UNSPEAKABLE SECRET | 1st Chapter

Cover ii

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

[1 – I Found You]

.

[SAY Korean Fanfiction – AWKNISA]

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 17

 

SUMMARY :

Disaat sebuah rahasia masa lalu kelam yang saling memiliki keterikatan dan kenyataan yang pahit pada akhirnya di pertemukan kembali melalui sebuah ikatan cinta. Akankah berakhir menjadi kisah cinta yang bahagia atau justru sebaliknya?

 

HAPPY READING

 

Musim panas. Musim yang paling ditunggu-tunggu oleh penduduk negara subtropis. Dimana mereka bisa merasakan kehangatan dari sinar matahari untuk sekedar berjemur di pantai atau berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, berpiknik ditaman dan lain-lain. Selain itu pada musim panas tumbuhan dan buah-buahan sedang pada masa pertumbuhan penuhnya.

Namun sepertinya dibalik keceriaan dan kehangatan di musim panas, ada beberapa insan yang bahkan tak bisa merasakan efek dari musim panas yang paling dinanti ini sama sekali. Karena dimanapun dan kapanpun mereka berada, mereka selalu dilanda kedinginan yang tajam dan dan kesengsaraan tak berujung.

DUAR

Suara anak peluru yang baru saja meluncur dari sebuah senapan terdengar begitu jelas dan menusuk di telinga bocah perempuan berkepang dua yang kini hanya bisa menangis sembari memeluk kedua lututnya erat-erat

“Appa!!!!” teriakan tak berdaya pun menggelegar diseisi ruangan yang minim penerangan tersebut.

Tiga orang pria bertubuh kekar berjalan cepat ke arahnya lalu salah seorang dari pria tersebut mengangkat tubuh bocah kecil itu kedalam gendongannya, dan itulah hal terakhir yang berhasil bocah kecil itu ingat.

….

Leera membuka matanya dan langsung membuang nafas sebanyak-banyaknya begitu ia tersadar bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi.

‘Mimpi itu datang lagi… dan aku tak tahu kapan mereka bosan mendatangiku…’ batin Leera sembari membuang nafas sebanyak-banyaknya.

Setelah ia rasa nafasnya mulai teratur dengan cepat ia duduk bersandar di tempat tidurnya dan meraih segelas air putih yang berada di nakas sebelah kanan kasurnya lalu meneguk air itu dengan cepat tanpa sisa. Tangannya lalu meraih dua helai tissue yang berada di sebelah gelas tadi dan langsung mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya.

Appa, eomma, aku merindukan kalian…” lirihnya yang kini sedang memandangi wajah seorang pria tampan yang sedang mengendong gadis kecil berkepang dua sembari merangkul wanita berambut sepundak di layar ponselnya. Hm, foto ini terlihat cukup jadul, mungkin memang foto lama?

Tanpa ia sadari bulir-bulir bening yang selalu menjadi saksi kesedihan dan rasa takutnya kembali membobol dinding pertahanannya. Leera lelah dengan semua ini, terkadang ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena hidup dengan di gerayangi oleh rasa takut terasa sangat menyiksa.

KRING KRING

Ponsel berwarna rose gold yang berada di genggamannya berdering dan layar berukuran sekitar lima inch tersebut menampilkan tulisan ‘Incoming Call From Nayeon Sunbae. Dengan cepat Leera mengangkat panggilan tersebut.

Ne, Sunbae?” sapa Leera yang kini nafas teraturnya sudah benar-benar kembali.

“Ya! Kau dimana?! Rapat dimulai tiga puluh menit lagi dan kau bahkan belum menampakkan batang hidungmu di kantor?” pekik sebuah suara nyaring dari seberang sana.

“Memangnya ini pukul bera— Astaga aku terlambat!! Ne, Sunbae, lima belas menit lagi aku akan sampai di kantor, Gidaryeoyo (tunggu aku).” Tanpa mengindahkan omelan tambahan dari Nayeon, Leera langsung melompat dari kasurnya dan menyambar sehelai handuk yang tergantung di dekat lemarinya sebelum akhirnya ia masuk kedalam kamar mandi.

 

-awknisa’s-

 

Setelah selesai mandi, Leera langsung mengenakan sebuah kemeja berlengan panjang berwarna putih dengan rok hitam pas badan. Ia lalu memoleskan make up sederhana pada wajah mulusnya dan tak lupa menyemprotkan parfum di sekujur tubuhnya.

Hari ini akan ada rapat penting karena pertama kalinya ia bisa menghadiri rapat dimana pejabat-pejabat perusahaan hadir. Selama delapan bulan bekerja di kantornya, Leera belum pernah menghadiri rapat seperti itu sebelumnya.

Begitu selesai berpakaian dengan rapi dan lengkap, Leera bergegas keluar dari kamar bernuansa kuning serta pink pastel tersebut dan menuruni puLeera anak tangga yang ada dirumahnya; kebetulan kamarnya berada di lantai dua rumah ini.

Saat ia sampai di depan meja makan, terlihat seorang pria yang sedang menyantap nasi gorengnya dengan santai, “Kenapa kau buru-buru sekali, eo? Ja, makan dul—“

“Aku sedang buru-buru, jadi kurasa aku tidak sempat untuk menyantap sarapan pagi ini. Aku duluan ya,” potong Leera cepat tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria itu.

