The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

—Chapter 18

Truth

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Taehyung, Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♣ Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her ♣ Chapter 7–Adore ♣ Chapter 8–Him ♣ Chapter 9—Confession ♣ Chapter 10—Elude ♣ Chapter 11—Decision ♣ Chapter 12—Deserve ♣ Chapter 13—Jealous ♣ Chapter 14—Meet Them ♣ Chapter 15—Realize ♣ Chapter 16—Date ♣ Side Story: Forbidden ♣ Chapter 17—The Beginning

Memories.

Ketemu.

Hati-hati Dahye menarik buku itu dari rak. Sampulnya yang terbuat dari kulit terasa kasar di tangan dan tulisan meliuk-liuknya yang dicetak dengan warna emas sedikit menyilaukan mata Dahye. Perlahan ia membukanya, dan kembali dipertemukan dengan sederet kalimat yang ditulis di halaman paling depan.

“Tentang selusin kenangan yang sukar dilupakan mau pun dihapus dari memori. Kurekatkan seluruh kenangan itu di atas kertas ini, hingga kuharap kau pun takkan pernah menghapusnya. Teruntuk Oh Sehun, yang selalu mengisi setiap relung memori terindahku.”

Buku ini pasti pemberian dari seseorang yang pernah menganggap Sehun istimewa, dan tentu saja begitu pun sebaliknya. Karena seseorang yang memberi buku ini menuliskan bahwa ia memiliki banyak kenangan bersama Sehun. Begitu pikirnya.

Kenangan seperti apa? Siapa orang yang memberi buku ini sehingga ia punya kenangan yang kedengaran spesial bersama Sehun? Bagaimana hubungan Sehun dan orang itu?

Dahye benar-benar ingin tahu.

Menggigit bibirnya, Dahye mulai membalik halaman selanjutnya. Jantungnya berdebar kencang, antusias dengan apa yang akan ia lihat. Namun begitu menemukan apa yang terpampang di sana, Dahye tahu jantungnya seketika berhenti berdegup. Begitu saja keheningan terasa mencekiknya hingga napasnya menyesak. Kedua tangannya menjadi kebas dan buku itu meluncur bebas jatuh dari genggamannya ke atas lantai. Membuat foto yang semula tertempel di halamannya terlepas dan mendarat di bagian lain lantai.

Dahye ingin sekali berpikir bahwa ia telah salah lihat. Bahwa mungkin ada yang salah dengan matanya. Namun seberapa keras pun ia mencoba menyangkal, Dahye tak mungkin salah mengenali wajah familier milik eonninya yang tengah tersenyum begitu lebar bersama Sehun di dalam foto itu.

Eonninya, dan Sehun. Dalam sebuah foto berpelukan sambil tersenyum.

Bagaimana mungkin ….?

Perlahan Dahye membungkuk untuk memungut buku itu. Diraihnya foto yang tadi terlepas dengan tangan gemetar, tatapannya tak pernah lepas dari foto itu. Pada sepasang lelaki dan perempuan yang terpotret di dalamnya—pada Sehun dan eonninya. Senyum keduanya begitu lebar, Dahye bahkan tak yakin pernah melihat eonninya maupun Sehun tersenyum selebar ini di hadapannya. Keduanya saling memeluk, seolah tak ingin sedikit ruang saja memisahkan mereka. Keduanya terlihat … begitu bahagia.

Jadi Sehun mengenal eonninya?

Tapi bagaimana bisa? Kenapa Sehun tak pernah bercerita sebelumnya?

Agak tak sabaran Dahye membalik halaman-halaman selanjutnya, hanya untuk menemukan cetakan foto-foto lain yang ditempel di setiap lembarannya. Semuanya menampilkan potret Sehun dan eonninya. Saling memeluk, tersenyum bahagia pada kamera. Eonninya yang menyembunyikan wajah di cekungan leher Sehun sementara pemuda itu merangkul bahunya, eonninya yang tersenyum malu-malu dengan Sehun yang memeluknya dari belakang, eonninya yang mencium pipi Sehun sembari mengerling kamera. Semua foto yang tak pernah Dahye lihat sebelumnya.

Mereka terlihat seperti sepasang kekasih.

Hati Dahye berbisik pelan sementara denyutan ngilu mulai menyapa dadanya.

Tidak, tidak mungkin. Bukankah eonninya telah lama dijodohkan dengan Baekhyun? Bukankah Baekhyun sendiri merupakan sahabat Sehun? Tak mungkin mereka menjadi pasangan kekasih.

Tidak mungkin, ‘kan?

Tatapan Dahye kembali jatuh pada buku yang menyajikannya foto-foto itu. Pada semua potret Sehun dan eonninya. Melihat ini membuat hatinya campur aduk, membuat matanya memanas. Hingga ketika ia berkedip, setetes air mata jatuh membasahi senyum Sehun dalam salah satu foto.

Sehun … dan eonninya. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Kenapa Dahye tak pernah tahu tentang keduanya?

Lekas-lekas Dahye menghapus air matanya menggunakan punggung tangan. Hatinya terasa berdenyut sakit tiap kali ia membuka halaman baru dari buku itu, untuk kemudian menemukan foto-foto lain yang membuatnya semakin ingin berhenti. Namun tangannya seolah bekerja di luar kendali otaknya. Bahkan ketika air matanya tak dapat lagi dikendalikan, jemarinya tetap bergerak membalik halaman-halaman itu.

