[FREELANCE] When a Man Loves Part 5

When a Man Loves Part 5

when 1

Author : deergalaxy0620

Genre : Romance, Hurt, School-Life (a little bit)

Cast : Oh Jong Seok a.k.a Eddy ( JJCC )

Park Seo Yeol ( OC )

Song Se Hin ( OC )

Park Chan Yeol ( Seo Yeol’s brother ) ( EXO )

Wu Yi Fan a.k.a Kris

Oh Hae Ryung ( OC )

Ryu Ha Yeon ( OC ) as Seo Yeol’s close-friend

Lee Hwan Hee as Ha Yeon’s boyfriend ( UP10TION )

Rating: PG-15

Length  : Chaptered

Disclaimer : All the story is MINE. Jika ada kesamaan dalam alur cerita, mohon maaf.

Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3 Chapter 4

https://deergalaxy0620.wordpress.com/

 

Keesokan harinya…

Mulai hari ini hingga maut memisahkan, Eddy harus pergi ke perusahaannya dengan mobil sedan hitam miliknya karena sulit untuk pulang dengan jalan kaki. Sudah lama ia tak bepergian menggunakan mobil pribadi, meskipun jarak dari apartemennya menuju kantor perusahaannya tak terlalu jauh. Lagipula seorang satpam menegur Eddy untuk mengendarai mobil pribadinya agar tak rusak. Eddy hanya tersenyum penuh cengiran setelah melihat mobil hitam miliknya sedikit kotor akibat debu. Tetapi ini tak masalah karena dia bisa membersihkannya di lain waktu.

Saat Eddy hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba seseorang menyahut namanya dari belakang. Eddy tahu siapa yang memanggilnya jika bukan itu Seo Yeol. Lagi-lagi lelaki itu mendapatkan ucapan selamat pagi dari seorang gadis belia yang memiliki kecantikan yang tak terkalahkan dengan wanita lain. Eddy memutarkan badannya ke belakang dan mendapati Seo Yeol yang tengah tersenyum ke arahnya. Senyuman yang menemani matahari karena kecantikannya.

“Ahjussi, semoga hari anda lebih baik dari sebelumnya.” Meskipun ada sedikit kecanggungan diantara mereka, Seo Yeol tetap bertegur sapa kepada Eddy setiap pagi.

“Semoga ujian anda juga lebih lancar dari sebelumnya.” Begitu Eddy membalas perkataan Seo Yeol disertai senyuman tipis yang terukir di bibir tebalnya. Namun, semuanya kembali berubah saat Chan Yeol hadir dari belakang Seo Yeol. Penampilan Chan Yeol lebih tampan dari Eddy.

“Seo Yeol-ah,” panggil Chan Yeol saat lelaki itu mengenakan tas punggungnya, “Mari kita berangkat.” Ujarnya yang membuat perasaan Seo Yeol menjadi sedih. Matanya tak pernah lepas dari pandangan Eddy yang ikut menatapnya.

“Pergilah, Seo Yeol-ssi.” Ucap Eddy yang harus mengubah sikapnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang didengar hanya terdiam dan enggan masuk ke dalam mobil pribadi Chan Yeol. Pikirannya kembali memutar kejadian semalam saat Eddy melayangkan pukulan keras ke arah wajah Chan Yeol. Pasti dia terluka karenanya.

“Apa yang anda tunggu? Pergilah ke sekolah. Saya tak ingin anda dihukum karena datang terlambat. Saya benci wanita tak disiplin.” Kata-kata dari Eddy akhirnya menggerakkan hati Seo Yeol untuk bergegas ke sekolah, melangkahkan kakinya menuju mobil Chan Yeol, dan masuk ke dalam mobil di bangku samping supir. Eddy tak berniat mengusir Seo Yeol, melainkan hanya merasa canggung saat Chan Yeol hadir di sisi Seo Yeol. Karena bertengkar semalam, pada akhirnya mereka harus saling berdiam satu sama lain. Eddy tahu dirinya merasa bersalah karena memukul wajah Chan Yeol di depan Seo Yeol.

