Mending Mistakes [Chapter Four : Conspire]

mending mistake(6) poster

Soo Yeon telah berbohong. Ia berkata akan segera menikah dengan atasannya. Sekarang, ayahnya meninggalkannya sebuah warisan yang besar atas nama ‘Oh Soo Yeon’. Atasannya bahkan tidak pernah berbicara padanya, apalagi mengajaknya untuk menikah. Apa yang akan Soo Yeon lakukan? Tentu saja membuat Se Hun jatuh cinta dengannya.

MENDING MISTAKES

Lee Soo Yeon – Oh Se Hun – Cha Eun Sang – Kim Jong In

Romance, Drama, Family, Friendship

PG-15

Previous Chapter :

[Chapter One : Little White Lie] [Chapter two : The Plot] [Chapter Three : Friendly Terms]

.

.

.

CHAPTER FOUR : CONSPIRE

.

.

.

“Kencanlah denganku.”

Se Hun hampir tersedak minumannya.

“Apa?” tanya Se Hun, terkejut.

Melihat raut wajah Se Hun membuat Soo Yeon segera mengangkat kedua tangannya. “Aku…aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku, maukah kau pergi denganku sebagai teman?”

Alis Se Hun terangkat dan dengan nada menggoda ia bertanya, “Sebenarnya seperti apa yang kau kira aku pikirkan?”

Soo Yeon tersipu mendengar pernyataan Se Hun dan merasa gelisah di tempat duduknya.

Se Hun tertawa. “Aku hanya menggodamu. Aku tahu apa yang kau maksud,” ucapnya sambil tersenyum.

Setelah diam sejenak, Se Hun masih tidak memberikan Soo Yeon jawaban.

“Jadi…hmm…bagaimana menurutmu?”

“Maaf,” ucap Se Hun pada akhirnya. “Aku tidak bisa.”

Soo Yeon akan berbohong pada dirinya sendiri jika ia tidak mempertimbangkan kemungkinan permintaannya ditolak. Bagaimanapun, itu tetap menghancurkan hatinya karena penolakan Se Hun.

“Aku cukup sibuk setiap hari walaupun sesekali, seperti ini, ketika aku harus melarikan diri dari pekerjaan untuk meringankan bebanku. Dan ketika aku memiliki waktu luang untuk pergi, kebanyakan kuhabiskan untuk bertemu temanku yang jarang sekali kulihat.”

Dengan senyum palsu terpampang di wajahnya, Soo Yeon mengangguk mengerti.

“Sekedar kau tahu saja, aku senang menghabiskan waktu denganmu. Kau orang yang sangat…..menarik, Soo Yeon,” akui Se Hun dengan sunggung-sungguh lalu ia berdiri dari bangku taman. “Waktumu akan sangat berguna jika dihabiskan bersama teman dekatmu sendiri dan juga pria yang berhak mendapatkannya. Jangan membuang-buangnya dengan menghabiskan waktu luangmu dengan atasanmu sendiri,” ucap Se Hun dengan tawa canda.

“Di samping itu, aku yakin banyak pria yang mengantri untuk mendapat kesempatan berkencan denganmu,” ucap Se Hun sambil menatap Soo Yeon lekat. “Kecuali mereka buta,” tambah Se Hun.

“Apa kau buta?” ucap Soo Yeon tanpa berpikir panjang, lagi. Ia tidak tahu mengapa tapi ia selalu terlihat bodoh ketika berbicara dengannya.

Se Hun mengangkat bahunya yang bidang dengan sebuah seringaian di bibirnya.

“Mungkin.”

Soo Yeon tersenyum padanya lalu berdiri. “Selamat malam, Sajangnim.”

“Sampai bertemu senin nanti,” ucap Se Hun dengan anggukan kecil di kepalanya, lalu Se Hun berjalan kembali menuju pintu masuk taman di seberang kantornya.

.

.

.

“Kupikir itu patut dicoba,” ucap Soo Yeon dengan nada frustasi.

Eun Sang menatapnya dengan tatapan sedih di wajahnya. “Kalau begitu ia benar-benar buta. Tidak hanya itu, ia juga brengsek!”

Kepala Soo Yeon tiba-tiba terangkat dari atas meja. “Ia benar-benar pria yang baik. Aku bahkan seharusnya bersyukur dari awal ia telah jujur padaku. Lagipula itu lebih baik daripada mempercayai hal yang tidak mungkin.”

“Ya, tapi…setidaknya ia bisa memberimu kesempatan, kan?” ucap Eun Sang membela teman baiknya.

“Walaupun aku tidak bisa menyalahkannya, bagaimanapun juga aku hanya seorang sekretaris,” ucapnya mengungkapkan alasannya yang realistis. “Dia terlalu baik untukku.”

“Oh, Soo Yeon, jangan seperti itu. Kesempatan lain akan datang. Ini masih terlalu cepat untuk itu, jadi jangan langsung menyerah. Kau tidak akan pernah tahu ketika kau mungkin mendapatkan kesempatan lain. Hanya saja pastikan kau benar-benar merayunya lain kali.”

Soo Yeon mendongak padanya dan tersenyum tipis sebelum menatap ke bawah jalan raya dengan wajah yang penuh dengan kegembiraan. Mereka sekarang sedang makan siang di salah satu restoran yang berada satu lantai di bawah kamar apartemen mereka.

“Bagaimanapun ia benar-benar pria yang baik,” ucap Soo Yeon, membuat Eun Sang menatapnya dengan penuh arti.

“Cukup baik bagimu untuk jatuh cinta padanya secepat ini?”

Mendengarnya memberikan sebuah sentakan di tubuh Soo Yeon. Jatuh cinta? Ia tidak jatuh cinta padanya.

“Sepertinya kau sudah mulai jatuh cinta padanya,” jelas Eun Sang.

“Aku hanya…takjub. Ia benar-benar orang yang mengaggumkan, itu saja. Sangat sulit untuk tidak menyukainya.”

.

.

.

