[FREELANCE] 하루만 (Just One Day)

Poster FF 하루만 (Just One Day)

Title    : 하루만 (Just One Day)

Author/twitter : Angelinblack (Twitter: @zarronie)

Cast     : Park Jimin (BTS), Shin Hyebin (OC)

Genre  : Romance, Drama, Sad

Rating : PG-17

Length : One Shoot

Disclaimer: FF ini sudah pernah di publish di angelinblack.wordpress.com

***

“I hope I can be with you for just one day

Just one day,

If I can be with you

If I can hold your hand

If I can see you smile”

***

“Jelaskan ini!”sebuah foto dibanting keras di hadapanku. Kutarik nafasku dalam-dalam mencoba meredam gemuruh detak jantungku yang tak terkendali sekarang ini. Kutundukan kepalaku dalam-dalam, tak berani menatap pria bertubuh besar yang ada di hadapanku.

“Lihat fotonya!”teriakannya bergaung di telingaku, membuatku bergidik. Ku gerakan kedua bola mataku. Aku, kutatap gadis yang membelakangiku di dalam foto. Kemudian… Ku tarik nafasku kembali, oppa.

***

Ini berawal sekitar bulan semi tahun lalu, saat aku pertama kali bertemu dengannya. Park Jimin, kau tau main vocal BTS yang baru saja debut sekitar tahun lalu. Dia sedang berkunjung ke akademi dance tempatku berlatih dan rupanya dia dulu juga berlatih disini. Aku tak banyak memperhatikan, terlalu banyak orang yang datang menyapanya, tapi kemudian seorang teman menarikku dan mengenalkanku padanya.

“Annyeong”masih kuingat senyum pertamanya padaku, sangat hangat, sangat lembut. “Aku belum pernah melihatmu sebelumnya”

“Aku baru disini”sahutku kemudian. Tidak biasanya bagiku untuk kehilangan kata-kata di depan seseorang, tapi kali itu aku bahkan tidak bisa memandanginya terlalu lama. Ini pertama kalinya bagiku merasa begitu bodoh di hadapan seorang laki-laki.

Mengherankan jika kuingat pertemuan itu tidak hanya berhenti disana. Kami bertemu kembali, lagi dan lagi. Hingga pada suatu saat tak sengaja kusadari tatapan kami saling bersambut. Kukerjapkan mataku, ia pun mengerjapkannya. Kusunggingkan senyumku, ia pun menyunggingkannya. Kusadari aku tak bisa berhenti, hanya menatap, tersenyum, dan mendengar celotehannya. Aku ingin berada disisinya, menggenggam tangannya.

Kuhela nafasku panjang dan kupalingkan wajahku menatap hampa ke tembok ruang latihan dance-ku. Apa yang bisa kuharapkan? Bahagia bersama? Aku bahkan tak bisa bertemu dengannya di tempat lain. Kami bahkan menyelinap ke ruang latihan dan mematikan lampunya supaya tidak ada yang tahu.

“Aku akan sedang mempersiapkan album baru”Jimin menghela nafasnya. “Aku akan sangat sibuk nantinya”

“Aku tau, oppa”kuanggukkan kepalaku pelan. “Kau sangat popular akhir-akhir ini”sahutku kemudian. Sedikit rasa kecewa menyelinap dalam diriku. Ini dia, aku tidak akan bertemu dengannya lagi.

“Aku hanya ingin tahu”Jimin meraih kedua tanganku. “Apa kau akan bersabar menungguku atau tidak”

“Eung?”kutatap Jimin tak mengerti.

