FALLEN HEAVEN – CHAPTER [2]

fallen-heaven

He was the one, who I wasn’t allowed to fall for. But I did.

He was the one, who I wasn’t allowed to become mine. But I did.

If I had to choose between them or him, the answer was him.

Even if I had to face the risk.

I was scared, but he’ll protect me. He said so. He has always protect me.

And I know he will do anything to protect me.

.

.

FALLEN HEAVEN

Choi Seona – Byun Baekhyun

Romance, Action, Crime, Drama, Family

PG-17

aaahraaa©2016

Previous Chapter :

[1] – ONE THING LEADS TO ANOTHER 

.

.

CHAPTER TWO
HER CURIOSITY KILLED THE CAT

.

.

Byun Baekhyun menutup pintu perlahan, ia melakukan hal itu karna tak ingin membuat Seona semakin ketakutan. Ia masih ingat bagaimana reaksi Seona ketika suara tembakan terdengar. Tubuhnya yang gemetar dan tangannya yang dingin mengindikasikan bahwa Seona ketakutan atau bahkan sangat ketakutan. Baekhyun tentu saja khawatir, namun ia tak bisa selalu berada di samping Seona.

Satu hal yang ada dipikirannya saat ini.

Ia harus membunuh Taemin malam ini juga.

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, memastikan apakah ada seseorang di sekitarnya. Tangannya memegang pistol andalannya dengan erat dan postur tubuhnya yang tegak seperti siap menembak siapapun yang berada di hadapannya. Saat Baekhyun merasa semuanya aman, ia turun melewati tangga. Hampir semua benda berserakan dan juga beberapa tubuh manusia yang sudah tak bernyawa berterbaran di mana-mana.

Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Sesosok pria yang tengah duduk di atas meja bar tepat dimana Seona duduk sebelumnya. Baekhyun kenal siapa pria itu. Pria tampan yang memiliki senyum menawan namun sayang ia merupakan seorang penipu, setidaknya bagi Baekhyun.

Ia telah menipu dengan berpura-pura akan bekerja sama dengannya untuk mengirimkan beberapa ratus senjata ilegal ke wilayah Eropa. Baekhyun tentu saja marah dan benar-benar merasa telah dibodohi, bagaimana bisa ia ditipu oleh pria brengsek ini? Ditambah lagi, ia telah memporak-poranda salah satu tempat bar miliknya.

Oleh karena itu, bagaimana pun caranya ia harus membunuhnya.

Baekhyun mendekati Taemin yang kini menyeringai seakan menyambut kedatangan Baekhyun. Di tangan kanannya terdapat sebuah pistol yang masih digenggam olehnya kemudian ia memutar pistol itu dengan lihai. Melihat hal itu membuat Baekhyun merasa Taemin telah meremehkannya.

“Temanku, Baekhyun–ah, lama tak berjumpa!” sapa Taemin diiringi dengan gelak tawanya yang mungkin saja apabila orang lain yang mendengarnya akan membuat bulu roma mereka berdiri. Baekhyun tak meresponnya, ia hanya menampilkan wajah datarnya seperti tak tertarik dengan omong kosong Taemin. Seakan ingin memberi peringatan, Baekhyun menarik pelatuk pistolnya ke arah Taemin. Namun tembakan tersebut tak mengenai Taemin, tetapi hanya melewatinya.

“Woah…woah…sepertinya kau tak sabar ingin membunuhku. Bukankah begitu, Temanku?”

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku tak melewatkan yang satu ini?” Baekhyun melihat Taemin yang tengah menuruni meja bar untuk berdiri. Beberapa saat kemudian, beberapa pria bertubuh besar menghampiri mereka yang ternyata adalah bawahan Taemin. “Kalau begitu kau tentu tak melewatkan yang satu ini juga, bukan?”

Bola mata Baekhyun bergerak dari kiri ke kanan, melihat lawannya yang tak sebanding dengannya. Ia hanya sendiri, tapi Taemin membawa banyak pasukan di hadapannya. Ini benar-benar sangat tidak adil. Seberapa hebatpun seseorang kalau melawan banyak pria apalagi bersenjata kemungkinan akan selamat itu sangat kecil.

Sebenarnya Baekhyun tidak takut, ia hanya berharap Chanyeol, Joon atau siapapun itu membantunya. Ia tak ingin dirinya habis di tangan Taemin hanya karna masalah sepele seperti ini.

Suara pintu yang terbuka keras membuat Baekhyun menoleh, ia setidaknya lega melihat Joon dan Chanyeol datang menghampirinya. Mereka bertiga saling bertatapan, seakan tengah berkomunikasi dalam diam. Seketika mereka bertiga membentuk formasi lingkaran dengan pistol di tangan mereka. Kali ini Baekhyun benar-benar terlihat serius, terlihat dari betapa tajamnya saat ia menatap mereka. Namun, ketika ia mengedarkan pandangannya, ia tidak melihat Taemin di manapun.

Tepat saat Baekhyun tengah memikirkan keberadaan Taemin, tiba-tiba ia mendengar jeritan yang tertahan. Hal itu lantas membuat Baekhyun mendongakkan kepalanya dan melihat Seona yang tengah dibekap oleh Taemin. Ia melihat Seona yang sedang meronta-ronta, berusaha keluar dari bekapan Taemin. Tanpa ragu, ia lantas mengarahkan pistolnya pada Taemin.

“Lepaskan sekarang juga!” perintah Baekhyun dengan suara lantang. Taemin, pria yang membekap Seona, hanya menyeringai puas.

“Bagaimana bisa aku membiarkan wanita secantik dirimu pergi begitu saja,” ucapnya dengan ekspresi kasihan yang dibuat-buat kemudian ia menatap Seona. “Bukankah begitu, Sayang?”

Seona menatap tajam padanya. Taemin tertawa. “Aku suka wanita pemberani, seperti dirimu, sayang. Apalagi kalau tidak hanya disini tetapi juga diranjang–”

Suara tembakan kembali terdengar. Kali ini yang menembak adalah Baekhyun. Namun tembakan Baekhyun sengaja tak mengena Taemin, ia melakukannya hanya untuk memberinya peringatan.

Taemin menoleh dan menatap Baekhyun dengan tatapan marahnya. “Berani-beraninya kau!” bentak Taemin pada Baekhyun. Tanpa sadar, Taemin melonggarkan dekapannya pada Seona. Dan hal itu dimanfaatkan Seona dengan menendang kaki Taemin menggunakan hak tingginya kemudian mencoba merebut pistol dari tangan Taemin. Baekhyun melihat Seona dan Taemin saling bergulat satu sama lain untuk memperebutkan pistol.

