[IM]PERFECTION – 3RD SLIDE PG 15+ — by Neez

perf

IMPERFECTION

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

IMPERFECTION Universe, Campus Life, Romance, Angst, Drama

PG15+ (for some scene) || Chapter

BETA & POSTER © IMA

In Correlation with

IMPERFECTION by IMA

Jaehee – Joonmyun Dating Stories

IMPERFECTION SPIN OFF — (Joonmyun – Jaehee Stories) by IMA

Previous Slide

1ST SLIDE || 2ND SLIDE

© neez

Because in the perfection... always left the imperfection behind

3RD SLIDE

”Kau tak apa-apa?”

   Jaehee mengangguk, melepaskan bantal lehernya dan merapikan rambutnya yang sudah ditata sebelumnya di salon kini sedikit berantakan, karena Jaehee menghabiskan waktu selama perjalanan menuju KAIST dengan tertidur. Daeyong tidak melarangnya, karena ia tahu gadis itu membutuhkannya jauh daripada apa pun.

   ”Ini,” Daeyong menyerahkan Jaehee segelas venti Starbucks.

   Jaehee mengernyit, ”Ini apa?”

   ”Ice black tea,” sahut Daeyong sambil membawa koper besar dan satu tas jinjing berisi perlengkapan Jaehee turun. ”Tidak ada protes. Kau belum sarapan, kau tidak boleh minum ice americano lagi.”

   Jaehee menggerutu, namun apa boleh buat? Ia menyesal telah tidur sepanjang perjalanan jadi tidak dapat memesan sendiri minumannya. Ia menerima gelas itu dan mulai menyedot isinya sambil menggembungkan pipinya, berjalan menuju pintu belakang auditorium KAIST, dimana fansign akan dilaksanakan. Beberapa petugas keamanan sudah mulai berjaga-jaga dan delapan diantaranya mulai mengawal Jaehee masuk ke dalam auditorium.

   Tidak memiliki stylist, tidak pula memiliki coordi, membuat Jaehee benar-benar mempersiapkan segalanya sendiri. Tugas lainnya, sudah bisa ia serahkan pada Daeyong, maka kini di depan cermin besar, Jaehee mulai memulas wajahnya dengan seluruh kosmetik yang ia miliki pribadi, yang sebagian besar didominasi oleh brand yang ia bintangi. Ia bersyukur sejak remaja sudah terbiasa dengan makeup dan tetek bengeknya sehingga ketika ia tak memiliki stylist, ia sudah dapat melakukan makeup-nya sendiri. Menyadari bahwa wajahnya terlihat lesu, Jaehee memakaikan blush on dan highlighter untuk menyamarkan betapa tirusnya wajahnya, dan menggunakan lipstik berwarna bibirnya sendiri, sekali lagi untuk menyamarkan warna bibirnya yang memucat.

   “Sudah siap?” Daeyong mengecek arlojinya.

   Jaehee mengangguk, membawa dompet kecil berisi perlengkapan makeup yang penting untuk dibawa ke dalam auditorium tempat dimana fansign akan dilaksanakan.

   ”Hwaiting!”

   Jaehee mengangguk dan tersenyum pada Daeyong sebelum melangkah keluar, tepatnya ke tengah panggung ketika MC memanggil namanya. Jaehee bisa mendengar sorak-sorakan dua ratus orang yang berhasil memenangkan tiket fansign bersamanya bertepuk tangan. Juga para jurnalis yang tak henti-hentinya mengambil gambarnya. Jaehee berdiri di tengah-tengah panggung sambil mengangkat tangan kanannya, dan berpose. Pertama ke sebelah kanan, kedua menghadap ke tengah, dan terakhir menghadap ke sebelah kiri, sebelum membungkuk dalam-dalam dan memberikan flying kiss pada penggemarnya.

   Setelah kata sambutan yang Jaehee berikan, berupa ucapan terima kasih pada para penggemarnya yang telah datang di fansign, dengan membeli produk kosmetik Dr G-nya, Jaehee diminta untuk duduk di meja panjang besar yang telah disediakan. Di atas meja tersebut sudah disediakan lima buah spidol dengan berbagai macam warna.

   Ini, memang bukan fansign pertamanya, namun baru pertamakalinya Jaehee bisa benar-benar bebas berinteraksi dengan penggemarnya. Biasanya, manajemen lamanya, membatasi setiap penggemar yang meminta tanda tangannya, dengan tidak boleh bicara panjang, tidak boleh bersalaman. Kali ini, Jaehee benar-benar bisa mengendalikan fansign-nya. Ia memperbolehkan penggemarnya menyalaminya, ia bahkan menerima hadiah dari penggemar-penggemarnya.

   ”Eonnie, bolehkah Eonnie aegyo?”

   Jaehee jarang sekali melakukan aegyo. Industri model dan entertainment bahkan melabeli dirinya sebagai salah satu fierce sister di Korea Selatan karena ia tidak pernah melakukan aegyo di depan khalayak ramai. Namun, kali ini, apa yang penggemarnya inginkan, tentu saja akan ia berikan.

   ”Tapi maaf kalau aneh ya…” Jaehee menahan malunya dan mengedip-ngedipkan matanya mencoba sepolos mungkin, ”Na kkung koddto gwising kkung koddo…” setelahnya ia bisa mendengar seluruh penggemarnya berteriak heboh. Ia tertawa geli dan si gadis yang meminta aegyo terlihat sangat puas.

   ”Gomawo, Eonnie… boleh aku bersalaman denganmu?”

   ”Tentu saja,” Jaehee menyalami tangannya. ”Gomawo~”

   Permintaan aneh yang kedua datang dari seorang gadis lainnya—kebanyakan yang menghadiri fansign memang gadis-gadis, karena mereka harus menghabiskan tujuh puluh lima ribu won berbelanja produk Dr G untuk dapat menghadiri fansign ini, meminta Jaehee untuk menyanyikan shy shy shy, lagu dari girl group yang sedang naik daun saat ini, Twice.

   Untung saja Jaehee tahu lagu itu, maka dengan malu-malu ia mulai bernyanyi, ”Chingureul mannaneura shy shy shy…” dan sekali lagi para penggemarnya berteriak heboh setelah ia menyanyikan lagu tersebut.

    Kemudian seorang laki-laki, yang mengaku datang ke fansign setelah berbelanja banyak untuk pacarnya. Jaehee sangat terharu mendengarnya, ia bisa mendengar penggemarnya yang lain ber-aww ria karena melihatnya tersentuh dengan pria yang datang ke fansign karena berbelanja untuk kekasihnya.

