Hope (Chapter 1)

hope

HOPE

Present By Kainear | Seventeen’s Mingyu & Shin Hana (OC) |

Romance, Slice of Life, School Life | PG 15 | Multichapter

Poster By Clairvoyant’s @ PosterChannel

Chapter 1 (Shin Hana)

-Los Angel, 12 Desember 2015-

Rintik-rintik hujan kini mulai membasahai area perkuburan. Banyak sekali orang yang berpakaian hitam-hitam berdiri sambil menyaksikan sebuah peti diturunkan ke lubang tanah. Beberapa orang tampak sedang mengurai air mata.

“Eomma” teriak seorang gadis dengan uraian air matanya. Rambutnya tetap terurai bergelombang membiarkan air hujan membasahinya.

“Hana”

Tepat disampingnya seseorang menahan Hana agar tetap tenang. Pria itu adalah Ayah tiri Hana. Suami Ibunya yang berkebangsaan Amerika.

Hana hanya bisa memeluk erat James sambil berurai air mata membiarkan Ibunya dengan tenang pergi meninggalkan dirinya.

-Los Angel, 16 Januari 2016-

“Daddy, aku serius”

Terdengar adu mulut di sebuah rumah yang sangat megah.

James hanya memijid kehingnya. Ia tak tau mengapa Hana mencoba meninggalkannya sendiri dirumah ini. Meskipun Hana bukanlah anak kandungnya tapi ia sangat mencintainya sama besar cintanya pada Kim Hayong, Istrinya.

“Aku tak bisa Hana, membiarkanmu kesana sama saja kau akan menggali kenagan buruk mu lagi di  Korea”

Yah, Hana mencoba meyakinkan James untuk pindah ke Korea dan melanjutkan belajarnya disana. Di Korea, Hana dan Ibunya memiliki rumah yang megah walaupun tak semegah sekarang tapi untuk ukuran orang Korea, itu sudah cukup.

“Aku bisa mengatasinya Daddy. Kumohon”

Mata Hana benar-beanr berbinar saat mengucapkan kata-katanya. James tau mengapa ia sangat menyukai mata dari anaknya ini. Tampak cantik dan indah. Ia bisa melihat sejuta harapan baru saat menatap manik bola mata Hana.

“Aku mau mengizinkan mu tapi syaratnya aku harus ikut”

James tak mau kelakuan Hanna semimggu sejak kematian istrinya kembali. Gadis itu mencoba untuk bunuh diri, kejadian itu membuat James takut jika Hana harus meninggalkannya.

“Aku janji tak akan melakukannya lagi, Daddy. Uh mungkin ini adalah janjiku yang ke seratus”

Hana tampak mengalunkan lengannya pada lengan Daddy-nya mencoba untuk mendapatkan persetujuan dengan cara menggodanya. Hana tau betul, bagaimana James tak bisa melihatnya merajut seperti ini dan Hana akan selalu bersyukur karena ibunya menitipkannya pada orang yang benar-benar menyayanginyaa.

“Daddy harus fokus dengan pekerjaan disini. Aku tak mau karenaku pekerjaanmu terganggu. Kau boleh mengunjungiku kapanmu kau mau”

James hanya melirik tak percaya pada Hana.

“Dan juga disana aku punya teman” Hana tersenyum.

James memegang bahu Hana dan menatapnya dengan curiga. James masih tak tau mengapa Hana mau kembali ke Korea.

“Tapi Kau sendiri Hana. Bagaimana kau tinggal sendirian? Sekolahmu?”

Hana tersenyum dan menarik nafasnya panjang. James benar-benar khawatir pada Hana dan Hana sangat tau itu.

“Sudah kubilang aku punya teman disana dan aku akan sekolah, sekolah seperti pada umunya”

James membulatkan matanya. Oh tidak, ini benar-benar bukan Hana yang ia kenal. Ia tau Hana tak begitu bagus dalam bersosialisasi bahkan disini ia mengikuti program Home Schooling.

“Aku mencoba membuat harapan baru Daddy”

Hana tersenyum dan kali ini entah mengapa kata-kata Hana benar-benar merasukinya. Ia tak begitu mengerti mengapa Hana ingin kembali ke Korea tapi yang ia tau Hana ingin berubah, Hana ingin menciptakan harapan baru dan kenangan indah dihidupnya.