Melihat Sehun dan eonninya saling memeluk, saling mendaratkan ciuman, sudah cukup untuk menggoreskan luka dalam hatinya. Dahye tak pernah tahu eonninya juga pernah mengenal Sehun dahulu. Dahye tak pernah tahu hubungan seperti apa yang Sehun dan eonninya jalin hingga keduanya mengabadikan momen dalam foto-foto kelewat mesra seperti ini.

Sampai kemudian Dahye sampai di pertengahan buku, ia menemukan sekeping CD terselip di dalam sebuah kantung transparan yang direkatkan pada halaman buku. Perlahan Dahye mengeluarkan CD itu. Mengamatinya sebentar, sebelum membawanya ke ruang televisi bersama buku tadi.

Jantungnya berdebar kencang sementara ia memasukan CD itu ke dalam pemutar. Selama beberapa detik hanya layar gelap yang menyambutnya, hingga perlahan, wajah eonninya yang tersenyum lebar mengisi seluruh layar. Dahye sadari, dalam rekaman itu eonninya terlihat tengah berbaring di sebuah kasur sementara sebelah tangannya terangkat untuk menggenggam handycam yang tengah merekamnya.

“Hai, Sehun.”

Suara eonninya dari rekaman mengalun ke seluruh ruangan, berhasil membuat napas Dahye menyesak. Ia begitu merindukan suara itu.

“Aku berani jamin kau pasti sedang menahan kesal ketika melihat rekaman ini.” Eonninya berhenti sejenak untuk melepaskan kekehan kecil. “Kau sudah memperingatkanku berkali-kali untuk tidak menggunakan handycam-mu karena kau membelinya hanya untuk tugas Profesor Han, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak membuatmu kesal. Lagipula jika sudah begini memangnya kau tega marah padaku?”

Lagi-lagi eonninya berhenti bicara. Kali ini untuk mengubah posisi tidurannya menjadi menyamping. Tangannya yang menggenggam handycam juga ia geser ke samping, hingga benda itu berhasil merekam seluruh ruangan. Di detik berikutnya, Dahye tahu napasnya tercekat di kerongkongan ketika ia menemukan Sehun juga ada dalam rekaman itu, terlelap tepat di samping eonninya.

Kedua tangan Dahye terangkat untuk menekap mulutnya sendiri.

Mereka … mereka tidur bersama?

“Ah, yang ingin kusampaikan hanyalah,” Suara eonninya berhasil menggusur kembali atensi Dahye. “bahkan meski seisi dunia menentang kita, aku mencintaimu tanpa kenal lelah. Seluruh hatiku hanya terisi oleh namamu seorang, tak peduli seperti apa orang-orang akan menilaiku nanti.” Eonninya mengulas sebuah senyum sedih pada kamera. Ia lantas bergeser mendekat pada Sehun di sampingnya yang masih saja terlelap, tangannya yang bebas ia gunakan untuk memeluk tubuh pemuda itu. “Karena itu, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku. Jangan pernah pergi dariku apa pun yang terjadi. Sebab mungkin, aku bisa mati jika kau tak ada.”

Setelah itu eonninya bergerak untuk mendaratkan kecupan-kecupan kecil di setiap senti wajah Sehun. Di keningnya, kedua kelopak matanya yang tertutup, puncak hidungnya, hingga kedua pipi tirusnya. Perlahan terdengar erangan tertahan dari Sehun. Pemuda itu lantas membuka kedua matanya, dan bagai refleks segera menarik pinggang eonninya semakin mendekat. Membawanya ke dalam sebuah pelukan erat.

Melihat ini semua seketika membuat kedua kaki Dahye melemas, tak kuasa menopang berat tubuhnya sendiri hingga ia jatuh terduduk di lantai. Kali ini ia benar-benar terisak, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Sehun yang memeluk eonninya, lantas mendekat untuk mendaratkan ciuman di bibir.

…bahkan meski seisi dunia menentang kita, aku mencintaimu tanpa kenal lelah. Seluruh hatiku hanya terisi oleh namamu seorang, tak peduli seperti apa orang-orang akan menilaiku nanti.

Kepala Dahye telah menyimpulkan sendiri apa yang mungkin terjadi. Namun ia masih tak ingin percaya. Masih tak mau meyakini pemikirannya sendiri tentang hubungan Sehun dan eonninya yang membuatnya takut.

Tak mungkin, ‘kan? Tak mungkin, ‘kan, mereka seperti itu …?

“Dahye-ya, maaf aku pergi terlalu lama. Seorang nenek butuh bantuanku—“

Tepat ketika itu Dahye mendengar pintu depan berayun membuka disusul derap langkah mendekat. Ia masih tetap di posisinya kala Sehun berjalan mendekat. Lalu didengarnya suara langkah Sehun mendadak terhenti. Dahye tak perlu berbalik untuk mengetahui Sehun tengah membeku kini.

“Dahye … apa yang ….”

Suara Sehun kedengaran tercekat. Campuran antara terkejut, dan takut.

Ketika itu tatapan Sehun telah tertuju pada televisinya yang menayangkan sebuah rekaman yang telah lama sekali tak pernah ia lihat. Rekaman yang diberikan Dayoung … bagaimana Dahye menemukannya?

