BIG CHANCE – 2: Truth Or Dare – Kee-Rhopy

BIG CHANCE

BIG CHANCE – 2: Truth Or Dare – Kee-Rhopy

 

Author: Kee-Rhopy | Cast: Do Kyungsoo, Byun Baekhyun & Song Yoonji | Genre: AU, School Life, Romance, Comedy | Lenght: Chaptered

 

“Aku hanya menghindarimu, bukan ingin menyingkirkanmu.”

 

Previous: New Student

 

Kyungsoo kira, pencariannya tak akan berlangsung lama saat mendengar Baekhyun menyebut nama Song Hana. Pemuda itu sangat yakin bahwa Song Hana yang dimaksud Baekhyun adalah Song Hana yang ia cari. Namun takdir berkata lain, Song Hana yang dikatakan Baekhyun bukan dia. Bukan gadis yang diam-diam selalu memenuhi otak dan hatinya.

 

Kyungsoo ingat betul bagaimana perasaannya yang sangat membuncah saat mendatangi perpustakaan pagi itu. Ia berjalan pelan, memasuki ruang perpustakaan dengan jantung berdebar tak karuan. Namun rasa gugup itu berubah menjadi desah kecewa saat tahu bahwa gadis yang dimaksud Baekhyun bukan gadis yang ia cari, bukan Song Hana-nya.

 

“Permisi, Song Hana-sshi,” panggil Kyungsoo hati-hati pada gadis yang membelakanginya.

 

Gadis itu menoleh dengan penampilan yang jauh dari perkiraan Kyungsoo. Kacamata super besar, rambut ikal berantakan dan jangan lupakan jerawat yang menghiasi kedua pipinya. Penampilan yang jauh berbeda dari Hana yang ia cari. “Kau memanggilku?”

 

Kyungsoo mengangguk ragu. Tertanam beberapa anggapan kalau gadis ini mungkin saja Song Hana-nya. Mungkin saja gadis itu merubah penampilannya karena peristiwa kebakaran setahun silam. Ia mencoba bersikap teguh meski perasaannya berkata lain.

 

“Maaf, aku Hong Hana. Bukan Song Hana.”

 

Kyungsoo terlihat terkejut, namun seakan mengabaikan rasa ragu yang semakin menyiksa, ia berkata dengan pelan, “Mungkinkah kau mengenalku?”

 

“Tidak. Memangnya kau siapa?”

 

Saat itu Kyungsoo hanya menggeleng sebagai jawaban. Lalu melangkah pelan dengan helaan napas berat. Sadar bahwa gadis itu bukan gadis yang ia cari. Oh, memangnya siapa yang bisa bersikap normal setelah bertemu dengan orang yang pernah membuat dirinya merasa ada di neraka? Ya, gadis yang ia temui seminggu yang lalu sudah pasti bukan Song Hana, melainkah Hong Hana. Kalaupun mereka berdua dipertemukan kembali, Song Hana tak akan menghadapinya dengan sikap tenang seperti Hong Hana.

 

Kyungsoo mendongak, menatap langit yang cerah, yang seakan menyindir keadaannya. Pemuda itu menarik napas dan mengeluarkannya keras sebelum akhirnya kembali melangkah, mendekati gerbang sekolah yang hanya menyisakan sepuluh langkah lagi.

 

“Aku menyukaimu, meski kau sangat membenciku.”

 

BRUGH!!

 

Kyungsoo tersentak karena dua hal. Satu karena kalimat Hana yang tiba-tiba muncul tanpa diminta, dua karena seseorang tak sengaja menabrak bahunya dari arah belakang. Pemuda itu menoleh ke arah samping dan menemukan salah satu teman sekelasnya memandangnya penuh penyesalan. Tak perlu ditebak, pasti gadis berambut pendek ini yang tak sengaja menabraknya.

 

“Ah, Kyungsoo-ah, mian. Aku sungguh tak sengaja menabrakmu.”

 

Kyungsoo hanya mengangguk sebagai jawaban. Tanda bahwa tubrukan yang disebabkan gadis itu tak perlu dipermasalahkan.