James tersenyum membalas senyuman Hana.

“Horeyyyy”

Senyumnya James selalu bertanda ‘ya’ untuk Hana.

……………………………..

-Seoul, 25 November 2005-

Daun-daun Mapple tampak sedang berguguran membuat suasana musim gugur sangat terasa. Disana seorang anak berumur tujuh tahun tampak sedang duduk di bangku taman seraya memainkan daun Mapple yang jatuh disekitar kursi yang ia duduki.

“Hana”

Gadis kecil itu berbalik saat melihat seorang anak laki-laki berlari menuju kearahanya. Senyum gadis itu mengembang dan secara tak sengaja membiarkan angin-angn musim gugur menerbangkan rambut hitamn panjangya yang bergelombang beterbangan.

Tiba-tiba saja anak laki-laki itu terjatuh dan membuat Hana tersentak dan langsung menuju kearah anak itu.

“Yak, Kim Mingyu apa sedang kau lakukan hah?” Hana benar-benar Khawatir melihat anak laki-laki yang seumuran dengan Hana atau lebih mengenalnya dengan Mingyu.

Mingyu hanya tersenyum saat mendapati Hana kini membantunya untuk berdiri dan membersihkan dedaunan yang masih menempel dari badannya.

Kedua tangan mereka kini saling bertautan. Walaupun angin musim dingin mulai terasa namun kedua anak kecil ini akan terus menghangatkan satu sama lain.

Mereka kini mulai duduk di bangku taman.

“Mereka tampak indah bukan?” tanya Hana merajuk ke pemandangan yang ada di hadapannya. Hana tersenyum ke arah Mingyu membuat anak itu hanya mengangguk.

Keheningan beberpa menit mengambil alih karena keduanya sedang menikmati pemnadangan yang hanya mereka dapatkan setahun sekali.

Mingyu tersenyum saat melihat Hana menutup matanya membiarkan angin menerpa wajah dan menerbangkan rambutnya. Mingyu selalu suka bagaimana Hana yang selalu tampak cantik disetiap apa yang dia lakukan dan sangat natural.

“Hana, Aku punya sesuatu untukmu” Hana berbalik dan menatap Minkyu dengan tanda tanya.

“Tada”

Mingyu memperlihatkan dua tiket menonton kembang api di awal bulan desember dan itu membuat senyum Hana mengembang.

“Dari mana kau mendapatkannya?” Tanya Hana saat mulai melihat tiket itu dengan seksama.

“Aku juara satu Basket bersama teman-temanku jadi uangnya aku gunakan untuk membelikan ini. Sisanya digunakan untuk oleh temanku”

Hana bertepuk tangan kegirangan. Sahabatnya Mingyu adalah jenius basket menurut Hana. Karena di usianya yang masih beliah Mingyu sudah meguasai teknik dasar permainan basket bahkan beberapa kali ia memenangkan pertandingan basket untuk ukuran anak-anak.

Hana selalu suka dengan apa yang diusahakan oleh Mingyu karena Hana tau kalau Mingyu adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan besar di berbagai bidang Kim Grup jadi kehidupannya serba mewah akan selalu dia dapatkan.

“ satu desember, aku akan manunggumu di sungai Han, janji?”

“Janji”

Hana dan Mingyu saling bersenyuman

-Seoul, 01 Desember 2005-

Minggyu menunggu Hana disebuah bangku. Sudah ada dua kentang bakar kesukaan Hana yang ia siapkan namun sampai saat ini Hana masih belum juga sampai.

Seandainya ia tau begini, ia akan menjemput Hana dirumahnya karena rumahnya dan rumah Hana berhadapan tapi sebelum ke sungai Han. Keluarganya mengadkan pesta di perusahaan jadi ia akan langsung menunggunya langsung di sungai Han

Jam kini menunjukkan pukul 22.00 tapi sosok hana belum juga tampak. Bahkan sejak tadi kembang api sudah mengangkasa dan bertaburan di atas langit sungai Han.

