{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 9TH PART [BY IMA]

deepest new

Kim Tales :

“Deepest Memories”

Lee Hana / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Others

Romance, Family, Drama, Angst

Beta : Neez

PG || Chapters

[Teaser] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part] [4th Part] [5th Part]

[6th Part] [7th Part] [8th Part]

In Correlation with  :

{KIM TALES} WILDEST DREAM

© IMA 2016

Last Part :

“Dia Oh Sehun, adiknya Jae Hee noona.”

Dan Hana mencengkeram lengan Kai tanpa sadar. Kepalanya mendadak pening, oksigen di sekitarnya seolah terenggut, membuat Hana kesulitan untuk sekedar menarik napas. Hana tidak ingat apa yang terjadi karena ia merasakan dunianya menggelap sebelum jatuh pingsan ke dalam pelukan Jong In.

[DEEPEST MEMORIES] — 9TH PART

Begitu membuka mata, kedua mata Hana menyipit karena sinar lampu di langit-langit kamar rumah sakit. Ia merasakan sentuhan hangat di punggung tangannya, disusul dengan wajah Kai yang muncul di depan wajahnya. Senyuman lemah muncul di bibir lelaki itu, sontak membuat sudut bibir Hana tertarik mengulas senyum –yang kini mungkin terlihat miris. Hana berusaha bangun namun Kai menahan kedua bahunya.

“Dokter bilang kau harus istirahat sampai besok pagi,” Kai segera duduk di sisi tempat tidur, masih menggenggam tangan kiri Hana dan mengusapnya pelan. “Tekanan darahmu rendah.”

“Kita pulang saja, eoh? Biaya rumah sakitnya—.”

“Sshh, jangan khawatir biaya rumah sakitnya, Han-ah. Kau harus sehat untuk melindungi Tae Jun ‘kan?” Kai kembali mengulas senyum hangat seraya mengacak rambut di puncak kepala Hana. “Tae Jun menginap di rumah Nayeon. Dan kau tenang saja dengan makanan Tae Jun karena Kyungsoo hyung ada di sana juga.”

Senyum geli muncul di bibir Hana karena melihat Kai yang panik –saat berusaha menenangkannya. Apalagi melihat senyum polos Kai dan membuat Hana kesulitan menahan tawanya. Sungguh, Kai terlihat lucu dengan tatapan dan senyum polos seperti itu.

“Sudah baikan?” tanya Kai, tidak tahan untuk ikut tersenyum karena tawa Hana.

“Dwaesseo, aku tenang kalau ada Kyungsoo oppa,” Hana kali ini bangkit tanpa ditahan oleh Kai seperti sebelumnya. Masih terasa sedikit pusing, namun ia dibantu Kai untuk bersandar di kepala tempat tidur. “Eh, kau tidak kerja?” tanyanya seraya melirik jam dinding di seberang tempat tidurnya.

Kai menggeleng pelan. “Izin. Aku tidak mungkin kerja dengan tenang kalau kau di rumah sakit.”

“Wae? Aku tidak sakit parah, Jong In. Pergi kerja saja sana,” Hana memasang ekspresi pura-pura kesal, namun Kai malah tersenyum ke arahnya. Uh, senyum Kai bisa membuat Hana sering ke rumah sakit karena diabetes sepertinya.

“Tidak apa-apa, Han-ah. Hari ini aku minta tolong Jae Rim hyung,” Kai bangkit dari sisi tempat tidur, melepaskan genggaman tangan Hana sambil menunjuk pintu kamar rawat. “Aku minta makan malammu dulu, ya. Tadi mereka bawa lagi karena kau belum bangun. Tunggu sebentar.”

Sebenarnya ada perasaan berat saat ditinggalkan Kai –bahkan hanya untuk sekedar mengambil makanan keluar kamar rawat. Beruntung Kai tidak meng’iya’kan ucapan basa-basinya mengenai izin dari pekerjaan. Entah kenapa ia sangat membutuhkan Kai di sisinya setelah kejadian tadi siang. Bahkan Hana berharap bahwa pertemuan kembali dengan laki-laki itu hanya terjadi di dalam mimpinya saja. Atau mungkin memang mimpi?

Kening Hana berkerut, kepalanya mendadak pening saat berusaha mengingat wajah Sehun yang hanya dilihat sekilas olehnya. Anehnya, Kai tidak membahas apapun hal yang menyangkut Oh Sehun sejak ia bangun tadi. Atau mungkin ia yang salah dengar nama lelaki itu. Toh sebelumnya ia salah mengenali Lu Han sebagai ‘Oh Sehun’ karena perawakan yang sangat mirip.

“Kenapa melamun lagi?” tanya Kai sambil meletakkan nampan di atas nakas dan kembali duduk di sisi tempat tidur wanita itu.

Hana menggeleng pelan. “Aku masih mencoba mengingat kenapa bisa pingsan tadi siang.”

“Dwaesseo. Kau pasti kelelahan karena panik dan terlalu banyak lari,” Kai membuka plastic wrap yang menutupi piring makan malam Hana.

“Jong In,” Hana meremas tangannya sendiri saat Kai membalas panggilannya dengan menggumam saja. “Bagaimana keadaan Jae Hee eonni?”

Menggantungkan pertanyaan Hana di udara, Kai beralih menyodorkan sesendok nasi ke depan wanita itu. “Jae Hee noona belum sadar. Sebenarnya tadi sempat sadar, tapi karena terlalu histeris, Jae Hee noona kembali pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang.”

“Aku juga pasti seshock itu,” Hana menghembuskan napas panjang lalu menerima suapan dari Kai tanpa memprotes –seperti biasanya. “Kehilangan Tae Jun beberapa jam saja aku sudah hampir gila. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan Jae Hee eonni.”

Kai tidak merespon apapun, fokus menyuapi Hana yang kini kembali diam dan malah melamun. Ekspresi Hana semakin menggelap sebelum menundukkan kepala dengan hembusan napas panjang. “Kenapa, Han-ah?”

“Adiknya Jae Hee eonni….. Siapa namanya tadi? Aku tidak begitu ingat,” Hana masih menyembunyikan wajahnya sambil mencengkeram ujung selimut di pangkuannya. Ia benar-benar berharap pendengarannya yang salah tadi.

“Oh Sehun.”

Tidak.

Napas Hana tertahan di tenggorokan dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bahkan hanya dengan mendengar nama laki-laki itu saja, rasa sakit menghantam dadanya. Sekelebat ingatan dari masa lalu kembali mengacak-acak kepalanya dan rasa sakit itu semakin membuat dadanya terasa sesak. Sebelum Kai bertanya apapun, Hana turun dari tempat tidur dan berjalan cepat –dengan sedikit limbung menuju kamar mandi.

Oh Sehun telah kembali. Dan Hana tidak sedang bermimpi.