Jimin menghela nafas. “Aku tau ini akan berat. Aku seorang idol dan kau seorang trainee di perusahaan besar. Ini rasanya seperti berada di dalam sangkar yang besar. Ini gila, tapi aku hanya akan meminta sekali ini saja”

Kutelan ludahku pelan. Jantung bergemuruh dengan kencang memekakkan telingaku sendiri. Aku tau pasti kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut, sesuatu yang selalu saja kuharapkan sejak pertama bertemu. Perlaham kutatap wajah Jimin, ia menyunggingkan senyumnya. Senyum sama yang terus hadir di mimpiku akhir-akhir ini. Wajahnya perlahan mendekat hingga dapat kurasakan nafasnya menepuk pelan kedua pipiku. Mata kami saling terpaut, pandangannya membuat hanyut. Waktu serasa terhenti, hangat tangannya merengkuh wajahku. Kudapati kedua tanganku tergenggam kencang. Kupejamkan kedua mataku. Bibirnya menyentuh bibirku. Hangat, bibirnya bergerak pelan menautkan kedua bibirku. Kupu-kupu seperti beterbangan di dalam perutku, naik ke atas dadaku. Sebelah tangannya meraih punggungku, menopangnya. Bibirku semakin tenggelam dalam bibirnya.

Lama, entah berapa lama waktu berlalu, ia kembali menarik tubuhnya. Kurasakan seluruh tubuhku memanas. Kutundukkan kepalaku, tak berani menatap wajahnya.

“Kau mau jadi kekasihku?”tanyanya kemudian. Tak langsung ku jawab, tangannya meraih daguku dan mengangkat wajahku pelan. Tatapannya terlihat lebih tegas, menusuk ke dalam mataku. “Hyebin-ah, Kau mau jadi kekasihku?”

Kusunggingkan senyumku yang tertahan dan kuanggukkan kepalaku. “Ya, aku mau”.

***

Saat itu aku tidak berfikir jauh. Saat itu aku tidak berfikir lebih panjang. Aku hanya memilih apa yang membuatku bahagia. Atau kurasa seperti itu…

***

6 bulan. Kutatap kalender ponselku dan menghela nafas. Berguling pelan, merebahkan diri di atas lantai dingin ruang latian sembari menatap kosong langit-langit. Kupejamkan mataku, perlahan wajah Jimin muncul dihadapanku. Aku sangat merindukannya. Meski kami saling bertukar pesan dan menelfon, tetap saja tidak ada penawar lain selain melihat wajahnya, senyumnya.

“Oh, Manajer-oppa”gadis di sebelahku berseru, membuatku otomatis menarik badanku dan berdiri tegap, berbaris bersama gadis-gadis lain di ruangan.

“Kalian akan segera masuk proyek untuk debut jadi kontrak sudah disiapkan untuk minggu depan”manajer oppa berjalan dan berhenti tepat dihadapanku. “Memang tidak ada aturan selama menjadi trainee, tapi ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan mulai sekarang!!!”suaranya yang keras bergaung di penjuru ruangan.

Badanku bergidik dibuatnya. Kutelan ludah dan kualihkan pandangan ke lantai, kepalaku berdenyut kencang. Aku tau pasti kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut. Bagaimana ini? Aku harus berbicara dengan Jimin segera. Aku tidak ingin berpisah, tapi keadaan ini membuatku takut. Kutarik nafas dalam dan mengangkat wajahku pelan, tak ingin terlihat gugup. Manajer oppa masih berdiri di hadapanku, tak bergerak sama sekali, mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Tajam dan menakutkan.

“Jika kalian mempunyai pacar, putuskan sekarang!!! Jika kalian serius ingin debut”ia melirikku tajam, “Lakukan!!”. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan.

Detak jantungku seolah terhenti sebentar dan berdetak lagi jauh lebih cepat. Beberapa gadis di sebelahku langsung mengeluh pelan, beberapa lagi hanya tertawa karena mereka tidak memiliki kekhawatiran. Aku sendiri terdiam, otakku membeku. Beberapa dari mereka mengajakku berbicara, tapi aku hanya mengangguk dan menyunggingkan senyumku saja. Aku harus menelfonnya, aku harus berbicara dengannya.

“Aku merasa tidak enak badan. Aku pulang lebih dulu”sahutku, entah pada siapa. Segara ku raih ranselku dan berlari keluar ruangan. Alih-alih menuju pintu keluar, kunaiki tangga menuju atap gedung. Segera kuraih ponselku dan menelfon Jimin. Aku harap di tidak sedang sibuk.

