[IM]PERFECTION – 1ST SLIDE — by Neez

perf

IMPERFECTION

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

IMPERFECTION Universe, Campus Life, Romance, Angst, Drama

PG || Chapter

BETA & POSTER © IMA

In Correlation with

IMPERFECTION by IMA

© neez

Because in the perfection... always left the imperfection behind

Dimata hampir semua orang; teman-teman, kolega, bahkan keluarga, pasangan Kim Joonmyun dan Oh Jaehee adalah pasangan yang sangat sempurna. Sejak mulai berkencan di bangku kelas dua  SMA, keduanya bak putri dan pangeran dari negeri dongeng. Tak terpisahkan, dan setiap melihat mereka, seperti ada kalimat happily ever after yang menyelimuti keduanya.

   Tapi apakah kenyataannya begitu?

   Jika ada kalimat ; setiap hubungan memiliki masalah, betapa pun ada cinta diantara keduanya. Ya, kalimat itu memang benar.

 

*        *        *

Jongin selalu mengatakan pada Joonmyun, bahwa ia dan Jaehee adalah pasangan yang sempurna. Jongin juga selalu berkata bahwa ia sangat iri pada hubungannya dan Jaehee yang selalu terlihat harmonis dan kompak, karena tentu saja Jongin kehilangan satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya mengakui kata ‘cinta’.

   Tapi, entahlah… setelah memasuki dunia kuliah, hubungan yang selama ini selalu sangat manis itu, mendadak berubah. Ya, Joonmyun tahu, semua itu mungkin karena mereka berdua bukan lagi pasangan yang duduk di kelas yang sama, bahkan di bangku yang sama seperti saat mereka SMA dulu.

   Joonmyun memilih menekuni ilmu manajemen, sementara Jaehee tentu saja mengikuti karier yang telah ia jalani sejak masih sekolah, ilmu fashion design. Meski mereka berdua kuliah di universitas bergengsi yang sama, rupanya tidak lantas membuat mereka dapat sering-sering bertemu seperti semasa sekolah dulu. Satu hal lagi yang kerap kali menghambat pertemuan mereka berdua adalah, pekerjaan Jaehee.

   Jika dulu gadis itu adalah rookie model yang meskipun sibuk, masih dapat rajin bersekolah dan belajar, kali ini, semenjak Jaehee resmi menjadi salah satu brand ambassador sebuah brand makeup ternama membuat karier modeling Jaehee meroket. Tak ada lagi kencan ke toko es krim di dekat kampus seperti awal masa perkuliahan. Tak ada lagi kencan ke bioskop tiap akhir pekan, seperti yang biasa mereka lakukan sejak SMA. Tak ada lagi bahkan sekedar makan malam, jika Joonmyun hanya merasa begitu bangga dengan prestasi Jaehee, atau Jaehee mentraktir Joonmyun jika nilainya bagus karena kekasihnya adalah tutor terbaik sepanjang masanya.

   Keduanya benar-benar sibuk!

   Joonmyun dengan analisis tabel-tabel, angka-angka, dan sebagainya yang membuat Jaehee pusing dan tidak ingin tahu lebih lanjut. Jaehee dengan pola, desain, dan seabrek jadwal yang membuat mereka jarang bertemu, atau bahkan bertegur sapa. Disaat Joonmyun tidak sibuk, Jaehee sibuk. Disaat akhirnya Jaehee memiliki waktu luang, Joonmyun memiliki pertemuan-pertemuan klub dan organisasi kampus.

   Mereka jarang bertengkar. Meski sikap Jaehee cenderung jauh lebih kekanakan, ada Joonmyun yang memang sejak masih SMA sudah bersikap dewasa jauh melampaui usianya sendiri. Walaupun begitu, keduanya tidak pernah bertengkar hanya karena masalah-masalah sepele. Sayangnya, di bangku kuliah, semenjak komunikasi diantara keduanya mulai menurun, pertengkaran sepele yang tidak pernah keduanya alami di masa sekolah, justru terjadi.

   Seperti saat ini. Joonmyun sudah senang sekali bahwa akhirnya, Jaehee berkata bahwa ia bisa meluangkan waktu, karena jadwalnya selesai cepat. Joonmyun pun berhasil mangkir dari pertemuan klubnya, karena ingin makan malam berdua dengan pacarnya itu. Namun ternyata, setelah Joonmyun menjemput Jaehee di sebuah studio di bilangan Gangnam, gadis itu masih juga belum selesai melakukan pemotretan. Setelah lewat setengah jam dari waktu janjian mereka, Joonmyun masih menunggu dengan sabar, namun ternyata Jaehee masih harus diwawancarai oleh beberapa media lokal, dan semua baru selesai pukul sepuluh.

