[FREELANCE] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 14)

Title : The Best for Someone Who I Love 2 (Part 14)

The Best For Someone Who I Love 2

Author  : @YoMollayo

Cast : Cha Eunsung (OC), Park Chanyeol, Byun Baekhyun, EXO members

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-13/PG-17

Length  : Chapter

Disclaimer : All of the stories belong to God but written by me

Poster by : Wuu

Previous : Part 1 , Part 2 , Part 3 , Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Part 8 , Part 9, Part 10,Part 11, Part 12, Part 13

Bagian ini terinspirasi dari Drama Dream High II tapi aku berusaha membuat versi aku sendiri ya. Maaf kalau tidak menarik dan hampir sama. Aku mewajibkan chingudeul untuk mendengar lagu Loveholic – Dream of A Doll  dan Tim Hwang – I Love You sebelum membaca cerita ini hahaha supaya ‘feel’ nya lebih dapet. Lagu ini juga sudah banyak di cover oleh k-pop idol seperti Baekhyun, Taemin, Kyuhyun, Sungmin, Ryeowook, Sunggyu, Chunji dsb. Jadi, wajib di dengarkan hahahaha. Happy reading J

 

—AUTHOR POV—

“Bagaimana jika aku menyukai keduanya dalam waktu yang bersamaan?” tanya Eunsung semakin bingung.

“Tidak mungkin. Pasti ada celah, meskipun hanya sedetik.” balas Jihyu disebrang.

“…….”

“…….”

“…….”

“Ya! Cha Eunsung, kau masih disana?!” tanya Jihyu sebal.

“Eo.”

“Kenapa diam saja! Katakan sesuatu!”

“Nan molla!” teriak Eunsung frustasi.

“Ya! Eunsung-ah! Lakukan apa yang terbaik untukmu meskipun kau harus menyakiti dirimu sendiri. Hal yang kau lakukan ini hanya mencari sebuah pembelaan. Ne, kau memang mencintai keduanya tapi pasti ada seseorang yang lebih kau cintai atau seseorang yang lebihingin kau habiskan waktu bersamanya. Sudahlah, jangan memikirkan hal macam-macam. Percayalah dengan apa yang kau pilih, apa yang menjadi keinginanmu.” Jihyu menghela nafasnya kesal.

“Tapi bukan ini yang aku inginkan Jihyu-ah.” balas Eunsung frustasi.

“Ya! Keinginanmu harus menyesuaikan dengan apa yang terjadi. Bukan apa yang terjadi menyesuaikan dengan keinginanmu.”

Eunsung hanya bisa diam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jihyu.

“Tapi…” Eunsung menghela nafas panjang.

“Sudahlah Eunsung. Jangan banyak alasan. Buang semua ego mu dan lakukanlah hal yang menurutmu paling baik.” balas Jihyu lembut. Dia sedikit bisa mengerti apa yang dirasakan Eunsung.

Eunsung tidak menjawab. Suasana hening muncul di antara keduanya.

“Aku tutup telfonnya okay. Jangan melakukan hal bodoh. Annyeong.” Jihyu menghela nafasnya berat lalu menekan tombol merah pada layar ponselnya.

Eunsung meletakkan handphone nya sembarang lalu berjalan menuju beranda kamarnya. Yeoja ini menghirup udara malam yang cukup dapat menenangkan pikirannya.

*****

–Keesokan Harinya–

Eunsung memakan sarapannya tidak berselera. Bukan karena makanannya tidak enak, hanya saja pikirannya melayang jauh kemana-mana karena saat ini dia tidak hanya bersama Chanyeol tetapi juga ada Baekhyun dan Luhan.

‘Kenapa dia duduk tepat di depanku?’ Eunsung mengaduk-aduk nasi dengan sumpit yang dipegangnya. Sesekali dia menatap orang tersebut kesal.

“Eunsung-ah apa yang kau lakukan?” Luhan membuka mulutnya.

“Ne?” tanya Eunsung bingung.

“Biarkan saja hyung. Bengong memang hobinya.” Baekhyun sedikit terkekeh.

Eunsung menatap namja yang duduk dihadapannya semakin sebal. Baekhyun semakin melebarkan bibir tipisnya, beberapa gigi putihnya terlihat. Mata namja itu melengkung membentuk eye-smile. Sebenarnya dibandingkan eye-smile, mata namja itu lebih tepat di katakan semakin terlihat segaris, semakin menghilang.

“Buka mulutmu.” suara berat seorang namja menyadarkan Eunsung dari lamunannya.

Eunsung menatap seseorang disebelahnya. Chanyeol mendekatkan sumpit dengan bibir Eunsung.

Yeoja ini membuka mulutnya, membiarkan namja di sebelahnya menyuapi makanan.

“Enak bukan?” Chanyeol tersenyum. Eunsung menganggung kikuk, kaget dengan apa yang dilakukan namja tersebut.

“Eunsung-ah kau juga harus mencoba ini.” Baekhyun mendekatkan daging yang diapit dengan sumpit ke bibir Eunsung.

Eunsung melirik Chanyeol ragu-ragu lalu membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang diberikan Baekhyun.

“Enak kan?” Baekhyun tersenyum, Eunsung mengangguk kikuk.

“Kau mau lagi?” Chanyeol menatap Eunsung.

“Eunsung-ah, kau mau mencoba yang ini?” Baekhyun menunjuk menu makanan lainnya.

“Ya! Apa-apaan kalian?” Luhan berhenti mengunyah lalu menatap curiga hoobae nya. Dia belum mengerti dengan apa yang terjadi diantara mereka tetapi hal tersebut sangat mencurigakan.

Eunsung, Baekhyun dan Chanyeol saling menatap satu sama lain. Tidak ada yang mau menjelaskan cerita panjang dan rumit yang terjadi diantara mereka bertiga. Ketiga sahabat ini kembali mengunyah makanannya dengan normal. Luhan menatap mereka semakin curiga.

“Ah hyung berhenti menatap kami seperti itu.” Baekhyun merasa tidak nyaman.

“Eo… Gege kau membuat selera makan kami hilang.” tambah Chanyeol.

“Arraseo…” Luhan mengalah.

“Chanyeol-ah, Eunsung-ah kenapa kalian memilih berlibur kesini? Bukankah rumah kalian di Busan juga?”tanya Luhan.

