10 Steps Closer [5th Step]

10-steps-close-chaniel-3

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah | Oh Se Hun

Genre: Romance, Comedy, Angst, Marriage Life

Prev: 10 Steps Closer [Prolog] || 10 Steps Closer [1st Step] + Announcement || 10 Steps Closer [2nd Step] || 10 Steps Closer [3rd Step] || 10 Steps Closer [4th Step]

Warning! Very Berry Long Part haha

———————————————–

5th Step

 

“Bagiku, saat ini hanya kau satu-satunya keluarga yang kupunya.”

 

***

Hari Sabtu yang sedikit mendung Seo Ah manfaatkan untuk istirahat di rumah. Chan Yeol—si pria gila kerja itu—sedang bekerja di kantor, padahal baru semalam pulang dari Jepang. Sebenarnya Seo Ah sedikit sedih karena ia tidak bertemu Chan Yeol hari ini, padahal ini hari libur. Terhitung sudah empat hari mereka tidak bertatap muka sejak pertemuan terakhir di Jeju. Seo Ah tidak tahu seberapa pentingnya urusan-pekerjaan-sialan itu sampai-sampai Chan Yeol tidak menghubunginya sama sekali. Mungkin jari-jari pria itu terkena stroke dadakan.

Pagi ini pun Seo Ah tidak bisa bertemu Chan Yeol. Sudah kebiasaan bagi Seo Ah untuk tidur lebih lama di hari libur, oleh karena itu Yoon Ahjumma pun tidak membangunkannya—kecuali Seo Ah yang meminta. Seo Ah sendiri tidak tahu kalau Chan Yeol pulang semalam kalau Yoon Ahjumma tidak mengatakannya. Argh! Rasanya Seo Ah ingin menggunduli kepala pria itu!

Meluapkan kekesalannya, setelah bangun tidur dan mencuci muka, Seo Ah mencoba beberapa eksperimen di dapur. Sejak pulang dari Jeju, ia sudah berniat ingin membuat Chan Yeol kejutan dengan memasakkan makanan seperti permintaannya. Tapi, berhubung Chan Yeol tidak juga menghubunginya dan membuat Seo Ah menunggu kapan kepulangan pria itu, ia jadi kesal sendiri dan terus mengutuknya. Dan baru hari ini ia pergi ke dapur dan mencoba membuat sesuatu dengan kemampuan memasaknya yang… ya lumayan. Seo Ah cukup menggunakan pengalaman tiga tahun setengah hidup sendiri di London untuk referensi.

Biar saja dia menyesal seumur hidup! Aku tidak akan pernah memasak untuknya! Sambil mengaduk lelehan margarin, Seo Ah menggerutu.

Seo Ah membuat cake cokelat hari ini. Selain karena semua bahan ada, saat berada di London ia sering membuatnya sendiri karena lebih murah dan sehat. Selain itu ia juga berniat membuat popcorn dan Kimbab untuk camilan saat menonton film nanti, kebetulan ia sudah meminjam film animasi baru dari salah satu muridnya. Seo Ah tertawa jahat dalam hati, membayangkan betapa kacaunya Chan Yeol ketika tahu apa yang ia lakukan hari ini. Siapa suruh mengabaikannya?!

Seo Ah sedang mencuci tangannya setelah mencuci wortel untuk Kimbab, ketika telepon rumah berbunyi. Seketika Seo Ah ingat kalau Yoon Ahjumma sedang pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk makan malam. Akhirnya Seo Ah berlari kecil ke ruang tengah dan mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

Hening di seberang sana, membuat Seo Ah menjauhkan telepon dari telinga dan menatapnya dengan dahi berkerut. Apa salah sambung?

“Halo?” ulang Seo Ah lagi.

“Di mana Yoon Ahjumma?”

Mendengar suara berat itu, Seo Ah menahan nafasnya. Untuk apa Park Chan Yeol menelepon ke telepon rumah, padahal Yoon Ahjumma memiliki ponsel pribadi. Oke, lupakan masalah itu, dan lupakan juga detak jantung Seo Ah yang menjadi tidak keruan hanya karena suara Chan Yeol. Seo Ah sedang kesal dengan Chan Yeol, jadi tidak boleh seperti ini!

“Untuk apa menanyakannya?” sahut Seo Ah dengan ketus.

“Aku ada perlu dengannya—jadi cepat beri teleponnya kepada Yoon Ahjumma.”

Seo Ah mengerutkan hidungnya. Seenaknya sekali pria ini! Apa ia tidak punya bahasa yang bagus untuk diucapkan—menyapa Seo Ah terlebih dulu misalnya. Mereka kan sudah tidak berbicara bahkan bertatap wajah berhari-hari, apa tidak ada yang ingin dibicarakan dengannya?!

“Tidak ada!” Tidak ada gunanya berbaik mulut dengan Chan Yeol, Seo Ah terus saja menjawab dengan nada tidak bersahabat. “Dia sedang ke pasar.”

Terdengar helaan nafas dari seberang sana. Hei, jangan bilang Chan Yeol lebih merindukan wanita enam puluh tahun itu daripada dirinya?! Oh! Tidak cukupkah ia membuat Seo Ah merasa menyedihkan karena kalah cantik dengan Sekretaris lima-puluh-lima-tahun-yang-masih-kencang itu, kini ia harus bersaing dengan seseorang yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri?! Seo Ah mengipasi wajahnya sendiri; kenapa tiba-tiba udara di sekitarnya panas sekali?!

“Kalau begitu, kau saja.”

“Apa?”

                “Tolong bawakan dokumen yang tertinggal di laci meja kerjaku.”

“Kenapa aku?!”

“Karena Yoon Ahjumma tidak ada.”

Seo Ah memutar bola matanya, meski itu percuma karena Chan Yeol tidak bisa melihatnya dari sana. “Maksudku, kenapa tidak kau saja yang pulang dahulu. Atau menyuruh Sekretarismu.”

“Tidak bisa. Semua sedang sibuk di sini.”

Seo Ah mengangkat kepalan tangannya. Benar-benar! “Baiklah! Di mana dokumennya?!”

Helaan nafas Chan Yeol terdengar lagi. Seo Ah bersumpah, pria itu pasti sedang mengurut pelipisnya—kebiasaan Chan Yeol saat sedang menahan emosi. “Kumohon, Seo Ah-ya. Aku benar-benar tidak ada waktu untuk bertengkar denganmu.”

Oh… bahkan untuk bertengkar saja tidak punya waktu, benar-benar pria sibuk! Seo Ah mencibir dalam hati. Tapi meski begitu, ia merendahkan nada suaranya karena suara Chan Yeol terdengar seperti pria itu bisa muntah-mengeluarkan-busa kapan saja.

“Iya, iya.” Seo Ah melangkah menuju lantai dua, menuju perpustakaan. “Jadi di mana?”

“Satu di meja tengah perpustakaan, di sebelah vas bunga. Di sana ada map berwarna hitam, kau bawa saja semua. Satu lagi ada di laci terbawah meja kerjaku, mapnya berwarna kuning. Dan bawakan aku hardisk yang ada di laci meja kedua.”

Meski kesal, Seo Ah tidak punya sesuatu untuk menjadi pelampiasan. Seo Ah mengambil barang-barang yang diminta Chan Yeol dengan malas-malasan. Suara Chan Yeol seolah dirinya adalah anak buah pria itu. Rasanya Seo Ah ingin sekali merobek kertas-kertas di dalam map ini.

“Sudah?” tanya Seo Ah sarkastik, setelah mengeluarkan map yang dimaksud Chan Yeol di laci ketiga.

                “Bawakan semua itu ke kantorku.”

“Iya… Sajangnim!” jawab Seo Ah dengan nada mengejek.

Seo Ah memutuskan panggilan itu secara sepihak karena telinganya sudah panas dengan gaya bicara Chan Yeol yang menyebalkan. Bawakan ini, bawakan itu, cepatlah, cih! Memangnya aku sekretaris seksimu! Seo Ah menggerutu sendiri, unsur ucapan Chan Yeol sama sekali tidak mengandung bantuan dan ucapan terima kasih.

Menendang laci terbawah itu agar tertutup, Seo Ah melihat sebuah benda tergeletak di atas karpet. Karena saking kesalnya tadi, ia tidak menyadari kalau selembar kertas kecil itu jatuh bersamaan dengan ditariknya dokumen itu dari laci. Seo Ah memungut kertas itu, yang ternyata selembar foto yang sama seperti yang waktu itu ia temukan di bawah meja kerja Chan Yeol. Seo Ah lagi-lagi terpaku dengan foto itu. Kenapa Chan Yeol menyelipkan barang seperti ini sembarangan? Dan juga, ia masih belum bisa menemukan siapa wanita di foto ini.

Seo Ah menggelengkan kepalanya. Ia ingat, terakhir kali menanyakan masalah pribadi Chan Yeol, pria itu menatapnya seolah ingin menguliti Seo Ah saat itu juga. Seo Ah yakin, Chan Yeol adalah titisan yakuza pada kehidupan sebelumnya. Meski pertanyaan yang waktu itu sudah ia lupakan kembali muncul, Seo Ah tetap memasukkan kembali foto itu ke laci terbawah. Mungkin belum saatnya, pikir Seo Ah. Lagipula dia dan Chan Yeol tidak sedekat itu.

Seo Ah kembali ke kamarnya untuk berganti baju. Ia pun pergi ke dapur setelahnya, mengecek apakah kuenya sudah matang atau belum. Masa bodoh dengan Chan Yeol yang kelabakan karena Seo Ah tidak datang juga, siapa suruh sudah merusak hari libur Seo Ah dengan membawakan dokumen ke kantor super besar itu?! Hari Sabtu harusnya beristirahat bukan bekerja!

Timer di oven menunjukkan bahwa Seo Ah harus menunggu sekitar sepuluh menit lagi. Selagi menunggu, Seo Ah menyempatkan diri membuat Kimbab. Jadi setelah kembali dari kantor Chan Yeol nanti, ia bisa langsung masuk home theater dan menonton film. Tidak lupa Seo Ah menulis pesan di sebuah note yang di tempel di kulkas untuk Yoon Ahjumma, karena sepertinya wanita itu meninggalkan ponselnya di kamar.

Cake cokelat sudah keluar dari oven, Kimbab pun sudah selesai dibuat, oke, Seo Ah siap untuk berangkat. Tapi melihat dua makanan di atas pantry dapur itu, membuat Seo Ah mengurungkan niatnya untuk langsung keluar dari dapur. Bukan karena tiba-tiba ia kelaparan berat dan ingin melahap semuanya. Seo Ah hanya kepikiran… bagaimana kalau ia ‘mengizinkan Chan Yeol menyicipi’ makanannya. Well, seperti yang Seo Ah sering tonton di drama, pria gila kerja biasanya selalu melupakan makan siang.