Lalu buku yang tergeletak di samping Dahye berhasil menarik perhatiannya. Buku itu, Sehun ingat betul buku itu. Hatinya terasa mencelus.

Dahye telah melihat semuanya?

Cepat-cepat Sehun menyusun langkahnya menuju televisi dan mematikannya, membuat bayangan ia dan Dayoung yang tengah berciuman hilang seketika. Dengan langkah gemetar dihampirinya Dahye yang duduk bersimpuh sembari menundukan kepala. Bahu mungilnya naik turun tak teratur, sementara isakannya sampai ke telinga Sehun dengan jelas.

Dahye menangis. Lagi-lagi menangis karena dirinya.

“Dahye-ya ….” Sehun berbisik pelan sembari mendudukan diri di hadapan Dahye. Sebelah tangannya terulur untuk menyentuh wajah gadis itu. Namun sebelum ia sempat melakukannya, tanpa diduga tangan Dahye telah lebih dulu menyentaknya dengan kasar.

Perlahan Dahye mendongak, matanya yang basah segera bertemu dengan Sehun. Tak ada lagi kebahagiaan di sana. Sehun hanya menemukan luka dan kepahitan dalam sorot matanya.

“Jangan berani-berani … jangan menyentuhku.” Dahye mendesis tajam sementara matanya menghujam Sehun dengan dingin.

Sehun bisa merasakan jantungnya berhenti berdegup untuk beberapa sekon mendapati Dahye yang seperti ini. Tangannya dengan lesu jatuh kembali ke sisi tubuh sementara ia mengembuskan napas berat.

“Kau … sudah tahu semuanya?” Sehun bertanya hati-hati.

Sejenak Dahye memilih bungkam. Ia memejamkan matanya beberapa saat, sebelum kembali membukanya dan menatap Sehun tajam. Luka di hatinya semakin menganga melihat wajah pemuda itu.

“Tahu apa?” Ia berbisik dengan suara bergetar. “Tahu tentang hubungan yang kau jalin dengan Dayoung eonni? Tahu tentang rahasia yang selama ini kau pilih sembunyikan dariku dan semua orang?” Dahye menyuarakan pertanyaan retorik itu dalam desisan rendah. “Kau pasti sadar aku ini adik dari gadis yang pernah kau kencani dulu, kami punya nama keluarga yang sama dan wajah yang juga mirip. Lalu kenapa kau tak pernah bicara apa pun? Kenapa kau hanya diam? Berapa lama kau mau menyembunyikan ini semua dariku?”

Pertanyaan Dahye berhasil menohok Sehun dengan telak. Tentu Sehun tak berniat menyembunyikan kenyataan ini selamanya dari Dahye, ia tak mau terus-menerus membohongi gadis itu. Sehun hanya menunggu waktu yang tepat, menunggu sampai ia siap. Siap untuk melihat Dahye menangis seperti ini, siap untuk dibenci olehnya. Namun nyatanya Sehun tak pernah siap. Dan bahkan sebelum ia sempat melakukan apa pun, rahasianya telah terbongkar dengan sendirinya.

“Semula aku juga sama sekali tak menyadari itu, aku tak tahu kalau kau adik dari Dayoung. Namun ketika akhirnya aku menyadari semua ini, perasaanku untukmu telah terlalu dalam dan aku tak bisa menahan diriku untuk menjauh darimu.” Sehun berujar perlahan, mengingat bagaimana ia pernah menjauhi Dahye dahulu. “Aku ingin memberitahumu ini, tapi aku tak yakin aku sanggup menerima resikonya ….”

“Jadi jika aku tak menemukan semua ini sendiri, kau akan terus diam, begitu?” Dahye meneruskan sembari mendengus kecil. Air mata kembali jatuh mengaliri pipinya yang telah basah. Ia bergegas menghapusnya, lantas kembali berujar, “Lalu bagaimana dengan Baekhyun oppa? Kau sahabatnya, dan dia merupakan tunangan Dayoung eonni. Bagaimana mungkin kau dan Dayoung eonni bisa bersama?”

Untuk pertanyaan itu Sehun tak mampu mengatakan apa pun. Seketika lidahnya terasa kelu dan kerongkongannya tercekat. Ia berusaha membuka mulutnya, namun tak ada suara apa pun yang keluar dari sana. Sehun bahkan tak tahu harus mengatakan apa. Ia tak mau apa yang dikatakannya nanti akan membuat Dahye semakin membencinya.

“Kenapa diam saja? Jawab aku, Sehun!” Melihat diamnya Sehun, Dahye mulai kehilangan kesabarannya. “Kau … kau benar-benar mengkhianati Baekhyun oppa? Kau sungguhan bermain di belakang punggungnya?”

Sehun memejamkan matanya sejenak. Mengisi paru-parunya dengan oksigen sebelum memutuskan membuka mulutnya dengan berat. “Y-ya, kau benar. Aku melakukan itu.”

Dahye memang sudah menyadari ini sejak pertama kali melihat foto-foto Sehun dan eonninya, sejak mendengar penuturan eonninya dalam rekaman tadi. Namun mendengarnya langsung dari mulut Sehun entah mengapa berhasil membuat hatinya semakin sakit.

