The Day [3/3]

req-byeonieb-the-day-by-laykim

The Day

-ByeonieB@2016-

 

“My heart can’t ever forget you.”

 

Byun Baekhyun & Han Minjoo (OC) || Marriage-Life, Angst, Romance, Drama, Hurt || PG-18 || Three-Shots || Poster by Laykim @ Indo Fanfictions Arts || [1/3] [2/3]

Inspired by The DayBaekhyun&K-Will.

.

Notes:: ada kemungkinan kalian baca chapter ini untuk dua hari. So prepare ur energy! Dan.. aku udah nyiapin Q&A untuk ff ini dibawah, semoga membantu kalian mengerti dengan cerita aneh ini ya^^
.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

H A P P Y  R E A D I N G

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Dia menyerah. Dan aku menyesal. –BBH

.

Aku menyerah. Tapi, aku masih mencintainya. –HMJ

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Hari itu rasanya Minjoo ingin terus tersenyum. Ya Tuhan, memang begitu rupanya.

Giginya yang putih itu selalu terlihat, membiarkan bibirnya naik ke atas dan matanya sedikit menyipit. Senyum yang cantik dari seorang Han Minjoo.

“Terima kasih telah datang di Han’s Florist, silakan datang kembali jika kau membutuhkan bunga lagi!” ucap Minjoo dengan penuh semangat saat pelanggannya keluar dari toko.

“Eonnie!” Yeri memekik memanggil Minjoo. “Apa-apaan dengan semangat itu.. eonnie tidak biasanya sesemangat itu..” tuturnya lagi sambil menggeleng-geleng kepala karena Yeri tahu, Minjoo-eonnie-nya sedang bahagia.

Baekhyun telah pulang. Satu hal itu yang membuat Minjoo sangat senang. Ugh, rasanya kata sangat itu ingin dikali seribu oleh Minjoo.

Jantung Minjoo begitu meletup dengan kencang saat ia membuka matanya pagi hari tadi. Bahkan dia sampai menggosok matanya sebanyak lima kali, takut ia masih mimpi. Tapi, tadi pagi Baekhyun benar-benar di hadapannya. Tidur bersamanya.

Meskipun Baekhyun masih marah padanya—itu yang Minjoo tangkap karena Baekhyun langsung pergi tanpa sarapan terlebih dahulu—tapi Minjoo tidak peduli. Dia hanya ingin melihat Baekhyun, itu saja.

“Biar saja, Yeri-ya..” tutur Minjoo masih tidak mau menyembunyikan senyumannya. “Memangnya tidak boleh apa meninggalkan kata-kata yang manis pada pelangganku sendiri!?”

“Ini pasti gara-gara Baekhyun oppa…” Yeri menyipit matanya, seakan marah tapi hanya bercanda. Yeri juga ikut senang saat tahu Baekhyun telah kembali lagi. “Huh! Eonnie sangat menjijikan jika sedang jatuh cinta!” tambahnya.

Minjoo pun hanya tertawa menanggapi perkataan Yeri. Detik selanjutnya, bel tanda pelanggan masuk berbunyi di pintu toko. Membuat Minjoo dan Yeri langsung menolehkan wajahnya.

“Selamat datang di Han’s Flor—“

Minjoo langsung terdiam saat melihat Sehun di pintu mereka. Sedikit kesal dan Minjoo berniat untuk memaki pria itu namun dia menahan kata-katanya saat melihat wajah Sehun yang memar.

“Ya..” Jujur Minjoo sedikit khawatir, bagaimanapun juga Minjoo masih menganggap Sehun temannya. “Kenapa dengan wajahmu?”

“Kenapa kau disini? Kenapa kau sudah kembali bekerja?” Ucap Sehun dengan datar dan tidak mempedulikan pertanyaan Minjoo. “Kau belum sembuh, Han Minjoo. Kau masih sakit.”

Minjoo mendecak kesal dengan Sehun, “Aku sudah sembuh dan aku ingin bekerja, sekarang jawab pertanyaanku.” Ujarnya sambil memerhatikan wajah Sehun lebih detail. “Kau kecelakaan? Kenapa wajahmu sememar itu..”

“Baekhyun oppa menghajarmu sampai segitunya, Oppa!?” Yeri menyambar dan langsung melihat kaget wajah Sehun. Minjoo tentu saja bingung dengan maksud perkataan Yeri, maka Minjoo langsung memutar kepalanya melihat ke arah Yeri.

“Apa maksudmu?”

“Semalam aku bilang pada Baekhyun oppa bahwa Sehun oppa mencium eonnie.” Ucapnya dengan polos dan itu langsung membuat jantung Minjoo copot. “Baekhyun oppa langsung pergi setelah aku mengatakan itu. Awalnya aku bertanya-tanya kemana perginya Baekhyun oppa namun aku langsung menebak jika Baekhyun oppa kemarin malam langsung mendobrak pintu Sehun oppa dan menghajarnya sampai segini..” ucapnya lagi sambil melihat ke arah Sehun merendahkan. “Itu akibatnya jika kau mengganggu istri orang lain, Oppa!” teriaknya.

Minjoo menatap Yeri dengan tidak percaya. Wajahnya panas, sungguh. Pantas saja tadi pagi Baekhyun masih marah padanya, itu semua pasti karena hal ini. Minjoo juga merasa tidak enak pada Sehun karena harus terluka sampai separah itu. Dia memang benci pada Sehun, tapi permasalahan mereka tidak perlu diakhiri dengan kekerasan seperti ini.

“Kim Yeri..” tutur Minjoo menahan nafasnya. “Kenapa kau memberitahu Baekhyun perihal itu!?” sentak Minjoo.

“Eonnie! Baekhyun oppa perlu tahu kelakuan temanmu yang brengsek ini!” Yeri juga menyentak Minjoo. “Dia itu suamimu, Eonnie! Baekhyun oppa harus tahu apa yang terjadi padamu! Bagaimana jika ada orang lain yang memberitahunya bahwa malam itu eonnie yang mencium Sehun oppa dan bukan sebaliknya dari si bajingan ini!?” tuturnya sambil menunjuk Sehun dengan kesal.

“Tapi tidak seperti itu, Kim Yeri..” Minjoo menurunkan nada bicaranya. “Ada cara lain untuk memberitahu Baekhyun. Tidak seperti itu hingga membuat Sehun seperti ini.”

“Eonnie!”

“Sudahlah, Kim Yeri. Aku memberimu hukuman untuk menjaga toko ini sampai sore nanti.” Minjoo memutar tubuhnya lalu menghadap Sehun.

“Ayo ke rumah sakit. Ini sebagai permohonan maafku.”

.

.

.

“Aw!”

Sehun mengeluh saat salah satu perawat membersihkan lukanya dengan alkohol. Perawat itu pun sedikit menggigit bibirnya, bermaksud minta maaf.

“Maaf tuan Oh, lukanya memang cukup parah makanya tuan pasti merasa sakit saat aku membersihkannya.” Ucapnya.

Minjoo yang berada di sebelah Sehun pun menarik nafas dalam-dalam dan melihat Sehun dengan getir.

Tadi Minjoo dan Sehun telah datang ke ruangan dokter untuk memeriksa keadaan Sehun. Dokter itu bilang bahwa luka Sehun cukup parah, tapi masih beruntung itu tidak merusak bagian dalam tubuh Sehun—seperti tengkorak dan yang lainnya. Dokter itu pun hanya memberikan resep obat salep agar mempercepat penyembuhan luka Sehun dan menyuruh Sehun untuk datang ke ruang perawat agar lukanya bisa dibersihkan.

“Minjoo-ya..” Sehun berucap saat mereka telah keluar dari rumah sakit. Kini mereka tengah berjalan menuju tempar parkir dimana mobil Sehun berada.

“Maaf. Aku minta maaf dengan perlakuanku malam itu. Seperti kata Yeri, aku benar-benar bajingan malam itu.” Ucapnya dan Minjoo masih berjalan sambil mendengarkan ucapan Sehun.

“Aku benar-benar minta maaf, Han Minjoo.”

Minjoo pun terdiam di sebelah Sehun. Sebenarnya Minjoo masih sangat kesal dengan Sehun. Bagaimana tidak kesal? Saat Minjoo percaya pada Sehun bahwa Sehun temannya, sahabatnya, secara tidak langsung Sehun menusuk Minjoo dibelakang gadis itu dengan membohonginya.

Minjoo pun menarik nafasnya dan lalu tersenyum.

“Aku memaafkanmu.” Ucap Minjoo. Detik selanjutnya Minjoo menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Sehun. “Tapi tetap, jangan temui aku sampai perasaanmu padaku sudah hilang, Oh Sehun.”

Sehun pun terdiam menatap Minjoo.

“Aku tidak bermaksud untuk memusuhimu. Aku justru ingin berteman denganmu, Sehun-ah.” Tambahnya lagi menjelaskan maksud dari perkataan Minjoo yang menyuruh Sehun untuk menghilang. “Hanya saja.. jika kau masih memendam perasaanmu itu padaku, kita belum bisa berteman karena aku sudah memiliki Baekhyun. Aku sudah menjadi istri dari seseorang dan aku tidak berencana untuk meninggalkannya.”

Sehun tahu, Minjoo selamanya hanya akan mencintai Baekhyun. Sekeras apapun Sehun berusaha, Sehun tidak pernah bisa mendapatkan hati Minjoo. Mau menunggu sampai dua, tiga, empat atau puluhan tahun lainnya, hati Minjoo hanya untuk seorang Baekhyun.

Sehun pun terdiam sambil menutup matanya. Setelahnya dia mengambil nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Sudah saatnya juga Sehun untuk berhenti.

“Baiklah, aku akan mencoba. Walaupun mungkin membutuhkan waktu yang sangat lama.. aku akan mencoba.” Ujarnya. “Aku akan mencoba untuk melupakan perasaanku padamu dan seperti katamu.. saat perasaanku sudah tidak ada, aku akan menemuimu lagi.”

Minjoo tersenyum lebar. Lega. Itu yang Minjoo rasakan.

“Nah, ini baru Sehun temanku.” Ucapnya lalu menyikut lengan Sehun kecil. “Aku akan menunggumu sampai kapanpun, Sehun. Aku janji akan menunggumu dan kita akan bertemu sebagai sahabat.” Kemudian Minjoo menunjukkan jari kelingkingnya. “Aku berjanji.”

Sehun terkekeh pelan lalu menyambut jari kelingking Minjoo dengan jari kelingkingnya. “Baiklah.”

Mereka pun tersenyum begitu cerah dengan perasaan yang sama-sama lega. Mereka dulunya adalah seorang teman dan sampai kapanpun, meski Sehun jatuh hatu pada Minjoo, mereka tetap teman. Ya, Minjoo dan Sehun hanya bisa sampai pada batas pertemanan.

“Omong-omong.. kau benar-benar memaafkanku, Minjoo-ya?” Sehun berkata lagi setelah mereka sampai di mobil Sehun. “Malam itu.. aku benar-benar brengsek, menciummu sampai terluka seperti itu.” Sehun menunjuk bibir Minjoo dengan dagunya. Sedikit bersalah juga.

“Aku memaafkanmu karena kau sudah mendapatkan balasan yang sempurna dari suamiku.” Minjoo menunjuk wajah Sehun. “Itu, sepuluh kali lebih menyakitkan daripada luka di bibirku.” Lanjutnya sambil terkekeh dan itu membuat Sehun memekik kesal.

“Ya!”

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Hari itu Minjoo tidak pergi ke toko Han’s Florist. Pergi sih, tapi mungkin akan sangat terlambat karena ia akan pergi ke kantor Baekhyun. Maksud apa lagi kalau bukan masih mencoba untuk berdamai dengan Baekhyun, ditambah menjelaskan alasan mengapa Sehun menciumnya waktu itu—meminta maaf, maksudnya.

Dengan bekal yang telah ia siapkan tadi pagi, kini Minjoo turun dari taksi yang ia naiki lalu berjalan lurus masuk ke pintu utama kantor dimana suaminya bekerja.

Minjoo telah menyiapkan semua kemungkinan yang akan terjadi, dimulai yang paling buruk dan yang paling diharapkannya. Yang paling buruk adalah Baekhyun masih tetap marah padanya dan yang paling diharapkannya adalah Minjoo dan Baekhyun akhirnya berbaikan.

Meskipun yang paling buruk itu kemungkinannya mencapai 60%, Minjoo harus tetap mencoba. Sekali lagi, Minjoo tidak mau terlalu lama untuk bertengkar dengan Baekhyun.

Sesaat Minjoo berada di lobby utama, dia menemukan Chanyeol di hadapan meja depan kantor tersebut.

“Hai, Park Chanyeol.” Sapa Minjoo dan membuat Chanyeol menolehkan kepalanya serta tersenyum. Minjoo memang kenal Chanyeol. Secara dia, Baekhyun dan Chanyeol berada di kampus yang sama dahulu.

“Oh, Minjoo-ya!” ucap Chanyeol dengan girang. Sifat Chanyeol, tentunya. “Ada apa kau kemari? Mau bertemu dengan Baekhyun?”

Minjoo mengangguk sambil tersenyum juga, “Dia sedang rapat ya?”

“Benar, dia sedang rapat. Tapi kau bisa menunggu di ruangannya. Ayo ku antar!” ucapnya lalu Minjoo menyetujui perkataan Chanyeol dan mereka pun mulai berjalan menuju ruangan Baekhyun.

.

.

.

“Proyek anda memang luar biasa, Tuan Kim!”

Investor dari perusahaan asing itu tersenyum begitu lebar sambil menjabat tangan tuan Kim.

“Aku sangat menyukai konsepnya, benar-benar baru dan sangat pintar.”

Tuan Kim tersenyum lalu ia tersenyum pada Baekhyun yang berdiri di sampingnya. “Tentunya aku memiliki tim yang benar-benar ahli dalam mengurusi proyek ini, seperti dirinya contohnya.” Tuan Kim mengenalkan Baekhyun pada investor asing itu dan Baekhyun tersenyum canggung.

“Ah! Kau benar-benar hebat! Bagaimana jika dia dipindahkan saja ke perusahaanku, tuan Kim?” tanyanya dan itu membuat gelak tawa di antara mereka. Setelah Tuan Kim mengantar investor asing itu menuju mobilnya, Tuan Kim kembali lagi pada Baekhyun dengan senyuman yang tak kalah cerah.

“Aku benar-benar bangga memilikimu di perusahaanku, Byun Baekhyun.” Ujarnya dan itu membuat Baekhyun merasa tersenyuh.

Baekhyun tersenyum puas, sungguh. Beberapa hari ini benar-benar luck nya dalam mendapatkan investor-investor luar. Sebelumnya, jumlah investor pada proyek Polar Corporation telah mencapai angka 15%. Kini, ditambah investor dari perusahaan terkenal di Amerika itu membuat angka tersebut naik hingga 21%. Benar-benar suatu fortune untuk Baekhyun.

“Jangan memujiku seperti itu, tuan Kim. Ini semua juga karenamu.” Baekhyun mengacungkan jempol kirinya, “Kau juga sangat hebat, tuan Kim.”

“Tapi tetap saja ini semua karena dirimu, Baekhyun. Kau kan yang mengonsep semua proyek yang aku inginkan.” Tuturnya lagi tetap memuji Baekhyun dan itu membuat Baekhyun terkekeh pelan.

“Terima kasih, Tuan Kim.”

“Tidak-tidak, harusnya aku yang berterima kasih karena kau masuk ke perusahaan ini.” Tuan Kim menepuk pundak Baekhyun berulang kali. “Terima kasih dan aku sangat berharap kau bertahan di perusahaanku.”

Baekhyun mengangguk-angguk, “Aku berharap yang sama juga, Tuan.”

Detik selanjutnya, Tuan Kim berpamit pada Baekhyun karena dia memiliki urusan lain di luar kantornya. Jujur, saat itu hati Baekhyun begitu lega. Beban di pikirannya perlahan-lahan menghilang. Tinggal satu permasalahan yang masih menyita seluruh pikiran Baekhyun. Han Minjoo, tentunya.

“Hai.”

Baekhyun menolehkan kepalanya dan menemukan Taeyeon disana.

“Bisa kita bicara?” tanya gadis itu, to the point.

.

.

.

Di atas kursi taman itu, mereka terdiam membisu. Membiarkan angin menebarkan rambut mereka tanpa mau membuka satu patah kata. Lebih tepatnya bingung mau memulainya darimana.

Sebenarnya Baekhyun sudah berniat dan menyiapkan kata-katanya atas kejadian malam penuh dosa itu—begitu Baekhyun menyindir dirinya. Tapi entah kenapa, yang dia lakukan saat itu hanya terdiam.

“Hey, omong-omong selamat ya..” Taeyeon berani membuka konversasi di antara mereka. “Aku banyak mendengar pujian tentang dirimu di mulut investor asing.” Lanjutnya.

Baekhyun terkekeh pelan, “Tentu saja, namaku Byun Baekhyun. Aku terlahir sebagai orang hebat.” Candanya, bermaksud untuk mencairkan suasana lebih tepatnya.

“Ya!” Taeyeon mendengus jijik dan memekik pada Baekhyun. “Bagaimana pun juga kita mengerjakan itu bersama-sama.. memang sih aku hanya menambahkan beberapa saja tapi tetap itu ada campur tanganku tahu!”

“Mungkin karena namamu bukan Byun Baekhyun?” canda Baekhyun kemudian dan itu membuat Taeyeon memukul lengan Baekhyun cukup keras serta berakhir dengan tawa mereka karena omongan Baekhyun. Suasana di antara mereka mulai mencair namun Baekhyun langsung kehilangan senyumannya saat Taeyeon mengatakan suatu hal detik selanjutnya.

“Malam itu.. benar-benar meninggalkan kesan yang sangat baik bagiku, Baek.”

Baekhyun terdiam dengan jantungnya yang cukup tersedak.

“Selama ini.. aku selalu sangat nyaman saat bersamamu. Aku selalu bahagia saat kita mengerjakan pekerjaan dimana harusnya aku sangat lelah mengerjakan pekerjaan. Aku juga merasa lebih hidup saat aku bertemu denganmu. Caramu berbicara, bercanda, pola pikirmu yang gila.. aku menyukainya.” Ujarnya sambil malu-malu.