“Ah meskipun di dekat kami ada pantai tetapi daerah tersebut bukan daerah wisatawan jadi tidak ada fasilitas seperti ini. Lagipula tidak masalah, kami berdua memang tidak bisa melepaskan laut.” balas Chanyeol menghentikan makanannya.

“Aku juga mendengar jika akan di bangun Busan Mega Hotel II yang akan di rancang oleh dua arsitek hebat. Tidak kusangka ternyata mereka adalah kalian berdua.” lanjut Chanyeol melirik Baekhyun dan Luhan.

“Siapa yang mengatakan hal seperti itu? Mereka memang benar.” Luhan terkekeh geli.

Chanyeol menyesal telah mengatakan hal tersebut.

“Kapan kalian mulai bekerja?” tanya Chanyeol.

“Mulai minggu depan. Kami sengaja datang lebih awal agar bisa bersenang-senang dahulu.” balas Luhan.

“Setelah pekerjaan selesai?” tanya namja bersuara bass ini.

“Tentu saja kami akan kembali ke tempat kami berasal.” balas Luhan.

“Baekhyun juga?” tanya Chanyeol.

“Eo…” balas Baekhyun tidak bersemangat. Dia melirik Eunsung dan Chanyeol yang menatap nya seolah-olah melarangnya untuk kembali. Baekhyun terkekeh kecil. Mungkin ini hanya imajinasi nya saja.

“WAE?” bentak Baekhyun merasa tidak nyaman terus ditatap.

“Aniyo.” balas Eunsung dan Chanyeol bersamaan. Keduanya melanjutkan makan.

“Hyung apa rencamu hari ini?” tanya Baekhyun.

“Ah ini…” Luhan mengeluarkan notes book miliknya. Dia mencatat dengan rapi kegiatan apa saja yang harus dilakukan hari ini dengan hoobae nya mulai dari mengunjungi Sea Life Busan Aquarium, bedoa di Kuil Haedong Yonggungsa sampai dengan menonton teater musical di Busan Exhibition and Convention Center.

“Wow Hyung. Ini luar biasa.” Baekhyun tercengang. Luhan hanya tersenyum.

“Ah ini tiket untuk menonton teater musikal nanti.” Luhan memberikan tiga tiket kepada Eunsung.

“Kenapa memberikan kepada kami? Gege saja yang menyimpannya. Kita kan masuk bersama-sama.” balas Eunsung.

Luhan tersenyum terkekeh kikuk lalu menatap 3 orang hoobae nya.

“Mian. Hari ini aku tidak bisa bersama kalian. Teman-teman SMP ku mengajak untuk menghabiskan waktu bersama hari ini. Jadi kalian bertiga saja ya menikmati semuanya.” Luhan tersenyum paksa.

Baekhyun, Chanyeol dan Eunsung menatap Luhan bersamaan.

*****

Kamar Eunsung, Busan Mega Hotel, 22:10

“MWO? Jadi kalian hanya pergi bertiga? WAH!” teriak seorang yeoja diseberang membuat telinga Eunsung sakit.

“Ne. Tadinya kami berniat untuk membatalkan acara hari itu tanpa sepengetahuan Luhan-gege tetapi tiba-tiba saja seorang biksu dari Kuil Haedong menelfon Baekhyun dan mengatakan jika dia sudah menyiapkan makan siang dan jamuan teh untuk kami karena Luhan-gege memberi tahu kalau kami akan datang. Dia juga sudah mempersiapkan seluruh tiket masuk untuk kegiatan kami hari itu. Akhirnya kami putuskan untuk tetap melakukan kegiatan tersebut.” balas Eunsung.

“Apa yang terjadi?” tanya Jihyu di seberang penasaran.

“Hah… seperti biasa ada perang kecil antara aku, Baekhyun dan Chanyeol. Tetapi aku senang sekali saat datang ke kuil, biksu meminta pendapat kami tentang memperluas wilayah kuil. Saat itu Baekhyun dan Chanyeol sangat bersemangat menjawabnya bahkan mereka memberikan banyak masukan untuk biksu. Mereka juga menggambar sketsa kasar. Hal tersebut terjadi begitu saja.” kekeh Eunsung.

“Wah syukurlah semua berjalan lancar.” Jihyu terkekeh.

“Eo. Tapi Jihyu.… ada satu hal yang membuatku tertekan sampai saat ini.” Eunsung menghela nafas.

“Mwo?” tanya Jihyu penasaran.

“Besok aku dan Chanyeol akan kembali dari Haeunde sebelum kembali Baekhyun memintaku memberikan jawaban.”

“Hah? Kenapa mendadak sekali?!” teriak Jihyu.

“Eo. Dia ingin menyelesaikan semua sebelum memulai pekerjaannya. Jika aku menolaknya maka dia hanya akan fokus pada pekerjaan, setelah pekerjaan selesai dia akan kembali ke Singapore. Jika aku menerima maka dia akan mencari waktu luang untuk menemuiku di sela pekerjaannya dan meminta boss nya untuk di tugaskan di Korea.” balas Eunsung.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Eunsung bingung.

Jihyu menghela nafasnya berat. Sudah berkali-kali dia memberikan solusi tapi tidak pernah di dengar oleh yeoja ini.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan Eunsung-ah?” tanya Jihyu.

Eunsung diam. Dia menarik nafas sangat dalam. Yeoja keras kepala ini berusaha untuk jujur pada dirinya.

“Aku tidak ingin menyakiti Chanyeol terus menerus.” balas Eunsung.

“Hanya itu?” tanya Jihyu.

“Aku tidak ingin Baekhyun pergi jauh lagi….” tambah Eunsung.

“Kau mencintai Baekhyun?” tanya Jihyu.

Eunsung menghela nafas sangat dalam. Sulit sekali untuk mengungkapkannya. “Hmm…”

Jihyu menghela nafas panjang. Pikirannya berusaha merangkai kata-kata indah untuk membuat Eunsung mengerti.

“Eunsung-ah… terkadang kita selalu di tuntut untuk memilih satu dari banyak nya pilihan terbaik. Dalam kehidupan memang selalu ada yang dikorbankan. Kau tidak bisa memiliki segalanya. Jika kau menginginkan Baekhyun maka pilihlah dia. Jangan sampai kau menyesal lagi. Chanyeol memang akantersakiti tetapi seiring berjalannya waktu dia pasti bisa menerima kenyataan. Eunsung-ah, Chanyeol masih sangat muda. Masih banyak hal yang bisa diraihnya selain cinta.” balas Jihyu.

