[FREELANCE] Love is Unfair

LIU

Title : Love is Unfair
Author : Kim Jongah
Cast : Park Chanyeol (EXO), Jung Seyoung, Park Nara
Genre : Romance
Rating : PG 17
Length : Chapter

Saat ini karenanya kehidupanku menjadi seperti didalam sel penjara pengasinga yang pengap dan tidak ada cahaya sama sekali. Menyakitkan sekali.” Jung Seyoung

Matahari pagi sudah menyinari bumi sejak satu jam yang lalu. Tapi walau begitu, seorang laki-laki tampan yang bernama Park Chanyeol tetap saja bergeming di atas ranjang besarnya. Ia terlalu malas untuk bangun dan menyaksikan kehidupan di bumi terus berlanjut.

Tapi, tuntutan seseorang yang sudah menunggunya sebelum membuka mata membuat laki-laki tampan itu mau tidak mau bangun dari tidurnya.

Kemudian ia bangkit berdiri. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

“Appa!” seru sebuah suara melengking dari luar kamarnya.

Ia tersenyum mendengar suara bidadari kecilnya. Ia mempercepat kegiatannya mencuci mukanya lalu beranjak pergi menemui putri kecilnya.

“Ya? Tunggu sebentar, Nara-ya”.

Tiba-tiba saja putri kecilnya itu masuk kekamar mandi tanpa mengetuk pintu. “Appa!  Aku lapar! Kenapa Appa tidur seperti beruang kutub? Ish, sangat sulit di bangunkan!” protes putri kecilnya itu.

Laki-laki tampan itu berjongkok dihadapan putrinya, “Maaf, kemarin Appa pulang malam sekali. Kau mau makan apa, sayang?” Ucapnya sambil tersenyum.

“Jangjamyeon!” seru putri kecilnya. Chanyeol tertegun mendengarnya.

“Call. Appa akan memesankannya.” Kata Chanyeol.

Putri kecilnya itu melonjak senang dan mencium pipinya sekilas, “Thank you, Appa! L O V E!” ucap Park Nara sambil membuat simbol hati dengan kedua tangan kecilnya.  Lalu anak berumur 6 tahun itu berlari ke ruang tengah untuk melanjutkan kegiatannya. Menghias setiap inchi sudut ruangan itu.

Chanyeol tersenyum miris. Dalam benaknya ia memikirkan wanita itu. Wanita yang selalu hadir dalam pikirannya setiap saat dan dalam setiap mimpinya. Wanita yang menjadi ibu bilogis Park Nara dan wanita yang dalam sekejap dapat membuatnya hancur berkeping-keping.

“Kau tahu? Semua yang ada di diri Nara sama persis denganmu. Makanan kesukaannya. Kebiasaannya. Wajahnya pun mirip sekali denganmu. Apa kau tidak merasa bersalah meninggalkan anak itu?” Berkali-kali, Chanyeol mengucapkannya pada ruang kosong didepannya.

Ia menghela napas panjang. Lalu mulai mengucapkan beberapa kalimat untuk dirinya sendiri, “Mungkin kau tidak merasa bersalah sama sekali. Mungkin sekarang kau sangat bahagia dengan hidupmu sendiri.”

Desember, Tahun 2003

“Chanyeol-ah, Ibu tidak setuju kau pergi ke Korea hanya untuk sekolah kedokteran. Ayahmu pun begitu. Dia bisa marah sekali denganmu.”

Chanyeol tersenyum pada ibunya, “Ibu, aku sudah 19 tahun. Aku bisa hidup mandiri. Aku berjanji pada Ibu dan Ayah jika tidak akan kembali ke sini lagi sebelum aku menjadi dokter yang sukses. Aku berjanji.”

Ny. Park menangis. Ia tidak bisa menghalangi cita-cita anak semata wayangnya itu. Namun, disisi lain untuk alasan apapun Park Chanyeol tetap penerus satu-satunya Occasion Corp perusahaan nomor satu di Jepang.

Tuan Park memejamkan matanya. Dadanya sesak karena ia terlalu banyak berteriak pada anak laki-lakinya.

