[FREELANCE] All Is Patient

Poster All Is Patient

Title:All Is Patient

Author:Candyness (@candyness6)

Cast:

Park Chanyeol (EXO)

Oh Sehun(EXO)

Son Wendy (RED VELVET)

Kang Seulgi (RED VELVET)

And others

Genre:Romance

Rating:PG­-15

Lenght: Chaptered

Disclaimer :
Fanfict ini murni karangan Author, dan fiktif belaka.This story is mine. Don’t plagiat! No Bash!

Happy Reading~

Chapter 1

Sinar matahari masuk ke celah jendela kamar, Wendy yang merasa terganggu menjadi terbangun dari tidur nyenyaknya. Mengucek mata lalu melirik jam.

What? Aku bisa terlambat!” Serunya sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.

Ternyata jam menunjukkan pukul 8 am. Ia harus sudah sampai di Kantor pukul 9 am. Kalau tidak, bisa saja bosnya akan mencekik lalu menendangnya keluar dari kantor. Ah tidak, Ia akan bekerja pada bos baru! Nanti ada penyambutan Direktur baru. Ia berdoa semoga bosnya yang baru tidak galak.

Wendy bekerja di salah satu perusahaan majalah besar di Korea. Ia bekerja disana baru 1 hari yang lalu, dan hari ini adalah hari keduanya. Ia masih magang si, namun Ia tetap bangga bisa bekerja di perusahaan besar.

Wendy  tidak tinggal bersama Ayah-Ibunya, Ayahnya sudah meninggal 4 tahun lalu dan Ibunya tinggal jauh dari Wendy, entah dimana itu. Ia tinggal bersama Kakak sepupunya, Bae Irene di sebuah apartement. Irene sedang berada di rumah orangtuanya, jadi Ia sedang sendirian.

Selesai mandi, Wendy memakai sneakers nya dengan tergesa-gesa.

“Aish, kenapa susah sekali masuk!” Wendy kesulitan memakai sneakers nya karena tangan satunya memegang tas sehingga Ia hanya memakai satu tangan.

Akhirnya, Wendy bisa memakaisneakers nya. Iapun berlari keluar dari apartemennya.

“Ah, Aku bisa gila!” Desah Wendy. Sekarang sudah pukul 08.45. bagaimana kalau Ia terlambat?

Bus yang sedari tadi ditunggu Wendy tidak kunjung datang. Jarak apartement ke kantor cukup dekat. Hanya saja, kalau jalan kaki bisa memakan banyak waktu yang tersisa, apalagi di Seoul begitu padat, banyak orang lalu lalang. 5 menit berlalu, akhirnya bus berhenti di depan halte. Langsung saja Wendy menaikinya.

~

Disisi lain, seorang pemuda jangkung sedang berada dalam mobil mewahnya.

“Bisakah Kita lebih cepat?” Tanya Park Chanyeol—pemuda itu pada Supirnya yang sedang menyetir.

“Ah ne” Supir Lee melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi.

“Hari ini Anda akan menjadi Direktur di Perusahaan. Apakah Anda gugup?” Tanya Lee Ahjussi.

“Kenapa harus gugup? Bukankah Aku sudah menguasai semua materi?” Seru Chanyeol dengan percaya diri yang tinggi.

Park Chanyeol adalah seorang Chaebol yang diberi kepercayaan Ayahnya untuk menjadi pewaris perusahaannya, yaitu perusahaan majalah. Ia ditunjuk sebagai Direktur utama. Chanyeol memiliki Seorang kakak perempuan. Namun kakaknya tidak di beri kepercayaan untuk mengurus perusahaan majalah, dan meminta Noona Chanyeol itu mengurusi perusahaannya di bidang fashion. Dan biasanya kalau ada sesi pemotretan majalah, kedua perusahaan yang memiliki Pemimpin yang sama tersebut bekerja sama. Tentu saja, Mereka kan satu manajemen.

~

Wendy turun dari bus dengan tergesa-gesa. Ia sudah gugup tidak karuan. Ini baru pertama kali Ia terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 09.07.