Baekhyun melihat situasi, sebelum ia mencari kesempatan untuk menghampiri Seona dan Taemin. Baru saja Baekhyun ingin menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba ia mendengar suara tembakan.

Baekhyun panik. Ia berpikir bahwa Seonalah yang tertembak. Tak ingin kehilangan kesempatan, Baekhyun pun menarik pelatuknya dan menembak siapapun yang ada di hadapannya. Baekhyun lantas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju lantai atas.

Saat ia tiba disana, yang tergeletak di atas lantai bukanlah Seona, melainkan Taemin.

Tetapi yang menjadi pusat perhatiannya saat ini bukanlah Taemin, tetapi Seona yang kini hanya diam memandang tubuh Taemin. Ia melihat Seona yang tengah memeluk tubuhnya yang gemetar. Beberapa saat kemudian, ia melihat tubuh Seona yang mulai mengayun. Mengikuti instingnya, Baekhyun dengan cepat menarik tubuh Seona agar tidak jatuh ke bawah lantai yang begitu dingin.

Wajahnya pucat pasi, tubuhnya terasa dingin, peluh keringat mengalir dari pelipisnya, dan juga bercak merah bercampur debu menghiasi wajah Seona. Baekhyun hanya bisa menatap Seona dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.

Baekhyun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia juga tak mengerti mengapa ia menjadi seperti ini. Rasa panik yang tak terduga, hingga rasa ingin melindungi terhadap wanita yang asing baginya.

Dan untuk pertama kalinya ia merasakan hal itu.

“Chen! Ke ruanganku, sekarang!” teriak Baekhyun melalui ponselnya. Dengan cepat baekhyun mengangkat tubuh seona dan membawanya ke dalam ruangannya.

Beberapa saat kemudian Chen datang dengan tergesa-gesa. Baekhyun tak mengucapkan apapun, ia hanya memberi sebuah gestur tubuh pada Chen agar Chen segera memeriksa keadaan Seona.

“Baekhyun!” Chanyeol tiba tiba membuka pintu dengan keras. Nafasnya terengah-engah dan tatanan rambutnya juga sudah tak tertata rapi kembali.

“Kita harus segera meninggalkan tempat ini, kau tahu di bawah sudah ada beberapa polisi yang telah mengepung tempat ini,” ucap Chanyeol terburu-buru, kemudian ia melihat Seona. “Dan kita tak bisa membawanya ikut bersama kita.”

Baekhyun ingin membantah ucapan Chanyeol, namun tidak jadi. Ia tahu jika mereka membawa wanita ini bersamanya, itu sama saja seperti bunuh diri. Terlebih lagi polisi sudah mengepung tempat bar miliknya ini.

“Beri dia benzodiazepine,” titah Baekhyun. Chen menoleh tak percaya. “Kau tahu efek sampingnya apa?”

Baekhyun terdiam sesaat. “Ya aku tahu, lebih baik seperti itu.”

“Tapi–“

“Cepatlah! Kau mau menjadi seperti mereka?!” ancam Baekhyun sembari menunjuk ke arah luar. Chen lantas bungkam dan menuruti perintah Baekhyun. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah suntikan dan juga botol kecil berisi cairan yang akan dimasukkan ke dalam tubuh seona.

Setelah semuanya selesai, Baekhyun melihat jam di pergelangan tangannya kemudian berbalik menatap Chanyeol. “Kau urusi dia.”

“Baik,” jawab Chanyeol dengan sigap. Baekhyun melangkahkan kakinya ke luar ruangan. Namun beberapa saat langkahnya terhenti. Ia menolehkan kepalanya menatap Seona untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar keluar dari ruangannya

.

.

.

.

Suara sirene terdengar dari kejauhan, yang perlahan semakin membesar lantaran mobil ambulance mendekati pintu masuk Unit Gawat Darurat. Para petugas yang telah berkumpul di depan pintu masuk pun, dengan sigap membuka pintu belakang mobil saat mobil ambulance tiba. Kemudian, mereka menurunkan ranjang roda berlipat yang ditempati oleh seorang wanita yang wajahnya tak terlihat jelas, lantaran selang oksigen menutupi hampir seluruh wajahnya. Para petugas rumah sakit mendorong ranjang itu menuju ruang ICU secepat mungkin.

Di sisi lain, seorang pria membuka lalu menutup pintu mobil dengan cepat tanpa memerdulikan dimana ia menghentikan mobilnya.

Ia memasuki lobby utama rumah sakit, melangkahkan kakinya dengan cepat kemudian sesekali mengedarkan padangannya mencari sesosok wanita yang sangat penting dalam hidupnya. Surai rambutnya yang kini sudah tak tertata rapi ini menunjukkan betapa khawatirnya ia, berusaha keras mencari hingga pandangan matanya berhenti pada sekumpulan orang yang tengah berlari sambil mendorong sebuah ranjang dengan terburu-buru. Sesosok wanita yang berada di ranjang itu terlihat familiar baginya.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengikutinya.

Choi Seunghyun, pria itu, berusaha menghampiri adik kecilnya yang akan di bawa ke ruangan ICU. Saat ia hampir menggapai besi ranjang itu, tiba-tiba sebuah tangan menghentikannya.

“Maaf, Tuan. Anda hanya dapat melihatnya sampai di sini saja,” ucap salah satu petugas dengan sopan.

Seunghyun menghiraukan ucapannya dan melepaskan genggaman petugas itu. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam ruang ICU, namun tertahan kembali.

“Maaf, Tuan. Anda benar-benar tidak bisa masuk ke dalam,” ucap petugas itu, kali ini sedikit menekankan ucapannya.

Seunghyun frustasi lantaran tak bisa masuk ke dalam. Ia benar-benar ingin tahu kondisi adiknya saat ini. Di saat yang genting seperti ini, bagaimana bisa Seunghyun hanya duduk diam menunggu kabar adiknya. Ia tak bisa hanya seperti itu.

Lantas ia memutuskan akan menggunakan satu-satunya cara agar ia dapat masuk kedalam, yaitu dengan menunjukkan kartu identitas kepolisiannya.

“Kali ini kau tidak dapat menahanku lagi,” ucap Seunghyun dengan tegas. Mau tak mau, petugas itu mempersilahkan Seunghyun masuk ke dalam. Tak mau membuang waktu, Seunghyun masuk dengan langkah cepat mencari adik perempuannya, Choi Seona.