“Soo Yeon-ssi?” ucap Se Hun melalui telepon sementara ia menandatangani beberapa dokumen dengan cepat.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Sajangnim?”

“Kemarilah,” ucap Se Hun dan beberapa detik kemudian, Soo Yeon masuk ke dalam ruangan atasannya. Se Hun mendongak dan mulai menumpukkan beberapa kertas. “Aku ingin kau dokumen ini di fotokopi dan fax ke Paris. Katakan pada Hye Rim untuk menyebarkan fotokopian itu segera ke kantor pusat di sana.”

“Hye Rim?” sahut Soo Yeon sambil mencatat semua yang dikatakan Se Hun dengan cepat.

“Sepupuku. Ia merupakan CEO Samsung di Paris. Ia tahu apa yang harus ia lakukan tapi katakan padanya bahwa ini cukup penting, takutnya ia memutuskan untuk mengabaikannya,” jelas Se Hun seraya memakai blazer nya dan mengecek jam tangannya pada waktu yang bersamaan. “Aku ada rapat bisnis penting dalam waktu beberapa menit lagi. Aku akan meninggalkan semua urusan di Paris dan juga apapun yang berhubungan dengan Hye Rim. Dan katakan padanya untuk tidak menghubungiku dalam waktu beberapa jam. Biasanya ia memaksa menghubungiku bahkan jika aku sedang rapat.”

.

.

.

”Hallo, ini Lee Soo Yeon dari Samsung Group Korea Selatan. Aku akan mengirim beberapa file melalui fax langsung dari ruangan Tuan Oh Se Hun,” ucap Soo Yeon memberikan informasi menggunakan bahasa Prancis.

“Un moment s’il vous plait.” (Mohon tunggu sebentar)

Soo Yeon mengetuk pelan jemarinya di atas meja dan bersenandung. Hampir sebulan bekerja sebagai sekretaris Se Hun dan hal ini tentu lebih baik. Ia dapat belajar bagaimana melakukan tugasnya dan banyak masalah yang sudah berkurang. Setidaknya itu menurutnya. Sekarang beban pekerjaannya jauh lebih sedikit dibandingkan ketika pertama kali ia memulainya.

“Yeoboseyo?”

Sooyeon terlonjak kaget mendengar seseorang berbicara menggunakan bahasa Korea. “Hmm…yeoboseyo?” balas Soo Yeon ragu.

“Apakah ini Nona Lee Soo Yeon? Sekretaris Se Hun?” tanya seseorang yang terdengar baru–lebih muda– ceria baginya.

“Ya, bisakah saya bertanya dengan siapakah ini?” tanya Soo Yeon ragu.

“Soo Yeon-ssi, ini Oh Hye Rim, sepupu Se hun.” Mendengar namanya membuat Soo Yeon dengan cepat menegakkan tubuhnya.

“Oh! Selamat siang Nona Oh.”

“Katakan padaku apa instruksi Se Hun padamu?”

Soo Yeon menatap layar telepon sebelum mengatakan pada Hye Rim semua yang dikatakan Se Hun padanya. Ketika Soo Yeon selesai berbicara, Hye Rim mulai terkekeh.

“Soo Yeon-ssi, sebelum aku mengembalikanmu pada salah satu sekretarisku untuk fax itu. Aku memiliki permintaan.”

“Permintaan apa?” tanya Soo Yeon sebelum mempersiapkan pulpen dan buku catatannya untuk mencatatat instruksi penting.

“Ada pesta yang diadakan khusus untuk Se Hun, aku dan sepupuku yang lain minggu depan. Aku akan terbang ke Seoul, begitu juga dengan sepupuku yang lain Jumat esok, tepat dua hari sebelum acaranya. Seharusnya ini menjadi sejenis kejutan tetapi aku dan sepupuku baru mengetahui tentang acara itu. Jadi kami memutuskan untuk membantu persiapan acara itu. Bagaimanapun juga Sehun belum mengetahuinya, jadi ialah satu-satunya yang tidak mengetahui acara itu sama sekali.”

“Jadi, apa yang semestinya saya lakukan?”

“Hmm, kau hanya membuatnya pergi ke acara itu tanpa ia mengetahuinya. Bisakah kau lakukan itu?”

Soo Yeon merespon dengan kurang yakin sebelum ia mengatakan, “Akan saya coba.”

“Bagus, dan pastikan ia tidak menjadi curiga. Oke? Kalau ia curiga, ia mungkin tidak akan datang, karna ia tidak menyukai acara pertemuan seperti ini. Ia pikir pesta ini tidak sepenuhnya diperlukan. Tapi ini cukup penting untuk kami karna ia jarang sekali memiliki waktu untuk menemui kami dalam waktu yang sangat lama karna pekerjaannya, apalagi acara ini diadakan oleh rekanan Samsung Group dan partner bisnis, terutama untuk kami.”

“Aku mengerti, jadi di mana persis tempat acaranya dan barang apa yang diperlukan untuknya?”

“Sekretarisku akan mengirim email padamu semua detailnya. Tidak banyak, sungguh. Buatlah dia ke sana dengan berpakaian yang semestinya. Ini acara black-tie dan masquerade. Kau harus memakai gaun juga.”

“Aku harus memakai gaun juga?” tanya Soo Yeon tak percaya.

“Ya, aku pikir itu akan sangat pantas kalau kau datang ke tempat acara dengan Se Hun. Kupikir ia juga memakluminya. Kau bisa berperan ganda sebagai pasangan kencannya selagi melakukan tugasmu sebagai sekretaris. Kudengar kau cukup ahli dalam bahasa asing. Itu akan sangat bagus karna acara ini akan penuh dengan orang-orang Samsung dari berbagai cabang.”

“Ya, tapi aku–“

“Bagus! Untuk hari minggu, acaranya tidak akan lama, mungkin hanya sampai jam makan siang. Persiapkan baju santai untuk hari itu, karna akan ada beberapa permainan di tempat yang sama.“

“Tapi, Hye Rim-ssi, aku–“

“Itu sudah cukup. Aku harus pergi. Kalau kau memiliki pertanyaan, kau bisa bebas bertanya pada sekretarisku. Mereka yang akan menjawab pertanyaanmu. Dan ingat, jangan berkata apapun pada Se Hun!”