“Ayah, aku berjanji tidak akan kembali ke Jepang sebelum aku sukses. Aku berjanji.” Pinta Chanyeol.

Laki-laki tua yang duduk dihadapannya lemas tidak berdaya. Bagaimanapun juga, negara yang dituju anaknya adalah tempat kelahirannya dan juga tempat ibu kandungnya menghembuskan nafas terakhir. Karena itulah, ia berjanji untuk tidak kembali kesana lagi.

“Park Chanyeol, kau adalah cucu satu-satunya dari keluarga Park yang berhak meneruskan perusahaan kita. Sudah berapa kali ayah mengatakannya? Takdirmu bukan sebagai dokter! Tapi sebagai direktur! Dengarkan itu baik-baik.” Sekali lagi, Tuan Park berharap anaknya berubah pikiran setelah ia berteriak.

“Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin kulakukan. Sejak kecil aku tidak pernah mengecewakan Ayah. Untuk kali ini saja, tolong biarkan aku memilih jalanku sendiri. Ayah bisa memberikan kursiku pada sepupu-sepupuku yang lain. Direktur bukanlah kedudukan yang tepat untukku.”

Kepala Tuan Park yang tadinya terasa pening sekarang bertambah berat. Lalu ia menyahut perkataan anaknya itu dengan tenaga yang tidak terisi penuh, “Terserahmu! Kau tidak kubolehkan pulang kemari sebelum kau benar-benar sukses. Jika kau berani menginjakkan kaki ke rumah ini lagi kau tidak akan ku anggap sebagai anak. Selama kau pergi kau akan kuhapus dari daftar nama keluarga Park.”

Chanyeol menganggukan kepalanya. Tidak apa dia dihapus dari daftar keluarga. Yang paling penting adalah impiannya menjadi dokter.

Keesokan harinya, Chanyeol berangkat ke bandara.

“Ibu akan merindukanmu nak.” Ucap Ny. Park sambil mendekap anak laki-lakinya itu. Park Chanyeol juga menangis dalam pelukan ibunya.

Aku juga akan merindukan Ibu’ batinnya dalam hati.

Ia meninggalkan Tokyo, Jepang di akhir 2003.

Beberapa jam perjalanan di udara membuat energinya terisi penuh. Setelah menginjakan kakinya di tanah Korea, Chanyeol buru-buru mencari taxi.

“Ahjussi, tolong carikan tempat penyewaan rumah.” Kata Chanyeol pada supir taxi yang dinaikinya.

Chanyeol memang fasih berbahasa Korea. Waktu ia SMA, bahasa yang dipilihnya adalah bahasa Korea. Alasannya agar besok jika ia diterima Seoul University, sekolah kedokteran terbaik di Korea ia tidak kesusahan belajar bahasa lagi.

Supir taxi yang di naiki Chanyeol menurunkannya di daerah Sandaebang.

Ia melihat sekeliling dan tatapannya berhenti di bangunan tinggi yang lumayan bagus dihadapannya.

Ketika Chanyeol mengamati bangunan dihadapannya, seorang wanita muda berlari ke arahnya. Chanyeol menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan bingung.

Wajah wanita itu dipenuhi lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah, “Kumohon, jangan biarkan orang itu melihatku.” Pinta wanita tadi. Chanyeol menurutinya. Tubuhnya ia geser sedikit untuk menutupi tubuh wanita itu.

Seorang laki-laki gemuk berteriak di belakang Chanyeol, “Jung Seyoung! Dimana kau?”

Wanita dihadapan Chanyeol menegang ketika mendengar teriakan itu. Wanita itu, mencengkram telapak tangan Chanyeol kuat.

Setelah laki-laki itu menjauh dari hadapannya, wanita itu menghela napas panjang.

“Terimakasih banyak.” Ucap wanita itu tulus dan disertai senyuman.

Senyuman itu. Chanyeol merasa dunia berputar lambat dan sialnya berhenti ketika matanya menangkap senyuman itu.

Wanita tadi mengayunkan tangannya, “Jung Seyoung.”

Tatapan Chanyeol semakin sulit diartikan ketika wanita itu mengajaknya berkenalan dalam waktu yang sangat singkat.

“Park Chanyeol.” Tanpa ragu ia menjawab disertai senyuman.

