We Were Married! (Part 1)

baekhyun

Author : skywalkers

Cast : Byun Baekhyun, Ahn Yeonah, etc

Rating : PG17

Genre : Marriage Life, Romance, Drama

Before : https://saykoreanfanfiction.wordpress.com/2016/07/10/we-were-married-teaser/

Kalau ditanya apa yang paling Ahn Yeonah benci, jawabannya adalah bangun pagi, apalagi setelah mengejar deadline yang menumpuk dan membuatnya baru memejamkan mata pukul 4 pagi.

Gadis itu menengok ke arah jam di Handphone warna silvernya berkali-kali. Dia sudah memasang alarm. Tapi apa daya, lem matanya sudah terlanjur melekat, membuat ia tetap terlelap tidak peduli dengan dering yang mengganggu. Alhasil dia datang terlambat ke kantor, sekitar 15 menit. Bisa tamat riwayat kerjanya kalau wakil kepala devisi Design yang sadis itu menyadari keterlambatannya untuk kesekian lagi.

Yeonah yang mengenakan Blouse putih serta Skirt hitam itu berlari secepat yang kakinya bisa. Ia hampir terjatuh ketika turun dari bus, yang ada diotaknya hanya sampai ke lantai 16 gedung bertingkat 40 itu sesegera mungkin. Demi Tuhan, Yeonah belum sempat merapikan alis, lipsticknya pasti berantahkan. Namun, ketika di depan mata ada yang lebih buruk, siapa yang peduli?

Gadis itu menekan tombol menutup pintu lift seperti orang kesetanan, tidak ambil pusing dengan karyawan-karyawan Hana Mode lain yang mengkritik kesabarannya.

Sial, seseorang malah menahan pintu ketika pintu lift nyaris tertutup. Yeonah melihat ke samping kanan, menemukan si pencari gara-gara menatap lurus ke depan sambil tersenyum cerah. Si tukang cari muka! Tidak lama dari itu, satu orang lelaki tua dengan setelan jas rapi menambah beban lift yang sekarang berisikan 7 orang itu.

Yeonah melipat kedua tangannya di depan dada sembari memandang ke arah dinding, mood buruk hari seninnya sudah sampai level teratas. Mungkin akan bertambah parah ketika duduk di kursi kerjanya.

Pintu lift baru saja terbuka di lantai yang ia tuju, gadis itu menerobos agar keluar duluan, tentu saja di dahului oleh mereka yang berjabatan tinggi. Kalau tidak, namanya bisa di masukkan ke dalam blacklist dan ditendang dengan tidak hormat dari perusahaan.

Karena sifat cerobohnya yang mendarah daging, gadis itu tidak sengaja menabrak seseorang ketika berlari ke meja kerjanya, membuat berkasnya dan berkas orang itu terjatuh. Ia membereskan miliknya secepat kilat, menunduk sedikit untuk meminta maaf kemudian pergi lagi tanpa menunggu di caci maki.

Orang yang ditabrak Yeonah hanya bisa geleng-geleng kepala. Tanpa diminta, lelaki berkemeja biru muda yang kebetulan lewat memungutkan untuknya, memberikan berkas-berkas itu sambil tersenyum. “gadis itu sepertinya sedang terburu-buru, Sangjangnim.” komentarnya ramah.

Byun Baekhyun mengambil berkas miliknya yang diberikan pria itu, memberikan senyum seadanya sebagai isyarat terimakasih. “Dia siapa?” tanyanya kalem.

“Ahn Yeonah, devisi desain.” Dijawab ragu-ragu. Pegawai yang bertuliskan Lee Seungri pada nametagnya menggigit bibir. Merasa bersalah karena telah membocorkan nama temannya yang bisa jadi berakibat buruk karena sikap tidak sopannya.

“Oh. Orang ceroboh seharusnya tidak masuk sini.” Baekhyun hanya bergumam ringan kemudian beranjak dari Seungri yang masih menundukkan kepala.

***
Seungri segera menghampiri meja Yeonah setelah tugas menyalinnya selesai. Ia menatap prihatin gadis yang serius memandang layar komputer, menyelesaikan revisi desain yang terus-menerus ditolak.

“Yeonah-ya, kau tahu tadi itu kau menabrak siapa?”

Gadis itu menggeleng, pandangan matanya tetap fokus ke komputer. Sayu sekali seperti mayat hidup.

“Direktur Pemasaran baru!” Seungri nyaris memekik.

