[FREELANCE] Waiting

waiting

Waiting | Park Chanyeol, Park Ara | Sad Ending, Tragic | G

=====

Namaku, Ara. Di usiaku saat ini aku sudah menikah, ya.. menikah muda lebih tepatnya. Park Chanyeol, nama lelaki yang saat itu tanpa basa-basi langsung melamar di hadapan orang tuaku. Kami bahkan belum mengenal satu sama lain. Gila? memang! Aku berfikir lelaki itu pasti sinting, atau mungkin dirinya memang pasien sakit jiwa yang kabur.

Tiba saat proses lamaran yang bodohnya langsung diterima oleh kedua orang tuaku. Kami hanya mengenal masing-masing tidak lebih selama satu bulan. Chanyeol mendesak agar segera menikah. Aku tidak tahu kenapa ia begitu terburu-buru, bukankah menikah itu sesuatu yang perlu difikirkan matang-matang?

Setelah menikah, kami memutuskan untuk menempati rumah miliknya. Rumah itu cukup besar, ada taman hijau di halaman depan dan halaman belakang. Udara disinipun lumayan sejuk karena tidak berada di pusat kota dengan kabut polusi yang begitu membuat sesak.

“Jangan memasak terlalu banyak hari ini. Aku mungkin tidak akan makan dirumah”

Ya… kalimat itu yang paling sering ia ucapkan semenjak dua bulan kami menikah. Aku sempat berfikir, apa masakanku tidak sesuai dengan seleranya? Kalau begitu seharusnya dia mengatakan padaku apa makanan favoritnya bukan?

“Arraseo..” ucapku mencoba tersenyum.

Sejujurnya, ini terdengar konyol, tapi aku ingin sekali seperti teman-teman di kantorku yang setiap pagi dan sore memasak sesuatu untuk suami mereka. Apa aku terlalu kekanakan?

“Kalau begitu, aku pergi dulu” ucap Chanyeol memakai ransel hitam yang selalu ia bawa kemanapun lelaki itu pergi.

“Hati-hati”

Aku memaksa tersenyum. Tak ada kecupan di kening. Tak ada morning kiss. Tak ada pelukan hangat. Tak ada. Yang begitu itu hanya ada dalam drama dan fanfiksi!

*

Sebuah undangan pesta bewarna keemasan sedari tadi menjadi objek pandangku. Apa yang harus kulakukan dengan benda ini? disitu tertera jika undangan untuk pasangan. Pasangan? Benar juga sih aku kan sudah menikah. Tapi… entahlah aku ragu.

Semenjak kami menikah, Chanyeol jarang sekali berada dirumah. Ia selalu pulang malam bahkan tidak pulang. Dalam satu minggu, paling-paling hanya dua hari saja tidur di satu ranjang yang sama denganku.

Aku selalu ingin bertanya kenapa dia tidak pernah dirumah, tapi ku urungkan niat itu. Melihatnya selalu sibuk dan terburu-buru dengan apa yang dikerjakannya membuatku takut jika ia marah.

Mengenai pekerjaan Chanyeol. Ia hanya mengatakan padaku jika ia memiliki bisnis kecil. Hanya itu, tak lebih yang dikatakannya. Aku sempat berfikir yang tidak-tidak, apakah bisnis yang digelutinya seperti sebuah bisnis gelap atau yang semacamnya? Namun segera kutepis pikiran nakal itu. Tidak mempercayai suamiku sendiri, yang benar saja.

Dengan penuh pemikiran, undangan itu akhirnya kutaruh diatas meja. Aku memutuskan untuk menunggunya pulang dan menanyakan ini padanya.

*

Gemuruh petir sedari tadi terdengar begitu mencekam, angin malam berhembus kecang, tetesan air yang semula pelan kini sudah terdengar deras. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah objek yang tak lain adalah undangan pesta itu. Aku mengambilnya lalu melemparkannya kesembarang tempat. Untuk apa menyimpannya lagi? Toh pesta itu sudah lewat tiga hari yang lalu.

“Dia jahat! Dia tidak pernah memahami perasaanku. Hiks..” aku menangis dan terisak. Hujan deras seolah memahami suasana hatiku saat ini. Malam yang sunyi senyap, aku sendiri, menangisi seseorang yang tak pernah memikirkan keadaanku.

