The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

                                                                   —Chapter 17                                                                  

The Beginning

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous ♣ Chapter 14—Meet Them ♣ Chapter 15—Realize ♣ Chapter 16—Date ♣ Side Story: Forbidden

            “Kau kerasukan sesuatu, ya?”

Jongin bukannya tidak sadar dengan tatapan penuh selidik yang Dahye layangkan untuknya sejak mereka naik ke mobil beberapa menit lalu. Tapi setelah mendengar pertanyaan barusan melompat begitu saja dari mulut sepupunya, mau tak mau Jongin memutar juga kepalanya sembari menjungkitkan sebelah alis.

“Apa? Kerasukan?” sahutnya lalu kembali memusatkan atensi pada roda kemudi.

Dahye mengesah pelan lantas menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Iya. Sekarang kau persis seperti seseorang yang baru dirasuki. Tahu-tahu bangun pagi padahal biasanya selalu tidur seperti separuh mati—susah sekali dibangunkan. Lalu membuatkan sarapan untukku dan nenek, lalu secara suka rela mengantarku ke sekolah seperti sekarang. Kau benar-benar sedang dirasuki, ya, Jongin?”

Ringisan kecil terpeta di wajah Jongin setelahnya. Tentu saja ia tidak sedang dirasuki, seperti yang Dahye celotehkan tadi.

Jongin punya alasan di balik setiap keanehannya pagi ini.

Ia bangun begitu pagi karena semalaman penuh terjaga, tak bisa tidur sama sekali. Matanya menolak diajak terpejam, sebab kepalanya sibuk bekerja. Puluhan gagasan menyesaki benaknya, membuatnya kesulitan untuk jatuh tertidur. Dan satu topik yang paling menguasai pikirannya, ialah Dahye. Dahye yang malam sebelumnya pergi bersama Oh Sehun.

Masih terpeta dengan jelas di ingatan Jongin Sabtu malam kemarin Dahye pulang dengan seraut wajah berseri-seri. Sepupunya itu berdandan dengan begitu cantik meski tubuhnya dibalut sweater kebesaran yang jelas bukan miliknya. Kedua tangannya memeluk sebuah boneka beruang ekstra besar. Ketika melihat Jongin yang mengamatinya, kedua pipi Dahye segera memerah dan gadis itu bergumam ‘jangan tanya apa-apa soal ini, aku mau mandi dan langsung tidur’.

Tidak perlu jadi jenius untuk tahu apa yang baru saja terjadi.

Raut bahagia itu diciptakan oleh Oh Sehun. Sweater kebesaran itu milik Oh Sehun. Dan boneka besar itu juga pemberian Oh Sehun.

Dahye berdandan cantik, karena ia baru saja pergi kencan dengan Oh Sehun.

Dahye dan Sehun, mereka berkencan.

Pemikiran ini mengusik Jongin sepanjang malam, membuatnya terus terjaga. Tentu saja Jongin tak bisa mengabaikan sakit hati yang menyapanya ketika tahu Dahye benar-benar berkencan dengan pemuda lain. Tapi ada yang lebih mengganggunya selain perkara sakit hati itu sendiri.

Kenapa harus Sehun? Kenapa harus pemuda yang telah menghancurkan hidup Dayoung yang kemudian berkencan dengan Dahye?

Sejak menyadari siapa Oh Sehun sebenarnya, Jongin semakin tak suka pada pemuda itu. Ia selalu ingin memperingati Dahye untuk jauh-jauh darinya, namun kemudian keinginanya diurungkan kembali. Sebab Jongin dapat melihat betapa besarnya rasa suka Dahye pada Sehun. Kebahagiaan Dahye ada pada Sehun, Jongin tak mau merusak kebahagiaan sepupunya itu dengan melarangnya mendekati Sehun.

Namun setelah melihat keduanya pergi berkencan, suatu gagasan baru menyadarkan Jongin. Bagaimana jika hubungan Sehun dan Dahye berjalan semakin jauh? Sesuatu yang disembunyikan, cepat atau lambat akan terbongkar juga, ‘kan? Masa lalu Sehun dengan Dayoung jelas bukan pengecualian. Lantas akan jadi seperti apa Dahye jika suatu saat ia mengetahui rahasia gelap yang disembunyikan Sehun?

Bagai duri yang ditusukkan pada kulit, rasa sakitnya akan semakin bertambah seiring bertambah lama duri itu dicabut dari kulit. Sama seperti hal ini, semakin jauh hubungan mereka, akan semakin besar pula luka yang Dahye dapatkan ketika akhirnya ia tahu rahasia Sehun.

Jongin tak mau melihat Dahye semakin menderita lagi. Sudah cukup luka yang didapat sepupunya itu di tahun-tahun kemarin, seharusnya ia tak boleh mendapat lebih banyak rasa sakit.

Sebelum Dahye terluka lebih dalam, mestinya Jongin bisa menghentikannya, ‘kan?

“Nah, kau malah melamun terus.” Tahu-tahu Dahye menukas sembari membuang wajah, gadis itu bersiap melepas seatbelt-nya. Rupanya mereka telah sampai di kompleks sekolah Dahye.

Jongin menghentikan laju mobilnya, lalu mengamati Dahye yang kini merapikan rambutnya. Sejak kapan Dahye peduli pada penampilannya?

“Sudah, ya, aku pergi dulu. Terima kasih sudah mengantar, Jongin.”

Dan sebelum Jongin sempat berkata lebih jauh lagi, Dahye telah melompat turun dari mobilnya. Pemuda Kim itu tersentak. Cepat-cepat ia melepas seatbelt-nya, lalu ikut turun menyusul Dahye. Ia harus memberi tahu Dahye kebenarannya. Kebenaran tentang masa lalu Sehun, tak peduli resiko apa yang nanti akan menghadangnya.

“Dahye, tunggu!” Jongin berseru pada Dahye yang telah berjalan beberapa meter di depan.

Gadis yang dipanggilnya dengan cepat berbalik. Kerutan tercipta di kening, sementara kedua kakinya mulai melangkah mendekati Jongin.

“Kenapa, Jongin?” tanya Dahye begitu ia sampai di hadapan Jongin.

