10 Steps Closer [7th Step]

10-STEPS-CLOSER-POSTER-3

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun

Genre: Romance, Angst, Fluff, Marriage Life

Prev: [Prolog] || [1st Step] || [2nd Step] || [3rd Step] || [4the Step] || [5th Step] || [6th Step]

[Extra]

Warning! Very Berry Long Part & Little Rated

———————————————–

7th Step

 

“Saranghae.”

 

***

                Ada yang lebih tidak masuk akal daripada mengajak Se Hun membeli pakaian dalam bersama, yaitu duduk dalam satu meja bersama Chan Yeol dan Ji Eun. Oke, ini akan terlihat normal kalau saja pertemuan mereka tidak secanggung itu. Seo Ah terus menggerakkan kakinya di bawah meja. Frappucino yang ia pesan belum sekali diminumnya. Tidak jauh seperti Seo Ah, Chan Yeol—yang duduk di hadapan Seo Ah—juga hanya diam menatap Seo Ah dan Se Hun bergantian. Itu membuat Seo Ah terlihat seperti pihak yang bersalah, padahal Chan Yeol sendiri berutang penjelasan pada Seo Ah.

Memang, mungkin saja Chan Yeol benar-benar membicarakan pekerjaan dengan Ji Eun. Tapi entah kenapa, membayangkan mereka sedaritadi berjalan berdua di dalam mall membuat dada Seo Ah sesak. Mereka terlihat sangat serasi sialnya. Tidak seperti Seo Ah, Ji Eun terlihat sangat berkelas meski hanya memakai kemeja yang dibalut blazer dan celana panjang hitam. Bersanding dengan Chan Yeol yang mengenakan pakaian kantornya membuat mereka seperti pasangan chaebol yang sedang berbelanja bersama.

Ji Eun duduk tenang di kursinya sambil meminum Cappucino. Melihat ketegangan di kursi ini bukan masalah besar untuknya. Lagipula jika ada salah paham, bukan kewajibannya untuk menjelaskan.

Setelah lima belas menit terdiam, akhirnya Chan Yeol berdeham. “Kami baru saja membicarakan pekerjaan.”

Seo Ah tersentak, tapi wajahnya masih kosong. “Oh, begitu.”

“Kau dengar, Seo Ah-ya? Tidak perlu ada yang kau khawatirkan.” Se Hun, yang sedaritadi juga diam, menyenggol Seo Ah dengan sikunya. Mulut Se Hun sudah gatal, ia hanya belum menemukan saat yang tepat untuk memukul kepala Seo Ah. Sudah jelas-jelas wanita itu terkejut melihat Chan Yeol bersama wanita lain, tapi dengan bodohnya dia hanya diam.

Seo Ah meringis. Kalau ia hanya sedang berdua dengan Se Hun, sudah pasti pria itu tidak selamat.

“Oh iya, ngomong-ngomong pekerjaan apa yang kalian bicarakan?”

“Kami tidak berbagi informasi kepada pesaing, Manajer Oh.” Menanggapi pertanyaan Se Hun, Chan Yeol menjawab dengan datar sambil melirik Se Hun.

“Ah, aku lupa memperkenalkan diri.” Ji Eun meletakkan cangkirnya. “Pertemuan pertama kita juga tidak terlalu baik kan, Seo Ah-ssi?”

Pertanyaan retoris Ji Eun membuat dua pria di sana menatap Seo Ah dengan dahi berkerut. Terlebih Chan Yeol. Ia memang tahu kalau Ji Eun bertemu Seo Ah pertama kalinya di rumah sakit, tapi ia tidak tahu ada kejadian apa di sana. Apa ada lagi yang disembunyikan Seo Ah?

“Ah, iya.”

Ji Eun tersenyum tipis. Ia pun mengeluarkan kartu nama dari tas tangan kecil yang dibawanya, lalu membagikan satu masing-masing ke Seo Ah dan Se Hun. “Namaku Lee Ji Eun, kurator lukisan.”

“Hotel Golden dan yayasan yang dikelola Ji Eun akan mengadakan pameran lukisan musim panas ini. Kami membahas kerja sama ini sambil makan siang tadi.” Kata Chan Yeol menambahkan.

Memang, Chan Yeol hanya menjelaskan kesalahpahaman yang Seo Ah rasakan, tapi di telinga Seo Ah itu terdengar seperti pembelaan. Satu sisi hatinya tidak suka melihat Chan Yeol lebih berpihak pada Ji Eun.

“Aku Oh Se Hun.” Se Hun juga memberikan kartu namanya pada Ji Eun. “Meski aku masih menduduki kursi manajer keuangan, tapi Sungjin Group pasti akan diturunkan padaku—ya!”

Seo Ah tidak tahan untuk tidak mencubit paha Se Hun. Pria ini tidak pernah lelah menggoda wanita, bahkan wanita sekelas Ji Eun yang baru dikenalnya. Cukup dengan ‘manajer keuangan’ saja kenapa sih?! Tidak perlu ditambahkan statusnya sebagai pewaris Sungjin.

Se Hun yang tidak terima pun membalas Seo Ah dengan tatapan maut. Lalu kembali menatap Ji Eun, di depannya, dengan senyuman. “Kalau kau tertarik, Sungjin Hotel pasti bersedia untuk bekerja sama dengan wanita secantik Ji Eun-ssi.”

Kali ini tidak hanya Seo Ah yang muak dengan sikap Se Hun, tapi juga Chan Yeol. Pria itu jelas-jelas mendengus sambil memutar bola matanya.

“Terima kasih, Se Hun-ssi. Tapi…” Ji Eun tersenyum, menoleh ke arah Chan Yeol. “Chan Yeol oppa dan aku sudah pada tahap MoU.”

Seo Ah menahan nafasnya tanpa sadar ketika mendengar Ji Eun menyebut Chan Yeol dengan tambahan ‘oppa’. Ada apa ini? Apa hubungan mereka lebih dekat dari yang Seo Ah kira? Chan Yeol pun tampak baik-baik saja dengan itu. Seolah tidak mengetahui kalau aura di sekitar Seo Ah menggelap, dengan tenangnya ia meminum kopi dan membalas Se Hun dengan gaya bicaranya yang khas—dingin dan menusuk.

“Kalian sendiri? Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Ji Eun.

Mungkin kalau kalimat itu ditanyakan oleh Chan Yeol, Seo Ah masih bisa menjawabnya. Wanita itu, yang notabennya, tidak punya hubungan apapun dengan Seo Ah bertanya seperti sedang menuduh Seo Ah berselingkuh dengan Se Hun. Lebih menyebalkannya lagi, Chan Yeol sama sekali tidak membantu Seo Ah, malah menambah penderitaannya. Pria itu menegakkan tubuhnya, menunggu Seo Ah menjawab.

“Eiy… tentu saja berkencan!”

Plak!

Seo Ah memukul bagian belakang kepala Se Hun keras-keras dengan tangan kosong sampai pria itu terdorong ke depan. Ia benar-benar ingin mengangkat bangku yang didudukinya lalu memukuli Se Hun dengan itu. Tidak bisa membaca situasi! Sudah jelas-jelas Chan Yeol di sisi meja satunya sudah mengeluarkan setan-setan kecil yang siap mencekik lehernya, tapi Se Hun malah membangunkan si Raja Setan.

Chagi-ya…”

Seo Ah mengeluarkan tatapan membunuh paling mengerikan yang ia punya. “Sekali lagi bicara… kukebiri kau, Oh Se Hun!” ancamnya dengan nada lamat-lamat.

Chan Yeol sungguh ingin terbahak melihat adegan di depannya. Baru kali ini ia melihat Seo Ah semengerikan itu. Tapi kemudian, setan di dalam dirinya kembali keluar saat mendengar lanjutan dari ucapan Seo Ah.

“Kami hanya makan siang bersama dan membeli sesuatu.”

“Kalian pasti memiliki banyak waktu senggang.” Balas Chan Yeol sarkastik.

Seo Ah mengerutkan dahi, tidak suka dengan nada bicara Chan Yeol. “Ini masih jam makan siang, dan aku sudah mendapat izin.”

“Apa perlu makan siang di tempat sejauh ini?”

“Se Hun yang mengajakku, jadi apa masalahnya?”

Chan Yeol tidak lagi membalas, hanya menyipitkan mata untuk mengirim sinyal kau-berani-menjawabku kepada Seo Ah. Karena tidak mau membuat drama dadakan di sini, Chan Yeol memilih untuk meyerah. Ia pun pura-pura melihat jam tangannya. “Waktu makan siang hampir habis, ayo kuantar kau kembali.”

Seo Ah kira itu ditujukan untuk Ji Eun (well, Chan Yeol datang bersama wanita itu, jadi kemungkinan besar mereka juga akan bersama lagi). Tapi melihat Chan Yeol berdiri dari duduknya, lalu berdiri di sebelah Seo Ah sambil terus menyuruh Seo Ah mengangkat bokongnya dari kursi dengan tatapan mata, wanita itu tidak bisa menahan alisnya untuk tidak terangkat. Ji Eun pun, yang sudah mengangkat tasnya, hanya terdiam melihat tingkah Chan Yeol.

“Kenapa diam saja?”

“Kau mengajakku?” tanya Seo Ah sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Lalu?”

“Tapi Ji Eun-ssi….”

“Dia bawa mobil sendiri. Ayo cepat.”

Chan Yeol menarik tangan Seo Ah sampai wanita itu bangun dari duduknya. Tindakkan tiba-tiba dan baru pertama kali Chan Yeol lakukan. Chan Yeol memberi salam singkat lalu keluar dari kafe tanpa mengizinkan Seo Ah mengatakan sepatah katapun pada Se Hun. Ia tidak tahan melihat Seo Ah berdekatan dengan Se Hun, apalagi terus memperlihatkan keakraban mereka. Apa wanita ini tidak punya teman lain selain Se Hun? Rasanya dunia ini dihuni bermilyar-milyar manusia yang jauh lebih normal.

Selepas kepergian pasangan itu, Se Hun terkekeh lalu menyesap Iced Americano-nya. Keduanya sama-sama bodoh. Menyadari perasaan masing-masing yang sudah ketahuan jelas saja tidak bisa, bagaimana mungkin mereka bisa tidur bersama nanti. Kini hanya tinggal ia berdua bersama Lee Ji Eun. Niat awalnya Se Hun ingin berbincang sejenak dengan Ji Eun langsung diurungkan begitu melihat aura di sekitar wanita itu menjadi dingin.

