BETWEEN THE LINE 2 : [Sly Fox Named Park Chanyeol]

req-sehunblackpearl

by Tamiko

Chaptered || Romance & Hurt/Comfort || PG-15

Cast : Sehun, Jooyoung (OC), Jongin, Chanyeol, Zoe (OC)

Poster © Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Disclaimer : I don’t own Exo. They belong to SME.

Don’t believe everything you read.Sometimes the only way to get the truth is to read between the lines.

Summary : Jooyoung merasa hidupnya tiba-tiba berbalik dua ratus tujuh puluh derajat. Dengan adanya Sehun, pria yang dicintainya tapi sudah bertunangan. Jongin sahabatnya yang membenci Sehun. Lalu ada Chanyeol. Well Chanyeol adalah raksasa bodoh yang penuh kejutan. Her life suddenly turns into a total jokes.

Previous : Prolog | 1

ℑζ

Itu adalah tiga puluh detik terpanjang dalam hidup Jooyoung. Baiklah sedikit berlebihan. Karena secara teknis semua tiga puluh detik itu sama saja. Tidak pernah lebih panjang atau lebih singkat. Tapi Jooyoung tidak tahu harus mengatakan apa atau melakukan apa. Karena itu dia merasa tiga puluh detik itu menjadi lebih lama ― jauh lebih lama ― dari semua tiga puluh detik yang pernah dialaminya.

Well, kau tidak setiap hari mendapati dirimu dalam sebuah acara makan siang keluarga (yang bukan keluargamu) bersama seorang pria yang baru bertemu denganmu sebanyak tiga kali. Tepat tiga kali. Dan hari ini adalah yang ketiga (dia tidak menghitung saat di kafe bersama Jongin dan Sehun). Dan lalu diperkenalkan sebagai kekasih dari pria yang dimaksud. Sedangkan orang yang disukainya berdiri hanya beberapa langkah dari mereka. Menatapnya seolah akan melubangi kepalanya dengan matanya itu.

HAHA.

Ini lelucon terkonyol sepanjang tahun. Jooyoung ingin segera keluar dari situasi ini.

Yang paling utama untuk dilakukan sekarang adalah menghindari Sehun lalu menginterogasi Chanyeol berikutnya. Tapi sialnya sebelum Jooyoung berhasil menyembunyikan dirinya dari siapapun yang ada di ruangan itu, Zoe terlebih dahulu menarik Sehun mendekat ke arah mereka dan melambaikan tangannya sambil berteriak “Jooyoung.”

Tembak aku sekarang.

“Hei Zoe. Sehun.” Jooyoung memaksakan senyum di wajahnya seolah-olah dia tidak ingin melepaskan tangan Zoe yang bergelayut manja di lengan Sehun. Itu membuatnya muak.

“Hei Sehun dan lovely girl Zoe,” sapa Chanyeol pada dua orang baru itu. Suara berat pria itu berhasil menginterupsi Jooyoung dari bayangan bodohnya. Dan dia melihat Chanyeol memeluk Sehun santai lalu berpindah ke Zoe dan memberi gadis itu ciuman ringan di pipi.

“Ah Sehun, Zoe. Apa kalian sudah bertemu dengan Jooyoung? Dia pacarku,” kata Chanyeol lagi seraya menunjuk pada Jooyoung yang hanya berdiri kaku di tempatnya. Dengan Sehun, Zoe, dan Nyonya Park menatapnya secara bersamaan begitu, Jooyoung merasa kehilangan kemampuannya untuk melakukan apapun dengan benar. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.

Tapi Chanyeol menariknya semakin mendekat kepada ketiga orang itu. Dan meskipun setelahnya Nyonya Park permisi dari hadapan mereka, Jooyoung tetap tidak berani mengangkat bertatap muka langsung dengan dua orang lainnya. Terutama Sehun. Dia adalah orang yang paling utama untuk dihindari.

“Kami sudah bertemu di taman berapa minggu lalu. Ya kan Baby?” Zoe berkata ceria kepada Sehun dan hanya dijawab dengan anggukan oleh pria itu. “Aaw tapi kau sama sekali tidak mengatakan kalau kalian berkencan Jooyoung.”

Karena aku juga baru tahu tentang itu hari ini.

“Yah begitulah. Ini… em… sedikit rumit.” jawab Jooyoung pada akhirnya. Memilih melanjutkan kebohongan Chanyeol dan dia bersumpah dia mendengar Chanyeol mendengus puas.

“Rumit?” Sehun bertanya setelah bungkam beberapa saat. Dia menaikkan salah satu alisnya untuk mempertegas pertanyaannya.

“Begitulah.”

“Entahlah. Aku tidak akan menyebutnya rumit.” Sehun berkata tanpa melepaskan pandangannya dari Jooyoung. “Karena kalian tidak terlihat seperti pasangan bagiku.”

“Hentikan itu Hun,” ujar Chanyeol cepat saat merasakan Jooyoung seolah menciut di sampingnya. “Aku dan Jooyoung memang berkencan. Cukup lama. Meskipun baru meresmikannya minggu lalu.” tambahnya dan dia menarik Jooyoung ke dalam pelukannya.

Jooyoung tidak mengerti. Sama sekali tidak. Karena Zoe terlihat terkejut dan mata Sehun berkilat oleh sesuatu yang tampak seperti kemarahan. Sedangkan detak jantung Chanyeol yang tetap normal satu-satunya yang bisa menjaga kewarasan Jooyoung dari rencana gila apapun yang sedang dirancang Chanyeol.

“Sebenarnya untuk apa itu tadi?” tanya Jooyoung saat dia sudah duduk di dalam mobil Chanyeol.

“Apanya yang untuk apa?” Chanyeol baru saja masuk dan menutup pintu mobil dengan keras. Dia bahkan belum sempat mencari posisi yang paling nyaman untuk menyetir dan penumpangnya sudah langsung terlihat siap untuk membawa mobil yang akan mereka kendarai menabrak pembatas jalan.