***

Pagi harinya Hana menyempatkan diri untuk melihat Jae Hee –yang juga belum sadar, sebelum pulang ke apartemen dan menyiapkan peralatan sekolah Tae Jun. Kai bersikeras mengantar Tae Jun ke sekolah sendirian dan menyuruhnya istirahat saja di apartemen. Pada akhirnya Hana mengalah, membiarkan Tae Jun pergi ke sekolah bersama Kai sementara dirinya berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya, entah melamunkan apa. Pikirannya sering kosong sejak Oh Sehun kembali menampakkan diri di hadapannya.

Apa Sehun masih mengenalinya? Lima tahun berlalu setelah Sehun meninggalkannya –bersama Tae Jun. Kedua mata Hana terpejam, berusaha mengingat sosok Sehun lima tahun lalu dan kembali menangis karena rasa sesak yang mendadak menyerang dadanya. Ia membenci Sehun. Ia tidak menginginkan laki-laki itu kembali ke kehidupannya. Tapi di sisi lain bagian dalam dirinya, ingin melihat Sehun sekali lagi.

“Han-ah?” suara Kai dari luar pintu kamar membuat kedua mata Hana kembali terbuka. Segera menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dan menggumam pelan untuk menjawab panggilan Kai.

Kepala Kai menyembul dari balik pintu, cengiran tanpa dosa ditunjukkan lelaki itu sebelum melangkah memasuki kamar Hana. Tanpa meminta izin, Kai beranjak naik keatas tempat tidur dan berbaring miring –saling berhadapan dengan Hana. Dan untuk kesekian kalinya, ia melihat sisa-sisa air mata di sudut mata wanita itu.

“Kenapa lagi?” tanya Kai seraya mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Hana.

Hana menatap iris cokelat pekat milik kekasihnya lalu menggeleng pelan. “Hanya khawatir pada Tae Jun di sekolah.”

“Dia baik-baik saja, Han-ah,” Kai menyunggingkan senyum tipis, masih sambil mengusap kepala Hana.

Entah sudah berapa kali Hana berbohong pada Kai tentang alasan dibalik tangisannya. Jae Hee pernah menceramahinya untuk saling berbagi dengan Kai –jika memiliki masalah dan harus terbiasa membuka diri. Tapi Hana memiliki krisis rasa percaya pada laki-laki dan sering sekali membuatnya terpaksa berbohong. Lagipula ini menyangkut masalah dari masa lalunya –yang belum ia ceritakan pada siapa pun selain Jae Hee. Jae Hee pun bahkan tidak tahu siapa identitas laki-laki di masa lalunya.

Hana balas tersenyum lalu meraih tangan Kai di kepalanya untuk digenggam. Berada dalam satu tempat tidur dan jarak dekat seperti itu, membuat jantung Hana berdetak menggila ditambah rasa geli yang menggelinjang di dalam perutnya. Ia menautkan jemarinya di sela-sela jemari Kai, berusaha menenangkan perasaan gelisahnya –setelah kedatangan Sehun.

“Apa kau pernah kenal Sehun sebelumnya?” tanya Kai, membuat tubuh Hana terasa menegang untuk beberapa saat.

Hana tertawa –kaku seraya mengendikkan bahu. “Anhi. Darimana aku bisa mengenalnya? Memangnya kenapa?”

“Saat kau pingsan kemarin… Sehun langsung sibuk mencarikan kamar untukmu,” Kai mengingat kembali kejadian kemarin siang saat Hana pingsan dan menunggu hampir setengah jam di IGD untuk mendapat kamar rawat. “Aku belum memberitahu namamu pada Sehun. Tapi dia langsung memberitahu perawat nama lengkapmu sebelum masuk ke dalam kamar rawat.”

Hana menggigit bagian dalam bibirnya sambil mengalihkan perhatian pada tangan –mereka yang masih saling bertaut. “Mungkin Joonmyun oppa sudah memberitahunya.”

“Ah, matda, mungkin Joonmyun hyung,” Kai mengangguk tanpa mau berpikir lebih jauh lagi mengenai Sehun. Harusnya Hana kenal Jae Hee lebih awal kalau pun pernah mengenal Sehun sebelumnya. “Kepalamu masih pusing?”

Dan Hana bisa bernapas lega karena Kai mengalihkan pembicaraan. “Sedikit.”

“Tidur lagi saja, Han-ah. Aku yang jaga apartemenmu disini,” Kai tersenyum jahil, memperhatikan semburat merah di pipi Hana yang berusaha disembunyikan dibalik guling.

“Tch. Awas kalau kau berani macam-macam, ya,” ancam Hana dengan mata memicing, karena sebagian wajahnya –yang memanas ditutupi guling. Suara tawa geli milik Kai terdengar menyebalkan di telinganya.

“Macam-macam seperti apa?” sebelah alis Kai terangkat dengan senyum ditahan saat melihat Hana mulai salah tingkah di depannya. Ia kembali tertawa seraya mendekatkan diri ke arah Hana dan menarik tubuh wanita itu ke pelukannya.

Rasa panas di wajah Hana semakin menjadi ketika pipinya menabrak dada bidang Kai dengan tangan kekar yang melingkar posesif di punggungnya. “Ini juga termasuk macam-macam, Jong In.”

“Selamat tidur, Han-ah,” Kai mengabaikan protes wanita di pelukannya seraya membuat posisi senyaman mungkin –dalam memeluk Hana lalu meletakkan dagunya di puncak kepala wanita itu.

Senyuman geli muncul di bibir Hana –dan ia mau tidak mau—melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Kai. Semakin menenggelamkan wajahnya mencari kehangatan di pelukan laki-laki –yang kini berstatus sebagai kekasihnya. Harusnya ia tidak perlu mengkhawatirkan kehadiran Sehun lagi, karena hatinya sudah sepenuhnya milik Kai sekarang. Benar ‘kan?

***

Sejak Hana memutuskan untuk memulai lembaran baru  di hidupnya bersama Tae Jun, mungkin benar-benar harus lembaran ‘baru’. Tanpa membawa masa lalunya di kehidupan yang sekarang, termasuk melupakan laki-laki yang pernah menyakiti dan menyia-nyiakannya. Ia hidup dengan baik bersama Tae Jun selama ini dan seharusnya kedatangan Sehun tidak berdampak apapun di hidupnya. Tapi apa jadinya jika Sehun adalah adik kandung dari wanita –yang sudah kau anggap sebagai kakakmu sendiri?

Sore itu Hana bahkan merasa ragu untuk masuk ke kamar Jae Hee hanya karena Sehun ada di sana. Berdiri di samping tempat tidur Jae Hee dengan tangan terlipat di depan dada. Dari kejauhan Hana bisa menilai bahwa Sehun hidup dengan sangat baik selama ini. Tinggi badan yang melampaui Kai, ditambah otot-otot punggung dan lengan yang membuat bahu lelaki itu terlihat lebar dan atletis. Sehun banyak berubah selama lima tahun ini.

