[5] Note on the Desk: Lucky-Unlucky

notd1

Note on the Desk: LuckyUnlucky

by awackywallflower ft. Key

(Poster by bangsvt @ Poster Channel)

Jeon Jungkook, Jung Jaehyun, BTS & OC || Friendship, Family, School Life, Romance || Series

Previous: [0] [1] [2] [3] [4]

Summer tidak tahu pasti seberapa lama ia terkurung di dalam kamar mandi sekolahnya. Satu yang dapat dipastikannya hanyalah hari sudah gelap, ia sudah melewatkan waktu janjiannya dengan Jungkook. Sepertinya, selain harus mengucapkan selamat tinggal pada seragamnya yang sudah menjadi abu, Summer juga harus mengucapkan selamat tinggal kepada libur semesternya.

Summer memutar keran wastafel, kedua tangannya menengadah tepat di bawah aliran airnya. Air yang berada di tangannya ia siram ke arah wajahnya. Summer melakukannya beberapa kali. Tidak ada maksud khusus dibaliknya, ia hanya sedang membuang waktu. Tidak banyak yang bisa dilakukannya di dalam kamar mandi.

O, ayolah. Summer tentu tak sebodoh itu. Ia sudah memikirkan cara untuk keluar dari kamar mandi sejak pintu kamar mandi terkunci dan menggedor pintu kamar mandi dengan berteriak meminta tolong adalah pilihan terakhir. Summer tidak mau mengambil risiko. Ia hanya memakai kaos dalamnya saat ini, bagaimana kalau yang menemukannya seorang laki-laki? Beruntung kalau laki-laki itu baik, kalau tidak? Habislah Summer. Belum lagi kemungkinan kalau “orang-orang” Haneul yang menemukannya, bisa-bisa Summer dibuang ke laut.

Summer menutup keran wastafelnya kemudian dihempaskan tubuhnya yang bak tulang belulang yang remuk pada sisi wastafel. Matanya memandangi dua buah ventilasi yang ada di kamar mandi tersebut. Summer tidak pernah merasa ingin lebih kurus dari tubuhnya yang―menurutnya―kurus seperti saat ini. Summer pikir jika ia turun tiga atau lima kilo dari berat badannya ia bisa melewati ventilasi yang hanya berukuran sepanjang penggaris tiga puluh senti.

Summer mengelus pipinya yang bengkak dengan satu tangannya. Rasanya masih berkedut nyeri belum lagi ditambah perih yang diakibatkan luka yang berada di sudut bibirnya. Summer sudah bisa memastikan bahwa ia tidak akan mampu berangkat sekolah dengan pipi yang super bengkak seperti ini. Tangan Summer kemudian bergerak semakin ke atas, meraba dahinya yang nasibnya tidak lebih baik dari pipinya.

Dan Summer menemukannya! Menemukan ide baru untuk keluar dari kamar mandi! Dengan jepit rambut yang dipakainya. Summer memukul dahinya sendiri karena baru menyadarinya saat ini.

Summer mengambil dua jepit rambut yang hanya sekecil kawat lidi. Dua jepit rambut yang tertekuk itu ia buat menjadi lurus kemudian ia sambung satu sama lain menjadi seperti sumpit anak-anak―pangkalnya menyatu. Summer pun langsung turun dari wastafel dan berjongkok di depan lubang kunci. Dimasukkannya secara perlahan jepit rambutnya ke dalam lubang kunci. Summer rasa Tuhan belum mau membiarkannya mati konyol di dalam kamar mandi karena jepit rambutnya seperti menabrak sesuatu yang Summer yakini adalah kunci kamar mandi. Kunci kamar mandinya masih berada di luar.

Summer melirik ke arah celah yang ada di antara pintu dan lantai. Seketika senyum Summer merekah. Ia kemudian bangkit berdiri untuk mencari sesuatu yang bisa menangkap kunci itu tapi apa yang bisa ia harapkan dari sebuah kamar mandi dan diri―

Roknya! Ya, roknya bisa ia gunakan untuk menangkap kunci itu. Summer pun buru-buru melepas roknya kemudian ia masukkan roknya ke celah di antara pintu dan lantai tersebut. Untuk beberapa saat tangannya sibuk menggeser roknya untuk menemukan tempat yang pas dimana kira-kira kunci itu akan terjatuh. Setelah yakin dengan letak roknya, Summer pun kembali dengan jepit rambutnya yang masih menancap pada lubang pintu. Satu kali hentakan, jepit rambutnya masih tertahan kunci. Dua kali dorongan, kuncinya belum terjatuh juga. Ketiga kalinya, kuncinya berhasil jatuh.