Wendy berlari sekuat tenaga untuk mencapai Kantor. Bahkan kini penampilannya terlihat agak berantakan. Tapi jangan salah, walau terlihat berantakan, Wendy tetap good looking. Ia selalu cantik.

Akhirnya, Ia sampai juga. Memang si, terlambat 10 menit. Tapi tak apalah, yang penting belum ada direktur yang datang.

Wendy ikut baris di jajaran karyawan yang sedang berdiri di samping pintu bersiap-siap menyambut presdir. Seorang wanita di sebelahnya menatapnya sangat sinis. Seohyun, nama wanita itu. Ia beberapa tahun lebih tua dari Wendy.

“Masih magang, eh sudah berani terlambat. Baru saja kerja satu hari” Seohyun menyindir Wendy. Wendy yang mendengar hanya menunduk, sejak awal Seohyun memang tidak suka padanya.

“Hey, Kenapa terlambat? Lihat, jam berapa ini?” Tanya Kang Seulgi, teman Wendy.

“Aku bangun kesiangan. Alarmku tak bunyi. Tak apalah, yang penting Presdir belum datang”

“Arasseo. Lain kali bunyikan alarmu dengan benar” Nasehat Seulgi.

“Arasseo chingu” Wendy tersenyum pada Seulgi.

Setelah 6 menit berlalu, sebuah mobil berhenti di depan pintu. Semua karyawan membungkuk 90o. Termasuk Wendy.

Seorang Pria tampan keluar dari dalam mobil. Tak lain, Ia adalah Park Chanyeol.

“Daebak. Tampannya!” gumam Seorang wanita yang dilewati Chanyeol. Tak lain adalah Seohyun.

Dumb Dumb Dumb Dumb Dumb Dumb~

Lagu Dumb dumb dari ponsel Wendy berbunyi nyaring.

Wendy membelalakkan matanya. OMG! Ia belum men-silent ponselnya. Ini bencana!. Dengan buru-buru Ia mematikan ponselnya.

“Milik siapa?” Suara berat Chanyeol membuat Wendy merinding. Semua staff dan karyawan saling bertatapan dengan penuh tanya.

“Kubilang tadi dering ponsel siapa?!” Seru Chanyeol agak keras. Wendy terlonjak.

“i.. itu mi..milikku” Wendy mengangkat tangannya keatas dengan gemetaran. Seulgi yang ada di sebelah Wendy menoleh was-was. Begitupun dengan semua orang yang ada disana. Kini pandangan mereka terfokus pada Wendy. Demi apapun, kini Wendy takut sekaligus malu.

Chanyeol menoleh ke sumber suara.

“Bagaimana bisa dalam situasi ini Kau tidak men-silent ponselmu ha?” Chanyeol mendekat ke arah Wendy.

“N..ne?” Tanya Wendy gelagapan.

“Aku paling benci jika harus mengulangi perkataanku” Ucap Chanyeol.

“I..itu, A..a..aku lu—”

“Apa Kau tak bisa bicara?” Tanya Chanyeol datar tepat diwajah Wendy. Wendy memundurkan wajahnya.

“Ne?” Wendy masih gemetaran.

“Kenapa bicaramu susah sekali? Aish sudahlah, Aku sungguh benci membuang waktuku sia-sia, apalagi untuk mengurus anak magang” Chanyeol geleng-geleng lalu berjalan ke depan. Namun Ia berbalik untuk menatap Wendy.

“Satu poin untukmu anak magang!” Chanyeol menunjuk Wendy dan kembali berjalan.

Wendy menghempas nafas kasar.

Seohyun tersenyum miring.

“Bagaimana bisa orang lancar bicara seperti ini dibilang tidak bisa bicara?” Gumam Wendy.

Gwencana. Katanya Dia memang terkenal dengan sikap dinginnya” Seulgi menepuk pundak Seulgi.

Fighting! Ini hari kedua kan? Kemarin saja Kau sangat semangat” Seulgi mengangkat dan mengepalkan tangannya memberi tanda semangat pada Wendy.

Wendy tersenyum. “Gomawo, Kau memang teman terbaikku” Ucapnya. Seulgi ikut tersenyum.

~

Chanyeol duduk di ruangannya.