“Ne?”Jimin mengangkat telfon, suaranya teredam suara bising disekitarnya membuatku sedikit menjauhkan ponselku dari telinga.

“Oppa dimana?”tanyaku kemudian.

“Ya?!”Tanya Jimin kemudian. Kurasa suaraku mungkin tidak terdengar jelas disana.

“Oppa dimana?”kukeraskan suaraku.

“Aahhh! Disini bising sekali! Kirim pesan saja, Oh!”sahutnya kemudian sebelum akhirnya memutus sambungan.

“O!”kutatap ponselku tajam. Sedikit merasa kesal, kecewa, takut. Entahnya semua saling beradu di dalam dadaku. Akhirnya, ku buka ruang chatku dengan Jimin. Bagaimana memulainya? Ya Tuhan, aku harus berbicara langsung dengannya.

To : Jimin oppa

Oppa, kurasa kita harus bicara.

Lama,  balasan dari Jimin masuk.

From : Jimin oppa

Maaf, aku baru dari acara musik. Ada apa? Eung~

Aku bisa menelfonmu kembali setelah kembali ke Korea nanti.

            Kuhela nafasku kesal. Kurasa, hatiku menjadi semakin lemah setiap kali dia memintaku untuk menunggu. Kuletakkan ponsel sembarang dan kupejamkan kedua mataku. Ini jauh lebih rumit dari yang kupikirkan. Aku tidak pernah berfikir hingga sejauh ini. Jimin adalah seorang penyanyi yg sedang naik daun, sedangkan aku seorang trainee yang sedang mencoba mengejar mimpinya. Tidak ada tempat bersembunyi bagi kami.

Ponselku bergetar kembali. Kuraih ponselku, mecoba menyingkirkan pikiran-pikiran buruk di kepalaku. Ya, jika memang Jimin yang membuatku bahagia, seharusnya ku tidak perlu mengeluh.

From : Jimin oppa

Hey~ Ada apa? Kenapa tidak membalas?

Kau baik-baik saja?

Aku janji akan segera menemui setelah aku kembali ke Korea. Kau tau aku selalu menepati janji. ^^

Aku tersenyum lemas. Bahkan hanya dengan memikirkannya aku sudah sangat bahagia.

***

Aku berjalan pelan menyelinap keluar rumah sembari memakai hoodie jaketku. Ini sudah sangat larut. Jimin baru saja sampai di Seoul dan menelfonku, mengajak bertemu di lapangan basket di dekat rumahku. Kulirik jam tanganku, jarum pendeknya menunjuk ke angka tiga. Jalanan sama sekali sepi, hanya satu mini market tak jauh dari lapangan yang masih buka. Kulangkahkan kaki dengan cepat memasuki lapangan basket yang hanya di batasi oleh jeruji besi di sekitarnya. Kosong. Kusipitkan mataku dan menyusuri setiap sudutnya dengan seksama. Tetap saja kosong.

Kuhela nafasku, sedikit rasa kecewa menusukku. Ya, aku sedikit menghabiskan waktuku untuk merapihkan diri setelah Jimin menelfon tadi, jadi kukira aku akan langsung menemukan sosoknya disini tepat saat aku sampai. Kuayunkan kakiku menendang rumput liar yang tumbuh di lapangan. Kurogoh saku jaketku dan mengambil ponselku. Tepat saat aku akan menekan tombol dial, seseorang memelukku dari belakang. Kaget, kucoba untuk membalikkan tubuhku tapi pelukannya semakin kencang membuatku tak bisa bergerak.

“Ssssttt…. Diam dulu, aku masih ingin mengisi ulang energiku…”suara Jimin terdengar di telingaku.

“Oppa?!”pekikku pelan. Kurasakan wajahnya bersandar pelan di bahuku. “Bagaimana nanti kalau ada yang melihat?”sahutku kemudian.