Demi Tuhan, Lidah Baekhyun kelu. Jantung Baekhyun lepas dari tempatnya. Dan sarafnya membuatnya menegang seketika.

“Aku menyukaimu, Baekhyun.” Ucap Taeyeon. “Sangat menyukaimu. Terlebih saat kau menciumku malam itu..” tuturnya sambil menatap mata Baekhyun.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk malam itu. Karena ciuman itu, aku jadi berani menyatakan perasaanku padamu, Baek.”

Baekhyun tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. Ia bingung dan ia bodoh. Bukan, itu bukan karena pengakuan Taeyeon. Baekhyun bingung dia harus menjelaskan seperti apa pada Taeyeon karena dia tidak bisa membalas perasaan gadis itu padanya.

Baekhyun pun kaku di tempatnya karena ia merasa sangat bersalah. Secara tidak langsung, pada malam itu dia telah menyakiti dua orang gadis sekaligus.

Oh Tuhan, Baekhyun memang benar-benar pria paling brengsek di muka bumi.

“Tae..taeyeon-ah—“

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, Baek.” Ucapnya memotong perkataan Baekhyun yang hendak menjelaskan semuanya dan itu membuat Baekhyun semakin kaku di tempatnya. “Aku hanya ingin menjadi orang pertama yang mengutarakan perasaanku pada orang yang kusukai. Lagipula..”

Taeyeon memangkas jarak mereka, mengangkat lengannya dan melingkarkannya di pinggang Baekhyun hingga membuat nafas Baekhyun tersedak.

“Tanpa kau jawab.. aku sudah tahu apa yang akan kau katakan, Baek.” Tuturnya sambil tersipu malu di balik dada Baekhyun.

Sumpah, rasanya benar-benar seperti Baekhyun menjadi mahkluk yang paling dibenci oleh Tuhan saat itu. Baekhyun merasa seperti buku dosanya adalah buku terbanyak di antara umat Tuhan dan tidak ada pengampunan selain neraka yang terbaik untuknya. Demi Tuhan, Baekhyun merasakan seburuk itu.

Baekhyun baru saja mau melepas Taeyeon dari pelukannya saat suara Chanyeol yang begitu berat terdengar olehnya.

“Byun Baekhyun..”

Baekhyun tidak mempermasalahkan Chanyeol yang marah padanya karena ia bisa menjelaskannya langsung pada Chanyeol.

Hanya saja, saat ia telah berhasil menemukan keberadaan Chanyeol, jantungnya mati.

Minjoo ada disana. Di balik punggung Chanyeol dengan air matanya yang telah turun melewati pipinya. Menatapnya dengan pancaran menyedihkan.

“Mi-min..joo..-ya..” ucapnya dengan bibir bergetar. Demi Tuhan, saat itu Baekhyun benar-benar merasa jantungnya tengah diremas oleh malaikat maut.

“Kau…” Muka Chanyeol begitu merah, menunjukkan bahwa Chanyeol sangat marah pada Baekhyun. “Kau.. lelaki bajingan, Byun Baekhyun!” teriaknya walaupun saat itu Chanyeol menahan sedikit suaranya agar tidak terlalu keras. “Kau.. mengkhianati Han Minjoo, Baekhyun!? Kau mengkhianati istrimu, Baekhyun!?”

Saat itu, setelah Baekhyun melepaskan Taeyeon dari pelukannya dan berdiri dari duduknya, saat Chanyeol memakinya dengan perkataan kasar itu, Baekhyun tidak mendengarnya. Pikirannya hanya terfokus pada satu titik, satu orang gadis yang menjadi titik kelemahan dan ketakutannya.

Minjoo menangis disana dan melihat Baekhyun tepat di matanya dengan pancaran penuh kesakitan. Minjoo sakit. Minjoo terluka. Dan itu semua karena Baekhyun.

Baekhyun ingin bergerak, sungguh. Namun kakinya seperti di semen pada atas tanah hingga membekukan dia di tempatnya. Baekhyun ingin mengangkat tangannya dan memohon pada Minjoo, sungguh. Tapi tangannya seperti diikat oleh perban mumi hingga hanya terjulur di samping tubuhnya. Baekhyun ingin menangis, sungguh. Hanya saja air di dalam matanya seperti tengah mengalami dehidrasi hingga tidak bisa meluarkan sepercik pun air mata. Saat itu, Baekhyun hanya kaku dan terdiam menatap Minjoo dengan seluruh tubuhnya yang mati perlahan-lahan.

“Bajingan, Byun Baekhyun.” Ucap Chanyeol saat Chanyeol memutar tubuhnya dan menarik Minjoo untuk pergi darisana. “Kau bajingan dan aku sangat kecewa padamu!” teriaknya.

Saat itu, Baekhyun masih melihat dengan jelas bahwa Minjoo masih mencoba untuk melihat ke matanya dan memberitahunya semua pancaran menyakitkan itu. Namun, setelahnya, Baekhyun sadar akan sesuatu.

Saat Minjoo menutup matanya dan mulai bergerak meninggalkannya, Baekhyun tahu bahwa dia akan kehilangan Minjoo. Dan untuk kali ini, kata selamanya mungkin terjadi.

.

.

.

Baekhyun terdiam sambil menatap foto yang ia ambil dari atas nakas kamarnya dan Minjoo. Menatap foto yang diambil saat mereka melakukan pose lucu karena Baekhyun berulang tahun saat foto itu diambil.

Baekhyun mengabaikan gambar dirinya dan memerhatikan Minjoo di sampingnya, saat di foto itu. Memerhatikan wajah gadis itu yang begitu bahagia. Waktu itu adalah salah satu momen terbaik mereka, Baekhyun masih ingat bagaimana Minjoo mengerjainya dengan menumpahkan kue di atas wajahnya saat dia masih tertidur. Setelah Baekhyun membersihkan dirinya dari kue, Minjoo mengadakan pesta kecil di apartemennya dan mereka menghabiskan waktu ulang tahun Baekhyun seharian. Itu dahulu dan Baekhyun masih mengenangnya dengan sangat baik sampai detik ini.

Baekhyun tiba-tiba menjatuhkan air matanya saat ia mengingat perbincangan mereka beberapa menit yang lalu.

Sebelum Minjoo pergi dari rumah mereka.

~

“Itu semua karena gadis itu?”

“Kau.. begini, karenanya? Kau.. melupakanku.. Baekhyun-ah?”

“Aku pergi, Baek. Aku menyerah.”

“Aku akan mengajukan perceraian pada pengadilan. Aku ingin pisah darimu.”

~

Baekhyun berbaring di atas kasur mereka sambil meremas dadanya yang begitu sakit. Lebih menyakitkan dari penyakit jantung.

Satu tangannya memegang dadanya, satu tangannya lagi ia taruh untuk memeluk bingkai foto itu.

“Minjoo-ya..” ujarnya dengan suara yang begitu serak diiringi air mata yang telah mengalir deras di pipinya. “Minjoo-ya.. aku tidak bisa. Aku tidak bisa.. aku tidak bisa kehilanganmu..” tuturnya kemudian dan tangisnya pun pecah di kamar itu. Demi Tuhan, siapapun yang mendengarnya akan merasakan kepiluan yang sama dengan Baekhyun.

.

Minjoo mengetuk apartemen Yeri di tengah malam. Wajah gadis itu bias, seperti tidak ada nyawa di dalam tubuh itu.

“Duh kau siapa sih, kenapa semalam ini bertamu—“ Yeri langsung menutup mulutnya saat ia menyadari Minjoo di depan pintunya. “Eonnie? Eonnie kenapa disini?” tanyanya. “Kenapa eonnie mengunjungiku semalam ini? Kenapa eonnie membawa koper juga? Apa—“

“Dia mengkhianatiku, Yeri-ya.”

Minjoo menjatuhkan air matanya dan untuk hari itu entah untuk juta yang mana lagi.

“Dia.. telah melupakanku, Yeri-ya..” tuturnya dengan air mata yang terus mengalir.

Yeri terdiam—mengerti dengan maksud pembicaraan Minjoo—dan ikut merasakan kesedihan yang Minjoo rasakan.

“Eonnie..” Yeri pun sedikit memajukan langkahnya, memegang lengan Minjoo dan matanya ikut berkaca-kaca.

“Kenapa ini begitu menyakitkan, Yeri-ya..” ucap Minjoo, “Sangat sakit hingga rasanya aku ingin mati.”

Yeri pun tak kuasa menjatuhkan air matanya dan detik selanjutnya dia langsung memeluk Minjoo. Menjatuhkan Minjoo di bahunya dan membiarkan Minjoo menangis disana. Yeri juga ikut menangis, karena tangis Minjoo langsung pecah saat Yeri memeluknya. Tangisan yang begitu memilukan untuk didengar oleh Kim Yeri.

Malam itu adalah malam terburuk bagi Baekhyun maupun Minjoo. Dimana mereka masih saling berharap untuk hidup bersama tapi badai yang menimpa mereka terlalu besar sampai rasanya kata kembali itu sangat susah mereka ucapkan.

Saat itu, malam itu, hari itu.. adalah waktu di dunia yang paling menyakitkan untuk mereka.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Hari-hari menjadi lebih berat bagi Baekhyun. Setiap harinya, Baekhyun seperti merasa hidup di neraka. Jika kau melihat sendiri secara langsung bagaimana keadaannya, percayalah.. kau seperti ingin menyiapkan peti mati untuknya.

Baekhyun bukanlah makhluk hidup lagi, menurut pria itu. Dia selalu merasa jika sesungguhnya Baekhyun hidup di muka bumi karena dosanya. Ruhnya mungkin sudah terbang tapi yang masih membuatnya tetap hidup di muka bumi ini adalah dosanya. Kalian bisa bayangkan bukan bagaimana hidup dengan penuh dosa?

Chanyeol pun menjauhinya setelah kejadian waktu itu, pria itu jelas-jelas sangat kecewa pada Baekhyun. Biasanya, ada Chanyeol yang selalu membantu Baekhyun, kapanpun pria itu sedang mengalami masa terburuknya. Tapi, seperti yang Baekhyun sudah ucap berjuta kali. Bahkan, sahabat Baekhyun, Park Chanyeol pun malu pada dosa yang Baekhyun perbuat.

Rapat hari itu telah berakhir. Baekhyun kini tengah menyalami para investor itu dengan senyuman palsunya.

“Chanyeol-ah!” Panggil Tuan Kim pada Chanyeol yang duduk di seberang Tuan Kim dan Baekhyun. Baekhyun bisa melihat jelas jika Chanyeol sangat enggan untuk menatapnya ketika ia menghampiri Tuan Kim.

“Ya, tuan?” tanyanya.

“Sebentar lagi kita akan mengadakan perayaan atas berhasilnya proyek kita ini. Ini akan menjadi tugasmu, aku menyerahkan perayaan ini padamu.” Tuturnya, “Perayaan ini akan menjadi perayaan yang sangat megah karena aku ingin menarik investor yang belum menaruh saham di proyek kita pada acara tersebut jadi aku benar-benar mengandalkanmu, Park Chanyeol.” Tambahnya lagi dan Chanyeol mengangguk menyetujui.

Setelah Tuan Kim selesai pada urusannya, Chanyeol berniat untuk kembali berjalan keluar ruangan.

“Park Chanyeol—“

“Jangan berbicara padaku untuk beberapa waktu ini, Baekhyun.” Tuturnya, sedikit meninggikan suara namun menjaga bicaranya karena Tuan Kim masih ada di sekitar mereka. “Kecuali tentang pekerjaan, aku tidak akan bicara denganmu. Aku belum bisa memaafkan ulahmu pada Minjoo.” Tambahnya lagi lalu meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun menghembuskan nafasnya dan lalu menyerah. Ya, Baekhyun memang pantas sendirian, menurutnya. Bahkan dia berpikir jika Tuhan pun sepertinya tidak cocok untuk masih menganggap Baekhyun sebagai umatnya.

Saat Baekhyun telah membersihkan barangnya dan berjalan keluar ruangan, ia menemukan Taeyeon disana.

“Hi.” Ujarnya sedikit kikuk.

Baekhyun cukup tersentak, namun setelahnya ia mencoba tersenyum seramah mungkin, “Hi.”

.

.

.

Baekhyun mengambil kaleng minuman di kulkas yang tersedia di ruangannya. Dua botol kaleng soda karena yang satu lagi untuk Taeyeon, yang kini berada di ruangannya.

Baekhyun cukup merasa tersentak saat Taeyeon mengajaknya bicara. Pasalnya, setelah kejadian di taman itu, Taeyeon menghilang. Benar-benar menghilang seperti ditelan bumi selama satu minggu. Entahlah, Baekhyun juga tidak mengerti mengapa Taeyeon menghilang seperti itu.

Ah satu minggu, Baekhyun baru sadar selama itu juga Minjoo telah pergi darinya.

Baekhyun berjalan kembali pada Taeyeon yang kini tengah berdiri di hadapan mejanya. Gadis itu sedang memerhatikan foto Minjoo yang Baekhyun taruh disana.

“Dia cantik, Baek.” Ucapnya. “Kenapa aku tidak pernah sadar jika kau memasang fotonya disini?” tuturnya lagi, mencoba untuk mencairkan suasana di antara mereka. Tentu saja mereka masih canggung, menghilangnya Taeyeon berarti seperti menyembunyikan permasalahan yang belum selesai di antara mereka.

“Terima kasih.” Lalu Baekhyun menyodorkan kaleng minuman yang tadi ia bawa pada Taeyeon.

Baekhyun dan Taeyeon terdiam lagi dengan mereka yang memfokuskan diri mereka pada minuman soda itu.

“Kemana saja kau, Kim Taeyeon?” Baekhyun membuka suaranya, ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Taeyeon juga. “Kenapa.. kau menghilang?”

“Aku berusaha untuk melupakanmu, Baekhyun.” Tuturnya. Cukup membuat Baekhyun tersentak tapi Baekhyun sedikit lega.

“Setelah kejadian di taman itu, jujur aku seperti ditusuk oleh ribuan pisau, Baekhyun. Mengetahui bahwa aku adalah penghancur rumah tanggamu sanggup membuatku ingin bunuh diri saat itu juga.”

Taeyeon menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan lagi.

“Aku ingat saat kau bilang padaku bahwa kau memiliki masalah pribadi yang tak bisa kau ceritakan padaku tapi aku tak sadar jika masalah pribadi yang kau maksudkan adalah masalah dirimu dengan Minjoo. Aku tak sadar bahwa selama ini kau memakai cincin di jari manismu, Aku pun tak sadar dengan foto yang kau pajang di sudut mejamu.. Aku tak sadar bahwa kau..” Taeyeon mulai meneteskan air matanya. “Aku selama ini bodoh.. tidak menyadari bahwa kau sudah memiliki seseorang di hidupmu, Baekhyun-ah..”

“Aku bodoh.. sangat bodoh..” tuturnya lagi menundukkan kepalanya. Jujur itu membuat Baekhyun sedikit iba, Baekhyun merasa sangat bersalah saat itu.

“Ya.. jangan seperti itu..” ucap Baekhyun menenangkan Taeyeon. “Itu semua bukan salahmu, itu salahku. Jika saja waktu itu aku mau bercerita tentang masalahku yang benar tentang Minjoo, kau akan tahu bahwa aku telah memiliki seorang gadis di dalam hidupku. Saat itu aku malah membiarkannya dan memendam sendiri hingga kau telah salah paham pada statusku.”

“Itu salahku, Taeyeon-ah. Bukan salahmu..” Baekhyun mengangkat tangannya dan menepuk pundak Taeyeon, “..dan aku ingin minta maaf padamu karena itu semua, Kim Taeyeon. Aku benar-benar minta maaf.”

Mendengar ucapan Baekhyun, tentu saja Taeyeon langsung mendongakkan kepalanya.

“Baek, itu bukan salahmu—“

“Aku yang membuatmu jatuh cinta padaku. Aku yang tidak memberikan batas di antara kita saat aku melupakan statusku sebagai suami. Aku yang salah, Taeyeon.” Ucapnya, memotong perkataan Taeyeon. “Kau justru harusnya marah padaku, memakiku, menamparku, mencincangku atau memutuskan pekerjaan perusahaan Starlight dengan Polar Corporation karena menjadi korban dari pria bajingan sepertiku.” Taeyeon sempat terkekeh pelan saat ia mendengar penuturan akhir kata Baekhyun. Sengaja Baekhyun candakan, agar tidak terlalu serius.

“Kau tidak salah, Taeyeon. Jadi, tidak ada alasan kau untuk merasa bersalah.” Ucap Baekhyun diimbuhi senyuman di akhirnya.

Taeyeon terdiam menunduk, memikirkan hal-hal yang berada di otaknya serta memutar semuanya.

“Tapi, bagaimana dengan perceraianmu?“

Baekhyun sempat merasakan hatinya retak lagi saat itu juga. Tapi, yang ia lakukan hanyalah tersenyum pahit pada Taeyeon.

“Itu akibat dari kesalahan yang kuperbuat.” Ucapnya. “Aku mengkhianatinya, aku mencampakkanmu. Astaga, bukankah aku manusia paling berdosa di muka bumi ini?” tuturnya sambil terkekeh tapi Taeyeon tahu, Baekhyun tidak tertawa karena hal itu adalah hal lucu.

Baekhyun tertawa atas penderitaan dirinya sendiri.

.

Baekhyun menghentikan mobilnya beberapa blok dari sebuah toko bunga yang kalian ketahui toko bunga—calon—mantan istrinya. Han Minjoo.

Baekhyun terdiam. Memusatkan seluruh netra dan pikirannya pada gadis yang kini terlihat sedang melayani pelanggannya dari balik kaca transparan.

Melihat Minjoo dari jarak sejauh ini mengingatkan dirinya di masa waktu dahulu ia pertama kali menyukai Minjoo. Ketika di kampus dahulu, Baekhyun suka sengaja mendatangi kelas Minjoo dan memerhatikan gadis itu dari jauh. Salah satu hobinya, baginya itu salah satu kegiatannya sebagai mahasiswa dahulu.

