[Ficlet] DEFORMATIÓN

WonJeong Couple.jpeg

—DEFORMATIÓN—

©2016, BaekMinJi93’s & Gecee’s Present

 

Special starring with

Gu9udan’s Kim Sejeong and Seventeen’s Jeon Wonwoo

slight! mention Gu9udan’s Sally and Seventeen’s Mingyu

| AU! — slight! Angst — Fantasy — Fluff — RomanceSurrealism | Ficlet | Teens |

Disclaimer

There’s nothing us, but only for storyplot is purely US!

Don’t be a plagiarism and be a good readers, guys ^^

“Suatu saat nanti, aku akan berubah. Di saat itulah kau akan menyukaiku.”

“Hai cantik…”

 

Begitu sapaan itu menghampiri liang telinganya, Kim Sejeong otomatis memutar bola matanya. Dengusan keras terlontar keluar dari mulutnya. Dalam hati, sejuta gerutuan bercampur makian pun tercipta. Ingin rasanya mulutnya mengeluarkan kata-kata pedas untuk membalas sapaan sang jejaka, tetapi kemudian dipendamnya niat karena makhluk cantik sepertinya tak pantas mengeluarkan frasa tak sedap didengar.

“Mau apa lagi sih ke sini?” kata Sejeong akhirnya pada sang penyapa yang hanya menatapnya lekat-lekat. Jangan lupakan cengiran bodoh yang terpajang di bibir yang semakin membuat Sejeong merasa muak.

Jeon Wonwoo, makhluk yang kerap menyapanya setiap pagi semenjak seminggu yang lalu, yang tak jemu-jemu menunjukkan presensinya pada sang gadis setiap mentari bangkit dari peraduan, yang tak ada lelahnya menghujani Sejeong dengan pujian betapa cantiknya ia, menyunggingkan senyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. “Kau cantik hari ini,” ujarnya.

Dalam kurun waktu kurang dari lima menit Wonwoo berhasil membuat Sejeong memutar bola mata untuk kedua kalinya. “Kau mengatakan hal yang sama setiap pagi, Jeon Wonwoo,” balasnya.

Wonwoo tampak tak menyerah. “Itu karena aku ingin kau menyadari akan kecantikan sempurnamu. Banyak makhluk di luar sana yang diciptakan dengan begitu cantik nan indah, tapi tak sadar akan kecantikan yang mereka punya. Mereka kerap menunduk seolah malu dengan wajahnya, menyangkal bila ada yang memuji. Aku tak mau Kim Sejeong juga mempunyai sifat seperti itu.”

Kening Sejeong berkerut. Ekspresi kesal di wajahnya makin menjadi-jadi. Dilipatnya kedua tangan di depan dada. “Kau menyamakan aku dengan mereka, huh? Memangnya aku terlihat pemalu? Dengar baik-baik, Jeon Wonwoo! Aku tahu aku cantik, bahkan aku sadar betul kecantikanku lebih dari pada makhluk sebangsaku di sekitar sini. Memangnya aku terlihat pemalu? Memangnya pernah aku menunduk hanya demi menyembunyikan keindahanku?”

 

Bahkan secara sengaja aku selalu mengangkat kepalaku tinggi-tinggi agar semua orang melihat dan mengakui kecantikanku, tambah Sejeong dalam hati.

 

Makhluk Jeon itu mengerjapkan kedua matanya, sedikit terkesiap karena tiba-tiba makhluk cantik di hadapannya menjadi marah—walau harus Wonwoo akui meski dalam keadaan marah Sejeong tetap saja cantik. “Bu… bukan begitu maksudku. Aku hanya –…”

“Dan kau…” Sejeong dengan enaknya memotong kata-kata Wonwoo. Matanya menatap makhluk di hadapannya tajam. “Kau sudah tahu aku cantik, tetapi bagaimana kau masih berani mendekatiku? Kau yang jelek, berbulu, biang gatal-gatal, dihindari makhluk lainnya, mengapa masih berani dekat-dekat denganku? Harusnya kau sadar bukan kalau penampilanmu sama sekali tak bisa dibandingkan denganku? Kenapa masih berani dekat-dekat?”

