EXO & YEOJA ! Oh Sehun Chapter 2

Author              : Oh Hani

Cast                :

-Oh Sehun

-Lee Hera (OC)

Other Cast          :

Cari sendiri nanti juga tau haha

Gentre                : family, fluff, romance

Rating              : PG-15

Chapter 2 Persiapan

Aku Lee Hera. Anak tunggal keluarga Lee. Bulan Januari lalu aku baru berulangtahun yang ke 17. Umur 17 selalu saja menjadi angka spesial bagi sebagian orang, namun menurutku angka 17 adalah batas dari masa kebebasanku. Tinggal beberapa minggu lagi, aku akan benar – benar melepas status lajangku.

Semuanya terasa begitu mendadak. Sehun, pria tampan itu hadir dan diperkenalkan sebagai calon suamiku. Jujur saja melihat rupanya yang tampan aku sangat terpesona olehnya. Wajahnya tampak agak familiar dan anehnya aku langsung terjerat begitu saja.

Walau aku tak percaya pada Cinta pandangan pertama, rasanya seperti itu yang kurasakan padanya. Aku langsung merasa sudah mengenalnya begitu lama saat pertama kali bertemu dan langsung jatuh cinta padanya.
Dalam hal percintaan aku adalah orang yang awam. Lalu mengapa aku langsung menarik kesimpulan bahwa aku jatuh cinta pada Sehun saat pandangan pertama? Entahlah, ini semua seperti dongeng atau cerita fiksi remaja?

Aku tak pernah berhubungan lebih dari teman dengan seorang pria. Satu satunya pria yang dekat denganku hanya Chanyeol. Dari dulu aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Apa aku kurang menarik sehingga tak ada pria yang mendekatiku? Apa aku terlihat kurang cantik? Apa perlu aku operasi plastik agar wajahku bisa mirip seperti Park Shin Hye? Tidak! Kedua orangtuaku pasti tak mengizinkan. Aku ingin terlihat seperti aku, tanpa bantuan tangan dan alat medis manusia. Intinya aku merasa tidak kurang menarik hingga tak ada pria yang mendekatiku.

Kini aku berada di acara amal yang diselenggarakan oleh panti. Dan sekarang apakah aku sedang bermimpi? Jika aku bermimpi tolong bangunkan aku dari mimpi yang terlalu indah ini. Semuanya terlalu indah hingga membuatku agak takut. Bagaimana tak indah menatap wajah rupawan yang kini berada jauh di depanku dan bagaimana tak menakutkan jika wajah itu begitu datar dan membuatku merasa tertolak? Oh Sehun sedang menatapku dari salah satu kursi yang berjejer di depan panggung.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Oh ayolaahhhh memang benar Sehun adalah sosok yang sempurna dan terlewat sempurna untukku. Sebuah mimpi indah jika aku di jodohkan dengannya. Sayangnya, mimpi indah itu diikuti mimpi buruk. Ia begitu datar, kadang dingin dan agak arogan dan—jangan lupakan juga rasa percaya diri yang kadang membuatku muak, membuatku ingin muntah namun harus kutelan kembali, karena yang ia sombongkan adalah sebuah kebenaran dan terasa wajar jika sifat itu melekat pada fisiknya yang sempurna.

Mengapa ia ada disini? Apakah ia salah satu donatur? Ia benar – benar baik atau pura – pura baik? Ya aku tahu permainan perusahaan, mereka akan menghadiri acara ini demi citra mereka. Tapi siapa peduli selama mereka mengeluarkan dana untuk panti ini?

Rasanya. . . aku ingin tenggelam bersama Titanic setiap kali melihatnya. Tapi aku benar – benar bercanda soal tenggelam bersama Titanic. Aku bisa mati karena tenggelam. Aku benar – benar tak bisa berenang dan benci terhadap laut bahkan kolam renang. Mereka terlihat menyeramkan.

Kembali lagi melihat sosok itu. Ia terus menatapku, tanpa kutahu arti tatapannya. Mengetahui dia ada disana agak membuatku gugup. Bukannya tadi aku menenangkan anak – anak agar tak merasa gugup? namun sekarang aku yang gugup. Benar – benar sial.

“Noona? Sekarang giliran kita tampil.”
Aku menatap mata coklat yang menatap polos dibawahku. Jeremy mengingatkanku pada penampilan yang akan kita pentaskan. Ia menggenggam erat tanganku.

“Tenanglah noona aku akan bersamamu.”

Aku tersenyum dan sejenak melupakan kejengkelan dan kesenangan melihat Sehun. Aku mengelus rambut hitamnya yang lembut. Jeremy adalah anak panti yang paling dekat denganku. Ia sangat menyayangiku dan aku juga sangat menyayanginya. Jeremy ditinggalkan oleh kedua orangtuanya di depan panti saat berumur sekitar satu tahun.
Jeremy tumbuh menjadi anak yang menggemaskan, ia tampan dan mungkin di masa depan ia akan menjadi anak yang memesona, diusianya yang menginjak 4 tahun saja ia sangat tampan.

Dengan gemas aku mencubit pipinya, “Kau harus melindungiku, Jeremy.”
Ia mengelus pipinya yang memerah setelah aku melepaskan cubitanku. Ia memberengut kesal dan aku tertawa karenanya.

***

Aku menghembuskan nafas lega. Tatapan Oh Sehun ‘cukup’ membuatku merasakan tekanan yang berat.
Pertunjukan berjalan lancar walau tak sepenuhnya lancar. Aku kehilangan fokus saat mengetahui ia terus memperhatikaanku dibangku penonton. Bagaimana tidak fokus jika pria itu menatapku dengan intens? Bahkan tatapannya selalu mengundangku untuk menatapnya, membuat kami berpandangan cukup lama dan berakhir dengan aku yang kalah,  bahkan karenanya aku lupa dengan dialognya. 

