Dark Love | Heaven | ~ohnajla

ohnajla || romance, drama, marriagelife, family || Teen (17 y.o) || Chaptered ||

Oh Sehun (EXO) || Tzuyu (Twice) || Kim Sowon (Gfriend)

#1 Lucky One

#2 Monster

#3 Artificial Love(r)

#4 Stronger

#5 They Never Know

#6 Heaven

.

Begitu keluar dari kamar mandi, Sehun mendapati Sowon terkapar di dekat kaki ranjang. Buru-buru ia mendekatinya. Syukurlah, Sowon masih sadar. Tapi ketika Sehun menyentuh tangannya, Sowon sebenarnya tidak baik-baik saja. Tubuhnya panas sekali. 

Sekuat tenaga Sehun mengangkatnya, dan membaringkannya di ranjang. Disentuhnya kening Sowon menggunakan punggung tangan. Baru sedetik, Sehun sudah kembali menarik tangannya.

“Kau demam.”

Napas Sowon patah-patah. Wajahnya pucat, dan lehernya penuh dengan keringat. Kondisi seperti ini tidak pernah Sehun lihat dari Sowon. Sowon yang terbiasa bertingkah angkuh, sekarang sudah kehilangan energinya untuk melakukan itu. Sowon benar-benar lemah.

Sehun melirik jam dinding tepat di atas LED TV. Masih ada waktu 5 jam lagi sebelum keberangkatan pesawat mereka menuju Bucheon. Hanya saja bagaimana cara menurunkan demam dalam 5 jam? Bahkan dengan tidur pun tidak akan cukup.

Kali ini Sehun tidak bisa meminta saran dari Sowon. Terpaksa, dia harus memutuskan sendiri. Dia harus memilih untuk pulang ke Bucheon dengan Sowon yang drop, atau tetap tinggal di sini sampai kesehatan Sowon membaik.

Saat sedang berpikir, tangan Sowon tiba-tiba mencengkram ujung kaosnya. Kemarin Sehun tidak begitu perhatian, tapi sekarang, dia sangat tertarik dengan kain yang membebat tangan gadis itu. Didorong oleh rasa penasaran, Sehun pun melepas kain itu dari tangan Sowon. Betapa terkejutnya ia melihat noda darah yang sudah mengering di kain tersebut, begitu pula dengan telapak tangan Sowon yang masih menyisakan lecet.

“Apa yang terjadi pada tanganmu?”

Sowon hanya menggeleng pelan. Napasnya terdengar satu dua. Dadanya sesak.

Melihat kondisi Sowon, Sehun tidak tega untuk memaksanya pulang hari ini. Maka dari itu, Sehun memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit saat itu juga.

***

“Oh Adeul? kenapa kau yang menjawab teleponnya? Ini ponsel Sowon ‘kan?”

Sehun membungkuk pada dokter dan suster yang baru memeriksa Sowon. Begitu kedua medis itu pergi, Sehun duduk di kursi yang menghadap ranjang tempat Sowon berbaring sekarang.

“Eum. Sowon sakit, jadi aku yang mengangkatnya.”

“Sakit?!”

Sehun menjauhkan ponsel itu dari telinganya sejenak, dahinya mengernyit. Ia dekatkan lagi ke telinga saat terdengar suara lanjutan.

“Apa yang kau lakukan padanya sampai dia sakit begitu, huh?!”

Sehun menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. “Aku sendiri tidak tahu, eomma. Begitu bangun suhu tubuhnya sudah tinggi. Kata dokter Sowon hanya kelelahan.”

“Ck, kau memang sulit diandalkan. Ya sudah, jangan pulang dulu untuk hari ini. Untuk tiket pesawat dan lain sebagainya itu urusan eomma. Kau jaga Sowon baik-baik, mengerti?”

Pria itu mengangguk. “Ya.”

“Kabari eomma kalau kondisinya memburuk.”

“Ya….”

Pip!

Sehun pun meletakkan ponsel Sowon di atas nakas. Dipandanginya gadis yang sedang tidur itu dengan ekspresi campur aduk. Baru kali ini dia melihat Sowon tidak punya daya seperti itu. Biasanya mereka akan saling adu mulut, mendebatkan hal-hal yang sangat tidak penting. Dari perdebatan itu selalu Sehun yang terpancing emosi, sedangkan Sowon seolah tidak berpengaruh, hanya masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri.

Ia kembali teringat kejadian kemarin malam. Tangannya tanpa sadar mengusap bibirnya sendiri. Bibir itulah yang kemarin mendarat di kening Sowon. Sesuatu yang dulu tidak pernah terpikirkan oleh Sehun. Apa mungkin dia sudah jatuh hati pada Sowon? Tanyanya pada dirinya sendiri.