“Minjoo-ya.. aku merindukanmu..” ucapnya dengan bibir bergetar. Jelas, hatinya mencelos setiap kali ia merindukan Minjoo.

Tak lama dari situ, Minjoo keluar dari tokonya untuk mengantar pelanggannya meninggalkan toko Minjoo. Walaupun jarak mereka cukup jauh, tapi Baekhyun bisa melihat jelas keadaan Minjoo. Gadis itu tidak baik-baik saja.

“Minjoo-ya.. wajahmu pucat.. tubuhmu kurus..” tuturnya dengan masih bibir yang bergetar. “Apakah aku sejahat itu, Minjoo-ya? Hingga membuat keadaanmu seburuk itu?”

Baekhyun pun kemudian memutar kepalanya ke sampingnya, ke kursi penumpang di sebelahnya atau lebih tepatnya memerhatikan amplop berukuran A3 berwarna coklat disana. Ia mengambil dan memerhatikan amplop yang datang dari pengadilan kota Seoul.

Surat perceraian mereka.

“Kau memang seharusnya tidak bersamaku, Minjoo-ya..” kini, air mata itu jatuh dari mata Baekhyun. “Aku memang tidak pantas untukmu.”

Baekhyun pun menangis, menundukkan kepalanya serta meremas amplop itu. Jantungnya begitu sakit, terlebih otaknya menyuruh jantungnya untuk berhenti berdetak hanya saja Tuhan belum menghendakinya.

Baekhyun belum dan tidak akan pernah bisa melepas Minjoo dari hidupnya.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

“Selamat siang dan terima kasih telah mengunjungi Han’s Florist.” Ucapnya pada pelanggan yang telah keluar dari tokonya. Setelahnya ia berjalan ke dalam tokonya lagi dengan wajah yang begitu murung. Sangat pucat.

Bagi Minjoo, setiap hari adalah hari yang buruk. Sangat buruk, kalau bisa sangatnya dikali sepuluh. Rasanya bagaikan hidup di neraka, itu menurut Minjoo.

Ia telah resmi menggugat Baekhyun ke pengadilan kota Seoul atas perceraian mereka. Minjoo telah resmi meminta untuk berpisah pada Baekhyun.

Minjoo tahu bahwa yang ia lakukan adalah hal terbodoh di muka bumi ini. Menyerah pada seseorang yang meskipun mereka telah berpisah nanti, Minjoo masih akan mencintainya. Ya, Minjoo sebodoh itu.

Tapi Minjoo pun tidak tahu harus bagaimana. Yang ia tahu, ia merasa sangat sakit hati saat mengetahui dibalik emosi Baekhyun selama ini padanya adalah karena pria itu tidak mencintainya lagi. Saat kejadian di taman itu, memang Minjoo tidak mendengar bahwa Baekhyun bilang bahwa ia menyukai Taeyeon—dia tahu namanya dari Chanyeol—tapi tetap saja saat Taeyeon bilang bahwa Baekhyun menciumnya, Minjoo tahu bahwa Baekhyun sudah tidak mencintainya lagi.

Mengingat kejadian itu benar-benar membuat debuman cukup keras di hati Minjoo. Seperti di timpa oleh ribuan ton besi, rasanya benar-benar menyakitkan.

“Eonnie..” Yeri menghampiri Minjoo dengan bibir berkerut. Sempat bingung, maka Minjoo bertanya.

“Kenapa, Yeri-ya?” tuturnya. “Ada masalah sesuatu?”

“Eonnie aku ingin kali ini eonnie mengabulkan permintaanku.. sekali saja.”

“Apa?”

Yeri mengangkat tangannya dan menaruh di pundak Minjoo. “Eonnie.. kita pindah ke Jeju, ya? Kita tinggal di rumah orang tuaku di Jeju..” Yeri menatap serius mata Minjoo. “Aku ingin eonnie melupakan semua yang terjadi disini dan menghidupkan Minjoo eonnie yang aku kenal dahulu lagi disana..”

“Eonnie.. mau ya? Kumohon.. aku tak tahan melihat eonnie seperti mayat hidup berkeliaran di toko bunga seperti ini.” Tambahnya lagi sedikit sendu.

Jujur Minjoo sedikit terenyuh dengan perkataan Yeri. Selama permasalahan ini, Yeri selalu ada di sampingnya. Mendukungnya dan membantunya. Yeri tidak pernah berkata lelah saat Minjoo meminta pertolongannya, bahkan selalu Yeri yang menolongnya terlebih dahulu sebelum Minjoo yang memintanya. Di setiap detik, menit dan jamnya, saat Minjoo berada pada titik terjatuhnya, selalu ada Kim Yeri disana sebagai orang yang mau menolongnya. Mengingat semua yang Yeri lakukan padanya itu membuat mata Minjoo berkaca-kaca lalu detik selanjutnya ia memeluk Yeri.

“Yeri-ya.. terima kasih.” Ia memeluk Yeri seakan Yeri adalah adik kandungnya. “Terima kasih telah berada disampingku selama ini, terima kasih telah menolongku.. membantuku.. hanya kau satu-satunya yang menangkapku ketika aku jatuh.”

Kemudiannya Minjoo melepaskan pelukannya dan menatap Yeri.

“Aku berjanji akan selalu menjadi Minjoo eonnie dari Kim Yeri. Aku berjanji akan menjadi eonnie terbaik di dunia ini untuk seorang Kim Yeri..”

“Eonnie..” tutur Yeri sambil menjatuhkan air matanya.

“Aku akan selalu hidup bersama adikku yang bernama Kim Yeri. Seperti lem, aku akan terus membuatmu berada di sampingku, adikku.. Kim Yeri.”tutur Minjoo lagi dan itu membuat Yeri menangis terharu sambil memeluk Minjoo.

“Aku.. aku juga akan selalu hidup bersama Minjoo eonnie. Aku pastikan akan jadi adik terbaik di dunia ini untuk Minjoo eonnie..” Yeri memeluk Minjoo semakin erat. “Seperti lem, aku akan terus membuat eonnie berada di sampingku..”

Minjoo terkekeh mendengar Yeri yang mengulang perkataannya. Ia pun melepaskan pelukannya dan menatap Yeri.

“Yeri-ku menangis hebat sekali..” tuturnya saat melihat pipi Yeri sangat basah. “Pipimu kehujanan ya?” dan Yeri terkekeh mendengar itu serta ia langsung menghapus air matanya.

“Jadi eonnie mau ya ke Jeju denganku? Kita tinggal di rumah orang tuaku, hm!?” tuturnya dengan semangat.

“Tapi bagaimana dengan toko ini, Yeri? Dan juga, kuliahmu?” Tutur Minjoo, “Kau baru saja tes masuk kuliah disini, jika kau diterima masa kau harus pulang-pergi pulau Jeju?”

“Toko ini kita jual dan kita bangun toko baru saja di Jeju eonnie..” ucapnya. “Untuk kuliah, aku juga sudah punya tempat kuliah cadangan di Jeju. Salah satu universitas terbaik di Jeju juga.”

“Kumohon eonnie, jangan pikirkan yang lain dan ikuti kemauanku!! Kumohon..” pintanya lagi sambil mempoutkan bibirnya.

Minjoo tersenyum. Mungkin, ajakan Yeri bisa menjadi tawaran yang sangat baik untuknya. Minjoo tidak akan pernah bisa move-on jika ia selalu tinggal di Seoul. Seoul menyimpan banyak memori antara dirinya dan Baekhyun. Setiap mengunjungi tempat di Seoul, pasti ada memori dirinya bersama Baekhyun dan itu sangat menyakitinya.

“Baiklah..” Yeri tersenyum cerah.

“Akan aku pikirkan.”

.

.

.

“Eonnie, tunggu sebentar!” Yeri memekik saat Minjoo tengah menutup tokonya. Sudah pukul 6 sore, mulai gelap dan sudah sejam yang lalu toko bunganya tutup.

“Kenapa Yeri-ya?”

“Sepertinya bukuku ketinggalan..” tuturnya sambil masih memeriksa tasnya. “Benar tertinggal.”

“Ah, ya sudah kau ambil dulu saja.” Minjoo kembali membuka pintu tokonya. “Aku akan menunggu disini.”

Yeri pun mengangguk dan ia langsung berlari ke dalam toko mereka untuk mengambil bukunya.

“Minjoo-ssi..?”

Suara yang terdengar ragu itu membuat Minjoo sedikit kaget namun ia langsung memutar tubuhnya untuk mencari siapa yang memanggilnya.

Gadis yang waktu itu berada di taman bersama Baekhyun, tengah tersenyum padanya. Sedikit menundukkan kepalanya, mungkin dia canggung menemui Minjoo.

“Ah benar kau Minjoo-ssi..” tutur Taeyeon tersenyum.

Minjoo terdiam menatap Taeyeon. Sakit. Itu yang dia rasakan saat melihat Taeyeon.

“Tokomu sudah tutup sepertinya, Minjoo-ssi..” ucapnya lagi untuk mencairkan suasana di antar mereka yang sedikit menegang. “Tadinya aku ingin membeli karangan bunga padamu, tapi aku telat ternyata..”

Minjoo pun menyerah, dia ingin marah tapi dia harus menahannya. Dia tidak boleh memaki gadis yang Baekhyun sukai, pikirnya.

“Kau boleh memesan padaku sekarang, hanya saja mungkin bunganya baru bisa kuantar besok.”

“Eonniee.. aku sudah mendapatkan—uh, siapa ini?” Yeri muncul dan dia langsung berdiri kebingungan menatap Taeyeon. Mendengar itu tentunya Taeyeon langsung tersenyum ramah dan hendak memperkenalkan dirinya pada Yeri.

“Hai aku.. Kim Taeyeon.”

Yeri tahu Taeyeon itu siapa dan apa yang telah ia lakukan pada Minjoo-eonnie-nya. Reaksinya begitu cepat, seperti minyak tanah yang disulut korek api, tubuh Yeri begitu panas. Yeri kesal.

“Apa yang kau lakukan disini!?” ucapnya dengan bicaranya yang sangat kasar. “Masih berani kau menemui wanita yang hidupnya telah kau hancurkan!?”

“Yeri-ya..” Minjoo menahan tubuh Yeri. “Jangan seperti itu, kumohon.” Ucap Minjoo benar-benar memohon. Minjoo tak mau memancing keributan di pinggir jalan juga.

“Eonnie, kenapa sih eonnie masih sebaik itu pada wanita yang telah merebut Baekhyun oppa!” Yeri berteriak lalu setelahnya ia menatap tajam Taeyeon kembali. “Rasanya aku benar-benar mau membunuh, wanita murahan!”

“Kim Yeri!” Minjoo berteriak pada Yeri karena menurutnya Yeri telah berlebihan. “Jaga bicaramu!”

“Jangan marahi dia, Han Minjoo.” Taeyeon mengimbuhi mereka, “Dia benar, aku wanita murahan perebut suami orang.”

Yeri terkekeh pelan meremehkan Taeyeon, “Sadar juga kau!” dan itu langsung mendapat teguran keras lagi dari Minjoo.

“Sebaiknya kau pulang duluan saja, Kim Yeri. Aku akan berbicara dulu dengan Taeyeon-ssi.” Tutur Minjoo karena Minjoo tahu pasti tujuan Taeyeon mengunjunginya adalah untuk berbicara dengannya.

“Tapi, eonni—“

“Aku yakin kau mengerti, Kim Yeri.” Tutur Minjoo dengan tatapan lembut, “Kumohon, pulanglah duluan.”

Yeri menyerah, dia pun menarik nafasnya perlahan.

“Baiklah, eonnie.” Sebelum Yeri benar-benar meninggalkan mereka, Yeri sempat menatap Taeyeon dengan sangat mengancam. Seperti jika-kau-bertemu-denganku-lagi-kupastikan-kau-akan-mati.

.

.

.

“Maafkan tingkah adikku, hm?”

Kini Minjoo bersama Taeyeon telah berada di café terdekat tokonya dan telah memesan minuman mereka masing-masing.

“Dia berbicara padamu sangat kasar tadi, benar-benar tidak sopan.” Gerutu Minjoo.

“Ah, tidak apa-apa. Wajar dia benci padaku, dia kan adikmu. Dia pasti membelamu.” Sambil mengaduk minumannya, Taeyeon kemudian melanjutkan pembicaraannya. “Ah, omong-omong bagaimana kau tahu namaku?”

“Chanyeol memberitahuku..” jawabnya seadanya. Memang Chanyeol yang memberitahunya ketika pria itu mengantarnya pulang saat kejadian taman. “..saat kejadian di taman itu..”

Taeyeon terdiam membeku. Demi Tuhan, Taeyeon sangat malu jika mengingat kejadian di taman itu.

“A-aku.. mau meminta maaf..” Taeyeon memberanikan dirinya untuk berbicara. “..A-aku benar-benar minta maaf, Minjoo-ssi.” Ucapnya lagi.

“A-aku tahu, mungkin kau tak akan memaafkanku semudah itu. Kau boleh menamparku, menjambakku atau pun memukulku karena aku pantas mendapatkannya..” Taeyeon masih menunduk dan air mata itu telah mengalir di pipinya. “A-aku telah salah karena merebut suamimu, Minjoo-ssi. Aku benar-benar salah dan aku pantas untuk mendapatkan semua hukuman karena telah menghancurkan rumah tangga kalian.”

“A-aku bodoh. Aku sangat bodoh.. karena selama ini mengira Baekhyun adalah lelaki tanpa istri padahal Baekhyun sudah berkali-kali memberitahuku, secara tidak langsung, bahwa ia telah memilikimu. Aku benar-benar bodoh karena telah menyukainya.”

Taeyeon pun memberanikan dirinya untuk menatap Minjoo meskipun rasanya benar-benar menyakitnya.

“Aku minta maaf, Minjoo-ssi. Kau boleh menamparku atau mejambakku ataupun memukul saat ini juga.” Ucapnya. “Aku siap menerima semuanya..”

Minjoo terdiam dengan air mata yang mengalir. Mendengar semua penuturan kata Taeyeon benar-benar membuat hatinya terasa mencelos. Jujur, ia sakit hati. Sangat. Mana mungkin Minjoo tidak sakit hati saat Taeyeon mengatakan itu semua.

Minjoo pun berusaha untuk mengumpulkan nafasnya. Dia menutup matanya untuk menahan semua emosi terdalamnya.

Perlahan, dia mengangkat tangannya dan Taeyeon kira detik selanjutnya ia akan merasakan tamparan keras di pipinya.

Hanya saja, yang terjadi adalah Minjoo menggenggam tangan Taeyeon.

“Aku memaafkanmu, Kim Taeyeon.” Minjoo tersenyum, “Aku sudah memaafkanmu dari waktu lalu.”

Sumpah, Taeyeon benar-benar tersedak kaget saat itu. Ya Tuhan, mana ada di dunia ini orang sebaik seperti Minjoo saat mengetahui suaminya di rebut oleh gadis lain namun dia langsung memaafkannya dalam waktu mungkin kurang lebih 2 minggu. Kalau Taeyeon di posisi Minjoo, mungkin Taeyeon akan memukul, menampar, menjambak dirinya sendiri karena telah merebut suami orang.

“Han Minjoo-ssi..”

Minjoo menutup matanya kembali, “Ini semua demi Baekhyun. Dia menyukaimu.” Minjoo membuka matanya dan melihat Taeyeon lagi. “Aku tidak bisa marah pada seseorang yang membuatnya bahagia. Walaupun itu menyakitku, tapi itu tidak menyakitinya. Dan.. aku harus menerima bahwa Baekhyun sudah tidak mencintaiku lagi.”

“Mungkin terasa salah bagimu mendengar ini dariku, tapi.. terima kasih.” Minjoo menggenggam tangan Taeyeon lebih erat. “Terima kasih telah membuat Baekhyun merasa bahagia di saat aku sudah tak bisa membuatnya merasakan itu, Taeyeon-ssi. Aku harap.. kau bisa terus membuatnya merasakan seperti itu.”

Taeyeon pun semakin tersedak dengan perkataan Minjoo.

“Minjoo-ssi, sepertinya kau salah paham.” Taeyeon melepas tangannya dari Minjoo. Ia lalu menatap Minjoo dengan tegas di matanya, “Baekhyun tidak menyukaiku. Sama sekali tidak.”

“Memang selama ini aku dan Baekhyun cukup dekat, dia sedikit memberikan perhatian lebih padaku juga namun itu semua karena dia menganggapku teman. Tidak ada yang lebih dari perasaannya padaku karena dia hanya menyukaimu, Han Minjoo-ssi.”

Minjoo terdiam. Perkataan Taeyeon seperti membuahkan sebersit harapan untuknya. Minjoo sempat menumbuhkan harapan itu lagi namun ingatan tentang pertengkaran hebat mereka dan semua omongan Taeyeon di taman itu menyadarkannya.

“Tidak, Taeyeon-ssi. Dia menyukaimu dan dia sudah melupakanku.” Minjoo mencoba menjelaskan dan menatap Taeyeon. “Beberapa hari sebelumnya kami bertengkar. Kau muncul saat kami bertengkar dan baginya.. kau itu obat dari hatinya yang sakit karenaku.” Tuturnya membuat konklusi yang sangat mengasal hingga membuat Taeyeon sedikit kesal.

“Dia menyukaimu.. aku bisa pastikan itu maka dari itu.. kau harus tetap bersamanya, Taeyeon-ssi..” Minjoo berucap, “Buat dia bahagia..”

Taeyeon menatap Minjoo tak percaya. Jujur memang saat itu juga Taeyeon merasa sekecil semut karena Minjoo benar-benar mencintai Baekhyun. Kalian bayangkan saja sendiri, mana ada istri yang mau merelakan suaminya untuk bersama selingkuhannya hanya karena suaminya itu lebih bahagia dengan selingkuhannya.

“Pantas saja Baekhyun tidak mau menyerah darimu, Minjoo-ssi..” ucap Taeyeon dengan air matanya yang sudah mengering dan itu membuat Minjoo sedikit tersentak. “Kau benar-benar luar biasa, Baekhyun sangat beruntung mendapatkanmu.”

