[FREELANCE] When a Man Loves Part 4

When a Man Loves Part 4

when 1

Author : deergalaxy0620

Genre   : Romance, Hurt, School-Life (a little bit)

Cast  : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

Park Seo Yeol ( OC )

Song Se Hin ( OC )

Park Chan Yeol ( Seo Yeol’s brother ) ( EXO )

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Hae Ryung ( OC )

Ryu Ha Yeon ( OC ) as Seo Yeol’s close-friend

Lee Hwan Hee as Ha Yeon’s boyfriend ( UP10TION )

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Disclaimer : All the story is MINE. Jika ada kesamaan dalam alur cerita, mohon maaf.

Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3

https://deergalaxy0620.wordpress.com/

Di sebuah gedung perusahaan, Chan Yeol melangkah menuju atap gedung, dimana Eddy sudah berada di sana. Chan Yeol tampak tegang saat Eddy hanya berdiri menghadap langit. Lelaki bersurai cokelat itu hanya memandang matahari yang telah menyinari dunia. Membiarkan sinar itu membias tubuhnya. Angin telah menyapu surai cokelat Eddy dan tak peduli jika gaya rambut jambulnya itu kian berubah. Tubuh tingginya yang tegap membuat tulangnya semakin tegas.

Dengan langkah pelan Chan Yeol menghampiri Eddy, tetapi belum sampai ia mendekat, tiba-tiba saja Eddy sudah membalikkan tubuhnya dan menangkap sosok pria berjangkung, yakni Chan Yeol. Pada akhirnya, mereka saling bertatapan dengan berbagai jenis ekspresi. Chan Yeol sudah menduga bahwa Eddy akan membeberkan curahan hatinya.

“Ternyata kamu telah sampai, Chan Yeol-ah.” ujar Eddy dengan melengkungkan sedikit bibir tebalnya. Chan Yeol hanya menunduk sedikit.

“Ada yang kamu bicarakan kepada saya?” tanya lelaki berjangkung itu. Eddy melangkah pelan dan kini sudah berdiri dihadapan Chan Yeol.

“Tadi malam, aku sudah merenungkan segala sikap saya terhadapmu. Aku menangis saat itu dan turut menyesal atas segala sikapku padamu. Aku ingin mengatakan padamu, tetapi bibirku kian membeku sehingga aku harus menyimpan segala unek-unekku secara mendalam,” Eddy mulai membuka pembicaraan hingga Chan Yeol mulai mendongak, “aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Lanjutnya.

“Silakan, hyung. Selama hyung bertanya padaku, selama hyung menganggap aku saudaramu sendiri, aku siap untuk menjawab.” Chan Yeol menjawab dengan tegasnya. Tak apa jika Eddy bertanya kepada Chan Yeol terkait unek-uneknya yang dia pendam. Ini akan menjadi jalan damai diantara mereka dan dapat bekerja sama kembali untuk saling membantu dan tolong-menolong.

“Mengapa kamu… mengapa kamu merebut Se Hin dariku?” tanya Eddy yang tanpa sadar lelaki itu menumpahkan sedikit air mata. Tubuhnya cukup bergemetaran akibat pertanyaan bodoh seperti tadi. Seharusnya Eddy tak perlu bertanya, namun hati berkata untuk bertanya.

“Mengapa kamu bersekongkol dengannya untuk menyingkirkanku dari perusahaan ini?” pertanyaan itu kembali dilontarkan Eddy, lantaran lelaki itu membutuhkan penjelasan. Sementara yang ditanya malah tertegun. Chan Yeol telah mengetahui bahwa Eddy telah melihat semuanya, terutama ciuman semalam. Lelaki berjangkung itu menduga bahwa sikapnya terhadap Eddy sekarang, ada kaitannya dengan hubungan khusus dengan Se Hin. Eddy tak bodoh dengan segala jebakan yang dilakukan Se Hin.

“Aku… aku…”

“Jawab atau aku akan membunuhmu dari gedung ini. Jangan lamban menjadi seorang lelaki!” Eddy sudah terlebih dahulu membentak Chan Yeol dengan tegas.

“Jangan tanyakan padaku! Ini semua bukan aku yang memulainya terlebih dahulu!” Chan Yeol membalas bentakan Eddy dengan tegas dan penuh frustasi.

“Apa? Kamu menganggap semuanya bukan kamu dari awal?! Apakah kamu tak becanda?!”

“Hyung jangan salahkan aku terlebih dahulu!”

“Justru ini semua salahmu karena hendak bersekongkol dengan wanita busuk itu! Apa motif dibalik semua sikap hormatmu dan baikmu ini?! Heoh?!”

“Aku tak mungkin merebut kekasihmu jika bukan dia yang memulainya!”

Eddy akhirnya tertegun dengan segala bentakan Chan Yeol sejak tadi. “Aku memang menyukai Se Hin sunbae dan merasa tergila-gila dengannya. Tetapi, aku tak mungkin, dengan segala keberanianku dan kehebatanku, merebut kekasihmu jika dirimu masih mencintainya. Dia yang memulainya untuk bersekongkol denganku, bukan aku yang mengajaknya. Aku tak tahu mengapa dia mengajakku untuk berkencan dan mengakhiri hubunganmu dengannya. Aku merasa buta dengan perasaan dan segala kehausannya dalam membuat rencana jahat.” Jelasnya yang berhasil membuat Eddy menitikkan air matanya. Tangannya mulai mengepal dan siap menghajar wajah tampan lelaki bernama Park Chan Yeol.

“Aku tahu kamu masih mencintainya dan berharap dia segera kembali kepadamu. Aku mengerti segala unek-unekmu tadi yang menyalahkanku atas perebutan hati Se Hin sunbae. Aku dan Se Hin sunbae hanya sebatas teman, tetapi dia telah jatuh hati padaku hingga setan berbisik padaku untuk mencintainya. Aku tak mampu…”

“Kamu berani berbohong kepada seniormu sendiri. Jangan pernah berbohong atas semua perkataanmu yang polos dan menganggap dirimu tak bersalah.” Eddy menyela perkataan Chan Yeol dengan intonasinya yang pedas.