“Aku … ada yang harus kubicarakan.” Jongin berhenti sejenak. Dahye menunggunya dengan sabar.

“Kau jaga rahasiaku dari Dahye, maka akan kujaga juga rahasiamu. Adil, bukan?”

Lalu begitu saja kalimat Sehun dahulu kembali berputar di kepalanya. Sejenak Jongin meragu. Bagaimana jika setelah ini Sehun juga membongkar rahasianya pada Dahye? Bagaimana jika Dahye kembali membencinya?

Tapi ini semua dilakukannya untuk Dahye, seharusnya ia tak boleh lagi mencemaskan dirinya sendiri.

Benar. Benar begitu.

Maka Jongin menarik napas, lalu bersiap membuka mulut. “Ada yang harus kau ketahui tentang—“

“Dahye! Son Dahye!”

Baik Dahye maupun Jongin menoleh begitu seruan tadi terdengar. Keduanya menemukan sesosok perempuan tengah berlarian dari kejauhan menuju mereka sambil melambai heboh, di belakangnya, seorang lelaki mengekor malas-malasan, kelihatan begitu kontras dengan si perempuan yang kelewat bersemangat.

“Temanmu?” Jongin bertanya pada Dahye sembari mengerutkan kening.

Kim Chaeyeon jelas bukan temannya. Begitu juga Kim Taehyung yang berjalan di belakangnya. Tapi berhubung Chaeyeon telah menyerukan namanya keras-keras, dan akan sangat menyedihkan kalau Dahye mengaku tidak mengenalinya, maka Dahye hanya mampu menganggukan kepala setengah hati atas pertanyaan Jongin tadi.

“Dahye, hai!” Chaeyeon mengulas cengiran lebar begitu ia sampai di sisi Dahye. “Selamat pagi!”

“Err, pagi.” Dahye menyahut lalu tersenyum kecil.

Tanpa bisa dicegah, Dahye mengerling Taehyung dan menemukan pemuda itu berjalan melewatinya begitu saja. Sama sekali tak menyempatkan diri untuk menyapanya seperti apa yang Chaeyeon lakukan. Kenapa pemuda itu?

Yah, bukan berarti Dahye ingin disapa, sih. Hanya saja, Taehyung yang agak lain ini sedikit banyak membuatnya bertanya-tanya juga.

“Oi, Kimtae! Kenapa malah duluan? Yah—Kim Taehyung!” Lagi-lagi Chaeyeon berseru kencang, kali ini pada punggung saudara kembarnya yang sudah berjalan di depan. Ketika tak mendapat respon apa pun dari Taehyung yang terus berjalan, Chaeyeon menghela napas pelan lalu menoleh pada Dahye sambil meringis kecil. “Maafkan Taehyung, ya. Kadang dia bersikap tidak sopan begitu. Melihat teman sekelasnya malah pura-pura tidak kenal.”

Dahye ikut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak apa-apa.”

Setelahnya tatapan Chaeyeon jatuh pada Jongin yang sejak tadi hanya jadi penonton. Detik berikutnya gadis itu bagai membeku di tempat. Kedua matanya agak melebar, dan mulutnya separuh melongo. Sementara semburat merah mulai mewarnai pipinya.

Oh, kenapa lagi perempuan ini?

“Omo, tampan sekali.” Chaeyeon bergumam, matanya memindai Jongin dari atas ke bawah, dan semburat merah itu kelihatan makin nyata di pipinya.

Menyadari tingkah janggal teman Dahye ini, Jongin berdehem pelan sambil menggaruk tengkuknya. Mungkin ini pertanda bahwa seharusnya ia pergi saja dan niatannya membuka rahasia Sehun diurungkan dulu. Ia menoleh pada Dahye yang juga kelihatan terkejut dengan sikap Chaeyeon.

“Dahye-ya, aku pergi dulu, ya. Kita bicara nanti saja lagi.” Jongin berujar sambil mengerling Chaeyeon sekilas.

“Apa? Kau sudah mau pergi?” Chaeyeon menukas lalu maju selangkah mendekati Jongin. Di luar kesadaran, Jongin mengambil langkah mundur untuk menjauh.

“Eh, iya. Aku … masih ada urusan,” sahut Jongin, berusaha tidak kelihatan ngeri dengan perempuan di hadapannya.

“Kalau begitu kita berkenalan dulu. Aku Kim Chaeyeon, temannya Dahye,” tukas Chayeon sambil mengulas senyum kelewat lebar. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk Jongin.

Jongin menerima uluran tangan itu. “Kim Jongin, sepupu Dahye.”

“Ah, sepupu.” Chaeyeon bergumam seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

Jongin ikut mengangguk dan berusaha menarik tangannya kembali. Namun Chaeyeon, menahannya dengan menggenggam tangannya erat-erat. Seolah gadis itu tak ingin jabatan tangan mereka lepas. Jongin mencoba melepas lagi, dan Chaeyeon masih saja menahannya.

Mengulas senyum setengah hati, Jongin kemudian menukas, “Ah, maaf, tapi kurasa aku benar-benar harus pergi sekarang.”

“Oh?” Chayeon tersentak dan cepat-cepat melepaskan tangan Jongin. “Oh, oh benar.”

Melihat ini semua, Dahye tanpa sadar terkekeh kecil. Ia melambai pada Jongin yang kini bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan mereka. Begitu memastikan mobil Jongin telah menghilang di tikungan jalan, Dahye berbalik dan berjalan memasuki gerbang sekolahnya. Di belakangnya, ia mendengar derap langkah Chaeyeon mengejar.

“Dahye, kenapa tidak pernah cerita punya sepupu setampan itu?” Chaeyeon tahu-tahu bertanya sembari berusaha menjajari langkah Dahye.

Mau cerita bagaimana? Mereka bahkan bukan teman dekat. Hanya pernah saling menyapa di koridor karena Taehyung.

Chaeyeon kemudian menarik sebelah lengan Dahye dan memeluknya erat. “Bantu aku dekati Jongin, ya, Dahye-ya? Ya? Ya?”

Dahye tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Belum lagi pelukan Chaeyeon pada lengannya yang membuatnya risi. Ia berusaha melepaskan diri namun Chaeyeon malah memeluknya tambah erat.