   ”Kalau begitu Noona boleh tolong tuliskan untuk pacarku… kalau aku sangat mencintainya…” pinta lelaki itu.

   ”Ah, kau baik sekali pada pacarmu,” gumam Jaehee iri. ”Siapa nama pacarmu?” Jaehee melepaskan tutup spidol dengan tangan kirinya.

   ”Hwee In, Jung Hwee In…”

   ”Oke… Hwee In-ah…” Jaehee menuliskan nama Hwee In di poster besar gambar dirinya dengan spidol emas. ”Siapa namu?”

   ”Baekbeom.”

   ”Oke… Hwee In-ah, Baekbeom sangat mencintaimu… semoga cinta kalian abadi… hateu… byong byong…” Jaehee menambahkan emotikon hati di belakangnya. ”Semoga kekasihmu senang, aku harap kalian awet selalu.”

   Pria bernama Baekbeom itu melempar senyum lebar, seolah sangat-sangat senang mendengar kata-kata tulus itu terucap dari seorang Oh Jaehee yang ia kagumi. Baekbeom membungkuk, begitu pula dengan Jaehee.

   ”Noona, namjachingu isseoyo?”

   Gerakan tangan Jaehee terhenti sejenak mendengar pertanyaan dari pria muda yang memang mengaku sebagai penggemarnya, maka ia berbelanja Dr G dengan produk khusus pria agar bisa mendapat tiket fansign.

   Jaehee tersenyum tipis dan menggeleng, ”Eobseoyo…”

   ”Jinjjayo?” pemuda itu nampak senang. ”Noona mau menikah denganku?”

   Jaehee tertawa. ”Aigooo… kalau kita berjodoh suatu saat nanti, tentu saja. Tapi saat ini, Noona masih belum mau menikah.” Dan pemuda itu tertawa dan meminta Jaehee bersalaman dengannya sebelum ia turun dari panggung.

   ”Eonnie kuliah disini juga kan?” tanya gadis yang berikutnya.

   Jaehee mengangguk sambil tersenyum, ”Iya betul…”

   ”Apa Eonnie akan melanjutkan kuliah Eonnie lagi nanti?” tanyanya penasaran.

   Jaehee menghentikan kegiatannya membubuhkan tanda tangannya di poster, dan nampak berpikir lamat-lamat, memutuskan menjawab sejujurnya. ”Tentu saja, aku berharap segera setelah aku bisa kembali berkuliah, aku akan melanjutkan kuliahku.”

   ”Hwaiting, Eonnie…” katanya.

   ”Gomawo, jja…” Jaehee mendorong posternya, dan menyalami gadis itu. Daeyong menghentikan sebentar fansign, karena Jaehee meminta waktu untuk rehat sejenak, ia berpamitan sebentar ke belakang untuk pergi ke kamar mandi, dan mengambil minuman.

   Jaehee memandang wajahnya yang semakin kuyu di depan cermin toilet, matanya terasa panas, dan tubuhnya mulai menggigil meski kini ditengah-tengah musim panas. Ia mulai merasa pusing, dan dadanya mulai terasa sakit lagi. Jaehee menghela napasnya dalam-dalam sebelum membasuh wajahnya dengan air, dan kembali menyapukan makeup tipis namun menutupi bagian-bagian krusial seperti kantung mata dan tirus pipinya.

   ”Oppa, aspirin.” Pinta Jaehee saat kembali ke ruang ganti.

   Daeyong menghela napasnya, meraih kotak berisi obat-obatan bebas yang kerap kali Jaehee konsumsi belakangan ini. ”Kau tidak enak badan lagi? Setelah ini kita benar-benar harus ke rumah sakit. Tidak ada kata tidak. Kalau kau mau semua jadwalmu berjalan lancar, menjaga kesehatan adalah salah satunya.”

   ”Baiklah, baiklah… aspirin dulu,” pinta Jaehee sambil memijat pelipisnya. Daeyong membukakan bungkus aspirin dan mengangsurkannya sebotol air mineral sebelum Jaehee menenggaknya banyak-banyak.

   ”Ini lihat, ada hadiah vitamin dan ginseng dari penggemarmu. Mereka saja bisa tahu kalau kau jauh lebih kurus sekarang.”

   Jaehee tererenyuh, terharu atas perhatian yang diberikan fansnya kepada dirinya. Setelah lama terbiasa mengerjakan dan hidup seorang diri, Jaehee menyadari masih banyak yang begitu perhatian kepadanya. Walaupun fansnya tidak begitu mengenal dekat dirinya, apa yang mereka lakukan hari ini benar-benar membuatnya merasa perlu bersyukur banyak-banyak.

   ”Sudah siap? Atau mau kubatalkan saja acaranya? Kau sakit, tak apa tidak melanjutkan sesi tanda tangan…”

   ”Anhi!” tolak Jaehee sambil memejamkan matanya, berdoa agar aspirinnya segera bekerja. ”Aku akan baik-baik saja, setelah ini ke rumah sakit.”

   Daeyong mengangkat bahunya, enggan memaksa Jaehee lebih lanjut, karena ia tahu betul gadis itu justru akan mengamuk jika dipaksa-paksa. Jaehee memang bukan tipe-tipe gadis lembut seperti drama Korea kebanyakan. Baru saja Jaehee bersandar di sofa dan mencoba memejamkan matanya, pintu kamar ganti diketuk.

   ”Permisi,”

   ”Ya?” Daeyong berdiri dan buru-buru menghampiri seorang pria berseragam, seperti seorang kurir.

   ”Kiriman untuk Nona Oh Jaehee.”

   Jaehee membuka sebelah matanya, mengernyit. Jarang sekali ia dapat kiriman di lokasi fansign, dan mendapati Daeyong menandatangani sebuah tanda terima sebelum menerima sebuket bunga mawar merah segar dengan pita-pita berhiaskan nama Jaehee mengitari buket tersebut.

   ”Untukmu,”

   Jaehee menerimanya, dan meraih kartu berwarna merah jambu yang tersemat diantara mahkota-mahkota mawar tersebut. Our Angel, Oh Jaehee… we love you to the moon and the back.

   ”Dari siapa?”

   ”Jaeheelicious KAIST?” Jaehee mengernyit, dan seulas senyum kembali muncul di wajahnya, meski sakit di kepalanya tak kunjung menghilang. Saat ini, ia kembali bersyukur bahwa ia memiliki penggemar dimana-mana. Padahal ia sudah berpikir seisi Korea Selatan akan menghujatnya setelah menuntut SO Entertainment, namun penggemarnya tetap setia bersamanya dan memberikannya kekuatan.

