Love Me Right by Ilachan

Untitled picture

Love Me Right by ilachan
Baekhyun/ Irene/ Luhan – Oneshot – Romance – PG-17

Irene tak menyangka kalau pertandingan football kejuaraan antar SMA di Seoul yang ia tonton akan berakhir memalukan. Gadis itu berpikir bahwa tim sekolah SMA-nya yang ia semangati akan mencuri poin demi poin di sepanjang babak, dan kemenangan berhasil direbut oleh tim football sekolahnya. Biasanya sih begitu, tapi tidak untuk kali ini.

Pada mulanya, pertandingan berjalan dengan lancar seperti pertandingan football yang biasa Irene tonton sebelum-sebelumnya. Kedua tim bertanding cukup serius dan pengejaran skor antar kedua tim berlalu begitu ketat di babak-babak pertama. Tapi setelah pertandingan mencapai pada babak-babak terakhir yang kritis, bukannya serius bermain, tapi malah ada perkelahian di tengah lapangan yang terjadi antar pemain. Ironinya, yang terlibat dalam perkelahian bukanlah antar anggota kedua tim lawan, melainkan antar anggota tim football sekolahnya sendiri.

Setelah melihat pemandangan ganjil itu, penonton banyak yang berseru keheranan bahkan beberapa diantaranya sempat berteriak kaget dari tribune. Ya, Irene tidak menyalahkannya karena perkelahian yang terjadi antar kedua anggota tim football sekolahnya cukup serius. Irene tidak bisa duduk tenang menyaksikan pertandingan tim andalannya berakhir kacau. Tanpa ia sadari dia sudah berdiri dari bangku panjangnya yang ada di pinggir lapangan, berbisik panik kepada beberapa teman sesama anggota cheerleader-nya, dan berharap kedua orang yang berkelahi itu bukanlah mereka.

“Bagaimana bisa mereka saling bertengkar dengan sesama anggota tim?”

“Ini benar-benar memalukan.”

“Aku tak sanggup melihatnya. Kejadian ini merusak reputasi sekolah kita.”

Beberapa anggota cheerleader terlihat panik tapi sayang mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain mengomentari situasi aneh yang sedang terjadi di hadapan mereka. Begitu pula dengan Irene, dia berada pada situasi yang sama. Dia tak mungkin tiba-tiba berlari ke tengah lapangan lalu berdiri diantara kedua pria yang sedang berselisih lengkap dengan helm beserta baju football mereka yang berat dan bau. Bisa-bisa Irene akan ikut tergilas diantara keduanya jika ia nekat melakukannya. Lagi pula, sudah ada anggota tim lain yang berusaha merelai kedua pria itu dan mengiring keduanya menuju pinggir lapangan atas perintah sang pelatih.

“Siapa dua orang yang sedang berkelahi itu?” kata Irene kepada Wendy yang sedang mengunyah jarinya.

“Nomor punggung empat dan tujuh.” kata Wendy ngeri, lalu menoleh kepada Irene yang membulatkan matanya kaget, “Baekhyun dan Luhan.”

Perihal Baekhyun dan Luhan yang tidak  punya hubungan baik adalah rahasia umum sekolah. Meski Baekhyun dan Luhan tidak pernah melancarkan aktivitas fisik untuk melampiaskan kekesalan mereka, seluruh murid sudah tahu kalau mereka berdua saling membenci satu sama lain. Irene tahu kalau mereka berdua saling membenci sejak lama, tapi rasa benci mereka menjadi semakin terlihat ketika mereka berdua terjebak di dalam keanggotaan tim football yang sama. Itu membuat keduanya sering bertatap muka dan memaksakan diri untuk berlaku baik antar satu dengan yang lain meski sebenarnya mereka tidak sudi. Situasi menggelikan itu membuat Luhan yang mulanya pendiam menjadi suka mengeluh. Dia benar-benar ogah berada di satu tim dengan Byun Baekhyun. Apalagi mereka harus bertemu di setiap latihan, di setiap pertemuan club dan bahkan di kelas pun mereka juga harus bertemu.