“Kau tahu apa yang kumaksud dengan apa,” kata Jooyoung lagi memutar bola matanya.

Chanyeol diam sesaat dan memasang sabuk pengamannya. “Entahlah aku bingung dengan apanya yang apa dan untuk apa.”

“Kau benar-benar menyebalkan.”

Chanyeol tidak menjawab. Hanya menggerakkan perseneling dan menginjak gas lalu menyetir dalam diam.

Sekali lagi, Jooyoung tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dilakukan dan mungkin akan dilakukan Chanyeol berikutnya. Dan Chanyeol tidak terlihat seperti ingin menjelaskan sama seperti dua minggu lalu. Dan meskipun dia sangat dongkol sekaligus penasaran, Jooyoung memutuskan untuk diam saja selama sisa perjalanan dan membiarkan mobil itu hanya diisi suara cempreng seorang penyiar radio lokal dengan lagu-lagu pop yang sama sekali tidak disukainya. Sedangkan dia sibuk memeriksa SNS di ponselnya. Karena bertanya pada Chanyeol tidak ada gunanya.

“Hei katakan sesuatu dong.” Chanyeol yang membunuh kesunyian di antara mereka dengan melampaui suara si penyiar radio dua menit kemudian.

“Memangnya apa yang harus kukatakan?” Jooyoung menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

“Entahlah. Bukankah ada banyak yang bisa dibicarakan?”

“Misalnya?”

“Misalnya… emm…” Chanyeol tampak berpikir sejenak, mengalihkan perhatiannya dari jalan kepada penumpangnya. Dia tersenyum menunjukkan barisan giginya sebelum berkata “Misalnya bagaimana tanggapanmu dengan apa yang kukatakan tadi.”

Jooyoung mencibir. Rasanya ingin menyelupkan si bodoh di sampingnya ini ke dalam oli dan tidak mengangkatnya sampai empat puluh delapan jam kemudian. “Sekarang kau bertanya tentang itu.”

“Yup.”

Jooyoung memilih mengabaikan Chanyeol dan melanjutkan memeriksa ponselnya.

“Lagipula aku penasaran sebenarnya hubungan apa yang kau milik dengan Sehun,” kata Chanyeol lagi. Dan kali ini dia berhasil membuat Jooyoung menggeram kesal. Gadis itu memandangnya marah.

“Tidak ada hubungan dari awal.” Jawabnya ketus.

Chanyeol tertawa. Seriously? Apa yang lucu dari itu? “Yeah aku tahu itu.” kata Chanyeol. Senyum aneh itu bertengger di wajahnya lagi. “Jadi tidak salah kan kalau aku mengaku pacarmu,” katanya lagi, kali ini diikuti kedipan mata. Dan Jooyoung tidak yakin harus merespon apa terhadap kedipan itu. Tapi dia cukup tahu untuk menjawab pernyataan pemuda itu.

“Aku tidak tahu benar atau salah. Sebenarnya aku keberatan,” Jooyoung berharap ekspresi pemuda yang sedang menyetir di sampingnya akan sedikit berubah, tapi Chanyeol masih tetap konsisten dengan senyumnya. Dia kemudian melanjutkan dengan sedikit ragu “Tapi aku tidak tahu apa tujuanmu sebenarnya.”

“Tujuanku bukan sesuatu yang penting,” Chanyeol berkata seraya berkonsentrasi membelokkan mobilnya ke arah daerah apartemen Jooyoung. “Pada akhirnya kau akan mengerti. Dan aku sudah berjanji padamu ini akan menyenangkan. Jadi…” mengerakkan sebelah tangan menyisir rambutnya “ini pasti menyenangkan.”

Jooyoung mengabaikan senyum misterius Chanyeol berikutnya dan ikut-ikutan fokus pada jalan. Saat bangunan apartemennya sudah terlihat, dia mengumpulkan semua barangnya —yang hanya terdiri dari tas― dan bersiap turun dari mobil itu secepat mungkin. Masih ada lain kali untuk lebih mengerti pria di sampingnya itu. Jooyoung yakin pasti masih ada lain kali.

Saat sedang memeriksa ponselnya di apartemen sore harinya untuk menelepon Jongin, Jooyoung menyadari kalau dia mendapat satu pesan yang belum dibaca dari nomor tidak dikenal.

Kau akan mengerti pada akhirnya.

Dan aku sudah berjanji ini akan menyenangkan.

Jadi ini pasti menyenangkan.

XOXO

Park Chanyeol

P.S. Simpan nomorku dengan baik Kim Jooyoung.

Jooyoung memutar bola matanya. Dia tidak mengerti orang ini. Sama sekali tidak mengerti. Tapi dia tetap menyimpan nomor Chanyeol di ponselnya seperti instruksi pria itu. Mungkin suatu saat akan berguna. Meskipun Jooyoung ragu tentang itu.

“Kau apa?” Jongin harus memaksa dirinya untuk tidak menelan potato chips di tangannya beserta bungkusnya. Karena ini berita baru dan tergila yang pernah didengarnya dari Jooyoung tahun ini (setelah masalah dia berkencan dengan Sehun, tapi Jooyoung tidak memberitahunya waktu itu jadi yeah ini yang tergila setahun ini). Entah kenapa dia merasa sepertinya Jooyoung punya hobi baru akhir-akhir ini. Membuatnya mengalami serangan jantung ringan.

“Kubilang aku makan siang bersama keluarga besar Chanyeol tadi.”

Jongin meletakkan jaketnya di atas sofa Jooyoung. Demi Tuhan dia baru saja melangkahkan kaki ke apartemen sahabatnya beberapa detik lalu dan gadis itu —dengan sangat santai sambil menikmati kopi dinginnya― mengatakan kalau dia baru saja kembali dari makan siang bersama Park Chanyeol. Park Chanyeol. Apa telinganya sekarang mulai bermasalah? Karena terakhir Jongin ingat, Park Chanyeol dan Jooyoung baru bertemu dua kali dan itu tidak membuat Jooyoung bisa mengikuti acara makan siang bersama keluarga Chanyeol. Keluarga besar tepatnya. Dia pasti sudah salah mendengar.

