Dark Love | White Noise | ~ohnajla

ohnajla || romance, drama, marriagelife, family || Teen (17 y.o) ||

Chaptered ||

Oh Sehun (EXO) || Tzuyu (Twice) || Kim Sowon (Gfriend)

#1 Lucky One

#2 Monster

#3 Artificial Love(r)

#4 Stronger

#5 They Never Know

#6 Heaven

#7 One & Only

#8 White Noise

.

Sehun kembali ke apartemennya di Seoul bersama Sowon. Inilah untuk pertama kalinya Sowon menjejakkan kaki di ibukota negara tercintanya tersebut. Dia benar-benar tidak bisa menutupi kekagumannya pada suasana kota yang sangat berbeda dengan suasana di Bucheon. Meski Bucheon dan Seoul terletak bersebelahan, sejauh ini Sowon hanya tahu namanya saja, tidak pernah tahu bagaimana keindahan kota tersebut.

“Itu! Itu Namsan?!”

Sehun mengikuti arah pandang Sowon sekilas. “Ya. Kau baru tahu sekarang?”

Jinjja?! Omo! Tinggi sekali….”

Sehun tersenyum tipis. Baginya ekspresi Sowon selalu lucu kalau sedang melihat hal-hal baru. Tapi itu berlaku sekarang, bukan untuk kemarin-kemarin. Dulu, boro-boro Sowon akan berekspresi seperti itu. Untuk urusan kepribadian ganda, Sowon-lah juaranya.

“Ada patung memorial juga?!”

“Ya Tuhan … indah sekali tempat ini.”

Mobil yang dikendarai Sehun melaju tenang membelah jalanan kota Seoul. Melewati berbagai gedung tinggi, taman kota dan lain sebagainya. Sowon tak hentinya berdecak kagum melihat semua yang mereka lewati. Gadis itu sedikit menyesal karena kameranya ada di koper bagasi belakang. Hm, padahal momen-momen seperti ini harus diabadikan.

Setelah menghabiskan banyak waktu perjalanan berkeliling Seoul, mobil Sehun pun sampai di area parkir salah satu gedung apartemen mewah bernama Galleria Foret. Komplek apartemen ini berada cukup dekat dari Sungai Hangang. Dan letaknya cukup strategis. Sepadan dengan harganya yang fantastis, komplek apartemen ini cukup menarik perhatian banyak orang.

Mereka naik ke lantai 24 menggunakan lift. Sehun membuka pintu apartemennya dengan mengetik 6 digit kode. Setelah terdengar suara klik, mereka pun masuk ke dalamnya.

“Sepertinya kau tidak pernah bersih-bersih,” kata Sowon sembari menarik kopernya masuk.

“Aku tidak sempat membersihkannya. Jadi setelah ini bantu aku bersih-bersih.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Sehun menutup pintu setelah semua barang mereka masuk ke dalam. “Kalau tidak mau, kau boleh kembali ke Bucheon.”

Kalau sudah mendengar itu Sowon hanya bisa mendesis. Gadis itu pun segera pergi mencari kulkas untuk mengisi kerongkongannya yang sedang kemarau parah. Tidak sulit mencari dapur di apartemen ini. Hanya perlu berjalan lurus dari pintu masuk, dia sudah bisa melihat dapur yang berada satu ruang dengan ruang tengah.

“Kenapa semuanya yang ada di sini instan? Oh Sehun, kau mengonsumsi semua ini sejak tinggal di sini?”

“Tidak juga. Kalau bosan aku pesan dari restoran atau pergi makan di luar,” balas Sehun yang kini duduk di salah satu sofa ruang tengahnya, mengusap peluh yang membasahi leher.

Sowon menghampirinya sambil membawa dua botol jus instan. Memberikan satu pada Sehun yang berwarna orange. Mereka duduk bersisian dengan jarak sejauh dua kaki yang memisahkan mereka.

“Gadis China-mu tidak pintar memasak? Bukankah dia sering bermalam di sini?”

“Bisakah kau tidak menyinggungnya lagi?” Tidak seperti kemarin-kemarin, sekarang Sehun sudah lebih tenang. Dia menyesap jus-nya dengan nikmat.

“Baiklah.”

Pembicaraan mereka selesai, rumah itu pun sepi senyap. Di saat seperti ini suara denting jam dan keramaian jalan raya di bawah sana terdengar begitu berarti. Dunia tidak benar-benar sepi meski dua manusia ini tidak saling bicara. Masih ada suara-suara lain yang dengan ikhlasnya meramaikan suasana.

Jus di botol Sehun sudah habis. Ia letakkan botol berbahan plastik terbaik itu di atas meja. Tak lama kemudian, Sowon mengikuti apa yang ia lakukan.

“Pekerjaan apa yang kau lakukan selama tinggal di sini?” tanya Sowon penasaran, sembari memangkas jarak di antara mereka. Lengan keduanya saling bersinggungan.

“Aku juga tidak tahu. Ada banyak sekali pekerjaan yang kulakukan, tapi semua itu tidak berjalan setiap hari. Mungkin kau bisa menyebutku sebagai freelancer?”