Tidak ada lagi senyum manis yang sedari tadi ditunjukkan Ji Eun. Mata wanita itu menatap dingin pintu kafe. Padahal Se Hun cukup sering berhadapan dengan wanita berkepribadian dingin, bahkan segarang monster macam Choi Seo Ah, tapi ia merasakan ada yang lain dari tatapan Ji Eun itu. Dan Oh Se Hun—si Pria Berpengalaman—belum bisa menemukan artinya.

“Ji Eun-ssi.”

“Hm?” Ji Eun menoleh. Air mukanya berubah menjadi seperti semula.

Perlu beberapa detik untuk Se Hun menguasai dirinya. Ada apa dengan wanita ini? Mencoba menghilangkan prasangka buruknya, Se Hun pun mengulaskan senyum. “Apa kita juga harus pergi?”

***

                Dalam perjalanan menuju sekolah Seo Ah, udara di dalam mobil Chan Yeol mendadak turun sampai titik terendah. Bukan karena Chan Yeol sengaja menurunkan AC-nya, tapi dua orang yang ada di dalam mobil masing-masing mengeluarkan aura negatif yang kelewat dingin. Kedua saling terdiam. Seo Ah membuang pandangan ke luar jendela, sedangkan Chan Yeol fokus menyetir. Kali ini mereka tidak saling bicara bukan karena bingung mencari topik, tapi karena sama-sama malas berbicara. Terutama Seo Ah. Ia yakin tidak akan tahan mencabuti rambut Chan Yeol kalau memulai pembicaraan dengan pria ini.

Seo Ah tidak tahu kenapa hari ini ia kesal sekali melihat wajah Chan Yeol. Padahal sejak pertama kali bertemu Chan Yeol sudah memiliki wajah dingin, bahkan ucapan datar dan ketus. Rasanya ia mampu menelan satu botol obat penghilang sakit kepala sekaligus untuk mengurangi sakit kepalanya. Bayangan Chan Yeol dan Ji Eun berjalan berdampingan di mall tadi kembali merasuki otaknya.

Chan Yeol pun sama saja. Berkali-kali Seo Ah mengatakan kalau dirinya dan Se Hun hanya bersahabat, selalu saja ada sisi dirinya yang tidak percaya. Mereka terlalu intim untuk dikatakan sahabat. Chan Yeol sempat melirik kantong belanja yang dibawa Seo Ah. Lihat! Seo Ah bahkan mengajak Se Hun—yang sudah jelas-jelas seorang pria—untuk membeli pakaian dalam?!

“Apa tidak ada yang mau kau jelaskan padaku?” memecah kebisuan, Chan Yeol pun bertanya tanpa menatap Seo Ah.

“Apa?” jawab Seo Ah ketus.

Chan Yeol menutup mata sambil menghela nafas, berusaha tidak membanting stir lalu memaksa bibir itu untuk menjawab dengan benar. “Kantong belanja itu.”

Seo Ah buru-buru menyembunyikan kantong kecil itu di samping tubuhnya. Matanya melirik panik ke arah Chan Yeol, sebelum kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Geunyangyo.*”

Chan Yeol menyerah untuk bertanya. Lagipula ia tidak mendapatkan hasil dengan terus memojokkan Seo Ah, yang ada wanita ini malah membalik kata-katanya dengan emosi tingkat tinggi. Chan Yeol sadar, bahwa mungkin saja alasan sikap Seo Ah jadi menyebalkan begini adalah karenanya. Seo Ah tadi sempat meneleponnya, tapi Chan Yeol langsung memotong ucapannya sebelum wanita itu mengatakan apa yang ingin ia ucapkan. Dan keadaan itu diperparah oleh pertemuan tidak terduga mereka. Pasti banyak spekulasi yang berputar di kepala Seo Ah.

“Manajer Seo, Sekretaris Jung, dan asisten Ji Eun juga bergabung tadi. Aku benar-benar hanya membicarakan pekerjaan dengan Ji Eun.”

“Aku sudah tahu, kenapa diulang lagi?” balas Seo Ah, masih menatap ke luar jendela. “Memangnya aku bodoh sampai diulang berkali-kali.”

Meski kalimat lanjutan yang diucapkan Seo Ah dengan suara sangat pelan, Chan Yeol masih bisa mendengarnya. Pria itu meremas roda kemudi kuat-kuat. Ia tidak habis pikir dengan sikap Seo Ah yang berubah tiba-tiba siang ini, padahal tadi pagi mereka hampir saja melakukan ‘itu’. Masih membekas jelas wajah Seo Ah yang terus bersemu sebelum akhirnya mereka berpisah dan masuk ke mobil masing-masing.

Dan sekarang? Apa Oh Se Hun itu memasukkan bahan aneh dimakanan Seo Ah tadi? Ingin rasanya membenturkan kepalanya sendiri ke aspal panas.

“Turunkan saja aku di sana.” Seo Ah menunjuk halte bus. Padahal hanya tinggal berbelok, mereka akan sampai di gerbang depan sekolah.

Tidak mau berdebat lagi, Chan Yeol pun menurutinya. Setelah mobil berhenti, Seo Ah tidak langsung turun tapi menatap Chan Yeol dengan mata memicing. Chan Yeol menghela nafas pelan, sekarang apa lagi? Kenapa tatapan itu seolah sedang menuduhnya lagi? Lalu, sebelum Chan Yeol mengatakan apa-apa, Seo Ah melepas sabuk pengaman, membuka pintu, dan menutupnya dengan bantingan. Wanita memang makhluk membingungkan, sampai saat ini Chan Yeol belum menemukan titik terang dengan sikap Seo Ah yang bisa berubah dalam selang waktu hanya sepuluh detik itu.

***

                Seo Ah tidak menunggunya tadi, ia terus berdiam diri di kamarnya sampai Yoon Ahjumma memanggil untuk makan malam. Oke, awalnya Chan Yeol mengira permasalahan mereka selesai, dan dia tidak perlu mengulang kalimat ‘hanya membicarakan pekerjaan dengan Ji Eun’. Tapi melihat Seo Ah seperti ini, membuatnya ingin menuliskan kalimat itu besar-besar di dahinya.

Seo Ah bertahan dalam mode ‘menyebalkan’ sampai mereka berada dalam satu meja makan, berhadapan, dan hanya dibatasi sebuah meja berisi berbagai hidangan. Wanita itu terus mengabaikan Chan Yeol, bahkan terang-terangan membuang pandangannya. Mulutnya yang mengunyah makanan dengan pelan itu terlihat terus cemberut. Meski begitu dia tetap bungkam, enggan berbicara.

Chan Yeol menyerah. Ia tidak tahan dengan suasana makan malam seperti ini. Memang ia dibesarkan dalam keluarga yang memiliki kasih sayang dingin untuknya. Tapi setelah menikah dengan Seo Ah, makan malam bersama menjadi momen yang dinantikan. Tidak peduli mereka saling berdiam diri, melihat Seo Ah makan dengan lahap sudah membuat hati Chan Yeol menghangat. Dan sekarang, Seo Ah memang diam, tapi diamnya ini seolah sedang mengibarkan bendera perang pada Chan Yeol. Chan Yeol tidak tahan untuk tidak melempar sendoknya ke atas meja, membuat Seo Ah mengangkat kepala.

Chan Yeol melipat tangannya di dada dan menyenderkan punggungnya ke punggung kursi. “Aku akan mendengarkan, sekarang bicaralah.”

“Apa?” tanya Seo Ah datar.

“Jangan pura-pura bodoh, katakan apa yang ingin kau katakan padaku.”

“Aku memang bodoh, karena aku bukan kurator seperti Lee Ji Eun.”

Chan Yeol mengangkat satu tangan dan mulai memijit pelipisnya. “Kenapa kau terus-terusan membahasnya?”

Tak!

Seo Ah meletakkan sumpitnya dengan keras ke atas meja. Ditatapnya Chan Yeol dengan marah. “Bukankah kau yang memulai?! Kau menyuruhku untuk mengatakan apa yang ingin kukatakan.”

“Harus kukatakan berapa kali kalau aku dan Ji Eun hanya membahas masalah pekerjaan tadi.”

“Dan harus kujawab berapa kali untuk kau mengerti kalau aku sudah tahu!” Seo Ah menaikan nada suaranya. Yoon Ahjumma yang sedari tadi masih berada di konter dapur, memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Kau mengulangnya seolah aku bodoh!” lanjut Seo Ah.

“Itu karena kau memang belum mengerti!” tidak mau kalah, Chan Yeol pun menaikan suaranya. Suara berat itu menggema di ruang makan. “Ada apa denganmu, Choi Seo Ah?!”

Tidak mau menjawab pertanyaan retoris itu, Seo Ah malah kembali membakar amarah Chan Yeol. “Pantas saja kau semangat bekerja akhir-akhir ini. Kau pasti ingin melihat Lee Ji Eun terus.”

Chan Yeol tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Seo Ah. Mengatakan kalau dia sengaja menghindari Seo Ah karena takut semakin jatuh pada pesona wanita itu malah akan memperburuk keadaan. Ini bukan saatnya memuji Seo Ah. Tidak mau kalah, Chan Yeol juga membawa topik di luar masalah sebenarnya.

“Kau sendiri pergi bersama Se Hun….”

“Itu karena suami yang ingin kuajak makan siang lebih memilih rapat bersama klien cantiknya. Bahkan dia menutup telepon sebelum aku mengucapkan apapun.” Kata Seo Ah dengan amarah menggebu. Ia menekankan kata ‘suami’ dalam kalimatnya untuk memojokkan Chan Yeol.

“Terserahlah!”

Selesai. Chan Yeol memilih untuk menghentikan perang dan menyerah. Ia mendorong kursinya ke belakang. Lebih baik menenggelamkan dirinya dalam kesibukan. Semakin dibahas, semakin luas permasalahan mereka. Ini tidak akan habis kalau salah satu di antara mereka tidak mengalah, oleh karena itu Chan Yeol memutuskan pembicaraan ini sepihak.