“Bagaimana dengan tema edisi bulan ini?” Tanya Chanyeol pada Sekretarisnya.

“Ah ne, karena kemarin tidak ada yang memimpin rapat, jadi meeting di tunda, dan belum ada perkembangan” Jawab Sekretarisnya.

“Lalu sampai sekarang belum ada ide mengenai tema sama sekali?”

“Ne”

“Kalau begitu 1 jam lagi meeting. Suruh semua untuk mengumpulkan ide dengan baik dan setiap orang harus bisa mengeluarkan idenya” Suruh Chanyeol.

“Baik”

~

Wendy membuka ponselnya, mengecek siapa yang tadi menelpon sampai membuatnya gemetaran di depan bosnya seperti tadi.

Wajah Wendy menjadi suram ketika melihat siapa yang menelponnya.

“Wae? Kenapa wajahmu seperti itu?” Seulgi menatap Wendy.

“Ne? Tak ada apa-apa”

“Ayolah, katakan padaku. Aku sudah lama berteman denganmu, Aku tahu ekspresimu”

Wendy menghela nafas.

“Hutang Ayahku masih belum lunas” Wendy menekuk wajahnya.

“Mwo? Bukankah itu sudah lama sekali?” Seulgi berkata pelan.

“Ya, ini memang sudah lama. Mungkin Ia sengaja menyembunyikannya agar bunganya terus berkembang. Rentenir gila itu mengirimiku berbagai sms, bahkan telepon tadi adalah telepon darinya”

“Tapi Wendy, boleh Aku tahu berapa hutang Ayahmu?”

“200 juta won (sekitar 1,6-2,2 milyar rupiah), Akupun tak tahu berapa bunganya”

Seulgi kaget mendengarnya. Beruntunglah Ia dan keluarganya tidak memiliki hutang sama sekali.

Gwencana, Kau pasti bisa melunasinya, cepat atau lambat” Seulgi memberi semangat. Hanya itu yang bisa dilakukannya, Ia juga memiliki keadaan ekonomi yang di bilang cukup? Ia hanya anak dari keluarga sederhana, Ia hanya tinggal dengan adik sepupunya di sebuah apartemen kecil.

“Tapi Kau tahu kan? Dimana-mana rentenir itu meminjami uang dengan bunga yang besar. Aku takut hutangnya akan semakin banyak” Wendy menatap kosong.

“Aniya. Kau itu gadis kuat. Mana bisa Rentenir menang darimu?” Seulgi mencoba menghibur Wendy.

“Semoga saja” Wendy tersenyum tipis.

“Semuanya! 1 jam lagi akan ada meeting, tolong semuanya mencari ide dengan baik. setiap orang harus memiliki setidaknya 1 ide” Ucap Sekretaris Chanyeol yang membuat semua orang di ruangan itu menghela nafas dan mendumel tidak jelas.

“Ne!” Jawab orang-orang.

“Seulgi-ya, ayo makan siang” Ajak Wendy.

“Oh? Arasseo, kajja!”

~

Seorang pemuda berkulit putih bersih tiba di depan sebuah gedung dengan berbalut jas yang rapi. Sepertinya Ia pengusaha.

“Ah, Aku lapar” Katanya.

Pemuda itupun pergi menuju ke sebuah ruangan.

“Anyeong Hyung!” Sapa Pemuda itu.

“Oh, Sehun-ah!” Chanyeol berdiri menyambut temannya yang bernama Sehun itu.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik. Lalu Kau?”

“Yah, beginilah. Ah ya, Kau kesini di suruh Ayah?”

“Ya. Aku sekarang menjadi Wakilmu.”

“Ah begitu. Aku sudah menduganya” Kata Chanyeol.

“Hyung, tak makan siang?”

“Ah benar! Sekarang sudah jam makan siang”

“Yah, begitulah Kau. Suka lupa dengan hal seperti ini” Sehun mengomeli Chanyeol.

“Aigoo, Aku terkesan dengan perhatianmu” Kata Chanyeol bermaksud mengejek Sehun.

Sehun hanya tertawa kecil.

*****

Wendy dan Seulgi berjalan ke sebuah meja.