Mungkin itulah yang membuat Baekhyun dan Luhan menjadi meledak. Keduanya sudah lelah dengan keadaan yang terus menerus memaksa diri mereka untuk bertemu dengan musuh bebuyutan-nya. Lalu sampai akhirnya, salah paham kecil yang terjadi di lapangan pada hari ini pun dibuat serius hingga menyebabkan perkelahian fatal. Ini adalah kali pertama Baekhyun dan Luhan melakukan perkelahian fisik setelah sekian lama keduanya menyandang predikat musuh. Meski begitu, tetap saja kelakuan mereka tidak bisa di toleransi. Maka dari itu janganlah heran kalau saat ini pelatih sedang menatap mereka dengan tatapan yang bisa membakar seluruh stadium.

Tak ada hal yang Baekhyun dan Luhan lakukan setelah mereka berdua diseret keluar lapangan selain menunduk dan menyembunyikan wajah di balik helm football mereka, menghindari tatapan murka sang pelatih.

“Apa-apan kalian ini!” seru sang pelatih, tampak gusar. Suaranya cukup keras hingga bisa menggetarkan gendang telinga Irene. “Mulai saat ini kalian berdua masuk kedalam keanggotaan karantina. Kalian berdua akan digantikan oleh anggota cadangan. Kalau dalam waktu tiga hari kalian tidak bertanggung jawab atas kejadian ini, kalian akan saya keluarkan dari tim. Dan satu lagi, aku ingin orang tua kalian bertemu denganku secepatnya. Kalian mengerti?!”

Luhan dan Baekhyun mengangguk kaku namun masih saja tetap diam.

“Kalau begitu, pergilah ke ruang tunggu. Aku tak mau melihat wajah kalian untuk saat ini. Dan jangan sekali-kali kalian kembali bertengkar, kalau tak ingin aku ajukan masalah kalian kepada kepala sekolah. Mengerti?!”

Mereka berdua mengangguk lagi, lantas membubarkan diri keluar dari lapangan sambil berjalan beriring-iringan dalam diam. Irene yang penasaran dengan situasi mereka, mengikuti keduanya dari kejauhan. Ketika akhirnya mereka bertiga mencapai koridor gedung yang sepi, Irene berseru lantas membuat langkah gontai kedua pemuda itu berhenti dan berbalik.

“Irene…” kata Luhan, dia cukup keheranan melihat gadis berseragam cheerleader itu berdiri kaku di tengah koridor, “Apa yang…”

“Sebaiknya kalian berdua punya alasan jelas tentang kelakuan konyol kalian.” potong Irene cepat.

Tak ada satupun dari mereka yang mencoba membuka mulut. Jika Irene perhatikan, Luhan hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil menatap dirinya khawatir dari balik bayangan helm-nya. Sedangkan Baekhyun, dia dengan gusar menarik helm dari kepalanya, lantas mengacak rambutnya yang basah karena keringat, sebelum akhirnya berkata, “Pacarmu yang memukul ku terlebih dahulu,” kata Baekhyun lalu mengusap ujung bibirnya yang berdarah dengan ibu jari tangannya, “Padahal aku sama sekali tak pernah menyentuh wajah bayinya.”

“Kau pantas mendapatkannya Byun.” kata Luhan, kini dia juga ikut membebaskan diri dari helm football-nya yang mengganggu. “Kau sudah bertindak melewati batas.”

“Siapa yang kau sebut bertindak melewati batas?” Baekhyun tersenyum mencemooh, “Gara-gara kau aku terjebak di situasi memalukan seperti sekarang ini! Dan kau bilang aku yang bertindak melewati batas? Alih-alih dirimu sendiri?”

Ya! Aku tak tahu kau pura-pura bodoh ataukah memang bodoh. Kau sudah tahu kalau dia sudah ada yang punya dan kau tetap mendekati dia?”

Astaga.

Irene akhirnya memahami situasi mereka. Beberapa saat gadis itu hanya diam mendengarkan kedua pria itu berceloteh panjang, saling menyerang dan menyanggah argumen tanpa berusaha merelai. Karena sebenarnya Irene sendiri juga bingung, masalah ini ternyata diluar batas kendalinya. Sialnya, pada keadaan genting dan fatal seperti ini, dia tak menemukan solusi tepat dari pertikaian mereka.

“Kenapa kau terus saja menyerang dan menuduh ku Luhan?” kata Baekhyun, tersenyum namun senyumnya tak sampai di matanya, “Kenapa kau tidak menanyakan yang sebenarnya kepada gadis mu itu?”

