[2/6] Break My Fall : Surrogate

Surrogate baru

by Tamiko

Threeshot || Romance & Hurt/Comfort || PG-17

Cast : Jooyoung (OC), Kai

Disclaimer : I don’t own any of the cast beside the OC

Tell me is this where I give it all up? – Sam Smith

Summary : Jooyoung jatuh cinta sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Kali kedua kepada pria yang memperbaiki hatinya hanya untuk dihancurkan sekali lagi. Dia adalah sebuah paradoks yang buruk.

Previous : Summer of 17

surrogate /suruh-geyt/ : (n) pengganti

ℑζ

Kai ada di kelas Kalkulusnya. Kim Kai ada di kelas kalkulusnya. Jooyoung tidak bisa berhenti panik sejak melihat pria tan itu  duduk dua baris di depannya. Rambut dicat putih dan disisir ke belakang dengan rapi. Dengan kemeja kotak-kotak perpaduan merah, biru dan sedikit hijau tua sedang mengetuk-ngetukkan ujung pulpennya dengan meja. Dia banyak berubah sejak terakhir Jooyoung melihatnya ― dan itu sudah sekitar empat tahun lalu ― tapi entah bagaimana otak Jooyoung otomatis mengingat pria itu sebagai Kim Kai saat dia berbalik untuk meminjam pulpen dari orang di belakangnya tadi. Jooyoung ingat senyum memuakkan yang biasa ditujukan untuk Krystal dulu.

Tuhan pasti membencinya. Itu pikir Jooyoung begitu melihat Kai pagi itu. Moodnya langsung berubah buruk meskipun dia ingat sudah meneguk segelas kopi hitam sebelum memulai harinya. Tidak ada kopi yang bisa menyelamatkan mood Jooyoung dari kejatuhan drastis begitu matanya menangkap sosok Kai. Karena Kai mengingatkannya pada suatu kenangan buruk dari masa lalu. Hanya dengan mengingatnya saja sudah membuat Jooyoung ingin memuntahkan sandwich daging yang dimakannya bersama kopi tadi pagi.

Karena itu begitu kelas Kalkulus berakhir, Jooyoung langsung mengumpulkan catatan dan mp3 dari mejanya lalu melesat pergi. Mengabaikan orang-orang yang tidak sengaja dia tabrak dan berteriak marah padanya. Jooyoung cepat-cepat kembali ke asrama. Mengunci pintu seperti kesetanan. Jennie ― teman sekamarnya ― mengerutkan kening seperti ingin bertanya tapi kemudian membatalkan niatnya karena Jooyoung segera berlari menuju toilet tanpa berkata hai. Dia memuntahkan seluruh sandwich daging yang dimakannya tadi pagi dan bahkan sisa pizza semalam yang belum tercerna sempurna masih terlihat bercampur dengan sarapan paginya.

Setelah selesai mengeluarkan sesetengah isi perutnya Jooyoung menyandarkan badan di pintu kamar mandi dengan lemas. Dalam hati mengutuk pria berambut putih yang menjadi penyebabnya.

“Apa kau baik-baik saja?” dia mendengar Jennie bertanya ― Jooyoung yakin tanpa mengalihkan perhatian dari laptopnya. Pertanyaan temannya itu hanya ditanggapi oleh Jooyoung dengan anggukan meski tahu lawan bicaranya tidak bisa melihatnya.

“Aku hari ini mau tidur saja.” ujar Jooyoung beberapa menit kemudian. Akhirnya bangkit dari lantai toilet dan melempar badannya ke kasur.

Jennie memutar kursinya untuk bisa berhadapan dengan Jooyoung dan berkata “Bukannya kau mengambil kelas Antropometri denganku?”

“Aku sakit.”

Jennie mengerutkan kening. Untuk sesaat terlihat seperti mempertimbangkan perkataan Jooyoung ― seriously apa yang perlu dipertimbangkan ― kemudian memutar kursinya lagi seraya mengedikkan bahu. Memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur. “Baiklah. Mau aku mampir ke apotik?”

“Tidak perlu. Bukan sakit serius.”

Jujur saja Jooyoung tidak menyangka hanya dengan melihat Kai dia bisa langsung merasa sesakit ini. Well, secara teknis dia tidak sakit. Hanya tiba-tiba merasa dorongan yang kuat untuk memuntahkan seluruh sarapan paginya saat melihat pria tan itu ada di kelas yang sama dengannya. Dia bahkan tidak tahu kalau mereka satu universitas. Dan sudah empat tahun sejak dia terakhir bertemu dengan Kai dan juga pria itu. Tapi ingatan tentang musim panas empat tahun lalu masih tetap saja mengocok perut Jooyoung dengan brutal untuk beberapa alasan tertentu.

.

.

Jooyoung berniat membatalkan mengambil kelas Kalkulus. Ini adalah minggu pertama kuliah dan dia masih bisa batal mengambil kelas itu hanya untuk tidak melihat Kai lagi. Tapi Jennie ― yang berperan sebagai ibu keduanya sejak mereka menjadi teman sekamar yang berarti sejak hari pertama dia di Seoul ― menendang bokongnya  (dia benar-benar melakukannya dan itu terasa sakit) dan mengatakan akan membunuh Jooyoung dengan tangannya sendiri jika berani membatalkan mengambil kelas itu lagi semester ini. Dia gagal saat semester pertama dan menolak mengambilnya saat semester tiga dan Jennie mengatakan dia harus ― highlight harus ― mengambil kelas itu semester ini. Tidak bisa tidak.

Jadi Jooyoung dengan wajah ditekuk kembali menghadiri kelas menyebalkan itu lagi seminggu kemudian. Bersumpah akan membunuh Jennie jika dia harus pulang lagi ke dorm untuk memuntahkan roti selai nanas ― dia sangat menyukai selai nanas dan tidak akan pernah memaafkan Jennie jika hari ini dia harus merasakan selai nanas keluar dari lambungnya ― yang dimakannya tadi pagi karena melihat wajah Kai. Jennie hanya mencibir dan menuduhnya bersikap berlebihan. Jooyoung mungkin sedikit berlebihan. Tapi dia tetap ingin membunuh Jennie jika dia bertemu Kai lagi, atau setidaknya membuang action figure Luffy kesayangannya di toilet sebagai balas dendam.

Tapi Jooyoung tidak muntah hari itu. Juga tidak bertemu Kai. Dan itu sangat melegakan. Terima kasih kepada seluruh Tuhan yang ada.

.

.

Jooyoung bertemu lagi dengan Kai jumat malam. Mengutuk seluruh dunia karena mengapa dia begitu tidak beruntung? Jooyoung sudah cukup senang setelah tidak melihat wajah menyebalkan pria itu senin lalu dan sekarang, setelah merasa dirinya cukup aman ― dari bayang-bayang masa lalu ― dia harus kembali melihat senyum memuakkan itu. Jooyoung lagi-lagi ingin muntah. Begitu melihat rambut berwarna putih menyembul dari balik rak di depannya, Jooyoung sedikit berharap kalau itu bukan kepala Kim Kai yang sama sekali tidak ingin dilihatnya lagi seumur hidup. Tapi hey memangnya ada berapa orang pria yang mewarnai rambutnya putih ― dengan sengaja ― di seluruh Seoul ini. Baiklah mungkin masih ada beberapa orang lainnya Jooyoung beralasan. Tapi karena sepertinya Tuhan memang sedikit membenci Jooyoung, pemilik rambut putih itu memperlihatkan wajahnya dan Jooyoung tiba-tiba tidak ingin kopi dingin lagi ― padahal tadi dia bersungut-sungut pada Jennie yang menghabiskan seluruh kopi instan mereka dan mengatakan tidak bisa mau menonton tanpa itu ― sekarang dia di sini dengan Kai berdiri tidak sampai satu meter darinya. Jooyoung pasti sudah melakukan dosa besar di kehidupan sebelumnya sampai keberuntungannya sejelek ini.

Gadis itu tidak berhenti mengutuki dirinya sendiri dan botol kopi di tangannya saat Kai berjalan mendekat ke arahnya. Bersumpah tidak mau minum kopi lagi setelah ini ― sumpah yang pasti dilanggarnya besok. Tapi Kai berjalan melewatinya. Seolah tidak mengenalnya. Membuat Jooyoung semakin melongo. Meski di satu sisi dia merasa senang tidak harus berbicara dengan pria tan itu dan mual di perutnya seketika berhenti, Jooyoung tetap bingung dengan sikap Kai.

Benar mereka tidak dekat. Tapi Kai dulu berkencan dengan sahabat terdekat Jooyoung dan bukan hanya sekali atau dua kali mereka bertemu dan bermain bersama meski Jooyoung tahu kalau perasaan benci mereka satu sama lain saling berbalas. Tapi pria itu berjalan melewatinya dengan enteng, tanpa beban. Seolah mereka memang tidak pernah saling mengenal di masa lalu ― sejujurnya Jooyoung memang berharap begitu adanya ― tapi untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, harga diri Jooyoung sedikit banyak terluka karena Kai hanya berjalan melewatinya tanpa kata. Dia rasanya ingin menarik lengan baju pria itu dan mengkonfrontasinya. Entah kenapa.