   ”Aku tidak tahu kalau di kampusku sendiri aku memiliki kelompok penggemar,” kikik Jaehee. ”Ini harus disimpan, Oppa, akan kupajang di rumah nanti.” Merasa jauh lebih segar karena efek kafein dalam aspirin, Jaehee berdiri dan kembali merapikan rambutnya. ”Aku sudah siap!”

   Tahap kedua, seratus penggemar lainnya yang berhasil mendapatkan tiket fansign kembali bergiliran maju ke panggung. Kali ini, jauh lebih banyak fans pria yang hampir semuanya mengakui bahwa mereka datang selain sebagai penggemar Jaehee, juga demi pacar-pacar mereka.

   Jaehee benar-benar iri.

   ”Noona, siapa aktor favorit Noona?”

   Jaehee berpikir lambat-lambat sambil tak lupa untuk terus tersenyum, ”Kurasa Kim Woobin.”

   ”Ah Kim Woobin, Noona menyukai pria tinggi dan tampan, juga bertubuh indah ya?” tanya pria itu dengan wajah polos.

   Jaehee tertawa nyaring dan menggeleng. ”Tidak juga… tapi, Kim Woobin-ssi adalah aktor favoritku saja, tapi tipe idealku tidak harus seperti Kim Woobin.”

   ”Lalu bagaimana tipe ideal Noona?”

   Jaehee tersenyum. Tipe ideal ya? Pikiran Jaehee jadi kembali ke masa-masa sekolah dulu. Ketika yang ada dalam pikirannya, tipe idealnya digambarkan bak Pangeran-pangeran dalam film Disney. Lembut, penyayang, dan sangat mencintai semua Princess Disney. Dulu, ya dulu sekali, Jaehee mengira ia menemukan satu laki-laki yang merupakan jelmaan Pangeran Disney.

   ”Seperti Pangeran Disney,” jawabnya.

   ”Oh, Noona suka Disney?”

   Jaehee kembali mengangguk, ”Setiap wanita pasti menyukai Disney. Tapi tentu saja, tidak ada satu laki-laki pun di dunia ini seperti Pangeran Disney, geuchi?” wajahnya dipenuhi rasa menyesal meski masih tersenyum. Tiba-tiba saja, pria di hadapannya ini memandangnya dengan iba.

   ”Noona, yang akan jadi pasangan Noona nanti pastilah yang sangat beruntung.”

   Jaehee meneguk ludahnya, dan tersenyum lagi. ”Siapa pun yang jadi pasanganmu juga akan sangat beruntung. Terima kasih,” angguk Jaehee saat pemuda itu pergi.

   ”Jaehee-ya, waktu kita semakin sempit,” Daeyong tiba-tiba datang dan berbisik pada telinganya, Jaehee mengerutkan, ”Auditorium ini sudah harus kosong dalam waktu satu jam, karena akan dilakukan seminar bagi Fakultas Ekonomi.”

   Fakultas Joonmyun… Menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyingkirkan pikiran tak penting, Jaehee mengangguk dengan menyesal.

   Ia tidak bisa begitu banyak berinteraksi lagi dengan penggemarnya. Ia menuliskan bermacam-macam kata cinta pada setiap poster yang ia tanda tangani, dan menyempatkan menyalami atau ber-high five dengan semua penggemarnya untuk menggantikan waktu berbincang-bincang yang terbuang.

   Dua puluh peserta terakhir bahkan hanya dibatasi pertiga menit.

   ”Siapa namanya?” Jaehee bahkan tidak sempat mendongak untuk melihat bagaimana rupa fans-nya. Aspirinnya juga sepertinya sudah mulai berhenti bekerja. Mungkin efek karena ia terlalu banyak mengonsumsi aspirin belakangan ini. Yang penting setelah fansign ini ia akan memeriksakan dirinya ke dokter, dan pastinya dokter akan memberikannya obat sakit kepala yang jauh lebih ampuh daripada aspirin bukan?

   ”Ehem… Suho.”

   Jaehee mengernyit. Ia mengenal suara itu. Tangan kanannya mencengkram spidol perak dengan kuat, sebelum ia memberanikan diri untuk mendongak. Ya Tuhan, dua mata cokelat kelam yang selama ini hanya ia lihat di layar ponselnya, dan di dalam mimpinya.

   ”Ah… oke, Suho.” Jaehee menunduk, jantungnya menggedor keras tulang rusuknya, dan nyeri di dadanya kembali muncul. Baru saja ia mau menorehkan tanda tangannya, Joonmyun berkata, ”Boleh aku minta foto yang ini?”

   Jaehee menggeser poster dengan pose dirinya yang lain, ”Igeo?” tanyanya pelan.

   ”Ne.”

   Jaehee menggoreskan nama Suho disana. Jaehee menunggu, apakah Joonmyun akan mengatakan sesuatu lagi, seperti penggemarnya yang lain pada umumnya, yang memintanya menuliskan pesan tertentu untuknya. Tapi, kemudian entah kenapa jantungnya yang tadinya bergemuruh, perlahan-lahan melambat.

   Joonmyun tidak pernah membeli produk Dr G sebelumnya, sejak mereka masih berkencan.

   ”Mau dituliskan pesan apa, Suho-ssi?” tanya Jaehee sambil mendongak dan memberikan Joonmyun senyumnya. ”Kau juga pasti datang kesini setelah berbelanja banyak untuk kekasihmu, geuchi? Mau dituliskan apa untuknya?”

   ”Tulis saja, segera kembali…

   Jaehee mengernyitkan keningnya, namun tetap menuliskan apa yang diminta Joonmyun dan ditambahkannya tanda tangannya. Di dorongnya posternya pada Joonmyun dan ia tersenyum sambil mengangguk.

   ”Sampaikan salam pada pacarmu.” Ujar Jaehee.

   Joonmyun meraih poster tersebut dan digulungnya poster itu, ”Ne, akan kuberikan ini padanya kalau dia sudah pulang nanti.”

   Jaehee mengangguk, masih melempar senyum.

   ”Untukmu.”

   Jaehee mengerjapkan matanya saat memandang sebuah mahkota yang terbuat dari bunga-bunga dan ranting imitasi. “Ohh,” pekiknya. ”Te…terima kasih.”

   ”Sama-sama.”