Maafkan aku, Seo Yeol-ssi. Aku hanya tak ingin merasa dekat saja denganmu karena Chan Yeol. Batin Eddy saat pandangannya tertuju kepada lajuan mobil Chan Yeol yang melewatinya. Berharap semuanya akan berubah setelah pertengkaran semalam.

Di sisi lain, Chan Yeol tahu sikap Eddy yang tegas dan berwibawa sebagai direktur. Dia juga selalu bersikap baik terhadap wanita dan sopan. Itulah sebabnya Seo Yeol mungkin menyukai Eddy dan mungkin mereka akan menjalin hubungan jika suatu hari terjadi. Chan Yeol mungkin akan menolak permintaan Seo Yeol untuk tak menentang hubungannya dengan Eddy jika mereka akan berkencan.

Sementara Seo Yeol tahu karakter Eddy sejak terakhir dia lihat. Otaknya berpikir alasan dia memukul wajah Chan Yeol di depannya dan Se Hin. Seo Yeol tak mengerti apa yang dibicarakan Se Hin dengan mengeluarkan kata-kata kotornya dan bentakan yang tak seharusnya dia lakukan. Dia berpikir bahwa Se Hin adalah kekasih Chan Yeol karena mereka saling berciuman di depannya. Tak hanya Seo Yeol yang melihat mereka berciuman, melainkan Eddy yang sebagai mantan kekasih Se Hin.

“Seo Yeol-ah,” untuk kali ini Chan Yeol harus terbuka dengan Seo Yeol, “Maafkan aku soal sikap Eddy hyung semalam.” Ujarnya saat mobil mereka harus berhenti di tengah kemacetan. Tak apa karena masih ada waktu satu setengah jam untuk sampai di sekolah tepat waktu.

“Aku dan Se Hin nuna saling mencintai dan kami tak ingin melepaskan hubungan kami. Tapi, yang aku harus melakukan apa yang diinginkan Se Hin nuna hanyalah paksaan darinya. Aku mengaku bahwa sebenarnya aku hanya dipaksa Se Hin nuna untuk berkencan karena dia dalam keadaan sulit. Dan tentang Eddy hyung…”

“Jangan pernah bilang bahwa dia masih mencintai kekasih oppa?”

“Kau benar, Seo Yeol-ah,” kali ini Seo Yeol yang merasa jengah dengan Chan Yeol, “Untuk apa kamu harus menyukainya? Dia hanya menggunakanmu agar kamu merasa perhatian dan iba kepadanya. Kamu menyukainya bukan karena penampilan dan karakternya, melainkan hanya dari kisah yang dia katakan padamu, seperti dongeng. Dia tak mungkin jatuh cinta padamu jika kamu hanya merasa iba dengannya. Kamu hanya sebagai senjata untuk membalas dendam kepada Se Hin nuna agar dia dapat kembali kepada Se Hin nuna.”

Seo Yeol menggeleng pelan seakan semua perkataan Chan Yeol itu mustahil, “Kau salah, oppa. Aku mencintainya karena hatiku yang berlabuh, bukan karena kisahnya. Dan jika dia juga menyukaiku, cintaku kepadanya sudah lengkap dan itu tak bisa dibantah. Lagipula, mengapa oppa menentang keinginanku untuk dekat bersamanya?” tanyanya saat Chan Yeol tertegun dengan mata tertuju kepada lampu merah.

“Tuhan ditakdirkan kita untuk berpasang-pasangan. Dia memang cemburu karena dia masih mencintai kekasih oppa, tetapi aku yakin bahwa perlahan-lahan hatinya tergerak untuk mencintaiku.” Chan Yeol tak ingin menyerah dengan segala perkataan Seo Yeol yang kian melemahkan hatinya.

“Bagaimana dengan Yi Fan hyung?”

“Aku segera melupakannya. Mungkin jika Eddy ahjussi memberiku kehangatan, maka aku perlahan mulai membenci Yi Fan oppa dan menjadikannya sebagai ingatan masa laluku.” Seo Yeol menjawab yang hampir melemahkan Chan Yeol.