   Selesai sudah waktu reservasi yang Joonmyun buat untuk makan malam keduanya. Begitu Jaehee muncul di pintu mobil dengan wajah penuh penyesalan, Joonmyun tidak bisa menahan diri untuk tidak kesal.

   ”Mianhae… Woori Eonnie tidak bilang apa pun soal wawancara dan tiba-tiba saja semua wartawan sudah menunggu di kamar ganti, aku tidak mungkin mangkir. Mianhae, Myeonie-ya…” mohon Jaehee.

   Joonmyun tidak mengatakan apa-apa dan mengenakan sabuk pengamannya, lalu kembali menyalakan mesin mobil. Jaehee menghela napas dalam-dalam, merasa tidak enak. Ia juga kemudian mengenakan sabuk pengamannya.

   ”Myeonie…”

   Joonmyun masih tidak membuka mulutnya, namun memundurkan mobil sebelum membawa SUV BMW tersebut membelah Gangnam malam itu. Jaehee sadar betul, Joonmyun benar-benar kecewa bahwa acara kencan mereka harus kacau karena wawancara mendadaknya. Sebetulnya Jaehee sudah merasa bahwa belakangan ini Joonmyun sering kesal dengannya karena jadwalnya yang begitu padat.

   ”Aku kan sudah minta maaf,” seperti biasanya, Jaehee merajuk. Sejak di bangku sekolah dulu, jika ia sudah mulai merajuk, Joonmyun akan selalu mengikuti keinginannya, sebodoh apa pun itu. Amarah pria itu pun biasanya mudah sirna jika Jaehee sudah melancarkan jurus aegyo-nya, yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapan siapa pun. ”Myeonie…”

   ”Diamlah, aku sedang menyetir.” Jawab Joonmyun datar.

   Dan Jaehee shock mendengar Joonmyun menjawab begitu. Pacarnya itu tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya. Sebenarnya Jaehee sadar, bahwa Joonmyun seperti ini karena sudah lama sekali mereka tidak memiliki quality time berdua saja, meskipun Joonmyun masih menyempatkan diri untuk menjemputnya, baik dari kampus atau pun dari pekerjaannya, walaupun manajemen Jaehee menawarkan mobil jemputan. Tapi kali ini, mungkin karena lelah juga, emosi Jaehee pun ikut tersulut.

   Dia kan harus profesional! Mana mungkin ia mangkir dari wawancara hanya karena ingin buru-buru pacaran diluar?

   ”Myeonie, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Aku kira kau mengerti pekerjaanku. Kau tahu aku takkan mungkin meninggalkan kencan kita karena sengaja, kan?!” ujar Jaehee sambil menghempaskan punggungnya dengan kasar ke jok mobil, melipat kedua tangannya. ”Kau tahu itu memang resikoku. Aku berani sumpah bahwa aku tidak tahu akan ada wawancara mendadak!”

   ”Lalu kau harusnya bisa bilang pada Manajermu yang semena-mena itu untuk memberitahukan lebih dulu padamu setiap jadwal yang diberikan!” tukas Joonmyun geram, ”Ini bukan pertamakalinya kau mendapatkan jadwal tanpa sepengetahuanmu!”

   ”Aku tahu! Aku tahu! Aku akan complain besok, tapi bisakah kau tidak marah-marah begini? Aku juga lelah, sama sepertimu… aku juga mau berkencan, tapi kau tahu sendiri pekerjaan ini memang menuntut waktu lebih, dan pengertian kita berdua.”

   Joonmyun mendengus, ”Pengertian kita berdua? Pengertianku, lebih tepatnya. Karena selama ini aku tidak pernah melihat kau begitu pengertian dengan pekerjaanmu, kau sangat menikmati, sehingga hanya aku yang pengertian dengan pekerjaanmu.”

   ”Jadi kau tidak menyukai pekerjaanku, begitu?!”

   Joonmyun memejamkan matanya erat-erat sebentar, mencengkram kemudi, menahan amarahnya. Setelah ia membuka matanya dan bicara, nadanya sudah tidak setinggi tadi. ”Bukan itu maksudku, kau tahu. Sudahlah, ini sudah malam… aku masih harus tes besok pagi,” gumamnya, dan Jaehee sudah terlalu malas untuk bicara kembali, tapi ia mengeratkan lipatan tangannya dan memandang keluar jendela. Tenggorokannya sakit, menahan tangis.

 

*        *        *

Jika Jaehee sibuk, maka yang bisa Joonmyun lakukan adalah ikut mencari kesibukan, sehingga ia tidak perlu sibuk untuk merindukan kekasihnya. Himpunan mahasiswa fakultasnya sering kali membuat seminar, dan di tahun ajaran baru ini, melihat betapa aktif dan berkontribusinya Joonmyun pada fakultasnya, maka ia diangkat sebagai ketua himpunan, yang membuatnya mendapatkan banyak kesibukan baru di semester empatnya kuliah.