Seunghyun akhirnya menemukan Seona yang kini tengah ditangani oleh salah seorang dokter yang ia kenal. Dokter itu menolehkan kepalanya menyadari seseorang berada di dekatnya. Seunghyun menatapnya dengan khawatir, “Bagaimana dengan keadaannya?”

“Ia baik-baik saja, tak ada luka serius di kepala maupun di tubuhnya, hanya goresan kecil saja. Namun, yang membuatku heran, sepertinya ada cairan asing yang masuk ke dalam tubuhnya,” ucap Jiyoon.

Seunghyun menyerngitkan dahinya. “Cairan asing? Maksudmu, adikku diracuni?”

“Bisa saja, tapi aku tidak sepenuhnya yakin.”

“Kalau begitu kau harus tes darahnya.”

“Ya, aku sudah mengambil sampel darahnya. Kita bisa lihat hasilnya sekitar dua jam lagi. Aku harap cairan itu tak berbahaya baginya. Kau bisa menunggu diluar, Hyun. Sebentar lagi, adikmu akan di bawa ke ruang perawatan,” ucap Jiyoon sambil menepuk pundak Seunghyun pelan kemudian pergi meninggalkannya sendirian.

Seunghyun terdiam sesaat. Masih memikirkan tentang cairan yang masuk ke dalam tubuh adiknya. Ia penasaran cairan apakah itu, dan bagaimana bisa masuk ke dalam tubuh Seona?

Dan satu lagi pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya.

Siapakah yang melakukannya?

Ia harus mencari tahu.

.

.

.

.

Seorang wanita terlihat tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit yang terasa nyaman namun begitu sepi. Hanya mesin pendeteksi jantunglah yang terdengar di dalam ruangan itu.

Seorang perawat perlahan memasuki ruangan Seona. Ia menghampiri Seona kemudian mengatur kecepatan tetesan cairan infus yang akan memasuki tubuh Seona. Pada saat yang bersamaan, Seona mulai sedikit menggerakkan tubuhnya. Kelopak matanya perlahan mulai membuka. Sang perawat yang menyadari Seona telah sadar pun akhirnya bertanya, “Kau sudah merasa baikan, Nona?”

“Tidak,” ucap Seona pelan dan terdengar serak. Sang perawat yang mendengar jawaban Seona pun akhirnya menghubungi dokter yang menangani Seona.

“Sudah berapa lama aku tertidur?” tanya Seona seraya menyentuh kepalanya yang terasa sakit.

“Dua hari, Nona,” jawab perawat wanita itu singkat.

Beberapa saat kemudian, Seunghyun datang membawa sebuah keranjang buah sambil tersenyum menatap satu-satunya adik yang begitu ia sayangi.

Seona hanya dapat membalas senyuman Seunghyun, lantaran tubuhnya yang masih lemas. Seunghyun menatap sang perawat kemudian ia menganggukkan kepalanya, mempersilahkan sang perawat untuk keluar dari ruangan itu.

“Bagaimana perasaanmu? Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Seunghyun sembari mengusap lembut wajah adiknya. Seona hanya merespon dengan senyuman kecil. “Kau tahu betapa khawatirnya Oppa padamu?”

“Kalau saja kau bersama Bona, pasti kau tidak akan terlibat insiden itu,” gumam Seunghyun.

“Insiden apa?” tanya Seona seraya menyerngitkan dahinya. Ia terlihat bingung. Ia tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Seunghyun.

Seunghyun menyadari bahwa dirinya telah kelepasan bicara. Raut wajahnya sedikit panik namun seketika tergantikan oleh senyuman lembut yang sangat khas bagi Seona. “Ya, saat itu kau hanya pingsan saat acara makan malam bersama kolega Ayah.”

Seona tak lantas percaya dengan ucapan Seunghyun. Baru saja ia ingin bertanya kembali, namun Seunghyun sudah terlebih dahulu mengalihkan pembicaraan. “Kau mau Oppa kupaskan buah?”

Seona mengangguk pelan. Ia menatap Seunghyun yang kini sedang mengupas sebuah apel menggunakan pisau. Aktifitas Seunghyun terhenti ketika seorang dokter membuka pintu ruang perawatan Seona dengan perlahan. Ia datang menghampiri Seona dan Seunghyun dengan sebuah senyuman.

“Kau merasa pusing?” tanya Dokter Kwon seraya memeriksa kedua bola mata Seona menggunakan senter khusus yang berukuran kecil.

Seona memejamkan matanya sebentar, berusaha mengurangi rasa sakit di kepalanya. “Hanya sedikit.”

“Rasa sakit di kepalamu akan menghilang dengan sendirinya,” ucap Dokter Kwon.

“Tapi, mengapa aku tidak mengingat insiden dua hari yang lalu?” tanya Seona heran.

“Itu karna efek samping dari rasa syokmu yang membuatmu kehilangan ingatan dalam waktu jangka pendek. Tapi kurasa dalam waktu sebentar kau juga akan ingat kembali,” ucap Dokter Kwon meyakinkan Seona.

“Seona!” Sebuah suara hentakan pintu berhasil membuat semua orang yang berada di dalam ruangan terlonjak kaget.

“Kau baik baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Bona khawatir. Bona memegang pelan wajah Seona dan juga meraba sekujur tubuhnya, memastikan bahwa Seona baik-baik saja. Seona hanya menggeleng pelan.

Oppa akan keluar sebentar, lebih baik kau disini bersama Bona,” ujar Seunghyun sambil meletakkan sepiring apel yang telah dipotong, kemudian ia dan Dokter Kwon Jiyoon meninggalkan Seona dan Bona di dalam ruang perawatan itu.

Setelah memastikan kakaknya benar-benar keluar dari ruangan, Seona lantas menatap Bona dengan serius. “Bona, kau pasti tahu kan apa yang terjadi dua hari yang lalu?”

Bona berusaha mengalihkan tatapannya pada Seona. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Seona, terlebih lagi ia telah berjanji pada Seunghyun.

“Kumohon! Katakanlah padaku!” pinta Seona. Ia tak mengerti mengapa Bona tidak mengatakan apapun. Ia tahu pasti ada sesuatu yang ditutupi oleh Bona.

“Kau tahu? Ini aneh. Sangat aneh. Aku bahkan tidak bisa mengingat kejadian dua hari yang lalu. Aku penasaran, Bona,” ucap Seona terdengar frustasi namun Bona tetap bungkam.

“Kalau kau tidak mengatakan padaku sekarang juga, lebih baik kau pergi dari sini,” ancam Seona.

Raut wajah Bona langsung berubah memelas. “Seona..Jangan membuatku seperti ini.”

“Aku serius,” ucap Seona menatap Bona dengan serius.