“Memang terdengar tega dan tidak berperasaan tetapi hal tersebut adalah hal terbaik untuknya. Eunsung-ah, semakin kau membohongi dirimu, semakin tersiksa juga Chanyeol.” lanjut Jihyu.

Check mate! Eunsung hanya bisa diam. Semua yang Jihyu katakana sangat menyakitkan untuk menjadi kenyataan.

“Menyerahlah Eunsung-ah jangan terlalu egois.” tambah Jihyu.

“Eunsung-ah boleh aku bertanya?”

“Eo..” balas Eunsung masih dalam pikirannya.

“Dulu kau sangat menyukai Chanyeol, kau bahkan rela bersamanya terus meskipun dia tidak hanya menganggapmu sebagai sahabat baiknya. Kenapa sekarang kau menyukai Baekhyun? Apa yang membuatmu menyukainya?”

“Ehmmm……” Eunsung berpikir, membuka memory lama miliknya.

“Hmmm semuanya bermula dari kebencian.” balas Eunsung.

“Hah?”

*****

FLASHBACK

Awal Semester 6, Winter Boot Camp

Angin musim dingin berhembus dan melewati tubuh setiap orang yang berdiri di tempat camping yang berada di bawah kaki gunung. Angin tersebut tidak berhembus kencang tapi tetap saja membuat banyak orang disini merasa dingin meskipun mereka sudah memakai pakaian yang cukup tebal.

“Uh dingin sekali. Shiro.” Tubuh namja ini menggeliat karena udara yang bagi dia sangat dingin padahal dibulan ini udaranya sudah tidak sedingin sebelumnya karena menuju musim semi.

Eunsung menatap namja disebelahnya sedikit sinis. Dia berpikir bagaimana bisa seorang namja selemah dia, lagipula dia sudah lahir dan besar di negara ini seharusnya dia terbiasa dengan udara seperti ini.

“Baekhyun-ah gwencana?” Chanyeol menatap sahabatnya kawatir. Dia tahu jika sahabatnya ini paling benci dan tidak tahan dengan udara dingin. Chanyeol membuka syal yang ada dilehernya.

Eunsung membelalakkan matanya melihat apa yang dilakukan Chanyeol.

“Aniyo.” Eunsung menahan tangan Chanyeol yang sedang berusaha melepaskan syal yang membelit lehernya. Chanyeol nenatap sahabatnya tidak mengerti.

“Baekhyun-ah kau pakai syal ku saja. Aku memakai dua syal.” Eunsung segera melepas salah satu syal yang membelit lehernya dan melilitkannya secara asal di leher Baekhyun.

“Aniyo gwenchana.” Baekhyun menahan Eunsung. Sebagai seorang namja tidak seharusnya dia menerima syal dari yeoja.

Eunsung menatap Baekhyun. “Pakailah daripada kau nanti sakit.”

“Mianhae. Gomawo.” balas Baekhyun.

“Hmm ini.” Eunsung mengambil hotpack yang ada dikantungnya lalu menaruhnya ditangan Baekhyun.

Baekhyun tersenyum dengan apa yang dilakukan Eunsung, baginya yeoja ini sangat baik.

“Gomawo.” Baekhyun memberikan senyum indahnya untuk Eunsung.

“Ne.” balas Eunsung acuh tak acuh.

Eunsung menghela nafas lega “Syukurlah aku sudah mempersiapkan ini. Bagaimana jika Chanyeol memberikan syal yang dipakainya untuk Baekhyun? Dia pasti sakit nanti. Baekhyun benar-benar menyusahkan saja.” batin Eunsung, yeoja ini sesekali melirik kesal kearah Baekhyun.

“Gomawo Eunsung.” Chanyeol tersenyum. Eunsung membalas senyuman tersebut. Dia merasa senang karena bisa menyelamatkan Chanyeol, sahabat sekaligus seseorang yang disukainya.

Prit Prit Priiiiiiiiiiiiiiiiiit

Bunyi pluit panjang berhasil menarik perhatian murid-murid teknik arsitektur ini. Mereka semua menatap seseorang namja dewasa, wajahnya tidak ramah sama sekali, tidak ada senyum disana.

“Annyeong hasimika.” sapa namja dewasa tersebut.

“Selamat datang di Winter Boot Camp. Nama saya Choi Jinhu, intruktur kalian selama dua hari kedepan. Pelatihan disini dibuat agar kalian, mahasiswa semester 6 siap untuk menghadapi kerasnya semester 7 dan 8. Disini juga merupakan moment terakhir kalian bersama-sama di perkuliahan karena di semester 7 dan 8 nanti kalian akan mengerjakan kesibukan masing-masing jadi jalinlah kerjasama yang baik satu sama lain.”

“Neee.” balas mahasiswa-mahasiswa arsitektur setempat.

“Sekarang berbarislah menjadi 5 barisan.” perintah instruktur.

Semua mahasiswa mulai mengatur barisan, orang yang paling pendek berada di paling depan dan yang paling tinggi berada di belakang. Eunsung mau tidak mau harus berpisah dengan Chanyeol karena perbedaan tinggi yang sangat jauh. Eunsung terpaksa berbaris di paling depan sedangkan Chanyeol berada dipaling belakang.

“Perhatian semua.” Instruktur Kim memulai percakapan.

“Neeee.” semua siswa menjawab instruktur Kim.

“Apa kalian sudah membawa apa yang saya sampaikan melalui sonsaengnim kalian?”

“Neeeee.”

“Bagus kalian semua anak-anak yang patuh. Sekarang keluarkan benda tersebut dari tas kalian dan letakkan pada kotak yang ada di depan.” perintah Intruktur Kim.

Semua anak mengikuti apa yang dikatakan oleh instruktur Kim. Eunsung maju lalu dengan ragu meletakkan barang tersebut.

“Apa kalian mengerti kenapa aku menyuruh kalian membawa benda yang paling kalian sayangi?” tanya Intruktur Kim. Semua mahasiswa diam.

“Aku ingin setelah kalian pulang dari camp pelatihan ini kalian menyadari betapa pentingnya sesuatu yang kalian sayangi dan akan terus berusaha untuk mendapatkannya.”

Semua mahasiswa diam tidak mengerti. Mereka menatap satu sama lain, semua tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh instruktur Kim.

