Navillera ~ohnajla

Author : ohnajla

Genre : Romance, schoollife

Rating : General

Length : Oneshoot

Cast : Byun Baekhyun (EXO), Jung Eunbi aka Eunha (Gfriend)

***

Di sekolahku datang murid baru. Dia adalah Byun Baekhyun. Kami berada di satu angkatan, tapi berbeda kelas. Aku tahu namanya bukan dari teman-temanku yang suka bergosip, tapi akulah orang yang pertama kali bertemu dengannya saat dia datang di sekolah ini. Waktu itu Byun Baekhyun sedang kebingungan mencari ruang guru ketika aku akan pergi ke ruang kesehatan untuk mencari obat untuk temanku. Dia mencegatku, menanyakan letak ruang guru. Aku yang tidak bisa menjelaskannya terpaksa harus mengantarnya sendiri ke sana. Dan saat itulah kami berkenalan.

Byun Baekhyun adalah sosok paling tampan di sekolah ini menurutku. Dia tinggi, dan mudah bergaul. Dia masih mengingatku meski kami berdua berada di kelas yang berbeda.

Semenjak Baekhyun datang, aku merasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Eum … makin bersemangat mungkin? Aku yang biasanya enggan ikut olahraga, kini setelah tahu kelas kami berdua memiliki jadwal olahraga yang sama, aku jadi ketagihan untuk mengikuti pelajaran itu. Kesal sekali saat jam pelajaran olahraga berakhir. Meski kelas kami terkadang ditempatkan di tempat yang terpisah, aku tetap merasakan semangat yang berlebihan dalam diriku. Apalagi kalau kami berada di lapangan yang sama.

Dua hari bersekolah di sini, Baekhyun sudah memiliki banyak teman dan fans. Tidak aneh juga ya mengingat sikapnya yang ramah pada siapa pun. Yang akan terdengar aneh adalah aku selalu kesal tiap kali melihat Baekhyun berbincang dengan seorang perempuan. Rasa kesal itu tiba-tiba muncul begitu saja. Saat kucari di internet apa maksudnya, ternyata aku sedang cemburu.

Cemburu

Cemburu

Cemburu

Cemburu tanda cinta bukan?

Itu artinya….

Aku mencintai Baekhyun?!

Tidak mungkin!!

***

Tidurku terganggu oleh suara-suara di sekitarku. Aku tidak sedang tidur di rumah, aku ada di sekolah. Saat ini sampai 40 menit ke depan adalah jam kosong yang langka. Jadi kupergunakan saja untuk tidur karena aku terlalu lelah. Tapi lingkunganku sama sekali tidak mendukung. Kenapa sih mereka pada ribut? Apa presiden Barack Obama datang?

Mataku perlahan terbuka. Tidak ada siapa pun yang berada di dekatku, pemandangan bangku-bangku kosong yang tertangkap retinaku tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan. Namun suara berisik khas anak perempuan ditambah nada berat khas anak laki-laki puber masih berputar-putar di telingaku. Sebenarnya dari mana suara ini?

Aku menoleh ke kanan kiri, mencari sosok teman-temanku. Betapa terkejutnya aku melihat hampir semua siswa kelas ini berdiri memenuhi sisi lain kelas. Entah itu yang badannya menempel dinding, kaki berjinjit, berdiri di atas meja, intinya semuanya sedang memperhatikan sesuatu di luar kelas ini. Suara ribut-ribut juga terdengar di luar.

Penasaran, aku pun bangkit dan melangkah menuju pintu. Begitu pintu kelasku berhasil kubuka, bukan main terkejutnya aku. Teras depan kelasku sudah dipenuhi banyak remaja berseragam. Bahkan sejauh mata memandang, semua teras depan kelas sudah dipenuhi oleh banyak orang. Ada apa ini sebenarnya?

Prank!

“Wooooooooo! Byun Baekhyun! Byun Baekhyun! Byun Baekhyun!”

Eh? Byun Baekhyun?

Rasa penasaranku makin membara. Kurasa telah terjadi sesuatu di lapangan basket depan kelasku ini. Dan pasti ada Byun Baekhyun di sana. Oleh karena itu, kuputuskan mencari jalan agar aku bisa berdiri di barisan terdepan. Setelah memutar otak sejenak, aku pun memotong jalan dengan cara merangkak di bawah orang-orang ini.

