[FREELANCE] Estar En Declive

THE REAL POSTER

“Estar En Declive.”

by hazelnuttella.

*

Starring: Jung Soojung & Kim Jongin. | Length: Chaptered. | Genre: AU, Romance, Sad. | Rating: General.

*

Story purely mine. Cover, by me. Please, enjoy! And sorry for typo(s).

*

[ 1 ]

*

Summary:

Jung Soojung seharusnya tahu bahwa, malam itu—di mana mereka kali pertama bertatapan muka—lelaki itu—Kim Jongin—begitu berbahaya.

*

Pukul sepuluh lewat enam belas menit baru saja lewat dan Jung Soojung masih berkutat dengan sebuah sepertiga Espresso serta dua per tiga Creamer. Sekitar lima menit berkutat dengan alat-alat pembuat Cappuccino, si gadis berambut cokelat gelap itu lantas menyerahkan Cappuccino yang telah jadi tersebut pada pelanggan.

“Pesanan Anda, Nona.” Jung Soojung tersenyum dan menerima beberapa lembar uang dari pelanggan tersebut.

Pelanggan di malam hari memang tidak seramai diwaktu pagi atau siang hari, jadi, pekerjaan Soojung tidak terlalu berat. Tapi raut kelelahan begitu kentara pada wajah gadis Jung tersebut. Sebelum beranjak untuk membersihkan meja-meja kotor, dia menyempatkan diri melirik jam dinding. Tiga puluh menit lagi, café akan tutup dan tandanya dia bisa pulang dan beristirahat.

Soojung membersihkan sisa gelas plastik kosong dengan memasukkan gelas-gelas itu pada plastik sampah di tangannya. Dan sebelum dapat berpindah ke meja lain, lelaki di meja seberang mengangkat tangannya sebagai instruksi jika si lelaki butuh bantuan.

Soojung segera meninggalkan pekerjaan bersih-bersihnya dan berjalan mendekat menuju meja lelaki tersebut.

“Ada yang—“

“Belikan aku rokok.” Lelaki asing tersebut tanpa sopan santun memotong perkataan Soojung dan yang lebih parahnya lagi, lelaki itu melempar beberapa lembar uang di atas meja.

Sontak, kedua alis gadis itu terangkat bingung sekaligus heran. Dilihatnya lelaki itu dengan santai memainkan ponselnya. Tatapan mata Soojung menggelap dan dingin. Ekspresi wajahnya tidak bisa dibaca dengan jelas. Sedetik kemudian, raut wajahnya menjadi lebih tenang walau campur aduk dengan ekspresi menahan emosi.

“Apa kau tidak bisa berjalan? Kau lumpuh?” Suaranya terdengar tenang dan menghanyutkan—dan Soojung diam-diam bersyukur akan hal itu.

Soojung meyakinkan jika tindakkannya ini adalah sebuah tindakkan yang benar. Di dalam prosedur kerjanya di café ini, Soojung tidak pernah membaca jika dia harus membelikan pelanggan hal-hal di luar kegiatan café. Walau Jung Soojung begitu tahu jika; pelanggan adalah raja.

Lelaki ini terlampaui sombong hingga melupakan tata krama dan sopan-santun.

*

“Apa kau tidak bisa berjalan? Kau lumpuh?” Mendengar suara datar pelayan café yang Jongin singgahi beberapa menit lalu, membuat atensinya teralihkan dari layar ponsel dan memusatkannya kepada gadis yang menatapnya dengan tajam.

Kim Jongin sempat terpaku pada tatapan kedua manik hazel milik si gadis yang menatap maniknya dengan tatapan; menantang, dingin, tajam sekaligus kosong? Entahlah, Jongin tidak yakin. Belum ada gadis yang pernah menatapnya seperti itu, sebelumnya.

“Setidaknya kulihat, kakimu baik-baik saja dan utuh, Tuan.” Nada bicara gadis itu seolah berusaha menyindirnya.

