[FREELANCE] I’ll Heal You, Mr. Obsede! (Chapter One-Who Are You?)

ch4

(Chapter One-Who Are You?) I’ll Heal You, Mr. Obsede!

Author: Amarrylis Daisy (FB: Ervina Herdiyastuti)

Title: (Chapter One: Who Are You?) I’ll Heal You, Mr. Obsede!

Cast    :Park Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Ervina Kim covered by Aom Sucharat Manaying, Melisa Park by Ulzzang Park So Ra,Oh Sehun EXO as Oh Sehun

Genre: Dark Romance, Friendship, Family, Psychological, Hurt

Rating : NC-17!! WARNING!!! (Many harsh and hurt scene!)

Length: Chaptered (On Going)

Disclaimer    : The story and the imagination is mine. But, Chanyeol and Sehun are belong to God, EXO and the world. Ervina and Melisa are pure OC that covered by actress and ulzzang. Don’t dare to plagiat this!

 

***

Dunia itu ada di antara hitam dan putih. Abu-abu. Dunia akan terlihat sama samarnya seperti warna abu-abu jika kau memandangnya hanya berdasar dari warna akhir yang terlihat di mata. Bagaimana prosesnya dan warna apa saja yang bisa membentuknya tak kau hiraukan seperti apa. Lalu jika setelah matamu tertutup dan hatimu tak lagi mampu merasa kebenarannya, semuanya akan menjadi kelam. Mati. Termakan keegoisan dan obsesi—Ervina Kim.

***

Korea Selatan, Seoul, 17 April 2014.

Ervina Kim mengayunkan kedua tungkai kakinya perlahan, masuk ke dalam sebuah restauran mewah bergaya Eropa klasik yang kini menjulang tinggi setinggi 3 lantai di hadapannya. Dindingnya berwarna merah marun dan pilar-pilarnya terlihat tebal dan kokoh. Di beberapa bagian, tersemat akses hiasan berwarna keemasan yang menambah kesan mahal bagi siapapun yang sedang menilainya. Termasuk seperti apa yang sedang dilakukan oleh si Gadis keturunan Korea-Thailand ini.

Merasa jengah dengan apa yang sedari tadi telah memanjakan kedua matanya, Ervina mengalihkan fokusnya untuk menatap ke arah pintu masuk restauran dan segera menemui seseorang yang sejak lima menit lalu tak henti-hentinya mengiriminya pesan untuk segera datang ke tempat itu.

Ervina menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya. Ervina bahkan sangat sadar, sejak peristiwa mengejutkan dan fakta yang telah Melisa beberkan beberapa waktu silam padanya, ia merasa hari-harinya kian berat saja. Ia butuh lebih banyak oksigen—oh tidak! Ia butuh lebih banyak kekuatan dan kesabaran mulai dari sekarang. Sebenarnya persetan dengan uang bayaran 50 juta won yang telah diberikan Melisa kepadanya saat itu. Mau 1 milyar won pun, rasanya lebih baik Ervina menghilang saja dan menolak mentah-mentah untuk membantu sahabatnya itu. Namun kepalang tanggung, nasi sudah menjadi bubur. Ungkapan klise, bukti sebuah penyesalan yang harus ia makan dan telan bulat-bulat mulai dari sekarang.

Setelah memasuki restauran dan disambut kedatangannya oleh seorang pelayan muda yang rapi dan tampan, pelayan itu segera menghela Ervina untuk masuk lagi ke dalam ruangan restauran yang lebih mewah dan pastinya berhasil membuat Ervina lupa bagaimana caranya berkedip.

Ruangan itu besar dan luas, beralaskan karpet beludru berwarna merah marun dan Ervina meyakinkan satu hal, bahwa ia seharusnya melepas stilettosetinggi 15 sentimeterpemberian Melisa sebelum ia memasuki restauran mewah ini. Ia takut karpetnya akan kotor dan rusak karena apa yang dikenakan oleh sepasang kakinya itu.

Lalu, seperti keindahan karpet yang belum cukup untuk membuat Ervina terkesima, guci-guci besar yang mahal menjadi pemanis di setiap sudut ruangan dan menambah kesan antik ruangan itu. Sedangkan lampu gantung kristal yang menyala terang menerangi setiap bagian ruangan menambah kesan megah dan elegan. Ervina tercenung, ia baru sadar. Melisa, sahabatnya itu bukanlah gadis biasa. Seharusnya ia sudah bisa memprediksi hal ini setelah ia tahu bahwa seorang pengusaha kaya-raya seperti Park Chanyeol adalah kakak kandung Melisa. Dan jika pernikahan sedarah itu tidak bisa dicegah, Melisa akan menjadi nyonya Park yang akan mewarisi kekayaan Park Chanyeol juga. Oh God, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sulit rasanya jika aku membatalkan janjiku dengan Melisa sekarang..

“Ervina!” Seketika lamunan Ervina terbang melayang. Panggilan Melisa yang duduk di salah satu meja bundar di tengah ruangan bersama seseorang, mengembalikan kesadarannya. Mau tak mau Ervina tersenyum dan berjalan mendekati sahabatnya itu. Langkah demi langkah yang ia cipta, membuat Ervina dapat melihat semakin jelas siapa seseorang yang duduk di samping Melisa. Dialah… Park Chanyeol.

Lelaki bermarga Park itu hanya menoleh sedikit ke arah Ervina yang kebetulan berdiri tak jauh di belakang kursinya. Lelaki Park itu memperhatikan penampilan Ervina yang terlihat sederhana. Gadis keturunan Korea-Thailand itu hanya mengenakan gaun terusan berwarna peach tanpa lengan dengan bagian kerahnya yang berbentuk seperti kerah kemeja berkancing satu paling atas. Rambutnya yang berwarna hitam legam dan panjangnya sebahu membuatnya terlihat manis dengan hiasan bandana kecil berwarna perak yang menghiasi kepalanya. Suatu pemandangan yang sangat jarang terjadi mengingat seorang Park Chanyeol selalu bertemu dengan siapapun dengan penampilan yang mahal dan menawan. Ervina adalah pengecualian.

Tanpa berusaha menghilangkan rasa nyaman di kursinya, pria Park itu hanya menyunggingkan senyum asimetris menyambut kedatangan Ervina yang kini sedang membalas pelukan Melisa. Ervina yang tak sengaja menangkap ekspresi yang tidak biasa itu hanya bisa mengerutkan alisnya samar.

“Kenapa kau lama sekali, sih? Kami sudah menunggumu di sini hampir satu jam, apa kau tahu?” Melisa melepaskan pelukannya dari tubuh Ervina. Dengan bahasa tubuhnya yang anggun, gadis cantik dengan gaun berwarna kuning cerah—yang sudah pasti harga gaunnya bisa untuk membayar biaya sewa flat Ervina selama 3 bulan itu—meminta Ervina untuk duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan kursi miliknya dan juga kursi milik Park Chanyeol.

Setelah berhasil mendudukkan dirinya dengan nyaman dan menyiapkan perasaannya karena kini ia sedang berhadapan langsung dengan Park bersaudara, mau tak mau Ervina berusaha mengulas senyum.

“Maafkan aku. Tadi di kantor sedang banyak pekerjaan. Kebetulan dalam waktu dekat ini ada beberapa pelanggan yang memesan gaun pernikahan. Dan yeah, kau tau, permintaan mereka selalu ada-ada saja. Mereka meminta desain yang rumit dan atasan membuatku menghandle itu semua.” Ervina mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja tanpa menunggu dipersilakan. Tak peduli karena rasanya ia hampir saja mati kehausan untuk merancang alasan keterlambatannya sesuai dengan permintaan Melisa untuk menarik Chanyeol masuk ke dalam sandiwara mereka.

Daebak! Itu artinya kau sangat dipercaya oleh atasanmu. Pasti gaun pernikahan rancanganmu itu sangat indah dan berkelas. Bukankah begitu, Oppa?” Secara impulsif Melisa menggamit lengan tangan kanan Chanyeol yang sedari tadi hanya duduk diam, mendengarkan percakapan para gadis. Namun yang membuat Melisa agak takut adalah, ia menyadari tatapan kedua mata Chanyeol terhujam lurus ke arah Ervina sejak gadis itu duduk di hadapan mereka. Melisa merasa cemas, apakah Chanyeol mulai mencium rencana mereka.