“Tunggu. Tunggu. Kurasa aku salah dengar. Apa tadi kau bilang Park Chanyeol?”

“Yup.”

Jongin merasakan serangan migraine di kepalanya secara tiba-tiba. Seperti ada palu raksasa baru saja dihantamkan pada tengkoraknya. Dia berjalan memutari sofa dan duduk di ujung lain sofa itu kemudian. Memandang Jooyoung curiga disertai rasa khawatir.

“Bagaimana bisa? Kenapa? Kapan? Dimana?” tanyanya bertubi-tubi.

“Tenang Jong. Tenang.” Jooyoung menggerakkan tangannya tepat di depan wajah Jongin. Berharap Jongin tidak akan bertingkah seperti nenek tua paranoid setiap kali Jooyoung menceritakan sesuatu padanya. Itu membuat Jooyoung sedikit lelah.

“Ini sedikit rumit dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” kata Jooyoung lagi. “Tadi dia tiba-tiba mengajakku makan siang dan aku sama sekali tidak tahu kalau itu dengan keluarganya.”

“Bukannya seharusnya kau menolak walaupun itu tidak dengan keluarganya?”

“Aku tahu. Aku tahu. Hanya saja tawarannya sedikit menggiurkan jadi.. yeah.” Jooyoung merasa sedikit bersalah berbohong pada Jongin tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya mengatakan pada Jongin kalau dia menyetujui ajakan Chanyeol karena orang yang bersangkutan sudah mengancamnya dengan sesuatu yang berhubungan dengan Sehun dan tunangannya dan memberitahu Jongin. Itu akan membuat Jongin lebih paranoid lagi dan dia mungkin akan marah entah pada Jooyoung atau pada Chanyeol atau Sehun. Mungkin kepada ketiganya.

“Lalu? Apa Sehun juga ada di sana?”

Jooyoung mendesah pelan. Tidak bisa berbohong tentang ini. “Yeah.” Dengan tunangannya.

“Dan?”

“Dan?” Jooyoung mengulangi pertanyaan Jongin tidak yakin apa yang ingin diketahui sahabatnya itu.

“Dan tidak terjadi apa-apa?”

“Hmm tidak ada. Hanya makan siang normal.” Jooyoung mengedikkan bahu. “Dan aku juga berbicara satu dua kata dengan Sehun.”

“Hanya satu dua?” Jongin masih bertanya menyelidik dan hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Jooyoung.

“Makanannya tadi enak,” kata Jooyoung akhirnya mengalihkan pembicaraan. Tandanya dia sudah selesai dengan topik tentang makan siang bersama Chanyeol dan keluarga. Karena sejak awal dia hanya ingin memberitahu Jongin saja dan tidak berdiskusi panjang tentang itu.

Jongin akhirnya mendesah kalah sebelum melempar tangannya ke udara. Dia kemudian meraih bantal kursi di sampingnya dan menekannya ke wajahnya lalu mengerang frustasi. “Sebenarnya apa yang kau lakukan Joo?”

“Bukan sesuatu yang berbahaya.”

Jooyoung tersenyum meyakinkan Jongin tapi pemuda itu tidak tampak yakin.

Sehun menelepon beberapa jam kemudian setelah Jongin meninggalkan apartemen Jooyoung dalam keadaan berantakan pasca menyelesaikan tugas akhir semester yang harus dikumpulkan sebelum natal. Jooyoung harus menggali ponselnya di antara tumpukan kertas selama beberapa waktu sebelum bisa melihat nama pemanggilnya dan segera menerima telepon itu.

“Hei ada apa malam sekali?” ujarnya begitu tersambung dengan Sehun.

“Selamat malam juga untukmu sepupu ipar.”

Jooyoung memutar bola matanya mendengar jawaban Sehun. “Seriously Hun?”

“Hmm aku tidak tahu kau berkencan dengannya,” kata Sehun.

Jooyoung ingin mengatakan sesuatu seperti ‘aku juga tidak tahu kalau aku berkencan dengannya’ tapi sebaliknya yang keluar dari mulutnya adalah “Sama seperti aku tidak tahu kalau kau sudah bertunangan.” Dan Jooyoung merasa rasa cemburunya terdengar sangat jelas dalam suaranya. Tapi dia tidak peduli. Biar saja Sehun mendengarnya.

“Itu berbeda,” jawab Sehun terdengar kesal, nada bicaranya lebih tinggi dari yang pernah Jooyoung dengar selama ini. Jooyoung tidak mengerti kenapa malah dia yang merasa kesal. “Kau sama sekali tidak mengenal Zoe dan aku tidak merasa harus memberitahumu tentang itu. Itu pribadi.”

Oh.

Jooyoung tidak tahu harus memberikan respon apa. Karena memang dia Sehun tidak harus memberitahunya tentang itu. Tapi hal yang sama juga berlaku untuk Sehun kalau begitu.

“Maaf tapi bagiku itu juga adalah hal yang pribadi dan aku tidak harus memberitahumu dengan siapa aku berkencan.” Pada akhirnya dia memaksa lidahnya berbohong lagi.

Setelah itu tidak ada jawaban dari Sehun. Dan Jooyoung memutuskan ini adalah akhir dari percakapan mereka.

“Selamat malam Sehun.”

Dia bahkan tidak menunggu Sehun menjawab. Langsung mematikan sambungan telepon mereka dan melempar ponselnya ke atas tumpukan kertas semula. Malam itu Jooyoung tidak bisa menutup matanya tanpa sekalipun memikirkan wajah Sehun dan Zoe. Serta bagaimana untuk pertama kalinya Sehun berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Dia berpura-pura reaksi Sehun yang seperti itu adalah karena dia cemburu. Itu membantunya untuk dapat tidur.