“Mulai saat ini semua barang kalian akan di sebar di seluruh daerah camping ini. Kalian dapat mencarinya saat waktu bebas. Semua barang harus ditemukkan sebelum hari ketiga, atau hari terakhir di camp ini kalau kalian tidak bisa melakukannya maka kalian tidak akan pulang, terus berada di sini melanjutkan latihan.” tegas Instruktur Kim.

“Waaaaaaaaa.” seluruh mahasiswa mengeluh, tidak terima dengan apa yang baru dilontarkan oleh Instruktur Kim. Mereka menatap satu sama lain.

“Tenda Yeoja terletak di sebelah kanan.” Instruktur Kim menunjuk arah kanan, semua mahasiswa mengarahkan pandangannya ke kanan.

“Namja di sebelah kiri.” Lanjut Instruktur Kim.

“Saat hitungan ketiga berbaliklah lalu ganti baju kalian. Pada hitungan ke 60 kalian semua sudah harus ada di sini jika tidak maka semuanya akan di hukum.” Perintah Instruktur Kim.

Hana……. Dul……. Set………

Seluruh mahasiswa berlari menuju tempat yang tadi ditunjuk oleh instruktur, setelah itu mencari tenda masing-masing dan mengganti baju dengan baju pelatihan dengan sangat cepat lalu kembali ke lapangan utama.

Untung saja seluruh siswa datang tepat waktu. Beberapa siswa laki-laki terkekeh melihat beberapa riasan siswa perempuan yang menjadi berantakan, mungkin efek mengganti baju terlalu cepat.

Semua kegiatan berjalan lancar. Seluruh mahasiswa dilatih untuk lebih dekat dengan alam dan juga memainkan berbagai macam permainan yang menyenangkan. Mereka berkeliling saat ada free time untuk mencari seluruh barang kesayangan agar bisa pulang tepat waktu. Acara ini berlangsung cukup menyenangkan untuk seluruh siswa, asalkan tidak melanggar aturan maka semua bisa berjalan lancar.

“Kyaaaaa ketemu.” teriak Jeon Jomi, dia bahagia karena bisa menemukan barang berharganya.

“Wah kau beruntung sekali.” teman-temannya merespon.

“Ini punya siapa?” teriak Bomi sambil mengangkat sebuah jam tangan kulit.

“Itu punyaku gomawo Bomi-ah.” Seunghwan berlari menuju Bomi untuk mengambil barang kesayangannya.

Dari kejauhan Eunsung menghela nafas panjang. Dia merasa senang teman-temannya sudah menemukan barang berharga mereka tetapi dia juga sedih karena barang berharganya belum ketemu. Yeoja ini tersenyum kecut lalu melanjutkan mencari kotak berwarna hijau dengan corak militer, di dalam kotak tersebut terdapat barang-barang kesayangan siswa. Terkadang kotak tersebut isinya kosong, jadi mereka harus kerja keras untuk mencarinya.

“Eunsung-ah jangan sedih. Kita masih punya waktu dua hari.” Chanyeol menepuk pundak sahabatnya.

“Ne.” Yeoja ini tersenyum kecut.

“Ayo kita lanjutkan mencari sebelum free time berakhir.” Baekhyun menatap Eunsung dan Chanyeol.

Kedua orang tersebut menganggukkan kepalanya bersamaan. Beberapa menit kemudian waktu istirahat berakhir, seluruh mahasiswa di minta untuk melanjutkan aktivitas pelatihan.

Matahari yang memberikan kehangatan di musim dingin ini semakin menghilang, langit menjadi semakin gelap. Angin sesekali berhembus membuat udara yang seharusnya tidak terlalu dingin karena sudah di akhir musim, menjadi bertambah dingin.

Dibawah langit yang dipenuhi bintang-bintang yang bercahaya, seluruh mahasiswa dikumpulkan di depan perapian. Mereka semua duduk melingkar dan berdekatan satu sama lain. Kim-instuktur dan seluruh rekannya memandu acara. Seluruh mahasiswa mendengarkan hal-hal yang dikatakan instruktur mereka.

“Apa kalian semua sudah mendapatkan papan jalan, pulpen, 2 kertas dan amplop?” tanya instruktur Kim.

“Neeeee.” balas seluruh mahasiswa.

“Karena kalian semua mahasiswa arsitektur. Aku ingin kalian menggambar tempat impian kalian. Setelah itu tulislah sebuah surat untuk seseorang yang akan tinggal ditempat tersebut berisi apa yang ingin kau dan dia atau mereka lakukan disana, mengapa kau memilih tempat itu bersamanya, dan lain sebagainya. Jika kau ingin tempat itu hanya untuk kau huni sendiri maka tulislah surat untuk dirimu dimasa depan, tulis kenapa kau ingin disana sendiri. Tuanglah perasaan kalian didalamnya. Setelah itu tulislah nama dan alamat seseorang yang berhak menerima gambar dan suratmu karena kami akan mengirimkannya kepada mereka.” Intruktur Kim menatap seluruh mahasiswa.

“Woaw.” reaksi beberapa mahasiswa. Mereka cukup tersentuh dengan tugas ini. Beberapa dari mereka juga tersenyum-senyum. Mungkin sedang membayangkan sesuatu.

“Jeosonghamnida Instruktur Kim. Kami tidak memiliki meja dan peralatan lengkap jadi….” seorang mahasiswa mengangkat tangannya.

“Sebentar lagi kalian akan bekerja diluar sana. Jadilah seorang arsitek yang professional, bisa bekerja bagaimanapun keadaan.” Potong Instruktur Kim.

“Algeseubnida. Kamshamnida.” balas mahasiswa tersebut.

“Aku beri kalian waktu satu jam. Bayangkan dan renungkanlah.” Perintah Intruktur Kim.

“Neeeee.” balas seluruh mahasiswa bersamaan.

Suasana kembali tenang. Hanya suara bakaran api yang terdengar. Beruntung angin sudah tidak berhembus membuat udara menjadi hangat. Setiap mahasiswa berpikir tentang apa yang mereka inginkan. Sesekali mereka mengarahkan kepalanya keatas untuk melihat bintang-bintang yang sangat banyak atau menghadap kedepan melihat pohon-pohon tinggi, berharap mereka bisa mendapatkan ide. Beberapa mahasiwa tersenyum, kadang terkekeh sendiri lalu mulai menggambar, sepertinya mereka sudah memiliki ide yang luar biasa.