“Aku akan kembali bekerja.”

“Benar, harusnya kau nikahi saja pekerjaanmu. Atau kenapa tidak meminta orangtuamu menjodohkanmu dengan Lee Ji Eun?!”

Chan Yeol menghentikan langkahnya sejenak setelah mendengar teriakan Seo Ah. Mulut itu memang pantas mendapat dua puluh jahitan! Tidak tahukah Seo Ah bahwa sisi hati Chan Yeol seperti teriris mendengar Seo Ah mengatakan hal itu? Rasanya lebih menyakitkan daripada mendengar ayahnya hanya memanfaatkan dirinya, waktu itu. Ia merasa dibuang untuk sekian kalinya.

Chan Yeol pun kembali melangkah, meninggalkan ruang makan juga Seo Ah yang masih duduk di tempatnya. Nafas wanita itu memburu saking kesalnya. Mencari pelampiasan, Seo Ah pun menyuapkan satu sendok besar nasi ke mulutnya. Ia juga memakan potongan paprika besar yang ada di tumisan daging dalam sekali gigit. Makanan ini terasa jauh lebih buruk dari kotoran ayam, Seo Ah tidak bisa menelannya tapi juga tidak tega memuntahkannya. Dengan air mata yang menetes di ujung matanya, Seo Ah terus menyumpal mulutnya dengan makanan di meja. Ia tidak mau Chan Yeol mendengar tangisannya.

Ahjumma… kenapa makananmu sangat tidak enak hari ini?!”

***

                Sudah empat hari Seo Ah dan Chan Yeol tidak saling bicara. Dan dalam tiga hari itu, Chan Yeol-lah yang paling kentara menghindari Seo Ah. Ia selalu menyelesaikan sarapannya lebih awal lalu berangkat bekerja. Chan Yeol bahkan sengaja pulang di atas jam 11 malam tanpa memberitahu Seo Ah—seperti yang biasa ia lakukan. Seo Ah, yang awalnya tidak keberatan dengan sikap Chan Yeol itu, mulai merasa kehilangan. Rasa bersalah muncul di hatinya.

Chan Yeol tidak akan semarah itu kalau saja Seo Ah tidak mengatakan hal-hal bodoh itu. Harusnya Seo Ah jujur saja kalau ia cemburu melihat Chan Yeol berdekatan dengan Ji Eun, bukan memancing amarah pria itu dengan mengucapkan kalimat tidak berguna lainnya. Sekarang Seo Ah tidak tahu harus bagaimana. Meminta maaf pun rasanya sudah terlambat—ia sangat malu. Lagipula memangnya Chan Yeol bersedia memaafkannya?

Keadaan bertambah parah karena ini sudah memasuki libur musim panas. Sebelum keluar dari kamar untuk sarapan, Seo Ah melihat aplikasi kalender di ponselnya. Ia sudah menandakan hari Minggu ini sebagai hari keberangkatan mereka. Chan Yeol memang tidak memberitahu pasti kapan, tapi Seo Ah ingat ia pernah mengatakan akan pergi pada minggu pertama libur musim panas. Tapi kalau keadaannya masih begini, sampai libur musim panas berakhir pun mereka tidak akan kemana-mana.

Lagi-lagi sarapan dalam diam. Setelah Chan Yeol berangkat ke kantor (well, karena perusahaan Chan Yeol bergerak di bidang pengembangan resort juga, pria itu tidak punya ‘libur musim panas’ dalam kamus hidupnya), Seo Ah hanya diam di kamar sambil menonton tv. Suara tawa dari tv tidak membuat perasaan Seo Ah membaik. Seperti orang bodoh, mata Seo Ah memang menatap layar tv tapi pikirannya berkelana entah kemana.

Tidak berhasil dengan cara ini, Seo Ah pun akhirnya ke luar dari kamar. Ia ingin memakan apapun yang bisa mengalihkan pikirannya dari Chan Yeol. Menghabiskan persediaan Frozen Yoghurt untuk seminggu sepertinya tidak buruk. Paling-paling besok pagi pencernaannya selancar jalan tol, atau paling parah diare berkepanjangan.

Seo Ah baru ingin menuruni tangga saat matanya menangkap Yoon Ahjumma yang keluar dari perpustakaan sambil membawa sebuah map hitam. Pasti Chan Yeol. Seperti kebiasaan, setiap minggu pasti ada satu hari untuk Chan Yeol melupakan barang. Dan anehnya, dia selalu berhasil membuat orang lain yang merasa bertanggung jawab dan repot. Benar-benar orang itu!

“Chan Yeol-ssi melupakan dokumennya lagi?” tanya Seo Ah setelah Yoon Ahjumma menyapanya.

“Iya, Nyonya.”

Tiba-tiba terlintas ide di benak Seo Ah. Ini bisa menjadi kesempatannya untuk berbicara pada Chan Yeol dan meminta maaf. Kalau mereka sudah berbaikan, mereka pasti bisa membicarakan rencana liburan waktu itu. Memang terkesan tidak tahu malu karena—secara teknis—Seo Ah-lah yang memulai perang. Tapi janji kan tetap janji.

Ahjumma, biar aku saja yang mengantarkannya. Kebetulan aku juga mau keluar.”

“Apa tidak apa-apa, Nyonya?”

Seo Ah merebut map itu dari tangan Yoon Ahjumma. “Tenang saja. Ahjumma lebih baik beristirahat.” Lalu, tanpa menunggu jawaban Yoon Ahjumma, Seo Ah masuk ke kamar untuk berganti pakaian.

Setelah berganti pakaian, Seo Ah langsung meluncur pergi. Ia sengaja tidak membawa mobilnya. Sudah lama sejak terakhir ia berpergian menggunakan kendaraan umum. Dulu saat masih SMA, Seo Ah suka sekali berpergian menggunakan bus atau kereta bawah tanah bersama Se Hun. Bahkan mereka pernah nekad pergi ke Busan dengan uang seadanya menggunakan kereta. Setelah menikah dan bekerja, hidup Seo Ah jadi agak monoton. Ia pun jarang bertemu teman-temannya, kalaupun pergi ia pasti memilih membawa kendaraan sendiri karena sudah lelah.

Bus tidak terlalu penuh di siang hari, Seo Ah pun mendapat tempat duduk. Sesekali membuat Park Chan Yeol menunggu tidak masalah, kan? Meski niatnya ingin meminta maaf, Seo Ah tetap tidak terima kalau hanya dirinya yang bermasalah. Chan Yeol itu sesekali harus diberi pelajaran juga.

Seo Ah sampai di kantor Chan Yeol tiga puluh menit kemudian. Mungkin kalau menggunakan mobil pribadi bisa sepuluh menit lebih cepat, tapi Seo Ah tidak menyesal. Banyak yang bisa Seo Ah nikmati selama perjalanan, termasuk mengobrol bersama nenek yang duduk di sebelahnya. Jalanan yang biasanya dilalui begitu saja, hari ini menjadi hiburan untuk Seo Ah. Melihat orang-orang berkumpul untuk menyebrang, para pegawai kantor yang baru keluar dari kafe sambil membawa gelas kopi, sampai sekelompok laki-laki muda yang tampan membuat perasaan Seo Ah meringan.

Seo Ah tidak lagi bertanya pada resepsionis depan dan langsung menuju lift. Ia tidak tahu apa berita tentang ‘Park Sajangnim sudah memiliki istri’ atau mungkin foto Seo Ah sebagai istri Chan Yeol sudah tersebar luas. Kalaupun mereka tidak mengenali Seo Ah, ia bisa meminta Chan Yeol menjemputnya nanti.

Lift yang akan dinaiki Seo Ah masih berada di lantai dua belas. Ia menunggu di depan lift sambil memainkan ponsel, melihat SNS dan website SMA Yongsan Gangnam. Website sekolah itu bukan hanya berisi informasi tentang sekolah, tapi juga sebagai forum diskusi umum untuk seluruh warga sekolah. Seo Ah tersenyum sendiri melihat murid-muridnya heboh membicarakan rencana liburan musim panas mereka di forum.

“…tapi aku tidak mengerti. Park Sajangnim memang dingin, tapi dia terlihat sangat berkarisma.”

Mata Seo Ah memang masih menatap layar ponsel, tapi telinganya seolah sudah melebar lima meter. Menangkap suara wanita, yang kemungkinan karyawati di sini, menyebut nama Chan Yeol, radar Seo Ah langsung aktif. Pura-pura tidak tertarik tapi sebenarnya Seo Ah terus mencuri dengar pembicaraan dua orang itu.

“Berhati-hatilah. Dia sudah menikah!” jawab yang satunya.

“Benarkah?”

Seo Ah mencibir dalam hati. Bisa ditebak yang satu itu adalah karyawati baru di sini. Bahkan media internasional pun sudah meliput berita itu. Dasar kurang update!

                “Apa istrinya wanita cantik itu?”

Seo Ah merasakan pipinya memanas. Ini bukan pertama kalinya ia disebut cantik oleh orang lain, tapi rasanya tetap menyenangkan. Hehehe… Seo Ah menggulung senyum. Kini ponselnya  tidak lagi berarti apa-apa. Rasanya ia ingin meminta Chan Yeol untuk menaikan jabatan karyawati ini sampai tingkat manajer.

“Entahlah, aku juga belum pernah melihatnya langsung. Tapi di foto yang kulihat, dia lumayan cantik.”

“Apa maksudmu tidak melihatnya? Bukankah tadi kita berpapasan dengannya dan sajangnim?”

Senyum Seo Ah menghilang. Telinganya dipasang setajam mungkin. Berpapasan apanya? Ia bahkan baru datang dan sekarang sedang menunggu lift. Lagipula kapan mereka pernah bertemu, bersama Chan Yeol pula.

“Eiy! Dia Lee Ji Eun, kurator lukisan yang akan mengadakan pameran di Golden Hotel minggu depan.” Jawab karyawati satunya. “Kudengar mereka memang sangat dekat.”

Wanita itu pun melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, namun masih bisa Seo Ah dengar. “Dan kudengar juga dari divisi perencanaan, mereka dulunya sepasang kekasih.”

“Lalu kenapa sajangnim tidak menikah dengannya? Lee Ji Eun sangat cantik dan ramah, kurasa mereka akan menjadi pasangan serasi.”

