10 Steps Closer [4th Step]

10-steps-close-chaniel-3

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah | Kang Chan Hee

Genre: Romance, Comedy, Marriage Life

Prev: 10 Steps Closer [Prolog] || 10 Steps Closer [1st Step] + Announcement || 10 Steps Closer [2nd Step] || 10 Steps Closer [3rd Step]

———————————————–

4th Step

 

“Dan aku mungkin sudah gila.”

 

***

                Bel tanda pergantian pelajaran keempat berbunyi.

Okay, class. See you tomorrow.”

Seo Ah tersenyum saat ketua kelas memberi aba-aba untuk memberi salam lalu keluar dari kelas dengan membawa laptop dan bukunya. Di koridor, ia bertemu beberapa murid yang menyapanya. Seo Ah merupakan salah satu guru yang paling disukai di SMA ini. Selain karena masih muda, banyak yang mengatakan kalau metode pelajaran Seo Ah sangat mudah dipahami. Padahal baru setahun ia bekerja, tapi sudah masuk nominasi guru berprestasi tahun ini.

Ponsel Seo Ah bergetar, tanda ada pesan masuk, saat ia akan berbelok di koridor. Ia merogoh saku celana hitamnya dan mengambil ponsel itu. Ada pesan dari salah satu muridnya yang duduk di kelas tiga, Kang Chan Hee. Bisa dibilang Chan Hee adalah murid yang paling dekat dengannya. Nyatanya meski Chan Hee sudah lancar berbahasa Inggris, ia tidak pernah melewatkan pelajaran Seo Ah, padahal guru-guru yang lain sering mengeluh dengan tingkah bocah itu.

 

Kang Chan Hee

                Saem, aku sedang di klinik. Tolong jenguk aku😦

 

Seo Ah terkekeh membaca pesan itu. Dari luar saja ia terlihat nakal dan disegani, tetapi sebenarnya Chan Hee adalah anak yang manja penuh aegyo. Dia bahkan mengirimi Seo Ah foto selca juga stiker yang menggambarkan kalau ia sedang kesakitan.

Seo Ah tidak membalas, tapi ia memutar langkahnya menuju klinik sekolah. Karena tidak ada jam mengajar setelah ini, Seo Ah bisa sedikit bersantai. Bermain bersama anak itu kedengarannya tidak terlalu buruk. Chan Hee tidak pernah kehabisan bahan cerita saat bersama Seo Ah. Kalau saja bel pelajaran tidak mengganggu, mungkin Seo Ah bisa seharian hanya bersama Chan Hee.

Kang Chan Hee mengerucutkan bibirnya karena Choi Saem hanya membaca pesannya, tidak juga membalas. Ia kembali merebahkan kepalanya ke bantal dan mengalihkan pandangan ke luar jendela. Di sana teman-teman sekelasnya sedang bergantian lari 400 meter. Dan Chan Hee bersyukur ia tidak perlu melakukan itu karena cidera pergelangan kakinya masih bekerja. Ya… walaupun satu sisi ia sedih juga karena itu artinya ia tidak diizinkan menari oleh ibunya sampai cideranya sembuh.

Sreg!

Mendengar suara pintu digeser Chan Hee memutar kepalanya dengan cepat. Ia mengenal langkah kaki ini. Entah apa yang terjadi dengan kepala Chan Hee, setiap detil tentang guru itu ia hapal tanpa sadar. Dari mulai kata pertama yang akan diucapkannya saat masuk kelas, sampai minuman apa yang akan Choi Saem beli di vending mechine. Chan Hee pun buru-buru duduk dan memasang wajah lemas.

“Ck, ck, ck, apa yang sedang kau lakukan, Anak Malas?” itulah kalimat pertama Choi Saem saat membuka tirai pembatas kasur Chan Hee. Dia masih membawa alat-alat mengajarnya, itu berarti Choi Saem langsung ke sini setelah mengajar. Jantung Chan Hee pun berdebar.

Saem, kakiku sakit sekali.” Chan Hee menggerakkan pergelangan kaki kanannya lalu meringis sendiri.

Choi Saem duduk di sisi kasur Chan Hee, lalu dengan sengaja malah menepuk pergelangan kakinya.

Saem!”

“Dasar manja! Siapa suruh melukai sendimu seperti ini?!”

“Ini sudah menjadi hal biasa bagi penari.”

“Kalau begitu jangan mengeluh!”

Chan Hee menundukkan kepalanya, itu membuat Seo Ah tidak tahan untuk tidak mengacak rambut bocah itu. Merasakan sapuan tangan Seo Ah di kepalanya, Chan Hee mengangkat kepalanya lagi. Tapi bukan wajah konyol seperti yang biasa ia tunjukkan. Terlihat getaran di bola mata bocah laki-laki itu, dan ekspresinya terlihat lebih serius.

Saem, would you stay with me here?”

Seo Ah melihat jam tangannya. “Sepertinya tidak bisa lama-lama. Aku harus makan siang dan setelah itu harus mengajar di kelas 2-C.”

Ah… I’m so hurted….” Chan Hee meremas jantungnya dan pura-pura kesakitan. Benar, kan, Chan Hee selalu bisa membuat Seo Ah terkekeh dengan tingkah konyolnya ini. Padahal tadi wajahnya terlihat sangat serius.

Don’t you better study for the test?”

That must be waste of time. I already have a gold brain.” Chan Hee mengetuk pelipisnya sambil tersenyum lebar.

Alright, Mr. Gold Brain.”

Seo Ah dan Chan Hee tertawa bersama. Salah satu alasan Seo Ah senang berbicara dengan Chan Hee adalah karena anak ini sudah lancar berbahasa Inggris. Terkadang Seo Ah membutuhkan teman untuk melatih kemampuan berbicara Bahasa Inggris-nya, dan Chan Hee bisa menjadi partner yang baik. Ia tidak bisa melakukan itu bersama Chan Yeol. Jangankan berbicara Bahasa Inggris, memakai Bahasa Korea saja jarang. Terlebih sejak kejadian itu.

Chan Yeol memintanya memasak. Bukannya Seo Ah tidak bisa memasak, hanya saja ia terlalu terkejut dengan permintaan Chan Yeol itu. Dan sampai saat ini, ia belum bisa mengabulkannya. Entah kenapa. Seolah ada satu sisi hatinya yang masih merasa berat untuk melakukan itu. Belum waktunya—mungkin.

Saem.”

“Eh? Kenapa?”

Chan Hee menggeleng pelan. Ia hanya ingin menyadarkan Choi Saem tadi karena mengabaikannya. Well, Chan Hee tidak suka diabaikan, apalagi dengan wanita ini. Oleh karena itu ia selalu bertanya saat pelajaran Choi Saem dengan menggunakan Bahasa Inggris yang kelewat lancar. Ada kebanggan sendiri saat teman-temannya terbengong-bengong mendengar percakapan mereka yang minim mereka ketahui artinya.

Saem, aku sedang belajar Bahasa Jepang, lho.”

“Benarkah? Aku juga pernah belajar Bahasa Jepang, malah pernah tinggal di sana dua tahun.”

“Aku tahu.”

Seo Ah terpekur beberapa saat mendengar jawaban Chan Hee. Ia terdengar lebih dewasa beberapa tahun ketika mengatakan itu. Seo Ah sampai merinding mendengar suara rendah dan berat milik Chan Hee tadi—hampir mirip suara Chan Yeol. Dan entah kenapa Seo Ah merasakan tatapan mata Chan Hee lebih intens melihatnya.

Saem tidak bertanya kenapa aku belajar Bahasa Jepang juga?”

Perlu beberapa detik untuk Seo Ah paham. “Apa kau ingin meneruskan sekolah di Jepang?”

Chan Hee menggeleng. “Bukan.”

“Kau menyukai gadis Jepang?”

“Uhm…” Chan Hee memutar bola matanya dengan gerakkan lucu. “Lebih tepatnya… dia bisa berbahasa Jepang.”

