{Song Fict} EX – GIRL

2b574841005a6cd6e456206289a513e8a0500519_hq

{Song Fict} EX – GIRL

Jeon Jungkook (BTS) – Shin Ae Ryeong (OC)

Romance & Lil bit Sad

Created by : @123adinda

Do not copycut without my permission because this is my hardwork

I’m sorry for my mistake, because i’m not that perfect

Shin Ae Ryeong, akan tetap menjadi mantan kekasih Jeon Jungkook karena aku tidak mau lagi…….

Recommended Song :

Monsta X – (EX – GIRL)

Seventeen – (When I Grow Up)

BTS – (Hold Me Tight)

Author POV until The End

 

Cuaca sore itu terbilang cukup menyenangkan. Dilihat dari awan – awan yang berjalan sejajar di imbangi dengan angin musim semi yang begitu menghanyutkan. Ughh, hanya pemalas tingkat 5 yang akan melewatkan indahnya hari ini.

 

Tidak terkecuali Jeon Jungkook. Lelaki tampan yang memiliki tinggi badan ideal namun proporsi badan cukup kecil. Bahkan Jimin -teman sepermainan Jungkook, berani bertaruh jika ukuran pinggang Jungkook lebih kecil dari kepunyaannya. Itu kenyataan bukan bualan. Oh, mari lupakan sejenak tentang bagian tubuh Jungkook.

 

Jungkook menikmati waktu sore nan indah dengan caranya sendiri, yaitu tidur siang. Dia memang dikenal memiliki kebiasaan tidur yang tidak bisa di toleransi. Lihatlah lelaki itu. Dengan berpakaian lengkap layaknya anak sekolahan, Jungkook menggulung badan tirusnya dengan selimut tebal bergambarkan doraemon. Ughh, such a cutie pie.

 

Ketika Jungkook begitu hanyut di dalam mimpi. Tiba – tiba saja pintu kamar lelaki itu terbuka, menampakkan wajah seorang wanita paruh baya dengan apron bunga – bunga. “Hei, Jeon Jungkook.” Panggil wanita itu, namun Jungkook tentu saja tidak bisa mendengarnya. Kerbau seperti Jungkook, mana mungkin bisa dibangunkan dengan suara kecil.

 

Menghembuskan napas sebal, wanita apron bunga mulai mengambil langkah mendekat ke arah tempat tidur Jungkook. Dengan senyum lebar dan air wajah yang terlihat cukup menakutkan -tidak semenakutkan wajah valak- wanita itu mulai menggoyang – goyangkan badan Jungkook seraya berteriak “Jungkook-a, Jungkook-a, KAKAKMU BARU SAJA MELARIKAN SEPATU PUTIH KESUKAANMU, JUNGKOOK-A.”

 

Seperti yang di harapkan. Bukannya terbangun, Jungkook malah menyingkirkan tangan wanita itu dari area tempat tidur lalu kembali merapatkan selimut yang melilit badannya. “Berhentilah bercanda bu, aku sedang lelah.” Balas Jungkook parau.

 

Ibu Jungkook berdiri, menyilangkan kedua tangan di depan dada dan tatapan menyipit ia berikan kepada Jungkook. “Dasar pemalas, kalau kau tidak bangun dalam 10 detik, dengan senang hati akan Ibu bakar semua koleksi yang ada di lemarimu Jeon Jungkook!?!.”

 

“Baiklah, baiklah, apa yang ibu inginkan ?” Mau tidak mau Jungkook harus terbangun dari hibernasinya, mengingat ancaman wanita itu yang tak bisa di elakkan. Oh, gila saja jika Ibu Jungkook benar – benar membakar semua koleksinya. Bisa – bisa besok pagi Jungkook hanya tinggal nama saja karena kehilangan koleksi berharga miliknya.

 

Ibu Jungkook tersenyum, kali ini senyum manis bukan seperti sebelumnya. “Pergilah ke supermarket dan belikan ibu barang – barang yang ada di dalam kertas ini !”

 

“Sekarang ? Ah, ibu. Aku masih mengan–”

 

“JEON JUNGKOOK !!”

 

“Baik baik, Ibu ini cerewet sekali.” Grutu Jungkook seraya beranjak dari kasur. Lelaki itu lantas mengambil daftar belanjaan beserta uang dari tangan ibunya. Mengambil jaket yang tergantung di pintu lemari, lalu pergi begitu saja setelah mengucapkan salam. Ibu Jungkook hanya menggeleng gemas melihat anak laki – lakinya.