Summer memekik kegirangan. Kini bibirnya sibuk merapal doa semoga kunci kamar mandinya memang benar-benar jatuh tepat di atas roknya. Perlahan tangannya menarik masuk kembali rok navy blue­-nya bersama dengan sebuah kunci berwarna keperakkan di atasnya. Summer kembali memakai roknya dan membuka pintu kamar mandi.

Ketika Summer berhasil keluar hanya gelap yang ia temui. Summer tidak pernah takut dengan segala jenis film horror hanya saja ia tidak memungkiri bahwa bulu kudukknya sempat meremang mendapati lorong sekolah yang tidak bercahaya sama sekali.

Summer menghirup napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri beranjak dari tempatnya. Rencana Summer berikutnya adalah menuju kelas matematika untuk mengambil tasnya―dan juga ponselnya―kemudian meminta bantuan Zoey untuk mengantarkan selembar pakaian untuknya.

Tungkainya ia gerakan secepat mungkin menuju kelas matematika yang berada di ujung lorong. Tidak sedetik pun Summer membiarkan kedua matanya menoleh ke kanan atau pun kirinya. Sayangnya, pintu kelas sudah terkunci, beruntungnya ada satu jendela yang lolos dari pengawasan.

Dengan tenaga yang masih tersisa, Summer masuk ke dalam kelas melalui jendela yang jaraknya lumayan tinggi dari lantai. Kelopak mata Summer mengerjap beberapa kali agar terbiasa dengan gelapnya ruang kelas, ketika pandangannya bisa menangkap samar-samar bangku yang tertata dengan rapi tersebut Summer lalu mengarahkan langkahnya pada bangku yang terakhir kali ia duduki. Tasnya sudah berpindah dari atas meja menjadi di dalam loker meja. Harapan terakhir Summer kini adalah semoga ponselnya masih berada di dalam tas dan memiliki cukup baterai untuk membuat sebuah panggilan.

***

Sudah satu jam Zoey duduk di sudut Kill Kill Burger dengan hanya ditemani segelas jus jeruk yang sudah tidak dingin lagi. Tatapannya tidak lepas dari tujuh orang yang berjarak tiga meja dati tempatnya duduk. Zoey dapat melihat jelas Jungkook yang sedang bermain-main dengan pensilnya tapi Zoey tidak menemukan sosok Summer sedari tadi.

Awalnya Zoey pikir Summer tengah sibuk dengan kegiatannya memelototi-Jungkook-selama-tiga-jam-demi-tugas-seni-rupa tapi sudah dua jam berlalu semenjak jam janjian Summer sama sekali belum membaca pesan dari Zoey. Zoey kira mungkin Summer sudah bisa menemukan letak Kill Kill Burger tanpa perlu petunjuk darinya dan untuk memastikan kalau Summer memang sampai ke Kill Kill Burger, sepulang kerja paruh waktunya, Zoey memutuskan untuk mampir. Dan sejam berlalu, hasilnya nihil.

“Sepertinya kau sedang kebingungan. Ada yang bisa kubantu? Atau kau hanya tengah menunggu seseorang?” suara itu berhasil menyadarkan Zoey dari lamunannya.

Seketika gugup menyapa dirinya ketika menyadari bahwa Jinlah yang tengah berbicara dengannya. Zoey benar-benar tidak bohong ketika ia bilang ia tidak tertarik dengan BTS―Zoey lebih tertarik dengan kumpulan pria tinggi dan penuh peluh. Ugh―tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia tidak bisa bersikap normal jika sudah berhadapan sedekat ini dengan salah satu anggotanya sekaligus pemilik dari Kill Kill Burger itu sendiri.

“A- Uh …” Zoey menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. “Eumm …” Kini tangannya mengelus-elus tengkuknya. “A-aku ingin bertemu dengan Jungkook!” ucapnya dengan sedikit memekik membuat Jin mendelik kaget karenanya.