“Hana-ya,” panggil Joonmyun lemah saat Hana masuk ke dalam kamar rawat Jae Hee –bersama Kai di sisinya.

Hana tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya pada Kai saat Sehun ikut menoleh dan menatapnya. Bahkan lelaki itu jauh lebih tampan dari pertemuan terakhir mereka yang Hana ingat waktu itu.

Sehun mundur dari sisi tempat tidur dan berdiri di dekat pojok kamar rawat, sementara Hana yang kini bergantian berdiri di dekat Jae Hee –yang melamun bersandar pada headboard tempat tidur. “Eonni?”

“Hari ini dia pergi ke makam,” ujar Joonmyun, menjelaskan keadaan Jae Hee. “Dan dia tidak mau bicara denganku.”

“Waeyo?” tanya Hana heran seraya melirik Sehun –yang terus menatapnya dari sudut ruangan.  Kaki-kaki Hana mulai terasa lemas dan jantungnya sulit sekali dikendalikan untuk melambat sedikit saja hanya karena kehadiran Sehun di sana. Tapi lagi-lagi ia harus bersikap biasa saja di depan Kai, Joonmyun, dan Jae Hee. Sehun cepat-cepat memalingkan wajahnya lalu keluar dari kamar rawat begitu saja.

“Kata dokter, Jae Hee masih shock,” jawab Joonmyun seraya menggenggam tangan Jae Hee dan mengusapnya dengan lembut. “Mungkin masih seperti ini sampai dua atau tiga hari ke depan.”

“Oppa,” kedua mata Hana mulai berair membayangkan perasaan Jae Hee dan Joonmyun lalu ia merasakan dukungan dari Kai –dengan cengkeraman ringan di bahu.

Ekspresi lelah ditambah lengkungan hitam di bawah mata Joonmyun, menunjukkan betapa kerasnya lelaki itu menghadapi masalah-masalahnya selama ini. Senyuman miris yang ditunjukkan Joonmyun membuat perasaan Hana terasa perih. Sungguh ia tidak sanggup membayangkan perasaan keduanya.

Hana menoleh ke arah kekasihnya, memberikan isyarat untuk keluar sejenak dari kamar rawat itu. Keduanya berpamitan pada Jae Hee dan Joonmyun sebelum keluar bersama-sama dari sana. Begitu keluar dari kamar rawat, Hana menitikkan air mata, namun cepat-cepat menghapusnya kembali sebelum Kai menyadarinya.

“Aku akan cari minuman hangat di cafetaria. Kau tunggu di sini saja, eoh?” Kai mendorong tubuh Hana perlahan untuk duduk di kursi dekat pintu kamar rawat Jae Hee, menepuk puncak kepala Hana sebelum berjalan cepat ke arah cafetaria.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Hana. Kehilangan seseorang yang dicintai memang meninggalkan rasa sakit yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Terkadang hanya butuh waktu sendirian, menangisi dan merenungi apa yang sudah terjadi sebelum benar-benar bisa bangkit kembali. Hana pernah merasa kehilangan dan benar-benar terpuruk ketika Sehun meninggalkannya dulu. Tapi Jae Hee berbeda karena kehilangan seseorang yang dicintainya untuk selama-lamanya.

Suara dering ponsel menyadarkan Hana yang kembali melamun. Ia meraih ponselnya cepat-cepat dari dalam tas slempang dan mengangkatnya –masih sambil menundukkan kepala. Suara Tae Jun di seberang sana berhasil memperbaiki moodnya.

‘Eomma?’

“Iya, sayang,” jawab Hana seraya tersenyum simpul.

‘Nanti Tae Jun titip ayam goreng, ya. Eomma pulang jam berapa? Mmm… Kyungsoo hyung pergi kerja, jadi Nayeon noona tidak masak makan malam.’

“Sebentar lagi eomma pulang. Kau mau titip apalagi, Tae Jun-ah?”

‘Susu pisang? Ehehe.’

Mau tidak mau Hana ikut tersenyum karena suara menggemaskan kekehan Tae Jun di dalam telepon. “Ara, nanti eomma belikan untukmu. Jadi anak yang baik, ne?”

Hana menutup sambungan teleponnya sambil menghembuskan napas panjang. Kepala Hana terangkat dan kedua matanya membulat begitu melihat Sehun berdiri di hadapannya dalam jarak satu meter. Napas Hana tercekat dan ia mulai panik karena Sehun terus menatapnya. Terlihat ekspresi keterkejutan dibalik wajah dingin lelaki itu. Jantung Hana berdegup kencang. Dan Hana benar-benar merasa skak mat disana tanpa bisa melarikan diri kemana pun.

Bibir Sehun baru saja terbuka untuk memanggil Hana ketika suara Kai membuat kontak mata di antara mereka terputus. Kai menyerahkan satu gelas cokelat hangat pada Hana, lalu pada Sehun dan memegang satu gelas sisa untuk dirinya sendiri. Hana diam-diam menghela napas karena tidak harus terlihat pembicaraan dengan Sehun.

“Han-ah, kau pulang sendiri tidak apa-apa ‘kan?” tanya Kai seraya duduk di sebelah Hana dengan Sehun yang tetap berdiri di depannya –bersandar pada dinding.

Hana berusaha tidak memperhatikan Sehun dan memilih menatap kekasihnya. “Eoh, tidak apa-apa. Aku mau beli makanan untuk Tae Jun juga sekalian.”

“Mau kuantar dulu?” tanya Kai bernada sedikit khawatir.

Hana menggeleng. “Tidak perlu. Kau pergi kerja saja, Jong In.”

“Araseo,” Kai memberikan kecupan ringan di puncak kepala Hana –mengabaikan Sehun yang membuang muka—sebelum bangkit dari kursi tunggu. “Sehun-ah, ayo berangkat.”

Sebelah alis Hana terangkat begitu Kai mengajak Sehun pergi bersamanya. Apa Sehun bekerja sebagai DJ juga di Triptych? Atau bartender? Bibirnya sebenarnya gatal ingin bertanya tapi ia mengatupkan mulutnya kembali sambil melambai pada Kai yang meninggalkannya sambil mengajak Sehun. Dan kenapa juga Kai dan Sehun terlihat seperti dua orang yang sudah kenal lama sebelumnya?

***

Selama seminggu Jae Hee dirawat, Hana berusaha menghindari jam-jam –dimana Sehun akan berkunjung ke kamar Jae Hee. Pernah sekali ia sedang menjaga Jae Hee dan Sehun tiba-tiba saja masuk ke kamar rawat, membuat Hana cepat-cepat pamit pulang. Secara tak langsung ia menjaga jarak dengan Jae Hee juga karena keberadaan Oh Sehun di sana.

