[FREELANCE] Black Prince Fall in Love (Oneshot)

Black Prince Fall in Love (Oneshot)

654ab73a74e0129322cc0f63f35f33be

Title: Black Prince Fall in Love

Author: Amarrylis Daisy

Main Cast: Park Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Ervina Kim (OC)

Support Cast: Oh Sehun of EXO as Oh Sehun, Irene

Genre: Romance, Comedy, Drama

Length: Oneshoot

Rating: PG-17

Disclaimer:

The story and idea are pure mine. Chanyeol and Sehun are belong to God, EXO, their family and world. Don’t dare you to plagiat this!

Note   :

Hai~! Amarrylis Daisy’s come back here!😀 Masih tentang Chanyeol, dan ada sedikit aku selipin Sehun di sini. Aku juga ngga tau itu judul nyambung apa ngga sama in cerita, tapi apalah. Semoga tetap menghibur. Oiya aku dapet ide ini dari anime yang aku tonton, tapi banyak yang aku ubah sesuai versiku. Aku ambil sedikit aja dari anime itu. Oke deh, langsung baca aja ya. Jangan lupa setelah baca tinggalkan jejak di kolom komentar. Sankyu~ ^_~

***

Spring, 2015.

Dalam dua puluh lima tahun hidupku, aku tak pernah mengharapkan akan datangnya hari ini. Hari dimana aku harus bertemu dengannya lagi setelah dua tahun terakhir kami telah menentukan jalan kami masing-masing. Dan anehnya, karena satu dan lain hal yang aku pun tak bisa menjelaskannya, aku masih merasakan jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya hanya dengan melihat senyumannya yang selalu mengagumkan. Namun, sama halnya dengan 8 tahun yang lalu, aku bagaikan seorang pecundang yang hanya bisa menyembunyikan perasaanku. Dan suatu hal yang sulit bagiku untuk menyatakan perasaanku padanya.

Musim panas 2007.. Di usiaku yang ke-17 tahun itu, karena kebodohanku, aku hanya bisa berada di sampingnya tanpa berani mengungkapkan semuanya.

***

Flashback…

Kehidupanku yang orang lain lihat dari luar pastinya akan membuat mereka merasa iri. Aku memang dilahirkan di sebuah keluarga yang lebih dari kata “mampu” secara finansial dan ekonomi.

Ayahku adalah seorang presdir di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar dan sukses di Seoul. Bahkan ayahku telah berhasil mendirikan beberapa cabang di dalam negeri maupun luar negeri. Sebenarnya, bisnis ini lebih tepat dikatakan sebagai bisnis turun-temurun atau warisan dari kakekku. Dan sejak aku kecil, orangtuaku sudah mengatakan bahwa kelak aku pun harus menduduki kursi presdir yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga Park—keluargaku.

Sedangkan ibuku adalah seorang wanita karir yang menjadi seorang designer dan sibuk di butiknya yang selalu ramai didatangi para artis terkenal. Dilihat dari sisi manapun, orangtuaku adalah sosok yang sangat bisa dibanggakan. Dan selama ini pun aku selalu memamerkan tentang mereka di hadapan teman-temanku.

Karena kenyamanan dan kemudahan yang selalu aku dapatkan sejak kecil—bahkan sejak aku masih dalam kandungan ibuku, aku pun tumbuh menjadi sosok lelaki yang terlalu santai dalam segala hal, karena aku pikir semua yang berkaitan denganku pasti sudah ditentukan dan aku cukup menerima dan menjalaninya saja seperti biasanya. Aku cukup bahagia, karena dibanding teman-temanku yang lain, aku merasa lebih unggul. Hal itu menumbuhkan sifat egois dan angkuh dalam diriku tanpa aku bisa menolaknya.

Namun ternyata semua itu hanyalah kebahagiaan semu…

Pada saat umurku menginjak 10 tahun, aku melihat ayah dan ibuku bertengkar hebat di dalam kamar mereka. Dan mereka mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan “perjodohan.” Setelah itu, ibuku pergi meninggalkanku dan rumah kami bersama seorang lelaki asing yang menggandengnya dengan mesra. Sejak hari itu, aku tahu bahwa kenyataan telah menamparku kalau selama ini ayah dan ibuku menikah karena perjodohan demi mempertahankan bisnis keluarga yang saat itu sedang dilanda krisis.

Tak ada cinta, tak ada kebahagiaan di antara mereka. Namun berkat mereka, aku ada di dunia ini dan menjadi saksi bahwa cinta itu tak benar-benar ada. Cinta bukanlah hal mutlak yang harus ada di antara pasangan kekasih. Bahkan tanpa cinta pun, sepasang kekasih bisa menikah dan memiliki anak. Tanpa cinta pun, waktu terus berputar dan kehidupan terus berlanjut.

Namun, seiring berjalannya waktu, pemikiranku kian berubah karena aku mengenal seseorang. Ya, seorang gadis yang pada awalnya hanya bagaikan seekor ‘anjing peliharaan’ untukku yang kesepian ini.

***

Summer 2007.

Eh? Apa itu tadi? Apa yang barusan terjadi itu? Seseorang mengambil fotoku?!

“Hei!” teriakku memanggilnya yang sudah lebih dulu berlari. Aku pun ikut berlari untuk mengejarnya. Sialan, larinya kencang sekali!

Ia berlari melewati jalanan distrik Apgeujong yang sedang ramai ini. Ah, aku lupa. Hari ini adalah perayaan Chuseok. Pantas saja jalanan menjadi lebih ramai dari biasanya. Sial, dia berlari masuk ke dalam sebuah gang. Jangan-jangan dia seorang penguntit yang selama ini selalu mengekoriku dan mengambil fotoku di setiap waktu! Bagaimana jika ia telah mengambil fotoku saat aku berada di dalam kamar mandi? Oh tidak, ini benar-benar gawat. Aku harus menangkapnya dan mengadukannya ke kepolisian atas tuduhan pelecehan seksual!

“Hei, lepaskan aku!” teriaknya setengah meronta ketika aku berhasil menangkap pergelangan tangannya dan beralih menangkap tubuhnya yang kecil. Bahkan tinggi tubuhnya saja tidak lebih dari setinggi leherku. Apakah dia bocah sekolah dasar, huh?!

“Aku tidak akan melepaskanmu setelah apa yang sudah kau lakukan padaku tadi, bocah!” kataku yang ikut setengah berteriak karena menahan emosi. Dia terus meronta dalam dekapanku. Kecil-kecil tenaganya lumayan juga.

“Aku bukan bocah. Aku seorang murid sekolah menengah, bodoh!” teriaknya lagi sambil melepaskan topi yang sedari tadi menutupi setengah wajahnya. Aku tercenung. Rambutnya yang panjang sebahu sontak tergerai bebas. Matanya bulat dan besar, hidungnya mancung, dan kulitnya seputih keramik. Astaga, dia seorang perempuan!

“Kau.. perempuan??” tanyaku dengan wajah bingung. Perlahan aku melepaskan dekapanku dari tubuhnya. Aku merasa sedikit bersalah karena aku telah berani menahan tubuhnya mendekat ke tubuhku dengan posisi seperti tadi. Bisa-bisa ia yang akan melaporkan aku ke polisi karena telah melecehkannya!

“Benar. Untuk yang terjadi tadi, aku mohon maafkan aku. Aku lari karena aku merasa malu saat kau memergokiku telah mengambil fotomu. Tapi aku punya penjelasan untuk itu. Kalau kau mau, aku akan menjelaskannya sekarang juga.”

“Penjelasan?” tanyaku dan ia mengangguk keras. Well, sepertinya aku masih punya banyak waktu untuk mendengarkan alasannya. Daripada aku kembali ke rumah sekarang dan tidak tahu harus melakukan apa. Lagipula, gadis ini lumayan menarik untuk mengisi waktu luangku. “Baiklah, 30 menit dari sekarang. Silakan.” Kataku sambil mengangkat satu alisku ke atas dan tersenyum seduktif.

***

“Ahh… aku mengerti permasalahanmu sekarang. Kau telah membuang waktumu selama satu semester hanya untuk berteman dengan cecunguk-cecunguk seperti mereka.” Kataku sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Sedangkan gadis yang tadi aku kejar karena mencuri fotoku telah duduk di hadapanku sambil menunduk setelah menjelaskan alasannya.