Sowon bergerak pelan. Sukses menarik perhatian Sehun. Mata gadis itu terbuka, pelan seperti sengaja di slow motion. Netra itu tidak fokus untuk beberapa detik, tapi kemudian bergerak ke samping. Bersitatap dengan iris kecokelatan milik Sehun.

“Sudah merasa sedikit baikan?” tanya Sehun agak kaku. Ia memosisikan badannya setegap mungkin, ekspresinya sulit dibaca untuk kali ini.

“Di mana-”

“Kita di rumah sakit.”

“Bukan itu.” Sehun mengernyit. “Maksudku, di mana sapu tangan itu?”

“Sapu tangan? Maksudmu, ini?” Sehun pun merogoh sakunya, mengeluarkan sapu tangan motif polkadot yang belum sempat dicuci. Ia letakkan sapu tangan itu di dekat Sowon.

“Kupikir kau sudah membuangnya.”

“Aku sudah berniat akan membuangnya.”

Sowon meraih sapu tangan itu, menggenggamnya erat. Tingkahnya itu mengundang rasa penasaran Sehun. Seingat Sehun, Sowon tidak pernah memakai sapu tangan motif apa pun. Apalagi menggunakan kain setipis itu untuk membebat luka.

“Kau mendapatkannya dari seseorang?”

“Ya. Orang yang memberikan ini datang sesaat setelah kau meninggalkanku sendirian di Cheonjiyeon.”

Reflek Sehun menggaruk tengkuknya. Merasa bersalah. “Si-siapa?”

“Hao, turis dari China.”

Dari namanya saja, Sehun sudah tahu kalau itu adalah laki-laki. Aneh, kenapa tiba-tiba dirinya kecewa mendengar Sowon bertemu dengan laki-laki? Apa mungkin perdamaian mereka kemarin adalah awal dari rasa cinta Sehun?

“Oh.” Hanya itu respon yang diberikan Sehun.

Sowon mengangkat tangannya yang kemarin berdarah. Bekas lukanya sudah terisolasi oleh plester bermotif dinosaurus. Tercium aroma obat merah dari tangannya itu, seseorang pasti mengobati lukanya saat dia sedang tidak sadarkan diri.

Gomawo.”

“Ng? Kau bicara padaku?” sahut Sehun sambil menunjuk dirinya sendiri.

Sowon menoleh dan tersenyum. “Kalau bukan kau, memangnya dengan siapa lagi?”

Pipi Sehun tiba-tiba memanas ketika melihat senyum itu. Dia tampak tidak nyaman dengan posisinya, risih sendiri menyamankan diri. “Oh. Terima kasih untuk apa?”

Gadis yang masih pucat itu menunjukkan telapak tangannya. “Kau yang melakukannya ‘kan?”

“Hm … ya. Bagaimana kau tahu?”

“Dokter tidak mungkin memberikan plester kekanakkan seperti ini pada pasien seusiaku,” jawab Sowon sambil menahan tawa. Dan tawanya pun pecah melihat ekspresi Sehun dengan mata melebar yang menurutnya lucu.

Sehun makin salah tingkah. “I-itu aku tidak sengaja menemukannya di hotel. Apa kau pikir aku sengaja membelinya?”

Tawa gadis itu mereda, tapi ekspresinya tidak sedingin Sowon yang kemarin. Masih ada seulas senyum di wajahnya. “Terserah saja Oh Sehun. Selamanya kau tidak akan bisa membohongiku.”

Sehun mendengus, melipat kedua tangannya di dada, dan cemberut. Senyum Sowon pun melebar, memperlihatkan sederet giginya yang putih dan rata.

Ruang itu hening kembali.

Sowon memperhatikan sapu tangan motif polkadot di genggamannya dengan sedemikian rupa. Kembali teringat rupa malaikat yang menolongnya dari keputusasaan kemarin. Berharap mereka bisa bertemu lagi, Sowon akan mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya sambil mengembalikan sapu tangan ini. Dan Sowon, akan dengan bangga mengenalkan Sehun pada Hao, sebagaimana dia mengenalkan Sehun pada si pramugara waktu itu.

Sementara Sehun, hanya duduk mematung sambil melamun, memikirkan pertemuannya kemarin dengan Tzuyu dan Chanyeol.

“Hah….”