“Benarkah? Eiy… kau sudah besar ternya—“

Gerakkan tangan Seo Ah yang sedang mengacak rambut Chan Hee—lagi—terhenti karena anak laki-laki delapan belas tahun itu menahan tangannya. Perlahan, ia menurunkan tangan Seo Ah dari puncak kepalanya. Seo Ah hanya bisa diam, karena jujur ia masih belum bisa menangkap arti tindakkan Chan Hee yang berbeda dari biasanya ini. Chan Hee melepaskan imej ‘nakal’-nya dan bertingkah layaknya laki-laki dewasa. Ia tidak menatap Seo Ah dengan eye smile-nya, tapi sebuah tatapan yang membuat Seo Ah tanpa sadar mengerutkan dahinya. Jangan bilang kalau anak ini kerasukan hantu klinik.

Saem, suki desu (*aku menyukaimu).”

Mulut Seo Ah terasa kaku. Tapi ia berusaha mengenyahkan pikiran konyol yang mulai berputar di otaknya. “T-Tentu saja kau harus menyukaiku! Aku ini kan guru—“

Anata wa sensei dewa arimasen, demo onna desu (*bukan sebagai guru, tapi wanita].”

Seo Ah kehabisan kata. Ia bingung harus menjawab apa pernyataan cinta Chan Hee itu. Ia tentu menyukai Chan Hee, namun hanya sebatas karena dia anak yang menyenangkan dan cepat menangkap pelajaran. Chan Hee pun bisa menjadi partner-nya dalam latihan berbicara. Hanya sebatas itu. Tapi ternyata anak ini salah mengartikan sikap luwes Seo Ah padanya.

“Chan Hee-ya… Aku tidak bisa.”

Ekspresi Chan Hee berubah, antara marah juga sedih. “Kenapa? Apa Saem sudah punya pacar.”

“Bukan begitu, tapi—“

“Kalau begitu, bukan masalah.”

Chan Hee melepaskan genggamannya pada tangan Choi Saem. Tapi wajah gurunya itu malah semakin membuatnya yakin kalau sudah melakukan hal yang salah. Ia pun kembali berkata, untuk mengurangi rasa sakitnya yang semakin nyata ini.

Saem tidak perlu menjawabnya sekarang. Tapi aku ingin mendengarnya saat study tour minggu depan. Di Jeju.”

***

                Sejak saat itu, Chan Hee terlihat menghindari Seo Ah di sekolah. Seminimal mungkin ia berinteraksi dengan Seo Ah—tidak banyak bertanya, bahkan terang-terangan memutar arah saat melihat Seo Ah. Chan Hee benar-benar tidak ingin mendengar jawaban yang sudah di ujung lidah Seo Ah sebelum waktu yang ditentukannya. Ia pun mengabaikan semua pesan Seo Ah, seolah kontak Seo Ah diblokir olehnya.

Dan itu menjadi beban sendiri bagi Seo Ah.

Bukan ingin menyalahkan, tapi Chan Hee seperti melimpahkan semua sakit hatinya pada Seo Ah. Jawabannya sudah jelas, Chan Hee mungkin saja tahu kalau ia sama sekali tidak memiliki kesempatan. Bukan hanya perbedaan umur mereka yang mencapai tujuh tahun, tapi juga status mereka sebagai murid dan guru. Meski bukan murid dan guru pun Seo Ah tidak mungkin menerima Chan Hee. Ia sudah menikah. Dan Seo Ah bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta pada laki-laki yang memiliki senyum seperti anak anjing.

Setelah hari pengakuan Chan Hee, Seo Ah pun hampir setiap saat kehilangan fokusnya. Ia jadi sering melamun untuk memikirkan bagaimana cara menolak Chan Hee sehalus mungkin tanpa menyakiti hati bocah laki-laki itu. Tapi semakin dipikirkan semakin kepalanya sakit. Seo Ah sama sekali belum menemukan jawabannya, karena itu seperti dua mata pisau. Tidak ada penolakkan yang tidak melukai, Seo Ah tahu itu.

Saat ini pun Seo Ah tidak luput dari serangan ‘melamun’-nya. Ia sedang berada di ruang makan, bersama Chan Yeol duduk di seberangnya. Yoon Ahjumma baru saja selesai menata makanan di atas meja, namun Seo Ah tidak mengucapkan terima kasih seperti biasa, bahkan mengambil sumpitnya saja tidak.

Awalnya Chan Yeol mengabaikan hal itu karena Seo Ah langsung sadar begitu Yoon Ahjumma memanggilnya sekali. Tapi lama kelamaan tingkah wanita itu semakin aneh. Seo Ah hanya memakan nasinya satu per satu menggunakan sumpit, tatapannya pun kosong. Ia seperti orang kerasukan.

Chan Yeol melirik Yoon Ahjumma yang sudah berada di balik konter dapur, sedang mengelap gelas-gelas. Yoon Ahjumma juga tampak aneh dengan perubahan sikap Seo Ah. Dan saat mata mereka—Yoon Ahjumma dan Chan Yeol—bertemu, wanita paruh baya itu hanya menggeleng pelan, tanda ia tidak tahu menahu kenapa Seo Ah bisa seperti ini. Akhirnya dengan gerakan matanya, Chan Yeol menyuruh Yoon Ahjumma kembali menyadarkan Seo Ah.

“Nyonya.”

Tidak ada respon. Seo Ah tetap makan dengan ‘cara itu’.

“Nyonya Seo Ah.”

Masih tidak mendapat respon, Yoon Ahjumma pun menyentuh pundak Seo Ah. “Nyonya, apa Anda baik-baik saja?”

“Ah! Ahjumma.” Seo Ah mengerjapkan matanya, lalu tersenyum kaku. “Iya, aku baik-baik saja.”

“Apa Anda tidak menyukai makanannya?”

Seo Ah menggeleng. “Tidak, aku menyukainya. Aku akan memakannya dengan baik.”

Tapi, meski Seo Ah berkata begitu, tiga puluh detik kemudian, ia kembali tenggelam dalam lamunannya. Kuah sup yang biasanya diseruput habis terlebih dulu, kini tidak disentuhnya sama sekali. Nasi di mangkuknya hanya berkurang sedikit, karena Seo Ah memakannya mirip seorang yang terkena radang lambung parah. Bahkan ia hanya memakan seiris daging dan bawang, sesudah itu tidak menyentuh lauk pauk.

Oke, Chan Yeol mulai tidak tahan. “Choi Seo Ah.”

“Hm?” Seo Ah seperti orang linglung. Ia pun meletakkan sumpitnya. “Aku sudah selesai.”

Chan Yeol hanya bisa mengembuskan nafas kasar saat Seo Ah menggeser kursinya lalu naik ke kamar. Ia pikir, kepribadian Seo Ah yang biasa sudah sangat aneh dan—kadang—mengganggu pikirannya, tapi Seo Ah yang seperti ini lebih membuatnya frustasi. Seperti orang idiot; pandangan mata kosong dan sering melamun. Chan Yeol pun kehilangan selera makannya, ia juga meletakkan sumpitnya di atas meja lalu memanggil Yoon Ahjumma.

“Apa ada yang aneh saat dia pulang tadi?” tanya Chan Yeol langsung begitu Yoon Ahjumma berdiri di dekatnya. Inilah salah satu tugas Yoon Ahjumma; mengawasi Seo Ah saat Chan Yeol tidak ada. Dan belakangan ini, Chan Yeol jadi lebih sering menanyakan keadaan itu kepada Yoon Ahjumma.

Yoon Ahjumma mengerutkan dahinya, mencoba mengingat. “Nyonya langsung masuk kamar begitu tiba. Saya rasa Nyonya sedang ada masalah dengan pekerjaan.”

Chan Yeol menyenderkan punggungnya sambil menghela nafas. Ia pun melipat tangannya di dada, berpikir. Masalah seperti apa sampai dia terus melamun seperti itu?

“Apa dia tidak mengatakan sesuatu?”

Yoon Ahjumma menggeleng. “Tidak ada, Tuan.”

Seketika Chan Yeol ingat sesuatu; apa ini efek permintaan anehnya tempo hari? Setelah hari itu, Chan Yeol merasa kalau hubungannya dengan Seo Ah menjadi sedikit aneh. Mereka hanya saling menyapa saat sarapan, setelah itu saling diam. Biasanya Seo Ah selalu saja menanyakan hal yang penting padanya, seperti apakah Chan Yeol tidak berniat mengganti password wifi-nya. Chan Yeol pun tidak ahli dalam memulai percakapan. Ia juga tidak berani menanyakan ‘kapan tepatnya Seo Ah akan memasak untuknya’, karena sampai saat ini, hanya masakan Yoon Ahjumma yang mengisi perutnya.