.

.

.

“Bagus,” komentar Eun Sang dengan tatapan geli di wajahnya saat ia membaca isi dari selembar kertas yang ditunjukkan oleh Soo Yeon mengenai acara dua hari pada minggu ini secara detail. “Kukira ini menjelaskan mengapa kita harus buru-buru mencari baju yang pantas digunakan,” tambah Eun Sang dengan tersenyum kecil pada Soo Yeon yang terlihat cukup panik di depan cermin ruang ganti, masih dengan rak yang penuh dengan gaun yang harus ia coba.

“Ini jadi semakin konyol!” ucap Soo Yeon putus asa. Ia melemparkan lengannya ke udara kemudian duduk di atas bangku empuk di dalam ruang ganti. Soo Yeon memberikan tatapan sedihnya pada gaun kuning-mustardnya yang ia kenakan sekarang. Gaun itu tampak cukup mengerikan, seperti gaun yang sebagaian besar telah ia coba gunakan. “Aku tidak bisa pergi ke acara itu, Eun Sang.”

“Pertama-tama, kupikir kau terlihat sangat cantik. Walaupun bukan warna kesukaanmu, tapi kau masih terlihat cocok. Kau hanya butuh gaun yang tepat, itu saja. Dan kau pastinya akan datang ke acara itu!”

“Tidak bisakah kau datang bersamaku?” pinta Soo Yeon dengan berharap.

“Aku tidak bisa, bahkan Jong In juga mengundangku ke acara minggu ini tapi aku mengatakan tidak padanya. Ibuku datang dari Inggris dan aku sudah lama tidak pernah melihatnya,” jelas Eun Sang sementara ia masih melihat-lihat rak gaun itu.

Soo Yeon menghela nafas. “Kalau begitu aku tidak akan pergi.”

Eun Sang menoleh, tangannya memegang pinggangnya. “Soo Yeon, ini adalah kesempatanmu! Ini berkat Tuhan, keajaiban bahkan! Kau harus berdandan dan tampil yang terbaik dan bersama Se Hun sepanjang malam. Ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatakan kau dekat dengannya sementara kau akan terlihat sangat cantik yang membuat siapapun meneteskan air liurnya. Jangan melewatkan kesempatan ini. Kecuali kau sudah berencana menyerah membuatnya menikahimu.”

Soo Yeon menatap sahabatnya dan tersenyum kecil. “Kau benar. Aku harus fokus pada tujuan awalku!” Soo Yeon berdiri dan menatap di cermin kembali. “Tapi, tidak akan ada yang terkesima dengan gaun ini. Aku terlihat seperti bunga marigold besar yang mati!”

“Bunga marigold besar yang mati dan lucu,” koreksi Eun Sang yang membuat Soo Yeon tertawa. “Kalau begitu, kita perlu ke toko lain.”

.

.

.

Soo Yeon menarik nafas dalam-dalam dan bergerak gelisah di bangkunya.

“Apa kau baik-baik saja, Nona?” Pria yang terlihat tua di sampingnya bertanya dengan khawatir.

Soo Yeon memberikan anggukan bahwa ia baik-baik saja padanya sebelum bergerak gerlisah kembali. “Hanya gugup.”

Pria itu menatapnya dan tersenyum sebelum mengendarai mobilnya menuju taman di depan sebuah gedung pencakar langit. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk terakhir kalinya kemudian mengangguk pada dirinya sendiri sebelum mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.

“Ini Se Hun.”

Soo Yeon merinding sekilas ketika mendengar suara atasannya. “Sajangnim, aku telah diinformasikan bahwa limusin Anda baru saja tiba di luar gedung.”

“Baiklah, aku akan keluar dalam waktu sepuluh menit. Coba jelaskan padaku lagi mengapa aku harus menggunakan limusin ke pertemuan bisnis ini? Aku masih tidak mengerti mengapa ini terlalu formal.”

“Hmm..ini pertemuan dengan Raja Pebisnis di Perancis . Ini hanya kebiasannya saja. Ia menyukai formalitas,” jelas Soo Yeon agak pelan.

Soo Yeon dapat mendengar dengusan Se Hun di ujung panggilan sebelum berbicara kembali. “Kita lebih baik cepat menyelesaikannya. Aku bahkan tidak tahu siapa orang ini dan kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk pertemuan ini.”

Dengan senyum kecil yang terpaksa, Soo Yeon menatap ke arah pengemudi di sampingnya yang hanya menatap Soo Yeon dengan alis terangkat.

“Ya, baiklah, aku mendengar sedikit beberapa hal mengenai reputasinya dari pegawai di sana. Bagaimanapun semuanya harus setimpal.”

“Benar, kuharap juga begitu. Aku akan menuju kesana sekarang. Apa kau sudah memberitahui detailnya pada Asisten Seo?”

“Ya, Sajangnim.”

“Baiklah, kau hanya perlu jaga-jaga kalau saja ada instruksi mendadak, Soo Yeon-ssi. Selamat berakhir pekan.“

“Baik, Sajangnim, terima-“ Soo Yeon berhenti berbicara saat ia melihat Se Hun keluar dari pintu yang berputar. Soo Yeon dapat merasakan mulutnya yang terbuka saat ia melihat Se Hun yang tengah turun tangga menuju limusin yang saat ini Soo Yeon naiki. Se Hun benar-benar terlihat sangat tampan bahkan Soo Yeon sampai tak sanggup untuk mengalihkan pandangannya. Se Hun menggunakan jas hitam yang sangat cocok untuknya. Dasi hitam yang tipis, sepatu kulit hitam, dan sepucuk mawar putih di saku dadanya, membuatnya semakin tampan. Apalagi rambutnya yang sedikit berantakan–lebih berantakan dari biasanya–menambah kharismanya.