“Tuan Muda, ayo kita kembali. Nona Hana sepertinya tak datang”

Mingyu hanya mengikuti apa yang supirnya katakan. Ia tak tau mangapa Hana tak datang tapi ia berharap sesuatu yang buruk tidak akan terjadi.

-Seoul, 05 Desember 2005-

Awal pertama sekolah, namun sosok Hana masih tak terlihat bahkan dirumah Hana-pun tak tampak ada kehidupan. Mingyu sudah bertanya pada ayah dan ibunya namun mereka tak mengubrisnya dan hanya mengatakan mereka mungkin akan kembali namun lima hari berikutnya tak ada tanda-tanda Hana akan kembali.

Mingyu duduk di bangkunya dan menatap bangku tepat disampingnya. Bangku Hana masih kosong. Kemana kau Shin Hana.

“Selamat pagi”

Mingyu hanya diam menatap kosong gurunya. Tiba-tiba saja mata mereka bertemu dan membuat gurunya hanya menatap ragu ke arah Mingu.

“Aku punya kabar yang sedih” anak-anak di kelas langsung diam.

“Teman kalian, Shin Hana. Sudah pindah ke Amerika”

Mata Mingyu langsung berbulat. Ia tau sesuatu yang buruk pasti terjadi tapi mengapa Hana pergi dan tak memberitaunya. Mingyu menatap tajam gurunya dan menggigit bibirnya. Bahkan ia mengepal tangannya.

Brak

Seisi kelas kini menatap Mingyu dengan tanda tanya saat  melihat Mingyu mengebrak meja dan kemudian lari meninggalkan kelas.

“Kim Mingyu” Gurunya hanya bisa berteriak namun tak bisa mengejar anak itu. Ia tau kalau kehilangan sahabat pasti sangat menyakitkan.

Aku membencimu Shin hana

………………………….

-Seoul 2016-

Seoul Senior High School. Sekolah elit untuk siswa-siswa sekolah. Tak jarang yang bersekolah disana adalah anak Menteri bahkan Presiden tapi dari semua itu anak dari pengusaha-pengusaha juga mendominasi kalangan sekolah ini.

Suara teriakan di koridor membuat keadaan sekolah kini ricuh dan penyebab dari itu adalah empat laki-laki yang benar-benar sangat populer.

Mereka tak menamai grup mereka tapi semua orang tau kalau keempat orang itu bagaikan pangeran-pengeran yang tinggal di sekolah.

“Vernon, sudah cukup mengumbar-umbar senyum klise mu itu di depan semua orang” ucapan itu membuat Vernon tertawa. Oh ayolah bagi seorang Vernon, Popularitas harus mereka nikmati.

“Hyung, aku tau kau juga menikmatinya” Vernon kini menggoda Seongcul.

“Dasar” Seongcul hanya menatap tajam Vernon dan saat itu Vernon benar-benar tertawa.

“Sekeras apapun Vernon bertingkah kukira hanya Mingyu yang paling disukai” Wonwoo mulai menggoda Mingyu namun laki-laki itu hanya menatap lurus kedepan tanpa menghiraukan Wonwoo dan kawan-kawannya.

“Benar-benar kepribadian dingin” Vernon hanya memutar matanya sambil berpura-pura dingin.

Mingyu hanya menatap Vernon dengan tatapan tajamnya. Vernon berpaling dan berpura-pura tak menghiraukan Mingyu.

Mingyu akhirnya tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Awal mereka berempat berteman adalah permainan basket waktu kecil namun tiba-tiba saja kepribadian Minkyu berubah. Ketiga temannya tau kalau ini masalah perempuan tapi mereka juga tak ingn ikut campur meskipun begitu mereka sudah terbiasa dengan sikap dingin Mingyu.

………………………

Sekitar 2 jam Hana mengabiskan waktunya untuk membersihkan rumah yang sudah 10 tahun ia tinggalkan. Tak ada yang berubah dari rumah ini bahkan dari suasanya-pun tak berubah. Yang berubah hanya sekarang dia sendiri.

Hana menatap foto yang terpajang. Ada tiga orang dalam pigura itu. Di Foto itu Hana masih berumur 3 tahun yang duduk dipangku ibunya dan tepat disebelahnya ada ayahnya. Badan Hana bergetar. Kenangan buruknya tiba-tiba saja teringat kembali. Namun ia menutup mata dan mencoba untuk menengkan dirinya.