Jin terkekeh singkat. “Kalau kau ingin bertemu dengannya tidak seharusnya kau duduk di sini selama satu jam. Ia tentu tidak akan mendekatimu.” Ujar Jin, “Ayo, aku antar kau ke tempatnya,” lanjutnya dengan tangannya yang tiba-tiba menarik pergelangan tangan Zoey.

“Ada penggemar yang mencarimu.” Kata Jin seraya melepas tangannya dari pergelangan Zoey.

Rasanya Zoey ingin menabrakkan diri ke mobil yang lewat saja ketika enam pasang mata memandang ke arahnya. “I’m not. M-maksudku ya aku mencarimu hanya saja aku bukan penggemarmu.”

Jungkook mengetuk-ketukkan pensilnya dan memandang Zoey tanpa minat. “Aku sudah berpuluh kali mendengar alasan klasik seperti itu. Lain kali cari alasan yang lebih menarik. Okay?” Betapa inginnya Zoey mengumpat saat ini juga.

“Hei, bocah, berhenti bersikap sinis kepada semua orang.” Tegur sebuah suara berat yang dikenali bernama Taehyung. “Ada perlu apa kau bertemu Jungkook? Kalau hanya meminta tanda tangan atau foto lebih baik denganku saja. Aku akan sukarela memberikannya padamu.” Sejurus kemudian kepalanya sudah didorong oleh beberapa tangan dari berbagai arah.

“Bukan. A-aku hanya ingin mencari temanku―” ucapannya terpotong ketika ponsel yang ada digenggamannya bergetar dengan menampilkan nama Summer di layarnya.

Zoey tanpa pikir panjang langsung berbalik memunggungi tujuh pria tersebut untuk menerima panggilan dari Summer. “Halo, Summer?”

Jungkook langsung mendongak ketika nama Summer keluar dari mulut Zoey. Tanpa ia sadari kedua telinganya terpasang untuk mencuri dengan pembicaraan Zoey.

***

“Halo, Summer?”

Summer bernapas lega ketika ia mendapati suara Zoey di seberang sana. “Thank God!

“Kukira seharusnya kau sedang ada di Kill Kill Burger untuk mengerjakan tugasmu, saudara Summer. Bisa tolong kau jelaskan alasan kau tidak ada di sini sekarang?”

“Seragamku dibakar. Bisa kau datang ke sini dengan membawa sehelai baju. Aku tahu ini musim panas tapi aku belum mau jadi mangsa pria buas di luar sana.” Ujar Summer tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Zoey.

“Dibakar?!”

Summer baru akan membuka mulutnya namun kakinya lebih dulu terpeleset jatuh ke lantai karena ia kakinya yang luput dari tanggan terakhir. “Argh, shit.

“Seriously Summer, where are you?!”

Summer dapat menangkap kepanikan dari kalimat Zoey saat ini. Summer bangkit berdiri kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri lorong lantai satu berharap ada keajaiban terjadi sekali lagi. “Haneul mengunciku di kamar mandi. Ia juga membakar seragamku. Saat ini aku sedang mencari jalan keluar untuk bisa keluar dari gedung sekolah.”

“Apa yang kau lakukan sampai dia melakukan hal sekejam itu kepadamu?!”

Ponsel Summer mengeluarkan nada peringatan bahwa baterainya diambang penghabisan. “I don’t know, Zoey! Just help me, could you?!” pekiknya terbawa panik yang merayapi dirinya. “Ponselku sebentar lagi mati jadi bisakah kau datang ke sekolah dan membawakan baju untukku? Jika kau tidak menemukanku di sekitar sekolah, dapat dipastikan aku masih terkurung di da―”

Ponsel Summer mati.

Damn!

***

“Summer! Summer! Halo? Summer?!”

Tujuh pasang mata kini tengah memandang ke arah Zoey yang sedang panik. “Ada apa?” Pria bertubuh jangkung dengan cekungan di pipinya itu mencari tahu.

Zoey berbalik. Pandangannya menyapu setiap pria yang ada di hadapannya. Zoey menggeleng ketika memandang Namjoon―pria yang baru saja disebut dengan cekungan di pipi―begitu pula ketika melihat Jin, Jimin, Suga, Taehyung dan Hoseok. Zoey menggigit ujung ibu jarinya, hari ini ia hanya memakai satu lembar baju mengingat saat ini adalah musim panas begitu pula dengan beberapa pria yang membuat Zoey menggeleng barusan. Harapannya hanya satu, flannel yang Jungkook pakai sebagai luaran dari kaosnya.