Bona menghela nafas. Ia tahu bahwa bagaimanpun ia pasti akan mengatakannya pada Seona. Ia hanya berharap Seona tidak akan melakukan sesuatu diluar dugaannya setelah mendengar kejadian yang sebenarnya.

“Dua hari yang lalu, kau pergi sendirian ke Heaven and Ark karna aku yang tiba-tiba membatalkan janji kita berdua. Padahal aku benar-benar tidak berpikiran bahwa kau akan tetap pergi kesana. Sekitar dua jam kemudian, aku mendapat telepon dari Seunghyun Oppa. Dia memberitahuku bahwa kau sedang berada di rumah sakit. Aku bertanya padanya, dan ia hanya mengatakan bahwa kau dirawat akibat kebakaran yang terjadi di bar itu. Itu saja, sungguh!” jelas Bona.

Seona heran. Mengapa kakaknya harus berbohong padanya? Dan juga bagaimana bisa ia tidak ingat kejadian kebakaran dua hari yang lalu. Terakhir kali ia ingat adalah ketika ia mendapatkan pesan singkat dari Bona, selebihnya ia tidak ingat.

Di sisi lain, Seona juga penasaran. Mengapa ia tiba-tiba menjadi seperti ini? Walaupun dokter mengatakan bahwa itu hanya efek samping dari rasa syoknya tetapi ia merasa bukan itu alasannya. Pasti ada sesuatu yang ditutupi oleh mereka.

Seona berusaha berdiri dari tempat tidurnya dan memegang tiang penahan cairan infus, kemudian ia berjalan untuk mengambil ponsel miliknya. Seona duduk dan membukanya. Ia masih ingat nama tempat bar yang ia kunjungi dua hari yang lalu. Seona mengetik keyword ‘Heaven and Ark’ kemudian tekan enter, seketika banyak informasi mengenai tempat bar itu muncul di layar laptopnya.

Namun tidak ada informasi yang ia butuhkan. Di sana hanya terdapat informasi mengenai alamat tempat, fasilitas, ulasan dari para pengunjung dan juga beberapa foto ruangan bar dari berbagai sudut. Selain itu tidak ada, kecuali baru-baru ini berita tentang kebakaran di bar itu.

Gangnam-gu, Seoul– Kebakaran terjadi di salah satu bar ternama ‘Heaven and Ark’ di kawasan Gangnam, malam tadi sekitar pukul 11.00 malam. Kebakaran diduga disebabkan oleh korsleting arus listrik.

Kepala Kepolisian daerah setempat mengatakan bahwa ada banyak korban jiwa dalam kejadian tersebut dikarnakan api yang melalap tempat tersebut dengan sangat cepat sehingga banyak korban tak sempat menyelamatkan diri. Diperkirakan ada sekitar 20 orang korban jiwa.

Api berhasil dijinakkan dalam waktu 30 menit setelah tiga unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan. Kepala Kepolisian juga mengatakan akan melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kebakaran tersebut.

“Aku tidak menyangka kejadiannya separah itu,” gumam Seona sambil melihat foto-foto yang diabadikan saat kejadian berlangsung.

”Aku tahu ada kebakaran di sana, tapi aku tak tahu kalau mungkin saja kau termasuk salah satu korbannya. Tunggu, apa kau yakin kau tidak langsung pulang setelah aku mengabarimu?” Bona menatap Seona dengan penuh tanya.

Seona menggeleng pelan. “Aku tidak ingat.”

“Mungkin kau perlu bertanya pada salah satu pegawai disana atau kalau kau ingin lebih pasti lagi tanyakan saja pada managernya. Kau bisa tanyakan Seunghyun Oppa untuk mencari tahu tentangnya.”

“Aku tidak ingin Oppa tahu.”

Seona mengambil ponselnya di atas nakas dekat ranjang rumah sakitnya dan mencari sebuah nama di kontaknya. Jihoon. Seona berpikir ialah satu-satunya orang yang bisa Seona andalkan untuk mencari tahu seluk-beluk tentang Baekhyun. “Jihoon, cari tahu informasi tentang Heaven and Ark. Kau harus memberi tahu padaku secepatnya.”

.

.

.

.

Seona memasuki sebuah salah satu restoran Italia terkenal di Seoul. La Belleza merupakan tempat yang terkenal dan mewah di kawasan Cheongdam. Banyak orang yang datang ke sana hanya untuk menikmati beragam jenis pilihan wine yang tersedia. Tidak hanya itu, tempat ini hampir seperti tempat mencari ketenangan dan juga tempat untuk menghabiskan waktu dengan orang yang spesial. Tapi tidak untuk Seona, ia datang ke sini untuk bertemu dengan seseorang yang bukan lain adalah Jihoon.

Seona telah menantikan saat dimana Jihoon akan memberi tahu semua informasi mengenai kejadian kebakaran satu minggu yang lalu. Rasanya ia tak sabar untuk mengetahui misteri hilang ingatannya ini.

“Selamat siang, Nona. Atas nama siapa?” tanya seorang pelayan pria dengan sopan.

“Seona,” ucap Seona datar.

“Baik, Nona. Tuan Jihoon telah menunggu Anda. Silahkan ikuti saya, Nona.”

Seona mengikuti pelayan itu yang akan menunjukkan jalan ke tempat Jihoon berada. Sepertinya Jihoon sengaja memilih tempat yang cukup sulit untuk dijangkau namun masih dapat terlihat oleh pengawalnya.

Jihoon yang menyadari bahwa Seona sedang berjalan menghampirinya, lantas ia berdiri lalu sedikit membungkukkan badannya. “Nona Choi.”

“Jihoon, sudah berapa kali kukatakan padamu untuk memanggilku Seona saja,” ucap Seona sambil menatap tajam pada Jihoon.

Jihoon terkekeh mendengarnya. “Aku hanya bercanda. Kau terlalu serius menanggapi ucapanku.”

Seona hanya menghela nafas. Ia tak tahu harus bagaimana agar Jihoon tak memanggilnya dengan sebutan Nona. Padahal Jihoon merupakan anak dari teman ayahnya yang begitu ia kenal.

“Jadi, bagaimana?” tanya Seona dengan tatapan seriusnya.

“Aku tak tahu harus mengatakan padamu bagaimana…” ujar Jihoon, ia terlihat ragu.

“Jihoon, katakanlah padaku,” ucap Seona dengan tak sabar.

“Aku telah mencari semua informasi mengenai tempat bar itu, tapi kurasa kau mungkin sudah tahu kejadian kebakaran itu, bukan? Sebelumnya aku ingin bertanya, apa yang ingin kau tanyakan mengenai tempat ini?”