Sowon langsung menoleh ketika mendengar helaan napas itu dari Sehun. Wajah muram pria itu tidak seperti biasa. Sehun adalah pribadi yang ceria, banyak bicara dan hiperaktif. Terlihat jadi aneh sekali ketika Sowon melihat ekspresinya kali ini. Meski cerewetnya Sehun itu menyebalkan, tapi Sowon lebih suka Sehun yang begitu daripada Sehun yang begini. Dari sorot mata Sehun, Sowon tahu apa yang sedang ada di pikiran pria itu.

“Kau masih memikirkan gadis China itu?”

Bola mata Sehun bergerak cepat menuju lokasi di mana Sowon berada.

“Aku hanya menebak. Jangan anggap aku cemburu,” sahut Sowon cepat. Takut Sehun salah paham tentang maksud pertanyaannya tadi. Meski sebenarnya, di lubuk hatinya terdalam, ia sedikit kecewa Sehun masih memikirkan gadis itu.

Sehun lagi-lagi menghela napas. “Kalau kau memberitahuku dari awal, aku tidak akan terlihat menyedihkan seperti ini.”

“Semenjak kau memilih tinggal sendiri di Seoul, bukankah komunikasi kita terputus? Lagi pula kau harus ingat, aku membencimu, dan kau juga membenciku.”

Sehun mengerang frustasi. Pikirannya jadi makin berantakan setelah mendengar itu. Ia merasa menjadi pria paling bodoh di dunia karena menyalahkan Sowon yang jelas-jelas tidak ada sangkutpautnya dengan ini. Padahal semua ini terjadi karena kecerobohannya. Tapi dia malah menyalahkan orang lain.

Pria itu tersentak saat Sowon tiba-tiba meraih salah satu tangannya. Makin terkejut saja dia saat melihat tangannya digenggam hangat oleh kedua tangan gadis itu.

“Meskipun kita berdamai lebih awal, aku tidak akan memberitahumu semudah itu, Oh Sehun.”

Wae?”

“Selama ini kau sudah banyak menyakiti hati perempuan. Seperti sahabat terbaikku, Eunha. Semenjak kau tinggal di Seoul, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak ikut campur urusanmu lagi. Termasuk memberitahumu soal kebenaran tentang Tzuyu.”

“Tapi setidaknya kau menghasutku. Seperti caramu menghancurkan hubunganku dengan gadis-gadis di masa lalu,” sahut Sehun tidak terima.

“Aku ‘kan sudah bilang, aku tidak akan ikut campur urusanmu lagi. Dengan kau tahu sendiri, kau akan menyadari semua kesalahanmu di masa lalu, Oh Sehun. Kau akan memahami bahwa tidak semua hal yang kau mau akan terwujud begitu saja. Sesuatu yang menurutmu baik belum tentu baik untukmu, dan sesuatu yang buruk belum tentu buruk untukmu. Kau harus menghargai semua yang pernah ada di hidupmu, termasuk Eunha.”

Sowon mengeratkan genggamannya, sekaligus lebih intens menatap Sehun.

“Aku akan dengan senang hati membantumu untuk berubah.”

.

.

“Jadi kemarin kau juga kehujanan? Lalu kenapa hanya aku yang minum vitamin? Harusnya kau juga ‘kan?”

“Aku terlalu khawatir kau akan jatuh sakit. Kau ‘kan anak mama. Eommeonim pasti akan membebaniku dengan banyak pertanyaan kalau tahu anak tercintanya jatuh sakit.”

Sehun mendesis, tidak terima disebut seperti itu. “Satu-satunya yang dikhawatirkan eomma di sini adalah kau. Tahu kau sakit, eomma langsung mengomeliku, dan menuduhku yang tidak-tidak. Eomma lebih menyayangimu daripada aku.”

Sowon menoleh sambil menyeringai. “Ah … jadi kau cemburu melihat eommeonim lebih menyayangiku daripada dirimu?”

Yang ditanya mendadak beringsut dari tempatnya. Berpindah ke sebuah sofa, merebahkan tubuh di sana. Tubuhnya yang terlalu panjang membuat kaki bagian bawahnya tidak kedapatan tempat, terpaksa harus bergelantungan.

“Kau mau tidur di sana?”

“Lalu kau mau menyuruhku tidur di lantai?”

Sowon tidak menjawab. Dia mengambil satu dari dua bantalnya, lalu dilemparkannya pada Sehun. Pria itu menangkapnya dengan baik.

“Aku tidak mau disalahkan kalau besok lehermu kenapa-napa. Pakai benda itu dengan bijak ya.”

Sehun mendengus. Memang mau dia apakan benda ini kalau bukan untuk menahan kepala. Cih, Sowon masih saja tidak berubah.