Kata-kata pedas Sejeong tersebut membuat Wonwoo bungkam. Kepalanya perlahan tertunduk. Senyumnya perlahan memudar. Bagaimana pun kata-kata Sejeong ada benarnya. Ia memang jelek, hitam, berbulu, dan dihindari banyak orang. Rasanya tak ada makhluk yang membutuhkan eksistensinya. Setiap kali Wonwoo mendekat, orang-orang hanya berteriak dan mengusirnya.

Berbeda dengan Sejeong. Keberadaan gadis itu selalu berhasil membuat orang-orang tersenyum. Presensinya selalu dicari oleh orang-orang. Banyak makhluk yang senang berkumpul di dekatnya. Ia manis, cantik, indah.

Dengan perbedaan layaknya bumi dan langit tersebut, bagaimana mungkin Wonwoo masih berani-berani mendekati Sejeong? Kalau dikaji ulang, apa yang menyebabkan Wonwoo bagai makhluk tanpa rasa malu selalu menyapa Sejeong setiap pagi? Mengapa Wonwoo tak ada bosan memberikan senyum manis nan tulusnya untuk gadis itu?

Perlu diketahui, ini bukanlah kali pertama pertanyaan itu muncul di benak Wonwoo. Pernah suatu kali ia merenung memikirkan apa makna dibalik tindakannya pada Sejeong. Seberapapun menggelikannya, seberapapun tak masuk akalnya, seberapapun usaha keras Wonwoo untuk menyangkalnya, pada akhirnya ia dihadapkan pada satu jawaban.

 

Ia menyukai gadis itu.

 

Wonwoo mengangkat wajahnya. Dengan senyum getir yang terukir di bibir, ditatapnya gadis itu lekat-lekat. Wonwoo mengambil napas panjang, sebelum akhirnya berujar,

 

“Suatu saat nanti, aku akan berubah. Di saat itulah kau akan menyukaiku.”

 

***

 

Wonwoo merasa ada yang tidak beres dengan keadaannya. Tubuhnya menggigil hebat, tidak peduli berapa lapis selimut yang bersarang di atas tubuhnya, Wonwoo masih saja merasa beku bagaikan es batu. Akibat dari keadaannya saat ini, Wonwoo tidak lagi bisa menunaikan kebiasaannya—sebut saja kebiasaan menyapa Sejeong.

 

“Ini tehmu.”

Seringkali sahabatnya, Mingyu, datang ke rumahnya sekedar untuk membuatkannya teh hangat dan memasakannya makanan. Dia mungkin akan sedikit merasa tidak enak padanya tapi mau bagaimana lagi, Mingyu merupakan satu-satunya orang terdekat yang Wonwoo miliki saat ini. Seluruh keluarganya telah terlahir kembali sejak lama dan tidak mengingatnya sedikitpun. Makhluk itu akan benar-benar merasa kesepian jika saja sang sahabat tercipta sebagai makhluk yang berbeda jenis dengannya itu hilang dari sisinya—yang untung saja itu hanya perumpamaan mengerikannya, tidak lebih.

Tetapi di sisi lain ia merasa gelisah dengan keadaannya saat ini, Wonwoo juga merasa hatinya berbunga akibat kenyataan yang akan menghampirinya beberapa hari lagi.

 

Ia akan berubah dan menjadi makhluk yang indah. Makhluk yang keindahannya setara dengan sang pujaan hati, Kim Sejeong.

 

***

 

Yak! Kim Sejeong!”

 

Makhluk yang saat ini sedang sibuk mengagumi anugerah kecantikan yang dimilikinya pun menoleh kala suara familiar merapal namanya dengan lantang. Ah, ternyata Sally.

 

“Ada apa?” Sejeong membuka suara tepat di mana saat Sally menghentikan langkah di hadapannya.

“Wonwoo—” Disela napas memburunya, Sally mencoba untuk menyebut nama seseorang. Mendengar nama itu disebut oleh sahabatnya, Sejeong pun memutar bola matanya malas. “Berhenti bersikap seperti itu jika kau tidak ingin menyesal nantinya.”