“Kau … aku tak sangka kau bajingan seperti itu.” Dahye mendesis lantas mengubur wajahnya di kedua tangan. Isakannya semakin menjadi di sana, tak kuasa menahan pedih yang sejak tadi menggelayutinya.

 “…Aku juga terluka atas kepergian Dayoung. Kau tahu benar aku mencintai eonnimu—bahkan sampai detik ini aku masih tak bisa menerima kematian eonnimu.”

“…aku mencintaimu tanpa kenal lelah. Seluruh hatiku hanya terisi oleh namamu seorang …”

“Meski begitu kini aku tahu benar bagaimana rasanya dikhianat—oleh sosok yang paling kucintai. Untuk tetap bernapas dan bertahan hidup pun rasanya begitu sukar. Mungkinkah jika aku pergi segalanya bisa berjalan lebih baik? Mungkinkah jika aku pergi pengkhianatan memuakan itu akan berakhir?”

“…Sebab mungkin, aku bisa mati jika kau tak ada.”

Lalu perlahan semuanya menjadi jelas. Bukan Baekhyun. Bukan Baekhyun yang dicintai eonninya, bukan pula Baekhyun yang telah mengkhianati eonninya. Baekhyun bukanlah alasan di balik kematian eonninya.

Selama ini Dahye telah salah menuduh. Ia benar-benar telah keliru …

Dahye mendongak, menatap Sehun dengan kedua mata membola dan mulut separuh terbuka. Kerongkongannya terasa dicekik dan napasnya sesak.

“Kau … kau orangnya,” ujarnya dengan suara pilu. “kau orang yang eonni cintai dan mengkhianatinya hingga ia memilih bunuh diri. Kau yang eonni maksud dalam surat terakhirnya ….”

Sehun tak tahu surat apa yang Dahye maksud. Namun ia mengerti betul perkataan gadis itu. Inilah puncak dari seluruh kesalahan Sehun yang telah Dahye ketahui. Sekujur tubuhnya terasa kaku begitu ia menyadari gadis itu akan benar-benar membencinya setelah ini.

Dahye tak perlu menunggu Sehun menanggapi perkataannya. Melihat raut pemuda itu saja telah cukup untuk meyakinkannya bahwa memang benar Sehun yang dimaksud eonninya. Gadis itu tercenung sejenak, benar-benar tak sangka dengan semua yang telah diketahuinya kini. Luka di hatinya perlahan terasa semakin nyata, membuatnya tak sanggup untuk sekadar menatap wajah Sehun. Alasan di balik semua rasa sakitnya.

“Maaf, Dahye ….”

Dahye menggelengkan kepalanya mendengar permintaan maaf pemuda itu. Kalau saja maaf dapat membawa eonninya kembali ke sisinya, kalau saja maaf dapat mengubah apa yang telah terjadi, memperbaiki segalanya …

Tanpa mengatakan sepatah kata pun Dahye bangkit berdiri dari duduknya. Terhuyung sebab tubuhnya terasa tak bernyawa, ia meraih ranselnya di sofa, lalu berderap menuju pintu depan tanpa menoleh barang sekali pada Sehun.

Untuk saat ini ia tak mau menemui Sehun dulu. Atau mungkin, bukan hanya untuk saat ini saja.

            “Dahye-ya, kau kedatangan tamu.”

Bahkan tanpa perlu bertanya pada nenek yang kini berdiri di pintu kamarnya, Dahye sudah bisa menebak siapa yang dimaksud dengan tamunya. Gadis itu bergerak semakin menenggelamkan tubuhnya ke pelukan selimut, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab dari nenek—meski sebenarnya kegelapan kamar juga telah berhasil menyamarkan jejak tangis di wajahnya.

“Bilang saja aku tidak bisa ditemui, Nek.” Dahye bergumam dari balik selimutnya.

“Tapi ini Sehun,” tukas nenek, seolah hal itu dapat mengubah keputusan Dahye dan membawa cucunya keluar dari kamar. Padahal nyatanya, justru Sehunlah alasan Dahye memilih mengurung diri di kamar semalaman penuh.

“Aku tidak mau menemuinya,” sahut Dahye pendek. Berharap dengan begitu nenek mau mendengarnya.

Dan, setelah jeda beberapa sekon, nenek memutuskan menuruti perkataan cucunya itu. Pintu mengayun tertutup disusul suara langkah nenek yang menjauh, meninggalkan Dahye kembali bersama kegelapan kamarnya. Perlahan Dahye menyibak selimutnya hingga setengah dada, menatap langit-langit kamarnya yang gelap dengan lesu.

Kenapa harus seperti ini?

Kenapa setelah ia yakin Sehun benar-benar untuknya, setelah ia mampu mempercayakan hatinya pada pemuda itu, justru semua kenyataan ini terungkap dan mengacaukan segalanya? Jika saja ia tahu semua ini lebih awal, jika saja ia mengetahuinya sebelum perasaannya sedalam ini … mungkin hatinya takkan begitu terluka.

Dahye bahkan tak tahu apa yang kini dirasakannya untuk Sehun. Rasa suka dan benci yang tumbuh di hatinya seakan mengabur dan menjadi satu hingga membuatnya tak mengerti. Seharusnya ia benci sepenuhnya pada Sehun ‘kan? Tapi kenapa memikirkan pemuda itu bukan hanya membuatnya marah, namun juga membuatnya merasa sakit?