“Lagipula, mengapa oppa menerima cinta kekasih oppa jika Eddy ahjussi masih menginginkan kekasih oppa? Wanita di dunia masih banyak yang melajang dan tak hanya kekasih oppa saja.”

“Itu karena aku terlanjur mencintainya,” Chan Yeol berusaha meyakinkan kembali Seo Yeol, “Aku bukan berniat merebut Se Hin nuna dari Eddy hyung, melainkan itu karena kita saling menyukai dan aku yakin bahwa Se Hin nuna memiliki masa sulit dengan Eddy hyung.” ujarnya yang kembali mendiamkan Seo Yeol. Kembali merasakan iba dari lelaki itu.

“Eddy ahjussi sudah seperti teman baik untukku. Makan bersama, saling bertemu di malam hari, bahkan dia mau mendengar ceritaku. Aku tak merasa kesepian hingga tak sengaja aku perlahan-lahan menyukainya. Jika oppa masih bersikeras menolak keinginanku untuk dekat dengan Eddy ahjussi, aku tetap mendekatinya hingga oppa menerimaku.” Akhir perkataan Seo Yeol yang membuat bibir Chan Yeol bungkam.

“Dan kamu akan membalas perasaan Yi Fan hyung yang telah melukai hatimu juga?”

“Jika aku mengatakan iya kepada oppa, apa yang akan dia lakukan?”

“Dia akan merebutmu dari Eddy hyung, bagaimanapun caranya.”

“Bagaimana dengan selingkuhannya?”

“Tahu darimana dia memiliki selingkuhan?”

“Bagaimana aku tahu jika tuhan telah memberiku kabar buruk? Jelas aku dapat melihatnya dan aku adalah saksi dari semuanya.”

Chan Yeol tak bisa mengelakkan perkataan Seo Yeol karena adik kandungnya itu terlanjur menyukai Eddy. Dan perasaan adik kandungnya itu tak bisa dia tolak karena memang itu takdirnya. Seo Yeol membutuhkan lelaki yang lebih baik daripada Yi Fan.

“Jika itu maumu, aku akan menuruti permintaanmu. Tetapi, ada satu syarat.” Ujar Chan Yeol yang tak langsung berpikir lama kepada Seo Yeol.

“Selama oppa adalah kakakku, apa syaratnya?” Chan Yeol tersenyum senang saat Seo Yeol bertanya. Ada rasa senang sekaligus puas dalam hatinya.

***

Di kelas, Seo Yeol dapat mengerjakan soal ujian dengan lancar dan tenang tanpa ada gangguan. Tatapannya tak pernah luput dari jam dinding yang telah menunjukkan hampir mendekati batas waktu pengerjaan. Suasana tenang dapat membuat Seo Yeol lancar dan penuh percaya diri. Tangannya terus melingkarkan jawaban di lembar jawaban ujiannya itu. Di samping lembar jawaban, terdapat soal ujian yang hampir mematikan nyawanya itu.

Se Hin nuna masih marah kepadamu karena pulang malam bersama Eddy hyung. Ini tak mudah bagimu untuk menyingkirkan Se Hin nuna dari kehidupan Eddy hyung. Aku akan menaruh kepercayaan kepadamu agar segera membuat Se Hin nuna mencintaiku lebih baik dari Eddy hyung. Tetapi, kamu tak boleh senang dulu jika ada pihak lain yang mungkin akan menghancurkan kebahagiaanmu. Kamu akan tahu siapa dalang dibalik semuanya suatu saat. Itu adalah satu syarat dariku.

Tiba-tiba pikiran Seo Yeol menjadi terganggu akibat syarat yang dibeberkan Chan Yeol sebelum turun dari mobil. Syarat tersebut memang tidaklah mudah, namun ada pihak lain yang mungkin tak memungkinkan Seo Yeol untuk hidup bahagia. Selama Chan Yeol meyakinkan perasaan Seo Yeol terhadap Eddy, ada pihak lain yang justru menjadi penghancur dalam kebahagiaan mereka. Maka sebelum Seo Yeol hendak menyelesaikan semua urusannya, dia terlebih dahulu berpikir siapa yang akan menghancurkan kebahagiannya itu.