Jarak kami hanya dibatasi oleh sebuah meja. Sekarang kami duduk di sebuah kafe kopi tak jauh dari tempat ‘penangkapanku’ tadi. Karena udara yang dingin, aku mengajaknya mencari tempat yang lebih hangat.

“Aku mohon, maafkan aku. Ini, lihatlah.” Gadis itu menyodorkan ponselnya ke arahku sambil menunjukkan foto diriku yang telah ia curi tadi. “Aku hanya satu kali memotretmu. Dan aku sangat membutuhkan foto ini untuk kutunjukkan pada teman-temanku. Jika tidak, mereka akan terus bertanya dan tidak akan percaya padaku lagi.”

“Jika kau tidak mendapatkan foto laki-laki tampan untuk ditunjukkan pada teman-temanmu, aku pikir mereka hanya akan tidak percaya pada bualanmu lagi kalau kau memiliki pacar tampan dan mungkin mereka akan mendepakmu dari kelompok.” Balasku santai sambil sesekali meminum kopi panas yang kembali menghangatkan tubuhku. Mendengar kata-kataku itu, kulihat gadis di hadapanku memasang wajah cemas. How pity she is..

“Itulah mengapa. Hanya membayangkannya saja aku sudah sangat ngeri.” Katanya pasrah. Aku melihatnya menghembuskan nafas berat. Well, apa tidak apa jika kubantu saja?

“Dimana sekolahmu?” tanyaku pada akhirnya setelah aku dan dia memilih untuk diam sesaat.

“SOPA High School.” Jawabnya lemah sambil mengangkat wajahnya. Oh God, memangnya tidak ada ekspresi lain yang bisa ia tunjukkan selain ekspresi memelas seperti itu? Eh tunggu. Dimana tadi katanya?

“SOPA?? Hei, kita satu sekolah!” seruku yang baru sadar. Kulihat gadis itu hanya memandangku datar, seolah tak terkejut. Mungkinkah…?? “Tunggu, kau sudah tahu tentang aku, bukan? Kau tahu bahwa kita satu sekolah dan karena melihatku di sini, dengan keadaanmu yang terdesak itu, akhirnya kau mengambil fotoku. Sayangnya, aku tidak mudah untuk kau bodohi dan aku bisa menangkapmu sekarang.”

“Maafkan aku. Tapi benar, aku bukan penguntit. Siapa yang tidak tahu tentang kau—Pangeran Park Chanyeol yang sangat populer di sekolah dan dikelilingi oleh para gadis..?? Orangtuamu kaya dan kau akan menjadi penerus perusahaan ayahmu. Seantero sekolah pasti sangat paham akan hal itu. Begitu ‘kan julukanmu?” Aku tersenyum lebar. Merasa senang dan bangga mendengar kata-katanya barusan. Ah, susahnya menjadi seorang pangeran. Tidak ada yang tidak mengenalku.

Sadar akan senyumanku yang mungkin akan dianggap bodoh olehnya, aku pun memasang wajah dinginku lagi dan berdeham sedikit. “Ekhem, baiklah, aku akan membantumu. Kita pacaran, mulai besok.”

“APA?!” teriaknya kaget. Bahkan ia sampai berdiri saking kagetnya. Sialan, gadis ini. Semua pengunjung kafe jadi memandang ke arah sini. Memalukan!

“Hei, duduklah. Semua orang sedang melihat kita.” Kataku setengah berbisik sambil sesekali mengangguk ke sekeliling, meminta maaf pada orang-orang yang terlanjur melihat. Gadis itu pun duduk, namun wajahnya masih terlihat kaget. Aku menghembuskan nafas lelah. Gadis ini bodoh atau apa, sih?

“Pa-pa-pacaran? Tapi untuk apa? Aku ‘kan hanya meminta izin untuk memamerkan fotomu di depan teman-temanku sebagai pacar yang selama ini selalu aku ceritakan di depan mereka.” Katanya lagi.

“Otakmu dimana, sih? Jika kau menunjukkan fotoku, maka teman-temanmu akan langsung mengenaliku. Seperti yang kau katakan tadi, seantero sekolah sangat mengenalku. Mereka akan mengolokmu dan tidak akan mudah percaya jika kau hanya bercerita dan menunjukkan fotonya saja. Karena itu, sekalian saja kuputuskan, kita pacaran dan membuat semua orang tahu dengan hubungan kita. Bagaimana?” tawarku sambil menjaga ekspresi wajahku sesantai mungkin.

Walaupun aku yang menawarkan diri untuk menjadi pacarnya, aku tidak mau terlihat seolah aku sangat mengharapkan itu. Aku melakukan ini karena aku juga sudah lelah diganggu oleh para gadis di sekolah. Mendengar kata-kata rayuan mereka terasa sangat menjijikan untukku. Dengan mengencani satu perempuan saja akan membuat mereka berpikir dua kali untuk mendekatiku lagi. Ini sama-sama menguntungkan bagiku dan gadis ini, bukan?

Kulihat ia seperti berpikir. Dan aku menunggunya. Ia memainkan kedua ibu jarinya dengan gelisah. Melihatnya, satu alisku terangkat. Seperti itukah respon tubuhnya jika sedang merasa kesulitan? Menarik dan juga.. aneh.

“Bagaimana? Setuju, tidak? Tidak masalah, sih, kalau kau mau menolaknya. Tapi kupikir ini kesempatan yang sama-sama menguntungkan. Dengan memiliki pacar, aku juga bisa beristirahat dulu dari para gadis yang selalu mengelilingiku. Aku juga akan bersikap seperti pacar di depan teman-temanmu. Anggap saja kita saling memanfaatkan.” Kataku lebih menjelaskan situasi yang ada kepadanya.

Matanya mulai memandang ke arahku. Dalam hati aku tertawa penuh kemenangan. Aku tahu ia akan menjawab ‘ya.’ Dan aku sudah memikirkan sesuatu yang menarik selama ia menjadi pacarku. Membayangkannya saja sudah membuatku ingin tertawa. “Kita hanya akan berpura-pura pacaran di depan teman-teman.” Tambahku lagi.

“Emm.. baiklah, aku setuju dengan tawaranmu. Aku mau menjadi pacarmu demi keuntungan kita bersama. Terima kasih sudah membantuku. Kebaikanmu sangat menolongku. Aku pikir kau akan marah dan melaporkanku.” Gadis ini tersenyum, mungkin ia melihatku sudah seperti malaikat yang datang menolongnya.Well, salah satu sudut bibirku langsung terangkat. Aku tahu ia melihatnya dengan kedua matanya yang terlihat berkaca-kaca karena terharu dengan kebaikanku. Polos sekali gadis ini.

“Memang itu yang aku pikirkan beberapa waktu lalu—melaporkanmu ke polisi.” Kataku datar dan kulihat ia menunduk lagi. Aku rasa ia cukup merasa malu dengan perbuatannya. Aku pun tertawa renyah, membuatnya mengangkat kepalanya lagi dan memandangku dengan tatapan bertanya. “Jangan bodoh. Tidak mungkin semua ini gratis. Ada harga mahal yang harus kau bayar tentunya.”

“Apa?” tanyanya kaget. Aku mendengus melihat kepolosannya. Sebenarnya aku ingin tertawa. Ini sangat menyenangkan.

“Berdirilah.” Pintaku dengan nada memerintah. Namun kulihat ia hanya diam dan menurut. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di samping kursi.

“Sekarang, berputarlah tiga kali ke arahku dan katakan ‘guk’ sebanyak tiga kali juga.” Aku tersenyum penuh kemenangan melihatnya yang bingung dan juga kaget. Dia pasti mulai berpikir bahwa aku sangat sadis memintanya begitu.

“Park Chanyeol-ssi, apa maksudmu yang sebenarnya? Kenapa kau—“

“Pacaran hanyalah status di hadapan teman-teman. Tapi bagiku, kau adalah anjing peliharaanku dan aku adalah Tuanmu. Maka semua hal yang aku minta dan aku perintahkan harus kau turuti. Jika tidak—“ aku menghentikan ucapanku dan memandang wajahnya yang terlihat pucat setelah mendengar kata-kataku. Aku tersenyum singkat. “—aku akan membocorkan rahasia bahwa kau sama sekali tidak pernah memiliki pacar dan tidak punya pengalaman sama sekali dalam hal berkencan. Bagaimana?” Sekali lagi aku mengangkat salah satu sudut bibirku. Melihatnya kebingungan sangat menghibur untukku.