“Aku tau kalian akan selalu menjagaku” ucap Hana.

Hana merebahkan badannya di rangjang miliknya. Uh bahkan ranjang in terasa sama dengan yang 10 tahun yang lalu. Hana lalu melangkah menuju balkon kamarnya. Ia bisa melihat rumah yang berada tepat di depan rumahnya. Mata Hana kemudian menuju sebuah kamar yang balkonnya berhadapan dengan balkon kamarnya.

Mingyu, apa kau ada disana? Aku sangat merindukanmu Kim Mingyu.

Sesaat kemudian Hana masuk dan secara tak sengaja Mingyu keluar dari kamarnya dan keluar menuju balkon. Ia menatap langin yang sudah di penuhi bintang namun sebuah pemandangan aneh tiba-tiba membuat matanya menerawang kearah rumah yng tepat dihadapannya. Setelah 10 tahun rumah itu kosong namun sekarang lampu-lampunya sudah menyala bahkan lampu kamarnya-pun menyala.

Ia kemudian menatapnya dan mengepalkan tangannya. Ia meyakinkan dirinya kalau yang tinggal disana bukanlah Hana. Ia kemudian masuk. Ia tak ingin membuat otaknya berpikir kalau Hana sudah kembali.

Mingyu menjambak rambutnya yang hitam. Kenangannya bersama Hana benar-benar masih bisa ia ingat dengan baik bakan sangat baik. Tapi ia sudah meyakinkan dirinya untuk membenci gadis itu.

Mingyu menatap sebuah figura foto dua anak kecil yang bermain salju yang tepat dihadapannya. Ia bohong jika tak merindukan gadis itu bahkan kadang-kadang ia memimpikan bagaimana rupa gadis itu sekarang.

Shin Hana

…………………………………..

Hana tersenyum menatap pantulan dirinya yang menggunakan seragam sekolah. Ini pertama kalinya Hana menggunakan seragam sekolah. Tampak sangat cantik. Rambut panjnganya dibiarkan tergerai, kulitnya yang mulus dan putih berpadu dengan seragamnya yang sangat cocok.

“Akhirnya aku menggunakan seragam”

Setelah sarapan akhirnya Hana keluar rumah dan tanpa sangaja ia mendengar bunyi sebuah motor. Ia ingin sekali bertemu dengan Minkyu namun saat ia keluar ia hanya bisa menatap motor itu menjauh dari pandangannya.

Hana semalaman berpikir seperti apa sekarang Mingyu. Ia ingin tau bagaimana mata Mingyu yang dulu sangat berbinar saat tersenyum apakah masih sama? Dan ia tak sabar menunggu bertemu dengan Minkyu.

Mata Hana membulat saat sebuah mobil kini di hadapannya.

“Nona Hana, silahkan Masuk”

Hanya bingung. Ia tak ingat kalau ia memesan seseorang untuk mengantarnya ke sekolah.

“Tn James, menyuruh saya untuk mengantar dan menjemput Nona kemanapun anda pergi” Hana hanya memutar matanya.

“Oh perkenalkan saya Tn Kang”

Hana hanya tersenyum lalu kemudian masuk ke mobil.

…………………………

“Anak-anak, kita kedatangan murid baru”

Jantung Hana berdegup dengan kencang saat ia sudah mulai masuk dalam kelas. Hana menangkap tatapan aneh dari teman kelasnya bahkan beberapa juga tersenyum kearahnya. Oh benar-benar pengalaman yang sangat baru untuk Hana.

“Annyeonghaseo, Shin Hana Imnida”

“kau bisa duduk di samping Chanmi”

Kemudian Hana-pun duduk di samping gadis yang mengikat kuncir rambutnya. Tampak tomboy namun saat Chanmi tersenyum Hana bisa tau kalau Chanmi adalah orang yang baik.

“Jadi kau kau pindah dari sekolah mana saat di Amerika?” tanya Chanmi. Keduanya kini sedang berada di kantin. Hana sangat senang bisa langsung akrab dengan Chanmi.