***

“Yi Fan-ah, aku ingin kita berkencan sepulang kerja. Apakah kamu merasa tak keberatan dengan ajakanku?” Hae Ryung bertanya saat Yi Fan melangkah melewatinya menuju ruang kerjanya. Langkahannya terhenti akibat ajakan dari selingkuhannya itu.

“Untuk apa aku harus berkencan dengan wanita jalang sepertimu?” tanya Yi Fan dengan sikap dinginnya.

“Apa maksudmu wanita jalang? Apakah kamu mengejekku karena aku telah merebutmu dari kekasihmu?” Hae Ryung balik bertanya sembari melangkah menghampiri Yi Fan.

“Tentu saja karena ini memang faktanya. Untuk apa kamu memintaku untuk mengulang semua kenangan busuk kita yang dulu? Kamu hanya mengganggu ketenanganku saja.” Yi Fan menjawab dengan sedikit menuduh Hae Ryung.

“Apa yang salah dariku? Bukankah kamu seharusnya bahagia karena aku memiliki anak darimu? Kita memang belum menikah di waktu yang tidak tepat, tetapi setidaknya kamu harus menerima kenyataan bahwa aku mencintaimu.” Hae Ryung segera membersihkan noda yang sedikit membandel di jas hitam Yi Fan.

“Berhentilah kamu bermain drama, Hae Ryung-ssi.”

“Panggilah aku dengan sapaan yang sedikit nakal bisa tidak? Aku sudah menjadi milikmu dan kamu adalah milikku. Jadi, setidaknya kamu mencintaiku. Asalkan kita tak akan bertengkar seperti dulu kamu mengajak ribut bersamaku.” Tangan Hae Ryung sudah meremas kerah Yi Fan dan wajah mereka hampir mendekat.

“Maafkan aku yang dulu sempat berdebat denganmu. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku masih mencintaimu dan tak mungkin aku dapat melupakanmu secepat ini. Kamu hanyalah lelaki yang dapat membuatku senang dan damai. Jadi, lupakan saja kekasih busukmu itu yang telah menodai hubungan kita dan kita akan memulai kehidupan yang baru.”

Setelah Hae Ryung mengakhiri perkataannya, dia segera menyingkirkan tangannya dari kerah jas Yi Fan dan mulai tersenyum tipis. Membuat hati Yi Fan mulai berdetak kencang karena kecantikan yang dimiliki Hae Ryung.

“Baiklah jika itu maumu. Kita akan menata kehidupan yang baru dan aku akan segera melupakan Seo Yeol.” Yi Fan memang terpaksa mengatakan kalimat ini agar membuat Hae Ryung senang karena disisi lain ia masih memikirkan Seo Yeol. Yi Fan masih berpikir bahwa Seo Yeol telah membencinya hingga akhir hidupnya.

Thank you so much, oppa. I love you.” Ucap Hae Ryung sebelum ia kembali ke tempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Yi Fan hanya mengangguk pelan dan melangkah kembali ke ruangannya dengan langkahan yang berat. Hatinya ikut merasa berat jika bukan karena perkataan Hae Ryung. Maafkan Yi Fan yang telah menerima kenyataan pahit sekarang.

***

Sepulang sekolah, Seo Yeol tak mengambil jam bimbingan belajar di sekolah karena lelah. Ia ingin pulang cepat hanya untuk mencari udara segar di sekelilingnya, bukan karena malas belajar. Sementara Ha Yeon dan Hwan Hee ikut belajar tambahan yang dipaksa oleh guru mata pelajarannya. Jadi, Seo Yeol lebih baik pulang sendiri sembari mencari udara segar.

Tatapannya seketika terfokus kepada mobil merah muda yang berhenti di depannya. Seo Yeol mulai menghentikan langkahnya saat seorang wanita keluar dengan mengenakan kacamata hitam. Kebetulan orang yang dihadapan Seo Yeol adalah Se Hin karena ada hal yang harus dia bicarakan dengan Seo Yeol.