Ya! Kalau maagmu kambuh bagaimana?!” pekik pria itu lagi namun Leera tidak menghiraukannya sama sekali, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah bagaimana caranya sampai dikantor dengan cepat.

 

-awknisa’s-

 

Sedikit meleset dari janjinya, dalam waktu dua puluh lima menit ia baru sampai di sebuah perusahaan dengan gedung pencakar langit yang di dominasi oleh kaca tempat dimana ia bekerja tersebut. Untungnya keadaan lalu lintas yang selalu ia lewati untuk mencapai kantornya tidak terlalu macet hari ini dan ia juga tak perlu menunggu kendaraan umum terlalu lama tadi.

Dengan cepat kaki kaki rampingnya berlari pintu masuk utama kantor menuju ketempat dimana lift berada. Tanpa menunggu lama pintu lift tersebut terbuka dan ia langsung meluncur ke lantai enam.

Sesampainya di lantai enam, Leera langsung disambut oleh celotehan Nayeon yang terus saja menyalahkannya mengapa ia bisa datang terlambat di hari sepenting ini. Leera tidak memusingkan celotehan seniornya yang satu itu sama sekali karena ia tahu betul bagaimana mulut Nayeon, tapi dibalik kecerewetannya itu, Nayeon adalah senior yang baik dan paling dekat dengan Leera.

“Kau sudah menyiapkan semua yang kau butuhkan untuk mencatat hasil rapat nanti?” tanya Nayeon.

Ne, Sunbae. Laptop, flashdisk, dan—Sial!! Aku melupakan charger laptopku!!” pekik Leera yang kembali panik saat ia membuka tasnya dan ia lupa membawa charger laptopnya. Leera ingat betul bahwa charger laptopnya ia letakkan diatas meja makan sebelum berangkat tadi.

Aish jinjja!! Kau ini bagaimana sih? Mengapa persiapanmu hancur sekali, eo? Bahkan disetiap rapat biasa yang kau hadiri kau terlihat begitu siap sampai kau bisa terpilih sebagai notulen hari ini karena para atasan menyukai caramu melaporkan rapat dengan detail, jelas, dan singkat,” teriak Nayeon lagi yang kini ikut panik karena tingkah ceroboh Leera.

Mianhaeyo, Sunbae. Pikiranku sedikit kacau pagi ini…” Leera menunduk penuh rasa bersalah. Entah kenapa hari ini ia bisa begitu ceroboh, padahal biasanya ia selalu saja memiliki persiapan yang matang setiap ia ditunjuk sebagai notulen dalam sebuah rapat.

Oke, biar ku jelaskan jabatan Leera di Ilhwa Group ini. Leera merupakan supervisor  di bagian marketing di perusahaan. Namun tak jarang ia ditunjuk sebagai notulen dalam beberapa rapat karena seluruh laporan rapat yang ia buat selalu mudah dipahami. Sedangkan Nayeon merupakan manager yang berada satu tingkat diatas Leera, karena pekerjaannya membuat ia terlalu sering berinteraksi dengan Nayeon, lama kelamaan Nayeon menjadi partner kerja alias atasan yang paling dekat dengannya.

“Oke, kau gunakan saja laptopku nanti. Ayo sekarang kita harus menuju ke ruang rapat utama, lima menit lagi rapat di mulai,” ajak Nayeon.

 

-awknisa’s-

 

“Lebih cepat… sayanghh…” suara lenguhan seorang gadis yang kini berada dibawah kurungan seorang pria bertubuh indah terdengar begitu seksi di telinga pria berambut blonde tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa desahan demi desahan yang keluar dari bibir wanita itu justru semakin menaikkan gairahnya.

Dengan semangat Oh Sehun—nama pria berambut blonde itu—menghentakkan inti tubuhnya kedalam inti tubuh milik wanita itu sampai ia tak menghiraukan lagi cakaran kenikamatan yang di goreskan oleh wanita itu di punggung bidangnya.

Tangan Sehun tidak tinggal diam, tangan kanannya ia gunakan untuk meremas dada sintal yang bergerak kesana kemari itu dengan penuh gairah. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menopang tubuhnya sendiri agar tidak ambruk menimpah tubuh gadis yang berada dibawahnya.

Bibir Sehun terus melahap bibir wanita itu dengan garang dan sesekali ia juga menurunkan ciumannya ke leher jenjang yang sudah dipenuhi oleh bercak kemerahan yang merupakan hasil karyanya yang ia banggakan.

Keduanya melenguh kencang saat mereka mencapai puncak kenikmatan mereka bersama-sama, Sehun bahkan tak terlihat kesakitan sama sekali saat wanita itu menarik rambutnya begitu kencang untuk melampiaskan kenikmatan tiada tara yang sedang melanda mereka.

Sudah dua jam mereka terlibat dalam pergumulan yang entah kapan berakhir ini. Seprai kasur yang tadinya terpasang dengan kokoh di tepi-tepi kasur kini sudah berserakan entah kemana. Suara decitan kasur juga ikut menyertai desahan-desahan yang keluar dari mulut mereka.