I“Sedang apa kau disini?

“Mencari sewaan rumah.”

Seyoung menganggukan kepala, lalu menarik tangan Chanyeol yang masih digenggamnya.

“Aku tahu dimana tempat sewaan rumah yang murah disini.”

Saat Seyoung menariknya, Chanyeol tidak mengelak. Ia merasa tangan gadis itu sangat dingin dalam genggamannya. Dan mulai dari saat itu, ia tahu. Bahwa Jung Seyoung tidak akan pernah bisa jauh-jauh dari pikirannya.

Chanyeol menyetujui usul Seyoung. Ia menyewa rumah di rumah susun daerah itu dan Seyoung ternyata juga tinggal di rusun itu. Bangunan nya memang lebih kumuh dari yang ia minati tadi. Tapi tidak apa, sepertinya Chanyeol menyewa rumah ini bukan untuk sekedar ditempati.

Sejak hari itu Chanyeol dan Seyoung mengenal satu sama lain. Hari-hari Chanyeol belajar di temani oleh Seyoung. Dan dihari-hari itu, Chanyeol sama sekali tidak menutupi perasaanya pada Seyoung.

Juli, Tahun 2004

“Chanyeol aku tidur disini ya?” ucap Seyoung, ia menyelonong masuk kerumah Chanyeol tanpa mengetuk.

Chanyeol mengernyit bingung, lalu bertanya, “Ayahmu ingin menjualmu lagi?”

Seyoung mengangguk, “Ya, besok kau ada kelaskan? Kalu begitu aku bisa membereskan rumahmu ini. Jadi dua hari menghindar dari Appa sudah membuatnya jauh lebih baik.”

“Kapan ayahmu berhenti ingin menjualmu?”

Bahu Seyoung terangkat, “Tidak tahu.” Jawabnya enteng

“Tidurlah di kamar, ini sudah malam. Aku ingin lihat televisi.” Kata Chanyeol berbohong. Sejujurnya, ia juga mengantuk karena ini sudah jam 11 malam, tapi wanita dihadapannya jauh lebih penting darinya.

Seyoung tersenyum manis dihadapan Chanyeol, “Terimakasih Chanyeol. Kau memang teman terbaikku!”

“Ya ya.” Seru Chanyeol sambil mecibir pelan. Ia menatap tubuh kecil Seyoung masuk ke kamarnya.

Chanyeol sedang memasak ramen ketika Seyoung masuk ke rumahnya tanpa mengetuk. Chanyeol terbelalak kaget melihat wanita yang disukainya menangis.

“Ada apa?” tanya Chanyeol.

Beberapa menit Seyoung tidak menjawab, “Chanyeol aku ingin mendaftar di Hongseok Entertaiment. Tapi aku tidak memiliki pendidikan yang mecukupi. Syarat disana harus memiliki latar belakang pendidikan seni.” Jawabnya sambil menyeka air mata.

Melihat Seyoung menangis seperti itu, Chanyeol merasa hatinya diremas-remas.

Ia menghampiri Seyoung. Kemudian lengannya memeluk erat tubuh Seyoung. “Aku ada uang, kau bisa mendaftar di Universitas mana saja. Besok aku akan mengantarmu. Hari ini aku di DO dari sekolah dan aku sudah di terima menjadi bartender. Hehe.” Hibur Chanyeol.

Lagi-lagi Chanyeol harus berkorban demi Seyoung. Walaupun ia harus mengorbankan nyawanya untuk wanita ini, ia mau. Asalkan bibir gadis ini terus melengkung membentuk senyuman.

Seyoung melepas pelukan Chanyeol, “Apa maksudmu? Kau tidak mungkin di DO Chanyeol. Nilai ujianmu selalu sempurna aku tahu itu.”

“Kemarin, saat praktek aku menghancurkan patung peragaannya. Jadi dosen-dosen disana tidak percaya lagi denganku. Dan akhirnya aku dikeluarkan.” Jawab Chanyeol.

Perkataan jika ia menghancurkan patung di laboratirium memang benar, karena saat melakukan ujian praktek dengan patung itu pikiran Chanyeol melayang memikirkan gadis dihadapannya saat ini.