Apakah mungkin ini adalah jawaban dari satu syarat Chan Yeol? Jika bukan, tak mungkin Se Hin pergi untuk menemui Seo Yeol. Seo Yeol harus tenang menghadapi wanita bersurai blonde yang melangkah menghampirinya. Saat mereka mulai berhadapan, barulah Se Hin melepaskan kacamatanya dan memancarkan kecantikannya itu.

“Ada yang ingin aku katakan padamu. Ini mengenai mantan kekasihku.” Ucap Se Hin yang membuat Seo Yeol tak keberatan untuk meluangkan waktu bersama Se Hin. Maka mereka lebih memilih untuk berbincang-bincang di sebuah kantin sekolah, meskipun suasana di kantin tidak kondusif.

Dengan ditemani hidangan jenis minuman yang seadanya saja, Seo Yeol menunduk pelan karena Se Hin tampak menyeramkan seperti semalam. Mengelus pelan gelas kaca yang telah diisi air putih itu. Sementara Se Hin sibuk mengaduk es teh yang telah dibaluri gula pasir. Melirik sejenak Seo Yeol yang terus terdiam dan menunduk. Itu efek karena sikapnya yang kasar semalam.

“Apakah anda…” akhirnya Seo Yeol yang memulai pembicaraan, “Mantan kekasih Eddy ahjussi?” tanyanya yang memberhentikan tangan Se Hin yang terus mengaduk es teh miliknya.

“Hebat sekali anda hingga anda mengetahui identitas saya. Memang benar bahwa saya adalah mantan kekasih Eddy.” jawab Se Hin dengan santainya yang membuat Seo Yeol merasa bingung.

“Tetapi pada kenyataannya, saya masih mencintai mantan kekasihku sendiri. Kau tahu alasan aku masih mencintainya hingga saya ingin kembali kepadanya?” Seo Yeol menggeleng pelan dengan jawaban ia tak tahu alasan Se Hin masih menginginkan Eddy.

“Saya masih mencintainya karena saya masih memegang ikrar yang saya genggam dalam-dalam. Memang mungkin ikrar saya sudah tak berlaku jika aku melepaskan Eddy dari kehidupanku, tetapi secara keutuhan dia masih menjadi milikku. Tidak ada orang lain yang merebut Eddy selain aku.” Penjelasan yang keluar dari bibir Se Hin masih terasa ambigu bagi Seo Yeol dan menuntutnya untuk diam. Otaknya terlalu lambat untuk berpikir secara mendalam dan yang terjawab hanyalah wajah cantiknya yang memasang ekspresi bingung sekaligus heran.

“Saya paham bahwa kamu menyukai Eddy. Benarkah itu?” tanya Se Hin yang disusul dengan ekspresi Seo Yeol yang kian terkejut. Jantungnya perlahan berdegup kencang dan ia tak mau membohongi Se Hin jika wanita itu mengetahuinya.

“Saya… tak menyukainya. Kami hanya sebatas temu saja dan kami tak memiliki perasaan apa-apa selain temu saja. Hanya kebetulan bertemu saja hingga kami…”

“Berbohong lebih buruk daripada berbicara kenyataan. Pikirkan itu.” Se Hin segera menyela perkataan Seo Yeol sebelum gadis itu melanjutkan kebohongannya.

“Omonganmu itu hanya memutarbalikkan fakta saja. Kenyataan bahwa kamu menyukainya lebih dari sekadar temu saja. Jangan mengelak dari perkataanku, Park Seo Yeol-ssi.” Intonasi Se Hin sedikit menekan dan Seo Yeol tak bisa berkata kembali. Kemudian, sebuah seringaian kecil terukir dari bibir wanita bersurai blonde itu dan segera meneguk es teh yang mulai mengembun di luar gelas kaca.

“Jika anda masih mencintai kakakku, sama seperti anda mencintai Eddy ahjussi, anda tak boleh mendekatinya hingga anda mengakhiri hubungan dengan Eddy ahjussi.” ucapan dari Seo Yeol tentu saja membuat hati Se Hin tegang. Emosinya hampir meluap seketika saat Seo Yeol dengan berani dan tegasnya mengeluarkan perkataan yang dapat mendorongnya untuk bersikap dewasa.

“Apa katamu?”