Aku duduk dengan lemas. Aku benar – benar lemas, sangat lemas. Tekanan itu menguras tenagaku.

“Minumlah. Kau pasti sangat gugup.” Aku mengangguk dan menerima botol yang diberikan oleh Jinsang. Ia pasti tahu apa yang membuatku gugup. Ia selalu peka kan?

“Aku baru tahu jika pria itu salah satu donatur di panti ini,” ucapnya. Aku menatapnya dan dia memperlihatkan senyumnya. Pria yang dimaksud tentu saja Oh sehun. “Apa kalian membuat janji untuk bertemu disini?” tanyanya yang mengundang tatapan heranku.

“Tidak,” jawabku jujur. “Aku juga kaget melihatnya disini.”

“Hahahaha,” Jinsang tertawa dan semakin membuatku heran.

“Mengapa kau tertawa?”

“Kurasa ini bukan kebetulan. Kau pasti meyuruhnya datang kan”

Yang benar saja? Menyuruhnya datang? Kami tak seakrab itu. Bahkan pertemuan ini adalah pertemuan kami yang ketiga. Apakah ada alasan untuk kita sering bertemu? 

Kurasa lebih baik aku tak bertemu dengannya. Selalu muncul perasaan aneh ketika melihatnya. Perasaan senang dan kesal bercampur menjadi satu. Rasa mix yang baru aku rasakan. Mungkin ini rasa yang disebut dengan Cinta?

“Aku tak pernah menyuruhnya datang. Kurasa karena ia memang diundang oleh panti. Kau bisa memeriksanya nanti!” ucapku agak kesal.

“Jangan memasang wajah sepeti itu, aku hanya bercanda Lee Hera!”

Aku menghembuskan nafas lelah, “Aku ingin acara ini cepat selsai, Jinsang.”

“Kau boleh pulang terlebih dulu. Biar aku yang urus.” Ia tak mengerti maksudku. Tidak mungkin aku meninggalkan Jinsang. Aku hanya ingin menghindari pria itu. Itu saja. Jadi ku putuskan untuk menggeleng dan bangkit dari kursi, “Tidak. Ayo kita selsaikan bersama?!”

Jinsang tersenyum dan mengangguk. Kami berjalan kedalam gedung panti. Acara amal itu memang diselenggarakan di halaman panti. Panggung berada di luar dan kita harus mengurus hal lain di dalam. Acara ini akan terus berlanjut hingga pukul 21.00 KST dan sekarang mungkin baru setengah dari acaranya.

Sesorang berjalan mendekat. Dari kejauhan aku tahu siapa wanita yang kini tersenyum dari kejauhan padaku dan Jinsang.
“Haneul?!” teriakku terdengar girang, “kau? Mengapa kau datang?”

Terlihat kerutan di dahi Haneul. “Kau melarangku kemari?”

Eh, bukan seperti itu maksudku, “maksudku bukannya kau ada acara malam ini?”

“Sudah selsai,” jawabnya sambil tersenyum. “Kalian akan kemana?”

“Kami akan kedalam, menyiapkan snack untuk anak – anak.” jawab Jinsang dan aku hanya mengangguk membenarkan.

“Aku akan bertemu Kang Ahjumma dulu, lalu aku akan menyusul kalian.”

“Kang Ahjumma ada di belakang panggung, kau dapat menemuinya disana,” aku memberitahu.

Haneul mengangguk. Kami berpisah, Haneul pergi kebelakang panggung untuk menemui Kang Ahjumma, sementara aku dan Jinsang berjalan kembali menuju gedung panti.

Di pintu masuk kulihat Sehun dan entahlah mungkin temannya karena kupastikan ia bukan Lay. Sedang apa mereka? Menungguku? Mungkin. Aku tak berharap ia menungguiku tapi memang ada tujuan lain selain itu?

Kami mendekat, Sehun menatapku. Ekspresinya? masih tetap datar. Aku tak bisa menebak menebak apa yang dipikirkannya. Memangnya aku peduli? Lupakan!

“Ada apa?” tanyaku to the point. Jika berhadapan dengan seorang Oh Sehun kau tak perlu basa basi. Berbicara panjang lebar bahkan sepanjang kata – kata yang ada di novel Harry Potter pun ia akan menjawabnya dengan satu kalimat atau mungkin satu kata.

“Hyung, ia calon istrimu itu?”

Kualihkan pandangan pada sosok yang berada di sisi kanan Sehun. Aku agak familiar melihat wajahnya. Emm bukankah dia—“Aku Huang Zi Tao. Senang bertemu denganmu,” jawabnya saat pikiranku mencoba mengingatnya.

Tao? Ah ya. Pantas saja aku agak familiar dengannya. Dia salah satu pangeran sekolah Geumsaek. Ia berteman juga dengan Chanyeol. Aku tak begitu mengenal wajahnya karena ia jarang terlihat, hanya saja aku tau nama itu begitu terkenal di sekolah. Aku baru tahu wajahnya setelah melihatnya dari dekat.

Ia tersenyum tipis lalu menatap Jinsang. Jinsang agak tersentak dan terlihat tak nyaman dengan tatapan Tao. Tao melihatnya seperti ingin melahap Jinsang? memang Jinsang santapan yang enak? apa Tao seorang kanibal?

Aku memperhatikan Tao yang mulai mengeluarkan seringainya dan tiba – tiba saja udara di sekitar kami begitu dingin? atau hanya perasaanku saja?