“Kumohon … ya, ya, ya?”

Dahye menghela napas pelan lalu menjawab akhirnya. “Yah, baiklah.”

“Wah, senang sekali! Terima kasih, Dahye!” Chaeyeon berseru kegirangan. “Nanti, aku bisa minta nomor ponselnya dan semua sosial medianya padamu. Aku juga bisa minta bantuanmu agar semakin sering bertemu Jongin, lalu ….”

Celotehan Chaeyeon di sampingnya tak lagi sampai ke telinga Dahye ketika kemudian matanya menangkap sesosok pemuda yang berdiri di kejauhan. Sehun, nampak bicara dengan seorang murid perempuan. Lalu seolah menyadari tatapan Dahye, perlahan Sehun menoleh dan kedua matanya segera bertemu dengan milik Dahye. Bahkan ketika ia bicara pada murid perempuan di hadapannya, matanya tetap tertuju pada Dahye yang berjalan melewatinya.

Menyadari ini, Dahye tersenyum kecil. Lalu tanpa diduga, Sehun ikut tersenyum padanya.

Hanya interaksi sederhana begitu, namun sudah cukup untuk membuat jantungnya bertalu lebih cepat.

Kemudian Dahye sadari, Chaeyeon yang berjalan di sampingnya tak lagi mengoceh seperti tadi. Ia menoleh, dan menemukan Chaeyeon justru tengah menatapnya lamat-lamat.

Eh?

“Kenapa?” Dahye bertanya bingung.

Chaeyeon kelihatan ragu sejenak sebelum akhirnya bersuara, “Begini, aku jadi penasaran. Kau ingat ‘kan waktu itu kita pernah bertemu di sebuah kafe? Kupikir aku hanya melihat Oh seonsaeng, tapi rupanya kau juga ada di sana, makan berdua dengannya.” Chaeyeon berhenti sejenak untuk menelengkan kepalanya. “Sebenarnya … apa hubunganmu dengan Oh Sehun seonsaeng?”

Deg.

Dahye tahu jantungnya jatuh sampai ke dasar perut begitu mndengar pertanyaan Chaeyeon.

Jangan-jangan Chaeyeon curiga dengan hubungannya dan Sehun …

“Kami … kami sepupu jauh.” Dahye menjawab, berdoa semoga suaranya tak kedengaran bergetar.

Sejenak Chaeyeon hanya bungkam. Ia menatap lurus ke depan, tatapannya sama sekali tak terbaca, membuat Dahye was-was dengan apa yang ada di pikiran gadis itu.

“Ah, begitu. Sepupu, ya?” Pada akhirnya Chaeyeon menukas sembari tersenyum kecil. “Rupanya semua sepupumu tampan-tampan, ya.”

Setelahnya, ketegangan yang menyelimuti Dahye perlahan mencair dengan derai tawa Chaeyeon. Diam-diam ia mengembuskan napas lega. Setidaknya untuk saat ini, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.

            “Yang ini termasuk detensi juga?” Dahye bertanya sembari membalik-balik buku menu di tangannya.

Mereka baru saja pulang dari sekolah. Tadi begitu Dahye berjalan melewati ruangan Sehun, pemuda itu tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke dalam mobil. Sehun bilang, ia ingin mengajak Dahye ke kafe kesukaannya yang menyediakan kue cokelat paling enak. Dan rupanya, di sinilah mereka. Mengingat Sehun selalu menjadikan detensi sebagai alasan untuk mengajaknya pergi, Dahye tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya begitu.

Sehun mendongak dari buku menunya sendiri lalu mengulas cengiran lebar. “Sebenarnya bukan. Tapi kalau kau mau menganggapnya begitu, ya terserah saja.”

“Semuanya mahal.” Dahye bergumam sambil menutup buku menunya. Ia lalu menatap Sehun dengan wajah nelangsa. “Bagaimana mungkin kau mengajak anak sekolah sepertiku makan di kafe yang membandrol harga selangit hanya untuk sepotong kue cokelat, huh?”

Sehun terkekeh mendengar ini. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusak puncak kepala Dahye. “Aku yang bayar, tenang saja.”

“Aku pesan air mineral saja,” tukas Dahye lalu mencebikan bibirnya.

Lagi-lagi sebuah kekehan lolos dari mulut Sehun. “Mana bisa begitu. Kita samakan saja pesanannya, oke?”

Setelahnya Sehun memanggil pelayan, dan menyebutkan pesanan mereka. Begitu si pelayan pergi, Sehun kembali beralih pada Dahye yang kini mengutak-atik ponselnya. Ia berpangku tangan, menunggu Dahye selesai.

Sebelah alis Dahye berjingkat begitu disadarinya Sehun tengah mengamatinya. Ia berdehem, lalu mengantungi ponselnya.

“Aku mengabari nenek akan pulang telat,” ujar Dahye tanpa diminta.

“Oh? Nenek sudah pulang?” Sehun bertanya, kelihatan antusias.

Dahye mengangguk, seulas senyum mengembang di bibirnya tanpa sadar. “Iya, Minggu pagi dokter sudah mengizinkannya pulang. Dokter bilang nenek harus menjaga kesehatannya dan banyak-banyak istirahat, nenek juga tidak boleh terlalu sering merasa cemas. Karena itu mulai sekarang aku dan Jongin berjanji akan selalu mengabarinya jika kami pulang di luar jadwal biasanya.”

“Memang mestinya begitu. Kau harus belajar jadi cucu yang baik untuk nenekmu, kau tahu,” tukas Sehun sambil tertawa kecil.

“Yah, jadi menurutmu aku bukan cucu yang baik, begitu?” Dahye menyahut kesal.

“Melihat tingkahmu yang seperti ini, kurasa kau memang bukan cucu yang baik.” Sehun menjawab, wajahnya diwarnai raut jenaka.

“Yak!”

Sehun lantas tergelak kencang melihat Dahye yang memerah marah. Ia baru saja hendak berujar kembali ketika seorang gadis berjalan menuju mejanya dan menatapnya dengan tak percaya.

“Oh Sehun? Kau Oh Sehun, ‘kan?”