Freelancer? Ah … sepertinya menyenangkan,” balas Sowon sambil menggerak-gerakkan jari kedua kakinya yang tidak terbalut sepatu ataupun kaos kaki.

“Lalu kau sendiri?” tanya Sehun usai menoleh, diperhatikannya tiap sudut wajah Sowon dengan teliti.

“Hanya kuliah. Begitu lulus, eommeonim memintaku menikah denganmu. Sebenarnya aku sudah direkrut oleh perusahaan tempatku magang selama tahun keempat, tapi terpaksa kubatalkan begitu eommeonim mendatangiku.”

“Apa kau merasa kesal dengan pernikahan ini?”

Sowon menoleh, bersitatap dengan Oh Sehun. “Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak. Aku menerima permintaan eommeonim setelah memikirkannya matang-matang.”

“Apa sudah ada seseorang yang melamarmu sebelumnya?”

“Tidak ada. Tapi appa sering memaksaku untuk ikut kencan buta. Mungkin appa gerah melihatku yang terus-terusan sendiri,” ujarnya dengan senyum geli. Sehun yang melihatnya pun tertular. Tanpa sadar tangan kanannya dipindah ke bahu sofa, terentang horizontal di belakang bahu Sowon.

“Lalu kau ikut kencan buta?”

“Eum. Hanya sekali,” wajah Sowon berpaling dari Sehun, kini matanya tertuju pada sofa putih yang ada di seberang mereka. “Itu pun aku membencinya.”

Tawa Sehun yang renyah dengan suara rendah masuk ke gendang telinga Sowon seperti hembusan angin di musim semi. Tak kuasa gadis itu menahan diri untuk tidak menoleh ke pemilik suara. Mungkin inilah kenapa semua gadis bisa bertekuk lutut pada pria ini. Suara rendah khasnya sanggup menarik hati gadis mana pun.

“Memangnya seperti apa pria itu? si kutu buku? Si narsis? Atau … si anak mama?”

“Dia pria setengah botak yang tingkat percaya dirinya tinggi sekali sepertimu.”

Seketika ruang tersebut ramai oleh tawa riuh Oh Sehun. Saking hebohnya tertawa, wajahnya jadi merah padam, matanya berair, dan perutnya mulai terasa nyeri. Mau tak mau Sowon ikut tertawa meski tidak seatraktif itu.

Puas tertawa, Sehun kembali menyandarkan punggungnya di kepala sofa. Dia menyeka bantaran sungai kecil yang tercetak di pipinya.

“Itu gokil sekali, Sowon-a.”

“Padahal aku bilangnya dia itu mirip denganmu.”

Bibir Sehun mencebik, direngkuhnya erat bahu Sowon sampai tidak ada satu senti pun jarak di antara mereka. “Tidak perlu membohongi dirimu sendiri, kau pasti sangat beruntung ‘kan mendapatkan suami macam Oh Sehun ini?”

Seulas senyum tipis terbentuk di wajah Sowon. “Kalau itu antara iya dan tidak.”

Yaa.”

“Aku paling tidak suka dengan pria bekas pakai banyak gadis sepertimu.”

“Sudah kubilang kalau aku ini masih suci. Kau tidak percaya?”

“Terserah apa katamu. Aku lebih memercayai apa yang kulihat daripada apa yang kau katakan.”

Rengkuhan Sehun pada Sowon merenggang, namun lengannya masih bertengger nyaman di bahu gadis itu. Ia memijat keningnya menggunakan tangan lain.

“Sejak kau menjadi pengacau hidupku, aku tidak pernah bisa berhubungan dengan seorang gadis lebih dari jalan-jalan bersama atau berpegangan tangan. Tiap kali aku akan mencium mereka kau pasti muncul sambil membawa ember berisi air selokan. Kau membuatku gila tahu tidak?”

Sowon tertawa mengingat masa-masa mereka dulu di sekolah menengah. Ya, semenjak Eunha meninggal, hobinya yang semula hunting foto langsung berubah haluan menjadi hunting Oh Sehun. Dia akan memburu Sehun kemana pun, kapan pun dan bersama siapa pun pria itu pergi. Tak akan ia biarkan Sehun berada di luar jangkauannya. Mengingat kenangan itu sekarang, ternyata dia dulu konyol sekali.

“Hah … lucu sekali ya?” sindir Sehun sebal.

“Bukan hanya lucu, tapi saaaangat lucu.”

Sehun cemberut. Ia pun menarik pipi tirus Sowon dengan gemas. “Oh … jadi itu saaaangat lucu ya?”

Sowon menepuk-nepuk tangan Sehun minta untuk dilepaskan. Sehun pun melepasnya.

Sowon mengusap pipinya yang mulai memerah. “Sakit….”

Merasa bersalah, Sehun pun mengusapnya pelan. “Terlalu kuat?”