“Aku berani mati dihadapan tuhan jika aku berbohong!” Chan Yeol mulai mengeluarkan sumpahnya dihadapan Eddy. “Teruskan saja kamu menyalahkanku karena aku telah merebut kekasihmu. Tetapi, aku tak berniat merebut hati kekasihmu karena aku mengerti perasaanmu setelah kalian mengakhiri hubungan.” Ujarnya yang kembali ditolak Eddy mentah-mentah. Lelaki itu tahu kebohongan apa yang membuatnya tersakiti.

“Kamu teman baikku, tetapi kamu berani berbohong dari belakang. Lihat saja segala perbuatanku terhadapmu.” Eddy langsung pergi meninggalkan Chan Yeol yang mematung di tempat. Mengusap kasar air matanya yang menetes di pipinya. Hatinya mulai membenci Chan Yeol dan tak menganggap lagi Chan Yeol adalah saudara kandungnya.

Sementara Chan Yeol terduduk lemas setelah Eddy mulai membencinya. Hatinya terasa sakit jika teman terdekatnya itu mengeluarkan intonasi yang pedas. Chan Yeol mengaku dirinya tak ada niat untuk menjadikan Se Hin kekasihnya. Pengakuannya saja ditolak Eddy, bahkan dirinya dituduh bersekongkol dengan Se Hin untuk menghengkang Eddy dari perusahaan. Chan Yeol berpikir semuanya akan selesai dan berakhir dengan damai, namun ternyata harapan tersebut telah pupus dan berakhir dengan sebuah drama.

***

Se Hin tengah membasuh tangannya di toilet wanita. Mengenakan pakaian serba putih yang hampir senada dengan surainya. Bibirnya telah dipoles lipstik merah muda yang membuatnya semakin cantik. Se Hin merasakan bibirnya masih hangat akibat sebuah ciuman semalam, bersama Park Chan Yeol. Wanita bersurai blonde itu tersenyum karena dirinya berhasil memberikan ciuman tepat di bibir Chan Yeol.

Tiba-tiba, pintu toilet pun terbuka dan seorang wanita bertubuh tinggi itu melangkah masuk ke dalam. Se Hin tersenyum lebar saat wanita bersurai cokelat sepunggung itu berdiri di sampingnya. Sayangnya, ekspresi wanita itu bertolak belakang dengan ekspresi Se Hin yang terkesan senang dan bahagia. Justru menampakkan ekspresi sinisnya tanpa menyakiti perasaan teman sebelahnya itu.

“Mengapa kamu tak hadir kemarin?” tanya Se Hin dengan ramah dan lembut.

“Menurutmu?” jawaban yang singkat dan jelas keluar dari bibir ranum seorang wanita bernama Oh Hae Ryung. Se Hin merasa sedikit canggung dengan perkataan Hae Ryung.

“Apakah kamu… sedang sakit?” tanya Se Hin dengan tubuh menghadap ke samping. Hae Ryung tak membalasnya, justru ikut memutarkan tubuhnya ke samping, menghadap Se Hin.

“Bagaimana hubunganmu dengan Park Chan Yeol? Apakah hubunganmu membaik?” Hae Ryung malah bertanya balik mengenai hubungan Se Hin dengan Chan Yeol.

“Me… mengapa… kamu bertanya seperti itu?” Se Hin kembali bertanya dengan ekspresi kebingungan. Ia bingung dengan sikap sinis dan penuh pikiran negatif dari Hae Ryung.

“Kalau orang lain bertanya, kamu harus menjawab!” tiba-tiba Hae Ryung membentak dengan ekspresi sangarnya kepada Se Hin. “Jika hubunganmu dengan Chan Yeol semakin membaik, kamu seharusnya menjawab! Itulah mengapa Eddy oppa tak menyukaimu dan menganggapmu adalah musuh.” Sinisnya yang membuat hati Se Hin sedikit teriris pisau.

“Mengapa orang sepertimu sangat lambat untuk menjawab pertanyaan orang lain, sama lambatnya dengan kekasih barumu itu?” Hae Ryung segera melangkah sebelum Se Hin mulai melemparkan sesuatu dan mengenai kepala Hae Ryung. Alhasil, Hae Ryung memutarkan tubuhnya ke arah Se Hin dengan ekspresi marah dan sangar.

“Apakah perubahan sikapmu juga karena kamu telah berkencan dengan Park Chan Yeol?!”

“Sementang-mentang kamu adalah adik tiri Eddy, jadi dengan seenaknya kamu bersikap sama seperti Eddy?!”

“Mengapa? Apakah kamu iri atas kehebatan Eddy oppa sehingga kamu selalu menjebaknya dengan jebakan batmanmu?!” Hae Ryung mulai melangkah, kemudian mendorong tubuh Se Hin hingga terjatuh. Wanita bersurai blonde itu hanya meringis kesakitan dan mengeluarkan perkataan kasarnya. Sementara Hae Ryung berjongkok dihadapan Se Hin dan meraih dagu wanita dihadapannya dengan kasar.

“Jika kamu juga ingin menjebakku dengan jebakanmu dan tipuanmu yang seharusnya kamu rencanakan di masa mendatang, pikirkan juga sikap yang telah kita lakukan padamu. Kita semua sudah berbuat baik padamu, tetapi beginilah jadinya jika kamu merasa iri dengan orang lain.” Hae Ryung segera membuang wajah Se Hin hingga wanita itu kembali meringis.

“Bagaimana dengan dirimu?! Kamu sudah mempermainkan hati para wanita yang telah memiliki kekasih! Kamu lebih buruk dari sikapku yang memiliki perasaan iri terhadap orang lain!”