“Anda tak boleh mendekati Eddy ahjussi karena anda telah mencintai kakakku. Anda tak berhak untuk berharap Eddy ahjussi kembali kepada anda, meskipun kalian berdua saling merindukan satu sama lain. Namun, jika pada kenyataannya dia tak lagi mencintai anda, seharusnya anda tak perlu berkata ‘aku merindukanmu’ karena dia berhasil menghapus segala kenangan yang telah kalian lakukan. Itulah sebabnya anda seharusnya menjaga sikap anda selama anda berkencan dengan orang lain.”

SPLASH!

Suasana menjadi tegang dan memanas saat Se Hin telah melakukan hal tak wajar dengan Seo Yeol, terlebih mereka berada di kantin sekolah dan semua murid melihat aksi mereka. Se Hin merasa omongan Seo Yeol sudah memojoknya untuk menyerah sehingga wanita itu menyiram es teh miliknya, tepat di wajah Seo Yeol. Hal ini tentu saja membuat beberapa orang heboh, terutama para siswa. Sementara Se Hin memukul gelas kaca itu dengan ekspresi tak senang dengan emosinya yang meluap.

Tetapi Seo Yeol tak peduli dengan murid di sekitarnya yang telah menyaksikan perdebatan antara mereka. Menganggap mereka adalah angin yang berlalu, kemudian memudar. Mungkin saja rumor akan beredar dan akan mencemarkan nama baik Seo Yeol. Lagipula sebenarnya gadis itu sudah terbiasa dengan rumor yang beredar mengenai hubungannya dengan Yi Fan beberapa waktu yang lalu. Bahkan hubungan mereka yang hampir kandas saja tetap menjadikan rumor yang telah menjelekkan nama Seo Yeol.

“Lancang sekali anda berbicara terhadap orang yang lebih tua! Apakah anda juga berbicara dengan nada seperti itu kepada gurumu?! Mengapa siswa sepertimu sudah menjadi tak sopan dan tak memiliki adat di sekolah?!” Se Hin mulai meninggikan intonasinya yang membuat Seo Yeol menengadah sedikit.

“Bukankah ini kenyataannya bahwa anda telah mencintai kakakku? Seharusnya anda tak perlu berharap untuk membuat Eddy ahjussi mencintai anda. Biarkan dia bebas dengan kehidupannya.”

“Apakah anda tuhan sehingga anda mengaturku untuk menjauh dari Eddy?! Mengapa Chan Yeol bisa memiliki adik kandung yang tak memiliki tata krama sepertimu?”

“Permisi, wanita tak tahu diri!”

“Berani sekali juga anda memanggilku dengan sebutan seperti itu! Apakah anda mau kenyataannya anda akan dikeluarkan dari sekolah karena sikap anda?!”

“Hei, Song Se Hin-ssi!”

“Hentikan dengan panggilan tersebut! Anda sudah terlampau kelewat batas dan saya tak suka dengan panggilan tersebut!”

“Oh! Berarti anda juga lebih terlewat batas dariku karena kesombongan anda dan tak mau menyerahkan Eddy ahjussi kepada orang lain?!”

“Bilang saja anda cemburu!”

“Saya tidak cemburu!”

“Berhenti anda membohongi saya atau saya seretkan namamu ke dalam catatan hitam saya!”

“Lantas anda adalah wanita yang selalu menggonta-ganti pasangan orang lain!”

PLAK!

Jika tamparan sudah cukup membuat Seo Yeol bungkam, Se Hin sudah menjadi pemenangnya karena merasa dirinya dibuat kasar oleh gadis yang lebih muda darinya. Se Hin masih memiliki ego untuk membuat Seo Yeol menyerah dan diam.

“Tamparanku sudah cukup membuat anda diam. Lebih baik anda seharusnya belajar mengenai kehidupan sosial, bukan malah mengenai hubungan asmara yang ingin anda rebut dari orang lain.”

Se Hin segera membenarkan penampilannya sebelum melangkah meninggalkan Seo Yeol yang mulai diam di tempat. Melihat beberapa siswa yang mulai heboh setelah Se Hin menampar Seo Yeol untuk diam.Satu per satu ia melihat wajah tampan dan cantik siswa sebelum meninggalkan area kantin dengan keangkuhannya yang masih mendarah daging tanpa memedulikan Seo Yeol yang akhirnya kalah dalam perdebatan.