Beberapa menendangku, sisanya menjerit seolah aku adalah kecoa terbang yang mendarat di kaki mereka. Setelah menempuh perjuangan yang begitu keras, akhirnya aku pun sampai di barisan terdepan. Aku bisa melihat Byun Baekhyun!

Rambutnya yang basah karena keringat, blazer yang dilepas hingga menyisakan kemeja putih dengan kedua bagian lengan yang dilipat sampai siku, serta kerah yang tidak dikancing sehingga tulang selangka-nya tampak. Mulutku menganga seperti orang bodoh melihatnya seperti itu.

Sampai aku tidak bisa mendengar apa pun. Bahkan ketika seseorang berteriak padaku, aku masih tetap terpaku melihat Baekhyun sedang berlari menghampiriku. Tanpa sadar bibirku tersenyum, dan kedua tanganku terentang. Tepat ketika Baekhyun berada dua langkah di depanku, sesuatu yang berat menghantam kepalaku dengan keras. Tubuhku limbung untuk beberapa saat, mata berkunang-kunang. Kesadaranku pun hilang setelah mendengar suaranya.

“Eunbi-ya?!”

***

Aku terbangun di sebuah tempat yang aku kenal baik. Tempat ini adalah ruang kesehatan. Saat aku akan menggerakkan mataku ke kanan, tiba-tiba kepalaku terasa berdenyut-denyut. Sekelebat kejadian muncul di pikiranku, seperti sebuah déjà vu. Aku melihat Baekhyun. Ya, Baekhyun yang berlarian menghampiriku. Lalu di manakah dia sekarang?

“Kau sudah bangun?”

Panjang umur. Kepalanya tiba-tiba muncul dalam lingkar penglihatanku saat aku akan berencana turun dari single bed ini. Potretnya sama persis seperti yang muncul dalam déjà vu tadi. Rambut hitam ikalnya berantakan dan sedikit lembab. Masih memakai kemeja putih dengan manik atas yang sengaja tidak dikancing. Tapi di wajahnya sudah tidak ada bulir keringat setetes pun. Ia sudah membasuhnya dengan air, jadi tampak lebih fresh dan bersih.

Ia tiba-tiba tersenyum. Napasku langsung tercekat.

“Tadi kenapa kau hanya diam saja saat bola datang padamu? Untungnya tidak sampai amnesia.”

Dahiku mengernyit. Aku? Amnesia? Memang apa yang sudah terjadi?

Untuk beberapa saat aku hanya diam saja mencoba mencerna apa kata-kata Baekhyun. Begitu nyawaku telah kembali 100%, aku pun ingat kejadian di lapangan tadi. Aku jatuh pingsan sesaat setelah bola basket menghantamku. Dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya sempat mendengarnya memanggil namaku.

Ah ya, dia yang memanggil namaku. Itu berarti….

“Kau yang menggendongku ke sini?”

Dia mengangguk. “Eum. Kalau bukan aku memangnya siapa lagi?”

Aku melihat sekitar. Baru sadar kalau posisiku masih berbaring, dan dia membungkukkan sedikit badannya padaku. Tidak ada seorang pun lagi di sini kecuali kami. Reflek aku pun mengubah posisiku menjadi duduk. Sayangnya dia masih tetap dengan posisi seperti itu. Matanya itu loh, kenapa menatapku seolah sedang menusuk kedua mataku dengan laser yang keluar dari matanya?

“Terima kasih.”

Dia menaikkan sudut bibir kanannya. Sialan, dia tampan sekali.

“Kepalamu tidak apa-apa ‘kan?” tanyanya setelah sekian detik kami berdua hanya diam saja. Tatapannya masih sama. Sepertinya dia berniat membuatku salah tingkah.

“Ya, tidak apa-apa.”

Jemari lentiknya menyentuh dahiku, mengusapnya lembut. Aku yang belum pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang pria, hanya bisa mematung sambil mengagumi potret wajahnya.

“Nanti kalau masih sakit dikompres air dingin saja. Jangan membenturkan kepalamu ke lain-lain, bisa-bisa kau kena gegar otak.”

Ia tertawa ringan, menjauhkan wajahnya dan berdiri tegak. Ia meraih gelas berisi susu hangat yang ada di atas meja, untuk diserahkan padaku. Aku menerimanya tanpa ragu, dan meminumnya dengan rakus. Aku sangat kehausan sejak tadi.