Sang wanita terlihat mulai kelelahan mengikuti permainan Sehun, sesekali kata “Hentikan…” dan “Aku lelah, Sehun-ssi,” terdengar dari bibir wanita itu. Tapi Sehun terlihat tidak menghiraukannya sama sekali, ia justru semakin semangat menghisap dada wanita itu secara bergantian dan memanjakan kemaluannya didalam sana.

Tanpa kehilangan semangat sama sekali, Sehun kembali menggoyangkan pinggulnya dan diikut dengan wanita tersebut. Wanita itu terlihat sangat lelah, namun tak dapat dipungkiri ia benar-benar menikmati permainan Sehun.

Saat Sehun hampir mencapai puncak kenikmatannya yang entah keberapa kali, tiba-tiba pintu kamar hotel yang sudah tak karuan bentuknya ini dibuka dengan kasar dari luar.

BRAAKK

Ya! Oh Sehun! Sudah pukul berapa ini?! Sampai kapan kau akan bermain dengan jalang itu?!” pekik seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam yang di lengkapi dengan kemeja berwarna putih di dalamnya. Kalau boleh berpendapat, pria itu tak kalah tampannya dengan Sehun.

“Brengsek!! Kenapa kau masuk sekarang, huh?!” mau tak mau Sehun terpaksa menghentikan goyangan pinggulnya dan mengeluarkan kemaluannya dari liang kenikmatan tersebut.

“Kau bahkan sudah terlambat lima belas menit untuk rapat pagi ini, bodoh!! Sudah berapa kali aku mewanti-wantimu agar tidak lupa waktu saat bermain dengan jalang seperti ini!! Bagaimanapun juga kau punya banyak urusan yang harus kau kerjakan, Brengsek.”

Jongin; sekertaris Sehun, tanpa segan masuk kedalam kamar tersebut dan melemparkan sehelai handuk pada Sehun. “Cepat mandi sekarang, aku tidak mau lagi menunggumu lebih dari sepuluh menit, oke?”

“Sialan, kalau kau bukan temanku mungkin kau sudah mati sekarang, Kim Jongin.” Dengan berat hati akhirnya Sehun menuruni ranjang berukuran besar tersebut dan masuk kedalam kamar mandi.

Sementara Jongin hanya bisa menghela nafas kasar mengatasi tingkah bajingan Sehun sembari memberikan sebuah amplop yang cukup tebal sebagai bayaran atas permainannya dengan Sehun barusan kepada wanita yang sedang kelelahan tak berdaya di atas ranjang tersebut.

 

-awknisa’s-

 

Akhinya setelah waktu rapat sempat terulur empat puluh lima menit akibat menunggu beberapa direktur dan dewan direksi yang belum hadir, rapat resmi dimulai. Inilah keadaan yang terkadang Leera benci, dimana orang yang lebih berkuasa bisa bertindak seenaknya. Sedangkan karyawan biasa sepertinya harus diburu-buru setengah mati seperti tadi pagi agar tidak terlambat. Bahkan ia tak sempat untuk sekedar mengisi perutnya saking terburu-buru.

Well, para atasan itu selalu saja menggunakan alasan pekerjaan yang menumpuk sebagai alasan keterlambatan mereka? Benar-benar klise. Apa mereka pikir karyawan sekelas Leera dan lainnya tidak memiliki pekerjaan yang menumpuk juga?

Yang paling membuat Leera semakin jengkel adalah pria muda yang masuk paling belakangan atau sekitar satu menit yang lalu, yang membuat rapat terlalu lama diulur karena menunggu kehadirannya.

Dengan rambutnya yang di beri warna blonde dan sedikit warna hitam akibat rambut yang mulai tumbuh di bagian akar rambutnya, pria itu berjalan santai masuk kedalam ruangan rapat sembari menegak segelas kopi keluaran starbucks dengan tangan kanannya.

Seluruh audience rapat hanya bisa menghela nafas melihat pria muda tersebut karena menurut apa yang Nayeon katakan pria tersebut bernama Oh Sehun, Direktur bagian Distribusi Luar Negeri dari Ilhwa Group, dan pria bernama Sehun itu juga merupakan penerus Ilhwa Group kelak karena ia ternyata adalah anak tunggal dari Presdir Oh Ilwoo.

Oh Sehun terkenal sebagai Direktur dengan tingkat kesopan santunan yang minim meskipun ia berpendidikan tinggi. Well, Leera tidak heran lagi karena anak orang kaya banyak yang angkuh seperti pria itu.

Sebenarnya banyak para direktur dan pemegang saham yang kurang menyukai tingkah Sehun, namun karena performa kerjanya yang benar-benar luar biasa sehingga Ilhwa Group dapat melebarkan sayapnya ke Amerika Serikat dua tahun belakangan ini karena hasil kerjanya. Kesupelannya dalam bergaul dan melobi pekerjaan benar-benar patut diacungi sepuluh jempol. Sehingga para pemegang saham tidak dapat berkutik selain menahan diri untuk bersabar dengan ulah semena-mena Sehun.