   Mengira bahwa kesibukannya justru akan membawa kebaikan dalam hubungan mereka, Joonmyun salah besar.

   ”Sayang,

   ”Eoh, kau dimana?” tanya Jaehee sambil melepaskan pumps setinggi nyaris duapuluh centimeter buatan Christian Loubotin dan menjulurkan kakinya di kursi sambil memijatnya perlahan. ”Aku sudah selesai pemotretan, masih ada satu sesi lagi. Kau masih di kampus?”

   ”Iya, masih ada rapat.”

   Jaehee menghela napas lega, setidaknya Joonmyun tidak perlu menunggu lama-lama lagi seperti kemarin. ”Kalau begitu nanti langsung setelah rapat datang saja, aku pasti sudah selesai.”

   ”Oke, mau dibawakan apa?” tanya Joonmyun.

   ”Kau tahu aku suka apa,”

   ”Oke, mixberry yoghurt untuk Supermodel,” seloroh Joonmyun.

   Jaehee merasa harinya sempurna. Ia baru saja terpilih sebagai cover tunggal majalah W Korea, salah satu majalah fashion ternama di Korea, yang hanya menampilkan bintang-bintang papan atas itu memilihnya untuk menjadi cover. Ia tak sabar untuk memberitahukan berita bahagia tersebut pada Joonmyun.

   Dan ternyata, kali ini, kekasihnya itu terlambat.

   ”Jaehee-ya, kau belum pulang?” tanya Woori, Manajernya yang mengernyit heran saat melihat Jaehee masih duduk di lobi memainkan ponselnya. Biasanya, kekasih Jaehee yang tampan itu sudah duduk manis di dalam mobil setiap Jaehee selesai bekerja.

   Jaehee mendongak dan mengecek waktu yang ada di layar ponselnya lalu mengernyit. Joonmyun tidak pernah terlambat sebelumnya, bukan?

   ”Kau mau diantar pulang?” tawar Woori.

   Jaehee menggeleng, ”Mungkin Joonmyun sedang mencarikanku mixberry yoghurt, jika di toko langgananku sudah tutup, biasanya dia akan membeli ke toko yang lebih jauh tapi buka duapuluhempat jam.”

   ”Baiklah, langsung istirahat setiba di rumah, dan jangan makan yang aneh-aneh. Kau harus jaga tubuhmu, barangkali ada penawaran untuk iklan lagi besok,” Woori mengedipkan matanya, dan melambai sebelum pergi bersama supir, coordi, stylist, dan makeup artist. Sudah lewat satu jam, Joonmyun pun tak kunjung datang.

   Mulai kesal, Jaehee berulangkali mengirimkan pesan pada laman chatting mereka, bahkan mencoba menghubungi Joonmyun melalui sambungan telepon, namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Dengan emosi menguasai kepalanya, Jaehee sudah berdiri hampir bersiap untuk meminta tolong satpam memanggilkannya taxi saat dilihatnya sebuah mobil BMW SUV memasuki pelataran parkir studio.

   Yang lebih membuat Jaehee emosi, Joonmyun tidak sendiri. Di dalam mobil ada dua atau tiga orang teman-temannya, yang dua diantaranya adalah makhluk berjenis perempuan.

   Jaehee bukanlah tipe gadis pencemburu. Sumpah!

   Dibangku sekolah dulu, Jaehee jarang bersikap tidak rasional dengan marah-marah atau merajuk hanya karena Joonmyun terlihat membantu teman sekolah mereka yang lain—dan perempuan, untuk belajar. Jaehee pun tidak pernah marah jika Joonmyun hanya sekedar berbicara dengan wanita lain. Satu-satunya gadis yang pernah Jaehee cemburui hanyalah Hana, itu pun karena ia tahu benar bahwa jauh sebelum ia pindah ke Gwiguk, Joonmyun adalah salah satu penggemar berat Hana.

   Tapi kali ini, Jaehee merasa berhak untuk marah! Pertama, Joonmyun datang terlambat. Kedua, tidak ada pembicaraan apa pun mengenai lelakinya itu akan membawa teman-temannya di dalam satu mobil, apalagi membawa perempuan yang bahkan namanya atau sekedar ceritanya belum pernah Jaehee dengar dari Joonmyun.

   Untungnya, Jaehee masih ingat bahwa ia harus menjaga sikapnya sebagai seorang model yang tengah naik daun macam Caterpie. Ia mengucapkan salam pada teman-teman Joonmyun sebelum dipersilakan naik di bangku depan oleh teman laki-laki Joonmyun. Hingga ketiganya kemudian turun di stasiun subway terdekat. Dan sejujurnya, Jaehee sedikit kurang suka dengan salah satu teman perempuan Joonmyun yang kerap kali berusaha bicara dengan pacarnya itu. Jaehee hanya tersenyum, menjawab bila ditanya, kemudian kembali memberi salam ketika ketiga teman Joonmyun itu sudah turun dari mobil.