“Baiklah.”

Karena sudah tidak ada gairah untuk menikmati makan malam lagi, apalagi sendirian, Chan Yeol pun beranjak dari sana. Ia sungguh ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan Seo Ah, tapi kemudian ia ingat, Seo Ah sangat tidak suka diganggu. Wanita itu pasti akan marah-marah dengan banmal, seperti waktu itu. Mungkin ada baiknya kalau Chan Yeol memberi waktu untuknya sebentar.

Tapi ternyata Chan Yeol tidak bisa.

Ketika melihat Seo Ah duduk di kasur, di kamar Chan Yeol, sambil memeluk piyama dengan tatapan kosong menerawang dan wajah lelah, Chan Yeol memutuskan kalau ia tidak bisa meninggalkan masalah ini begitu saja. Ia harus tahu masalah Seo Ah. Ia harus tahu sebesar apa masalah yang dihadapi wanita ini sampai-sampai tidak menyentuh udang goreng di meja makan tadi.

“Seo Ah-ya.”

Seo Ah hanya berkedip, tanpa merespon panggilan Chan Yeol.

“Choi Seo Ah!”

“Y-Ya?”

Setelah Chan Yeol menaikan nada suaranya, barulah Seo Ah mengangkat kepala. Hal pertama yang ia sadari, Chan Yeol berdiri di hadapannya dengan dahi berkerut, seperti menahan marah. Dua detik kemudian, pria itu menghela nafas berat, lalu berkacak pinggang.

“Ada apa denganmu hari ini?”

Ada apa? Tidak ada kejadian penting, kecuali ‘MENDAPAT PERNYATAAN CINTA DARI SEORANG MURID’. Ya, sangat penting sampai membuat Seo Ah terus saja melakukan kesalahan saat mengajar, dan hampir menabrak pejalan kaki di lampu merah. Ah, jangan lupakan udang goreng yang dibiarkan begitu saja di piring, karena selera makannya benar-benar hilang. Oh, terkutuklah kau, Kang Chan Hee!

Tapi, meski Seo Ah terus mengumpat, ia sama sekali tidak bisa mengatakan semua itu pada Chan Yeol.

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau terus saja melamun.” Kata Chan Yeol. “Apa ini gara-gara permintaan—“

“Aku tidak apa-apa,” Seo Ah memotong ucapan Chan Yeol. Ia sedang tidak ingin menambah beban di kepalanya. Urusan Chan Hee sudah cukup membuatnya ingin meledakkan seisi rumah, ia tidak mau Chan Yeol mengingatkan hal yang belum tuntas itu. “Mungkin  aku hanya kelelahan.”

Chan Yeol terlihat tidak puas dengan jawaban itu. Ia hanya diam, menatap Seo Ah dengan tatapan menuntut. Seo Ah—yang tahu bahwa Chan Yeol terus memburunya kalau ia mengucapkan satu patah kata saja tentang Chan Hee—memilih untuk beranjak dari sana, pergi ke kamar tidurnya.

“Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya sendiri.” Ucap Seo Ah sebelum menutup pintu.

Ya, semoga saja.

***

                Semakin diabaikan, Chan Yeol malah semakin memikirkan hal itu. Ia ikut-ikutan tidak fokus bekerja hari ini. Untuk pertama kalinya Chan Yeol menyerah untuk pura-pura mengabaikan, dan menelepon Seo Ah. Ia mengajak Seo Ah makan siang, wanita itu pun mengiyakan begitu saja. Jika Chan Yeol boleh menebak, masalah Seo Ah belum juga selesai, dan dia setengah sadar mengiyakan ajakan Chan Yeol itu.

Apanya yang bisa mengatasinya sendiri?! Chan Yeol mendengus sambil memutar kemudinya menuju sekolah tempat Seo Ah mengajar. Ia memaksa untuk menjemput Seo Ah di sana. Bukan apa-apa, ia hanya takut Seo Ah menabrak tiang listrik gara-gara tidak fokus menyetir.

Seo Ah sudah menunggu di luar gerbang sekolah begitu Chan Yeol sampai. Untungnya ia tidak sedang melamun, dan langsung naik ke mobil. Pertanyaan Chan Yeol yang sudah diujung lidah, harus ditelannya lagi karena Seo Ah terlihat tidak ingin bercerita apa-apa. Chan Yeol pun memutar kemudinya lagi, menuju restoran yang sudah ia pesan sebelumnya.

Seo Ah terus melihat ke luar jendela selama perjalanan. Kepalanya bertambah berat karena Kang Chan Hee sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk berbicara empat mata. Anak laki-laki itu terus menghindari Seo Ah, berkilah segala macam, sampai mengeluarkan alasan tidak masuk akal. Udara di sekolah seakan menghimpit paru-paru Seo Ah, tidak mengizinkannya bernafas sampai kepalanya sakit. Untung saja Chan Yeol menelepon dan mengajaknya makan siang di luar.

Meski sedikit, setidaknya Seo Ah bisa bernafas sedikit bebas.

Tanpa banyak bicara, Chan Yeol menyuruh Seo Ah turun dari mobil setelah mereka tiba di depan restoran pasta. Seorang pelayan langsung menuntun mereka menuju meja yang sudah Chan Yeol pesan sebelumnya. Setelah memesan, keduanya terus berdiam diri.

Chan Yeol berdeham, memecah keheningan di antara mereka. “Minggu depan aku ada pekerjaan di luar kota, mungkin beberapa hari.”

“Hm, baiklah.”

Dan, kembali diam. Tidak seperti biasanya, ucapan Seo Ah tadi seperti tanda titik di percakapan mereka. Chan Yeol pun tidak memiliki bahan lagi untuk memulai percakapan. Ia kira Seo Ah akan berceloteh panjang lebar, tapi sepertinya masalah yang Seo Ah hadapi memang sangat berat. Dan… tidak berhubungan dengannya.

Makanan mereka pun datang. Seo Ah memberikan senyum tipis pada pelayan yang mengantarkan makanan mereka, lalu setelah pelayan itu pergi ia mengambil garpunya. Chan Yeol pun begitu, tetapi matanya tetap mengawasi Seo Ah. Ia siap menggebrak meja kalau Seo Ah kembali melamun di hadapannya.

“Kau menjadi pendiam akhir-akhir ini.” Ucap Chan Yeol sambil menggulung Spaghetti dengan garpu.

“Benarkah?”

“Bagiku begitu.”

“Maaf.”

Chan Yeol menaikan sebelah alisnya. Kenapa juga Seo Ah harus meminta maaf? Benar, Chan Yeol sekarang sepenuhnya yakin kalau masalah itu benar-benar besar sampai mampu menggeser otak Choi Seo Ah.

“Kau bisa bercerita padaku.” Chan Yeol melirik Seo Ah. “Kalau mau.”

“Hm, terima kasih.”

Lagi-lagi Chan Yeol harus menelan air liurnya yang terasa pahit itu. Ucapan Seo Ah seolah mengatakan ‘diamlah, aku sedang tidak ingin diganggu olehmu!’ di telinga Chan Yeol. Ia pun memilih diam dan menghabiskan makan siangnya walaupun perutnya sudah bergejolak. Menghadapi Seo Ah yang seperti ini jauh lebih sulit daripada Seo Ah yang tengah marah. Setidaknya Chan Yeol masih bisa meminta maaf kalau Seo Ah marah, tapi kalau seperti ini? Ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan wanita ini—apakah ini kesalahannya atau bukan.

Mereka pun menyelesaikan makan siang dengan tenang, dan Chan Yeol mengantarkan kembali Seo Ah ke sekolah. Namun setelah mereka sampai di depan gerbang pun, Seo Ah masih diam di kursinya. Chan Yeol kira, wanita itu kembali melamun. Tapi kemudian Seo Ah membuka suara.

“Chan Yeol-ssi, apa kau pernah merasa bersalah padahal kau tidak melakukan kesalahan apapun?”

Chan Yeol menelan air liurnya. Jangan-jangan benar, Seo Ah memang tertekan dengan permintaannya. “Mana mungkin ada perasaan seperti itu.”

“Aku juga tidak yakin,” Seo Ah menjawab tanpa menatap Chan Yeol. “Tapi aku merasakannya.”