“Halo?” Suara Se Hun terdengar tidak yakin.

“Hmm.. Terima kasih, Sajangnim. Jangan ragu menelponku jika kau membutuhkan apapun. Selamat jalan!” ucap Soo Yeon tak yakin sebelum mematikan ponselnya dan melihat Se Hun yang semakin mendekat.

Soo Yeon menatap sang pengendara dan mengisyaratkan untuk menutup pembatas hitam antara tempat duduk depan dan belakang.

Asisten Seo menatap Soo Yeon penasaran sebelum melakukan apa yang Soo Yeon perintahkan.

Dalam waktu kurang dari satu menit, Soo Yeon mendengar suara pintu belakang yang terbuka kemudian tertutup kembali. Tak lama, ponsel yang terletak di antara Soo Yeon dan Asisten Seo mulai berbunyi.

“Ini Oh Se Hun, sekretarisku Lee Soo Yeon-ssi memberitahuku bahwa ia telah memberi informasi detailnya mengenai tempatnya?”

Asisten Seo menatap Soo Yeon sesaat dan Soo Yeon hanya mengangguk dan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan untuk tidak memberi tahu Se Hun bahwa ia berada di sini.

“Ya, Tuan. Semua telah diurus. Kita akan sampai di tempat tujuan dalam waktu 30 menit, tergantung kemacetan.”

“Oke, tolong beri tahu aku kalau sudah hampir sampai.”

“Baiklah, Tuan.”

Ketika sambungan telepon telah terputus, Soo Yeon dengan terang-terangan terkulai di tempat duduknya dan menghembuskan nafas dengan keras.

“Bolehkah aku bertanya?” tanya Asisten Seo dengan senyum penasaran.

“Ceritanya panjang,” jawab Soo Yeon.

.

.

.

Se Hun merilekskan tubuhnya di kursi penumpang dan menatap keluar jendela mobil, melihat lampu jalan yang melewatinya. Minggu ini merupakan salah satu minggu yang berat. Ia tidak keberatan bekerja siang dan malam, ia terbiasa akan hal itu dan bahkan ia menikmatinya. Tapi, bagaimanapun, ia menginginkan istirahat sehari atau dua hari.

Minggu ini pada waktu tertentu sangatlah sibuk. Ia hanya bersyukur bahwa semua sekretarisnya telah membantunya menyelesaikan semuanya, terutama Soo Yeon. Mengingat bahwa ia belum lama menjadi bawahannya. Ia telah memiliki ekspetasi akan terus mengawasinya tetapi itu tidak perlu, yang membuatnya bersyukur. Bebannya berkurang untuk tidak mengawasi Soo Yeon.

Se Hun tidak menyadari ia telah melamun sampai telepon di dalam limo berbunyi.

“Ya?”

“Tuan, sebentar lagi kita akan sampai.”

“Terima kasih,” jawab Se Hun ketus sebelum menegakkan tubuhnya dan dengan penuh perhatian menatap ke luar jendela.

Se Hun melihat limo yang ia naiki pada akhirnya memasuki jalan tol dan ia dapat melihat seberkas cahaya besar di penghujung jalan. Se Hun memicingkan matanya, ia dapat melihat beberapa limusin dan mobil yang berbaris dimana orang-orang turun menuju pintu masuk gedung.

Alisnya berkerut, Se Hun tampak terlihat bertanya-tanya saat mereka semakin mendekat. Para tamu berpakaian rapi sama seperti dirinya. Mereka menggunakan topeng. Karna bingung, Se Hun pun mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang menggunakan speed dial.

.

.

.

Soo Yeon menatap orang-orang yang turun dari mobil dengan takjub. Mereka berpakaian begitu mewah, itu semuanya terlihat seperti tengah mengintimidasinya. Benar, ia telah mendatangi banyak acara formal tapi yang satu ini terlihat sangat mewah baginya. Sebelum keberaniannya menguasai dirinya, Soo Yeon menatap ke bawah bersamaan dengan ponselnya yang bergetar. Ia telah mensilentkan ponselnya sebelum Se Hun memasuki limo.

Soo Yeon menundukkan kepalanya melihat nama Se Hun yang tertera di layar ponselnya dan ia menggigit bibirnya.

Setelah tiga kali panggilan tidak terjawab, Soo Yeon menerima sebuah pesan singkat.

Kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Kau memiliki banyak penjelasan yang harus kau jelaskan padaku. Aku berada di ‘pertemuan bisnis’ yang kau kirimkan aku ke sini, dan ini terlihat lebih seperti acara pesta dibandingkan pertemuan bisnis.

-Oh Se Hun-

“Apa kau baik-baik saja, Nona?” tanya Asisten Seo sekali lagi.

Soo Yeon menolehkan kepalanya ke arah Asisten Seo dan ia memberikan sebuah anggukan singkat. Sepertinya sebentar lagi Soo Yeon mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Soo Yeon yakin ia akan dipecat karna telah menjebak Se Hun.

.

.

.

Se Hun menggerutu pelan ketika limusin perlahan mendekati pintu masuk utama sebuah resort. Pertama, Se Hun tak yakin lagi mengapa ia berada disana. Lagipula ini tidak terlihat seperti tempat pertemuan bisnis. Kedua, kalau memang pesta bertopeng sedang berlangsung, ia hanya menjadi orang asing karna tidak memiliki topeng sama sekali.

Se Hun menghela nafas dan melihat ponselnya dengan marah untuk melihat apakah Soo Yeon telah membalas pesannya atau menelponnya kembali. Kemudian ia memasukkan ponselnya dan keluar saat seorang pria membuka pintu limonya.

“Selamat datang, Tuan Oh,” sambut pria itu dengan menundukkan kepalanya, tangannya menunjuk ke arah tangga yang menuju ke dalam gedung.

Se Hun sedikit terkejut kemudian ia mengangguk padanya. Se Hun pikir ia berada di tempat yang tepat ketika melihat pria itu mengenali siapa dirinya.