Ervina berdeham karena canggung. Karena bukan Melisa saja yang menyadari tatapan tajam Chanyeol ke arahnya. “Kau terlalu melebih-lebihkannya, Sa. Lagipula harus dengan cara apa lagi agar aku bisa mendapatkan uang untuk hidup? Lagipula, aku menyukai pekerjaanku ini.”  Ervina kembali memaksakan seulas senyum canggung menyapa dua manusia di hadapannya. Melisa ikut tersenyum, namun dengan kikuk dan tetap membiarkan kedua tangannya menggamit lengan tangan Chanyeol. Melisa bingung harus menanggapi perkataan Ervina seperti apa sekarang. Sedangkan Chanyeol? Pria itu hanya diam dan memandang lurus ke arah Ervina. Membuat Ervina seperti sedang dikuliti saja.

Baru saja Melisa mengambil buku menu dan akan membukanya, fokusnya teralihkan tiba-tiba oleh sebuah suara yang terdengar datar dan dalam.

“Melisa..”

“Y-y-ya?!” respon Melisa tergagap karena panggilan Chanyeol yang tiba-tiba setelah beberapa saat mereka diselimuti keheningan. Suara lelaki itu terdengar sangat lembut ketika melafalkan nama ‘Melisa.’ Ervina dapat merasakannya. Bahkan tatapan matanya yang semula tertuju tajam ke arahnya berubah sendu hanya dengan beralih memandang Melisa. Dalam beberapa saat, Ervina dapat merasakan ketulusan cinta Chanyeol untuk Melisa, bukan obsesi seperti yang Melisa katakan. Ervina yakin, jika keduanya tidaklah terlahir menjadi saudara kandung, maka mereka akan menjadi pasangan sehidup-semati yang akan sangat berbahagia. Itu pasti.

“Nona Ervina adalah designer muda berbakat dan seperti yang tadi ia ceritakan, sepertinya ia akan senang jika ia bisa membuatkan gaun pengantin untukmu—untuk pesta pernikahan kita. Bagaimana? Apa kau setuju jika masalah gaun pernikahanmu kita meminta jasa darinya saja?” Chanyeol tersenyum sambil mengusap dengan lembut pipi berwarna pualam Melisa. Melisa menganga, setengah terkejut, setengah bingung. Ekor matanya melirik ke arah Ervina yang juga baru saja menyaksikan drama romantis mengerikan di hadapannya. Ervina bergidik ngeri.

Melihat Ervina yang kian lama kian menundukkan kepalanya, Melisa yakin bahwa Chanyeol telah berhasil masuk ke dalam rencana awal mereka—mendekatkan Chanyeol dengan Ervina menggunakan alasan persiapan pernikahan dengan Chanyeol.

Melisa kembali menatap Chanyeol dan ia harus tersenyum untuk menyempurnakan ini semua. “Wah, ide yang bagus, Oppa! Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi karena Oppa mengatakan bahwa gaunku sudah jadi, karena itu aku diam saja.” Chanyeol berkedip pelan mendengarkan Melisa dan tersenyum lembut sekali lagi. “Kalau seperti itu, aku akan segera mengirimkan detail seperti apa gaun yang aku inginkan di pernikahan kita pada Ervina. Tapi Oppa, apakah kau bisa sesekali waktu menggantikanku menemui Ervina di kantornya untuk melihat perkembangan pembuatan gaunnya? Kau bisa mengirimkan foto gaunnya padaku dan aku akan memberitahu di bagian mana saja yang kurang cantik menurutku. Karena maafkan aku, Oppa, aku ada perjalanan bisnis dengan Bosku ke Kanada selama satu minggu di sana. Jadi, tidak apa-apa, kan, Oppa?”

No problem.” Seketika Ervina mengangkat salah satu alisnya. Heran.Semudah itu, kah?“Terserah kalian berdua saja. Masalah biaya tidak perlu dipusingkan, Sayang. Aku akan membatalkan gaun pengantin yang sebelumnya aku pesan dari kenalanku. Yang penting semuanya beres—kau dan Nona Ervina menyukai gaunnya. Aku hanya mengikuti rencana kalian saja, angeuraeyo,Ervina agasshi?” Chanyeol menolehkan kepalanya sedikit ke arah Ervina. Kedua matanya yang besar seolah mengintimidasinya dan memberikan pengaruh yang besar agar Ervina menganggukkan kepalanya tanpa sadar. Senyum asimetris pun terkembang sempurna di bibirnya untuk ke sekian kali.

Pria Park itu kembali sibuk dengan mengamati setiap gerak-gerik Melisa yang duduk di sampingnya seolah takut gadis itu akan pergi meninggalkannya dalam kejapan mata. Sesekali ia mengelus dengan sayang puncak kepala Melisa dan menyampirkan helaian rambut yang mengganggu dirinya untuk memandangi wajah cantik Melisa di hadapannya. Dan tanpa sesuatu yang berarti, sesekali pula lelaki itu memandang Ervina dan tersenyum misterius ke arahnya. Membuat Ervina bingung harus dengan senyuman apa ia akan membalasnya.

Untuk sepersekian detik, Ervina merasa bahwa rencananya dengan Melisa sudah ketahuan. Bahkan dengan sangat mudahnya di mata Park Chanyeol. Namun tak lama, lelaki itu kembali tersenyum cerah dan menampakkan gigi-gigi putihnya yang rapi dan terawat, bagaikan anak kecil yang sangat bahagia setelah dibelikan mainan. Pria Park itu dapat merubah ekspresi wajahnya dengan cepat dan lihai. Dan sayangnya, hal itu tidak cukup cepat tertangkap di mata Melisa.

Joa! Semuanya beres dan aku bisa tenang mengurus pekerjaanku di Kanada. Aku serahkan padamu ya, Vin, dan juga padamu Chan Oppa. Call, ayo kita pesan makanan. Dari tadi kita hanya mengobrol saja, lupa kalau perut kita perlu diberi makan.” Kata Melisa lagi menutup topik pembicaraan tentang gaun saat itu.

Melisa tersenyum lebar dan terlihat sangat berbahagia. Begitupula dengan Park Chanyeol yang duduk di sampingnya dan sesekali membelai lembut kedua pipinya yang terasa lembut menyentuh kulit tangan Chanyeol.

Hal itu jelas kontras sekali dengan apa yang sedang Ervina rasakan sekarang. Ia sama sekali tidak senang ataupun sebahagia Melisa. Ia pun tidak bisa dengan total memerankan aktingnya di hadapan Park Chanyeol.

Entah kenapa, Ervina merasakan ada sesuatu yang aneh. Ada aura berbeda yang lelaki itu tunjukkan di hadapannya sejak pertama kedatangannya tadi, namun tidak di hadapan Melisa. Ervina memang tidak begitu mengenal seorang Park Chanyeol secara pribadi. Ia hanya mengenal lelaki itu dari cerita-cerita Melisa selama ini.

Sejauh yang dapat Ervina gambarkan dari seorang Park Chanyeol, Park Chanyeol adalah lelaki yang memiliki sifat dewasa dan juga penyayang. Ia cerdas, berwibawa dan sangat menjunjung tinggi nilai dan prinsip akan keharmonisan sebuah keluarga, apalagi sebagai anak pertama dan pewaris pertama Park’s Family Group. Ia harus sudah mengemban tugas sebagai pewaris sejak 8 tahun yang lalu, sejak umurnya masih begitu belia.

Ervina mencoba memikirkan semua hal yang mampir di benaknya hanya dari segi positif. Mungkin saja yang ia rasakan tadi hanya sekelebat perasaan segan dan hormat pada seseorang yang sangat menyayangi keluarganya dan bertanggungjawab penuh terhadap Melisa sejak kedua orangtua mereka tiada. Mungkin juga itu adalah hasil dari begitu banyaknya tempaan keras yang menjadikan seorang Park Chanyeol terlihat menjadi sosok yang sulit dimengerti dan begitu dalam seperti sekarang.  Ervina tak tahu. Gadis itu tak tahu dan tak mau tahu untuk sekarang ini.

Ervina dan Melisa mulai larut dalam obrolan ringan seputar pekerjaan mereka masing-masing di kantor. Dan Chanyeol hanya diam menyimak sambil menyantap makanan yang ada di depannya hingga tandas. Sesekali ia mencuri waktu untuk memperhatikan Ervina, tanpa Ervina atau Melisa pun tahu dan bisa menyadarinya.

Park Chanyeol tersenyum. Senyum asimetris, lagi. Dan apa kau tahu? Senyum itu akan menghiasi wajah seorang Park Chanyeol yang tampan jika ia merasakan ada seonggok benalu yang akan mengganggu setiap rencana dan kehidupannya. Dan bagi Park Chanyeol, Ervina Kim terlalu pemberani untuk mengusik Melisa dan juga dirinya. Park Chanyeol akan menunggu dan mengikuti alur, seberapa pintar kedua gadis cantik tersebut berusaha mengelabuinya. Namun jika ia sudah merasa jengah, maka akan ada saatnya nanti baginya untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Dan tentu saja, ia tidak akan pernah menunjukkan hal itu di depan mata Melisa. Ervina Kim lebih pantas. Karena gadis itu telah menunjukkan betapa murahnya dirinya dan menukar kebebasannya hanya  dengan sekadar 50 juta won saja.