“Apa katamu?! Apakah kamu merasa lebih hebat dariku?! Berdirilah dihadapan cermin dan intropeksi diri!”

“Justru dirimulah yang seharusnya berinstropeksi diri setelah kamu menghancurkan hati para wanita dengan kenakalanmu! Berapa banyak lelaki yang telah kamu permainkan?! Dan terakhir, bagaimana hubunganmu dengan mantan kekasihmu?!”

“Jaga ucapanmu, Song Se Hin!”

“Jaga ucapanmu juga, wanita tak tahu norma kesusilaan!”

“Dasar wanita ******!”

Hae Ryung dan Se Hin saling bertengkar dan saling menjambak rambut hingga menimbulkan keributan di toilet. Mereka tak ingin mengalah dengan segala perkataan mereka agar diantara mereka harus mengalah. Tetapi, keegoisan mereka sudah tertanam lebih dalam sehingga mereka tak ingin mengalah dan saling adu mulut. Justru mereka malah berakhir dengan pertengkaran hebat, layaknya merka adalah petinju yang hebat.

“Hei! Apa yang kalian lakukan disini?!” teriak seseorang yang menyaksikan aksi pertengkaran antara Hae Ryung dan Se Hin. Terlebih lagi Hae Ryung tengah mengandung beberapa hari yang lalu. Sayangnya, bentakan orang itu dianggap hanya angin berlalu saja dan lebih memilih untuk bertengkar.

Alhasil, beberapa lelaki berpakaian serba hitam itu melangkah masuk ke dalam toilet wanita dan memisahkan Hae Ryung dan Se Hin. Mereka masih ingin bertengkar, tetapi tenaga mereka telah terkuras karena pria yang merupakan bodyguard di perusahaan. Se Hin melihat seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu toilet. Ternyata dia adalah Eddy.

“Cepat bawa mereka ke ruang Tuan Hong agar permasalahan ini cepat terselesaikan!” perintah Eddy yang langsung diterima dua lelaki bersetelan serba hitam itu. Mereka segera menyeret Se Hin dan Hae Ryung ke sebuah ruangan untuk saling interogasi. Se Hin akhirnya membungkam setelah Eddy mengetahui bahwa dirinya bertengkar dengan Hae Ryung. Sementara yang menjambak surai Se Hin hanya terdiam saat kakak tirinya – Eddy – menyuruh dua pengawal untuk menyeret dua wanita ke ruang interogasi. Eddy menatap mereka berdua penuh amarah karena kesal mereka selalu tak akrab akibat haus dengan egois.

Setelah mereka menghilang dari toilet wanita, Eddy segera memejamkan matanya dan memijat pelipisnya yang terasa sakit. Se Hin sudah dianggap keterlaluan setelah berkencan dengan Chan Yeol. Setelah rencana jahatnya yang hampir membuatnya dipecat dari perusahaan, kini malah menyerang Hae Ryung, adik tirinya. Eddy merasa yakin bahwa Se Hin sedang sakit, yakni sakit jiwa. Ini semua karena Se Hin merasa iri dengan orang yang memiliki kemampuan yang sempurna, terutama Eddy hingga mengeluarkan rencana jahatnya untuk menyingkirkan lelaki itu dari perusahaan.

***

Jam 14.00 KST…

Akhirnya, ujian nasional telah berakhir dan Seo Yeol dapat beristirahat dengan dua sahabatnya, yakni Ha Yeon dan Hwan Hee. Biasanya Seo Yeol lebih menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk persiapan ujian esok. Mungkin karena pikirannya penuh dengan belajar, meskipun bukan ujian penentu kelulusan. Seo Yeol memang ingin belajar, tetapi pikirannya telah lelah dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama Ha Yeon dan Hwan Hee.

Di kantin, mereka makan Tteoppoki dengan porsi yang besar dan untuk makan bersama. Ha Yeon dengan romantisnya menyuapi Hwan Hee hingga Seo Yeol hanya tersenyum melihat sepasang kekasih itu tengah bersama. Hanya Seo Yeol yang menghabiskan waktu bahagianya sendirian tanpa kekasih. Bersama sepasang kekasih – yang dianggap sahabat – saja sudah cukup membuat Seo Yeol bahagia. Entah mengapa sejak bertemu dengan Eddy, Seo Yeol merasa hidupnya tenang bersama lelaki itu. Dan entah mengapa Seo Yeol mulai memikirkan Eddy. Apakah mungkin gadis itu mulai jatuh hati kepada lelaki tampan itu?

Tiba-tiba, ponsel Seo Yeol bergetar dan ada pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Seo Yeol pun membuka isi pesan tersebut. Gadis itu merasa bahwa nomor itu adalah nomor kekasihnya, Wu Yi Fan.

when 2

Seo Yeol sudah menebak bahwa pesan tersebut berasal dari Yi Fan. Dengan terpaksa, gadis itu segera pamit sebentar untuk menemui seseorang. Ha Yeon mengiyakan saja sembari menyuapi Hwan Hee. Akhirnya, Seo Yeol pergi menemui Yi Fan sialan itu. Itu membuat gadis itu merasa kesal dan marah karena tak ingin bertemu dengan Yi Fan.

Di depan halaman sekolah, Seo Yeol akhirnya bertemu dengan lelaki bernama Wu Yi Fan. Seo Yeol hanya menatapnya penuh datar dengan menunjukkan sikapnya yang sama sejak semalam. Melangkah menghampiri Yi Fan tanpa bertatapan langsung dengan lelaki itu dengan jarak yang cukup jauh. Yi Fan menghela napas pelan saat melihat ekspresi wajah Seo Yeol.

“Ada apa hingga anda menemui saya?” lagi-lagi Seo Yeol bertanya dengan formal dan sedikit tak akrab. Yi Fan malah tertegun saat gadis itu bertanya dengan tak seperti biasanya.