“Aku sudah meminta maaf.” jawabnya santai. Mungkin otaknya belum tersambung sepenuhnya dengan apa yang dikhawatirkan Seungri, lelaki yang bisa disimpulkan sebagai temannya di Hana Mode.

“Sejak kapan maaf saja menjadi cukup? Kau tahu kan bagaimana egois dan retoriternya para atasan? apalagi direktur!”

Yeonah menghela napas berat, dia baru sadar kalau perbuatannya tadi termasuk salah satu cara bunuh diri. Dia menghentikan aksi mendesainnya, memandang Seungri yang menunjukkan raut cemas, sedangkan Yeonah malah memasang tampang polos belagak tidak berdosa.

Well, siapa suruh si Direktur Pemasaran lewat didepannya ketika dia buru-buru? Gadis itu baru bisa bernapas tenang setelah diberi kabar kalau wakil ketua devisi yang paling ia takuti sedang bertugas ke luar negeri.

“kau tahu tadi dia mengatakan apa? ‘orang ceroboh tidak seharusnya bekerja disini'” Seungri berkata sembari menirukan gaya bicara Byun Baekhyun. Dahi Yeonah berkerut, rautnya menunjukkan kekhawatiran. Tapi tidak berlangsung lama.

“Direktur Pemasaran tidak ada hubungannya dengan devisiku.” lanjut gadis itu cuek.

“Yang namanya direktur, kalau membenci kita, pasti selalu punya cara untuk menendang kita keluar.”

“Iya juga!” Yeonah membenarkan. Ia lalu meletakkan telunjuknya dibibir, berpikir. Mendengar cerita Seungri, sepertinya si Direktur Pemasaran tidak terima permintaan maafnya begitu saja. Tapi sebentar, Direktur Pemasaran baru, kan? Ia pernah dengar beberapa gossip tentang di Direktur Pemasaran. Katanya, lelaki itu lulusan Oxford, pindahan dari Hana Mode London, masih sangat muda, jenius dan juga ramah, tapi dia Playboy. Oh, bukannya di zaman sekarang Playboy merupakan nilai plus lelaki di mata perempuan? Lupakan, yang jelas Yeonah yakin kalau keadaan tidak seburuk yang dideskripksikan Seungri. Pria yang menjadi teman dekatnya di kamtor ini memang suka berlebihan.

“Belikan dia Kopi dan minta maaflah sekali lagi. Bilang saja kalau nenekmu baru saja meninggal dan kau sedang berduka, dia akan memaklumimu.” Seungri menyarankan, Yeonah hanya memasang wajah menyebalkan seperti biasa.

“Jika nenekku meninggal, aku akan berpesta.” Gumamnya asal.

“Seriuslah sedikit Ahn Yeonah, kau mau dipecat?”

Gadis itu menggeleng, Hana Mode adalah cita-citanya. Dia sudah melangkah masuk dan berkemungkinan akan disepak keluar karena kinerjanya yang kurang memuaskan. Sudah berapa orang yang mengatakan dia begitu? Jadi, ia tidak seharusnya memberikan mereka alasan untuk membuangnya, kan?

“Kalau tidak mau, ikuti saja saranku.”

Yeonah menghela napas berat. Dia memilih menganggukkan kepala dan menyetujui saran Seungri, setelah berpikir sangat panjang. Kadang Seungri ada benarnya juga. Dia biasanya selalu benar. “Aku akan membelikannya kopi dan meminta maaf dengan baik. Puas?”

Seungri tersenyum cerah, “Ya, aku tidak mau kehilangan partner kerja secantik kau.”

Yeonah memutar bola matanya tak sopan, menunjukkan gerakkan mau muntah akibat mendengar gombalan Seungri.
“Yeonah-ya.” pria itu memanggilnya lembut.

Yeonah yang tadinya kembali fokus ke layar computer menunjukkan raut judesnya, “apalagi?”

“Lipstikmu berantahkan.” Seungri mengatakan kalimatnya dilanjutkan tawa menyebalkan yang menggelegar, membuat beberapa officer di sekitar Yeonah memberikannya tatapan sinis. Tapi tidak ada yang lebih sinis dari tatapan Ahn Yeonah.

“Aku tahu.” Jawabnya galak. Sumpah, aura Ahn Yeonah benar-benar mirip kakak tiri Cinderella, sangat antagonis. Seungri langsung beranjak ke mejanya dengan mengulum senyum yang masih lebar. Pantas saja tidak ada lelaki yang berani maju mendekatinya, Yeonah memancarkan aura Maleficent, meskipun punya wajah secantik Sleeping Beauty.