Sebab Dahye sadari rasa sukanya pada Sehun begitu besar. Ia tak percaya sosok yang begitu disayanginya telah menorehkan luka kelewat dalam di hidupnya. Ia tak sangka sosok yang dikasihinya mampu membuatnya merasa sakit sedemikian parah. Secara tak langsung kepedihan dan rasa sepi yang didapatnya di masa lalu rupanya dibuat oleh Sehun sendiri. Eonninya pergi karena Sehun mengkhianatinya, jika saja eonninya tidak meninggalkannya, maka Dahye tak akan merasakan semua kepahitan itu.

Belum lagi kenyataan bahwa dahulu Sehun pernah mencintai eonninya. Pernah berhubungan dengan eonninya. Hal ini seakan menyadarkan Dahye sepenuhnya. Benarkah semua kasih yang selama ini Sehun berikan memang untuknya? Ataukah Sehun melakukan semua itu hanya karena ia memandang Dahye sebagai eonninya, sebagai Dayoung?

Dahye terlalu takut menemukan jawabannya. Terlalu takut untuk tahu Sehun hanya menjadikannya pelampiasan atas eonninya.

Jika benar memang begitu, maka sia-sia saja semua rasa sukanya selama ini untuk Sehun. Jika benar begitu, maka semakin menyedihkan saja hidupnya. Ia memiliki rasa yang begitu tulus untuk Sehun, namun pemuda itu membalasnya dengan bayangan di masa lalu. Apa yang harus Dahye lakukan untuk itu?

Ia tak mau menemui Sehun. Tak mau melihat wajahnya lagi. Ia butuh waktu, untuk menghindarinya.

Sebab ketika ia melihat Sehun, ia akan terus mengingat semua yang telah pemuda itu lakukan. Pada eonninya, juga pada dirinya. Memandang pemuda itu hanya akan membuatnya semakin sakit. Dahye tak mau melukai dirinya lebih jauh lagi, ia tak ingin membiarkan Sehun menggores lebih banyak luka.

Ia harus menghindari Sehun jika ingin lukanya sembuh.

“Kalian sedang bertengkar?”

Dahye terlonjak dari tidurannya ketika ia mendengar suara nenek mengalun ke seluruh kamar. Dilihatnya nenek tengah menekan saklar lampu, hingga seisi kamar menjadi terang. Perlahan nenek berjalan menuju ranjang Dahye. “Boleh Nenek duduk di sini?”

Dahye mengangguk pelan, membiarkan nenek duduk di sampingnya.

“Kalian bertengkar?” Nenek mengulang pertanyaannya dengan lembut. “Kau kelihatan kacau sekali, sayang.”

Dahye memalingkan wajahnya meski tahu usahanya percuma. Sebab nenek telah menemukan seberapa bengkaknya wajahnya sekarang berkat menangis selama berjam-jam.

“Tadi Sehun datang kemari dan berkata ingin sekali menemuimu. Katanya, ada hal penting yang harus dia sampaikan.” Nenek berujar, membuat Dahye menatapnya. Sebelah tangan nenek terangkat untuk membelai puncak kepala cucunya dengan sayang. “Tapi kau mengusirnya jadi Nenek juga tidak bisa berbuat banyak. Dia kelihatan sama kacaunya sepertimu, Hye-ya.”

Dahye menundukan kepalanya, memilih bungkam tak menanggapi ucapan nenek.

“Nenek mungkin tidak tahu apa permasalahan yang menimpa kalian. Tapi percayalah, meski baru beberapa kali bertemu, Nenek dapat mengatakan padamu dengan yakin bahwa pemuda itu benar-benar menyayangimu,” Nenek berhenti sejenak untuk mengulas satu senyum hangat, tangannya tak henti mengelus kepala Dahye. “jika saja dia sampai melukaimu, dan membuatmu seperti ini, Nenek yakin dia tidak benar-benar berniat melakukannya. Pria yang sungguhan mencintaimu takkan mungkin melukaimu, tapi kau mengerti ‘kan, dia juga bisa berbuat kesalahan?”

Kalimat nenek bagai meresap masuk ke dalam hatinya. Sejenak membuat Dahye bimbang.

Tapi nenek tidak tahu apa saja yang sudah Sehun perbuat. Kalau nenek tahu, mungkin nenek tidak akan berkata begitu …

“Ketahuilah, Dahye sayang, menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus benar-benar sulit. Ketika kau berhasil menemukannya, kau harus menjaganya dengan baik. Karena mungkin, hanya mungkin, sekali kau melepasnya kau takkan bisa mendapatkannya lagi,” ujar nenek lembut. “Kau mengerti maksud Nenek, ‘kan sayang?”

Dahye menatap neneknya lamat-lamat. Lantas mengangguk perlahan sementara air mata kembali jatuh untuk ke sekian kalinya. Dirasakannya nenek memeluknya erat, membawanya ke dalam rengkuhan hangat yang kemudian mengantar ia pada rasa kantuk.

“Tidak apa-apa, sayang. Tidak apa-apa.” Didengarnya nenek berbisik pelan sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan menenangkan. “Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah luka hanya membuatmu semakin kuat.”

Malam itu, untuk pertama kalinya Dahye terlelap dalam pelukan sang nenek.