Dahye di kursinya menatap gadis itu dengan kening mengerut. Siapa gadis ini? Disadarinya separuh pengunjung lelaki menatap gadis itu dengan tertarik. Bagaimana tidak, dengan tubuh sempurnanya, gadis berwajah blasteran itu hanya mengenakan kemeja semi transparan yang menampakan lekuk tubuhnya ditambah hotpants super pendek. Rambut bergelombangnya jatuh sampai ke pinggang dengan anggun. Gadis ini lebih dari sekadar cantik.

Tapi kenapa ia bisa mengenal Sehun?

“Shannon!”

Ketika Dahye pikir Sehun akan mengusir gadis itu, si pemuda Oh justru memekik senang sambil bangkit dari duduknya.

Rupanya mereka saling mengenal. Dan belum selesai sampai di sana, gadis itu tanpa diduga segera menghambur memeluk Sehun. Seolah lupa dengan Dahye yang duduk mengamati, kedua lengan Sehun bergerak melingkari pinggang mungil gadis dalam pelukannya.

Oh. Astaga.

Sehun dan seorang gadis bertubuh sensual berpelukan di depat matanya sendiri. Dan Dahye tidak tahu harus berbuat bagaimana.

“Sudah lama sekali. Bagaimana bisa kau ada di sini? Kudengar kau pindah ke Washington menyusul ibumu.” Sehun berujar sambil melepas pelukannya.

Shannon, gadis itu, tersenyum lebar lalu menjawab. “Aku pulang beberapa minggu lalu untuk mengunjungi ayahku. Aku tidak sangka akan bertemu denganmu di sini, Sehun. Menyenangkan sekali.”

“Makanan yang dijual di sini enak sekali, aku senang datang kemari kalau ada waktu luang,” sahut Sehun kemudian.

“Oh tentu saja. Pamanku memang pandai meramu resepnya.” Shannon menukas, senyum bangga menghias wajah cantiknya.

“Pamanmu? Jadi kafe ini milik pamanmu?”

“Uh-hmm. Kadang aku juga membantunya jika jadwalku kosong.”

Sehun berdecak kagum setelahnya. “Wah, kurasa aku harus minta potongan harga.”

“Apa-apaan.” Shannon tergelak mendengar ini, membuat Sehun ikut tertawa juga. Tatapan gadis itu lalu beralih pada Dahye yang sejak tadi bungkam. Sebelah alisnya berjingkat, dan kepalanya meneleng ke samping. “Oh, aku tidak pernah tahu kau punya adik.”

Apa? Adik?

Dahye berusaha sekuat tenaga menahan rasa jengkel yang kini menggerogoti dadanya.

Perlahan Sehun menoleh pada Dahye. Senyumnya seketika mengembang.

“Bukan, bukan. Dia bukan adikku,” tukas Sehun sambil terkekeh-kekeh.

Alis Shannon berjingkat semakin tinggi, menunggu jawaban Sehun dengan penasaran.

“Sebenarnya dia muridku di sekolah,” ujar Sehun kemudian, sukses membuat Dahye nyaris tersedak salivanya sendiri. Apa itu tadi? Murid, katanya? Murid, hanya sebatas murid? Dahye mungkin akan meledak marah kalau saja Sehun tak segera melanjutkan kalimatnya. “tapi sekarang dia sudah jadi pacarku.”

Pemuda Oh itu mengirimi Dahye senyuman lebar sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Dahye cepat-cepat membuang wajah, entah kenapa jadi merasa kesal pada Sehun.

“Wah! Yang benar saja!” Shannon menukas tidak percaya, ia menatap Dahye dan Sehun bergantian dengan raut takjub.

“Aku serius,” sahut Sehun sambil tertawa kecil. “Jadi, Shannon, kenalkan ini Dahye kekasihku. Dan Dahye, kenalkan, dia Shannon Jung, teman baikku semasa kuliah.”

Jadi mereka hanya sebatas teman baik? Tapi sampai berpelukan begitu …

“Teman benar-benar baik. Kau tidak akan pernah mengira sebaik apa hubungan kami dulu.” Shannon meralat sambil mengulurkan tangannya pada Dahye. “Senang bertemu denganmu, Dahye.”

Mau tak mau, Dahye menyambut uluran tangan itu lalu mengulas senyum kecil. “Ya, senang bertemu denganmu juga, Eonni.”

“Panggil aku Shannon saja. Kau membuatku merasa tua dipanggil eonni begitu.” Shannon menukas, lalu tanpa permisi mendudukan dirinya di kursi di samping Sehun. “Jadi, kau mengencani muridmu sendiri, begitu, huh?”

Sehun mengulum senyum kecil. Ia mengerling Dahye sebelum akhinya menjawab, “Kalau kau laki-laki dan berada di posisiku, kau juga tidak akan bisa menahan diri untuk tidak mengencaninya.”

Shannon membuat ekspresi ingin muntah mendengar ini. “Ew, cheesy.” Ia lalu menoleh pada Dahye dan memicingkan kedua mata bulatnya. “Hei, dengar, ya, kau harus hati-hati pada Sehun. Aku sudah mengenalnya dengan sangat baik selama bertahun-tahun, aku tahu semua rahasia kecilnya. Dia itu, senang sekali tebar pesona. Kau harus waspada kalau-kalau dia mengencani murid lain di belakang punggungmu. Kau pasti tahu, ‘kan, laki-laki biasanya tidak puas hanya dengan satu perempuan saja.”

Dahye bergerak tak nyaman di kursinya. Shannon berkata begitu karena ingin memperingatinya atau malah ingin memanas-manasinya, sih?

“Apa yang kau bicarakan, sih.” Sehun menukas sambil terkekeh. Kelihatan tak terganggu sama sekali dengan ucapan Shannon tadi. Mungkin tahu temannya ini hanya sebatas bercanda saja. Tapi Sehun tidak tahu seberapa terganggunya Dahye sekarang.

“Aku serius. Kau harus hati-hati, oke?” Seolah tak mempedulikan Sehun, Shannon berujar pada Dahye. “Eonni sedang memperingatkanmu sekarang.”

Dahye mengangguk kecil lalu mengulas senyum tipis.