Sehun sudah mau tidur. Dan televisi sudah dimatikan. Tapi karena suara Sowon, Sehun jadi mengurungkan niatnya untuk tidur.

“Berhenti memanggilku seperti itu.”

Sowon cekikikan, misinya membuat Sehun kesal, berhasil.

Sementara pihak yang menjadi korban hanya bisa menenangkan emosinya yang hampir saja meledak. “Bisakah kau biarkan aku beristirahat?”

Sowon memeluk Teddy Bear-nya untuk menutup sebagian wajahnya. “Aku tidak mau. Kalau kau tidur aku akan sendirian.”

Kengerian tiba-tiba menjalar di sekujur tubuh Sehun. Sejak kapan Sowon jadi penakut seperti itu? Tidak mungkin ‘kan dalam semalam seseorang akan berubah sedrastis itu.

Yaa, sejak kapan kau jadi penakut seperti itu? Sudahlah, paksa dirimu untuk tidur.”

Bug!

“Sehun, ambilkan bonekaku.”

Gadis itu sengaja melempar bonekanya pada Sehun saat Sehun memunggunginya. Sehun tahu itu karena boneka tersebut membentur punggungnya. Grrr … dasar Kim Sowon. Untuk kali ini Sehun memilih untuk mengalah. Dia segera bangkit, memungut boneka itu, lalu mengembalikan pada empunya.

“Ada lagi yang kau butuhkan, Agassi?

“Kau tidak boleh tidur.”

Pria itu spontan melotot. “Yaa!!”

Sowon cekikikan. Ia pun merubah posisinya menjadi duduk tanpa perlu meminta bantuan Sehun. Ditepuknya area kosong di dekatnya, memberi sinyal pada Sehun untuk duduk. Mau tak mau Sehun menurut.

“Berbaliklah.”

Wae?”

“Turuti saja.”

Meski sebenarnya tidak mau, Sehun lagi-lagi menuruti kata-kata gadis itu.

Tubuhnya tersentak saat jari-jari mungil Sowon menekan punggungnya dengan kuat. Ia menoleh ke belakang, melihat apa yang sedang Sowon lakukan.

“Aku tidak sedang mencoba membunuhmu,” ujar Sowon tenang, seolah tahu apa yang ada di pikiran Sehun.

Sehun pun memutar kepalanya ke depan. “Kenapa kaulakukan ini?”

“Entahlah. Kurasa seharian ini kau lelah.”

“Itu kau tahu sendiri,” sahut Sehun cepat.

“Tapi punggungmu keras juga. Bisa-bisa jariku retak.”

“Aish. Kalau kau mengkhawatirkan jarimu, lebih baik tidak usah lakukan.”

Terdengar suara cekikikan dari belakang tubuh Sehun. Suara itu membuat bibir Sehun mengerucut seperti anak kecil sedang ngambek.

.

“Aku penasaran, kenapa kau sangat menyukai gadis China itu? Apa yang kau suka darinya?”

Wajah Sehun kembali muram. “Bisakah kau tidak menyinggungnya lagi?”

“Maksudmu kau sedang melupakannya?”

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Sehun. Pria itu sempurna bungkam.

“Mau dipaksa seperti apa pun, kau tetap tidak akan bisa menghapusnya dari pikiranmu.”

“Jangan sok tahu.”

Sowon menggendikkan bahu. “Semakin kau melupakannya, kenangan itu justru tidak akan hilang seperti kemauanmu. Kecuali kalau kau melukai kepalamu dan menderita amnesia parah.”

“Tapi bisakah kau tidak memancingku dengan pertanyaan seperti itu?”

Lelah memijat, Sowon pun mengistirahatkan kedua tangannya. “Aku ‘kan sudah bilang kalau aku hanya penasaran. Terserah kalau mau dijawab atau tidak.”

Ranjang itu bergoyang ketika Sehun memutar tubuhnya menghadap Sowon. Sorot mata pria itu tampak lelah dan tajam di waktu yang sama. Sowon tahu pasti kalau Sehun sedang menahan emosi, jika dia ikut-ikutan menatap seperti itu, mereka sudah pasti akan bertengkar. Makanya, Sowon berusaha untuk terlihat tetap tenang.

“Kau pikir dengan kita berdamai maka kau bisa seenaknya mencampuri urusanku?”

“Kupikir begitu. Kita sudah menikah.”