 

“Aku Bora. Yoon Bora. Kau mungkin tak tahu namaku.” Gadis itu tersenyum lebar ke arah Kyungsoo. “Kalau begitu aku duluan, ya.” Bora hendak melangkahkan kakinya kembali, namun terhenti saat sesuatu menyadarkannya. Gadis itu berbalik, menatap Kyungsoo seraya berkata, “Sepertinya aku harus memberitahumu karena kau yang menyelamatkannya. Yoonji sudah masuk sekolah lagi mulai hari ini.”

 

Kyungsoo tertegun untuk beberapa detik saat mendengar informasi dari Bora. Namun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dibiarkannya Bora berlalu begitu saja dari hadapannya.

 

Song Yoonji.

 

Gadis yang dimaksud oleh Bora barusan. Gadis yang jatuh dari tangga seminggu yang lalu, yang entah kenapa berhasil menarik perhatian Kyungsoo.

 

Bukan karena gadis itu memiliki marga sama dengan Hana. Sama sekali bukan itu. Hanya saja Yoonji terlihat aneh sejak Kyungsoo melihatnya. Entah hanya perasaan atau memang kenyataan, Kyungsoo merasa kalau gadis itu menghindarinya.

 

Kyungsoo berpikir seperti itu bukan tanpa alasan. Berbagai macam pemikiran muncul karena keanehan yang Yoonji tampakkan. Pertama, Kyungsoo ingat betul saat ia hendak duduk di samping gadis itu. Gadis bernama lengkap Song Yoonji itu entah kenapa menarik Baekhyun sampai ia dibuat kaget karenanya. Kesannya seperti Kyungsoo adalah orang yang wajib dihindari. Seolah kesialan akan terus menerus datang kalau Kyungsoo yang duduk di sana. Padahal siapa juga sih, yang mau duduk di samping gadis itu? Ia kan, hanya melangkah menuju satu-satunya tempat kosong. Yeah, meskipun ada banyak alasan kenapa Yoonji bisa melakukan hal itu sih. Kedua, kejadian saat gadis itu terjatuh dari anak tangga. Yoonji bersikeras menyuruhnya untuk tak mendekat meski tulang kakinya patah hingga akhirnya Kyungsoo tak bisa berbuat apa-apa selain memanggil 119 pagi itu. Sungguh, Kyungsoo merasa dirinya menjijikkan sampai tak boleh membantu orang yang jelas-jelas sangat membutuhkan bantuannya. Kesannya Yoonji sangat tak mau berhadapan dengannya, atau bahkan hanya untuk sekedar berpapasan saja sepertinya gadis itu anti sekali. Memangnya Kyungsoo salah apa?

 

Ah, sudahlah. Menemukan Song Hana adalah prioritas utama, lebih penting daripada  memikirkan Song Yoonji yang jelas-jelas keanehannya tak bisa Kyungsoo prediksi.

 

 

“KABAR SPEKTAKULER, TEMAN-TEMAN!! GURU JUNG TAK MASUK HARI INI, YEAAYYY!!!”

 

Kali ini teriakan Baekhyun mendapat sambutan hangat dari seluruh penghuni kelas 2-3. Mungkin karena konten dari berita yang disampaikannya benar-benar berita bagus. Semua siswa kelas 2-3 bersorak. Bahkan Go Seulbi, si pintar peringkat pertama ikut menikmati euforia yang ditimbulkan oleh teriakan Baekhyun dengan sebuah senyuman. Oh, mungkin dia juga punya rasa jenuh dalam belajar.

 

Baekhyun berlari cepat menuju kursi kesayangannya, menghampiri Yoonji yang hanya terlihat diam sambil memandang ke luar jendela.

 

“Yoonji-ah,” panggil Baekhyun saat langkahnya berada tepat di samping Yoonji.

 

Yoonji tak menoleh.

 

“Dia tak menyukaimu, Byun Baekhyun. Sebaiknya kau menjauh sebelum aku menendangmu.” Suara Bora menginterupsi, membuat Baekhyun mencibir meski akhirnya tetap membiarkan gadis berambut pendek itu duduk di samping Yoonji.