Tapi di sisi lainnya, Seo Ah sedang melancarkan aksi protesnya pada Chan Yeol. Secara tidak langsung Chan Yeol sudah merusak rencana hari liburnya (yang tadinya Seo Ah ingin benar-benar memasak untuk Chan Yeol), dan menyuruhnya mambawakan dokumen bernilai-jutaan-dollar ke kantor di siang yang harusnya sudah Seo Ah gunakan untuk menonton film.

Seolah mengusir setan dan malaikat yang sedang bertengkar di atas kepalanya, Seo Ah menggeleng keras. Hatinya yang menang hari ini. Ia kembali meletakkan paper bag berisi barang-barang Chan Yeol, lalu mengambil kotak makan dari rak. Ia meletakkan beberapa potong Kimbab yang sudah ditatanya di atas piring ke dalam kotak makan yang satu. Sedangkan kotak makan lainnya Seo Ah isi dengan dua iris cake cokelat. Seo Ah mengerjakan semua itu sambil menggerutu. Biarpun otaknya terus mengatakan betapa bodohnya dia karena mengkhawatirkan Chan Yeol padahal pria itu sama sekali tidak mengkhawatirkannya—atau bahkan tidak peduli—tangannya tetap tidak berhenti. Sampai akhirnya dua kotak itu masuk ke dalam paper bag bermotif bunga, siap untuk dibawa.

Seo Ah menatap dua paper bag di hadapannya—yang masing-masing berisi makanan dan barang-barang Chan Yeol—dengan tidak habis pikir. Apa yang sudah ia lakukan?!

Oke, ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal konyol ini. Seo Ah menyambar paper bag dan kunci mobilnya. Yoon Ahjumma, yang baru pulang dari pasar, pun dilewatinya begitu saja. Yang Seo Ah ingin lakukan hanya cepat kembali ke rumah dan menonton, oleh karena itu semakin cepat ia bergerak, semakin cepat pula keinginannya terwujud.

Kali ini saja kau kumaafkan, Park Chan Yeol. Mobil Seo Ah pun keluar dari pelataran rumah mewah itu.

***

                Ini pertama kalinya Seo Ah benar-benar menginjakkan kaki ke kantor pusat Golden Group. Sebenarnya gedung ini sama seperti gedung-gedung di sekitarnya, besar dan mewah. Hanya saja, mengingat kalau dirinya—secara tidak langsung—sudah menjadi bagian dari salah satu grup terbesar di Korea, membuat kakinya lemas karena gemetaran. Padahal ini hanya sebagian dari sekian banyak ‘kebesaran’ Golden Group.

Seo Ah melangkah menuju meja resepsionis dengan ragu. Ia takut kalau statusnya sebagai istri Presiden di perusahaan ini ketahuan, dan dirinya diperlakukan dengan berlebihan. Tapi kalau dilihat situasinya… sepertinya itu tidak mungkin. Pertama, tidak ada yang menyambutnya di pintu depan. Dan kedua, ia sudah lebih mengenal sifat Chan Yeol yang tidak mau repot. Mana mungkin pria itu mengumumkan hal semacam ini di kantornya sendiri. Pekerjaan adalah istri pertamanya sebelum ia menikahi Seo Ah.

“Permisi,” sapa Seo Ah kepada resepsionis cantik yang rambutnya disanggul rapi itu. Aih… kalau Seo Ah melamar pekerjaan di sini, sudah pasti tidak akan diterima. Standar kecantikannya sangat tinggi! “Bolehkah aku bertanya di mana ruangan Park Chan Yeol?”

Resepsionis itu terlihat terkejut dan bingung dalam waktu bersamaan. “Apakah Nona sudah membuat janji terlebih dulu?”

Chan Yeol tidak mengatakannya sebagai janji, tapi lebih tepat sebagai suruhan. “Sepertinya….” jawab Seo Ah tidak yakin.

“Boleh saya tahu nama Anda?”

“Choi Seo Ah.”

Resepsionis itu mencari sesuatu dengan komputernya. “Maakan kami, Seo Ah-ssi. Nama Anda tidak ada dalam daftar.”

Seo Ah tidak pernah menghadapi masalah seperti ini ketika masuk ke kantor ayah dan kakaknya. Waktu kecil Seo Ah bahkan menerobos masuk ke ruang rapat hanya karena ingin menunjukkan nilai seratus pertama kepada ayahnya. Yah…. mungkin kalau status mereka sudah tersebar, Seo Ah juga bisa seperti itu. Ia tidak bisa menyalahkan resepsionis ini juga.

“Kalau begitu, bisa kutitipkan ini—“

“Nyonya?”

Seo Ah dan resepsionis itu menoleh bersamaan. Sekretaris Jung, yang baru mengantar tamu penting ke pintu depan, menghampiri meja resepsionis. Ia membungkuk pada Seo Ah, seketika Seo Ah dilanda kepanikan. Bisa-bisa Sekretaris kelepasan berbicara dan membuat seluruh kantor—tidak, bahkan dunia—geger!

“Apa Anda ingin bertemu Sajangnim?” Sekretaris Jung sama sekali tidak mengerti tatapan mata Seo Ah yang menyuruhnya tidak membawa Chan Yeol dalam pembicaraan ini.

“I-Iya. Tapi sepertinya dia sangat sibuk, jadi bisakah kutitipkan saja ini pada Anda?” Seo Ah mengulurkan dua paper bag di tangannya pada Sekretaris Jung.

Sekretaris Jung menerimanya. “Kenapa Anda tidak langsung ke atas saja?”

“I-Itu….”

“Kenapa kau tidak langsung menyuruhnya ke atas?” tanya Sekretaris Jung pada resepsionis yang berada di balik punggung Seo Ah. Seo Ah meringis… tolonglah….

“Maafkan saya. Tapi nama Nona ini tidak ada dalam daftar pembuat janji dengan Sajangnim.”

“Kau tidak tahu? Dia is—“

“Sepupu! Aku sepupunya!” Seo Ah berbalik badan dan memekik, sampai-sampai resepsionis, Sekretaris Jung dan beberapa orang di sana terkejut mendengar suaranya. “Chan Yeol O-Oppa menyuruhku m-membawa dokumen yang tertinggal. Iya! Begitu!”

Rasanya Seo Ah ingin menggaruk mulutnya sendiri karena menyebut Chan Yeol dengan ‘oppa’. Ya… setidaknya itu lebih baik daripada Sekretaris Jung mengatakan kalau dia istri sah Park Chan Yeol—Presiden Golden Group. Pernikahan mereka waktu itu hanya dihadiri kerabat dan sahabat dekat (untuk kasus ini, Chan Yeol sama sekali tidak mengundang temannya, karena Chan Yeol tidak menganggap siapapun menjadi ‘teman’). Pegawai, rekan kerja, investor, dan semua yang berhubungan dengan Golden Group belum mengetahuinya karena memang tidak ada yang memberi tahu. Keluarga Chan Yeol begitu sibuk dengan urusan masing-masing, sedangkan keluarga Seo Ah… well, Seo Ah sudah mengeluarkan seribu satu macam alasan agar orangtua bawelnya itu tidak membeberkan pernikahannya.

“Ya, begitulah.” Akhirnya Sekretaris Jung mengikuti permainannya, setelah Seo Ah menatapnya dengan tatapan bilang-saja-iya-atau-kau-akan-menyesal.

“Maafkan saya, Nona.”

Seo Ah tertawa sambil mengibaskan sebelah tangannya. “Tidak perlu khawatir. Hohoho…” setelah itu ia mengikuti Sekretaris Jung naik ke lantai tempat ruangan Chan Yeol berada.

Di dalam lift yang hanya berisi mereka berdua, Seo Ah melirik Sekretaris Jung. “Sekretaris Jung tidak bertanya kenapa aku berbohong?”

“Saya rasa Nyonya hanya ingin melindungi Park Sajangnim, oleh karena itu saya mengerti.” Jawab Sekretaris Jung sambil tersenyum.

Oke, setidaknya ia paham. Lebih dari itu, Seo Ah sebenarnya hanya tidak ingin mendapat tatapan setan Park Chan Yeol.

Lift berhenti di lantai dua puluh. Seo Ah kembali mengikuti jejak Sekretaris Jung setelah pintu terbuka. Sebenarnya bisa saja Seo Ah menitipkan barang-barang itu kepada Sekretaris Jung, tapi wanita itu terus menolaknya dengan halus dan kata-kata yang Seo Ah tidak pahami.

“Park Sajangnim terlihat sedang senang, saya rasa Anda harus melihatnya.”

Lalu kenapa?! Apa Chan Yeol yang sedang senang menjadi urusan Seo Ah?!

Mereka berhenti di depan pintu kayu besar berwarna hitam. Ugh! Bukan hanya pakaian, tapi seluruh barang yang berkaitan dengan Chan Yeol sepertinya hanya memiliki dua warna; hitam dan putih. Sekretaris Jung mengetuknya dua kali sebelum mendorong pintu itu.

Sajangnim, Nyonya sudah datang.” Sekretaris Jung membungkuk sebentar, lalu menggeser tubuhnya, membiarkan Seo Ah masuk.

Tidak ada balasan dari Chan Yeol, malah pria itu duduk membelakangi Seo Ah. Apa Seo Ah datang ke sini, menghabiskan dua puluh menit terkutuknya untuk menghadapi jalanan macet Seoul, untuk melihat punggung kursi besar itu saja?! Ketahuilah, wahai Park Chan Yeol Sajangnim! Seo Ah memiliki seribu satu kegiatan yang lebih berharga daripada dokumen-dokumen ini.

Beberapa detik kemudian, setelah Sekretaris Jung menutup pintu dan Seo Ah sudah berada di depan meja kerja Chan Yeol, ia pun membalik kursi itu. Seperti biasa, tidak ada yang spesial dari wajah Chan Yeol, kecuali kantung mata yang mulai terlihat. Seo Ah kira, hampir seminggu mereka tidak bertemu membuat Chan Yeol setidaknya menunjukkan senyum padanya (apalagi ditambah kejadian di pantai waktu itu). Tapi Park Chan Yeol hanyalah Park Chan Yeol.

“Ini barang-barangmu.” Dengan ketus, Seo Ah meletakkan dua paper bag ke atas meja Chan Yeol.

Mulut Chan Yeol tetap mengatup, hanya matanya yang terus menatap Seo Ah.

Mengalihkan pandangannya, Seo Ah kembali berucap. “A-Aku juga membuat Kimbab untukmu.” Sebelah tangannya menunjuk paper bag itu.