***

Ahn Yeonah memandang jenuh dompetnya yang semakin menipis. 3 Kartu kreditnya tidak dapat dipakai bulan ini, sudah mencapai limit. Untung 3 hari lagi dia gajian.

Gadis itu menimbang-nimbang minuman apa yang harus dia beli. Dia tidak mengenal siapa si Direktur Pemasaran baru. Tidak tahu apa yang ia sukai atau tidak sukai. Gadis itu mengatakan “Espresso.” setelah ditanya dua kali oleh sang Barista, beberapa orang yang mengantri di belakangnya mulai menggerutu.

Espresso adalah salah satu kopi paling pahit, dia memilih itu karena sesuai dengan suasana hatinya hari ini. Entah kenapa, dia terus-terusan merasa sesak tanpa sebab sejak bangun tidur. Seperti orang yang berada pada titik jenuh kehidupan. Mungkinkah dia depresi karena pekerjaan sekaligus tuntutan keluarga?

Yeonah tiba-tiba teringat dengan neneknya yang makin hari makin menyebalkan. Kalau Yeonah jahat, dia sudah meracuni neneknya dengan sianida dari dulu-dulu. Untung otaknya yang hampir gila masih menyisakan kewarasan hingga tidak mungkin mewujudkan fantasinya menjadi kenyataan.

“Apakah kau lesbian?”

“Tidak ada laki-laki yang tertarik denganmu, ya?”

“Tetangga menggosipkanmu sebagai penyuka sesama jenis.”

“Sepertinya kau memang tidak laku makanya tidak satu lelaki-pun tertarik kepadamu.”

“Menikahlah dengan lelaki mana saja. Setidaknya, kau tidak akan merepotkan ayah dan ibumu lagi.”

Ucapkan neneknya menyakitkan sekali, bukan? Untung Yeonah tahan banting. Jadi, tiap kali neneknya menghina ataupun merendahkannya dia hanya pura-pura mendengar seperti anak baik tanpa memberikan respon apapun. Katakan kalau dia menjadi orang paling sabar di dunia apabila menghadapi sang nenek.

Uh, Yeonah sebenarnya tidak mau mengakui kalau neneknya mengatakan hal-hal menyakitkan tersebut karena alasan. Kakaknya telah mencoreng nama keluarga, Yeonah dikhawatirkan akan melakukan hal yang sama. Maka dari itu, hampir seluruh keluarganya berharap banyak kalau Yeonah menikah dengan lelaki. Atau paling tidak punya pacar lelaki. Karena yang mereka ketahui, 27 tahun Ahn Yeonah hidup di bumi, tidak sekalipun dia membawa lelaki pulang ke rumah dan mengenalkan sebagai kekasih. Bukankah wajar kalau mereka menuduhnya tidak normal?

“Gajimu kau pakai untuk operasi pelastik saja. Mungkin dengan begitu, akan ada lelaki yang menyukaimu.”
Sumpah, apakah dimata neneknya Ahn Yeonah sejelek itu? Kalaupun perkataan neneknya adalah kebenaran, gadis itu tetap saja tidak mau mengakui, dia lebih percaya bisikkan dirinya sendiri daripada bisikkan siapapun. Yeonah tiba-tiba menyesal kenapa harus membelikan si Direktur Pemasaran baru Espresso yang harganya lumayan. Ia lebih baik menabung uang itu untuk membeli lipstik Mac warna baru, bukannya menjilat begini.

Eh tidak, dia tidak berniat menjilat, meskipun tindakkannya agak mirip penjilat. Sungguh, ia melakukannya sebagai wujud pengakuan bersalah. Ia mau memperbaiki, meskipun setengah tidak iklas. Kenapa harus melibatkan uang? Dia sangat mencintai uangnya yang tidak banyak. Well, mungkin saja kalau dia melakukan ini, ia bisa dekat dengan si Direktur Pemasaran, mungkin saja setelah ini mereka bisa berada dalam kaitan  panjang dan menguntungkannya.
Yeonah melangkah menuju pintu keluar setelah Barista memberikannya Espresso yang dia pesan. Namun langkahnya ia perlambat ketika melewati sepasang anak muda yang duduk di dekat jendela, masih mengenakan seragam sekolah dan ia berani bertaruh kalau mereka tengah membolos.