“Tidak tahu! Aku bukan ibu Park Sajangnim, jadi jangan tanya aku!”

Pintu lift terbuka. Beberapa orang keluar dari lift, lalu dua karyawati itu masuk. Perlu beberapa detik untuk Seo Ah kembali ke alam sadar dan ikut masuk. Meski dua karyawati itu sudah tidak lagi membahas Chan Yeol dan Ji Eun, kata-kata mereka terus teringang di kepala Seo Ah. Sepasang kekasih? Jadi begitu hubungan mereka dulu… kenapa Chan Yeol tidak bercerita padanya?

Hati Seo Ah seperti diremas sampai berdarah. Orang-orang yang mulai memenuhi lift hanya membuat kakinya bergerak, tapi tidak dengan jiwanya. Tangan Seo Ah yang memegang tali paper bag berisi map hitam milik Chan Yeol mulai mengeluarkan keringat dingin. Ketakutan itu muncul, membuat Seo Ah ingin menangis sekeras-kerasnya di sini.

Satu per satu orang-orang turun dari lift, meninggalkan Seo Ah sendiri. Saat lift berdenting di lantai dua puluh enam, Seo Ah turun dengan tatapan kosong. Perlu dua kali untuk resepsionis di depan pintu lift memanggil Seo Ah agar wanita itu menoleh. Mengerjap, Seo Ah pun menghampiri meja resepsionis itu dan mengatakan maksud kedatangannya.

“Nama saya Choi Seo Ah, istri Park Chan Yeol.”

Ego Seo Ah keluar. Sebelumnya ia tidak pernah seberani ini memperkenalkan diri di depan orang baru. Selalu Chan Yeol yang memperkenalkannya. Tapi setelah mendengar obrolan dua karyawati tadi, ia ingin diakui. Seo Ah-lah istri Park Chan Yeol!

“Ah, Nyonya, selamat siang. Mari saya antar ke ruangan Park Sajangnim.”

Seo Ah menggeleng pelan sambil memaksakan senyum. “Tidak perlu, saya akan pergi sendiri. Terima kasih.”

Seo Ah masih ingat letak ruangan Chan Yeol, meski baru sekali ia datang ke sini. Di depan ruangan Chan Yeol, Sekretaris Jung langsung berdiri dari kursinya dan memberi salam, begitu juga dua orang lainnya yang duduk di dekat Sekretaris Jung. Menyeret langkahnya, Seo Ah mendekati meja Sekrertaris Jung.

“Apa Chan Yeol-ssi ada di dalam?”

“Iya, Nyonya. Tapi beliau sedang menerima tamu.”

“Ah, begitu….”

Bisa saja Seo Ah menitipkan map ini kepada Sekretaris Jung lalu pulang. Tapi sesuai rencana awalnya, ia ingin berbicara pada Chan Yeol. Baik itu masalah liburan mereka atau hubungannya dengan Ji Eun di luar pekerjaan.

Seo Ah memutar badan, ingin duduk di sofa yang ada di sana, saat pintu ruangan Chan Yeol terbuka. Seo Ah sudah siap menyambut Chan Yeol dengan senyum lebar, tapi bibirnya yang sudah terangkat satu milimeter langsung turun kembali. Ji Eun keluar dari ruangan itu, lalu diikuti Chan Yeol. Dengan jumpsuit berwarna peach, Ji Eun bagai bunga tulip yang baru mekar di padang kaktus. Di sebelahnya, Chan Yeol tampak sangat gagah seperti benteng yang melindungi tulip itu dari tajamnya duri kaktus.

“Lalu kenapa sajangnim tidak menikah dengannya? Lee Ji Eun sangat cantik dan ramah, kurasa mereka akan menjadi pasangan serasi.”

Kata-kata karyawati itu kembali terngiang. Dada Seo Ah sesak, dan tangannya kembali menggenggam erat tali paper bag Chan Yeol untuk mengurangi perih itu. Udara di sekitarnya berlimpah, tapi Seo Ah tidak bisa bernafas dengan benar. Tidak, itu hanya gosip tidak benar. Mereka hanya sedang membicarakan pekerjaan, pasti begitu.

Ayolah, Choi Seo Ah! Jangan kekanakan! Seo Ah terus mengutuk dirinya sendiri.

“Seo Ah-ya.”

Panggilan Chan Yeol membuat Seo Ah mengangkat kepala dan mengontrol ekspresinya. Wanita itu memaksakan senyum. Dilihatnya Ji Eun juga sedang menoleh padanya, lalu memberi salam dengan anggukan kecil.

“A-Aku ingin mengantar dokumen yang kau butuhkan.”

“Oh, begitu.”

Ada jeda beberapa saat yang diisi dengan kontes menatap antara Chan Yeol dan Seo Ah. Mereka mencoba berbicara melalui tatapan, tapi kali ini tidak berhasil. Terlalu banyak yang ingin mereka ungkapkan, tatapan mata saja tidak cukup.

Tidak nyaman berada di posisi ini, akhirnya Ji Eun pamit. “Kalau begitu sampai jumpa, Park Sajangnim.” Ia pun memberi salam sekali lagi pada Seo Ah lalu berjalan dengan anggun meninggalkan tempat itu.

“Masuklah.”

Meski bingung, Seo Ah tetap menuruti ucapan Chan Yeol. Seo Ah memperhatikan punggung tegap Chan Yeol di hadapannya. Entah kenapa ia merasa jauh sekali sekarang. Ada perasaan ganjil yang tidak ia sukai, tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana mengeluarkannya.

“Aku hanya datang untuk mengantarkan ini,” Seo Ah meletakkan paper bag itu di atas meja Chan Yeol.  “Kaki Yoon Ahjumma sedang sakit, jadi aku menawarkan diri.”

Chan Yeol, yang bersandar pada sudut mejanya, hanya menatap Seo Ah dengan tatapan yang tidak bisa Seo Ah pahami. Seperti bersalah juga frustasi. Pria itu pun mengantongi kedua tangannya ke saku lalu tertunduk.

“Dengar, Seo Ah-ya—“

“A-Aku tahu!” potong Seo Ah. “Kalian hanya membicarakan pekerjaan, kan? A-Aku mengerti.” Lagi, Seo Ah memaksakan senyum. Seo Ah pun menyelipkan rambut yang menutupi pipinya ke belakang telinga. “Dan aku minta maaf atas sikapku waktu itu. Aku memang kekanakan.”

Chan Yeol tidak menanggapi, tapi ia lagi-lagi menatap Seo Ah dengan tatapan itu. Melihat mata Chan Yeol, Seo Ah jadi gugup sendiri. Seo Ah menelan air liurnya, ia merasa hal buruk akan terjadi. Menenyahkan pikiran negatifnya, ia kemudian mulai mengangkat topik liburan mereka.

“Oh iya, aku sudah memeriksa beberapa agen perjalanan yang memberikan diskon khusus pasangan di liburan kali ini. Karena aku sedang ingin ke Jepang, bagaimana kalau kita ke Okinawa? Ah, tapi aku juga menemukan paket murah ke Guam. Menurutmu—“

“Maaf.”

“Apa?”

Seo Ah yakin ia mendengar suara Chan Yeol. Yang ia tidak percayai adalah kata yang diucapkan pria itu. ‘Maaf’? Apa yang perlu dimaafkan—oh, tidak. Jangan bilang….

“Sepertinya kita harus mengundur liburan ini.” Chan Yeol masih belum mau menatap Seo Ah. Ia tidak mau menunjukkan wajah tidak bertanggung jawabnya kepada Seo Ah. Ia pria brengsek!

“K-Kenapa?”

Dengan mendengar suara Seo Ah saja, Chan Yeol tahu betapa terkejutnya wanita ini. Chan Yeol pun memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Air muka Seo Ah sudah kaku, dan bola matanya sudah bergetar.

“Aku benar-benar minta maaf,” kata Chan Yeol. “Pameran lukisannya diadakan minggu depan selama satu minggu penuh. Karena pameran lukisan ini sangat penting untuk promosi Golden Hotel, aku tidak bisa melepaskannya. Dan juga, sekarang sedang high season, Golden Resort sedang dalam masa sibuk—“

“Kenapa? Kenapa hanya kau yang sibuk? Kenapa tidak meminta bawahanmu yang mengerjakannya?” belum keluar dari keterkejutannya, Seo Ah membalas. Ujung matanya mulai memerah, menahan tangis sekaligus amarah.

“Karena aku yang bertanggung jawab langsung untuk pameran itu.”

Tanpa sadar, Seo Ah mendengus mendengar jawaban Chan Yeol. “Apa karena Lee Ji Eun?”

“Ini tidak ada hubungannya dengan Ji Eun.”

Chan Yeol memijit dahinya dengan satu tangan. Ia tahu dari awal kalau ini tidak akan mudah. Ia sendiri yang terlanjur berjanji pada Seo Ah, Chan Yeol paham kekecewaan yang Seo Ah rasakan. Tapi ia bersumpah, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ji Eun. Sebelum ia berjanji untuk liburan bersama Seo Ah, kontrak itu sudah ada. Bodohnya Chan Yeol tidak mengeceknya terlebih dulu dan langsung mengajak Seo Ah. Akal sehatnya menjadi terganggu kalau sudah menyangkut Seo Ah.

“Kau sudah berjanji padaku seminggu yang lalu, dan sekarang membatalkannya begitu saja?!” bentak Seo Ah. “D-Dan kau memilih bekerja bersama wanita itu daripada liburan bersamaku. Kau tidak memikirkan perasaanku?!”

Lebih dari itu, Seo Ah tidak suka saat Chan Yeol memanggil Ji Eun dengan akrab. Kalau memang hanya hubungan pekerjaan, ‘Ji Eun-ssi’ sepertinya sudah cukup. Itu membuat Seo Ah kembali mengingat percakapan dua karyawati sialan itu. Mereka dulu akrab…. dan mereka dulu pasangan kekasih—meski Seo Ah tidak mau mengetahuinya.

“Dengar, Seo Ah-ya,” Chan Yeol menegakkan tubuhnya. Ia pun mendekati Seo Ah, tapi wanita itu bergerak lebih cepat menjauhinya, hingga Chan Yeol pun tidak lagi mencoba. “Aku tahu, ini salahku. Tapi aku bersumpah, kita hanya mengundurnya, tidak membatalkannya.”