   Jaehee memasang mahkota bunga itu di kepalanya sambil merapikan rambutnya, entah kenapa matanya terasa panas. Apalagi begitu ia merasakan berat mahkota yang sebenarnya ringan di atas kepalanya tersebut. Tak lagi memandang Joonmyun, Jaehee tersenyum menyambut pemuda yang bersemangat di hadapannya sekarang.

ChivZciUcAADtop

 

*        *        *

Joonmyun menatap poster Jaehee yang ada di hadapannya, gadis itu tersenyum lebar ke arahnya, dan ia menatap tulisan Jaehee dan tanda tangannya yang ada disana. Ia sebenarnya berniat bicara banyak pada gadis itu saat mereka berjumpa tadi, namun entah mengapa pikirannya kosong saat menatap langsung dua mata Jaehee yang sendu sejak terakhir kali mereka berjumpa.

   Sorot mata Jaehee tadi benar-benar sama dengan sorot mata gadis itu ketika mereka terakhir kali bertemu, ketika terakhir kali Jaehee masih menganggapnya sebagai kekasihnya. Ia terlihat cantik, tentu saja Jaehee selalu terlihat cantik. Tapi, berbeda. Gadis itu tak lagi bercahaya.

   ”Kau juga pasti datang kesini setelah berbelanja banyak untuk kekasihmu, geuchi? Mau dituliskan apa untuknya?”

   Joonmyun menghela napas dalam-dalam, ia menggulung poster Jaehee begitu saja dan dimasukkan ke dalam tas. Mereka seperti dua orang yang tidak saling mengenal, bahkan Jaehee tidak menyapanya seperti teman lama. Apa yang terjadi diantara mereka sampai mereka berdua benar-benar berdiri saling bersebrangan seperti ini?

   Tadinya, Joonmyun tidak mau datang ke acara ini. Apalagi setelah teman-temannya meledeknya kalau Jaehee akan datang dan mendamprat Jiyeon. Joonmyun masih ingat ketika ia membaca postingan Instagram milik Hana yang seolah menyindir dirinya, dan jika ia mengingat hal itu, ia benar-benar merasa sakit hati dengan Jaehee.

   Entah kenapa melihat poster-poster iklan bahwa Jaehee akan melakukan fansign Dr G di kampus justru membuat kepalanya yang tadinya sudah dingin kembali terbakar. Ia ingin menemui gadis itu, ia ingin bicara. Ia bahkan tidak pikir panjang ketika membeli segala macam produk kosmetik yang ada wajah Jaehee di bungkusnya hanya agar dapat mengikuti fansign ini.

   Dia melihat Jaehee dari jauh, ia memperhatikan bagaimana gadis itu dengan ramahnya meladeni penggemarnya satu persatu, menyalami mereka, berpose untuk mereka, bahkan melakukan aegyo dan bernyanyi pun ia ladeni.

   Ya Tuhan, dia merindukan gadis itu tapi tidak sudi untuk mengakuinya!

   Drrrrttttt.

   ”Yeoboseyo.” Joonmyun menempelkan ponselnya di telinga.

   ”Joonmyun-ah, kau dimana? Aku sudah selesai kelas…”

   Joonmyun menarik lengan kemejanya dan memandang arlojinya. Jam kuliah Jiyeon sudah selesai, mereka harus mulai menyiapkan materi seminar besok. ”Aku di auditorium, Jiyeon-ah… kau mau langsung kesini atau bagaimana?”

   ”Sedang apa kau di auditorium?”

   Joonmyun menjawab dengan kurang nyaman, ”Aku… menunggu fansign selesai, mereka bilang satu jam lagi acaranya sudah selesai, dan kita sudah mulai bisa…”

   ”Dwaesseo. Jemput aku disini Joonmyun-ah, palli…”

   ”Ne.” Joonmyun menurunkan ponselnya dan menghela napas dalam-dalam. Teman-temannya tak ada yang menyukai Jaehee sebagai kekasihnya, mereka bahkan terang-terangan membenci gadis itu. Jika ia tidak ingat soal betapa pentingnya seminar hari ini, ia pasti akan menunggu Jaehee di pintu keluar.

*        *        *

Seminar yang membahas tentang peran penting usaha kecil dan menengah bagi sektor ekspor untuk Korea Selatan, yang dibuat oleh Joonmyun akhirnya berlangsung malam itu. Ia mengenakan stelan jas abu-abu, stelan pertama yang ia lihat begitu ia masuk ke dalam kamar gantinya di apartemen. Jas yang sudah lama sekali tidak ia sentuh.

   Jas ketika ia menghadiri kelulusan SMA-nya dulu. Jas yang ia kenakan saat mendapatkan penghargaan sebagai murid terbaik di SMA, dan murid terbaik di distrik Gangnam, daerah sekolah Gwiguk dulu. Jas tersebut membawa kenangan manis, dimana ia berharap seluruh prestasinya akan semanis ketika di SMA dulu. Mungkin memang hanya sugesti, tapi Joonmyun yakin, jika ia mengenakan stelan yang membawanya pada keberuntungan, maka keberuntungan itu akan terus berlanjut.

   Malam ini, ia diminta maju ke depan untuk memberikan sambutan mengenai seminar yang ia buat. Meskipun dirinya adalah seorang ketua panitia, Joonmyun sama sekali tidak bisa hanya duduk diam dan memberi komando pada teman-teman dan junior-juniornya, karena saat ini tak ada campur tangan senior yang sudah sibuk mengerjakan tugas akhir. Ketika namanya dipanggil, Joonmyun buru-buru mengancingkan jasnya dan melangkah di karpet merah yang memanjang dari pintu masuk menuju podium kecil di panggung. Saat itulah, impiannya terwujud.

   Kini, seluruh mata menatapnya. Para pengusaha, para pejabat pemerintahan, aktivis, wartawan, pelaku bisnis, dan sebagainya, menatapnya dengan kekaguman luar biasa. Semuda ini, namun sudah bisa memberikan kontribusi pada dunia bisnis tanah air.

   Joonmyun tersenyum, ia diminta MC, yang juga salah seorang dosen di kampusnya untuk sejenak berpose bagi majalah dan media-media bisnis, sebelum memulai sambutannya. Joonmyun tidak ingin mengatakan banyak hal, ia hanya menyampaikan poin-poin penting seperti bagaimana ia berharap usaha kecil dan menengah bisa benar-benar berkembang dan menjadi salah satu pemasukan terbesar pemerintah Korea Selatan, dan bagaimana ia menyemangati seluruh pemuda untuk memulai usaha, dan berharap bahwa impiannya membuka usaha juga terwujud dalam tahun ini.