“Bisakah kamu berbicara dengan bahasa informal?”

“Untuk apa saya harus berbicara dengan bahasa tersebut kepada anda? Bukankah kita saling tidak kenal?” Yi Fan tertegun saat Seo Yeol berulang kali bertanya dengan pertanyaan yang sungguh menyakitkan. Menganggap lelaki itu tak kenal dan hanya sebatas orang biasa saja. Yi Fan harus menelan kepahitan yang ada di hatinya.

“Anda tahu bahwa sikap anda terhadap saya sungguh menyakitkan. Dan terlebih lagi…”

“Sekarang katakan pada saya apa salah saya sehingga saya telah menyakiti anda!”

“Anda tengah berselingkuh dari belakang! Sudah tanpa penjelasan dari saya!”

Yi Fan kembali menelan kepahitan sebuah kebenaran saat Seo Yeol mengungkapkan kesalahan yang telah lelaki itu lakukan. Dia segera meraih tangan Seo Yeol sebelum gadis itu hendak kembali memasuki area sekolah. Dengan releks tubuh Seo Yeol memutar menghadap Yi Fan dan mereka saling bertatapan.

“Bagaimana anda tahu jika saya tengah berselingkuh kepada seorang wanita?” tanya Yi Fan yang tangannya malah ditepis Seo Yeol.

“Jika saja bukan saya yang melihat semuanya, saya sudah pasti membunuhmu.” Jawab Seo Yeol penuh kebencian.

“Apakah ada bukti bahwa saya menyelingkuhi seorang wanita?”

“Tuhan telah bersaksi bahwa anda telah berselingkuh bersama wanita,” Seo Yeol kembali menjawab pertanyaan Yi Fan dengan tatapan penuh kebencian dan emosi yang tertahan, “Sudah berapa ronde anda telah melakukan itu bersama seorang wanita?” gadis itu malah pergi meninggalkan Yi Fan dengan melontarkan pertanyaan yang cukup kotor. Sementara yang ditanya malah tutup mulut dan hanya berdiri menatap punggung Seo Yeol.

“Apakah Eddy benar-benar kekasihmu?” kali ini langkahan gadis itu terhenti saat Yi Fan bertanya dengan sedikit teriakan. Seo Yeol tak tahu harus menjawab apa karena ia hanya mengatakan bahwa Eddy adalah kekasihnya.

“Jawab pertanyaanku, lalu aku akan membiarkan anda untuk pergi dari kehidupan saya.” Yi Fan kembali melanjutkan perkataannya yang berhasil mematungkan hati Seo Yeol. Kemudian, gadis itu mendengar lelaki itu mulai masuk ke dalam mobilnya dan pergi menjauh dari sekolah Seo Yeol. Lelaki berjangkung itu sedang marah dan kecewa terhadap pernyataan Seo Yeol semalam. Seharusnya menunggu kebenaran saja dari mulut Seo Yeol, tetapi Yi Fan malah pergi begitu saja tanpa membiarkan gadis itu menjawab kebenaran.

I do not love you, oppa.” Gumam Seo Yeol penuh penyesalan.

***

Setelah Hae Ryung dan Se Hin diinterogasi Tuan Hong, Eddy hanya menunggu interogasi tersebut berakhir sembari memikirkan nasib Se Hin setelah bertengkar dengan Hae Ryung. Ini merupakan sebuah hukuman karena telah menjebaknya dengan cara yang begitu tega. Eddy menggigit pelan bibir tebalnya dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ini sungguh kacau, mengingat dua orang wanita ini memiliki hubungan yang tak akrab. Dengan keegoisan mereka yang tinggi dan ambisi yang kuat untuk melemahkan diantara mereka, Eddy telah lelah dengan mereka semua.

Tiba-tiba, Hae Ryung melangkah keluar dari ruangan Tuan Hong. Alangkah terkejutnya Eddy saat surai cokelat Hae Ryung tampak berantakan dan wajahnya yang sedikit lebam akibat pukulan yang dilayangkan Se Hin. Kemudian, disusul dengan Se Hin yang tak kalah parahnya dengan Hae Ryung. Eddy merasakan sakit di kepala akibat dua wanita yang selalu bertengkar karena keegoisan mereka.

“Oppa,” panggil Hae Ryung sedikit bergumam, “Mianhae.” Ucapnya.

“Kapan kalian berdua saling berdamai? Apakah kalian tak memiliki rasa malu jika kalian bertengkar di toilet umum?” Eddy bertanya penuh frustasi dengan mengacakkan sedikit surai cokelatnya itu. “Untung saja jika tak ada seorang wanita siapapun di toilet selain kalian.” Ujarnya yang membuat Hae Ryung dan Se Hin menunduk penuh menyesal. Tiba-tiba, Chan Yeol berlari menghampiri mereka dan memerhatikan wajah mereka yang penuh luka akibat pertengkaran sejak tadi.

“Hae Ryung-ah,” panggil Eddy yang kembali menyadarkan Hae Ryung, “Ikut aku sekarang juga.” Perintahnya yang langsung diterima Hae Ryung. Eddy segera mengalihkan pandangan tertuju kepada Se Hin. Betapa malunya wanita itu dengan wajahnya yang anggun dan cantik. Sayangnya, kini wajahnya penuh dengan luka lebam yang cukup parah.

“Aku bisa jelaskan…”

“Ini sebuah hukuman setelah apa yang telah kamu perbuat terhadapku, Se Hin. Maafkan aku karena aku tak bisa memaklumimu lagi. Dan kamu, Chan Yeol,” Eddy mengalihkan pandangannya ke arah Chan Yeol yang berdiri di sampingnya, “Lihatlah kekasih barumu ini. Setelah dia bertengkar dengan Hae Ryung, dia tak memiliki malu untuk menunjukkan penyesalannya. Jika saja bukan Tuan Hong yang memarahinya, dia malah baru menyesal sekarang. Dan dirimu juga seharusnya malu memiliki kekasih seperti Song Se Hin!” intonasinya meninggi saat dia memiliki perasaan yang tersakiti. Chan Yeol hendak berkata.