“Kita akan pergi liburan bulan depan.”

“Tidak.” Jawab Seo Ah tegas. Ia tidak mau selalu Chan Yeol yang mengatur. Ia juga punya otoritas dalam hubungan ini. “Aku tidak mau. Aku bahkan sudah menyiapkan semuanya. Pokoknya tidak mau.”

“Seo Ah-ya….”

“Sama seperti dirimu,” Seo Ah mengangkat dagunya, menunjukkan kalau dirinya juga bisa bertingkah semaunya sendiri seperti Chan Yeol. “Kalau kau tidak bisa pergi bersamaku, aku bisa mengajak Se Hun.”

“Tidak boleh!”

“Kenapa?!”

“Pokoknya tidak boleh!” Chan Yeol mengacak rambutnya sambil menggeram. “Kita tetap akan pergi, bulan de—“

“Kalau aku tidak boleh pergi, kenapa aku harus mengizinkanmu bekerja dengan wanita lain, hah?!” lepas sudah, Seo Ah tidak bisa menahan lagi amarahnya. Bukan hanya berteriak, wanita itu sudah menangis sekarang. “Kau bersenang-senang dengannya nanti, dan aku… harus menunggumu?”

Chan Yeol menghitung satu sampai lima sambil mengatur nafasnya. Ia berusaha untuk tidak membanting apapun yang ada di dekatnya. Meski begitu, Chan Yeol sudah tidak bisa mengontrol nada bicaranya, ia kembali menggeram.

“Aku sedang bekerja….”

“Aku mau liburan…” Seo Ah menatap nanar Chan Yeol. “Bersamamu.”

Chan Yeol menangkup wajah Seo Ah, mengusap lembut pipi wanita itu yang sudah lembab karena air mata. Perasaaannya campur aduk sekarang, antara bersalah juga kesal. Ia benci dirinya yang selalu terjebak dalam hal bernama ‘pekerjaan’. Tapi seperti naluri, ia juga tidak mampu melepaskan tanggung jawab ini. Dulu, ia tidak terlalu bermasalah dengan kegilaannya akan bekerja. Tapi Seo Ah sudah menjadi kelemahannya. Melihat Seo Ah menangis karenanya, membuat pertahanan Chan Yeol runtuh.

“Maafkan aku, kumohon….”

“Tidak bisakah kau tinggalkan yang satu ini?”

Chan Yeol menyatukan dahi mereka lalu menggeleng pelan. “Maaf.”

Seo Ah menutup mata, seiring dengan air matanya yang mengalir deras. Ia sangat kecewa dan marah. Ia ingin tahu sebesar apa usaha Chan Yeol untuk mempertahankannya, tapi ternyata… pekerjaan jauh lebih penting. Ditambah seorang Lee Ji Eun, Seo Ah tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Kacau dan hancur—mungkin begitu.

Seo Ah pun mendorong dada Chan Yeol lalu mengusap air matanya kasar. “Baiklah, terserah kau.”

Seo Ah berbalik, ingin meninggalkan Chan Yeol. Tapi pria itu menahan satu lengannya. Chan Yeol tidak suka perasaan bersalah yang belum selesai ini. Mencoba tidak peduli, Seo Ah meloloskan tangannya itu dari genggaman Chan Yeol dan melangkah cepat menuju pintu. Debuman pintu terakhir Seo Ah tidak bisa menahan Chan Yeol untuk tidak melempar pajangan di meja, dan meremas rambutnya sambil menggeram. Keputusan terberat baru Chan Yeol pilih, dan ia sangat sangat menyesal. Melebihi penyesalan karena memilih ikut bersama ayahnya ke Seoul.

***

                Ketika Seo Ah sampai di lobi, ternyata gerimis turun di luar. Seo Ah mendesah, terpaksa ia harus pulang menggunakan taksi. Tapi saat Seo Ah ingin menaiki taksi yang berhenti di depan kantor, sebuah mobil berwarna silver berhenti di depannya. Kaca jendela mobil itu perlahan turun, menampilkan seorang wanita cantik di balik kemudi. Sesaat, Seo Ah menyesal karena terpaku dengan mobil ini, bukan cepat-cepat masuk ke dalam taksi itu.

“Seo Ah-ssi, mau minum kopi bersamaku?”

“Tidak, terima kasih.” Seo Ah mencoba menjawab dengan sopan.

“Tidak apa-apa, lagipula ini masih hujan. Ayolah… nanti akan kuantar kau pulang.”

Tawaran Ji Eun terdengar menggiurkan karena itu artinya Seo Ah tidak harus mengeluarkan ongkos pulang. Tapi berbicara dengan wanita ini membuat mood-nya makin buruk. Ia tidak mau besok pagi wajahnya muncul di halaman depan koran kriminal dengan judul ‘seorang wanita gila membunuh wanita lainnya karena tidak tahan dengan wajah cantiknya’.

Karena Seo Ah tidak juga menjawab, Ji Eun mengambil inisiatif sendiri. Wanita itu turun dari mobil dan langsung mendorong Seo Ah masuk ke dalam mobil. Seo Ah tidak lagi menolak. Lagipula itu terlihat tidak sopan, bagaimanapun wanita ini tetap klien Chan Yeol.

Ji Eun banyak bercerita di perjalanan, tapi Seo Ah hanya menanggapi seadanya. Untungnya kafe itu tidak jauh dari kantor Chan Yeol, hanya butuh lima menit. Itu artinya kesempatan Seo Ah untuk merusak wajah cantik Ji Eun hampir tidak ada. Ya… sebelum Seo Ah ingat kalau mereka—lebih tepatnya Ji Eun yang mengajak—akan minum kopi bersama.

Seo Ah memesan Frappucino sedangkan Ji Eun Cappucino panas. Mereka duduk di meja dekat jendela, dimana mereka bisa melihat orang-orang berlalu lalang dengan payung warna-warni. Gerimis masih turun, tapi rasa dinginnya menusuk kulit Seo Ah sampai tulang. Berbeda dengan Ji Eun yang tampak tenang menyesap kopinya, kaki Seo Ah terus bergerak di bawah meja. Ia tidak nyaman, dan ingin segera melepaskan diri dari Ji Eun. Tapi Seo Ah tidak tahu bagaimana caranya, setidaknya agar tidak terlalu mencolok kalau dia tidak suka berada di dekat Ji Eun.

“Waktu pertama kali bertemu,” Ji Eun memulai pembicaraan. Ia meletakkan cangkirnya dengan anggun. “Aku tidak menyangka istri Chan Yeol oppa masih sangat muda.”

Seo Ah menggigit bibir bawahnya saat Ji Eun mengucapkan kata ‘oppa’. Bisakah ia berhenti? Apakah status Seo Ah sebagai istri sah Park Chan Yeol kurang jelas?

“Aku rasa kita seumuran.”

“Benarkah? Tapi aku satu angkatan dengan Chan Yeol.” Ji Eun terkekeh, tapi itu malah membuat kerutan di dahi Seo Ah. Kalau mereka seumuran, kenapa Ji Eun harus memanggil Chan Yeol dengan ‘oppa’.

“Ah… aku merasa kembali muda,” ucap Ji Eun sambil tersenyum malu. Seolah bisa membaca pikiran Seo Ah, ia pun melanjutkan. “Dari dulu aku memang memanggilnya ‘oppa’—sudah kebiasaan.”

“Begitu?” Seo Ah meminum Frappucino-nya, untuk mengurangi sesak.

Ji Eun meringis. “Panggilan itu memang terdengar kurang cocok untuknya. Tapi percayalah, dibalik sikapnya yang dingin dan ketus, dia benar-benar orang yang baik.”

Seo Ah makin tidak nyaman. Nada bicara Ji Eun seolah sedang mengatakan lihat-akulah-yang-paling-mengenal-Park-Chan-Yeol. Meski begitu, wanita itu menutupinya dengan sangat apik dan elegan. Orang lain mungkin hanya melihatnya sebagai pujian dari teman lama, tapi tidak dengan Seo Ah. Ada percikan api perperangan yang dilempar wanita ini.

“Dan Chan Yeol oppa juga sangat pemilih, kau tahu, kan?”

“Hm.” Seo Ah hanya menganggapi dengan gumaman dan seulas senyum.

“Dia sama sekali tidak berubah, pasti merepotkan.” Kata Ji Eun. “Dalam perjanjian kali ini pun dia memintaku untuk mengerjakan sesempurna mungkin. Padahal ini libur musim panas, tapi kami tetap harus bekerja.”

Seo Ah benci saat dirinya hanya bisa diam dan jadi pendengar. Tapi kenyataannya memang ia tidak tahu harus membalas apa. Ji Eun seperti sangat mengenal Chan Yeol. Dibanding dengannya, Seo Ah sama sekali bukan apa-apa. Yang diketahui Seo Ah hanya sikap Chan Yeol yang menyebalkan, dan kebiasaan yang setiap hari dilihatnya. Ia tidak tahu apa yang dimaksud ‘pemilih’ oleh Ji Eun, ia hanya tahu Chan Yeol perfeksionis. Apa yang berubah dan tidak berubah—Seo Ah sama sekali tidak tahu.

Seo Ah seperti kalah sebelum berperang.

Oppa juga sangat malas bangun pagi, dan benci sinar matahari membangunkannya. Dan lebih menyebalkannya, dia sama sekali tidak butuh bantuan untuk memakai dasi—padahal itu waktu-waktu romantis di pagi hari…. ah, maaf. Aku terlalu banyak bicara, ya?”

Melihat wajah Seo Ah yang semakin memburuk, Ji Eun meraih telapak tangan Seo Ah dan mengusapnya, sebagai bentuk penyesalan. Wanita itu mengulaskan senyum tipis yang menyejukkan seperti gerimis yang membasahi jendela kafe. Tapi Seo Ah tidak bisa merasakan kehangatan ataupun perasaan menyesal itu. Semakin Ji Eun menatapnya, semakin tangan Seo Ah menjadi dingin.

“Kau tahu banyak tentang Chan Yeol-ssi, ya.” Dengan bibir mulai bergetar, Seo Ah bertanya. Ia ingin berteriak, tapi tidak mau memperlihatkan sisi lemahnya pada Ji Eun.