Kemarin, saat ia meninggalkan rumah kondisi Seyoung memang sedang sakit panas karena ulah ayahnya yang menghukumnya untuk tidur di luar rumah semalam. Dan urusan bartender, ia memang mendaftar di salah satu Bar mewah dekat daerah Cheongdam ia berfikir jika ia mengambil pekerjaan sambilan, agar hidupnya semakin tercukupi.

Tangan Seyoung memukul dada bidang Chanyeol, “Hey, kenapa kau berbohong padaku?”

“Aku tidak berbohong.” Ucap Chanyeol. Lalu tangannya mecengkram tangan Seyoung.

Chanyeol menatap manik mata Seyoung, “Kau harus sekolah.”

Ditatap seperti itu, Seyoung sekali lagi meluruh. Air matanya jatuh lagi. Jantungnya berdegup tidak karuan. Chanyeol membuatnya menjadi patung yang hanya tidak bisa menatap apapun selain dirinya.

“Kenapa kau selalu seperti ini Chanyeol?”

Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapan matanya seakan mencair karena Seyoung.

“Karena aku mencintaimu.” Akhirnya Chanyeol menyatakan perasaannya.

Seyoung terdiam. Air matanya semakin deras mengalir. Ia merasa tubuhnya ringan sekali mendengar Chanyeol berkata seperti itu. Ia menatap Chanyeol lama.

Akhirnya suara lirihnya keluar karena perintahnya, “Bodoh, aku lebih dulu mencintaimu.”

Chanyeol merasa dirinya berhenti bernafas. Jantungnya juga berhenti berdetak. Dunia seolah-olah berhenti berputar sesaat. Sebelum dirinya sempat bereaksi, Seyoung berjinjit. Bibir dingin Seyoung menyentuh bibirnya. Tubuhnya  tidak bisa digerakan. Matanya juga sulit sekali dipejamkan.

Kemudian, tangan Seyoung terangkat ke tengkuk Chanyeol. Tangan Seyoung meremas lembut rambutnya. Saat itu juga Chanyeol memejamkan mata menikmati ciuman panjangnya dengan Seyoung.

Januari, Tahun 2007

Tanggal 5 Januari 2007 Seyoung resmi diterima di Hongseok Entertaiment. Karena itu, sekarang ini Chanyeol mengajaknya untuk merayakan moment penting ini di Pulau Jeju. Mereka berdua mempunyai jadwal selama 2 hari di Jeju.

Sampai disana, Chanyeol dan Seyoung mengelilingi banyak hotel di Jeju untuk mencari dua kamar kosong.

Tapi sampai di hotel yang ke 14, mereka berdua belum juga mendapatkannya.

“Penuh.” Ucap Chanyeol lalu menarik lengan Seyoung.

Mereka memasuki hotel yang ke 15. Tapi, hanya ada satu kamar kosong. Karena ini sudah menjelang malam, mereka tidak mempunyai pilihan dan memesan kamar itu.

Setelah chek in di kamar hotel itu, Chanyeol mengajak Seyoung ke pantai. Ia menggengam tangan wanitanya sambil terus tersenyum.

Chanyeol mengajaknya duduk di pinggiran pantai, hujan tiba-tiba saja mengguyur bumi. Mereka berdua lalu berlarian untuk meneduh.

“Dingin? Kau basah kuyub.” kata Chanyeol saat mereka sudah berada di gubuk dekat pantai.

Seyoung mengangguk. Tidak berselang lama, Chanyeol mengusapkan kedua tangannya berkali-kali. Setelah itu, ia membelai telinga, pipi dan bahu wanita itu.

Ia tersenyum, lengannya melingkar di bahu Seyoung.

Sentuhan yang ringan, tapi itu sukses membuat kedua pipi Seyoung memerah. Ia menjadi batu sekarang ini. Matanya tidak bisa berkedip sama sekali. Ia juga merasa jantungnya tidak bekerja dengan benar.

Seyoung menolehkan kepalanya untuk melihat Chanyeol. Bulu kuduknya terangkat ketika menyadari tubuh Chanyeol basah kuyub karena hujan. Akhirnya, iapun tersedak ketika melihat beberapa tetes air turun di tengkuk Chanyeol.