Di siang menjelang sore hari itu Hana membantu Tae Jun mengisi buku –berisi huruf-huruf untuk belajar sementara Kai sedang istirahat di dalam kamar untuk shift nanti malam. Dalam seminggu terakhir Hana juga berhenti dari seluruh pekerjaan sambilannya agar tidak meninggalkan Tae Jun terlalu lama di apartemen Nayeon –atau bersama Kai saja. Ia sedang mencari pekerjaan yang lebih baik di internet dan tidak menyita banyak waktu di sore hingga malam hari.

“Eomma..” panggilan Tae Jun membuyarkan lamunan Hana.

“Kenapa, Tae Jun-ah?” tanya Hana seraya mengusap kepala anak kesayangannya yang masih sibuk mencorat-coret kertas di meja ruang tengah.

“Sebenarnya uri appa pergi kemana?” tanya Tae Jun dengan polosnya tanpa melihat Hana yang menegang karena pertanyaan anak itu.

Hana memejamkan kedua matanya sejenak, membayangkan sosok Sehun yang dilihatnya dulu sebelum meninggalkannya. “Eomma tidak tahu.”

“Tae Jun penasaran dengan uri appa. Apa uri appa tahu kalau kita tinggal disini?” Tae Jun kali ini menoleh, menatap Hana dengan kedua mata bulat –namun segaris dan iris mata berwarna cokelat gelap. Sama seperti Sehun.

“Eomma juga tidak tahu,” Hana berusaha menyunggingkan senyum dan kembali mengacak rambut Tae Jun. “Eh, rambutmu sudah panjang, Tae Jun-ah.” Kini Hana berusaha mengalihkan perhatian anak itu.

“Ah iya, sonsaengnim juga menyuruh Tae Jun potong rambut,” Tae Jun memegang rambutnya sendiri dengan ekspresi bibir sedikit mengerucut. Kentara sekali kalau anak itu tidak suka mencukur rambutnya.

Hana terkekeh geli. “Nanti pergi ke barber shop dengan Jong In hyung, ya?

Ekspresi Tae Jun menjadi semakin keruh. “Tapi mau dua susu pisang ya, eomma.”

“Eomma belikan lima untukmu, Tae Jun-ah.”

“Yay!” seru Tae Jun senang seraya berlari memasuki kamar, membangunkan Kai yang selama dua jam terakhir berada di alam mimpi. Hana memiringkan kepalanya untuk melihat ke kamar –dari pintu yang terbuka dan menemukan Kai yang malah menutupi kepala dengan bantal, menghindari Tae Jun yang dengan heboh membangunkan lelaki itu.

Hana terkekeh geli lalu menghampiri Tae Jun di dalam kamar, menghentikan anak itu –karena sepertinya Kai memang benar-benar butuh tidur. “Pergi dengan eomma saja, Tae Jun-ah.”

“Tapi susu pisangnya—.”

“Eomma tambah jadi enam, ne?” Hana berjongkok menyamai tinggi Tae Jun sambil mencubit kedua pipi gembul anak itu.

“Jinjja?!” Tae Jun memekik heboh kemudian tanpa aba-aba menarik tangan Hana begitu saja menuju pintu depan.

“Eomma pakai mantel dulu, sayang. Tunggu sebentar,” senyum geli muncul di bibir Hana karena Tae Jun –yang tidak sabaran dan segera berlari ke dalam kamar untuk mengambil mantel. Ia menyempatkan diri mengecek Kai yang kembali tertidur pulas lalu berpamitan keluar sebentar pada lelaki itu –walaupun tidak akan dijawab.

Begitu keluar dari apartemen, Hana dan Tae Jun berpapasan dengan Kyungsoo yang juga keluar dari apartemennya. Kyungsoo terlihat terburu-buru dengan hanya menyapa singkat lalu berlari menuruni tangga. Hana mengedikkan bahu lalu memegangi tangan Tae Jun menuju tangga, hingga langkahnya terhenti sebelum menginjak anak tangga pertama karena sosok laki-laki yang berdiri di depannya.

Oh Sehun.

Jantung Hana kembali berdetak cepat dan kedua matanya membulat. Bahkan suara protes Tae Jun –yang menariknya untuk segera menuruni tangga pun tidak dihiraukan Hana. Pandangan Hana terfokus pada Sehun yang berdiri di bawah sana –yang juga menatap ke arahnya.

“Eomma~,” Tae Jun merengek masih sambil menarik tangan ibunya.

Berbagai umpatan dikeluarkan oleh Hana di dalam hati ketika ia berhasil memutus kontak mata di antara mereka dan kembali melihat ke arah Tae Jun. “Sepertinya eomma lupa bawa dompet. Ayo kita—.”

“Hana-ya.”

Entah bagaimana caranya suara Sehun bisa membuat kaki Hana lemas dan membuat udara di sekitarnya terasa panas. Tanpa sadar Hana mencengkeram tangan Tae Jun yang berada di genggamannya dan bersiap kembali ke apartemen saat Sehun melangkah lebih cepat –dengan kaki panjangnya dan menghadang Hana –serta Tae Jun di koridor lantai dua. Kedua mata Hana mencari fokus lain –agar tidak melihat langsung ke arah laki-laki itu.

“Hana-ya,” Sehun kembali memanggil nama Hana dengan suara rendahnya. Tatapan lelaki itu tertuju pada anak kecil di dekat Hana, menatap polos dengan mata bulat ke arahnya. Tiba-tiba saja ia merasa terenyuh, tatapan anak itu membuat hatinya menghangat entah kenapa.

“Kalau memang tidak ada yang penting, aku—.”

“Aku butuh bicara denganmu. Berdua,” Sehun mengembalikan tatapannya ke arah Hana, ia melihat kedua tangan wanita itu terkepal di samping tubuh.

“Wae?” mata Hana terasa panas saat ia memberanikan diri untuk balas menatap Sehun. “Apa yang kau mau lagi dariku?! Urusan kita sudah selesai sejak kau menghilang lima tahun lalu!”

Sehun menangkap ekspresi bingung di wajah anak kecil itu, apalagi ketika air mata mulai mengalir di pipi Hana. “Hana-ya.”

“Wae?!” seru Hana lalu terisak pelan seraya menutupi kedua wajahnya. Bahu kecilnya bergetar, Tae Jun yang terlihat kebingungan hanya memeluk kaki Hana dengan pandangan was-was ke arah Sehun. “Berhenti memanggilku seperti itu… Hiks—.”

Hati Sehun terasa mencelos, tidak pernah menduga bahwa tangisan Hana akan pecah di hadapannya. “Aku menunggumu di bawah.” Ujarnya seraya melewati Hana dan menepuk puncak kepala Tae Jun beberapa kali.