Dari tujuh pria yang ada kenapa harus dia?! Ya Tuhaaan.

Namun, pada akhirnya Zoey tetap meminta izin kepada Jungkook. Perjalan untuk kembali ke rumah kemudian ke sekolah memakan lebih banyak waktu sedangkan Zoey tidak mungkin meninggalkan Summer lebih lama lagi. “Jungkook bisa kupinjam flanel yang sedang kau pakai?”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” Jawab Jungkook dengan tatapan penuh tanya. “You’re creppy, if you know.

Zoey berdecak kasar. “And don’t you know your fans are creepier than monster?! Aku harus menolong temanku yang jadi korban penggemar gilamu jadi sudah sepantasnya kau meminjamkan flanelmu. Sekarang.”

Chill, girl!” Taehyung mencoba menenangkan Zoey. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan temanmu? Dan apa maksudmu dengan penggemar Jungkook?”

Zoey mengacak rambutnya frustasi. “Seragam temanku dibakar oleh Haneul dan sekarang temanku sedang terkunci di dalam sekolah tanpa seragamnya.” Jelas Zoey yang ditanggapi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Zoey―lebih tepatnya Zoey tidak memiliki cukup waktu untuk mengartikan tatapan ketujuh pria di hadapannya. “Aku tidak memiliki banyak waktu, kalau memang kalian tidak ingin membantu aku bisa pergi sendiri.”

***

Summer tidak percaya dengan aksi yang baru saja ia lakukan. Olahraga tentu bukan mata pelajaran yang ia sukai kedua setelah matematika. Kalau saja ia tidak diwajibkan untuk mengambil mata pelajaran tersebut dapat dipastikan Summer dengan senang hati mencoret kesehatan jasmani dari jadwal sekolahnya.

Namun, saat ini sepertinya Summer harus berterima kasih dengan guru olahraganya. Mungkin kalau ia tidak berolahraga seminggu sekali di sekolah ia tidak mungkin bergelantungan di ranting pohon dari jendela lantai dua.

Tidak perlu mengolok Summer sinting karena ia akan dengan sukarela mengolok dirinya sendiri.

Sinting!

Ya, sinting. Dengan perut yang belum terisi makanan seharian, wajah dan tubuh yang lebam-lebam belum lagi risiko gegar otak Summer nekat bergelantung di ranting pohon. Ide gila ini terlintas ketika ia ingat ada ranting pohon yang terjulur sampai dekat dengan jendela di kelas matematika. Kemudian ia naik ke lantai dua sekali lagi dan dengan tenaga yang tersisa ia berusaha meloncat untuk menggapai ranting yang setidaknya kokoh menopang tubuhnya. Syukur hari ini Tuhan berada di kubunya karena tangan Summer berhasil menggapai ranting bagian tengah kemudian kini ia tengah mencoba berjalan ke ujung agar bisa turun dari pohon dengan selamat.

Akhirnya satu kakinya berhasil menepak pada ranting yang ada di bawahnya diikuti dengan kaki satunya. Dan dengan perlahan Summer menuruni pohon dengan menepakkan kakinya satu persatu dari cabang pohon satu ke cabang pohon di bawahnya.

Kurang satu cabang lagi untuk Summer bisa meloncat kedaratan dengan selamat ketika tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“AAAAAA!!!”

***

Zoey menggigit bibirnya, kaki kirinya tak henti menendang-nendang daratan. Taehyung yang tengah menyetir mobil tepat di kursi sebelah Zoey menoleh. “Tenang, temanmu akan baik-baik saja. Siapa namanya tadi?”

“Summer,” sahut Zoey cepat, “Aku lebih mengkhawatirkan teknik menyetirmu. Oh my God, Taehyung sunbae. Sudah berapa kali kau keli menginjak gas dan rem?! Dan dengan kecepatan tiga puluh kilo meter per jam? Seriously, sunbae, jika rambut Summer sudah beruban dapat dipastikan itu karenamu.”

