Dark Love | One & Only | ~ohnajla

ohnajla || romance, drama, marriagelife, family || Teen (17 y.o) || Chaptered ||

Oh Sehun (EXO) || Tzuyu (Twice) || Kim Sowon (Gfriend)

#1 Lucky One

#2 Monster

#3 Artificial Love(r)

#4 Stronger

#5 They Never Know

#6 Heaven

#7 One & Only

.

Mereka kembali ke Bucheon lusa, setelah Sowon dinyatakan sembuh oleh dokter. Sampainya mereka langsung disambut hangat oleh Tuan dan Nyonya Oh. Mungkin lebih tepatnya hanya Sowon saja. Sementara Sehun harus menerima omelan-omelan dari ibunya. Tentang keteledorannya menjaga Sowon lah, tentang luka-luka di wajahnya yang mirip preman lah. Tapi masih beruntung dia karena tidak sampai diancam macam-macam lagi.

Tuan Oh menyuruh Sehun datang ke ruang pribadinya di sore hari selesai mandi. Sehun tidak tahu apa yang ingin dibicarakan ayahnya, dia hanya menurut tanpa berkomentar apa pun. Dengan memakai pakaian santai, ia pun pergi ke ruang pribadi ayahnya.

Dok dok dok

“Masuk.”

Cklek.

Blam.

Tuan Oh yang semula duduk sambil menyesap kopi panas di mejanya, segera berpindah tempat ke sofa yang ada di pusat ruangan tersebut. Sehun memilih duduk di sofa yang terletak persis sebelah kanan depan sofa yang ditempati ayahnya.

LED TV di ruangan itu pun dinyalakan. Muncul tampang seorang wanita cantik pembaca berita yang sedang membawakan berita terbaru, berita tentang dunia entertainment, membicarakan seorang gadis muda cantik jelita yang fotonya terpampang di sebelah si pembaca berita tersebut.

Tubuh Sehun mendadak kaku.

“Itu gadis yang kau bawa kemarin ‘kan?”

Suara remote yang sengaja dibanting Tuan Oh ke meja, langsung menyadarkan Sehun. Pria itu lekas berpaling dari LED TV. Kepalanya tertunduk.

“Ya.”

Tuan Oh mengenduskan napasnya. “Kau sudah memutus hubungan dengannya?”

Sehun mengangguk.

“Baguslah. Mulai sekarang jangan berhubungan lagi dengan orang sepertinya. Berhubungan dengannya, sama saja mencari masalah dengan media massa. Aku tidak mau nama keluarga kita tercemar.”

Sehun mengangguk lagi.

“Hanya itu saja. Kau boleh keluar sekarang.”

Pria itu mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya cepat. Ia segera bangkit, dan melenggang keluar.

Begitu membuka pintu, tak sengaja dia melihat Sowon yang sedang lewat. Gadis itu juga memandangnya, tidak dengan wajah datar seperti dulu, karena sekarang sudah ada senyum tipis di sana.

Sehun lekas menutup pintu, lalu melangkah mendekati Sowon.

“Kau baru bicara dengan Abeonim? Membicarakanku?”

Pria itu lekas menggeleng. “Hanya sesuatu yang tidak begitu penting. Kau, mau kemana?”

“Belanja. Mau ikut?” tanyanya balik sambil memakai topi baseball miliknya. Komplit sudah fashion belanjanya kali ini.

Sehun tersenyum tipis, menggeleng untuk kedua kalinya.

“Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu ya.” Sowon melambai dan berlalu pergi darinya. Sementara ia sendiri masih betah berdiri di sana, memandang punggung Sowon, meski punggung itu sudah berlalu jauh dan hilang dari pandangannya.

“Sehun-a! Jangan diam saja di sana! Temani Sowon!” pekik ibunya tiba-tiba entah dari mana.

Sehun mendengus sebal. Sepertinya dia harus sadar kalau sekarang dia masih di rumah. Sang ibu dari sejak dulu tidak pernah membiarkannya bermalas-malasan saja seperti pengangguran. Apalagi sekarang sudah ada Sowon.

“Sehun-a!!

“Iya!!”

***

Nyonya Oh sungguh ibu sekaligus mertua yang baik. Setelah kedua sejoli muda itu kembali dari berbelanja, Nyonya Oh menyuruh mereka untuk membersihkan loteng sambil menunggu makan malam siap. Paman yang biasa bertugas membersihkan loteng sudah tiga hari ini absen karena faktor kesehatan. Sementara loteng itu sendiri selalu kotor setiap harinya karena sering dijadikan tempat bertengger berbagai macam burung. Daripada menghabiskan uang untuk membayar orang lain, kenapa tidak mempergunakan energi muda Sehun dan Sowon saja?