Cklek

“Aku pulang”

Seorang pria muncul dari balik pintu dengan rambut yang sedikit basah.

“Aku pulang. Ara-ya” ulangnya lagi melihatku yang sama sekali tak bereaksi. Aku memang sengaja melakukannya. Biar saja, aku membenci lelaki jahat itu!

Kini aku menatapnya tajam. Nafasku berhembus tak beraturan, kulihat ekspresi wajahnya yang sedikit terkejut dan bingung.

“Ada apa?” tanya Chanyeol sungguh polos.

“Ada apa katamu? Apa saat ini kau mencoba menutup mata?” kedua mataku berkaca-kaca. Jika marah, aku ingin sekali menangis.

“Ara-ya.. aku tidak mengerti…”

Belum sempat melanjutkan kalimatnya, dengan cepat aku memotong ucapan Chanyeol.

Aku segera bangkit berdiri dan meremas ujung kaos yang kupakai.

“Aku menunggumu. Menunggu kau pulang, setiap hari itu yang kulakukan!”

Tes. Akhirnya air mata yang mati-matian kutahan menetes juga.

“Ini terdengar kekanakan, tapi aku juga ingin seperti pasangan lain yang begitu disayang. Aku ingin di perhatikan, di beri sebuah pelukan, ciuman, dan semua hal yang membuatku nyaman. Tapi nyatanya, kau tidak pernah melakukan itu. tak pernah!”

“Saat aku sakit, apa kau tahu? Oh.. aku lupa bagaimana kau bisa tahu jika kau sendiri jarang sekali berada dirumah, iya kan?”

Tes. Lagi-lagi air mataku jatuh.

“Saat aku membutuhkanmu… kau tak pernah ada untukku..”

“Aku bahkan tak tahu apa yang kau lakukan berhari-hari diluar sana. Aku menghawatirkanmu… apa menurutmu aku berlebihan?! Katakan saja jika iya!”

 JEDER

Sebuah sambaran petir berhasil membuyarkan semua fikiranku. Aku segera tersadar, astaga apa yang telah kulakukan? Apa yang sudah keluar dari bibir sialan ini..

Aku segera membalikkan tubuhku. Aish… aku malu sekali. Bagaimana bisa aku mengatakan kata-kata kasar seperti itu padanya.

Pabbo! Segera saja aku melangkahkan kakiku pergi, namun sebuah lengan merengkuh bahuku dari belakang. Aku tersentak. Jantung ini nyaris berhenti merasakan rambut Chanyeol yang sedikit basah mengenai leherku. Bau maskulinnya menyeruak masuk ke indera penciuman. Tubuhku rasanya benar-benar kaku, sepertinya aku mati rasa.

“Mianhe.. Ara-ya..” lirihnya tanpa suara.

Aku menelan salivaku mati-matian. Tanganku melepas rengkuhannya, dan kini aku sudah berbalik menghadap tubuh Chanyeol yang menjulang tinggi.

Aku menatap wajahnya yang terlihat sangat lelah, kantung mata hitam selalu setia menghiasi wajah tampan itu. Perasaan bersalah mulai menyelimutiku. Bisa-bisanya aku berkata seperti itu padahal ia baru saja pulang dalam keadaan lelah begini? Aku benar-benar jahat. Aku tadi terlalu terbawa perasaan.

“Chanyeol, aku.. aku.. tidak”

Kepalaku tertunduk. Tenggorakan ini terasa tercekat. Entah apa yang harus kukatakan padanya.

Tiba-tiba telapak tangannya yang dingin membelai pipiku perlahan. Sontak aku menengadahkan kepalaku. Menatap wajah tampan yang juga tengah menatap kearahku. Kami saling berpandangan untuk beberapa detik.

“Mianhe” ucapnya menatap tepat dikedua bola mataku.

Skakmat! Aku tak bisa berkutik.

Tangan yang semula membelai kedua pipiku kini turun mengenggam kedua tanganku. Chanyeol menarik tanganku hingga berada di tepat wajahnya. Hembusan nafas lelaki itu bahkan mengenai telapak tanganku.

Chup~

Dia mencium tanganku dengan lembut dan lama. Aku memejamkan mataku, merasakan sensasi yang begitu aneh menjalar di perutku. Dadaku berdesir ketika ia tiba-tiba mengecup tanganku berulang-ulang.