“Aku mencintaimu, sangat. Aku berjanji kita akan menikah dan hidup bahagia…selamanya.” si anak lelaki mengucapkan itu sembari menatap manik mata kekasihnya dan berpegangan tangan mesrah. Yeonah mentertawakan, terang-terangan di dekat mereka. Membuat sepasang muda-mudi itu menjadi terganggu dengan tatapan mata kesal tertuju untuknya. Yeonah tidak peduli, pura-pura tak berdosa dan melanjutkan langkah keluar.

Bullshit.” Gumamnya. “Anak kecil tahu apa tentang cinta dan pernikahan?” dia hanya mengeluarkan gumaman-gumaman sinis, berjalan ke gedung besar Hana Mode sendirian. Yeonah yakin sekali kalau bukan karena wajah buruk rupa ia tidak juga mendapatkan kekasih sampai sekarang. Mungkin ini karena attitudenya…yang terlampaui jelek. Atau mungkin juga karena kutukan.

Ya, benar. Kutukan. Yeonah lebih suka mempercayai alasan yang ini, penyebab kisah cintanya tidak pernah berjalan mulus sampai sekarang.

***

Terkadang, Yeonah ingin mencium tangan nenek dan mengucapkan terimakasih banyak atas ajaran kesabaran yang beliau berikan kepada Yeonah secara tak langsung. Buktinya, sekarang ia masih bisa berdiri tenang meskipun ia melihat dengan mata kepala sendiri si Sekretaris Direktur Pemasaran membuang Espresso yang ia beli ke kotak sampah.

“Direktur Byun tidak meminum Kopi.” ucap perempuan itu sok ramah, dia tadinya tidak mau mengaku kalau ia membuang Espresso tersebut, beralibi. Tapi kalah telak karena Yeonah mengatakan ia melihatnya langsung.

“Apakah harus dibuang?”

“Dia tidak suka. Jadi, harus diapakan lagi?” Si sekretaris akhirnya membalas menggunakan nada menjengkelkan, menunjukkan wajah asli dibalik topengnya. Yeonah memutar bola mata, melipat kedua tangan didepan dada.
“Aku ingin bertemu langsung dengan atasanmu.”

“Tidak bisa. Memangnya kau siapa?”

“Dia berhutang maaf kepadaku.”

“Hanya karena kopi murahan itu?”

“Ya, hanya karena kopi murahan itu.” Nada suara Yeonah masih menunjukkan ketenangannya, malah si sekretaris perempuan yang mulai geram.

“Aku bisa menggantinya dengan uangku.” Si sekretaris berkata merendahkan. Dibalas Yeonah dengan cibiran sinis. Tidak lama kemudian, telpon di meja Sekretaris itu berbunyi. Dia berkata dengan manis sekali, membuat Yeonah menampakkan tampang jijiknya. “Kau bisa menyingkir dari sini. Aku masih punya urusan.” ucapnya, kembali sok manis. Si sekretaris berjalan menuju ruang direktur, sementara Yeonah masih berdiri di tempatnya. Alhasil dia mendengar cemoohan berbentuk gumaman dari si Sekretaris, “dasar gadis gila. Pantas saja banyak yang tidak suka padamu.”

Yeonah kembali mencibir, dia tidak pernah peduli tentang hal itu. Terserah mau menyukainya atau tidak, hidupnya tetap harus berjalan dengan baik dan benar. Gadis itu kembali ke meja kerjanya yang berada di wilayah timur. Berusaha tidak menyesal karena mendengarkan saran Seungri, yang kali ini malah membuat mood nya semakin berantahkan.

***

“Bagaimana? Sudah berdamai dengan Direktur Pemasaran?” Seungri bertanya ketika lewat meja kerja Yeonah. Lelaki yang bekerja di Team IT itu memang suka mengajak Yeonah berbicara pada jam kerja, sangat mengganggu.

“Aku tidak berminat lagi berdamai.”

“Hah? Kenapa?” tanya pria itu ingin thau

“Aku sudah membelikannya kopi dan dia menyuruh sekretarisnya untuk membuangnya.”

“Oh, kalau begitu kau harus mengganti dengan sesuatu yang ia sukai.”