“Tenang saja”Jimin melepas pelukannya dan memutar tubuhku menghadap padanya. Ia menurunkan masker dan menyunggingkan senyumnya padaku.

Aku tersenyum, ketakutanku seolah sirna begitu saja. Laki-laki ini, aku tak bisa menggambar bagaimana aku sangat merindukkannya. Perlahan, dikaitkannya jemarinya pada jemariku. Hangat tangannya terasa mengalir ke seluruh tubuhku. Aku sadar dengan sangat bahwa aku sangat menyukainya, aku sangat mencintainya, aku sangat menginginkannya.

Tapi…

Hubungan kami berbahaya…

“Aku membelikanmu kopi dan chocopie. Kau terlihat sangat kurus sekarang”ia membawaku menuju bangku penonton yang gelap tertutup pohon besar di luar lapangan. “Bagaimana trainingmu?’tanyanya kemudian.

“Aku masuk proyek debut”sahutku kemudian. “Kontrak sudah berjalan dan mungkin aku akan segera pindah ke asrama”

“Benarkah?! Bukankah itu patut di rayakan?!”Jimin menatapku senang. “Setelah kau debut, kita akan sering bertemu di acara-acara music!! Bukankah itu menyenangkan??!” kedua matanya berbinar.

“Ya”kuanggukkan kepalaku pelan. “Sejujurnya aku cemas. Tidakkah yang kita lakukan sekarang ini sangat berbahaya? Oppa juga pasti menandatangani kontrak untuk tidak memiliki kekasih, bukan?”

Senyum di wajah Jimin memudar. “Apa itu yang ingin kau biacarakan denganku?”

Kuanggukkan kepalaku pelan.

“Kau masih mencintaiku?”tanyanya kemudian.

“Tentu saja!”sahutku tanpa perlu berfikir. “Aku hanya….”

Jimin membelai kepalaku dan mengecup pelan keningku. “Kita bisa melakukannya”digenggamnya kedua tanganku. “Aku tidak peduli seberapa lama, aku masih bisa bersabar menunggu. Kita hanya perlu melakukannya dengan hati-hati dan perlahan”

“Tapi…”

“Percaya padaku”Jimin menyunggingkan senyumnya untuk kesekian kalinya. “Semua akan baik-baik saja…”

Kutatap wajah Jimin dan tersenyum. Matanya menatapku sendu. Terlihat sekali ia kelelahan setelah baru saja mendarat di Seoul, tapi tetap saja ia berada dihadapanku sekarang ini. Kuraih wajahnya dengan sebelah tanganku. Wajah ini, sosok ini… Dia yang membuatku bahagia. Aku tidak ingin melepasnya.

***

“Jelaskan ini!”sebuah foto dibanting keras di hadapanku. Kutarik nafasku dalam-dalam mencoba meredam gemuruh detak jantungku yang tak terkendali sekarang ini. Kutundukan kepalaku dalam-dalam, tak berani menatap pria bertubuh besar yang ada di hadapanku.

“Lihat fotonya!”teriakannya bergaung di telingaku, membuatku bergidik. Ku gerakan kedua bola mataku. Tuhan. Hatiku terasa nyeri. Memang sosokku tak begitu jelas di dalam foto tersebut, tapi tak dapat di bohongi itu memang diriku bersama Jimin.

“Saya minta maaf”kubungkukkan tubuhku. “Tapi, kami….”

“Dengar! Kau mau menghancurkan masa depanmu hanya karena seorang laki-laki?!!!”ditodongkannya jari telunjuknya ke wajahku. “Belum debut, kau sudah berani membuat masalah?!! Kau membahayakan keseluruhan grup!!! Apa kau sadar itu?!!!”dipukulnya meja di hadapanku dengan keras.

“Saya minta maaf”tenggorokanku tercekat, wajahku mulai memanas, kedua tanganku gemetaran hebat.

“Putuskan laki-laki ini sekarang atau kau keluar dari grup!!!”suaranya semakin mengeras, kali ini tak bisa ku bendung air mataku. “Mana yang kau pilih?!!!”sahutnya lagi.