“Hyu… hyung harus mendengarkan penjelasannya…”

“Penjelasannya justru memutarbalikkan fakta. Dan dirimu juga sama-sama tak memiliki malu setelah kamu bersekongkol dengannya.” Eddy menyela perkataan Chan Yeol dengan perkataan yang cukup menyakitkan. Hae Ryung hanya menunduk dan dirinya sangat menyesal.

“Mengapa hyung malah menyalahkanku jika aku adalah kekasihnya Song Se Hin sunbae?”

“Kalian tak sadar atas perbuatan apa yang telah kalian lakukan terhadapku beberapa tempo bulan yang lalu? Bagaimana kamu bisa menjadi lelaki yang baik untuk menjadi calon suami yang baik?” Eddy langsung melangkah pergi meninggalkan Se Hin dan Chan Yeol. Sementara Hae Ryung melangkah cepat menghampiri Eddy  masih dengan menunduk. Se Hin merasa hatinya memanas setelah Eddy mengeluarkan kata-kata yang begitu tak mengenakkan.

“Jika kamu tak membuat aku terpikat denganmu, aku sudah pasti menghukummu karena telah memalukan dirimu sebagai seorang karyawan!” Chan Yeol malah membela perkataan Eddy, meskipun lelaki itu menyalahkan mereka berdua. Tak ada alasan bagi Se Hin untuk meyakinkan Chan Yeol, kekasih barunya. Diam merupakan ketenangan karena Chan Yeol ikut disalahkan. Jika bukan karena kekasihnya, Chan Yeol tak akan disalahkan dan akan memberinya hukuman.

***

“Sudah kukatakan padamu untuk tidak membesar-besarkan permasalahan ini. Kamu malah mendumal sendiri dan meremehkan perkataan oppa.” Eddy menahan amarahnya sebelum lelaki itu hendak mengoceh panjang-lebar kepada Hae Ryung.

“Ini semua agar dia dapat kembali padamu. Apa kata orangtua kita yang telah tiada?”

“Justru semuanya menjadi kacau. Lihatlah wajahmu sekarang. Apakah kamu hendak melakukan operasi plastik dengan wajah lebammu itu? Benar-benar memalukan.” Eddy segera menjawab sebelum Hae Ryung kembali membantah. Hae Ryung seharusnya sadar dengan hasil kerja keras Eddy setelah gajinya dipotong drastis akibat tuduhan palsu yang dibeberkan Se Hin. Hal ini membuat Hae Ryung merasa tak terima dan segera membalas dendam atas tuduhan tersebut. Meskipun terbukti Eddy tak bersalah, tetap saja Hae Ryung hendak membalas dendam.

“Maafkan aku, oppa.” Ucap Hae Ryung dengan turut bersalah.

“Jika aku kembali mendengar kamu bertengkar dengan Se Hin, aku tak akan memaafkanmu,” Ujar Eddy saat lelaki itu segera merawat wajah Hae Ryung. “Lagipula, apakah kamu sedang mengandung anak dari Yi Fan?” tanyanya yang mengundang ekspresi terkejut di wajah Hae Ryung. Bagaimana lelaki itu tahu bahwa dia sedang mengandung anak dari Yi Fan?

“Ma… maafkan aku, oppa.”

“Tak perlu kamu maafkan oppa. Asalkan kamu tak mengulang kesalahan itu kembali.” Eddy berkata dengan senyumnya yang sedikit menyakitkan dan cukup prihatin, mengingat bagaimana Chan Yeol mengetahui Se Hin bertengkar dengan Hae Ryung. Melihat lelaki itu saja sudah menyakitkan, terlebih Chan Yeol adalah teman dekat Eddy.

***

Sepulang kerja, Eddy melangkah keluar dari gedung perusahaan dan hendak pergi menuju apartemennya. Seraya melepaskan kepenatannya, lelaki itu menghentikan langkahannya sembari melihat rambu lalu lintas khusus penyeberangan. Bersama dengan orang lain, Eddy kembali membayangkan bagaimana Chan Yeol hendak membela Se Hin, layaknya lelaki itu sebagai pelindung kekasih. Lagi-lagi Eddy harus menerima kenyataan pahitnya, meskipun berakhir menyalahkan Chan Yeol, teman dekatnya sendiri. Dia berpikir apakah Chan Yeol ikut turut merasa kecewa.

Saat hendak menyeberang, karena lampu penyeberangan telah berubah warna menjadi hijau, Eddy merasakan lengannya berat. Ada yang menggenggamnya kali ini. Eddy sudah tak lagi menebak bahwa Seo Yeol yang menggenggam tangannya. Lelaki itu terheran bagaimana gadis belia itu bisa berada di belakangnya. Terlebih lagi gadis bersurai hitam itu menyandarkan kepalanya ke lengan kekar Eddy. Hal ini membuat lelaki itu merasa canggung.

“Bagaimana… bagaimana kamu bisa berada disini?” tanya Eddy saat Seo Yeol menjauhkan kepalanya dari lengan Eddy. Gadis itu menatap lelaki bersurai cokelat itu dari samping.

“Saya berada di belakang anda, ahjussi.” Jawab Seo Yeol sedikit ramah, membuat Eddy tersenyum kecil. Seo Yeol sudah seperti hantu yang tiba-tiba muncul begitu saja. Terlebih lagi gadis itu menyandarkan kepalanya ke lengan Eddy, layaknya seperti sepasang kekasih. Namun, Eddy tak merasakan hal itu sedikit saja.