“Terima kasih.”

Begitu saja?

Chan Yeol mengambil map yang dibawa Seo Ah dan membukanya, mengabaikan keberadaan Seo Ah. Entah Chan Yeol sadar atau tidak kalau wajah Seo Ah sudah memerah, saking kuatnya ia menahan diri untuk membalik meja di hadapannya. Hanya itu? Hanya ‘terima kasih’ yang Seo Ah terima setelah satu minggu menunggu?!

Sebenarnya Chan Yeol sedang dilanda kebimbangan luar biasa. Karena masalah cukup besar yang ditimbulkan dari salah satu anak perusahaan di Jepang, hampir semua anak perusahaan Golden di Jepang, Tiongkok, dan Korea mengalami dampaknya. Itu membuat Chan Yeol tidak bisa tidur nyenyak—atau bahkan sama sekali tidak tidur—untuk menyelesaikan masalah ini. Bisa dibilang ini masa kritis, dan jika lengah, semua akan berantakan.

Dan sialnya, salah satu faktor yang membuatnya lengah sekarang sedang berdiri di hadapannya.

Chan Yeol sudah sengaja tidak menghubungi Seo Ah beberapa hari karena ia ingin fokus bekerja. Setelah ciuman di Jeju, setiap mendengar suara atau bahkan seseorang menyebutkan nama Seo Ah, otaknya tiba-tiba saja seperti kehilangan semua data. Ia tidak bisa memproses apapun yang lawan bicaranya katakan. Perlu beberapa detik bagi Chan Yeol untuk kembali menyadarkan dirinya bahwa dokumen yang tertinggal di rumah jauh lebih penting daripada wajah memerah Seo Ah yang terus berputar di kepalanya.

Saat tadi Sekretaris Jung mengetuk dan mengatakan Seo Ah sudah datang, Chan Yeol berubah menjadi orang gila. Ia kesal, juga kesenangan sampai tidak bisa berhenti tersenyum (dan Chan Yeol yakin Sekretaris Jung menyadari sikap anehnya ini). Makanya ia tidak langsung bertatap muka dengan Seo Ah karena tidak mau menunjukkan betapa gilanya dia karena Seo Ah benar-benar datang.

Tapi Seo Ah tidak juga pulang, itu membuat Chan Yeol ingin merontokkan rambutnya sendiri!

“Ada apa lagi?” tanpa menatap Seo Ah, Chan Yeol bertanya.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Tentu saja banyak! Chan Yeol ingin menanyakan kabar wanita itu, mengatakan kalau ia sangat merindukan mulut bawel Seo Ah, merindukan sarapan pagi bersama, sampai ekspresi kesal Seo Ah karena Chan Yeol terus saja mengganggu. Tapi gengsi Chan Yeol masih terlalu tinggi untuk sampai ke tahap itu.

“Tidak ada.”

Seo Ah mendesis. “Kau—“

Tok! Tok!

Ucapan Seo Ah terpotong karena ketukan pintu di belakangnya. Sekretaris Jung kembali masuk dan membungkukkan badan. “Sajangnim, Nyonya Besar datang mengunjungi.”

Sebelum Chan Yeol mengatakan apapun, seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun dan elegan masuk. Amarah Seo Ah yang tadinya sudah mencapai ubun-ubun langsung surut begitu melihat ibu mertuanya datang. Seo Ah tersenyum lebar.

Eomeoni!”

“Seo Ah-ya,” ibu Chan Yeol sepertinya juga terkejut melihat Seo Ah ada di sana. “Apa aku mengganggu?”

“Ah… tidak, tidak,” Seo Ah mendekati ibu Chan Yeol, merangkul lengannya, dan membawanya duduk di sofa yang ada di sana. “Kami tidak sedang membicarakan hal penting kok.”

Chan Yeol mendengus pelan. Seo Ah memperlakukan ruangan ini seolah miliknya. Yang paling membuat Chan Yeol jengkel, ia benar-benar diabaikan sekarang karena Seo Ah sudah mengoceh di depan ibunya. Tidak punya pilihan lain, Chan Yeol pun bergabung di sofa itu.

“Bagaimana kabar kalian?” tanya ibu Chan Yeol.

Seo Ah memutar bola matanya untuk mencari kalimat yang cocok untuk menggambarkan hubungannya dengan Chan Yeol. Memang baik-baik saja, tapi tidak juga seperti itu. Karena Seo Ah tidak juga menjawab—hanya bergumam tidak jelas—Chan Yeol mengambil alih pembicaraan.

“Untuk apa Eomeoni ke sini?”

Ucapan Chan Yeol memang terdengar tidak sopan, tapi ibunya tidak terlalu mempermasalahkan itu. Hubungan mereka memang tidak terlalu baik. Ibu Chan Yeol sudah sering diperlakukan seperti ini, dan beliau sendiri juga memperlakukan Chan Yeol tidak jauh beda.

Ibu Chan Yeol mengubah posisi kakinya, ia pun mengambil sesuatu dari tas tangan hitam yang dibawanya. Sebuah kartu undangan seukuran kartu pos. “Yoo Ra akan membuka brand-nya di Singapura minggu depan. Akan ada pesta perayaan, kau harus datang.”

“Hoah! Yoo Ra eonni benar-benar hebat.” Seo Ah mengambil undangan itu dari atas meja. Matanya berkilauan karena kagum dengan kakak iparnya yang berhasil mengembangkan bisnis fashion-nya ke internasional. Ada sedikit perasaan iri di hati Seo Ah. Kapan ia bisa seperti itu?

“Kau benar-benar harus datang sebagai perwakilan Golden, menggantikan ayahmu.”

Seo Ah menoleh. “Abeonim tidak datang?”

Ibu Chan Yeol menghela nafas, lalu melirik putranya dengan tatapan datar. Ia paham dengan sifat Chan Yeol. Chan Yeol tidak pernah mau repot-repot menceritakan masalah keluarga kepada orang lain. Ibu Chan Yeol hanya tidak habis pikir, ia juga menerapkan itu kepada Seo Ah—istrinya. Chan Yeol tidak membalas tatapan ibunya, memilih membuang muka ke arah jendela.

“Dia masuk rumah sakit seminggu yang lalu.” Jawab ibu Chan Yeol.

“APA?!”

Mendengar pekikkan Seo Ah, Chan Yeol memejamkan matanya. Oke, setelah ini ia pasti akan mendapat ceramah-tiga-puluh-menit-tanpa-jeda dari Seo Ah. Seperti yang sudah-sudah, wanita ini sangat suka mencampuri kehidupan Chan Yeol.

“Baik, aku akan mengosongkan jadwalku.” Mencoba mengalihkan topik, Chan Yeol akhirnya berucap. Ia pun berdiri dari duduknya. “Apa Eomeoni tidak punya urusan lain?”

Ibu Chan Yeol mendengus, menaikan sebelah alisnya mendengar usiran halus Chan Yeol. Beliau juga bangun, merapikan pakaiannya. “Baikalh, aku pergi. Seo Ah-ya, kapan-kapan ayo kita minum teh bersama.”

“Y-Ya, Eomeoni.”

Sejujurnya, Seo Ah masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya. Ia hanya membalas ajakan mertuanya dengan jawaban singkat dan anggukan kepala. Ibu Chan Yeol pun keluar dari ruangan Chan Yeol, menyisakan Seo Ah yang masih berdiri di tempatnya, sedangkan Chan Yeol sudah kembali ke kursi di balik mejanya.

Ketika pintu tertutup, barulah Seo Ah bisa meluapkan kekesalannya. “Kau tidak pernah bercerita kalau abeonim masuk rumah sakit!”

“Karena tidak penting bagiku.” Jawab Chan Yeol tanpa menatap Seo Ah, ia sibuk memeriksa laporan yang menumpuk di mejanya.

Emosi Seo Ah semakin naik, ia pun menghampiri Chan Yeol dan berdiri di hadapannya. “Tidak penting? Dia ayahmu!”

Chan Yeol mengangkat kepalanya. “Apa yang akan kau lakukan kalau aku mengatakan abeoji masuk rumah sakit? Menjenguknya?”

“Tentu saja!”

Chan Yeol mendengus. “Membuang waktu.”

“Park Chan Yeol!”

“Bisakah kau pergi? Pekerjaanku masih banyak.” Pinta Chan Yeol sambil memijit keningnya.

Seo Ah diam beberapa saat. Dulu, saat Chan Yeol bersikap seperti ini, Seo Ah tidak merasakan apa-apa. Tapi sekarang, ucapan itu menghantam keras ulu hatinya. “Sebenarnya kau menggapku apa, Chan Yeol-ssi?”

Chan Yeol mengangkat wajahnya.

“Apa aku hanya orang asing?”

“Seo Ah-ya…”

“Baiklah!” Seo Ah mengusap air mata yang sudah terkumpul di ujung matanya dengan kasar. Ia merampas kembali paper bag yang masih berada di atas meja Chan Yeol. “Aku akan mengambil makanan ini lagi! Aku tidak pernah memberi makan kepada orang asing! Selamat tinggal!”

Wanita itu berbalik, melangkah dengan langkah lebar-lebar, lalu keluar dari ruangan Chan Yeol dengan membanting pintu besar itu. Debuman keras selama beberapa detik memenuhi ruangan dan kepala Chan Yeol yang terasa hampa. Ia ditinggal dalam keheningan. Chan Yeol menghirup udara banyak-banyak dan mengembuskannya secara keras. Ia mengacak rambutnya. Tidak cukup dengan masalah kantornya, ia harus berhadapan dengan Seo Ah yang marah.

Permintaan Seo Ah memang tidak aneh, tapi sulit untuk Chan Yeol wujudkan. Lagipula itu juga bukan sesuatu yang buruk. Alasan Chan Yeol tidak memberitahu Seo Ah adalah ia tidak mau Seo Ah terlalu dekat dengan keluarganya. Ia tidak mau Seo Ah berurusan dengan orang-orang yang membuat orang yang paling dicintainya menghilang.

Pintu ruangan Chan Yeol diketuk, Sekretaris Jung masuk kemudian. Menutupi perasaannya yang kacau, Chan Yeol mencoba kembali fokus ke pekerjaannya. Walau setengah isi kepalanya masih dipenuhi kata-kata Seo Ah.

Sebenarnya kau menganggapku apa…

“Kali ini apa yang Anda katakan pada Nyonya?”

“Bukan apa-apa.”