“Sepertinya kita harus meninggalkan mereka berdua.” Tao sekilas menatapku dan Sehun, kemudian kembali menatap Jinsang. “Kau setuju?”

Jinsang mengangguk ragu, “A–ah ne.” Ia menatapku dan tersenyum canggung. Setelah itu mereka pergi meninggalkanku. Sebenarnya aku agak kawatir dengan Jinsang, aku merasa Tao berbahaya. Aura yang dikeluarkannya seperti iblis yang siap menerkam. Aku lebih tenang saat Jinsang bersama Lay dan… kini aku bersama pria itu–Sehun. Aku menatap Sehun dengan jengkel. Ahh aku sungguh lelah jika harus berdua dengan pria ini.

Sehun melipat kedua tangannya, sungguh terlihat arogan ditambah dengan salah satu alisnya yang naik beberapa centi dari tempat yang seharusnya. Apakah ada sesuatu yang bisa kulempar ke wajahnya yang rupawan itu?

“Apa kau akan bertanya kemana Tao membawanya pergi?”

Aku menatapnya kesal. “Tidak!” walau sesungguhnya aku ingin mengetahuinya.

Ia menyipitkan matanya, “Tenang saja. Ia aman bersama Tao dan kulihat kau agak protektif terhadapnya.”

“Ia teman terbaikku. Aku sudah mengaggapnya seperti saudaraku sendiri.” that’s real and fact!

“Apa kau tak takut ia menghianatimu?”
Apa maksud pria patung ini? Jinsang menghianatiku? Itu tak mungkin dan tak akan pernah menjadi mungkin. Ia sangat baik terhadapku, aku tahu siapa dia. Mengapa pria yang jelas – jelas tak tau kami berkata seperti itu?

“Jangan so tau pangeran kodok!!!” Uppss suaraku terlalu melengking. Suaraku selalu saja naik beberapa oktaf jika berhadapan dengannya. Aku tak bisa menormalkan nada bicaraku saat berhadapan dengannya.

“Aku hanya memberitahu saja.”

“Jangan memberitahuku hal yang belum tentu dan tak akan pernah menjadi kenyataan. Kau mau menghancurkan persahabatan kami?”

“Jadi kalian bersahabat?” ia tersenyum dingin. Hal yang membuatku muak sekaligus menambah kadar ketampananya melebihi angka normal. Sebenarnya aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Perasaan kagum dan benci itu datang bersamaan. Tak bisakah aku hanya merasakan salah satunya?

Aku mengutip kalimat yang pernah ia sebutkan padaku untuk membalas ucapannya, “Apa aku harus menjawab pertanyaan yang sudah pasti kau ketahui jawabannya?”

“Maaf tadi itu pertanyaan retori. Kau tak perlu menjawabnya.” jawaban yang jelas membuatku jengkel.

Pria menyebalkan. Jika bertemu hanya membahas hal seperti ini lebih baik tak usah bertemu. Hanya akan membuatku marah saja. Bagaimana nantinya jika kita menikah? setiap hari aku harus bertemu dengannya dan haruskah kita seperti ini? Kurasa kita benar – benar tak cocok satu sama lain. Ya kan?

“Jadi ada apa? Ada apa kau menemuiku?” tanyaku tak sabar.

“Aku hanya ingin memastikan jika kau kesini mewakili perusahaan Appamu,” kini tangannya yang terlipat beralih dimasukan kedalam saku celana dan sialnya membuat ia lebih terlihat keren saat ini. Mati kau!!!

“Tidak. Mereka tak tahu aku disini. Lagi pula aku tak mewakili perusahaan Appaku,” jawabku jujur.Ia menatapku bingung. Kurasa. Karena ekspresinya masih datar walau sorot matanya berubah.

“Bahkan kau ikut pentas dan terlihat akrab dengan anak-anak disini?”

“Ya, aku memang akrab dengan mereka. Lalu apa masalahmu?”

Ia mengangkat bahunya seolah tak peduli. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Gerakan tadi mungkin bisa dianggap sebagai jawabannya. Ia tak tau apa yang ia masalahkan, lalu untuk apa menemuiku?

“Ya sudah kau pulang saja! Aku harus segera menyelsaikan acara ini.” ucapku mencoba mengusirnya secara halus. Ah tidak halus sih, agak kasar sebenarnya. Tapi kasar juga tidak.

Aku berjalan melewatinya, namun tiba – tiba pergelangan tanganku dicekal olehnya dan tiba – tiba jantungku berdegup agak kencang.

“Kau berbohong pada eomma mu?” ucapnya lebih pada sebuah pernyataan ketimbang pertanyaan.

“Lalu?”

“Aku juga terlibat.” Mau tak mau aku berbalik menatapnya dan ia melepaskan cengkraman tangannya.

“Eommamu tadi menghubungiku. Ia sangat menghawatirkanmu. Kau tak izin padanya? Aku bilang jika aku sedang bersamamu. Jadi aku menyuruhnya agar tak kawatir.”
Oh syukurlah tapi, “Mengapa kau bilang sedang bersamaku?”

“Tadi ia menghubungiku saat kau berada di atas panggung. Aku melihatmu. Jadi aku benar kan? Aku sedang bersamamu?”

“Lalu apa? Aku harus berterima kasih padamu?” tanyaku refleks.

“Tentu saja.”

Dasar pria arogan dan pamrih. Bahkan aku tak meminta bantuannya. Aku pasti pulang dan aku tak akan mendapat masalah tanpa bantuannya.

“Aku tak meminta bantuanmu.”