“Aku ingin menanyakan nama manager tempat itu?”

“Kau meminta tolong padaku hanya untuk memberitahumu nama manager tempat bar itu?”

Seona menghela nafas. “Aku serius, Jihoon.”

“Baiklah kalau begitu,” ucap Jihoon seraya menekan dan menggeser layar tablet besarnya. “Tempat bar itu tidak memiliki seorang manager.”

“Bagaimana bisa tidak memiliki seorang manager?”

“Bisa saja, kalau kau menangani langsung tempat barmu sendiri.”

“Jadi, intinya pemilik tempat bar itu yang langsung menangani semuanya? Aku ingin tahu siapa namanya.”

“Sebentar.” Jihoon terus menggeser layar tabletnya. Beberapa saat kemudian, Jihoon memberikan sebuah foto seseorang. “Byun Baekhyun. Dialah pemilik tempat itu.”

Sedetik kemudian Jihoon mengeratkan kedua tangannya di atas meja dan tatapannya menjadi serius. ”Ia merupakan orang yang kau inginkan untuk berada di pihakmu. Dia memiliki pengaruh yang cukup besar dengan apa yang terjadi di negara ini. Dan juga, ia bukanlah orang yang kau inginkan untuk menjadi musuhmu.”

Seona berpikir sejenak. Ia tengah menelaah perkataan Jihoon. Jadi, Baekhyun ini termasuk orang penting? Mungkin ayahnya mengenali siapakah Baekhyun ini.

Namun, ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Seona. Ia merasa sedikit familiar melihat wajah Baekhyun, hal itu membuatnya semakin penasaran. Di sisi lain ia juga yakin bahwa Baekhyun pasti mengetahui insiden kebakaran itu yang membuat kakaknya harus menutupi kebenaran darinya.

“Apa kau sudah mencari tahu apakah dia terlibat dalam insiden kebakaran itu?”

“Aku masih menyelidikinya, karna bertemu dengannya saja sudah sulit apalagi menyelidiki kasus ini. Terlebih lagi kakakmu, Seunghyun tengah menangani kasus ini.”

“Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kau harus menyelidikinya, Jihoon. Kumohon,” pinta Seona.

“Akan aku usahakan, Seona.”

“Dan juga jangan sampai ketahuan kakakku,” tambahnya lagi.

“Ya, aku mengerti.”

.

.

.

.

 “Seona! Tidak bisakah kau mempercepat kecepatan kendaraanmu?! Aku tak tahu harus bagaimana lagi.” Bona mengacak rambutnya, terlihat seperti orang yang sedang frustasi.

“Lebih baik kau katakan sendiri pada Seungri, aku sudah mengeraskan suara ponselku untukmu.”

“SEUNGRI! KALAU KAU TIDAK SAMPAI DALAM WAKTU SEPULUH MENIT, KAU AKAN HABIS DITANGANKU!” bentak Bona.

“Kau benar-benar membuat Seungri takut, dan dia sekarang menaikkan kecepatannya, kalau sampai aku kenapa-kenapa berarti aku tidak bisa membantumu.” Sedetik kemudian yang terdengar adalah bunyi bip pertanda sambungan telepon telah terputus.

“YA! CHOI SEONA KAU MAU MATI?!”

Seluruh karyawan dan staf yang berada di sekitar Bona menatapnya dengan takut. Mereka takut Bona akan meluapkan amarahnya pada mereka. Bona sendiri hanya menatap tajam pada mereka agar kembali bekerja.

Bona frustasi lantaran proyek terbarunya sedang berada di ujung tanduk. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja desain-desain mereka bocor dan perusahaan lain telah merilis pakaian dengan desain yang sama seperti miliknya. Ia tak tahu siapa yang berani membocorkannya. Sekali ia mengetahui siapa pelakunya, ia akan langsung pecat.

“Hei, Bona. Kau terlihat seperti bibi-bibi yang baru saja kehilangan uang,” cibir Seona yang baru saja memasuki ruangan Bona. Bona sendiri menghembuskan nafasnya lega saat melihat Seona.

“Rasanya aku ingin menangis, Seona,” ucap Bona dengan sedih. “Bagaimana bisa?”

“Sudahlah kau semakin jelek kalau menangis. Aku punya sesuatu untukmu.” Seona menepukkan tangannya dan dalam hitungan detik, dua set gantungan baju yang berisikan baju-baju yang di desain oleh Seona sendiri telah berada di ruangan Bona. Hal tersebut membuat mata Bona membelalak tak percaya.

“Seona….kau memang penyelamat.” Bona memeluk Seona dengan erat. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Seona. Ia tidak tahu jika tidak ada Seona di dalam hidupnya.

“Ayo kita harus bergegas ke studio,” ajak Bona tetapi Seona tak lantas mengikuti Bona, ia hanya menatap Bona. “Jangan lupa sertakan namaku dalam katalogmu!”

Seona dan Bona berjalan beriringan menuju studio untuk melihat proses pemotretan. Di dalam studio terlihat sangat sibuk. Terlihat penata rias yang sedang memberikan sentuhan terakhirnya pada sang model, para kru fotografer yang tengah mempersiapkan kamera serta alat lainnya.

Bona berdeham keras. Hal tersebut membuat seisi ruangan terdiam tetapi sedetik kemudian mata mereka membulat ketika melihat Seona. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan desainer freelance ternama, yaitu Seona. Sudah tak perlu diragukan lagi kemampuan Seona dalam mendesain pakaian, namun yang sangat disayangkan dan yang patut dipertanyakan adalah mengapa Seona hanya memilih sebagai desainer freelance saja?

Sebuah pertanyaan yang menyimpan banyak misteri.

“Semuanya, kenalkan. Orang yang berada disampingku ini adalah Choi Seona. Ia merupakan salah satu pemegang saham terbesar perusahaan kita dan juga desainer pakaian yang kalian gunakan sekarang ini,” ucap Bona dengan bangga.

Lantas, Seona memperkenalkan dirinya kemudian menunduk hormat pada semua orang dengan sebuah senyuman yang membuat siapapun tak bisa mengalihkan pandangannya dari Seona.

Seketika suara berbisik terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Banyak orang yang kagum tetapi juga heran dengan pergantian kostum yang digunakan hari ini.

“Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian!” titah Bona.

“Baik,” ucap seluruh karyawan serempak.