Dan ketika matahari pagi menerangi jendela kamarnya, Dahye menemukan ranjangnya telah kosong. Namun harum nenek yang tersisa membuatnya tersadar bahwa semalam nenek memang menemaninya sampai ia jatuh tertidur. Perlahan Dahye bangun dari kasurnya dan mengerling jam yang menggantung di dinding. Pukul delapan pagi. Kenapa tidak ada yang membangunkannya?

Yah, sepertinya memang Dahye harus membolos sehari ini saja. Gadis itu berjalan untuk meraih handuknya, ketika kemudian teringat satu hal. Ia mengerling ponselnya yang sejak semalaman dinonaktifkan. Sepertinya ia harus menghubungi seseorang kini. Masih ada yang harus dibicarakannya dengan orang itu.

            “Baekhyun oppa, bisa kita bertemu?”

            “Kau tidak sekolah?”

Dahye tahu Baekhyun lebih dari terkejut begitu melihat ia datang ke kafe tempat mereka bertemu dengan pakaian santai alih-alih seragam sekolah. Sejak dulu ia dikenal sebagai Dahye si kelewat rajin yang enggan sekali melewatkan satu hari sekolah saja, bukannya Dahye yang senang membolos.

“Aku bangun terlambat,” sahut Dahye pendek lalu mendudukan dirinya di depan Baekhyun yang kini terperangah.

“Kau kelihatan tidak seperti Dahye yang kukenal—dan, hei, ada apa dengan matamu?”

Kelihatannya Baekhyun baru menyadarinya.

Dahye menggeleng pelan lalu menundukan kepalanya. Ia menarik napas, sebelum berujar dengan suara kecil, “Oppa, maafkan aku.”

“Apa?” Baekhyun menukas, tak menangkap perkataan Dahye tadi.

Dahye mendongak, lalu menatap Baekhyun lurus-lurus. Rasa sesal jelas terlihat di kedua maniknya yang kini muram. “Maafkan aku, Oppa. Maaf.”

Kerutan mulai tercipta di kening Baekhyun. “Maaf? Untuk apa?”

“Maaf, karena selama ini telah membencimu, karena telah menuduhmu sebagai penyabab eonni bunuh diri,” Dahye berhenti sejenak untuk meneguk salivanya. “padahal sesungguhnya kau juga pihak yang terluka di sini.”

Baekhyun tercenung mendengar perkataan Dahye. Ia mengerjap beberapa kali sebelum berujar dengan ragu. “Kau … sudah—?”

“Yah, aku sudah tahu semuanya.” Dahye meneruskan sambil menghela napas lelah. Ia lalu melepas tawa kering. “Tak pernah kusangka seperti ini kebenarannya.”

Baekhyun menatap Dahye lamat-lamat, sorot cemas jelas terpancar dari matanya. “Kau tidak apa-apa, Hye-ya? Setelah mengetahui semua ini?”

Sejenak Dahye terdiam. Ia memainkan jemarinya sembari menjawab, “Tentu saja aku tidak baik-baik saja. Segalanya terasa benar-benar gelap untukku sekarang. Aku bahkan tak tahu harus bagaimana lagi.” Ia berhenti sebelum akhirnya kembali meneruskan sambil memaksakan senyum, “Yah, tujuanku datang kemari bukan untuk memusingkanmu dengan ceritaku. Jadi, apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku, Oppa? Meski kurasa apa yang telah kuperbuat padamu selama ini sama sekali tak termaafkan—menuduh dan membencimu tanpa bukti, aku baru sadar betapa buruknya aku dulu.”

Baekhyun menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan Dahye. “Tak ada yang perlu kau lakukan, Hye-ya. Memang wajar kau begitu padaku.”

Mendengar jawaban Baekhyun, berhasil membuat Dahye tercenung. Pemuda di hadapannya ini benar-benar memiliki hati yang baik. Bagaimana mungkin ia bisa mendapat pengkhianatan dari sahabat dan tunangannya sekaligus?

“Oppa, tapi kenapa Oppa tak pernah memberitahuku soal Sehun?” Dahye lantas bertanya perlahan. “Kenapa Oppa tak bilang saja Sehunlah alasan di balik kematian eonni?”

Helaan napas berat merupakan jawaban yang kemudian Dahye terima dari Baekhyun atas pertanyaannya tadi. Untuk beberapa saat Baekhyun memilih bungkam, tak menjawab tanya dari Dahye.

“Memang benar, aku bisa saja mengatakannya dengan mudah.  Tapi aku tak mungkin melakukannya,” Ia berhenti sejenak untuk memijat pelipisnya dengan lelah. “Sehun, dia telah melalui hari yang berat setelah kematian Dayoung. Berkali-kali Sehun mencoba mengakhiri hidupnya, sebab dia pikir dia tak lagi pantas mendapat kesempatan hidup. Ia melakukan banyak percobaan bunuh diri yang untungnya, selalu berakhir gagal. Rasa bersalah dan sesal yang selama itu menghantuinya, kurasa telah cukup untuk menebus kesalahannya. Tak seharusnya aku membuatnya semakin menderita dengan membeberkan setiap kesalahan yang telah diperbuat olehnya.”

Kedua mata Dahye melebar mendengar ini. Ia menekap mulutnya tak percaya. “Sehun … dia pernah melakukan percobaan bunuh diri?”