Jooyoung duduk di salah satu kursi kayu yang berhadapan tepat dengan air mancur kampusnya. Dia dan Jongin dengan kompak menghembuskan napas lega setelah akhirnya mengumpulkan tugas akhir mereka sebelum deadline. Berikutnya mereka tinggal menikmati libur musim dingin. Mereka tersenyum senang —picik― saat melihat teman-teman mereka yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ada rasa puas melihat yang lain masih sibuk sedangkan mereka berdua sudah tinggal berkemas untuk perjalanan musim dingin.

Hohoho.

“Lega rasanya menyelesaikan seluruh tugas ini,” cengir Jongin sambil menghirup kopi instan yang baru dibelinya di mesin penjual otomatis.

“Kata seseorang yang hanya melakukan shading akhir,” balas Jooyoung hanya menggenggam mangkuk kopinya, mencoba mentransfer kehangatan dari cangkir itu ke tangannya. Udara akhir-akhir ini semakin tidak bersahabat dengan Jooyoung yang rentan dingin.

Jongin menyesap kopinya pelan dan menyengir lebih lebar. “Tapi kan aku mencari semua bahannya.”

“Yeah dan semua itu mendapat sponsor dana dariku. Terimakasih Jong. Kontribusi yang kau berikan sangat besar dalam tugas kelompok ini. Sangat membantu.” balas Jooyoung lagi. Dia tidak sedang berusaha sinis sebenarnya karena dia sudah terbiasa dengan ketidakmampuan Jongin membedakan tugas kelompok dengan sedikit membantu orang yang satu lagi dalam mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan seluruh anggota kelompok.

Jongin hanya terkekeh pelan. Dia menggunakan sebelah tangannya untuk mengacak rambut Jooyoung menghasilkan pekik protes dari gadis itu.

“Berhenti mengacak rambutku hitam.”

“Hei berhenti memanggilku …”

Tapi Jongin tidak melanjutkan kalimatnya. Dia mengatupkan bibirnya dan menggigit bagian bawah saat dia melihat bayangan seseorang mendekat ke arah mereka melalui sudut matanya.

“Sehun.” Sebut Jooyoung seolah-olah Jongin belum tahu kalau Sehun yang berjalan ke arah mereka. Sehun terlalu tinggi untuk tidak terlihat oleh Jongin. Dan dia sangat mencolok karena wajah tampannya itu. Persetan dengan wajah tampan.

“Apa yang dilakukan si brengsek itu di sini?”

“Entahlah.”

“Kuharap bukan untuk menemuimu,” Jongin tidak tahu apa yang mendorongnya untuk mengatakan itu. Tapi Jooyoung sama sekali tidak bereaksi terhadap kata-katanya. Jadi mungkin dia tidak terdengar secemburu yang dia pikirkan. Atau mungkin Jooyoung juga berharap hal yang sama karena alasan tertentu. Dan entah dia senang untuk itu atau tidak.

“Hei Jooyoung dan,” Sehun tampak berpikir beberapa saat seperti berusaha menggali ingatannya tentang orang di samping Jooyoung “temannya Jongin.” Sambungnya lagi dengan suara yang dipaksa untuk terdengar ceria. Jongin sama sekali tidak suka orang ini.

“Apa boleh kupinjam Jooyoung untuk hari ini?” Sehun bertanya pada Jongin.

Jongin ingin berkata tidak.

“Jadi.. sebenarnya ada apa dengan Jongin lagi?” Sehun bertanya begitu mereka berdua melangkah keluar dari gerbang kampus. Dia membawa ransel Jooyoung di punggungnya dan Jooyoung berjalan tepat di sampingnya. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Tanda dia juga tidak mengerti dengan kelakuan Jongin. Walau sebenarnya dia tahu.

“Dia membuatku takut,” kata Sehun lagi. “Dan dia sepertinya membenciku.”

“Mungkin itu hanya perasaanmu.”

Jooyoung tidak tertarik untuk membahas Jongin saat ini. Lebih ingin bertanya apa yang dilakukan Sehun di kampusnya atau dari mana dia tahu kampus Jooyoung.

“Semalam kau langsung mematikan telepon,” kata Sehun. Seolah dia bisa membaca pikiran Jooyoung. “Jadi kupikir kau marah.”

Jooyoung tertawa ― tidak tulus — tanpa menatap Sehun. “Aku tidak marah.” Karena memang tidak ada alasan untuk marah dan itu membuat hati Jooyoung jauh lebih sakit.

“Yeah tapi tetap saja kau membuatku khawatir dengan menutup telepon seperti itu.” ujar Sehun santai.

Kata-kata Sehun membuat Jooyoung berhenti melangkah dan ingin memeluk pria itu. Karena seluruh kata-kata dan sikapnya selalu berhasil membuat tingkat harapan Jooyoung padanya semakin tinggi. Tapi Jooyoung menekan semua perasaannya dan hanya berkata “Ayo cari tempat makan. Aku lapar.”

“Aku tahu restoran China dekat sini.”

Saat mereka duduk berhadapan di dalam restoran China yang dikatakan Sehun, Jooyoung sama sekali tidak bisa mengalihkan matanya dari pria itu. Dia bertanya-tanya bagaimana manusia sesempurna sosok di hadapannya ini bisa tercipta. Sehun mempunyai struktur wajah yang diimpikan semua gadis —dia sebenarnya tidak yakin tapi menurut majalah Cosmo wajah seperti Sehun adalah ideal semua kebanyakan perempuan. Dagunya yang sangat tajam adalah bagian yang paling menarik perhatian Jooyoung dari dulu. Dan tatapan matanya yang sendu tapi juga seperti menyimpan cerita di dalamnya. Jooyoung sudah terpesona pada wajah pria ini sejak pertama melihatnya melalui Skype.