Yeonah memutar kursinya agar bisa menghadap lurus kearah Seungri. “Kenapa aku harus seniat itu agar dimaafkan?”
“Dia bisa saja menyelamatkan pekerjaanmu kalau kau dekat dengannya. Kau tidak punya siapa-siapa di perusahaan ini dan memiliki banyak masalah dengan beberapa atasan. Jadi, kau butuh Backingan yang kuat dan orang baru seperti dia. Berpura-puralah baik dan jadilah gadis manis. Menjadi palsu tidak pernah merugikan.”

Menjadi palsu tidak pernah merugikan. Kata-kata itu melekat cukup lama. Ya, Yeonah mengakuinya. Menjadi palsu tidak pernah merugikan. Society lebih suka seseorang yang pandai bersandiwara daripada mereka yang menunjukkan warna asli, apalagi society di arena kerja. Percayalah, dalam keadaan apapun, mereka yang bermuka dua akan lebih beruntung daripada mereka yang selalu terang-terangan. Makanya Yeonah harus berhenti menjadi terang-terangan, karena dia tidak akan di bunuh oleh kesialan jika terus-terusan begitu.

“Kenapa harus dia? Dia direktur pemasaran dan aku di devisi design. Kami tidak akan saling terkait.”

“Aku menyamakan Profile kau dan Profile dia. Kalian pernah bersekolah di SMP yang sama dan satu angkatan. Aku yakin kalian bisa dekat dengan mudah karena alasan ini.”

Mata besar Yeonah semakin melotot mendengar fakta yang diberitahu Seungri. Satu sekolah? Satu angkatan? Bagaimana kalau ternyata si Direktur Pemasaran merupakan teman dekatnya dulu? Pikirannya mengatakan kalau bisa jadi keberuntungan sedang berpihak padanya. Dia memang butuh backingan, dia memang butuh seseorang yang bisa membuatnya di kontrak di Hana Mode lebih lama.

“Seungri-ya. Terimakasih! Kau memang yang paling baik kepadaku.” Yeonah mengucapkannya pelan sekali. setahun setengah dia bekerja di Hana Mode, hanya Seungri yang mau berbicara banyak dengannya dan berteman dekat. Hanya Seungri yang mau membelanya di kala apapun. Hanya Seungri yang mau mendengar semua keluhan-keluhannya tentang pekerjaan. Detik berlalu cukup lama, Seungri tidak menghiraukan. Yeonah kemudian menyadari kalau fokus Seungri sudah berpindah ke arah lain. Park Chorong, Fashion Designer. Gadis yang dikagumi Seungri sejak pertama kali dia bekerja disini. Alasan utama dia suka bolak-balik di Devisi Design.

Yeonah berdecak, dia membiarkan Seungri hilang dalam fantasinya sendiri. Gadis itu melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk.

“Yeonah-ya, kau setuju kan dengan saranku?”

“Iya.” gadis itu menjawab cuek.

“Kalau begitu, dekatilah si Direktur Pemasaran lagi. Aku yakin kau tidak akan menyesal.”

“Aku bukan tipe gadis yang mudah menyerah.” jawabnya percaya diri. Seungri mendekati Yeonah, ia sempat mengacak-acak rambut gadis itu sebentar sebelum akhirnya meninggalkan bagian Devisi Design.

***

Yeonah memang pemalas, sangat. Tapi, di kala tertentu, dia bisa menjadi orang paling pantang menyerah. Seperti jam istirahat hari berikutnya, ia membawakan si Direktur Pemasaran Green Tea. Gadis itu berhenti di meja sekretaris menyebalkan yang belagak sibuk.

“BIsakah aku bertemu dengan Bos-mu?” tanyanya kalem.

“Tidak, jika untuk urusan pribadi. Kau juga belum membuat janji.” gadis itu menjawab tanpa melihat kearah Yeonah.
“Ini jam istirahat, dia masih di dalam, kan?”

Demi Tuhan, Yeonah sudah menunggu sampai waktu istirahat hanya bersisa 5 menit lagi. Si Direktur Pemasaran belum juga keluar dari ruangannya. Yeonah bahkan rela keluar diam-diam sebelum jam istirahat untuk membeli GreenTea blended di bawah. Dia juga belum sempat makan siang.

“Ya, dia masih di dalam karena sibuk pasca acara pengangkatan.”

“Aku hanya ingin bertemu sebentar.” pinta Yeonah lagi.