“Apa yang kau katakan?!” tanyanya yang mulai terlihat marah.

“Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku akan membocorkannya.” Aku segera menghabiskan kopi pesananku dan bangkit berdiri, siap akan meninggalkannya di kafe ini. Namun ia menggenggam tanganku dengan tatapan memelas dan memohon.

“Tolong, jadikan aku pacarmu kalau begitu.” Gotcha! Teriakku dalam hati. Aku diam dan tersenyum penuh arti ke arahnya. Kuharap ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Dan kulihat gadis itu berjalan sedikit menjauhiku lalu ia berputar sebanyak tiga kali mendekatiku dan…

“GUK GUK GUK!” gonggongnya kemudian.

Oh, tidak, ini lucu sekali. Aku tertawa terpingkal-pingkal melihatnya nekat melakukan hal seperti itu di depan banyak orang. Sekarang semua orang menatapnya keheranan dengan pandangan aneh. Wajahnya pun sudah semerah tomat menahan malu. Aku berhenti tertawa dan menepuk puncak kepalanya pelan.

“Bagus sekali. Jadi, siapa namamu?” tanyaku setelah berhasil menghentikan tawaku yang keras. Bahkan mataku sampai berair melihat apa yang terjadi barusan. Ini menyenangkan!

“Ervina… Kim.” Lirihnya masih dengan kepala menunduk. Aku menyentuh dagunya dan mengangkatnya perlahan ke atas. Aku tersenyum sadis melihat wajahnya yang pasrah.

“Ervina… nama yang cantik. Namun akan lebih cantik jika aku memanggilmu ‘Poochie.’ Nama yang lebih dari sekadar cantik untuk seekor anjing peliharaan.” Aku tak bisa menahan tawaku lagi melihat wajahnya yang semakin memelas. Aku pun melangkah pergi meninggalkannya. Sudah cukup bermain-main hari ini. Aku rasa besok dan seterusnya akan lebih menyenangkan karena aku memiliki mainan baru. Siapa namanya tadi? Ervina Kim? Aku harus mencari tahu segala hal tentangnya mulai besok. Hahahaha…

***

Aku berjalan menyusuri koridor kelas tahun kedua setelah berhasil mendapatkan informasi bahwa ‘anjing peliharaan’-ku itu duduk di kelas 2-A. Aku berjalan santai, dengan kedua tangan kumasukkan ke dalam saku celanaku. Semua orang melihat dan memandangiku dengan tatapan kagum dan heran, kenapa pangeran sepertiku bisa berjalan di koridor kelas tahun kedua.

Memang, ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sini. Sebagai kakak kelas di tahun ketiga, aku malas harus jauh-jauh ke koridor adik kelas jika bukan karena aku memiliki urusan dengannya.

Akhirnya aku sampai di depan kelas 2-A. Aku berdiri sejenak di depan pintu dan mencari keberadaannya. Ah, itu dia. Ia duduk di bangku paling belakang bersama dua orang temannya. Mungkinkah mereka adalah ‘cecunguk-cecunguk’ itu? Aku langsung saja masuk ke dalam kelas, berniat menghampirinya.

“Hei, Ervina. Pantas saja kau selalu menyembunyikan identitas pacarmu selama ini dari kami. Ternyata ia adalah Pangeran Sekolah kita—Park Chanyeol. Daebak! Katakan padaku, bagaimana bisa kau menundukkannya? Padahal selama ini yang aku tahu, ia dikelilingi banyak gadis cantik, namun ia selalu menolak mereka dengan dingin.” Kudengar salah satu dari mereka—yang berambut panjang dan memakai riasan tebal—sedang berbicara pada Ervina. Aku menahan langkahku dan mendengarkan percakapan mereka.

“Benar sekali. Park Chanyeol dikenal sebagai Pangeran Es yang tak terjamah oleh gadis manapun. Bahkan Presiden Siswa yang sangat cantik dan modis itu ia anggap sebagai angin lalu. Bukankah seharusnya kau tidak masuk sebagai tipe gadis ideal Park Chanyeol, Vin? Ini aneh.” Kata gadis yang lain yang berambut agak kepirangan. Geez, kenapa dia berteman dengan gadis-gadis seperti mereka, sih? Melihat dandanan mereka saja sudah membuatku mual.

Kulihat Ervina tertawa mendengar pertanyaan mereka. Well, ia pintar sekali berakting rupanya. Ekspresi kagetnya cepat sekali berubah menjadi ekspresi sok dan merendahkan..? Kulihat ia tertawa renyah.

“Apa kalian iri denganku? Kalian hanya belum tahu saja bagaimana kemampuanku saat berada di atas ranjang. Dan Chanyeol sangat menyukaiku yang seperti itu. Sejujurnya, Chanyeol sangat pervert. Dan mungkin alasan ia jatuh cinta padaku karena ia terpesona dan ketagihan dengan diriku.” Sialan, apa barusan ia bilang? Ia baru saja mengataiku mesum!

“Wah, aku tidak menyangka kalau pangeran tampan kita adalah seorang yang sangat menggilai hal-hal seperti itu. Tapi wajar, sih, setiap hari ia dikelilingi oleh para gadis cantik. Tidak mungkin ia bisa menolak pesona mereka. Apalagi jika kau sudah berani menggodanya di atas ranjang. Hahaha…” Kata si rambut pirang sambil tertawa keras. Sialan!

“Kuberitahu ya, Vin, aku pernah mendengar rumor bahwa ia selalu membawa gadis cantik yang berbeda setiap harinya untuk pergi ke hotel. Apa kau tidak merasa takut kalau suatu saat ia akan mengkhianatimu dengan gadis lain?” What? Gadis menor itu berani sekali menggosipkanku tanpa tahu kebenarannya?!

Aku sudah tidak bisa lagi menahan emosiku setelah mendengar apa yang cecunguk-cecunguk itu katakan di depan Ervina. Bagimanapun, aku bukan seperti yang selama ini dirumorkan dan aku tidak mau Ervina termakan kata-kata mereka. Bagaimana jika ia berubah pikiran dan tidak mau menjadi ‘anjing peliharaanku’ lagi? Aku bisa kehilangan mainan baruku!

Tanpa menunggu lagi, aku berjalan mendekati mereka, melewati cecunguk-cecunguk sialan itu dan berdiri di belakang punggung Ervina yang sedang duduk di bangkunya. Aku merendahkan tubuhku dan memeluknya dari belakang. Kulihat gadis-gadis sialan itu terkejut melihat kedatanganku, apalagi setelah melihat apa yang kulakukan. Aku tersenyum miring dan mencium pipi Ervina.

“Hai, sayang. Dari tadi aku mencarimu. Ternyata kau di sini. Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?” kataku memulai aktingku dengan berpura-pura manja dan merajuk. Kurasakan tubuh Ervina yang menegang dalam dekapanku. Yaah.. sekalian saja kuhukum dia dengan ciumanku tadi. Bagaimanapun ia yang telah menciptakan image pervert di hadapan mereka.

“Emm.. a-a-aku.. aku..” jawabnya tergagap.

“Ah, aku tahu. Kau mengabaikanku karena asyik mengobrol dengan teman-temanmu ini, bukan? Apakah mereka adalah teman-temanmu yang waktu itu kau ceritakan padaku? Aku tidak terkejut melihatnya.” Kuselipkan kalimat sindirian sambil memandang mereka dengan tatapan tajam.

“Ahh.. be-benar. Perkenalkan, ini adalah Seohyun.” Katanya sambil menunjuk gadis berambut panjang. “Dan ini adalah Jimin.” Katanya sambil menunjuk ke gadis pirang. Aku menaikkan sebelah alisku, memandang remeh ke arah mereka. Mereka mencoba tersenyum dan menyodorkan tangan mereka, berniat untuk menyalamiku. Namun aku mengabaikan mereka dan mendengus sebal. Kulihat wajah mereka memerah, merasa malu.