Leher Luhan langsung berputar pada Irene setelah kata-kata Baekhyun ia telan. Dahinya berubah menjadi bergelombang dan tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi masam. Irene benar-benar ada dalam bahaya. Ia sekarang ada di tepi jurang yang curam.

“Katakan padaku sayang,” kata Luhan berkata rendah mengerikan, “Kalau kau mencintai ku.”

Ya tuhan!

Kalaupun Irene bisa merubah lantai koridor menjadi air, dia lebih memilih untuk menenggelamkan dirinya dari pada menjawab pertanyaan Luhan. Otaknya tiba-tiba macet, seolah-olah seseorang baru saja mencabut kabel power-nya atau semacamnya. Dia hanya bisa berdiri kaku sambil meneliti kuku jarinya ketika Luhan terus saja menatapnya tajam meminta penjelasan.

“Irene! Kau mencintai ku kan?” ulang Luhan lebih keras, suaranya bergema di sepanjang koridor sepi.

“A-aku…”

“Bukankah aku adalah kekasih mu?” potong Luhan, tak sabar menunggu jawaban Irene.

“Luhan… Aku…”

Harusnya dia tinggal menyatakan iya. Luhan adalah kekasih Irene dan itu adalah fakta. Tapi, apakah Irene benar-benar mencintai Luhan? Gadis itu masih berpikir.

Luhan memang pria yang baik. Dia tidak pernah bertindak macam-macam pada Irene dan tidak pernah melukai perasaannya selama dua bulan menjadi kekasihnya. Tapi setelah Luhan mengajukan pertanyaan apakah Irene mencintainya, Irene menjadi gamang dan tak punya jawaban konkrit. Ia tidak menyangka kalau pertanyaan sederhana itu sungguh sulit dijawab. Karena, ketika mereka mengangkat topik cinta, siapa yang ia cintai, kepada siapa Irene melabuhkan cintanya, jawabannya bukanlah Luhan. Hanya itu yang dia ketahui.

“Lihat… lihat…” Baekhyun terkekeh menjengkelkan membuat tatapan marah Luhan kembali padanya, “Bahkan kekasih mu sendiri tidak menjawab pertanyaan mu. Apakah ini cinta yang bertepuk sebelah tangan?”

Baekhyun hendak melanjutkan cibiran-nya, tapi dia harus berhenti karena tiba-tiba kedua tangan Luhan sudah meraih bagian depan bajunya.

“Diam kau keparat! Disini aku tak melihat Irene mencoba untuk menghianati ku. Dia diam hanya karena dia malu menjawab pertanyaan ku.” kata Luhan, giginya saling beradu, “Dengan begitu, sudah bisa disimpulkan bahwa kau lah yang mencoba menggoda Irene dan berusaha untuk merebutnya dariku.”

Setelah mendengar tuduhan Luhan, Baekhyun lantas mendorong tubuh pria itu menjauh seolah takut tertular penyakit. “Sudah berapa kali aku bilang padamu kalau dia tidak mencintaimu!”

“BYUN BAEKHYUN!” jerit Irene tapi Baekhyun tak menghiraukan-nya.

“Selama ini kau hanya merasakan kebahagiaan palsu. Meskipun ia menjadi kekasih mu, tapi hatinya tidak bisa kau miliki–“

“BYUN BAEKHYUN HENTIKAN!”

“–karena hati Irene sudah aku miliki.” Baekhyun mengakhiri kalimatnya dengan senyuman miring.

Berakhir, Baekhyun sudah mengatakan semuanya kepada Luhan. Pria itu tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Dia hanya menatap Baekhyun dengan tatapan kosong lantas lehernya dengan pelan kembali berputar kepada Irene, seolah mencari penjelasan. Gadis itu diam, merasa iba dan kasihan. Pria itu tak seharusnya mendapat penghinaan memalukan seperti ini.

“Kenapa kau tidak membuktikannya kepadaku?” kata Luhan, nyaris berbisik.

“Apa?” kata Baekhyun bingung.

“Kenapa kau tak membuktikannya kepadaku kalau Irene benar-benar mencintaimu? Karena aku yakin kau sedang membual.” kata Luhan, suaranya cukup tenang, tapi Irene yakin kalau serpihan hatinya satu persatu sedang jatuh ke dasar perutnya.