Omongan Taeyeon itu hanya Minjoo tanggapi dengan diam karena Minjoo bingung harus merespon seperti apa.

“Kau tahu, Minjoo-ssi.. saat malam dimana dia menciumku..” Taeyeon menjeda perkataannya dan menatap Minjoo dengan serius, sangat jujur. “Aku masih ingat dengan satu kata yang ia sebut sebelum Baekhyun menaruh bibirnya di bibirku.”

Minjoo masih terdiam dan membiarkan Taeyeon melanjutkan perkataannya.

“Minjoo-ya.” Taeyeon menatap Minjoo dengan jujur dan Minjoo tahu itu. “Sampai sekarang pun aku masih ingat dengan nada bicaranya saat ia berkata seperti itu.”

Minjoo rasa, jantungnya tiba-tiba menghangat mendengar perkataan Taeyeon.

“Saat itu aku bingung dan aku tidak tahu dengan apa maksudnya. Namun, setelah kejadian di taman itu.. aku mengerti sesuatu pada kejadian Baekhyun menciumku.”

“Baekhyun menciumku karena dia melihat dirimu di dalam diriku.” Ucapnya. “Jika aku simpulkan, dia menciumku untuk dirimu. Bukan untuk diriku.” Taeyeon memajukan tubuhnya dan lalu ia menggenggam tangan Minjoo, seperti memohon.

“Baekhyun sangat mencintaimu, Minjoo-ssi. Tidak ada pernah ruang lain untuk aku atau siapapun di hatinya karena hanya dirimu yang mampu mengisinya. Percaya padaku.”

Minjoo tahu, harusnya ia tidak mendengarkan perkataan Taeyeon karena itu akan menggoyahkan pertahanan tubuhnya. Minjoo sudah memutuskan untuk berpisah dengan Baekhyun dan dia tidak ada niatan untuk membatalkan itu semua. Tapi ini..?

Ini membuat Minjoo gila. Jantungnya menghangat lagi dan sedikit demi sedikit merobohkan egonya yang ia bangun selama ini.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Baekhyun menatap layar laptopnya dengan serius. Meskipun matanya telah berkantung-kantung, ia tidak peduli.

Sebenarnya, pekerjaannya tidak terlalu banyak mengingat proyeknya sudah selesai dan dia hanya menunggu para investor untuk menanam saham saja. Hanya saja, dia memaksakan untuk semua pekerjaan dilakukan oleh dirinya. Membiarkan pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh asistennya malah dikerjakan oleh dirinya.

Satu alasan yang begitu kuat yang membuat Baekhyun melakukan itu. Minjoo. Dengan terus bekerja, ia bisa sedikit melupakan Minjoo. Sedikit, hanya satu persen sebenarnya. Menyedihkan sekali bukan menjadi seorang Byun Baekhyun yang hidup dengan penyesalan?

Tok. Tok.

“Masuklah.” Ucapnya langsung tanpa perlu bertanya ‘siapa diluar’.

Pintu terbuka dan memunculkan Chanyeol disana.

“Ya! Kapan kau berhenti bekerja, huh!?” teriak Chanyeol melihat keadaan Baekhyun. Keadaan Baekhyun dan Minjoo—yang baru ia temui beberapa hari yang lalu untuk menanyakan keadaannya—sama saja. Benar-benar seperti mayat hidup. “Kau tidak makan, tidak tidur selama tiga hari ini! Kau gila apa!?”

“Kau sudah memaafkanku, Park Chanyeol?” ucap Baekhyun masih tetap tidak mau mengalihkan pandangan dari laptopnya.

“Aku belum memaafkanmu dan sekarang aku semakin membencimu karena melakukan ini!!” Chanyeol kemudian melangkahkan kakinya untuk menghadap Baekhyun. “Yang kau lakukan itu salah, Byun Baekhyun!! Jika kau benar-benar masih mencintai Minjoo, harusnya kau mengejarnya! Meminta maaf padanya dan memohonlah padanya untuk membatalkan perceraian kalian!! Bukannya membunuhmu perlahan-lahan seperti ini!”

“Aku memang sedang membunuh diriku sendiri, Park Chanyeol.” Ucapnya begitu enteng namun itu membuat Chanyeol menatap tak percaya padanya, “Kau tahu sendiri jika aku tidak bisa hidup tanpanya.”

“Astaga..” Chanyeol memijat keningnya, berbicara pada si keras kepala Baekhyun benar-benar membuatnya gegar otak. “Aku sudah bilang kan untuk meminta maaf padanya!!!”

“Sudahlah.” Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol, “Kau tidak usah mengkhawatirkanku. Yang perlu kau khawatirkan adalah Minjoo. Aku pelaku yang jahat, kau seharusnya tidak memedulikan penjahat, Park Chanyeol.”

“Dia akan pergi ke Jeju.”

Perkataan Chanyeol itu benar-benar menusuk Baekhyun.

“Dia akan pindah ke sana dan tidak pernah kembali lagi ke Seoul. Apa kau bisa bertahan dengan itu!?”

Baekhyun terdiam dengan jantungnya yang mati perlahan-lahan. Rasanya benar-benar menyakitkan mendengarkan Minjoo akan pergi dari Seoul, pergi dari kehidupannya. Tidak bisa melihat Minjoo untuk beberapa waktu ini pun cukup membuat Baekhyun mati akan merindukannya. Bagaimana jadinya jika selamanya tidak bisa melihat Minjoo? Tidak perlu dibayangkan, rasanya kalian bisa menjawab itu sendiri.

Baekhyun menurunkan tatapannya dari tatapan Chanyeol, menatap segala sesuatunya dengan pikiran yang kosong namun hari dimana Minjoo benar-benar pergi ke Jeju benar-benar menakutinya saat itu.

“Dengar, Baekhyun-ah..” Chanyeol kini meredakan nada bicaranya, “Meminta maaflah padanya.. berbaikanlah dengannya.. Aku tahu kau dan Minjoo masih mencintai—“

“Tidak, Chanyeol-ah.” Baekhyun masih menatap kosong di hadapannya. “Keputusannya benar, dia harus pergi dari Seoul. Dengan begitu dia bisa melupakanku dengan cepat.”

“Ya!!!” Chanyeol menyerah, dia pun menyentak Baekhyun dengan satu kalimat terakhir.

“Terserah denganmu, bodoh. Jika dia benar-benar sudah pergi, aku berharap bahwa kau mati dengan penyesalan!!”

Setelahnya Chanyeol pun pergi meninggalkan Baekhyun. Sendirian.

.

.

.

Baekhyun berdiri di sebrang toko Minjoo. Membiarkan tubuhnya yang lelah itu menahan bebannya yang terasa seperti berjuta ton di atas pundaknya hanya melihat Minjoo dari balik kaca toko bunganya.

“Rasanya benar-benar menyakitkan mengetahui dirimu akan pergi dari sini, Minjoo-ya..” Baekhyun menjatuhkan air matanya.

“Tapi.. kau harus pergi dari sini. Kau hanya akan semakin terluka jika harus hidup di satu kota yang sama denganku. Ya.. kau harus pergi, Han Minjoo..”

Dan Baekhyun pun menangis dalam diam memerhatikan Minjoo disana.

Sampai jumpa, Han Minjoo.

Aku.. mencintaimu.

.

.

.

Baekhyun membuka pintunya dengan lemas. Rasanya seluruh kekuatannya telah hilang dan memang seperti itu rupanya. Mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Baekhyun pun mendudukan dirinya di atas sofa terlebih dahulu.

Ting. Tong.

Baekhyun merenguh, mengeluh karena disaat tubuhnya benar-benar lemas seperti ini kenapa harus ada yang mengunjunginya. Baekhyun pun bangkit kembali dan berjalan menuju pintunya. Tapi, tepat saat ia melangkahkan kakinya satu langkah, ia kehilangan kesadarannya. Dan jatuh di atas lantai rumahnya.

“Ya! Byun Baekhyun!” Chanyeol membuka pintu rumahnya. “Kenapa lama sekali sih?! Kenapa juga pintunya tak dikunci—“

Chanyeol terperangah kaget melihat tubuh Baekhyun di atas lantai ruang tamu rumahnya. Ia pun dengan segera menghampiri Baekhyun.

“Ya! Baekhyun-ah!”

.

.

.

Perasaan Minjoo kacau saat ini. Jantungnya berdetak tidak tenang dan ia menatap jalanan dengan pandangan yang merosot mengingat perkataan Chanyeol yang meneleponnya beberapa waktu lalu.

 

“Minjoo-ya, Baekhyun jatuh sakit. Bisakah kau menjenguknya? Dia menggigil dan terus memanggil namamu. Meskipun berat.. kumohon, sekali saja kau menemuinya, hm?”

 

“Aku bodoh…” Minjoo mulai menangis di dalam mobil taksi yang mengantarnya ke rumah dirinya dan Baekhyun. “Statusku masih sebagai istrinya tapi aku tak merawatnya. Aku benar-benar bodoh..”

Minjoo pun tak bisa menghentikan aliran air matanya dan berharap sesegera mungkin ia telah sampai di rumah mereka.

.

.

.

Saat kalian melihat orang yang kalian sayangi terluka, kalian akan merasakan dua kali lipat daripadanya. Dan Minjoo paling benci merasakan itu.

Baekhyun benar-benar menutup matanya, sangat rapat. Pucat, bibirnya putih dan keningnya berkeringat. Kerap kali matanya berkerut-kerut, pasti dia sangat kesakitan di dalam tubuhnya.

Minjoo tidak tahu harus mengorbankan organ tubuh mana lagi di saat jantungnya sudah mati. Air matanya terus mengalir melihat Baekhyun yang seperti ini.

“Baek..” Minjoo memanggil Baekhyun dengan suara yang bergetar. “Kenapa seperti ini.. kenapa dengan dirimu..”

Badan Baekhyun begitu panas, Minjoo bisa merasakannya karena dia sedang menggenggam tangan Baekhyun saat ini. Bahkan saking panasnya, Minjoo bisa merasakan suhu udara disekitar Baekhyun panas. Ya Tuhan, rasanya ini benar-benar menyiksanya.

“Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit, Minjoo-ya..” ucap Chanyeol membawa air dingin untuk mengompres dahi Baekhyun. Sesegara mungkin sesaat setelah Chanyeol menaruh air dingin tersebut Minjoo langsung mengganti lap kain yang berada di kening Baekhyun.  “Tadi dia sempat bangun namun sekarang ia benar-benar tertidur lagi.”

“Dokter bilang keadaannya cukup parah karena Baekhyun mengalami anemia dan tifus di saat yang bersamaan. Harusnya dirawat tapi ya itu.. dia tidak mau kalau tidak tidur di atas kasurnya. Kasur kau dan dirinya..”

Minjoo pun mencoba mengelap tubuh Baekhyun yang cukup berkeringat dengan air matanya yang terus mengalir. Sampai segitukahnya Byun Baekhyun tidak bisa kehilangan Minjoo-nya?

Saat Minjoo mencoba untuk mengelap tangan kiri Baekhyun, Minjoo menyadari bahwa Baekhyun tertidur sambil memeluk sesuatu. Minjoo pun memerhatikan benda yang nyatanya sebuah bingkai foto. Dimana foto dalam bingkai itu adalah dirinya dan Baekhyun, foto yang sebelumnya ditaruh di atas nakas mereka.

“Selama ini dia selalu tertidur sambil memeluk foto itu, Minjoo-ya..” Chanyeol melakukan persis sama seperti Minjoo, memerhatikan foto itu. “Hanya itu yang mampu membuatnya tertidur agar dia masih bisa merasakan bahwa kau ada disampingnya. Tidur bersamanya.”

Satu tetes air mata Minjoo turun ke atas foto yang menampilkan wajah bahagia mereka. Saat-saat dimana cinta mereka masih sangat utuh dan harusnya sampai saat ini begitu.

“Tak bisakah kau memaafkannya dan kembali padanya, Minjoo-ya? Dia benar-benar mencintaimu dan dia sangat tersiksa karena harus kehilanganmu.” Tutur Chanyeol. “Baekhyun sangat mencintaimu dan Baekhyun sama sekali tidak pernah mengubah perasaannya padamu.”

Minjoo rasa hatinya mencelos saat Chanyeol mengatakan itu. Tak kuasa untuk membendung air matanya, Minjoo pun terisak sangat hebat sambil merengkuh foto itu.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Chanyeol telah pulang sejam yang lalu. Awalnya Chanyeol bilang bahwa ia ingin ikut menemani Minjoo untuk menjaga Baekhyun, namun tiba-tiba Ibu Chanyeol masuk rumah sakit karena jatuh dari kamar mandi. Yeri pun sama, ia bilang ia ingin menemani Minjoo untuk menjaga Baekhyun hanya saja Yeri ada ujian masuk perguruan tinggi besok jadi Minjoo tidak bisa membiarkan Yeri ikut terbangun bersamanya.

Badan Baekhyun masih sangat panas, tapi untungnya badannya tidak semenggigil sebelumnya. Setidaknya keningnya tidak berkerut-kerut mengeluh kesakitan agar Baekhyun bisa tidur tenang.

Minjoo masih terus menunggu Baekhyun disamping pria itu. Membiarkan tangan Baekhyun digenggamnya begitu erat sambil memerhatikan wajah Baekhyun.

“Baek.. kau begitu kurus.” Ujarnya dengan sendu. “Matamu begitu hitam, pipimu tirus, bibirmu pucat.” Lanjutnya lagi dan itu lagi-lagi membuat jantungnya berdenyut nyeri.

“Tapi.. kau memang si tampan Byun Baekhyun-ku.” Minjoo tersenyum melihat wajah Baekhyun. Bagi Minjoo, Baekhyun memang selalu terlihat tampan di hadapannya, entah itu ia sedang sakit apalagi saat ia dalam kondisi sehatnya. Hatinya sudah terlalu dalam untuk Baekhyun sih, segala sesuatunya hanya Byun Baekhyun yang menjadi nomor satunya.

“Kau masih Baekhyun-ku saat aku jatuh cinta pertama kali padamu..”

Saat Minjoo sedang memerhatikan wajah Baekhyun yang tertidur, tiba-tiba mata Baekhyun sedikit bergerak. Membuat Minjoo tersentak kaget namun detik selanjutnya membuat Minjoo membulatkan matanya lebar-lebar. Baekhyun membuka matanya.

“B-baek..?” ucap Minjoo dengan gagu.

Mata Baekhyun tidak terbuka sepenuhnya, masih sangat menyipit namun Minjoo tahu jika Baekhyun terbangun dan melihatnya.

“Min..joo..ya?” Baekhyun perlahan mengangkat tangan kirinya lalu menangkup pipi Minjoo. “..Kau..disini..?”

Minjoo terdiam. Tangan Baekhyun yang begitu hangat berada di pipinya dan itu membuat jantungnya berdetak.

Minjoo baru saja akan menjawab ‘ya’, namun perkataan Baekhyun selanjutnya membuat hati Minjoo mencelos.

“Ah.. pasti ini hanya mimpi..” ucapnya masih sambil mengusap pipi Minjoo. “Minjoo tidak mungkin mau menemuiku lagi..”

Demi Tuhan, Minjoo rasanya ingin menangis. Apakah selama ini itu yang Baekhyun rasakan untuk menyentuh Minjoo?

“Baiklah, karena ini mimpi..” Baekhyun pun menggeser tubuhnya sedikit, memberikan tempat di sampingnya. “Tidur, Minjoo-ya. Aku ingin memelukmu…”

Minjoo terdiam menahan air matanya. Perlahan tapi pasti ia mengangkat kakinya dan mengikuti apa yang Baekhyun titahkan padanya.

Walaupun mata Baekhyun masih lemas, tapi Minjoo tahu bahwa dia menatapnya. Dengan lembut, seperti biasanya Baekhyun menatap Minjoo dahulu. Tangannya yang berada di pipi Minjoo pun mengusapnya dengan lembut. Satu hal yang paling Minjoo suka dari Baekhyun yang memanjakan Minjoo seperti itu.

“Ah, Minjoo-ya..” ujarnya dengan suara serak. “Ini hanya mimpi tapi kenapa kau terasa sangat nyata, hm?”

“Kenapa kau hanya muncul dalam mimpiku? Kenapa kau tidak disini.. bersamaku, Minjoo-ya?

“Ah tidak apa-apa hanya di dalam mimpi juga. Yang penting aku bisa melihatmu.”

Detik selanjutnya Baekhyun menyapukan bibirnya di bibir Minjoo. Menciumnya dengan lembut dan Minjoo rasa ia ingin menangis detik itu juga.

“Aku merindukanmu, Minjoo.” Ucapnya setelah melepaskan ciumannya dan merengkuh Minjoo di pelukannya. Membiarkan wajahnya masuk ke ceruk leher Minjoo. Hangat.

“Sangat merindukanmu..”

Kini, air mata itu pun benar-benar mengalir di pipi Minjoo. Cukup deras di balik punggung Baekhyun. Perlahan, Minjoo ikut mengangkat tangannya. Memeluk Baekhyun juga disana. Sedikit meremas baju Baekhyun karena hatinya saat ini benar-benar seperti telah hancur berkeping-keping.

Aku juga, Baekhyun-ah

Sangat-sangat merindukanmu

.

.

.

Sinar matahari itu benar-benar mengganggu Baekhyun. Panas dan terlalu silau di matanya. Dengan mata yang berat, Baekhyun pun terpaksa membuka matanya.

Dia melihat ke sekelilingnya, memeriksa keadaan rumahnya sambil mengcek apakah kesadarannya sudah pulih sempurna atau tidak.

Ia pun berhenti menatap sekelilingnya lalu berusaha membangunkan tubuhnya. Saat itulah, lap kain yang menempel di kepalanya terjatuh ke atas pangkuannya. Sempat membuatnya bingung namun ia kini ingat dengan apa yang terjadi dengannya tadi malam.

“Ah benar.. tadi malam aku pingsan.” Tuturnya mengingat kejadian semalam. Chanyeol yang mengetuk pintunya, yang menggiringnya ke kamar lalu memanggilkan dokter. Setelahnya ia lupa dengan kejadian semuanya setelah ia meminum obat dari yang Chanyeol berikan.