“Sayang, bisa kita pergi dari sini? Bel masuk masih lama. Aku ingin berduaan saja denganmu.” Kataku sambil memasang wajah tampanku sebaik mungkin. Aku melihat gadis di hadapanku memasang senyum yang terlihat canggung. Pipinya pun merona. Ah, apa ia malu dengan sandiwara ini?

Aku segera menariknya keluar kelas dan menggandeng tangannya. Aku hanya diam dan membawanya mengikuti langkah panjang kakiku hingga sampai di atap gedung sekolah.

“Park Chanyeol-ssi.” Panggilnya yang kewalahan, karena aku memintanya duduk di dekat pagar pembatas, dan kujatuhkan kepalaku di atas pangkuannya.

“Panggil saja aku Chanyeol.” Kataku sambil memejamkan mataku.

“Tapi..” sanggahnya.

“Cobalah.” Pintaku.

“Cha-Chanyeol-ssi..” lirihnya sambil memalingkan wajah ketika aku membuka mataku. Aku tersenyum.

“Lain kali hilangkan embel-embel ­–ssi. Dan sekarang aku mau tidur. Jangan bangunkan aku sampai bel masuk. Mengerti, Poochie?” Kulihat ia mengangguk. Aku tersenyum menanggapinya.

Waktu terus berputar. Angin musim semi yang sejuk menerpa tubuh kami. Dan Ervina masih diam saja. Ternyata ia benar-benar mengira aku sudah jatuh tertidur.

“Kenapa kau menciumku? Aku tidak mengira sandiwara kita akan melibatkan skinskip sejauh itu.” Kudengar ia bermonolog dengan lirih. Aku memutuskan untuk tetap berpura-pura tertidur. Kemudian aku mendengarnya seperti menghembuskan nafas berat. “Kau benar. Aku berteman dengan orang yang salah dan kebohonganku membuatku susah seperti ini. Bagaimanapun aku sudah sangat merepotkanmu.

“Tapi, saat itu aku tidak memiliki teman dan hanya mereka yang tiba-tiba mengajakku mengobrol dan menyadari keberadaanku di kelas. Sikapku selama ini hanya kulakukan sebagai caraku beradaptasi dengan mereka. Kuakui sifat mereka tidak begitu baik, namun mereka adalah orang-orang yang menemaniku selama ini. Mungkin… tanpa mereka, tanpa kebohongan itu, aku tidak bisa bertemu denganmu dan tidak bisa melihat wajahmu sedekat ini.”

DEGH!

Apa yang baru saja telah ia katakan? Kenapa ia bisa berkata seperti itu? Ini bahkan baru hari kedua sejak pertemuan pertama kami. Tapi entah kenapa aku merasa kami sudah begitu dekat. Mungkinkah aku hanya terbawa dengan suasana saja?

TES.

Eh? Apa ini? Apakah gerimis? Tapi di berita tadi pagi hari ini cuaca akan cerah sampai sore nanti. Kenapa mendadak akan hujan?

“Maafkan aku. Dan terima kasih. Karena kejadian ini, aku jadi bisa menyadari banyak hal dan belajar dari itu semua.” Kudengar suaranya yang sedikit parau. Dan… ia terisak?!

Aku segera membuka mataku dan kulihat kedua matanya terpejam sembab. Aku mengernyit sedih. Aku teringat dengan kata-katanya tadi dan sepertinya menumbuhkan rasa simpatiku padanya.

“Berhentilah menangis, Bodoh.” Kataku sambil menyentuh pipinya dan mengusapnya pelan. Ia sedikit terkejut dan membuka matanya cepat.

“Chanyeol—“

“Tuanmu memintamu untuk berhenti menangis. Beraninya kau mengabaikan perintahku?” kataku dengan nada setengah keras. Bukan maksudku untuk membentaknya, namun aku tidak bisa melihat perempuan menangis. Aku bingung harus menghibur seperti apa.

Kulihat ia tersenyum lemah dan mulai berhenti menangis. Aku diam memandang wajahnya dan menghapus sisa-sisa air matanya dengan jemariku.

“Maafkan aku karena aku menciummu. Tapi, semua itu kulakukan secara reflek karena ingin menolongmu dari mereka.” Kataku sambil menyampirkan helaian rambutnya yang terasa halus di tanganku ke belakang telinganya. “Jika aku boleh jujur, aku tidak merasa repot dengan semua ini, asal kau tahu. Beberapa saat yang lalu, saat berada di kelas, aku benar-benar berpikir sedang memeluk dan mencium pacarku. Itu saja. ”

Lagi. Aku melihat pipinya yang merona lagi setelah mendengar ucapanku. Apakah ia alergi dengan perkataanku? Atau dengan sentuhanku? Kenapa responnya itu sangat berbeda dengan gadis-gadis lainnya? Kenapa gadis ini terlihat cantik saat… Eh? Apa yang aku pikirkan sekarang?

“Karena itu, aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu, Chanyeol.” Katanya sambil tersenyum lembut ke arahku. Aku terkejut melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu di hadapanku. Entah kenapa, sekarang aku merasa gugup hanya berdua saja dengannya. Dan melihat senyumannya tadi aku…

“Kalau begitu, kau tidak termakan omongan teman-temanmu tadi tentang rumor itu, kan? Semua itu tidak benar. Sialan sekali mereka, seenaknya saja mengatakan hal seperti itu.” Kulihat ia menggelengkan kepalanya mantap. Bagus! “Lalu, apakah kau benar-benar hebat di atas ranjang? Apakah aku perlu membuktikannya??” Tanyaku dengan senyuman menggoda padanya.

“Tidak mungkin!” elaknya cepat sambil memalingkan wajah, menghindari tatapanku. “Aku hanya berbohong seperti biasa, kok!”

“Tapi dengan kebohonganmu, kau membuatku terlihat seperti lelaki mesum di mata mereka.” Sergahku cepat.

“Maafkan aku…” katanya pasrah dengan ekspresi memelas lagi. Aku tertawa dalam hati melihat wajahnya yang kacau menahan malu. Gadis ini unik sekali.

“Tidak. Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau mendapat hukuman yang pantas dariku.” Kataku datar sambil memandang kedua matanya tajam. Ia tampak enggan setelah mendengar kata ‘hukuman’ dari bibirku. Aku hanya tersenyum miring melihatnya.

Tanpa sempat ia menolak, tanganku langsung meraih tengkuk lehernya dan otomatis wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirnya menyentuh bibirku seperti apa yang aku harapkan. Aku memejamkan mataku dan tersenyum menikmati ciuman kami. Kurasakan ia setengah meronta dan ingin menarik wajahnya menjauh dari wajahku. Namun tanganku menahan tengkuknya kuat.

“Hmmph-ah-Chanyeol-apa-yang-hmmph!”

Aku melumat bibirnya dengan lembut dan merasakan manis cherry dari bibir pink-nya. Ah, dia memakai lipbalmyang tepat. Aku menyukai rasanya.

Aku melepas ciuman kami dan menahan tawa melihat wajahnya yang panik dan semerah tomat.

That’s your punishment, Poochie.” Kataku santai sambil bangkit dari pangkuannya dan pergi meninggalkannya yang masih mematung karena bel masuk sudah berbunyi nyaring. “Ingat, kalau begitu kau tidak bisa pergi dari Tuanmu jika benar kau memang tidak percaya dengan rumor itu. Mengerti?!” teriakku padanya sambil terus berlalu.

***

Waktu berlalu begitu cepat. Satu semester telah berlalu dan hubunganku dengan si ‘anjing’ masih seperti biasa. Aku masih terus menjahilinya dengan kenakalanku. Dan aku menyukai responnya yang selalu panik dengan wajah memerah. Sekarang melihat setiap ekspresi wajahnya yang mengagumkan sudah seperti candu bagiku. Dan aku tak tahu kenapa muncul perasaan seperti itu dalam diriku. Aku tidak mau memikirkannya terlalu berat. Karena setiap aku memikirkan alasannya, muncul perasaan aneh dalam hatiku dan aku merasa takut untuk terus merasakan perasaan aneh itu. Karenanya, aku mencoba untuk mengabaikannya saja.

Sampai suatu saat, aku melihatnya datang ke apartment­ku dengan wajah menunduk dan kedua ibu jarinya yang bergerak-gerak gelisah. Ketika kuminta ia masuk seperti biasanya saat ia berkunjung, ia menolak. Ia hanya berdiri di depan pintu dan aku menunggunya.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau hanya—“

“Aku mencintaimu, Park Chanyeol!”