“Baiklah,” kata Baekhyun enteng, “Aku harap kau tidak menyesalinya.” katanya lantas berjalan mendekati Irene.

Irene yang masih merasa bingung dengan segala situasi yang berjalan begitu cepat di hadapannya, hanya bisa tertegun ketika salah satu tangan Baekhyun meraih pinggangnya. Seluruh indranya terlambat menyadari eksistensi pria itu yang begitu dekat dengannya. Dengan jarak yang seperti ini, dia bisa mencium aroma khas keringat tubuh Baekhyun yang  bercampur dengan parfum maskulinnya. Tahu-tahu saja bibir Baekhyun sudah menempel di telinga kanannya dan berbisik, membuat sekujur tubuh irene bergidik.

Love me, right?”

“Apa?” Irene yang terlewat bodoh hanya bisa mengatakan itu.

“Kalau kau mencintai ku, kau harus membalas ini.”

“Membalas?” Irene tak mengerti, “Membalas apa?”

“Membalas ini.” kata Baekhyun, dan tanpa basa basi mulutnya langsung menangkap bibir Irene yang menganga, membuat si gadis kehilangan kesadarannya.

Jadi, di manakah ia melabuhkan  cintanya? Sudah jelas kalau Irene tidak mencintai Luhan, meskipun Luhan sudah menjadi kekasihnya selama dua bulan ini. Dia melalui hari-harinya bersama Luhan cukup bahagia, namun ia yakin rasa bahagia yang ia alami bukanlah rasa manis dari jatuh cinta. Lalu bagaimana dengan Baekhyun? Pria ini sudah Irene ketahui sebagai orang asing yang ia kenali sebatas namanya saja, tak lebih dari itu. Mereka berdua jarang bertegur sapa meskipun mereka berdua beberapa kali menjadi teman kerja kelompok lab biologi atau bertemu di perpustakaan. Mereka berdua benar-benar bersikap seperti orang asing sampai akhirnya Irene lupa sejak kapan pria itu memporak-porandakan hidupnya.

Bagaimana tidak? Pria itu sering datang di mimpinya, bayangannya sering memburu malamnya, dan lucunya lagi, Irene bisa merasakan ada banyak bunga bermekaran di perutnya ketika Baekhyun ada di dekatnya. Wajahnya akan berubah merah ketika mata keduanya saling bertemu. Kadang Irene juga tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang tiba-tiba bergetar ketika Baekhyun mengajaknya bicara.

Semua siksaan manis itu membuat Irene sadar kalau hatinya memilih Baekhyun. Dengan begitu Irene juga menyadari kalau pilihannya untuk menjadi kekasih Luhan adalah keputusan yang keliru. Dia merasa kasihan kepada Luhan, harusnya pria itu bisa mendapatkan gadis yang hatinya bisa ia dapatkan. Irene sebenarnya ingin mengucapkan salam perpisahan kepada Luhan, namun ia tak sampai hati karena pria itu terlalu baik padanya. Pada akhirnya, Irene memutuskan untuk tetap diam dan berpura-pura semua baik-baik saja, meskipun di belakangnya Baekhyun perlahan sedang mendekatinya, membuat posisinya semakin bimbang.

Lalu, di sinilah Irene sekarang. Berada di puncak keputusan final yang harus ia pilih salah satu. Ia harus memilih Luhan yang telah baik padanya, ataukah Byun Baekhyun yang selama ini ia inginkah diam-diam?

Dia harus berpikir serius dan hati-hati agar keputusannya tidak membuatnya menyesal kemudian hari. Dia harus tenang tapi sayangnya tidak bisa. Irene harusnya bisa berpikir jernih, tapi tidak saat setengah bibirnya dihisap habis oleh Byun Baekhyun.

Pria itu tadi mengatakan untuk membalas ciumannya sebagai jawaban kalau Irene memilih dirinya. Irene masih saja tertegun dan diam, meski sekitar bibirnya sudah basah karena ulah Baekhyun yang mendesaknya ingin mendapatkan balasan. Dengan sedikit keras, Baekhyun kembali menekan Irene, membuat si gadis bisa merasakan asin darah dari bibir Baekhyun yang terluka, hingga akhirnya membuat si gadis mendesah lantas menyerah dan membalasnya.