Selama rapat berlangsung Leera terlihat fokus menyimak apa yang sedang dipresentasikan dan juga pendapat-pendapat para audience rapat yang hadir. Jika ia menemukan point-point penting ia langsung mencurahkannya pada layar netbook berukuran 11 inch yang ada di hadapannya.

Tanpa ia sadari, seorang pria yang duduk selurusan dengannya sedang memperhatikannya sembari menyunggingkan senyuman miring sesekali. Pada awal-awal rapat dimulai sepertinya pria itu belum terlalu sadar dengan kehadiran Leera, namun sejak pertengahan rapat pria tersebut mulai mencuri-curi pandang sesekali pada Leera yang bahkan tak menoleh ke arahnya sama sekali sejak tadi.

Siapa lagi pria itu kalau bukan Oh Sehun.

Saat rapat berakhir, dengan cepat Leera membereskan barang-barangnya dan bergegas keluar dari ruangan rapat tersebut. Ia merasa kembali rileks karena akhirnya ia dapat berdiri setelah duduk menyimak rapat yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut.

Saat Leera dan Nayeon hampir mencapai pintu keluar, sebuah suara parau namun terdengar indah memanggil nama Nayeon, “Nayeon-ssi?” sontak Nayeon sang pemilik nama dan Leera yang sedang berjalan di sebelah Nayeon menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Direktur Oh, alias Oh Sehun yang memanggil manajer mungil tersebut.

Sementara Nayeon dan Leera bergeming di tempat mereka berdiri semula, Sehun bersama sekertarisnya, Kim Jongin, perlahan berjalan menghampiri mereka.

Ne, Isajangnim (Ya, Direktur)?” tanya Nayeon dengan sopan.

“Bisakah kita berbicara sebentar? Hanya lima menit,” ujar Sehun lagi.

Dengan senang hati Nayeon mengangguk. Oh ayolah wanita mana yang tidak akan bereaksi seperti Nayeon begitu ia diajak berbicara oleh eksekutif muda setampan Sehun.

“Tapi aku mau kita bicara tanpa rekanmu yang cantik ini, because this is secret,” ujar Sehun lagi sembari melirik ke arah Leera sebentar lalu mengerlingkan sebelah matanya yang berhasil membuat Nayeon gemetaran di tempatnya.

“Kalau begitu aku pamit.” Begitu sadar maksud Sehun, Leera langsung menundukkan kepalanya dan melengang keluar dari ruangan rapat tersebut sembari menggengam netbook putih milik Nayeon.

 

-awknisa’s-

 

Setelah kepergiannya dari ruang rapat, Leera menyempatkan diri untuk menikmati segelas kopi yang ia ambil dari vending machine yang ada di dekat kantin. Ya, kebetulan rapatnya berakhir memang bersamaan dengan jam makan siang kantor.

Seketika bayangan Sehun yang sedang mengerling genit tadi terlintasi di benaknya. Dengan cepat Leera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan tak bermutu tersebut.

Jujur, tadi adalah kali pertamanya ia melihat Direktur Oh yang biasa di bangga-banggakan rekan kerjanya. Ya, Leera akui Sehun memang tampan dan  tubuhnya sempurna. Selain itu pria bermarga Oh tersebut juga memiliki aura yang cukup kuat menurut Leera, karena bila Sehun menatap tepat dimatamu maka kau akan merasa di intimidasi oleh tatapannya. Tajam, namun hangat. Entahlah begitu membingungkan.

Tapi tunggu… saat memikirkan tatapan tajam namun hangat itu Leera seketika merasa bahwa ia pernah menjumpai tatapan serupa di masa lalu, namun ia tidak mengingat kapan, dimana, dan tepatnya siapa pemilik tatapan itu.

Ya, tidak salah lagi, aku pernah menjumpai tatapan yang persis seperti tatapan milik Oh Isajangnim, batin Leera sembari mengerutkan dahinya dan sesekali ia memejamkan matanya untuk mencoba mengingat.

Aigoo, ternyata kau selalu menghabiskan waktu makan siangmu dengan meminum kopi seperti ini? Pantas saja badanmu kurus kering,” ujar sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar jelas di telinga Leera dan mau tak mau membuatnya menoleh ke arah sumber suara yang sudah sangat ia kenali tersebut.

“Kenapa kau berisik sekali, eo? Kau sendiri mengapa tidak makan siang?”’ tanya Leera pada sosok tinggi menjulang di sebelahnya, Park Chanyeol.

Biar kujelaskan sedikit tentang Chanyeol. Pria dengan lesung pipi yang imut dan mata bulat yang indah tersebut adalah teman pertama Leera di dunia ini–seingatnya. Teman yang berhasil membuatnya bangkit dari keterpurukan, teman yang sedikit banyak menyelamatkannya dari kekelaman dunia ini.

Leera dan Chanyeol selalu bersama-sama dari jenjang sekolah dasar sampai mereka sudah bekerja saat inipun keduanya tak pernah terpisah. Hanya saja sayangnya Chanyeol dan Leera berbeda divisi di kantor ini, Leera dibagian marketing dan Chanyeol dibagian design. Tapi hal itu tak lantas membuat keduanya berhenti berteman, Chanyeol dan Leera kerap kali mengunjungi satu sama lain di kantor atau makan siang dan pulang bersama setiap harinya.