DEGH!

Aku sangat terkejut mendengar pengakuannya. Dan aku tak bisa berkata apa-apa untuk meresponnya.

“Cinta?” Aku mendengus sebal hanya dengan mendengar satu kata itu. Bagiku di dunia ini cinta itu tidak benar-benar ada. “Apa kau sedang bercanda, eoh?” tanyaku pada akhirnya. Namun aku merasa menyesal karena kalimat itu yang muncul dari bibirku. Aku melihat wajahnya nampak kecewa.

“Aku serius. Aku menyukaimu, mencintaimu selama ini. Aku berpikir untuk memendamnya karena selama ini pun kau tidak mengatakan apapun. Jadi saat ini aku memberanikan diriku untuk menanyakannya padamu. Apa yang kau pikirkan tentangku? Apa kau juga merasakan perasaan yang sama?”

Huh? Dia benar-benar serius menyukaiku?! Oh God, apa yang harus aku katakan?

“Jadi, selama ini kau salah mengartikan semua kebaikanku ya?” Tunggu, apa yang baru saja aku katakan?! Kenapa mulutku seenaknya sendiri!!

“Salah mengartikan? Apa itu maksudnya selama ini kau tidak memiliki perasaan apapun padaku? Aku hanya sekadar mainanmu—sekadar ‘anjing peliharaan’-mu yang harus menurut setiap perintah dan melakukan permintaanmu???”

Oh , tidak, ia hampir menangis! “Tidak, maksudku—“

“Ternyata benar. Kau sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku. Dugaanku benar.”

Ya Tuhan, kulihat gadis di hadapanku ini menangis. Ia menundukkan kepalanya dalam, menghalangi kedua mataku untuk melihat wajahnya. Aku mendekatinya,  berusaha ingin memeluknya erat separti yang biasa aku lakukan di depan teman-teman. Tapi yang kulakukan kali ini bukan karena ingin bersandiwara. Ini benar-benar kemauan hatiku.

“Tolong jangan seperti ini, Vin.” Kataku meminta sambil mendekapnya erat. Kudengar tangisnya yang terisak. Bagaimana ini? Ini pertama kalinya aku melihat seseorang mengaku padaku dengan perasaan yang begitu tulus. Tapi aku tidak menyangka kalau ia akan jatuh cinta kepadaku mengingat semua kejahilanku padanya selama ini.

Aku pikir ia akan membenciku karena aku selalu iseng mencuri ciumannya, memeluknya, mencubit pipinya, berbisik mesra di telinganya, bahkan aku pernah memaksanya menginap di apartment­­ku karena aku sakit flu dan membuatnya kepayahan harus merawatku semalaman. Kalau ia tidak lupa pun, aku selalu menganggapnya seperti ‘anjing peliharaan’ yang selalu aku perintah ini-itu dan membuatnya repot. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta padaku yang seperti itu?

Kurasakan ia mendorong tubuhku menjauh dan melepaskan pelukan kami. Wajahnya memerah, basah karena air mata dan matanya begitu sembab. Melihatnya membuatku ingin menghapus air mata itu dengan kedua tanganku. Namun saat kedua mata kami bertemu, aku merasa tatapan yang begitu berbeda untuk pertama kalinya. Ia menatapku dengan pandangan yang sangat kesakitan. Dan juga… benci. Tiba-tiba hatiku merasakan nyeri luar biasa karenanya.

“Lebih baik kita hentikan saja semua sandiwara ini. Aku tidak bisa melihatmu lagi. Terima kasih atas segalanya, Park Chanyeol-ssi. Aku akan jujur pada teman-temanku tentang kesepakatan kita. Mungkin itu lebih baik.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia berlari pergi meninggalkanku. Dan kakiku terasa begitu kaku walaupun ingin rasanya aku mengejarnya. Aku hanya menjadi pengecut dan diam melihatnya pergi menjauh dariku.

***

Beberapa hari telah berlalu. Dan selama itu pula, aku merasakan kekosongan dalam hari-hariku. Biasanya, setiap hari, rutinitasku adalah datang ke kelasnya dan menemuinya di pagi hari. Saat jam makan siang aku juga datang dan mengajaknya makan bekal makanan yang ia buat di atap sekolah. Kemudian saat pulang sekolah pun, aku selalu mengantarnya pulang atau kami akan pergi kemanapun yang kami inginkan untuk membuang waktu. Bersamanya aku merasa lengkap. Namun sekarang, untuk sekadar melihatnya saja aku begitu kesulitan.

Ervina jarang sekali tertangkap oleh jangkauan kedua mataku. Entah bagaimana, tapi aku merasa ia sengaja menghindariku. Hingga pada akhirnya, dua bulan telah berlalu. Aku melihatnya duduk di bawah pohon maple yang daunnya mulai berguguran dan terbang terbawa angin musim gugur.

Aku tersenyum melihat senyumannya yang sudah lama sekali tak bisa kulihat. Namun senyumku langsung memudar begitu kulihat ia duduk bersandar di bahu seorang pria. Dan ketika kulihat lebih jelas, aku mengenalnya. Dia adalah Oh Sehun dari kelas tahun ketiga sepertiku. Dan parahnya, Sehun adalah saudara sepupuku. Aku merasa sesuatu seperti perasaan panas mulai membakar diriku. Aku membenci melihatnya bersama pria lain selain diriku. Dan aku terlambat memutuskan untuk mengakui bahwa aku juga mencintainya.

***

Tiga tahun telah berlalu setelah hari dimana aku menyakitinya dan membuatnya menangis. Aku telah lulus dan menjadi mahasiswa terbaik dalam penerimaan mahasiswa baru di Universitas Seoul tahun lalu. Aku mengambil konsetrasi pada Ekonomi Bisnis karena aku diharapkan akan menggantikan ayahku sebagai presdir di perusahaannya yang sukses. Aku berusaha fokus pada kuliahku karena beban yang akan aku pikul nantinya sebagai pewaris tunggal begitu berat. Dan ayahku sangat mengharapkanku untuk itu.

Karena kesibukanku kuliah, informasi yang dapat kudapat tentangnya semakin minim. Terakhir yang aku tahu—sebelum aku lulus, Ervina dan Sehun memang menjalin suatu hubungan khusus meski Ervina sendiri belum memberikan kata ‘setuju’ pada Sehun. Jadi sudah jelas, kalau Sehun lah yang berusaha mendapatkan gadis itu. Mendengarnya, entah kenapa membuatku sedikit lega. Aku masih bisa berpikir positif bahwa mungkin saja Ervina masih mencintaiku. Namun aku masih saja penasaran bagaimana mereka bisa saling mengenal dan mengapa takdir begitu mempersulit kami? Mengapa harus Sehun?

Hubunganku dengan Sehun memang tidak begitu akrab. Itu karena ia adalah sepupu dari garis keturunan ibuku. Dan sejak ayahku dan ibuku bercerai, ayah memilih untuk memutuskan hubungan dengan siapapun dari keluarga ibu.

Walaupun begitu, hal yang mudah bagiku untuk mencari tahu tentang Sehun dan aku mendapatkan informasi bahwa Sehun dan Ervina kuliah di tempat yang sama—di Universitas Sunkyungkwan. Mereka sama-sama mengambil jurusan seni dan film.

Aku yakin, hubungan mereka akan semakin akrab karena itu. Mungkin saja mereka sudah berkencan sejak lama. Ervina bisa menjadikan Sehun sebagai pelipur laranya. Dan Sehun akan dengan senang hati melakukannya.

Mendapat informasi seperti itu aku berpikir aku telah kalah dan aku sangat menyesal dengan sikapku dulu. Aku tahu, aku kurang menghargai gadis itu. Kurang menyayanginya. Dan parahnya, aku tidak menjaganya seperti apa yang sudah seharusnya aku jaga. Ibarat sebuah kisah, aku pun memutuskan untuk melupakan Ervina demi kesehatan hatiku. Rasanya sakit karena aku membiarkannya pergi dulu. Aku mulai menutup buku tentang kami.

***

Sekarang adalah tahun 2013. Aku sudah menjadi presiden direktur perusahaan ayahku dengan segudang perkerjaan yang menjadi tanggungjawabku.