“Seulgi, Kau tidak lapar? Kenapa hanya minum kopi?” Wendy menatap Seulgi yang membawa segelas kopi. Bisa dibilang Wendy sangat lapar sekarang. tadi pagi Ia tidak sempat sarapan karena bangun terlambat.

Seulgi hanya nyengir. “Aku sedang tidak nafsu makan”

“Kau ini” Wendy sudah hafal betul. Jika Seulgi sedang tidak nafsu makan, mau dipaksa dengan cara apapun Seulgi akan tetap menolaknya untuk makan.

“Ah, Kau juga mau?” Seulgi menawari kopi.

“A—”

“Akh….” Kata-kata Wendy terputus ketika Seulgi menabrak seseorang. Dan kopinya mengenai jasorang itu.

“Ah jeosonghabnida. Saya tidak sengaja” Seulgi mengeluarkan sapu tangannya.

“Kang Seulgi?” Orang yang ditabrak palah bertanya dengan wajah terkejut. Seulgi mendongak.

“OhSehun?” Seulgi juga bertanya dengan wajah tak kalah terkejut.

“Ah benar kau Seulgi. Lama tak bertemu. Benar, Aku Sehun. Kau bekerja di sini?”

Ne. Lalu Kau kenapa ada di sini?”

“Bukankah Kita kesini untuk makan?” Sebuah suara beratmenyadarkan Sehun.

“Direktur Park!” Seulgi menunduk memberi salam pada Chanyeol, pemilik suara berat tadi. Begitupun Wendy yang sedari tadi bingung sendiri.

~

Jas Sehun masih terkena kopi dan belum di bersihkan. Ia berdiri di depan Seulgi. Membiarkan Chanyeol pergi dan Wendy duduk sendirian menyantap makanannya, acuh tak acuh dengan kegiatan Sehun dan Seulgi.

“Sehun, ottokke? Jasmu jadi basah, bagaimana ini? Apa Kau bekerja disini?” Seulgi panik di depan Sehun.

Sehun tersenyum.

Gwencana. Aku punya yang lain. Ya, Aku bekerja disini”

“Wah, apa ini hari pertamamu? Lalu Kau di bagian apa?” Tanya Seulgi.

“Apa Kau sungguh ingin tahu?” Sehun bertanya balik.

“Cih, Kau tak berubah sama sekali! Suka sekali menggodaku!” Ucap Seulgi. Sehun terkekeh.

“Aku tak menjamin Kau akan baik-baik saja setelah mendengarnya” Sehun tersenyum miring.

“Tidak. Aku akan sangat baik-baik saja. Cepat katakan!” Seulgi terlihat sangat penasaran.

“Baiklah, Kau dulu tahunya Aku adalah dancer di sekolah kan? Dan orangtuaku hanya penjual di toko kue kecil-kecilan?”

Seulgi mengangguk.

“Sekarang orangtuaku sudah memiliki Toko Kue besar di dekat sini. Kami baru saja pindah sebulan lalu. Dan sekarang posisiku disini adalah sebagai wakil direktur. Wakil dari Direktur Park Chanyeol”

Seulgi melongo. ‘Wah sebesar itukah kesuksesan Sehun?’ Tanya Seulgi dalam hati.

“Lihatlah, Kau bahkan sangat kaget” Sehun tertawa kecil.

Seulgi buru-buru menutup mulutnya.

Aniya, Aku tidak kaget!” Seru Seulgi sambil mengibas-kibaskan tangannya.

“Wajar saja tadi Kau berjalan bersama Direktur” Lanjut Seulgi.

Sehun mengangguk.

“Apakah Aku harus memanggilmu wakil direktur?” Seulgi mendongak menatap mata Sehun.

“Iya. Kau kan bawahanku Nona Kang!”

“Ah, tak mungkin. Kau itu sahabat lamaku, dulu Kita bahkan selalu bersama-sama”

“Tapi Kau sudah menemukan teman baru sekarang” Sehun menunjuk Wendy yang masih meneguk minumannya dengan dagunya.

