[FREELANCE] AKAI ITO

akai-ito

a fanfic by drixya (was a bubblecoffee97)

Song Mino and Jo Kisum’s characterization

|| FluffTeenFiclet ||

Disclaimer

Casts belong to God. I just own the storyline.

For Plagiarist, go away and be proud of yours.

Thanks to FIFI Design for the beautiful poster.

Kau tahu legenda Akai Ito, kan?

▬ ▬ ▬

“APA-APAAN INI?!”

Mino yang tengah terlelap dikejutkan oleh seruan ‘merdu’ yang menyapa gendang telinganya dengan amat sangat tidak sopan. Gadis yang tengah duduk tepat di sampingnya berkacak pinggang. Meski kelopak matanya belum terbuka penuh, sekilas Mino melihat raut kesal di wajah yang dikenalinya tiga tahun belakangan.

Sambil sesekali menguap, Mino bertanya, “Apanya yang ‘apa-apaan’?” Ujung jari-jarinya menggaruk tengkuk, tak lupa mengerjap beberapa kali. Ia baru saja tersadar dari tidur siangnya yang nikmat, tentu ia belum bisa menangkap apa yang dimaksud Kisum. Nyawanya saja belum terkumpul sepenuhnya.

“Itu, lihat! Pasti ada yang menjahili kita.” Kisum menunjuk-nunjuk kakinya dan Mino yang terbalut sepatu serupa. Tak ada yang aneh di mata pemuda bermarga Song, kecuali… Ck! Seseorang di balik pohon berjarak beberapa belas meter tengah menampilkan cengiran tanpa dosanya sudah cukup untuk menyadarkan Mino apa yang terjadi dan siapa si pelaku. Jiwon. Tentu saja, siapa lagi yang sangat suka menjahilinya?

“Eh, tunggu. Kenapa kau di sini?” tanya Kisum begitu menyadari sesuatu yang lebih ganjil, keberadaan Mino yang tak seharusnya. Ia ingat sebelum tidur tadi, ia hanya sendirian tanpa siapapun yang menemani. Karena memang begitu biasanya, ia lebih senang tiada yang mengganggu di tempat yang ia sukai ini. Tempat dimana ia dapat melepas penat dengan hembusan angin yang memanjakan.

Mino berdehem sebentar, mencari sebuah alasan sebelum menjawab, “Kau terlihat sangat lelap tiap tidur di sini. Aku jadi penasaran ingin mencoba.”

Kisum mendengus, merasa alasan yang pemuda itu sampaikan sangat tidak masuk akal. Memang Mino pikir itu sesuatu yang luar biasa sampai perlu ditirunya pula? Dan apa ia pikir Kisum adalah gadis yang begitu bodoh hingga mudah dibodohi? Keyakinannya bahwa ia sedang dipermainkan menguat hingga ia merasa tekanan darahnya mungkin saja naik secara drastis.

Dengan kesal, Kisum berusaha melepaskan simpul yang mengikat tali sepatu keduanya dengan kencang. Tak peduli bahwa ia harus menarik kaki Mino sampai ia meringis kesakitan.

“Jangan dilepas!”

Seruan itu memang sukses menghentikan usaha Kisum namun tak benar membuatnya lebih baik. Gadis Jo justru mendelik tak senang, menatap Mino seolah ia telah melakukan hal yang teramat salah. “Memangnya kau mau terus terikat seperti ini?!” tanya Kisum galak membuat si pemuda berjengit kaget.

Sebisa mungkin Mino segera bersikap tenang, “Kau tahu legenda Akai Ito, kan?”

Gadis di sisinya mengernyit bingung dan kembali bertanya galak meski tak semenyeramkan sebelumnya, “Lalu apa hubungannya?” Sedikit banyak Mino bisa merasa tenang karena sepertinya kemarahan Kisum mulai teralihkan dengan pertanyaan tadi.