Setelahnya, bagai lupa dengan presensi Dahye di sana, Sehun dan Shannon tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Keduanya heboh membicarakan sesuatu yang sama sekali tak Dahye mengerti. Beruntung beberapa menit kemudian pesanan mereka datang, dan Dahye punya alasan untuk tidak memperhatikan Sehunnya yang asyik dengan gadis lain.

Tentu saja Dahye mengerti Shannon hanya teman dekat Sehun. Mereka sudah bertahun tak bertemu dan kini setelah akhirnya bisa kembali bertatap wajah, tentu ingin menghabiskan waktu dengan mengobrol mengenang masa lalu. Tapi tetap saja Dahye merasa sedikit kesal. Masalahnya, Sehun benar-benar melupakannya dan hanya fokus pada Shannon saja. Belum lagi kenyataan bahwa Shannon punya fisik sempurna dan wajah kelewat cantik.

Bahkan tanpa Dahye ketahui, hatinya terasa panas terbakar.

Lalu ketika akhirnya malam mulai turun, Sehun memutuskan telah tiba waktunya untuk pulang. Ia menyudahi obrolannya dengan Shannon, dan menggandeng Dahye keluar kafe—syukurlah Sehun masih ingat untuk membawa Dahye pulang bersamanya, Dahye pikir Sehun akan pergi meninggalkannya begitu saja. Shannon mengantar mereka sampai ke depan kafe.

“Kita harus melakukan ini lagi di lain hari,” ujar Shannon sambil tersenyum lebar. Ia berjalan mendekati Sehun, dan dalam satu gerakan cepat mendaratkan dua kecupan masing-masing di pipi kiri dan kanan pemuda Oh itu. “Sampai jumpa lagi, Sehun.”

Dahye membeku di tempatnya melihat ini. Setelah pelukan, kini ciuman di pipi? Yang lebih buruknya lagi, Sehun sama sekali kelihatan tak keberatan menerima ciuman itu.

Oh, tentu saja. Laki-laki mana yang tidak mau dicium perempuan cantik seperti Shannon.

Dahye pikir ia akan berlari pergi meninggalkan mereka kalau saja Shannon tak segera beralih padanya. Gadis itu mendekatinya, dan memberinya pelukan ringan.

“Kau juga, Dahye. Aku senang bertemu denganmu. Lain kali kita harus bertemu dan mengobrol bersama, oke?” Ia menjauh sambil tersenyum hangat.

Dahye tidak tahu harus memberi respon bagaimana. Ia ingin marah sebenarnya pada Shannon, karena gadis itu telah memeluk dan mencium Sehun sembarangan. Tapi kalau dilihat-lihat lagi, Shannon terlalu baik—dan terlalu cantik—untuk menerima amukan marahnya. Maka setelah ia duduk di dalam mobil bersama Sehun, Dahye memutuskan melimpahkan kekesalannya pada si pemuda Oh yang kini menyetir sambil bersenandung kecil.

Sepanjang perjalanan Sehun berusaha membuka obrolan dengan Dahye. Mengajaknya bicara tentang ini-itu, namun Dahye tetap memilih menutup mulut. Alih-alih menyahuti Sehun, ia justru mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura kelihatan sibuk dengan benda itu. Membiarkan Sehun hanya berceloteh pada udara. Biar saja Sehun tahu bagaimana rasanya diabaikan. Tadi saat di kafe Sehun juga tak menganggapnya ada.

“Yah—kau kenapa?” Sehun yang kelihatannya mulai menyadari ada yang salah bertanya perlahan. Ia menepikan mobilnya di bahu jalan, dan mematikan mesinnya. Sambil memutar tubuhnya agar menghadap Dahye, Sehun kembali bertanya. “Kau kelihatan marah. Kenapa?”

Memang.

Tapi tentu saja Dahye memilih bungkam, pura-pura tidak mendengarkan. Jemarinya sibuk menari-nari di atas layar ponsel, mengabaikan Sehun sepenuhnya.

“Yah—Son Dahye, jawab aku.” Sehun menghela napas lalu kembali bertanya, “Sebenarnya ada apa denganmu, sih?”

Dahye masih saja memilih menutup mulutnya. Atensinya sama sekali tak ia alihkan dari ponselnya.

“Lihat aku ketika aku bicara, Dahye.” Sehun menggeram dan tanpa peringatan menyambar ponsel Dahye dari tangan gadis itu. Ia meletakan ponselnya ke atas dashboard mobil dan menatap Dahye dengan kening mengerut. “Aku tidak pernah suka kalau kau sibuk sendiri dengan ponselmu ketika kita sedang bicara. Kau jadi mengabaikanku.”

Kedua alis Dahye berjingkat mendengar ini. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada lalu menukas, “Oh? Jadi kau masih ingin bicara denganku?”

“Apa?” Kerutan di kening Sehun bertambah dalam.

“Kau marah karena aku sibuk dengan ponselku dan mengabaikanmu saat kau bicara. Padahal tadi aku sama sekali tidak protes kau sibuk dengan teman lamamu dan mengabaikanku sepenuhnya,” tukas Dahye tajam. “Diabaikan tidak enak, ‘kan?”

Butuh beberapa sekon bagi Sehun untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada Dahye. Ketika akhirnya ia mengerti, kerutan di wajahnya perlahan memudar, dan rautnya jadi sedikit lebih ringan.

“Jadi ini semua karena Shannon?”

“Apa?”

“Kau seperti ini karena Shannon, ‘kan?” Sehun mengulang pertanyaannya.

Dahye mengembuskan napas pelan lalu berdecak. “Begini, ya, yang jadi masalah bukan karena ini Shannon atau bukan. Tapi memangnya siapa yang suka diabaikan saat seharusnya makan bersama jadi momen menyenangkan? Kau pikir bagaimana mungkin aku tidak kesal ketika kau benar-benar melupakanku dan malah asyik dengan temanmu itu.”

Sehun meringis kecil lalu menggaruk tengkuknya serba salah. “Soal itu aku minta maaf. Aku dan Shannon sudah lama sekali tidak bertemu, padahal dulunya kami merupakan teman baik. Jadi aku sampai melupakan segalanya dan hanya ingat mengobrol dengannya.”