“Titipkan saja itu padaku. Kau bukan satu-satunya yang membawakan Direktur Byun minuman.” si sekretaris berucap sinis. Yeonah menghela napas berat, dia ingin sekali bersikap jahat dan menyiram wajah menyebalkan si sekretaris ini dengan greentea yang ia pegang. Oh ya, tentu saja si Sekretaris tidak berbohong, si Direktur Pemasaran yang barumemang memiliki banyak penggemar. Bahkan si Fashion Blogger terkenal dari devisi Human Resource mengatakan secara gamblang kalau dia menyukai Direktur Byun. 60 persen lebih gadis di perusahaan ini berkemungkinan menaruh hati kepada Direktur Byun. Sial, dia seharusnya tidak terlalu berharap untuk bisa dekat dan mendengarkan kalimat-kalimat bodoh Seungri.

“Aku hanya akan bertemu dengannya 5 menit. Tidak lebih, janji.” tawarnya lagi. Si sekretaris tetap saja menggeleng sebagai jawaban telak. Kenapa susah sekali menemuinya, sih? Kalau diingat-ingat, Yeonah hanya bertemu si Direktur Pemasaran sekali, ketika dia tidak sengaja menabraknya dan membuat ia berhutang maaf sampai sekarang. Waktu itu, Yeonah bahkan tidak melihat langsung wajahnya. Apakah setampan dan sekeren yang mereka katakan?

Yeonah jadi semakin penasaran. Sayangnya, waktu sudah menunjukkan pukul 1, jam istirahat telah berakhir. Gadis itu memilih kembali ke meja kerjanya dan meminum Greentea yang tadi dia bawa, daripada di buang-buang lagi seperti Espressonya kemarin. Baru beberapa langkah dia berjalan, Yeonah kembali ke meja Sekretaris Direktur Byun, mendapati respon tidak menyenagkan dari perempuan yang ia yakini tidak lebih tua darinya. “Boleh aku pinjam note dan pena?”

Si sekretaris harus memberikan tatapan menjengkelkan terlebih dahulu sebelum memberikan permintaan Yeonah dengan gerakkan tidak iklas. Yeonah tidak peduli, dia langsung menunduk dan menulis apa yang ingin ia tulis.

‘Hi. Aku minta maaf karena telah menabrakmu kemarin. AKu sudah meminta maaf sebenarnya, tapi sepertinya kau bukan pemaaf. Jadi, mari makan malam bersama, aku akan mentraktirmu. Aku yakin kita pernah dekat di masa lalu.’

Yeonah menulis itu dengan memejamkan mata beberapa kali, kalimatnya sangatlah menjijikan sampai-sampai dia merasa mual sendiri. Kalau saja tidak terpaksa, dia mana mau melakukannya. Gadis itu melipat Notenya sekecil mungkin dan memberikan kepada si Sekretaris. “Titip ini untuk Bos-mu. Jangan dibuka karena ini bukan urusanmu.”

Tapi tentu saja si Sekretaris tidak mendengarkan. Dia langsung membukanya dan tertawa cekikan, padahal Yeonah belum jauh beranjak. Gadis itu berbalik lagi, menangkap basah perbuatan tidak sopan si Sekretaris-yang-tidak-sudi-Yeonah-cari-tahu-namanya. Ia mau merampas lagi kertas kecil yang ia berikan, tapi si sekretaris langsung menjauhkan tangannya. “Kau telah memberikannya padaku.” ucapnya licik.

“Kembalikan, sialan. Kau tidak punya hak untuk membacanya.”

“Direktur Byun harus baca juga dan tertawa bersamaku.”

“Kubilang kembalikan!” Yeonah kembali berusaha merampas. Ia merasa semakin bodoh dan menyesal karena menitipkan sekretaris gila ini kertas itu. Lagipula, bagaimana bisa ia menulis sesuatu yang dapat mempermalukan dirinya sendiri?

Yeonah dan si sekretaris berebut kertas memo itu bak anak kecil berebut mainan. Mereka berhenti seketika ketika pintu ruangan Direktur Byun terbuka. Seorang perempuan cantik baru saja keluar dari sana, dia Park Chorong. Entah ada urusan apa. Kenapa Chorong boleh masuk sedangkan Yeonah tidak? Si sekretaris gila ini memang tidak adil.

Tidak lama dari itu, seorang pria menyusul Chorong dibelakang, menutup pintu. Dia memandang sekretarisnya dan langsung bertanya, “apa yang terjadi?” sementara Yeonah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mereka telah membuat keributan di depan ruangan Direktur Byun!