“Ternyata… penyebab pagi tadi kau terburu-buru seperti itu karena kau menjadi salah satu dari tiga notulen di rapat besar hari ini ya? Whoa, hebat sekali, kenapa tidak cerita padaku?” Chanyeol bertepuk tangan sembari tersenyum penuh bangga pada Leera.

“Lebih hebat mana dengan dirimu yang bahkan berhasil menjadi manager dalam waktu satu tahun. Benar-benar tidak bisa di percaya,” balas Leera sembari cemberut karena baru-baru ini Chanyeol mendapat promosi kenaikkan jabatan dan ia berhasil dilantik menjadi manager padahal mereka baru bekerja selama satu tahun di Ilhwa Group. Ya, Chanyeol memang memiliki koneksi di perusahaan ini. Paman kandungnya bekerja sebagai Direktur di Ilhwa Group cabang Jepang.

“Kau sendiri tahu kalau itu bukan pure karena upayaku sendiri. Kau tidak lupa dengan pamanku yang bekerja di Ilhwa Group cabang Jepang itu bukan?” jawab Chanyeol terang-terangan.

“Tapi tetap saja kau hebat, karena tidak mungkin perusahaan mengabulkan permintaan pamanmu begitu saja kalau kerjamu tak sesuai.” Leera langsung meyakinkan Chanyeol bahwa pria itu memang benar-benar berkompeten. Oh ayolah, ia bahkan lulusan fakultas design dari Seoul National University, jelas saja Chanyeol memang aslinya pintar bukan?

“Kalau begitu, kita sama-sama hebat saja biar adil!! Hihihi!!” ujar Chanyeol yang kini merampas kopi yang sedari tadi Leera pegang dan meneguknya hingga habis.

Ya! Ambil kopimu sendiri, kenapa kau senang sekali merebut kopi milkku, huh?!” protes Leera yang langsung melayangkan beberapa pukulan ke punggung bidang yang di balut oleh kemeja biru donker tersebut.

“Leera-ya, ternyata kau disini,” tiba-tiba sebuah suara nyaring yang Leera yakini merupakan suara Nayeon menepuk punggungnya dari belakang.

Ne, Sunbae, kau sudah selesai berbicara dengan Direktur Oh?” tanya Leera basa-basi.

“Yup, dan ada hal penting yang harus ku sampaikan padamu, tapi tidak disini,” ujar Nayeon yang menyadari keberadaan Chanyeol.

Annyeong, Nayeon-ah?” sapa Chanyeol yang terlihat canggung.

“Oh, annyeong-haseyo, Chanyeol-ssi,” balas Nayeon tak kalah canggung, bahkan kini ia menggunakan bahasa formal pada Chanyeol yang awalnya menyapa dirinya dengan bahasa santai.

“Kenapa kau tiba-tiba menggunakan bahasa for—“

“Kami berdua memiliki urusan yang cukup penting. Jadi kami permisi dulu ya,” potong Nayeon cepat dan langsung menarik Leera untuk mengikutinya.

Leera melambaikan tangannya terakhir kali ke arah Chanyeol sebelum akhirnya membalikkan badannya mengikuti Nayeon.

 

-awknisa’s-

 

“Apa kau masih marah pada Chanyeol?” tanya Leera saat mereka kini sudah sampai diruangan mereka sendiri, di lantai enam tepatnya.

“Tidak, aku hanya merasa kurang nyaman bila berada di dekatnya semenjak kejadian itu,” jawab Nayeon sembari menaikan bahunya.

“Aku harap kalian bisa kembali seperti dahulu,” balas Leera dengan wajah murung.

“Aku rasa kami tidak bisa kembali seperti dulu. Sudahlah jangan membahas tentang Chanyeol, kau mau membuat moodku turun ya?”

“Oke, maaf. Jadi, katakan padaku hal penting seperti apa yang ingin kau beritahu?” tanya Leera kembali pada topik awal.

Nayeon kembali tersenyum jahil seketika, “Sebenarnya… tidak ada apa-apa, aku hanya membuat alasan agar bisa menjauh dari Chanyeol.”

Aigoo, sudah kuduga… Padahal kulihat Chanyeol berharap banyak saat ia melihatmu tadi. Bahkan ia menyapamu leb—“

“Sudah kubilang jangan bahas pria bertelinga lebar itu!!” protes Nayeon yang kini memasang tampang cemberut.

Arraseoyo, Sunbae. Oh ya, apa kau sudah makan siang, Sunbae?” tanya Leera pada Nayeon, ia merasa perutnya mulai terasa seperti diremas-remas, yeah seorang penderita maag sepertinya memang wajar merasakan hal ini saat mereka telat makan.

“Belum, bagaimana kalau kita makan siang sekarang? Kebetulan masih ada waktu dua puluh menit lagi,” ajak Leera.

Akhirnya mereka langsung menuju ke kantin kantor, karena apabila makan diluar sepertinya akan terlalu menghabiskan waktu.

Sesampainya di kantin, seperti dugaan Leera awalnya, kantin kantor telihat benar-benar ramai ketika jam makan siang. Namun untungnya antrian hari ini tidak terlalu panjang, mungkin karena ia datang cukup terlambat. Leera dan Nayeon langsung mengambil nampan mereka masing-masing dan mengantri untuk mengambil santapan.