   Dan ketika acara benar-benar usai, Joonmyun tidak menyangka bahwa teman-teman panitia, yang juga merupakan teman-teman baiknya di kampus memberikan kejutan berupa kue dan ledakan konfeti. Joonmyun bersalaman dengan Menteri Perekonomian, dan terakhir, Joonmyun nyaris tak percaya bahwa Forbes, mewawancarainya!!!

   ”Congratulations, Bro!” sorak teman-temannya. Jonghyun membuka tutup champagne dan menuangkannya pada gelas-gelas di meja bundar yang dikeluarkan oleh petugas catering. Yonghwa, Jungshin, dan Minhyuk memeluknya erat-erat, begitu juga dengan para gadis yang sudah bekerja keras meski tetap menggunakan killer heels.

   Joonmyun membungkuk, mengucapkan terima kasih pada semua orang yang datang dan menyalaminya, menepuk punggungnya. Berulangkali, mereka mengatakan : ”Saya bangga padamu,” itu kata dosen-dosennya, ”Saya bangga mengenal pemuda inspiratif seperti Anda,” itu kata para pejabat, pengusaha, dan pelaku bisnis. ”Saya bangga bisa mewawancarai Anda.”

   ”Chukae,”

   Sebuah buket bunga merah besar didorong pada pelukannya, Joonmyun menerimanya dan menatap Jiyeon yang terlihat cantik dalam balutan gaun pastel dan wajahnya yang dipulas makeup yang sesuai dengan pakaiannya. Gadis itu mengecup pipinya kemudian terkikik, Joonmyun awalnya mengira mungkin Jiyeon kebanyakan minum champagne, namun teman-temannya kembali meledeknya, dan Jiyeon menjadi jauh lebih berani dengan memeluknya.

   ”Aku bangga padamu.”

   Dan mendadak, waktu seolah berputar.

 

*Beberapa Tahun Yang Lalu*

 

”Apa kau akan memenangkan sesuatu?” tanya Joonmyun bersemangat pada Jaehee, begitu mereka berdua turun dari dalam mobil yang disupiri oleh supir Jaehee di depan gedung KBS. Hari ini adalah hari penyelenggaraan KBS Entertainment Awards, dan Jaehee mengatakan bahwa ia diundang ke acara tersebut dan boleh membawa partner.

   Jaehee memutar kedua matanya, ”Memangnya aku siapa?”

   ”Kau Oh Jaehee,”

   Jaehee terkekeh dan memukul lengan Joonmyun, ”Tapi aku kan tidak pernah ikut banyak acara variety show, aku hanya diundang Myeonie,” gelengnya. ”Tidak mungkin aku memenangkan sesuatu.”

   ”Ngomong-ngomong, apa tidak apa-apa?”

   ”Tidak apa-apa, kenapa?”

   Joonmyun menatap ke kanan dan ke kiri, dimana para wartawan, staff, dan undangan sudah hilir mudik masuk ke dalam gedung, ”Kalau kau membawaku kesini? Bukankah biasanya artis tidak boleh ketahuan memiliki pacar?”

   ”Aku bukan artis!” Jaehee memberengut. ”Aku model! Lalu kenapa kalau aku punya pacar? Tidak akan mengganggu kesejahteraan umat, bukan?”

   ”Aigooo,” geli, Joonmyun mencubit pipi kekasihnya yang semakin memberengut karena riasannya diacak-acak Joonmyun. ”Myeonie, makeup-nya mahal!!! Omo, ya ampun… Kim Woobin, itu Kim Woobin!”

   Ganti Joonmyun yang membrengut menyaksikan kekasihnya berjingkat-jingkat di atas sepatu tingginya dengan lincah saat melihat sosok idolanya lewat. ”Dia tidak terlalu tampan, wajahnya terlalu galak…”

   ”Yang penting dia tinggi, coba bayangkan kalau menikah dengannya… keturunanku akan tinggi-tinggi…”

   ”Oh Jaehee!”

   Jaehee tertawa terbahak-bahak dan memeluk lengan Joonmyun sambil main-main mencium pipi kekasihnya yang mirip Pikachu jika tengah marah seperti ini. ”Tapi aku tidak mau suami tinggi seperti dia kok~”

   ”Heol, kau pandai sekali merayu.”

   Dan jadilah malam itu, mereka menonton KBS Entertainment Awards sambil saling menggoda satu sama lain. Joonmyun akan mengganggu Jaehee dengan memuji-muji girl group yang tampil, namun Jaehee tidak termakan cemburu karena tentu saja kepercayaan si model terlalu luar biasa. Namun Joonmyun harus bersungut-sungut saat Jaehee menjerit heboh bersama-sama dengan para fangirls ketika Kim Woobin muncul membawakan penghargaan.

   ”Ah, kapan aku bisa seperti mendapat award seperti itu?” tanya Jaehee menatap dengan iri, namun tetap senang pada para pemenang award yang bergantian mengucapkan terima kasihnya. Pada seluruh staf, pada penggemar, dan pada orang terkasih. ”Aku akan katakan terima kasih pada Sajangnim, pada Eomma, Appa, dan Papa (Ayah Sehun, ayah tiri Jaehee), juga pada Sehunnie.”

   Joonmyun mengangkat alisnya, ”Aku?”

   Melirik Joonmyun main-main, ”Kenapa denganmu?”

   ”Heol, kau tak mau mengucapkan terima kasih pada pacarmu yang tampan ini? Yang rela menemani gadisnya pemotretan meskipun sering dikira sebagai asisten, diremehkan fansmu, bahkan diam saja saat Seol memegang-megang tubuhmu.”

   Jaehee tersenyum jail, ”Tapi kau juga sudah memegang tubuhku,” ujarnya, membuat wajah Joonmyun merah seketika.

   ”Heol!”

   ”Tentu saja aku akan berterima kasih padamu,” Jaehee tiba-tiba memeluk lengan Joonmyun dan menggosok-gosokkan wajahnya (padahal tadi ngomel ketika dicubit Joonmyun), seperti kucing kecil. ”Pacarku yang pencemburu, pintar, dan…”

   ”Dan?”

   ”Dan apa ya?”

   ”Jaehee-ya!”

   Jaehee tergelak dan mencium pipi Joonmyun lagi dengan gemas. ”Pokoknya aku akan berterima kasih padamu, karena kau ada… cukup, kan?”

   ”Mulutmu manis sekali,”

   ”Tentu saja, itulah kenapa kau bisa tahan menciumku berjam-jam bukan?”