   Setelahnya, ia tak lagi berakting manis, dan langsung memasang wajah masamnya. Joonmyun tidak mengatakan apa-apa, tidak juga minta maaf karena sudah datang terlambat. Pria itu berpikir bahwa dengan sikap sopan Jaehee terhadap teman-temannya tadi menandakan bahwa ia baik-baik saja. Barulah ketika mobil berhenti di depan gerbang rumahnya, Jaehee turun tanpa mengatakan apa-apa dan membanting pintu mobil begitu saja sebelum berlari masuk ke dalam rumah.

   Joonmyun hanya dapat menghela napas dalam-dalam melihat Jaehee tidak menoleh sama sekali padanya, atau bahkan memberinya ciuman selamat malam seperti biasa. Gadis itu benar-benar marah.

 

*        *        *

Jaehee mendapatkan libur tiga hari. Joonmyun kebetulan juga selesai ujian bisa meluangkan waktunya dua hari. Mereka berdua sudah berjanji hendak jalan-jalan ke gunung terdekat, dan berkemah disana. Tanpa ponsel, sehingga mereka bisa menghabiskan waktu benar-benar hanya berdua saja.

   Tapi seperti biasa, tiada angin dan tiada hujan, Jaehee dipanggil ke kantor karena ada pertemuan mendadak dengan sebuah brand apparel ternama Korea Selatan, yang kemungkinan besar akan memasangkannya dengan salah satu idol group ternama sebagai modelnya.

   ”Kapan lagi kesempatan seperti ini bisa datang padamu, Jaehee-ya?” itu yang dikatakan Woori, juga Direkturnya. Orang-orang disekitarnya menganjurkannya agar mengambil pekerjaan tersebut, dan jika Jaehee menjelaskan ia sudah memiliki janji temu dengan Joonmyun, mereka akan menertawakannya dan mengatakan bagaimana mungkin ia lebih memilih membuang waktu untuk berkencan daripada mengambil pekerjaan yang akan membuat kariernya menanjak.

   ”Joonmyun tidak akan senang,” gumam Jaehee sambil memijat pelipisnya, dan menempelkan ponselnya di telinga. ”Memangnya tidak bisa hari lain? Tidak bisa digeser jadi Senin kah pertemuannya? Aku jarang mendapatkan libur, Eonnie.”

   Didengarnya Woori hanya menarik napas, seolah-olah sudah paham akan setiap keluhannya. ”Aku tahu, tapi kau harus mengerti. Mereka adalah brand besar, yang apa konsekuensinya jika kita sejak awal sudah bertingkah pada mereka? Mereka tidak akan memakai jasa kita lagi, Sayang. Sebagai Manajermu, jelas aku tidak dapat membiarkan hal tersebut, geuchi? Kau adalah salah satu model ternama di Korea Selatan sekarang, dan mungkin dalam waktu dekat akan banyak tawaran berdatangan untukmu jika kau terus stabil dalam pekerjaanmu.”

   ”Tapi Eonnie, aku hanya ingin libur selama tiga hari ini. Aku bahkan jarang bertemu dengan kedua orangtuaku.” Rengek Jaehee, memohon. ”Tolonglah, Eonnie… aku benar-benar ingin beristirahat. Kuliahku juga sedang banyak-banyaknya tugas.”

   ”Sayang, jika kau sudah menjadi model top, kuliah sudah bukan lagi hambatan.” Sahut Woori.

   Jaehee diam, dan merasa tidak suka. Ia ingat, ketika ia memutuskan untuk terjun dalam dunia modeling, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengabaikan pendidikan. Tetapi sepertinya orang-orang disekitarnya justru menyarankan hal yang sebaliknya.

   ”Kujemput kau pukul duabelas, oke?” Woori mendorongnya lagi. ”Katakan saja pada Joonmyun dia bisa menjemputmu setelah meeting selesai, dan beres bukan?” Belum sempat Jaehee menjawab, sang Manajer sudah memutuskan sambungan telepon. Ia hanya bisa menggeram kesal sendiri dan melempar ponselnya begitu saja ke atas kasur.

   Tak lama ponselnya berdering kembali, dan nama Joonmyun lah yang memenuhi layarnya. Jaehee ingin menangis dan menendang kaki kasur sebelum terpincang-pincang sendiri seraya menggeser kursor berwarna hijau.

   ”Sayang, sudah siap?” tanya Joonmyun setelah Jaehee membalas sapaannya. Dari nada bicaranya saja, Jaehee sudah dapat mendengar antusiasme yang membuatnya justru semakin merasa bersalah. ”Aku baru kembali dari supermarket dan membeli daging sapi. Tanpa lemak, lho… jadi kau tidak usah khawatir akan menggemuk, karena supermodelku ini akan tetap bertubuh ideal. Atau malah berotot karena tentu saja kita akan mendaki.”