 

 

Bagi Jungkook, belanja keperluan sehari – hari adalah malapetaka. Apalagi jika memiliki daftar belanjaan, Sempurna sudah. Tidak hanya daftar belanjaan, namun Jungkook juga benci ketika beberapa remaja wanita mengendap – endap dan mulai mencuri foto dirinya. Hal itu, tidak mengenakkan.

 

Jungkook menyelesaikan semua prosesi belanjanya. Tinggal membayar dan bayangan ranjang sudah terlintas di pikiran.

 

“Jeon Jungkook ?” Jungkook terkejut bukan main ketika mendengar suara itu. Mata lelaki itu terbuka lebar, begitupun telinganya. Astaga, sudah berapa lama ia tidak mendengar suara itu ?

 

“Bagaimana kabarmu ? Kudengar kau kuliah di Daenggu, Woah.. kau sangat beruntung.” Takjub gadis yang sedang menghitung belanjaannya. Jungkook tak mampu buka suara. Hanya melemparkan senyum kikuk, hanya itu.

 

“Baiklah, ini belanjaanmu. Totalnya 11.500 won.” Gadis itu kembali bersuara. Senyum manis kepunyaannya memang tak pernah pudar. Dari dulu hingga sekarang, Jungkook begitu mengingat senyum itu.

 

Jungkook memberikan uang dan gadis itu menerima, lalu mengembalikan lebihnya. “Terima kasih sudah berbelanja disini, Jungkook-a.” Hanya sebuah anggukan dan Jungkook pergi begitu saja dari hadapan gadis itu. Tanpa senyum maupun perkataan. Namun sebenarnya, Jungkook memiliki banyak pertanyaan yang melintas di otaknya hanya saja ia terlalu takut untuk mengutarakan. Contohnya :

 

‘Apakah kau baik – baik saja setelah kuputuskan, Shin Ae Ryeong ?’

 

 

Setibanya di rumah, Jungkook tidak lagi memiliki selera untuk tidur. Lelaki itu memutuskan untuk duduk di balkon rumah seraya memandangi langit sore dengan tatapan kosong.

 

Jungkook tidak menyangka jika dirinya akan dipertemukan kembali dengan Shin Ae Ryeong, mantan kekasihnya yang telah di putuskan 2 tahun lalu. Namun Jungkook tidak bisa mengelak jika dirinya memang masih menyayangi Ae Ryeong. Rasa – rasanya, baru kemarin ia mengatakan hal pedih itu pada Ae Ryeong.

 

~FlashBack O

Shin Ae Ryeong sedang asik bercengkrama dengan sahabatnya ketika Jungkook datang dan menarik pergelangan tangannya dengan kuat. Gadis itu tentu saja meringis kesakitan, mengingat memar di pergelangan tangan belum hilang sepenuhnya.

 

“Apa kau mengalami hari yang buruk ? Hmm ? Kau tau dimana tempat yang nyaman untuk bercerita bukan ?” Walaupun tangannya kesakitan, namun Ae Ryeong tetap bersikap lembut pada Jungkook. Gadis itu juga tidak lupa untuk tersenyum.

 

Jungkook tak menjawab. Ia malah menatap Ae Ryeong marah dengan gigi yang di gertakkan. “Bagaimana caramu menjelaskan semua ini ?” Tanya Jungkook mengintimidasi seraya memperlihatkan sebuah foto yang ada di dalam ponsel. Dan itu foto Ae Ryeong yang terlihat sedang mencium seorang pria.

 

Bukannya mengelak maupun menjelaskan, Ae Ryeong malah tertawa melihat foto itu. “Foto itu, darimana kau mendapatkannya ? Hahaha.”

 

Mata Jungkook semakin memerah, bukan ini yang ia inginkan sebagai jawaban. Ae Ryeongpun menghentikan tawanya setelah tau jika suasana saat ini tidak seperti apa yang ia harapkan.

 

Jungkook marah, benar – benar marah.

 

“Ya, apa yang ada di foto itu memang benar. Aku menciumnya.” Ae Ryeong mengakuinya. Jungkook merasa waktu berhenti berputar, begitu juga detakan jantungnya.

 

Jungkook mengepalkan tangan hingga buku – buku kukunya memutih. Ia lantas menarik Ae Ryeong, menyudutkan gadis itu di dinding lalu menatap tepat ke arah matanya penuh amarah.