   ”Astaga,” Joonmyun langsung memijit pelipisnya.

   ”Aku mau kau bangga padaku,” ujar Jaehee tiba-tiba malu. ”Aku tahu aku masih model biasa-biasa saja… nanti ketika aku sudah menjadi supermodel dan mendapatkan penghargaan, aku akan membuatmu bangga.”

   ”Hey, aku sudah bangga padamu.”

*Now*

”Aku mau kau bangga padaku.”

   ”Aku pun mau kau bangga padaku, Jaehee-ya.” Tanpa sadar suara hatinya berbicara sendiri.

   Dosen-dosen, pengusaha, pelaku bisnis, aktivis, media, dan kini teman-temannya. Joonmyun mendapatkan pesan dan telepon dari kedua orangtuanya, juga kakaknya. Semua mengatakan hal yang sama bangga.

   Tapi, apakah Jaehee bangga padanya?

   Semua orang sudah ada disini, semua orang menyelamatinya. Dan ia seharusnya senang bahwa mimpinya perlahan satu persatu sudah terwujud. Tapi, kenapa kesenangan itu berubah membuatnya hanya bisa terdiam bisu, menggenggam buket bunganya, menatap ke sekelilingnya. Menatap ke pintu, menatap kemana pun.

   Tak ada Jaehee yang tersenyum dan berkata, ”Aku bangga padamu, Myeonie.”

   ”Tapi kita harus merayakannya! Seminar ini sudah kita rencanakan sejak lama, dan sukses besar, Joonmyun-ah!” protes Jonghyun saat Joonmyun memberitahu bahwa ia hendak pulang setelah acara benar-benar selesai.

   ”Benar! Jiyeon akan traktir malam ini, Joonmyun-ah,” bujuk Hyomin. ”Kita makan-makan di tempat biasa, ayolah!”

   ”Ayolah!”

   Jiyeon menatapnya penuh harap.

   Joonmyun tersenyum dan menggeleng, ”Mian, aku sudah terlalu lama tidak pulang ke rumah. Aku sudah berjanji akan makan malam dengan keluargaku. Kapan-kapan saja, oke? Terima kasih banyak untuk bantuan kalian, kalian yang terbaik. Aku pulang dulu, bye!” Joonmyun tidak menunggu teman-temannya mengiyakan, ia berbalik dan membawa ranselnya begitu saja keluar dari auditorium dan melangkah menuju parkiran.

   Sebenarnya, ia tidak punya janji makan malam dengan orangtuanya. Ia hanya berjanji akan pulang malam hari ini ke rumah orangtuanya. Lagipula, semenjak ingatan mengenai ucapan Jaehee dulu, ia menjadi tidak fokus. Teman-temannya tidak akan suka jika ia diam saja di pesta nanti, jadi lebih baik ia pulang saja.

   ”Akhirnya keluar juga, kau membuatku menunggu dua jam!”

   Joonmyun mengernyit. Ia mendengar seseorang bergerak dari balik mobilnya, dan suara itu begitu familiar.

   ”Hai, miss me?” tanya suara berat familiar yang sudah cukup lama tak Joonmyun dengar.

   ”Jongin?!”

 

Apartemen Joonmyun

Satu jam Kemudian

 

”Kau mau minum apa?” tawar Joonmyun setelah mempersilakan sahabatnya sejak SMA itu duduk di sofa.

   Jongin meluruskan kakinya ke meja, ”Apa kau punya minuman alkohol? Ah, pria sebaik dirimu mana mungkin minum…” keluh Jongin.

   ”Tsk,” Joonmyun berdecak dan mengeluarkan vodka dari lemari penyimpanannya, dua buah gelas dan sekeranjang es batu. ”Tentu saja aku punya. Kau terlalu meremehkanku, Jongin.”

   ”Woah,” kedua mata Jongin melebar kaget begitu Joonmyun meletakkan vodka dan kawan-kawannya di atas meja. ”Apa ini Kim Joonmyun yang aku kenal? Kukira pria sepertimu hanya mau minum yang ringan macam bir, atau yang kuno macam makgeolli.”

   Joonmyun memutar kedua matanya, namun tersenyum.

   ”Jadi dunia sudah berubah, eoh? Bahkan murid pintar tetap minum,” Jongin tidak menunggu tuan rumah, dan meracik gelas untuknya sendiri. ”Anyway, aku senang kau menyimpan vodka… bir sudah tidak mempan untukku, soju pun demikian.”

   Joonmyun ikut meracik vodka untuk gelasnya sendiri dan bersandar di sofa, tepat di samping Jongin. Keduanya hanya diam, Joonmyun sesekali memindah-mindahkan channel di televisi dengan remote di tangan kirinya.

   ”Bagaimana keadaanmu?” tanya Joonmyun akhirnya.

   Jongin terkekeh, ”Tidak banyak berubah.”

   ”Masih minum obat tidur?” tanya Joonmyun serius, dan ia menghela napas saat melihat sahabatnya itu hanya mengangkat bahu, yang berarti ya Jongin memang masih menggunakan obat tidur. ”Kau benar-benar harus bertemu dokter, Jongin-ah, jangan biarkan dirimu terus seperti ini.”

   Jongin mengangkat bahu.

   ”Aku serius.”

   ”Iya, aku tahu. Gomawo.” Jongin mengangguk. ”Aku hanya menghitung-hitung lebih baik mana, tidak minum obat tidur, yang berarti aku akan terus mimpi buruk dan insomnia… atau aku bisa istirahat tapi dengan konsumsi obat tidur. Tidak ada yang mudah bagi orang yang berbuat salah sepertiku, geuchi?”

   ”Hei, kau tidak boleh bilang begitu. Sepertinya Hana sudah baik-baik saja sekarang, kau tidak perlu merasa bersalah… dia sudah sembuh.”

   Jongin tertawa sumbang. ”Kau tahu dia sudah sembuh, eoh? Jaehee cerita banyak padamu, benar? Apa kata Jaehee soal Hana?” Jongin awalnya memang tidak mau menatap Joonmyun saat menanyakan Hana, tapi karena Joonmyun diam saja tak memberi jawaban seperti biasanya, Jongin menoleh dengan penasaran. Dilihatnya sahabatnya itu sedang menenggak minuman di gelasnya banyak-banyak.

   ”Hei, jangan langsung minum begitu, ini vodka, bukan soju.”

   Joonmyun meletakkan gelasnya di atas meja, ”Jongin-ah, bagaimana kalau kita ke club malam ini?”