Hoseok yang berada di kursi belakang dengan Jungkook dan Suga di sebelahnya terbahak. Zoey langsung melemparkan tatapan membunuh dari kaca spion depan. “Sorry, sorry, aku tahu ini bukan saatnya tertawa tapi apa yang baru saja kau katakana benar-benar lucu. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menertawakannya.” Ujar Hoseok meminta maaf. “Sekarang kau tahu kan Taehyung seberapa payahnya dirimu menyetir mobil?”

Shut up, hyung! Aku sedang konsentrasi!” Amuk Taehyung yang semakin membuat Hoseok terbahak.

Kepala Zoey mendongak dengan kedua bola matanya yang berputar jengah. Dihembukannya udara melalui mulutnya seraya berkata dalam hati. “Summer, maafkan aku karena aku berada di mobil yang salah. Seharusnya aku berada di mobil Jin saja. Huhu.”

***

“Jadi kau dikunci dikamar mandi oleh temanmu sendiri?” Jaehyun menyodorkan sebuah handuk dingin―karena baru saja ia siram dengan bekal air dinginnya―kepada Summer. “Untuk mengompres lebamnya.”

Summer menerima dengan menggurat senyum, tidak terlalu lebar tapi cukup bisa dilihat bahwa Summer berusaha melakukannya. “Sebenarnya bukan teman tapi untuk membuatnya simple jadi ….”

Kini Summer dan Jaehyun tengah duduk bersebalahan pada sebuah sudut di tribun penonton yang ada di lapangan basket sekolah. Summer berhasil “ditemukan” Jaehyun ketika Jaehyun penasaran dengan sosok yang bergerak-gerak di pepohonan sekolah. Saat itu Jaehyun sedang bermain seorang diri dengan bola basketnya kemudian ia mendekati pohon itu dan mendapati Summer jatuh menghantam tanah hanya dengan memakai kaos dalam tanpa seragam.

Jaehyun lalu membawa Summer ke lapangan basket di mana tasnya tergeletak. Kemudian dipinjamkannya kaos yang sengaja ia bawa untuk ganti setelah bermain basket kepada Summer. Jaehyun juga memberikan bekal makannya juga minuman isotonic yang ia beli sebelum pergi bermain basket.

Jaehyun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. “Aaa, jadi seperti itu. Tidakkah sebaiknya kau lapor polisi karena kelakuan temanmu itu? Kurasa tindakannya sudah melebihi batas kewajaran untuk dihitung sebagai kenakalan biasa.”

Summer yang sedang mengompres pipinya menggeleng lemah. “Aku malas mengurusnya, sunbae. Biarkan saja, lama-lama juga dia akan jera.” Sahut Summer, “… kurasa?” imbuhnya penuh keraguan.

Jaehyung tergelak. “Jika kau terkunci di sekolah lagi pastikan kau memanggilku saja. Tidak usah susah payah turun dari pohon seperti tadi. Untung kau tidak gagal ketika melompat untuk menggapai ranting yang kuat.”

Summer tersenyum. “Daripada harus mati kedinginan di kamar mandi aku rasa mati karena jatuh dari pohon akan lebih terdengar heroik?” Hanya itu alasan yang bisa dipikirkan Summer untuk menanggapi perkataan Jaehyun.

Sekali lagi, Jaehyun tergelak. Summer menyempatkan dirinya untuk menoleh ke arah Jaehyun, memandangi Jaehyun yang tengah tergelak sampai matanya hanya berbentuk bulan sabit dan lesung pipinya yang terlihat. “Sunbae suka pergi bermain basket sendirian malam-malam seperti ini?”

Jaehyun menghentikan tawanya. Ia memutar lehernya menghadap Summer kemudian dibalasnya tatapan Summer. “Tidak,” Jaehyun menggeleng, “Kau tahu aku biasanya bermain bersama orang-orang yang kau lihat waktu itu. Aku hanya pergi bermain basket sendiri kalau aku sedang tidak ingin berada di rumah.”

Bola mata Summer bergulir, bergantian menatap sebelah kiri dan kanan manik Jaehyun. Ia kehabisan kata untuk menanggapi ucapan Jaehyun. Membuat Jaehyun berinisiatif untuk melempar sebuah senyuman. “Tapi kurasa aku akan bermain setiap malam untuk seminggu ke depan. Memastikan kau tidak terkunci di dalam kamar mandi atau gudang dan tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk menyekapmu.”