“Ini milikmu, Tuan,” tambah pria itu seraya memberikan sebuah kotak datar sebelum ia dapat keluar dari mobilnya.

Se Hun mengambil kotak itu dan membukanya, di dalamnya terdapat sebuah topeng yang ketika digunakan dapat menutupi area matanya, setengah dari hidungnya, dan bahkan ujung dahinya, pipi dan garis rahangnya. Se Hun memakainya dan itu sangat pas sekali. Topeng itu memang dibuat untuknya.

Karna semakin penasaran, akhirnya Se Hun keluar dari mobil dan mengangguk terima kasih pada pria itu sebelum menginjakkan kaki ke dalam gedung dimana para tamu yang lain berada di depannya. Ia mengikuti mereka semua menuju serangkaian pintu yang mengarah ke kebun belakang.

Ini adalah acara yang sangat luar biasa. Disana terdapat panggung yang terletak di bibir pantai, ia dapat melihat sebuah band yang telah dipersiapkan. Mereka bermain musik yang slow-tuned dan di belakang mereka terdapat tulisan ‘Samsung Group’.

Se Hun berdiri di jalan masuk menuju halaman dimana para tamu sedang berjalan-jalan dan berbincang. Beberapa dari mereka menari di ruangan besar yang terdapat di tengahnya. Dan yang lain berkumpul dalam kelompok kecil di sekitar meja tinggi dengan gelas anggur dan makanan ringan di tangan mereka. Mereka terlihat tertawa ria saat mereka berbincang.

“Se Hun!”

Se Hun membeku saat mendengar seorang wanita memanggil namanya dari suatu tempat di keramaian. Banyak orang menolehkan kepalanya ke arah dua wanita yang memakai gaun mewah. Keduanya terlihat sama, wajah dihiasi dengan topeng menutupi mata mereka dengan bulu merak mewah meskipun dari warna yang berbeda yang cocok dengan warna gaun mereka sendiri.

“Pantas saja,” gumam Se Hun dengan helaan nafas saat ia melihat dua dari empat sepupunya datang menghampirinya dengan senyum lebar yang terpampang di wajah mereka. Semua pertanyaan yang belum terjawab yang ia pikirkan sebelumnya telah sirna saat melihat mereka.

“Se Hun!!” Kedua sepupunya berteriak dengan penuh bahagia saat mereka memeluk adik sepupunya yang tingginya telah melampaui mereka.

“Hye Rim, Seung Hee.” Se Hun mengenali mereka dengan anggukan kepala dan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya. Ia tertangkap. Di satu sisi ia senang melihat saudara-saudara perempuannya, tapi di sisi lain ia khawatir akan menunjukkan emosinya yang berlebihan–walaupun semua tamu termasuk dirinya menggunakan topeng–tetapi ia dapat mengenali beberapa dari mereka  dan sebagian besar adalah mitra bisnis dari perusahaan mereka.

“Se Hun! Kau harus berhenti bersikap terlalu formal!” ucap Seung Hee, sepupunya yang mengurusi perusahaan mereka di Spanyol. “Terkadang kau tidak harus bersikap formal.”

“Ya, Se Hun. Ini pesta, minum-minumlah, bersenang-senanglah, bergembiralah!”

Se Hun menaikkan alisnya pmada mereka dan sebelum Se Hun memberikan jawaban, dua wanita lagi berteriak sama seperti dua wanita sebelumnya, “Se Hun!!”

Se Hun menggelengkan kepalanya dan membiarkan dua wanita lainnya memeluknya. Mereka juga menunjukkan senyum lebar milik mereka.

“Kita merindukanmu, adik kecil!” ucap Seung Ah dengan sungguh-sungguh.

“Ya, kau bahkan jarang sekali menemui kita,” tegur Hae Young seraya menepuk pelan dada Se Hun.

Pada saat ini, hampir semua tamu menoleh ke arah mereka dan memandang mereka dengan penuh perhatian dan penasaran.

Keempat saudara perempuan tersenyum lebar pada para tamu dan memberikan sebuah lambaian tangan pada beberapa orang di dalam keramaian, begitu juga Se Hun yang hanya mengangguk pada beberapa orang yang ia kenali. Keempat saudara perempuan dan juga Se Hun menuruni tangga dan mulai berjalan menuju keramaian dan mencoba untuk berbaur, walaupun jelas sekali Se Hun paling tinggi dibandingkan kebanyakan orang lain. Itu sangat tidak mungkin untuk tidak mengenalinya.

“Se Hun, aku senang kau berada disini.”

“Ya, kami pikir kau mungkin entah bagaimana akan menyingkirkan kita lagi.”

“Sejujurnya aku akan melakukannya kalau saja aku tahu pertemuan yang akan kuhadiri adalah pertemuan bisnis semacam ini,” ucap Se Hun.

Mereka semua tersenyum lebar pada Se Hun.

“Omong-omong pertemuan ini untuk apa? Kau bisa tinggal bilang padaku. Aku masih tak percaya kau – membodohiku untuk datang ke sini.”

“Tentu saja,” seru Hye Rim seraya menepuk kedua tangannya. “Dimana Soo Yeon-ssi? Dialah yang awalnya  membantuku untuk membawamu ke sini. Aku tidak akan berhasil membawamu kesini tanpa bantuannya.”

.

.

.

Sudah tiga puluh menit sejak Se Hun keluar dari mobil dan saat Soo Yeon menyadari pantainya terlihat jelas, ia menyuruh Asisten Seo pulang kemudian ia pergi menuju resepsionis dan check-in untuk Se Hun. Sekarang ia berada di suite mewah yang ia pesan untuk Se Hun dan ia tengah memisahkan kebutuhan bermalam Se Hun dengan pakaian Se Hun untuk keesokan harinya.