   Jaehee terkekeh kecil, namun Joonmyun pastilah bisa mendengar nada miris dan sedih yang keluar dari mulutnya.

   ”Hmm, ada apa?” Joonmyun bertanya dengan suara siaga. Sepertinya pacarnya itu sudah terbiasa dengan gestur, atau bahkan nada suara Jaehee yang mengindikasikan bahwa janji mereka akan batal sekali lagi. ”Apa ada masalah?”

   Jaehee menggeleng, ”Hmm… Woori Eonnie tadi menghungiku…” dan Jaehee sudah bisa mendengar dengusan Joonmyun. Sebelum kekasihnya itu bisa membalas ucapannya, Jaehee buru-buru bicara, ”Tapi tidak jadi batal, kok! Aku tetap bisa pergi, Myeonie!”

   ”Jadwal mendadak apa lagi yang ia berikan padamu memangnya?” Jaehee tahu Joonmyun kini tengah berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya.

   ”A…aku… kata Woori Eonnie, SPAO akan mengontrakku untuk jadi modelnya bersama EXO. Perusahaan menyarankanku untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pertemuannya akan dilangsungkan nanti siang jam dua.” Sesuatu yang seharusnya menyenangkan, membahagiakan semacam ini, justru ia jelaskan dengan nada yang sangat-sangat menyedihkan. Jaehee tidak pernah tahu bahwa harga kariernya semahal ini.

   ”Apa?!” seru Joonmyun. Sejenak, Jaehee berpikir Joonmyun akan bersorak bergembira dengan prestasi yang sekali lagi berhasil ia raih karena kerja kerasanya. ”Jika meeting-mu itu dimulai jam dua, mau mulai jam berapa kita mendaki dan berkemah? Kau mau tengah malam buta kita masih mendaki? Mau sampai jam berapa? Besoknya lagi kita harus kembali lebih awal karena tentu saja kau harus bekerja dan aku harus kuliah.”

   ”Joonmyun-ah, aku sudah berusaha menjelaskannya kepada pada mereka, tapi mereka bilang hanya sebentar dan aku bisa libur.”

   “Sayang, sudah berapakali waktu istirahatmu digunakan seperti ini?! Ini namanya ekploitasi, kau berhak mangkir, karena ini memang hari liburmu! Mereka memanfaatkanmu yang selalu menuruti keinginan mereka!”

   ”Anhi, mereka hanya ingin yang terbaik untuk karierku.”

   ”Tapi ini namanya pelanggaran kontrak, Jaehee-ya!”

   ”Joonmyun-ah… jebal, setelah aku selesai meeting kita bisa…”

   ”Dwasseo!”

   ”Joonmyun-ah, Kim Joonmyun… tolong jangan bersikap seperti ini,” Jaehee mulai menangis. ”Jangan posisikan aku di tempat sulit, antara memilih pekerjaanku dan kau. Kau tahu betul aku juga sedih liburan kita harus berakhir seperti ini.”

   ”Sudahlah,” Joonmyun menghela napas, ”Kau kerja saja yang benar…” dan ia menutup sambungan telepon.

 

*        *        *

Deal!

   Jaehee resmi menjadi model dari brand apparel SPAO. Pemotretran akan mulai dilakukan pekan depan setelah semua administrasi dan tetek bengek masalah kontrak diselesaikan. Jaehee akan menjadi wajah SPAO bersama idol group ternama EXO untuk koleksi musim panas tahun ini.

   Seharusnya ia senang. Bahwa sebentar lagi, ia akan menjadi pusat perhatian saat namanya sama diumumkan akan bersanding dengan idol group yang kini tengah naik daun, di Korea Selatan, maupun mancanegara. Apalagi SPAO bukan hanya brand apparel yang membuka gerainya di Korea. Kenyataannya, ia justru sedih. Ia tahu, ia telah membatalkan untuk kesekian kali janjinya pada Joonmyun.

   Joonmyun juga tidak bisa dihubungi. Entah memang sibuk, atau memang sengaja mengabaikan pesan dan panggilannya, yang jelas sore itu Jaehee terpaksa naik kendaraan umum untuk pulang, karena biasanya Joonmyun yang menjemputnya, dan dia tidak lagi merasa nyaman dengan tim manajemennya setelah pemaksaan mereka padanya hari ini.

   Karena Joonmyun tidak bisa dihubungi sama sekali, Jaehee memutuskan untuk pergi sendiri ke restoran favorit mereka berdua. Jaehee ingin makan sepuasnya, seperti saat dia masih sekolah dulu, setiap ia sedang kesal. Sayangnya, begitu Jaehee mendorong pintu kaca restoran favoritnya, ia malah menemukan Joonmyun tengah tertawa dengan salah satu teman perempuannya yang waktu itu ikut mobil mereka.