.

.

“Kurasa kau bukannya tidak ingin menghapus masa lalumu itu sama sekali.” kata Jennie santai setelah Jooyoung menceritakan pertemuannya barusan dengan Kai dan bagaimana dia anehnya merasa sedih pria itu mengabaikannya tadi. Padahal Jooyoung yakin seratus persen kalau mereka sempat bertemu mata meski hanya sepersekian detik.

Jooyoung mengerang. “Apa aku sudah pernah cerita kalau aku sangat benci dengan Kai?”

“Ya, tapi dia juga satu-satunya orang yang berhubungan dengan Kepala pink mu yang kau kenal.” Jennie menyanggah cepat. Dia sengaja meniupkan asap rokoknya ke wajah Jooyoung yang menatapnya kesal. “Kurasa kau ingin bicara dengannya dan bercerita tentang masa lalu.”

Fyi, kami, aku dengan si keparat Kai bisa melakukan banyak hal dan kurasa minum kopi dan duduk santai sambil mengingat masa lalu bukan salah satunya.”

Jennie mengernyitkan kening dan tersenyum sinis. Ekspresinya menunjukkan betapa terhiburnya dia dengan situasi Jooyoung saat ini. “Lucu bagaimana kau menyinggung tentang minum kopi padahal aku hanya bilang bicara.” Lagi-lagi dia meniupkan asap rokok ke wajah Jooyoung, membuat gadis itu berteriak kesal dan memelototinya. “Mungkin dalam hati itulah yang ingin kau lakukan dengan si Kai ini. Membahas masa lalu sambil minum kopi murah di Jims”

“Itu tidak benar.” sangkal Jooyoung seraya mengeraskan rahang ― bukan hal yang setiap hari dilakukannya. Itu sama sekali tidak benar. Jooyoung tidak pernah ingin mengingat tentang kepala pink apalagi menceritakannya. Dia hanya tidak sengaja memberitahu Jennie tentang orang itu dulu saat permainan Truth or Dare (yang hanya mereka mainkan berdua). Dan saat itu Jooyoung sedikit mabuk. Dia tidak pernah ingin mengingat masa itu saat dalam keadaan sadar sepenuhnya. Tidak dengan siapapun. Terutama tidak dengan Kai. Dan dia juga tidak ingin minum kopi dengan orang itu.

“Aku hanya bilang saja.” kata Jennie tak acuh sembari menghembuskan asap rokok ke arah Jooyoung. Lagi.

Itu tidak benar. Jooyoung bersikukuh dalam hati.

.

.

Jooyoung sudah lama move on dari Kepala pink. Dia berani bersumpah atas seluruh kopi dan selai nanas kesukaannya. Dia bukan pemeran utama wanita yang dengan cengeng menangisi seorang pria sampai bertahun-tahun. Memang benar Kepala pink adalah salah satu hal terhebat yang pernah terjadi padanya tapi jujur saja dia tidak sehebat itu. Setelah mereka berpisah, Jooyoung sudah bolak-balik berkencan dan putus dan berkencan lagi dengan beberapa orang. Seperti manusia normal lainnya. Meski selama empat tahun dan lima pria yang dikencaninya tidak satu pun yang bertahan cukup lama. Tapi Jooyoung positif kalau dia sudah melupakan Kepala pink. Dan kehadiran Kai di kelas Kalkulus tidak seharusnya mempengaruhi fakta itu.

.

.

Jooyoung berusaha berhenti memikirkan Kai (dan Kepala pink). Datang ke kelas Kalkulus tepat semenit sebelum kelas dimulai dan mengambil kursi terjauh dari Kai. Jooyoung berusaha keras setiap kali untuk tidak melihat ke arah pria tan itu dan itu sama sekali bukan tugas yang berat. Karena Jooyoung tidak bisa membiarkan matanya berkeliaran kemana-mana saat Profesornya menulis dan menghapus begitu banyak rumus di papan tulis dengan kecepatan cahaya. Dua bulan di kelas Kalkulus besama Kai dilewati Jooyoung dengan mudah. Tanpa ingatan tentang musim panas 2006 ― dan seseorang berkepala pink ― juga tidak ada rasa ingin muntah setiap senin pagi.

Tapi dua bulan yang melegakan itu hanya bertahan selama dua bulan. Dan Jooyoung sekali lagi mengutuki peruntungannya saat Kai menyelinap dengan santai di sebelahnya dua menit setelah Profesor Song memulai kuliah. Kejutan. Jooyoung ingin berteriak, entah kepada pria berkulit tan di sebelahnya yang masih berusaha mengatur napas ― sepertinya dia berlari mati-matian agar bisa sampai ke kelas tepat waktu ― atau kepada Profesor Song yang dengan santai terus melanjutkan kuliahnya tanpa peduli pada Jooyoung yang kehilangan konsentrasi.

Kai dengan acuh mengeluarkan buku dan pulpen dari tasnya dan segera memusatkan perhatian pada rumus dan angka yang menempel di papan tulis. Tidak sekalipun menatap pada Jooyoung. Entah Jooyoung harus bersyukur atau merasa kesal untuk itu. Sejujurnya dia lebih merasa marah daripada bersyukur. Karena duuh kalau ada salah satu di antara mereka berdua yang akan mengabaikan yang lainnya, orang itu jelas bukan Kai. Cukup jelas.

Jooyoung ― tanpa memperhatikan Profesor Song ― sibuk bermonolog dalam kepalanya. Tentang bagaimana Kai memang selalu bersikap menyebalkan dari dulu. Meskipun berkencan dengan Krystal yang sangat baik dan ramah dan kebetulan adalah sahabat Jooyoung, Kai tidak pernah terpengaruh dengan itu. Sedikitpun sifat positif Krystal tidak menular pada Kai. Sebaliknya Kai adalah segala hal negatif yang Jooyoung tahu. Grumpy. Ceklis. Pemarah. Yup. Manipulatif, kasar, dan seenaknya. Ya, ya, dan ya. Merokok. Tidak usah ditanya lagi. Ditambah sederet sifat buruk lainnya, monolog ini tidak akan selesai sampai akhir kelas Kalkulus.

Pria itu, Kai, memang dari dulu tidak pernah bersikap baik atau sedikit menunjukkan persahabatan ― hell bahkan pertemanan pun tidak ― kepada Jooyoung. Yang dibalas Jooyoung juga dengan sikap kasar yang serupa. Dan Krystal ― setelah gagal puluhan kali ― akhirnya berhenti mencoba membuat mereka setidaknya bisa berkomunikasi seperti manusia normal kebanyakan. Jooyoung berterima kasih untuk itu.

Anyway, Jooyoung sedikit banyak tahu kalau kisah cinta Kai dengan Krystal kandas tidak lama sebelum upacara kelulusan. Sekitar sebulan sebelum. Tepatnya setelah Krystal menerima surat pemberitahuan kalau dia diterima di Universitas ― yang namanya sudah tidak Jooyoung ingat lagi ― di California. Masalah yang sama. Kisah cinta yang berbeda. Ironis.

Tapi Jooyoung merasa dirinya berbeda dengan Kai. Sementara dia bahkan tidak tahu nama si kepala pink dan secara teknis Kepala Pink sudah menipunya, Kai sudah sangat mengenal Krystal dan dia tidak seharusnya melempar tantrum menyuruh Krystal memilih antara dirinya atau pergi ke California. Duh Jooyoung belum pernah mendengar hal sekonyol itu. Dan itu keluar dari mulut seorang Kai. Jadi menurut Jooyoung secara pribadi ― kalau ada yang bertanya ― Kai membunuh hubungan mereka di saat dia bisa menyelamatkannya. Sedangkan Jooyoung, Kepala Pink menipunya. Sekian.

“Apa kau selalu seperti itu saat kuliah?” Jooyoung seketika tersentak dari lamunannya saat suara baritone berbicara di sebelahnya.

Untuk beberapa saat gadis itu memutar lehernya ke kiri dan kanan dengan heboh untuk melihat siapa pemilik suara barusan ― sebenarnya dia tahu Kai yang berbicara ― dan kepada siapa orang itu berbicara. Tingkah Jooyoung sukses mengundang tawa dari pria itu dan sembari menggelengkan kepalanya dia berbicara lagi “Ya aku berbicara denganmu.”

“Huuh.” adalah satu-satunya jawaban Jooyoung. Saking terkejut dan masih dalam kondisi pasca melamun, lidahnya terasa seperti diikat dan tidak bisa membentuk kata lain.

“Baiklah, kuanggap itu adalah ya.” katanya lagi. “Tapi sekedar saran saja. Sebaiknya kau mengubah kebiasaan melamun di kelas, Kim Jooyoung. Kecuali kau ingin mengulang kelas ini sekali lagi.”  ujarnya kasual seraya mengedikkan bahu tidak acuh. Dan kembali membagi fokus perhatiannya antara  papan tulis dan catatannya.