Jung Yoon Ha menghela nafas. Atasannya ini terlalu keras kepala dan tidak peka. Bersikap sok tidak peduli padahal tanpa sepengetahuan Seo Ah, ia meminta dirinya mengawasi istrinya. Yoon Ha juga masih ingat betul selebar apa senyum Chan Yeol saat tahu Seo Ah lah yang mengangkat teleponnya tadi.

Melihat kemungkinan untuk bisa membujuk Chan Yeol meminta maaf duluan kepada Seo Ah sangat kecil, Yoon Ha pun memilih diam saja. Terkadang, saat Chan Yeol dan Seo Ah bertengkar dirinyalah yang paling tersiksa. Chan Yeol berubah menjadi manusia paling sensitif di dunia. Kesalahan sekecil apapun akan kena dampaknya. Dan tidak mudah untuk menyadarkan atasannya ini kalau dia sendiri yang salah.

Sajangnim, Anda tidak makan siang?”

“Aku tidak lapar.”

Yoon Ha mengepalkan tangannya. Ia memang jauh lebih tua dari Chan Yeol, tapi anak itu tetap atasannya. “Baiklah. Kalau begitu aku akan makan Kimbab ini sendiri saja.”

Mendengar kata ‘Kimbab’, Chan Yeol mengangkat kepala. Benar saja, Sekretaris Jung membawa paper bag yang tadi dibawa Seo Ah. Chan Yeol pun menghentikan langkah Sekretaris Jung yang sudah hampir mencapai pintu.

“Apa yang kau lakukan? Itu milikku.”

***

                Meski Seo Ah masih marah kepada Chan Yeol, meski Seo Ah bersikeras tidak mau ikut ke Singapura, tetap saja pada akhirnya ia berada di sini—di dalam satu kamar hotel bersama Chan Yeol. Memang Chan Yeol yang memintanya (dan tidak bisa dibilang ‘membujuk’), tapi tanpa mengucapkan permintaan maaf terlebih dulu. Seo Ah juga tidak punya persiapan untuk menolak karena tahu-tahu supir pribadi Chan Yeol menjemputnya setelah jam pelajaran terakhir berbunyi dan membawanya ke bandara. Seo Ah masuk ke dalam pesawat dengan wajah bodoh, ia sama sekali tidak memiiki ide tentang hal ini. Ia baru sadar kalau ini bukan penculikan kelas atas setelah melihat Chan Yeol duduk di kursi sebelahnya.

“Hanya satu kamar?” tanya Seo Ah ketika masuk ke kamar hotel yang sudah dipesan Chan Yeol.

Eomeoni ada di sini. Dia bisa curiga kalau aku memesan dua kamar.” Jawab Chan Yeol sambil meletakkan koper mereka di sisi ranjang. Ia pun menggulung lengan kemejanya sampai siku.

“Lalu kenapa tidak meminta kamar yang punya dua tempat tidur?”

“Sekretaris Jung yang mengurus semuanya. Bisakah kau tidak bertanya terus?”

“Kenapa harus kesal, sih?!”

Chan Yeol tidak menjawab, hanya mengembuskan nafas perlahan untuk mengurangi amarahnya. Melawan Seo Ah yang sedang marah bukan pilihan yang baik. Mood wanita itu semakin memburuk sejak perdebatan mereka di ruang kantor Chan Yeol. Seo Ah tidak pernah menyapanya lagi saat sarapan, dan jelas-jelas menghindari Chan Yeol ketika mereka berada di perpustakaan—mengerjakan pekerjaan masing-masing. Suasana di rumah menjadi dingin.

“Kalau begitu kau tidur di sofa.” Seo Ah duduk di tepian kasur. Ia menggerakkan kepalanya ke arah sofa cokelat di dekat jendela ketika Chan Yeol menoleh.

“Memangnya kasur ini tidak cukup besar?”

“Bukan begitu… aku tidak bisa tidur bersama orang lain.”

Chan Yeol mengerutkan dahinya, tidak suka dengan pengakuan Seo Ah. Dari dulu Seo Ah memperlakukannya seperti kuman. Dimulai dari isi surat ‘peraturan’ mereka di mana Seo Ah tidak mau sekamar dengan Chan Yeol, kejadian di supermarket waktu itu, dan sekarang… ketika orangtua juga ada di sini. Apa Seo Ah sebegitu bencinya dengan Chan Yeol? Kalau begitu kenapa tidak sekalian menolak ciumannya waktu itu?!

“Permintaan ditolak.”

“Chan Yeol-ssi…”

“Tidurlah. Acaranya nanti malam.” Chan Yeol berjalan menuju kamar mandi.

“Kalau begitu aku saja yang tidur di sofa!”

Mengabaikan teriakan Seo Ah itu, Chan Yeol menutup pintu kamar mandi keras-keras. Seo Ah mencibir tanpa suara. Pria menyebalkan! Selalu bertindak sesuka apa yang ia mau. Seo Ah yakin, ketika Chan Yeol tahu alasan Seo Ah tidak mau tidur bersama dengannya, pria itu pasti akan menyesal seumur hidup telah menikahinya. Biar saja!

Seo Ah pun menyibak selimut, lalu menggulung badannya di bawah selimut tebal itu. Ia sengaja merentangkan tubuhnya ke seluruh permukaan kasur agar Chan Yeol tidak bisa menyalip diam-diam nanti.

***

                Pesta peresmian brand fashion ‘Eclair’ milik Park Yoo Ra di sebuah hotel bintang lima, dihadiri beberapa model terkenal dari penjuru dunia dan pengusaha yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung dalam pemodalan. Dan karena peresmian ini bersamaan dengan ulang tahun pernikahan Yoo Ra bersama suaminya, pesta ini pun terkesan lebih mewah dan romantis secara bersamaan.

Orang-orang datang dengan pasangannya, termasuk Chan Yeol yang menuntun tangan Seo Ah untuk merangkul lengannya. Ini adalah pose tercanggung seumur hidup Seo Ah. Belum lagi banyak wartawan yang meliput acara peresmian ini. Flash kamera yang tidak berhenti menghujaninya, membuat Seo Ah bertambah gugup. Kaki kecilnya yang terbalut high heels hitam melangkah pelan menyusuri blue carpet di bawahnya. Untungnya Chan Yeol tidak sedang memanfaatkan kaki panjangnya itu dengan benar, jadi Seo Ah tidak kewalahan menyamakan langkahnya. Malah terkesan Chan Yeol-lah yang menyamakan langkahnya dengan Seo Ah.

“Presdir Park, siapa wanita yang bersama Anda?”

Tubuh Seo Ah mendadak kaku mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut-mulut wartawan itu. Mereka berhenti di depan pintu hotel, di mana para wartawan berkumpul. Chan Yeol menggenggam erat tangan Seo Ah yang berada di lengannya. Ia menunjukkan senyum yang menawan di hadapan para wartawan. Oh, tidak! Jangan bilang Chan Yeol ingin mengungkapkan semuanya.

She’s my….”

“Anu—“

Chan Yeol mengeratkan genggamannya, membuat Seo Ah meringis. Sebelum wanita itu menyela ucapannya lagi, Chan Yeol buru-buru melanjutkan. “She’s my wife. We’ve been married five months ago.”

Tidak hanya begitu saja, Chan Yeol bahkan menunjukkan tangan kirinya yang terpasang cincin kawin mereka, dan mengangkat tangan kiri Seo Ah yang—entah sejak kapan, Seo Ah sendiri tidak sadar kapan Chan Yeol melakukannya—terpasang cincin kawin juga. Setelah menikah, Seo Ah tidak pernah sekalipun memakai cincin itu, kecuali saat pertemuan antarkeluarga. Lalu bagaimana cincin ini bisa terpasang di jarinya?!

Seo Ah mengangkat kepala, meminta jawaban dari Chan Yeol melalui tatapan matanya. Tapi pria itu hanya menjawab dengan senyuman tipis yang seolah menggambarkan mereka adalah pasangan bahagia.

Pertanyaan dari wartawan terus berdatangan, akhirnya pihak keamanan mengambil alih. Mereka mengawal Chan Yeol dan Seo Ah untuk masuk ke dalam hotel, meninggalkan teriakan wartawan yang tidak puas dengan pernyataan singkat Chan Yeol tadi.

“Kenapa kau mengatakannya?” tanya Seo Ah pelan. Mereka menyusuri lobi untuk naik lift ke lantai paling atas, tempat pesta diadakan.

“Kita memang sudah menikah.”

Seo Ah memutar bola matanya. “Bukankah kau sendiri yang melarang aku membeberkan masalah ini.”

“Sudahlah, aku tidak mau membahasnya.”

Cih! Benar, kan? Chan Yeol selalu saja seenaknya sendiri. “Aku tidak mau tahu kalau terjadi sesuatu pada perusahaan.”

“Itu bagianku, jangan khawatir.”

Seo Ah tidak membalas lagi karena dirasa tidak berguna juga. Chan Yeol seolah sudah berlatih dari lahir untuk membuat Seo Ah kehilangan kesabaran ketika berbicara dengannya. Dan… ekspresinya itu! Benar-benar ingin Seo Ah remas sampai tidak berbentuk.

Sampai di restoran yang berada di puncak bangunan hotel ini, Chan Yeol menuntun Seo Ah duduk di salah satu meja. Restoran itu sudah ramai oleh para undangan yang kebanyakan berasal dari kalangan elit. Wartawan yang meliput pun hanya beberapa, tidak seramai saat di luar tadi karena memang dibatasi. Seo Ah memang sering datang ke pesta semacam ini bersama keluarganya, jadi ia tidak terlalu canggung. Tapi pria di sebelahnya lah yang membuatnya gugup setengah mati.

“Tunggulah di sini, aku harus menyapa yang lain.”

Seo Ah hanya bisa menjatuhkan rahangnya saat Chan Yeol meninggalkannya untuk pergi menyapa orang-orang penting yang bertebaran di sana. Sudah? Jadi dia diajak jauh-jauh ke Singapura hanya untuk diperkenalkan begitu saja?! Oh… hampir saja Seo Ah menyerahkan seluruh hidupnya untuk Park Chan Yeol tadi. Mulai detik ini juga Seo Ah tidak akan pernah percaya kata-kata manis yang keluar dari mulut pria itu.

Seo Ah meneguk wine yang ditawarkan seorang pelayan dengan sekali teguk. Kalau tahu begini, ia lebih memilih tinggal di hotel dan menonton tv. Ah, tidak, mungkin mencari barang diskon lebih baik. Seo Ah tidak benci pesta seperti ini, ia hanya tidak suka sendirian. Belum lagi banyak orang asing dan pengusaha besar, sama sekali bukan bidang Seo Ah. Seo Ah melampiaskan rasa kesalnya kepada steak yang tersaji di depannya. Biar saja dia menjadi babi!