 

“Kau mengakuinya ? Semudah itukah ?” Jungkook kembali mengintimidasi.

 

Ae Ryeong mulai merasa ketakutan. Lelaki yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Jungkook.

“Hyung—Jungkook-a, aku bisa menjelaskan siapa pria yang ada di foto itu. Ku mohon, jangan seperti ini. Kau–kau membuatku takut.”

 

“Kau melarangku melakukannya padamu, tapi kenapa kau melakukannya dengan pria lain SHIN AE RYEONG ?” Teriak Jungkook.

 

Ae Ryeong berusaha mendorong dada Jungkook menjauh. “Kumohon, aku bisa menjelaskannya.”

 

Jungkook tak perduli dengan penjelasan Ae Ryeong. Pikirannya sudah gelap karena cemburu. Lelaki itu juga hilang kendali terhadap tubuhnya sendiri. Ia malah semakin menyudutkan Ae Ryeong, mengunci rahang gadis itu dengan seluruh tangan kanannya dan…..

 

PLAKKK

Ae Ryeong menampar Jungkook.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN ?” Bentak Ae Ryeong. Air mata sudah berkumpul di sudut matanya. Ae Ryeong tidak menyangka jika Jungkook yang lembut malah berubah menjadi monster haus akan nafsu. Padahal selama ini Jungkook tidak pernah menyenggol hal – hal seperti ciuman dan sebagainya, tapi hari ini ? Mengapa ia malah memaksa Ae Ryeong untuk menciumnya ?

 

“SEHARUSNYA ITU PERTANYAANKU SHIN AE RYEONG !! KENAPA KAU MELAKUKANNYA AE RYEONG ? KENAPA ?”

 

Ae Ryeong balas menatap Jungkook marah. “Jadi,  selama ini kau hanya mengincar ciumanku ? Kupikir kau menyayangiku Jeon Jungkook. Tapi ternyata, KAU HANYA INGIN MEMENUHI NAFSUMU. DASAR BRENGSEK !!!”

 

“Ya, memang itu yang ku inginkan. Lalu bagaimana denganmu ? Kau memanfaatkanku, memanfaatkan ketenaranku. Kau mau menjadi kekasihku hanya gara – gara kau ingin terkenal bukan ? Oh, bahkan kau rela jika ku —-”

 

Perkataan Jungkook terhenti ketika Ae Ryeong kembali mensukseskan tamparannya dan kali ini gadis itu mengikutsertakan air mata. Ia menangis, untuk pertama kalinya.

 

“Kumohon Jungkook, aku tidak ingin melanjutkannya. Kumohon.” Isak Ae Ryeong.

 

“Kalau begitu, bagaimana jika semuanya kita hentikan saja ?” Ae Ryeong terbelalak. Ini tidak mungkin terjadi.

 

“Jungkook-a.”

 

“Kita cukup sampai disini Shin Ae Ryeong, kuharap kau dan aku bisa menjadi lebih dewasa lagi di masa depan.” Penyelesaian yang berhasil membuat hati Ae Ryeong hancur berkeping – keping. Air mata kembali lolos dari matanya. Ae Ryeong runtuh sepenuhnya.

 

Merasa tidak ada lagi urusan, Jungkook berbalik. Berniat pergi untuk menenangkan dirinya. Namun jauh dalam dirinya, Jungkook tidak menyangka jika ia akan mengatakan kata itu. Ia terus saja merajut langkah hingga Ae Ryeong tidak lagi terlihat dan di saat itulah,

 

Jungkook menyesali perkataannya.

 

Menyesali pikiran pendeknya.

 

Menyesali tindakan lancangnya.

 

Dan juga menyesal karena telah berhasil membuat Ae Ryeong meneteskan air mata di hadapannya.

 

~FlashBack Off——————————————————————————————————

 

Jungkook menutup matanya, mengingat kejadian perih itu benar – benar menguras pikirannya. Andai saja dulu ia mau mendengarkan penjelasan Ae Ryeong tentang pria yang di ciumnya, mungkin hubungan Jungkook dan Ae Ryeong baik – baik saja masa itu. Dan rasa menyesal Jungkook semakin berlipat ketika mengetahui fakta bahwa pria yang Ae Ryeong cium adalah adiknya sendiri yang tinggal di Jepang.