Huh jadi dia ingat dengan Jooyoung.

.

.

Satu hal yang pasti mengenai Kai. Dia menyebalkan. Kedua dia pemaksa. Dan itu tidak pernah berubah. Dulu, sekarang, dan mungkin di kehidupan selanjutnya. Dia akan tetap seperti itu. Selesai kelas Kalkulus, Kai tidak berhenti tersenyum mencurigakan kepada Jooyoung ― menunjukkan hampir seluruh giginya ― dan berkata “Temani aku minum kopi.” Lalu tanpa menunggu persetujuan gadis itu ― dia bahkan belum selesai memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam tas ― menarik paksa Jooyoung.

Berbicara dengan Jooyoung adalah satu hal. Berbicara sambil menunjukkan barisan giginya yang rapi kepada Jooyoung ― dengan kata lain tersenyum ― dengan bangga adalah hal lain lagi. Setelah berpura-pura tidak mengenalnya selama dua bulan (bukannya Jooyoung tidak melakukan hal serupa), sekarang Kai menarik tangan Jooyoung dan memaksanya menemani pria itu ke Jims ― kedai kopi dekat kampus ― seolah itu adalah hal yang mereka lakukan setiap hari. Kalau ini mimpi, Jooyoung ingin bangun detik ini juga. Kalau ini lelucon, sama sekali tidak lucu.

Jooyoung tidak berhenti mengernyitkan keningnya sepanjang acara minum kopi dengan Kai. Sedangkan pria di hadapannya menyeruput kopi dinginnya santai. Dia tidak berhenti mengutak-atik ponsel sky nya sejak mereka duduk di kedai kopi itu. Benar-benar orang yang menyebalkan.

Setelah beberapa menit yang mengesalkan bagi Jooyoung, Kai akhirnya mengangkat kepala ― mengalihkan perhatiannya dari ponsel ― dan menatap Jooyoung dengan benar untuk pertama kalinya hari itu, ralat, untuk pertama kalinya sejak Jooyoung mengenal Kim Kai.

“Aku tidak pernah tahu kalau kita satu universitas,” ujar pria itu membuat Jooyoung tertegun. Sebenarnya pernyataan Kai bukan sesuatu yang mengejutkan, karena itu adalah persis yang dipikirkan Jooyoung beberapa minggu lalu saat pertama melihat Kai dengan rambut putih dan kemeja kotaknya. Sekarang rambut Kai sudah hitam setengahnya dan Jooyoung benar-benar berpikir sebaiknya Kai segera memperbarui warnanya karena sekarang rambutnya terlihat lebih jelek dari sebelumnya. Tapi selain rambut, Kai masih menggunakan kemeja yang sama persis dengan yang digunakannya saat itu. Bahkan kenyataannya Jooyoung hampir selalu melihat Kai menggunakan kemeja itu saat kelas Kalkulus. Dan dia tahu ini bukan karena dia dengan sengaja mengecek pria itu setiap hari senin. Menarik.

Jooyoung ingin menyuarakan seluruh opini tidak penting yang mencemooh Kai dalam kepalanya tapi mengurungkan niat itu. Sebagai gantinya dia hanya mengatakan “Ya aku juga baru tahu.” dengan enggan. Sengaja menyembunyikan fakta bahwa dia sudah tahu kalau mereka ada di kelas Kalkulus yang sama sejak hari pertama. Jooyoung memutuskan Kai tidak perlu tahu kalau dia sempat merasa kesal karena Kai hanya berjalan melewatinya di toserba beberapa minggu lalu. Mungkin pria itu memang tidak melihatnya. Atau dia hanya bersikap seperti bajingan. Terserah.

“Senang rasanya bertemu teman lama.” ujar Kai lagi. Dan Jooyoung merasa dorongan kuat dari dalam dirinya untuk meninju wajah tersenyum Kai saat itu. Karena alasan pertama, senyum itu dulu hanya ditujukan untuk Krystal, tidak pernah untuknya dan kedua mereka bukan teman lama. Tapi Jooyoung ― tidak ingin memancing pertengkaran ― lagi-lagi meredam keinginannya dan mengiyakan perkataan Kai dengan tidak ikhlas. Berharap acara minum kopi ini cepat berakhir.

.

.

Jennie menatap Jooyoung seperti menghakimi kemudian tertawa keras. “Kau betul-betul minum kopi dengannya di Jims. Kau ini polos atau idiot sih?”

Tawa Jennie yang tidak mereda hingga dua menit kemudian membuat Jooyoung semakin kesal ― dalam hati betul-betul menyesal sudah bercerita pada si mulut besar ini ― dan menjawab ketus “Aku tetap membencinya.”

“Ya ya terserah,” balas Jennie yang akhirnya bisa sedikit mengontrol tawanya. Sambil menghapus air mata dengan punggung telunjuknya dia melanjutkan santai “Berani bertaruh bulan depan kau bahkan sudah lupa alasan awal kau benci dia.”

Jennie mendapat hadiah lemparan bantal dan teriakan kesal berisi penyangkalan dari Jooyoung untuk komentar itu.

.

.

Tapi kemudian Kai berubah menjadi begitu lengket dengan Jooyoung ― persis ramalan Jennie. Hingga pada poin dimana Jooyoung tidak akan melewatkan satu hari pun tanpa Kai. Saling menyimpan kursi di sebelahnya untuk satu sama lain saat kelas Kalkulus menjadi kebiasaan. Dan Jims menjadi tempat minum kopi rutin sehabis itu. Jika tidak bertemu, Kai akan selalu menelepon atau mengiriminya pesan. Dan Jooyoung mendapati dirinya tidak keberatan. Dia belum memutuskan apakah itu baik atau tidak. Tapi satu hal, mungkin dia sudah tidak terlalu membenci Kai lagi.

.

.

“Kau ikut pesta malam ini?” suara baritone Kai ― yang berubah digital ― terdengar dari ponsel yang menempel di telinga Jooyoung.

“Emm, entahlah.” jawab gadis itu.

“Memangnya nanti malam ada kegiatan?”

Jooyoung tampak berpikir sebentar sebelum menjawab “Tidak juga, hanya menonton DVD dengan teman sekamarku.”

“Menonton.” Kai mendengus di ujung lain telepon, dan Jooyoung merasa bisa melihat pria itu sedang memutar bola matanya. Dia suka melakukan itu saat berbicara. “Kau harus ikut. Nanti malam kujemput. Jam tujuh.”

Jooyoung bahkan belum sempat menjawab perkataan ― perintah ― Kai dan pria itu sudah mengakhiri panggilan mereka. Membuat Jooyoung menatap ponselnya dengan kesal. Dasar pemaksa.

Meski begitu Jooyoung tetap mandi dan bersiap-siap untuk pesta itu persis perintah Kai. Duduk di depan mejanya dengan celana jeans dan sepatu boot pukul 6.55 menunggu Kai menjemput. Jennie yang baru pulang dari gym menatapnya penasaran ― Jooyoung mengabaikannya ― karena Jooyoung tidak pernah serapi ini di malam hari.

Pukul tujuh tepat Kai menelepon memberitahu kalau dia sudah ada di depan asrama Jooyoung dan Jooyoung segera mengumpulkan barang-barang yang akan dibawanya.

“Siapa?” Jennie bertanya dengan senyum sinis. Tubuhnya disandarkan di kerangka pintu dan bertolak belakang dengan pertanyaannya, ekspresi wajahnya seperti berteriak ‘aku tahu kau akan pergi dengan Kai’. Jooyoung mengabaikannya dan segera berlari keluar kamar tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.

.

.

Masalah terbesar Jooyoung saat berhubungan dengan Kai dan pesta adalah dia cenderung membuat kesalahan yang sama. Kesalahan pertama empat tahun lalu di pesta Kai yang melibatkan beberapa alkohol dan seorang kepala pink. Kesalahan kedua dilakukan di sebuah pesta yang dia tidak tahu milik siapa.

Jooyoung tidak bisa menemukan Kai beberapa menit setelah mereka menginjakkan kaki di apartemen super mewah milik teman Kai itu. Dan tidak berhenti mengutuk pria tan itu setelahnya sembari mencekoki dirinya dengan alkohol. Dasar Kai sialan. Kenapa memaksa  Jooyoung ikut ke pesta ini kalau hanya untuk mengabaikannya?

Jooyoung sedang berusaha mengosongkan botol guinness keduanya dengan sekali tenggak saat Kai mencekal tangannya dengan kasar dan berkata “Aku meninggalkanmu selama beberapa menit dan kau sudah mabuk.” Raut wajah Kai sama sekali tidak menyembunyikan kemarahannya dan matanya menyalang tajam saat merebut Guinness Jooyoung dengan paksa. “Seriously Joo. Kau sudah minum berapa banyak?”