Ji Eun melepas tangan Seo Ah dan meminum kembali kopinya. “Tidak juga. Itu karena kami teman lama dan…” ia menggantung kalimatnya sambil meletakkan cangkir. Dengan suara lebih pelan dan lirih, ia melanjutkan. “…pernah hidup bersama.”

Seo Ah refleks menegakkan tubuhnya. Ekspresinya kaku. Ji Eun memukulnya tepat di pusat rasa sakit. Seo Ah bisa mendengar satu sisi hatinya retak, dan nafasnya memburu panas. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat gelas kopinya dengan kedua tangannya. Seo Ah mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tidak mau melihat wajah Ji Eun. Kenyataan yang baru didengarnya benar-benar membuatnya kehabisan kata dan rasanya ingin menghilang saja bersama hujan.

“Maksudku, karena kami satu angkatan saat kuliah, kami sering menginap bersama yang lainnya untuk kegiatan kampus.”

“Begitu?”

Tapi Seo Ah tidak sepenuhnya percaya, meski suara Ji Eun terdengar meyakinkan. Wanita itu pun menambahkan lelucon ringan dan tawa hangat. Tapi Seo Ah tidak bisa mengembalikan retakkan hatinya yang sudah bertebaran. Ia memang tersenyum dan masih menanggapi Ji Eun, tapi jiwanya sudah meninggalkan tubuh itu beberapa detik yang lalu.

***

                Chan Yeol menemukan Seo Ah sudah memakai piyama dan sekarang sedang mengoleskan krim malam di depan meja rias, ketika masuk ke dalam kamar. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Belum ada pembicaraan lagi di antara mereka, padahal Chan Yeol sudah ada di rumah sejak pukul enam sore. Niat awalnya, Chan Yeol ingin kembali meminta maaf dan membujuk Seo Ah. Tapi melihat wajah wanita itu tidak juga membaik dari tadi siang, ia mengurungkan niatnya. Memberi Seo Ah waktu sepertinya pilihan yang bijak, meski tidak tahu sampai kapan Chan Yeol bisa bersabar.

“Belum tidur?” Chan Yeol melangkah masuk, dan mencoba memulai pembicaraan.

“Aku akan tidur di kamar lain.” jawab Seo Ah, sambil masih meratakan krim malamnya.

Chan Yeol, yang baru ingin menyibak selimut, menghentikan gerakkan tangannya. Selama beberapa detik ia tertegun dengan nada bicara Seo Ah, sebelum akhirnya bergumam pelan. “Iya, terserah.”

“Matikan lampunya kalau sudah selesai.”

Seo Ah tidak menjawab. Ia memperhatikan Chan Yeol dari cermin meja rias. Seo Ah benci sikap Chan Yeol yang menganggap pertengkaran mereka tadi siang seolah tidak pernah terjadi. Apa maksudnya mengajak Seo Ah mengobrol seperti biasa? Apakah tidak ada niatan untuk menjelaskan atau paling tidak meminta maaf?

“Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?”

Chan Yeol yang mencoba untuk tidur kembali membuka mata. “Tentang apa?”

“Ji Eun-ssi.” Dan sebelum Chan Yeol memotong ucapannya, Seo Ah menambahkan. “Kalian pernah berpacaran.”

Seo Ah tidak tahu apa yang terjadi dengan suaranya. Harusnya ia bertanya, tapi tadi terdengar seperti kalimat datar. Tenggorokannya tercekat, hampir menangis. Masih memunggungi Chan Yeol, ia pun meremas celananya untuk menahan tangis.

“Darimana kau mendengarnya?”

Udara di sekitar Seo Ah semakin menipis, mendengar Chan Yeol tidak membantah itu. “Geunyangyo.”

Chan Yeol menghela nafas, menarik kembali selimut dan berbaring miring. “Itu hanya masa lalu, tidak penting.”

“Tapi bagiku tidak!” nada suara Seo Ah naik satu tingkat, memaksa Chan Yeol kembali membuka matanya. “Kalian… kalian bahkan pernah hidup bersama….”

Merasa Seo Ah tidak akan berhenti sebelum Chan Yeol benar-benar menaruh perhatian penuh padanya, Chan Yeol pun duduk di kasur. Tangannya bersedekap di dada. Ia menatap lurus punggung Seo Ah dengan wajah datar. Melalui cermin, Chan Yeol bisa melihat Seo Ah sudah menangis meski kepalanya terus tertunduk.

“Darimana kau mendengar itu?”

Chan Yeol mencoba untuk tetap tenang meski dadanya bergemuruh. Ji Eun dan dirinya hanya masa lalu, sekarang mereka tidak lebih dari rekan kerja. Bukan salah satu kenangan buruk atau indah, Chan Yeol hanya tidak mau mengingatnya. Seo Ah adalah masa depannya, itulah kenapa ia tidak suka wanita ini membahas masa lalunya.

“Itu bukan urusanmu, Choi Seo Ah. Lebih baik kau tidur.”

Seo Ah mendengus dalam tangisnya. “Bahkan kau tidak mengelak.” Ia tertawa pahit, terlihat sangat mengerikan. “Sampai kapan? Sampai kau bertemu denganku? Atau… sekarang pun kau juga masih mengunjunginya?”

“CHOI SEO AH, HENTIKAN!”

Tidak, Seo Ah tidak mau berhenti sebelum Chan Yeol mengakuinya. “Dan sekarang kalian bekerja bersama. Kau pasti sangat merindukannya, kan?”

“CHOI SEO AH!”

“Pria jahat!”

Chan Yeol mencapai batasnya. Cukup sudah tuduhan yang dilempar Seo Ah kepadanya. Apa salahnya memiliki masa lalu?! Kenapa Seo Ah sekarang menganggap dirinya sebagai pria brengsek?! Oke, Chan Yeol tahu, salahnya karena mengundur waktu liburan mereka karena lebih mementingkan pekerjaan. Tapi ketika Seo Ah terus-terusan membawa Ji Eun, ia lepas kendali. Pekerjaan dan urusan pribadinya dengan Ji Eun adalah hal berbeda. Chan Yeol tidak suka Seo Ah yang terus menuduhnya begitu.

“Kau menuduhku pria jahat, sementara kau juga sering menghabiskan waktu bersama pria lain di luar sana. Oh, lucu sekali!”

Seo Ah membalik tubuhnya, tapi masih duduk di kursi meja rias. Ditatapnya Chan Yeol yang duduk bersandar dashboard kasur sambil bersedekap. Kesannya dingin dan angkuh. Seo Ah bisa merasakan amarah Chan Yeol yang begitu besar, tapi ia tidak mengalah kali ini. Seo Ah juga bisa!

“Hubunganku dengan Se Hun berbeda dengan dirimu dan Lee Ji Eun!”

“Begitu?” sudut bibir Chan Yeol terangkat sedikit, menciptakan seringai mengerikan yang membuat Seo Ah bergidik. “Menurutmu liburan ke Hongkong hanya berdua dengan pria itu wajar?” dengan rahang mengeras, Chan Yeol menekan kata ‘hanya’ di kalimatnya.

Sebenarnya itu cerita lama. Seo Ah memang pernah liburan berdua bersama Se Hun saat SMA ke Hongkong. Mereka menginap di sebuah villa di pinggir kota, dan menjelajahi hampir seluruh Hongkong selama seminggu. Itu merupakan hal yang wajar untuk anak chaebol sekelas Se Hun—bahkan ia pernah mengajak satu klub basket liburan ke Hawaii. Ditambah Seo Ah adalah sahabat terdekatnya, liburan waktu itu bukan masalah besar.

Toh, mereka bukan kawin lari.

“Kenapa kau jadi membahas Se Hun?!”

“Sama sepertimu!” bentak Chan Yeol. “Kau juga selalu membawa Ji Eun.”

“Karena memang itu masalahnya! Kau tidak jujur padaku.”

Chan Yeol memijit dahinya. Sudah cukup, ia tidak bisa bertahan di sini tanpa memporak-porandakan isi kamar. Menyibak selimut, Chan Yeol memakai sandal rumah, lalu melangkah. Setiap kata yang keluar dari mulutnya akan terus dibantah wanita itu, jadi apa artinya? Lebih baik ia pergi.

“Hentikan saja.” Kata Chan Yeol. “Kau bisa tidur di sini kalau mau.”

Tak!

Sebuah benda kecil melayang dan jatuh tepat di kepala Chan Yeol. Tidak sakit, tapi cukup membuat Chan Yeol terkejut dan membalikan badan. Seo Ah berdiri dengan nafas memburu. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Chan Yeol melihat benda yang jatuh di dekat kakinya—sebuah lipstik. Setelah marah-marah dan menuduhnya sembarangan, sekarang Seo Ah melemparnya dengan lipstik? Benar-benar wanita luar biasa.

“Bodoh!”

Dan sekarang, mengatai Chan Yeol bodoh dengan kasar.

“A-Apa?”

Seo Ah berteriak. “Kau bodoh! Benar-benar idiot!”

Y-Ya… apa—“

Mata Chan Yeol membulat ketika Seo Ah duduk berjongkok sambil menundukkan kepala. Ia menangis keras, seperti bocah yang ditinggal ibunya di pasar sendirian. Mulut Chan Yeol yang hampir balik meneriaki Seo Ah, kini terkunci rapat

Melihat Seo Ah menangis siang tadi di kantornya, walau hanya mengeluarkan air mata tanpa suara, tapi sudah mampu membuat kaki Chan Yeol lemas. Dan sekarang, Seo Ah terisak seolah tenggorokannya berlubang. Wanita itu mencari udara tapi tetap tidak berhenti mengoceh, membuat Chan Yeol yang ingin menghampirinya harus menahan langkah.

“Kenapa kau tidak mengerti juga?!” teriak Seo Ah. “Ji Eun-ssi itu sangat cantik, aku membencinya.”

Seo Ah terus berbicara, tidak peduli kalau Chan Yeol perlahan mendekatinya. “Mendengar mereka mengatakan kalian cocok bersama, membuat aku marah seperti orang bodoh. Lalu, ketika aku tahu kalian dulunya sepasang kekasih, aku… aku kehilangan diriku.”