“Kau yakin benar-benar hanya berteman dengannya?” Dahye lantas bertanya sambil memicingkan matanya. “Dia sampai memeluk dan menciummu. Aku tidak pernah melakukan itu dengan teman-temanku.”

Mendengar ini Sehun tertawa kecil. “Kami benar-benar hanya berteman, Dahye-ya. Shannon memang begitu, dia senang melakukan kontak fisik dengan siapa pun yang dia kenal dekat. Dia juga memelukmu saat berpisah tadi, ‘kan?”

“Tentu saja memelukku dan memelukmu jadi persoalan yang berbeda. Kau itu laki-laki dan Shannon perempuan. Kalau kalian hanya berteman, tak seharusnya kalian melakukan ciuman dan pelukan begitu.” Dahye menukas tak mau kalah, jengkel yang sejak tadi menguasainya ia luapkan juga.

Lagi-lagi Sehun tertawa kecil. Ia menatap Dahye sambil tersenyum simpul. “Begini, ya, Dahye, kalau aku memang menyukai Shannon, pasti sudah sejak lama aku mengajaknya kencan. Dan detik ini, aku tidak akan duduk di sini bersamamu.” Ia berhenti sejenak untuk kemudian mendekat dan menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga Dahye dengan sayang. “Apa lagi yang harus kulakukan untuk membuktikan bahwa memang hanya kau yang kusuka, sih?”

Mendengar ini, Dahye menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memanas. Ia lalu bergumam kecil, “Aku hanya tidak suka perempuan lain memeluk dan menciummu semaumunya. Itu saja.”

Derai tawa Sehun menyambut Dahye setelahnya. Pemuda Oh itu lalu bergerak menarik Dahye ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk puncak kepala gadis itu dengan sayang.

“Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena membiarkan Shannon melakukan itu.” Ia bergumam lalu segera menambahkan, “Dan maaf karena mengabaikanmu selama di kafe.”

Setelahnya, Dahye mendongak dan mengangkat kedua tangannya untuk menangkup kedua sisi wajah Sehun. Ia bergerak mencium satu-persatu pipi Sehun bergantian dengan perlahan.

“Kuharap jejak bibir Shannon akan menghilang di sana,” gumamnya dan segera menjauh.

Sehun membeku di tempatnya. Tak sangka akan mendapat ciuman mendadak di pipi dari Dahye. “Wah, kurasa aku harus sering-sering meminta perempuan lain mencium pipiku.”

“Yak! Enak saja! Kau mau mati, ya?”

Sehun tergelak kencang mendengar ini. “Bercanda, bercanda.” Ia menyalakan mobilnya dan kembali melajukannya membelah jalanan malam. “Sebagai ganti hari ini, bagaimana kalau besok kita pergi makan lagi, hm?”

“Tapi tidak di kafe tadi. Kurasa aku akan mulai membenci tempat itu setelah ini,” tukas Dahye cepat.

“Iya, iya. Kau boleh pilih sendiri tempatnya.” Sehun menyahut sambil tertawa kecil.

Dahye menelengkan kepala sambil berpikir. “Baiklah. Di apartemenmu. Semangkuk ramyun. Oke?”

Sehun menolehkan kepalanya untuk menghadiahi Dahye tatapan tidak percaya. Tapi ketika menemukan Dahye yang balas menatapnya dengan serius, Sehun menganggukan kepalanya dengan antusias.

“Oke. Tempatku. Dan semangkuk ramyun,” ujarnya. “Dan detensimu.”

“Yaaak!”

            Sesuai dengan janji mereka kemarin, hari ini Dahye duduk di ruang tengah apartemen Sehun. Sepulang sekolah, Sehun bergegas membawa Dahye kemari. Namun rupanya, persediaan ramyun pemuda itu habis, dan ia terpaksa membelinya dahulu di minimarket seberang jalan sementara Dahye memilih menunggu saja.

Gadis itu menekan-nekan remote televisi tanpa minat, berusaha mencari saluran yang dapat menghiburnya. Namun nyatanya, tak ada satu pun tayangan yang membuatnya tertarik. Sehun bilang ia takkan lama pergi ke minimarket, tapi nyaris lima belas menit berlalu dan pemuda itu belum juga tiba. Bosan, Dahye memutuskan bangun dari duduk-duduknya dan berjalan mengitari tempat tinggal Sehun. Ketika itu, ia teringat Sehun memiliki sebuah perpustakaan pribadi di ujung koridor. Cepat-cepat Dahye menyusun langkahnya dengan tak sabaran.

Perpustakaan itu masih sama seperti terakhir kali Dahye mengunjunginya. Sama seperti dulu, ia kembali menelusuri satu-persatu buku yang ditaruh dengan rapi di rak-rak besar. Dan, ketika itulah Dahye teringat akan sebuah buku yang dahulu sempat menarik rasa ingin tahunya.

Buku yang ditaruh di bagian politik dan psikologi, padahal sama sekali tak mengandung tema itu. Sejak pertama kali melihatnya, Dahye telah dibuat penasaran dengan isi buku itu. Entah kenapa, ia merasa buku itu menyimpan sesuatu yang bisa menarik perhatiannya.

Perlahan Dahye berjalan menuju rak seberang. Jemarinya dengan hati-hati menyentuh setiap buku sementara matanya membaca setiap judul yang tercetak di punggungnya.

Memories.

Ketemu.

Hati-hati Dahye menarik buku itu dari rak. Sampulnya yang terbuat dari kulit terasa kasar di tangan dan tulisan meliuk-liuknya yang dicetak dengan warna emas sedikit menyilaukan mata Dahye. Perlahan ia membukanya, dan kembali dipertemukan dengan sederet kalimat yang ditulis di halaman paling depan.

“Tentang selusin kenangan yang sukar dilupakan mau pun dihapus dari memori. Kurekatkan seluruh kenangan itu di atas kertas ini, hingga kuharap kau pun takkan pernah menghapusnya. Teruntuk Oh Sehun, yang selalu mengisi setiap relung memori terindahku.”