 

 

Setelah berperang cukup lama dengan pikiran sendiri, disinilah Jungkook pada akhirnya. Berdiri di depan pintu supermarket tempat Ae Ryeong bekerja. Berharap memiliki kekuatan untuk masuk, namun yang ia lakukan hanya berdiri dan menatap Ae Ryeong yang tengah menjalani pekerjaannya. Jungkook tidak sadar jika ia selalu saja mengulum senyum ketika melihat Ae Ryeong melayani setiap pelanggannya.

 

Masih belum mendapatkan kekuatan. Jungkook memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di salah satu kursi yang ada di luar supermarket. Ia menggesekkan kedua tangan dengan cepat karena udara Seoul di malam hari benar – benar  gila. Bahkan jaket tebal yang Jungkook kenakan masih belum bisa menangkal angin dingin.

 

 

“Terima kasih Ae Ryeong, maaf sudah merepotkanmu.” Ae Ryeong menggeleng. “Tidak apa.” Balas gadis itu lembut pada lelaki yang ada di hadapannya.

 

“Kalau saja kau tidak ada, Aku tidak tau lagi harus meminta pertolongan siapa.”

 

“Apa yang kau bicarakan ? Bekerja disini menyenangkan. Aku bisa bertemu banyak orang, terlepas dari kegiatan harianku yang menyebalkan.” Ae Ryeong melebarkan senyumnya.

 

“Apa kau tidak ingin kuantarkan ? Rumahmu cukup jauh dari sini.” Lelaki itu menawarkan namun Ae Ryeong menolak. “Siapa juga yang ingin menggangguku ? Kalau begitu, aku pulang eoh ?” Pamit Ae Ryeong.

 

“O, hati – hati di jalan.”

 

Ae Ryeong mengangguk. “Pasti. Jangan lupa sampaikan salamku pada ibumu.” Lelaki itu mengangguk dan Ae Ryeongpun keluar dari supermarket.

 

Udara dingin menyambut Ae Ryeong ketika keluar dari supermarket. Namun hal itu bukanlah yang membuat Ae Ryeong terkejut.  Kehadiran Jungkook yang tampak kedinginanlah yang mengejutkan Ae Ryeong. Alis gadis itu bertaut. Ia berjalan mendekati Jungkook yang duduk bagaikan gumpalan trenggiling yang menggulung.

 

“Hei, Jeon Jungkook.” Panggil Ae Ryeong, namun Hyungbau -Jungkook kerbau- tentu saja tidak akan terbangun. Ia tertidur layaknya orang mati di cuaca ekstrim seperti ini.

 

Ae Ryeong tersenyum. Jungkook tidak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang, Jungkook mencintai aktivitas tidur lebih dari siapapun. Lagi, Ae Ryeong berusaha membangunkan Jungkook. Namun kali ini ia membangunkan Jungkook dengan bisikan. Menghembuskan udara hangat ke dalam telinga Jungkook dan hal itu tentu saja berhasil.

 

“Kenapa tidur disini ? Apa kau di usir lagi ? Ah, kenapa kau tidak berubah Jeon Jungkook ?” Ae Ryeong terkekeh melihat wajah Jungkook yang blank. Dan pria itu langsung mengerti keadaan, ia menggelengkan kepalanya, berusaha terlihat lebih segar dan juga lebih sadar.

 

“A–aku, ta–tadi.” Sial! Jungkook kehilangan kata – katanya. Ia benar – benar terlihat seperti orang idiot saat ini.

 

“Udara di luar semakin memburuk. Kau akan sakit jika terlalu lama disini.” Jungkook terdiam.

 

Ae Ryeong tersenyum, Jungkook begitu menggemaskan jika terdiam seperti itu. “Kalau begitu aku pulang, eoh ?”

 

Ae Ryeong baru mulai berjalan sekitar 3 meter ketika tiba – tiba seseorang menggenggam lengannya. Membuat Ae Ryeong tersentak kaget dan hampir saja melayangkan sebuah pukulan. Namun, pergerakan gadis itu terhenti ketika mendapati jika ternyata Jungkooklah yang menggenggam lengannya. Dari tangan, pandangan Ae Ryeong berpindah pada wajah Jungkook.

 

“Ada apa ?”

 

Jungkook berusaha mengatur nafasnya terlebih dahulu, ia juga mulai merangkai kata – kata lagi. Dan ketika Jungkook hendak memulainya, Ae Ryeong lebih dulu memotong.