Sebenarnya.. ada satu hal yang ia ingat. Di mimpinya, ia bertemu Minjoo. Di mimpi itu Minjoo tampak terlihat sangat nyata hingga Baekhyun pun bisa merasakan kehangatannya sampai sekarang.

Mengingat mimpi semalam membuat Baekhyun tersenyum kecut, dia benar-benar merindunkan Han Minjoo.

“Sudah, Byun Baekhyun. Kau harus melepaskannya.” Tuturnya dengan sakit hati. Dia pun meredam kepedihannya lalu mulai bangkit dari baringannya, berniat mencari Chanyeol.

“Chanyeol-ah..” ucapnya sambil keluar dari pintu. Dia berjalan ke kamar tamu di sebelahnya, berpikir bahwa Chanyeol disana tapi nyatanya tidak ada dan kasur di dalam kamar itu pun seperti tidak pernah ada yang tidur di atasnya.

“Kemana dia..” gumamnya. Baekhyun pun berjalan kembali, menuruni tangganya dan dia mendengar suara air dari dapurnya.

“Chanyeol-ah sejak kapan kau bisa masak—“

Baekhyun terdiam. Jantungnya meledak. Bibirnya kaku. Sarafnya mati.

Dia ada disana.

Gadisnya ada disana.

Minjoo ada disana.

“M-min..joo..?”

Minjoo yang mendengar panggilan Baekhyun pun ikut menghentikan pergerakannya. Sama seperti Baekhyun, sirkulasi yang ada di dalam tubuhnya seperti tengah dihantam badai.

Namun, akhirnya Minjoo pun mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dan perlahan memutar tubuhnya menghadap Baekhyun.

“Hai..” Baekhyun menatapnya tepat di mata. “Baekhyun..”

Baekhyun pun merasakan jika air matanya ingin jatuh saat itu juga.

.

.

.

“Makanlah..” Ujar Minjoo memberikan satu mangkuk sup pada Baekhyun sambil mendudukan dirinya di hadapannya.

Sumpah, Baekhyun tidak pernah berhenti menatap Minjoo sejak mereka bertemu tadi pagi. Sedikit membuat Minjoo risih, tapi Minjoo bisa merasakan apa yang Baekhyun rasakan dari sana.

“Ya..” Minjoo mengalihkan pandangannya ke sembarang arah namun ia tetap mendorong sup yang ia buat kepada Baekhyun. “Berhenti menatapku dan makanlah. Kau masih sakit.”

“Apa kabarmu, Han Minjoo?”

“Eh?” Minjoo tersentak kaget dan memutar kepalanya lagi menatap Baekhyun.

“Apa kabarmu..”

Baekhyun menjeda perkataannya dan menatap Minjoo semakin dalam. “Han Minjoo?”

Minjoo menelan salivanya sangat kasar. Saat itu, jantungnya benar-benar berdetak kencang. Detakan yang selalu Minjoo rasakan saat ia merasakan kehangatan dari Baekhyun.

“Kau yakin menanyakan hal itu padaku?” Minjoo mencoba menjaga nada bicaranya agar terdengar tidak gugup. “Kau seharusnya bertanya itu pada dirimu.”

“Tidak. Aku tidak perlu tahu keadaanku. Yang aku ingin tahu keadaan dirimu.” Ucapnya. “Apa kabarmu, Minjoo-ya? Apakah kau baik-baik saja? Ah..” Baekhyun meralat perkataannya. “Mana mungkin kau baik-baik saja disaat aku sudah seperti bajingan menyakitimu..” dia bergumam tapi Minjoo bisa mendengarnya.

Jangan sangka Minjoo mengacuhkan perkataan Baekhyun. Matanya memanas dan rasanya ia ingin menangis saat itu juga.

Minjoo pun menutup matanya, mencoba untuk menahan air mata itu. Setelahnya dia bangkit dari kursinya. Minjoo harus pergi dari hadapan Baekhyun jika tidak maka ia akan benar-benar menangis saat itu juga.

“Aku akan pergi ke toko, Baek. Makanlah..” Ujarnya saat ia telah berdiri dan Baekhyun menengadahkan wajahnya menatap Minjoo. “..dan semoga cepat sembuh—“

“Aku akan mengantarmu.” Katanya sambil berdiri dari kursinya.

“Tidak perlu. Kau masih harus istirahat, Baek—“

“Aku sudah sembuh, Minjoo-ya.” Tuturnya menatap Minjoo dengan yakin. “Ayo ku antar.”

“Tapi kau belum memakan supnya sama sekali.” Minjoo masih bersikeras tidak membiarkan Baekhyun untuk mengantarnya. Ya kalian bayangkan saja bagaimana suasana dalam mobil nanti.

Baekhyun tiba-tiba mendudukan dirinya di atas kursi kembali, mengangkat mangkuk sup dan langsung menghabisinya dalam satu tegukan.

“Sudah habis, Minjoo-ya.” Minjoo membulatkan matanya tak percaya saat Baekhyun menaruh kembali mangkuknya di atas meja. Benar-benar kosong.

“Tapi, Baek bukankah itu—“

“Ayo, pergi. Sudah hampir jam 10. Tokomu kan buka jam 10.” Ucapnya.

Minjoo terdiam dan akhirnya dia menyerah.

“Baiklah.”

.

.

.

Deruan mesin mobil itu benar-benar terdengar di telinga Minjoo. Sangat terdengar karena tidak ada perbincangan di antara mereka sedari tadi. Entahlah, sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan baik Baekhyun maupun Minjoo. Hanya saja.. hubungan di antara mereka benar-benar tidak baik.

“Kau tinggal dimana selama ini, Minjoo-ya?” tanya Baekhyun membuka pembicaraan mereka. Pertanyaan retorik, karena Baekhyun telah tahu Minjoo tinggal dimana selama ini.

“Di tempatnya Yeri, Baek.” Minjoo mengucapkan seadanya, tidak tahu harus membuka konversasi ini kemana.

“Ah… gadis kecil itu. Apa kabarnya dia? Eh, sekarang dia sudah melanjutkan kuliahnya kah?”

“Dia baik-baik saja.” Balas Minjoo sambil menganggukan kepalanya. “Dan ya dia akan melanjutkan kuliahnya. Hari ini dia sedang menghadapi tes masuknya.”

Baekhyun kemudian menganggukan kepalanya, mengiyakan dan setelahnya suasana kembali hening. Ya Tuhan, rasanya benar-benar menyakitkan bagi Baekhyun maupun Minjoo.

Dahulu, jika mereka sedang dalam perjalanan seperti ini, Minjoo akan selalu menggandengkan tangannya pada tangan Baekhyun dan membiarkan Baekhyun menyetir dengan satu tangan. Baekhyun juga akan sesekali mencium puncak Minjoo atau merengkuh gadisnya sambil menyetir. Membahayakan tapi Minjoo dan Baekhyun sangat merindukan itu saat ini juga.

“Kudengar.. kau.. akan ke Jeju, Minjoo-ya?” Minjoo terdiam dan Baekhyun melanjutkan perkataannya kembali.

“Apa.. benar?”

Minjoo masih terdiam dan sedang mengumpulkan semua nyawanya untuk menjawab.

“I-ya.. Aku akan ke Jeju.” Minjoo tak berani menatap Baekhyun. “Tinggal bersama orang tua Yeri.”

Baekhyun tersenyum kecut walaupun rasanya ia ingin menangis, merengek, memohon pada Minjoo untuk tidak meninggalkannya.

“Baguslah..” Baekhyun sedikit mengangakan mulutnya, salah satu cara untuk menahan air matanya jatuh. “Kau harus pergi dari Seoul.”

Jujur, awalnya Minjoo sangat kecewa dan sangat sakit hati mendengar penuturan kata Baekhyun. Itu seperti secara tidak langsung Baekhyun mengusirnya.

“Kau harus melupakan semua yang terjadi disini, semua masalah yang menyakiti dirimu karena diriku.”

Namun perkataan itu benar-benar menusuk jantungnya.

“Kau harus melupakanku, Minjoo-ya. Aku tidak pantas untuk kau pertahankan.”

Demi Tuhan, jantung Minjoo seperti jatuh saat itu juga. Jika bukan karena ia terduduk di atas kursi penumpang, mungkin Minjoo akan jatuh lemas karena seluruh sarafnya tiba-tiba menghilang. Perkataan itu benar-benar menjatuhkan dirinya.

Detik selanjutnya, mobil Baekhyun berhenti. Minjoo masih belum bisa terima dengan perkataan Baekhyun beberapa menit lalu, maka ia menatap Baekhyun dengan sangat sendu.

“Sudah sampai, Minjoo-ya..” ucapnya lalu memutar kepalanya menatap Minjoo. Menyadari Minjoo memerhatikannya dengan pandangan seperti itu, Baekhyun sempat merasakan jika hatinya mencelos saat itu juga.

Baekhyun tahu, Minjoo sedang menahan air matanya. Baekhyun tahu, Minjoo tidak terima dengan perkataan Baekhyun tapi seperti yang ia sendiri katakan. Minjoo tidak bisa bersamanya. Dia tidak bisa membiarkan Minjoo untuk tersakiti lagi karenanya.

“Kenapa, Minjoo-ya?” ucapnya. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya lagi kemudian.

“Kau…” bibir Minjoo bergetar, “..benar-benar mengatakan itu, Baek?” ucapnya lagi dan saat itu air mata telah berada di pelupuk matanya. “..kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi, Baek?”

Sumpah, rasanya benar-benar seperti jantung Baekhyun ditekan. Sangat menyakitkan. Dan kalian tentunya tidak ingin merasakan bagaimana rasanya.

Baekhyun menelan salivanya kasar dan dia menahan mati-matian air matanya. Perlahan, dia memajukan wajahnya, menangkupkan wajah Minjoo ditangannya, memangkas jarak antara bibir dan kening Minjoo sambil menutup matanya.

Justru karena aku sangat mencintaimu hingga aku tidak sanggup melihatmu menangis atau terluka karenaku lagi, Minjoo-ya.

Aku tidak bisa membiarkan dirimu bersama diriku yang harusnya sudah dihukum mati oleh Tuhan.

Aku tidak pantas untukmu, Han Minjoo.

“Selamat tinggal, Han Minjoo.” Bisik Baekhyun setelah ia memundurkan wajahnya lagi. Masih dengan jarak lima sentimeter, ia menambahkan lagi perkataannya.

“Aku harap.. kebahagiaan selalu bersamamu.”

Minjoo menangis. Itu satu hal yang Minjoo lakukan setelah bibir Baekhyun yang hangat lepas darinya. Air mata itu benar-benar turun dari matanya. Satu fakta yang benar-benar menampar Minjoo.

Baekhyun benar-benar menyuruhnya pergi.

Dan Minjoo benar-benar akan kehilangan sosok cinta terakhirnya di kehidupannya yang sekarang.

“Baiklah.. aku mengerti.” Tutur Minjoo, menarik nafasnya namun tak membiarkan air mata itu berhenti. Detik selanjutnya dia menarik tasnya dan mulai membuka pintu mobil Baekhyun.

“Selamat tinggal, Baekhyun. Terima kasih untuk selama ini.” Dan Minjoo benar-benar pergi dengan isakan yang menguat sesaat ia turun dari mobil Baekhyun.

“Aku tak bisa, Minjoo-ya..” Baekhyun bergumam sambil air mata itu juga turun dari matanya.

“Sesungguhnya, aku tak bisa.. Han Minjoo.” Dan dia terisak di atas setir mobilnya.

Aku mencintaimu, Han Minjoo. Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun.

Aku.. mencintaimu, Han Minjoo.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

“Kau benar-benar melepasnya!?”

Chanyeol berteriak pada Baekhyun saat ini. Kalau yang dari Baekhyun tebak, sepertinya Minjoo bercerita pada Chanyeol karena Baekhyun belum cerita apapun pada Chanyeol.

“Hm.” Jawabnya tanpa ingin menambahkan apapun. Pikiran Baekhyun sudah kacau dari semenjak kejadian di mobil itu. Tidak ingin mengungkit lagi kejadian yang menjadi salah satu mimpi buruk Baekhyun.

“Ya!!” Chanyeol berteriak, lebih kencang dari sebelumnya. Dia menghampiri Baekhyun dengan nadinya yang sangat kentara di kulitnya.

“Kau bodoh!! Kau benar-benar bodoh, Byun Baekhyun!” Chanyeol menunjuk-nunjuk Baekhyun. “Kau membiarkan tujuh tahunmu dengannya hancur seperti itu saja karena kesalahpahaman itu!? Hanya karena masalah sekecil ini!?”

“Itu bukan masalah kecil, Chanyeol.” Tuturnya tanpa mau menatap Chanyeol di depan mejanya. “Aku sebelumnya tidak pernah menyentuh apalagi mencium wanita lain selain Minjoo. Aku pun sebelumnya tidak pernah memperlakukan Minjoo dengan kasar saat aku marah padanya.”

“Aku telah berubah, Park Chanyeol. Dan perubahanku itu tidak baik untuk seorang Han Minjoo.”

Chanyeol kehabisan kesabarannya. Ia menarik kerah Baekhyun hingga tubuh pria itu terhuyung mendekat ke dirinya.

“Byun Baekhyun sadarlah!! Dia itu Han Minjoo!! Dia itu gadis yang kau kejar saat pertama kali kau kuliah!! Dia itu gadis yang kau tunggu kelasnya berakhir meskipun dia kuliah malam!! Dia itu gadis yang hanya kau liat saat di kantin dahulu!! Dia itu Han Minjoo, Baekhyun!!” ucapnya, atau lebih tepatnya bentaknya.

“Kau lupa dia telah hidup bersamamu selama tujuh tahun!? Kau lupa dia yang berada disampingmu saat terburukmu!? Kau lupa dia yang menangis saat kau teluka!? Kau lupa dia itu gadis yang akan selalu memilihmu meskipun seribu lelaki tampan dan kaya menghampirinya!? Kau lupa, Baekhyun-ah!!??”

Baekhyun tidak peduli dengan sentakan Chanyeol yang begitu keras di telinganya. Yang jelas, semua pertanyaan Chanyeol itu ia cerna dengan begitu keras di kepalanya. Tentu saja ia tidak melupakan itu semua.

“Tetap saja..” Baekhyun membuka suaranya. “Aku tidak bisa mempertahankannya, Park Chanyeol.”

“Sudah kubilang.. aku telah berubah dan perubahanku ini akan menyakitinya. Aku tidak bisa membiarkannya menangis atau terluka lagi karenaku jadi..” Baekhyun menjeda perkataannya. “Aku harus melepaskannya..”

Chanyeol semakin menatap Baekhyun tidak percaya. Dia melepas Baekhyun, mendorong Baekhyun hingga Baekhyun jatuh kembali ke tempat duduknya.

“Kau tidak berubah, bodoh! Kau dan Minjoo hanya menemukan titik dimana kalian terlalu lama bersama hingga, kau.” Chanyeol menunjuk Baekhyun tepat di matanya. “Kau menemukan titik jenuhmu pada Minjoo tapi aku tahu yang kau cintai hanya seorang Minjoo.”

Chanyeol mulai meredakan nada bicaranya dan kini ia menaruh satu tangannya di atas meja Baekhyun.

“Ini semua pun karena kau terlalu lelah dengan pekerjaanmu hingga kau dan Minjoo jarang bertemu. Lalu Taeyeon datang dan kau menganggap dirinya sebagai Minjoo di saat kau bekerja.” Tangan Chanyeol tidak henti-hentinya menunjuk Baekhyun seperti jaksa menuntutnya. Chanyeol kesal, sungguh, dengan tingkah Baekhyun yang terlalu gegabah dan sangat bodoh.

Kali ini, Chanyeol mengangkat tangannya tapi masih menatap Baekhyun dengan menuntut.

“Kau akan selalu hidup dalam bayang-bayang Han Minjoo yang artinya kau tidak berubah, Byun Baekhyun.”

“Kau.. masih si Byun Baekhyun yang hanya mencintai Han Minjoo.”

Perkataan Chanyeol benar-benar menginterupsi di pikiran Baekhyun. Demi Tuhan, Chanyeol itu seperti setan bagi Baekhyun. Menghasutnya sampai mungkin malaikat itu menulis catatan dosa Baekhyun semakin banyak lagi.

Perkataan Chanyeol tidak salah, tapi mengapa Baekhyun merasa berat untuk menerima perkataannya? Di dalam otaknya, Baekhyun mengatakan tidak pada perkataan Chanyeol. Tapi sebaliknya untuk urusan hatinya.

Memikirkan itu semua membuat kepala Baekhyun benar-benar pecah hingga akhirnya ia menyerah. Ia menelusupkan wajahnya di antara tangannya dan melupakan keberadaan Chanyeol di hadapannya.

Apa benar harusnya aku tidak melepasmu, Minjoo-ya..?

.

.

.

Seperti yang biasanya Baekhyun lakukan setelah Minjoo pergi darinya. Berdiri di sebrang toko milik Minjoo dan memerhatikan gadis itu dari sana. Terlihat seperti pecundang yang mengemis cinta, tapi memang seperti itu adanya.

“Chanyeol bilang harusnya aku tidak melepasmu, Minjoo-ya..” ia terkekeh, menertawakan kesedihannya. “Tapi tidak mungkin, kau hanya akan menangis karenaku..”

Baekhyun terus menatap Minjoo dengan perasaan yang masih sama. Perasaan yang tidak pernah sedikitpun terkikis meski pertengkaran mereka yang terakhir kali.

Apakah perkataan Chanyeol itu ada benarnya? Baekhyun tidaklah berubah, hanya saja dia menemukan titik dimana ia kehilangan Minjoo dan menganggap wanita lain, Taeyeon, menjadi bayang-bayang Minjoo saat Minjoo tidak ada. Demi Tuhan, beberapa hari ini Baekhyun tengah mengkonfirmasi itu semua dan itu benar-benar membuat kepalanya hancur.

“Jangan banyak berharap, Byun Baekhyun.” Gumamnya, menjatuhkan harapannya. “Perkataan Chanyeol itu hanya hasutan, jangan dipikirkan..”