 

 

*        *        *

Ketika dikejar, Jaehee sudah pergi naik taksi. Joonmyun memang kesal pada kekasihnya, namun ia tidak pernah berniat untuk balas menyakiti gadis itu. Ia pun tak menyangka bahwa hari itu Jaehee akan datang ke restoran favorit mereka.

   Sebenarnya teman-temannya membuat janji temu juga hari itu, namun Joonmyun menolak tawaran mereka karena ingin pergi bersama Jaehee, bukan? Sayangnya, Jaehee lah yang justru membatalkan janji. Memang Jaehee bilang tidak akan makan waktu seharian, tapi ia sudah terlanjur kesal, dan memutuskan untuk bergabung dengan teman-temannya untuk malam mingguan. Saat itu, yang baru tiba hanyalah dirinya dan Jiyeon, mereka berbincang berdua sambil menunggu teman-teman yang lain sampai.

   Sayangnya, justru Jaehee melihatnya. Jika gadis itu meninggalkan restoran dengan tenang, tentu saja Joonmyun tidak akan menyadari bahwa ia datang. Tapi, karena kaget, Jaehee justru terantuk kursi dan meninggalkan restoran dengan terburu-buru sambil menutup pintu restoran dengan keras.

   ”Kok kembali? Mana pacarmu?” tanya Jiyeon ingin tahu, begitu Joonmyun kembali dengan wajah pias karena gagal mengejar Jaehee. Joonmyun merosot di kursinya sambil mengeluarkan ponselnya. ”Pulang? Dia salah paham?”

   Joonmyun mengangguk singkat, mengetikkan pesan, namun kali ini justru Jaehee yang balas mengabaikannya. Joonmyun tidak mengerti bagaimana hubungan mereka bisa berubah menjadi penuh duri seperti ini. Ia sudah lelah sekali bertengkar kekasihnya.

   ”Oh iya, katamu kemarin kau dan Jaehee mau pergi berdua? Kenapa malah tidak jadi?” tanya Jiyeon penasaran, tidak begitu memperhatikan bahwa temannya ini sedang gusar karena Jaehee mematikan ponselnya.

   Joonmyun mengangkat bahu, ”Dia ada pekerjaan hari ini, dan tadi baru selesai.”

   ”Lalu kau mengajaknya kesini?”

   Joonmyun menggeleng.

   Jiyeon terkikik. ”Lalu dia marah karena melihatmu bersamaku? Pacarmu lucu juga ya… padahal, ya apalah aku jika dibandingkan dia yang supermodel.” Kekehnya.

 

*        *        *

Untungnya, kemudian mereka berbaikan. Joonmyun menunggu sampai teman-temannya yang lain tiba, dan pamit bahwa ia harus menemui kekasihnya. Jiyeon justru membeberkan pada teman-temannya yang lain bahwa Joonmyun disini tadi bersama Jaehee sudah bak drama-drama di televisi. Pada akhirnya teman-temannya justru meledeknya sebagai lelaki yang takut akan pacarnya sendiri.

   Apa pun yang terjadi hari itu, mereka berbaikan. Joonmyun juga merasa bersalah karena sudah membuat Jaehee salah paham, dan Jaehee bersalah karena sudah membatalkan janji kesekiankalinya. Mereka berciuman di depan pintu rumah sampai Sehun harus berdecak dan mengusir keduanya dari depan pintu, geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik tirinya tersebut.

   Ketika keduanya mengira hubungan mereka akan membaik, Jaehee semakin khawatir saat melihat banyak sekali pesan-pesan masuk dari gadis bernama Park Jiyeon ke ponsel kekasihnya. Dari pesan-pesan itu, Jaehee menemukan bahwa Jiyeon kerap kali meminta Joonmyun untuk berangkat kuliah dan pulang bersama-sama. Kesibukan Jaehee setelah menjadi model SPAO pun membuatnya semakin tidak bisa mengontrol rasa cemburu dan was-wasnya karena tidak bisa selalu berada disamping Joonmyun.

   Dalam berbagai kesempatan, atau waktu senggangnya, Jaehee yang biasanya menghubungi Joonmyun diluar jam kuliah pria itu kini justru semakin ekstrim. Mengiriminya chat, meneleponnya, dan meminta video call meskipun Joonmyun mengatakan ia tengah kuliah. Jaehee tahu ia menjadi over posesif dengan Joonmyun, tapi ia tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya, karena menurut pendapatnya gadis bernama Jiyeon ini pastilah menyukai kekasihnya. Belum lagi, jadwal gila-gilaan yang dilimpahkan manajemen kepadanya membuatnya tambah stress.