Akhirnya semua orang kembali pada aktifitas mereka masing-masing. Bona juga memperkenalkan Seona pada beberapa model yang mengenakan pakaian hasil desainnya sendiri. Setelah itu, Bona menatap Seona. “Setelah kupikir-pikir, apa kau punya waktu banyak untuk mendesain semuanya? Apalagi kau pasti sibuk menyelesaikan kuliahmu di sana.”

“Tidak juga, kalau aku sedang bosan saja.”

“Tapi aku kesal padamu. Kau tahu? Kau punya waktu luang mendesain semuanya dan juga mengirimkan hasil karyamu ke beberapa perusahaan. Tapi kau sendiri tak punya waktu luang untuk datang kesini menemuiku.”

“Yang penting sekarang aku sudah berada disini,” jawab Seona santai.

“YA!“ suara keras nan nyaring milik Bona membuat orang-orang yang disekitar mereka menoleh padanya. Menyadarinya, membuat Bona mendekatkan kepalanya pada Seona. “Aku serius!”

“Seona?” Suara wanita membuatnya menoleh, Seona melihat seorang wanita yang tersenyum padanya.

Seona menyerngitkan dahinya, sedetik kemudian ia mengenali siapa wanita itu. “Kang Hyeri? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini.”

Hyeri tersenyum lalu memeluk Seona. “Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu untuk kedua kalinya.”

Seona melepaskan pelukan Hyeri, tatapannya berubah menjadi bingung. “Kedua kalinya?”

“Bukankah kita pernah bertemu di Heaven and Ark?” tanya Hyeri heran.

“Benarkah?” Seona menyerngitkan dahinya.

Hyeri tersenyum melihat reaksi Seona. “Mungkin kau sedikit lupa, karna saat itu kau terlihat sedikit mabuk.”

“Ah iya,” respon Seona dengan senyum terpaksa.

“Kau sedang apa di sini? Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, hanya saja aku baru pertama kali melihatmu di sini.”

“Aku hanya sedang melihat-lihat saja,” jawab Seona sekedarnya. “Kau sendiri? Kau masih bekerja di perusahaan ayahmu?”

“Tidak, sekarang aku bekerja di Hyundei Industri, saat ini aku sedang mewakili perusahaanku mengenai proyek ini,” ucap Hyeri seraya melihat berlangsungnya pemotretan.

“Kau kenal Byun Baekhyun?” tanya Seona tiba-tiba.

Hyeri menoleh. “Kau kenal Baekhyun? Ah, aku ingat saat itu kau pernah bertemu dengannya.”

Seona hanya terdiam mendengar penuturan Hyeri, walaupun ia sendiri tak menyangka telah bertemu dengan Baekhyun─orang yang ia cari. Ia bisa saja langsung menanyakan tentang Baekhyun, namun ia masih bersabar menunggu informasi selanjutnya dari Jihoon.

Seseorang menghampiri Hyeri lalu membisikkan sesuatu padanya. Beberapa saat kemudian, Hyeri menoleh pada Seona dengan wajah memelasnya. “Maafkan aku karna tak bisa mengobrol banyak denganmu. Lain kali kita harus bertemu, oke?”

Seona tersenyum kemudian mengangguk singkat. Hyeri merogoh tasnya, lalu memberikan sebuah kartu nama pada Seona. “Kalau kau memerlukan sesuatu, kau bisa menghubungiku. Kalau begitu, sampai jumpa nanti!” Hyeri membalikkan tubuhnya dan berjalan bersama salah satu asistennya menuju pintu keluar, meninggalkan Seona yang masih menatap kartu nama Hyeri.

.

.

.

.

Seona sibuk memilah-milah hasil desain beberapa baju yang akan diproduksi. Sampai ia tak menyadari ponselnya bergetar. Saat kedua kalinya ponsel itu bergetar, barulah Seona menyadarinya. Di layar tersebut tertera nama Jihoon yang sedang berusaha menghubunginya. Ia yakin ada informasi penting yang membuat Jihoon berkali-kali berusaha menghubunginya.

Baru saja Seona ingin menyapa Jihoon, tiba-tiba ia mendengar suara Jihoon yang terdengar sedikit panik. “Seona! Aku sudah mengetahuinya. Dia memang benar terlibat dalam insiden kebakaran itu. Bagaimana kalau kita bertemu di tempat biasa sekitar—AKH!”

“Jihoon?” panggil Seona yang terdengar khawatir. “Kau baik-baik saja?”

Ia mendengar suara Jihoon yang merintih kesakitan. “Jihoon?! Kau dimana? Katakan padaku!!”

Sambungan telpon terputus, namun tetap saja Seona memanggil nama Jihoon. Ia lantas menyambar tasnya kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan terburu-buru. Namun beberapa saat langkahnya terhenti. Ia baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu dimana Jihoon berada. Ia memeriksa GPS milik Jihoon namun ponsel Jihoon telah mati.

Seketika ia menyadari orang yang mungkin saja tahu keberadaan Jihoon.

Byun Baekhyun.

Tapi bagaimana cara untuk menghubungi ataupun menemuinya? Seona tahu bahwa ia merupakan seorang pengusaha besar dan memiliki banyak anak perusahaan. Jadi bagaimana mungkin Seona mencari satu persatu di saat situasi genting seperti ini?

Kang Hyeri.

Entah mengapa nama Hyeri terlintas dipikirannya. Ada sebesit rasa dihati Seona menyakini bahwa Hyeri mengetahui dimana keberadaan Baekhyun.

Dengan cepat Seona merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Ia mencari sebuah nama di kontaknya. Kemudian ia mendekatkan ponselnya ke telinga. “Hyeri, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Baekhyun?”

“Kau ingin bertemu dengan Baekhyun? Ada perlu apa?”

“Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu padanya.”

“Begitukah? Kau bisa datang ke The Whisker’s, lokasinya tak jauh dari Heaven and Ark. Kemungkinan besar ia berada disana.”

“Baiklah, terima kasih, Hyeri.”

“Tunggu–ada satu hal yang harus perlu kau tahu. Kalau kau ingin bertemu dengannya, jangan menyebut nama Baekhyun tetapi sebutlah Sir, ingat itu!” Sedetik kemudian sambungan telpon terputus.

Seona membuka pintu mobilnya dan dengan cepat ia menyalakan mesinnya lalu mengendarai keluar dari pelataran parkiran.

.

.

.

.

Seona merasa gugup di dalam mobilnya walaupun Hyeri meyakinkan bahwa Baekhyun kemungkinan besar ia berada disini. Namun disisi lain ia juga merasakan amarahnya kembali mencuat lantaran mengingat tujuannya datang ke tempat ini. Ia bahkan sampai kabur dari kejaran para pengawalnya. Seona rasanya tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.