Setelah ditinggal Se Hin, Seo Yeol mulai berteriak tak karuan dengan memegang kepalanya sendiri. Dia terus berteriak hingga beberapa murid perempuan berlari menghampirinya. Mereka menenangkan Seo Yeol hingga gadis bersurai hitam itu berhasil tenang. Namun pada akhirnya, dia malah berubah menjadi gadis yang tak waras dan terus saja berteriak tanpa memedulikan jeritannya yang terdengar cukup serak.

Kejadian tersebut menimbulkan kekhawatiran Ha Yeon dan Hwan Hee saat mereka menghampiri kerumunan dan mendapati Seo Yeol yang berteriak frustasi dan hampir kehilangan jiwanya. Ha Yeon segera berlari menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya erat tanpa memedulikan jeritan Seo Yeol. Ha Yeon terus memeluk sahabatnya itu hingga akhirnya dia tenang dan jeritannya pun kian mereda.

“Seo Yeol-ah,” panggil Ha Yeon sedikit tenang, “Apakah kamu baik-baik saja?” tanyanya yang membuat Seo Yeol menatap wajah sahabatnya itu. Dan seketika gadis itu menangis pilu dengan wajahnya yang basah kuyup akibat siraman es teh dari Se Hin. Namun bukan sahabat namanya jika Ha Yeon segera memeluk Seo Yeol lebih dalam dan berusaha menenangkan gadis itu. Tak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu hingga Ha Yeon menepuk pelan punggung Seo Yeol yang cukup ramping.

***

Baru saja Chan Yeol melangkah keluar dari ruang kerjanya, tiba-tiba ia melihat Se Hin yang juga melangkah memasuki gedung perkantoran dengan senyuman penuh kemenangan. Chan Yeol yang melihat kekasihnya dari atas itu segera berlari menuruni beberapa anak tangga untuk menemui Se Hin. Ada ekspresi penasaran terlukis dari lelaki berjangkung itu untuk menanyakan tentang sesuatu. Tetapi, ia tak sengaja menabrak pundak Eddy yang tengah melangkah menghampiri ruang kerjanya hingga ponselnya terjatuh. Chan Yeol terkejut dengan ponsel Eddy yang terjatuh karena ulahnya itu.

Baru saja Eddy segera meraih ponselnya itu, tiba-tiba saja Chan Yeol sudah terlebih dahulu meraih benda tersebut dan memeriksa apakah ponsel itu rusak atau tidak. Beruntung ponsel itu tak mati ataupun rusak. Namun, ekspresi Chan Yeol kian berubah saat ia melihat wallapaper dibalik ponsel Eddy. Seorang wanita yang memiliki kecantikan yang sempurna dan rupawan. Sementara Eddy meminta kepada Chan Yeol untuk menyerahkan ponselnya. Bukannya menurut, Chan Yeol hanya terdiam dengan menggigit pelan bibir bawahnya itu.

“Apakah hyung masih mencintai Se Hin nuna?” tanya Chan Yeol yang membuat Eddy tertegun dengan pertanyaan yang satu dari bibir orang dihadapannya.

“Lebih baik hyung menjauh dari kehidupannya. Dia sudah tak lagi mencintaimu karena aku sudah memilikinya. Jadi, untuk apa hyung mengharapkannya.” Eddy kembali termakan dengan perkataan Chan Yeol yang berhasil memojoknya. Ingatannya saat Se Hin masih mengenakan cincin dari Eddy semalam kembali membuatnya tegang.

“Aku sudah mengizinkan Seo Yeol untuk menyukaimu. Tak apa jika…”

“Jika aku masih menginginkan Se Hin, bagaimana denganmu?”

“Aku mungkin menghajarmu sebagai pembalasan karena menghajarku hingga hampir babak belur.”Eddy akhirnya bungkam dengan mata terasa sedikit memanas.