“Appamu juga menghubungiku tadi, ” Apa? Appa? menghubunginya juga? Untuk apa? “sepertinya Ia agak kesal mendengar kau yang pergi tanpa izin.”

Siallll. Pasti Eomma bilang pada Appa. Jika Appa tahu, kekawatiran Eomma pasti tidak wajar.

Aku mengepal kedua tanganku kuat. “Lalu apa urusannya denganmu?”

“Ia meminta agar aku mengantarkanmu pulang.”

“Tak usah! Aku bisa pulang sendiri.”

“Ya seharusnya memang begitu namun amanat tetaplah amanat.”

“Aku akan bilang pada Appa jika aku yang memitamu untuk membiarkanku pulang sendiri.”

Ia mengangkat sebelah alisnya, “Dan bilang jika aku calon suami yang buruk?”

“Aku tak berfikir begitu!”

“Sudahlah. Aku hanya menjalankan tugasku. Kau hanya perlu ikuti saja.”

Siapa dia? Mengapa ia seenaknya mengaturku hah? Seenaknya memerintahku? Bahkan  kami belum resmi menikah! OH SEHUN sialan.

“Kau mencoba memerintahku?”

“Tak ada penolakkan jika kau menganggap itu perintah.”

Kurasa aku harus menendangnya sampe galaksi andromeda. Pria ini benar – benar membuatku lelah.

“Noona!!!!”

Aku berbalik dan melihat Jeremy yang berlari tergesa gesa kearahku. “Jeremy?” Aku tersenyum dan menyambut pelukkannya.

“Hei, mengapa kau berlari? Jika kau jatuh bagaimana?” aku mengangkat tubuhnya dan ia melingkarkan tangannya dileherku. 

“Kau tumbuh dengan cepat. Badanmu bertambah berat sekarang.”

“Benarkah?”

Aku mengangguk. Jeremy memang bertambah berat. Sebenarnya aku merasa lelah menggendongnya tapi tak selelah berhadapan dengan pria dingin itu. Aku juga senang karena Jeremy datang, agar aku tak berdua dengan Oh Sehun.

“Aku bersyukur jika aku tumbuh. Aku ingin cepat – cepat tumbuh dewasa agar kita bisa hidup bersama.”

“Mmm,” aku mengangguk. “Tapi bukankah kita sudah hidup bersama?”

“Tidak sebelum kita menikah noona.”
Menikah? Dari mana Jeremy tahu hal – hal semacam ini? Aku tak pernah membicarakan hal seperti ini padanya. Ahhh pasti karena ia sering menonton drama – drama bersama Kang Ahjumma.
Kulihat Sehun menutup mulut dengan punggung tangannya. Bahunya agak bergetar. Ia mentertawakanku?

“Mengapa kau tertawa!?”

Ia tak menanggapi dan malah menatap taman di samping kananku. Aku masih melihatnya yang berusaha menutupi tawanya.

“Noona, siapa dia?”

Aku beralih menatap Jeremy, “Ia temanku.”

“Tidak.” ucap Sehun membuat mataku beralih padanya lagi. “Aku bukan temannya.”

“Jangan dengarkan dia. Dia orang aneh.” ucapku mendoktrin Jeremy agar percaya pada kata – kataku.

Sehun mendekat dan menatap Jeremy lalu mengacak rambutnya. “Berapa umurmu?”
“Sepertinya 4 tahun,” jawab Jeremy tak yakin. Ia memang tak tahu berapa umurnya dan kapan tepatnya ia berulangtahun tapi aku pernah bilang padanya jika ulangtahunnya sama dengan ulangtahunku.

“Kau tau umur noonamu berapa?”
Jeremy menggeleng.

“Noonamu ini 13 tahun lebih tua darimu. Ketika kau berumur 18, ia akan berumur sekitar 31 tahun. Kau akan menikah dengan nenek – nenek. Apa kau mau?”

“Ya!!!!!” aku memukul kepala Sehun dengan kesal, “Apa maksudmu berbicara itu hah?!”

Ia mengusap – usap kepalanya dan menatapku jengkel, “Aku hanya memberitahunya sebuah kebenaran,” ucapnya.

“Tapi tidak seperti itu!”

“Noona, mengapa kau marah?”

Aku mendengar ada sedikit getaran dalam suaranya. Jeremy belum pernah melihatku marah dan berbicara dengan nada tinggi seperti tadi. Saat pria itu di depanku, sesalalu saja lepas kontrol. Aku harus memberi pengertian padanya.

“Jere—-”

“Kau tak tahu jika noonamu ini selalu marah-marah? Bahkan ia tak pernah bersikap baik padaku.”
Pria brengsek! Apa maunya sih?

“Sehun!” ucapku tajam namun dalam nada normal, “pergilah!”

“Lihat, bahkan dia mengusirku. Padahal akulah yang selalu memberi mainan – mainan pada kalian.”

Aku tak menghiraukannya dan segera pergi kedalam. Kulihat Jeremy masih memandang Sehun hingga wajah pria itu terlihat jelas oleh lampu yang bersinar di dalam ruangan.

“Jeremy, kau pasti kedinginankan? Dan kau harus segera tidur oke?”

“Kau tak bisa memaksanya tidur Hera.”

“Memangnya kau siapa hah? Kau hanya tamu dan aku yang mengurusnya!”

“Noona. . .” Jeremy memelukku lebih erat. Aku tahu pasti ia tak ingin melihatku yang berubah garang?

“Lagi – lagi kau membuatnya takut.”

“Jeremy, maafkan aku.”

Terdengar bunyi ponsel berdering dan aku menatap Sehun yang kini mengangkat panggilan ponselnya.

Aku tak begitu mendengar percakapannya, aku terlalu fokus pada Jeremy.