“A-Aku takut… hanya membayangkannya saja aku takut!” tangis Seo Ah makin keras, ia menutup seluruh wajahnya yang memerah dengan telapak tangan yang bergetar.

Chan Yeol ikut berjongkok di depan Seo Ah. Menurunkan kedua tangan wanita itu, ia membawa Seo Ah dalam pelukannya. Di bahu Chan Yeol, Seo Ah menangis. Entah sejak kapan ia berubah menjadi wanita bodoh dan lemah. Ia tidak pernah setakut ini saat Jong Hoon oppa menjulurkan ulat bulu kepadanya, atau saat Se Hun mengatakan kalau ia ingin bunuh diri karena ditolak seorang gadis. Ia tidak takut saat ditinggal sendirian di rumah oleh orangtuanya, bahkan saat harus hidup sendiri di London. Tapi membayangkan—hanya membayangkan—Chan Yeol kembali memilih Ji Eun dan mereka hidup bahagia, seluruh tubuh Seo Ah sangat sakit, seperti baru dihajar dua puluh gajah. Jantungnya selalu berdetak lebih cepat sampai dadanya sakit. Tidak ada yang bisa didengarnya selain suara nafasnya sendiri yang memburu.

“Kalau begitu, jangan dibayangkan. Aku tidak mau kau membayangkannya.” Chan Yeol berbisik di telinga Seo Ah sambil mengusap rambut wanita itu. Perlahan, tangis Seo Ah mereda.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku kalau kalian dulu sepasang kekasih?”

“Karena aku tidak mau kau seperti ini.”

“Tapi rasanya lebih buruk saat aku tidak tahu apa-apa.”

“Maafkan aku.” Ucap Chan Yeol dalam dan lembut. Ia menghirup aroma mawar dari rambut Seo Ah.

Chan Yeol melepaskan pelukannya, lalu menuntun Seo Ah untuk berdiri. Ia mengusap sisa air mata Seo Ah, menyingkirkan rambut yang menempel di pipi wanita itu. “Dia hanya bagian dari masala laluku. Kau keluargaku sekarang, satu-satunya.”

Seo Ah membersitkan hidungnya yang memerah. Matanya menatap lurus milik Chan Yeol. Dari sana ia tahu Chan Yeol tidak berbohong. Hatinya menghangat. Rasa takut yang menghimpitnya terangkat.

“Kau bahagia waktu bersamanya?”

Tanpa keraguan, Chan Yeol menjawab. “Iya.” Katanya. “Tapi aku jauh lebih bahagia sekarang, sampai aku tidak mengenali diriku sendiri.”

Seo Ah mendecih, lalu tertawa pelan. Ia tidak menyangka Chan Yeol bisa mengeluarkan kata-kata cheesy seperti itu. Semakin hari, ia merasa Chan Yeol semakin aneh. Bukan hal yang buruk memang, Seo Ah malah sangat menyukainya. Hanya saja terkadang itu membuatnya sedikit terkejut, seperti saat ini. Ia merasa sangat bodoh karena sudah menangis seperti itu lalu dibalas dengan kata-kata manis Chan Yeol. Chan Yeol yang dulu lebih suka balik membentaknya atau paling tidak mengeluarkan aura dingin mematikan.

Chan Yeol kembali memeluk wanita itu. Ia meletakkan dagunya di puncak kepala Seo Ah. “Harusnya kau bilang saja kalau kau cemburu.”

“Aku tidak—“

“Iya, aku tahu.” Chan Yeol tersenyum dan mengeratkan pelukannya karena Seo Ah mencoba melepaskannya tadi. “Kau manis sekali.”

“M-Manis?”

Seo Ah mengangkat kepala, matanya membulat. Gerakkannya itu membuat Chan Yeol menunduk, melihat wajah Seo Ah. Tanpa aba-aba, Chan Yeol mengecup bibir Seo Ah. Wanita itu mendadak kaku, Chan Yeol pun terkekeh. Ia kembali mengusap pipi Seo Ah sambil sesekali mengusap rambut wanita itu. Chan Yeol mendekatkan wajahnya, kali ini ia mencium kelopak mata Seo Ah, membuat mata yang sedari tadi melotot itu menutup lembut.

Kecupan Chan Yeol bergerak ke kelopak mata Seo Ah yang satunya, lalu ke ujung hidung. Chan Yeol pun menyatukan dahi mereka sampai ujung hidung mereka bersentuhan. Nafas mereka berbenturan satu sama lain. Entah siapa yang memulainya lebih dulu, bibir mereka bersatu dalam kehangatan.

Kedua tangan besar Chan Yeol menangkup rahang Seo Ah, membuatnya lebih leluasa menguasai bibir wanita itu. Setiap helaan nafas, gerakkan bibir, dan sentuhan jari mereka mengalirkan perasaan baru yang menggebu. Seo Ah pun berpegangan pada dada Chan Yeol, meremas pelan kaus hitam yang dipakai pria itu untuk menyeimbangkan tubuhnya karena Chan Yeol terus mendorong. Sampai akhirnya Chan Yeol memutar tubuh Seo Ah, lalu menyenderkan punggung wanita itu ke tembok terdekat.

Mereka makin tenggelam.

Semakin dalam dan dalam. Tangan Seo Ah merambat ke tengkuk Chan Yeol, mengantar pria itu datang padanya lebih dekat. Dua kali berciuman dengan Chan Yeol sudah membuatnya mengakui kalau Chan Yeol benar-benar good kisser. Ia selalu bisa membuat Seo Ah terbuai dalam gigitan kecil atau sapuan lembut lidahnya. Sepersekian detik Chan Yeol membiarkan Seo Ah menguasai, tapi di detik berikutnya ia mencium Seo Ah dua kali lebih dalam—terus seperti itu.

Chan Yeol menghentikan ciuman mereka, namun tetap menempelkan dahinya di dahi Seo Ah. Melihat nafas Seo Ah terputus-putus, ia menyeringai kecil, sebelum akhirnya memberi satu kecupan di ujung bibir Seo Ah.

“Maukah kau menjadi milikku malam ini?” tanya Chan Yeol dengan suara rendahnya. Bibirnya hanya berjarak satu senti dari bibir Seo Ah. “Kapanpun kau siap.”

Dada Seo Ah dipenuhi kembang api yang meledak sampai membuatnya sesak. Belum puas dengan ciuman yang dalam itu, Chan Yeol kembali mengejutkannya dengan ajakan bercinta. Ia tahu cepat atau lambat ini akan terjadi, tapi tetap saja ini membuat seluruh tubuhnya kaku dan lemas secara bersamaan. Tatapan mata Chan Yeol memancarkan kesungguhan yang bercampur dengan hasrat. Ia menginginkan Seo Ah, dan Seo Ah pun juga menginginkan Chan Yeol. Hanya saja Seo Ah sedikit tidak yakin karena mereka baru saja bertengkar hebat beberapa menit yang lalu.

Dan… ia tidak menggunakan pakaian dalam yang harusnya dipakai di malam pertama.

Tapi Seo Ah yakin, inilah saatnya. Saat yang tepat untuk menyakinkan perasaan mereka masing-masing dan menjadi pasangan seutuhnya. Saat yang tepat untuk menghancurkan ego mereka dan menjadi satu di dalam kehangatan. Seo Ah hanya akan menjadi milik Chan Yeol, begitu pun sebaliknya.

“Iya. Aku siap”

***

                Seolah tenaganya tersedot habis semalaman, Seo Ah tidak banyak bergerak dalam tidurnya. Atau mungkin karena Chan Yeol terus memeluknya dari belakang, melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuhnya, dan tidak hentinya menghirup aroma rambut Seo Ah. Pelukan Chan Yeol di punggung Seo Ah terasa hangat dan melindungi.

Mereka masih sama-sama polos, tanpa sehelai benang pun. Itu membuat isi kepala Seo Ah tidak juga benar sampai detik ini. Merasakan hangatnya kulit bertemu kulit membuat dadanya tidak berhenti meletup. Apalagi otot-otot tubuh Chan Yeol begitu nyata menyentuhnya. Ratusan kupu-kupu terus menggelitik perutnya, membuat seluruh tubuhnya merona merah.

Seo Ah sudah setengah sadar ketika ia merasakan ujung jari Chan Yeol menyusuri garis tubuhnya—lagi. Dimulai dari rahangnya, leher, tulang selangka, terus turun sampai pinggangnya. Hanya gerakan halus, seperti menggambar angin. Tapi gerakan itu seolah menggambarkan betapa besarnya hasrat Chan Yeol dan usaha pria itu untuk menahannya. Dalam tubuh yang masih belum pulih, Seo Ah bergerak gelisah, melenguh untuk menghentikan Chan Yeol.

Tapi bukannya berhenti, Chan Yeol sekarang malah menciumi leher belakang Seo Ah. Ciuman itu berpindah secara teratur sampai akhirnya ia menemukan bibir Seo Ah. Melumatnya pelan namun dalam. Seo Ah tidak bisa untuk tidak terbangun karena ulah Chan Yeol itu.

“Selamat pagi.” Ucap Chan Yeol ketika melepas ciumannya.

Pagi ini ia melihat salah satu penampilan terburuk Seo Ah, tapi entah kenapa ia merasa kalau Seo Ah sangat cantik. Rambut panjang dan coklat wanita itu sangat kacau, dan beberapa menempel di wajahnya. Bibirnya terlihat agak bengkak dan merah. Jejak yang Chan Yeol tinggalkan juga terlihat jelas di beberapa titik, di leher dan dada wanita itu. Mata sayunya juga menatap Chan Yeol, lalu senyum tipis terukir di bibirnya.

Tangan Seo Ah terulur untuk mengusap rambut Chan Yeol. Ia tersenyum sangat lebar, seolah julukan ‘sajangnim berdarah dingin’ tidak pernah ada. Dalam keremangan kamar yang hanya terbias sedikit sinar matahari dari celah jendela, wajah Chan Yeol terlihat sangat bercahaya. Tatapan mata yang semalam menatapnya seperti binatang buas, kini menyalurkan perasaan sayang yang sangat banyak, sampai membuat Seo Ah ingin menangis.

“Pagi.”

“Kau baik-baik saja?”

“Hm.”