“Apa aku memang setampan itu?” bisik Sehun di dekat telinga Jooyoung membuat pipi gadis itu memerah seketika. Sehun sudah duduk di sampingnya dan bibirnya hampir menempel di telinga Jooyoung. Sejak kapan Sehun menjadi sedekat itu dengannya?

Jooyoung gelagapan dan kehilangan kata-kata. “A..apa maksudmu?”

“Kau tidak berhenti memandangiku dari tadi, kau tahu?” katanya kali ini diikuti cengiran yang mengingatkan Jooyoung pada seorang raksasa menyebalkan.

“Dasar bodoh aku tidak memandangimu.” Jooyoung memalingkan wajahnya ke samping, berusaha menyembunyikan semburat merah yang perlahan memenuhi wajahnya. “Lagipula dari mana kau tahu restoran ini? Aku saja tidak pernah tahu kalau ada restoran seperti ini dekat kampusku.” Katanya lagi, jelas-jelas mengalihkan pembicaraan.

Sehun terkekeh pelan seraya menjauhkan wajahnya dari Jooyoung. “Aku juga pernah tinggal di Seoul Joo.” ujarnya geli. “Lagipula kau harus berhenti menghabiskan makan pagi dan siang di kantin Paman Lee. Dan coba berjalan di daerah sini.”

“Bagaimana kau bisa…”

“Oh tentu saja bisa,” potong Sehun cepat. “Kau sendiri yang mengatakannya padaku bebrapa bulan yang lalu.”

“Kau ingat?”

“Aku mengingat semua tentangmu, gadis manis.”

Jooyoung merasa pipinya bersemu lebih merah lagi dan suhu tubuhnya meningkat drastis. “Bagaimana bisa?”

“Entahlah,” balas Sehun acuh sambil mengedikkan bahunya.

“Mungkin karena kau selalu memikirkanku.”

“Tidak bisa menyangkal itu.”

Jooyoung tidak mengerti. Sama sekali tidak. Akhir-akhir ini banyak hal yang tidak bisa dia mengerti. Tapi Sehun selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat Jooyoung berbunga-bunga. Dan Jooyoung selalu hanya menerima kata-kata manis Sehun tanpa filter terhadap mana yang harus disimpan di hati dan mana yang sama sekali tidak boleh merasuk sistem kerja otaknya.

“Bagaimana kencan dengan Sehun tadi?” Jongin bertanya lewat sambungan telepon.

“Yeah begitulah,” jawab Jooyoung singkat. Sehun baru saja meninggalkan apartemennya setelah mengantar Jooyoung berjalan pulang tadi.

“Menyenangkan?”

“Hm kami hanya makan di restoran China dekat kampus.”

“Tentu saja menyenangkan. Segala sesuatu menyenangkan bersama Sehun,” kata Jongin lagi dan Jooyoung tahu pasti itu adalah sarkasme.

Jooyoung tidak mengerti. Kenapa Jongin selalu terdengar sinis setiap kali membicarakan Sehun. Padahal dia sendiri yang membawa-bawa pria itu dalam pembicaraan ini.

“Sebenarnya apa masalahmu?”

Jooyoung dapat mendengar Jongin mendengus ke ponselnya. “Semua yang kau lakukan dengan Sehun adalah masalah bagiku.”

“Sudahlah Jong, aku sedang tidak ingin bertengkar,” Jooyoung berkata, memilih menghindari pertengkaran ―yang entah kenapa hampir selalu terjadi setengah tahun belakangan— dengan Jongin.

“Kalau begitu matikan saja teleponmu,” balas Jongin lagi. Suaranya terdengar jauh lebih sinis dari sebelumnya.

“Terserahlah.”

Dan Jooyoung mematikan telepon seperti yang dikatakan Jongin.

Jongin melemparkan ponselnya dengan marah ke atas tempat tidurnya. Sama sekali tidak menyangka Jooyoung akan benar-benar melakukan seperti yang dia katakan. Ini adalah pertama kalinya mereka mengakhiri pembicaraan di telepon seperti ini. Pertama kalinya Jooyoung memutuskan telepon secara sepihak dan itu membuat Jongin kesal dan juga sedih di saat yang sama.

Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan persahabatannya dengan Jooyoung. Hanya saja dia akhir-akhir ini rasanya lebih sering marah dan Jooyoung membuatnya kesal setiap saat. Bukan Jooyoung tapi apa yang dilakukan dan tidak dilakukan gadis itu.

Dia marah karena Jooyoung berhubungan dengan Sehun. Marah karena Jooyoung tidak memberitahunya kalau dia berkencan dengan Sehun. Dia lebih marah lagi karena gadis itu membawa Sehun ke kafe langganan mereka. Marah karena Jooyoung bahkan tidak pernah memberitahunya kalau dia sekarang berteman dengan Chanyeol (karena Jooyoung tidak pernah berteman dengan orang baru tanpa memeberitahu Jongin). Tapi hei dia sudah melakukan itu sebelumnya. Dengan Sehun. Jongin marah karena Jooyoung tidak pernah mau diajak pergi ke restoran China dan hari ini dia menghabiskan harinya di restoran China yang sama dengan Sehun. Marah karena gadis itu tidak lagi meneleponnya setidaknya sekali dalam tiga hari karena mimpi buruk atau hanya karena ingin berbicara tengah malam saat insomnia.

Jooyoung seperti berubah menjadi seseorang yang hampir tidak dikenal oleh Jongin lagi. Dan hanya ada satu orang yang bisa disalahkan untuk itu.

Jooyoung terbangun pukul dua pagi karena mimpi buruk. Dia cepat-cepat meraih ponsel di atas nakasnya untuk menelepon Jongin. Karena begitulah cara dia selalu mengatasi mimpi buruknya sejak lama. Dia selalu merasa lebih tenang setelah mendengar suara sahabatnya itu. Dia mengusap ponselnya dan segera mencari riwayat panggilan terakhirnya dengan Jongin. Tapi begitu melihat riwayat panggilan singkat dengan Jongin tadi malam, dia kembali teringat dengan bagaimana sikap Jongin sebelumnya. Jadi Jooyoung mengurungkan niatnya dan malah menelepon Chanyeol sebagai gantinya.