“Aku home schooling” ucap Hana pelan.

Berbeda dengan Hana yang tata bicaranya sangat lembut Chanmi sangat berbeda. Ia kadang ceplas ceplos namun tak bisa dibilang kasar juga karena Chanmi bahkan kadang melucu membuat beberapa kali Hana tersenyum.

“Kau benar-benar tipe putri raja”

Chanmi memutar matanya dan membuat Hana tersenyum.

“I’m only want call away…”

Tiba-tiba saja suara nyanyian membuat Chanmi berbalik. Heol, Chanmi sudah tau kalau itu adalah Dokyeom.

“Wow, Chanmi siapa dia?”

Hana hanya tersenyum saat memperhatikan laki-laki yang duduk di samping Chanmi.

“Hana, si gila ini adalah Dokyeom dan Dokyeom, dia adalah Hana teman baruku”

Hana dan Dokyeom kemudian berjabat tangan. Walaupun belum mengenal secara dalam tapi Hana tau kalau Chanmi dan Dokyeom adalah teman.

“Hana, nama yang cantik sesuai orangnya”

Dokyeom tersenyum sambil menggoda Hana. Chanmi memutar matanya mendengar temannya itu. Dokyeom yang melihat kelakuan Chanmi kemudian menyikut pinggang Hana.

“Kamu juga cantik Chanmi, tak perlu cemburu”

Hana tertawa saat medengarnya sedangkan Chanmi hanya menjitak kepala Dokyeom. Dokyeom meringis kesakitan.

“Dasar perempuan kasar”

Dokyeom kemudian menjulurkan lidahnya ke Chanmi dan pindah tempat duduk tepat di samping Hana.

Tiba-tiba ketiganya di kagetkan dengan teriakan Yeoja-yeoja di kantin. Hana kemudian mengedarkan matanya da mendapati empat orang namja memasuki area kantin. Hana mentapnya satu persatu namun entah mengapa ia merasakan ada yang aneh saat mereka mulai berjalan.

Hana tak mengenal keempatnya tapi tiba-tiba beberapa orang meneriakkan nama yang sangat ia kenal. Minkyu.

“Mereka lagi” ucap Chanmi. Hana-pu menatap  Chanmi, mencoba mencari maksud dari ucapan Chanmi.

“Mereka adalah idola sekolah ini” lanjut Dokyeom.

“Yang rambut pirang itu namaya Vernon, disampinya Wonwoo, Sengcul, lalu Mingyu”

Mata Hana berbulat saat mendegarkan nama Mingyu. Kemudian ia mengedarkan matanya menatap wajah yang Dokyeom bilang adaah Mingyu. Hana menatapnya tapi bukan, ia bukan Mingyu yang dia kenal. Dia tau tatapan Mingyu tapi mengapa jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat menatap tatapan Mingyu.

Hana terus menatapnya dan meyakinkan dirinya tu bukanlah Mingyu yang dia kenal. Mingyu yang dia kenal adalah seseorang dengan tatapan berbinar dan hangat bahkan selalu tersenyum tapi mengapa Mingyu yang dia lihat berbeda dari bayangannya. Tajam, kosong dana raut wajah datar membuat Hana bertanya-tanya.

“Kim Mingyu?” Hana tanpa sengaja mengucapkan nama Mingyu. Chanmi dan Dokyeom bertatapan satu sama lain.

“Kau mengenal Kim Mingyu?” tanya Chanmi namun Hana masih diam menatap Mingyu yang bahkan tak menatapnya. Mata Hana berbulat. Dia benar Mingyu, Kim Mingyu sahabat kecilnya.

Mengapa? Apa Mingyu berubah? Mengapa dia sangat berbeda?

Banyak pertanyaan yang berputar-putar kini dikepalanya. Tapi ini Hana tau ini bukalah waktu yang tepat untuk mempertanyakannya pada Mingyu.

“Hana” teriakan Chanmi dan Dokyeom menyadarkan Hana yang sejak tadi melamun. Namun bukan hanya Hana, sekarang beberapa orang menatap mereka dengan aneh. Chanmi menedang kaki Dokyeom.

“Suaramu terlalu keras bodoh”

Kelakukan dua orang ini benar-benar membuat Hana tersenyum.