Jongin melihat gadis tersebut melirik uang yang tadi dia lempar.

“Aku tidak membuka jasa pembelian rokok atau apapun.” Suaranya terdengar tenang sekali. “Jadi, selama kakimu masih berfungsi dengan baik, belilah rokokmu sendiri. Aku bukan pesuruh atau pembantumu.”

Jongin menyeringai. Merasa takjub dengan gadis ini. Gadis tersebut cukup berani dalam kategori hanya-seorang-pelayan di sini. Dan ketika gadis itu ingin berbalik pergi untuk melanjutkan kegiatannya, Jongin menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi café dan berucap,

“Kau hanya seorang pelayan.”

*

Dan Jung Soojung sontak menghentikan langkahnya. Suara berat di belakangnya seolah menginstrupsi Soojung untuk berhenti melangkah dan berbalik. Lelaki itu tampak sombong, penilaian awal Soojung. Dan sepertinya tidak salah. Dia menatap Jung Soojung dengan tatapan merendahkan—yang rasanya tatapan itu menohok Soojung.

“Kau hanya seorang pelayan.” Kim Jongin mengulangi pernyataannya. Berusaha menyadarkan Soojung akan kodrat yang dia miliki di sini.

“Dan kau tahu tugas pelayan?” Dia melanjutkan dengan tenang.

Kedua maniknya menatap manik hitam Jongin dengan lekat serta tanpa sadar, kedua tangannya terkepal erat di sisi badan. Lelaki yang terlihat benar-benar sombong itu memainkan cangkir kopinya yang hanya tinggal sedikit. Tidak lama, Jongin membalas tatapan lekat Soojung. Dan Jung Soojung menyadari jika jauh di dalam tatapan si lelaki dengan manik hitamnya tersebut, sesuatu yang berbahaya tersirat di sana—membuat Soojung mengerjap pelan sesaat.

“Tugas seorang pelayan sepertimu, mestinya melayani pelanggan dengan baik dan benar.” Kim Jongin berbisik, namun, cukup untuk indera pendengar Soojung menangkap bisikan itu dengan jelas. “Dan coba lihat, kau bahkan tidak melaksanakan tugasmu dengan baik. Heran, kenapa atasanmu masih mempekerjakanmu di sini?”

Ini penghinaan. Soojung tahu jika dia hanyalah seorang pelayan di sini. Tapi lelaki sok di depannya ini tidak perlu menghinanya seperti itu. Apa perbuatannya salah? Lelaki ini tak punya sopan-santun barang sedikitpun.

Tanpa sadar, Soojung menyeringai—membuat Jongin yang tidak sengaja melihatnya terhenyak kembali. Sekelebat bayangan tentang gadis-gadis di luar sana yang terus memujanya muncul. Belum pernah Kim Jongin bertemu dengan gadis yang menatapnya seperti itu—seakan menantangnya—yang di mana banding terbalik dengan gadis-gadis yang menatapnya penuh minat.

“Kenapa orang seperti kau selalu merasa berkuasa? Kau tahu? Itu menjijikkan. Hanya karena kau seorang pelanggan di sini, bukan berarti kau bisa menyuruh orang-orang seenaknya.” Ya. Perkataan Soojung sudah di luar batas kewajaran. Tapi, ini demi menjunjung harga dirinya karena dihina seperti itu.

Gadis berambut cokelat itu lantas berbalik dan benar-benar menghilang dari pandangan Kim Jongin yang masih terpaku atas perkataan berani Soojung. Gadis itu cari mati, batinnya.

“Menjijikkan?” Jongin tersenyum hambar. “Biar kuperlihatkan arti kata menjijikan yang sebenarnya, kalau begitu.”

**

Coat lusuh berwarna hijau toska—tampak membalut tubuh Soojung yang mengenakkan t-shirt polos—saat dia keluar dari apartemen kecilnya. Udara pagi begitu dingin. Dengan diimbangi celana jeans panjang serta sneakers yang Soojung temukan di pasar loak minggu lalu, mengiringi langkahnya menuju universitas tempatnya selama dua tahun kuliah.