“Oh ya, tadi Haneul noona datang. Apa kau melihatnya?” Jeremy menggeleng, “kau mau bertemu dengannya?” Jeremy mengangguk, “baiklah, kita menemuinya saja ya?”

Aku berjalan keluar gedung panti sambil menuntun Jeremy. Sehun mengikuti kami dari belakang. Aku berhenti sejenak dan berbalik.

“Jangan mengikutiku!”

Ia mengangkat alis, “Kau berbicara pada siapa?”

“Tentu saja kau!”

“Aku? Aku tidak mengikutimu,” ia berjalan melewatiku dan Jeremy.

Oke, aku terlalu percaya diri sehingga menganggapnya mengikutiku dan bodohnya mulut ini berucap secara refleks.

***

“Aku pulang!!” Teriakku setelah sampai di rumah. Aku berjalan kearah dapur dan melihat eomma yang sedang membuat jus pisang kesukaanku.

“Ahhh pisang!!!”

Aku berlari kearah meja dan segera meminumnya. Eomma selalu saja tahu hal-hal yang membuatku senang. Hari ini aku pulang cepat karena aku tak mengikuti pelajaran berenang. Aku sudah mendapat izin dari guruku, makanya aku bisa pulang cepat dan eomma tahu hal itu. Ia mendukungku jika aku tak ingin berenang.

“Hari ini kau akan ke butik dengan Sehun untuk mencoba gaun pengantin.”

Jus pisang yang sudah menenuhi mulutku seketika kembali kedalam gelas.

“apa?!”

“Kau harus pergi Hera!”

Kupejamkan mataku dan menghirup udara dengan cepat dan menghembuskannya pelan. Gaun pengantin? Apa pernikahan ini tak main – main?

Baru saja aku akan menolak tapi klakson mobil diluar sana membuyarkan niatku.
“ah, calon suamimu sudah datang. Ayo ganti bajumu!”

Oh sial. Aku harus melakukan sesuatu agar aku bisa membatalkan acara ini.

Berfikir Hera ayo berfikir!!!! dan AHA!
“Oh, eomma perutku sangat sakit!!” Aku mulai merengek, “sakit, sungguh sakit sekali.”

Lihat! Apakah ini berhasil? eomma mendekatiku dan terlihat kawatir.

“Apakah sangat sakit?” tanyanya perhatian sedikit panik.

Aku mengagguk meng iyakan. Berhasil?
“Dasar anak nakal! Kau mau berbohong pada eomma?” Mwo? Tak berhasil. Apa aktingku tak berhasil? padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin.

“Www, eomma!” Eomma menjewer telingaku.

Aku melihat pria itu datang dan eomma berhenti menjewer. Ahh syukurlah, karena jeweran eomma sungguh sangat sakit dan agak memalukan jika pria itu melihatku yang di jewer eomma.

“Sehun, akhirnya kau datang. Ayo silahkan duduk!”

“Sepertinya kita harus segera berangkat.” Sehun tersenyum dan membungkuk.

Ohh perasaan apa ini? Kenapa aku senang melihatnya? dan benar-benar sempurna! Aktingnya benar-benar sempurna. Berlagak seperti anak baik hati dan tidak sombong, sopan dan berwibawa? Dia pantas menjadi aktor. Mungkin aku harus belajar akting padanya.

“Hera, ayo cepat ganti pakaianmu! Sehun sungguh orang sibuk. Kau tak boleh membuang-buang waktu!”

***

Aku menikmati lagu yang sedang kudengarkan lewat earphone. Memang lebih baik beginikan? dari pada ribut dengan alien macam Sehun. Aha! sebutan alien sangat cocok dengannya kan? alien dari galaksi antah barantah atau vampir? diakan tampan. Tapi itu terlalu bagus. Alien lebih baik. Hahaha.

Tiba – tiba Earphoneku dibuka paksa. Siapa lagi jika bukan perbuatan si Alien? Aku menatap sang alien yang kini terlihat agak kesal.

“Hei apa yang kau lakukan?” Tanyaku yang ikut kesal.

“Aku bertannya padamu tapi kau tak mendengar.”

“aku jelas tak mendengar, aku ini kan sedang mendengarkan musik. Kau ini bodoh apa?”

“Aku tak tau arah yang benar menuju butik itu.”  Ucapnya dingin.

“Bisakah kau tak berkata dingin? Tanyaku sebal mendengar nada bicaranya, aku tak mau menjawab pertanyaan dari orang dingin sepertimu!!”

“Aku memang sudah begini dari lahir.”

“OHH BAGUS! aku menikah dengan orang dingin sepertimu. Kurasa aku akan menjadi es setelah menikah denganmu.” oke ini terdengar agak berlebihan.

“Memang kau pikir aku mau denganmu?”
Damn!! Mati saja kau Oh Sehun!

“Kukira tidak. Dan kau pikir aku mau denganmu?” tanyaku tak ingin kalah.
“Kupikir ya, karena tak ada yang dapat melawan pesonaku.” Oh liat alien ini percaya diri sekali.

“Oh! Ini nilai tambah untukmu. Selain dingin kau ternyata sombong dan sangat percaya diri!”

“Terserah apa katamu.”

Oke dia bilang terserah. Ia tak tahu arti kata terserah adalah mutlak untukku. “Aku tak akan memberitahu jalannya. Terlalu malas berbicara padamu.”

Ia menyeringai, “sudah kuduga kau sengaja membuatku tersesat agar kau bisa terus bersamaku.”