Potongan besar daging baru saja Seo Ah telan ketika ponselnya bergetar. Seo Ah mengambil ponsel itu dari tas tangannya masih dalam perasaan kesal. Tanpa melihat terlebih dulu siapa yang menelepon, Seo Ah mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

Orang di seberang sana mendesis. “Kau pasti sedang kesal, ya?”

Seo Ah mengenali suara ini. Ia pun melihat layar ponselnya, lalu mendesah ketika tahu siapa yang menelepon. “Aku tidak sedang ingin bertengkar denganmu, Se Hun-a.”

“Siapa yang mengajakmu bertengkar? Aku hanya menebak dari suaramu.” jawab Se Hun. “Kau sendirian?”

“Hm.” Seo Ah memainkan biji jagung yang ada di piringnya. “Kakak iparku baru meluncurkan brand-nya, tapi aku malah ditinggal sendirian di sini.”

“Suamimu?”

Mendengar kata ‘suami’, amarah Seo Ah kembali bergejolak. Ia menusuk daging steak dengan garpu yang tengah ia genggam. “Jangan bicarakan dia! Dia sudah kutenggelamkan.”

Se Hun tertawa keras di ujung sana. “Baiklah… bagaimana kalau kuhibur?”

Seo Ah mendengus. “Bagaimana bisa? Kau kan sedang di New York.”

                “Siapa bilang? Aku di belakangmu, lho.”

Merasakan embusan nafas di belakang telinganya, Seo Ah bergidik dan berbalik. Seorang pria seumuran dengannya, yang memakai tuksedo merah marun, tersenyum lebar padanya. Oh Se Hun melambaikan ponselnya, membuat Seo Ah terkekeh lalu berdiri dari kursi.

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

Se Hun memasukan tangannya ke saku celana. “Karena sebuah undangan eksklusif untuk Sungjin Group.”

Ya, Se Hun adalah pewaris satu-satunya Sungjin Group—yang notabennya saingan Golden. Ia juga teman Seo Ah saat SMA dan berkuliah di universitas yang sama di London, hanya beda fakultas. Hubungan kedua keluarga juga dibilang sangat baik, sampai-sampai Seo Ah dulu sangsi sendiri kalau mereka akan dijodohkan.

Se Hun tidak jelek; tingginya di atas seratus delapan puluh, dan meski kurus—harus diakui—Seo Ah sangat suka tubuhnya. Se Hun juga tidak bodoh; maksudnya, bagaimana mungkin pewaris satu-satunya Sungjin Group bisa mengurusi segalanya kalau memiliki kemampuan hanya sebatas rata-rata. Dan Se Hun memang agak menyebalkan, sifat playboy-nya sama sekali tidak bisa hilang sejak SMA. Tapi dia bukan juga pria brengsek. Saat Se Hun menyukai seorang wanita, ia akan melakukan apa saja untuk menyenangkan wanita itu.

Benar, kan? Oh Se Hun jauh lebih baik dari Park Chan Yeol.

Tapi aura di sekitar Se Hun dan Seo Ah memang tidak cocok untuk hubungan romantis.

“Harusnya kau bilang dari awal,” Seo Ah mengerucutkan bibirnya. “Aku hampir mati mengering di sini.”

“Maaf.” Kata Se Hun. “Tapi sebelum itu… yang mana suamimu? Apa dia lebih tampan dariku?” Se Hun langsung terkekeh saat Seo Ah membalasnya dengan pukulan di lengan.

“Kubilang jangan tanyakan dia.”

“Baiklah, baiklah.”

Meski acara belum dimulai, tapi para undangan sudah diperbolehkan duduk di meja yang disediakan dan menikmati hidangan. Musik pun mengalun memenuhi ruang restoran ini, mengajak beberapa pasangan untuk berdansa. Kumpulan orang di lantai dansa membuat Seo Ah mengabaikan Se Hun yang terus mengoceh di hadapannya. Seo Ah selalu suka berdansa, meski ia tidak begitu pandai. Biasanya, saat ada acara seperti ini, ia akan menarik oppa atau ayahnya untuk berdansa. Walau itu hanya sekadar goyangan ringan saja.

“Mau berdansa?”

“Eh?” Seo Ah menoleh.

“Air liurmu hampir menetes melihat orang-orang itu,” Se Hun menunjuk orang-orang yang tengah berdansa dengan dagunya. “Ayo. Kau tidak akan menyesal berdansa dengan Tuan Tampan sepertiku.”

Tanpa menunggu persetujuan Seo Ah, Se Hun menarik tangan wanita itu ke lantai dansa. Se Hun melingkarkan satu lengannya ke pinggang Seo Ah, dan satunya menggenggam tangan wanita itu. Se Hun juga menuntun tangan Seo Ah yang bebas untuk berpegangan di bahunya. Seo Ah terkekeh sendiri melihat Se Hun mengangkat sudut bibirnya dan mengedipkan sebelah mata. Se Hun memang cassanova sejati. Ia sangat pintar membuat wanita nyaman dan spesial di dekatnya.

Mereka bergerak pelan, mengikuti alunan musik. Se Hun sendiri juga menyadari kalau Seo Ah tidak pandai berdansa, jadi ia hanya melakukan gerakan kecil saja. Berputar, selangkah dua langkah ke arah kiri atau kanan, sambil diselingi candaan khas Oh Se Hun. Rasa kesal dan jengkel yang sedaritadi bercokol di hati Seo Ah, terlupakan begitu saja. Bahkan wanita itu juga lupa kalau ia sudah menikah, dan suaminya sedang menatapnya dari jarak tidak lebih dari lima meter.

Seo Ah menjauhkan tubuhnya dari pelukan Se Hun ketika ia merasakan udara dingin mengelilingi tubuhnya. Awalnya ia kira mereka membuka jendela restoran lebar-lebar dan membiarkan angin malam yang berhembus cukup kencang itu memenuhi ruangan, tapi melihat Chan Yeol berdiri di sana dengan kilat-tak-kasat-matanya, Seo Ah menelan air liurnya. Tatapan Chan Yeol membuat siapa saja yang ingin menyapa pria itu langsung mundur. Bau neraka yang dikeluarkan Chan Yeol mengalahkan parfum mahal yang tadinya tercium sampai sudut ruangan. Oke… kiamat sebentar lagi datang.

“Itu suamimu?” bisik Se Hun, tepat di telinga Seo Ah. Se Hun tidak tahu kalau gerakkannya itu terlihat seperti sedang menggoda Seo Ah di mata Chan Yeol, yang membuat pria itu akhirnya menghampiri mereka dengan langkah lebar.

“Permisi, Tuan. Apa Anda tidak keberatan kalau aku mengambil kembali istriku?” ucapan sarkasme Chan Yeol terdengar seperti silet yang menyayat daun telinga Seo Ah. Wanita itu meringis, terlebih saat Chan Yeol menarik Seo Ah untuk berdiri di dekatnya.

“Oh, kau pasti Park Chan Yeol. Annyeong, aku Oh Se Hun.” Se Hun mengulurkan tangannya pada Chan Yeol, tapi diabaikan pria itu.

“Apa kita sedekat itu?”

Se Hun tertegun beberapa saat mendengar nada bicara Chan Yeol yang dingin dan datar. Ia tertawa canggung kemudian, mengusap telapak tangannya yang tidak juga disambut Chan Yeol. “Kau orang yang menarik, Chan Yeol-ssi. Pantas Seo Ah menikahimu.”

Chan Yeol mengangkat sebelah alisnya. Kenapa pria ini memanggil Seo Ah seakrab itu? Chan Yeol mengalihkan pandangannya pada Seo Ah, mencoba mencari jawaban dari wanita itu. Tapi yang ia dapatkan malah membuat emosinya makin tidak terkendali. Seo Ah menggerutu tanpa suara pada pria itu, memperlihatkan betapa dekatnya hubungan mereka.

“Ikut aku.”

Chan Yeol menarik tangan Seo Ah, melewati kerumunan tamu yang masih asik berbincang dan menikmati hidangan, menuju balkon restoran. Angin kencang menampar tubuh kecil Seo Ah yang terbalut gaun hijau tosca tanpa lengan. Seo Ah menggigil, tapi Chan Yeol tidak menyadarinya, malah terus menarik Seo Ah sampai berada di ujung balkon yang berhadapan dengan pantai Palawan.

“Chan Yeol-ssi… sakit…” karena Chan Yeol tidak juga melepas lengannya walaupun mereka sudah berhenti, Seo Ah pun protes.

“Kenapa kau dekat dengan semua laki-laki?!”

“Kenapa kau marah-marah?!” bukannya menjawab, Seo Ah malah balas bertanya karena kesal. Apa-apaan orang ini?! Sudah meninggalkannya sendirian, menariknya dengan kasar, dan sekarang marah-marah seolah Seo Ah adalah wanita murahan. Apa ia tidak punya bahasa yang lebih bagus?

“Aku bosan! Makanya aku mengajak Se Hun berdansa! Kau meninggalkanku seperti orang bodoh di sana, sementara kau berkeliaran menyapa yang lain. Kalau begitu kenapa kau ajak aku ke sini?! Tinggalkan saja aku di Seoul!”

Seo Ah tahu, Chan Yeol pasti tidak mau repot-repot membuang oksigen untuk menjawab pertanyaan sarkas Seo Ah. Seo Ah meledak, mengeluarkan semua amarahnya pada Chan Yeol. Untungnya ia masih bisa sedikit mengontrol diri hingga tidak harus berteriak menggunakan banmal—seperti yang biasa ia lakukan saat sedang kesal.

“Maafkan aku.” Diluar dugaan, Chan Yeol malah meminta maaf. “Maafkan aku karena mengabaikanmu.”

Setelah berhasil menguasai dirinya, Chan Yeol menjawab. Ia terjebak bersama para pria tua di dalam sana. Kesempatan yang langka bisa bertemu para presiden dari perusahaan-perusahaan besar di Asia. Terlebih karena Chan Yeol adalah perwakilan dari Golden Group, sponsor terbesar ‘Eclair’, sudah seharusnya ia menyapa para tamu undangan—meski noona dan ibunya sudah melakukannya.

Tapi ia tidak menyangka kalau istrinya yang ia kira tengah duduk manis sambil menyantap hidangan, malah berdansa dengan pria lain. Pria muda yang—Chan Yeol akui—tampan dan tentu saja berasal dari kalangan atas. Kepalanya tiba-tiba mendidih. Seo Ah sama sekali tidak terganggu dengan tangan pria itu yang melingkar di pinggangnya. Ia malah tersenyum lebar, sama seperti pria itu.