Jam baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi—yang di mana, sebenarnya kelas dimulai pukul delapan—Soojung sengaja berangkat lebih awal. Karena si gadis memilih berjalan kaki ketimbang menaiki kendaraan umum. Soojung tentu punya alasan tersendiri; kenapa dia memilih berjalan kaki? Lebih hemat–pikirnya.

Karena tinggal seorang diri, Soojung tentu memikirkan segala keperluan dan tanggungan yang perlu dia keluarkan tiap bulan. Dan sebisa mungkin dia harus berhemat mati-matian. Uang sewa apartemennya sudah membengkak sekitar lima bulan semenjak Ibunya meninggalkan Soojung. Dan maka dari itu juga, Jung Soojung bekerja paruh waktu hampir sepanjang hari.

**

Semuanya lancar, kecuali kemarin malam, pikir Soojung sambil menulis sekumpulan angka di jurnal pribadinya. Kelas Mrs. Song sudah selesai dan Soojung mendapatkan waktu istirahatnya—sebelum menghadiri kelas Mr. Kim.

Duduk di bangku taman universitas, sebenarnya bukanlah kebiasaan Soojung. Biasanya gadis itu akan langsung berlari ke perpustakaan ketika istirahat. Bagaimanapun juga, tahun ini Jung Soojung harus mendapatkan beasiswanya lagi, dan, jika tidak, gadis itu tidak berani membayangkannya.

Sesudah sibuk dengan jurnalnya, kesibukan Soojung terpusat pada Koran saat ini. Matanya sibuk mengelana pada tulisan-tulisan tersebut–berusaha menemukan sesuatu. Dia butuh pekerjaan tambahan, dan mungkin menjadi pengatar susu di pagi hari bukanlah masalah besar. Dia bisa bangun pukul lima pagi.

Berbeda dengan kesibukan seorang Jung Soojung yang begitu mendasar. Di salah satu meja kafetaria universitas, Kim Jongin baru saja menyelesaikan makan siangnya. Di sebelahnya, sang sahabat karib—Oh Sehun—tampak masih mengunyah kacang polongnya.

Nah, Jongin. Kenapa kau baru memutuskan pindah ke Korea, huh?” Sehun memulai pembicaraan lagi.

Jongin mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Aku hanya bosan saja berlama-lama di New York.” Jawabnya sambil menegak minumannya santai. Di sudut matanya, Kim Jongin jelas tahu jika gadis-gadis di kafetaria tengah menatapnya dengan pandangan terkagum-kagum. Kecuali gadis itu, pikirnya jengah. Tatapan gadis itu, sungguh, Jongin merasa direndahkan. Jongin tersenyum hambar ketika sadar jika dia memikirkan tatapan gadis itu dari kemarin malam.

Dia mengedarkan pandangan ke luar kafetaria yang kebetulan dindingnya terbuat dari kaca dan memudahkan akses pengelihatannya memandang ke luar–langsung berhadapan dengan taman universitas yang luas. Dan beberapa detik kemudian, tubuh Jongin tersentak kaget.

Gadis itu?

Kim Jongin tidak mau menyangkal jika dia baru saja menyeringai penuh kemenangan ketika sosok itu ditangkap oleh indera pengelihatannya di balik kaca kafetaria. Mereka ada di universitas yang sama? Itu benar-benar mengejutkan. Diam-diam Jongin menyimpan berbagai pertanyaan di benaknya. Seperti; gadis pelayan café seperti dia bisa berkuliah di universitas bergengsi seperti ini?

“Sehun.” Panggil Jongin tanpa mengalihkan pandangannya.

“Apa?”