   ”Eh?” Jongin melongo. Joonmyun?! Club?!

 

*        *        *

”I’m sorry, I can’t!”

   Joonmyun berdiri dan mengusap wajahnya dan menjambak rambutnya sendiri, sementara gadis yang ia cumbu keheranan dan nampak terluka. Joonmyun tidak lagi menoleh padanya, ia buru-buru berdiri dari tempat tidur, mengancingkan kemejanya dan membungkuk dalam-dalam sebelum keluar dari dalam kamar tanpa benar-benar memandang gadis yang ia bawa kesana bersamanya.

   Ia dan Jongin pergi ke club. Jongin akhirnya tahu bahwa ia dan Jaehee sudah berpisah. Dan Jongin tidak berkata apa-apa, tidak menghakimi dirinya, tidak pula mau menghakimi Jaehee meskipun ia mendengar cerita putus dari sudut pandang sahabatnya sendiri. Kemudian Jongin pergi bersama gadis warga negara asing, dan tidak perlu lagi diragukan kemana perginya ia. Tiba-tiba pikiran bodoh Joonmyun pun ingin melakukan hal yang sama. Tidak sulit mencari wanita yang mau dikencani.

   Tapi, ternyata ia tidak bisa.

~Flashback~

   ”Jadi, pada tanggal berapa Jerman Barat dan Jerman Timur kembali bersatu?” tanya Joonmyun, dan Jaehee sudah meringis menutupi wajahnya dengan buku. Ia tahu pacarnya itu sudah lelah namun ia tetap meneruskan rutinitas belajar mereka. ”Ayo, Sayang, sebentar lagi selesai… ini pasti keluar di ujian besok.”

   ”Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa bepikir, Myeonie.” Jaehee berpura-pura terisak dan menangis, berusaha agar kekasihnya itu menghentikan kegiatan belajar mereka. ”Jebal, aku mau istirahat… lima meniiiiiiit, saja.”

   ”Sayang, besok kau ujian Sejarah susulan, kalau kau belum hapal ini bagaimana?”

   ”Cuma lima menit, Myeonie~ eoh? Eoh?” Akhirnya Oh Jaehee mengeluarkan jurus andalan, yang takkan pernah ia tampilkan dimana pun. Aegyo! Ia mengedipkan matanya sepolos mungkin pada Joonmyun. Kekasihnya itu menghela napas. Apa yang tidak akan ia lakukan untuk Jaehee? Granat pun akan dia hadang, mengutip Bruno Mars.

   ”Baik, kau boleh istirahat.” Ujar Joonmyun mengalah, dan tersenyum saat istirahat dalam kamus Jaehee adalah melempar buku ke lantai, lalu langsung memeluk Joonmyun erat-erat. Membenamkan wajahnya pada dada bidang Joonmyun, dan menyesap wangi cologne Joonmyun yang khas. Sudah tiga hari Jaehee tidak masuk karena pergi ke Jeju untuk melakukan pengambilan gambar CF, dan gadis itu benar-benar merindukan sosok kekasihnya.

   Joonmyun juga sama. Mungkin memang begini rasanya berpacaran. Mereka memang belum lama berpacaran, jadi setiap hari selalu dipenuhi bunga-bunga bahagia. Dan saat-saat berdua seperti ini selalu membuat Joonmyun berdebar-debar, karena Jaehee jauh lebih agresif, jika dibandingkan saat mereka disekolah. Mereka sudah pernah berciuman, dan rasanya seperti kembang api, mereka sering berpelukan, dan hangatnya melebihi hot pack mana pun, nyamannya melampaui bantal apa pun.

   ”Hmm, did you miss me?” tanya Joonmyun sambil memainkan ujung rambut ikal Jaehee, dan merasakan gadisnya mengangguk-angguk sambil mengeratkan pelukannya. ”Aku juga merindukanmu… kelas sepi tak ada yang meringis kelupaan sesuatu.”

   ”Ahhh, Joonmyun jahat!” Jaehee langsung melepaskan pelukannya dan melipat kedua tangannya.

   ”Dan tidak ada yang menyuapiku, mencium pipiku…”

   ”Huh,” wajah Jaehee langsung memerah.

   ”Wae? Kenapa malah malu?”

   ”Dwaesseo!” Jaehee berdiri ingin kabur ke dapur mengambil cemilan, namun Joonmyun menarik tangannya dan mendorongnya agar bersandar pada sofa. ”I miss you so much,” dan Joonmyun mendaratkan bibirnya pada bibir Jaehee yang sedikit memekik, namun toh dengan lembut membelai-belai rambutnya perlahan. Tiga hari tanpa satu sama lain, tiga hari tanpa kontak fisik. Joonmyun tetaplah seorang laki-laki, memiliki kekasih seperti Jaehee yang tidak pernah sadar diri akan bentuk dan lekukan tubuh yang didambakan pria mana pun, membuat Joonmyun sering berpikir liar.

   Jaehee memekik keras setelah cukup lama mereka tidak saling melepaskan diri. Ia merasakan sesuatu, dan tubuhnya panas. Joonmyun menjauhkan wajahnya, namun tidak benar-benar menjauhkan tangannya. Seolah meminta izin, akankah gadisnya mengizinkannya? Ia tahu ini gila, ia tahu ini seperti entahlah… tetapi yang ia tahu, ia sangat sangat mencintai gadis di hadapannya, yang rambutnya berantakan, bibirnya merah dan sedikit membengkak, dan seluruh kancing bajunya sudah terbuka.

   “Bo…bolehkah?” tanya Joonmyun pelan, tidak menjauhkan tangannya.

   Jika Jaehee melarang, ia akan melepaskannya dan bersumpah tidak akan pernah melakukannya lagi. Tapi wajah Jaehee yang merah, dan matanya yang sayu mengatakan hal sebaliknya. Bibirnya bergerak dan berkata, ”Kalau… ada yang lihat ba…bagaimana?”

   ”Tidak akan, mereka takkan kesini…”

   Jaehee menggigit bibirnya, namun toh diam saja saat Joonmyun kembali mendekatkan wajahnya dan menggerakan tangannya. Dan buku sejarah itu pun terlupakan…

 

*        *        *

”Aku masih cinta padanya.” Kata Joonmyun pada dirinya sendiri, dan tersenyum mengingat banyak perbuatan bodoh yang ia lakukan bersama kekasihnya itu. Dia merindukan Jaehee, tetapi hatinya sudah tidak lagi berharap banyak sejak interaksi mereka tadi siang. Jaehee tidak mau mencarinya, Jaehee menjauh.