 

Bora dan Yoonji. Dua sahabat yang suka sekali menggunakan ‘tendangan’ sebagai salah satu hal keramat. Yeah, setidaknya kata ‘tendangan’ bisa mengungkapkan ciri khas dari persahabatan mereka. Karena menurut Baekhyun, Bora dan Yoonji adalah pribadi yang benar-benar berbeda, atau mungkin lebih tepat jika dikatakan berbanding terbalik. Bora cukup pintar, namun memiliki wajah yang biasa saja, bahkan cenderung masuk dalam kategori jelek (maaf, Baekhyun tak bermaksud menghina tapi itulah kebenarannya). Sementara Yoonji benar-benar cantik, sayang kapasitas otaknya sama sekali tak menunjang penampilan wajahnya yang luar biasa. Kalau boleh memberi penilaian, otak Yoonji itu ibarat trampolin yang memantulkan siapa saja yang ada di atasnya. Dengan kata lain, gadis yang disukainya itu benar-benar bodoh dalam artian sebenarnya (percayalah, Baekhyun tak tega mengatakannya, tapi tetap saja, sebodoh apapun Yoonji, ia tetap menyukainya).

 

“Kau butuh sesuatu?” tanya Bora pada Yoonji.

 

Baekhyun ikut mendesah saat dilihatnya Yoonji mendesah. Pasti berat sekali bagi Yoonji karena harus kembali ke sekolah dengan bantuan kruk. Ya, karena peristiwa jatuh itu, Yoonji masuk rumah sakit selama seminggu dan harus mengenakan gips karena tulang kakinya patah. Sekarang pun gadis itu harus menggunakan kruk agar bisa berjalan. Oh, Baekhyun jadi ikut menderita hanya dengan melihatnya.

 

Yoonji menggeleng mendapat pertanyaan Bora. Tatapannya tetap mengarah ke luar jendela.

 

Mendapat gelengan dari Yoonji membuat Bora mengerucutkan bibir. Dalam hati bingung bagaimana menghadapi kelakuan Yoonji yang sepertinya sangat terpukul dengan keadaannya yang belum normal seperti sedia kala. Sejenak setelah hembusan napas ke lima, Bora menolehkan kepala ke arah Baekhyun yang masih setia berdiri di pinggir mejanya, seolah meminta sebuah solusi super ampuh agar Yoonji bisa melupakan penderitaannya barang sejenak.

 

Baekhyun tersenyum lebar, sangat lebar hingga mampu mengundang kekhawatiran Bora –takut mulut pria itu robek atau semacamnya.

 

“Bagaimana kalau kita main truth or dare?” Baekhyun mengusulkannya dengan nada ceria, seperti biasa.

 

Mata Bora membulat mendengar usulan Baekhyun, sangat tertarik karena truth or dare  memang permainan favoritnya. Lain halnya dengan Yoonji yang menampilkan ekspresi sama –tenggelam dengan pikirannya sendiri. “IDE BAGUS, BYUN BAEK!!” Bora berseru senang. Gadis itu bahkan berdiri dengan tangan terkepal sanking semangatnya.

 

Baekhyun mengedipkan matanya, memberi isyarat pada Bora untuk mempengaruhi Yoonji. Ia tak tahu permainan truth or dare bisa mengembalikan sosok Yoonji seperti biasa atau tidak, tapi apa salahnya mencoba?

 

Bora yang mengerti langsung mendekatkan dirinya lagi pada Yoonji. Mengetes suaranya hingga mengeluarkan bunyi ‘ehm’ cukup keras, lalu memulai aksinya untuk mengajak Yoonji ikut bermain truth or dare. “Yoonji-ah, kau tak akan menyesal sedikitpun kalau ikut bermain denganku. Ayolah, lagipula jarang-jarang, kan, kita bisa bermain saat jam pelajaran?!”

 

Yoonji memperhatikan Bora yang bergerak tak tentu di sampingnya tanpa minat. “Aku malas.”

 

“OOO YEAHH??? Itu tak mungkin. Kapan sih, Song Yoonji tidak mau kalau diajak bermain-main? Ayolah, please… Demi aku saja, ok?”