Dia meraih gelas yang sudah kosong dari tanganku tanpa permisi, meletakkannya kembali ke atas meja. Kemudian netranya lagi-lagi jatuh ke pupil-ku.

“Sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Tas-mu sudah kuambil. Mau pulang bersama?”

Hal yang kutunggu pun terjadi. Baekhyun mengajakku pulang bersama, satu langkah lebih dalam untuk hubungan kami berdua. Aku pun langsung mengiyakan. Dia membantuku turun dari ranjang, dan membawakan tas-ku selama perjalanan. Orang-orang sudah pasti iri denganku bukan? Belum jadian saja sudah se-romantis ini, bagaimana kalau nanti dia benar-benar menjadi kekasihku? Ah!! Aku sangat menantikan saat-saat itu.

Aku sedikit menyayangkan letak rumahku yang sangat dekat dengan sekolah. Hah … baru sepuluh menit jalan kaki kami sudah sampai di rumah keluargaku. Andai rumahku ada di Busan, sudah pasti aku akan lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, mengobrol tentang kehidupan kami berdua.

Aku masih enggan beranjak dari hadapannya meski kami telah terpisah jarak oleh pagar pendek rumahku yang ada di antara kami. Dia sedang asyik memperhatikan rumah mungilku, entah kagum dengan arsitektur rumah ini atau menyayangkan karena rumah ini tidak lebih besar dari rumahnya. Aku sama sekali tidak ingin memikirkan penilaiannya mengenai rumahku. Aku hanya, kecewa karena tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengannya.

Matanya bergerak turun, saling tatap denganku.

“Kenapa tidak masuk?”

Kedua ibu jari tanganku menggaruk tali tas dengan kasar. Aku gugup.

“Baekhyun, aku mau mengatakan sesuatu. Boleh?”

“Kenapa tidak? Memang kau mau mengatakan apa?” Dia memperhatikanku dengan seksama, menunggu kalimat yang akan keluar dari bibirku.

Tapi tiba-tiba aku merasa tidak siap. Bagaimana kalau Baekhyun marah mendengarnya? Bagaimana kalau Baekhyun kecewa lalu meninggalkanku? Bagaimana kalau Baekhyun membenciku? Aku takut dengan semua kemungkinan itu, namun kalau aku tidak segera mengatakannya sekarang, aku bisa gila sendiri.

“Baekhyun-a….”

“Hm?”

Aku menatapnya sebentar, mencari sesuatu di kedua matanya. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kucari, tapi perasaanku tiba-tiba lega.

“Aku … aku mencintaimu.”

Angin berhembus setingkat lebih kencang dari sebelumnya. Berhasil mengibarkan poninya, membuat rambutnya makin berantakan. Kini tatapannya tidak seperti sebelumnya. Aku tidak tahu, dan takut berspekulasi. Aku pun menghindari tatapannya dengan menunduk.

***

Esoknya aku datang ke sekolah dengan waktu seperti biasa. Tidurku tidak nyenyak semalam, jadi dalam perjalanan menuju ke sekolah aku selalu menguap. Aku berhenti di pinggir jalan seperti yang lain, menunggu traffic light warna merah menyala. Aku hanya berdiri diam, menoleh ke kanan kiri melihat kendaraan besar kecil yang lalu lalang. Hingga tak sengaja mataku melihat seorang pemuda berseragam yang baru saja turun dari bus. Dia sama mengantuknya sepertiku. Matanya memerah, rambutnya acak-acakan, dan dia selalu menguap tiap 10 detik. Aku terus memandangnya hingga dia bergabung dengan rombongan yang akan menyeberang jalan. Jarak kami yang cukup jauh membuatnya tidak sadar kalau ada aku di sini.

TING!

Orang-orang di sekitarku mulai menyeberang. Aku sengaja pergi lebih akhir untuk menyamai langkah kami. Setiba di trotoar seberang jalan, akhirnya dia menemukanku.

Langkah kami serempak berhenti. Melempar pandang satu sama lain. Orang-orang yang melewati kami sekalipun tidak kami pedulikan. Aku tersenyum, beberapa detik setelah dia tersenyum. Ia mendekat, diam-diam menautkan jari-jari tangan kami. Lalu tanpa perlu banyak bicara, kami pun pergi bersama-sama menuju sekolah. Pagi ini dia membuat tanganku hangat.

END

7 responses to “Navillera ~ohnajla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s