Seulgi menghela nafas. Ia tak mau memanggil Sehun dengan sebutan Wakil Direktur Oh. Ugh, membayangkan saja sudah geli Seulgi dibuatnya. Dulu di JHS dan SHS, Seulgi dan Sehun selalu pergi bermain bersama. Bahkan saat kelas x dan xii, Seulgi dan Sehun selalu duduk sebangku, mereka sekelas. Sampai ekskul merekapun sama. Yaitu dance. Sampai-sampai Mereka dijuluki Dance Machine.

“Sudah selesai mengobrolnya? Bisakah Kita kembali?” Wendy menghampiri Seulgi yang masih kesal karena harus memanggil Sehun Wakil Direktur.

“Oh. Kajja” Seulgi mengajak pergi Wendy.

“Selamat siang Wakil Direktur. Maaf telah menumpahkan kopi pada Anda. Selamat bekerja. kami akan kembali ke ruangan kami” Ucap Seulgi dengan menekankan setiap kata-katanya. Terlihat tidak suka berbicara formal dengan Sehun. Karena daridulu Ia selalu berbicarabanmal(informal) pada pria itu.

Sehun terkekeh saat melihat Seulgi pergi menyeret Wendy.

“Tunggu. tunggu. tunggu. Kau tadi bilang apa? Wakil Direktur? Bukankah Dia temanmu?” Tanya Wendy menghentikan langkahnya.

Molla. Dia bilang begitu, awalnya Aku tak percaya. Tapi saat melihat Ia kesini bersama Direktur Park Aku menjadi percaya”

Wendy mengangguk-angguk.

*****

Meeting dimulai dengan perkenalan Presdir dan Wakilnya yang baru. yaitu Chanyeol dan Sehun.

Semua karyawan wanita sangat terpesona dengan kedua namja ini, terutama Seohyun yang terlihat sangat tertarik pada Chanyeol.

Seusai meeting, Chanyeol menyuruh seseorang untuk menyampaikan laporan meeting padanya.

“Siapa yang mencatat laporan? Tolong setelah ini ke ruanganku” Suruh Chanyeol.

Wendy mengangkat tangan. Chanyeol melihat Wendy yang mengangkat tangan.

“Kau?” Tanya Chanyeol seolah meremehkan. Ia menatap Wendy.

Wendy mengangguk. ‘Hey! Aku diremehkan? Sungguh!’ Batinnya.

“Baiklah, pergilah ke ruanganku setelah Kau selesai menyusunnya” Ucap Chanyeol. Wendy menjawab iya dan membungkuk 90o sebagai tanda hormat.

Fighting!” Seulgi menyemangati Wendy.

Wendy tersenyum dan mengangguk.

Setelah selesai mengetik dan mencetak laporan, Wendy menuju ke ruangan Chanyeol. Ia menyerahkan laporan.

“Laporanmu lumayan juga. Tidak ada istilah yang salah” Ujar Chanyeol. Wendy berterima kasih.

“Jangan hanya Aku memujimu sekarang besok Kau akan terlambat lagi” Chanyeol memperingati. Wendy mengiyakan.

*****

Malam harinya, Wendy menunggu bus untuk pulang sendirian. Rumahnya dan rumah Seulgi berbeda arah.

Ia mendapat telepon lagi.

“Yeoboseyo?” Suara Wendy terdengar lemah.

Bus yang ditunggu berhenti di depan Wendy. Wendy menaiki bus itu dan duduk di tempat duduk paling belakang.

“Nona Son, bukankah sangat menyenangkan bekerja di perusahaan besar?” Suara rentenir di seberang telepon.

“Apa mau Anda?” Wendy berkata datar.

“Apa mauku? Tentu saja uang. Kau pasti sudah kaya sekarang, bahkan pakaianmu begitu bagus”

Wendy mendengus, bagaimana bisa sang rentenir tahu kalau sekarang Ia sedang memakai baju yang baru saja kemarin dibelinya bersama Seulgi? Ia melihat sekeliling. Dan benar saja, tak jauh dari tempatnya duduk Ia melihat ada Seseorang yang Ia kira adalah rentenir itu. Wendy pura-pura tak melihatnya dan langsung menutup telepon.

Untung saja Wendy sudah sampai di tujuannya. Ia segera turun menghindari si Rentenir.