Baekhyun pun menarik nafasnya, mencoba mengambil sebanyak-banyaknya sosok Minjoo yang berada di sebrangnya untuk masuk ke dalam memorinya lalu setelahnya ia memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu.

“Hi, Byun Baekhyun.”

Si pria yang Baekhyun anggap memicu permasalahan ini semua ada di hadapan Baekhyun. Siapa lagi pria yang Baekhyun sebut bajingan selain Oh Sehun.

“Bukankah sudah kuperingatkan bahwa jika aku bertemu denganmu dalam jarak sepuluh meter dari Minjoo aku akan membunuhmu?” ucap Baekhyun sangat dingin. “Kau melupakan itu, Oh Sehun?”

“Aku tidak lupa hanya saja.. bukankah kalian akan bercerai?” jujur perkataan Sehun itu membuat jantung Baekhyun tersedak. “Jika kalian akan bercerai maka peringatanmu itu tidak akan berlaku lagi bukan, Baekhyun-ah?”

Baekhyun marah, sungguh. Tangannya sudah mengepal dan rasanya ia ingin melayangkan tinjuan terkerasnya pada Sehun. Perkataan itu benar-benar menyinggungnya tapi.. Baekhyun tak bisa mengelaknya.

“Kenapa? Kau kesal mendengar ucapanku?” tuturnya membuat Baekhyun mengepalkan tangannya semakin keras lagi. “Kau kesal dengan fakta bahwa Minjoo bisa menjadi milikku sekarang, begitu?”

“Ya! Jaga bicaramu, bajingan!!”

“Ayo kita bicara.”

Ucap Sehun, tidak mempedulikan perkataan Baekhyun yang kasar sebelumnya.

“Jika kau tidak ingin Minjoo menjadi milikku, ayo kita bicara sebentar.”

“Kau gila! Apakah aku mau berbicara padamu, bajingan!?” Baekhyun meredam amarahnya, membiarkan tangannya yang mengepal terlepas lalu ia memutarkan tubuhnya. Dia harus pergi dari hadapan Sehun atau Sehun benar-benar akan mati di tangannya hari ini.

“Aku tidak sudi berbicara padamu!”

“Kembalilah padanya.”

Baekhyun berhenti berjalan. Apa yang dikatakan Sehun?

“Aku tahu ini terdengar aneh karena keluar dari mulutku tapi aku serius..” tuturnya sambil sedikit mengigit lidahna, “Kem..balilah padanya.”

Baekhyun menolehkan kepalanya lagi menghadap Sehun lalu ia terkekeh pelan. Merendahkan sebenarnya.

“Ya.. setan di dalam tubuhmu sudah keluar, huh?” tanya Baekhyun dengan sinis.

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, Baekhyun benar-benar pria yang mengesalkan. Disaat ia sudah mencoba sebaik itu untuk merelakan Minjoo, masih bisanya Baekhyun menyindirnya sekasar itu.

“Aku berkata padamu karena aku masih mencintai gadis itu.” Tutur Sehun dengan sengajanya karena ia ingin membuat Baekhyun kesal dan dia berhasil. Baekhyun langsung mengepalkan tangannya lagi.

“Dia itu sangat mencintaimu, Baekhyun. Dari dahulu sampai sekarang, seberapa kerasnya aku berusaha untuk merebut hatinya darimu.. dia tetap bilang padaku ‘Sehun-ah, aku ini sudah punya Baekhyun.’ ‘Sehun-ah, aku ini istrinya Baekhyun.’” Ucap Sehun dan itu membuat Baekhyun terdiam. Tapi Sehun bisa lihat, kepalan tangannya berubah.

“Kembalilah padanya, Baekhyun. Aku tahu kau masih sangat mencintainya apalagi dia yang selalu mencintaimu.”

“Kembalilah padanya.”

Sehun lalu pergi, karena perkataannya telah selesai dan meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam dengan pandangan kosong. Jika kalian anggap dia bisa kerasukan setan saat itu, kalian salah karena pikirannya tidaklah kosong.

Perkataan Sehun itu benar-benar berdiri kokoh di otak Baekhyun.

.

Baekhyun kembali dengan pikirannya yang tidak tenang.

Sudah dua orang yang berkata itu pada Baekhyun. Dan itu semua semakin membuat dinding pertahanan Baekhyun rubuh di dalam.

Sebenarnya ini semua terjadi karena adanya pertengkaran antara otak dan hatinya. Otaknya mengatakan bahwa tidak rasional jika ia masih mempertahankan Minjoo padahal ia sudah sebejat itu menyakiti Minjoo.

“Aku akan gila sepertinya..” gumamnya lalu berjalan dan duduk di kursi kantornya. Tidak ada pekerjaan memang tapi ia ingin saja tinggal di kantornya untuk malam itu.

“Aku benar-benar sudah gila..” ucapnya.

Dia pun membuka laptop kerjanya, maksudnya adalah dia mau mengecek ulang semua pekerjaannya siapa tahu ada yang belum dikerjakan dan itu menjadi sebuah alasan yang tepat untuk ia menghilangkan beban pikirannya dari semua perkataan Sehun dan Chanyeol.

Saat ia melihat ke desktop layar laptopnya, ada satu file yang bertambah disana tapi Baekhyun tidak menyadarinya.

“Huh?” dia pun melihat jenis file itu yang nyatanya adalah jenis file video. Diambil pada sekitar tiga minggu yang lalu, tepatnya saat kejadian taman waktu itu. Baekhyun mengkerutkan keningnya, sepertinya dia tidak pernah mendownload video itu.

Penasaran, Baekhyun pun mengklik dua kali file video itu.

“Annyeong, Baekhyun-ah.. Ini aku, si cantik Han Minjoo.”

Sumpah, jantung Baekhyun tiba-tiba meledak saat itu juga. Itu Han Minjoo. Video itu, video dari Han Minjoo.

“Kau sedang apa, Baek? Ah, kau kan sedang rapat..” ucap Minjoo dalam video itu sambil mengigit bibirnya.

“Aku membawa sesuatu untukmu, Baek.” Minjoo menunjukkan sebuah kotak makan sambil membuka isinya.

“Makanan kesukaanmu!!” teriaknya dengan gembira. Dia tersenyum, begitu cerah.

“Kuharap.. kau akan suka dengan makanan ini dan setelahnya aku ingin berbicara padamu..”

“Aku ingin meminta maaf, Baek. Aku ingin minta maaf atas semua yang kulakukan di sebelumnya..”

“Mungkin kau telah dengar dari Kim Yeri bahwa Sehun menciumku. Aku tahu, kau pasti marah. Aku tidak menyalahkanmu jika kau sangat marah padaku karena aku bodoh. Kau telah memberitahuku bahwa Sehun itu bajingan dan aku tidak mendengarkannya. Kau telah memberitahuku bahwa Sehun itu tidak pernah berubah, masih berusaha untuk mendapatkanku tapi aku tak mendengarkanmu. Aku bodoh dan aku memang istri yang mengecewakan tapi Baek.. aku ingin kau tahu sesuatu..”

“Aku hanya mencintaimu. Tidak peduli seberapa banyak masalah yang kita hadapi dan seburuknya saat kita berpisah.”

“Aku.. mencintaimu. Itu saja yang perlu kau tahu. Dan hal yang perlu kau ingat.”

 “Jika aku tidak mengatakan ini nanti padamu, kau harus melihat video ini ya—ah, tidak. Aku harus mengatakan ini langsung padamu..”

 

Videonya berhenti dan Baekhyun menatap kosong layar laptopnya. Air matanya turun, seiring dengan hatinya yang perlahan meretak hancur seketika. Detik selanjutnya, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu terisak begitu keras disana.

Otaknya memang mengatakan ia harus melepas Minjoo.

Namun hatinya tidak pernah bisa bohong. Selamanya, ia masih mengharapkan bahwa Minjoo itu tetap disisinya dan menjadi miliknya.

Sama yang seperti Minjoo bilang.. selamanya, ia hanya akan mencintai Minjoo.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Minjoo menutup tokonya dan hari itu adalah hari terakhir ia bekerja. Ia menerima tawaran Yeri untuk pergi ke Jeju.

Baekhyun telah menyuruhnya pergi. Untuk apa ia bertahan lagi saat orang yang mampu membuatnya bertahan menyuruhnya pergi.

Mengingat hari itu hanya membuat sakit pada hati Minjoo. Berjuta kali Minjoo mencoba melupakannya, tapi itu lagi-lagi menambah satu mimpi buruk yang membayang-bayanginya.

“Annyeong Minjoo-ya!” Minjoo kenal suara itu, suara Chanyeol. Dengan segera Minjoo menolehkan wajahnya ke Chanyeol dan tersenyum pada pria itu.

“Annyeong, Park Chanyeol.”

.

.

.

“Bagaimana kabarmu, Minjoo-ya?” Chanyeol mengajaknya berbicara, dia bilang sih hanya ingin mentraktir Minjoo minum kopi sebagai teman kuliahnya.

Minjoo mengaduk strawberry latte di hadapannya. “Kau yakin menanyakan itu padaku, Chanyeol-ah?” tanya Minjoo sarkastik.

“Ya..” Chanyeol sedikit merasa bersalah juga, “Jangan seperti itu, jangan bersedih terus, hm?”

Minjoo terkekeh pelan. Jangan bersedih terus ya?

“Ini.” Tiba-tiba sebuah amplop berwarna biru cerah berada di hadapan Minjoo. Chanyeol menyodorkan itu padanya.

“Apa ini?” Minjoo mengambil amplop biru itu dan membukanya. Surat undangan perayaan Polar Corporation.

“Kau datang, ya? Kau istrinya Baekhyun jadi kau harus datang.”

Minjoo terdiam. Rasanya begitu salah saat Chanyeol bilang bahwa Minjoo istrinya Baekhyun.

“Aku calon mantan istrinya Baekhyun, Park Chanyeol.” Minjoo tertawa kecut, sumpah itu benar-benar menyakitkan. “Aku tidak bisa datang, besok aku akan pergi ke Jeju.”

“Kau benar-benar akan menyerah, Minjoo-ya?” Chanyeol bertanya dan menatap serius Minjoo. “Kau benar-benar menyerah darinya? Dari Baekhyun yang telah hidup selama tujuh tahun denganmu?”

Perkataan Chanyeol benar-benar sangat menusuknya. Ternyata selama itu Minjoo telah bersama Baekhyun. Dan fakta bahwa waktu tujuh tahun itu akan berakhir begitu saja benar-benar membuat Minjoo merasakan dia jatuh dari jurang seratus meter.

“Dia menyuruhku pergi, Park Chanyeol. Aku tidak bisa apa-apa selain mengikuti keinginannya.” Ucap Minjoo sedikit bergetar, “Kemarin ini aku sempat berpikir mungkin aku akan memberikannya kesempatan lain tapi..” Kini matanya telah menampung air mata itu. “..Dia bilang aku harus pergi dari Seoul. Dia bilang aku harus melupakannya.”

“Ck.” Chanyeol berdecak kesal dan menahan nafasnya karena kesal. “Dia benar-benar bodoh huh. Dia menyiksa dirinya sendiri tapi dia benar-benar melepasmu.” Ucapnya sambil menggeleng-geleng kepala.

“Kau tahu, Minjoo-ya? Dia itu seperti mayat hidup semenjak kejadian itu. Yang dia lakukan hanya bekerja dan bekerja tanpa mau makan atau pun istirahat.” Jujur saat Chanyeol mengatakan itu jantung Minjoo sempat berdenyut nyeri dan rasa khawatir menyergap di tubuhnya. “Alasannya apa? ‘Dengan bekerja aku jadi melupakan fakta bahwa aku kehilangan Minjoo, Chanyeol-ah.’ “

“Benar-benar bodoh, bukan? Aku jadi ingin membunuhnya.” Tambahnya lagi.

Minjoo merundukkan pandangannya dan mulai menangis disana. Minjoo bingung dan Minjoo sakit. Bingung, apakah Baekhyun benar-benar menyuruhnya pergi disaat Baekhyun sendiri bertingkah bahwa kehilangan Minjoo adalah akhir dari hidupnya. Sakit, saat ialah yang menjadi alasan dibalik terlukanya Baekhyun.

“Jika aku memohon padamu untuk memberikannya satu kesempatan lagi.. apakah bisa, Minjoo-ya?”

Chanyeol bertanya tapi Minjoo masih merundukkan wajahnya.

“Satu kesempatan saja. Jika dia benar-benar melepasmu, maka ini semua berakhir dan kau boleh pergi sejauh apapun agar melupakannya.” Chanyeol kini menggenggam tangan Minjoo, membuat kepala Minjoo mendongak dan menatapnya.

“Satu kesempatan lagi, hm? Kumohon. Tanpa kuberitahu, kau bisa simpulkan sendiri kan kalau dia masih sangat mencintaimu?” Dan Chanyeol menggenggam tangan Minjoo lebih erat lagi.  “Hanya satu kesempatan lagi, Han Minjoo.”

Minjoo tidak tahu harus bagaimana. Yang ia lakukan saat itu hanya merunduk dan menangis lagi di dalam sana.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The Day

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Jas hitam itu benar-benar rapih dan terlihat sangat pas untuk Baekhyun. Rambutnya dia naikkan sedikit ke atas dan sebisa mungkin ia mengangkat bibirnya untuk tersenyum. Setidaknya ia harus terlihat ramah di hadapan orang-orang karena hari itu adalah perayaan Polar Corporation, seperti yang telah direncanakan sebelumnya.

Auditorium hotel yang menjadi tempatnya pun kini telah terpenuhi oleh para pejabat tinggi, pengusaha baik asing maupun lokal. Maklum, Polar Corporation memang termasuk salah satu perusahaan yang paling berpengaruh di Korea Selatan.

Baekhyun sedari tadi berdiri dengan Tuan Kim, menyalami rekan-rekannya dan Tuan Kim akan membangga-banggakannya. Semenjak keberhasilan proyek mereka itu Tuan Kim benar-benar menjadikan Baekhyun orang kesayangannya. Seperti orang keduanya, Tuan Kim tak akan segan-segan membanggakan Baekhyun di hadapan pengusaha asing apalagi pejabat tinggi Korea Selatan.

“Byun Baekhyun.”

Saat Baekhyun tengah mengambil minuman dan pergi beberapa detik dari Tuan Kim, Chanyeol pun memanggil Baekhyun di meja minuman yang terletak di sudut ruangan.

“Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Ini benar-benar yang terakhir maka kau harus memutuskannya dengan benar.”

Baekhyun mengangkat alisnya bingung, “Apa maksudmu?”

Chanyeol hanya menatap lurus Baekhyun dan dia hanya terdiam.

“Kau akan tahu sendiri nanti.” Setelah perkataan itu, Chanyeol pergi meninggalkannya.

Baekhyun diam dan otaknya memutar untuk memikirkan perkataan Chanyeol. Baru saja dia akan memanggil Chanyeol untuk bertanya lagi, seorang asisten memanggilnya.

“Tuan Baekhyun, sebentar lagi anda akan mempresentasikan proyek Polar Corporation. Dimohon untuk mengikuti saya ke belakang panggung.” Baekhyun pun menangguk pada asistennya itu, membiarkan Chanyeol pergi dan kebingungan itu menghantui otaknya.

Saat itu Tuan Kim telah berada di atas panggung, memberikan pidato pembuka sekaligus menyambut seluruh tamu undangan mereka. Detik selanjutnya, Baekhyun lah yang naik ke atas panggung dan suara tepuk tangan langsung meriuhkan ruangan.

“Selamat malam, saya Byun Baekhyun selaku director dari proyek terbesar kami ini.”

Ruangan pun menjadi gelap, membuat tamu undangan sedikit kaget namun detik selanjutnya mereka menjadi terperangah takjub saat sebuah hologram dari rancangan bangunan hotel proyek Polar Corporation muncul disana. Teknologi yang sangat mengesankan.

“Bisa kalian lihat di hadapan kalian, rancangan hotel kami yang akan dibangun di tengah kota dengan estetik bangunan eropa tahun 1970. Kami merancang sebaik mungkin dan mendesign interiornya dengan para artistik dari negeri eropa.” Ucap Baekhyun dengan senyum bangga dibibirnya.

“Kami bisa pastikan jika proyek kami ini akan menjadi sorotan dunia, internasional, world class. Benar-benar sorotan nomor satu Korea Selatan dan Dunia.”

Semua tamu undangan tiada hentinya berperangah takjub, bertepuk tangan apalagi tersenyum atas hasil karya yang berada di hadapan mereka saat ini. Baekhyun di tempatnya pun tak kuasa untuk menahan senyum bangganya. Inilah hasil jerih payahnya berbulan-bulan, dan pada malam itu semuanya seperti terbalaskan begitu impas.

“Mungkin, sekian dari saya.. Selamat datang di World Class Hotel: Polar Corporation.” Ucapnya berbangga hati dan langsung disambut dengan ratusan tepuk tangan dari para tamu undangan.

Sumpah, saat itu hati Baekhyun benar-benar melambung tinggi karena ia sangat senang atas kerjanya selama ini. Semua keringat yang ia peluhkan, batin dan jasmani yang ia korbankan berbuah manis dengan tepuk tangan takjub dari orang-orang. Tidak ada lagi yang membuat Baekhyun merasa menjadi orang paling hebat saat itu.

Saat ia masih dengan euphoria kebahagiaannya dengan seluruh apresiasi dari tamu undangan, Chanyeol yang berdiri tepat seratus meter darinya memandangannya cukup tajam. Dia berada di belakang kerumunan.

Tapi, detik selanjutnya Chanyeol seperti membuang nafasnya lalu dagunya ia naikkan seperti menunjuk seseorang. Oh, Chanyeol memang menunjuk seseorang.

Awalnya Baekhyun menatap Chanyeol tidak mengerti, karena ia tidak menemukan seseorang yang Chanyeol tunjuk melewati dagunya. Chanyeol sedikit menggeram ditempatnya dan dia menunjuk kembali seseorang dibalik kerumunan tamu undangannya.