 

Bora membujuk dengan kalimat yang menurut Baekhyun tak bermutu sama sekali. Baekhyun bahkan dibuat kesal hanya dengan melihat tingkah Bora yang menarik tak jelas lengan Yoonji. Seolah Yoonji bisa ditaklukkan hanya dengan tarikan lengan. Ia saja sudah mencoba berbagai cara agar bisa dekat dengan Yoonji tapi tetap saja, hasilnya nihil.

 

Sudahlah. Tak ada cara lain. Baekhyun tahu apa yang tengah ia pikirkan bisa menunjukkan betapa Yoonji tak suka padanya, tapi percayalah, melihat gadis itu tak bersemangat seperti itu justru membuat perasaannya semakin tak nyaman. “Kalau kau tak mau ikut bermain, aku akan membuang krukmu dan menggendongmu sampai rumahmu.”

 

Baik Bora maupun Yoonji dibuat terkejut dengan kalimat Baekhyun. Mulut Bora terbuka. Sedang Yoonji yang jelas tak mau digendong oleh Baekhyun terlihat sedikit panik. Tatapan Baekhyun saat ini terlihat sangat serius. Pertanda bahwa Baekhyun tak main-main seperti biasanya.

 

“Ba-baiklah…” Yoonji menjawab terpaksa.

 

Bora menoleh cepat ke arah Yoonji. “Woah, kau menyetujuinya?! Daebak! Sepertinya Baekhyun benar-benar bukan tipemu.” Ya, itu benar. Kalau Baekyun tipe idaman Yoonji, sudah pasti sahabatnya itu mau digendong Baekyun tanpa banyak protes.

 

 

Keadaan seperti inilah yang sekarang sedang dihadapi Yoonji. Duduk melingkari meja persegi empat dengan Baekhyun dan Bora. Jangan lupakan botol air mineral kosong yang ada di tengah-tengah mereka bertiga. Ekspresinya terlihat malas, sementara dua orang di sampingnya menunjukkan hal berbeda. Bora yang antusias dan Baekhyun yang tak berhenti tersenyum seperti orang gila.

 

Baiklah. Dalam keadaan seperti ini, Yoonji hanya perlu memilih dare jika kebetulan ujung botol itu mengarah padanya. Karena truth akan bedampak buruk bagi privasi yang ingin dilindunginya rapat-rapat. Ia tak mau perjuangannya sampai detik ini berakhir hanya gara-gara permainan konyol yang bahkan ia sendiri tak memiliki minat mengikuti alurnya.

 

“Baiklah, kita mulai permainannya sekarang!” Bora berseru senang. Gadis berambut pendek itu, dengan semangat berlebihan memutar botol yang ada di hadapannya dengan mata berbinar. Seolah botol tersebut bisa menghasilkan emas 24 karat jika berenti berputar.

 

“STOOOPP!!” Baekhyun berteriak heboh saat gerakan botol melambat dan melewati Yoonji begitu saja. Sial. Padahal ia sangat ingin Yoonji yang mendapatkannya.

 

Gerakan si botol mulai melambat, semakin lambat, lima kali lebih lambat dan akhirnya berhenti total. Mata mereka bertiga –Baekhyun, Bora dan Yoonji– tertuju pada ujung botol yang sama sekali tidak mengarah pada mereka, melainkan pada sisi yang tak terduga. Atau lebih tepat jika dikatakan mengarah pada sisi yang kosong.

 

“Yaaah, seharusnya kita berempat!” Bora berseru kecewa karena putaran pertamanya gagal. Ya, permainan akan jauh lebih mudah kalau terdiri dari empat pemain karena meja yang dijadikan tempat bermain memiliki empat sisi. Tiga sisi terisi oleh Bora, Yoonji dan Baekhyun sedangkan sisi yang tersisa dibiarkan tanpa penghuni.

 

“Kau hanya perlu memutarnya lagi, Bora-ya.” Yoonji bersuara datar. Tak terlihat kecewa sama sekali. Malah kelegaan menghampiri ekspresinya meski samar.

 

Bora mengangguk, lantas menyentuh kembali botol tersebut dan langsung memutarnya.

 

Botol itu berputar kembali. Bergerak dengan tempo cepat hingga akhirnya melambat. Semakin lambat dan berheti bergerak dalam detik ke tiga. Namun lagi-lagi terdengar desah kecewa dari Bora maupun Baekhyun karena lagi-lagi ujung botol mengarah pada sisi kosong meja.