Sehun mendesah pasrah ketika melihat kondisi loteng yang benar-benar tidak bisa disebut sebagai hunian pantas. Kotoran burung menempel di mana-mana, menimbulkan bau tak sedap yang bercampur aduk seperti gas beracun. Terima kasih pada masker yang telah melindungi pernapasan mereka dari bau tersebut.

“Aku akan membersihkan yang sini, kau yang sana.”  Sowon memberi perintah dengan baik layaknya komandan. Sayangnya, Sehun tidak suka dengan perintah itu.

Yaa! Kau berniat membunuhku? Ini tidak adil. Kau sengaja menyuruhku membersihkan tempat yang paling kotor ‘kan?”

“Lalu kau akan memberikannya padaku? Namja macam apa kau ini.”

Sehun mendesis. “Ini namanya diskriminasi.”

Sowon berlalu tanpa mau dengar kata-kata Sehun. Gadis itu bahkan sengaja menyalakan sound di ruang itu, menyambung kabelnya ke ponsel, memplay musik klasik. Suara apa pun akan teredam karenanya, termasuk gerutuan Sehun yang masih tidak terima dengan perintah Sowon.

Mereka membersihkan loteng dengan senang hati. Terkadang punggung mereka saling bertabrakan. Tidak ada kata maaf atau sejenisnya, yang ada, mereka justru saling menyalahkan satu sama lain. Loteng itu bersih dua jam kemudian. Sehun dan Sowon kompak duduk di pojok ruangan, sama-sama menyandarkan punggung mereka ke dinding, mengusap peluh masing-masing.

“Akhirnya!!”

“Argh! Jangan teriak di telingaku!”

Adu jotos pun terjadi.

Tapi itu hanya bertahan sebentar. Setelahnya mereka tertawa.

“Dasar anak mama.”

“Gadis gila.”

Sowon memukul bahu Sehun dengan keras, tapi untuk kali ini Sehun tidak membalasnya.

Eommeonim masak apa ya?” gumam Sowon dengan mata berbinar-binar. Tubuh lelah sudah tidak ada artinya lagi kalau mengingat soal makanan.

“Semoga sushi.”

“Kita tidak beli ikan salmon,” sahut Sowon cepat. Berhasil meluruhkan impian Sehun soal makan malam bersama sushi.

“Kalau saja tadi aku bawa kartu kredit, aku akan beli banyak salmon.”

“Sayangnya eommeonim tidak suka makan malam dengan sushi.”

Sehun reflek menoleh. “Dari mana kau tahu?”

Sowon juga ikut menoleh. “Tentu saja dari eommeonim. Jangan lupakan fakta kalau dulu aku selalu datang ke rumahmu, Oh Sehun.”

“Ah … ya, aku tidak akan lupakan tentang itu.”

“Jangan lupakan juga kalau aku sering dipaksa menginap di sini. Rasa-rasanya aku ingin kembali ke masa itu. Kau tahu bagaimana bahagianya aku dinobatkan sebagai mandormu waktu itu.”

Sehun menyeringai. Dipangkasnya jarak di antara mereka, hingga hanya tersisa jarak sepanjang satu telunjuk orang dewasa. “Kau tahu, loteng ini kedap suara. Dan kau harus tahu, kau sekarang duduk persis di sudut ruangan. Kau juga tahu ‘kan sekarang kita hanya berdua. Jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa padamu.”

“Memang kau mau lakukan apa padaku?” tantang Sowon berani, sembari memangkas lagi satu senti jarak wajah mereka.

“Kau benar-benar berani. Jadi, kau akan membiarkanku?”

Berkurang satu senti lagi.

“Silahkan saja kalau berani.”

Dua senti sekaligus.

“Aku memperbolehkanmu memejamkan mata.”

Sowon hanya tersenyum.

Perlahan Sehun mengangkat tangannya, mendorong kepala belakang Sowon agar wajah gadis itu makin dekat dengannya. Sesuatu yang lucu terjadi. Saking kuatnya Sehun mendorong kepala Sowon, wajah mereka saling berbenturan, menimbulkan bunyi ‘duk’ yang membahana di ruang sunyi itu. Mereka reflek menarik wajah masing-masing, mengusap dahi yang memerah akibat benturan itu.

“Seperti membentur batu, ah….”

Mendengarnya, Sehun tertawa. Tawa tersebut menular pada Sowon beberapa sekon kemudian.

“Aku sudah menghancurkan momennya,” ujar pria itu.

“Ya, kau memang bodoh, Oh Sehun.”

Sehun pun merangkul leher gadis itu dan menguncinya di ketiak. “Kau bicara apa tadi?”

“Uhuk. Kau … uhuk … bodoh.”

Yaa!”

**

Suasana di rumah keluarga Oh selepas makan malam….