Baekhyun menyipitkan pandangannya, ya Tuhan rasanya saat itu ia ingin meneriaki kerumunan yang menutupi pandangannya. Baru saja ia akan kembali bertanya pada Chanyeol siapa yang ia tunjuk, kerumunan itu bergerak.

Meninggalkan pijakan mereka berdiri dan memperlihatkan seorang gadis dengan gaun putih pendek yang sedang tersenyum disana. Bukan pada dirinya, tapi pada hologram yang berada tepat di bawah panggung depan Baekhyun.

Saat itu, jantung Baekhyun tiba-tiba berhenti. Minjoo disana. Minjoo lah gadis yang Chanyeol maksudkan.

Pikiran Baekhyun menghilang entah kemana, seperti saat itu dunia hanya ada dirinya dan Minjoo serta fokusnya hanya ia tujukan pada sosok Han Minjoo. Seperti ruang dan waktu serta dimensi telah berubah dimana hanya ada dia dan Minjoo. Seperti Tuhan hanya menciptakan dia dan Minjoo di dunia itu.

Kalian tahu, saat itu rasanya Baekhyun seperti jatuh cinta kembali. Persis seperti Baekhyun jatuh cinta pertama kali pada Minjoo dahulu.

~

“Ya, Chanyeol-ah.. gadis yang duduk di pojok meja itu siapa?”

“Hm? Ah dia itu Han Minjoo. Kenapa?”

“Dia cantik.”

“Aku tahu tapi jangan banyak berharap, Baekhyun. Dia sudah menolak dua puluh satu pria di kampus ini.”

“Aku rasa aku jatuh cinta padanya.”

“Ya! Masa jatuh cinta secepat itu! Sudah kubilang dia bukan gadis yang mudah, Byun Baekhyun.”

“Aku jatuh cinta padanya dan aku akan mendapatkannya.”

“Lihat saja, Park Chanyeol. Aku tidak akan menjadi pria yang ke dua puluh satu karena ditolaknya.”

“Aku akan menjadi prianya dan aku pastikan dia hanya menjadi milikku selamanya.”

~

Baekhyun terdiam dan hatinya perlahan menghangat disana. Memori itu muncul dan merubuhkan semua egonya.

Baekhyun adalah pria pertama yang berhasil merebut hati Minjoo saat itu. Dia adalah orangnya, orang yang saat itu bisa mencairkan hati Minjoo yang begitu dingin dan tak peduli pada pria. Baekhyun adalah cinta seorang Minjoo dan Minjoo pun adalah cinta seorang Baekhyun.

Baekhyun sadar bahwa dia bodoh, dia bodoh dan sangat bodoh atas tindakannya yang melepas Minjoo begitu saja. Melepas gadis yang memang tidak sempurna tapi setidaknya bisa melengkapi apa yang Baekhyun tidak punya di dunia ini. Baekhyun bodoh tapi dia tidak ingin menyesal.

Tanpa ba-bi-bu lagi, dengan segera ia turun dari panggung dan berlari menyusuri kerumunan. Menerjang ombak tamu undangan yang sesekali menghampirinya untuk mengucapkan selamat tapi Baekhyun mengacuhkannya karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan terakhirnya.

Saat di tempat dimana Minjoo berdiri tadi, gadis itu sudah tidak ada. Baekhyun memutar seluruh pandangannya dengan perasaan yang begitu takut. Demi Tuhan, sangat menakutkan dibanding ia akan dibunuh oleh komplotan pembunuh berantai.

“Ya! Minjoo dimana!?” Baekhyun menghampiri Chanyeol yang masih di tempat dimana tadi pria itu menunjuk Minjoo padanya.

“Bukankah dia disana? Aku tak memperhatikannya lagi saat semua tamu undangan ini mulai menyalami perusahaan kita..” Sumpah saat itu jantung Baekhyun ingin lepas. Dia meninggalkan Chanyeol yang memberikannya informasi tak berarti dan kembali ke tempat Minjoo berdiri.

“Apakah kau melihat gadis menggunakan gaun putih selutut yang berdiri disini tadi?” Tanya Baekhyun pada seorang gadis yang berada tak jauh dari tempat Minjoo berdiri sebelumnya.

“Yang berambut panjang itu kah? Kurasa tadi dia keluar dari ruangan ini..” Dan Baekhyun tidak tahu lagi organ mana yang harus ia korbankan untuk menutupi rasa ketakutannya. Ia pun dengan segera meninggalkan wanita tadi tanpa mengucapkan terima kasih dan berjalan keluar dari ruangan.

Ia seperti orang gila, melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok gadis yang paling ia inginkan untuk bertahan di sampingnya. Saat ia tak sengaja melihat ke arah lift yang berada di pojok kiri lantai ini, Baekhyun melihat Minjoo ada di dalam lift itu.

Baekhyun berteriak memanggil, tapi sayang pintu telah tertutup. Baekhyun mengacak rambutnya gusar dan setelahnya ia berlari menuruni tangga. Niatnya, ia menuruni tangga dan menghentikan lift Minjoo di lantai selanjutnya namun itu terus terjadi sampai Baekhyun telah menuruni empat lantai dan baru disitulah ia berhasil. Lift Minjoo belum sampai pada lantai dimana ia menekan tombol lift.

Nafasnya beradu dengan detak jantungnya yang beradu melihat monitor lift. Peluh keringat ia acuhkan, hanya Minjoo yang ia tidak ingin acuhkan.

.

Satu.

.

Dua.

.

Tiga.

.

Ting.

Pintu lift perlahan terbuka, sangat pelan seakan waktu itu sengaja di perlambat oleh Tuhan.

Baekhyun terdiam dan rasanya ia ingin menangis detik itu juga.

“Baek..?”

Minjoo ada disana.

Baekhyun melangkah dengan hatinya yang menyuruhnya melangkah. Baekhyun memangkas pandangan mereka dengan hatinya yang menyuruhnya memangkas pandangannya. Membiarkan pintu lift tertutup kembali dan menyisakan mereka berdua di dalam lift tersebut.

“Baek.. kau habis berlari?” Baekhyun terdiam dan hanya menatap Minjoo. Gadis itu? Pandangannya sangat khawatir, jelas sekali wajah Baekhyun terlihat sangat pucat karena berlari begitu kencang. “Ada apa? Mungkinkah ada sesuatu yang tertinggal atau ada sesuatu yang penting?” Baekhyun masih terdiam dan masih hanya menatap Minjoo. Rasanya, hanya itu yang ia ingin lakukan.

Selanjutnya, Minjoo membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa tisu darisana. Ia menghapus jarak mereka lalu menjinjitkan jempol kakinya untuk meraih wajah Baekhyun. Tangannya terangkat, menyeka seluruh keringat Baekhyun.

“Lihat wajahmu, Baekhyun. Kau begitu bias.” Baekhyun menatap detil wajah Minjoo. Masih sangat cantik dan itu semakin membuat jantung Baekhyun berdetak kencang. “Kenapa sih harus berlari? Bukankah kau bisa menelepon orangmu jika ada sesuatu yang penting tertinggal? Kau kan masih banyak pertemuan lagi setelah acara ini, Baek..”

Omelan Minjoo pun tak kuasa membuat Baekhyun menjatuhkan air matanya. Demi Tuhan, Baekhyun tidak bisa menahan lagi semuanya.

“Hm, ada sesuatu yang penting sampai aku harus mengejarnya.”

Baekhyun menurunkan tangan Minjoo dari wajahnya dan perlahan menggenggam seluruh jemari Minjoo. Minjoo tersentak dan Baekhyun tahu itu.

“Sesuatu yang jika aku tidak berlari mengejarnya.. aku akan kehilangannya selamanya.”

Kemudian, mata Baekhyun sepenuhnya hanya menatap mata Minjoo, bahkan hingga bayangan pria itu berada di pupil mata Minjoo.

“Dirimu.”

Minjoo menggenangkan air matanya tepat saat kata itu keluar dari mulut Baekhyun.

“Itu Han Minjoo, sesuatu yang penting dan sangat penting untukku.”

Air mata Baekhyun yang sebelumnya telah jatuh, kini mengalir bagaikan sungai dipipinya. Ia kemudian merundukkan tubuhnya, seperti memohon pada Minjoo.

“Aku bodoh dan aku bajingan. Hm, aku tahu jelas itu. Aku menyakitimu, aku mengkhianatimu, aku membuangmu, aku melepasmu. Jika ada kata lebih dari kata bodoh, maka itu adalah aku.”

“Kau tidak perlu memaafkanku, rasanya pun tak pantas jika aku memohon maaf darimu. Kau boleh pergi dariku, karenanya rasanya pun tak pantas jika kau masih bersama pria bajingan seperti diriku.”

Nafas Baekhyun terengah karena jantungnya benar-benar sesak saat itu.

“Tapi.. jika aku memohon, meminta padamu untuk tetap tinggal bersamaku.. apakah bisa, Minjoo-ya? Apakah kau bersedia, Minjoo-ya?”

“Demi Tuhan.. rasanya aku ingin mati saat aku tidak bisa melihatmu lagi. Rasanya sangat menyakitkan jika sosokmu mengilang dari pandanganku dan sisiku. Demi Tuhan.. aku tersiksa, Minjoo-ya.”

Baekhyun pun memberanikan dirinya untuk mendongakkan kepalanya. Ia menarik tangan Minjoo kembali lalu mengeluarkan cincin pernikahan milik Minjoo yang gadis itu lepas saat meninggalkan rumah mereka.

“Minjoo-ya.. kumohon kembalilah padaku.” Ucapnya sambil menjulurkan cincin itu. “Kembalilah dan jangan pergi meninggalkanku, kumohon..”

Saat itu, Minjoo tak bisa berhenti menangis. Setiap perkataan Baekhyun seperti sumpah untuk kebahagian Minjoo. Dan ada satu hal yang saat itu membuat Minjoo merasa tenang dan lega, seakan seluruh bebannya terangkat dan malaikat maut menjauhinya.

Baekhyun masih mencintainya. Masih sangat mencintainya.

Minjoo menjatuhkan air matanya dan kemudian ia merundukkan tubuhnya, memegang kedua bahu Baekhyun.

“Bangunlah, jangan seperti ini, Baek..” ucap Minjoo. “Aku malu, bagaimana jika ada orang yang melihat, hm?”

“Aku tidak peduli.” Namun pria itu menuruti perkataan Minjoo, ia bangun dari rundukkannya dan berdiri tepat di depan Minjoo. “Aku tidak peduli karena aku tidak mau menyesal kehilanganmu, Minjoo-ya.”

Minjoo rasa sudah tidak ada lagi yang perlu ia ragukan.

Ia pun tersenyum lalu memajukan langkahnya. Memangkas jarak mereka dan melingkarkan lengannya di pinggang Baekhyun.

“Aku… kembali padamu. Aku juga sama Baek, rasanya sangat menyakitkan tidak bisa bertemu dirimu lagi untuk selamanya. Rasanya.. mati adalah pilihan terbaik daripada aku harus kehilanganmu.”

“Aku kembali padamu, Byun Baekhyun.. suamiku.”

Baekhyun menangis kembali tapi bukan hatinya yang menyakitkan. Ia menangis karena rasanya begitu melegakan. Membahagiakannya. Rasanya benar-benar seperti Tuhan mengampuninya. Beban yang ia pikul selama ini hilang begitu saja. Hatinya yang telah retak, perlahan terbentuk kembali, membuat sebuah hati baru yang hangat dan nama Minjoo tentunya ada disana.

Mendengar itu pun membuat Baekhyun merengkuh balas Minjoo. Sangat dalam, sambil terisak juga di sekitar leher Minjoo. Membiarkan seluruh kehangatan Minjoo kembali di sekitar tubuhnya.

“Maafkan aku, Minjoo-ya.. Maafkan aku..” ucapnya terus terisak dan terus memeluk Minjoo semakin dalam. Ia merindukan Minjoo sampai titik dimana ia rasa rindu itu mengalahkan besar bumi ini. “Maafkan aku karena telah menyakitimu, aku menyesal Minjoo-ya.. sangat-sangat menyesal..”

Baekhyun kemudian melepas pelukannya, mengangkat jemari Minjoo dan menyematkan cincin itu di jemari Minjoo.

“Kita mulai semuanya dari awal lagi.. ah bukan, kita melanjutkan cerita kita lagi hanya saja mari kita lupakan semua yang terjadi kemarin ini, hm?”

Minjoo tersenyum lalu ia mengangkat tangannya, menangkupkan pipi Baekhyun lalu menghapus jejak air matanya. Ia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, biarkan itu ada tapi kita hanya perlu menjadikannya pelajaran untuk kita karena bagiku.. semua yang terjadi kemarin ini membuktikan bahwa kita memang tidak pernah bisa terpisah.”

Minjoo mengusap lembut pipi Baekhyun.

“Bahwa aku hanya mencintaimu dan kau.. hanya mencintaiku.”

Baekhyun tersenyum dan detik selanjutnya, ia mencium bibir Minjoo. Begitu dalam dan sangat lembut.

“Hm, benar. Aku hanya mencintaimu, Minjoo-ya.” Ucapnya lalu ia melepas ciuman mereka. “Selamanya hanya akan mencintaimu.”

Minjoo pun tersenyum lalu menangguk setuju. Setelahnya, Baekhyun kembali memeluk Minjoo. Begitu erat seakan tidak membiarkan Minjoo pergi darinya.

Tapi memang begitu adanya, Baekhyun tidak pernah mau melepas Minjoo lagi. Tak peduli masalah itu seperti badai besar yang menghancurkannya, Baekhyun tidak akan melepas Minjoo lagi. Tak peduli berapa banyak setan yang menghampirinya, Baekhyun tidak akan berpaling dari Minjoo lagi. Satu hal yang selamanya akan tertanam baik di pikiran maupun hati Baekhyun.

Baekhyun hanya mencintai Minjoo.

Cukup empat kata itu.

Dan itu berlaku sebaliknya untuk Han Minjoo.

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

EPILOG

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

“Minjoo-ya! Cepat kemari!” Baekhyun berteriak, memanggil Minjoo yang sedang mempersiapkan makanan di dapur.

Saat ini, dirinya, Yeri, Chanyeol, Sehun dan juga Taeyeon berada di ruang tengah rumah mereka. Sedang mengadakan pertemuan biasa sih hanya saja hari ini adalah hari pengumuman kelulusan Kim Yeri maka dari itu Minjoo sekaligus membuat pesta untuk Kim Yeri—pesta jika Yeri berhasil lulus di salah satu universitas ternama di Seoul. Kalaupun tidak juga, ya bisa menjadi pesta penghibur Yeri.

“Iya, iya.. sebentar lagi.” Minjoo pun telah selesai menaruh pudding di atas meja makannya. Ia bergegas melepas kain apronnya dan langsung berlari ke ruang tengah.

“Sudah bisa di akses kah?” Minjoo bertanya saat ia melihat Kim Yeri telah duduk di atas karpet dengan laptop di hadapannya. Chanyeol di sebelah Baekhyun. Lalu Taeyeon di sebelah Chanyeol dan Sehun duduk di sebelah Yeri.

“Belum, eonnie. Satu menit lagi.” Ucap Yeri dengan bibir yang bergetar. Deg-degan, tentu saja.

“Kau pasti lolos, Yeri-ya.” Ucap Baekhyun lalu ia menitahkan Minjoo untuk duduk di atas pangkuannya. Tidak ada tempat tersisa habisnya.

“Benar, kau kan selama ini telah belajar. Usaha tidak akan mengkhianati hasil.” Tambah Minjoo yang sudah duduk di atas pangkuan Baekhyun.

“Kau juga kan sudah sering berdoa.. kau juga tidak melakukan sesuatu yang buruk kan selama ini?” Chanyeol ikut bersuara. “Kau pasti lolos, Kim Yeri.”

“Dengar!? ‘Jangan melakukan sesuatu yang buruk selama ini’ tapi kau kemarin sering memaki kasar padaku.” Ucap Sehun sambil melihat Yeri dengan sinis. “Makanya jangan meneriaku bajingan dan brengsek kemarin ini!” tambahnya lagi lalu mengacak rambut Yeri. Tentu saja Yeri langsung menyalak galak tak terima dengan ucapan Sehun.

“Itu memang Oppa yang menyebalkan!!” ucapnya.

“Sudah pukul 3 pas..” ucap Taeyeon menengahi mereka dan tentu saja langsung membuat suasana menjadi tegang. “Coba kita buka..?”

Yeri menelan salivanya susah, sumpah saat itu seperti jantung Yeri berdetak kencang di tenggorokannya.

“B-baiklah..” Yeri pun perlahan mengangkat tangannya ke atas keyboard laptop. “A-aku.. akan membukanya..”

Tangannya begitu bergemetar, seperti gempa telah beradu di dalam tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, seperti akan meledak juga. Ini adalah penentuan masa depannya, dimana ia akan kuliah. Tentu saja itu membuat Yeri sedikit khawatir jika Yeri tidak di terima di tempat kuliah yang bagus.

“Aku tidak berani melihatnya, aku akan menutup mata!!” Teriaknya.

Sehun terkekeh pelan, “Baiklah biar aku yang membukanya. Kau sebutkan saja nomor kartu pesertamu beserta kata sandinya.”

Yeri pun menyebutkan nomor kartu beserta passwordnya pada Sehun dan setelahnya ia menutup matanya. Ya Tuhan dia benar-benar tidak sanggup.

“Satu. Dua. Tiga!” Sehun menekan tekan enter dan muncul lah hasil dari tes Yeri itu.

Semua orang terdiam, begitu yang Yeri dengar.

“Aku tidak lulus ya?” tutur Yeri, kecewa. Bahunya merosot dan Yeri rasa air mata telah menggenang di pelupuk matanya. Yeri pun menyerah, dia membuka matanya dan ingin melihat sendiri kegagalannya.

“Selamat, Kim Yeri!!” ucap semua orang begitu Yeri membuka matanya. Yeri tersentak kaget namun dia bahagia sampai langit ke tujuh.

“Kau lulus!!!!” Teriak Minjoo sambil memeluk Yeri dari belakang. Untuk memastikan, Yeri pun melihat ke arah laptopnya.