Jooyoung membalas pertanyaan Kai dengan mengernyitkan kening ditambah tatapan yang diharapnya mematikan sambil berusaha merebut botol alkohol yang segera dijauhkan Kai dari jangkauannya. Hei kalau ada yang berhak untuk marah maka orang itu adalah Jooyoung. Kai tidak dalam posisi bisa memarahi Jooyoung atau merasa kesal padanya di saat Kai lah yang dengan tidak bertanggung jawab menculik ― meski Jooyoung membiarkannya dengan sukarela ― dan kemudian mengabaikannya di pesta yang dimana Jooyoung hanya mengenal sekitar tiga orang, Kai dan dua orang yang dikenal Jooyoung ada di kelas Kalkulus. Ha bukankah ini terasa seperti de javu.

“Ayo pergi.” ujar Kai masih dengan nada kesal. Dia sudah meletakkan Guinness tadi di meja yang terletak beberapa meter dari Jooyoung dan menarik tangan gadis itu paksa. Menyeretnya keluar dari kerumunan orang-orang ― kebanyakan mabuk ― yang berkumpul di ruang tengah.

Jooyoung sedikit memberi perlawanan setelah mereka berada di luar dan bertanya “Hei kita mau kemana?”

Kai mengeraskan rahangnya selama beberapa detik sebelum menjawab “keluar dari pesta yang menyesakkan ini.”

Mengingatkan Jooyoung pada suatu malam musim panas saat seorang pria berambut coklat mengatakan hal serupa.

.

.

Kai membawanya berkendara dengan mobil Toyota Camry 1995 nya. Mobil berwarna putih dengan radio yang tidak bisa menyala dan bau air freshner berlebihan menyerang penciuman Jooyoung dengan brutal. Selama sejam perjalanan Jooyoung tidak berhenti mengeluh pusing dan ingin muntah dan menyalahkan mobil Kai untuk itu. Dan hanya dijawab Kai dengan melempar kantong muntah untuknya ― yang benar saja ― tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan.

Setelah satu jam dan beberapa menit perjalanan yang hanya diisi keluhan Jooyoung, Kai akhirnya menghentikan mobilnya dan berkata “Sudah sampai” lalu segera keluar dari mobil. Selama tiga puluh detik Jooyoung hanya terdiam dan menatap sekelilingnya. Dia berada satu jam jauhnya dari rumah dan tidak tahu sedang ada di bagian mana di Korea. Lalu Kai dengan kepala menyembul di jendela pengemudi menatapnya dengan dahi dikernyitkan “Kau mau keluar atau tetap di mobil semalaman?”

Jadi Jooyoung dengan ragu melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu. Setelah menginjakkan kaki di pasir dengan tubuh limbung barulah Jooyoung sadar kemana Kai membawanya dan sekali lagi mengutuk mantan kekasih Krystal itu. Kim Kai dengan nama tengah sialan itu membawanya ke laut. Kebetulan atau tidak. Jooyoung ingin menjejali mulut Kai dengan pasir.

“Kau pasti bercanda.” bisik Jooyoung pelan. Rasa kesal menguasai otaknya.

Tapi Kai, seolah tidak peduli dengan gerutuan Jooyoung yang hanya terdengar seperti gumaman tidak berarti baginya menarik lengan gadis itu dengan semangat dan membawa Jooyoung yang sama sekali bertolak belakang dengannya berjalan di pasir.

“Laut saat musim panas ternyata memang yang terbaik.” Kai berkata dengan napas tertahan ― sengaja ditahan. Dia tidak berbohong, Jooyoung tahu. Wajahnya dengan jujur menunjukkan perasaan sukanya dengan laut musim panas sesuai perkataannya. Jooyoung tidak bisa tidak bertanya dalam hati ‘sebenarnya ada apa dengan cowok-cowok ini dan laut?’ Baik Kepala pink dan Kai, keduanya seolah mempunyai atraksi yang aneh kepada laut dan entah bagaimana Jooyoung selalu terseret arus mereka.

“Aku benci laut musim panas.” gumam Jooyoung sambil memperhatikan pasir yang menempel di bootsnya.

Kai memandang ragu kepada gadis di sebelahnya sejenak, genggaman semakin dieratkan dengan tangan Jooyoung lalu berbisik “Aku tahu.” sembari menutup mata. Berusaha menyingkirkan kenangan yang sekejap berkelebat tentang musim panas saat mereka masih hanya remaja naïf. Sekarang Kai dua puluh satu tahun. Jauh dari rumah dan sedang bersama mantan kekasih sahabatnya yang merangkap sahabat mantan kekasihnya ― ironis.

Kai sendiri tidak mengerti alasan dia memulai pembiacaraan dengan Jooyoung pagi itu di kelas. Padahal beberapa minggu sebelumnya dia dengan sengaja mengabaikan gadis yang sama di toserba. Jooyoung membuatnya kembali mengingat Krystal yang sekarang ribuan mil jauhnya dari dia. Dan Kai beralasan kalau itu sudah cukup untuk membuatnya membenci gadis ini. Tapi pagi itu, wajah panik Jooyoung saat Kai menempati kursi di sebelahnya dan lamunannya yang mungkin sedang mengembara ke suatu musim panas saat mereka SMA ― Kai hanya menebak ― membuat Kai ingin meraih tangan Jooyoung dan berbagi rasa sakit itu bersama. Karena mungkin saja, mungkin jika ada yang bisa mengerti rasa sakit yang menguar-nguar dari jantung Kai, maka orang itu adalah Jooyoung.

Kai tertawa masam dengan monolog panjang di kepalanya sendiri membuat Jooyoung mendongakkan kepala untuk memberinya tatapan heran dengan kening dikernyitkan. Bukan hal baru. Kai bisa melihat pertanyaan ‘apa kau sudah gila atau kau sedang mabuk?’ seolah tertulis di wajah Jooyoung dan Kai tidak akan terkejut kalau memang itu yang dipikirkan Jooyoung sekarang. Jadi dia menjawab pertanyaan gadis itu bahkan sebelum disuarakan. “Aku hanya berpikir kita berdua ini menyedihkan.”

Jooyoung sempat tertegun dengan perkataan Kai sebelum mengangguk setuju. Tidak yakin bagaimana dengan pria tan itu tapi Jooyoung setuju kalau dia sendiri memang menyedihkan. Bahkan setelah empat tahun, masih terikat dengan kenangannya akan pria berkepala pink ― yang menghabiskan hanya satu musim panas dengannya ― dan laut. Mereka lanjut berjalan dalam diam.

Kedua orang itu kembali ke mobil Kai sejam kemudian. Kaki penuh pasir dan baju basah dengan air laut karena “hey sepertinya ide bagus untuk saling menyerang dengan air laut.” Ide Kai.

“Sejujurnya ini sangat menyenangkan.” Kai berkata sambil memeras bajunya yang basah total dengan punggung menghadap Jooyoung. Gadis itu hanya menjawab dengan gumaman ringan tanpa membuka mata.

Merasa diabaikan oleh lawan bicaranya, Kai segera membalik badan lalu melempar bajunya yang sudah diperas ke dashboard dan menatap Jooyoung yang masih menutup mata. Gadis itu tidak mau repot-repot membuang air yang menyerap di pakaiannya ― tentu saja ― dan tetap membiarkan kain basah itu melekat di tubuhnya. Bukan salah Kai jika dia tidak bisa tidak memperhatikan bra berwarna kuning yang terjiplak jelas di kaus putih Jooyoung ― meski Kai berusaha mengabaikannya.

“Aku serius Jooyoung.” ujar Kai pelan tapi cukup membuat Jooyoung membuka mata dan bertatapan dengannya. “Kuharap aku bisa menjadi alasanmu untuk menyukai laut lagi.”

Wajah Jooyoung seketika memerah mendengar perkataan Kai. Mengutuk tatapan intens pria itu dan bagaimana kata-kata itu bisa mengalir begitu lancar dari mulut Kai sedangkan Jooyoung sekarang berusaha menghindari tatapannya dengan mengalihkan perhatian kepada dada telanjang Kai. Ide buruk.

Jooyoung tidak menjawab pernyataan Kai karena seketika otaknya mengkhianatinya. Tidak satu kata pun bisa dipikirkan oleh Jooyoung untuk membalas kata-kata Kai. Lidahnya seolah mengalami kelumpuhan sesaat. Begitu juga tubuhnya yang sama sekali tidak bergerak menghindar saat Kai mendekat dan jarak antara mata Jooyoung dengan dada bidang Kai bahkan tidak sampai seinci. Dan saat Kai menciumnya malam itu, Jooyoung bahkan tidak ingin memikirkan hal lain kecuali betapa bibir Kai yang menempel di bibirnya terasa sangat benar bagi egonya tapi juga terasa salah karena ini adalah Kai yang berasal dari masa lalunya, seberapa sering dulu bibir itu mencium Krystal. Jooyoung merasa seperti sedang mengkhianati sahabatnya tapi dengan cepat menepis perasaan itu. Karena tidak satupun yang berarti saat ini kecuali bibir mereka yang seperti melebur jadi satu.