Buku ini pasti pemberian dari seseorang yang pernah menganggap Sehun istimewa, dan tentu saja begitu pun sebaliknya. Karena seseorang yang memberi buku ini menuliskan bahwa ia memiliki banyak kenangan bersama Sehun. Begitu pikirnya.

Kenangan seperti apa? Siapa orang yang memberi buku ini sehingga ia punya kenangan yang kedengaran spesial bersama Sehun? Bagaimana hubungan Sehun dan orang itu?

Dahye benar-benar ingin tahu.

Menggigit bibirnya, Dahye mulai membalik halaman selanjutnya. Jantungnya berdebar kencang, antusias dengan apa yang akan ia lihat. Namun begitu menemukan apa yang terpampang di sana, Dahye tahu jantungnya seketika berhenti berdegup. Begitu saja keheningan terasa mencekiknya hingga napasnya menyesak. Kedua tangannya menjadi kebas dan buku itu meluncur bebas jatuh dari genggamannya ke atas lantai. Membuat foto yang semula tertempel di halamannya terlepas dan mendarat di bagian lain lantai.

Dahye ingin sekali berpikir bahwa ia telah salah lihat. Bahwa mungkin ada yang salah dengan matanya. Namun seberapa keras pun ia mencoba menyangkal, Dahye tak mungkin salah mengenali wajah familier milik eonninya yang tengah tersenyum begitu lebar bersama Sehun di dalam foto itu.

Eonninya, dan Sehun. Dalam sebuah foto berpelukan sambil tersenyum.

Bagaimana mungkin ….?

…kkeut

Note

Haluuu kaliaaan^^ adakah yang masih berminat baca fic ini huhu

Konflik utama bentar lagi keluar, dan itu artinya, bentar lagi kita ketemu sama final chapternya The Dim Hollow:”””

Taehyungnya Cuma nyempil dikit banget wkwk ntar deh aku banyakin dia di chapter lain-lain hihi daaan setelah ini siap-siap ya, mungkin kita ngga akan ngeliat sehun dahye lovey dovey lagi:”)

Terakhir makasih banyak buat kalian yang masih baca The Dim Hollow chapter 17 inii^^

Seeya on next chap gengs~~

…mind to leave a review?

98 responses to “The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24

  1. Aaarrghh greget greget gregetaaannn dih, nunggu banget moment dahye tau soal sehun yg jadi penyebap dayoung bunuh diri :s disaat jantung ikutan berdebar (bukan jatuh cinta) *ngikutin dahye yg lg buka buku memories* disaat itulah malah tbc hadohhh ga bisa tidur lelap ini mah eonn T.T
    Gimana ntar reaksi dahye ke sehun :3 bener2 nunggu konfliknya hahaha

    Btw shannon emang bener2 cuma ‘temen’ kan eonn? Bukan temen macem yg suka sm sehun ditutup2in tp tau2 jahat ke dahye lagi:/

    Pokoknya next chaptnya ditunggu banget eonn!!!😄
    Keep writing, hwaiting^0^

  2. oh? udah mulai ketahuan. wah, bakal ada perang kayaknya. he he, sok tau dikit gpp ya??
    jadi pengen bgt tau gimana reaksi sehun pas dia tau dahye nemuin fakta yg slama ini ditutupi. part selanjutnya ditunggu ya.. fighting!!

  3. huaa, dahye udah tau tuh…
    aigooo, baru aja mereka bahagia..
    tp konflik utamanya udah muncul…
    eh apa shanon yg temen nya sehun itu yg di drama moorim school???
    huaaa, penasaran…
    next chapter..
    keep writing 😃

  4. Nahkan nahkan nahkan udah mulai seru nih!!! 😏😏😏😏😏
    Si dahye udah liat foto sehun sama mpoknya.
    Eitsss jongin, kok kamu kesian ya? Apa mungkin chayeon bisa menjadi pengganti dahye di hatimu jong?
    Btw si mphi mah nyampah banget, dia berasa kek cameo 50 ribuan yang lewat yang kek di sinetron sinetron tv.
    Oh iya, si Shannon jadi parasit ga nih ya dia di chapter selanjutnya?

  5. Sehun kenapa so cheesy tapi terngeselin dan terngangenin huhu huaa udah mau final aja padahal ku suka banget sama ff ini selalu ditunggu karya selanjutnya ^^

  6. Nahh kan si dahye akhir nya tau jga..uuhh penasaran w sma kelanjutan nya gmn ya wra” respon nya dahye stelah tau klo sehun ma kk nya dulu ada hubungan..

  7. Wah akhirnya hubungan sehun dan eonni dahye dimasa lalu akhirnya terungkap juga, gimana ya nanti hubungan antara dahye dan sehun setelah rahasia dimasa lalu terungkap ??
    Ditunggu next chapnya🙂 ♥

  8. OMGGGG AKU DEGDEGAN BACA BAGIAN AKHIRNYA SUMPAH INI BIKIN GREGET BANGETTTTTT… konflik nya udah mau muncul dan for god sake aku excited bangett, penasaran sikap dahye setelah tau gimana ke sehun.. wow banget baca chap ini, malah tbc nya itu pas bagianyg seru, yaampun greget sekaliiii
    ah kak, gasabar sama next chap nyaa🙂
    aku tunggu banget yaa
    FIGHTING❤

  9. Hai thor maaf ya aku baru sempet komen lg, kmrn2 bingung mau komen apa wkwkwk. Knp si chaeyeon muncul disaat jongin mau ngomong penting ke dahye sih, tp seengganya skrg dahye bakalan tau ttg masa lalunya sehun lbh baik tau skrg dri pd terlambat dan hubnya makin jauh pasti tambah sakit. Semoga masalahnya ini cpt kelar deh sedih klo liat mereka berantem. Next chapt ditunggu thor karena konflik utamanya wkwkwk feelnya hrs berasa bgt ya thor di next chapt biar bacanya jd greget/? Semangat~