“A.. Aku…”. Tak pernah terbayangkan olehku bahwa mencintai seseorang bisa menjadi sesalah ini. Aku tau, pasti Jimin juga mengalami hal yang sama denganku sekarang ini. Ia pasti juga mengalami hari yang berat. Tapi ini akan lebih mudah baginya yang sudah debut. Sedangkan aku?

“JAWAB!!!”meja dihadapannku kembali digebrak.

“A.. Aku…”. Otakku berputar, mengenang kembali semua yang telah kulakukan dan ku korbankan untuk meraih posisiku sekarang ini. Sedikit lagi, hanya tinggal selangkah lagi aku bisa meraih mimpiku dan menjadi seorang penyanyi professional. Seharusnya, sedari awal aku menjernihkan pikiranku. Sebesar apapun perasaanku pada Jimin, yang kami lakukan ini sudah terlampau egois. Pada akhirnya kami hanya akan menyakiti diri kami masih-masing.

Kutarik nafasku dalam-dalam. Kepalaku berputar hebat. Ini akan menyakitkan. Keputusan yang akan ku ambil akan sangat menyakitiku, merapuhkanku, memporak-porandakan hatiku. Tapi aku tidak bisa. Aku memiliki 2 mimpi di saat yang bersamaan tapi saling bertolak. Aku harus melepaskan salah satunya. Harus. Tidak hanya untukku. Ini, Ini untuk kami berdua dan yang lainnya.

“Aku…”perlahan kuangkat wajahku. “Aku akan berpisah dengannya”

“Baiklah. Kuberikan kau waktu hingga besok”sahut manajer oppa yang kemudian pergi meninggalkan sendiri di dalam ruangan.

Kutarik nafasku kembali, kali ini seluruh tubuhku terasa sakit. Setiap tarikan nafas yang ku ambil serasa sayatan di dalam hatiku. Sekarang, bagaimana aku mengatakannya pada Jimin. Bagaimana aku bisa mengatakannya padanya tanpa terlihat menyedihkan dihadapannya? Air mataku mengalir semakin deras. Kutenggelamkan wajahku di kedua telapak tanganku mencoba menahan tangisanku. Tapi semakin aku menahannya, semakin keras tangisanku menjadi.

Ponselku berdering. Kurogoh kantong celanaku dan mengambilnya. Nama kontak Jimin tertera di layar. Ya Tuhan, bisakah ia menelponku di saat yang lebih tepat? Kulempar ponselku ke atas meja dan deringnya berhenti. Tapi tak lama, ponselku kembali bordering. Ku tutup kedua telingaku, bahkan hanya dering telfon darinya membuatku semakin tidak bisa menahan tangisanku. Aku mohon, biarkan aku sendiri dlu sekarang ini. Biarkan aku mengabiskan rasa sakit ini dan tangisku. Aku tidak ingin menangis di hadapannya. Tidak!

***

From : Jimin oppa

Kenapa tidak mengangkat telfonku? Apa kau baik-baik saja? Apa kau ingin bertemu?

Setelah beberapa putaran jarum jam, akhirnya ponselku berhenti berdering. Kuraih ponselku dengan tangan gemetaran dan membaca pesan masuk dari Jimin. Laki-laki ini, bagaimana ia bisa minta bertemu di saat seperti ini?

To : Jimin oppa

Oppa, sepertinya kita tidak usah bertemu lagi.

Kutarik nafasku yang masih tersengal. Tapi kemudian ponselku berdering. Untuk kesekian kalinya, nama Jimin muncul di layar ponselku. Kupejamkan mataku, mencoba mengumpulkan kekuatanku yang tersisa.

“Halo”sahutku kemudian.

“Hyebin-ah! Ada apa? Kenapa kau menjawabku seperti itu?”

“Oppa”

“Aku tak mengerti? Apa karena artikel itu? Aku yakin semua akan baik-baik saja! Aku…”Jimin menyerangku dengan kata-katanya, seolah tak ingin memberikanku waktu untuk menjawabnya.