Dengan helaan nafas panjang, Seona keluar dari mobilnya dan berjalan dengan penuh percaya diri memasuki tempat klub itu seraya memegang erat pepper spray yang terdapat di dalam tas kecilnya.

Berbeda dengan Heaven and Ark yang terkesan mewah, The Whisker’s ini justru terkesan sangat biasa saja, seperti tidak ada yang spesial. Bangunannya seperti bangunan yang sudah lama sekali dibangun dan mungkin selama bertahun-tahun tidak direnovasi. Tidak hanya itu, pencahayaannya yang terkesan sangat murahan dan juga lokasinya yang cukup terpencil, membuat siapapun mungkin berpikir dua kali untuk datang ke tempat itu.

Seona mengambil nafas dalam saat memegang pegangan besi yang terpasang di pintu berkaca itu. Seona yakin ia bisa melakukannya. Ia hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit berada di dalam gedung ini lalu ia dapat kembali ke rumahnya dengan selamat.

Seona dapat merasakan getaran akibat dentuman musik yang keras saat membuka pintu. Setelah berada di dalam, Seona dihalangi oleh sebuah dinding hitam yang menutupi apapun yang terjadi di dalam gedung itu dari semua orang yang melewatinya.

Di sebelah kanan terdapat dua pria bertubuh besar yang tak pernah Seona lihat sebelumnya. Mereka memandang Seona dari bawah hingga ke atas dengan seringaian di wajah mereka.

“Ada yang bisa dibantu, Nona Manis?” tanya salah satu pria bertubuh besar itu. Kalau diperhatikan baik-baik, Seona berpikir bahwa pria itu mirip dengan Taylor Lautner, tapi tidak juga.

Lamunan Seona buyar, kemudian ia menatap kembali dua pria itu kemudian tersenyum kecil. “Aku ingin bertemu dengan Baekhyun.”

Mereka hanya mencibir dan saling menatap satu sama lain. “Di sini tidak ada yang bernama Baekhyun. Apakah kau butuh pekerjaan?”

“Apakah aku terlihat seperti membutuhkan pekerjaan?”

“Semua orang membutuhkan pekerjaan, sayang.”

Seona merasa jengkel. Ia tak mengerti lagi. Seburuk itukah penampilannya sehingga mereka justru menawarkan pekerjaan padanya?

Seona menutup matanya, berusaha meredam rasa jengkelnya. Seketika terlintas ia mengingat ucapan Hyeri mengenai nama panggilan Baekhyun.

Sir.

“Aku tidak meminta pekerjaan. Aku hanya meminta untuk bertemu dengan Sir.”

Dua pria itu lantas menoleh satu sama lain. Keraguan terlihat jelas di wajah mereka. “Sir sedang sibuk, kau bisa datang besok lagi.”

“Aku ingin membicarakan hal penting padanya.”

“Tapi Sir sedang sibuk. Dan itu tidak bisa diganggu gugat.”

Kesabaran Seona telah habis. Ia tidak ingin terus saja membuang waktunya hanya untuk berdebat mereka. Seona langsung saja berjalan melewati mereka, namun usahanya tak berhasil ketika mereka menahannya untuk berjalan lebih jauh lagi.

Seona memekik dan berusaha melepaskan genggaman mereka dari pergelangan tangannya, hingga teriakan suara seseorang berhasil menghentikan mereka.

“Lepaskan dia!”

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Hai, lama tak berjumpa!

Finally, bisa update lagi. Ini sudah panjang, lebar dan aku edit berkali-kali T.T jangan bilang ini kurang panjang. Karna mataku yang sudah lima-watt, jadi aku tidak akan panjang lebar.

Kalau kalian ingin bertanya atau memberikan pendapat ataupun yang lain, silahkan ketik di kolom komentar. Kurasa aku harus memberi tahu sejak awal, karna kemungkinan besar untuk chapter kedepannya entah itu chapter berapa, akan aku proteksi. Jadi, jangan lupa komentar!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Best Regards, Ahra

43 responses to “FALLEN HEAVEN – CHAPTER [2]

  1. Akhirnya Fallen Heaven di update juga, aku nungguin banget ff ini..
    Pasti Baekhyun yg nyuruh penjaga2 itu ngelepasin Seona kan??
    The Wishker’s itu punya Baekhyun juga?? Baekhyun sampe di panggil Sir gitu..
    Baekhyun kasih Seona cairan yg bikin Seona lupa ingatan ya??
    Jadi Seona ga inget kalo dia udah ga sengaja bunuh Taemin? Aku kira Seona bakal di bawa kabur sama Baekhyun hehe..
    Di tunggu next chapternya ^^

    • Hai, iya nih lama juga ya aku ngga update:( hmm baekhyun atau bukan ya, kita lihat saja nanti~ iya the whisker’s juga punya baekhyun, sama seperti heaven and ark.

      Aku jadi lupa kasih informasi ttg cairan itu. Jadi benzo-blabla- itu sejenis obat bius, kan banyak macamnya, jadi ngga aku perjelas. intinya kalau obat bius dikasih dosis yang tinggi, bisa membuat amnesia sementara. Cuman ya namanya cerita fiksi, aku agak berlebihin aja jadinya Seona ngga inget kejadian setelah Bona sms dia, gitu hehe..

  2. Wahh akhirny updet juga..
    Sumapah ini masih kurang greget gitu. Feelny masih kurang kk.
    Tapi ini uda sgt panjang Makasih kk.
    dan belum ketebak ceritanya gimana.. siapakah sebenarnya si baek? Masih bingung keterlibatan mereka berdua apaan..
    Itu si choesa emang gak ingat apa2 gitu?
    D tunggu part brikutny.. Semangat..

    • Noted, makasih atas kritikannya:) chapter selanjutnya akan menjawab pertanyaan kamu, tenang aja. untuk Seona yang amnesia, dia akan ingat kok. karna itu hanya sementara aja.

  3. Wahh akhirny updet juga..
    Sumapah ini masih kurang greget gitu. Feelny masih kurang kk.
    Tapi ini uda sgt panjang Makasih kk.
    dan belum ketebak ceritanya gimana.. siapakah sebenarnya si baek? Masih bingung keterlibatan mereka berdua apaan..
    Itu si seona emang gak ingat apa2 gitu?
    D tunggu part brikutny.. Semangat..