Saat itu akhir musim semi 2010. Pukul dua pagi di tengah pantai yang tidak dikenal Jooyoung. Dia tidak merasa berdebar saat berciuman dengan Kai di mobil Toyota Camry tuanya. Tapi entah bagaimana ciuman Kai membuatnya merasa seolah berada di rumah. Seolah memang di sinilah tempat dia seharusnya berada.

.

.

“Aku tidak ingin tahu.” Jennie berkata sambil memandang Jooyoung menghakimi. “Betul-betul tidak ingin tahu.”

Tapi matanya berteriak ‘Kim Jooyoung kau lebih baik mulai bicara sekarang atau kau tidak akan pernah melihat wujud selai nanas di ruangan ini lagi’. Jooyoung hanya mengedik tak acuh. Masih sibuk mengoles rotinya dengan selai nanas. Berpura-pura tidak mengerti keinginan Jennie yang tertulis jelas di wajahnya.

Tapi Jennie bukan orang yang sabar. Jadi dia mencekal sebelah tangan Jooyoung yang sibuk mengoleskan selainya karena dia tahu tidak akan mungkin mendapat jawaban kalau tidak memaksa Jooyoung memperhatikannya.

“Seriously Joo? Kau semalam kemana?”

Jooyoung lagi-lagi mengedikkan bahu. Kali ini diiringi jawaban “Kukira kau tidak mau tahu.”

Jennie memutar bola mata malas “Kau tahu maksudku adalah sebaliknya.”

Jadi Jooyoung menceritakan kejadian kemarin malam secara kronologis kepada teman sekamarnya yang mendengarkan ceritanya dengan setia sambil sesekali mengangguk-angguk mengerti dan mencela di sana sini. Jooyoung  dengan sengaja melewatkan bagian dimana mereka membahas tentang masa lalu ― Krystal dan Kepala pink ― yang melibatkan beberapa sumpah serapah dan sedikit air mata dari pihak Jooyoung karena Jennie tidak perlu tahu itu. Jooyoung yakin tidak akan mendapat hal lain kecuali cemoohan dari Jennie kalau sampai membeberkan bagian itu jadi dia menyimpannya untuk dirinya sendiri — dan Kai.

“Sudah kuduga kau akan berakhir menciumnya.” komentar Jennie dengan senyum mengejek di akhir cerita. “Jangan lupa mengenalkannya pada ibumu ini kalau sudah kencan ketiga ya.”

Masalahnya Jooyoung bahkan tidak yakin akan ada ada kencan pertama.

.

.

Seperti yang sudah diduga oleh Jooyoung ― dan seperti yang sudah seharusnya ― hubungannya dengan Kai berubah menjadi canggung. Tentu saja karena ciuman itu. Kai tidak mengambilkan kursi untuknya di kelas Kalkulus senin berikutnya. Jooyoung melihatnya sudah duduk di deretan kursi depan dengan kemeja kotak yang selalu digunakannya dan rambut sudah diperbarui dengan warna pirang. Betul-betul mencolok. Di kanan kirinya duduk mahasiswa yang bahkan belum pernah dilihat Jooyoung sebelumnya. Jadi Jooyoung dengan mantap mengambil kursi terjauh dari Kai dan menganggap ini sebagai cara Kai menyampaikan bahwa ciuman itu adalah kesalahan. Jooyoung tidak keberatan.

.

.

Tapi Kai adalah pria yang tidak bisa menetapkan pendiriannya. Rabu malam dia berdiri di depan kamar Jooyoung ― setelah hampir sepuluh menit bertanya pada orang-orang yang mana kamar gadis itu. Dia mengetuk pintu kamar berwarna putih itu dengan tidak sabar sebanyak tiga kali sebelum akhirnya dibuka dengan kasar dan menunjukkan seorang gadis berambut panjang dan wajah tidak ramah. Dia mengernyitkan kening begitu berhadapan dengan Kai.

“Maaf aku mencari Jooyoung. Kim Jooyoung.” Kai berkata sambil menggaruk belakang kepala, menyembunyikan kegugupannya di hadapan mata menyelidik Jennie.

“Dan kau adalah..”

“Kai. Aku eng teman Jooyoung.”

Kai dapat melihat gadis itu menganggukkan kepala seraya membentuk huruf o dengan mulutnya seolah mengerti sesuatu. Dan gadis itu berkata cepat “Aku Jennie, teman sekamar Jooyoung. Dan dia sekarang sedang tidak ada. Ada yang bisa kubantu?”

Kai menghela napas kecewa mendengar jawaban Jennie. “Bilang saja kalau aku mampir,” katanya sambil bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

Tapi Jennie menghentikan langkah Kai dengan bertanya “Apa kalian bertengkar atau semacamnya?”

“Tidak juga. Dia mengatakan sesuatu?”

“Tidak juga.” Jennie meniru perkataan Kai seraya mengedikkan bahu. Terlihat tidak begitu peduli, lalu melanjutkan “Hanya saja dia jadi lebih pendiam beberapa hari ini.”

.

.

Mereka akhirnya bertemu sabtu setelahnya. Kai menggunakan kemeja denim ― yang sangat tidak cocok ― dan minum kopi hitam seperti biasa.

“Kuharap kau tidak membenciku karena ciuman itu.” Kai berkata sambil memperhatikan kepulan asap di atas gelas kopinya. Tidak berani berbicara dengan menatap wajah Jooyoung.

Jooyoung melihat kepada Kai jengah. Dia memang membenci Kai. Tapi bukan karena alasan itu. Dan rasa benci itu juga ada dulu sekali. Saat Kai masih mengencani sahabatnya. Rasanya Kai juga pasti membalas perasaan benci itu dulu. Lucu bagaimana sekarang Kai ― sambil menatap meja nervous ― berharap Jooyoung tidak benci dengan dirinya. Sekarang, daripada benci lebih tepat mengatakan bahwa Jooyoung kesal kepada Kai karena kepengecutannya.

“Ini mungkin akan terdengar sangat aneh.” Kai membuka mulut lagi, kali ini dia memegang tengkuknya untuk alasan tertentu. “Aku dulu berkencan dengan Krystal dan kau dengan S- maksudku dengan sahabatku yang namanya tidak boleh disebut. Tapi kurasa sekarang aku sedikit jatuh cinta padamu dan bagaimana kalau kita berkencan.”

Jooyoung tertegun. Karena wow Jongin mengaku mencintainya. Jooyoung bahkan tidak pernah berani untuk membayangkan mereka akan ada dalam situasi ini empat tahun lalu. Dan kalau mereka masih ada di timeline itu, pengakuan ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Jadi dia memutuskan untuk sedikit mempersulit pembicaraan itu dengan bertanya “Kau rasa? Sedikit?”

Kai terlihat ragu. Seperti mempertimbangkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Jooyoung. Pada akhirnya dia menghela napas ringan sebelum berkata dengan pasrah “Baiklah aku jatuh cinta padamu.”

Dan itu adalah satu-satunya kalimat yang ingin didengar Jooyoung saat ini karena memang itu satu-satunya hal yang terasa baik untuk egonya sekarang. Gadis itu menyunggingkan senyum mencemooh lalu berkata pelan “Baiklah.”

.

.

Jennie tidak berhenti menggoda Jooyoung setelah mulai berkencan dengan Kai yang biasanya hanya dibalas Jooyoung dengan memutar mata malas. Kenapa dia selalu membeberkan percintaannya pada teman sekamarnya yang kelewat usil itu padahal tahu pasti akan selalu berakhir dengan Jennie yang tidak berhenti mencelanya. Mungkin karena diam-diam dia menikmati bagaimana Jennie akan selalu membawa kisah cintanya menjadi topik pembicaraan. Kapanpun. Dimanapun. Bahkan dalam situasi hidup mati sekalipun — kalau saja mereka pernah terlibat dengan situasi seperti itu. Betul-betul teman sekamar yang dibutuhkannya.

.

.

Untuk mengatakan dia jatuh cinta kepada Kai terasa berlebihan. Tapi kalau soal Kai yang jatuh cinta kepadanya, Jooyoung sudah mengonfirmasi itu. Begitu juga Jennie. Tapi Jooyoung tidak bisa menahan pertanyaan di kepalanya.

“Apa kau benar-benar jatuh cinta denganku?”

Kai mendengus kesal mendengar pertanyaan yang sudah diberikan Jooyoung padanya sebanyak dia mengungkapkan perasaannya. “Kau sudah tahu jawabannya.”

“Tapi dulu kau benci aku.” Jooyoung bersikeras ― seperti biasa ― tidak puas dengan jawaban Kai.

“Aku tidak benci.” sangkal Kai cepat. “Hanya kesal karena Krystal rasanya lebih jatuh cinta padamu dari pada aku.”