“Tak usah terburu-buru Nona Son!” Suara itu membuat Wendy merinding dan mempercepat langkahnya. Ia tak mau ditangkap rentenir gila itu sekarang. ia memang bekerja di perusahaan besar. Tapi kalian tahu bukan kalau hari ini masih hari keduanya?.

“Berhenti!” Kini suara rentenir semakin mendekat. Wendy berlari dengan cepat. ‘Semua orang, tolonglah Aku’ Batin Wendy.

“Berhenti Kau!”

Wendy terus saja berlari tanpa mempedulikan teriakan-teriakan itu. Hingga akhirnya Ia sampai di lift, langsung saja Ia masuk.

Sial. Ternyata renternir itu sudah ada di lift. Wendy terpaksa berbalik arah dan keluar dari Apartement. Ia menuju ke rumah Seulgi.

*****

Chanyeol pulang ke rumahnya. Didalam sana, Ia sudah ditunggu oleh pria paruh baya dengan rambut yang memutih karena faktor usia, Ayahnya. Ia duduk bersebrangan dengan Ayahnya yang didampingi Ibu tirinya.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apakah menyenangkan?” Ayah Chanyeol atau bisa dipanggil Tn. Park berbasa-basi.

“Ne” Jawab Chanyeol sekenanya.

“Bagaimana dengan Sehun? Apa Ia cukup membantumu?”

“Ne, Dia banyak membantuku”

“Kalau begitu bagus. Kau harus mempertahankan peringkat perusahaan majalah Kita tetap menjadi nomor satu. Ah ya, besok Kita akan mengadakan makan malam bersama keluarga Choi” Ayah Chanyeol mulai to the point.

Chanyeol menatap Ayahnya. Ia sungguh malas harus ikut acara itu. Ia bosan mendengar para orangtua dari 2 keluarga ini terus meminta penjelasan hubungannya dengan Choi Sulli, anak tunggal dari keluarga Choi. Sejujurnya, Ia tidak menyukai Sulli sedikitpun, selama ini hanya Sulli yang mencintainya. Benar-benar cinta bertepuk sebelah tangan.

“Aku akan menghadirinya” Ucap Chanyeol terpaksa. Tn. Park mengangguk-angguk sambil tersenyum penuh arti.

*****

Seulgi sedang membuat makan malam, sama seperti Wendy, Ia hanya tinggal di Apartement dengan saudara sepupunya, bernama Kim Yeri yang masih berusia 16 tahun.

Eonni, bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya Yeri.

“Seperti biasa, tak ada yang spesial. Hanya saja Aku bertemu teman lamaku”

Nugu? apakah OhSehun Oppa?” Yeri antusias.

Seulgi mengangguk.

“Bagaimana? Lalu, Kau masih mencintainya?” Yeri terlihat sangat penasaran.

“Bagaimana apanya? Tak mungkin Aku berkencan dengan Wakil Direktur seperti Dia. Kau tahu kan keadaan Kita? Mana mau Sehun bersama orang miskin sepertiku?” Seulgi terdengar putus asa. Yeri terlihat kaget namun buru-buru menutupinya. Tapi dalam hati Ia berkata bahwa Sehun sungguh keren.

“Kata siapa? Kau kan temannya. Cinta itu buta, siapa tahu Dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu” Yeri sok puitis.

“Sudahlah, tak perlu di bahas lagi. Makanlah! Hari ini hanya ada ini. Besok Aku akan berbelanja” Seulgi menaruh telur gulung dan nasi goreng di atas meja.

Yeri hanya mengangguk. “Ayo makan bersama” Ajak Yeri. Yeri adalah anak penurut. Ia menerima apa adanya apa yang diberikan Seulgi untuknya. Untunglah sekarang ini Ia bersekolah di Sekolah swasta di Seoul. Ia mendapat beasiswa. Seperti Seulgi dulu.