“Kenapa anda diam saja? Apakah anda tak ingin menyeberang?” Eddy sedikit terkejut saat Seo Yeol kembali membuka suaranya. Lelaki itu mengangguk, kemudian mereka menyeberang bersama menuju tempat asal mereka, yakni apartemen. Apakah mungkin Seo Yeol terus mendekati Eddy untuk membangun hubungan khusus atau… hanya sebagai pelampiasan saja?

***

Eddy dan Seo Yeol terus melangkah pelan hingga menimbulkan sedikit kecanggungan diantara mereka. Tak ada obrolan atau topik yang akan mereka bicarakan. Sementara Eddy terus berpikir sembari melirik sejenak wajah Seo Yeol yang cantik itu. Bukan untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Seo Yeol sehingga dia terus bertemu dengannya, melainkan hatinya terasa canggung untuk terus mendekati gadis belia itu. Entah bagaimana waktu terus mempertemukan mereka dan keadaan terus mengheningkan suasana. Jika bukan karena Seo Yeol yang membawa Eddy ke rumah sakit, saat pertama kali mereka bertemu, sudah pasti Eddy tak akan memperburuk keadaan dan terus merasa depresi.

“Mengapa tuhan selalu mempertemukan kita di malam hari ini?” Eddy mendengar pertanyaan Seo Yeol sembari memandang bintang yang bertaburan di langit. Bukannya menjawab, justru lelaki itu tak tahu harus menjawab apa karena pertanyaan tersebut membuatnya lebih canggung. Adakah tempat untuk bersembunyi?

“Apakah ada jarak antara kita? Mengapa aku hanya ingin melihatmu setiap hari, bukan hanya malam ini saja?” Seo Yeol terus saja bertanya dan Eddy tetap saja mengabaikan. Dan lelaki itu dapat merasakan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Tubuhnya tiba-tiba hangat setelah pertanyaan tersebut terlontar kembali dari bibir ranum Seo Yeol.

“Di pagi hari, kita selalu sibuk. Aku bekerja di perusahaan terbesar sehingga tugasku sulit sebagai direktur, sementara kamu hanyalah seorang siswi SMA yang sedang menghadapi ujian nasional. Kita sama-sama pulang malam karena bagiku tugas kita sehari-hari telah selesai malam hari,” jawab Eddy yang pada akhirnya tersenyum kecil, “Tetapi, aku terus sedang bertanya kepada tuhan. Mengapa kita selalu diuji dengan cobaan yang berat?” Seo Yeol tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya lurus ke depan dengan ekspresinya yang kian berubah. Wajah cantiknya yang selalu tersenyum kian berubah saat ia menangkap sesuatu yang sedikit tak mengenakkan. Bukan karena pertanyaan yang keluar dari bibir tebal Eddy, melainkan Seo Yeol mengetahui sesuatu dengan memandang lurus.

Eddy ikut menghentikan langkahnya, kemudian memandang wajah Seo Yeol dari samping. Ekspresi gadis itu tampak tegang, membuat Eddy mengernyitkan dahinya. Perlahan lelaki itu ikut memandang ke depan dan tubuhnya kian menegang. Matanya kian memanas saat mata bertemu dengan sebuah objek yang tak mengenakkan. Terlebih lagi Seo Yeol yang mulai mengetahui hal itu.

Di depan mata mereka, Chan Yeol dan Se Hin tampak berciuman bibir. Hal ini membuat Eddy tak tinggal diam dengan melangkah menghampiri mereka, tetapi Seo Yeol segera menahannya.

“Ahjussi,” panggil Seo Yeol yang secara tak sengaja didengar sepasang kekasih baru itu, Chan Yeol dan Se Hin, “Apa yang sedang anda lakukan?” pertanyaan tersebut malah membuat Eddy menepiskan tangan Seo Yeol. Cukup kasar lelaki itu menepis tangan gadis bersurai hitam itu. Sementara Chan Yeol dan Se Hin terkejut dengan kehadiran Eddy dan Seo Yeol. Chan Yeol ikut terkejut saat adik kandungnya itu telah mengetahui bahwa ia berciuman dengan Se Hin. Dan ekspresi Se Hin mulai menegang saat melihat Seo Yeol tampak pulang malam bersama Eddy.

“Aku tak akan tinggal diam untuk hari ini.” Eddy segera melangkah menghampiri mereka dan mengabaikan sahutan Seo Yeol yang hendak mencegah lelaki itu. Sayangnya, perkataan Seo Yeol bagaikan angin berlalu sehingga Eddy segera bertindak sebelum orang lain menyaksikan.

BUGH!

Chan Yeol langsung tersungkur ke tanah saat Eddy melayangkan pukulan keras ke wajah tampannya. Sementara Seo Yeol segera berlari menghampiri Eddy, tetapi Se Hin segera menahan Seo Yeol untuk tidak mendekati Eddy. Saat dua pria itu bertengkar, Se Hin menatap tajam ke arah Seo Yeol seolah ada hal yang membuatnya benci dengan keadaan. Seo Yeol hendak memberontak, namun tenaga Se Hin lebih kuat dari perkiraannya. Dan Eddy terus memukul wajah Chan Yeol hingga ujung bibir lelaki itu robek.

“Siapa yang mengizinkanmu untuk menghentikan Eddy?!” Se Hin meninggikan intonasinya kepada Seo Yeol. Sementara yang ditanya hanya mematung. Di sisi lain, Eddy telah berhenti memukul wajah Chan Yeol saat bibir lelaki itu telah mengeluarkan darah.

“Apa yang sedang anda lakukan saat pulang malam bersama Eddy?” Se Hin kembali bertanya dan sukses membuat Seo Yeol bungkam. Jantungnya berdegup lebih kencang dengan perasaan ketakutan.