Eunsung menggigit-gigit pulpennya pelan. Mencari sebuah ide baru. Dia sudah pernah memikirkankan hal ini sebelumnya tetapi rasanya hal tersebut sangat tidak mungkin. Yeoja ini juga tidak memiliki keberanian untuk mengirimkan surat tersebut.

Dari kejauhan Eunsung menatap seseorang dihadapannya, meskipun terkadang terhalang oleh api unggun tetapi yeoja ini dapat melihatnya secara jelas. Seseorang yang ditatap Eunsung sudah mulai menggambar. Sesekali senyum terukir diwajahnya. Mata namja itu bersinar sinar.

Namja bertubuh tinggi itu mengintip gambar namja bermata sipit yang duduk disebelahnya. Namja bermata sipit itu menyadarinya lalu terkekeh. Namja bertubuh tinggi itu mengengacungkan jempolnya kepada namja bermata sipit disebelahnya. Namja bermata sipit tersebut semakin terkekeh, dia juga melakukakan hal yang sama kepada namja bertubuh tinggi yang duduk disebelahnya. Mereka berdua saling memberikan komentar positif tentang gambar satu sama lain.

‘Memang tidak mungkin.’ batin Eunsung. Yeoja ini menghembuskan nafasnya berat. Dia melirik namja bermata sipit tersebut.

‘Ah andai saja dia tidak pernah ada. Menyebalkan. Kenapa harus dia? WAEYO???’ guman Eunsung.

Eunsung meletakkan peralatan miliknya dipahanya kemudian yeoja ini membungkukkan badannya hingga wajah dan lututnya bertemu, kedua tangannya yang dilipat menjadi tumpuan antara wajah dan lututnya.

‘Ah jinjja! Aku benci sekali melihatnya. Kenapa aku bukan Baekhyun?’ batin Eunsung. Perlahan-lahan dia menutup matanya dan berusaha memikirkan sebuah ide.

“Hah.” Eunsung segera kembali ke posisi normal. Teringat akan sesuatu dan terpikir sebuah ide cemerlang.

Yeoja mungil ini segera mengambil peralatannya. Dengan sigap dia segera mengerjakan pekerjaannya berusaha secepat mungkin. Dalam beberapa menit pekerjaannya selesai, dia segera memasukkan surat dan gambar yang dibuatnya ke dalam amplop dan menuliskan alamat tujuan. Setelah itu dia tersenyum senang.

Yeoja ini melihat keselilingnya. Banyak teman-temannya yang sedang berusaha keras, ada juga yang sudah tertidur. Tidak ada instruktur yang mengawasi mereka. Yeoja ini tersenyum penuh kemenangan. Pelan-pelan dia melangkahkan kakinya keluar dari area tersebut dan berjalan mencari sesuatu yang ingin ditemukannya saat itu juga.

Eunsung mengingat-ingat area yang sudah dikelilinginya di tempat camping yang cukup luas ini. Yeoja ini melihat papan bertuliskan ‘hutan kecil’. Sepertinya dia belum pernah masuk kesini, tanpa ragu yeoja ini melangkahkan kakinya untuk masuk.

Hutan buatan ini cukup terang, ada banyak lampu jalan yang menyinarinya. Eunsung mulai mencari-cari kotak berwarna hijau. Sesekali Eunsung memasukkan tangannya ketumpukan daun kering dan sisa-sisa salju, berharap kotak tersebut ada disana.

“Ya! Haksaeng (murid)!” suara berat seorang namja terdengar dekat dengan Eunsung.

Jantung Eunsung berdebar kencang mendengar suara tersebut. Yeoja ini mengutuki dirinya, pasti dia akan dihukum sebentar lagi. Dengan berat hati Eunsung membalikkan badannya sambil menundukkan kepalanya.

“Jeo jeosongham—” Eunsung membelalakkan matanya melihat seseorang yang ada didepannya. Namja itu terkekeh, senyum lebar dan tawa tergambar diwajahnya. Sepertinya dia sangat puas melihat reaksi Eunsung.

Eunsung menatap namja itu kesal. Tanpa memperdulikannya, yeoja ini segera melanjutkan untuk mencari apa yang diinginkannya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya namja ini pelan sambil berjalan ke sebelah Eunsung.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu.” balas Eunsung acuh.

“Aku melihatmu berdiri dari tempat dudukmu. Aku pikir kau akan ke toilet tetapi kau jalan ke arah yang berbeda.” Namja ini tersenyum. Eunsung tidak memperdulikannya.

“Apa kau mencari benda berhargamu?” tanya namja ini.

Eunsung tidak membalasnya. Dia sangat serius mencarinya.

“Sepertinya benda tersebut sangat berharga bagimu.” Namja ini membuka suaranya lagi. Dan untuk ketiga kalinya diacuhkan oleh Eunsung.

Namja ini tersenyum kikuk. Tanpa aba-aba dia segera mencari kotak berwarna hijau, berharap segera menemukan apa yang dicari oleh temannya.

Eunsung menghentikan pekerjaannya. Dia menatap namja tersebut.

“Baekhyun-ah kembalilah. Chanyeol akan mencarimu.” Eunsung membuka mulutnya.

“Aniyo. Aku sudah bilang jika aku akan ke toilet dan akan memakan waktu yang lama.” Baekhyun tersenyum.

“Jika instruktur mengetahui ini kau bisa dihukum.” lanjut Eunsung.

“Aku tidak akan membiarkan kau dihukum sendirian.” balas Baekhyun.

Eunsung menatap Baekhyun ragu-ragu. Dia memang membutuhkan bantuan seseorang untuk mencari barang kesayangannya, tetapi orang tersebut kenapa harus Baekhyun?

“Udara disini sangat dingin. Bagaimana jika kau sakit nanti? Kembalilah ke api unggun.” perintah Eunsung.

“Jika kau kembali aku kembali, jika tidak aku juga tidak.” balas Baekhyun tetap pada pendiriannya.

Eunsung tidak punya pilihan selain membiarkan orang tersebut membantunya.

“Kenapa kau mencarinya sekarang? Kita masih memiliki waktu dua hari lagi.” tanya Baekhyun.

“Aku harus menemukannya duluan sebelum orang lain menemukannya.” balas Eunsung.