***

Yeobsseoyo?”

“Nona, ada seseorang  ingin bertemu dengan Anda saat ini. Ia sedang menunggu Anda di depan ruangan Anda. Apakah saya perbolehkan beliau untuk masuk?”

“Siapa dia? Apakah dia sudah membuat janji denganku? Coba kau tanyakan—“

Tok tok tok!

 

Well, apakah aku perlu izin untuk datang ke kantorku sendiri?”

Ervina mencebikkan bibirnya malas sambil menutup sambungan telepon dengan sekretarisnya di luar ruangannya, setelah ia mengenali siapa yang baru saja menyapanya di pintu ruangan. Gadis Korea-Thailand itu kembali berkutat dengan kertas-kertas sketsa desain gaun rancangannya yang tercecer berantakan di atas meja kerja—berusaha untuk tidak mengacuhkan kedatangan si tamu tak diundang.

“Seperti biasa, Vin,you’re so prettywork-a-holic girl. Itulah kenapa aku sangat mencintaimu dulu dan sekarang.” Kata seseorang itu lagi berusaha mencuri atensi lawan bicaranya yang terlihat masih enggan mengakui kedatangannya.

“Mau apa kau datang ke sini, Oh Sehun?” Seperti enggan memberikan respon pada susunan kalimat terakhir pria itu, akhirnya susunan kata yang sejak tadi bersarang di benaknya pun sukses ia muntahkan sebagai amunisi pertama. Suatu kode tersirat yang menandakan ia ingin lelaki itu cepat hengkang dari hunian ternyamannya selama berkerja di ruangannya yang hangat.

“Bukankah sudah kubilang, ini juga kantorku. Aku atasanmu. Jadi aku bebas berkeliaran di manapun asalkan masih di area yang menjadi aset kekayaanku.” Lelaki bernama Oh Sehun itu tersenyum sumringah, seperti kebiasaannya dan juga masih sama saat 3 tahun lalu Sehun memperkenalkan dirinya di hadapan Ervina. Lelaki periang dan terkadang kekanakkan.

“Baiklah, terserah kau saja lah. Tapi jangan mengangguku. Aku sedang merancang desain gaun pengantin untuk klienku.”

Sehun yang semula sudah duduk manis di sofa, kembali menegakkan badan dan menghampiri Ervina. Dilihatnya desain-desain sketsa gaun pengantin yang ada di atas meja kerja Ervina.

“Kenapa kau membuatnya banyak sekali? Biasanya kau hanya akan membuat dua atau tiga rancangan pada klien setelah klien memberikan detail rancangannya ingin seperti apa. Ini… kenapa ada sepuluh?” cerocos Sehun sambil melihat satu per satu sketsa itu.

Ervina memijit kedua pelipisnya yang terasa pening. Entahlah, ia juga tidak tahu kenapa ia harus menjadi serepot ini hanya demi pernikahan sandiwara yang dirancang Melisa untuknya dan Chanyeol. Yang merumitkan, Chanyeol terus saja menolak sketsa rancangan yang Ervina gambar. Entah apa yang sebenarnya diinginkan lelaki kaya itu, batin Ervina.

Hening sejenak. Sehun sibuk menilai sketsa yang digambar oleh Ervina, tak sadar bahwa gadis yang sedang bersamanya sekarang sudah membawa pikirannya terbang jauh kemana.

“Sehun­-ah, apakah kau bisa membantuku?”

Sehun mengangkat satu alisnya heran. Ia mengenal dengan baik bagaimana sosok partner kerjanya itu selama tiga tahun belakangan. Selain cerdas dan piawai dalam menggambar sketsa sampai ke detail yang paling terkecil dan rumit, Ervina Kim juga gadis mandiri yang tidak akan meminta bantuan orang lain jika masalahnya itu masih bisa ia selesaikan sendiri.Apa masalah kali ini begitu rumit? Batin Sehun.

Sehun memutar sandaran kursi kerja yang sejak tadi memanjakan tubuh Ervina untuk menghadap ke arahnya. Lelaki itu berjongkok di hadapan Ervina dan tersenyum lembut.

“Kau tahu, bukan, aku sudah berjanji pada Kim Ahjussi dan Kim Ahjumma untuk selalu menjagamu setelah mereka tiada? Jadi jangan bersikap seperti orang asing seperti itu jika kau memang membutuhkanku. Aku pasti tidak keberatan untuk membantumu. Aku juga sudah menjanjikan hal itu padamu sejak 3 tahun lalu, right?” Sehun tersenyum. Ia menyentuh kedua tangan Ervina yang berada di atas pangkuan gadis itu dan meremasnya perlahan. Mencoba menyalurkan ketenangan dari sana.

“Ah, sorry..“ Ervina menarik kedua tangannya dari genggaman Sehun dengan perasaan canggung. Entah kenapa hatinya sakit sekali setiap kali Sehun memperlakukannya dengan begitu baik bahkan sampai sekarang. Hal seperti ini seharusnya hanya terjadi di masa lalu. Di masa sekarang ataupun di masa depan, Ervina tak berani hanya sekadar untuk membayangkannya saja. Ia dan Sehun hanya kisah lama. Meskipun sekarang mereka berteman dan jika benar ia masih menyimpan perasaan itu untuk Sehun, itu tidak akan mengubah apapun menjadi lebih indah sekarang.

Mendapat perlakuan seperti itu membuat Sehun berkecil hati. Kepalanya tertunduk dan rahangnya mengeras kecewa. Sehun pun tak mengerti mengapa rasanya gadis di hadapannya ini seperti tidak bisa lepas dan memaafkan masa lalu mereka yang cacat. Setidaknya Sehun masih berusaha ada untuknya di saat gadis itu membutuhkannya, bukan?

Namun Sehun berhasil mengontrol emosinya dalam sekejap dan mengangkat kepalanya dengan senyuman lebar terpatri di wajahnya, menyambut sinar perasaan tak nyaman yang memancar dari kedua bola mata Ervina. Sinar mata yang sama yang akan menyambut kedua netranya sejak tiga tahun silam.

 “Kau ingin meminta bantuan apa?” tanya Sehun memecah sunyi. Merasa bodoh dengan suasana canggung sebelumnya yang berhasil membunuh waktu.

“Em… bukan hal yang penting tapi begini, dari sekian banyak sketsaku tadi yang telah kau lihat, tolong pilihkan satu yang menurutmu paling bagus.Aku akan menjadikannya sebagai gaun rancangan terbaru bulan ini. Lebih baik segera diputuskan dan aku akan segera membuatnya. Deadlinenya tidak lama lagi, bukan? Ah aku lupa, sebentar lagi aku ada pertemuan dengan calon suami klienku untuk membahas masalah gaun pernikahannya.” Kata Ervina sambil membereskan meja kerjanya yang terlihat berantakan.

“Kau.. apa hanya bantuan seperti itu yang kau harapkan dariku? Ervina yang kukenal 3 tahun silam adalah gadis yang selalu bergantung padaku di setiap hal. Kenapa sekarang kau terasa jauh dan seperti orang asing?! Dan jangan jadikan alasan bertemu klien untuk mengusirku dari sini! Kau sungguh mudah ditebak, Vin.”

Sehun marah. Ya, Ervina tahu itu. Tipikal Sehun.

“Memangnya.. sepenting apa calon suami klienmu itu sehingga kau bersedia dipermainkan olehnya? Aku mendengar semuanya dari staf. Kau biasanya selalu menolak klien yang akan menolak sketsamu setidaknya sebanyak 3 kali. Dan ini? Kau menyanggupinya hingga 10 kali! Apa kau tidak berlebihan? Apa ia benar-benar membutuhkan jasamu sebagai seorang designer, eoh?”

“Calon suami klienku adalah Park Chanyeol—pengusaha muda, sukses dan kaya raya seantero Korea! Mana mungkin aku akan sembarangan membuatkan gaun pernikahan untuk mereka?Apalagi, pengantinnyaadalah sahabatku.”

Mworago?! Park Chanyeol??”

“Ya, kau benar. Dia pernah menjadi temanmu, bukan?”

“Tapi.. tapi dia akan menikah dengan siapa? Dia tidak pernah bercerita padaku tentang ini. Is he really crazy, huh?! Kapan pernikahannya?”

“Bulan depan, Sehun-­ah..Dengan Melisa Park.”