Sehun benar-benar telah melupakannya. Ia pun menghela napas. “Ah ya, aku hampir lupa tentang itu. Tapi meski begitu,” Sehun kembali menatap iris cokelat gelap di hadapannya. “Bukankah seharusnya kau tidak menyinggungnya lagi? Kalau kau benar-benar istriku, kau tidak akan mungkin mengusik suamimu dengan pertanyaan seperti itu.”

Respon Sowon terkesan santai bagi Sehun. Gadis itu bukannya lebih serius, malah sedang tersenyum jenaka. “Oh, jadi intinya kau sudah menerima pernikahan ini? Jadi kau sudah menerimaku sebagai istrimu?”

“Kalau aku tidak menerimanya, aku sudah menceraikanmu sejak awal.”

Senyum Sowon makin lebar. “Benarkah? Lalu, apa kau mencintaiku?”

Pertanyaan itu seakan sebuah peluru yang tiba-tiba menancap di jantungnya. Sehun mendadak salah tingkah. “Tidak. Tentu tidak.”

“Maksudmu, belum?”

Gelisah semakin menyelimuti diri Sehun. Apa-apaan sebenarnya yang ingin dibicarakan Sowon. Sepertinya gadis itu memang sengaja. Sudah saling mengenal sejak masih remaja, Sowon pasti mengenalnya dengan baik. Termasuk fakta bahwa Sehun tidak bisa berkata bohong pada siapa pun. Dan fakta bahwa Sehun sebenarnya adalah pria yang mudah terbawa perasaan.

Melihat kegelisahan itu, senyum Sowon kian melebar. Ia pun menenangkan pria itu dengan menepuk pundaknya sebanyak dua kali.

“Tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku hanya bercanda, kok. Tenang saja. Kau boleh tidur kalau mau.”

Sehun memilih untuk segera pergi tidur saja. Akan lebih baik begitu ‘kan daripada berbohong. Berbohong itu dosa, dia tahu itu.

Namun meski dia sudah sangat mengantuk, ia tidak bisa tidur karena memikirkan pertanyaan Sowon tadi. Dia tahu kalau suatu hari nanti pasti Sowon akan menanyakan hal itu. Cepat atau lambat, mereka berdua akan saling jatuh hati satu sama lain. Tapi, sepertinya sekarang belum saatnya.

.

.

TBC

29 responses to “Dark Love | Heaven | ~ohnajla

  1. Yeayyy… part ini full moment mereka yahhh, hehe😀 . Seneng dehh mereka bisa akur gitu, yaaa walaupun Sowon masih suka godain Sehun. Next chapter aku tunggu, yaa ;D ^_^

  2. y ampun kalo aku jadi sehun mah, bkal salting ngadepin tingkah sowon yang serba mengejutkn in….
    astaga..
    sowon lagi tau aj cara na buat sehun mati kutu.

  3. Sowon terlalu knl sehun…jd adja gampang d mainin hihihi…cute bgt sich mereka…sehun bisa khawatir juga ma sowon…bntar lg juga pasti suka ma sowon…

  4. yailaaaah saling suka aja gegayaan banget, sumpah, baca chapter ini bikin gemaaaaaaaaaas! ahahahahahahahhahaha
    seneng banget waktu update, wkwkwkwk
    semangat kaaaaak!

  5. Haha lucu jadi sehun malu mengakui kl sudah ada Rasa pada sowon😃😃makin penasaran nih kedepannya d tunggu next chapter nya figting

  6. yaaaa, kayanya mereka bedua udah mulai sama sama suka dehh😀 ga papa deh, sehun lebih cocok sama sowon daripada tzuyu. tapi lucu yaa, sehun kek anak kecil, sowonya yg dewasa. cocok deh pokonyaa. ditunggu next nyaa eonni >,<

  7. Udah nikah? Tapi kelakuan masih kayak anak abege lol Sehun baper minta ampun masih linglung sama perasaan sendiri. Sowon bisa sesantai itu, keren.

  8. wah, aku kira ff ini bukan series, ternyata series, aku belum begitu ngerti sebenernya soalnya baru baca satu, tapi entah kenapa aku udah suka sama ff ini, izin baca yang lain ya ka

  9. Senangnya lihat mereka akur🙂 walaupun sowon ganggu sehun terus tapi aku senang haha🙂 semoga mereka bisa saling mencintai🙂🙂
    Ditunggu next chapnya🙂

  10. Pingback: Dark Love | One & Only | ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. double komen ya, aku baca dua2 baru komen🙂

    ampun dah sehun kayak anak kecil bgt sihh inget bang udah nikah lu😀 haha

  12. Pingback: Dark Love | White Noise | ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Pingback: Dark Love | Cloud 9 | ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s