Disamping itu Mingyu sempat mendengar nama yang tak asing kemudian mengedarkan pandangannya namun yang dia dapati hanya punggung seorang gadis dan yang duduk di sebelahnya adalah Dokyeom yang sedang meminta maaf.

“Dasar Dokyeom aneh” ucap Vernon.

“Hana? Bukankah itu nama yang sama dengan temanmu Mingyu?” pertanyaan itu tiba-tiba meluncur pada mulut Wonwoo.

Minkyu hanya diam dan menatap tajam Hyung-nya itu. Oh bahkan Minkyu berani memperlhatkan death glare-nya.

“Wow, bukan berarti Hana itu adalah Hana yang kamu kenal. Ayolah Minkyu, ada banyak orang dengan nama Hana” Wonwoo menjelaskannya

Tatapan Mingyu masih terkunci pada punggung gadis itu. Mingyu tak tau tapi ada perasaa aneh yang dia rasakan sejak masuk dalam kantin. Bahkan ia mendengarkan nama Hana, punggung, dan rambutnya yang tergerai bergelombang membuat Mingyu seakan melihat Hana.

Jam pulang sekolah akhirnya selesai. Hana berjalan di koridor sekolah yang sudah sepi. Ia terlambat pulang karena ada beberap catatan yang harus ia tulis ulang dan bersamaan dengan itu seorang namja keluar dari kelas  2.1

Jantung Hana berdegup dengan kencang saat tau yang kelua dari kelas itu adalah Mingyu.

“Kim Mingyu”

Hana meneriaki pemilik nama itu. Laki-laki itu menatapnya datar. Jantung Hana berdegup sangat kencang saat tatapan mereka bertemu. Hana hanya tersenyum dan mencoba mencairkan suasana yang kelihatan tegang ini.

“Apa aku mengenalmu?”

Deg,  tiba-tiba ada yang sakit saat Mingyu mengeluarkan ucapannya dan saat itu Hana tau kalau Minkyu yang dia cari bukanlah Mingyu yang kini ada di hadapannya. Meskipun ia tak tau menagapa hati-nya terasa sangat sakit saat Mingyu mengatakannya.

Hana mecoba tersenyum

“Ah, Mianhe sepertinya aku salah orang”

Hana lalu tunduk sebagai ucapan minta maaf. Mingyu hanya diam dan mendapati gadis itu berjalan mendahuluinya.

“Yak. Shin Hana, tunggu aku”

Sebuah teriakan membuat Hana berbalik dan tersenyum ke arah Chanmi yang tampak berlari kearahnya.

Mingyu yang tadi berjalan tepat di belakang Hana tertenti saat mendengar nama Shin Hana. Mata Mingyu Bahkan Berbulat saat mendapati senyuman hangat khas milik gadis yang hilang sejak 10 tahun yang lalu.

Shin Hana

Dia kembali?

 

TBC

 

NB : Hy… Kainear balik dngan yang segar-segar hehehe. oke makasih buat yang baca dan ang tercinta jika kalian mau komen atau like. kalian adalah Good reader kan? jadi RLC yah🙂

4 responses to “Hope (Chapter 1)

  1. Awwh hari minggu ketemu minggyu, bikin ngefly deh..
    Ceritanya ngalir banget.. Oho suka-suka..
    Oh iya, ada beberapa typo tuh kak.. Kekekeke
    Tapi over all dua jempol untuk kakak
    Oh iya salam kenal ya ^^)/
    Baru ini mampir komen soalnya..

  2. Ihihiii deg2an gue sumpah😀 gatau deh pas Mingyu tau itu Hanna ko rada gimanaa gitu, harap2 cemas wkwk yakin masih mau benci Hanna pas tau Hanna udah balik lagi?

  3. Aku suka alurnya cepat hahaha mereka akhirnya langsung bertemu deh. Sepertinya puberty bikin orang berubah drastis ya, cuma nama doang yang diinget…

  4. itu sekolah apa surga. isinya cogan semua *mati dulu* so, kenapa awalnya hana pindah ke amerika dan kenapa juga dia harus balik sekarang. itu sih yg masih aku bingung, sisanya ganteng eh bagus ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s