“Jadi ada apa denganmu dan mimpi buruk ini?” tanya Chanyeol. Dia sedang duduk di sofa Jooyoung sementara pemilik apartemen itu sibuk dengan mesin pembuat kopinya.

“Well, hanya mimpi buruk biasa yang sudah sejak lama ada.” jawab Jooyoung dari balik counter.

Chanyeol mengerutkan keningnya. Tidak puas dengan jawaban Jooyoung. “Apa mimpi buruk seperti ini membuatmu menelepon sembarang pria pukul dua pagi dan menyuruhnya datang ke tempatmu?”

Jooyoung terdiam beberapa saat. Dia menatap miris kepada kopi yang baru dituangnya ke dalam gelas. Pertanyaan Chanyeol membuatnya ingat pada Jongin dan bagaimana dia lagi-lagi bertengkar dengan pemuda itu karena hal sepele. Ya, masalah Sehun hanya hal sepele baginya. Tidak tahu kenapa Jongin membesar-besarkannya setiap kali.

“Tidak juga.” bisiknya pelan.

Jooyoung menarik napas panjang, mendorong pikiran tentang Jongin keluar dari otaknya. Dia mengangkat dua gelas kopi yang baru dibuatnya dan berjalan ke tempat Chanyeol duduk menunggunya.

“Kau tahu?” kata Chanyeol seraya menerima satu gelas dari tangan Jooyoung. “Kalau aku bukan pemuda baik-baik, mungkin saja sesuatu bisa terjadi.”

Jooyoung tidak menjawab Chanyeol untuk beberapa saat. Hanya memposisikan dirinya dengan nyaman di samping pria itu dan menghirup kopinya. “Seperti?” katanya.

Chanyeol mengedikkan bahunya. Dia menatap bingung pada gadis di sebelahnya. “Lucu sekali kau ini,” Chanyeol menaikkan salah satu sudut bibirnya.

“Ha?”

“Kemarin kau menatapku curiga seperti ingin menendangku keluar dari sini secepat mungkin, sekarang kau menelepon dan menyuruhku datang pukul dua pagi.”

“Bukankah kau itu kekasihku? Wajar saja kan kalau aku menyuruhmu datang saat aku mengalami mimpi buruk,” balas Jooyoung acuh seraya menempelkan gelas kopinya ke bibir.

Chanyeol tertawa terbahak mendengar jawaban Jooyoung. Sama sekali tidak menduga gadis itu akan memberinya jawaban itu. Jooyoung gadis yang menarik, pikirnya.

“Maaf aku lupa tentang itu.”

“Yeah.”

Lalu ruangan itu hanya diisi dengan keheningan. Jooyoung tidak terlihat seperti ingin berbicara lebih jauh lagi dan Chanyeol cukup pintar untuk membiarkannya saja begitu. Meskipun dia tetap tidak habis pikir. Jooyoung gadis yang sangat careless. Padahal dia sebenarnya hampir tidak mengenal Chanyeol —begitu juga Chanyeol kepadanya — tapi dia menelepon Chanyeol —dari semua orang yang mungkin dikenalnya — dan mengundang pemuda itu masuk apartemennya dini hari seperti ini. Chanyeol bisa saja adalah pemerkosa atau pshyco mengingat tidak satupun kesan baik yang sudah ditinggalkan Chanyeol tiap kali bertemu Jooyoung. Tapi gadis itu tetap meneleponnya. Chanyeol ingin tahu kenapa.

“Aku biasanya selalu menelepon Jongin,” kata Jooyoung menjawab pertanyaan yang berputar-putar di kepala Chanyeol.

Pemuda itu tersentak mendengar suara Jooyoung yang tiba-tiba membunuh kesunyian ruangan. Dia melihat gadis itu sedang memeluk lututnya dengan satu tangan masih menggenggam gelas kopi dan dagu disandarkan di antara kedua tempurung lututnya.

“Tapi kami sedang bertengkar sekarang,” tambahnya. “Dia marah. Dan aku tidak pernah mengerti sebenarnya kenapa dia marah.”

“Jongin?” tanya Chanyeol memastikan.

“Ya.”

“Kalau begitu dia sering datang kesini tengah malam?”

Jooyoung mengangguk.

“Dan dia selalu terbangun setiap kali kau menelepon?”

“Ya.”

“Setiap kali?”

Jooyoung mengangguk lagi dan Chanyeol berhenti bertanya. Dia menatap Jooyoung takjub. Gadis di hadapannya ini membuat Jongin berlari ke apartemennya dini hari hanya karena dia mimpi buruk. Dan dia membuat hidup Chanyeol di ambang hidup dan mati —baiklah itu berlebihan— hanya untuk mengantar sebuket bunga.

“Wow,” katanya kemudian. “Sebenarnya hubungan kalian itu seperti apa?”

Jooyoung ragu untuk menjawab sesaat. Dia memandangi kopi di dalam gelasnya. Setiap kali ditanya seperti ini hanya ada satu jawaban terlintas di kepala Jooyoung. Jongin adalah sahabatnya sejak dia bisa mengingat. Tapi dia terkadang ragu. Apa mereka benar hanya sebatas sahabat?

“Kami…” ucapnya ragu. “Dia menyukaiku.”

Ha.

Benar sekali.

Memang itu satu-satunya kemungkinan yang bisa menjawab pertanyaan Chanyeol. Tapi kemudian muncul pertanyaan berikutnya. “Dan kau tahu?”

“Yeah.”

Lalu Chanyeol tertawa terbahak (lagi). Tiba-tiba semua ini terasa lucu.

“Apa yang lucu?” Jooyoung menatap Chanyeol kesal.