Soo Yeon mengedarkan pandangan menatap ruangan dan juga barang milik Se Hun, ia menghela nafas dan mengangguk untuk menyemangati dirinya sebelum memasuki kamar mandi dengan membawa tasnya. Ia tidak membawa baju tidur atau pakaian untuk keesokan harinya karna ia berniat untuk pulang setelah acara selesai. Memang, akan lebih baik kalau ia bermalam di sini, itu akan menjadi kesempatan yang baik untuk lebih dekat dengan Se Hun tetapi resort ini terlalu mahal untuknya. Sebenarnya ia mampu membayarnya tetapi itu juga hanya membuang-buang uang saja.

Soo Yeon menghela nafas sekali lagi, kemudian ia melepaskan bajunya dan menaruhnya di dalam tas ranselnya sebelum membuka tas besar yang berisikan gaun hijau tua panjang yang dibuat dengan bahan sejenis sutera. Gaun itu memiliki kain tipis seperti sebuah ikatan yang membungkus dengan erat di bagian dadanya, membentuk bunga sekitar satu bahu, sebelum membungkus di sekitar daerah dadanya lagi dari belakang. Gaun bagian bawahnya menjalar menyentuh lantai, itu bahkan lebih panjang dibandingkannya, itulah mengapa ia harus menggunakan hak tinggi silver setinggi empat inci.

Model gaunnya terlihat sederhana. Ada berlian dan zamrud yang ditempatkan dari pinggang bawah yang membuatnya berkilau, dan itulah yang membuat gaun mewah, setidaknya. Dia tidak ingin terlihat kurang bahan ataupun kelebihan bahan; dan Soo Yeon bersikeras tidak ingin berada di acara pertemuan itu. Orang-orang ini berada di lingkaran sosial Se Hun, Soo Yeon lebih suka berbaur daripada dikenali, ia tahu orang kaya dan terkenal bisa mendapatkan status dan lagipula ia hanya sekretaris Se Hun.

“Salah satu sekretarisnya,” koreksi Soo Yeon dirinya sendiri dengan gelengan kepala. Beberapa saat kemudian ia selesai meresleting gaunnya dan bergeserkan gaunnya sedikit, kemudian ia menyadari sesuatu. “Oh tidak…”

Dengan cepat Soo Yeon menuju cermin besar dan melihat gaunnya–yang dia tidak diperiksa dari tas karena dia membawanya ke rumah tiga hari yang lalu–memiliki celah panjang hingga di kaki kanannya. Sebuah celah yang sangat panjang. Seluruh bagian bawah yang ia ingat sedikit longgar, sekarang menjadi lebih ketat. Soo Yeon segera memakai hak tingginya dan berdiri di depan cermin lagi.

Soo Yeon menatap dirinya ngeri. Setiap gerakan yang ia buat, seluruh kakinya dapat terlihat. Bahkan celahnya naik lebih tinggi dari setengah panjang pahanya. “Eun Sang!” teriak Soo Yeon setelah mengetahui bahwa ini adalah perbuatannya.

Sakura terus memeriksa dirinya di cermin. Ini tidak terlihat buruk, tidak sama sekali, pada kenyataannya itu bahkan tampak lebih baik tapi dia benar-benar tidak ingin mendapatkan apapun perhatian yang tidak perlu ketika mengenakan semacam pakaian ini.

Karna panik, ia berlari menuju ranselnya dan mengeluarkan kotak lain yang dibawanya. Dia membuka kotak perhiasan dan untungnya, perhiasannya masih sama yang sebelumnya telah ia kemas sendiri. Sebuah set perhiasan berlian dengan aksen zamrud.

Ia membuka kotak tempat ia menyimpan topeng, dan dengan tatapan ngeri lagi, itu bukan topeng yang ia tempatkan di sana. Topeng dia bawa hanya sebuah topeng berkilauan hijau sederhana. Tapi topeng ini berwarna perak yang cocok sepatunya dengan sentuhan zamrud, mirip dengan gaunnya, yang ditempatkan di pusaran sudut matanya yang membuat matanya terlihat seperti kucing ketika ia mengangkatnya ke wajahnya. Ada juga bulu halus pendek dengan berbagai nuansa hijau ditempatkan di sisi topengnya, seperti sayap.

“Eun Saaaaang….” Soo Yeon mengerang. Ini terlalu berlebihan. Ini semua terlihat sangat glamor tetapi ini terlalu berlebihan. Ia akan terlihat menonjol dibandingkan yang lain, ia tahu itu. Orang-orang yang ia lihat memasuki resort terlihat lebih mewah dan tidak diragukan lagi pakaiannya lebih mahal, tapi tidak seperti gaun ini yang terlihat mencolok.

Seakan menjawab erangannya, ponselnya berbunyi.

Melihat waktu sekarang, kurasa kau sedang berada di pestanya. Aku harap kau bersenang-senang! Omong-omong, kau tidak perlu berterima kasih untuk topeng dan juga perubahan gaunnya. Kau akan membuat dia berlutut padamu sebelum acaranya selesai!😉

–Cha Eun Sang

Soo Yeon mengertakkan gigi sebelum meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya, ia tidak berusaha membalas. Sambil menggeleng marah, ia mengambil napas dalam-dalam. Apa yang salah dengannya? Jika ia berniat untuk mendapatkan Se Hun jatuh cinta dengannya dan pada akhirnya melamarnya, ia harus melakukan semua yang dia bisa.

Dengan tekad yang membara di matanya, Soo Yeon mengambil perlengkapan make-upnya dan mulai berdandan. Ia sudah menata rambutnya sebelum ia datang. Rambutnya ditata dengan melengkungkan rambutnya sebelum dijepitkan ke kepalanya. Yang terakhir adalah meletakkan pin berkepala mutiara di rambutnya.

.

.

.

“Aku merindukanmu,” ucap Jong In dengan senyuman yang terpampang di wajahnya.

“Aku juga merindukanmu, Jong-jong. Maaf sekali lagi aku tak bisa datang.”

“Tak masalah. Berjanjilah padaku untuk datang lain kali?”

“Aku janji. Lagipula kau bersenang-senang disana…jangan coba-coba bermain mata!”