Tangan Hana otomatis meraih dinding, menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri agar tidak limbung. Ia sungguh merutuki air matanya yang keluar disaat yang tidak tepat. Padahal harusnya ia bersikap tegar dan menunjukkan bahwa ia baik-baik saja setelah ditinggalkan laki-laki itu. Bahkan ketika  Sehun hanya menyebut namanya, dinding pertahanan Hana runtuh begitu saja.

“Eomma…. Hyung itu membuat eomma menangis,” ujar Tae Jun pelan sambil mendongak untuk melihat ibunya.

Hana segera menghapus sisa-sisa air mata di pipinya lalu berlutut di depan Tae Jun. “Tae Jun-ie tunggu di apartemen sebentar ya. Nanti eomma jemput lagi.”

Ekspresi Tae Jun menunjukkan penolakan, namun Hana segera menggendong anak itu dan membawanya kembali ke apartemen. Mendudukkan Tae Jun di sofa ruang tengah, sebelum dirinya keluar dari apartemen lagi dan menuruni tangga menuju lantai bawah. Dari dalam pintu masuk ke gedung apartemennya, Hana bisa melihat punggung lebar Sehun yang menunggunya di depan sana. Kenapa juga ia mau menuruti Sehun untuk berbicara berdua saja?

Hana sebenarnya berniat untuk kembali ke atas ketika Sehun tiba-tiba berbalik dan melihat ke arahnya. Dengan kaki yang berat Hana akhirnya mendorong pintu kaca itu, keluar dari gedung apartemen dan berdiri di sebelah lelaki itu. Tidak ada pembicaraan yang terjadi selama beberapa menit. Hanya hembusan angin musim gugur menerpa dua orang yang diam seperti patung selamat datang.

“Dia mirip denganku,” Sehun membuka suara pertama kali dengan senyum tipis terukir di bibirnya.

Kedua mata Hana hanya menatap ujung sepatu flatnya, tidak mau berkomentar. Jelas sekali ia membenci kehadiran lelaki itu –lagi di hidupnya. Dan ia tidak akan merespon ucapan Sehun mengenai Tae Jun karena anak itu miliknya. “Ada apa?” tanyanya dingin.

Hembusan napas panjang dikeluarkan Sehun lalu ia menoleh ke arah Hana yang diam dengan kepala tertunduk di sebelahnya. Sebenci itukah Hana sampai tidak mau melihat ke arahnya? Selama dua tahun ini ia setengah mati mencari keberadaan Hana, merutuki kebodohannya di masa muda karena bersikap egois dengan meninggalkan Hana –yang tengah mengandung anaknya. Mungkin ia memang brengsek, pecundang, atau apapun semua kata-kata buruk untuknya ia akan terima. Tapi ia benar-benar serius mencari Hana, bermaksud memperbaiki apa yang pernah ia rusak dulu.

Sehun sadar bahwa ia harusnya tidak kembali mengacak-acak hidup bahagia Hana. Tapi ia tidak bisa terus hidup dalam penyesalan, bukan?

“Mungkin kata ‘maaf’ akan terdengar klise karena kau pasti menutup semua pintu maafnya untukku,” Sehun berujar pelan, tetap memperhatikan Hana yang diam di sampingnya. “Aku tidak akan berani meminta maaf padamu sekarang, Hana-ya.”

“Apa maksudmu sebenarnya?” Hana mengangkat kepala, kali ini meyakinkan dirinya sendiri agar tidak menangis di depan Sehun.

“Aku mau memperbaiki semuanya,” jawab Sehun seraya memiringkan tubuhnya agar bisa lebih jelas melihat Hana. Bahkan setelah lima tahun berlalu, sosok Hana yang selalu terlihat cantik pun tidak berubah. “Setelah menebus semua kesalahan di masa lalu, mungkin aku baru berani meminta maaf darimu.”

“Wae? Kenapa kau muncul sekarang dan bersikap seperti pahlawan kesiangan?” tanya Hana sarkastik dengan tangan terlipat di depan dada.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Hana-ya,” Sehun sadar bahwa ia pantas dibenci oleh Hana setelah semua yang terjadi selama ini.

“Bagaimana caranya menebus kesalahanmu, Sehun-ssi? Apa aku terlihat seperti seseorang yang akan memaafkanmu?” Hana menahan sekuat tenaga air matanya agar tidak keluar dengan bersikap sinis pada lelaki yang pernah merusak masa lalunya.

Senyum simpul terukir di bibir Sehun, ia maju selangkah dan menaruh kedua tangannya di bahu Hana. “Kau bukan orang jahat, Lee Hana. Kau bukan tipe seseorang yang akan membiarkan orang lain tersiksa.”

Hana menepis tangan Sehun dari kedua bahunya seraya memalingkan wajah ke samping. “Aku tidak yakin.”

“Kalau begitu aku pulang dulu,” Sehun kembali menyunggingkan senyum –kali ini sedikit lebih lebar, mengusap lengan Hana beberapa kali sebelum melangkah cepat di jalan kecil komplek gedung apartemen itu dan menghilang di belokan jalan.

Dan seketika Hana menutup wajah dan menangis, merasa bodoh karena ia tidak bisa bersikap tegas pada Sehun. Bahkan pada laki-laki yang pernah menyakitinya pun, hatinya tetap tidak bisa menolak kehadiran lelaki itu. Ia benar-benar kacau. Seorang Lee Hana yang berusaha mati-matian melupakan masa lalunya, kini usahanya tidak berarti lagi.

Suara berisik dari arah pintu kaca disusul dengan sebuah pelukan hangat yang melingkari tubuh Hana, membuat tangis wanita itu semakin menjadi. “Astaga. Aku benar-benar panik saat Tae Jun bilang kau menangis. Dimana orang itu, Han-ah? Pergi kemana laki-laki yang berusaha menyakitimu?”

Hana mencengkeram kaus di bagian pinggang milik kekasihnya seraya menggeleng pelan di dalam pelukan posesif lelaki itu. “Gwenchana….”

“Aigoo,” Kai bergumam pelan dengan hembusan napas panjang, masih sambil mengusap-usap punggung Hana. Ia tidak mengerti kenapa Hana menangis karena seorang laki-laki tidak dikenal –seperti apa yang diceritakan Tae Jun tadi. Dilihat secara fisik pun Hana baik-baik saja. Kecuali jika laki-laki itu menyerang mental dan hatinya dengan kata-kata kasar atau menghina, seperti apa yang pernah Hana terima di masa lalu.

***

Sejak hari itu, Hana menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Tidak ada kehadiran Sehun selama beberapa hari terakhir. Kini Hana mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran cepat saji, ia memilih shift pagi hingga sore hari selama lima hari dalam seminggu dan mendapatkan gaji yang lumayan. Sebelumnya ia harus mengambil dua pekerjaan untuk mencapai jumlah gaji di tempatnya yang baru. Intensitas pertemuannya dengan Kai semakin berkurang, karena ketika ia pulang ke apartemen Kai sudah siap-siap pergi ke Triptych. Ia mulai merindukan interaksi bodohnya dengan Kai seperti biasa.