Hati-hati, Chan Yeol bertanya. “Apa ini… tentang permintaan—“

“Kubilang bukan! Jadi tolong jangan diingatkan!” Seo Ah menaikan nada bicaranya tiba-tiba. Kemudian ia mengembuskan udara, mencoba untuk kembali tenang. “Aku… aku merasa akan melukai seseorang. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa….”

Seo Ah menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar, dan itu membuat Chan Yeol diserang kepanikan. Seo Ah menangis! Dan demi apapun, Chan Yeol pun tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak tahu alasan Seo Ah menangis, apa masalah wanita ini, atau siapa yang akan dilukainya. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara apapun, begitu juga dengan tangannya yang meremas roda kemudi. Yang bisa Chan Yeol lakukan hanya mengerutkan dahinya, berharap itu bisa mengirim sinyal untuk Seo Ah berhenti menangis.

“Kepalaku sakit memikirkannya. Setiap saat aku mencoba mengabaikan, semakin kusut benang di kepalaku. Semua begitu berat bagiku, aku tidak mau melukai tapi tidak mau juga memberi harapan.” Suara Seo Ah sudah terdengar tidak jelas karena isakkannya mengganggu.

Perlahan, tangan Chan Yeol terangkat. Tangan besarnya ragu untuk mengusap punggung Seo Ah, namun dimulai dengan tepukan pelan, Chan Yeol pun menenangkan Seo Ah dengan cara yang paling sederhana. Tangisan Seo Ah makin keras, seolah sedang meluapkan segala isi kepalanya. Chan Yeol makin terenyuh. Entah sadar atau tidak, tangan Chan Yeol merayap menuju tengkuk Seo Ah, lalu menarik kepala wanita itu ke dalam lingkaran tangannya. Wajah Seo Ah sepenuhnya berada di dada Chan Yeol.

“Setiap pilihan hanya menghasilkan satu jawaban. Jika kau memberi harapan, jangan menyakiti. Namun kalau ingin membuatnya jelas, berhenti memberi mereka harapan. Karena harapan hanya membuat semuanya akan menjadi lebih menyakitkan.”

“Aku harus bagaimana….”

Mana aku tahu?! Aku saja tidak tahu masalahmu! Ingin sekali Chan Yeol meneriakan itu di depan wajah Seo Ah. Tapi keadaan tidak memungkinkan, jadi ia hanya menghela nafas. “Terserah padamu.”

Seo Ah mengangkat kepalanya. Mata yang sembab dan merah itu membuat Chan Yeol menahan nafas beberapa detik. Untung Chan Yeo sangat ahli dalam mengontrol raut wajah, jadi tidak terlalu jelas kalau ia terkejut melihat betapa kacaunya wajah Seo Ah. Ini pertama kalinya Chan Yeol melihat Seo Ah menangis. Itu membuat jantungnya seperti diremas kuat, dan kakinya terasa kebas.

Seo Ah melepaskan diri dari lingkaran tangan Chan Yeol, kembali duduk di kursinya dengan kepala tertunduk. “Seorang murid… dia… menyukaiku.”

Chan Yeol kehilangan kemampuan untuk mengontrol ekspresi, ia benar-benar terkejut. Matanya membulat, meski mulutnya terkatup rapat, hampir tidak ada celah. Wajahnya sangat kaku. Tanpa Seo Ah sadari—atau bahkan Chan Yeol sendiri—tangan kirinya meremas kuat roda kemudi, dan satunya mengepal di punggung Seo Ah. Ia tentu paham betul apa maksud ‘menyukai’ yang Seo Ah katakan. Pastinya bukan rasa suka biasa antara murid dan guru, karena mampu membuat Seo Ah seperti ayam linglung belakangan ini.

“Aku menyukainya—maksudku, dia murid yang baik dan pintar,” Seo Ah buru-buru meralat, takut Chan Yeol salah mengartikan ucapannya. “Aku tidak menyangka kalau dia salah paham dengan semua itu.”

“Bodoh.” Gumam Chan Yeol, amat pelan sampai-sampai Seo Ah tidak mendengarnya.

“Dan dia mengatakan, aku harus memberinya jawaban saat study tour nanti.”

Chan Yeol memejamkan matanya sejenak, berusaha tidak menginjak pedal gas dan membuat mobil yang berhenti ini melompat masuk ke Sungai Han. Dua hal yang membuatnya ingin merontokkan rambut; murid kurang ajar Choi Seo Ah itu, dan kata ‘study tour’ yang diucapkan Seo Ah. Wanita itu sama sekali tidak memberitahunya perihal itu sebelumnya.

“Masuklah.”

Chan Yeol tidak yakin apa yang akan ia perbuat kalau mendengar cerita Seo Ah kemudian. Kepalanya sudah hampir meledak, jantungnya serasa diremas berkali-kali sampai darahnya mengering, dan rasanya ia ingin menendang sesuatu.

“Baiklah.”

“Choi Seo Ah,” sebelum Seo Ah membuka pintu mobil, Chan Yeol menyodorkan sapu tangannya. “Hapus sisa air matamu.”

Seo Ah menerima sapu tangan itu, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Chan Yeol tetap diam di sana sampai Seo Ah masuk ke dalam sekolah. Sedikit amarahnya sudah menurun. Matanya terus mengikuti Seo Ah sampai sosok itu semakin mengecil di pandangannya. Antara khawatir, marah, dan takut—apakah Seo Ah akan baik-baik saja? Haruskah Chan Yeol menelepon kepala sekolah dan mengatakan kalau tiba-tiba ada urusan keluarga? Atau Chan Yeol saja yang langsung mendatanginya ke sana?

Aish!” Chan Yeol mengacak rambutnya. Ia pun mengendurkan dasinya. Hari ini ia memang mendapatkan jawaban atas sikap Seo Ah itu, tapi kepalanya juga ingin meledak! Kalau tahu begini, ia lebih memilih mengubur rasa ingin tahunya.

Getaran ponsel Chan Yeol mampu membuatnya berhenti bertingkah seperti orang gila. Ia pun menghubungkan panggilan itu ke earphone. “Ya?”

Sajangnim, di mana posisi Anda sekarang? Rapat akan dimulai lima belas menit lagi.”

Chan Yeol melihat jam tangannya. “Aku mengerti.”

Chan Yeol melepas earphone dan melemparkannya ke kursi sebelah—kursi di mana Seo Ah duduk tadi. Kalimat-kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Sial! Ia harus meminta Sekertaris Jung membelikannya obat sakit kepala dosis tinggi. Chan Yeol pun menginjak pedal gasnya dalam-dalam, pergi dari depan SMA Yongsan Gangnam.

***

                Laut dihadapan Seo Ah berkilauan diterpa sinar matahari hangat Jeju. Menari terkena tiupan angin, membentuk ombak putih dengan desiran menenangka. Langit pun sangat bersahabat, dengan warna biru keoranyean-nya dan awan-awan putih yang bergumpal seperti bunga kol. Kehangatan Jeju membuat Seo Ah melupakan sejenak masalah yang menimpanya akhir-akhir ini. Meski ia tidak yakin apakah nanti masalahnya akan benar-benar hilang atau malah bertambah banyak.

Ini hari keduanya berada di Jeju untuk mengawasi jalannya study tour siswa kelas tiga SMA Yongsan Gangnam. Sebenarnya Seo Ah bukan bagian dari barisan walikelas, namun ia dipilih untuk membantu para walikelas bersama dengan dua orang guru lainnya. Seo Ah menyambut senang undangan itu… sebelumnya. Ya, sebelum obrolannya dengan Kang Chan Hee di klinik sekolah waktu itu.

Bicara tentang Chan Hee, begitu sampai di Jeju kemarin, ia mengirimi Seo Ah sebuah pesan. Untuk pertama kalinya setelah satu minggu ia menghindari Seo Ah. Anak itu ingin mendengar jawaban Seo Ah setelah acara api unggun malam ini, di pantai. Chan Hee juga mengatakan, ia tidak akan mendengar apapun perkataan Seo Ah sebelum mereka berada di pantai itu malam nanti.

Lama-lama Seo Ah kesal sendiri. Ia merasa dipermainkan oleh seorang anak laki-laki berumur delapan belas tahun! Apa susahnya Chan Hee memberikan waktu lima menit di sela-sela jadwal study tour untuk Seo Ah berbicara?! Well, meski Seo Ah belum yakin apa yang harus ia bicarakan.