“Semua Jooyoung. Semua” kata Chanyeol di tengah tawanya yang tidak bisa dikontrol. “Dia menyukaimu. Kau tahu itu. Tapi kau dan Sehun haha…” Chanyeol memegangi perutnya saking geli dengan semua ini. Jooyoung terlihat bingung. “Ini menjadi jauh lebih menyenangkan dari yang kubayangkan. Sungguh.”

Dan Chanyeol serius dengan kata-katanya.

-tbc-

A/N :

Hello fellow reader /throw confetti/

I know i know. Mungkin gabanyak yang ingat sama fic ini. Hampir setahun gadak kabarnya.

Jadi aku tuh kemaren lupa kalo punya ff chaptered yang ongoing.

Dan di lain sisi aku emang rada ngambek soalnya ff ini sidersnya gaketulungan, jadi ffnya mau di stop sementara eh malah beneran lupa.

Maapkan akuuuu /bow/

Ini juga sebenernya kalo gadak pembacanya lagi berarti gabakal aku lanjut lagi. Maap.

Karna itu sorry for this suuuuuuper late chapter and I hope you enjoy it.

I also hope you forgive my lazy ass T^T

Aku bakal balik minggu depan dengan chapter 3 kalo masih ada yang mau ini dilanjut.

Jangan lupa tingalin komentar kalian di bawah ya:):):)

Lots of love.

Tamiko

50 responses to “BETWEEN THE LINE 2 : [Sly Fox Named Park Chanyeol]

  1. asli baru baca ini dan bisa sampe chapter ini dan lagi menarik2nya pas baca P.s dibawah lgsung aja ngenes ya mesti 3minggu baru bisa baca lagi… Ntah kenapaaaaa jadi serasaaa haaaaaahh. Pliss lanjutiiin ya author hihihihihi semngat himne juseyo,,, yaya serius enjoy baca ini, nyantainya jooyoung aku sukaa, hubungan mereka jongin jooyoung serta chanyeol sehun bahkan zoe cukup complicated tapi menarik. Semoga bisa baca selanjutnyaaaaa yeheeet. See you lateeer sekali lagi semangaaaaat

  2. Ya ampunn aku seneng banget akhirnya ff ini muncull..

    Btw aku lumayan sering mampir ke wp kakak buat ngecek ff ini udah dilanjut apa belomm

    Dan aku seneng banget alhirnya ff ini dilanjut setelah sekian lama

    Btw aku masih bertanya2 sebenernya gimana sehun itu orang yg kyk gimana trs kenapa dia msih deketin jooyoung padahal dia udh tunangan sama zoe. Trs, jooyoung pernah lupa ingatan ya? ^jongin adalah sahabatnya sejak dia bisa mengingat^ bener gak sih kalo dia pernah lupa ingatan??

    Oiya btw masih blm dapet pencerahan ttg alasan chanyeol jadiin jooyoung pacarnya scr tiba2 -_-

    Okedeh aku tunggu banget ya next chapternya… Aku harap ffini bener2 dilanjut. Udah terlanjur suka soalnya…

    Makasii,, maaf kalo commentnya kepanjanganm T.T

    • Hehe maapiiiin aku yg emang rada suka ngilang, dr jaman epep jadul smpe skrg, cerita 5 chapter selese 2 taon krn malas ngepos, kdg jg lupa. Chapter ini sbnrnya udh aku tulis sejak lama tp malah lupa ngepos.
      Eh jooyoung kagak lupa ingatan xD jd ceritanya di udh sahabatan ama kai dr jaman bayi smpe sekarang, jd dr si joo mulai bisa nginget, ya dia udh temenan ama si jong.
      Kalo soal ceyeeeee ntar bakal dijawab di chap selanjutnya (kalo dilanjut) /evil laugh/
      Makasih komennya yeeee :*

  3. Hy kak 😂😂😂 apa kabar…? Semoga baik-baik aja yah kak 😂😂😂 kemana aja 😅…. Nungguin loh dari part 1 kemaren itu lagi seru serunya coba 😁😁 eh btw aku suka mampir ke wp kakak cuman pengen liat kalo BTL ini update 😂😂 eh pas tadi kebetulan ada updatenya /tembarkembang?/

    Lanjut dong kak :((( gpp dipost di wp pribadi juga :(( kuselalu baca da serius ini mah :v wkwkwk

    Masih bingung sama sehun,sikapnya emg keliatan dia suka sama jooyoung ampe jooyoung dibaperin gitu 😂😂😂, masih penasaran sama tujuan chanyeol tpi menurutku ntar chanyeol bakal suka sih sama jooyoung /jooyoungmenangbanyak/ /direbutinsekaiyeol/ 😢😢

    Jooyoung : -suka sama sehun
    -pacar chanyeol
    -ditaksir jongin

    Apalah dayaku yg bisa memandang oppa wkwkkww /bercanda/ 😂😂😂

    Aku tunggu yah kak 😁😁😁

    • Hihihi sori yaaaa aku udh ngegantung cerita ini lama bgt T^T
      Aku jg udh lama ga update wp.
      Iya jooyoung menang banyak, direbutin sekaiyeol. Ntar aku buat buku “how to be jooyoung” deh /gak/
      Duh kita mah apa atuh, hanya para fangirl yg berharap bisa jd cewek2 dlm epep wkwkw

  4. Ternyata Jooyoung tau perasaan Jongin, seharusnya dia tau alasan sikap Jongin akhir2 ini.
    Aku masih gak ngerti, maksud Chanyeol tentang kata “menyenangkan” itu apa. Kayaknya bakalan ada hal mengejutkan deh.

    Di tunggu chapter 3 minggu depan ya authornim, hihi

  5. Jangan maen berhenti nulis, jangan lagi php-in readers untuk kedua kalinya. Pliss. Mencoba untuk bersabar ketika tdk ada readers. Mungkin esok lain lagi bisa jdi banyak penggemar ff ini. Karna jujur, ini menarik, beda dari yg lain.

    Complicated dicampur alur yg sulit ditebak, ini kelebihannya nih.