Tiba-tiba saja wajah Summer terasa panas. Entah kapan terakhir kali orang lain selain ayahnya bersikap lembut seperti ini kepadanya yang pasti hal seperti ini selalu sukses membuat Summer ingin berada di dalam dekapan orang itu dan menumpahkan seluruh keluh kesahnya. Sayangnya Jaehyun hanyalah seorang sunbae yang baru saja Summer kenal karena kejadian yang tak mengenakan.

Sunbae pikir aku bodoh? Tentu aku tidak akan terjebak dengan cara yang sama untuk kedua kalinya. Jadi, sunbae tidak usah repot-repot melakukannya. Lagipula, tidakkah sunbae merasa kesepian bermain basket sendirian di tengah malam seperti ini?”

Oh, yeah, Summer, kau berbicara seakan-akan kau sendiri tidak pernah merasa kesepian saja.

Jaehyun memutar kepalanya. Ia memandang lurus ke lapangan yang berada di hadapannya kemudian kepalanya mendongak menatap langit musim panas yang bersih dari awan. “Terkadang kau bisa merasa kesepian di tempat yang ramai, Summer.”

Summer memandang Jaehyun beberapa detik sebelum ikut mendongak menatap langit malam. “Aku tidak pernah merasa kesepian di saat ramai karena selama ini aku selalu sendirian tapi kesepian tetaplah kesepian. Kurasa aku bisa merasakan apa yang sunbae rasakan.” Summer kemudian memandang ke arah Jaehyun lagi. Jaehyung ikut menoleh membalas tatapan Summer. “Nikmati saja. Sebagai pakar orang yang kesepian terkadang kesepian tidak buruk-buruk juga kok, sunbae.”

Jaehyun tersenyum lebar. Dipamerkannya gigi yang berderet rapi seperti biji timun yang tengah berbaris. “Baiklah jika kau bilang seperti itu. Tapi kalau aku menganggap kesepian itu hal yang buruk kau harus mau mengganti rugi!”

Summer mendelik. “What?! No way!

Jaehyun tergelak. “Hanya becanda!” ujarnya. “Mau kuantar pulang? Sudah malam dan sebaiknya kau segera pulang sebelum orang rumah semakin mengkhawatirkanmu.”

Summer menggeleng. “Terima kasih sunbae, sayangnya aku sudah meminta temanku untuk datang menjemput. Jika aku pulang sekarang ia pasti akan tambah khawatir jadi aku akan menunggu dia datang saja.”

“Baiklah kalau begitu akan aku temani sampai temanmu datang.”

Setelahnya tidak ada pembicaraan yang berjalan di antara Summer dan Jaehyun. Summer bukanlah orang yang pintar berbasa-basi dan membuat sebuah topik pembicaraan apalagi dengan kondisi saat ini. Ia sedari tadi ada dipikirannya hanya kasurnya. Ia ingin segera pulang dan merebahkan diri. Ini pertama kalinya Summer merindukan rumahnya yang tak berpenghuni itu.

Beberapa saat menikmati keheningan berdua. Sebuah suara yang bersaut-sautan meneriakan namanya terdengar. Summer berdiri melihat bayangan orang yang berjalan ke arah lapangan basket. Tangan Summer melambai ke arah bayangan itu. “Aku di sini!” Teriaknya kemudian.

Tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuat mereka sudah mengerubungi Summer dan Jaehyun. Sebenarnya Summer lebih tidak menyangka kalau Jungkook dan anggota genknya akan ikut bersama Zoey.

Zoey langsung menghambur memeluk Summer. “Summer! Kau tidak apa-apa kan?! Maafkan aku yang lama sampai ke sini!”

Summer membalas pelukan Zoey kemudian melepaskannya. “Bohong kalau aku mengatakan kalau aku baik-baik saja. Lihat mukaku yang sudah seperti bakpao terinjak gajah.”

Zoey memandang iba ke arah luka yang didapatkan oleh Summer. “Aku rela jika uang hasil kerja paruh waktuku kau gunakan untuk operasi plastik.” Ujar Zoey serius tapi Summer dan lainnya menangkapnya sebagai sebuah candaan.