Ia ingat dengan perkataan Chan Yeol di mobil waktu itu. Pilihan hanya menghasilkan satu jawaban, itu artinya dia memang harus memilih. Saat ini, Seo Ah masih terlalu takut untuk memilih ‘menyakiti Chan Hee’. Ia tidak tega, meski ia juga tidak mau membuat anak itu menaruh harapan padanya. Chan Yeol bilang, harapan hanya akan membuatnya lebih menyakitkan. Jadi haruskah Seo Ah menolaknya begitu saja? Apa yang harus dikatakannya? ‘Aku tidak menyukaimu seperti itu’?

Seo Ah membalik badannya setelah menghela nafas panjang. Ia melihat Chan Hee sedang berkumpul bersama teman-temannya. Mereka baru saja tiba dari Seongeup Folk Village dan beberapa tempat lainnya, dan berkumpul untuk makan malam lalu acara api unggun. Seo Ah tidak ikut berkeliling tadi dengan alasan kurang enak badan. Padahal ia hanya sedang ingin memfokuskan pikirannya, mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan tepat.

Seo Ah juga mendapati Chan Hee berkali-kali mencuri pandang ke arahnya. Tidak hanya kali ini, tapi semenjak mereka tiba di Jeju International Airport. Seo Ah menghela nafas panjang. Oke, kali ini ia harus yakin dengan pilihannya. Tidak ada lagi harapan, ia harus membuatnya jelas.

Seo Ah melangkahkan kakinya mendekati Chan Hee. Beberapa murid memanggilnya untuk mengajaknya berfoto atau sekadar menyapa, tapi Seo Ah hanya membalasnya dengan senyum dan kalimat pendek. Ia harus menyelesaikan urusan ini dulu. Chan Hee, diujung sana, menelan air liurnya melihat kedatangan Choi Saem. Apa ini saatnya? Tidak! Sudah jelas ia mengatakan kalau tidak mau mendengar apapun sebelum jam yang ditentukan.

“Boleh aku bergabung?” tanya Seo Ah, mengganggu percakapan di antara lima anak laki-laki dalam kelompok itu.

Saem!” seseorang yang Seo Ah ketahui bernama Kim Hwi Young, membalas. “Saem ke mana saja? Kenapa tidak ikut berkeliling?”

“Aku menjaga villa bersama Lee Saem.” Seo Ah memamerkan sederet giginya. “Ah, bagaimana perjalanan kalian?”

“Sangat menyenangkan!” Jeon Jung Kook yang menjawab. “Tapi… ada seseorang yang terus-terusan mencari Choi Saem, lho.” Ia melirik Chan Hee dengan pandangan menggoda.

Mengikuti Jung Kook, ketiga orang lainnya ikut tersenyum penuh arti sambil melirik Chan Hee. Seo Ah pun mengangkat pandangannya ke Chan Hee. Ah, jangan bilang kalau ia menceritakan urusan mereka pada keempat anak ini.

“A-Apa?! K-Kenapa wajah kalian begitu?!” panik, Chan Hee menunjuk satu per satu wajah teman-temannya.

“Tidak ada….” dengan kompak, keempat temannya menjawab.

“Chan Hee-ya, let’s talk. I have to say this to you, right now.”

Chan Hee membuang wajahnya, tidak ingin melihat Seo Ah. “I don’t wanna hear anything before 10 pm. I thought, I have said it, Saem.”

Please….”

See you, Saem.” Chan Hee pun beranjak dari sana, meninggalkan Seo Ah dan keempat temannya.

Beruntung, Seo Ah tahu kalau keempat orang lainnya tidak sefasih Chan Hee dalam berbahasa Inggris. Dan melihat wajah bingung mereka, sudah yakin kalau mereka sama sekali tidak paham dengan percakapan tadi. Chan Hee pergi, bahkan ketika Seo Ah sudah memohon padanya. Tapi Seo Ah tidak punya banyak waktu, ia memang harus menyelesaikannya sekarang juga. Oleh sebab itu, Seo Ah pun mengejar Chan Hee.

“Kang Chan Hee!”

Chan Hee mempercepat langkahnya, meski tidak sampai berlari.

“Chan Hee-ya, tunggu sebentar!” Seo Ah pun berhasil menangkap ujung kemeja Chan Hee. “Biar aku selesaikan di sini.”

“Aku tidak mau mendengarnya sekarang!”

Ini pertama kalinya Seo Ah melihat seorang Kang Chan Hee marah dan berteriak. Terlebih padanya. Beruntung, mereka sekarang berdiri cukup jauh dari kumpulan peserta study tour SMA Yongsan Gangnam yang bersiap untuk acara api unggun.  Seo Ah pun melepas genggamannya dari ujung kemeja Chan Hee dan mendongak. Meski umur mereka terpaut tujuh tahun, tapi tinggi Chan Hee jauh di atas Seo Ah. Nafas anak laki-laki itu memburu. Seo Ah berpikir lagi, mungkin ia memang terlalu terburu-buru. Mungkin saja Chan Hee belum siap dengan kenyataan. Tapi… ia sudah lelah tertekan dalam situasi ini.

“Tapi… aku—“

Drrt… drrt…

Dering ponsel Seo Ah yang merupakan salah satu soundtrack drama, menghentikan ucapan wanita itu. Seo Ah memutar bola matanya. Ayolah… kenapa semuanya ingin sekali mengganggu Seo Ah hari ini? Yang Seo Ah inginkan hanya menyelesaikan urusannya dengan Chan Hee secepat mungkin.

Seo Ah merogoh saku celana jeans-nya untuk mengambil ponsel. Nama Chan Yeol terpampang di sana. Tumben sekali dia menelepon pada saat-saat begini. Biasanya Chan Yeol hanya menghubunginya ketika ia pulang telat atau—waktu itu—mengajaknya makan siang.

“Halo?”

“Kau di mana?”

Seo Ah mengangkat sebelah alisnya. “Bukankah aku sudah mengatakan, aku pergi ke Jeju untuk study tour?”

“Aku tahu. Maksudmu posisimu sekarang di mana?”

“Di belakang villa. Sebentar lagi kami akan makan malam lalu acara api unggun.”

“Baiklah.”

Chan Yeol memutuskan panggilan begitu saja tanpa memberi kesempatan Seo Ah untuk bertanya lebih lanjut. Seo Ah tidak menyadari kalau Chan Hee masih berdiri di hadapannya dengan wajah tidak suka. Ia sedikit terganggu dengan percakapan Choi Saem dengan entah-siapa-itu-di-telepon tadi.

“Pacar Saem?” tanya Chan Hee, membuat Seo Ah berhenti menggerutu dengan ponselnya.

“Ah? B-Bukan… maksudku…”

“Seo Ah-ya!”

Oke… Seo Ah sepertinya mendengar suara gaib dari sini. Suara ini terdengar seperti suara Park Chan Yeol.

“Choi Seo Ah!”

Seo Ah tidak tahan untuk tidak berbalik badan karena suara itu semakin jelas di telinganya. Mata Seo Ah lantas terbelalak melihat Chan Yeol benar-benar berada di sini. Dengan santainya, tanpa merasa bersalah karena membuat jantung Seo Ah seperti jatuh menggelinding lalu terjun ke laut di bawah sana, Chan Yeol berjalan mendekati Seo Ah—dan Chan Hee. Ia melambai begitu tahu Seo Ah melihatnya, sambil tersenyum tipis.

Orang-orang di sana terpesona dengan sosok Chan Yeol yang bagai seorang model berjalan di catwalk. Dengan tampilan serba hitam putih seperti kuda zebra tersesat, Chan Yeol mampu membuat para murid dan guru perempuan menatapnya dengan mata berkilauan, dan para laki-laki menatapnya iri. Siluet tubuh Chan Yeol terbentuk sempurna dengan balutan kaos hitam yang dipadu dengan jas armani putih. Ia memakai celana putih dan sepatu kets putih, yang membuat kaki jenjangnya semakin indah. Ah, jangan lupakan senyum separonya—yang Seo Ah anggap adalah senyuman paling menyebalkan.

“Kau—“

“BAGAIMANA KAU BISA ADA DI SINI?!” Seo Ah mundur satu langkah dan menunjuk Chan Yeol dengan wajah terkejut luar biasa. Jeju?! Chan Yeol ada di Jeju?! Bukankah dia ada urusan di luar kota?