“Ini si gadis gila yang aku ceritakan kemarin. Dia masih mencari gara-gara dan kegatalan untuk bertemu denganmu.” si Sekretaris menceritakan dengan nada suara santai tapi terkesan mengejek untuk Yeonah.

“Aku hanya mau meminta maaf!” Yeonah berbicara kesal, dia ingin menyelamatkan harga dirinya yang diinjak-injak. Sayangnya tidak terselamatkan.

“Memangnya kau meminta maaf untuk apa?”

Yeonah terdiam. Dia tidak yakin si Direktur Pemasaran ini masih mengingat insiden kemarin atau tidak. Gadis itu memperdalam tundukkan pada kepalanya. Ia memang terlihat seperti gadis kegatalan tukang cari perhatian sekarang.

“Oh ya, aku ingat. Kau gadis yang buru-buru kemarin, kan? Ah, tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak kehilangan berkas apapun.”

Yeonah menghela napas lega setelah mendengar kalimat ramah itu. Dia mulai setuju dengan opini beberapa orang yang ia dengan tentang Direktur Pemasaran ini, dia ramah dan baik hati.

“Terimakasih.” Yeonah berucap pelan, tapi dia tulus mengatakan itu. Bagaimapaun, si Direktur Pemasaran telah menyelamatkan harga dirinya.

“Sudah jam kerja, kau sebaiknya kembali ke tempat kerjamu.” dia menyarankan, yang langsung diangguki setuju oleh Yeonah. Tapi, sumpah, dia semakin ingin merampas kertas berisikan tulisan yang terasa akan membuatnya semakin malu dan tesudut apabila tersampaikan oleh Direktur Byun.

Baekhyun mendekati sekretarisnya, meminta informasi apapun yang berdatangan untuknya. Si sekretaris tersenyum licik, dia masih ingin mempermalukan Yeonah. Gadis itu memberikan Baekhyun kertas kecil yang diberikan Yeonah. Yeonah nyaris beteriak agar Baekhyun tidak mengambil kertas itu. Tapi bukanlah teriakkan yang keluar dari bibirnya, melainkan gumaman tercekat. “Byun Baekhyun…” gumamnya.

Baekhyun sontak menghadap kearah Ahn Yeonah yang mematung  tidak jauh darinya berpijak. Raut gadis itu memucat, sedangkan Baekhyun tidak bisa berhenti menatap matanya. Yeonah merasa dia begitu bodoh karena berpikir Byun Baekhyun yang ia kenal sudah lama hilang dan tidak akan kembali lagi. Ia merasa semakin bodoh karena tahu nama direktur Pemasaran ini Byun Baekhyun dan meskipun Seungri mengatakan mereka satu sekolah, dia tetap saja tidak terpikir kalau ini adalah Byun Baekhyun yang sama.

Sudah dua belas tahun lebih mereka tidak bertemu, Yeonah masih tidak pandai mengucapkan basa-basi. Gadis itu langsung berbalik pergi, berjalan secepat mungkin untuk menjauh. Sedangkan Baekhyun masih mengikuti perginya punggung gadis itu.

“Kau mengenalnya?” Baekhyun menghentikan lamunan ketika Chorong yang berdiri disebelahnya bertanya lembut.

“Gadis itu menulis Memo dan mengatakan kalian pernah dekat di masa lalu. Awalnya kupikir dia berbohong.” Si sekretaris yang bernama Sojin itu memberikan Baekhyun memo yang sempat menjadi bahan rebutan dirinya dan Yeonah. Baekhyun mengambilnya, tapi tidak langsung membaca. “kurahap kau telah melupakannya.”

Well, bagaimana mungkin Baekhyun lupa ketika gadis itu selalu muncul di dalam mimpinya hampir tiap malam?

Sometimes as a nightmare, sometimes as a daydream.

***

I dont have time to do edit, sorry! but, how was it? Hope you enjoy the story and plot. If you dont, maybe next time you will. Mind to leave your comments if you read it?

read the teaser first. it has answered all your question

98 responses to “We Were Married! (Part 1)

  1. Kyaaaa,,seriusss bikin; penasaran lanjutanya,,,emgnya wajah baekhyun dulu ma skrng berubah jauh sampe sampe yeonah ga yakin byun baekhyun yg sama..???