“Hei, aku tidak semenyedihkan itu.” Bantah Summer tak terima.

Namjoon tiba-tiba menyela di tengah pembicaraan asyik Summer dan Zoey. Membuat Zoey dan Summer juga pasang mata lain menatapnya. “Aku tahu Haneul keterlaluan tapi semoga kau masih mau memaafkannya.”

“Kau tidak perlu meminta maaf, sunbae. Bukankah seharusnya kekasihnya yang meminta maaf?” Ucap Summer dengan mengarah ke Jungkook.

For your information, nona. Haneul bukanlah kekasihku.”

“Lalu atas dasar apa ia memperlakukanku seperti ini?”

Jungkook menaikkan kedua bahunya. “Mana kutahu? Bukan salahku kan kalau aku tampan?”

Bolehkah Summer melemparkan Jungkook dari atas tribun? Sayang sekali tenaganya sudah habis tak bersisa. Lain waktu, ia pasti akan melakukannya.

Namjoon yang mendapati aura negatif tengah bangkit langsung memutuskan untuk membubarkan perkumpulan ini. “Baiknya sekarang kita pulang. Aku akan mengantarmu dan Zoey.”

Summer dan Zoey mengangguk tanpa suara. Mereka pun berjalan keluar dari lapangan basket. Zoey sudah berlari menuju mobil Namjoon, ia bilang ia ingin membawa Summer segera pulang bisa gawat jika mereka berdua mendapatkan mobil Taehyung.

“Jadi … kau berteman dengan BTS? Pantas banyak yang sirik terhadapmu.” Jaehyun tiba-tiba sudah berjalan di samping Summer.

Sunbae mengenal mereka?”

Jaehyun mengangguk. “Taehyung dan Jimin sekampus denganku. Kadang kita juga pergi bermain bersama. Jimin juga anggota klub basket dulu bersama dengan Jungkook.”

Kini giliran Summer yang mengangguk paham. “Kalau begitu aku pamit duluan ya, Summer. Jaga diri baik-baik.” Jaehyun mengucapkan salam perpisahannya. Summer hanya melambai dan tersenyum ke arahnya. Kemudian punggungnya menjauh seraya berpamitan dengan yang lain.

“Summer! Ayo cepat sebelum kita mendapatkan mobil Taehyung sunbae!

“Apa yang salah dengan mobilku?!” Protes Taehyung setelah mendengar teriakan Zoey.

Summer hanya tergelak. Tiba-tiba gelaknya terhenti ketika sesuatu ia rasakan jatuh di kedua bahunya. Ketika sudut matanya melirik, ada sebuah kemeja flannel dengan motif kotak-kotak berwarna hitam dan putih tersampir kedua bahunya. Summer menoleh ke pria yang kini berjalan di sampingnya. Summer bisa mencium aroma mint dari pria dengan model rambut mirip jamur tersebut.

“Lupakan saja permintaan maafnya, libur akhir semesterku sudah jelas tidak tertolong.”

“Aku meminjamkannya bukan sebagai bentuk permintaan maaf. Hanya saja pakaian Jaehyun hyung terlalu besar untukmu, pakaian dalammu masih terlihat karena kerahnya melorot.”

Summer mendelik tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Tidak bisakah kau tidak terlalu berterus terang seperti ini? Kau melukai harga diriku sebagai seorang wanita.”

Jungkook tidak menyahut apapun sampai mereka berdua sudah dekat dengan mobil yang terparkir di depan sekolah. “Hei.” Panggil Jungkook yang ia tujukan kepada Summer. Summer menoleh dengan pandangan seakan berkata apalagi kali ini?!. “Kurasa aku akan memberikan kesempatan lagi untuk libur akhir semestermu.”

To be continued ….