Sialan kau Byun Baekhyun.

Baekhyun jelas-jelas tersenyum diantara ciumannya dan tetap melanjutkan apa yang ia kerjakan meskipun ia sudah tahu apa jawaban Irene.

Akhirnya Irene mau jujur padanya.

Ketika Baekhyun tetap saja bertahan pada posisinya, Irene yang lama-lama merasa kesal mendorong tubuh pria itu menjauh.

“Kau benar-benar berengsek.” kata Irene, mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.

Yeah, aku adalah tipikal berengsek yang kau cintai.” kata Baekhyun tersenyum mengesalkan, mengusap bibirnya dengan ibu jari.

“Tapi bagaimana dengan….” Irene memutar lehernya, menatap ke sekelilingnya dan tak mendapati Luhan di sepanjang koridor. Luhan pasti merasa terluka dan pergi karena tak sanggup melihat Irene diambil Baekhyun tanpa perlawanan. Kini koridor sepi itu hanya berisi dirinya dan Baekhyun yang terus saja ter-kikik geli.

“Ini semua gara-gara kau!” kata Irene murka, mengacak rambutnya. “Luhan marah dan saat ini dia… dan aku…”

Baekhyun menghela nafas lantas menangkap kedua pipi Irene dengan kedua tangannya, “Jadi apakah itu salahku juga ketika kau tidak bisa mencintai Luhan?”

Mata Irene bergerak-gerak di rongga-nya, memikirkan jawaban terbaik. “Iya!”

“Keren sekali! Mulai sekarang kau sudah putus darinya.” Baekhyun kembali mengecup Irene singkat, “Selamat! Karena sekarang kau juga bisa mendapatkanku.”

“Tapi..” Irene melepaskan dirinya dari Baekhyun, mendorong pria itu menjauh, “Tapi ini tidak benar Baekhyun! Lihatlah Luhan! Kita telah menyakiti dirinya dan juga dia…”

You love me right?” potong Baekhyun tak sabar. Suaranya kembali menjadi berat dan dalam, terdengar serius.

“Iya. Tapi…”

When you asked me ‘where is your love’ and ‘what is love’, I already had answer for you. ‘My answer is you’. So let me remind you that you shouldn’t look anywhere anymore. Because when you already had me, my heart won’t go anywhere.” Baekhyun mendesah panjang lantas meraih pucuk kepala Irene, dan menatap matanya lamat-lamat, “Love me, right?”

Irene mengangguk, tak sanggup mengatakan sepatah kata pun karena di dalam kepalanya dia sedang merasakan perasaan sedih dan senang bercampur menjadi satu, menciptakan sebuah harmoni yang rumit.

Then, call me baby.

fin

Visit my blog for another stories: Iruza Izate
And you feel free say hi at Ask.fm or Twitter

10 responses to “Love Me Right by Ilachan

  1. Berengsekkk baekhyunn emangg. Luhannya kasiannn. Kata kata yg terakhirr so sweet baekhyun tapiii kokk guee kesell. Luhannn yg sabar yaa

  2. Omooo.. Luhan kemarilah nak.. Disini ada yang siap menenangkan mu kok.. Puk puk puk, iih di baekyunnn mah kurang ajar pisan,

    Bisa aja bikin cerita yang bikin deg degan gini kak.. Saluutt deh.. Wkwkwk

  3. Luhan kasian daaaaahh…
    Baek dasar!!!- -” pd benci Baek kah??? kok aku biasa aja ya???*biasny Baek><* wakakakakakakak

  4. Dua main chast favorit aku banget ini mah 😆😆😍😍 baekhyun luhan 😆😆 kalo ff uda atas nama mereka aku pastinya bakalan dapet banget 😁😁 oke tapi disini aku kasian sama luhan 😭😭

  5. Anyeonghaseyo.. kekeke aku baru nih disini 😳
    Gini lho hasil ngubek2 ff baekhyun akhirnya dpt juga .. kereen thor aye suka sm karakternya baekhyun ceritanya bikin cenyum2 sendiri hehew

  6. Ini…..ini tuh……gezzzzzzzz gatau mau ngomong apa lagi yg jelas kasian Luhannya. Itu sakit banget dan jujur Baekhyun ngeselin banget disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s