Oh, sial! Seo Ah lupa kalau Jeju sudah berada jauh di luar Seoul.

“Pekerjaanku sudah selesai, dan aku baru saja selesai bermain golf bersama rekan kerjaku.” Jawab Chan Yeol ringan. Ia menatap sekitar. “Dan… villa serta resort ini dikelola oleh Golden.”

O-Oh, Seo Ah merasakan kram di belakang lehernya. Sepertinya ia harus menguatkan diri untuk menerima sekaya apa Golden Group ke depannya. Ternyata tidak cukup supermarket, departement store, dan cabang dimana-mana. Apakah Chan Yeol punya jet pribadi? Atau paling parah… negara pribadi?

S-Saem…,” dan Seo Ah lupa kalau Chan Hee masih berada di sana. Wajah anak laki-laki itu pucat, dan bola matanya mulai bergerak gelisah. “S-Siapa Ahjussi ini?”

Ahjussi?! Chan Yeol berteriak dalam hati. Umurnya masih dua puluh delapan tahun, dan dia belum mempunyai anak bahkan sehelai uban pun. Siapa anak kurang ajar ini? Ah! Atau ini anak murid yang Seo Ah ceritakan?

“D-Dia…”

“Ah? Apa dia murid yang kau bilang paling pintar itu?”

Seo Ah menggigit bibir bawahnya. Darimana Chan Yeol tahu?!

Chan Yeol mengulurkan tangannya kepada Chan Hee. “Park Chan Yeol, suami Choi Seo Ah.”

“HAH?!”

Seisi taman belakang ini geger dengan ucapan Chan Yeol itu. Semuanya berhenti beberapa saat hanya untuk mengelola kata-kata Chan Yeol di otak mereka. Suami?! Choi Seonsaengnim sudah memiliki suami?! Di umur semuda itu?! Apa ini alasan sebenarnya kenapa Choi Seonsaengnim tidak pernah ikut acara minum-minum bersama para guru? Semua pertanyaan terus bermunculan di kepala mereka.

Tidak terkecuali Chan Hee. Choi Saem tidak memiliki pacar… tapi suami. Oh, kepalanya berdenyut sekarang. Sambil mengerjap, mencoba menghalau mata panasnya yang siap mengeluarkan air mata, Chan Hee meraih uluran tangan Chan Yeol.

“Kang Chan Hee.”

“Nama kita hampir mirip.” Chan Yeol melirik Seo Ah. “Pantas Seo Ah sangat menyukaimu.”

“Ah… b-begitu, ya? D-Dia memang guru yang baik. A-Aku juga sangat… m-menyukainya.”

Seo Ah hampir terenyuh mendengar suara Chan Hee yang seperti itu. Tapi sebelum niatnya untuk menghampiri Chan Hee terlaksana, Chan Yeol merangkul pinggangnya. Mereka tampak seperti pasangan suami-istri mesra sekarang.

“Aku tahu. Tidak ada yang bisa menolak pesona wife-ku.” Chan Yeol menekankan kata ‘wife’ di kalimatnya.

Tatapan itu. Kenapa Chan Yeol bisa menatapnya sehangat itu. Seolah ada ombak di sana, Seo Ah tersedot ke dalamnya. Begitu menenangkan sampai-sampai Seo Ah lupa kalau bukan hanya mereka berdua di sana. Hanya deru nafas Chan Yeol dan suara degup jantungnya yang terdengar di telinga Seo Ah.

“Ah, sepertinya mereka membutuhkan bantuanmu.” Ucap Chan Yeol setelah memutar kepalanya untuk melihat orang-orang di belakang mereka—yang langsung serba sibuk. “Bantulah mereka.”

Chan Yeol mendorong sedikit punggung Seo Ah, menyuruhnya pergi dari sana. Sambil berjalan pelan, Seo Ah menoleh ke balik punggungnya, Chan Yeol dan Chan Hee masih berdiri berhadap-hadapan. Oh! Apa yang akan terjadi setelah ini?! Haruskah Seo Ah kembali ke sana dan membawa Chan Yeol pergi sejauh-jauhnya?

“Choi Saem!”

Tapi sebelum itu… sepertinya ia harus menceritakan sebuah dongeng pada wajah-wajah haus infromasi di hadapannya ini.

***

                Di sinilah Seo Ah sekarang. Di bawah langit hitam dengan kerlip bintang, dan embusan angin malam yang menusuk sampai tulang. Kaki kurusnya menyusuri pasir pantai, menuju sebuah tumpukkan karang di salah satu sisi pantai. Dari kejauhan, Seo Ah melihat siluet seorang laki-laki duduk di atas bebatuan sambil melempar kerikil ke arah laut. Debur ombak menjadi satu-satunya yang menemani. Cahaya bulan yang memantul di permukaan laut membuat kesendiriannya makin terasa.

Akhirnya Seo Ah bisa terlepas dari Chan Yeol ketika pria itu dipaksa minum bir bersama guru-guru. Anak-anak sudah masuk ke kamar masing-masing karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Seo Ah masih tidak paham apa tujuan Chan Yeol membeberkan hubungan mereka tadi. Bukankah dia sendiri yang selalu mengingatkan Seo Ah agar tidak keceplosan! Ia belum sempat menanyakan hal itu pada Chan Yeol karena sepanjang malam tadi ia terlalu sibuk dibuat terkejut oleh Park Chan Yeol. Bagaimana tidak, kalau semalaman itu Chan Yeol terus tersenyum seperti orang paling bahagia di dunia. Dan jangan lupakan mulut manisnya kepada semua orang di sana. Seo Ah bersumpah, Chan Yeol yang ada di sini bukanlah Chan Yeol yang dikenalnya.

Ketika kesempatan datang, Seo Ah langsung mendatangi tempat janjiannya dengan Chan Hee. Ia tadinya tidak terlalu berharap Chan Hee akan datang, karena ia pikir Chan Hee sudah cukup mengerti. Seo Ah hanya memastikan Chan Hee tidak datang untuk menceburkan diri ke laut—itu saja. Dan setelah melihat sosoknya hanya duduk di sana dalam keheningan, Seo Ah menghela nafas lega, dan menghampiri bocah laki-laki itu.

“Chan Hee-ya.”

Chan Hee—yang hapal betul itu suara siapa—hanya menoleh sekilas. “Kukira Saem tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi.”

“Maaf.”

“Tidak, harusnya aku yang meminta maaf.” Ucap Chan Hee. “Aku terlalu keras kepala, padahal sudah jelas Saem menolakku dari awal.”

“Tapi Chan Yeol benar-benar suamiku. Kami menikah lima bulan yang lalu.” Seo Ah takut Chan Hee mengira ia menyewa Chan Yeol untuk pura-pura menjadi suaminya. Seo Ah tidak suka meninggalkan kesan buruk pada siapapun.

“Aku tahu. Ahjussi itu yang mengatakannya padaku.”

Setelah Ahjussi itu menyuruh Choi Saem pergi membantu yang lain, Chan Hee memberanikan diri untuk bertanya apakah dia benar-benar suami Choi Saem. Chan Hee terus memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan; dimulai dari ‘kenapa kalian tidak memakai cincin pernikahan’, sampai ‘apa warna favorit Choi Saem’. Dan semua pertanyaan itu dijawabnya dengan sempurna (meski kenyataannya, Chan Yeol sedikit berkilah ketika mendapat pertanyaan yang sama sekali ia tidak tahu jawabannya).

Chan Hee pun mengaku kalah, tapi masih belum yakin apakah ia bisa menghapus perasaannya ini.

“Tapi, Saem,” Chan Hee mengangkat kepalanya, menatap Choi Saem yang duduk di sebelahnya. “Apa Saem pernah menyukaiku?”

Seo Ah menatap Chan Hee tepat di matanya. Ia ingin anak itu tahu kalau dia bersungguh-sungguh. “Karena kau anak yang pintar dan mudah mengerti.”

Chan Hee tersenyum pahit. “Harusnya sudah kuduga.”

“Chan Hee-ya…”

Saem adalah cinta pertamaku.” Aku Chan Hee, membuat Seo Ah menahan nafasnya selama beberapa detik. Ia menghancurkan perasaan yang baru pertama kali dirasakan anak ini!