“Lebih baik hyung menjauh dari Se Hin nuna karena kini aku telah mencintainya bukan karena suruhannya.” Chan Yeol segera membungkukkan badannya dan berlari mengejar Se Hin yang hendak berhenti di depan lift. Meninggalkan Eddy yang akhirnya berhasil menyerah karena perkataannya. Eddy kembali merasakan sakit di hatinya jika bukan karena Chan Yeol.

Kini teman dekatnya itu benar-benar mencintai Se Hin bukan main. Ini semua demi Se Hin yang memang menginginkan Chan Yeol untuk selalu disisinya. Cinta tak mungkin berbohong karena cinta datang dari hati. Dan hati tak bisa berbohong jika sudah terlanjur cinta. Ini membuktikan bahwa Se Hin sudah lebih memilih Chan Yeol daripada Eddy. Entah mengapa wanita itu bisa mengalihkan hatinya ke orang lain daripada Eddy.

Tiba-tiba, ponsel Eddy berdering dan mendapatkan pesan masuk dari Chan Yeol. Lagi-lagi dia harus berurusan dengan Chan Yeol. Dengan lemas karena sakit hati, Eddy membuka pesan tersebut. Chan Yeol meminta kepada Eddy untuk menjemput Seo Yeol di Seoul High School, tempat ia mengenyam pendidikan sekolah menengah atas jika lelaki itu mulai menyukai Seo Yeol. Lagipula mereka sudah hampir satu minggu tak sengaja bertemu di malam hari. Eddy tahu perasaan Seo Yeol terhadapnya. Tak mungkin gadis itu menyukainya. Pikir Eddy yang justru membalikkan perasaan Seo Yeol.

***

Setelah Seo Yeol mendapatkan ketenangan dari beberapa teman sekaligus seorang dokter psikologi, akhirnya dia diperbolehkan untuk pulang dalam keadaan tenang. Berjalan pelan menyusuri beberapa pohon yang tertanam kuat di sekeliling area sekolah. Pikirannya kembali terganggu karena termakan omongan Se Hin yang mendorongnya untuk menyerah dan kalah. Seo Yeol tak habis pikir dirinya tak mampu mengalahkan wanita bersurai blonde itu. Namun, semuanya menjadi lemah karena keegoisan Se Hin yang tertanam kuat di tubuhnya dan ia tak bisa mengelak. Seo Yeol juga merasa keegoisannya mulai tumbuh karena menginginkan Eddy daripada sikapnya yang mulai memanas.

Merasa dirinya masih lemah dan tegang, Seo Yeol lebih memilih untuk memandang pohon yang tertiup angin pelan beserta Burung Merpati yang terbang bebas di udara. Seo Yeol berharap ada keajaiban yang dapat mematahkan keegoisan Se Hin dan mundur. Dirinya juga meminta maaf kepada orangtuanya yang telah tiada sejak kecil, juga kepada Chan Yeol yang sekarang mendukung keinginannya untuk menginginkan Eddy. Ini tidak mudah karena Seo Yeol benar-benar harus melewati tantangan terberatnya. Ini tidaklah sama dengan Yi Fan karena lelaki itu dengan mudahnya mencintai Seo Yeol. Namun sekarang menjadi kandas dan memudar seperti debu yang memudar di udara.

Dari belakang Seo Yeol, sosok lelaki dengan mengenakan jas hitam melangkah pelan mengikuti langkahan Seo Yeol. Gadis itu mengabaikan langkahan orang asing di belakangnya dan lebih membutuhkan hiburan sedikit.

“Park Seo Yeol-ssi.” Panggil seorang lelaki yang melangkah pelan di belakang Seo Yeol. Sementara yang dipanggilnya segera memutarkan tubuhnya ke belakang dan menatap manik mata lelaki tampan berjas itu. Namun, Seo Yeol tak menimbulkan reaksi apapun selain diam dan datar.

“Maukah kamu pulang bersamaku? Chan Yeol menyuruhku untuk menjemputmu ke apartemen agar segera istirahat dan belajar.” Ujar seseorang yang kembali tak menimbulkan reaksi apapun dari Seo Yeol. Dan lelaki yang Seo Yeol hadapi sekarang adalah…

To be continued…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s