 

“Aku ingin minta maaf padamu, Jeon Jungkook.” Pinta Ae Ryeong dengan wajah di tekuk. Jungkook tentu saja terkejut. Yang seharusnya meminta maaf adalah dirinya, bukan Ae Ryeong. Tapi Jungkook kembali diam ketika Ae Ryeong melanjutkan ucapannya.

 

“Aku tidak tau jika saat itu kau memang tidak tau jika Chankyung adalah adik ku. Kupikir kau tau semua tentangku, tapi pikiranku salah sehingga membuat kesalahpahaman itu semakin besar.” Sesal Ae Ryeong.

 

“Aku juga minta maaf.” Akhirnya Jungkook lancar berbicara. Lelaki itu juga menurunkan tangannya hingga menggenggam pergelangan tangan Ae Ryeong. Sementara Ae Ryeong hanya bisa menegakkan kepalanya, menatap Jungkook seakan tak percaya. Tak percaya jika yang mengucap maaf adalah Jungkook.

 

“Seharusnya aku tidak berpikir terlalu pendek saat itu. Memutuskan perkara di saat otak tidak berpikir stabil membuatku menjadi orang paling idiot. Aku bahkan lebih idiot ketika tidak berpikir untuk menemuimu setelah pertengkaran. Membiarkan rasa marah dan benci semakin besar tanpa memulai aksi untuk meredakannya. Aku begitu idiot. Maafkan aku Shin Ae Ryeong. Aku tau kesalahanku sangat besar, dan bisakah kau memaafkanku ? Tidak sepenuhnya memaafkan juga tak apa.” Sesal Jungkook disertai penjelasan yang membuat hati Ae Ryeong terasa hangat. Pengakuan Jungkook, baru kali ini Ae Ryeong mendapatkannya. Yang setulus ini dan semuanya berasal dari Jungkook.

 

“Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.” Balas Ae Ryeong bahagia disertai munculnya angka satu melalui telunjuknya. Sementara tangan satunya masih berada dalam genggaman Jungkook.

 

“Apa itu ? Kuharap bukan menebak isi kotak berisikan tikus lagi. Kalau kau meminta itu, aku tentu saja akan menolaknya.” Ae Ryeong terkekeh mendengar nya. Si penakut Jungkook belum berubah.

 

“Tidak. Aku tidak akan setega itu padamu.” Jungkook menghela napas lega.

 

“Tapi mungkin akan jauh lebih tega lagi.” Ae Ryeong melanjutkan, membuat Jungkook bergidik ngeri. Oh, Shin Ae Ryeong selalu suka sesuatu yang menantang.

 

“Jadi, apa syaratmu ?”

 

Ae Ryeong menyeringai kecil. Gadis itu lantas menyuruh Jungkook untuk mendekat kepadanya dan pria itu menurut. Ia mendekatkan dirinya pada Ae Ryeong. Hingga akhirnya, Jungkook terbelalak kaget ketika Ae Ryeong secara mendadak menciumnya dan itu tepat di bibir. ASTAGA!

 

Bukan hanya sekedar ciuman, namun Ae Ryeong juga memberikan sedikit sensasi di dalamnya. Membuat Jungkook harus mengikuti alur yang telah Ae Ryeong perbuat hingga akhirnya mereka mulai merasa kehabisan oksigen dan melepas tautan tersebut. Jungkook merasa malu sehingga tak mampu menatap Ae Ryeong. Ia tidak menyangka jika Ae Ryeong akan berbuat seperti itu.

 

“Sekarang aku sudah berumur 21 tahun, melakukan yang sedikit lebih liar. Tak apa kan ?” Ae Ryeong berucap disertai tawa. Jungkook terkekeh di buatnya.

 

“Dan ini, kau harus memakai syal ini.” Ae Ryeong membuka syal yang ada di lehernya lalu memindahkannya pada Jungkook. “Aku tidak ingin melihat badanmu lebih kurus lagi. Kau benar – benar seperti tulang berjalan.” Omel Ae Ryeong, namun Jungkook hanya bisa tertawa dibuatnya. Oh, kenapa udara yang semula sangat dingin terasa lebih hangat ya ?

 

Belum mendengar apapun dari Jungkook, Ae Ryeong lantas merajuk. “Kau tidak ingin menyampaikan apapun setelah kejadian tadi ?”

 

“Menyampaikan apa ?”