Mendengar jawaban Kai, Jooyoung memicingkan mata dan bertanya “Maksudmu dulu kau dan Krystal sama-sama jatuh cinta padaku?”

Kai memutar bola mata malas. “Kau tahu bukan itu maksudku.”

.

.

Jooyoung tidak pernah membalas ungkapan perasaan Kai. Karena dia belum pernah mengatakan cinta sejak dengan Kepala pink. Itu bukan sesuatu yang bisa diucapkan dengan mudah. Sesederhana itu. Dan Kai tidak pernah terlihat keberatan bicara cinta setiap kali tanpa mendapat jawaban Jooyoung. Biasanya gadis itu hanya akan merespon pengakuannya dengan mencium bibirnya. Dan itu sudah lebih dari cukup.

.

.

Kai membawanya ke laut suatu siang akhir pekan. Mengendarai Toyota putihnya melintasi perbatasan Seoul ke sebuah pantai yang bahkan Jooyoung tidak pernah tahu ada. Mereka berdua bernyanyi bersahutan di sepanjang perjalanan karena radio Kai yang tidak berfungsi.

Get you motor runnin’ head out on the highway.” Jooyoung meneriakkan lirik dari mulutnya.

Lookin for adventure and whatever comes our way.” Kai mengikuti.

Lalu keduanya saling menatap dan menertawai betapa tuanya selera musik mereka berdua. Tapi terus melanjutkan nyanyian yang tidak akan pernah mereka selesaikan hingga akhir karena terlalu sibuk tertawa.

Satu setengah jam berikutnya, Jooyoung tertegun saat menginjakkan kaki di pasir. Karena untuk pertama kalinya dalam empat tahun tidak ada nostalgia kepada sesorang berambut pink dirasakannya saat berhadapan dengan laut. Entah itu kabar baik atau buruk.

Di satu sisi itu berarti setelah sekian lama akhirnya dia berhasil lepas dari belenggu yang mengkungkung hatinya selama beberapa tahun terakhir dan menjauhkannya dari hamparan ombak dan pasir ini. Tapi di sisi lain Jooyoung takut kalau Kai lah alasan dia bisa menginjakkan kaki di sini tanpa beban seperti janji pria itu beberapa waktu lalu. Itu juga berarti bahwa dia menjadi lebih terikat dengannya. Dan Jooyoung tahu hal-hal seperti ini biasanya akan berakhir menyedihkan.

Tapi saat Kai berjalan mengikutinya mendekati ombak dan menyelipkan jari-jarinya di antara celah jemari Jooyoung serta tersenyum menunjukkan barisan gigi-ginya yang rapi ― hampir seluruhnya ― Jooyoung segera meraup wajah pria itu dan menciumnya dengan rakus.

Setiap ciuman yang diberikan Jooyoung hari itu seperti berteriak ‘Aku sangat mencintaimu’ dan Kai membalasnya dengan gelora yang serupa. Saling mencium dengan terburu-buru sampai telinga mereka berdua terasa berdenging.

.

.

Kalau dipikir lagi, itu adalah sebuah hubungan yang rumit. Mereka berangkat dari saling membenci. Kai berkencan dengan sahabat Jooyoung sedangkan Jooyoung dengan sahabat Kai. Lalu semua berubah menjadi kenangan buruk baik bagi Jooyoung maupun Kai. Bagaimana setiap melihat satu sama lain, selalu membawa mereka kembali pada suatu musim panas di umur tujuh belas dan air mata yang mengiringi setelahnya. Sekarang Jooyoung berbaring di kasur Kai. Mendengar pria tan itu menyanyikan lullaby dan berkata cinta tiap sepuluh detik sekali. Dan Jooyoung tidak hentinya berpikir mungkin, mungkin dia juga sudah jatuh cinta dengan Kai. Setelah sekian lama. Meski tidak pernah benar-benar mengucapkannya.

.

.

“Panggil aku dengan nama asliku.” Kai menautkan tangan mereka berdua dengan cara paling mesra seseorang pernah menyentuh tangan Jooyoung. Membuat pipi gadis itu berhias semburat merah.

Jooyoung ― dengan sia-sia ― berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya dengan menenggelamkan wajah di dada Kai. Tapi Kai sudah melihat garis merah itu menyebar dari hidung ― jangan tanya kenapa hidung Jooyoung yang memerah duluan saat malu ― lalu ke pipi dan menutupi seluruh wajah Jooyoung beberapa detik kemudian. Menurutnya Jooyoung adalah gadis paling manis yang pernah dikencaninya.

“Tapi aku suka Kai.” ujar gadis itu masih dengan wajah bersembunyi di depan dada Kai. Pergerakan bibirnya membuat Kai merasa sedikit geli dan harus menahan tawa sampai Jooyoung selesai berbicara.

Setelah menunggu beberapa detik Kai kembali membuka mulutnya “Aku ingin mendengarmu menyebut namaku.”

Jooyoung tidak menjawab dan masih setia dengan aksi ‘menyembunyikan wajah di dada Kai’ nya. Sebenarnya bukan masalah besar untuk menyebut Kai dengan nama aslinya ― dia ingat seseorang yang tidak pernah dipanggilnya dengan nama asli di masa lalu ― tapi rasanya sangat aneh karena dia sudah terbiasa menyebut pria itu Kai. Kai adalah Kai baginya. Sejak awal begitu. Jooyoung masih tidak bisa lupa bagaimana tidak nyamannya mendengar Krystal menyebut pria itu Jongin dulu. Dan kini dia yang ada di posisi itu.

“Ayolah.” bisik Kai padanya. Kepalanya kini ditenggerkan di atas kepala Jooyoung dengan ujung dagu menyentuh rambutnya. “Kumohon.”

“Apa kau meminta semua pacar-pacarmu melakukan ini?” tanya Jooyoung. Kali ini mengangkat kepalanya untuk bertemu mata dengan Kai.

Kai tampak berpikir sejenak sebelum menjawab “Hm untuk saat ini hanya ada satu pacar. Dan sebelum kau, hanya Krystal yang punya hak istimewa itu.” Dia kemudian tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya.

Meski terdengar (sedikit) romantis, jawaban Kai tidak membuat Jooyoung puas dan hanya membuat gadis itu mengerutkan kening. “Jadi sekarang aku sudah sama istimewanya dengan Krystal.”

Kai tesenyum semakin lebar kemudian menggeleng. “Tidak. Kau jauh lebih istimewa.”

Membuat rona merah di wajah Jooyoung semakin gelap. Seklise apapun kata-kata Jongin, itu tetap bekerja dengan baik mengganggu sistem kerja jantung Jooyoung. Buktinya sekarang organ sekepalan tangan itu berdetak cepat dan tidak beraturan. Memompa seluruh darah ke wajah Jooyoung. Lagi-lagi dia menyembunyikan wajah di dada kekasihnya itu lalu mencubitnya kuat ― membuat pria itu berteriak kesakitan ― dan berkata “Kau sangat pandai Jongin.”

Kai belum pernah tersenyum sebahagia itu seumur hidup. Begitu juga Jooyoung.

.

.

Jennie tidak hanya sekali atau dua kali mencibir pada Jooyoung setiap kali teman sekamarnya itu sedang sibuk mengetik pesan untuk Kai ― sekarang Jongin ― nya. Atau saat Jooyoung sedang bersiap untuk pergi kencan dengan Kai. Juga tiap kali Jooyoung bercerita pada Jennie tentang Kai ini atau Kai itu.

“Kau benar-benar hopeless.” Jennie akan berkata tiap kali sambil menghela napas berat. Seolah beban hidupnya bertambah berjuta ton tiap kali nama Kai atau Jongin melayang-layang di udara yang dia bagi bersama Jooyoung di ruangan itu. Yang biasanya akan dibalas Jooyoung dengan melotot kesal. Tapi Jennie tidak cukup peduli.

“Dan tolong beritahu dia untuk berhenti mengisap ganja.” celetuk Jennie suatu hari selesai mendengar Jooyoung bercerita tentang kegiatannya bersama Kai hari itu. “Kau sangat bau tiap habis berkencan.”

Komentar itu menutup perbincangan malam itu. Dan Jooyoung mau tidak mau harus membasuh dirinya untuk menghilangkan bau yang tidak berhenti diprotes Jennie.

.

.

Masalahnya dari kisah cinta bahkan yang paling hebat sekalipun, mereka berakhir. Dengan baik. Atau dengan buruk. Diiringi pertengkaran, teriakan marah, makian. Atau tidak. Terkadang itu berakhir bukan karena mereka berhenti saling mencintai. Melainkan akibat fakta sederhana bahwa mereka saling mencintai dengan tidak seimbang. Selalu ada pihak yang terlalu mencintai. Dan pihak lain yang mencintai tidak cukup besar. Sesederhana itu.