“Melisa Park? Ia sahabatmu, bukan? What the hell he is?! Entah telingaku yang sudah salah dengar atau di sini Park Chanyeol itu memang sudah gila, huh? Melisa Park itu adiknya, bukan?!” Seolah keterkejutan Sehun belum ada habisnya, setiap pertanyaannya yang dijawab Ervina menambah daftar hal-hal mengerikan yang akan dilakukan pria Park itu terhadap adiknya sendiri di mata Sehun. Di lain sisi, Ervina juga tak kalah terkejutnya karena baru mengetahui kalau Oh Sehun mengetahui rahasia tentang Melisa yang ternyata adalah adik kandung Chanyeol.

“Bagaimana.. bagaimana kau tahu.. Chanyeol dan Melisa..??”

“Apa kau lupa, Vin? Aku dan Chanyeol berteman dan bersaing sejak lama. Bagi semua orang, aku hanyalah si Nomer Dua setelah Chanyeol. Sesuatu hal yang tidak mungkin kalau aku sampai tidak tahu rahasia besar Chanyeol yang memiliki seorang adik perempuan yang selama ini kenyataannya selalu ia tutup rapat-rapat.” Sehun membuang wajahnya kesal. Wajahnya yang memerah karena amarah membuat Ervina bingung harus bersikap dan mengatakan apa. “Chanyeol memiliki sisi kelam yang hanya aku saja yang mengetahuinya. Ia memiliki banyak musuh di luar sana. Dan dengan merahasiakan identitas Melisa dari orang banyak, ia pikir ia sudah bisa melindungi Melisa. Tapi aku berhasil mengungkap fakta itu belum tiga tahun yang lalu. Dan aku berniat untuk menghancurkannya. Sayangnya, Melisa tidak mudah untuk digoda. Kau benar, ia adalah gadis independen, seperti yang pernah kau katakan.” Ervina terkejut dengan kalimat Chanyeol dan semua yang baru saja terungkap mengingatkannya satu hal.

“Apakah karena hal ini kau meminta hubungan kita berakhir dan hanya menjadi sepasang sahabat saja?” bulir-bulir bening air mata mulai menghalangi tatapan Ervina. Gadis itu masih menatap punggung Sehun yang berdiri membelakanginya. Namun Sehun tetap diam.

“Kau meminta putus tiba-tiba tiga tahun lalu selang beberapa hari aku mengenalkanmu dengan Melisa. Tanpa alasan yang jelas dan logis kau membuatku menerima keputusan sepihakmu tanpa bisa berkata apa-apa. Dan belum lama tadi kau mengungkit soal janjimu kepada ayah dan ibuku untuk selalu menjagaku? Namun janji itu terkalahkan dengan keegoisan dan rasa ambisiusmu untuk bisa mengalahkan Chanyeol. Bukankah ia—Chanyeol adalah  temanmu? Dan kenapa harus Melisa, seseorang yang harus ada kaitannya denganku yang akan kamu incar untuk mengalahkan Chanyeol? Kalau memang seperti ini rencanamu dari awal, kau akan dikalahkan, Oh Sehun!” Sehun memutar tubuhnya cepat, menghadap Ervina. Kedua alisnya berkerut samar. Menuntut penjelasan lebih dari maksud kalimat terakhir Ervina.

“Aku tidak tahu pasti bagaimana, tapi aku rasa Park Chanyeol bukan sekadar Park Chanyeol yang selama ini kau kenal. Dan tentangku, betapa bodohnya aku menunggumu selama tiga tahun ini tanpa kepastian. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik bagi kita. Kebenaran yang baru kau ungkapkan tadi membuat mata hatiku terbuka lebar. Tolong jangan menemuiku lagi atau surat pengunduran diriku akan aku kirimkan padamu secepatnya.”

Air mata tak terbendung dari kedua mata indah Ervina. Gadis itu segera merapikan kertas-kertas sketsanya, memasukkannya ke dalam tas dan pergi meninggalkan ruangan kerjanya saat itu juga. Meninggalkan Sehun yang masih bungkam dan tak bergeming di tempatnya dengan kedua tangan terkepal erat.

“Park Chanyeol….” desis Sehun ditelan keheningan.

***

Korea Selatan, Seoul, 21 April 2014

 

“Bolehkah aku tahu perjalanan bisnis apa yang akan kau lakukan selama satu minggu di Kanada, Sayang?”  Dengan satu tangan menjaga kemudi, Chanyeol mengusap lembut tangan Melisa yang berada di pangkuan gadis itu.

Melisa yang semula diam sejak memasuki mobil Chanyeol, seketika terkejut. Ia tahu, Chanyeol akan memastikan hal ini darinya. Walaupun hanya sekadar menyiapkan jawaban palsu tapi ia harus bisa meyakinkan Chanyeol dan membuatnya terlihat logis. Ia sudah meminta tolong pada Bosnya di kantor dan beberapa teman untuk membantunya dalam masalah ini dan mereka bersedia membantu menutupi kebohongan Melisa dari Chanyeol.

“Perusahaan tempatku bekerja sedang membuka cabang perusahaan baru di Kanada, oppa. Dan sebagai perwakilan divisinya, aku diminta datang juga ke sana untuk menyiapkan segala persiapan. Banyak temanku yang datang ke sana juga, kok, Oppa. Jadi Oppa tak perlu khawatir. Bukankah persiapan pernikahan hanya tinggal 75% lagi? Dan lagipula, kemarin Ervina sudah mengirimkan foto gaun pengantinnya. Kau sudah lihat, bukan? Yeppoda~aku menyukainya.”

Geuraeyo?” Melisa menganggukan kepalanya mantap. Belum sempat Melisa akan memandangi pemandangan di luar jendela mobil untuk ke sekian kalinya, suara Chanyeol tiba-tiba menyapa indera pendengarannya. “Tapi, Melisa Sayang, kau tidak sedang berusaha membohongiku kan?”

Degh!

Melisa terkejut, namun cepat-cepat ia tertawa untuk menutupi keterkejutannya. “Oppa, apa maksudmu yang sebenarnya, sih? Jangan bicara hal-hal aneh. Mana mungkin aku berbohong padamu. Aku sangat menyayangimu. Kau tidak percaya?”

Geusae.. aku merasa seperti ada yang kau sembunyikan.” Melisa diam. Ia menangkap ada perubahan nada suara Chanyeol yang tertangkap indera pendengarannya. Melisa memejamkan matanya takut-takut, tidak berani melihat wajah kakaknya itu meskipun hanya dari samping.

Rahang Chanyeol mengeras tanpa sepengetahuan Melisa. Tatapan matanya berubah dingin dan tajam, tidak seperti yang selama ini ia tunjukkan di depan Melisa. Namun jika tidak ada Melisa atau tidak sedang berhadapan dengan Melisa, sinar mata yang menakutkan itu akan muncul dengan mudah dan menunjukkan siapa Chanyeol sebenarnya.

Chanyeol tetap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana hening, tak ada satupun yang berbicara. Seolah nyaman namun justru menyiksa Melisa yang dilanda cemas. Apalagi sejak ia tahu dan menyadari bahwa Chanyeol memiliki obsesi tertentu pada dirinya. Perasaan aman dan nyaman bersama seorang kakak kandung yang seharusnya bisa selalu ia rasakan lenyap sudah. Namun bagaimana pun, apapun respon yang akan Chanyeol berikan nanti, besok ia akan benar-benar terbang ke Kanada, dan setelah satu minggu ia akan pergi meninggalkan Kanada ke tempat dimana hanya ia yang tahu. Bahkan Ervina pun tidak boleh tahu. Ia tidak boleh melibatkan sahabatnya itu lagi.

Melisa harus benar-benar lepas dari labirin obsesi Park Chanyeol. Dan setelah pernikahan itu dapat dicegah, Ervina harus bisa meyakinkan Chanyeol untuk pergi memeriksakan keadaannya dan menjalani perawatan bila perlu.

Entahlah, saat ini Melisa benar-benar tidak yakin dengan rencana mentahnya yang sudah ia susun dengan Ervina. Bagaimanapun, sahabatnya itu akan banyak menderita jika nanti ia memilih untuk menghilang sementara ke Kanada atau kemanapun itu juga. Namun ini adalah satu-satunya cara untuk menghindar dari tanggal 13 Mei, tanggal yang sudah Chanyeol janjikan sebelah pihak untuk mengucap janji sehidup-semati dengan adik kandungnya sendiri.