Baekhyun mengangguk kecil. “Dia menyesal, begitu menyesal. Hidupnya selama beberapa tahun belakang ini begitu kelam sejak Dayoung pergi, dia berubah menjadi seseorang yang tak kukenal. Seperti hidup, tapi sebenarnya mati. Mungkin karena rasa sesal itu belum juga dapat dia hapus.” Ia berhenti sejenak untuk menatap Dahye lurus-lurus, tatapannya seketika melembut. “Sampai kemudian dia bertemu denganmu. Sejak dia mengenalmu, aku bisa melihat banyak perubahan dalam dirinya. Sehun seperti kembali menjadi manusia yang semestinya, yang memiliki perasaan, dan hasrat hidup. Karena kau, Hye-ya.”

Gelengan kecil dari Dahye menyambut perkataan Baekhyun tadi. “Tidak. Sehun seperti itu karena dia melihatku sebagai eonni. Di matanya aku adalah Dayoung eonni yang begitu dicintainya.”

“Dayoung yang sempat dia cintai.” Baekhyun meralat perkataan Dahye, keningnya mengerut ketika kemudian ia meneruskan, “Dan kurasa kau keliru. Sehun tidak melihatmu sebagai Dayoung. Kau, adalah dirimu sendiri di matanya, Hye-ya.”

“Bagaimana Oppa bisa begitu yakin?” tanya Dahye sangsi.

“Harus kau ketahui, Hye, nyatanya kau dan Dayoung benar-benar berbeda. Meski memang, wajah kalian nyaris serupa. Namun kalian memiliki kepribadian yang tak sama. Jika saja Sehun melihatmu sebagai Dayoung, dia takkan bertahan denganmu sampai selama ini.” Baekhyun menjelaskan dengan tenang. “Kau mungkin tidak tahu, ketika pertama kali mengetahui bahwa kau adik Dayoung, Sehun sempat frustasi. Dia bertanya padaku untuk mengambil jarak darimu. Kupikir dia serius dengan perkataannya, namun nyatanya tak lama setelah itu, dia kembali padamu, ‘kan? Bukti nyata bahwa dia tak bisa jauh darimu. Dari dirimu yang sebenarnya dan bukannya Dayoung.”

Dahye ingin sekali percaya pada perkataan Baekhyun. Namun sakit di hatinya seolah menghalanginya untuk meyakini apa yang pemuda Byun itu sampaikan padanya. Bukan karena ia tak mempercayai Baekhyun, tentu saja bukan. Hanya saja, rasanya terlalu sulit untuk memikirkan Sehun tak menjadikannya pelampiasan atas eonninya setelah ia mengetahui semua ini.

Dahye memang keras kepala, sebut saja begitu. Namun ia seperti ini juga untuk melindungi dirinya sendiri dari luka-luka yang lainnya.

Perlahan gadis itu menghela napas berat, lalu menatap Baekhyun lesu. “Kuharap memang benar begitu, Oppa.”

            Dahye mengabaikannya.

Sehun tahu itu dengan benar. Selama kelasnya berlangsung gadis itu bersikap seolah ia tak ada, bukan lagi membangkang seperti ketika pertama kali mereka bertemu. Hanya bicara ketika ia yang memintanya, mengatakan apa pun seperlunya, dan bahkan menghindari menatap matanya secara terang-terangan. Dahye memperlakukannya seolah ia hanya bagian dari udara, terasa, namun tak cukup penting untuk dianggap.

Sehun telah berusaha untuk mengajaknya bicara. Ia datang ke rumahnya, namun neneknya berkata Dahye tak bisa ditemuinya, sehari setelahnya Dahye tak datang ke sekolah, ia berusaha mengunjungi rumahnya lagi dan tetap mendapat hasil yang sama. Belum lagi ponselnya yang selalu tak bisa dihubungi.

Dahye benar-benar mengambil jarak darinya kini.

Sehun tahu ia memang pantas mendapatkan ini semua. Sehun tahu sejak awal memang inilah yang akan terjadi padanya jika ia tetap memaksakan diri untuk bersama Dahye. Namun setidaknya ia masih ingin membuat gadis itu percaya untuk memberinya kesempatan kedua.

Ketika bel istirahat berdering dan nyaris semua siswa bergerak dari meja mereka, Sehun membuka suara, menatap Dahye lurus-lurus selagi ia bicara. “Nona Son, ada yang harus kubicarakan denganmu. Ikut aku ke ruanganku.”

Perkatanyaannya disambut kasak-kusuk dari beberapa siswa. Namun Sehun tak peduli, atensinya hanya ia berikan pada Dahye yang kini bergerak tak nyaman di kursinya. Gadis itu tak bisa menghindar, seisi kelas tengah menonton mereka. Maka ia tak punya pilihan lain selain mengikuti perintah Sehun.

Keduanya berjalan dalam hening menuju ruangan Sehun. Sehun cukup yakin Dahye masih ingin menghindarinya.

“Ada apa?” tanya Dahye begitu mereka tiba di ruangan Sehun.

Sehun merasakan sentilan tak nyaman di hatinya kala mendengar gadis itu bicara dengan suara formal.

“Ada yang harus kubicarakan,” ujar Sehun perlahan.

Dahye mengembuskan napas perlahan, ia masih saja mencoba menghindari tatapannya. “Jika tidak berhubungan dengan nilaiku dan kelas Sastra, aku izin undur diri.”