 

“Tidak bisa! Kita harus mengajak orang lain!” usulan Bora langsung diangguki Baekhyun.

 

Baekhyun mengarahkan pandangan menyusuri setiap sudut kelas. Desahan kecewa langsung muncul tatkala mendapatkan hasil nihil –tak ada seorang pun yang bisa diajak bermain karena entah sejak kapan kelas mereka kosong. “Teman-teman memang selalu lapar,” ujarnya, menduga bahwa semua temannya pasti pergi ke kantin.

 

“Kalau begitu tak ada pilihan lain.” Yoonji mengambil alih keadaan. Pikiran tentang menghentikan permainan langsung hinggap begitu melihat kedua temannya putus asa. “Sepertinya kita harus menghenti–”

 

“–Hei, Do Kyungsoo! Kebetulan sekali!” Bora berseru senang saat melihat Kyungsoo berjalan memasuki kelas. Gadis itu bahkan langsung berdiri dan melangkah menghampiri Kyungsoo yang kini memandangnya penuh tanya, mengabaikan ekspresi kesal Yoonji yang kentara karena keinginannya batal. Bora pasti akan mengajak Kyungsoo bermain.

 

“Aisshh…” Yoonji mendesis samar. Untunglah perhatian Baekhyun tengah tertuju pada interaksi Bora yang membujuk Kyungsoo untuk ikut andil dalam permainan.

 

“YESS!!” Baekhyun berseru dengan mengepalkan tangan saat melihat Kyungsoo menganggukkan kepala hingga akhirnya berjalan mendekati meja mereka dengan Bora.

 

Permainan yang menurut Bora dan Baekhyun sudah sempurna dengan kehadiran Kyungsoo tentu saja bertentangan dengan apa yang dirasakan Yoonji. Gadis itu mengalihkan pandangan begitu Kyungsoo duduk berhadapan dengannya. Biar lebih jelas, duduk tepat di hadapannya. Oh, sial. Sepertinya Yoonji harus rela terus-terusan memandang wajah Kyungsoo. Dan itu membuat mood-nya bertambah buruk.

 

“Aku berhenti. Kalian sudah mendapatkan penggantiku.”

 

Kalimat yang keluar dari mulut Yoonji tentu membuat Bora, Baekyun, sekaligus Kyungsoo terperangah. Muncul banyak tanda tanya di benak mereka. Namun lebih dari itu, Kyungsoo yang paling merasa tersinggung.

 

Andwae, aku benci melihatmu termenung sendirian.” Bora langsung menanggapi.

 

Baekhyun mengangguk, membenarkan perkataan Bora.

 

“Kenapa kau harus berhenti?” Kyungsoo bersuara tiba-tiba. Terselip emosi samar yang tak terbaca di balik nada suaranya. Sementara pandangannya terarah pada botol kosong di atas meja.

 

Ekspresi Yoonji terlihat datar. Gadis itu mendengus pelan, mengarahkan pandangan ke arah samping dengan gelisah. “Aku tak berminat lagi,” ucapnya pelan.

 

“Kalau begitu sepulang sekolah nanti aku akan menggendongmu.” Baekhyun menimpali. Sepertinya ia tak sadar jika suasana yang tadinya cerah ceria telah digantikan oleh percikan api saat ini.

 

“Kau berhenti tepat saat aku memutuskan untuk bergabung dalam permainan ini.” Kyungsoo langsung mengarahkan pandangan tepat pada sosok Yoonji di depannya. Tatapannya tajam dan menyelidik. Ada satu hal yang harus ia pastikan tentang ke-antian gadis bernama Yoonji ini padanya. Biar bagaimanapun ia merasa terganggu dengan sikap aneh gadis ini.

 

Hening beberapa saat.

 

Baekhyun dan Bora saling berpandangan saat merasakan aura mencekam keluar dari sosok Kyungsoo. Keduanya mengedikkan bahu begitu sadar tak bisa melakukan apa-apa karena memang, mereka terseret dalam keadaan seperti ini tanpa tahu apapun.