  2. lah? jd direktur yg di tabrak yeonah itu baekhyun, trus mereka dulu satu sekolah. tp kenapa baekhyun selalu memimpikan yeonah? masih ada yg mengganjal dr jalan ceritanya

    pokonya aku tunggu next chapternya ya authornim ^^

  3. Baekhyun masih suka sama Yeonah?? mereka pernah nikah kan? walaupun gatau itu sah atau engga..
    kenapa mereka ga sama2 lagi??
    Sekretaris Baekhyun itu Chorong atau Sojin? Sojin ya??? Chorong itu siapanya Baekhyun??
    di tunggu next chapternya ^^

  4. Apa muka baek lain sama jaman mrk skola dulu????apa dulu baek seorang yg nerd???apa mmg yeonah yg gak mudah ngenalin org????

  5. Jd mereka saling knl???tp knp yeonah langsung pergi….baekhyun sering mimpiin dia….wahh d tunggu lanjutan y..seru kaya y…

  6. pengen nyingkirin sekretarisnya lebih dulu bawel dan ngeselin abis
    Ah yeong dan baekhyun masih terikat kusah masa lalu
    Pernikahan remaja

  7. Awalnya si ramee, makin kesini rada seriusan nih kayanya wkwk terkhusus buat urusannya Baek ama YeonAh
    Huhh dibikin gemes ama sikap pea’nya YeonAh
    Ditunggu next chapter ya kaa… Tengkyu

  8. Waaaaa untung masih inget ceritanya hahaha hayoo peristiwa apa yang prnh terjadi diantara baekhyun dan yeonah? Penasaran serius, pake bnget lah. Oke2 d tunggu update an nya thor

  9. AHSHHHHHHHH CERITANYA SERU BANGETT. aku penasaran apa yg terjadi selanjutnya karna baekhyun itu bener2 inget sama yeonah.. jadi mereka masih sah jadi suami istri? wow aku bener2 penasaran. lanjutt kak

  10. Kenapa baek mimpiin si yeonah hampir tiap malem? Hubungan mereka di masa lalu apa ya
    ditunggu nextnya kak

  11. wah habis baca teader nya terus baca chapter 1 kok jadi makin penasarannya. baekhyun yg katanya playboy ternyata baik hati dan punya masa lalu unik, akuvjadi penasaran deh itu nanti kalo yeonah dideketin cowok kira2 baekhyun bakal gmn ya??

  12. Seriusan itu digaian akhir nggak ngerti
    Itu yeonah yang nyebut nama byun baekhyun kan? Atau yeonah denger chorong manggil nama byun baekhyun maksnya yeonah tercekat

  13. Who’s Chorong? Baekhyun girl friend? Omegot! I won’t believe!
    Mungkin kalo benar YCnya Baek, cuma buat pelampiasan saja. Btw, aku dapet feelnya kok. Makasih udah update. Seneng banget hihi
    Aku harap kamu update cepat, ku pen liat interaksi mereka😀

  14. Sebenernya ada hubungan apa antara baekhyun dan yeonah?? Ko baekhyun nyuruh yeonah ngelupain sesuatu yg kaya nya dimasa lalu?
    Seru banget bacanya… Feel nya ada banget.. Ditunggu nextnyaaa

  15. Suka bgt ceritanya!! itu Kira2 mreka ada apa di masa llu??? dlu prnh bca teasernya tp ud agak2 lupa hihi… hrs bca ulang lg nih! Author_ all readers can’t wait to the next chapter!😀 Fihting!!

  16. aaaaa….. keren aku suka cara authir nulis… gak bikin bosan dan lucu… aku harap ceritanya gak sedih ya….jngan lama2 ya lanjutnya

  17. Ceritanya menarik thor, suka deh. Oke dri sini ketahuan si baekhyun msh pny rasa, jgn bilang si chorong sahabatnya baekhyun trus dia suka sama baekhyun…. next chapt jgn lama2 udh ga sabar bacanya kkkk

  18. aku suka ini suka!!! love itttt >o< oh my thor, please lanjut !! aku gak sabar ih :3 pls keep writing, ahhh baekhyunnnn~!!! (maap aku menggila) keep writing and hwaiting!

  19. yeonah udah kenal baekhyun y
    punya hubungan apa mereka d masa lalu ??
    chorong siapa nya baekhyun ?? pacar apa tunangan ?
    penasaran sama lanjutan critanya

  20. aku belum baca sih eon, tapi ini aku usaha’in komen dulu. semoga ceritannya gak ngecewain reader yang baca..ok..dan next chapternya di tunnggu loh..ku mohon dilanjutin yah please iloveu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s