“Tentu saja tidak, aku memiliki mata hanya untuk melihatmu,” ucap Jong In menenangkan Eun Sang. Ia berdiri tegak dari dinding yang sebelumnya ia sandari sejak ia datang ke sana. “Aku akan menghubungimu saat acaranya selesai, oke?”

“Oke, aku akan bicara padamu nanti.”

“Aku mencintaimu, Eun Sang,” ucap Jong In benar-benar tulus.

“Dan aku juga mencintaimu, Jong In.”

Jong In tersenyum lebar nampak seperti orang bodoh. Ia memasukkan ponselnya sebelum menghadap cermin besar di lobi utama. Jong In mengecek bayangannya sebelum memakai topengnya kembali.

“Semoga pesta ini setimpal dengan menolak ajakan Eun Sang, “ ucapnya pada diri sendiri sambil membenarkan topengnya.

Saat ia selesai membenarkan topengnya, Jong In menangkap sesosok wanita melalui pantulan cermin. Wanita itu berjalan menuju tangga besar yang berada tepat di belakang Jong In. Wanita mudah itu berjalan ke bawah perlahan seraya memegang susuran tangga. Ia menggunakan gaun yang melekat di setiap lekuk tubuhnya yang ramping dan memperlihatkan kaki panjangnya yang terlihat sangat mulus.

Jong In menyeringai kemudian berjalan keluar dengan sebuah pemikiran di kepalanya.

“Se Hun!” panggil Jong In yang lantas disadari oleh teman baiknya yang kini melambaikan tangannya.

Jong In berjalan menghampirinya dengan sebuah seringaian di wajahnya. “Permisi, Nona-nona,” sapa Jong In dengan anggukan pada Hae Young, Hye Rim, Seung Ah, dan Seung Hee.

“Hai, Jong In!” Mereka menyapa balik Jong In.

Se Hun menatap Jong In, “Ada apa?”

“Aku menemukannya,” bisik Jong In pada Se Hun.

“Kau menemukan siapa?”

“Si wanita sempurna,” jawab Jong In.

“Jong In, kau memang teman baikku, tapi kalau kau tetap mengingatkanku betapa sempurnanya kekasihmu. Aku bersumpah akan memukulmu.”

“Bukan, bukan, bukan!” sangkal Jong in dengan cepat. “Maksudku wanita yang cocok untukmu.”

“Aku meragukannya, tapi lanjutkanlah,” balas Se Hun dengan kurang sopan.

“Aku serius, dia sangat cantik walaupun tidak secantik Eun Sang,” ucap Jong In yang lantas mendapatkan dengusan dari Se Hun yang tahu betapa dalamnya perasaan Jong In pada kekasihnya. “Tapi kalau aku tidak memiliki Eun Sang, aku pasti akan mendekatinya.”

“Hanya karna seorang wanita cantik di luarnya, bukan berarti sama di dalamnya, kau harus tahu itu,” ucap Se Hun dengan tatapan yang mengatakan pada Jong In untuk mengingat wanita terakhir, bukan, kebanyakan wanita yang telah ia kencani.

“Kalau begitu kenalan saja, kau tidak akan pernah tahu! Ia mungkin tidak seperti Seo Hyun.” Jong In meyakinkan Se Hun. “Seriusan, Se Hun, kau telah cukup lama mengenyampingkan kehidupan pribadimu. Seo Hyun memang manipulatif dan juga hanya mengincar kekayaanmu saja. Tapi tidak semua wanita sama sepertinya.”

“Iya, tapi Soo Young, Yu Ri, Yoo Na, dan semua wanita lain sama saja,” ucap Se Hun, mengumpat pada wanita yang pernah ia kencani walaupun itu sudah cukup lama. Se Hun bahkan tidak bisa mengingat beberapa nama mereka lagi. Bukan berarti ia tidak berusaha mengingatnya.

“Ayolah, kau tidak akan pernah tahu. Ia mungkin tidak seburuk yang lain. Berapa banyak kesialan yang mungkin masih kau miliki dengan wanita? Di samping itu, ketertarikan fisiklah yang memulai semuanya dan aku yakin kau akan menyetujuinnya secara fisik. Sekali kau tertarik padanya, kau dapat berkenalan dan mengetahuinya lebih jauh dan kemudian lihatlah hasilnya.”

Se Hun menghela nafas lalu melambaikan tangannya tepat di wajah Jong In untuk membungkamkannya. “Baiklah, baiklah, jadi dimana wanita itu?”

.

.

.

“Kau bisa melakukannya, kau bisa melakukannya,” gumam Soo Yeon pada dirinya sendiri berkali-kali seperti sebuah mantra.

Ia bahkan belum memasuki halaman dimana acaranya berada dan ia sudah mendapatkan tatapan dari beberapa orang yang melihatnya dari kejauhan.

Dengan satu tarikan nafas dalam, Soo Yeon melangkah keluar dan menatap kerumunan di bawahnya tepatnya di halaman belakang.

.

.

.

“Bagaimana?”

Se Hun menatap Jong In yang terdiam dan juga para sepupunya yang beberapa menit lalu sedang bercengkrama dengan antusias.

Se Hun mengedarkan pandangannya, ia menyadari beberapa orang menolehkan kepalanya menatap sesosok wanita yang perlahan menuruni tangga dengan langkah kecil. Cahaya yang terang di belakangnya meneranginya layaknya seorang dewi yang berada di tengah hutan dengan seberkas cahaya matahari yang berkilau meneranginya.

Orang-orang membicarakannya dengan suara berbisik seraya mereka terus menatap wanita muda itu yang berjalan perlahan melewati kerumunan.

Jong In menepuk Se Hun pelan. “Itu dia,” ucap Jong In seraya mengarahkan kepalanya pada wanita itu.

Se Hun hanya melihatnya dari halaman saja. Orang-orang memberikan jalan untuk wanita itu saat ia berjalan.