“Aku tahu.” Berbohong. Ya, Seo Ah berbohong.

“Jadi Saem harus bahagia, agar aku tidak terlalu sedih melihatmu bersama orang lain.”

Seo Ah menggigit bibirnya, ia tidak ingin menangis di sini. Ah… perasaan Chan Hee masih sangat murni dan tulus. Ia tidak kuasa untuk mengatakan kalau pernikahannya dengan Chan Yeol karena perjodohan, dan ditambah aturan yang mereka buat. Seo Ah sendiri tidak tahu apakah ia bahagia atau akan bahagia kelak. Semua masih kabur.

Chan Hee menoleh lagi, dengan mata berkaca-kaca. “Semoga Saem bahagia.”

“Chan Hee-ya…”

“Oke, cukup.”

Tubuh Seo Ah tertarik ke belakang dan pandangannya menjadi gelap seketika. Niatnya untuk memeluk Chan Hee—untuk terakhir kalinya—menghilang tiba-tiba karena gerakkan sembrono seseorang yang menarik kepalanya ke belakang dengan tiba-tiba. Mendengar suaranya, Seo Ah tahu betul perbuatan siapa ini.

“Bukankah ini terlalu malam untuk murid masih berada di luar kamarnya?” tanya Chan Yeol sarkastik, sambil melihat jam tangannya. Ia tidak peduli gerutuan Seo Ah karena tangannya masih menutupi pandangan wanita itu.

Chan Hee menunjukkan senyum pahitnya. Benar, cintanya sudah berakhir. Cinta pertamanya.

“Aku akan masuk ke kamar duluan. Choi Saem dan… Ahjussi, selamat malam.”

Pandangan Chan Yeol mengikuti bocah itu sampai cukup jauh dari tempatnya. Sedari tadi ia mendengar percakapan Seo Ah dengan Chan Hee. Sialnya, Chan Yeol merasa kalah begitu mendengar betapa dewasanya ucapan bocah delapan belas tahun itu. Dia bahkan mendoakan kebahagiaan Seo Ah dengannya, padahal dia sendiri belum tentu bisa memberikan kebahagiaan itu. Dan yang lebih membuatnya jengkel, kalimat terakhir yang Chan Hee ucapkan ketika pembicaraan empat mata mereka.

“Tolong jaga Choi Saem. Dia wanita yang baik.”

Chan Yeol tahu! Dan tidak perlu diingatkan begitu! Memangnya pria dua-puluh-delapan-tahun-yang-dipanggilnya-Ahjussi ini terlihat begitu bodoh?!

“Chan Yeol-ssi! Sampai kapan kau bersikap seperti ini?!”

Teriakan Seo Ah membuat Chan Yeol sadar. Ia pun melepaskan tangannya dari wajah Seo Ah, lalu berdiri dan mengantongi tangannya ke saku celana. Seo Ah ikut berdiri. Melihat Chan Yeol yang sekarang, Seo Ah yakin kalau pria ini sudah kembali waras—jati dirinya kembali.

“Apa maksudmu bertingkah seperti itu?!”

“Kau sendiri bagaimana? Menggoda anak muridmu sendiri padahal sudah memiliki suami.”

“Aku tidak seperti itu!” teriak Seo Ah, benar-benar kesal.

“Kalau begitu kenapa tidak menolaknya dari awal?”

“Pokoknya tidak seperti itu!” setelah berteriak, Seo Ah memelankan volume suaranya. “Karena aku takut… ah, begitulah! Kau kenapa mengumumkan pernikahan kita tadi?!”

Seo Ah sedang berusaha melupakan masalah itu, karena secara teknis memang sudah berakhir, ia pun mengubah arah pembicaraan mereka. Benar. Lagipula ia membutuhkan jawaban itu. Jawaban dari seseorang yang melanggar ucapannya sendiri.

“Kita memang sudah menikah.”

“Tapi mereka jadi tahu!”

Chan Yeol menaikan sebelah alisnya. “Memang itu tujuanku. Lagipula mereka tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku.”

Seo Ah membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria ini. Sepertinya Chan Yeol harus menikahi pekerjaanya saja kalau hal itu selalu nomor satu di hidupnya. Benar-benar!

“Kau menyakiti Chan Hee! Harusnya aku yang menyatakannya sendiri.”

Chan Yeol mengerutkan dahinya, tidak suka Seo Ah yang terus-terusan membawa nama anak itu. Bukankah sama saja, pada akhirnya Seo Ah juga akan menyakiti Chan Hee.

“Aku membantumu.”

“Aku tidak butuh! Sudah kubilang aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Kapan? Setelah dia menemukan sendiri kenyataan bahwa kau sudah menikah? Kau ini terlalu baik atau bodoh?!” meski tidak berteriak, suara Chan Yeol terdengar sangat tajam.

“Aku memang baik! Apa masalahmu?!” Seo Ah malah balas berteriak. “Aku sudah memikirkan cara agar Chan Hee—“

Bibir yang terus membatah itu dibungkam Chan Yeol dengan bibirnya yang dingin. Chan Yeol tidak tahan! Setiap teriakan yang Seo Ah keluarkan membuat emosinya terus naik, terlebih wanita itu selalu mengucapkan ‘Chan Hee’ seperti tidak ada hari esok. Ia mencium Seo Ah dengan dalam, tidak peduli wanita itu hampir terkena serangan jantung saking terkejutnya. Sebelum Chan Yeol mendapat penolakan, ia mengunci sebelah tangan Seo Ah di belakang tubuh wanita itu, sekaligus memeluk pinggangnya. Sedangkan satu tangan lainnya Chan Yeol genggam erat.

Meski enggan, Chan Yeol menjauhkan wajahnya karena sama sekali tidak mendapat respon dari Seo Ah—entah itu penolakan atau balas mencium.

“K-Kenapa…” akhirnya Seo Ah mengeluarkan suara. Sangat kecil, seperti cicitan. “K-Kenapa menciumku?”

“Karena mulutmu tidak bisa berhenti.”

“T-Tapi….” Seo Ah mengangkat kepalanya, lalu mengalihkan pandangannya lagi ketika menyadari kalau itu tindakan yang salah. Ia berhadapan langsung dengan mata Chan Yeol yang dalam dan menghanyutkan. Juga… bibir itu.

“T-Tapi… a-aku… aku belum siap….”

Mata Chan Yeol membulat melihat wajah Seo Ah yang seperti itu. Dengan penerangan temaram, ia masih bisa melihat semburat merah di pipi Seo Ah. Meski Seo Ah tidak menatapnya, Chan Yeol bisa merasakan kegugupan yang terpancar dari mata Seo Ah. Saat Chan Yeol melihat Seo Ah menggigit bibir bawahnya, saat itu juga Chan Yeol kehilangan kontrol dirinya—sekali lagi.

Chan Yeol menangkup kedua pipi Seo Ah, membuatnya menatap wajah Chan Yeol. “Kalau begitu bersiaplah.”

Bibir mereka kembali bertemu, berciuman di bawah sinar bulan dan ribuan bintang. Debur ombak tidak bisa mengalahkan suara deru nafas di telinga masing-masing. Seo Ah merespon, tidak hanya diam seperti tadi, meski masih ada sedikit keraguan. Tangan Seo Ah berada di pundak Chan Yeol, mencari pegangan untuk menahan tubuhnya yang semakin limbung karena dorongan Chan Yeol. Menyadari hal itu, Chan Yeol memindahkan tangannya ke punggung dan pinggang Seo Ah, memeluknya semakin erat.

Ini memang bukan ciuman pertama. Tapi ciuman termanis dan terhangat yang mereka rasakan. Saat upacara pernikahan, Chan Yeol hanya mengecup bibir Seo Ah singkat, tanpa ada perasaan apapun. Rasa hampa yang Seo Ah rasakan sebelumnya perlahan menghangat dan membuatnya ingin berada di pelukan hangat Chan Yeol selamanya. Ia pun melingkarkan tangannya ke leher Chan Yeol.

Kehabisan nafas, Seo Ah menjauhkan bibirnya. Tapi jarak mereka sama sekali tidak berarti, karena masing-masing masih bisa merasakan panasnya tubuh dan deru nafas yang memabukkan.

“Aku terlalu mabuk untuk sadar.” Gumam Chan Yeol, melihat wajah Seo Ah yang—entah kenapa—terlihat sangat cantik malam ini.