“Apa benda berhargamu?” Baekhyun menatap Eunsung lalu melanjutkan mencari.

“Bukan sesuatu yang istimewa. Hanya sebuah notes book biasa.” balas Eunsung. Sebenarnya itu notes book yang diberikan Chanyeol untuknya.

“Kau menjadikannya sebagai buku diary mu?” Baekhyun menebak.

Deg! Jantung Eunsung berdetak. Sial, Baekhyun benar-benar sangat pintar.

“Warnanya sampulnya hijau. Ada namaku dan tulisan lain di sampulnya. Jika ketemu, jangan membukanya! Langsung berikan padaku!” balas Eunsung sebal. Baekhyun terkekeh melihat reaksi yeoja itu, mudah sekali ditebak.

“Apa yang kau tulis didalamnya?” tanya Baekhyun kemudian melanjutkan mencari.

“Jika kau berjanji untuk tidak membukanya andaikan kau yang menemukan terlebih dahulu maka akan kuberi tahu.” balas Eunsung.

“Baiklah aku berjanji.” tanpa ragu Baekhyun menyetujuinya.

“Tentang orang yang aku sukai dan orang yang kubenci.” lanjut Eunsung.

“Ah…” balas Baekhyun lemah. Seperti dugaannya.

Kedua orang ini kembali melanjutkan mencari kotak tersebut. Eunsung sudah menemukannya, tapi isinya barang orang lain bukan benda kesayangannya. Benda tersebut akan Eunsung simpan dan berikan kepada pemiliknya besok.

Eunsung dan Baekhyun terus melakukan pencarian. Mereka tidak sadar jika sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan buatan.

“Ah!” Baekhyun melihat sebuah kotak hijau dari kejauhan. Namja ini segera berlari mendapati kotak berwarna hijau yang terletak dibawah pohon. Eunsung ikut menyusul Baekhyun, dia juga melihatnya.

Baekhyun mengambil kotak tersebut lalu membukanya. Dia tersenyum lebar saat melihat isi kotak tersebut berupa sebuah notes book dengan sampul warna hijau.

‘Dream of A Doll – Cha Eunsung’ begitu yang tertulis di sampul depan notes book tersebut.

“Kau menemukannya?” Eunsung segera menarik paksa notes book miliknya yang ada di tangan Baekhyun.

“Ah gomawo…” Eunsung tersenyum lebar sambil menatap Baekhyun. Yeoja itu memeluk notes book miliknya.

‘Hanya terima kasih? Biasanya jika orang senang dia secara tidak sadar akan memeluk orang yang membuatnya senang.’ batin Baekhyun. Namja ini tersenyum kikuk.

“Ah syukurlah. Ah lelah sekali.” tanpa berpikir panjang Eunsung duduk begitu saja di atas tumpukan daun-daun kering, beruntung tidak ada lagi salju disana. Yeoja itu meluruskan kakinya.

Baekhyun juga melakukan hal yang sama. Dia duduk didekat Eunsung sambil menatap yeoja itu.

“Lihat ada banyak bintang.” Eunsung menunjuk ke langit. Yeoja ini merasa sangat bahagia karena bisa menemukan notes book nya sebelum orang lain karena jika orang lain yang menemukan maka rahasianya kemungkinan bisa terbongkar.

“Eo.” Baekhyun menatap langit. Sesekali dia melirik ke arah Eunsung. Perlahan lahan senyum mengembang di wajah namja ini.

“Eunsung-ah boleh aku tanya sesuatu?” Baekhyun memulai pembicaraan.

“Ne…” balas Eunsung tidak begitu peduli.

“Kenapa kau menulis ‘Dream of A Doll’ di sampul notes book milikmu?” tanya Baekhyun.

Eunsung menatap Baekhyun. Yeoja ini menghembuskan nafasnya berat.

“Aku menyukai seorang namja tetapi namja itu menyukai orang lain. Dia tidak pernah melihatku sebagai seorang yeoja.” balas Eunsung.

Baekhyun sedikit kecewa mendengar hal tersebut.

“Apa kau membenci yeoja yang disukai oleh namja yang kausukai?” tanya Baekhyun.

‘Yeoja? Dia bukan yeoja! Jika dia yeoja aku bisa mengerti dan merelakan Chanyeol untuknya.’ batin Eunsung sebal.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Eunsung.

“Kau sendiri yang bilang jika buku itu berisi tentang orang yang kau sukai dan kau benci. Aku hanya menebaknya saja.” Baekhyun tersenyum kecil.

“Eo kau benar. Aku sangat membenci orang tersebut tetapi semakin lama aku sadar jika hal tersebut bukanlah hal baik untuk dilakukan, karena itu aku ingin berusaha untuk menghilangkan kebencian ini dengan cara berhenti menyukai namja itu.” balas Eunsung.

“Bukankah itu terdengar seperti lagi Loveholic yang berjudul Dream of A Doll?” Eunsung tersenyum.

Baekhyun membulatkan matanya. Dia baru mengerti sekarang.

“Baekhyun-ah apakah saat ini kau sedang menyukai seseorang?” tanya Eunsung.

Deg! Jantung Baekhyun berdebar lebih cepat dari biasanya.

“Ne.” balas Baekhyun, wajahnya memerah. Dia menatap kelangit, sesekali namja ini melirik Eunsung.

Eunsung cukup kaget mendengarnya. Dia merasa senang karena Baekhyun menyukai seseorang. Chanyeol pasti akan patah hati mendengarnya dan mungkin akan berpaling padanya.

“Wah yeoja itu pasti senang sekali disukai oleh orang sepertimu.” Eunsung melirik Baekhyun lalu menatap langit lagi.

“Aniyo.” balas Baekhyun cepat.

Eunsung membelalakkan matanya tidak percaya. Dia menatap Baekhyun, menunggu namja itu menyelesaikan kalimatnya.

“Aku menyukainya tetapi sepertinya dia tidak menyukaiku bahkan cenderung membenciku. Dia selalu bersikap baik, memberikan perhatian dan banyak membantuku tetapi dia bersikap dingin padaku.” lanjut Baekhyun.

“Wah orang yang aneh.” balas Eunsung tanpa berpikir panjang.

“Hahahaha…” Baekhyun tiba-tiba tertawa geli.

Eunsung menatap Baekhyun bingung tetapi dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada namja itu.