Jooyoung dan Kai berkencan selama hampir satu semester sebelum pertengkaran pertama mereka. Yang diawali dengan sebuah foto dari masa lalu di halaman facebook Kai yang ditandai oleh Krystal. Bukan kecemburuan Jooyoung yang memicu pertengkaran mereka hari itu. Melainkan ketidakcemburuannya. Reaksi biasa yang diberikan gadis itu setelah melihat foto itu membuat Kai sedikit marah. Dan entah bagaimana berakhir dengan adu mulut hebat di antara keduanya dan Kai meninggalkan Jooyoung di apartemennya dengan marah ― sambil membanting pintu sangat keras.

Jooyoung menggigit bibir dan berusaha menahan air mata sepeninggal Kai. Tidak mengerti kenapa Kai begitu marah. Seharusnya pria itu bersyukur karena Jooyoung tidak mungkin bisa mencemburui sahabatnya dengan Kai. Karena dia tahu dengan jelas apapun yang terjadi antara Kai dengan Krystal itu sudah menjadi masa lalu bagi Kai ― sama halnya kepala pink dengannya ― dan dia adalah masa sekarang untuk Kai. Ini adalah konsep yang sangat sederhana bagi Jooyoung. Bagaimana bisa Kai tidak mengerti itu?

Jadi Jooyoung mengambil tas dan mantelnya lalu meninggalkan apartemen Kai berantakan. Dia menumpahkan seluruh air mata yang ditahannya sepanjang perjalanan begitu tiba di kamar asrama dan disambut dengan kernyitan kening Jennie. Menceritakan segala yang terjadi hari itu.

Mereka segera berbaikan keesokan harinya. Kai mendatangi kamarnya ― yang disambut dengan bantingan pintu di wajahnya oleh Jennie ― dan meminta maaf dengan tulus lalu berjanji untuk tidak meluapkan emosinya kepada Jooyoung sepert itu lagi.

Segala sesuatu berjalan dengan baik. Kai akan selalu mengantar dan menjemput Jooyoung ke kampus, menemaninya mereview kuliah di perpustakaan, membawanya kencan ke laut, ke kafe, ke tempat-tempat rahasia, membisiki kata-kata manis di telinganya dan semua keklisean romantis lainnya. Sebelum pertengkaran kedua terjadi.

Pertengkaran kedua terjadi di laut. Saat itu musim gugur. Pukul Sembilan malam. Alasan yang sama kasus yang berbeda. Kali ini karena kecemburuan Kai saat Jooyoung tidak sengaja bernostalgia tentang bagaimana Sehun menyatakan cinta pertama kali saat mereka berenang berdua di laut dini hari. Kai langsung melepaskan genggaman tangannya dari Jooyoung dan berjalan marah ke arah Toyota putihnya yang diparkir kira-kira dua puluh meter dari tempat mereka berdiri. Malam itu tidak ada teriakan. Bahkan tidak ada suara sedikitpun ― karena radio mobil Kai yang tidak berfungsi. Hanya Kai yang menolak berbicara selama perjalanan dari laut sampai mengantar Jooyoung ke depan gedung asramanya ditambah suara titik-titik hujan yang mengetuk-ngetuk jendela mobil Kai malam itu. Kai bahkan tidak mengantar Jooyoung ke kamar seperti yang biasa dilakukannya. Dan Jennie meninju bantal di sebelah Jooyoung sebagai pelampiasan rasa kesalnya kepada pria tan itu ― diam-diam kepada Jooyoung juga karena kenaifan temannya.

Kai tidak datang untuk meminta maaf keesokan harinya. Cukup beralasan kata Jennie. Karena kali ini Jooyoung yang bersalah. Tapi pria tan itu menampakkan dirinya di depan pintu kamar mereka lagi tiga hari kemudian ― lagi-lagi Jennie membanting pintu di depan wajahnya ― sambil membawa bunga dan coklat. Hari itu Kai memeluk Jooyoung ― yang membasahi kaosnya dengan air mata ― begitu kuat dan menciumi seluruh kepala gadis itu, mendapat tatapan jengah dari Jennie dan keduanya berakhir ditendang keluar dari kamar asrama dua gadis itu. Setelahnya mereka berdua berjanji untuk tidak lagi menjadi terlalu sensitif dan juga berhenti mengungkit masa lalu.

Pertengkaran ketiga dan keempat terjadi dalam satu hari, saat Halloween. Keduanya bertengkar di pagi hari dan berbaikan sejam kemudian. Lalu bertengkar lagi malam harinya. Kemudian berbaikan seminggu kemudian. Pertengkaran seterusnya tidak pernah begitu penting. Mereka bertengkar lalu berbaikan. Sampai Jennie merasa jenuh untuk membanting pintu tiap kali Kai mengetuk kamar mereka ― sekarang dia hanya memutar bola mata malas dan mempersilahkan Kai masuk sambil menarik selimut Jooyoung. Tapi sedikit demi sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil itu membuat hubungan keduanya semakin renggang. Semakin lama semakin menjauh. Kai berhenti menghujani Jooyoung dengan ciuman-ciuman mesra dan tidak memeluknya kuat ― sampai Jooyoung merasa salah satu tulangnya patah ― seperti yang selalu dilakukannya sebelum membiarkan Jooyoung masuk ke gedung asramanya. Dan Jooyoung kembali memanggil pria itu Kai.

Butuh dua puluh dua pertengkeran sampai akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menyudahi hubungan panjang mereka. Pertengahan Februari, dua hari setelah Saint Valentine. Kai yang mengusulkan ide itu. Jooyoung menanggapinya dengan diam menatap wajah Kai yang terus berusaha menghindari bertatap mata langsung.

“Aku hanya merasa hubungan ini sudah tidak benar lagi.” ujar Kai diikuti helaan napas berat. Bahunya diturunkan tidak bersemangat seolah berat kepalanya melebihi seribu ton beratnya. “Kita lebih banyak bertengkar daripada bermesraan seperti dulu.” Pria itu menggigit bibir bawahnya dengan nervous.

Jooyoung ingin berteriak ‘memangnya salah siapa kita terus bertengkar kalau bukan karena pantat sesitifmu?’ tapi dia malah ikut-ikutan menggigit bibir bawahnya untuk menahan kata-kata itu keluar dari mulutnya dan berucap lirih “Hal yang wajar jika sepasang kekasih bertengkar dan berbaikan lagi. Itu yang selalu kita lakukan.”

Tapi wajah Kai berubah frustasi begitu Jooyoung menyuarakan pikirannya. Dahinya mengerut sempurna dan dia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata “Tapi kita bukan sepasang kekasih biasa. Aku terlalu mencintaimu sedangkan kau tidak berusaha cukup keras untuk hubungan ini.”

“Itu tidak benar,” sanggah Jooyoung dengan cepat disertai luapan kemarahannya dalam wujud air mata dan suara yang ditinggikan satu oktaf.

Kai menggeleng dengan sedih. “Kau bahkan tidak pernah bisa melupakan Sehun. Karena itu kau tidak pernah ingin aku menyebut namanya.”

Jooyoung meringis mendengar Kai menyebut nama yang sudah sangat lama terkubur di memorinya. Ini bukan saat yang tepat bagi Kai untuk menyebut nama itu. Bukan begini caranya Jooyoung ingin tahu nama pria itu. Tapi untuk saat ini dia tidak cukup peduli. “Itu sama sekali tidak benar Jongin.”

“Dan jangan kira aku tidak sadar bagaimana kau tidak pernah membalas kata cintaku Joo.” kata Kai lagi tanpa mengindahkan sedikitpun pembelaan Jooyoung. “Aku sudah lelah. Berjuang sendiri dalam kisah cinta yang seharusnya melibatkan dua orang. Aku selalu mengucapkan kata-kata cinta seolah kepada angin. Dan setiap kali kita bertengkar, hanya akulah yang selalu meminta maaf meskipun kau yang bersalah. Bukannya aku keberatan. Aku sudah berusaha untuk bersabar. Mungkin suatu saat kau akan berubah. Aku bertahan dengan keyakinan bahwa suatu saat kau akan membalas perasaan ini sama besar. Tapi…” jeda sebentar. Kai menyisir rambutnya yang kini tinggal setengah pirang ke belakang. Ekspresinya sangat jelas menunjukkan bagaimana dia terluka selama hubungan mereka. “Aku bukan Sehun dan tidak akan pernah menjadi dia. Aku selalu berharap kau akhirnya akan mengerti itu. Aku tidak mau hanya menjadi pengganti Sehun di hatimu. Kurasa untuk sementara lebih baik aku menjauh darimu.” Karena aku bahkan tidak tahu apa kau jatuh cinta denganku seperti aku kepadamu.

Kai mengintip wajah Jooyoung begitu menyelesaikan kalimatnya. Tidak ada interupsi dari Jooyoung dan tidak ada satu sanggahan pun keluar dari mulut gadis itu. Dia hanya menangis, menundukkan kepala dengan bahu tidak berhenti bergetar.  Dan Kai harus menahan diri dengan sangat kuat untuk tidak berdiri dan memeluk Jooyoung, membatalkan seluruh perkataan tadi.