***

Korea Selatan, Seoul, 13 Mei 2014

Hari perhelatan pernikahan akan segera dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah Chanyeol siapkan. Pengusaha sukses nan kaya raya, Park Chanyeol, tak tanggung-tanggung menyewa ballroom hotel bintang lima termegah dan terbesar di Seoul, sebagai tempat yang akan menyaksikan pernikahannya dengan gadis yang selama ini menjadi candu dan pujaannya, Melisa Park. Sayangnya, tidak ada yang tahu bahwa Melisa Park tidak lain dan tidak bukan adalah adik semata wayangnya sendiri, adik sekandungnya dan mereka memiliki orangtua yang sama yang telah menghadirkan mereka untuk melihat dunia.

Namun peduli setan dengan semua itu, yang Chanyeol tahu sebentar lagi ia bisa memiliki Melisa seutuhnya, lebih dari sekadar sebagai seorang kakak terhadap adik satu-satunya.

Ballroom hotel yang mewah sudah dihias penuh di bagian dindingnya dengan nuansa bunga mawar dan tulip putih yang harum dan segar. Sedangkan tamu-tamu undangan diminta untuk datang menghadiri acara dengan mengenakan gaun pesta berwarna merah, sedangkan tamu pria mengenakan jas formal berwarna hitam. Hanya Chanyeol yang berdiri dengan gagah nan tampan di dekat altar mengenakan tuxedo mewah berwarna putih tulang digabungkan dengan warna peach yang senada dengan kemeja dan dasi kupu-kupunya. Rambutnya yang berwarna coklat kemerahan ia sisir dan tata sedemikian rupa sehingga menampakkan dahinya yang putih dan lebar. Senyum lebar dan bahagia tak pernah lepas dari bibirnya. Ia sangat yakin pengantinnya juga akan menjadi sangat cantik di malam pernikahan mereka ini.

Seorang lelaki dengan jas berwarna hitam dan dasi berwarna keemasan datang menghampiri Chanyeol. Ia mengangkat segelas wine yang sedari tadi menjadi sahabatnya menikmati pesta yang menurutnya membosankan.

Oraemaniya, Park Chanyeol.” Sapanya sambil mengangkat gelasnya sedikit tinggi di depan Chanyeol sebagai salam. Chanyeol hanya tersenyum singkat.

“Ya, benar. Sudah lama sekali, Oh Sehun—sejak… kau mengkhianatiku.” Jawab Chanyeol menekankan kata terakhir dari bibirnya. Kemudian lelaki tampan itu  memperhatikan penampilan Sehun yang menurut Chanyeol tak pernah bisa menandingi dirinya. Sehun tersenyum meremehkan mendengar sindiran Chanyeol. Ia juga merasa terhina dengan tatapan Chanyeol padanya.

“Selamat atas pernikahanmu. Dan terima kasih sudah mengundangku ke acara yang cukup membosankan ini.” Kata Sehun yang memang sengaja mengucapkan hal itu. Ia berpikir Chanyeol akan mulai panas, nyatanya tidak. Lelaki itu tak akan terpengaruh hanya dengan mendengar sindiran murah seperti itu.

“Kau mungkin merasa bosan karena seorang gadis yang seharusnya menjadi pasanganmu datang kemari justru akan menjadi pengantinku, Oh Sehun.” Datar, ringan namun tepat sasaran. Begitu menohok Sehun, membuat Sehun mengepalkan kedua tangannya di tengah angan-angannya yang mulai berpikir, gadis mana yang lelaki di hadapannya ini maksud.Apakah benar Melisa? Batinnya.

“Apa kau merasa bingung? Well, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi di depan altar saat pemberkatan. Aku juga sudah tidak sabar untuk menyaksikannya dengan kedua mata kepalaku sendiri. Baiklah, selamat menikmati hidangan yang sudah tersedia. Dan juga.. aku pikir kau akan menyukai kejutan yang nanti akan kuberikan.”

Setelah merasa cukup dengan apa yang perlu ia katakan, Chanyeol berlalu melewati Sehun dengan sedikit menyenggol bahu lelaki berkulit pucat itu. Sehun semakin dibuat bingung, kejutan apa yang sedang Chanyeol tunggu dan katakan padanya tadi.

***

Alunan musik pernikahan yang berasal dari dentingan tuts-tuts piano mengisi seluruh penjuru ballroom yang megah. Seorang pengantin dengan gaun putih indah yang pada bagian ujungnya panjang menjuntai membuatnya terlihat anggun dan elegan. Pada bagian roknya yang mengembang dihiasi oleh butir-butir permata swarovski yang menambah kesan mahal bagi siapapun yang mengenakannya. Belum sampai di situ saja keindahannya, kedua bagian bahu yang dibiarkan terbuka berhasil menunjukkan leher putih dan jenjang si pengantin. Sedangkan di bagian lengan sampai ke pergelangan tangan, kain brokat bermotif bunga mawar putih juga menghias lengannya dengan sangat pas.

Pengantin itu berjalan dengan sangat anggun dengan wajah tertunduk tertutup cadar putih yang menyamarkan wajah cantiknya. Sebuah tiara mungil tersemat di atas kepalanya dan terlihat berkilau di balik cadar pengantinnya. Sebagai pemanis, kedua tangannya menggenggam sebuket kecil bunga mawar berwarna putih dan biru yang terlihat kontras dengan warna gaun pengantinnya.

Pengantin itu masih berjalan dengan perlahan menuju ke altar, ke tempat dimana Chanyeol berdiri, menunggunya dan menatapnya. Melihat dari atas sampai ke awah dan kembali lagi ke atas, Chanyeol telah dapat menyimpulkan satu hal. Senyumnya yang lebar tampak mulai asimetris dan ketika si pengantin wanita sudah berdiri berhadapan-hadapan dengannya, Chanyeol mengulurkan satu tangannya untuk menyambut si pengantin.

Alunan denting piano berhenti, membiarkan momen sakral si pengantin pria yang tengah menjemput pengantin wanita menjadi dominan acara. Dengan sedikit ragu, pengantin wanita menyambut uluran tangan Chanyeol dan segera Chanyeol menghela gadis bergaun pengantin indah di sampingnya untuk mendekati altar dan pendeta yang menunggu di sana.

Detik demi detik berlalu. Menit pun demikian. Tak terasa, Chanyeol sudah resmi menikah secara sah di hadapan Tuhan, disaksikan oleh banyak tamu undangan, mulai dari teman bahkan musuhnya di dunia bisnis, kolega bisnis, pengusaha-pengusaha terkemuka, artis bahkan wartawan yang sengaja diperbolehkan datang untuk meliput pemberitaan fenomenal itu.

Chanyeol memutar tubuhnya sembari memutar tubuh pengantinnya agar bisa berdiri berhadap-hadapan dengannya. Wajah pengantinnya itu masih tertutup cadar. Dalam samar-samar pandangannya, Chanyeol sudah dapat menebak siapa wanita yang berada di balik cadar itu dan berdiri bersamanya mengucap janji pernikahan selang beberapa saat yang lalu. Salah satu sudut bibir Chanyeol pun terangkat. Ia sadar, sejak awal ia sudah dibodohi. Lebih dari yang ia bayangkan.

Dua hari lalu ketika Melisa menghubunginya bahwa ia sudah sampai di Seoul dan mengatakan tidak ingin dijemput dan bertemu sampai mereka berdiri di altar, itu sudah meyakinkan Chanyeol bahwa adiknya itu tengah melancarkan rencana terakhirnya untuk menghindari pernikahan. Dan tadi sore, saat pernikahan baru akan dilaksanakan jam tujuh malam sedangkan masih ada waktu empat jam untuk bersantai sebelum pengantin harus berdandan, Chanyeol sudah dilarang untuk masuk ke kamar rias pengantin wanita dengan berbagai macam alasan dan larangan. Chanyeol sudah sangat sadar bahwa selama ini ia dibodohi oleh Melisa dan Ervina. Namun ia membiarkannya mengalir begitu saja karena ia merasa tertarik akan apa yang bisa dilakukan Melisa untuk menghindari pernikahan dengannya. Dan well.. Melisa mengorbankan sahabatnya sendiri, Ervina. Melisa memilih orang yang salah dengan membiarkan gadis itu menggantikannya menikah dengannya.

Semula Chanyeol merasa bersimpati dan empati setelah mengetahui segala hal tentang Ervina dan kehidupannya di masa lalu yang sulit. Chanyeol sengaja mencari segala informasi tentang Ervina Kim bahkan informasi sejak kelahiran dan masa kanak-kanaknya. Chanyeol seperti melihat cerminan dirinya ada dalam Ervina ketika dulu pertama kali Melisa mempertemukan mereka. Mandiri dan pekerja keras, sama sepertinya.