Kim Yeri

Lulus

“Aku lulus!” Yeri berteriak senang dan melihat semua orang dengan bahagia.

“Aku lulus!! Aaaa!! Aku lulus!!” Dia kemudian memeluk Sehun di lehernya begitu erat karena saking senangnya. Sehun merenguh protes, demi Tuhan Yeri mencekiknya.

“Yeri-ya!!! Uhuk! Lepaskan!” Sehun menepuk-nepuk tangan Yeri tapi Yeri tidak mau melepasnya. Ya kalian pikirkan saja mana ada orang yang tidak bahagia saat ia lulus.

Yeri tidak mendengarkan perkataan Sehun dan terus memeluk Sehun dengan erat.

“Oppa! Aku lulus! Aku lulus!!” teriaknya masih bahagia lagi namun Sehun terus terbatuk-batuk sambil mencari nafas.

“Ya!! Lepaskan!!”

Semua orang pun tertawa melihat Yeri yang begitu bahagia dan Sehun yang tersiksa di peluk oleh Yeri.

Hari itu benar-benar bahagia di kediaman Baekhyun dan Minjoo. Berkumpul dengan seluruh teman mereka, pesta barbeque atas kelulusan Yeri. Pertengkaran kecil yang terjadi di antara Sehun dan Yeri pun selalu sukses membuat semua orang selain mereka tertawa, sekaligus menjadi acara penghibur di tengah pesta kecil mereka. Tak jarang juga saat Baekhyun menunjukan kemesrannya dengan Minjoo di hadapan mereka, membuat satu-satunya pasangan pada saat itu menjadi target bully dari semua orang. Tawa, senyum dan bahagia memang tercipta di suasana tersebut.

Mungkin.. memang harusnya seperti itu di antara mereka. Tak peduli di antara mereka pernah ada rasa dendam, nyatanya kumpul bersama menjadi teman lebih indah dibandingkan mereka harus menjadi musuh dan saling menjauh.

.

.

.

“Yeri akan tinggal dengan kita?” tanya Baekhyun dari atas kasurnya sambil menutup buku yang ia baca. Acara mereka baru saja berakhir dua jam yang lalu dan kini Baekhyun dan Minjoo telah berada di kamar mereka.

“Hm, kampusnya kan dekat rumah kita, Baek. Jadi lebih dekat jika dia tinggal bersama kita..” ucap Minjoo. Setelah ia selesai dengan rutinitasnya sebagai wanita di depan meja rias, ia berjalan ke kasurnya dan mulai berbaring di sebelah Baekhyun.

“Lagipula dari dulu aku memang ingin dia tinggal dengan kita, hanya saja kemarin ini kan sekolahnya lebih dekat dengan apartemennya jadi kubiarkan dulu dia tinggal di apartemen.”

Baekhyun mengangguk setuju namun kemudian ia mengubah raut wajahnya menjadi sedih, “Tapi.. jika seperti itu berarti kita tidak bisa bercumbu lagi dimana pun kita mau saat di rumah, Minjoo-ya?” ucapnya merengek sambil menarik pinggang Minjoo untuk dipeluknya.

“Ya! Apa-apaan itu..” Minjoo memukul lengan Baekhyun. “Sejak kapan kau menjadi mesum seperti ini, huh?!”

“Mesum? Aku tidak mesum, Han Minjoo.” Jarak mereka kini telah sempurna tanpa batas. Baekhyun mengangkat tangannya dan mengelus pipi Minjoo. “Aku kan suamimu dan kau itu istriku. Wajar jika kita mau bercumbu kapanpun..” ucapnya dan itu membuat hawa disekitar tubuh Minjoo panas.

“Jadi.. saat aku mau menciummu disini.” Baekhyun mencium kening Minjoo, “Atau disini.” Lalu mencium pipi Minjoo. “Apalagi disini..” dan terakhir Baekhyun mencium bibir Minjoo cukup dalam dan mengambil detik lebih lama dari kedua ciuman sebelumnya.

“Itu wajar karena kita suami istri dan itu karena aku mencintaimu, Han Minjoo..” ucapnya.

Oh Tuhan, wajah Minjoo benar-benar terbakar saat ini.

“Ya…” Minjoo merengek, mengeluh karena tak kuasa dengan perlakuan Baekhyun yang terlalu manis. “Jangan seperti itu..”

Baekhyun tertawa lalu ia pun bangkit dan naik di atas tubuh Minjoo.

“Kenapa jangan seperti itu, hm?” tanyanya sambil memegang pinggang Minjoo.

“Jangan saja…” ucap Minjoo malu-malu tapi Baekhyun tahu, gadis itu menginginkannya.

Terkekeh pelan, Baekhyun pun memangkas jarak antara bibir mereka dengan mengecup dalam bibir Minjoo. Mengulum bagian atas dan bawahnya, serta memeluk Minjoo begitu erat. Minjoo juga tak kuasa untuk menolak perlakuan Baekhyun, maka ia ikut membalas ciuman Baekhyun serta perlahan mengangkat tangannya untuk melingkar di leher Baekhyun.

“Ah.. aku merindukan ini, Minjoo-ya..” ucap Baekhyun setelah ia melepaskan ciuman mereka. “Aku merindukan untuk bisa menciummu seperti itu..”

Minjoo menggigit bibirnya sambil menahan dada Baekhyun dengan tangannya. “Aku lebih merindukannya daripadamu, Baek.”

Baekhyun tersenyum lalu ia pun menaruh tangannya di balik punggung Minjoo. Menarik ritsleting gaun tidur Minjoo dan perlahan menurun kan tali lengan gaun Minjoo. Tubuh Baekhyun langsung panas saat sebagian dada Minjoo terlihat disana.

“Kita melakukannya, hm? Aku benar-benar merindukanmu juga, Minjoo-ya..” ucapnya sambil mengelus lengan Minjoo yang terbuka.

Minjoo mengangguk tanpa memikirkan dua kali. Seperti kata Baekhyun, Minjoo juga merindukannya. Sangat merindukannya. Dan merindukan semua sentuhan Baekhyun padanya.

Setelah Baekhyun mendapatkan lampu hijau seperti itu, Minjoo merasakan bibir Baekhyun berada di sekitar leher dan dadanya. Mengecupnya seakan menandakan bahwa Minjoo miliknya. Mengelus dan menahan pinggang Minjoo seakan tidak ada boleh pria lain yang menyentuh Minjoo.

Saat itu, Minjoo benar-benar merasa bahwa dia sedang terbang ke langit tujuh. Meskipun panas di sekujur tubuhnya, tapi dia merasa sangat bahagia saat Baekhyun melakukan itu semua. Meskipun sebelumnya juga mereka pernah melakukan ini, tapi ini seratus kali membuat Minjoo lebih bahagia dari sebelumnya.

Dan setiap kali Baekhyun melakukan itu padanya, Minjoo merasakan bahwa ia menjadi wanita seutuhnya.

“Aku pikir aku tidak akan pernah merasakan ini lagi, Baek.” Ucap Minjoo sambil menyisir rambut Baekhyun. Kali ini Baekhyun telah turun untuk mencium setiap lekuk dada Minjoo. “Aku pikir.. kita benar-benar tidak akan pernah bisa melakukan ini lagi, Baek..”

Bingung dengan perkataan Minjoo, Baekhyun pun menghentikan dirinya untuk ‘menyalakan’ Minjoo pada tubuh Minjoo.

“Apa maksudmu, sayang?”

Minjoo terdiam dan menatap Baekhyun. Dia pun menarik nafasnya lemah sambil mengusap pipi Baekhyun lembut.

“Aku pikir.. kemarin ini aku benar-benar akan kehilanganmu, Baek.” Matanya mulai berkaca. “Aku pikir.. aku tidak bisa lagi merasakan sentuhanmu seperti ini, aku tidak bisa lagi melihatmu ataupun berciuman denganmu seperti ini..”

Minjoo menangis, saat ini juga.

“Aku pikir.. aku benar-benar akan kehilanganmu, Baekhyun.”

Baekhyun terenyuh dengan perkataan Minjoo. Ia pun tersenyum lalu menghapus air mata Minjoo.

“Aigoo.. Minjoo-ku menangis…” canda Baekhyun. Lalu setelahnya ia pun menarik tangan Minjoo dan menggenggam seluruh jemarinya. “Aku pun sama, Minjoo-ya. Aku pikir.. kemarin ini aku benar-benar akan mati jika kau benar-benar pergi dariku. Rasanya untuk apa aku hidup disaat kau tidak ada di sampingku.”

Baekhyun pun mencium jari manis Minjoo, tepatnya pada cincin yang melingkar disana.

“Jangan pernah lepaskan ini, hm? Dan juga..”

Kemudian Baekhyun mencium sangat dalam kening Minjoo.

“Jangan pernah tinggalkan aku lagi.. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu lagi..”

Minjoo pun tersenyum lalu ia menghapus air matanya. Setelahnya ia menarik tangan Baekhyun, mencium jari manis Baekhyun seperti yang pria itu lakukan.

“Aku janji tidak akan pernah melepaskan cincin ini..”

Lalu ia menarik kepala Baekhyun untuk menyatukan kening Baekhyun dan bibir Minjoo.

“Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi..”

Baekhyun terkekeh pelan. Ya Tuhan, Minjoo memang benar-benar gadis yang sangat manis. Dan Baekhyun bahagia mengetahui gadis manis ini adalah istrinya.

“Jadi.. kita akan melanjutkannya atau tidak, sayang?” Baekhyun kemudian membuka kaus putihnya dan melemparnya sembarang. “Mau menangis atau melanjutkannya?”

Minjoo tertawa pelan namun setelahnya ia langsung melingkarkan lengannya di leher Baekhyun, menarik kepala Baekhyun hingga bibirnya mengulum dalam bibir Baekhyun.

“Lanjutkan tentunya.. aku kan sedang merindukanmu..” ucapnya sambil menyisir rambut Baekhyun, membuat Baekhyun tertawa lagi dan lagi.

“Ya Tuhan.. Han Minjoo-ku benar-benar gadis yang luar biasa!”

Dan Baekhyun pun melanjutkan aktivitas sebelumnya, dimana ia menahan pinggang Minjoo dan menyapu habis seluruh leher serta dada Minjoo dengan bibir dan lidahnya. Membuat Minjoo tersenyum bahagia dan menutup matanya untuk merasakan semuanya.

“Aku mencintaimu, Minjoo-ya.”

Minjoo membuka matanya lagi lalu melirik ke arah kepala Baekhyun. Setelahnya, Minjoo tersenyum.

“Aku juga mencintaimu, Baek.”

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿  🍀 🍂 🍁 🌾

The End

🌾 🍁 🍂 🍀  🌿 🌼 🌼 🌼 🌼 🌿 🍀 🍂 🍁 🌾

Ya tuhan.. 46 pages. Haha, ketawa aja aku mah. Maaf ya lama banget, janjinya setelah lebaran tapi baru dipost 2 minggu setelah lebaran. Maaf yaa..
Ok karena aku udah bilang bakal ada Q&A jadi aku bahas disini!
Q: Kak, ini tuh ceritanya flashback apa gimana?
A: Betul sekali, ini cerita flashback. Tapi… flashbacknya berakhir saat di part 2, di saat Minjoo habis dicium Sehun yang Minjoo nangis sambil ngeliatin foto dia sama Baekhyun. Jadi cerita ini mengandung alur mundur maju.
Q: Kak jadi sebenarnya Baekhyun itu cium Taeyeon karena alasan apa?
A: Karena dia nganggep Taeyeon itu Minjoo. Baekhyun kehilangan sosok Minjoo selama mereka bertengkar, dia rindu Minjoo dan akhirnya bayang-bayang Minjoo muncul di Taeyeon yang selama ini ketemu terus sama dia—karena kerja.
Q: Kalau alasannya Baekhyun marah sampai sekasar itu sama Minjoo kenapa kak?
A: Seperti yang Chanyeol bilang, Baekhyun itu nemuin titik jenuhnya sama Minjoo tapi dia tahu dan sadar kalau dia itu hanya cinta sama Minjoo. Ditambah karena dia kerja-rodi gitu selama berminggu-minggu, makanya dia marah besar. Or.. kalau wanita mah kita sebut “lagi-PMS” hehe.
Q: Kak kok kakak lebih menekankan sudut pandang Minjoo sama Baekhyun dibanding yang lainnya?
A: Karena memang cerita ini aku khususin benar-benar cerita dari mereka, Han Minjoo dan Byun Baekhyun. So, aku ngga menulis sudut pandang dari karakter lain selain mereka di cerita ini.
Aku mungkin bakal bikin prequel—before story—nya dari The Day, yaitu saat dimana Minjoo sama Baekhyun pertama ketemu sebelum mereka menikah di cerita ini. Ada yang tertarik kah? Kalau tertarik aku buat, tapi aku juga belum bisa janji sih. Kalian tunggu aja minggu depan, kalau ngga ada berarti gausah di tungguin lagi karena setelah minggu depan liburanku sudah berakhir :”)
Okay, aku cukup terkesan saat nulis The Day ini. Ini cuman three-shots tapi responnya cukup membuat aku takjub sama kalian. I’m glad to have you guys as my readers >,< Makasih ya udah mau baca The Day!
Kalau aku ngga bisa bikin before-storynya The Day minggu depan, mungkin aku akan pamit lagi karena aku akan menghilang lagi sampai mungkin akhir tahun ini. Setelah desember nanti, mungkin akan ada project baru dariku. Mungkin.
Okay sekian, thanks for all the love!!!

 

SYG1

That night when I was with you
I held you in my arms under the street lights
And I wished that time would stop
That day when I was with you
That warm day that was filled with you
The passing wind remembers you back then
I remember you
The Day by Baekhyun&K-Will

-Baek’s sooner to be wife-

68 responses to “The Day [3/3]

  1. Aaakkk,, notif ff kaka di email ketimbun jdi ga liat 😭😭😭😭😭😭
    AKU TELAT BACANYA HHUUWWAAAAA,,,, pantes aku nunggu ga timbul2 ff nya,, sumpah aku nangis ampe sembab ni mata ya Allah *alay
    Feelnya kerasa nyess didada astagaaa berasa aku yg jdi minjoo/*plakk*
    Baekhyun bener2 menyesali perbuatannya, salut deh buat mas bro 😂.. minjoo jg msh cinta ma bang baek,,,uuyy ciee😄 . Aku sma gregetan kek chanyeol liat baek like a zombie gtw apa2 yg dipikirin cuma minjoo yalord -,- .. sempat kepikiran klo endingnya beneran pisah cuz awalnya udh kek benang kusut, masalah ini itu merambat ke yg lain akhirnya salah paham hadeehh,, untung deh ga jdi cerai yekan 😄😄 . Pengen bgt nyukil biji matanya taeyeon ya ampun org dah mo cerai bru dia sadar klo jdi PHOnya baekminjoo , ugh sini MBA TAEYEON AKU YG JAMBAK 😅😅,, minjoo trlalu baik astagaa gemezz ma dia yg ga bisa marah dan hnya bisa pasrah, LOL
    Btw soal chanyeol 😅, hampir gilanya dia hadapin baekhyun sama kek baekhyun gila kehilangan minjoo, wkwk.. mngkin dalem ati chanyeol blg “klo lu bukan sahabat udh gue gorok lu pke gergaji”.. baekhyun pinter bgt nguras emosi chanyeol, salut ma kaka buat chanyeol kek org gila hadapin baekhyun ampe dia ikut campur rumah tngganya baekminjoo 😅,, dri sekian pnjangnya ff kk , yg menurutku pling brkesan pas baekhyun minta maaf, so sweeeett,, airmataku ampe ga brenti ngalir seriusan,, tulus bgt dia ngucapinnya /*tuhkanjdibaper*
    .
    Berhubung ff kk pnjang banget nget ngeett,, jdi aku comment pnjang jg, hihi
    Seriusan nih mo bikin prequel ma before story The Day kak?
    aku ampe baca komenan sebelum aku, trnyata ga cuma aku yg ngira ini sad ending 😅,, kenapa ga ad sequelnya kak? Pdahal bnyk yg harapin sequel loh /*kodekeraskekbatu*
    Aduh bnyk cingcong ya akunya, ditunggu deh kelanjutan ff nya,,
    fighting ^^

  2. Bersyukur karna gk sad ending
    Bisa nangis bombay nich kalo iya
    Baekhyun kalo gk disadarin sampai segitunya ama chanyeol dan sehun mungkin udah nyerah beneran
    Melepas orang yang dicintai susah seneng bareng minjoo gk bakalan nyesel tapi baekhyun sendiri
    Pokoknya suka suka suka

  3. Tarik ulur perasaan Baek sama Minjo bikin gregett beneran, kalo gak ada yg support pasti mereka beneran cerai 😢😢😢😢 (untungnya gak kesampean)
    Dan akhirnya semuanya akur, emang harus saling memaafkan biar hidupnya tentram yaa authornim.
    Presequel before story-nya? Pasti tertariklah authornim, gak di mention pun bakalan di request sama reader (mungkin)
    Penasaran dan gak dabar sama next ff authornim.
    Di tunggu 😚😚

  4. Nangis. KAK TANGGUNG JAWAB LO BIKIN GUE BAPER TENGAH MALEM.
    Ga ngerti lagi mau komen kekmana, yang jelas gue bener bener sukaaa cerita ini. Dan selamat(?) Kak, lo jadi author fav gue :’)

  5. Sebenernya kataku plotnya simple banget, tapi aku nyesek deg deg-an juga bacanya :’)))) Good Job! Aku suka!

  6. thor aku kok cukit cukit gitu ya di hati ini sulit…. aku udh baca dri chap 1-3 dan aku seneng happy end, karena aku capek nangis hiks… daebak… gomawo thor udh buat ff sperti ini… oh ya aku izin copas ke word biar bisa aku baca lg, soalnya kuota nipis… gomawo thor keep writing and hwaiting juseyo!~

  7. FF ini udah di publish beberapa bulan lalu, tapi aku baru nemu berkat insomnia yang menyerang ..
    Good Job buat Author nya nih, biar cuman threeshoot but ini sangat menyentuh .. 4 Jempol buat penulis .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s