Pada awalnya aku merasa kepayahan. Namun semua orang di sini sangat baik dan membantuku. Perlahan, kepribadianku yang terlalu santai dan cenderung angkuh mulai terkikis. Aku harus lebih serius karena yang aku kerjakan juga menyangkut nasib perusahaan dan para pekerja. Orang-orang kemudian mengenalku sebagai pemimpin yang bertangan dingin dan mudah bergaul dengan siapapun. Pekerjaanku selalu sukses dan lancar. Bahkan ayahku tak pernah tak memujiku. Namun dengan segala kesuksesanku itu, aku tetap tak bisa merasa bahagia. Karena sumber kebahagiaanku adalah dirinya yang dengan bodohnya aku biarkan pergi begitu saja. Dan penyesalanku semakin besar ketika aku mendapat sebuah undangan pernikahan dari Sehun. Ervina lebih memilih sepupuku dibanding seorang pengecut seperti aku.

***

Ini menjadi kali pertama aku dan ayahku kembali membuka hati pada keluarga dari garis keturunan keluarga ibuku. Bagaimana pun Sehun adalah sepupuku dan aku tidak punya pilihan selain datang memenuhi undangannya. Aku harus menunjukan etikat baik meski hatiku terkoyak melihatnya bersanding dengan gadis yang dulu dan sekarang masih begitu aku cintai.

Setelah sekian lama aku tidak bisa melihatnya, akhirnya aku berdiri di hadapannya lagi dan melihat ekspresi terkejutnya yang masih sama seperti dulu, saat aku memintanya untuk berputar dan menggonggong seperti anjing.

“Hai. Kalau kau terkejut kenapa aku bisa ada di sini, itu karena Sehun adalah sepupuku.” Kataku sambil tersenyum, meskipun dalam hati aku menangis.

Kulihat ekspresi wajahnya melembut setelah ia memandang Sehun yang sedang balas memandangnya dan memberikan sebuah anggukan. Aku pikir, Sehun mengetahui tentang apa yang dulu pernah terjadi di antara kami. Dan Sehun benar-benar menjalankan perannya dengan baik untuk menggantikan posisiku di hati Ervina hingga saat ini.

Aku masih mempertahankan senyumanku. Ervina memandangku sekali lagi dan tersenyum cerah. Jantungku berdegup kencang hanya karena melihat senyuman itu. Ervina menjadi begitu cantik dengan gaun pengantin putih yang begitu pas di tubuh mungilnya.

“Lama tidak bertemu, Park Chanyeol-ssi.” Sapanya. Aku tidak mendengar nada canggung atau apapun dari suaranya. Aku mengambil kesimpulan, ia benar-benar sudah melupakan cintanya padaku. Sehun benar-benar hebat.

“Ya, sudah lama.” Kataku sambil menyodorkan tanganku untuk menyalaminya. Ia balas menyalamiku dan tersenyum lagi. “Selamat untuk pernikahan kalian berdua. Semoga kalian bahagia.”

“Terima kasih, Chan. Lain kali, lebih sering lah menemuiku. Kita masih tetap bersaudara, bukan?” Aku melepaskan jabatan tanganku dari tangan Ervina dan beralih menatap Sehun yang sedang menepuk pundakku akrab.

“Baiklah. Kapan-kapan jika aku ada waktu luang, aku akan segera menghubungimu.” Kataku padanya.

“Oh, ayolah, apa tidak bosan bergumul dengan setumpuk pekerjaan yang melelahkan? Kau masih muda. Masih wajar jika kau bersenang-senang sedikit.” Aku hanya tertawa kecil mendengar kata-kata Sehun. Aku iri dengan kepribadiannya yang menyenangkan. Pria di hadapanku ini begitu bahagia karena bisa mendapatkan gadis yang dicintainya.

“Aku sudah berubah, Hun. Aku bukanlah sosok yang suka bermain-main seperti dulu. Aku tidak ingin kehilangan lagi seperti dulu. Sekarang ini, hanya pekerjaanku yang begitu berharga.” Aku memandang Ervina dengan tatapan dalam setelah mengucapkan kalimat yang membuat alis Sehun berkerut bingung. Sehun tidak mengetahui maksud khusus dari perkataanku, namun hanya dengan melihat ke dalam mata Ervina, aku tahu gadis itu mengerti. Wajahnya berubah menjadi sedikit kaku dan matanya sedikit berair. Aku hanya tersenyum lembut ke arahnya.

“Ah, sudah, sudah. Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi jangan menularkan virus kesedihan di hari pernikahanku, dong.” Sehun tertawa lebar sambil menepuk-nepuk bahuku lagi. Aku ikut tertawa konyol sepertinya.

“Baiklah, Oh Sehun yang tampan. Aku akan menuruti permintaanmu. Tapi bisakah kau meminjamkan istrimu sebentar saja kepadaku? Bagaimana pun, kau tahu kan, dulu aku dan dia pernah berpacaran dan ada sesuatu yang ingin aku katakan sebagai doa restuku untuknya.” Kataku sambil tersenyum lebar, berusaha menciptakan suasana yang tidak mencurigakan bagi Sehun.

“Ah, benar. Hubungan kalian dulu selalu jadi bahan perbincangan teman-teman. Baiklah, silakan. Aku pinjamkan istriku, asal kau tidak membawanya kabur. Aku akan mengambil minuman dulu. Tenggorokanku haus sekali, nih.” Sehun pergi meninggalkanku berdua dengan Ervina. Kulihat wajah Ervina yang memerah dan menunduk. Gadis ini sedang menangis. Ia berdiri canggung di hadapanku membuatku merasa bersalah karena membuat Sehun meninggalkannya. Namun ada hal terakhir yang ingin aku lakukan padanya.

“Tutupi wajahmu dengan cadarmu. Tidak baik pengantin wanita terlihat menangis di hari pernikahan.” Pintaku setengah memerintah dan ia menurut. Setelah cadar pengantin yang berwarna putih itu menutupi wajahnya, aku segera menggenggam tangannya dan menariknya ke suatu tempat yang sepi. Aku berharap tidak akan ada orang yang datang kemari.

“Park Chanyeol-ssi, lepaskan tanganku.” Pintanya sambil berusaha melepaskan genggamanku. Setelah memastikan keadaan sekitar aman, aku langsung memojokkannya ke dinding dan kedua tanganku memenjaranya di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Kulihat wajahnya panik dan ia hampir saja berteriak jika aku tak segera menempelkan dahiku dengan miliknya. Ia terkejut, namun memilih diam. Aku pun diam dan memandang kedua matanya dengan intens.

“Gadis bodoh. Kau tenang saja, aku tidak akan membawamu kabur dari Sehun. Jadi diamlah dan biarkan saja kita seperti ini untuk sesaat. Mengerti?”

Ervina mengangguk dan berusaha mengalihkan tatapannya dari kedua manik mataku.

“Kenapa kau melakukan ini? Kita sudah lama tak memiliki hubungan apapun.” Katanya dengan suara lemah.

“Lalu, jika kita tak memiliki hubungan apapun, kenapa kau begitu keras menghindari tatapanku saat ini, hm?” jawabku cepat, yang lebih seperti balasan untuk pertanyaannya. Ia terdiam dan menangis. “Mengapa kau menangis di hari bahagiamu? Jika kau sudah tak mencintaiku, kau tidak akan terpengaruh dengan kata-kataku. Kau terlalu memaksakan diri sejak masih berdiri di samping Sehun tadi.”

“A-a-aku tidak—“

“Jangan mengelak.” Dengan sengaja aku membelai wajahnya dari balik cadar. Ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil menahan tangis dengan menggigit bibir bawahnya. Aku terkejut dengan kesimpulan yang aku dapat. Rasa bahagia menyelami hatiku. Rasanya begitu menyenangkan dan melegakan. “Kau masih mencintaiku, Vin.”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan seperti itu lagi. Dan bisakah kau tidak asal menyimpulkannya? Kau seharusnya bertanya lebih dulu—“

“Apa kau masih mencintaiku?” serangku tanpa menunda waktu. Ia terkejut. Matanya yang terpejam kembali terbuka lebar. “Kau masih mencintaiku, bukan?” tanyaku lagi.