Seulgi adalah Anak yang ditinggalkan orangtuanya saat masih kecil. Ia di titipkan oleh orangtuanya ke panti asuhan bersama Yeri. Mereka selalu bersama. Dulu Seulgi sudah berumur 10 tahun, sedangkan Yeri masih 5 tahun. Kasihan bukan? Saat di SHS, Ia hanya memikirkan belajar dan Ia juga melakukan Part Time Jobsekaligus menjaga Yeri. Hingga akhirnya Ia bertemu seseorang yang tidak mampu sepertinya. Tak lain adalah Sehun dan Wendy. Sehun adalah teman sekolah Seulgi, sedangkan Wendy adalah teman kerja paruh waktunya, Mereka berbeda sekolah. Seulgi selalu merasa nyaman saat berada di dekat Sehun maupun Wendy, Ia bisa bebas mencurahkan semua ceritanya pada Mereka. Dan Merekapun anak yang baik.

Seulgi tersenyum. “Gwencana, Kau makanlah”

“Aniya, Eonni harus makan juga”

Seulgi menggeleng. Ia tak tega bila memakan nasi goreng yang hanya setengah piring itu bersama dengan Yeri.

“Aku sudah kenyang”  Seulgi tersenyum.

Ting Tong.

Bunyi bel apartement membuat suara yang keras dan masuk ke telinga Seulgi dan Yeri.

Seulgipun menuju pintu. Ia membatin siapa yang larut begini pergi ke rumah orang lain.

“Wendy!” Seulgi kaget ternyata yang memencet bel adalah Wendy. Wendy terlihat murung.

“Masuklah!” Seulgi mempersilahkan Wendy masuk ke rumahnya.

Wendy pun duduk di sofa apartement sederhana milik Seulgi.

“Seulgi-ya, Aku tahu ini sangat merepotkan. Tapi, bolehkah Aku menginap di rumahmu hari ini saja?” Tanya Wendy.

Seulgi bingung. Ia sih mau-mau saja membiarkan Wendy tidur di rumah ini. Di apartement ini ada 2 kamar. Yah walaupun sempit. Tapi bagaimana besok Seulgi memberi makan Wendy? Sedangkan Ia dan Yeri saja sedang kekurangan bahan makanan untuk memasak.

“Tak usah permasalahkan hal lain. Aku hanya menumpang tidur dan mandi saja. Tidak lebih. Aku mohon” Wendy memohon. Seulgi benar-benar tidak tega, apalagi melihat kondisi Wendy yang terlihat murung begini.

Arasseo. Kau bisa tidur di kamarku” Seulgi tersenyum ramah.

Gomawo. Kau benar-benar sangat sangat baik” Wendy mengatakannya sangat tulus. Seulgi memang teman satu-satunya yang sangat baik hati. Mata Wendy berkaca-kaca.

“Tapi, apakah ada masalah?” Seulgi mencoba mengerti.

Wendy menceritakan semuanya.

“Kalau begitu tidurlah disini dulu. Lalu Irene Eonni tahu Kau disini?” Tanya Seulgi.

“Iya, tapi Dia tidak tahu tentang rentenir itu. Setahunya Ayah dan Ibuku sudah melunasinya” Wendy berkata lemah.

Seulgi menepuk-nepuk punggung Wendy.

~

“Tidak!” Dengan keringat dingin, Chanyeol bangun dari tidurnya sambil menggumamkan kata itu.

Ia menghirup oksigen sebanyak mungkin. Dadanya terasa sesak. Ia bermimpi buruk tentang Ibunya bukan untuk pertama kalinya. Ia sudah mengalami mimpi itu berkali-kali.

Sekarang ini, Ibu yang bersama Ayah Chanyeol adalah ibu tirinya. Ia tidak tahu dimana keberadaan Ibu kandungnya sekarang.

Bahkan Chanyeol selalu merasa dadanya sesak saat akan memanggil wanita yang bersama dengan Ayahnya itu Ibu. Rasanya hatinya tak mau melakukannya.

*****

Malam sudah berganti pagi, Wendy terbangun dari tidurnya. Begitupun Seulgi.

“Kau mandilah dulu! Ini masih pagi, Aku akan membuat makan pagi” Ujar Seulgi.

Wendy mengangguk.

Seulgi membuka kulkas.

OMG, Ia lupa! Sekarang semua bahan makanan sudah habis. Bahkan uangnya sangat mepet sekali. Bagaimana ini?