“Sudahlah.” Tidak mau memperpanjang masalah, Seo Ah pun mendesah. “Asal kau tahu, dia temanku.”

“Kalian sedekat itu?”

Seo Ah mengangkat bahunya. “Kami satu sekolah saat SMA dan kuliah di universitas yang sama.” Ia pun mendelik ke arah Chan Yeol. “Jadi sekarang sudah jelas, kan? Ayo, masuk!”

Chan Yeol menarik tangan Seo Ah yang sudah berbalik badan. Pria itu memeluk Seo Ah dari belakang, melingkarkan kedua lengannya yang besar di sekeliling leher Seo Ah. Seo Ah merasa sesak, tapi bukan karena pelukan Chan Yeol yang terlalu erat. Nafas Chan Yeol yang mengenai daun telinganya membuat Seo Ah harus menahan nafas. Udara yang tadinya terasa begitu dingin, naik beberapa derajat untuk Seo Ah. Otaknya menjadi kosong, bahkan hanya untuk memikirkan alasan Chan Yeol melakukan ini.

“Lain kali jangan biarkan pria lain memelukmu.”

“Hm.”

Saking terkejutnya, Seo Ah mengiyakan saja ucapan Chan Yeol. Pria itu kemudian memakaikan jasnya untuk Seo Ah, karena tubuh wanita itu terasa dingin. Membalik tubuh Seo Ah untuk merapatkan jas, Chan Yeol ikut-ikutan menahan nafas melihat wajah Seo Ah yang memerah. Terlihat jelas wanita itu menghindari kontak mata dengannya, dan itu terlihat sangat manis di mata Chan Yeol. Tangan kanan Chan Yeol bergerak dari pinggiran jasnya menuju leher Seo Ah, terus merambat naik ke pipi yang merona itu. Dengan gerakkan pelan, telunjuknya mengusap pipi lembut Seo Ah. Seo Ah tidak bisa untuk tidak terbuai. Tangan Chan Yeol jauh lebih lembut dari angin malam ini. Dan… lebih hangat.

Tidak. Mereka sedang di tempat umum.

Chan Yeol menjauhkan tangannya dari pipi Seo Ah, membuat wanita itu sedikit kecewa. Tapi kekecewaan Seo Ah terbayar kemudian karena Chan Yeol menggenggam tangannya dengan erat, membawanya masuk ke dalam restoran kembali.

Tepat saat mereka masuk, acara puncak pun dimulai. Di atas panggung, sudah berdiri Park Yoo Ra, suami dan anaknya yang berusia lima tahun, serta Kim Bo Young—ibu Chan Yeol. Seorang mc juga menemani mereka, berdiri di sebelah kue besar yang nantinya akan dipotong. Seo Ah baru ingin bertanya kenapa Chan Yeol tidak bergabung dengan mereka, tapi pria itu sudah menariknya duduk di meja yang sebelumnya ditempati Seo Ah. Ia tidak bisa protes karena wajah Chan Yeol menggambarkan kalau ia sedang tidak ingin berbicara apapun. Meski begitu, Chan Yeol tidak melepaskan genggaman tangannya pada Seo Ah.

Park Yoo Ra, suaminya, dan ibu Chan Yeol bergantian memberikan sambutan. Bahkan ibu Chan Yeol tidak henti-hentinya memuji kerja keras Yoo Ra dalam membangun ‘Eclair’. Seo Ah terus-terusan melirik ke arah Chan Yeol, ingin bertanya tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Seo Ah benar-benar penasaran kenapa Chan Yeol tidak bergabung di sana. Ia adalah perwakilan Golden—pewarisnya, dan mereka keluarga. Kenapa hanya Chan Yeol yang diasingkan?

“Saya mengucapkan permintaan maaf karena suami saya tidak bisa hadir di sini untuk menyapa Anda sekalian. Tapi meski begitu, saya harap Anda sekalian menikmati pesta ini.” Ucap Kim Bo Young.

“Chan Yeol-ssi…”

Chan Yeol menoleh. “Kau lapar? Mau kuambilkan sesuatu?”

Pertanyaan yang sudah diujung lidah Seo Ah, harus ditelannya kembali. Ada perasaan tidak tega saat melihat wajah Chan Yeol yang seperti itu. Orang lain mungkin tidak melihatnya, tapi Seo Ah tahu persis kalau saat ini Chan Yeol sama sekali tidak ingin membahas apapun. Terbaca dari bagaimana pria itu mengalihkan pembicaraan. Ada tekanan di dalam tatapan matanya, sekaligus sakit hati, yang akhirnya membuat Seo Ah memilih mengurungkan niatnya.

Seo Ah pun mengulaskan senyum. “Nanti saja.”

Chan Yeol balas tersenyum, lebih ke ucapan terima kasih karena Seo Ah mengerti. Ia pun kembali melihat panggung.

“Dan aku juga mengucapkan terima kasih yang besar untuk adikku, Park Chan Yeol, yang sudah datang bersama istrinya….”

Seo Ah tidak bisa mendengar jelas kelanjutan ucapan Yoo Ra karena rasa sakit di telapak tangannya. Chan Yeol menggenggam tangannya terlalu erat, sampai Seo Ah tidak bisa merasakan aliran darahnya sendiri. Seo Ah mengangkat kepalanya, ia melihat rahang Chan Yeol mengeras dan matanya memerah. Air muka Chan Yeol sangat kontras dengan suara meriah tepuk tangan yang ditujukan padanya.

Entahlah… Seo Ah merasa terlalu banyak yang disembunyikan pria ini.

***

                Seo Ah menemukan Chan Yeol tengah duduk di kasur sambil memangku laptopnya saat keluar dari kamar mandi. Chan Yeol mengajaknya untuk meninggalkan pesta lebih awal dan kembali ke hotel. Tapi justru ketika sampai di hotel, ia sama sekali tidak mengatakan apapun. Menghindari keheningan, Seo Ah memilih masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sambil berendam, Seo Ah terus kepikiran tentang sikap keluarga Chan Yeol tadi. Terlalu janggal untuk dikatakan ‘keluarga baik-baik saja’, tapi juga tidak terlihat saling membenci.

Chan Yeol mengangkat kepalanya, membuat Seo Ah tersadar. Ia pun menunjuk pintu kamar mandi di belakangnya. “Kau mau mandi?”

“Ya.”

Suasana ini… seperti kembali ke awal masa-masa mereka hidup bersama. Chan Yeol yang terlalu dingin dan kaku, tidak pernah berbicara lebih dari dua kalimat kepada Seo Ah. Seo Ah sendiri bingung ingin memulai pembicaraan dari mana, karena suasananya tidak mendukung. Rasanya kalau ia salah bicara sedikit saja, Chan Yeol akan marah besar.

Selagi Chan Yeol mandi, Seo Ah menyiapkan sofa untuk tempat tidurnya sendiri. Ia teguh pada komitmennya. Lagipula sofa ini tidak terlalu buruk, dan udara Singapura juga hangat.

Chan Yeol keluar dari kamar mandi dengan celana bahan panjang dan kaus oblong putih. Satu tangannya menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah. Kalau Chan Yeol adalah jelmaan Song Joong Ki, sudah pasti Seo Ah sudah berlutut dengan hidung penuh darah. Tapi karena Chan Yeol hanya Park Chan Yeol biasa, Seo Ah cukup tidak bisa berkedip sebagai bentuk kagumnya.

“Kenapa?”

Seo Ah menggeleng cepat. Menghilangkan pikiran joroknya—yang entah darimana datangnya itu—saat melihat leher dan lengan atas Chan Yeol yang segar. “Tidak ada.”

“Kau tidur di sofa?”

“Ya.” Jawab Seo Ah enteng.

Chan Yeol mengeraskan rahangnya. Ia menghirup nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan keras. Ia bergumam ‘terserah’ dengan pelan tapi penuh tekanan, dan berjalan ke arah kasur. Ia bosan bertengkar dengan Seo Ah tentang masalah ini. Wanita itu terlalu keras kepala, tidak cukup digerakkan hanya dengan kata-kata. Tapi karena Chan Yeol sudah sangat lelah hari ini, ia memilih mengabaikan itu dan pergi tidur. Chan Yeol pun mematikan lampu kamar.

“Chan Yeol-ssi.”

Chan Yeol memejamkan matanya, mengabaikan suara Seo Ah.

“Chan Yeol-ssi, kau sudah tidur?” kepala Seo Ah menyembul dari balik punggung sofa.

“Chan Yeol-ssi.”

“Apa lagi sekarang?” akhirnya Chan Yeol tidak tahan dan menjawab, meski tanpa menyalakan kembali lampu atau beranjak dari kasur.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Kau kan sudah melakukannya daritadi.”

Chan Yeol bisa mendengar Seo Ah mendecih. Wanita itu melanjutkan. “Apa kau sedang bertengkar dengan eomeoni?”

Ada hening beberapa saat, sebelum Chan Yeol menjawab. “Kami memang tidak saling menyukai dari dulu.”

“Kenapa? Bukankah kalian keluarga?”

“Dia bukan ibu kandungku.”

“APA?!” suara Seo Ah yang awalnya pelan, kini naik satu tingkat. Dari tempatnya, Chan Yeol melihat siluet Seo Ah menegakkan tubuhnya, hampir berdiri. “M-Maksudmu?”

“Aku adalah anak hasil hubungan abeoji dengan selingkuhannya. Setelah eomma meninggal, abeoji membawaku dan memasukkanku ke dalam kartu keluarga Park.”

Seo Ah kehabisan kata. Ia hanya diam, mendengarkan Chan Yeol yang bercerita dalam kegelapan.

“Awalnya aku berpikir, ‘mungkin eomma akan bahagia jika aku punya hidup yang lebih baik’, dan mau saja ikut dengan abeoji. Tapi… sekarang aku merasa seperti orang bodoh, mengkhianati ibu kandungku sendiri.

Abeoji… orang itu membunuh eomma.”

Seo Ah menutup mulutnya ketika mendengar pernyataan itu. Ia hampir memekik histeris.

“Dia memanfaatkan keberadaanku sebagai anak laki-lakinya, meski dari hubungan kotor mereka, untuk menguasai semua harta harabeoji. Dia membunuh eomma yang terus menghalanginya, membuatnya seperti kasus tabrak lari biasa, lalu membawaku yang tidak tahu apa-apa waktu itu. Bodoh sekali diriku.” Chan Yeol tertawa pahit, meski di ujung matanya sudah mengalir air mata.

“M-Mungkin… bukan begitu kejadiannya….”