Namun semua perasaan simpati, empati, kasihan dan peduli itu sudah tidak ada lagi karena bagi Chanyeol, Ervina sama saja seperti orang-orang yang memaksakan diri untuk berada di sampingnya hanya karena harta dan kekuasaan yang Chanyeol miliki. Chanyeol tidak dapat mempercayai siapapun selain dirinya sendrii jika ia tidak ingin dikalahkan, bahkan walaupun itu oleh Sehun, seseorang yang dulu pernah berbagi tawa dan sedih bersama di bangku kuliah. Bahkan Sehun pun menjadi buta dan melayangkan bendera perang tak kasat mata ke padanya selama ini. Chanyeol tak mengenal teman ataupun sekutu. Ia berjuang karena kekuatannya sendiri dan ia berhasil karena semua yang telah ia korbankan.

Kesadaran Chanyeol kembali ke alam nyata. Membuatnya tersadar penuh bahwa sekarang ini ia masih berada di atas altar, berdiri berhadap-hadapan dengan seseorang yang kini sudah resmi menjadi istrinya.

Riuhan tepuk tangan tamu undangan yang datang mewarnai perkataan pendeta yang meminta Chanyeol untuk membuka cadar pengantin wanita dan memberikan ciuman. Chanyeol tersenyum singkat, mengiyakan. Dengan perlahan, Chanyeol berusaha menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan tinggi tubuh gadis cantik di hadapannya yang masih saja menundukkan wajah, seolah takut apabila Chanyeol melihat wajahnya.

Suasana sekitar mendadak hening ketika Chanyeol maju satu langkah sehingga wajahnya menjadi sejajar dengan wajah gadis itu. Detik yang berlalu membunuh jarak yang ada di antara mereka. Kedua material basah milik keduanya pun saling bersentuhan, tanpa Chanyeol yang terlebih dahulu membuka cadar pengantin wanitanya. Meskipun tak bersentuhan secara langsung, namun Chanyeol dapat merasakan bibir penuh sang istri dengan rasa cherry yang menyambut indera pengecap miliknya beberapa detik lalu.

“Ervina Kim.”

Degh!

Si pengantin wanita tersentak di tempatnya dan mengangkat kepalanya yang semula hanya berani menunduk dalam. Seketika itu juga, Chanyeol berhasil mengunci tatapan mata Ervina dengan kedua bola matanya yang memancarkan aura kemarahan dan kekecewaan yang dalam. Namun lelaki Park itu justru tersenyum. Senyum yang sama, senyum asimetris yang kini membuat kedua tangan Ervina bergetar di samping tubuh.

Tanpa tedeng aling-aling, Chanyeol segera membuka cadar putih yang menutupi wajah Ervina dan membuat seluruh tamu undangan terkesima melihat kecantikan Ervina. Tidak ada yang tahu sebelumnya bagaimana rupa dari calon pengantin Park Chanyeol. Yang mereka tahu calon pengantinnya sekadar bernama Melisa Park dan mereka sudah bertunangan terlebih dahulu sebelum melanjutkan untuk segera menikah.

“Kalian tidak bisa membohongiku, Ervina Kim. Sandiwara ini hanya seperti permainan kartu dan aku sudah memegang kartu As-nya, kau tahu.”

Who-who are you? Si-siapa sebenarnya kau, Park Chanyeol-ssi? Kenapa kau bersikeras ingin menikahi adik kandungmu sendiri? Apa yang terjadi padamu?” lirih Ervina yang sekuat tenaga menjaga nada suaranya agar tetap terdengar tegar.

Satu cairan bening pun luruh dari mata cantik Ervina yang kini hanya bisa memandang wajah Chanyeol, menahan rasa takut yang begitu besar. Perlahan, seorang Park Chanyeol seperti melepas topeng asli yang selama ini dikenakannya dengan sangat rapi. Senyum asimetris itu berkembang menjadi senyum seorang pesakitan gila yang haus akan rasa ingin menyakiti siapapun yang berusaha mengganggunya.

No question and no answer for you. Setelah ini, aku akan membuatmu memahami siapa diriku yang sebenarnya. Jika Melisa tidak menjadi milikku karena adanya campur tangan darimu, maka akan kubuat kau merasakan bagaimana pedihnya memainkan sandiwara pernikahan ini denganku. Apa kau mengerti, Nyonya Park—istriku tersayang?” Tatapan Chanyeol berubah tajam, seolah menguliti diri Ervina yang berdiri kaku di hadapannya dengan tubuh gemetar. Ia tidak tahu mengapa sepertinya Chanyeol sengaja menunjukkan sisi jahat kepadanya, tapi yang ia yakin Chanyeol tidak pernah terjebak oleh rencananya dan Melisa. Lelaki itu hanya mengikuti alur permainan. Justru hanya ia di sini, hanya ia sendirian yang akan menerima konsekuensi besar dari kemarahan dan kebencian Park Chanyeol akan kegagalannya untuk menikahi Melisa.

Ervina menggigit bibir bawahnya untuk menekan rasa takutnya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, yang ada hanya wartawan dan tamu undangan yang tidak ia kenali satupun. Dan dengan tampang yang ikut berbahagia, mereka begitu bodoh, seolah memberikan restu dan selamat akan penderitaan Ervina sekarang. Tidakkah mereka melihat bahwa pengantin wanitanya sedang menangis pilu dan begitu ketakutan sekarang?

Namun tidak bagi satu orang yang berdiri mematung di sudut ruangan dan masih dengan bertemankan segelas wine di salah satu tangannya. Pria itu adalah Oh Sehun yang reflek menggenggam gelas wine di tangannya dengan sangat kuat dan menatap lurus penuh kebencian pada sepasang pengantin di atas altar sana.

Saat air mata yang terus menetes tak dapat terbendung lagi, seolah secercah harapan datang menyambut Ervina ketika melihat Oh Sehun ada di sana. Hanya dalam hitungan detik, dan perhatian gadis itu diambil alih oleh Park Chanyeol yang menuntunnya untuk bersiap tersenyum penuh sandiwara dalam sesi pengambilan foto oleh wartawan. Ketika sekali lagi kedua bola matanya menangkap sosok Oh Sehun di sudut ruangan sana, dengan setelan jas rapi dan dasi berwarna keemasan, Ervina menyadari lelaki yang pernah menjadi tambatan hatinya duluitu memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti gabungan antara amarah, kecewa, kebingungan dan juga kecemasan yang besar.

Tapi Ervina tidak mungkin berlari dari altar sambil menenteng gaunnya yang berat dan panjang lalu meminta Sehun membawanya pergi dari pernikahannya sendiri. Lagipula, siapa Sehun? Ia hanya masa lalu yang menyakitkan. Dan Ervina begitu merasa bodoh jika sepersekian detik tadi ia sempat berpikir bahwa Sehun bisa menjadi secercah harapan terang untuk menolongnya dari Chanyeol. Ia sudah terjebak dalam labirin obsesi cinta Chanyeol pada Melisa yang sepertinya tak berujung.

Tanpa diduga, Chanyeol menyadari tatapan Ervina yang jatuh dan terus-menerus terfokus pada satu titik. Chanyeol mengikuti arah pandang gadis itu dan sepersekian detik, amarahnya kembali memuncak. Chanyeol langsung menarik tangan Ervina agar gadis itu mengikuti langkahnya.

Bruk!

Chanyeol menghempaskan Ervina kasar ke arah dinding lorong yang berada tak jauh dari tempat acara pernikahan mereka. Belum sempat Ervina mengaduh karena sakit menyerang punggungnya, kedua tangan Chanyeol berhasil menguncinya di sisi tubuh gadis itu.

“A-apa yang.. akan kau lakukan?” tanya Ervina dengan nada lirih dan kentara gemetar ketakutan. Chanyeol mengangkat salah satu tangannya dan mengusap peluh yang mulai muncul di dahi ‘istrinya’ itu. Hal itu justru tak pelak semakin membuat Ervina ketakutan.

“Rupanya kau berani sekali memandangi Oh Sehun, Sayangku.” Seketika jantung Ervina berdegup kencang. Ia langsung kesulitan bernafas seolah oksigen di sekitarnya menghilang. Chanyeol tersenyum miring melihat ekspresi ketakutan yang besar mewarnai sinar mata gadis di hadapannya sekarang. “Aku rasa kau tahu, ada hubungan apa antara aku dan Sehun di masa lalu.” Gumam Chanyeol yang masih bisa didengar oleh Ervina. Setelahnya, Chanyeol terkekeh pelan. Kedua alis Ervina berkerut samar. “Sehun adalah sahabat yang menusukku dari balakang dan wow—dia juga memiliki hubungan yang cukup rumit denganmu, bukankah begitu, Istriku?”

Don’t hurt him! Jangan libatkan ia atau siapapun. Ini adalah masalah kita berdua, kumohon..”