 

“A–aku benar-benar… tak berminat lagi.” Yoonji menjawab gelagapan, masih tak berniat menatap lawan bicara di hadapannya dan tetap menoleh ke samping.

 

“Tidak. Kau berhenti karena ada aku.” Kyungsoo kembali bersuara dengan nada yang lebih mengintimidasi.

 

Yoonji diam. Gadis itu memejamkan mata. Menghadapi Kyungsoo yang seperti ini bukan perkara yang mudah. Perlu tekad dan keberanian yang besar baginya.

 

“Kau selalu bersikap aneh saat berhadapan denganku. Memperlakukanku seperti kuman yang harus selalu dihindari.”

 

Bora dan Baekhyun hampir saja meledakkan tawa saat kata ‘kuman’ muncul dalam kosa kata kalimat Kyungsoo. Namun, mengingat Kyungsoo orang baru yang jarang sekali berbicara banyak seperti saat ini membuat keduanya sadar kalau tertawa di tengah situasi begini tak akan memperbaiki keadaan.

 

“Jangan kira aku tak tahu semua kelakuan anehmu padaku. Kau memperlakukanku seperti kuman bahkan saat aku pertama kali menginjakkan kaki di sini. Aku tak tahu apa motifmu melakukan hal itu seolah aku adalah pribadi yang harus kau singkirkan. Aku sungguh–”

 

BRAKK!!

 

“ASTAGA!” Baekhyun berteriak kaget, sementara Bora membulatkan mata tak percaya.

 

Yoonji tiba-tiba saja sudah ada dalam posisi berdiri dengan tangan mengepal di atas meja. Ia baru saja menggebrak benda keras itu tanpa peduli pada pandangan terkejut, heran dan penuh tanya dari tiga orang di sekitarnya. Pandangannya lurus, menatap Kyungsoo tepat di manik mata. “Aku hanya menghindarimu, bukan ingin menyingkirkanmu.”

 

 

TBC

Hai, lama tak besua…

Kegiatan mulai seperti sedia kala dan tak bisa dipungkiri juga kalau aku kehilangan mood buat nulis. Heheee. tapi akhirnya malah muncul lagi.^^

 

12 responses to “BIG CHANCE – 2: Truth Or Dare – Kee-Rhopy

  1. OMO! Demi apa tu Yoonji berani bilang kek gitu ama Kyung?? Mana sambil gebrak meja huhhh gue speechless-_- wkwk ga nyangka kalo Yoonji akhirnya bisa ngungkapin rasa keselnya, mungkin lumayan dendam ama Kyung dulu dan baru brani + bisa ngungkapin skarang😀

  2. wow… reaksinya Yoonji bikin kaget semua org. Perlu keberanian yg besar tuh buat ngomong kek gitu. Oke, kak… next chap jgn lama lama ya, kak….
    Fighting…!!

  3. penasaran sma yoonji, apa dia song hana??
    wahhh gak nyangka si yoonji bakal ngelakuin itu ke kyungsooo..
    dtnggu klnjutannya

    semangat

  4. gak tau nih ya, antara yoonji kembarannya hana (kayaknya sih bukan haha) apa dia oplas. hm… tapi harusnya yoonji bersikap wajar aja kalo gak mau dicurigain. kan kalo begini kyungsoo jadi anu (?)

  5. Apasih yg bikin yoonji beda sama hana ampe kyung gakenal -_-
    Prnasaran kaaaaaaa, jan lama lama yaaaa hihi

  6. Benar2 BIG CHANCE bisa baca cerita ini. Sebenernya masih rada bingung sama ceritanya, masih belum tahu masa lalu Song Yoonji-mungkin Song Hana-sama Kyungsoo. Jadi ditunggu buat kelanjutannya yaa, hwaiting!!

  7. makin tambah seru aja, lucu banget waktu baekhyun bicarain tentang bora…..yg gitu deh…..nexttt

  8. Sebenarnya Yoonji dan Hana itu satu orang atau bukan sih? Makin bingung. Terus si Yoonji itu berani banget tuh ngomong kayak gtu ke Kyungsoo. Makin penasaran, teru next ya jangan lama-lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s