“Kau kenapa?” Tanya Chanyeol polos.

Tiba-tiba Seyoung melepaskan pelukan Chanyeol dan sedikit menjauh, “Ha..” ucapnya lalu tersenyum. “Hahaha tidak apa-apa.” lanjutnya garing.

Melihat itu Chanyeol tertawa lebar. “Apa maksudmu?” Chanyeol mendorong ringan lengan Seyoung, “Kenapa pipimu memerah? Kau malu padaku ya?” Ledek Chanyeol

Seyoung tidak terima, ia mencibir tidak jelas. Lalu genggaman tangannya meluncur bebas di dada bidang Chanyeol, “Aku tidak malu padamu! Dasar Tiang Listrik!” seru Seyoung sambil menjulurkan lidahnya.

Chanyeol tidak menjawab seruan Seyoung, ia hanya mengusap ubun-ubun Seyoung beberapa kali, lalu sibuk melihat titik-titik hujan yang ada dihadapannya sekarang.

Seyoung memandang kearah lain, lalu ia memukuli kepalanya sendiri, “Bodoh! Kenapa kau menganggapnya pria?! Astaga! Bod..” belum selesai gunamnya pada diri sendiri, tangan Chanyeol menarik tubuhnya mendekat.

Sesaat tatapan matanya berubah tajam dan itu ditunjukkan pada Seyoung seorang.

Seyoung kaku melihat mata Chanyeol. Ia seakan terserap pada tatapan mata coklat milik kekasihnya.

Chanyeol memajukan kepalanya untuk mendekati wajah Seyoung. Kurang beberapa centi lagi bibirnya menyentuh permukaan bibir tipis Seyoung. Seyoung memejamkan matanya erat-erat. Mengantisipasi apa yang terjadi beberapa menit kedepan.

“Hachuuh!” Tanpa ada aba-aba pria tinggi itu bersin dihadapan Seyoung. Chanyeol tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Karena malu, Seyoung berlari meninggalkan Chanyeol yang bingung harus berbuat apa.

Shower yang dinyalakan Seyoung mengguyur tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Kenapa kau terus membayangkan Chanyeol yang seperti tadi Jung Seyoung?! Astaga, dia hanya seorang laki-laki yang kelewat tinggi!”

Ia memejamkannya beberapa saat, lalu bayangan tubuh Chanyeol yang basah total dan membuat tubuh asli laki-laki itu terlihat, melintas di benak Seyoung.

Seyoung menggelengkannya lagi, “TIDAK BOLEH!” teriaknya. Suara tingginya menggema di tempat yang ia tempati sekarang

 

Seyoung menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya. Ketika ia keluar dari kamar mandi, mulutnya menganga lebar. Dalam hitungan detik ia tidak bernafas.

“Cha..Chanyeol, pakai bajumu!” serunya sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah. Park Chanyeol sekarang sedang bertelanjang dada.

Suara cengiran Chanyeol masuk dalam indra pendengarannya, “Maaf, aku kedinginan. Baju itu benar-benar basah.”

“Cepat mandi kalau begitu!” ucapnya lalu berjalan menjauh dari pintu.

Dengan wajah tanpa dosa Chanyeol memasuki toilet yang baru saja dipakai Seyoung.

Setelah Chanyeol benar-benar masuk ke toilet, Seyoung menghembuskan nafas yang ternyata sedari tadi ia tahan.

“Apa laki-laki itu berniat menggodaku?”

                                                                        –

Belum sampai 5 menit Chanyeol berada di kamar mandi, lampu di ruangan itu mati tiba-tiba.

“CHANYEOL!!!” 

Chanyeol mendengar jeritan Seyoung dari luar kamar. Ia terlalu takut jika terjadi apa-apa dengan Seyoung. Cepat-cepat Chanyeol mengenakan handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya dan berjalan keluar tanpa menggunakan kaos.

Tangannya meraba-raba untuk mencari keberadaan Seyoung. Chanyeol merasa seseorang mendekap dadanya yang belum kering dari air.