“Jika memang berjodoh, pada akhirnya kita akan menemukan jalan untuk kembali ke sisi satu sama lain.” ujarnya kali ini berbisik. Tidak tahu apakah Jooyung mendengarnya atau tidak. Tapi setelah menunggu selama beberapa detik, Jooyoung akhirnya mengangkat tangan kanan dan mempertemukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk tanda ok.

Kai akhirnya bisa menyeruput kopinya yang sudah dingin setelah itu. Rasanya lebih pahit dari biasa.

.

.

Jooyoung kembali ke asramanya beberapa menit sehabis Kai meninggalkannya di Jims setelah dengan sopan menolak tawaran pria itu untuk mengantarnya. Selama perjalanan seluruh alasan Kai tidak berhenti terngiang di kepalanya. Dan betapa semua tuduhan pria tan itu padanya tidak benar.

Sesampai di kamar asrama, dia menghambur ke pelukan Jennie ― yang terkejut setengah mati ― dan menangis lebih keras dari yang pernah dilakukannya. Jennie menenangkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya tanpa berkata apa-apa. Dan memang hanya itu yang dibutuhkan Jooyoung di samping bungkus rokok yang disodorkan Jennie kepadanya dua jam kemudian ― setelah dia cukup tenang dan selesai membersihkan diri. Jooyoung mengambil sebatang rokok Dunhill milik teman sekamarnya itu dan membiarkan Jennie menyalakan rokok keduanya. Setidaknya rasa pahit di kerongkongannya hanya mengingatkan Jooyoung pada patah hati yang sudah lama dengan Sehun ― dia akhirnya mengetahui namanya ― dan bukan pada Kai yang baru mematahkan hatinya. Dua sahabat yang hebat. Membuat jatuh hati gadis yang sama dan mematahkannya secara brutal.

.

.

Jooyoung melihat Kai di bar dua bulan kemudian. Rambut dicat hitam ― seperti bagaimana Jooyoung mengingatnya dulu ― dan mengenakan kemeja kotak-kotaknya yang biasa. Satu tangan menggenggam rokok ganja dan tangan yang lain sedang menggenggam tangan seorang gadis sambil memamerkan senyum ‘semua gigi’ nya dengan bangga. Jennie segera menarik Jooyoung keluar dari sana kemudian.

Pada akhirnya dia tidak pernah tahu apakah Kai berkencan dengan gadis itu setelah mereka memutuskan hubungan. Atau sejak awal memang ada gadis lain sehingga Kai mengakhiri hubungan mereka. Jooyoung bahkan tidak ingin tahu lagi jawaban untuk itu. Karena tidak satu pun hal baik akan didapatnya dari mengetahui jawabannya.

Dia menghabiskan hari-hari berkutat di perpustakaan dan malam-malam menonton drama atau bermain video game bersama Jennie semenjak perpisahan dengan Kai. Berusaha menghapus pria itu dari ingatannya.

Profesornya berkata suatu kali di kelas Bioteknologi tentang bagaimana setiap sel dalam tubuh manusia akan dihancurkan dan diganti dengan yang baru setiap tujuh tahun sekali. Dan betapa leganya Jooyoung mengetahui bahwa suatu hari nanti dia akan memiliki tubuh yang sama sekali tidak pernah dijamah oleh Kai. Seluruh sel baru yang sama sekali tidak mengenal sentuhan pria itu. Jaringan-jaringan yang tidak familiar dengan kata-kata manisnya, ciumannya, pelukannya, senyumnya.

Tapi entah bagaimana ingatan tentang malam-malam dingin yang dihabiskannya bergelung di pelukan pria berkulit tan itu menetap di sudut otaknya. Seperti spot hitam yang membandel dan terus tinggal di kemeja putih kesayangan Jennie.

Di umur dua puluh satu Jooyoung jatuh cinta dengan tulus untuk kali kedua. Dengan pria eksentrik yang selalu mewarnai rambutnya mencolok. Pria yang tidak mau berhenti menghisap ganja. Tapi tubuhnya wangi mint segar dan Jooyoung sangat menyukainya. Dia adalah pecinta yang sangat luar biasa. Dengan bisikan-bisikan lembut dan kata cinta di telinga Jooyoung setiap kali. Dia mencintai Jooyoung seperti anak kecil menyukai permen. Rakus dan terburu-buru. Di sela-sela kopi hitam kesukaan pria itu, dia selalu tidak luput melempar komentar-komentar romantis kepada Jooyoung. Cintanya seperti riak air di hari hujan. Mengalir lembut sampai perlahan menguap tidak berbekas. Meninggalkan hati Jooyoung mengering nyaris kerontang. Hingga akhir Jooyoung tidak sempat mengungkapkan rasa cintanya.

kkeut

A/N :

/Deep breath/ Halooooooo

Shamelessly back with the 2nd chapter for BMF

Makasih buat para pembaca yang udah ngasih banyak cinta buat ff ini aiih aku jadi malu /apaan/

Dan kebanyakan tebakan kalian di chapter sebelumnya betul kalo Kai bakal jadi cowok selanjutnya. Tos dulu dong😄

Tapi disini Jooyoung patah hati lagi because i’m half devil half witch who can’t let my character happy /ketawa jahat/

How do you like this chapter?

Jujur aku terkejut karena ff ini lebih panjang dari yang aku rencanain awal, 8k words OMG I need a doctor soon /gak/

By the way Jennie is my favorite new cast >.< dan dia bakal stay di cerita ini sampai chapter terakhir dan ya dia adalah Jennie dari Blackpink (if you were wondering)

Buat chapter 3 aku berencana mau pake Jaehyun atau Doyoung NCT, tapi kalo kalian mau yang lain, misalnya PCY aku masih terima saran dan request😀 Sooo tell me who you prefer the most

Okay, now tell me what you think of this chapter🙂

PS: Happy 2nd anniversary EXO-L, Keep loving and supporting Oppas.Stay great, stay awesome.

Lots of love.

Tamiko

112 responses to “[2/6] Break My Fall : Surrogate

  1. lebih suka jooyoung sama sehun. terserah buat cast yg ketiga (kau bisa taeyong nct) yg jelas akhirnya balik sama sehun kan?

  2. Pingback: Break My Fall 3 (Teaser & Talk) | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Aku jujur, ga suka gitu mantan sama mantan sahabat dan apa ya yg kayak gitu deh pokoknya, berada berhianat. Lagipula sehun jooyoung itu berada belum keluar. Dan emang ngrasain kalo jooyoung masih nganggap sehun masih sama dia sih, pelik banget

  4. Kai sbnrny tulus cinta ama jooyoung sayang doi tlalu mencinta jd aj selalu sensitif a jooyoung..

    Kan kasian joo jd patah hati lg.. tp daebaklah thor penyampaian cerita di ff ini kerennn.. aku jd baper sndiri.. hehe

  5. Sakit banget T.T
    Mana ada wanita yg kuat jika tiap jatuh cinta selalu d sakiti
    Seperti di terbangkan ke atas langit lalu dengan sadisnya d hempaskan ke daratan
    Sehun…Kai….u’re the best actor kkkkk
    Back to sehun aja lagi hehe

    Author semangatttt

  6. Pingback: [3/4] Break My Fall : Devoted to you | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Hmm sakit hati lagi jooyoung. Kasiaaaann. Tapi aku lebih milih sama sehun daripada sama kai wkwk.
    Ditunggu kelanjutannya. Fighting!!^^

  8. Pingback: Break My Fall 4: Her Other First Thing | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Okeh yg part 2 ini itu karma ya jo
    Sebenrnya udah mikir kai bakalan suka sama jooyoung eh bener
    Tapi sayangnya jooyoungnya telat (:

  10. Uhuhuhu tisuuu mana tisuuuuuu
    Kai ngenes woooii ngenesssss. . . Ak jadi pro doi disini hikseuuuuuu ternyata dia ngerasa cinta bertepuk sebelah sendal… . Cup cupp kai sama ak ajah yaaaaaa
    Iniii kenapa jadi selalu berakhir tragiseuu. .
    Authooooor kamu bikin ak baper

  11. ya ampuun, Jooyoung ampe muntah gitu abis liat Kai😓😂 saking benciny kah???
    dan pda akhirnya mreka pacaran😪 pdhal dulu nya benci bgt(?), eeh malah pacaran gitu… oke oke,, biarlah:V
    Kai sama.an kaya Sehun-kepala pink😓 sama” suka yg namanya rokok(ganja bisa juga kan??) dan laut-saat musim panas lebih tepat(?)

  12. Kalo seumpama jooyoung mau serius sama kai mungkin mereka bakal langgeng, Mungkin si jooyoung masih kebayang sehun trus jadi agak ragu buat seriusan sama jong kali ya. Tapi entar ngebayangin krystal tahu kalo mantan pacarnya pacaran sama sahabatnya juga gimana😄
    Anyway ini ironi banget, mungkin jooyoung bisa pingsan waktu ketemu kai setelah ini😄 Keep writing kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s