“Kenapa aku harus menyesal? Kau tahu jika aku—… YAK! SALLY LEPASKAN TANGANKU!

“Tidak! Sampai kau mau berjanji akan menarik ucapanmu tempo hari yang lalu, nona Bunga yang cantik namun sombong!”

“TIDAK,” kukuh Sejeong tetap pada pendiriannya namun berakibat rasa sakit yang mendera di area pergelangan tangannya. “SALLY! KUBILANG TIDAK YA—…”

 

“Ada orang di sini?”

 

Seketika perdebatan kecil antara Sally dengan Sejeong pun terhenti kala mendengar suara rendah yang menyelanya. Makhluk Kim itu sontak melempar pandangannya ke arah pintu keluar kedai sari madunya dan demi apa pun Sejeong rela mengumpat asalkan umpatan itu tak terdengar kasar di telinga semua orang yang mendengarnya.

Omong-omong…

 

DIA ADALAH MAKHLUK TERINDAH YANG PERNAH SEJEONG TEMUI SELAMA INI!

 

Sejeong akan terus membuka mulutnya dengan ekspresi terbodohnya jika saja sebuah suara bisikan tak mengalun indah di rungunya.

“Percaya atau tidak, dia itu Jeon Wonwoo—ulat terjelek yang pernah kau nistakan, Kim Sejeong.”

“KAU SERIUS?!”

 

Oh tidak! Sepertinya image bunga tercantik Kim Sejeong jatuh seketika tepat di hadapan kupu-kupu tampan Jeon Wonwoo sekarang. Setidaknya gadis itu masih bisa meralat sikapnya yang kelewat memalukan itu berkat singgungan manis di rusuknya dari sang sahabat tercinta.

Sesekali menyisir kelopaknya untuk mempercantik diri dan dehaman sekilas guna menambah kepercayaan dirinya kembali, Sejeong pun menyapa pengunjung tampannya.

“Kau sedang mencari apa, Wonwoo—…”

Wah, kau mengenalku, nona?” kata Wonwoo terkesan yang tentu saja membuat Sejeong mengerutkan alis bingung.

“Apa maksud—…” Gadis itu menggantungkan ucapannya dan kembali melempar arah pandangnya ke arah sahabatnya seolah meminta penjelasan singkat.

“Dia terlahir kembali, Kim. Seperti fakta yang kita ketahui sebelumnya, tentu saja dia akan melupakan memori yang pernah dilaluinya—termasuk memori tentangmu. Singkatnya, Wonwoo mengalami amnesia.

Gadis Kim itu pun terdiam sekaligus mencerna keterangan yang didengarnya barusan. Seluruh sudut wajah yang sempat berkerut akibat raut bingung itu pun kini mulai menemukan sinarnya.

 

Amnesia, ya? Sepertinya itu berita yang bagus, pikir Sejeong senang.

 

Seolah tak lupa menampakan lengkungan asimetris di kedua sudut bibirnya, Sejeong pun mengulurkan tangan ke arah kupu-kupu tampannya.

 

“Hai! Aku Kim Sejeong, pemilik kedai sari madu sekaligus bunga tercantik di seluruh kota ini. Salam kenal.”

 

FIN

 

Bebe’s & Gecee’s Notes:

  • DEFORMATIÓN, berasal dari bahasa Spanyol yang artinya perubahan bentuk.
  • Pertama-tama kami berdua mengucapkan, SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA, URI WONU-YA! Cepet sembuh ya dan ditunggu kambeknya bareng member lain, ya. Wish you all the best and God bless you🙂 dan maaf kalo Wonu atau bahkan Sejeong sendiri ternistakan di sini😀
  • Ketemu lagi sama couple ini dengan tema sejenis fairy tales lagi😀. Semoga nggak bosen, yap!
  • Dan terakhir, kami mengucapkan terima kasih karena udah mau baca FF aneh ini—apalagi yang baca sampe ending gilanya :v. Thank you very much❤

 

With Love,

BaekMinJi93 & Gecee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s