“Jangan menyakitinya?” Chanyeol tertawa keras. Kemudian, tanpa bisa Ervina percaya, lelaki itu mencengkram kedua bahunya dengan sangat kuat. Ervina meringis menahan sakit. Air mata mulai memenuhi kedua matanya. Ia yakin bahunya akan memerah setelah ini. “That’s so funny! Dia yang telah lebih dulu menyakitiku, Bodoh!!”

“Le-lepaskan, aku, Chanyeol-ssi! I-ini sakit!” lirih Ervina sambil setengah meronta. Namun percuma, sebagai lelaki, Chanyeol lebih kuat darinya.

“Aku sangat mengenalmu, Ervina Kim. Kau dan apa yang terjadi di masa lalumu, semuanya sangat mudah untuk aku ketahui dengan kekuasaanku. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau dan Sehun adalah teman sepermainan sejak kecil, huh? Dan apa yang telah kau lakukan bersama Sehun di masa lalu merupakan suatu dosa besar, apa kau ingat?” Chanyeol terkekeh keras setelah merampungkan kalimatnya. Ia melepaskan Ervina dari cengkeramannya sambil menyentaknya kembali ke dinding. Ervina yang mendengar perkataan Chanyeol hanya bisa diam membisu dengan tatapan kosong. Gadis itu merosot jatuh ke lantai dan menangis keras—sekeras yang ia bisa. Chanyeol telah berhasil mengorek kisah mengerikan dalam hidupnya yang selama 3 tahun ini telah ia kubur. Chanyeol tersenyum puas sambil memandangi gadis itu dengan tatapan tajam.

“Yang satunya pengkhianat sahabatnya sendiri, dan yang satunya lagi adalah seorang pembunuh. Benar-benar, kalian adalah sepasang kekasih yang menjijikan!!”

“TIDAAAKKK!!! AKU BUKAN PEMBUNUH! AKU TIDAK MEMBUNUHNYAAAA!!” teriak Ervina sambil menangis keras. Riasan cantik di wajahnya telah luntur dan rusak.

PLAK!

Chanyeol berhasil menampar pipi mulus gadis itu. Untuk sesaat Ervina merasakan pusing yang teramat sangat menyerang kepalanya. Chanyeol tergelak, menikmati bagaimana ia menyiksa gadis itu dan melihatnya kembali terpuruk. Chanyeol berjongkok di hadapan Ervina dan menarik dagu gadis itu paksa, agar kedua matanya membalas tatapannya. Pipi Ervina mulai terlihat memerah karena tamparan tadi.

“Ini hanya hukuman kecil dariku, Sayang. Karena itu, nikmatilah, Gadis Pembunuh!” Chanyeol menyentak dagu Ervina membuat gadis itu sedikit terhuyung ke samping. Sambil menangis, Ervina mencoba menaha rasa takut yang luar biasa. Jantungnya berdegup kencang dan segala pikiran buruk berkecamuk dalam otaknya.Apakah Chanyeol-ssi akan menyakitiku lebih dari ini? Apakah ia akan membunuhku suatu saat nanti?! Batinnya ketakutan.

“Me-me-mengapa.. kau.. lakukan.. i-ini.. pa-padaku?” tanya Ervina dengan suara tersendat menahan rasa takut. Ia hanya menunduk, tak kuasa memandang lelaki menakutkan yang berparas tampan di hadapannya. Ia tak begitu yakin akan kesimpulannya setelah melihat sosok Chanyeol yang sebenarnya saat ini. Tapi ia tahu, lelaki itu begitu berbahaya bagi siapapun dan begitu berkuasa.

“Aku rasa kau tahu jawabannya. Berhenti memandangi lelaki lain, Ervina Kim! Now, you’re mine—meskipun kau hanya menggantikan posisi Melisa sementara. Jangan kau pikir semua sudah selesai sampai di sini. Penderitaanmu bahkan belum aku mulai. Sekarang kau sudah tahu, siapa aku sebenarnya. Aku adalah lelaki berbahaya yang tidak akan segan-segan merusak hidup seseorang jika orang itu berani mengusik kehidupanku dan juga keinginanku. Aku akan membuatmu penuh kesakitan dan penderitaan setelah ini. Kau.. akan benar-benar merasakan bagaimana menjadi seorang ‘istri’ dari lelaki sepertiku!!”

Chanyeol tak peduli dengan isakan keras Ervina. Lelaki itu dengan tega meninggalkan Ervina di lorong sepi itu sendirian. Dengan langkah tegap dan angkuh, Chanyeol kembali ke tempat acara pernikahannya dan meladeni para wartawan dengan menunjukkan topeng yang selama ini selalu ia kenakan untuk mengelabui semuanya. Topeng berwibawa dan penuh karisma. Semuanya kagum, semuanya hormat, dan semuanya tertipu.

Dan ketika manik hitamnya menangkap sorot elang tatapan Sehun, Chanyeol mengulaskan sebuah senyuman miring ke arah lelaki itu. Sehun tersentak melihatnya. Satu pikiran melintas di otaknya dan seketika gelas yang ada dalam genggamannya merosot dan membentur lantai dengan keras. Pecah dan berkeping-keping.Tidak, aku berharap pikiran negatifku ini salah. Kau tidak mungkin mengorbankan diri untuk ini semua ‘kan, Vin? Chanyeol.. dia tidak akan mungkin melakukan itu padamu ‘kan, Vin?Batin Sehun ketakutan. Sedikit-banyak, ia telah memahami bagaimana situasinya sekarang. Sehun yakin, Ervina tidak akan mungkin menikahi lelaki itu tiba-tiba jika bukan karena ada suatu alasan di baliknya.

Raut wajah Sehun berubah khawatir dan takut. Lelaki itu langsung meninggalkan tempatnya untuk menemukan Ervina. Chanyeol yang melihat kepergian Sehun langsung merogoh ponsel dalam saku jasnya dan menghubungi seseorang.

“Jongin, bawa dia ke villa-ku yang ada di Daegu. Urus semua kebutuhannya dan buat ia tak dapat ditemukan oleh siapapun sampai aku berhasil menemukan Melisa. Aku akan segera menyusul. I’m counting on you..

Di seberang sana suara tawa yang renyah membalas perkataan Chanyeol. Lelaki dengan warna kulit tan itu sebenarnya sudah berdiri sejak tadi di hadapan seorang gadis yang tengah tertidur dengan balutan gaun pengantin. Ya, gadis itu adalah Ervina. “Just relax, Chan. I won’t betray you like that bastard, you know.” Kata lelaki yang dipanggil ‘Jongin’ itu dengan santai setelah membuat gadis di hadapannya pingsan dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius olehnya.

Jongin menutup mulut gadis itu dengan plester dan memanggulnya di pundak kemudian masuk ke dalam mobil. Dengan cepat ia membawa Ervina meninggalkan tempat itu.

Sehun sampai di lorong sepi itu sekian detik setelahnya. Ia sudah memutari gedung dan mengecek semua tempat. Namun sebanyak dan sekuat ia mencari, Sehun tak bisa menemukan Ervina. Sehun mengumpat keras dan merutuki kebodohannya yang terlambat memahami medan.

Ini adalah hari pernikahan Ervina Kim. Sebelum ia mengenal Chanyeol dan selama 23 tahun hidupnya, Ervina Kim tak pernah membayangkan akan seperti apa jalan hidupnya setelah itu. Gadis itu juga tak berharap akan menikah dengan seorang Park Chanyeol yang menakutkan dan juga…. begitu memahami kisah kelam dalam hidupnya yang sampai saat ini masih membuatnya merasakan trauma.

Tunggu, tapi apakah mungkin setelah ini seorang Park Chanyeol justru yang akan membuat luka baru di dalam kehidupannya? Sanggupkah Ervina untuk terus menjadi istri dari seorang Park Chanyeol yang penuh sisi kelam dan menakutkan untuknya?

.

.

.

.

To be continue…

NB: Holaaa!!! Fiuuuhhh… 36 halaman nih! Susah banget buat nyelesein chap 1 ini, gatau kenapa, soalnya di sini aku bener-bener ngerusak karakter chan jadi kaya jahat n agak psiko gitu deh😀 maafkan aku buat para penggemar chanyeol, ini hanya bagian dari fiksi, jadi jangan benci chan di sini ok?