Setelah mengantri sekitar lima menit akhirnya makan siang dengan lauk utama daging ayam teriyaki yang di lengkapi dengan beberapa menu kecil tambahan berhasil tertata dengan rapi di nampan mereka. Nayeon dan Leera memilih untuk menyantap makan siang mereka di meja panjang berkapasitas delapan orang yang kebetulan hanya terisi dua orang sekarang.

Aigoo, hari ini sepertinya aku sedang beruntung. Akhirnya menu favoritku di hidangkan setelah dua minggu aku menunggunya!!” ujar Nayeon yang kegirangan sembari mulai menyantap makanannya. Leera hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah wanita tersebut, benar-benar seperti anak kecil.

Baru saja Leera hendak memakan suapan ketiganya, seketika terdengar suara dari seluruh karyawan yang sedang menghabiskan waktu di kantin menjadi heboh. Otomatis ia mengalihkan padangannya keseluruh penjuru ruangan untuk mengetahui penyebab kehebohan tersebut.

Ternyata… penyebab kehebohan tersebut dikarenakan kedatangan seorang pria berambut blonde yang kini sedang mengantre di antrian makanan bersama karyawan lain.

Ya, Direktur Oh—direktur termuda dan tertampan di perusahaan ini sedang mengantre makanan di kantin kantor bersama dengan sekertaris seksinya, Kim Jongin. Bukankah ini hal yang langka? Bahkan selama delapan bulan Leera bekerja di perusahaan ini ia tidak pernah bertemu langsung dengan Sehun kecuali saat rapat tadi pagi. Kenapa hari ini sepertinya sangat mudah melihat batang hidung Oh Sehun? Terutama bagi dirinya.

“Whoa, apa aku tidak salah lihat? Direktur Oh makan di kantin kantor?! Daebak!!” terdengan bisik-bisik dari para karyawan yang berada disekitar Leera.

Kata demi kata mulai dari rasa keterkejutan hingga pujian akan ketampanan Sehun kerap terdengar dimana-mana, seperti ucapan salah satu karyawan wanita yang satu meja dengan Leera, “Ini pertama kalinya aku melihat Direktur Oh selama satu tahun aku bekerja disini, dan dia… benar-benar tampan!! Seperti bukan manusia!!” pekik pelan gadis berkemeja merah muda tersebut.

Oh ayolah siapa yang tidak terkejut melihat kehadiran Sehun hari ini. Apalagi Sehun memang terkenal sebagai penghuni kantor yang paling sulit di jumpai lebih dari Presdir Oh—pemilik perusahaan sekalipun. Ya, alasan utamanya karena Sehun memang lebih sering bertugas di luar negeri daripada di Seoul, lalu kabarnya Sehun juga selalu menggunakan VIP Lift saat ia hendak menuju ke ruangannya dan juga ia selalu pulang kantor saat larut malam, sekitar pukul sembilan malam keatas.

Leera akhirnya memilih untuk kembali menyantap makanannya karena perutnya yang kini terasa nyeri lebih penting daripada Oh Sehun, bahkan ia tak sadar jika Nayeon yang berada di hadapannya sudah ikut terhipnotis dengan kehadiran Sehun.

“Boleh aku duduk disini?” suara parau itu memasukki pendengaran Leera, seketika jantungnya berdegup kencang tanpa sebab dan sontak ia menoleh ke arah datangnya suara dan ia mendapati wajah Oh Sehun yang tepat 30 sentimeter di hadapannya.

N—ne…” tanpa sadar ia menjawab dengan gugup. Sebenarnya faktor kegugupannya di dominasi oleh rasa terkejut karena kehadiran Sehun yang tiba-tiba, bukan karena hal lainnya.

Setelah mendapat persetujuan dari Leera, dengan cepat Sehun mengambil posisi duduk tepat di sebelah Leera dan mulai menyantap makan siangnya, di ikuti pula oleh Jongin.

“Jadi begini ya suasana makan siang di kantin kantor setiap harinya? Selalu ramai…” ujar Sehun di sela-sela pria itu mengunyah makanannya.

Dengan cepat Nayeon menyambar omongan Sehun, “Ne, Isajangnim. Bahkan terkadang kantin kantor lebih ramai daripada hari ini, apalagi di hari kamis karena kantor menyediakan menu spesial seperti steak dan lain-lain.”

“Ternyata makanan disini tidak buruk juga rasanya, ayahku pintar juga memilih koki, hahaha,” ujar Sehun sembari tertawa kecil.

“Bukankah begitu, Nona… Kim?” tanya Sehun pada Leera yang tepat duduk disebelahnya namun sedari tadi justru asik menyantap makanannya tanpa menghiraukan kehadiran Sehun.

Ah, Ne.” Leera menjawab dan sebisanya ia tersenyum tipis sembari mati-matian menahan rasa sakit yang kini melanda bagian perutnya.