Lebih dari menenangkan Chan Yeol, Seo Ah mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia sangat terguncang dengan kenyataan yang baru saja didengarnya. Ayah mertuanya tidak sekeji itu! Meski beliau memiliki aura dingin yang mengerikan seperti Chan Yeol, tapi sebenarnya beliau sangat hangat dan baik. Seo Ah ingat betul pesan beliau untuk menjaga Chan Yeol dan membuatnya ‘lebih manusiawi’, saat pernikahannya. Beliau tidak mungkin melakukan perilaku rendahan macam itu! Untuk menguasai harta?! Jangan bercanda!

“KAU TAHU APA-APA, HAH?!”

Itu adalah bentakkan pertama Chan Yeol untuk Seo Ah. Bahkan dalam keadaan kamar yang gelap, Seo Ah bisa merasakan bagaimana marahnya Seo Ah. Sebuah kemarahan yang hampa.

“Aku mendengarnya sendiri… dia mengatakan itu kepada eomeoni.” Desis Chan Yeol. “Orang munafik itu…. membenciku tapi juga memanfaatkanku. Dia benar-benar mengutuk keberadaanku.”

Kalimat Chan Yeol mulai kacau karena terlalu banyak emosi yang ditahannya. Ia tidak mau menunjukkan kelemahannya pada Seo Ah. Sudah cukup kehidupan kelamnya diketahui wanita itu, Chan Yeol tidak mau Seo Ah membencinya. Ia terlalu takut untuk ditinggal sendiri lagi, seperti waktu itu.

“Bagiku, saat ini hanya kau satu-satunya keluarga yang kupunya.” Ucap Chan Yeol.

Seo Ah menggigit bibir bawahnya, menahan suara tangisnya yang hampir meledak. Air mata sudah meleleh di kedua pipinya. Seo Ah tidak menyangka di balik wajah datar dan ucapan ketus Park Chan Yeol, terdapat goresan luka dalam yang lebar. Pria itu kesepian, sendirian, meski dikelilingi harta melimpah. Seo Ah memang tidak paham bagaimana rasanya kehilangan, tapi mendengar suara Chan Yeol yang bergetar sudah membuatnya merasakan seperti apa rasa sakit yang dialami pria itu. Obat paling mahal sekalipun tidak mampu menyembuhkannya.

“Tidurlah. Ini sudah larut.” Chan Yeol pun memutus pembicaraan penuh emosi mereka.

“Chan Yeol-ssi….”

“Tidur, Choi Seo Ah.”

“Kau mau kupeluk?”

Chan Yeol diam selama lima belas detik, sebelum akhirnya menjawab. “Iya.”

***

                Seo Ah menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi. Buruk! Entah kata apa lagi yang cocok untuk menggambarkan betapa buruk wajahnya pagi ini. Mata bengkak dan sembab, begitu juga pipinya. Ia tidak ingin menyalahkan Chan Yeol, tapi memang pria itu yang membuatnya begini.

Semalaman, Seo Ah memeluk Chan Yeol yang—sepertinya—menangis dalam diam sampai akhirnya ia tertidur. Seo Ah, yang tidak pernah bisa tidur dengan orang lain, kembali ke sofa dan tidur di sana. Bagaimanapun keadaan akan jauh lebih buruk kalau ia tetap memaksakan diri tidur di sana (well, ia hampir tidur di sana). Dengan mata terbuka setengah, Seo Ah berjalan ke sofa dan menarik selimutnya.

Untungnya Chan Yeol tidak akan bangun sebelum dibangunkan, jadi ia tidak perlu khawatir.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Seo Ah pun berganti pakaian. Ia membangunkan Chan Yeol kemudian, karena Yoo Ra mengiriminya pesan semalam dan mengajak mereka sarapan pagi bersama di hotel. Sebenarnya, kalau bisa, Seo Ah memilih untuk menolak ajakan itu. Setelah mendengar cerita Chan Yeol, ia merasa ada yang mengganjal hatinya. Tapi kemudian ia berpikir, itu akan melukai harga diri Chan Yeol. Bersikap seperti biasa adalah pilihan yang terbaik.

“Kau sudah rapi?” tanya Chan Yeol ketika berhasil membuka mata.

“Yoo Ra eonni mengajak kita sarapan bersama.”

“Oh.”

Chan Yeol masuk kamar mandi tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Seo Ah menghela nafas, lebih baik begini. Meskipun Seo Ah yakin Chan Yeol tidak melupakan kejadian semalam, tapi melihatnya begini, ia pasti sudah baik-baik saja.

Chan Yeol siap sepuluh menit kemudian. Ia pun langsung mengajak Seo Ah turun untuk menuju restoran hotel tempat mereka menginap. Hotel ini berbeda dengan hotel tempat pesta semalam diadakan. Chan Yeol sebenarnya tidak tahu kalau keluarganya juga menginap di hotel ini karena sekretarisnya yang mengurusi.

”Seo Ah-ya!”

“Se Hun-a!”

Mereka baru menginjakkan kaki ke restoran hotel ketika suara itu menyapa Seo Ah. Chan Yeol mengerutkan dahinya tidak suka dengan kehadiran pria itu, apalagi Seo Ah menyambutnya dengan hangat pula. Semakin hari, daftar orang yang dibenci Chan Yeol semakin bertambah. Semua gara-gara Choi Seo Ah.

Annyeong haseyo, Chan Yeol-ssi.”

Yah… untungnya dia tidak memanggil Chan Yeol ‘ahjussi’, atau sok akrab—seperti semalam.

“Chan Yeol-ssi, perkenalkan dia Oh Se Hun. Dan Se Hun-a, dia Park Chan Yeol.” Seo Ah memperkenalkan mereka satu sama lain.

“Perkenalan kita semalam tidak terlalu baik, aku minta maaf, ya.”

“Tidak apa-apa.”

Mungkin bagi Seo Ah, mendengar jawaban singkat dari Chan Yeol sudah biasa. Tapi tentu tidak bagi Se Hun. Wajah Se Hun merengut, seperti terhina dengan perilaku Chan Yeol. Seo Ah pun buru-buru mencari topik untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi dingin ini.

“Se Hun ini saat kita menikah sedang berada di Amerika, meneruskan sekolahnya.” Seo Ah menepuk punggung Se Hun sambil tertawa. “Dia pewaris Sungjin Group soalnya.”

“Sungjin?”

Ah, sial! Kenapa Seo Ah harus mengatakan itu?! Sudah jelas-jelas Golden dan Sungjin bersaing dalam bidang apapun.

“Kau kelihatannya sangat terkejut sekali.” Se Hun melipat tangannya di dada dan menunjukkan senyum separo kepada Chan Yeol.

Silahkan salahkan Seo Ah. Bukannya memperbaiki malah membuat semuanya makin berantakkan. Aura permusuhan terpancar dari sepasang mata kedua pria itu.

“Tidak juga.” Jawab Chan Yeol. Ia pun melirik Seo Ah dari ujung matanya. “Aku akhirnya tahu alasan dia lebih suka berbelanja di Sungjin Departement Store.”

“A-Ah… S-Sepertinya Yoo Ra eonni sudah menunggu—“

“Oh, tentu saja! Karena Seo Ah-ku suka sekali diskon, dan Sungjin selalu mengadakan diskon besar-besar per musimnya.”

Se Hun idiot! Teriak Seo Ah dalam hati. Padahal Seo Ah sudah berusaha menghentikan perang dingin ini, tapi pria idiot ini malah menyiram bensin di api yang membara. Chan Yeol terus memasang wajah datar yang tenang, tapi tatapannya setajam katana yang mampu membelah tubuh Se Hun menjadi dua tanpa cela. Sedangkan Se Hun menunjukkan senyum mautnya dengan tatapan merendahkan—sangat khas. Seo Ah ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup saat ini juga.

“Apa sekarang sedang diadakan kontes menatap?”

Seo Ah, Chan Yeol, dan Se Hun menoleh bersamaan ke sumber suara. Seorang pria paruh baya dengan tubuh tambun berdiri di belakang Chan Yeol, menengok penuh rasa ingin tahu dari balik punggung Chan Yeol. Senyumnya merekah kemudian.

Appa!”

Eomma juga datang, loh.” Kepala ibu Seo Ah muncul dari balik punggung ayahnya. Ia melambai dengan semangat ke putrinya itu.

Eomma!” Seo Ah pun menghambur ke pelukan ibunya.

“Apa kabar, Abeonim, Eomeonim?” Chan Yeol membungkukkan kepalanya dan tersenyum tipis. “Kapan kalian datang?”

“Iya, kapan kalian datang? Kenapa tidak menelepon terlebih dulu?” Seo Ah mengerucutkan bibirnya.

“Semalam. Setelah menyelesaikan bulan madu kesepuluh kami, kami pun langsung terbang ke sini.”

Chan Yeol dan Seo Ah saling berpandangan. Yang satu tidak mengerti apa yang baru diucapkan wanita paruh baya ini, sedangkan satunya lagi mengirim sinyal untuk memaklumi kelakuan orangtuanya. Orangtua Seo Ah memang suka berlibur. Terkadang mereka memanfaatkan tugas dinas ke luar negeri ayah Seo Ah untuk liburan juga.

Ajumeoni! Apa kabaaaaaar….” menyingkirkan Seo Ah dari pelukan ibunya, Se Hun pun memeluk ibu Seo Ah.

“Se Hun-a, kau semakin tampan saja. Hohoho….”

“Apa kau sudah menikah, Se Hun-a?” tanya ayah Seo Ah setelah Se Hun memeluknya juga.

“Eiy… bagaimana bisa aku menikah kalau Ahjussi sudah menikahkan pengantinku dengan pria lain.”

“Bisa saja kau!” Ayah Seo Ah menepuk-nepuk kedua lengan Se Hun dengan keras sambil tertawa. Seo Ah lagi-lagi hanya bisa diam dengan mulut terbuka dan alis mengerut. Walau ini bukan pertama kali ia menyaksikan percakapan konyol seperti ini, tetap saja rasanya… menjijikan. Se Hun dan orangtuanya memang sangat cocok.

Eomma, Appa, ayo kita ke sana.”

Tidak tahan dengan semua ini, Seo Ah mendorong punggung ayah dan ibunya untuk duduk di kursi yang sudah dipesan Yoo Ra. Se Hun pun—yang semula tidak diundang—ikut juga karena ayah Seo Ah tidak melepaskan rangkulannya. Chan Yeol mengikuti di belakang. Pria itu semakin diam sejak melihat keakraban Se Hun dan kedua orangtua Seo Ah. Ada perasaan iri di hatinya, tapi Chan Yeol tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak bisa berpura-pura tertarik dengan pembicaraan mereka.

“Jangan terlalu dipikirkan. Se Hun dan Appa memang begitu.”