Meski tidak paham ucapan Chan Yeol, Seo Ah membalas. “Dan aku mungkin sudah gila.”

Entah siapa yang memulai kali ini, mereka pun kembali berciuman. Tidak ada yang menghentikan, bahkan ketika Seo Ah hampir tergelincir karena pijakkannya yang licin. Chan Yeol malah mengeratkan pelukannya. Bibirnya mencium penuh bibir Seo Ah, bergantian. Begitu juga Seo Ah. Ia tidak masalah saat Chan Yeol mulai menggunakan lidah dan gigitan kecil. Seperti katanya tadi, otaknya terlalu gila untuk menolaknya.

Sampai sebuah dering ponsel menghentikan ciuman mereka. Ponsel milik Chan Yeol yang berbunyi.

Seo Ah mendorong dada Chan Yeol dengan gerakkan canggung. Ia membenarkan rambutnya yang berantakan, karena ulah angin dan tangan Chan Yeol. Chan Yeol melirik Seo Ah sebentar, meminta izin. Seo Ah hanya mengangguk kecil, dan Chan Yeo pun mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

Sajangnim, ada pesan darurat yang dikirimkan anak perusahaan di Jepang. Saya sudah mengirimkan email kepada Anda, silahkan diperiksa.”

Lagi, Chan Yeol melirik Seo Ah yang sedang memainkan ujung kemejanya. “Baiklah, aku mengerti.”

“Ayo, aku antar kau kembali ke villa.” Kata Chan Yeol kepada Seo Ah setelah menaruh ponselnya kembali ke saku.

“Eh?”

“Aku harus kembali ke Seoul. Ada pesan darurat dari Jepang.”

“Ah, begitu….”

Chan Yeol tidak paham. Jantungnya berdebar sangat cepat melihat Seo Ah mengeluarkan ekspresi kecewa seperti itu. Seperti ada puluhan serangga yang menggelitik perutnya. Tapi Chan Yeol tidak bisa berbuat banyak, termasuk menggenggam tangan Seo Ah yang sudah berjalan di depannya meski sangat ingin. Ciuman dan pelukan tadi dirasanya masih belum cukup untuk mengobati perasaan aneh yang menggerogoti jiwanya.

“Masuklah.” Ucap Chan Yeol begitu mereka sampai di depan villa.

“Kau pergilah terlebih dulu.”

Chan Yeol menggeleng. “Aku akan pergi setelah kau masuk.”

“Tapi….”

“Kita akan bertemu di rumah.” Chan Yeol mengeluarkan senyumnya. Senyum yang Seo Ah rasa jauh berbeda dari senyum yang semalaman tadi ia tunjukan di depan rekan gurunya. Seo Ah merasakan perasaan hangat menjalar dari dadanya, sampai ke wajahnya, membuat pipinya kembali bersemu merah.


■■■

*Oh iya, mungkin kalian bingung kenapa kadang aku pake Seo Ah, kadang pakai Choi Saem. Jadi, anggap aja kalo aku pake Seo Ah, itu aku ceritain dari sudut pandang Seo Ah. Sedangkan Choi Saem dari sudut pandang Chan Hee dan yang lainnya—selain Chan Yeol. Kan gak sopan kalo murid pake nama langsung begindang

 

Betewe aku baru nyadar kalo Chan Hee dan Chan Yeol namanya hampir sama T.T bagaimana atuh… aku lagi kesemsem sama Neoz School. Walaupun agensinya bikin gondok, tapi they’re rili rili talented wkwk boleh cek en ricek di youtube atuh “FNC Neoz School”. Favorit aku Juho, Rowoon, sama Inseong >< kapan-kapan pasti mereka masuk di FF aku hahak

 

Niatnya mah saya mau bikin adegan yang belakang itu nanti, tapi…. sepertinya suasana mendukung wkwkwk. Ah, sudahlah, tidak ada yang saya ingin ucapkan lagi. See yawww

 

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

Ask me anything on askfm : fauziauzya

89 responses to “10 Steps Closer [4th Step]

  1. Wuaaa chanyeol astagaaaaa
    Kok km gentle tur so sweet bangetee, chanyeol kemanisan ini sumpah wkwk

  2. awww sweet banget di tepi pantai bawah bintang gitu, kan enak liatnya… fighting buat next ya author

  3. Huaaa finallyyyyy akhirnya neoz udah di notis TT hwaaa chaniiii sini pelut eyattt sama w duh sakit hati dia ><

    Aigoo seo ah sama chan bikin kesemsem ajaa😂😂

  4. momentnya beneran manis banget dan kasihan chan hee cintanya ditolak

    tapi aku paham kok thor maksudnya hhe

  5. MAU DONG DICEMBURUIN CHANYEOL HE HE HE. Oke ini another komen tida berfaedah. Aku nungguin angst scenenya btwwwww misalnya udah lovey dovey gitu eh taunya si cy jadi brengsek wqwqwq keep writing fightingggg!

  6. wkwk gegara chanhee(bener ga namanya gitu) chan yeol ampe cemburu gitu hingga berakhir ciuman panas yg bikin ane jadi malu sendiri wkwk
    chanyeol cemburu ama bocah uhuk wkwkwk

  7. Gara gara chanhee semua jadi lebih baik malahan😂😂 seneng banget akhirnya mereka bisa akur so sweet gitu>< gaada paksaan dari mereka ataupun kepira-puraan kayak di perjanjian itu :'v
    Mau lagi moment sweet mereka berdua😍

  8. Kok makin kesini makin greget ya, gmna dong? Duh itu chanhee apaan sih, inget nak kamu masih bocah wkwk ya kali si seo ah mau😂 semangat terus thor!

  9. Wah Seo Ah disukain sama muridnya. Aneh kalo ada hubungan antara murid sama guru. Chan Hee gitu banget ngehindarin Seo Ah. Kasian Seo Ah jadi nggak bisa fokus sama hal yang dia lakuin. Chanyeol ternyata perhatian juga. Sampe ngajak lunch bareng gara-gara Seo Ah sering melamun.

    Nolak dengan baik itu susah. Tapi yang dilakuin Seo Ah udah bagus kok. Bagus, setidaknya sebelum Chanyeol datang dan merusak semua dengan mengaku sebagai suami Seo Ah. Gimana perasaan Chan Hee coba? Kasian…

    Chanyeol ngerasa kalah sama pemikiran bocah 18 tahun macem Chan Hee. Kalo udah gitu, tugas Chanyeol cuma 1. Bahagiain Seo Ah. Akhirnya ada moment manis Chanyeol-Seo Ah. Nunggu-nunggu banget sweet moment mereka…

    Keep writing ^^

  10. Uri chanyeol sweet sekali di chapter ini. Ah chapter ini beresiko diabetes. Chanyeol super super super sweet. Gentle banget ngumumin seo ah istrinya. Trus jelasin dan jawab semua pertanyaa Chan hee. Ditambah klimaks nya cium-ciuman sama seo ah. Ah bikin delusi akut deh chapter ini.

  11. Chanyeol Seo Ah yampun -_- mendadak inget itazurana kiss dan ini versi Chanyeol-Seo Ah wkwk maafkan aku kak :v
    ada lucunya chanyeol disini ada sweetnya smpe bikin mesem mesem sendiri bacanyawkwk
    wahhh kok sama suka Neoz School kak :p -gk ada yg nanya–

  12. sukaaaaaa sama yeol yg tiba2 ada di jeju cuman buat seo ah
    haha dia cemburu sama anak sma ?
    gemesin deh yeol

  13. Kereeennn thorrr, typo nya jugak ngga adaaa. Alurnya mudah buat dimengerti. Kapan chanyeol mau ngubgkapin perasaanya -_-. Sama sama gengsi mereka wkwk😂. Lanjutkan thorrrrr👍

  14. ululuuuu mereka ciuman … dan emhh emhhh gatau lagi hahah ..
    lucu banget yaampun chanyeol dengan pedenya bilang dia suaminya kedepan anak polos chanhee padahal dia lagi nunggu jawaban yaampun chan sedikit pake hati kenapa …
    buat chanhee sabar ya beb mending kamu sama aku aja haha /plak
    bakal banyak moment mereka ya ka? kedepannya .. mereka udah ke tahap ciuman tuh hahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s