“Kenapa kau menyukainya?” tanya Eunsung.

Baekhyun terdiam, menatap dalam mata yeoja tersebut. Eunsung bingung dengan reaksi Baekhyun.

“Entahlah. Saat melihatnya aku selalu ingin tersenyum. Rasanya aku sangat bahagia.” balas Baekhyun.

“Ah….. Cinta memang aneh.” Eunsung mengangguk.

Baekhyun hanya tersenyum melihat reaksi Eunsung.

“Baekhyun-ah ayo kita kembali ke perkemahan.” Eunsung berdiri dari tempatnya duduk.

“Changkamaneyeo.” Baekhyun mengusap-usap kedua telapak tangannya lalu menempelkannya ke pipi dan lehernya. Bibir tipis dan kaki nya bergetar karena baru saja angina musim dingin berhembus.

Eunsung melirik Baekhyun. Menunggu namja itu untuk berdiri.

‘Tunggu! Apakah Baekhyun kedinginan? Astaga! Bagaimana kalau dia sakit? Chanyeol pasti akan memberi perhatian lebih kepadanya! AH JINJJA! Benar-benar menyusahkan. Ini tidak boleh terjadi! Aku harus melakukan sesuatu!’ batin Eunsung teringat akan hal yang tidak menyenangkan.

“Bagaimana bisa orang sepertimu tidak memakai sarung tangan?” tanya Eunsung. Dia benar-benar paham jika namja ini sangat lemah dengan udara dingin.

“Aku meletakannya di kursi dekat perapian.” balas Baekhyun.

Ah! Sebuah ide cemerlang terlintas di pikiran Eunsung. Yeoja ini mengambil beani yang ada di kepalanya lalu membungkus tangan kanan Baekhyun seolah-olah itu merupakan sarung tangan.

“Eunsung-ah.” Baekhyun membulatkan matanya. Kedua matanya sulit untuk berkedip. Jantung namja ini terus berdetak hebat.

Tidak hanya itu saja. Yeoja ini menggosok-gosok kedua tangannya sampai mendapatkan suhu yang paling hangat, setelah itu dengan cepat kedua telapak tangan yeoja ini menggenggam telapak tangan kanan Baekhyun. Eunsung juga menggenggamnya dengan kuat.

“Bagaimana? Sudah merasa hangat bukan?” tanya Eunsung. Jika suhu di tangannya sudah tidak hangat, yeoja ini kembali mengulang hal semula.

Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Beruntung ada tulang rusuk yang melindungi jantungnya, jika tidak mungkin saat ini jantung namja itu sudah copot jatuh entah kemana. Dugeum dugeum dugeum. Rasanya ingin berteriak tetapi dia tidak bisa melakukannya seolah-olah ada yang mengunci bibirnya.

“Sudah hangat kan?” ulang Eunsung.

“Ani… ah maksudku… ah itu….” Baekhyun terbata-bata.

“Ya! Kau mau berbohong? Wajahmu saja sudah memerah itu tanda nya kau sudah merasa hangat.” Eunsung tersenyum.

Baekhyun menatap dalam kedua mata coklat Eunsung. Tidak peduli dengan apa yang terjadi besok. Namja ini hanya ini menikmati kesempatan yang tidak mungkin terulang. Tangan kiri Baekhyun menggenggam tangan kanan Eunsung erat, kemudian namja ini memasukkannya ke dalam kantong jaket tebal yang dikenakannya. Baekhyun mengarahkan Eunsung untuk memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong jaket yang dikenangan oleh yeoja tersebut. Tanpa berpikir panjang, Eunsung mengikuti perintah Baekhyun.

Baekhyun membuka mulutnya. Suara indahnya menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Namja ini menatap dalam mata Eunsung.

Nappayo cham geudaeraneun saram (Jahat sekali, kau……)

Heorakdo eopshi wae naemam gajyeoyo (Mengapa kau mengambil hatiku tanpa sepengetahuanku?)

Geudae ttaemune nan himgyeobge salgoman itneunde (Karenamu, aku mengalami banyak kesulitan)

Geudaen moreujanhayo (Tetapi kau tidak mengetahuinya)

 

Arayo naneun aniran geol (Aku tahu, orang itu bukan diriku)

Nungiljulmankeum bojalgeot eoptdangeol (Aku bahkan tidak pantas untuk kau lihat walau hanya sekejap saja)

Daman gakkeusshik geujeo geumiso yeogi naegedo nanwojul sun eoptnayo (Tapi bisakah sekali saja, kau tunjukkan senyum untukku?)

Birok sarangeun anirado (Meskipun itu bukan perasaan cinta)

 

Eonjenga hanbeonjjeumeum dolabwajugetjyo (Tolonglah berbalik, kali ini saja)

Haneobshi dwieseo gidarimyeon (Aku akan terus menunggumu seperti hari ini)

Oneuldo chama mothan gaseumsok hanmadi (Ada satu kata yang tidak sanggup ku pendam)

Geudae saranghamnida (Aku…. mencintaimu)

Setetes air dari mata kanan Eunsung jatuh. Dengan cepat yeoja ini mengusapnya agar tidak turun ke pipinya. Mata yeoja ini berkaca-kaca.

Baekhyun menggit bibir bawahnya. Dengan ragu-ragu namja ini memeluk Eunsung. Berusaha untuk membuat kesedihannya berkurang.

“Eunsung-ah mianhae. Apa aku membuatmu sedih?” tanya Baekhyun.

“Aniyo! Nan gwenchana aku hanya terharu mendengar suaramu yang indah.” Eunsung memukul bahu Baekhyun.

“Gomawo. Kau tidak seburuk yang ku kira. Kau orang yang tulus.” Eunsung membalas pelukan Baekhyun.

Baekhyun tidak mengeti dengan apa yang dikatakan Eunsung tetapi sepertinya dia sudah merasa lebih baik.

“Ah aku benar-benar bisa merasakan perasaan sedih lagu tersebut.” lanjut Eunsung.

“Seharusnya kau nyanyikan itu untuk yeoja yang kau sukai. Agar dia mengerti perasaan seperti ini.” Eunsung melepas pelukan lalu menatap Baekhyun.

“Himneseyo Baekhyun ah!” Eunsung mengepalkan tangannya lalu tersenyum.

“Ah sudahlah ayo kita kembali ke perkemahan. Kajaa!” Eunsung segera berjalan dan menarik tangan kanan Baekhyun secara paksa.