“Kenapa lampunya mati Chanyeol?” tanya Seyoung

Chanyeol tidak bisa menjawab. Ia sibuk mengatur nafasnya karena hembusan nafas Seyoung terasa di sekitar leher dan dadanya.

Mereka diam selama 3 menit dalam posisi seperti itu. Lalu lampu hotel itu menyala.

Seyoung menelan ludah dengan susah payah. Ini yang kedua kalinya melihat Chanyeol tidak mengenakan kaos.

Tidak tahu setan mana yang merasuki Seyoung, ia memberanikan diri untuk menarik tubuh Chanyeol mendekat padanya. Masa bodoh dengan semuanya, ia tetap menginginkan Chanyeol.

Chanyeol terbelalak melihat tindakan Seyoung. Mata Seyoung tertutup sempurna. Dengan sekali sentakan ia melumat bibir Chanyeol lembut. Lalu lama-kelamaan ciuman itu semakin menuntut. Ia menggalungkan lengannya ke leher Chanyeol dan menariknya.

Chanyeol tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang ia juga sulit sekali memejamkan mata.

“Park Chanyeol. Aku menginginkanmu.” Seyoung berkata lirih ketika bibirnya berada tepat diatas bibir Chanyeol.

Shit. Teriak Chanyeol dalam hati. Kali ini nafsu mengalahkan logikanya. Baiklah, ia akan meladeni wanita ini karena wanita ini juga yang memulainya.

Lalu, ia membalas setiap ciuman yang diberikan Seyoung. Ia tahu jika malam itu akan menjadi malam terindah dalam hidupnya. Malam ini akan terjadi ledakan-ledakan cinta antara dirinya dan Seyoung.

Februari, Tahun 2007

“Chanyeol, aku hamil.” Ujar Jung Seyoung. Suaranya pelan sepelan hembusan angin.

Seorang dihadapannya tidak mengatakan apapun. Pria itu terlalu sulit mencerna apa yang dikatakan kekasihnya itu. Ekspresi di wajah laki-laki itu bercampur menjadi satu antara sedih, senang dan bingung.

Park Chanyeol menggerakan tangannya untuk meraih tangan Seyoung, “Aku akan bertanggung jawab.” Lalu ia tersenyum. “Kau tenang saja. Setelah ini aku berjanji akan melamarmu.”

Sungai kecil membentuk dipipi Jung Seyoung, “Bagaimana dengan karirku Chanyeol? Bagaimana jika pihak label memecatku? Bagaimana jika.. Chanyeol, aku baru saja diterima. Aku tidak bisa Chanyeol. Anak ini harus..” suara wanita itu berlanjut menjadi isakan tangis yang menggema di rumah kecil milik Chanyeol.

Chanyeol menatap wanita didepannya dengan tatapan kosong. “Apa maksudmu?” tanya Chanyeol.

Selama 2 menit penuh tidak ada suara yang menjawab pertanyaan Chanyeol.

“Aku harus menggugurkannya.” Ucapnya dengan suara yang sangat pelan.

Tubuh Chanyeol kaku. Ia merasa seluruh syarafnya membeku. Apa tadi dia salah dengar?

Genggaman tangannya sedikit mengendur. “Kau mau membunuh anak kita?”

Seyoung hanya bisa terdiam. Ia menangis mendengar pertanyaan laki-laki miliknya itu. Bahunya terguncang saking kerasnya ia menangis.

“Aku tidak bisa Seyoung-ah. Jangan bunuh anak itu.” Bisik Chanyeol. Apa yang merubah wanitanya?

Ia lalu bangkit berdiri, “Apa kau malu mempunyai anak dariku?” tanya Chanyeol.

Seyoung tetap terdiam di posisi semula. Hatinya berteriak TIDAK untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Tapi saat ini, ia dan laki-laki dihadapannya memang harus selesai. Ia harus bisa mengejar impiannya untuk menjadi seseorang bintang ternama.

“Jung Seyoung! Katakan, apa kau malu jika dunia mengetahui seperti apa kekasihmu ini?” seru Chanyeol penuh emosi.