“Anggap saja tali sepatu kita yang terikat ini seperti akai ito, benang merah yang mengikat takdir kita berdua,” jawab Mino disertai senyum hangat miliknya.

Hening.

Baik Kisum maupun Mino tak lagi mengluarkan suara. Tatapan Kisum pada si pemuda tak dapat dimengerti sedang pemuda tersebut masih mempertahankan senyumnya seraya memperhatikan tiap detail rupa Kisum. Perlahan merah mendominasi pias wajah Kisum, antara marah atau tersipu sebagai pemicunya.

“Berhenti menggombal dan menatapku seperti itu,” ujar Kisum pada akhirnya. Ia memalingkan wajah lurus ke depan dan bersidekap. Pemandangan itu sudah cukup memberi tahu Mino bahwa Kisum tak semarah sebelumnya.

“Dan berhentilah merajuk, baby,” balas Mino.

Kedua pipi Kisum semakin memerah, “Aku tidak merajuk! Dan jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu!” Kalimat kesal tersebut nyatanya tak menimbulkan efek jera, justru membuat Mino terkekeh. Dengan lengan kanannya, ia merangkul pundak Kisum agar lebih mendekat.

“Apa semua ibu hamil seperti kau yang sangat suka memarahi suaminya?”

Sang istri yang tak lain ialah Kisum hanya mengerucutkan bibir. Ia memang menyadari belakangan emosinya sangat tidak stabil hingga hal-hal kecil sekalipun sanggup memicu kemarahan. Namun mendengarnya langsung dari lelaki yang dicintainya membuat ia merasa telah menjadi seorang istri yang begitu buruk. Terlebih Mino-lah yang sering ia jadikan pelampiasan amarahnya. Seperti pagi ini, ia menyalahkan Mino atas insiden jatuh serta pecahnya sebuah gelas berisi susu yang sebenarnya ialah kesalahannya sendiri yang tak sengaja menyenggol gelas itu saat sedang sarapan.

“Maaf,” bisik Kisum. Bingung harus mulai dari mana, hanya permintaan maaf yang terlintas olehnya. Namun bagi Mino, itu lebih dari cukup. Sejujurnya, ia tak begitu mempermasalahkan kesensitifan Kisum yang makin hari makin parah. Hanya saja sedikit banyak ia merindukan saat dimana dirinya dapat berdua bersama Kisum dengan suasana hati istrinya yang baik.

“Tak apa, aku mengerti. Tapi bisakah untuk saat ini saja kau tidak bersikap galak lagi? Kasihan baby kita yang belum lahir sudah mendengar ibunya terus marah,” ujar Mino seraya mengusap perut istrinya yang masih rata.

Kisum memperhatikan perlakuan Mino yang mengusap sayang perutnya seolah membayangkan bayi mereka yang baru delapan bulan kemudian akan lahir ke dunia. “Ok, untuk sekarang aku tidak akan galak tapi aku tidak menjamin akan bertahan lama kalau kau membuatku kesal lagi,” Kisum mengakhiri kalimatnya dengan kekehan. Meski kemungkinan perubahan emosi Kisum dapat memburuk lagi, Mino senang dapat kembali mendengar tawa ringan sang istri setelah hampir sebulan tak bosannya marah dan mengeluh.

“Setidaknya cintamu padaku tetap bertahan lama, kan?”

Kelereng netra Kisum berputar malas namun kemudain menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami. “Tentu saja. Kita sudah terikat akai ito, kan?” ucapnya sambil melirik tali sepatu mereka yang masih terikat satu sama lain. Mino tertawa lepas mendengar ucapan kekasih hatinya. Rangkulan Mino pada Kisum mengerat seiring bahagia yang memenuhi hati si lelaki.

“Ya, kau benar. Kita terikat akai ito.”

END

2 responses to “[FREELANCE] AKAI ITO

  1. Aaaa suka bangettt. Jarang-jarang ada ff lain selain exo. Akhirnya nemu juga. Keeep writing ya author nim, salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s