“Atau mungkin anda berani menyentuh Eddy sehingga kalian berdua pulang malam?!” Seo Yeol tak tahan dengan pertanyaan Se Hin yang tak mengenakkan hatinya.

“Ini bukan seperti anda yang pikirkan. Aku hanya kebetulan saja bertemu dengannya dan…” bahkan Seo Yeol mencoba untuk menjelaskan semuanya, Se Hin tiba-tiba saja menampar pipi gadis itu hingga hatinya terluka.

“Apa yang anda jelaskan itu semuanya palsu! Apakah anda pikir menjelaskan semuanya sangat mudah?! Lihatlah anak gadis ini! Berani sekali pulang malam bersama lelaki lain?!” Se Hin berhasil membuat Seo Yeol menitikkan air matanya. Eddy sangat benci jika Se Hin menuduh orang tanpa dasar.

“Se Hin-ssi.”

“Mengapa anda mau pulang bersamanya?! Memangnya anda kenal siapa dia?!”

“Bukan itu yang kamu pikirkan.”

“Bahkan kamu dan gadis jalang ini sama saja! Sama-sama mencoba untuk menghindari kebenaran!”

Shut up, Song Se Hin!

Eddy mulai membentak perkataan Se Hin hingga suasana menjadi hening dan tegang, “Anda tak berhak menuduh orang tanpa dasar! Apa yang dikatakan gadis ini, semuanya benar. Kita hanya kebetulan saja dan saling kenal satu sama lain.” kali ini Eddy menjelaskan hingga Seo Yeol mengusap pelan air matanya. Bersyukur jika Eddy yang berani menjelaskan semuanya.

“Mengapa anda malah bersikap kasar terhadap gadis ini? Apakah anda cemburu jika kita pulang bersama dalam keadaan baik?” Se Hin berhasil dibuat bungkam saat pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Eddy.

“Eddy hyung benar, sunbae,” kali ini Chan Yeol yang membuka suara dengan sedikit meringis kesakitan, “Mereka hanya kebetulan saja, terlebih lagi dia adalah adik saya.” Setelah berbicara, Chan Yeol langsung saja membungkuk kepada Se Hin. Sementara Seo Yeol merasa ketakutan jika dirinya kembali dibentak Se Hin.

“Mohon maaf jika adik saya selalu pulang malam bersama Eddy hyung. Tetapi, anda harus ketahui bahwa mereka hanya kebetulan saja dan bisa jadi…”

“Aku tak ingin mendengarnya lagi,” Se Hin menyela perkataan Chan Yeol cepat, “Sementang-mentang anda adik kandung gadis jalang ini, anda malah membelanya, bukan membentak balik. Apakah anda tidak tahu bahwa seorang wanita tidak boleh pulang malam bersama lelaki karena akan menimbulkan kecurigaan.” Ungkapnya yang tiba-tiba Seo Yeol memberanikan diri untuk membuka mulut.

“Jika memang benar bahwa seorang wanita tidak boleh pulang bersama lelaki lain, mengapa anda justru pulang bersama pacar anda?”

“Itu karena kami sedang dalam hubungan kencan!” Se Hin langsung menjawab tanpa berpikir panjang.

“Jika kamu sedang dalam hubungan kencan, mengapa anda malah bersikap kasar terhadap gadis ini setelah dia pulang bersamaku?” Eddy mulai menyeringai karena Se Hin tak mungkin mengkritik orang lain jika dirinya sedang dikritik.

“Katakan saja bahwa kamu cemburu jika saya pulang bersama gadis ini.” Jawab Eddy yang kembali membuat Se Hin tertegun dan tak mampu lagi menjawab.

“Dan kamu, Park Chan Yeol,” Eddy kembali memanggil Chan Yeol, “Jangan pernah lagi anda berhubungan dengannya jika kenyataannya dia masih memendam perasaan terhadapku.” Ujarnya dengan pedas sebelum melangkah pergi meninggalkan Seo Yeol, Chan Yeol, dan Se Hin. Meninggalkan penuh dengan luka yang semakin mendalam. Cobaan apalagi yang harus dia hadapi disaat ia ingin tenang, layaknya orang normal. Telinga Eddy menangkap suara Se Hin yang berteriak dan mengejar lelaki itu.

Sementara Chan Yeol dan Seo Yeol segera masuk ke dalam apartemen mereka. Seo Yeol menyadari sesuatu bahwa Eddy harusnya pulang ke apartemen, bukan malah pergi meninggalkan apartemennya. Setelah keributan yang hampir menimbulkan permusuhan, apa yang akan Eddy lakukan setelah ini? Seo Yeol berharap lelaki itu tak lagi bermabuk-mabukan sebagai penghilang kemarahan dan emosi yang mendidih terus di hatinya.

***

Se Hin berhasil meraih lengan kekar Eddy hingga lelaki itu menghentikan langkahnya. Saat itu, mereka berada di gang kecil yang akan menghubungkan mereka menuju jalan besar. Disaat itu juga, suasana mereka hampir memanas saat Se Hin kembali menunjukkan ekspresi marahnya. Sementara Eddy juga harus menahan emosinya yang terus berkobar di hatinya. Tangannya sudah lelah untuk memukul wajah Chan Yeol hingga dia hampir babak belur.

“Apakah dugaanku benar bahwa anda cemburu jika saya pulang bersama gadis itu?” tanya Eddy yang mencoba untuk tenang sebaik mungkin.

“Mengapa anda pulang bersamanya? Apakah sebelumnya anda juga pulang bersamanya?” Se Hin kembali bertanya dengan ekspresi cemburunya.

“Mengapa anda terus bertanya seperti ini?” Eddy tertawa kecil penuh tak percaya.

“Karena… karena…” Se Hin tak tahu harus menjawab apa karena Eddy terus menatapnya, “Karena aku terus merindukanmu.” ujarnya yang kemudian terus dibantah Eddy. Lelaki itu terus menyeringai karena perkataan itu malah melukainya sewaktu-waktu. Lelaki itu segera memutarkan tubuhnya ke belakang dan meraih pelan tangan kanan Se Hin.