“Ya! Aku malu mempunyai anak darimu Park Chanyeol! Aku malu jika media mengetahui aku dihamili seorang bartender di Pub jalanan Seoul! Aku akan dipecat jika produserku tahu aku hamil! Dan semuanya itu karenamu! Aku muak terhadapmu!” Akhirnya Seyoung mengatakan kebohongan itu dengan sempurna. Mengubah kebohongan menjadi boomerang bagi hatinya sendiri.

Chanyeol menatap wanita dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. Jung Seyoung, wanita yang sangat dicintainya itu tidak sudi mempunyai anak darinya.

Beberapa menit ia diam mengartikan perkataan yang diucapkan Seyoung barusan.

Jung Seyoung bangkit berdiri. Ia menyeka semua airmata yang jatuh dipipinya. Ini sudah keputusan final, batinnya.

“Aku berjanji tidak akan mengunggurkan anak ini.” Ucapnya, lalu ia menghela napas, “9 bulan waktu yang tidak lama, aku hanya butuh bersembunyi dari siapapun. Setelah ini hak asuh anak ini semuanya ada padamu Chanyeol. Aku tidak mau seorangpun tahu jika anakmu ini anakku juga. Kumohon, jangan temui aku lagi.” Lanjutnya. Lalu Seyoung melangkah cepat menuju pintu keluar ruangan itu.

Chanyeol mencengkram sandaran kursi kayu dihadapannya. Ia tidak pernah merasakan sakit yang seperti ini. Sakit yang ia rasakan kali ini bisa menyebar ke seluruh tubuhnya hanya dalam waktu beberapa detik.

Tangannya terangkat kepelipis dan memijatnya perlahan. Ini tidak benar. Ia tidak bisa kehilangan wanita itu. Cepat-cepat Chanyeol memakai sepatunya dan berlari mengikuti Seyoung.

Sampai di lantai bawah bangunan itu, tubuhnya sekali lagi membeku. Perasaan sakit itu semakin menjadi dalam dirinya. Kalau sekarang ini di sebelahnya tidak ada pegangan tangga mungkin tubuhnya sudah membentur tanah dengan keras.

Wanitanya memeluk laki-laki lain. Seyoung menangis di dekapan seorang laki-laki dan laki-laki itu bukan dirinya. Sungguh, jika saat ini ada pipa besi, ia tidak akan berfikir dua kali untuk melemparkan pada laki-laki yang sudah berani menyentuh wanitanya itu.

Tapi apa yang dilihatnya ini sudah menjadi pembuktian. Jung Seyoung tidak menginginkannya lagi. Seyoung sudah meninggalkannya dan memilih laki-laki itu. Laki-laki yang diketahui Chanyeol adalah tangan kanan pemilik label Seyoung. Berarti dia adalah tangga menuju kesuksesan Seyoung.

Chanyeol tidak berhenti menatap dua orang yang berjarak 5 meter dihadapannya itu.

“Sehun-ah, kumohon sembunyikan aku sampai bayi ini lahir.” Perkataan Seyoung menusuk pendengeran Chanyeol.

Chanyeol memejamkan matanya untuk meredakan rasa sakit yang ia rasakan. Cengkraman tangannya di pegangan tangga juga semakin kuat.

Dari sudut matanya, ia melihat Seyoung dituntun laki-laki yang bernama Sehun itu ke mobilnya. Lalu setelah itu, Chanyeol tidak melihat Seyoung lagi.

Ia melangkah gontai menuju taman didekat rumah susunnya.

Chanyeol mendudukan tubuhnya di ayunan kesukaan Seyoung. Ia tertawa hambar. Lama kelamaan tawanya itu semakin keras. Ia tidak peduli dengan perkataan orang-orang yang disekitarnya. Ia hanya peduli pada hatinya yang perlu diobati sekarang. Ia hanya perlu berteriak dan ia yakin setelah ini akan membaik dengan sendirinya.

Tapi pemikirannya itu sama sekali tidak benar karena hari-hari setelah hari itu dijalaninya seperti menjalani hidup seorang terkena penyakit kanker stadium akhir. Park Chanyeol tidak memiliki tujuan hidup.

e12

Park Seyoung

e 13

Chanyeol’s Daugther – Park Nara

2 responses to “[FREELANCE] Love is Unfair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s