Mumpung ide ngalir. Digantung nyampe minggu depan sayang. Tetep, feedback diterima dengan tangan terbuka😉

 

25 responses to “[5] Note on the Desk: Lucky-Unlucky

  1. aku bacanya sambil senyum” sendiri masa? haha
    aduh cogan” pada ngumpul jadi satu, dikelilingi 8 cogan tuh gimana rasanya ya? haha oke abaikan

    author, aku suka banget sama part ini, summer-Jungkook moment sama zoey-taehyung moment nya aku suka bangett, mereka lucu haha

    harus nunggu seminggu ya thor? lama😦 tapi gpp deh aku akan setia menunggu kok. semangat nulisnya ^^

  2. Bakpao terinjak gajah, ngakak bcanya haha…
    Aku senang krn updet skrg soalnya kmrn blgnya seminggu sekali hehehe…
    Seenggaknya gara2 insiden ini ada sedikit pertemanan yg terjalin diantara mereka…

  3. Aaaa updatenya cepet banget dan kyknya ini jd part terpanjang dan soo sweet semoga aja chapter dpn bnyk momen manis lg
    Dan demi apa alien gantengku kok ternistakan disini tp gpp deh yg penting tetep manis<3wkwk

  4. Hahahaha…cieciecie ngsh kesempatan lg ma summer..ko bisa???suka bgt klo summer ma zoey udh ngbrl..hehehehe…
    Bnr bgt tuch klo udh dpt ide cptan adja d tuangin jgn d tunggu2..

  5. huuu kookie diem diem perhatian juga :v perdebatan kecil antara kooki sama summer bikin gemes, akankah nanti ada cinta segitiga sama jaehyun juga? wkwkwk

  6. kirain yg nemuin jungkook ternyata jaehyun…
    wahhh… kyaknya jungkook ada perhatian sma summer..

    next chap. thor.. smpai minggu dpan gpp deh…heheheee

  7. Uyee thanks buat Ajeng dan imajinasinya juga cepat update hehehee. Oh juga Taehyung yang muncul bikin wajah baru. Semoga chapter 6 cepat ngalir juga ya idenyaa, semangat jeng!!

  8. double update yeayyy dan ini makin seru bangeeet Haneul jahatnyaaa, sasaeng fansnya Kookie nih wkwk tapi untungnya Summer udah punya nomor Zoey dan Zoey care bangeeet, kayanya bakal ada something nih antara Zoey sama Taehyung, mereka lucu bingiiit
    ahhh untungnya ada Jaehyun meskipun sebenernya kaynya Kookie agak peduli juga sama Summer tapi gengsi haha
    keep writing dan semoga triple update😀

  9. Aku loncat comment disini yah hehe ✌
    Jungkook ngomongnya ngeselin bgt haha /tapi ku suka , orang ganteng mah bebas mau gimana aja ttp ganteng/ 😁😁
    Enak kali ya jadi summer x zoey bisa semobil sama cogan /kan pengen/ btw kenapa bapaknya summer ga mau ke korea ? Something kah?

  10. Kyaaaaaaaaaaaaaaa, aku suka bagian akhir..
    Summer Jungkook hihi, Jungkook gentle banget walaupun nyebelin gitu..
    aku senyum2 sendiri baca bagian Jungkook minjemin flannelnya ke Summer hahaha..
    btw apa hubungan Haneul sama Namjoon?? ko Namjoon kayanya rada ngebela Haneul sih??
    aku dukung Summer Jungkook, please banyakin moment mereka berdua..
    ga sabar baca next chapternya, di tunggu next chapternya ^^

  11. Sumpah kookie tu resekknya keterlaluann yye pake jujur pula hhhh ,dan lg* aq telat 1part ,tp udah kpalang penasaran ma chap inii huhuhu ,ga bisa ngbayangin jd jaehyun dehh liat ‘sesosok’ org lg loncat2 dipohon tu ada ngeri2nya gituu,ngakak gilla …ehh ka tp itu si haneul kterlaluan ya bullinya,si namjoon keknya melihatkan sinyal2 suka tuh ma nenek lampirr *readHaneul hhh ,oh y nextnya fighting ya ka

  12. Baru komen sekarang padahal bacanya udah seabad yang lalu.
    Maaf kak seminggu yg lalu sibuk sama MPLS. Hari minggunya aku pake istirahat.
    Btw itu jungkook nggak cemburu? (Baru aja deket udah cemburu-_-)
    Ada V juga astaga yeee!!!
    Terus Jungkook diem2 juga perhatian.
    Nggak sabar nunggu chapter selanjutnyaa❤❤

  13. Kapan ff ini di update??? udah sebulan huhu, padahal udah sampe part Jungkook mulai perhatian ke Summer hahaha..
    please di update lagi ffnya, di tunggu next chapternya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s