Jantung Eddy berdegup kencang saat matanya menangkap sesuatu dibalik jemari Se Hin, yakni cincin pacar. Cincin tersebut sebelumnya dapat dari Eddy saat mereka masih berkencan beberapa waktu yang lalu. Eddy hampir tak percaya bahwa ternyata Se Hin masih mengenakan cincin tersebut. Jika memang kenyataannya bahwa wanita itu berkencan dengan Chan Yeol, mengapa dia masih mengenakan cincin pasangan?

“Aku merasa tak percaya bahwa kamu ternyata masih mengenakan cincin ini.” Eddy segera melepaskan cincin dari jemari manis Se Hin, tetapi wanita itu menahannya dengan menggenggam tangan Eddy. Se Hin tak ingin cincin tersebut dilepas Eddy begitu saja. Padahal mereka sudah tak memiliki hubungan khusus. Dan seharusnya Se Hin segera membuang cincin yang tersemat di jemarinya, bukan malah tetap memakainya.

“Mengapa kamu terus merubah keadaanku? Bukankah kamu sudah tak lagi mencintaiku setelah apa yang telah kamu perbuat terhadapku beberapa waktu yang lalu?” Eddy segera menyingkirkan tangan Se Hin dan segera melepaskan cincin dari jemari wanita itu.

“Tolong jangan kamu lepaskan cincin ini.” Perkataan Se Hin diabaikan Eddy dan akhirnya lelaki itu berhasil melepaskan cincin dari jemari Se Hin. Kini, cincin tersebut berada di tangan Eddy.

“Apa yang harus aku lakukan dengan cincin ini?” gumam Eddy dengan saking hatinya terlalu sakit. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu segera membuang cincin itu jauh-jauh ke sembarang tempat. Se Hin yang melihat itu hanya bisa menitikkan air matanya.

“Apa yang sebenarnya akan kamu lakukan dengan Chan Yeol? Bukankah kamu mencintainya?” lelaki itu bertanya yang membuat batin Se Hin menjerit.

“Aku memang mencintainya lebih dalam. Tetapi… hatiku tak bisa berpaling darimu. Dan aku hanya akan mengingat saat-saat kita selalu bersama. Disaat keadaan berubah seperti ini, aku bingung sekaligus marah bagaimana aku harus merubah kembali keadaan.”

“Justru kamu yang merubah keadaan seperti ini! Kamu hanya menambah rasa sakit di hatiku! Bagaimana suasana tak akan berbalik seperti yang dulu?! Justru menambah buruk keadaan, terutama aku!” bentak Eddy yang akhirnya mengeluarkan segala emosinya. “Apakah kamu tak tahu bagaimana perasaanku setelah kamu membuang segala perasaanku jauh-jauh?! Aku sudah sampai terlanjur menjadi lelaki gila yang maniak terhadap permainan di komputer! Jika itu akan menggangguku, mungkin saja aku akan sakit jiwa!” lanjutnya dengan perasaan yang lebih kecewa secara mendalam. Se Hin akhirnya menangis pelan.

“Mengapa tak kamu katakan saja kepada Chan Yeol bahwa kamu tak bisa melupakanku? Kamu hanya mempersulit keadaanku saja!” Eddy segera pergi meninggalkan Se Hin yang terus menangis. Mengabaikan Se Hin yang pada akhirnya turut menyesal hingga ia terduduk di tanah. Perasaannya sangat berkecamuk, mengingat Eddy sudah tak lagi mencintai Se Hin karena tuduhan kasus yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Namun sekarang, wanita itu malah masih menyimpan perasaan terhadap Eddy. Justru Eddy menjadi bingung dan bimbang sekaligus depresi yang telah menyerangnya dan memperburuk suasana.

Se Hin-ssi, let’s forget our memories that we have done when we’ve date. Batin Eddy yang pada akhirnya menitikkan air matanya di tengah-tengah ia berjalan. Hendak menghapus segala kenangan bersama Se Hin dan menjadikan kenangan tersebut sebagai angin berlalu saja. Batinnya terus meminta maaf kepada Se Hin. Dan biarkan semuanya tak lagi terjadi begitu saja.

***

“Seo Yeol-ah,” Chan Yeol melangkah menghampiri Seo Yeol saat gadis itu hendak menaiki beberapa anak tangga, “Aku ingin bicara padamu.” Ujarnya sembari memutarkan tubuhnya menghadap ke arah Chan Yeol.

“Ada apa? Apakah ini terkait dengan Eddy?” tanya Seo Yeol.

“Mengapa kamu selalu pulang malam bersamanya?” kali ini Chan Yeol yang bertanya. Seo Yeol malah mengabaikan pertanyaan Chan Yeol dan terus menatap kakak kandungnya itu.

“Apakah kamu…”

“Karena ada hal yang tak ingin aku katakan kepada dunia.” Jawab Seo Yeol dengan menyela perkataan Chan Yeol. Sementara yang dijawab itu malah tertegun.

“Aku mulai menyukainya, Chan Yeol oppa. Jadi, jangan oppa menentang hubungan kami.” Ungkap Seo Yeol sebelum gadis itu menaiki beberapa anak tangga meninggalkan Chan Yeol. Seo Yeol tak tahu harus berkata apa selain mengatakan kejujuran. Jantungnya mulai berdegup kencang saat ia telah mengungkapkan sebenarnya. Perasaan yang mengatakan bahwa Park Seo Yeol menyukai Eddy. Dan Chan Yeol tak boleh menentang perasaan Seo Yeol, selagi gadis itu hendak melabuhkan perasaannya terhadap Eddy. Namun, biarkan tuhan yang menjawab takdir Seo Yeol.

To be continued…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s