   Mendapat perlakuan ekstra berlebihan dari Jaehee, tentu saja sebagai laki-laki Joonmyun mulai kesal. Ia tahu, Jaehee masih belum bisa melupakan kejadian dimana gadis itu mendapati dirinya dan Jiyeon tengah jalan berdua. Tapi ini benar-benar berlebihan. Joonmyun merasa tidak dipercaya. Belum lagi, Jaehee yang akan super curiga dan marah jika Joonmyun tidak bisa menjemputnya seperti biasanya lagi.

   Musim ujian sudah tiba, Jaehee yang kuliahnya sudah mulai kacau balau akhirnya memutuskan untuk cuti selama satu semester terlebih dahulu tentunya tidak memiliki kekhawatirkan akan tugas kuliah dan kuis-kuis seperti Joonmyun. Joonmyun juga tengah mempersiapkan sebuah seminar tentang pengusaha muda di Seoul, yang akan dihadiri oleh perwakilan mahasiswa jurusan Manajemen dari berbagai fakultas di Asia Timur.

   Jangankan menghubungi Jaehee, untuk makan saja terkadang Joonmyun lupa. Untungnya teman-temannya kerap mengingatkannya, jika tidak, bisa saja tubuhnya ambruk. Dan Joonmyun lupa untuk menceritakan setiap detail jadwalnya sendiri, hingga Jaehee marah-marah menuduhnya yang tidak-tidak soal dirinya berkencan dibelakangnya, tidak punya waktu untuk dirinya (karena Jaehee akhirnya bisa menyempatkan diri), dan sebagainya lagi. Suara Jaehee yang marah di telepon tentunya terdengar oleh teman-temannya, dan lagi mereka menertawakan Joonmyun.

   ”Gadis itu kan model,” kekeh Jiyeon dengan nada super geli. ”Masa iya, dia harus cemburu denganku? Berarti aku jauh lebih cantik darinya, benar?” dan teman-temannya justru tertawa mendengar ucapan gadis itu.

   Jonghyun, temannya yang lain berujar, ”Man, hubungan kalian sudah tidak sehat. Kau dimarah-marahi. Memang kau siapa? Supirnya? Hahaha…”

   Dan kali ini Joonmyun mematikan ponselnya dengan hati dingin, mengabaikan semua omelan dan tuduhan tak masuk akal Jaehee.

 

*        *        *

”Apa kau bisa tidak usah marah-marah setiap di telepon?! Kau kira aku ini apa? Supirmu? Manajermu?!”

   ”Kau yang tidak pernah terus terang akan jadwalmu sejak kau kenal dengan teman-temanmu yang super hebat itu!”

   ”Oh maaf kalau aku dan teman-temanku bukan model yang terjun di dunia entertainment, hingga kami membosankan bagimu! Aku sibuk, karena ini kuliahku, pendidikanku, Jaehee-ya! Ini demi masa depanku, sama seperti kau yang mengejar karier karena itu mimpimu dan masa depanmu! Stop menjadi menyebalkan, dan mengertilah juga kesibukanku. Kau kira hanya kau saja yang bisa sibuk?!”

   ”Lalu kenapa kau tidak bilang dari awal?!”

   Pertengkaran yang tak berujung. Jaehee tidak mau mengalah, Joonmyun juga tidak mau kalah. Apa pun yang Jaehee tuduhkan padanya, semuanya justru ia lakukan. Untuk apa dimarah-marahi jika memang tidak melakukan? Lebih baik sekalian saja toh sama-sama dimarahi pada akhirnya. Joonmyun muak.

   ”Tapi… aku akhirnya libur, Joonmyun-ah!” Jaehee nyaris menjerit saat tiba di depan pintu apartemen Joonmyun dan mendapati pacarnya itu sudah siap di depan rumahnya, hendak berangkat pergi entah kemana lagi. ”Aku akhirnya memperjuangkan apa yang kau katakan selama berbulan-bulan lalu, dan mereka akhirnya benar-benar memberikanku libur. Bukankah kita mau pergi berkemah?!”

   ”Kau baru ada kabar tadi pagi, dan aku sudah berjanji bersama teman-temanku untuk pergi ke Busan hari ini. Tiket keretanya sudah dibeli, Jaehee-ya… aku tidak bisa membatalkannya begitu saja.”

   ”Tapi, aku sudah disini… oh, damn… kuganti uang keretanya, bagaimana?” mohon Jaehee. Dua matanya kini sudah dipenuhi dengan kristal-kristal bening. Ia merindukan Joonmyun, banyak sekali yang ingin ia katakan, ceritakan. Ia merindukan sandarannya, ia merindukan nasihat, dan pendapat Joonmyun. Ia ingin hanyut dalam pelukan yang selalu membuatnya aman dan nyaman. Tapi Joonmyun seperti sudah berdiri di sebrang lautan.