Di jam istirahat Hana dikagetkan dengan kedatangan Sehun di tempatnya bekerja. Hana yang berusaha menyembunyikan diri di dapur pun tidak berhasil. Rekan kerja wanitanya terlalu terpesona dengan ketampanan Sehun hingga secara refleks memberitahu keberadaannya. Pada akhirnya Hana terpaksa duduk berhadapan dengan Sehun di sudut restoran itu.

“Kenapa?!” tanya Hana sinis tanpa mau melihat ke arah lelaki itu dengan menundukkan kepala.

Sehun tersenyum simpul seraya menopang dagunya ke atas meja, berusaha memperhatikan Hana dengan jarak yang lebih dekat. Hana kembali pada mode dingin dan galak seperti saat ia dekati pertama kali. “Kau terlihat cantik saat berdiri di belakang kasir.”

“Lalu apa hubungannya dengan mengajakku duduk di sini?” Hana kembali bertanya –sambil berusaha menyembunyikan rasa gugupnya karena dipuji oleh Sehun, kali ini memberanikan diri menatap Sehun tepat di mata. Dan ya harus diakui bahwa ia seperti menatap Tae Jun jika melihat sepasang mata milik lelaki itu.

“Temani aku makan.”

Sifat Sehun yang selalu berusaha mendominasi ternyata tetap tidak berubah. Dan Lee Hana yang tidak bisa memberontak pun tetap sama saja. Hana duduk di sana, memperhatikan Sehun yang memakan potongan ayam goreng ditemani segelas cola tanpa mengatakan apapun. Padahal Hana dibelikan makanan juga oleh Sehun, tapi tidak bernafsu makan di hadapan lelaki itu. Rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Aku harus kerja, Sehun-ssi,” Hana segera bangkit dari kursi dan bersiap pergi dari sana ketika Sehun tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

“Aku lihat Tae Jun di sekolahnya tadi,” ujarnya dan sontak membuat Hana membalikkan tubuh.

“Apa yang kau lakukan padanya?!” tanya Hana cepat, bernada keras dan membuat perhatian beberapa orang tertuju pada keduanya.

Sehun melirik kanan-kiri, menyadari ia dan Hana telah menjadi pusat perhatian. Ia ikut berdiri dan mendorong Hana kembali ke tempat duduk. “Hanya lihat dari kejauhan. Dia dijemput Jong In tadi.”

Hembusan napas lega terdengar dari bibir Hana dan ia segera mengalihkan pandangannya dari Sehun yang kembali duduk di hadapannya. “Jangan pernah mendekatinya.”

“Bagaimana cara aku memperbaikinya kalau tidak boleh dekat dengan Tae Jun?” Sehun menghentikan kegiatan makan siangnya –yang kini sudah tidak menarik di matanya—lalu menopang tangannya di atas meja, mendekati Hana. “Marganya Tae Jun tetap ‘Oh’ sampai kapan pun, Hana-ya. Dia anakku juga.”

“Tch, anakmu?” Hana menyeringai pelan seraya melirik sinis pada Sehun. “Anak yang mau kau bunuh dan kau tinggalkan begitu saja? Sekarang kau mengakui Tae Jun sebagai anakmu? Heol, daebak!”

“Lee Hana, sudah kubilang kalau aku—.”

Dengan cepat Hana berdiri dari kursinya, ia hampir saja menyiramkan cola ke wajah Sehun –jika tidak ingat posisinya sebagai pegawai baru di sana—kemudian melangkah lebar kembali memasuki dapur. Rasa jengkel memenuhi kepalanya dan ia tanpa sadar membanting pintu masuk dapur. Mengagetkan pegawai yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hingga seorang koki wanita menghampirinya dengan ekspresi berbinar.

“Woaah, apa itu pacarmu, Hana-ya?” tanyanya dengan kedua tangan terkatup.

“Kau tidak bilang punya pacar se’hot’ itu,” timpal pegawai wanita yang lainnya, namun Hana hanya mendengus pelan.

“Dia hanya mantan pacar yang mengemis minta dimaafkan,” jawab Hana sambil lalu dan kembali ke meja belakang kasir, bergantian dengan temannya. Mengabaikan Sehun yang keluar dari restoran, menggumamkan sesuatu padanya dengan senyum tipis –dan ekspresi penuh penyesalan.

***

Sebenarnya ada yang mengganjal di pikiran Kai akhir-akhir ini. Sejak ia menemukan Hana menangis di depan gedung apartemen waktu itu, Hana menjadi lebih pendiam dan tidak banyak merespon gurauannya. Apalagi ditambah waktu kebersamaan yang semakin berkurang karena pekerjaan baru wanita itu. Ia dan Hana bahkan tidak punya waktu untuk membahas sesuatu yang mengganjal di dalam hubungan mereka.

Dan itu mengganggu pekerjaan Kai di malam hari.

“Kai?” suara Jae Rim –di antara hingar bingar Triptych sontak menyadarkan Kai yang melamun di meja bar. “Ada masalah?”

“Anhi,” Kai berusaha mengulas senyum pada Jae Rim yang menaiki kursi di sebelahnya.

“Bertengkar dengan pacarmu lagi?”

Pertanyaan dari Jae Rim dijawab dengan gelengan kepala oleh Kai lagi. Tidak yakin apakah ia memiliki masalah pada Hana. Sebelum membuka mulut untuk bercerita, Jae Rim sudah turun dari kursi dan mengejar wanita berambut pirang dengan pakaian ketat yan melewati mereka. Dengusan pelan keluar dari bibir Kai dan ia kembali meneguk orange juicenya.

Dari kerumunan di lantai dansa, mata Kai menangkap sosok Sehun yang tengah menari –dalam jarak sangat dekat—dengan seorang wanita. Mereka saling berpelukan dan saling berbisik dengan senyum-senyum menggoda yang entah kenapa membuat perut Kai terasa mual. Ia harus akui ketampanan Sehun dan kemampuan lelaki itu dalam merayu wanita, memang tidak ada tandingannya. Berlaku juga untuk semua bawahannya yang ia bawa ke Triptych. Pengunjung di Triptych semakin banyak setelah Sehun menjadi leader escort di sana.

“Kau sering berangkat bersama Sehun akhir-akhir ini,” komentar Minho ketika menangkap pandangan Kai yang terus tertuju pada Sehun.

“Dia adik dari seseorang yang kukenal cukup dekat,” Kai mengendikkan bahu tak acuh dan memutar kembali tubuhnya menghadap Minho.

Minho menyerahkan segelas vodka pada seseorang di sebelah Kai lalu sibuk merogoh saku celananya, mengambil ponsel. “Hey, apa aku boleh lihat foto Hana lagi?”