Jika kau tahu, aku ingin terbang saja ke pluto agar tak bisa bertemu orang menyebalkan sepertimu Oh Sehun. Tapi sepertinya planet pluto terlalu dekat untukkmu. Kau kan alien dari galaksi antah barantah, jika hanya pluto mungkin terjangkau olehmu.

“Bertanya saja pada eommaku.”

“Percuma, ia akan menyuruhku bertanya padamu.”

“Oh sial!”

“Apa susahnya kau tunjukan jalan padaku? Waktuku tidak banyak. Setelah mengantarmu aku harus kembali ke kantor.”

“Kenapa kau tak turunkan aku saja disini? Biar aku sendiri yang melihat gaunnya. Kau bisa kembali ke kantormu!”

“Dan kau akan bilang pada eommamu bahwa aku pria yang tidak bertanggung jawab?”

Selalu saja….

***

“Kau telah membuang-buang waktuku!” ia mulai menggerutu. Mungkin kesal karena ini sudah satu jam lebih setelah waktu keberangkatan kami.
Itu salahnya sendiri. Aku tak akan mau kalah berdebat dengannya.

“Ini tak sepenuhnya salahku, ini kesalahanmu juga karena tak bersikap baik padaku.”

“Cepatlah! Aku tak punya banyak waktu!”
Kami langsung memasuki butik dan langsung dilayani oleh seorang pelayan wanita yang sepertinya terpesona dengan ketampanan Sehun.

Dasar pelayan genit. Kenapa melihat Sehun seperti itu? apa ia tak tau dibalik topeng tampannya itu ada sosok alien dari galaksi antah barantah? Ya dia memang tak tau. Hanya aku yang tau. Mungkin orangtuanyapun tak tau.
Salah satu wanita membawa gaun setelah aku menyebutkan gaun yang dipesan atas nama eomma.

Aku memperhatikan gaun yang kini ku pegang. Agak terbuka. Ya gaun ini sepertinya mengekspos bahu dan belahan dadaku. Bahkan mungkin gaun ini mengekspos pahaku. Apa tak terlalu terbuka? Apa benar ini gaun pengantin? Aku belum cukup dewasa memakai gaun seperti ini. Isshhh Eomma!!

“Kau akan mencoba bajunya?” 

“Tentu saja.”

Aku mengikuti pelayan ke ruang ganti. Tak butuh waktu lama. Gaun itu kini melekat dibadanku. Sangat pas. Tapi ini…
Tiba-tiba tirai terbuka. Kulihat Sehun sedang duduk di sofa putih didepanku. Ia menatapku. Aku tak bisa mengartikan tatapannya.

Tanganku refleks menutup bagian dadaku yang agak terekspos, “ini sangat buruk!” teriakku histeris, “Aku tak mau memakai baju ini! Ini terlalu terbuka!”

“Kau tak pernah memakai gaun pernikahan?”

“Apa ia bodoh? Tentu saja tidak!”

Ia hanya menggaruk kepalanya. Dasar alien aneh!

“Apakah kalian ingin berfoto?” tawar pelayan yang tadi membantuku memakai gaun, Biasanya para calon pengantin akan berfoto saat mencoba gaun mereka.”

“Sepertinya tidak perlu.” ucap pria itu. Ya karena kita bukan calon pengantin sejati dan aku rasa memang kita tak perlu berfoto.
Aku meraih tas dan mengambil ponsel.

“Kau tidak perlu. Jadi, fotokan aku saja!”  kuberikan ponsel padanya.

Ia mengambil ponselku dan aku mundur beberapa langkah siap untuk dipotret tapi mengapa ia tersenyum? Senyum yang terlihat aneh untukku”

***

Walau aku tak tahu bagaimana dasyatnya bom atom yang meledak di kota Hirosima dan Nagasaki. Sepertinya aku dapat merasakan ledakannya dalam jantungku. Walau hanya ilusi, itu membuatku sesak dan sulit bernafas karenanya.

OH SEHUN!

Ledakan itu dipicu olehnya. Aku benar – benar kesal karenanya. Tuhan mengapa aku harus berhadapan dengan orang sepertinya?
“Oh Sehun BODOH!!! Ku kira kau benar-benar memotretku!”

“Aku memang memotretmu kan?” 

Tanyanya santai sambil terus mengendarai mobilnya.

“tapi tidak dengan gaun pengantinku. Kau hanya memotret wajahku!!!”
Ia terkekeh pelan.

Aku kembali mengamati foto – foto dalam ponselku. Wajahku sangat jelas terlihat. Ya, seluruh layar ponsel dipenuhi wajahku. Gaun yang kukenakan jelas saja tak terekspos.

“Seharusnya tadi aku menyuruh pelayan saja.”

Alien itu diam tak memperdulikanku yang benar – benar kesal. Ini akan menjadi salah satu moment di hidupku, mencoba gaun pengantin. Apa ia tak mengerti?
Aku melihat keluar jendela. Tunggu! Ini bukan arah jalan pulang.

“Hey, ini bukan jalan menuju rumahku!”

“Hm.”

“Kemana kita?”

“Membeli apartement.”

“Mwo?!”

Bukannya tadi ia bilang tak ada waktu? mengapa tak langsung pergi bekerja kembali? “Kau bilang kau tak punya waktu. Tapi apa ini? membeli apartement?”

“Aku sudah menyerahkan semuanya pada asistenku.”

“Lalu mengapa tadi kau marah – marah jika pekerjaan kantor bisa di hendel?”

Ia tak menjawab dan terus fokus pada jalanan. Pria menyebalkan. Oh Sehun si alien. Aku lelah. Aku haus. 60 % tenagaku terkuras dalam waktu dua jam. Terkuras sia – sia.