   Joonmyun terkekeh. ”Ya, aku tahu uangmu banyak… tapi aku juga mampu membayar tiket keretaku sendiri. Dwaesseo, pulanglah…”

   ”Joonmyun-ah… aku… aku merindukanmu…” mohon Jaehee sambil meraih tangan Joonmyun. ”Jangan ke Busan… temani aku disini, aku ingin bicara denganmu. Banyak yang ingin kuceritakan padamu…”

   Joonmyun menghela napas, ia sebenarnya tidak tega melihat Jaehee sampai memohon-mohon seperti ini. Tetapi seminar di Busan juga bukan seminar sembarangan. Jika ia mendapatkan sertifikat seminar tersebut, ia bisa mulai magang dan bisa meniti usahanya sendiri bahkan sebelum ia selesai kuliah.

   ”Tunggu aku di rumah ya, aku akan pulang besok… hmm?” dengan lembut Joonmyun berusaha membujuk Jaehee. ”Besok kita bertemu, besok kita jalan-jalan, oke?”

   ”Tapi… hari ini, jebal, aku butuh kau hari ini.”

   ”Tidak bisa, Jaehee-ya, mengertilah… tiketnya sudah dibeli.”

   ”Kuganti.”

   ”Bukan masalah harga tiket!” tukas Joonmyun mulai frustasi. ”Disana ada seminar, dan aku ingin mendapatkan sertifikat tersebut…”

   ”Seminar itu lebih penting daripada aku?!”

   Mulai lagi.

   ”Sekarang kutanya padamu,” Joonmyun berkacak pinggang. ”Selama ini… mana yang lebih penting? Kariermu? Aku?”

   Jaehee terbata-bata, bibirnya bergetar.

   ”Karier, kan? Bahkan yang kau bilang kuliah itu penting pun, kau tinggalkan begitu saja. Jadi berhenti mengeluarkan pertanyaan mana yang lebih penting antara kau dan pendidikan, karena tidak sepertimu, aku akan memilih pendidikanku!” tandas Joonmyun sambil meninggalkan Jaehee yang menangis.

   Sejak itu, Jaehee menjauh.

   Tali itu terputus. Jaehee tidak lagi berusaha menyambungkan tali yang memang sudah rapuh sejak lama, dan Joonmyun terlalu lelah untuk mempertahankannya.

-TBC-

Aaaaaaaaa #iniapa

Mungkin kalian pembaca setia Imperfection-nya IMA, rada shock sama FF ini LOL. Ide ceritanya ini udah lumayan lama, dari jaman-jaman si Imperfection-nya sendiri masih belum ending. Aku sama Ima, sering banget diskusi soal jalan cerita FF berdua, dan karena kami sering menyelipkan karakter-karakter favorit satu sama lain di setiap FF-FF kami berdua, sering banget misalnya di FF Ima, aku ada ide untuk jalan cerita couple Joonmyun-Jaehee, begitu pula sebaliknya Ima ada ide untuk jalan cerita Jongin-Hana di FF aku. Jadi dari situlah FF ini berasal.

Setting-nya seperti yang kalian tau, yang udah baca Imper tentunya, kalau ini kisah Joonmyun-Jaehee setelah lulus sekolah SMA, gimana dimata Jongin-Hana, hubungan dua sahabat mereka ini terlihat sempurna, adem ayem, tanpa masalah… dan tadaaaaa…

Anyway, kalau kalian baca tolong tinggalkan komentarnya yaa, gimana pendapat kalian soal FF ini ^^ buat pembaca Imper yang penasaran sama nasib Sehun, gimana Hana / Jongin di masa kuliah, kalian bisa terus pantengin IMPERFECTION yang satu ini ^^

bye yeom

XoXo,

neez

108 responses to “[IM]PERFECTION – 1ST SLIDE — by Neez

  1. Ulululu Jaeheenya manja terus Junmyeonnya ngambekan:”3 baru baca part 1 tapi udah main emosi (?) 😂 btw kak neez aku pembaca baru disini. Gara gara cari FF Junmyeon yang bagus kan susah tuh, terus nyasar disini:3

  2. jadi ini lanjutan atau gimana thor? aku tertarik sih, kasian juga skaligus… sama” sibuk gtu… aduh… gimana kelanjutannya… oke aku penasaran❤ aku harap aku diizinkan untuk membaca ff ini oke thor? Keep writing and hwaiting ^^

  3. Jadiii ini kelanjutan imperfection versi suho sama jaehee?? Pantesaan aja judulnya 11 12 ㅋㅋㅋ
    Jaehee ngejauh?? Trs gmana dong??

  4. Knp nyesek bgt:'( mereka udh nyoba buat brtahan, tp keadaan yg bikin mereka kek gt:'( rasany kek masuk ke cerita. Btw salam knl ya author, ijin baca^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s