Alis Jong In terangkat. “Ia datang ke arah sini,” ucapnya, mengalihkan pandangannya dari wanita itu dan menatap ke arah Se Hun yang masih menatap wanita itu. Ia dengan perlahan berjalan dengan sangat jelas menuju ke arah Se Hun sekarang.

“Kau mengenalnya?” Seung Hee bertanya pada Jong In. Ia dan juga sepupu yang lain mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat sangat tidak sopan menatap wanita itu.

Jong In menggelengkan kepalanya dan menyenggol Se Hun dengan keras pada tulang rusuknya, yang lantas mendapatkan tatapan dari Se Hun.

“Apa kau mengenalnya?” tanya Jong In, mengetahui ia dan para sepupu yang lain tidak mengenalnya, walaupun wanita itu mengenal seseorang di dekat mereka karna ia berjalan ke arah mereka.

Se Hun mengangkat bahunya dan menggeleng kepalanya. Ia merasa ia mengenalnya tapi ia tidak mengenalnya karna wanita itu menggunakan topeng yang menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya bibirnya saja yang dapat dilihat.

Dalam waktu beberapa saat yang walaupun menurut Se Hun dalam waktu yang sangat lama, wanita itu telah sampai dan berdiri tepat di hadapannya.

Tanpa sepatah katapun dan juga tidak mendongakkan kepalanya pada Se Hun, Soo Yeon–wanita itu–memberikan penghormatan dengan membungkukkan badannya pada Se Hun yang kemudian diikuti dengan Se Hun yang meraih tangannya dan mengecup punggung tangan Soo Yeon.

.

.

.

Pipi Soo Yeon sekarang menjadi merah padam. Se Hun mengecup punggung tangannya dan setiap orang yang berada di dekatnya melihatnya. Ia bersyukur sisa kerumunan itu mulai kembali dengan urusan mereka masing-masing, walaupun ada beberapa dari mereka masih menyaksikannya, termasuk keempat wanita dan juga seorang pria–yang terlihat sepantaran dengan usia, tinggi dan postur badan Se Hun–berdiri di sampingnya.

“Maaf, aku telat,” ucap Soo Yeon dengan suara pelan.

Saat mendengar suaranya, Se Hun yang masih belum melepaskan tangan Soo Yeon, lantas sedikit menariknya padanya. Soo Yeon mendongakkan kepalanya dan menatapnya dengan terkejut.

“Soo Yeon?” Suara Se Hun terdengar bahwa ia terkejut.

“Se Hun,” ucapnya dengan sedikit menundukkan kepalanya. Ia lantas membeku, apakah ia diperbolehkan untu memanggilnya seperti itu? Atau haruskah ia memanggilnya dengan Sajangnim? Ia sebelumnya tidak pernah memanggilnya selain Sajangnim dan kini ia memanggilnya dengan ‘Se Hun’ layaknya ia dan Se Hun dekat, padahal ia hanyalah seorang sekretaris.

Ini jelas membuat Se Hun juga terkejut. Kemudian Se Hun menarik Soo Yeon kembali tapi kali ini lebih keras menuju lantai dansa dimana sejumlah pasangan menari dengan perlahan.

Para sepupu dan juga Jong In menganga melihatnya. Mereka melihat Se Hun memutar tubuh Soo Yeon sekali sebelum Soo Yeon melingkarkan lengannya di leher Se Hun begitupun juga dengan Se Hun yang melingkarkan lengannya di pinggang Soo Yeon.

.

.

.

To be continued

.

.

.

Ahra’s notes:

Hi, long time no see! Sudah lama sekali tak menyentuh ff ini:( maafkan aku yang baru sempat melanjutkan ff ini, banyak beragam alasan sebenarnya, salah satunya aku sudah menginjak kelas dua belas. Demi rasanya cepet banget, baru bergabung di saykff pas kelas sembilan, sekarang udah mau lulus lagi:(

Gimana? Gantung? Memang. kalau dilanjutkan lagi bakal panjang banget bisa 10k words mungkin, haha..

Kira-kira apa yang bakal terjadi sama Soo Yeon dan Se Hun?

Ohiya, aku mau minta pendapat. Kan aku pakai nama samsung sebagai nama perusahaan sehun, kira-kira lebih baik aku pertahankan atau aku ganti? Disatu sisi aku mau terlihat real-life nya dapet tapi disisi lain aku merasa ngga enak pakai nama perusahaan orang lain. Jadi menurut kalian gimana?

Oke, sampai jumpa di chapter selanjutnya!🙂

14 responses to “Mending Mistakes [Chapter Four : Conspire]

  1. Aku pikir ini tanda2 kedekatan mereka berdua, semoga ada kemajuan.
    Semangat demi warisan haha

    Untuk nama perusahaannya menurut aku nyamannya authornim yg mana itu aja yg di ikuti.

  2. yahh aku kira diterma sehun buat kencan, fighting buat soo yeon bikin sehun jatuh cinta sama dia.. semangat juga buat author bikin next chap

  3. Wahhhhhhhhh mereka dansa….sehun terkesima ya ma sooyeon..hehehehe…d tunggu lanjutan y..semangat ya….bwt sekolah y….
    Nama perusahaan y itu juga g pa2 ko….

  4. Akhirmya dilanjut hihi
    Greget mereka dansa, sehun juga termesima gitu.
    Ah penasaraaaann, semangat lanjutinnya author aku menunggu^^

  5. kyaaaa….sehun ngajak soo yeon dansa🙂
    kira” ntr sehun marah gk ya atas kelancangan soo yeon ini?
    atau justru sehun malah seneng dan tertarik pada soo yeon?
    gk sabar nunggu kelanjutannya🙂
    moga tujuan soo yeon tercapai tanpa dketahui sehun dan jongin,hehehe….

  6. Kita sama2 di angkatan terakhir pasti kamu bakal lebih sibuk lagi kan, btw nama perusahaan milik sehun rencananya mau diganti ya, gpp sih emg keliatan agak gk masuk akal ya sehun pemilik perusahaan hp terkenal kaya samsung😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s