***

“Woaahhh ini calon istrimu itu?”

Sehun mengangguk. Kami berada di sebuah apartement yang cukup mewah.

Aku tersenyum kearah pria yang mungkin pemilik gedung apartement ini. Tanggannya terulur dan kusambut tangan itu.

“Aku Kim Jongdae. Panggil saja aku Chen.”

“Lee Hera.” ucapku padanya. Ia tersenyum. Kami melepaskan jabatan tangan kami.

“Kalian akan tinggal berdua setelah menikah?” tanyanya.

Aku menatap Sehun. Aku tak tahu jika kita akan tinggal berdua.

“Mungkin,” jawab Sehun.

“Tapi mengapa kalian memesan apartement dua kamar? Bukannya satu saja cukup?”

“Itu untuk ruang kerjaku.”

Apa? Ruang kerja? Tentu saja itu harus menjadi kamarku!!! Kita harus berada dalam kamar yang berbeda. Akan sangat memusingkan jika kita berada dalam kamar yang sama.

Chen tersenyum menggoda, “Ohh. Kalian tak berencana meneruskan keturunan dengan cepatkan?”

“Tentu saja tidak. Ia masih bocah.”

Bocah? Bocah mana yang boleh menikah? Seharusnya ia sadar hal itu. Mengapa ia tak menolak pernikahan ini hah? Aku kan masih bocah. MASIH BOCAH!

“Aku lupa jika Hera belum lulus sekolah. Kau harus menahan satu tahun lagi Sehun. Hahaha”

Aduhhh apa sih yang mereka bicarakan? Cepatlaaahhh selsaikan semua ini. Aku ingin semuanya cepat berakhir.

“Oh aku harus melayani clientku yang lain. Kalian bisa melihat – lihat dulu apartement ini. Jika merasa cocok kalian bisa mengambilnya.”

Kami mengangguk. Ia pamit untuk pergi. Setelah ia pergi. . .

“Hey, jika apartement ini mempunyai dua kamar. Kita bisa tidur terpisah.”

“Itu memang rencanaku.”

“Tapi tadi kau bilang—”

“Aku tak ingin terlihat buruk didepan temanku.”

Pria ini agak picik juga ya.

“Baiklah, aku lega kalau begitu.”

“Kita buat perjanjian saat kita menikah nanti.”

Aku menatapnya. “Perjanjian? Perjanjian apa?”

“Kita buat poin – poin keinginan kita. Kita tak boleh melanggarnya. Jika kita melanggar, kita bisa minta satu permintaan apapun pada sang pelanggar. Poinnya hanya 3 saja. Bagaimana?”

“Siapa takut!”

“Deal?”

“Deal!” jawabku lantang.

Kami duduk dicounter dapur. Kita sudah siap dengan pulpen dan kertas masing – masing. Ahhh poin apa yang aku inginkan ya? Jika semakin dipikirkan semakin aku bingung apa yang kuingkan.

Pernikahan dengan cinta? Ahhh itu sih berlebihan. Bagaimana jika ia mentertawakanku? Sangat memalukan dan apa ini? Hanya tiga saja? Aku harus cermat.
1. Aku ingin Jeremy.

Hal yang paling aku inginkaaaaannnnnn. Jeremy harus bersamaku. Ohhh bukankah ini perjanjian yang bagus? Aku senang dan merasa di untungkan dengan perjanjian ini.
2. Biarkan aku bekerja.

Ini poin penting karena aku harus tetap bekerja.
3. Tak ada perselingkuhan.

Apa ini terdengar protektif? Egois? Terserahlah. Walau ini berawal dari perjodohan aku tak mau rumah tanggaku hancur. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup.
Aku menyerahkan kertasku padanya. Ia juga menyerahkan kertasnya padaku.
1. Turuti semua keinginanku.

2. Turuti semua keinginanku.

3. Turuti semua keinginanku.
“MWO?!”

Apaan isi perjanjian ini? Aku susah – susah mencari poin – poinnya dia seenaknya menulis hal seperti ini. Mana bisa? Ini sama saja seperti hukuman jika melanggar poin – poin itu.

“Hey ada apa dengan poinmu ini hah?”

“Kita sudah sepakat. Kau kurang cerdas.”

“Jika seperti ini aku juga bisa.”

“Tapi kau sudah mengajukan poinmu.”
Mengapa ia sepicik ini hah? Apa aku benar – benar bodoh sampai bisa dibodohi seperti ini?

“Kau—-”

“Kita beli apartement ini. Ini keinginanku.”

TBC

Oke selsaiii akhirnyaaaaa. Maaf banget sudah melanggar janji dan ini postnya laaaaamaaaa bingitsss. Sebenernya aku udh bikin sampe chapter 5, tinggal di post. Tapi aku bingung, mau post yg Sehun dulu apa yg Lay dan Tao juga sekalian di post? Soalnya cerita mereka berhubungan😦 maaf yaaaa maaf bngt kalau kalian gk puas jg. Maaf banyak typo dan tanda baca yg salah.