Sehun yang sepertinya menyadari kejanggalan pada wanita yang duduk disebelahnya langsung mengerutkan dahinya, “Kau sedang sakit ya? Wajahmu pucat sekali,” ujar Sehun dengan suara cukup keras sehingga membuat beberapa karyawan wanita yang mendengar melemparkan tatapan penuh iri pada Leera yang diberikan perhatian oleh Sehun.

Anniya, aku… hanya… telat makan saja, Isajangnim,” jawab Leera yang sekuat tenaga kini sedang menahan rasa sakit karena perutnya serasa diremas-remas oleh 10 orang.

“Jongin-ah, apa kau membawa obat maagku?” Sehun menolehkan kepalanya pada Jongin yang berada tepat di hadapannya saat ini.

Eo, aku membawanya. Maagmu kambuh?” tanya Jongin balik.

“Cepat berikan padaku, sepertinya nona ini membutuhkannya.”’

Perkataan Sehun barusan semakin menyita perhatian seluruh karyawan yang berada di kantin kantor ini. The Power of Sehun memang tidak bisa diragukan.

Merasa dirinya sedang menjadi pusat perhatian saat ini, dengan cepat Leera bangkit dari duduknya, karena for your information, ia tidak suka menjadi pusat perhatiaan seperti sekarang ini.

“Tidak perlu, Isajangnim. Aku memiliki obatku sendiri di tas, kalau begitu aku permisi dulu. Kajja, Nayeon Sunbae.” Leera membungkukan tubuhnya pada Sehun lalu berlari kecil sembari menarik tangan Nayeon untuk kembali ke ruangan mereka.

.

-awknisa’s-

.

Kini Sehun baru saja kembali keruangannya setelah pertama kalinya ia menghabiskan makan siang di kantin kantor selama tiga tahun ia bekerja di kantor ini. Sehun mengambil dua buah kaleng sparkling water rasa lemon dari kulkas yang ada diruangannya dan memberikan salah satunya pada Jongin.

Yup, hubungan Sehun dan Jongin bukan hanya sebatas atasan dengan bawahan saja. Sehun dan Jongin bahkan sudah berteman sejak kuliah dulu. Bahkan bisa dibilang Sehun berperan banyak dalam kelangsungan hidup Jongin karena Sehunlah yang mengeluarkan Jongin dari dunia kelamnya di masa lalu.

“Kenapa kau terlihat aneh sekali sejak rapat tadi pagi, Sehun-ah?” tanya Jongin.

“Aneh? Memangnya aku berbuat apa? Aku merasa tidak ada hal aneh pada diriku hari ini,” ujar Sehun enteng sembari duduk di sofa dan menyilangkan kakinya santai.

“Ya, kau aneh. Apalagi dengan hal yang terjadi barusan, benar-benar diluar nalarku. Kau tiba-tiba makan di kantin dan dengan senang hati menampakkan wajahmu di hadapan mereka. Setelah itu kau pakai sok perhatian segala pada gadis yang duduk disebelahmu tadi,” jelas Jongin dengan wajah penuh keheranan akan tingkah sahabatnya itu.

“Hm, aku hanya merasa saja bahwa aku harus mulai menunjukkan wajahku pada karyawan-karyawan di perusahaan ini. Lagipula nantinya perusahaan ini akan jadi milikku juga ‘kan?” Sehun tersenyum miring setelah itu meneguk minumannya.

“Klise sekali alasanmu Tuan Oh, kau pikir aku percaya?” Jongin berdecak dan mengeluarkan senyuman miring kebanggannya juga sembari melirik ke arah Sehun yang kini terlihat sedang menerawang sembari tersenyum penuh arti.

“Ah jangan bilang kalau kau…..”

Sehun kembali melirik ke arah Jongin, “Tidak, Jongin-ah. Ini bukan seperti yang kau pikirkan, percaya padaku.” Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tapi aku yakin kalau apa yang sedang aku pikirkan ini benar, kau tertarik pada Nona Kim.” Jongin menaikkan sebelah alisnya sembari melemparkan tatapan tak percaya ke arah Sehun.

Melihat Jongin yang terus melemparkan tatapan tersebut kepada dirinya, Sehun akhirnya menyerah, “Oke, karena kau terus menuduhku yang tidak-tidak, akan kuberitahu kau suatu rahasia.”

Sehun bangkit dari kursinya sembari mendekat ke arah Jongin. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Jongin dan berbisik, “Sebenarnya…”

Sehun menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan omongannya, “Nona Kim… adalah anak dari wanita itu.”

BOOM!

Perkataan Sehun barusan berhasil membuat Jongin terpaku ditempatnya. Sedangkan Sehun, kini sudah kembali duduk di tempatnya semula sembari tersenyum miring dan menerawang jauh entah kemana.

Mengapa Jongin bisa seterkejut itu mendengar perkataan Sehun barusan? Dan juga… siapakah ‘wanita’ yang dimaksud oleh Sehun?

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

 

Helluv!! Mungkin kalian asing banget sama aku atau mungkin ada yang masih ingat aku author dari ff apa dulunya hihi /kepedean/

Gimana chapter satunya? Well, mungkin masih kurang greget karena masih permulaan dan belum ada kejelasan apapun diantara para tokoh dan konflik yang akan timbul. So, kalau mau tau kelanjutannya terus ikutin FF ini yah, thankschu!!