Baekhyun menatap pundak Eunsung. Namja ini menghembuskan nafasnya berat.

Sepertinya memang sangat sulit.’ batin Baekhyun.

Mereka berdua berjalan bersama kembali ke perkemahan. Saat mereka tiba, sudah tidak ada satupun siswa di depan api unggun. Eunsung membelalakkan matanya, yeoja ini menggigit bawahnya.

“Sial! Kita pasti sudah pergi lebih dari satu jam.” Eunsung menatap Baekhyun. Namja itu juga merasa sedikit bingung.

“Haksaeng! Darimana saja kalian?” suara berat dan tegas seorang namja terdengar dari belakang Eunsung dan Baekhyun. Kedua orang ini membalikkan badannya. Ah tepat sekali! Dia adalah Instruktur Kim.

“Ak ak ak ak…” Eunsung terbata-bata.

“Melakukan suatu hal tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan. Apa kalian merasa bersalah?” tegas Instruktur Kim.

“Ne…” balas Eunsung dan Baekhyun bersamaan.

“Apa kalian pergi untuk bermesraan?” tanya Instruktur Kim.

“Aniyo… ani… jinjja…” Eunsung terbata-bata. Sesekali Eunsung melirik, binyak siswa yang mengintip dari tendanya. Ah jinjja! Kalau Chanyeol mendengarnya bisa gawat.

“Tidak seperti yang Instruktur-nim bayangkan. Aku memaksanya untuk membantuku mencari barang kesayanganku. Jeosonghamnida, ini semua salahku.” Baekhyun membungkukkan badannya.

Eunsung memalingkan wajahnya ke Baekhyun. ‘Hey! Baekhyun-ah! Apa yang kau katakan?!’

“Tidak, aku bersalah juga…” Eunsung menggigit bibir bawahnya.

“Sudahlah aku nyatakan kalian berdua bersalah. Besok pagi kalian harus membersihkan sisa-sisa salju dan daun-daun kering yang ada di sekitar tenda. Harus sampai bersih! Mengerti?!” tegas Instruktur Kim.

“Ne…” Eunsung dan Baekhyun mengangguk bersamaan.

“Baiklah kembali ke tenda masing-masing.” perintah Instruktur Kim lalu meninggalkan mereka berdua.

“Apa yang kau katakan? Bagaimana jika Instruktur hanya menghukum mu saja?” Eunsung melirik Baekhyun.

“Bukankah itu lebih baik? Aku tidak akan membiarkanmu merasa kesulitan karena hukuman.” tanya Baekhyun.

“Aigo tentu saja aku juga tidak akan membiarkanmu mendapatkan hukuman seorang diri karena aku.” balas Eunsung sebal.

“Gomawo kau sangat perhatian.” Baekhyun tersenyum.

Eunsung hanya bisa diam melihat senyum Baekhyun. Yeoja in tidak mengerti dengan apa yang dikatakan temannya. Satu hal yang baru disadarinya, ada ketulusan dari setiap kata-kata yang diucapkan dan hal-hal yang dilakukan oleh Baekhyun. Namja ini benar-benar orang yang sangat baik. Eunsung merasa menyesal, tidak seharusnya dia membenci namja ini. Membenci dan merasa iri dengan orang lain bukanlah hal yang baik. Lagipula Baekhyun juga tidak beruntung dengan kisah cintanya. Setiap orang memiliki kebahagiaan dan kesedihan sendiri dalam hidupnya.

“Baekhyun-ah.” panggil Eunsung.

“Ne?” Baekhyun tersenyum.

“Minahae…” balas Eunsung. Dia tidak akan menjelaskan mengapa dia meminta maaf.

“Karena hukuman ini? Tidak masalah… Ini akan menjadi hal menarik karena pertama kalinya aku dihukum oleh Instruktur.” Kekeh Baekhyun.

“Bukan… bukan itu…” balas Eunsung ragu-ragu. Baekhyun menunggu yeoja ini menyelesaikan kalimatnya.

“Hanya… minta maaf saja jika selama ini aku… melakukan hal yang tidak menyenangkan.” lanjut Eunsung.

“Apa maksudmu?” Baekhyun tidak paham.

“Ah pokoknya maafkan saja aku!” perintah Eunsung. Yeoja ini tidak mungkin mengatakan jika selama ini dia membenci namja tersebut karena dia selalu mendapat perhatian dan cinta Chanyeol.

“Ah… baiklah. Aku maafkan.” Baekhyun terkekeh. Hatinya merasa sedikit tenang, entah mengapa dia merasa seolah-olah Eunsung bisa menerimanya.

“Baekhyun-ah! Eunsung-ah!” seorang namja bertubuh tinggi mendekati mereka berdua.

“Chanyeol-ah.” balas Eunsung.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Chanyeol. Baekhyun dan Eunsung hanya diam saja.

“Baekhyun-ah. Apa kau merasa kedinginan? Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol menatap Baekhyun.

“Nan gwenchana. Eunsung-ah! Aku akan berusaha.” Baekhyun terkekeh lalu meninggalkan Chanyeol dan Eunsung begitu saja.

Chanyeol dan Eunsung saling melihat satu sama lain. Eunsung mengangkat bahunya menandakan dia tidak mengerti maksud perkataan Baekhyun.

END OF FLASHBACK

**TBC**

 

5 responses to “[FREELANCE] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 14)

  1. pilihlah baekhyun, suung….
    tapi, kalo mau milih chanyeol juga gak papa,,
    baekhyun nya buat aku aja
    hehehe

    ditunggu chap selanjutnya

    • Hehehe terima kasih banyak chingu sudah membaca ^^
      Siap di tunggu ya chapter selanjutnya chingu ~

  2. Pingback: [FREELANCE] The Best for Someone Who I Love 2 (Part 15/END) | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. aaakkk.. maafkan aku author, aku baru sempet baca lanjutan ff kamu. udah baca dari chapter 11 sampe 14 tapi baru komentar disini hehe

    aku suka sama ceritanyaa.. penasaran sama lanjutannya, jadi aku langsung cuss ke chapt 15 aja kali yaa hihi
    sekali lagi maafkan aku author

    • hehehe terima kasih banyak chingu sudah membaca ^^
      Tenang saja, santai hihihihi
      semoga sukak ya sama chapter 15 nya :)))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s