  10. Aku seneng banget, seneng parah, seneng abizzzzz pas liat jongin sama dahye ga sekaku dulu. Sumpah rasanya mau ketawa kenceng pas liat chaeyeon genit banget ke jongin huhu mana jonginnya kaya orang clueless banget gitu lol. MANIS BANGET BENERAN DEH DAHYE SEHUN TUH. Apalagi skrg dahye udh berani nyium sehun duluan cuma gegara berasalan mau ngilangin jejak bibir shannon. I KNEW IT ALREADY. Pasti deh pas sehun pergi dahye kepoan, dan bener aja kan…. Baca buku yg waktu itu belum sempet dahye buka lebih banyak. Gatau deh aku musti kaya gimana, beneran ga sangka aja udh part 17 sekarang. Dan mulai ada konflik gini kaya belum puas akunya hiks. Aku pasrahin semuanya aja sama kaka lah ya, IDK WHAT TO SAY ANYMORE. Semangat terus ya kak, i’ll wait it for sure😚😚💕💕💕

  11. Wah akhrnya hub sehun sma eonninya dahye trbongkar tnpa ada yg ngasih tau. Ndak nyangka secepat ini dahye taunya. Prcaya ndak prcya dahye pasti kecwa sma sehun. Uhhhhh mkin penasaran sma crita ini. Next chap kak😄😄

  12. yehet! beneran baru permulaan banget ini, ditunggu banget gimana reaksi Dahye sama Sehun?
    dan apa Dahye bakal marah sama Jongin juga, dia jan secara nggak sengaja rau permasalahan Sehun-Dayoung 😅
    hmm.. berharap cerita Jongin-Chaeyeon berlanjut hihi lucu kali kalo Jongin yg agak sok itu sama Chaeyeon yg pecicilan 😄😄
    ditunggu lanjutannya…

  13. Akhirnyaaaaaaaa 😲😲😲😲 dahye temuin rahasia besar 😆😆 dahye temuin foto sehun sama kakaknya dengan mata kepala sendiri 😭😭😭 dahye be like : Sehun.. Yang kamu lakukan ke aku itu, JAHAT! :’v

  14. ah sehun kau mengabaikan dahye demi shannon, semoga shannon tidak merusak hubungan kalian berdua.
    oh omg dahye menemukan buku diary masalalu dayoung ah makin seru ka fighting ‘)

  15. oh tidaaaaakkk…..akhirnya dahye tau kebenarannya, dan dia mengetahuinya sendiri tanpa sehun ataupun jongin yg mengatakannya….
    semoga dia bisa memaafkan kesalahan sehun dimasa lalu, dan semoga hubungan mereka gk berakhir putus….
    sayang bgt kalau ampe putus, pdhl baru bberapa hari baikan kan?
    aq gk sanggup baca kalau nantinya bnyak adegan yg bikin nyesek” dan menguras air mata😥
    please bikin kisah ini happy ending🙂
    moga sehun-dahye bisa bahagia bersama🙂
    itu si chaeyeon udh lgsg tertarik ama jongin….bikin jongin suka jg sama chaeyeon dong kak, biar jongin gk terlalu terpuruk ama dahye…
    setidaknya bikin jongin move on dr dahye, dan kurasa chaeyeon orang yg tepat untuk jongin,hehehe….

  16. Ya ampun aku baru baca ini karna jadwal padat huhuuu , rasa di awal seneng trus senyum senyum hehehe akhirnya udah mau ketahuan juga itu hu hu greget kanan:333 aku sambil bayangin sehun itu ada di blkang dahye hu hu:33

  17. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. astaga bikin greget aja critanya
    aaah masa lalu sehun bentar lg terungkap
    penasaran lanjutan hubungan dahye sama sehun stlh terungkap masa lalu sehun
    y ampun aku baru baca chap ini ternyata chap lanjutan nya udah d post
    lanjut baca chap selanjut nya
    penasaran ….

  19. My God! Kukira Jongin mau jujur sama Dahye tentang Sehun. Huh, aku tak pernah merasa bersyukur ketika Kim bersaudara datang. Yeah, memang aku tak terlalu suka kalo mereka datang, soalnya bikin Sehun sama Dahye renggang sih, terus…ah entahlah.
    WOW kalo ada teman laki-laki dan perempuan sampe seintim itu emang bikin curiga tingkat plus plus ya? Ga heran Dahye sampe mau uring-uringan. Well, diabaikan ga enak, entah teman ato siapalah itu. Sehun kurang peka sih sama remaja labil kek Dahye/maklum anak SMA/mood swing masih mode on :’3
    Omegot! Dahye nemu buku itu? Entah kenapa ludah aku habis ketelan/ga
    susah bener dah. Bagaimana ini? Bagaimana? Aku sakit sendiri sebelum mengetahui kebenarannya. Si Alan bener-bener yak!
    Aaaaaaa konflik plis. Siap-siap untuk berasap ini kepala. Tarik napas. Keluarkan. Ulangi sebanyak 3X/lohh *abaikan

    Oke, makasih udah update😀
    Nungguin aku komen ga? Ga ya? Pasti iyadong? Iyalah? Iya? Ya? Ga? Ya, gpp. Maaf telat komen😦
    XOXO

  20. akhirnya kebongkar juga HAHAHAHA sehun semangat

    btw ini tumben kok pendek ya thor? ….. ku ingin marah waktu mau kebongkar malah keut hehehe tapi untungnya ku dah nemu chap 18!

  21. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. Oh My Gosh!!!!!! Kenapa dahye ngelihat buku itu disaat dia lagi adem2nya sama sehun???? Huaaaaa, plis dong jangan buat mereka berpisah :(((

  23. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  24. Sempet hiatus baca ff/? tapi begitu nyari ff ini ternyat masih di lanjutin😁 udh agak lupa sama ceritanya akhirnya baca ulang chap 16&17 :v dan akhirnya yg aku tunggu muncul juga, sehun ketauan sama dahye:v padahal baru jadian tapi dahye langsung tau. Heu penasaran>< langsung aja deh baca chapter selanjutnyaa:v

  25. hahah lucu liat dahye cemburu sama shannon …
    jengjengjenggggg konflik mulai terlihat …
    gimana ya nanti reaksinya sehun ..
    duh pasti nanti bakal sedih sedih lagi nih huffttt

  26. Okee fix ini saat yang aku tunggu….
    Karna kelewat penasaran gatau mau komen apa lagiiㅋㅋㅋ
    lanjuutt ke chapter selanjutnyaaaㅋㅋㅋ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s