Chan Yeol mengulaskan senyum tipis. “Hm, aku mengerti.”

Yoo Ra, suami dan anaknya, juga ibu Chan Yeol sudah duduk di meja itu. Mereka pun menyambut ayah dan ibu Seo Ah dengan senang. Se Hun pun dengan mudahnya berbaur dengan mereka. Sifatnya yang sangat kontras dengan Chan Yeol membuatnya cepat akrab dengan siapapun, bahkan dengan Jae Hyun, anak laki-laki Yoo Ra.

Makanan tersaji beberapa menit kemudian. Suasana sangat hangat memenuhi meja panjang itu. Apalagi ketika melihat Jae Hyun makan sambil mengoceh, tawa kecil menghiasi wajah setiap orang, kecuali Chan Yeol. Ia bukannya tidak menyukai suasana ini, ia hanya tidak tahu bagaimana caranya berbaur dengan mereka. Bahkan untuk mengalihkan pembicaraan Seo Ah dengan Se Hun saja Chan Yeol ragu. Ia takut tindakkannya malah merusak suasana di sini. Oleh karena itu Chan Yeol memilih diam dan memakan makanannya.

“Bagaimana perusahaan, Chan Yeor-a?” Ayah Seo Ah akhirnya sadar kalau Chan Yeol-lah yang paling diam. Ia pun mencari topik yang bisa diikuti menantunya itu.

“Eiy… apa perlu membahas pekerjaan di saat-saat seperti ini?” protes ibu Seo Ah.

“Lalu apa yang harus dibicarakan?”

Ibu Seo Ah mengangkat bola matanya, berpikir. Dalam hati, Chan Yeol terkekeh melihat ibu mertuanya masih bisa bersikap imut di umur yang tidak bisa dibilang muda lagi. Sifatnya sangat mirip dengan Seo Ah.

“Mungkin…. kapan kalian memberi kami cucu?”

Pruh!!

Seo Ah tersedak jus jeruk yang sedang diminumnya. Untung tidak sampai menyembur, karena sudah pasti wajah Se Hun—yang duduk di hadapannya—tidak akan selamat. Chan Yeol pun sama terkejutnya dengan Seo Ah, tapi ia dengan pintar mengontrol ekspresinya. Chan Yeol hanya membulatkan mata beberapa detik sambil menahan nafasnya, lalu mengembuskannya perlahan.

Berbeda dengan Chan Yeol dan Seo Ah, Se Hun malah kentara sekali menahan tawanya di sana. Ia melipat bibirnya, dan matanya mendelik geli ke arah Seo Ah. Lalu, dengan wajah menyebalkannya itu, ia memajukan tubuhnya dan berbisik pada Seo Ah. “Aku yakin, kalian bahkan belum tidur bersama.”

Tidak puas sampai situ, Se Hun juga menggoda Chan Yeol. “Tenanglah, Chan Yeol-ssi. Seo Ah memang sedikit merepotkan.” Ia mengedipkan sebelah matanya.

“Oh Se Hun….” Seo Ah mendesis, mengangkat kepalan tangannya ke arah Se Hun.

“Kami sedang berusaha.”

Seo Ah memutar kepalanya dengan cepat. Tangannya masih terkepal ke arah Se Hun, tapi wajahnya menatap Chan Yeol dengan mata yang hampir keluar dari tengkorak. Oh! Betapa banyak kejutan yang ia dapat pagi ini! Kenapa juga Chan Yeol harus ikut membuatnya malu?!

“Manfaatkanlah liburan ini dengan sebaik-baiknya.” Senang melihat wajah terkejut Seo Ah, Yoo Ra pun ikut menggoda. Ia paham betul bagaimana rasanya digoda seperti itu, karena dulu ia sering mendapatkannya.

“Buatlah yang banyak malam ini.” Timpal Se Hun.

“Bagaimana bisa?!” pekik Seo Ah, membuat semuanya terkejut. “Aku sedang haid!”

Perlu beberapa detik untuk mereka memahami ucapan Seo Ah, sebelum tawa keras meledak di sana. Chan Yeol ikut tertawa.

Dan itu membuat Seo Ah ingin melempar tubuhnya sendiri ke kumpulan ikan Piranha di Amazon.

Sial!


■■■

*Ini mungkin lebih gaje daripada part sebelumnya, dan feelnya sedikit nurun. Karena aku sendiri mood nya ilang-ilangan.

Ngomong apa lagi ya… hm… kayaknya gak ada deh. Hehe btw ini masih sebagian rahasia yang terbongkar dari chanyeol. Masih banyak kejutannya, jadi stay tune yaaa ^^ Dan… selamat datang OH SEHUN!! Karakter dia gaje banget di sini hahahaha

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

88 responses to “10 Steps Closer [5th Step]

  1. Gila duuhhh chanyeol itu serius appanya yg ngbunuh ibu nya chan? Jangan jangan salah paham TT

    HOAAAA WELCOME OH CAKEP SEHUN😍😍 duh suka deh karakter awalnya pas banget yayy🙆

  2. Ah suka suka suka
    banyak kejutan dan misteri2nya udah dibongkar sedikit demi sedikit

    next part yg panjang yaa
    ku tunggu.. Semangat author ^^

  3. bener” dah ffnya bikin greget kesel dan penasaran terus apalagi yang moment keluarga tadi bikin ketawa terus hahaha

  4. omooo…trnyata rahasia yg d smpen chan bgitu mngejutkan..
    dann omg.
    ad sehun…
    sehun na jail lgi godain chan am soe ah…
    hahahhaha..
    kaq cpt update chap slanjutnya.

  5. Oalahhh… Seo Ah keceplosan. Aku suka dengan karakter Sehun di sini ^_^ . Sehun masih sendiri, kann?!?! Nahh, aku aja yaa yang sama Sehun, wkwk *evil laugh* . Iya niih, tapi aku masih penasaran dengan rahasia Chanyeol. Aku tetep nunggu kelanjutan fanfic kamu, kok. Tetep semangat nulis, yaa ;D

  6. Aduduh penutupnya itu loh 😂😂
    seo ah lucu banget,cieee ada yang mulai protektif ciee ^,^ Ayo kakak author semangat buat lanjut part berikutnyaa

  7. Yaampun sikapnya chan kembali seperti semula hahaha kalau kangen bilang aja chan jgn gengsi bgtu😂😂 yaampun ada sehun jugaaaa😍😍 ayahnya chan jahat yaaa😢😢 pas baca bagian terakhir aku ngakak banget wkwk

  8. uwooo.. jadi? rahasianya… e-hemasih banyak rahasia yg belum terungkap ya…
    yosh.. semangat menunggu update.nya..

  9. Kak makim seru aja ff nya☺ chanyeol itu keliatan banget dia cemburu sama peduli tapi kenapa dia kaku banget :’) seo ah jyga keras kepala, pdhl pengen banget mereka maakin baik hubungannya semenjak insiden jeju itu😅 tapi malah mereka trnyata sama aja😦

  10. Si chanyeol terlalu banyak nyimpen rahasia, jadi penasaran ih! Jadi penasaran sama di balik keluarga park. Semangat terus ya thor!

  11. Yah, hari libur Seo Ah diganggu sama Chanyeol. Seo Ah yang harusnya nonton film sambil malas-malasan malah disuruh ke kantor buat nganterin dokumen Chanyeol yang ketinggalan. Sampe di kantor Seo Ah mesti pura-pura jadi sepupu Chanyeol. Takut amat karyawan Chanyeol tau kalo dia istrinya. Seo Ah baik mau bawain kimbab & cake coklat buat Chanyeol. Tapi emang dasar Chanyeol aja jual mahal. Segitunya nutupin rasa senang karna Seo Ah datang ke kantor. Harusnya mereka cuma berdebat kaya biasanya. Tapi gara-gara eomma-nya Chanyeol datang dan secara nggak langsung ngasih tau Seo Ah kalo appa-nya Chanyeol masuk rumah sakit, Seo Ah jadi marah besar sama Chanyeol. Seo Ah ngerasa nggak dianggap sama Chanyeol. Kesel… Tapi tapi tapi, Chanyeol kok lucu? Katanya nggak lapar. Pas sekretaris Jung mau makan kimbab buatan Seo Ah dia langsung bilang itu punya dia😄

    Chanyeol mulai terbuka sama Seo Ah. Dia bahkan cerita tentang keluarganya. Ternyata Singapura bikin hubungan Chanyeol-Seo Ah semakin deket. Meskipun harus diselingi sama kecemburuan Chanyeol ke Sehun yang nggak berdasar sama sekali.

    Keep writing ^^

  12. Sehun itu sebenarnya suka gak sih sama Seo Ah? Tapi kelihatannya Sehun gak punya perasaan apa2 sama Seo Ah? Moga2 aja…

  13. Jadi GR deh pas part “Permisi, Tuan. Apa Anda tidak keberatan kalau aku mengambil kembali istriku?” ucapan sarkasme Chan Yeol terdengar seperti silet yang menyayat daun telinga Seo Ah. // itu part chanyeol cemburu sama seo ah. Trus favorite deh pas chnayeol meluk seo ah dari belaka g dan bilang jangan biarkan pria lain memegang pinggang nya ya kalo gasalah, trus dia pakein jas nya deh. Aaaaahhh sweet. Kadar diabetes chapter ini tinggi. Warning

  14. beuh chanyeol pakar mengontrol ekspresi kayaknya yaaa yg kadang kelabakan juga sama ekspresinya itu haha… ada yakuza nyempil disini haha
    tapi apa emang bner appa nya chanyeol yg bunuh ya?

    kak ini di kategori Comedy aja coba yampun :p ah Selamat datang my bias OH SEHUN ❤

  15. ada sehun muncul disini :3 dia bakalan jadi pengganggu di asmara yeolseo ga ya ? duh menantikan sekali nih hehe

  16. jd ini yg bikin chanyeol benci sm keluarga nya sendiri
    beneran ayahnya chanyeol bunuh ibu chanyeol ?
    makin greget sm critanya
    lanjut baca penasaran

  17. ciee ada yang kangen berat tuh hahah tapi masih gengsi terus …
    berantemnya mereka tuh sweet sumpah haha ..
    dan waw welcome ayang beb oh thehun ngebayangin sehun pake pakaian formal buat acara gitu sumpah pasti ganteng abis …
    ululuuu ada yang cemburu hahah chanyeol cemburu aja pake gengsi gengsi …
    oalah jadi itu alasannya kenapa hubungan chanyeol sama keluarganya ga harmonis .. sumpah sedih banget ngebayanginnya kalo beneran gitu masalahbya sabar ya chan ..
    sumpah sehun konyol banget tapi lucu hahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s