Sungguh, aku tak bisa menahan gejolak dan hasrat yang ada dalam diriku ini. Hanya dengan melihat pancaran sinar matanya dan ekspresi wajahnya yang memerah menahan malu saja, aku yakin Ervina masih begitu mencintaiku.

Melihatnya diam, aku mulai mengikis jarak kami. Dengan satu tanganku yang masih membelai pipinya yang basah, aku mendekatkan bibirku ke pipinya. Aku mengecupnya lembut di sana. Dan Ervina tidak menolak ciumanku. Aku menarik diriku untuk melihat bagaimana wajahnya. Alisnya berkerut menuntut penjelasan.

“Apa kau masih ingin bermain-main dan bersandiwara denganku seperti dulu?”

“Tidak. Kali ini aku serius.”

“Pembohong!”

“Aku mencintaimu, Ervina Kim.”

“Aku membencimu.”

“Terserah. Tapi aku akan selalu mencintaimu.”

“Apa kau gila? Aku ini adalah istri—“

Aku memotong kalimatnya dengan menempelkan jari telunjukku di bibirnya. “Ssst..” suaraku berbisik. Ia diam dan menunggu. Aku membuka cadarnya hingga wajahnya kembali terlihat dengan jelas oleh kedua netraku.

Tanganku yang semula berada di pipinya, membelai turun hingga hanya ibu jariku yang mengusap bibir pink­-nya yang kembali ia gigit. “Jangan digigit. Nanti kau bisa terluka.” bisikku sambil memejamkan kedua mataku dan mendekat lagi ke arahnya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya lirih. Ya Tuhan, udara di sekitar kami menjadi sangat panas karenanya. Namun aku sudah tak bisa menahan rasa rinduku ini. Aku ingin sekali menyentuhnya, bahkan hanya dengan merasakan kecupan bibirnya yang kini telah menjadi hak Sehun untuk mencumbunya.

“Hmmph!” Aku menciumnya. Seluruh tubuhku bagaikan tersengat listrik begitu merasakan kelembutan bibirnya. Aku menahan pinggang dan tengkuk lehernya agar berkompromi dengan aktifitas kami.

Semula aku hanya menempelkan bibir kami. Namun rindu itu begitu besar dan ketika tersalurkan menjadi seperti api yang membakar tubuhku. Sehingga aku tak tahan untuk melumat dan menghisap bibirnya yang semanis cherry. Tak lama kemudian, kami saling melepaskan pagutan kami dan hanya saling memandang dalam diam.

“Percayalah padaku, Vin. Aku sangat mencintaimu. Aku akan menunggumu datang padaku. Sampai kapanpun itu.” Aku menggenggam kedua tangannya erat dan mengecup dahinya pelan. Lalu aku mengantarkannya kembali ke dalam gedung pernikahan dan aku segera pergi meninggalkan acara itu.

Kenangan yang begitu terpatri di wajahku adalah ketika ia melambaikan tangannya padaku dan ia tersenyum begitu cantik untukku.

Namun, setelah itu, ia tak pernah datang padaku. Aku tak pernah bisa melacak informasi tentangnya. Dan aku pikir, Sehun benar-benar membuatnya tak bisa lagi berpaling kepadaku.

***

Spring, 2015.

Dan di sinilah aku. Berdiri di depan sebuah butik pakaian wanita di salah satu komplek pertokoan distrik Apgeujong. Aku merasakan dejavu seperti 8 tahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Ervina. Perbedaannya adalah tanpa sengaja kedua mataku menangkap sosoknya yang sedang memilih sebuah mini dress di dalam butik itu sekarang—bukan mengejarnya seperti yang aku lakukan dulu.

Untuk beberapa saat aku hanya bisa mematung. Aku memandangnya dalam diam sambil memikirkan pusaran takdir macam apa ini? Jika memang aku tak berjodoh dengannya, seharusnya Tuhan tak mempertemukan kami kembali.

Aku menunduk, memikirkan apakah aku harus masuk dan menyapanya atau hanya memandangnya dalam keheningan lalu pergi setelah puas memandangi wajahnya yang mejadi candu rinduku selama dua tahun ini sejak pesta pernikahan itu. Tapi jika mengingat Sehun, hatiku menjadi ragu.

“Cha-Chanyeol…”

DEGH!

Aku bersumpah bahwa aku tidak bisa melakukan hal lain selain hanya bisa terkejut mengetahui sosoknya telah berdiri cantik di hadapanku dalam jarak satu meter saja. Tubuh mungil dan kulit seputih keramik, sepasang mata yang besar dan indah, hidung mancung dan bibir tipis berwarna pink. Secara fisik tak banyak yang berubah dari Ervina. Namun kali ini, pesona wanita dewasa telah melengkapi kesan dalam dirinya.

“H-h-hai…” sapaku singkat dan sedikit terbata. Aku tahu mataku mulai berkaca-kaca menahan tangis karena begitu bahagia dan haru bisa kembali bertemu dengannya. Dalam jarak satu meter ini pun, aku dapat melihat ekspresi yang sama menghiasi wajahnya. Tanpa sadar kami saling melangkah dan mendekat, hingga jarak kami hanya sejengkal saja.

Kedua mata kami saling bertemu dan ia mengangkat tangannya untuk membelai kedua pipiku. Aku tersenyum dan pada saat bersamaan tangisnya pecah. Melihat air matanya yang menetes, aku pun tak dapat menahan linangan air mata ikut membasahi pipiku. Namun sebagai seorang pria dewasa, aku berusaha untuk tak terisak sepertinya.

“Lama tidak bertemu, Vin. Apa kau baik-baik saja selama ini?” Akhirnya aku bisa membuka suara setelah terdiam menikmati sentuhannya di pipiku. Tanpa kuduga, ia langsung menghambur dalam pelukanku dan memelukku erat. Aku pun balas memeluknya dan menghirup banyak-banyak harum tubuhnya dari ceruk lehernya. Kuusap rambutnya yang kini panjang hingga ke pinggang dengan sayang.

“Apa yang kau lakukan di sini sendirian? Apa kau tidak takut jika ada seseorang yang mengambil fotomu lagi seperti dulu?”  tanyanya setengah terisak. Aku tersenyum lebar mendengarnya.

“Aku tidak takut lagi. Karena orang itu telah aku tangkap dan aku dekap dalam pelukanku sekarang.” jawabku dengan nada setengah bercanda. Aku tahu ia tersenyum dalam pelukanku. Namun senyumku memudar begitu mengingat wanita dalam pelukanku ini masih menjadi milik Sehun. “Apa kabar dengan Sehun?” tanyaku pada akhirnya.

“Aku tidak tahu. Kami resmi bercerai bulan lalu.” Sontak aku melepaskan pelukan kami dan menahan kedua bahunya erat. Aku begitu terkejut karena memandang wajahnya yang menunjukkan bahwa ia serius dengan perkataannya.

“Baiklah. Kau harus menceritakan semua yang telah terjadi padaku. Ayo kita cari tempat yang lebih hangat.” Putusku sambil menariknya mengikuti langkah lebar kakiku.

***

Untuk kedua kalinya, aku dan Ervina berada di sini—kafe kopi yang dulu pernah kami datangi di hari pertama pertemuan kami.

Tak banyak yang berubah dari kafe ini. Desain interiornya hanya berubah sedikit dan sekarang ada beberapa tanaman hias yang menambah kesan segar di sekitarnya.

Ervina duduk di seberangku, hanya dibatasi oleh sebuah meja yang di atasnya terdapat kopi pesanan kami. Gadis itu masih memilih diam sambil memainkan kedua ujung ibu jarinya. Kebiasaan lamanya masih belum berubah ternyata.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku memecah kesunyian. Ia menggeleng pelan.

“Tidak ada. Bagaimana denganmu? Apa yang dari tadi sedang kau pikirkan?” tanyanya balik. Aku mengernyit bingung. Sejurus kemudian aku tertawa renyah menanggapi pertanyaannya yang terdengar aneh bagiku.

“Aku diam karena aku menunggumu membuka suara, Bodoh.” Jawabku dengan nada bercanda. Ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Aku mengamati tawanya yang terlihat menyedihkan untukku. Bagaimanapun, aku bersimpati padanya. Ia masih muda namun sudah bercerai dengan suaminya. Sebenarnya apa yang terjadi selama dua tahun terakhir?