“Sehun, aku tidur di kamarmu.”

Shireo!

“Ayolah … aku tidak berani tidur di kamar itu.”

“Bukan urusanku.”

“Sehun jahat! Eommeonim! Sehun-”

Suara melengking Sowon langsung teredam oleh tangan besar Sehun yang sedang membungkamnya. Hish … kalau sudah bawa-bawa ibunya, Sehun sudah pasti tidak berdaya.

“Baik! Kau boleh tidur di kamarku.”

Wajah Sowon langsung ceria.

“Tapi aku tidur di kamarmu.”

Eommeonim!!”

Pria itu pun melotot. “Yaa.”

“Ada apa Sowon-a?!” pekik ibunya entah dari mana.

“Dia takut kecoa, eomma!”

Tak ada lagi jawaban dari wanita yang melahirkan Sehun itu.

“Bukannya yang takut kecoa itu kau?”

“Lupakan,” sahut Sehun cepat. Matanya pun menajam saat beradu tatap dengan gadis tersebut. “Sebenarnya apa yang kau mau?”

“Tidur denganmu.”

Kedua mata Sehun yang sipit sontak membelalak. “Apa?”

“Kau tidak salah dengar,” balas Sowon malas.

Sehun menelan ludahnya, sambil berusaha mengabaikan pikiran-pikiran kotor yang tiba-tiba muncul. “Kau serius?”

“Tentu saja. Sejak kapan aku bicara tidak serius?”

Tidak pernah, batin Sehun. Hanya saja, kenapa Sowon semudah itu meminta padanya? ‘kan aneh. Mungkin maksud Sowon adalah tidur di satu tempat yang sama saja, seperti yang mereka lakukan beberapa hari lalu di kamar Sehun atau saat menginap di Jeju. Tapi, kenapa sekarang Sowon memaksa sekali?

Apa mungkin….

Sehun cepat-cepat menggeleng.

Sowon mengernyit. “Kenapa?”

“Tidak.”

Sehun terkejut ketika Sowon tiba-tiba memukul kepalanya. Ia mendesis, tangan itu keras sekali.

“Jangan berpikiran macam-macam. Kalau sampai kau berani macam-macam….” Gadis itu dengan tangkas meraih sebuah pisau di dekatnya, lalu menunjukkannya persis di depan wajah Sehun.

Pria itu bergidik ngeri. Segera dia simpan kembali pisau tersebut ke tempat semula. “Ya aku mengerti.”

Sowon menyeringai. “Oke.”

Sehun menghela napas lega begitu Sowon beringsut pergi dari hadapannya. Namun kelegaannya tidak bertahan lama, karena Sowon tiba-tiba berhenti dan menoleh padanya.

“Ah ya, aku lupa memberitahumu sesuatu. Besok kalau kau mau kembali ke Seoul, kau harus mengajakku. Ini bukan keinginanku sendiri, tapi keinginan eommeonim.”

Ye?!”

Hanya gendikkan bahu tak acuh saja yang diberikan gadis itu. Tanpa mau berlama-lama lagi gadis berambut panjang sepinggang itu lekas menghilang dari pandangan Sehun. Menyisakan Sehun dengan keraguannya sendiri.

.

.

.

TBC

23 responses to “Dark Love | One & Only | ~ohnajla

  1. aiss, jinjayoo!! mereka makin suka keknya yaaa >,< udahlah tzuyu ga usah muncul muncul lagi oenni, sowon sama sehun aja cukup ko😀 wkwkwk
    kayanya bakalan ada scene scene yg mengangkan lagi yaaa, duhh makin ga sabar. ditunggu next nya yaaaa😀

  2. Waahh wahh sowon kenapa udh mulai suka sama sehun ya? Semuga ga sama tzuyu tzuyu itu lagi lah sehunn semangatt

  3. cieee cieee makin sweet aja kallian :3 udah cepet pada jujuran aja ya kalo sama2 suka :3 suka lah kalo ‘akur’aja :3 next chapternya di tunggu :3

  4. Arggghh mereka romantis banget, aku suka. Tapi disini yang agressif sowonya ya, sehun jadi kaya anak kecil yang suka bersembunyi dibelakang punggung ibunya haha :v

  5. kirain ada kissing scene beneraaaaaan, secepat ituuuu, wkwkwkwk
    yailaaaah, udah mulai sukaaa tuuuuuh~~~~
    btw, sowon knapa gitu banget? minta tidur bareng, hahahahahahha

  6. tzuyu tampang polos menipumu tidak mempa lagi :p sana pergi kelaut ajah tapi jangan tunangan nya nanti kasihan chanyeol nya

  7. Pingback: Dark Love | White Noise | ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Pingback: Dark Love | Cloud 9 | ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s