Gadis itu telah berbalik badan untuk melangkah pergi. Namun Sehun lekas-lekas menahan lengannya dan menariknya paksa hingga Dahye kembali menghadapnya. Kedua mata gadis itu seketika melebar.

“Aku tahu aku telah membuat begitu banyak kesalahan, aku tahu terlalu banyak luka yang telah kubuat untukmu. Tapi kumohon sekali ini saja dengarkan aku ….” Sehun berbisik pelan, matanya mulai memerah.

Dahye menggelengkan kepalanya mendengar ini, ia mencoba melepaskan cengkraman Sehun pada lengannya. “Tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Semuanya sudah jelas untukku.”

“Tidak, aku—“

“Aku harus pergi.”

“—aku mencintaimu, Dahye. Benar-benar mencintaimu.”

Dahye seketika dibuat membeku mendengar pernyataan Sehun tadi. Ia tahu jantungnya kini berdebar kencang hingga dadanya sakit. Ditatapnya mata pemuda itu, namun yang dirasakannya justru sakit yang semakin kentara.

“Tak bisakah kita bersama, Dahye-ya? Tak bisakah?” Sehun bertanya dalam bisikan pelan, suaranya kedengaran nyaris putus asa.

Sejenak Dahye terdiam, membiarkan hening tak biasa mencekam keduanya.

“Tidakkah kau mengerti, Sehun?” Dahye memulai dengan suara pelan, untuk pertama kalinya matanya menatap manik Sehun lekat-lekat. “Setiap kali kau melihatku, kau akan terus teringat Dayoung eonni—tidak, sejak awal kau memang tak pernah melihat aku. Kau hanya melihat Dayoung eonni dalam diriku.”

Kedua mata Sehun melebar mendengar ini, ia mencoba membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun Dahye lekas-lekas menambahkan. Kali ini dengan lebih pilu.

“Begitu pula denganku. Setiap melihatmu, aku akan terus teringat Dayoung eonni. Aku akan kembali teringat setiap perlakuanmu pada eonni—semua luka juga cinta yang kau berikan pada eonni akan terus terbayang di benakku, tak peduli sekuat apa pun aku mencoba untuk berpaling. Kau mungkin tidak tahu, tapi dengan ini semua, aku bisa saja melukaimu tanpa kusadari.”

Kalimat Dahye seakan berhasil meninju Sehun. Pemuda itu bagai tersentak, dan cengkramannya pada lengan Dahye perlahan terlepas. Tangannya terjatuh ke sisi tubuh dengan lesu sementara tatapan matanya lambat laun berubah kosong. Hatinya berdenyut ngilu memikirkan ini.

Sebenci itukah Dahye padanya …?

“Oh Sehun, sejak awal kita memang tak ditakdirkan bersama. Akan ada terlalu banyak luka yang timbul jika kita memaksakan diri. Kau, dan aku—kita takkan pernah bisa bersatu sampai kapan pun.” Dahye berhenti sejenak untuk mengembuskan napas berat. Hingga ia meneruskan, dengan suara kelewat pelan, “Karena itu, lebih baik kita akhiri semua ini sekarang, sebelum salah satu di antara kita kembali terluka untuk ke sekian kalinya.”

…kkeut

Note♥

Haluuuu

Err, aku gatau ini gimana/.\ gatau feelnya dapet apa ngga gatau gatau gatau gatau gatau. Tapi semoga kalian sukaya, akusih pas nulisnya ikutan sedih gegara sambil dengerin breathnya lee hi /lah malah aku yang baper

Dan ini panjang sekali ya ampuun, nyaris 5000words, tumben ya aku nulis sepanjang ini buat satu chap hihi

Ah udadeh segini dulu, makasih yaa buat kalian yang udah baca The Dim Hollow Chapter 18 ini^^ semoga kalian suka dan ga bosen selama bacanya^^

Seeya on next chap gengs~~

…mind to leave a review?

1468767760859

109 responses to “The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24

  1. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Ikut galau sendiri. Yaampn. Dahye keliatan dewasa bgt dsini:'(( ottoke, ak bgg sndiri:'( ijin lanjut baca ya kak, keren ceritanya:(

  3. okeyyokeyy kalo kita berbicara karma?? mungkin ini karma dari perbuatan sehun dulu sama kakaknya …
    tapi gak bisa kah dahye liat ketulusan cinta ssehun disini???
    sehun bener bener cinta sama dahye yaampun sedihg

  4. Sedih..beneran.. biasanya liat mereka bahagia sekarang mereka kayak gini..
    Dan sebenernya dari awal Sehun juga udah bilang kan kalo dia sama Dahye nantinya bakal buat Dahye terluka, dan Dahye bilang kalo Sehun ngehindar malah bikin Dahye terluka.. dan disini emang salahnya Sehun sih.. coba aja dia mau jujur dari awal.. dan ceritanya gak bakalan seru.. ya gak.. heheheh..
    semoga mereka bisa kembali bahagia.. dan semoga Jongin gak ambil kesempatan ini.. hehehee..

  5. Part yg aku tunggu tunggu ):
    Jadinya mereka kayak ginii ): padahal udh seneng bgtt mereka udh serasi kayak gtu.. smoga dahye bsa percaya apa yg dibilang baekhyun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s