“Mianhe…” lirih Chanyeol disela-sela kegiatannya.

Aku benar-benar tersentuh. Dia memperlakukanku begitu baik. Ya.. dia pasti sibuk dengan pekerjaannya, aku yang mungkin kurang memahami posisi Chanyeol saat ini.

*

“Ara. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu”

“Nugu?”

Kedua alisku saling bertaut, siapa? Aku mem-pause semua pekerjaanku di layar computer. Dan segera berjalan menuju lobby. Mataku kini menatap seseorang yang bangkit dari duduknya, ia menunduk pelan. Apa dia orang yang ingin bertemu denganku? Aneh sekali. Aku tidak pernah bertemu dengan wajah seperti itu.

“Apa anda mencariku?” tanyaku pada pria yang bisa kutebak usianya tak terpaut jauh dari Chanyeol. Dia berpakaian rapi dan sopan.

“Mari ikut saya, nona”

Akhirnya, aku memutuskan ikut dengan pria itu. aku tak tahu, aku ini polos atau benar-benar bodoh yang bisa begitu saja ikut pergi dengan orang yang baru kukenal. Tapi, jika terjadi sesuatu aku selalu membawa cairan bius yang jika disemprotkan bisa membuat seseorang tetidur. Chanyeol yang memberikan itu padaku.

*

Aku menatap kesal pria di sampingku. Apa-apan dia ini, lelaki itu sedari tadi berbicara ke utara-selatan tak jelas arahnya. Dan apa maksudnya membawaku ketempat ini.

“Tuan. Bisakah anda berbicara dengan sedikit lebih jelas” kesalku padanya.

“Nona. Sepertinya anda sudah paham dengan maksud saya” Dia melirik sebuah objek bewarna putih yang tertancap di dalam tanah.

“Saya dan suami anda berada di dalam satu perusahaan yang sama. Kami adalah anggota BIN”

Aku semakin tak mengerti mendengarnya, suamiku? Chanyeol? Tidak masuk akal.

“Tidak mungkin. Dia adalah seorang pebisnis” sangkalku padanya.

“Sebagai anggota BIN. Kami memang dilarang untuk meceritakan apa dan bagaimana perkerjaan kami. Saya rasa anda sudah tahu jika jaringan BIN merupakan jaringan angker, misterius, dan rahasia”

“Aku tidak percaya ucapanmu! mana bukti? Aku perlu bukti!”

“Maaf, nona. Terserah anda mempercayai ini atau tidak. Seorang agen intel rahasia memang tidak memiliki bukti apapun untuk membuktikan bahwa dirinya adalah seorang BIN”

“Park Chanyeol, tertembak saat melakukan tugasnya. Dia adalah ketua tim muda dari golongan II”

Dadaku semakin memanas, apa aku percaya? Tentu saja tidak! Aku tidak bisa percaya dengannya begitu saja. Mataku melirik sebuah nisan yang bertuliskan, Park Chanyeol di atasnya. Ya.. memang itu nama suamiku, tapi bukankah ada banyak Chanyeol diluar sana.

“Maaf, tapi aku tidak percaya” ucapku berlalu pergi. Aku masih yakin Chanyeol akan pulang kerumah hari ini dan memelukku saat tidur seperti yang kemarin ia lakukan.

*

Aku terbiasa menunggunya pulang, dua hari, tiga hari, dia akan pulang meski sebentar saja. Kini, dua hari berubah menjadi dua tahun, tiga hari berubah menjadi tiga tahun.

Tiga tahun aku menunggunya pulang. Namun tak pernah kulihat tanda kehadirannya.Chanyeol, aku merindukan lelaki itu. Entah mengapa sekarang aku berada di tempat ini, hatiku mencelos melihat nisan yang bertuliskan namanya. Begitu kotor tak terawat.

Tes.

Air mataku menetes. Kini aku mengerti, bukan aku yang seharusnya menunggunya pulang kerumah, tapi dia yang menunggu kedatanganku ke tempat ini.

“Park Chanyeol, mianhe…”

END

4 responses to “[FREELANCE] Waiting

  1. ahhh terlalu singkat… kalo ditambahin momen mereka berdua lebih banyak sama clue2 sedikut tentang pekerjaan chanyeol, pasti lebih nyesek dari ini T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s