    Plis NO PHP…..!! heuh😦😦

    salam kenal
    Dari,

    readers yg menantimu.

    • Maaaaaap😦
      Iyaaaa aku minta maaf karena udh kekanak2an banget😦
      Aku gabakal php in readers lagi.
      Tp readers jg jgn ngecewain aku gitu dong😦 baca aja, gangasih feedback😦

  6. Aku tidak tau maksud chanyeol apa ?? Tapi aku yakin chanyeol punya maksud tertentu ?? Ah ceritanya bikin penasaran .. ditunggu next chapnya

  7. wahh akhirnya akhirnya dilanjut jg, setelah sekian lama menunggu *plak :v beneran kangen banget sama ff ini🙂
    so, please next chapnya dilanjut ya ya ya😉 aku suka banget sama ff kamu ini,, neomu neomu joah <
    sehun jg kerjaan php-in jooyoung mulu -_ udah punya tunangan juga. aduh bingung deh kalo jadi jooyoung. Complicated.

    okelah kalo begitu.. next chap ditunggu ya🙂 keep writing. 파이팅 ^^

  8. ohiya aku juga penasaran sebenarnya apa sih yang sedang direncanakan bang ceye. sumvah itu anak minta ditabok pake acara ngaku2 jadi pacarnya jooyoung. aish~~
    tapi ada untungnya juga sih biar si sehun cemburu juga karena selalu memberi harapan palsu ke jooyoung -_- hmm~~ yaudah segini ajj. makasih loh buat ceritanya. I really love this story❤

  9. MAU DONG, pls dilanjut! Sebenarnya sudah pernah baca series ini, dan gak ingat kalo udah ninggalin komen atau belum-_- I’m so sorry kalo belum, because I truly like this story!! (actually your /stories/, sehunblackpearl♥ hahaha just wanna tell ya, I’m your fans since You’re Crazy and I’m Out of My Mind)

    Good luck!

  10. Jujur aku agak lupa sama ff nya , tapi ini emang agak rumit gmn perasaan sehun sama jooyoung? Kenapa sehun bisa tunangan sama zoe, jooyoung suka sehun , jongin suka jooyoung trus chanyeol ngapain ? Ngebayangin karakter chan rambut kriting senyum nya begitu ngebayangin era mama , tapi kalo aku jooyoung aku bakalan milih chan , ya secara aku udh tau gmn perubahan chan 4 tahun kedepan rambut merah otot sana sini ( okey abaikan ) , this nice story aku harap kamu lanjut ff ini tapi kalo kamu udh sakit hati sama sidersnya kamu bisa protect ^^

    • Hehe sebenernya cerita ini ga serumit itu xD
      Chanyeol disini tukang rusuh, jd kompor gas wkwk
      Yes, betul harusnya jy milih chanyeol, 4 thn kemudian jd ganteng dia, ga kayak dork lg xD
      Iya ff ini dilanjut kok😀

  11. Jadi Jayoong rumit banget si idupnya, tp emang ini murni kesalahan Jayoong, yegakk?? Udah tau Sehun punya tunangan tp nekad nglanjutin aksi jadi ‘orang ketiga’ hahaaa
    Mana setiap ketemuan mereka-Sehun Jayoong- udah kaya orang pacaran, sama skali ga ngrasa kesinggung ama status mereka masing2
    Disini yg paling kasian Jongin, yegak? Modelnya kaya cinta bertepuk sebelah tangan gitu, padahal Jayoong aja udah ngrasa kalo Jongin tuh suka sama dia tp tetep aja keukeuh ama Sehun-_-
    Dan… Pleasee jan di stop dong ka ceritanya, ini tuh cerita cinta paling rumit yg baru gue baca, Jayoong suka sama Sehun tp tau kalo Jongin suka sama dia, Sehun yg udah punya tunangan, Chanyeol yg ngaku kalo jd pacarnya Jayoong, ribet kannn?? Jadi mohon dilanjut ya ka hehee
    Tengkyuu and Semangaddd!

    • Akhirnya ada yg sadar kalo jooyoung plg bersalah di cerita ini, bkn sehun xD
      Tenang, ini ceritanya pasti aku lanjut kok hehe. Jd penulis gaboleh egois :” maapin aku yaaaa yg mudah ngerajuk dan suka malas😦

  12. Wow.. daebak
    Ff ini keren banget, nggak ketebak alurnya.
    Aku suka karakternya jooyoung.. dan juga chanyeol.
    Sedikit bingung dengan sikap jongin.
    Dan pengen ngumpat untuk sehun. Jerk!
    Sumpah demi senyum lebarnya chanyeol, penasaran banget.
    Ditunggu lanjutannya..

  13. Ah, jadi jongin suka jooyung dari awal. sudah kuduga. pantes aja jongin uring2an pas jooyung deket sehun, apalagi jooyung patah hati gara2 sehun, jadi sebenernya hubungan jongin jooyung itu apa coba? jooyung sudah tau Jongin suka sm dia, tapi dia malah kyk pura2 gtw gitu dan masih aja bergantung pada jongin. jadi serasa jongin jadi korban php disini. trus jooyung sudah tau sehun sudah mau nikah eh kenapa malah jadi orang ketiganya sehun dan tunangannya. duh kah bingung sendiri sm maunya jooyung. kyknya masih labil deh
    chanyeol sendiri punya maksud apaan ya ke jooyung ? penasaran bgt

  14. hahaha…. betul kata chamyeol ini akn lbh menyenangkan tp ky rasa tdk ini akn lbh menyesekkan hati readers. hihihi
    oh author jgn dstop dong . kasian readers yg lain yg udah bc ff ini n dan ngikutin ters….trmasyk akyuuuuu…

  15. Omg ini semua semakin complicated. I do support you to post the next chapter. Sayang banget kalo ff sebagus ini ditelantarin gitu aja. Jalan ceritanya menarik bangett. Please post the next chapter. Feel free to do that. Ini udah berapa bulan btw haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s