 

“Dasar lelaki tidak peka.” Ae Ryeong cemberut. “Aku bahkan membuang rasa maluku jauh – jauh hanya untuk menciummu.”

 

“Lalu, apa yang harus kukatakan ? Ingin meminta kembali hubungan kita yang sudah putus ?” Ae Ryeong tersenyum mendengar ucapan Jungkook. Gadis itu juga mengangguk semangat.

 

“Tidak akan.” Rasa – rasanya Ae Ryeong merasa pusing. Jawaban Jungkook benar – benar diluar prakira.

 

“Shin Ae Ryeong, akan tetap menjadi mantan kekasih Jeon Jungkook karena aku tidak mau lagi menganggapnya sebagai kekasih sesaat. Melainkan menjadi kekasih seumur hidupku ketika nanti, apa yang menjadi kewajibanku untuk menjadi kepala keluarga telah terpenuhi. Dan, maukah kau menungguku ?”

 

Sebuah lamaran dadakan, itu sebuah lamaran dadakan. Tanpa cincin, buket bunga dan juga makan malam romantis. Cukup jalanan dan angin yang menjadi saksinya. Ae Ryeong bahagia, kelewat bahagia malahan. Dan gadis itu tentu saja tanpa ragu mengatakan ya, diiringi anggukan kepala yang pasti. Jungkook ikut tersenyum lantas memeluk Ae Ryeong erat seakan – akan tak ingin kehilangannya.

 

“Jadi, kapan ciuman kedua akan kau berikan ?” Goda Jungkook disela kebahagiaannya.

 

“Ciuman ciuman. Kita harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, lalu mulai mencari pekerjaan tetap. Menabung untuk segala keperluan kita dan ketika fisik beserta mental sudah siap, baru kita bisa melakukannya.” Omel Ae Ryeong membuat Jungkook cemberut.

 

“Itu terlalu lama, bahkan hanya untuk ciuman kedua ?”

 

“Ya.”

 

“Kalau begitu.” Jungkook tersenyum jahil, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Ae Ryeong sejenak sebelum melarikan diri menjauh dari Ae Ryeong. “Sebut saja itu ciuman pertama dariku.” Teriak Jungkook yang mulai menjauh.

 

“YAAA!! JEON JUNGKOOK!!”

 

-CUT-

Lil Quotes        :

Menyelesaikan masalah diwaktu perkara tidak akan memperbaiki semuanya. Berhentilah bersifat egois, berikan jeda waktu dan kau tidak akan menyesali apa yang telah kau putuskan kemudian. Percayalah, penyesalan tidak pernah datang di permulaan.

 

Maaf kalau hasilnya absurb gini >.<

Udah lama gak nulis bikin aku gagap untuk memulainya, bahkan untuk melanjutkan cerita yang tergantungpun aku stuck –“

Jadi, dimohonkan kritik beserta saran dari teman – teman semua🙂

Oh, untuk next project.

Kamu ingin request lagu apa untuk di buat ceritanya ?

  • BTS – Hold Me Tight
  • Exo – Monster
  • Seventeen – Very Nice

 

 

 

7 responses to “{Song Fict} EX – GIRL

  1. Kyaaaaaaaaaaaaaaa…
    So Sweet, suka banget kata2 Jungkook yang “tetap menjadi mantan kekasih Jeon Jungkook karena aku tidak mau lagi menganggapnya sebagai kekasih sesaat. Melainkan menjadi kekasih seumur hidupku ketika nanti, apa yang menjadi kewajibanku untuk menjadi kepala keluarga telah terpenuhi. Dan, maukah kau menungguku ?”
    kereeen, ditunggu ff lainnya ^^

  2. ex girl bakal jadi my wife….
    So sweet banget mah endingnya
    Awal awalnya mah mungkin agak kezel tapi langsung berubah

  3. “…Percayalah, penyesalan tidak pernah datang di permulaan.” karna kalau di permulaan itu namanya pendaftaran😀

    lama banget ya, 2 tahun. gak kebayang gimana kehidupan mereka selama itu. apalagi jungkook yang berasa gak ada niat hidup😀

    tapi suka ceritanya, so sweet.

  4. aku baper astaga *gue baperan bet sumpah*
    ini cerita hampir mirip sama temen gue (tp mereka blom nikah)
    sweet banget jungkook aku mau dong jadi ae Ryeong ._.
    aku mah apa di fanzone-in sama kamu jeon😦 .ggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s