“Kau kenal gadis itu?” Sontak saja, Oh Sehun mengatur fokusnya ke arah fokus Jongin terpaku. Lelaki itu tidak terlalu yakin jika Jongin baru saja menatap Jung Soojung yang kelihatan begitu sederhana duduk di bangku taman universitas mereka. Maka dari itu, Sehun berniat memastikan dengan menatap arah pandang Jongin sekali lagi. Dan Jongin memang menatap Jung Soojung dan memasukkan gadis itu ke dalam topik pembicaraan mereka.

“Tidak terlalu. Yang kutahu, Jung Soojung adalah mahasiswi yang berusaha mati-matian untuk mempertahankan beasiswanya dari tahun ke tahun. Kenapa? Kau kenal dia?” Sehun juga tidak yakin dengan jawabannya. Tapi begitulah mahasiswa di sini berbicara mengenai Jung Soojung. Lagipula, Sehun tidak dekat dengan gadis berwajah es itu.

Kim Jongin menggeleng. Lalu, menyandarkan punggungnya di punggung kursi kafetaria. Dia meraih ponselnya, memandang benda hitam pipih itu dengan pandangan kosong sebelum berusaha menghubungi seseorang di seberang sana.

Oh, namanya Jung Soojung?

Sebelum suara di seberang sana muncul, Jongin bisa mendengar Sehun bergumam samar-samar.

“Dia tidak pernah bersosialisasi, bahkan gadis itu tidak punya teman. Ck, kenapa ada gadis aneh seperti dia, ya?” Dan setelah itu, Oh Sehun kembali memakan kacang polong kesukaannya.

Jongin kembali memandang ke arah luar—memandang Jung Soojung—dengan ponsel yang berada di samping telinga kirinya.

“Oh, hallo, Victoria.”

“…”

“Kemarin aku mengunjungi cafému, omong-omong.”

*

Soojung tidak pernah begini sebelumnya. Apakah karena dia terlalu larut mengerjakan essai Mr. Kim, hingga lupa waktu bahwa seharusnya sekarang gadis itu sudah berada di café tempatnya bekerja paruh waktu. Soojung berlari sekuat tenaga, gerbang universitas sudah tampak dengan jelas di depan mata. Gadis berambut cokelat terkuncir it uterus berlari sekuat tenaga tanpa mempedulikan sekitar. Yang ada dalam benaknya adalah; dia harus cepat-cepat sampai di café.

Jung Soojung baru saja akan melewati gerbang universitas ketika sebuah mobil Jeep hampir saja menabrak tubuhnya ketika berlari, disusul dengan suara klakson yang memekakkan telinga, juga suara rem mobil yang mencekit. Dan menjadi lengkap ketika suara debuman tubuh Soojung terjatuh di depan mobil tersebut.

“Akh,” Gadis itu meringis kesakitan ketika tahu tanah baru saja memberikan luka lecet di siku dan sekitar lututnya hingga membuat jeansnya yang sudah lusuh sobek sedikit—di bagian lutut.

TIN!

Suara klakson mobil itu seolah menyadarkan Soojung untuk mendongak dan berusaha berdiri walau lututnya perih sekali. Entah siapa yang salah, Soojung atau si pengendara mobil. Dia tidak tahu, kejadiannya begitu cepat. Gadis itu sempat kesusahan berdiri, walau ahkirnya dia bisa berdiri dengan sedikit membungkuk—tidak tegap.

Dari balik kaca depan serta kemudi Jeep tersebut, manik Jung Soojung dengan jelas bisa melihat lelaki sok kemarin malam. Soojung terhenyak, belum sempat berpikir macam-macam, Soojung kembali dihenyakkan oleh tatapan si lelaki—yang rasanya begitu berbahaya.

Jeep itu mundur dan setelahnya melewati sisi tubuh Soojung yang masih terpaku di tempatnya. Dan sebelum benar-benar berlalu, Soojung melihat lelaki itu menyeringai.

“Dia…” Napas Soojung tercekat dan memandang sisa-sisa kepergian si lelaki sombong bersama Jeepnya.