Pertanyaan dari Minho sontak membuat kening Kai berkerut dan menatap curiga pada Minho. “Untuk apa?”

“Chill, Kai. Aku hanya mau memastikan saja,” Minho  menaruh ponselnya di atas meja sambil menunggu Kai yang mengotak-atik ponsel, mencari foto Hana dari ribuan foto –berisi wajah anak kecil—di gallery.

Kai menemukan foto Hana di antara foto-foto Tae Jun lalu menunjukkannya ke hadapan Minho. “Ini Hana, wae? Kau ‘kan sudah lihat fotonya waktu itu.”

Senyuman di wajah Minho memudar. Tatapannya beralih pada Sehun yang masih sibuk dengan wanita di antara kerumunan orang. Ia meraih ponselnya kembali yang masih menampilkan sebuah foto yang didapatkannya kemarin siang. Well, ia awalnya hanya iseng mengambil gambar Sehun yang bertemu dengan wanita muda, siang hari dan di restoran cepat saji pula. Tapi setelah dilihat-lihat, ia seperti mengenali wanita yang bersama Sehun di dalam foto itu. Dan ia semakin yakin setelah melihat foto Hana di ponsel Kai.

“Kenapa, hyung?” Kai memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan menatap heran pada Minho yang terdiam.

“Apa Hana kenal dengan Sehun juga?” tanya Minho memastikan, sebelum benar-benar memberitahu hasil fotonya pada Kai.

“Eoh, tapi tidak kenal dekat sih. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah Jae Hee keluar dari rumah sakit,” Kai menjawab dengan santainya sambil meneguk orange juicenya kembali.

“Jinjja?” Minho menghela napas panjang lalu menunjukkan layar ponselnya –yang masih berisi foto Sehun bersama wanita mirip Hana ke hadapan Kai. “Kalau tidak salah lihat…. Sehun bersama Hana di sini.”

Dan Kai hampir tersedak minumannya ketika melihat dua sosok yang berada di dalam foto itu. Berbagai umpatan dan caci maki dikeluarkan Kai di dalam kepalanya saat melihat kedekatan di antara keduanya. Sehun menopang dagu di atas meja, mendekat ke arah Hana dengan senyuman geli, sementara Hana menunduk –dengan ekspresi malu. Ekspresi malu! Shit, Kai bahkan membutuhkan dua tahun untuk melihat ekspresi itu.

Kedua tangan Kai terkepal tanpa sadar. Hana bahkan tidak cerita bertemu dengan Sehun padanya.

[DEEPEST MEMORIES] — 9TH PART CUT


IMA’s Note :

Love you :*

Get well soon calon appanya Tae Jun :3 /aka Kim Jong In/

Regards,

IMA♥

84 responses to “{KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 9TH PART [BY IMA]

  1. senengg.. lanjutann partnya di postingnya cepetttt bgtt ㅠㅠ.
    dan ceritanya makin serrruuuuuu. konfliknyaaa akhirnya muncul jg nihhh jongin sehunnnn. ga nyalahin hana jg sih mgkin dia butuh waktu. tp kasian kai jg.. dtgguuu bgt klanjutannyaaa imaa. fightingg!!!

  2. Wah konfliknya makin seru aja🙂 pertarungan kai dan sehun akhirnya dimulai🙂
    Tapi entah kenapa aku dukung sehun hana ??
    Ditunggu next chapnya kk🙂

  3. Sehun kerja di tempat yang sama dengan jong in?
    Kirain sehun orang kaya.
    Dukung jongin tentunya dan hana berada dalam kebingungan

  4. duhhhhhh jong pasti nanti bkl tau semuanya trz gimana dg pilihan Hana nanti ya??? pilih kai or sehun???? konflik bkl muncul nich

  5. harusnya Hana cerita sama Jongin, kalo udah gini mah pasti salah paham -___-
    Sehun telat banget mau tanggung jawabnya, setelah ninggalin Hana bertahun2 dia baru sadar kalo dia salah, walaupun sebenernya dia juga sempet nyari Hana sih..
    kasian Taejun, kurang kasih sayang ayah..
    di tunggu next chapternya ^^

  6. seneng eh kalo liat jongin cemburu teh haha
    siap siap konflik nih, semoga jongin ga salah paham gitu aja hii

  7. Kakkk plis dehhhh jangan bikin sehun balikan lagi sama hanna huwaaaa bikin galau aja huhu
    Next ditunggu kakk
    Update soon
    Hwaiting! Xoxox

  8. Big war, sepertinya next chap. 😔😟
    Ah Jongin, please jangan salah paham. Dan Hana, jangan sampai kemakan omongan Sehun lagi. Cukup maafkan, lalu semua berjalan dengan Jongin dan Hana. Biarkan Sehun menerima kenyataan, don’t disturb Hana again, please! Biarkan dia bahagia dengan calon appa Tae Jun yang baru, Jongin. 😙
    Semangat terus kakak 🙆🙆🙆

    Oh ya kak aku ganti id line aku dari vian88 jadi MaxVi ya #fyi *nggakpentingbangetsih 😅

  9. Big war, sepertinya next chap. 😔😟
    Ah Jongin, please jangan salah paham. Dan Hana, jangan sampai kemakan omongan Sehun lagi. Cukup maafkan, lalu semua berjalan dengan Jongin dan Hana. Biarkan Sehun menerima kenyataan, don’t disturb Hana again, please! Biarkan dia bahagia dengan calon appa Tae Jun yang baru, Jongin. 😙
    Semangat terus kakak 🙆🙆🙆

    Oh ya kak aku ganti id coment aku dari vian88 jadi MaxVi ya #fyi *nggakpentingbangetsih 😅

  10. haduuuhh kasian jongin jd merasa paling bodoh…gak ngerti apa2 soal masa lalu hana..dan nemu fakta soal sehun dan hana pediiiihhh meeennn….
    hana dan jongin butuh bicara berdua sepertinya…hana kenapa gak coba jujur aja…kalo ditutupin terus kai tau dr yg lain marah terus mundur gmn??kan cediiihhh….thehun juga jangan godain hana lagi…cukup pdkt sama taejun ajaa….hmmm

  11. ‘Dia mirip denganku’ jelaslah mirip lu, lu kan ayah brengceknya
    Hanna kapan coba jujur sama kai?? Kacian jongen😢😢
    Next ya😘

  12. Aaaaaaa..siaal… baru ajha KaiNa mau sayang2an..eeeeeeehhh si kampret Sehun datang diantara mrka.. ckkkckckckckk rasanya pengen ngasih bogem ke Sehun… aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Pliiiissss jangan bikin KaiNa brtengkar ya IMA…pliiiisssssss
    Aq gk bakalan setrong kalo KaiNa berantem,apalagi kalo ada Taejun…Aaaaaaa rasanya campur aduuukkk..pengen nangis.. sabar Kai… jangan emosi.. #getwellsoonKai

  13. Akan ada perang lagi nih… semoga Kai bisa ngomongin baik-baik sama Hana..
    Kesel sama Sehun.. udah ninggalin Hana, buat hidup Hana susah sekarang enak aja mau balik.. kayaknya gampang banget.. kalo Hana pengen balik sama Sehun sih berarti Hana bodoh..