“Oppa! Dengarkan aku dulu!”sahutku kemudian. “Dengarkan aku atau kumatikan telfonnya?!”

“Hyebin-ah”kali ini suara Jimin terdengar putus asa. “Aku tau apa yang ingin kau katakan. Tapi setidaknya, bisakah kita bertemu dulu? Sekali saja. Sehari saja. Setelah itu semua terserah padamu. Aku tidak akan menghalangimu…”

Kata-katanya membuatku terdiam. Tidak, bukan dia yg menghalangiku. Aku yang menghalanginya. “Oppa…”

“Aku mohon…”suaranya membuat jantungku bergetar. Kuremas bagian bawah bajuku keras. Kepalaku berdenyut memikirkan jawaban yang harus kuberikan padanya.

“Satu hari saja…”sahutnya lagi, “Meskipun itu yang terakhir”

***

Kulangkahkan kakiku dengan cepat dan menarik maskerku menutupi wajahku. Dinginnya hembusan angin malam ini membuatku bergidik. Aku tidak tau apa keputusanku ini benar atau tidak untuk mengiyakan permintaan Jimin untuk bertemu. Akan lebih mudah bagiku untuk berpisah tanpa harus melihat wajahnya. Tapi, perkataannya kemarin masih terngiang jelas di telingaku.

“Aku tidak pernah bisa benar-benar membahagiakanmu. Aku tidak bisa memberikanmu waktuku sepenuhnya. Aku mohon sehari saja, aku ingin bersamamu layaknya sepasang kekasih. Aku ingin melihatmu tertawa, membuatmu bahagia. Aku ingin benar-benar menjadi kekasihmu, meski hanya 1 menit waktu yang kau berikan untukku.”

Hyebin menghela nafasnya berat. Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah studio kecil. Ia belum pernah kesini sebelumnya, entah mengapa Jimin memilih temapt ini untuk bertemu. Tapi, melihat suasana di sekelilingnya, daerah ini memang sangat hening dan sepi.

Didorongnya perlahan pintu kaca studion dan masuk ke dalam, sepi. Hanya ada dirinya dan seorang laki-laki dari balik meja respsionis disana.

“Kau yang bernama Hyebin?”Tanya laki-laki itu mengejutkanku.

“O! Ne~”kuanggukkan kepalaku.

“Ke lantai 2, ruang pertama di sebelah tangga”sahutnya kemudian. Kubungkukkan badanku dan berjalan sesuai dengan instruksinya, meski entah mengapa ini terasa aneh bagiku. Kutarik nafasku dalam-dalam sesampainy di depan ruangan yang dijelaskan. Perlahan kuraih gagang pintunya. Sebagian dariku memintaku untuk mundur dan pergi, sebagian lagi memintaku untuk cepat-cepat membuka pintu.

“Aku tidak boleh menangis…”bisikku lirih. Kutarik hoodieku turun dan kulepas masker yang menutupi wajahku. 5 menit berlalu, dan aku masih pada posisiku. Kupejamkan kedua mataku, bagaimana aku bisa merasa setakut ini menemui Jimin? Kuhela nafasku untuk kesekian kalinya, kali ini jemariku mulai bergerak. Setidaknya ku harus menghadapi ini, aku harus menghadapinya sebelum aku melangkah pergi.

Perlahan kuputar gagang pintu di hadapanku dan mendorongnya terbuka. Sedikit terkejut kutatap kerlipan lampunatal menghiasi penjuru ruangan. Jimin berdiri di hadapanku, tersenyum. Melihatnya tersenyum seperti itu, membuat hatiku lemah lagi. Kutahan emosiku semampuku. Aku tidak ingin menangis atau pun tersenyum sekarang ini. Aku hanya ingin menyelesaikan ini secepatnya tanpa ada perasaan sedikitpun yang terlibat, karena dengan begitu ini akan menjadi lebih sedikit menyakitkan.