By the way, untuk cover maaf masih pake gambar random gitu blm ada castnya soalnya ini aku post dan buatnya dadakan bgt so yeaahh belum sempet bikin posternya huhu😦 tapi next chap pasti ada posternya kok!! Hehe😀 )

[oh ya, aku akan usahakan ff ini fast update, jadi mohon dukungannya berupa like n comment]

 

 

94 responses to “UNSPEAKABLE SECRET | 1st Chapter

  1. Pingback: Unspeakable Secret | 3rd Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Hellowww nisa long time no see your fanfic :)) aku kangen banget sama cerita km😂 dan entah kenapa Sehun selalu cocok untuk ff kek ginian ._.
    ‘Wanita’ ? Siapa ya kira2? Hmmm bikin penasaran :3

  3. Leera anak dri wanita itu…tpi wanita itu sapa ya????apa ada hubungan dng masalalu leera dulu????apa keluarga oh yg bunuh keluarga leera????

  4. Aku baru baca udah disuguhin enaena 😂😂😂 keren nihhh bikin penasaraaann. Keep writing ya kaaakk!!

  5. New reader dateng temaa teman, aku kurang teliti apa gimana ya soalnya aku baru nemu ini ff.penasaran sama siapa ‘wanita itu’ yang diaebut sama sehun apakah sehun ada hubungannga dengan kemarian orang tua leera?. baru chapter 1 udah bikin seneng aja bacanya.

  6. Pingback: Unspeakable Secret | 4th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Wahh aku suka aku suka penasaran banget:’D jangan” mksudnya sehun yg bunuh ortunya leera?semangat eonn

  8. Pingback: Unspeakable Secret | 5th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Kirain sehun emang suka sma leera..
    Ehhh gtw.a ada maksud terpendam…
    Tapi siapa ‘wanita’ (ibunya leera) ..??? Hubungannya apa sma sehun??
    Jangan bilang sehun pnya mantan ahjuma alias tante2 😒😒

  10. Nahloh siapa wanita yg di maksud itu ya? Gak mungkin jalang yg ditidurin sehun kan? Masa sehun nidurin tante2? Hahaha

    Duh leera sama chan kayaknya oke jugaaa, tapi kayaknya si chan pernah berhubungan sama nayeon ya? Atau gimana? Mereka punya masalah apa?

  11. Jujur aku masih kurang paham, aku setuju sm author nya kalo FF nya blm begitu greget karena blm tahu konfliknya & peran tokoh2 nya. Tapi bkn brarti aku gk bakal baca kelanjutannya. Aku bakal baca kelanjutannya kok krn jujur aku jg penasaran, hehe….. Semangat ya Thor bikin kelanjutannya. Aku doain makin seru!!!!

  12. Jujur aku masih kurang paham. Tapi bkn brarti aku gk bakal baca kelanjutannya. Aku bakal baca kelanjutannya kok krn jujur aku jg penasaran, hehe….. Semangat ya Thor bikin kelanjutannya. Aku doain makin seru!!!!

  13. Wanita siapa ?? Wanita itu siapa ?? Ah jinjja jongin sampai kaget ?? Dan aku penasaran bangeet -_-
    Annyeong aku reader baru

  14. Pingback: Unspeakable Secret | 6th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. maaf kak sbelumnya.. baru komen skarang😂
    waaaaa…. chap 1 ny bikin penasaran bgt sama kelanjutannya. Leera brarti udh yatim??? di atas itu ceritanya Leera waktu kecil bukan??? dia mimpiin itu. daan, siapa yg di maksud Sehun sama ‘wanita’ itu.?? Sehun jdi direktur tpi nakalny minta ampun- -” ngowahahahaha

  16. Pingback: Unspeakable Secret | 7th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. haloo, aku baru aja nemu ff ini.. & aku lihat uda banyak chapter yg aku lewatkan eoh, jujur awalnya cuma nyoba” siapa tau ceritanya nyantol diakuu.. & see, ahihihii aku tertarikkk nihhh.. bolehh yaaa baca lagiii
    .masih banyak teka teki, belum terlalu paham tp aku menikmati.. maklum baru awal chapter, & itu yg bikin menarikkk..aku ijin bacaa yaaaa.. hehe

  18. Pingback: Unspeakable Secret | 8th Chapter | SAY KOREAN FANFICTION·

  19. Annyeong Author-nim. Ak readers baru, ijin baca ya^^ sbnrnnya ak msh kurang paham, mgkn krna msh chapter prtama ya. Tp ini menarik kok, bikin penasaran:D salam kenal^^

  20. aku baru baca masa —
    uwaaa awal cerita bikin kepo
    masih blur banget inii
    ijin lanjut baca chapter berikutnya yaaaaa

    leera anaknya siapa sih? —

  21. Baru tau aku kali di SKF ada cerita sekeren ini. Maksud aku, aku baru tau kalo ada ff ini di SKF.

    Suka banget ni kalo cerita ff yang kayak gini. Cowonya jahat, angkuh, tapi ganteng. Terus cewenya baik, dan tertindas. Tapi nanti cowonya jatuh cinta juga sama cewe itu.

    Ijin baca ya. Tenang aku ninggalin jejak kok🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s