  14. hy kaq…
    maaf sbelum na dari teaser ampe chap 8 aq jdi sider kakaq…
    maaf …maaf bgt….
    jujur aq suka bgt am cerita yg kakak buat …
    cara kakak gmbarin jong sbgai llaki yg gk pntang mnyerah..
    cara kakak buat sosok hena yg kuat dan gk knal llah dmi kbhagian taejun..
    sumpah kaq….
    keren bgt…
    ttep smngat y kaq buat lnjutin cerita na..
    dn pliss jgn buat hena pisah am jong…
    dn..
    maaff sebesar bsar na …

    ex_sider…
    xoxo

  15. ak gk tau kmren komen q udh msk blm, jd mo komen lg aj deh, hehe
    makin seru aj nih, dg datengny sehun.. hayo lo, hana galau..

    moga kai gk slh pham deh..

  16. ohh plis jangan bikin Jongin-Hana berantem, dan semoga Jongin nggak terlalu emosi sama Hana karena susah banget kaaan dapetin dia dulu 😢
    jangan bikin Sehun jadi perusak mereka yah, dikit” doang gapapa deh 😅

  17. UGH… Sehun muncul dan.. duh.. salah paham deh. hana juga sih kok ga jujur aja ama kai. emang ya kadang kita gabisa berbuat banyak ato gabisa bertindak tegas meski org tsb uda sering or banyak nyakitin (bikin sakit hati) dan hanya bisa diem dipojokan *apadah
    ini sedang gawat”nya dan… tbc uhuhu

  18. Sumpah ini fanfic bikin baper, apa setelah ini Kai sama Hana bakal berantem. Harusnya Hana cerita ke Jongin siapa itu sehun, biar gak jadi salah paham gini, lagian setelah semua perbuatan yang dilakukan sehun ke hana beraninya dia datang lagi dengan santainya ke hana….
    Tetap semangat thor nulis fanficnya, dan cepat di post next chapter. Aku lupa aku sebelumnya pernah komen atau gak, menurutku sih udah. Tapi maaf sebelumnya buat author karena aku jarang meninggalkan jejakk 😊☺😍😘😚😗

  19. OHMAIGAT FINALLY MEREKA DIPERTEMUKAN OLEH KAK IMA T.T akhirny mimpi sy selama ini buat fanfic deepest memories terwujud jg, aku tersandung :” sehun greget ih, mn bikin ngefly gt lg hadooh, kan hana mau move on jd kesandung lg :”v apa yg km lakukan itu juahad, sehun! Ini jd penasaran hana ujungny sm sp. Tp kl berdasarkan otp yg ada kan ujung2ny hana itu biasany sm jongin jd ya kl ujungny sm jongin yah mau gmn lg. Sweet jg sih sm jongin haduuu :””. Tp sehun menghancurkan jalan cerita, kl hana ujungny sm sehun lbh asik2 jos. Bikin alternative ending gt kak im :” ditunggu kelanjutanny yaaa, semangat nulisnyaa ^^

  20. kmren aq uda bca n komen tp komennya g mncul” ap hp ku yg lemot ya, skrg komen lgi, maap ima klo nyepam (klo yg kmren kkirim sih jd 3 komen) 😂
    aq sih brharapnya Sehun bsa move on dr Hana n cri cewek lain, Hanna kn uda mlih Jongin, jdi hbungan mreka ckup appa n eomma nya TaeJun aj, g ad hbungan apa”, cma jdi org tua nya TaeJun dah g lbih,,
    lgian tingkahnya Sehun nyebelin bgt sok imut gtu -______- sini jewer jewer #jewerSehun
    aih Jongin jgn umup dlu dnk, ntr tau” nonjokin Sehun lg, jgn atuh bangJong, sayang tu wjah imutnya Sehun klo dtonjokin :’v
    gsabar nnggu next part, keep fighting yaa ima !!! :* :* :*

  21. awal ceritanya bikin nyesek, baper deh liat hana dg kesedihannya…

    mau nya sehun ap sih.. stlh lima thn mnghilang trs datang mau dekati taejun.. ok iy.. itu emang anak ny.. dan bagus la kalo dia emang nyesal..

    haduu.. tp aku khawatir sm kai ni.. hub’an hana sm kai kn lg sweet sweet ny.. eh.. sehun datang..

    hmmm bakal ad perang ni..
    sebaikknya hana cepat2 cerita k kai ttg masa lalu nya sm sehun, sbln kai salah paham.. dan mungkin kai akan mngerti dan menerimanya..
    huu… jgn sampai deh hub’an hana dan kai rusak gara2 ini..

    jujur nih… hati ku sedikit goyah pengen sehun balikan lg sm hana.. haa.. untung langsung teringat sm wajah kai..
    kalo hana balik sm sehun kan kesian sm kai ny..
    tp emang lebih suka sm hub’an hana jongin deh…

    kak buat POV sehun donk ttg penyesalannya sm hana, biar aku gak kesel ni sm sehun..

    keep writing kak..
    fighting..

  22. Makin seru aja Ka~~
    Semenjak ada Sehun jadi was-was terus nih. Mana Kai.udah tau pula, Penasaran sama next chapter. Btw, aku ga bisa bayangin Sehunjd escourt ><

  23. makin zerruuuu. lee hana sama kai sosweeet banget aaaaa~. kenapa pas hubungan mereka lagi sweet sweet nya si sehun dateng sih :3 siapa yg bakalan di pilih sama hana.. penasaran sama next chapter nya…
    keep writing kak! semangat!

  24. Haduhhhhh kenapa tbtb pengen hana sm srhun ya/?
    Kenapa tbcnya pas bagian ini jadi penasaraaaan😂 keep writing ya ka💞

  25. Pingback: {KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 10TH PART [BY IMA] | SAY KOREAN FANFICTION·

  26. Aaaaaahh tidakkkkk salah paham kai salah pahamm
    Hana cerita aja dong sama kai, kasian jadi nanggung beban sendiri gitu😦
    Omg pensaran banget sama lanjutannyaaaa semoga cepet hidup bahagia ya kamu hana :’)

  27. Pingback: {KIM TALES} DEEPEST MEMORIES — 11TH PART [BY IMA] | SAY KOREAN FANFICTION·

  28. Minho resek juga yaa hmm ngapain sih ngasih tau ke kai😦

    Kai plis deh ya jangan marahin hana😦
    Dengerin dulu penjelasannya hana dong:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s