“Kau sudah datang?”Jimin berjalan menghampiri. Raut wajahnya tenang, seolah tidak terjadi apapun. Tangannya meraih bahuku dan menariknya ke dalam pelukannya.

“Oppa yakin ini tidak apa?”sahutku kemudian. Studio ini mungkin di sewakan untuk penyanyi-penyanyi amatir merekam lagu, ada ruang rekaman dan audionya juga. Tapi, entah mengapa Jimin dan menyulapnya menjadi sangat indah. Selain lampu natal yang menghiasi langit-langit ruangan, sebuah meja makan diletakkan manis lengkap dengan hidangan di atasnya dan beberapa lilin kecil di tengah ruangan.

“Studio ini milik kenalanku jadi kau tak perlu khawatir”Jimin melapas pelukannya dan menatapku. “Jangan pikirkan hal lain sekarang ini. Aku ingin kita makan malam bersama layaknya sepasang kekasih.” Dikecupnya keningku pelan.

“Kau tau aku tidak pandai memasak”ia tertawa pelan dan membawaku ke meja makan, “Tapi setidaknya aku bisa membuat omelet”

Aku duduk di atas kursi yang sudah dipersiapkan Jimin dan beralih menatap hidangan di hadapanku. Sedikit menahan tawa, omelet buatannya lebih Nampak seperti telur orak-arik dengan sosis dan tomat. Tapi setidaknya, ini pertama kalinya aku mencicipi masakannya. Aku tau ini tidak mudah baginya, tapi aku sangat berterimakasih ia mau melakukan ini untukku. Setidaknya di hari dimana kami akan berpisah.

“Oppa”sahutku kemudian, membuat Jimin menoleh padaku. “Apa ini bisa dimakan?”. Hati sakit melihat Jimin, tapi aku tidak boleh merusak hari ini.

“Tentu saja!”Jimin berseru penuh semangat. “Sudah aku tes. Setidaknya Jungkook masih hidup sampai sekarang ini”candanya yang akhirnya membuatku tertawa.

Jimin menghela nafasnya. “Yah….”ia duduk di hadapanku dan menopang dagunya di atas meja. “Sudah lama aku tidak melihatmu tertawa seperti ini”

“Eung..”kuremas kedua tanganku menahan hantaman di jantungku saat ia mengatakannya.

Melihatku terdiam, Jimin kembali menyunggingkan senyumnya. “Ayo dimakan!”sahutnya kemudian.

Kuanggukkan kepalaku dan meraih sendok, aku sedang tidak selera sekarang ini. Sama sekali. Melihat Jimin bertingkat seolah semuanya baik-baik, membuatku justru semakin rapuh. Apakah dia memang sengaja menahannya dihadapanku, ataukah dia memang baik-baik saja dengan perpisahan kami? Apakah hanya aku sendiri yang terluka?

“Kenapa tidak dimakan? Sudah ku katakana ini sangat-sangat aman”celotehnya.

“Oppa”kuletakkan sendokku kembali di atas meja. Perlahan, kutatap wajah Jimin dengan emosi bercampur aduk. Senyumannya mulai mengendur, ia meletakkan sendoknya dan berjalan menghampiriku.

“Hyebin-ah. Hari ini…”Jimin menggenggam tanganku.

“Aku mencintaimu”entah angina pa yang menghantamku, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir. “Aku ingin kau tau kalau aku sangat mencintaimu. Ini tidak mudah bagiku”

“Jangan menangis”sahut Jimin kemudian. “Kau tidak perlu mengatakannya, aku sudah tau kalau kau mencintaiku…”

“Maafkan aku, semua menjadi sepert ini”kutundukkan wajahku.

“Tidak”tangan Jimin meraih wajahku. “Aku yang egois. Seharusnya aku paham posisiku dan tidak memaksamu untuk menyesuaikanku. Aku tidak ingin menjadi penghalangmu”

Meninggalkan kursiku, ku tenggelamkan diri dalam pelukannya. Kusandarkan wajahku di dada dan merekatkan lengannku melingkari pinggangnya. Aku memeluknnya begitu erat seolah melampiaskan rasa rindu yang menumpuk banyak dalam diriku.

