tergelak setelahnya. Membiarkan Dahye menariknya kemana pun gadis itu mau. Well, kelihatannya ia tak salah memilih tempat kencan untuk Dahye.

            Malam telah turun, dan Dahye tengah berdiri di sebuah lapangan luas yang juga dipadati pengunjung lain. Katanya beberapa menit lagi akan diadakan pesta kembang api di sini. Tentunya Dahye tak boleh melewatkan ini. Ia menunggu, sementara Sehun menghilang ke toilet beberapa saat lalu.

“Halo, Cantik.”

Dahye tersentak mendengar ini. Ngeri membayangkan pria asing seperti di bioskop tadi kembali mengganggunya, ia menolak untuk menatap sumber suara yang baru menyapanya.

“Kau tidak mau menatapku, huh?”

Kernyitan muncul di keningnya, dan begitu saja Dahye menolehkan kepala. Yang berdiri di sampingnya rupanya seseorang dengan sebuah boneka beruang putih ekstra besar dalam pelukan. Saking besarnya ukuran boneka itu, Dahye sampai tak bisa melihat wajah sosok di belakangnya. Tapi bahkan tanpa perlu melihat, Dahye sudah tahu siapa itu. Ia terkekeh kecil dan meninju boneka di depannya.

“Aw!” Sehun pura-pura memekik kesakitan dan menurunkan boneka beruang tadi dari pelukannya. Begitu melihat Dahye yang tertawa, senyum lebar segera mengembang di wajahnya. Ia menyodorkan boneka yang tadi dipeluknya pada Dahye. “Untukmu.”

Dahye menerima boneka itu dengan senang hati. Ukurannya besar sekali, mungkin dua kali lipat dari tubuhnya sendiri. Dahye sampai kesulitan untuk memeluknya. Tapi boneka itu lucu sekali, bulunya begitu lembut dan halus.

“Imutnya,” gumam Dahye sambil memeluk si boneka erat. “Terima kasih, Sehun. Padahal kau tak perlu melakukan ini. Harga bonekanya pasti mahal sekali.”

“Siapa bilang boneka ini gratis?” tukas Sehun, sebelah alisnya berjingkat.

“Apa? Kau mau aku membayar untuk boneka ini?” Dahye menyahut tak percaya. Tanpa sadar ia meletakan bonekanya ke atas tanah, tak rela jika Sehun memintanya membayar uang banyak hanya untuk sebuah boneka.

Tepat setelahnya puluhan, atau kalau mungkin jutaan warna meledak-ledak di atas langit malam yang gelap diiringi decak kagum dan sorakan seluruh pengunjung. Dahye segera mendongak, dan menemukan berjuta warna tadi melebur dalam bentuk indah di langit. Pesta kembang api telah dimulai.

“Cantik sekali.”

“Cantiknya.”

Dahye dan Sehun bergumam bersamaan tanpa keduanya tahu. Dahye pada kembang api yang meledak dengan cantik di langit, sementara Sehun pada sosok di sampingnya yang mendongak menatap langit malam. Cahaya kembang api yang berpendar-pendar menerangi wajah Dahye, membuat gadis itu kelihat berkali lipat lebih indah di mata Sehun.

Perlahan Sehun menarik Dahye mendekat padanya. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Dahye, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dahye yang terkejut mendongak menatap Sehun yang rupanya juga tengah menunduk menatapnya dengan seulas senyum manis.

“Sehun ….”

“Kau harus membayarku dengan ini,” gumam Sehun merujuk pada bayaran boneka yang ia maksud sebelumnya.

            Setelahnya Sehun menggerakan wajahnya untuk mengikis jarak yang tersisa antara ia dan Dahye. Ia mulai memejamkan kedua mata, begitu pula dengan Dahye. Membiarkan Sehun mempertemukan kedua bibir mereka di bawah langit malam yang dihujani jutaan kembang api. Menutup hari yang indah itu, dengan satu ciuman hangat.

…kkeut

Note♥

Haluuuuuu

Sebelumnya maafin aku karna telat update hiks tadinya sih gamau update sabtu kemaren karna aku pikir waktu itu masih momen-momen lebaran, masih waktu kalian ngumpul sama keluarga, jadi ga seharusnya aku ganggu kalian pake sehun-dahye ini huhu dan meski telat, aku ucapin minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin yaa kalian-kalian^^ maaf karna sering telat update, sering bikin kalian gereget sama sehun-dahye-bekyun-jongin-tehyung-cheyon yang emang agak ngejengkelin wkwk

Teruus gimana chap inii? Sehun banyak gombal, makin cheesy yak, moga kalian ga eneg sama si doi, sehun kan cogan jadi maklumin ajalah mwehehehe aku ngeh sih date-nya sehun-dahye tuh mainstream bangett, nonton bioskop en main di taman bermainn:( tapi semoga kalian bisa puas yaa baca ini huhu

Ah sudahlah segini dulu ajaa, terakhir makasih banyak buat kalian yang udah baca The Dim Hollow chap 16 ini^^

Seeya on next chap gengs~~

…mind to leave a review?

113 responses to “The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24

  1. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. ughh ughh manis sekali mereka …
    hahaha sehun cemburuan banget sama dahye ..
    dahye kelewat cantik sampe pada pangling liat dianya haha ..

  6. Kelewat satu chapt__- pas baca part 17 ngerasa ada yg janggal,dan ternyata bener____-
    Awww so sweet bgttt… jadii pengen bonekanyaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s