Gadis itu mengangguk sedikit manja. Meski sikap seperti itu sebenarnya cukup aneh untuk Sowon, tapi Sehun tidak peduli. Sepertinya dia sudah melupakan imej Sowon yang dulu. Bahkan dia cuek-cuek saja ketika Sowon merebahkan kepala di bahunya.

Inilah pertama kalinya Sowon dapat merasakan sensasi tidur di bahu Sehun. Bahu pria ini keras tapi juga nyaman dalam waktu bersamaan.

“Sehun-a….”

“Hm?”

“Apa semua gadis dalam hidupmu pernah bersandar di bahumu seperti ini?”

“Mungkin, aku tidak begitu ingat,” jawabnya sambil mengusap puncak kepala Sowon.

“Aku selalu melihat para gadis melakukan ini pada kekasihnya. Awalnya kupikir mereka melakukan ini untuk menggoda kekasihnya, ternyata tidak begitu. Aku baru tahu kalau rasanya senyaman ini.”

“Kau sungguh tidak pernah berkencan selain bersama si setengah botak itu?”

Sowon menggeleng. “Orang itu mengajakku tidur di hari pertama kami bertemu. Karenanya aku tidak mau berkencan dengan siapa pun lagi, menurutku semua pria akan sama saja sepertinya.”

“Tapi aku tidak begitu,” sergah Sehun cepat. “Aku pria dan aku tidak sama dengannya.”

“Ya, aku tahu. Kita sering tidur di ruang dan tempat yang sama tapi kau seolah menganggapku seperti boneka teman tidur saja.”

“Nah, sudah terbukti ‘kan? Aku ini pria baik-baik meski tingkahku semasa SMA begitu.”

“Ya ya ya, terserah kau mau bilang apa,” balas Sowon malas sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Sehun. Komplit, jika orang melihat mereka, bisa dipastikan orang itu akan iri setengah mati. Mereka sangat serasi.

“Jangan tidur dulu. Bantu aku bersih-bersih.”

Sowon hanya berdehem sambil terpejam. Sehun tersenyum geli. Dikecupnya puncak kepala gadis itu dengan sayang.

.

.

TBC

31 responses to “Dark Love | White Noise | ~ohnajla

  1. Oh mereka so sweet bangett🙂 mereka gk sadar apa kalau mereka udah saling suka🙂 ahh sampai iri dengan mereka -_-
    Ditunggu next chapnya

  2. Mereka sweet banget aduhhhhh😢
    Lucu aja ya kalo inget chapter awal awalan yang udah kayak musuh bebuyutan😂
    Tapi sekarang mereka sweet😢
    Semoga nanti makin sweet ya kak😊
    Hwaiting💕

  3. Omaigattt mereka udah peluk peluk cium cium >,< Oh sehunnnn ama gue aja sinilah wkwkwk tuh kan mereka kaya udah saling menerima gituu. baguslah semoga langgeng, tzuyu ga usah dateng dateng lagi lah wkwkwk. seru banget, ini chap nya masih panjang ga ya? ga sabar kelanjutannyaa

  4. wow wow wow wow wow wow wow wow sehun ama sowon udah berani kisseu yahhhh, ya udah deh yg penting akur

  5. wahhh udah bener2 damai nih? :3 jinjja daebak! :3 nah klo gitu kan jug manis dilihatnya :3 lagi sehun kapan jujur ngmng klo suka sowon? :3 ditunggi next chapternya :3

  6. Udhh damaii beneran? Serasii bngttt huaaaa jngn berantem lagii. Mereka udh saling sukakan? Lanuutannya ditunggu

  7. huhuhuhuhu ceritanya bikin Baper tingkat dewa. apalagi buat jomblowati kayak aku.
    ditunggu selanjuynya ya thor. jangan lama lama ya.. mudah mudahan next chapternya gak terlalu pendek..😀

  8. Mereka sweet banget aduhhhhhh😢
    Kalo keinget chapter awal awalan itu lucu juga ya kak😂
    Secara chapter awal mereka musuh bebuyutan😂
    But,makin kesini makin sweet aja huhuhu😢

  9. Gemaaaaaaaaaaaaaaay, comel sekaliiiiiiiiiii
    Duh gemes pingin sun sehun, eh, hahahahahahahahahahahabhahaha
    Kalo momennya cuma gini doang kan jadi yuhuy bancanya, hahahahahah. Kirain bakal ada kissing scene mereka, kayaknya bakal ditunggu banget nih! Fighting!

  10. ahhh sweet bgt..
    ehmmmm pengent nendang * ni couple..
    bkin iri…
    astaga. .gk prcaya s sowon bisa brubah drastis sikap na…
    ahhhhhhh

  11. jadi sebenernya mereka itu udah saling suka atau belom yaa? jadi kepo maksimal gini dengan endingnya
    well aku suka sama ff nya. bikin kepo
    next ya author

  12. Pingback: Dark Love | Cloud 9 | ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Sehun di sini percaya diri sekali, bagus dia ketemu Sowon yang gak naif/? wkwk Jadi ada lucunya waktu mereka bareng dan juga romantisme yang tak terlalu terlihat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s