Jimin membelai kepalaku. “Malam ini aku milikmu”

Kerenggangkan pelukannya dan menengadahkan kepalaku menatap wajahnya. Jimin menyunggingkan senyumnya. “Mau berdansa denganku”sahutnya kemudian dan suara music klasik mulai terdengar.

“Bagaimana…”kutatap Jimin heran. Laki-laki itu hanya tersenyum dan menyelipkan kedua kakinya di bawah kakiku. Kedua tangannya melingkar di pinggangku erat dan kemudian ia mulai menggerakkan kakinya mengikuti irama, membuat kami berputar-putar mengelilingi ruangan. Kudapati pandanganku tak bisa lepas darinya. Cahaya lampu yang berkilauan di belakangnya membuat wajahnya semakin lembut dan menghanyutkan. Aku bahkan tidak menyadarinya ketika musik hamper selesai. Jimin mendorongku ke tembok dan meletakkan kedua tangannya memagari tubuhku. Didekatkannya wajahnya padaku dan dikecupnya kening, pipi, dan sudut bibirku pelan. Jantungku berdegup kencang, kupastikan siapapun dapat mendengar dengan jelas sekarang ini. Kali ini didekatkannya lagi wajahnya padaku dan di lekatkannya bibirnya di bibirku. Lembut dan hangat. Digerakkan bibirnya perlahan melumat kedua bibirku, semakin lama ia semakin mempercepat gerakannya. Nafas kami beradu. Kudapati kedua tanganku kini menyusuri otot perutnya naik ke dadanya. Ia memperdalam ciumannya membuatku tersentak dan melingkarkan kedua tanganku dilehernya mencari keseimbangan. Wajah kami saling meliuk, tak ingin melepas satu sama lain. Dan disaat aku mulai kehilangan tenagaku, Jimin melepas ciuman kami dan menarikku ke dalam pelukannya.

“Aku…”punggungnya bergetar, suaranya terdengar getir. “Aku tidak ingin melepasmu” isakannya terdengar.

Kubelai punggung pelan. “Akupun, oppa. Tapi ini satu-satu yang bisa kita lakukan. Jalan kita berbeda”

“Aku tau ini demia kebaikan semua tapi…”

“Oppa”sahutku kemudian, entah darimana kudapatkan kekuatan untuk mengatakannya, “Kita tidak boleh egois. Jika kita bersama dan hanya menjadi penghalang bagi satu sama lain, kita harus melepasnya. Aku akan tetap ada, hanya saja kali ini dengan jarak yang lebih jauh. Oppa akan baik-baik saja, aku yakin itu. Oppa akan segera melupakanku. Kita akan saling mengucapkan selamat tinggal dan melihat satu sama lain dari jauh. Bagiku, itu sudah sangat cukup. Aku akan bahagia selama melihat oppa tersenyum.”

Kutarik nafasku dalam-dalam “Dan jika suatu hari, kita mendapatkan kesempatan lagi. Tidak hanya satu hari, aku akan memberikan seluruh hari yang tersisa dalam hidupku untuk oppa…”

Kueratkan pelukanku pada Jimin. Kami memang hanya memiliki satu hari ini untuk bersama. Tadinya kupikir ini akan cukup, tapi tidak. Esok hari aku akan meminta satu hari lagi pada Tuhan untuk dapat bersamanya, juga hari berikutnya dan seterusnya hingga waktuku habis. Tapi kali aku harus melepasnya, karena jika kami bersama, hari apapun akan terasa sebagai luka. Ya. Aku akan melepasnya. Aku akan melepasnya…

 

2 responses to “[FREELANCE] 하루만 (Just One Day)

  1. salah fokus ke posternya. cantik banget sih posternya T.T dan entah kenapa aku suka ending kayak gini. gak dipaksain😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s