Mungkin di sini banyak scene ngobrol ya, soalnya aku mau nonjolin gimana karakter chan yang misterius. Apalagi waktu scene di restauran n di acara nikah itu, rasanya puyeng buat bikin chan berkesan kejem + kaya psiko abis. Tapi tunggu, ini bukan berarti karakter chan yang sebenernya itu udah keungkap semua loh. Belum tau juga kan chan punya sisi kelam kaya apa lagi? Ini baru bagian kecil yang aku tunjukin, tujuannya di sini supaya ngebikin si heroine (maksudnya tokoh utama ceweà ervina kim) itu mulai ngerasa takut, bingung, menderitadan ga bisa nebak chan itu orangnya kaya apa. Maaf kalo jadinya hurt banget. Tapi aku ga pengin tanggung2 ngenistain chanyeol *plak #digamparEXO-L

Soal perseteruan antara sehun-chanyeol itu ga aku gambarin di sini ya. Nanti aku buatin flashback atau aku ceritain secara singkat. Yang mau aku tonjolin di sini bukan penyebab keributan mereka pas jaman bahola dulu itu, tapi emosi antara sepasang teman yang sekarang jadi rival gara2 unsur dikhianati. Yang pernah ngalamin konflik kaya gini sama temen pasti tau gimana rasa ga enaknya -_- yang namanya keegoisan dicampur ambisi itu mendominasi banget, right? Apalagi sekarang udah ketauan kalo sehun itu mantannya ervina, tapi sekarang ervina malah nikah sama rivalnya. Gimana rasanya jadi sehun coba? Untuk penyebab mereka pisah, mungkin chap depan aku perjelas yaa. Dan pasti kalian kaget ada apa dengan sehun n ervina di masa lalu? Kenapa chan bilang ervina itu pembunuh?😀 silakan main tebak-tebakan ya, hihi :v

Terus soal melisa, entahlah. Kayanya chap depan bisa aku munculin, bisa juga engga, ngikutin alurnya aja ntar. Lagipula chan masih terobsesi gila sama melisa jadi ga mungkin melisa aku ilangin gitu aja. Dia masih bakal muncul :3

Okayy, see u next chap! Jangan lupa tunjukkan apresiasi kalian dengan memberi komentar dan saran buat kelanjutan chap depan. Sankyu~J

Special pics for the casts:

b5nwfi9ciae2dra

Park CHANYEOL

laomrge

ERVINA Kim

FtPAEj5X

MELISA Park

12038315_1061712130539565_707484072579958687_n

Oh SEHUN

32 responses to “[FREELANCE] I’ll Heal You, Mr. Obsede! (Chapter One-Who Are You?)

  1. keren&menarik bgtt thor , penasaran bgt sma kelanjutan nya , pgn tau kehidupan ervina bakal gimanaa , bakal menderita trs kah? dan dia ngebunuh org? ngebunuh siapaa , duh kepooo bgt sayaa’ dan aku suka bgt sma krakter nya chan disinii , ditunggu yah kelanjutan nya thor , Keep Write ^_^

  2. ide ceritanya bagus cuma alurnya agk cepet tp tetap keren kok,
    ini chanyeol sebegitu obsesiny kh dgan adik sndiri ?? penasaran chanyeol nnti kek gmana kalo udah nemuin melissa, aku penasarn sma masa lalunya ervina yg ktanya sudah mmbunuh itu, trus pnyebab chanyeol obsesi sma adiknya sendiri pkoknya gk sabar deh baca chapter 2 ^^

  3. aku sukaaaaaa banget sama ff yg temanya dark, psikopat atau yg bertentangan tapi konfliknya gak ngebosenin. kaya gini. uhhhh semoga bisa lanjut trus masuk kedaftar ff favorit aku.
    sukses buat chap selanjutnya ya.. dan ditinggu update terbarunya
    ada blog personal gak ervina?

  4. aku takut plus penasaran thor astaga… aku harap happy ending… aku gk suka sad ending soalnya. gk papa tengah” nya sedih. asal HapEnd gk sabar sma chap slanjutnya. tapi aku suka penggambaran author tntang smua cast disini. Keep writing and hwaiting!!!~ aku tunggu~

  5. Akhirnya nemu ff chanyeol yang karakternya kaya gini.. aku suka sama alur ceritanya juga menarik..
    Penasaran sama chanyeolnya kenapa bisa sampe terobsesi sama adiknya sendiri.. next chapter semoga cepet update yaa fighting!!

  6. omg keren..
    trobssi sm adiknya sndiri gmn ya, ngeri deh rasanya,adik kandung lagi, obsesi macam apa ini,apa chanyeolnya yg lagi sinting yah,next chapter ditunggu… yuhuu

  7. Omo… aku smpai gemeteran bcanya.. disni krakter chanyeol sadis bnget..
    awalnya aku fkir sehun dan ervina sling membenci..
    melisa msih engga sdar tentang kakaknya..

    knapa ervina dituduh ‘pembunuh’??

    next chap. thor..

  8. canyol.jahat bingits heuheu… ada harapan bwt happy ending ga ini :’3 *tp klo sad ending sih lebih mantap :v * keren nihh ditunggu next chapternya :3

  9. Misteri every where 😆😆 waw daebak 😆😆 karakternya chan di sini memang jjang!! Huwaaa melisa jadi kemana? Langsung ngilang kah? Aw aw penasaran penasaran sumpah ini keren!! 😍😍

  10. Merinding bacanya chanyeol yang ceria tiba tiba jadi psiko kayak gini
    Banyak tanda tanya di chap 1
    Lanjut ya thorr
    Semangat

  11. Ngerii bngttt whyy??? Kaya nya chanyeoll pengen bngt nikah sama adeknya kenapa? Itu adeknyaa lohh. Dann sehun sama ervina ada apa? Kenapa ervina dikata pembunuhh??? Aaaa cepet cepet dilanjutinn kakk bisa bisa mati penasarann inii akuuu hehehee

  12. Ini sukses bikin aku penasaran banget. Sifat Chanyeol mengerikan banget. Iyalah, bener juga tuhh si Melisa. Yang namanya hubungan sedarah itu dilarang. Baik dari segi agama, hukum, maupun kesehatan. Yahh… meskipun di sini Ervina yang jadi korban. Aku tunggu chapter selanjutnya, yaa ;D

  13. Wah…… Chanyeol kejam. Biasanya yang jadi karakter kaya gitu kalo gak Kai pasti Sehun. Ternyata ada juga yang versi Chanyeol. Ditunggu kelanjutannya, ya…..

  14. Wah, segitu gilanya mo nikahin sodaranya. Kok bisa? Ini termasuk gangguan mental bukan?ini bakal dibhaskan, obsesinya pd melisa?

  15. gila cerita buat ak merinding hahahaha… chanyeol gila mahu nikah sm melissa adik kandungnya sendiri,kesian ervina mengorbankan diri dan masa depannya untuk menikah dengan monster,tp ervina bunuh sapa? knp chanyeol mau nikah sm adiknya sendiri?keluarga mereka mn? msh blm jelas cerita,,, dtunggu chptr slnjtnya…

  16. Ini serius deh baru di posting? Aku dari kemaren nunggu banget ff ini dan makasih banget udah posting . Penasaran banget sama asli nya chanyeol disini karakternya gimana

  17. Emg dapet banget spyco nya chanyeol,,wuhh senangnya chapter perdana muncul,,tambah penasaran gimana nasib Ervina…!!!

  18. aku suka banget sma karakternya chanyeol yg disini walaupun agak kejam, apa si sehun udah suka sama melisa park?
    ditunggu ya kak part selanjutnya

  19. Penderitaan apa yg bakal dialami ervina? Penyiksaan apa yg bakal dilakuin chanyeol? Penasaraaann >< chap 2 ditunggu kaak

  20. annyeong ervina,, aku reader qm nih,,aku udah baca fanfictnya dan cukup bagus,, jalan ceritanya jg ok,, chapter pertama cukup panjang sampai gw puyeng jg bacanya hahaha masih ada bbrapa typo tapi overall bagus..karakternya chanyeol masih sulit gua ngerti aku udah nangkap karakterx dy itu kyak apa..yang biasax meranin krakter kyk gitu di ff lain biasa sih sehun tapi krena ini chanyeol jadi yah something different lah buat dibaca ^_< …di tunggu kelanjutannya..see ya !!!!

  21. daebak bgt
    pnggmbran sfat yeol yg kjm scra tdk lngsung kren bgt
    scra tdk lngsung aj udh ngena aplgi klo lngsung pas yg dia bwa ervin k lorong itu
    aigooo
    itu si jong jdi kaki tanganny?? hmmm
    dan lbih bkin pnsran ap lgi kgilaan si yeol ini dan msa lalu ervin sma hun
    dtunggu yaaa
    jgn lma2 lo

  22. Selalu suka suka sama ff chanyeol yg begini. Duh chanyeol ultimate bias bgt tp disini rasanya mau caci maki dia terus. Jahat bgt sama ervina mana sinting obsesi sama adek kandung sendiri.

    Ditunggu next nya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s