   Apa dia harus belajar melupakan gadis itu?

   Apa dia harus melangkah maju?

   Kenapa semua harus jadi seperti ini?

   Detik berganti menit, yang berganti jam, berganti hari, berganti minggu, berganti bulan, dan berganti tahun. Joonmyun berdiri lagi di auditorium KAIST, kali ini mengenakan jubah sarjana, topi toga, dan menggenggam sederet penghargaan di tangannya. Banyak sekali penghargaan yang ia raih dengan kerja keras selama satu tahun terakhirnya di kuliah. Dan selama itu pula, ia berharap ada seorang gadis yang akan mengucapkan kata bangga padanya.

   Joonmyun menerima gelarnya sebagai seorang sarjana. Namun, sekali lagi tak ada satu sosok yang sudah berjanji akan bersamanya saat ia menerima gelar sarjana ekonominya. Ia mulai menerima kalau mereka sudah berpisah, ia menerima kalau semua kisah mereka telah usai dan berakhir. Karena beberapa bulan yang lalu, semua majalah, surat kabar, media online, bahkan sampai media bisnis memberitakan Oh Jaehee dan aktor Kim Woobin berkencan.

-TBC-

Aloha~

Akhirnya… btw ternyata nulis dua FF berbarengan dengan emosi yang lagi beda itu susah ya hahahaha. Kemaren mau nulis Slide 3 ini tuh susah banget karena kebawa-bawa euforia di AIA, yang baca AIA 11 pasti tau kan? Wkwkwkwkwk, akhirnya puter otak dan baca ff-ff mellow biar emosinya bisa balik ke jalan yang benar /?/ Harusnya ini masih ada lagi, tapi jatohnya kalo diterusin part ini bakalan jauh lebih panjang dari part-part sebelumnya jadi aku cut. Hohoho

Terima kasih buat yang mau baca dan ninggalin komentar, selamat bermalam minggu yang punya pacar, yang nggak punya selamat baper baca ff ini #halah

PS : Sekarang setidaknya kalian bisa dapet spoiler dikit kan, kenapa di ending Jaehee bisa tekdung tralala duluan huahahahah😄 ya pacarannya begitu (nunjuk ke atas), jadi jangan heran ya… anak muda /?/ makanya aku kasih PG15(+)

bye yeom

 

 

XoXo

 

 

Neez

 

 

Neez’s Library

On Going Fiction

All I Ask || Campus Scandal

Completed Fiction

{Kim Tales} Wildest Dream} || Press The Reset ||

One Shots

Because of That Nude Lipstick || Karma In Love

83 responses to “[IM]PERFECTION – 3RD SLIDE PG 15+ — by Neez

  1. Sumps kenapa mereka sama sama egois😦 kenapa gak saling terbuka aja biar sama sama tau gimana isi perasaan masing masing, kenapa malah mau sibuk sendiri? Sadis bgt hubungan mereka, dua duanya sama sama egois:( see you next!

  2. duh jadi mereka gk saling sapa sampe suho wisuda? astaga lama bgt, asli aku gk bisa nebak ini ceeitanya bakal berakhir gmn, aku penasaran bgt gkn reaksi suho kalo tau jae hee kerja keras dan itu salah suho dong yg ninggalin dia tiba2 gitu -_- duh gemes sama sikap gk peka nya suho

  3. Pingback: [IM]PERFECTION – 4TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: [IM]PERFECTION – 5TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Lhaaaaaa kok putus???!?!?!?!?!?!
    Jaehee sama kim woobin………………..
    Gak nyangka banget bakal begini😂

  6. aduh si joonmyeon knpa malah pura2 jadi suho si?
    sumpah geregetan abissss
    wkwk ya joonmyeon emang ga sepolos itu apa lagi dihadepin sma perempuan bertubuh cantik kaya jaehee

  7. Pingback: [IM]PERFECTION – 6TH SLIDE — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. kasian jaehee, miris bacanya. apa” sendiri… dan itu, walaupun sakit tetep senyum ngdepin fans nya… wlah,, jadi kasian.
    omg.. dan jomyun jadi salah satu fans yg berhadapan lansung ama jaehee… wawwwww pi kok gitu ya dialognya,,kok pura” gak kenal gitu.
    ”Tulis saja, segera kembali…” jressssssss kerasa bangettttt >.<
    kakek ama nenek lampir nya mncul -_-

  9. Pingback: [IM]PERFECTION – 7TH SLIDE — by Neez (PG15++) | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Lho kok sama Kim Woobin!? Gamauuㅠㅠ maunya sama Joonmyeon aahhㅠㅠ oh iya Jaehee sakit apa sih masih penasaran

  11. Pingback: [IM]PERFECTION – 8TH SLIDE (END) — by Neez ~PG17/CUT VERSION | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. Knp jd riwet gini sih.. jaehee skt apa ya?? Suka mukulin dada nya mulu apa faktor stress or ada penyakit lain nya.. sama” ngalah aja saling terbuka satu sama lain kalau msh cinta knp hrs berpisah kyk gitu.. baper nih jd nya thor

  13. ”Tulis saja, segera kembali…” Aduh kode bang? Kenapa ga langsung aja bilang kembali? Jaeheenya stress itu sepertinya..

  14. Giliran udah ketemu malah pura-pura saling gak kenal ya gimana gak tambah berlarut-larut masalahnyaa :((
    Kasian sama dua2nya yang masih saling butuh tapi egois gak mau ngalah satu sama lain
    Akkkkkkhhhhh gak rela kalo mereka pisah :(((((

  15. halah, junmen junmen, klo masih cinta tu mbok ya ngomong, malah diem”an tanpa kejelsan, iya kalo asumsinya bner kalo nggak gimnaa

  16. Suka sama2 ambil asumsi sendiri, di ending jaehee emangnya kenapa? Kembung duluan? 😂 tapi kok itu malah jadian sama woobin? Junmen juga sama jiyeon

  17. oke … i’m speechless thor, krena entah knp ff ini… keren!~ ada kyk selip” an dari ff lain aku suka hehehe kyk yg nyambung” gtu..Keep writing and hwaiting ^^

  18. Ak kira yg manggil Joonmyeon wkt dia keluar dr auditorium itu Jaehee, eh trnyta Jongin-_____- knp mereka pisahnya lama bgt, udh setahun:( trs itu bnrn Jaehee sm Woobin? Yaaah. Joonmyeon gmn? Jgn sm Jiyeon, plisss:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s