Kenapa dia bisa ada di sini?

**

Soojung tiba dengan keadaan berantakkan di café. Luka yang Soojung dapatkan belum sempat dia obati. Setelah kejadian itu, dia memaksakan dirinya berlari dengan luka lecet di lutut yang begitu perih untuk sekedar digerakkan.

Ketika Jung Soojung akan mengganti bajunya dengan seragam kerja, Kim Minseok—manajernya—menepuk bahu Soojung pelan.

“Oh?”

“Jung Soojung.” Lelaki itu tampak kelihatan tidak enak ketika menyebutkan namanya. Soojung mengerutkan kening tanda tak mengerti. Kenapa lelaki ini menemuinya?

“Ya, Tuan Kim?”

Minseok tampak kelihatan ragu.

“Soojung, maafkan aku. Tapi mulai hari ini, kau tidak perlu datang ke café ini lagi. Dan ini, gajimu.” Si lelaki meraih tangan Soojung dan memberikannya amplop berisikan sejumlah uang.

Gadis Jung itu terpaku—menatap Minseok dengan tatapan tidak mengerti. Maniknya bergerak gelisah.

“K..kenapa?” Lirihnya hampir tidak terdengar. Soojung benar-benar kaget akan hal ini. Apakah dia baru saja dipecat? Tapi kenapa?

“Kau pasti sudah tahu alasannya kenapa, Soojung. Sekali lagi, maafkan aku.” Lelaki bergelar manajer itu tampak berbalik dan meninggalkan Soojung.

“Tunggu—“ Kata-kata Soojung tercekat di tenggorokkannya ketika tanpa sengaja Jung Soojung melihat lelaki itu duduk dengan tenang di ruangan pemilik café ini dengan santai—bahkan lelaki itu menaikkan kakinya di atas meja—sambil menatap Soojung dari balik pintu kaca ruangan tersebut. Tatapan merendahkan sama seperti yang kemarin malam Soojung lihat. Dan Jung Soojung begitu membenci tatapan seperti itu.

CUT!

  • YAAMPUN!! AKU TAU INI CERITANYA PASTI ANEH BANGET!!
  • Aku gatau apakah cerita ini bakal banyak peminatnya atau enggak. Tapi aku bakal seneng banget kalau peminatnya banyak dan pasti bakal semangat banget untuk ngelanjutin next chapter. HEHE.
  • And anyway, di sini ceritanya Soojung itu cewek yang berekonomi rendah ya (( beda dari biasanya yang ceritanya Soojung hidupnya mewah banget HWHWHW ))—dan inggat, ini hanya fiksi ya, karakternya aku karang-karang sendiri dan jauh dari karakter aslinya.
  • Dan aku harap, kalian memberikan kritik dan saran, karena aku tahu kalau diksi atau tulisanku itu belum semuanya benar.
  • Jangan lupa berikan komentar kalian, ya! Karena itu sangat-sangat-sangat-sangat berarti buat aku.
  • AND for silent reader, go away!! HEHE.

 

4 responses to “[FREELANCE] Estar En Declive

  1. annyeong thor~ first comment yeay~ hehe ak tertarik nih ama alur critanya. ap lg kaistal, semoga bisa lanjut trus smpe end. kenalin ak Nami Kim, alias adinda namira. salam kna thor. enakny manggil ap nih hehe. keep writing & hwaiting!~

  2. Ini bagusss, pake banget. Hehe. Lanjut next chapter ya kak, ga sabar pengen liat jongin gantian bertekuk lutut sama si soojung. Salam kenal ya kak, semangat terus nulisnya ^o^

  3. Wehh jadi Jongin mau bales dendam nih ceritanya? Kesel gegara Soo Jung ga muja Jongin, calm down babe! Didunia nyata kan Soo Jung cinta ama Jongin wkwk
    Hihi penasaran, cepet publish ya kaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s