Chan Yeol mencium pipi Seo Ah, lalu kembali memeluknya kali ini dari depan. Helaan nafas berat ia keluarkan. “Sebenarnya, aku sedang menahan diri. Semalam itu belum cukup untukku.”

Sontak saja itu membuat Seo Ah mengangkat kepalanya dan memelototi Chan Yeol. Gila, apa?! Semalam adalah pertama kalinya untuk Seo Ah, bahkan rasa sakitnya masih terasa di seluruh tubuhnya. Chan Yeol terus memborbadirnya seperti kendaraan perang. Seo Ah tidak tahu kalau Chan Yeol ternyata sekuat itu.

Chan Yeol terkekeh melihat ekspresi Seo Ah. Dikecupnya mata itu. “Hanya bercanda. Aku akan menahan diri.”

Seo Ah mencibir tanpa suara. Chan Yeol terus memperhatikan wajah wanita itu, mengusapnya lembut seperti mengoleskan krim di atas kue. Ia tidak tahu sejak kapan melihat wajah Seo Ah menjadi salah satu hal yang paling disukainya di dunia. Seo Ah tidak menolak Chan Yeol, ia balas memainkan jarinya di ujung hidung Chan Yeol.

Saranghae*.”

Gerakan telunjuk Seo Ah terhenti. Mulutnya terbuka kecil, seperti ingin meneriakan sesuatu tapi semuanya terhenti di tenggorokan. Ia menatap lurus mata Chan Yeol. Satu hal di sana membuat dadanya bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat, dan kepalanya terasa hampa. Semua itu sukses membuat air mata Seo Ah terkumpul di sudut matanya.

Chan Yeol masih belum mengerti apa arti cinta sebenarnya, tapi ia ingin mengucapkan itu untuk Seo Ah—hanya untuk Seo Ah. Ia ingin tahu kalau dirinya sangat ingin memiliki Seo Ah, baik tubuh, jiwa, dan hati wanita itu. Ia ingin hidup bersama Seo Ah selamanya, membuat Seo Ah tahu betapa besar hasratnya untuk terus memeluknya, melihat wajahnya ketika bangun dan sebelum tidur, dan menciumnya saat Chan Yeol merasa down. Hal gila lainnya mulai Chan Yeol bayangkan, seperti membangun keluarga kecil dengan banyak anak laki-laki. Entah kenapa hanya membayangkannya saja Chan Yeol sudah merasa bahagia.

“Aku mencintaimu, Choi Seo Ah.”

Pecah sudah tangis Seo Ah. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Chan Yeol. Mulutnya terlalu kaku untuk menjawab, saking bahagianya. Hanya tangisan itu yang mewakilinya untuk mengatakan hal yang sama pada Chan Yeol. Chan Yeol mengerti, ia membalas pelukan Seo Ah. Rasanya benar-benar menakjubkan. Mereka bisa saja terjun dari ketinggian ratusan ribu kaki tanpa parasut untuk meluapkan kebahagiaannya.

Chan Yeol mengangkat wajah Seo Ah, mengecup kedua matanya yang masih mengeluarkan air mata, sebelum akhirnya melumat bibir Seo Ah. Ciuman kali ini benar-benar sangat manis karena kata itu sudah terucap. Dan meski Seo Ah tidak membalasnya, Chan Yeol tahu kalau perasaan mereka sama. Itu membuatnya semakin tidak ingin melepaskan Seo Ah, bahkan helaan nafas wanita ini.

Chan Yeol sekarang sudah berada di atas tubuh Seo Ah lagi. Tubuh mereka kembali tidak berjarak. Menciumi setiap sudut bibir masing-masing, saling ingin menguasai. Tidak seperti semalam, Seo Ah bermain sangat aktif sampai-sampai Chan Yeol ingin melahapnya habis sekarang juga. Wanita itu sudah bisa menggoda Chan Yeol dengan gerakan tangannya di dada Chan Yeol. Seo Ah juga sudah mulai berani menyentuh otot perut Chan Yeol, yang membuat Chan Yeol terus mengerang sampai menggigit bibir Seo Ah.

Drrt! Drrt! Drrt!

“Kau mendapat telepon.”

“Nanti saja.” Dengan suara serak dan berat, Chan Yeol menjawab. Nafasnya yang memburu membentur leher Seo Ah sebelum bibirnya mendarat di sana.

Drrt! Drrt! Drrt!

Ponsel itu kembali berbunyi. Chan Yeol menggeram, dan terpaksa meninggalkan tubuh Seo Ah. Dengan kasar ia menyambar ponselnya yang berada di atas nakas. Tanpa melihat siapa yang menelepon, ia menjawab panggilan itu. Ia tidak peduli sekalipun itu klien pentingnya. Mengganggu kegiatan pagi mereka merupakan kejahatan besar! Dan Chan Yeol tidak akan pernah memaafkan orang ini.

“Kenapa?!”

Seo Ah terkekeh mendengar Chan Yeol marah-marah. Seo Ah pun mengangkat tubuhnya dan bersender pada sebuah bantal sambil menunggu Chan Yeol selesai berbicara. Tapi sepuluh detik kemudian, Chan Yeol menegakkan punggungnya. Seo Ah bisa merasakan aura tidak biasa di sana, seperti ketegangan dan kehampaan. Chan Yeol terus diam, mendengar lawan bicaranya berbicara tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Baiklah. Aku mengerti.”

“Kenapa?” tanya Seo Ah ketika Chan Yeol menurunkan ponselnya. Pria itu masih duduk di pinggir kasur. Punggungnya masih setegak sebelumnya. Seo Ah menebak, sesuatu yang gawat sedang terjadi di perusahaan.

“Kita harus ke rumah sakit sekarang.” kata Chan Yeol. “Orangtuaku… mereka sedang kritis.”


 

■■■

*Geunyangyo / Geunyang (그냥요/그냥) : kalau secara harfiah sih artinya ‘hanya’, tapi yang aku pake di sini sebagai bentuk ekspresi. Susah cari Bahasa Indonesia yang pas -_- semacam ‘cuma mau / cuma tahu’ atau ‘no reason’ ya begitulah, susah….

*Saranghae / Saranghada / Saranghaeyo (사랑해 / 사랑하다 / 사랑해요) : I LOBE YOU—eh I LOVE YOU hehehe “aku mencintaimuuuu”

 

*Ini versi Non Rated. Karena aku bingung dan takut repot ngasih password ke kalian, jadi aku post yang non rated hehe ^^ Buat yang cukup umur, dan memiliki tekad yang kuat untuk memecahkan password, kalian bisa baca yang rated version di sini ^^ gak jauh beda kok, cuma dikasih bumbu sedikit hehehe hati-hati kalian muntah. Oh iya, kalian pecahin passwordnya sendiri ya, clue-nya aku kasih di post paling ataaaaas di blog aku

 

Ini panjaaaaang banget, kan? Aku juga kaget pas tau udah lebih dari 30 halaman -_- takutnya isinya gak jelas semua hahaha begitulah.

 

Oh iya, aku kok buat karakter jieun kayaknya jahat banget ya? Hahaha dia like foxy girl gitu, diam-diam menerkam. Ya begitulah…

 

Aduh apa lagi ya? Gak ada deh. Aku lagi seneng banget buat cerita Seoa-Sehun jaman SMA, pasti nanti ada lagi. Tapi jangan berharap banyak ya, soalnya pasti genrenya gak jauh-jauh dari komedi sama absurd hahaha

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

 

85 responses to “10 Steps Closer [7th Step]

  1. Keren banget kak ceritanya, tiap minggu selalu nunggu updatetanya,dilanjut ya kak.semakin bikin greget cerita chanyeol sama junielnya.dilanjut ya kak. Ditunggu net chapternya

  2. Huweee awal cerita bikin hati nyes sumpah eh akhir akhir udah romantis gitu ih ranjangan/? lagi keekkkek ditunggu chap selanjutnya eonni

  3. Aduh aduh.. Sampek nangus itu seo ah nya.. Disayang dong yeol jan disakitin terus kasian.. Yg peka dong yeol, seo ah itu cemburu.. Hihhhhh gemezz
    Keren thor next chap ditunggu ya..

    Keepwriting^^

  4. Gua ikutan nangis bacanya😢

    Keren keren daebak gitu.

    Pokoknya, ff ini selalu gua tunggu muncul-nya di TL wordpress😂

    Semangat thor! Luvluv

  5. Seoah nangis nya sampe begitu yaampun ikutan pengen nangis. Awalnya udah nyesek2 terus pas terakhir2 malu sendiri bacanya😄 wkwkwk ditunggu next chapternyaaaa

  6. Geunyangyo, no reason. Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaa, daebak. Bahasamu itu terlalu kamvret. Ini bikin aku melt di keramaian TE**OM. Selamat Ziajung, anda berhasil. KKKKK~~~~~

  7. Yang peka song yeol sm seo ah, duh lee ji eun nya jg keganjenan sih. Next chapternya ditunggu ya thor

  8. Kalau cemburu bilang aja kali, lucu deh Seo Ah…. Tapi keluarganya Chanyeol kritis gara2 apa? Ditunggu ya kelanjutannya….

  9. Akhir mrk udah bisa jujur sama perasaan msing2…agak sebel jga sama jieun…tapi ngomomg2 chanyeol n jieun udah prnah ‘itu’ lom ya???secara mrk kan prnh tggal bareng???

  10. pertengkaran mreka itu ya luar biasa banget kak aku smpe ikutan tegang bacanya haha
    sebel juga sama jieun dia diam diam mengerikan banget, tak kira dia mau baik gitu, lah dia malah bikin panas seo ah :3
    itu scane nya duhhhh gk bisa bayangin wkwk

  11. iya loh skrg malah seo ah yg cemburu
    etdah ini pasangan bikin gregetan aja nih terkadang wkwk untung akhirnya baikan
    jd sedikit penasaran sm sifat aslinya jieun semoga aja jieun ga ngerusak hubungan chanyeol sm seo ah

  12. yeaayyy akhirnya mereka slng ngungkapin perasaan masing2
    makin sweet aja pasangan ini
    sebel deh sm ji eun yg suka manas2 sin sampai seo ah cemburu gitu
    moga aja hubungan mereka baik2 aja ke depan nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s