Jangan lupa komentarnya ya, komentar kalian sangat membantu untukku. Kalau banyak yang respond, chapter 3 ready to post ^^ thanks bye bye

60 responses to “EXO & YEOJA ! Oh Sehun Chapter 2

  1. ah akhirnya setelah nunggu sekian lama dipost juga chapter 2 ini🙂
    suka bgt ama gaya sehun yg cool dan super PeDe,hehehe….
    apalagi wktu dia mengajukan poin “Turuti semua Keinginanku” itu bener-bener bikin aku puas,hahaha….🙂
    emang kodradnya seorang istri menuruti kemauan suami kan?
    tp aq agak gk setuju sih wktu hera mnta poin kedua untuk mmbiarkan dia bekerja….sebab jadi istri yg baik dirumah itu justu lebih mengagumkan🙂
    itu lagi pisah kamar, jadi gk romantis dong???
    bikin sweet moment mereka dong kak, mereka udh sama” suka tp koq berantem terus sih? jadi sebel deh lihatnya…..
    jd gk sabar nunggu moment pernikahan mereka🙂
    buruan dipost chapter selanjutnya kak🙂
    aq tunggu ya… jangan lama” ^__^

  2. wahh daebak!! akhirnya lanjut juga ini😀
    dohh sehun cool amat sih lu bang wkwkwk tapi tetep ganteng, hahaha
    itu knapa emang si lay ama tao?? temennya si jinsang juga knapa?? ko gue curiga sama haneul yaa. duhh jadi ga sabar nihh >,< ditunggu banget lohh kelanjutannya😀

    • Makasihhh udh nunggu selama seabad ini hahaua 😁 maaf ya lama postnya. Nanti deh tunggu chapter selanjutnya, tapi tao sama lay nanti punya cerita sendiri😉

  3. Maunya komen P×L tapi apa daya diriku gak bisa, tapi inti dari komenku gak jauh jauh dari ;minta diderbanyk moment cuitnya sehun hera. Itu saja… terima kasih~

    P.s : diriku suka banget sama sehun yg menbekukan kek gitu, jadi diriku gak sabar buat baca kelanjutannya, secepatnya ya di next. Dari diriku yang gak pernah jenuh menunggu…

    Thank~~😘😘

  4. Akuu bacaa dari chaoterr 1 dulu yaa hehe, chapterr duaanyaaa sukaaa huaaaa. Sehun ngeselin apa apaann itu? Itu mah bukan perjanjiann namanyaaaa 3 poin cuma dibuatt itu doangg aduhh kenapa aku ikutan sebel wkwkwk nexttt hehe ditunggu kelanjutannya

  5. uaaahhh… sweet banget… tapi kayaknya sehun udah jatuh cinta sam hera ya… buktinya sehun cerita tentang wanita hanya hera doang ke lay…. semoga mereka bersama n gak ada orang ketiga buat hubungan mereka yau… semangat ya kak… cepetan d lanjut in doang penasaran nih….

  6. Baca ini jadi ketawa ketawa sendiri hahahah
    keren thor, apalagi aku emang suka sehun yg sifatnya dinging dll gt..
    pokoknya keren lah

  7. Sehun sehun x_x haduh
    Masa iya hera tahan hidup sm namja es nyebelin tp tamvan mace uri thehun wkwkwk
    Sblm mereka resepsi, mending gue bw kabur sini😄

    Kasih visual jeremy dong eonn😄 penasaran tingkat keimutanya wkwkwk

    Next chapt jan lamalama ya eonn T.T
    Keep writing~

  8. omg sehun mana ada bikin perjanjian kyk giti wkwkwk kocak dah hahaha
    tp bagus jg sih biar ga ribet nyari poin-poinnya kyk hera hahaha

    ditunggu next chapternya ya authornim hehe ^^

  9. Hello eonni huh akhirnya d post aku sudah berlumut menunggunya. Gk sabar nyeritain mereka sesudah menikah hohoho ditunggu next chapternya please fast post

  10. kyak.e ada perubhan sma crta yg awal ya kak?
    Tp ini lebih menarik kak
    Lbh menarik lg kalau seandainya hera buat sehun cemburu .haha

  11. Aakhirnyaa diupdate juga~~ ceritanya makin sweet nehh~~ penasaran bangett sama kisah sehun-hera lanjutannya😍😍 nextnya jangan lama-lama yaa, ditunggu banget lanjutan sehunnya❤❤ fighting fighting!!

  12. Sehun sama Hera tuh udah kayak kucing sama tikus.. berantem mulu..
    Sehun gak bisa apa ngerubah sifatnya.. terlalu dingin.. kalo emang dia gak mau Hera nolak dia, dia harus bisa ngerubah sifatnya..
    Ceritanya bagus.. mungkin harus agak diperbaiki aja penulisan.. mungkin karena penulisannya yang terlalu baku kali ya.. tapi ini aja udah cukup bagus kok..
    Semangat.. ditunggu lanjutannya..

  13. Sehun.. Sehun.. Jadi pengen ikutan ngelempar Sehun ke Planet luar juga. Hera yang sabar ya. Lanjut ya kak ^^

  14. apa maksudnya hera ingin jeremy? apakah stelah mereka menikah mereka akan mengadopsi jeremy?
    itu sehun gak kira-kira ya.. apa yang dia mau harus diturutin ckckck

    next
    keep writing

  15. Njirr si sehunn 😂😂😂😂😂😂 minta ditabok si hera nih keknya ya wkwk
    Makin asik nih kaa lanjut donggg😊😊😊😊😊
    Lucu bet pasangan ini uyy 😂

  16. Suka banget sama chapter ini🙂
    Kocak banget😀
    Apalagi waktu acara amal sama beli apartemen😀 ngakak bacanya😀

  17. Suka banget sama chapter ini🙂
    Kocak banget😀
    Apalagi waktu acara amal sama beli apartemen😀 ngakak bacanya😀
    Lanjut thor….👍

  18. Kyaaa omegat akhirnya di update juga, gue nyampe lumutan nunggu ni ff, penasaran banget gue sama kisah sehun ntar, aaaa😄 pasti romantis2 gimana gitu…. xD😄
    Can’t wait for next story 😂😣
    Semangat terus author!!
    Hwaiting✊✊😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s