“Sehun menceraikanku karena aku tidak memberikan sesuatu yang seharusnya menjadi haknya.” Katanya tiba-tiba. Aku diam dan hanya mendengarkan. “Sesuatu itu adalah kewajibanku sebagai seorang istri untuk melayaninya.” Aku terkejut.

“Apa??”

“Setelah pernikahan kami, hatiku menjadi goyah untuk mencintainya dan aku hanya bisa memikirkanmu setiap saat. Namun aku tak bisa meninggalkannya begitu saja jika aku mengingat setiap kebaikannya selama ini sejak aku dan kau berpisah, Chanyeol.

“Setiap kali Sehun menyentuhku, aku selalu menolak dan menghindar. Bahkan aku berpisah kamar tidur dengannya. Selama satu tahun Sehun terus memaksakan diri untuk mengambil hatiku. Aku yakin ia tahu pada siapa hatiku memilih. Dan aku tahu ia merasa kecewa karena aku lebih memilihmu. Namun ia begitu gigih mempertahankan ragaku untuk terus berada di sampingnya. Meskipun ia sadar, hatiku tidak bersamanya.”

“Lalu?” tanyaku yang masih menuntut penjelasan lebih. Kulihat ia menghela nafas.

“Selama satu tahun hal itu terus berlanjut dan aku selalu menolaknya. Kemudian, satu tahun berikutnya aku tahu Sehun telah menyerah karena ia selalu pulang larut malam dalam keadaan mabuk bersama seorang wanita bernama Irene.”

“Apa? Irene kembali?” tanyaku yang semakin terkejut dengan kelanjutan cerita Ervina.

“Kau pasti mengenal wanita itu juga.” Aku mengangguk mengiyakan. Irene adalah…

“Setelah aku mencari tahu, aku tahu Irene adalah cinta pertama Sehun dan hubungan mereka putus karena Irene pergi ke Inggris untuk melanjutkan sekolah di sana. Dan aku rasa, setelah Irene kembali, perasaan yang telah lama terkubur itu kembali lagi di antara mereka dan aku tahu Irene tulus mencintai Sehun. Aku yakin wanita itu dapat membahagiakan Sehun, tidak seperti aku.”

“Ya. Irene adalah anak dari kolega bisnis ayahku dan ayah Sehun. Mereka berdua sudah saling menyayangi sejak kecil. Dan ketika di junior high school, mereka memutuskan untuk pacaran.” Aku menghela napas setelahnya. “Apa kau merasa tersakiti? Bagaimanapun, Sehun berani mengkhianatimu meskipun itu dengan Irene.”

“Bukan aku yang tersakiti, namun Sehun. Itu semua karena aku yang lebih dulu mengkhianatinya, bukan?” Ervina memandangku. Seluruh hatiku tak dapat mengelaknya. Timbul perasaan menyesal di hatiku ketika aku mengingat Sehun lagi.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyaku langsung. Aku pikir cerita tentang Sehun sudah cukup bagiku. Yang ingin aku tahu adalah apa rencananya setelah ini.

“Sudah selama tiga bulan ini aku membuka sebuah toko bunga di dekat tempat tinggalku. Bagaimanapun, aku bukan wanita karir sukses yang bisa mendapatkan banyak uang untuk mencukupi kebutuhanku. Karena itu, aku mencoba berbisnis dengan membuka toko bunga. Dan itu cukup bagiku.”

“Toko bunga? Sejak kapan kau menyukai bunga? Ervina Kim yang aku kenal dulu bahkan sangat jauh dengan hal-hal yang berbau feminime.” Komentarku sambil tertawa kecil. Ia hanya tersenyum malu mendengarnya.

“Aku banyak berubah… sejak kita berpisah. Aku berusaha mengubah kepribadianku menjadi lebih baik. Aku berpikir dengan menjadi perempuan feminime, mungkin kau akan jatuh hati padaku.”

DEGH!

Aku terkejut mendengar penuturannya. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada cinta yang setulus ini untukku. Aku yang sebelumnya tidak percaya dengan cinta karena perpisahan kedua orangtuaku, kini benar-benar kalah dengan cintanya yang begitu besar untukku. Seharusnya dulu aku tidak pernah membiarkannya pergi dan melepaskan tanganku…

“Bodoh..” gumamku, lebih kepada diriku sendiri. Aku menunduk dalam. Hampir menangis, karena merasa haru.

“Aku? Ya, aku memang bodoh karena membiarkan diriku mencintaimu seperti itu. Bahkan sampai saat ini.” Kudengar ia membalas perkataanku. Aku tersenyum miris dan meraih kedua tangannya yang bergerak gusar di atas meja. Aku menggenggamnya lembut, membuatnya terkesiap dan memandangku penuh pertanyaan.

“Bukan kau yang bodoh. Tapi aku. Aku mengatakannya untuk diriku sendiri. Aku sangat menyesal atas kebodohanku waktu dulu membiarkanmu pergi begitu saja. Aku terlambat menyadari perasaanku padamu. Aku terlena dengan kebersamaan kita dan hanya menganggapmu seperti sebuah mainan. Aku menganggapmu seperti ‘anjing peliharaan’ yang takkan mungkin meninggalkan tuannya. Maafkan aku..”

Air mata menetes mengaliri pipiku. Aku tak akan menahannya lagi. Biarkan saja Ervina melihat sisi lemahku ini. Kulihat ia hanya diam sambil memandangku intens.

“Kedua orangtuaku bercerai. Ibu pergi dengan lelaki lain. Mereka menikah karena perjodohan demi kepentingan bisnis kedua perusahaan. Mereka menikah tanpa cinta. Bahkan setelah mereka memiliki aku. Aku masih sangat kecil waktu itu—saat aku melihat perpisahan mereka. Sejak saat itu aku berpikir bahwa setiap hubungan tak perlu dilandasi oleh cinta. Aku berhenti mempercayai makna cinta. Aku menutup mata dan hatiku pada perasaanmu yang tulus. Maafkan aku…”

Aku menundukkan kepalaku dalam dan menahan tangisanku agar tak sedikitpun menimbulkan suara. Seiring dengan tangisanku, aku menggenggam kedua tangannya dengan erat.

“Kalau begitu.. jadilah pacarku dan peluk aku sekarang!” Aku mendongak setelah mendengar kalimatnya. Aku menatapnya terkejut dan ia hanya tersenyum. “Jadilah kekasihku, Park Chanyeol. Kali ini menjadi kekasih yang sebenarnya. Kalau perlu, menikahlah denganku.”

Mendengar satu kalimat terakhirnya, reflek menuntunku untuk bangkit dan manghampirinya. Aku langsung menariknya ke dalam pelukanku. Kudekap erat seolah takut ia akan pergi meninggalkanku lagi seperti dulu.

“Apa kau benar-benar bodoh? Melamar adalah bagianku untuk mengatakannya!” kataku sambil memeluknya erat.

Aku merasakan kedua tangan lembutnya mulai membalas pelukanku dan menenggelamkan kepalanya di atas dadaku. Aku tersenyum dan terus mendekapnya ketika orang-orang di sekitar kami telah menjadikan kami sebagai tontonan gratis, bertepuk tangan riuh dan bersiul-siul menggoda kami. Aku tak peduli.

Ervina Kim bukanlah lagi ‘anjing peliharaanku’, melainkan ‘kekasih’ yang harus selalu aku genggam tangannya dan aku hargai keberadaannya. Ia adalah bentuk dari cinta itu sendiri dan mampu membuatku percaya bahwa cinta itu ada.

The End

5 responses to “[FREELANCE] Black Prince Fall in Love (Oneshot)

  1. Woah cinta mereka ngk pernah padam padahal udah lama banget ngk ketemu + Ervina nikah sama Sehun

  2. woahhhh so sweet bgt :”v btw yg canyol.cuman nganggep si ervin “pet” nya doang itu sungguh jahat chan :”v sungguh kamu jahat :”v

  3. Oh my god! Kisah cinta Chanyeol-Ervina bener-bener deh. Aku pikir Ervina bakalan cinta sama Sehun setelah menikah tapi ternyata true love-nya Park Chanyeol. Ya udah deh, berhubung Chanyeol-Ervina udah balikan, cepet-cepet nikah ya, longlast deh pokoknya 😄 Sequel dong 😄

    This is a nice story. Kepp writing ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s