  4. Astagaaaa, ini cerita Seona-Baekhyun yang udah lama gak muncul ke permukaan bukan? Ohmygod, akhirnya muncul juga part penerusnya. Walaupun awalnya rada bingung sih bacanya, soalnya agak-agak lupa sama part awalnya, tapi makin dibaca makin muncullah ingatan akan part satunya.
    Dan hey, itu baekhyun sengaja bangetnya nyuntikin cairan ke seona biar seona gak inget insiden penembakan itu? Hmmmm. Disini asli Baekhyun misterius sangat – sebenarnya siapa itu Baekhyun? Dan seona keren lah, karena dialah yang pertama mencari baekhyun again hemmm. Jodoh emang gak kemana hehehe

    • iya, saking udah lamanya hampir tenggelam dalam lautan:( akupun juga begitu kalau udah lama ngga baca ceritanya, hehe.. Emang sengaja pake banget, kita lihat saja nanti siapakah baekhyun dan apa motifnya:)

  5. Aku udah nungguin lanjutan ff ini…akhirbya di post juga ,,seneng banget…
    Baekhyun misterius banget ya…itu baek kan yang suruh lepasin seona…seona bener2 gk inget sama baek ya..penasaran next chapnya..ditunggu y
    Semangat

  6. Hayoo lo Seona ampe penasaran gitu, yakin deh kalo Baek bener2 bukan orang biasa, pasti bakal banyak masalah nantinya
    Jadi efek dr obatnya tu ngilangin ingetan, tu sementara/ permanen?? Ko Seona ampe belom inget kejadian di bar+club waktu itu??
    Apa kabar bokapnya Seona? Ga introgasi anaknya tuh? Hihii kan terlibat dikasus ‘kebakaran’ wkwk

    • Haha entar jadi BBB dong, Bukan Baekhyun Biasa😂 oke serius, iya pastinya, ngga seru dong kalau ngga ada:)

      Sementara kok, karna itu hanya sejenis obat bius aja cuman dosis yang diberikan cukup tinggi jadinya efeknya bisa spt itu:) ohiya ngga keingetan, nanti aku pikirkan saat yang tepat papanya seona muncul, hehe makasih ya!

  7. Baek Jangg!!!!
    Suka bgt caracyernya dia g kek gini
    Love U Baek😘😘😘😘😘😘

    Salam hangat buat author,
    I’m new reader in your story
    Gamsahamnida

  8. akhirnya ff yg d tunggu d post juga
    cairan yg d masuk kan ke tubuh seona itu cairan pelupa ingatan kan ?
    itu yg blng lepaskan dia baekhyun kan?
    penasaran deh baekhyun sebenarnya siapa sih?
    makin gregret critanya
    next chap pasti bakalan seru deh

    • haha namanya lucu cairan pelupa ingatan. bisa juga sih, cuman ini sejenis obat bius kok hanya dosis yang diberikan tinggi, jadi efeknya bisa spt itu.. makasih ya!

  9. Ada apa dgn jihoon ya? Aku kira seona bakalan nemuin jihoon eh ternyata malah kebaekhyun. Jadi gtw deh jihoon kenapa.
    Itu siapa ya? Baekhyun atau chanyeol ya. Semoga aja baekhyun hehe

  10. yaampuuun gemes bangett. sebenernya baekhyun siapa sih? semacem mafia gitu? pembunuh bayaran? trus seona ini bussiness woman gitu kan? jihoon juga kenapa yaampuun??!

  11. ya ampun, ahra-nim! ku rindu padamu 😄 akhirnya update juga… KU MAU MELEDAK. lol

    ini lumayan panjang kok,dan ini makin keren.. semangat ya nulisnya!💕🙆

  12. Wah, kak maaf yahh sempet jadi sider di chap 1 hehe… sorryyyy… 😔, greget banget sama cerita iniii… Jihoon? Aku kok curiga ke kakaknya Seona ya? Hihi…
    Ditunggu lanjutannya yaaa kak….
    Sekali lagi, maaf jadi siderr

    • Hai! tak apa, karna sekarang kan kamu udah ngga jadi siders lagi:) curiga kenapa nih? karna kamu berpikir dia terlibat atau gimana?😮

      Oke, makasih ya!:)

  13. Baek JangjangMan hahaw
    Mian thor aye baru nih beribu detik aye abisin buat nguvek2 ff baekhyun *lakiaye 😄 akhirnya ketemu disini.. keren thor aye doain cpt update lg ye thor 😍

  14. hay author, lama nih gk baca ff nya author, ini awal ceritanya gimana ya ? kayaknya aku blm baca chapter sebelumnya deh. tp chapter ini keren, bikin penasaran, feelnya jg lumayan dapet thor, kerenn
    next ya, fighting !!

  15. Efeek obatny bgtu serius kah ampe amesia ? Atau hanya seona trauma aja ..?
    Itu baekhyun kah atau tmn nya yg suruh dia lepasin seona ??

    • Menurut hasil research dan pengalaman aku(?) memang bisa jadi seserius itu. Pada dasarnya jenis obat bius total memang membuat kita ngga mengingat kejadian setelahnya dan memang benar kalau dosisnya tinggi bisa membuat amnesia sementara. Cuman namanya juga cerita fiksi, agak aku buat sedikit berlebihan aja si seona ngga inget kejadian pas di bar hehe..

      Kalau soal trauma, bisa saja walaupun penyebab utamanya bukan itu. Wah kalau tentang siapa yang suruh ngelepasin seona aku tak bisa jawab, kita lihat saja di chapter selanjutnya
      Makasih ya sudah komentar!:)

  16. Aigoo kenapa ceritanya kok buat aku semakin penasaran kenapa si baekhyun tega banget menghilangkan ingatan seona. .
    Makin penasaran sama kisahnya lanjut eonni ceritanya

  17. Salam kenal, thor. Aku reader baru diff-mu. Sumpah aku suka ceritanya, benar-benar ga ketebak. Aku penasaran siapakah sebenarnya Baekhyun? Dan ga nyangka walaupun Seona sudah disuntik cairan untuk melupakan kejadian itu, dia tetap saja mencari Baekhyun. Aku penasaran kelanjutannya, aku tunggu next chapter.

    • Hellosefa! makasih ya udah suka ceritanya, aku sendiri ngga kepikiran buat cerita yang ngga ketebak, ngga tau kenapa alur ceritanya mengalir aja dipikiran aku:)

  18. hai author, maaf tadi aku udah baca yg chapter 1 tapi baru komentar disini, saking penasarannya jadinya langsung kesini. hihi

    ini ff nya keren author, jarang2 loh baekhyun jadi cast ff yang genre nya kayak gini. tapi aku sukaa
    aku penasaran sama lanjutan ceritanya, chapt 3 nya ditunggu banget pokoknya. semangat nulisnya author ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s