“Eonni, bisa bantu Aku?” Terdengar suara Yeri dari ambang pintu depan. Seulgi cepat-cepat menuju ke arah Yeri. Ia terkejut melihat belanjaan di tangan Yeri. Bahkan Yeri sudah rapi memakai seragam sekolahnya.

“Bagaimana bisa Kau mendapatkan semua ini?”

“Jangan khawatir. Aku hanya menggunakan uang tabunganku sedikit. Hanya sedikit sekali” Yeri menunjukkan tangannya yang memperagakan kata sedikit.

“Bukankah Aku sudah bilang untuk menyimpan uang itu dalam-dalam? Kau tak perlu melakukan ini. Kau hanya harus menabung untuk biaya di Universitas”

Gwencana. Lagipula, Aku memiliki pekerjaan” Yeri tersenyum.

“Pekerjaan apa?” Seulgi memicingkan matanya.

“Intinya, Aku hanya duduk dan berpikir, itu benar-benar menghasilkan uang”  Yeri menunjukkan kedua jempolnya pada Seulgi.

“Omong kosong apa itu? Kau bohong kan?” Seulgi menyelidiki.

“Aniya! Aku tak berbohong sama sekali. Jinjja!”

“Arasseo. Tapi lain kali, Kalau Kau mau memakai uang, Kau harus berdiskusi denganku dulu. Aracchi?”

Arasseo” Yeri tersenyum.

“Seulgi, ada yang bisa ku bantu?” Tanya Wendy yang sudah rapi. Namun Ia masih memakai baju yang kemarin.

“Aigoo. Lihatlah dirimu. Pakailah bajuku” Seulgi pergi menuju kamarnya lalu keluar dengan membawa sebuah baju.

“Ani, kan Aku bilang hanya akan menumpang tidur”

“Aish, cepatlah. Itu bukan masalah”

Mau tak mau Wendy menuruti Seulgi. Seulgipun pergi ke kamar mandi untuk madi.

“Wendy Eonni! Eonniku sangat baik bukan?” Yeri bertanya pada Wendy yang sedang mengiris-iris bahan masakan.

Wendy tersenyum “Benar sekali”

“Hatinya begitu baik seperti malaikat. Kau tahu kan?” Yeri ikut membantu Wendy.

Wendy mengangguk.

“Apakah Eonniku tidak cocok dengan Pria pintar dan kaya?” Yeri bertanya aneh.

“Mwo? Tentu saja tidak. Ia sangat pantas, asalkan pria itu juga baik sepertinya”

“Benarkan? Eonniku cocok dengan Sehun Oppa!” Seru Yeri. Wendy menoleh.

Nugu? Sehun nugu?” Wendy penasaran.

Ne? Ah bukan siapa-siapa” Yeri gelagapan, ia keceplosan.

Wendy tersenyum jahil melihat Seulgi yang keluar dari kamar mandi.

“Sehun nugu? apa Ia wakil direktur yang dibilang sangat tampan itu? Kau menyukainya kan?” Wendy menghampiri Seulgi.

Seulgi membelalakkan matanya. ‘Bagaimana Wendy bisa tahu?’

Gwencana. Aku akan mendukungmu. Kelihatannya Dia pria baik”

Seulgi melirik Yeri yang mengendap-endap menuju pintu bersiap keluar. Menghindari amukan Seulgi.

“Ya! Kim Yeri! Kau—” Seulgi memanggil Yeri.

Yeri berbalik dan menunjukkan cengirannya. “Selamat bekerja! Aku membawa roti. Jadi tak usah khawatirkan Aku” Yeri menunjukkan roti di tangannya pada Seulgi kemudian Ia berlari dan keluar dari pintu.

“Aish, mulut anak itu!” Seulgi mendumel.

Wendy masih tersenyum jahil pada Seulgi dan menggodanya.

*****

Pagi harinya….

Wendy dan Seulgi pergi ke kantor bersama.

Gomawo atas kebaikanmu Seulgi-ya” Wendy berkata tulus di jalan saat akan masuk kantor. Seulgi tersenyum.

“Bukan apa-apa, oh ya, kalau Kau masih butuh tumpangan, Kau bisa pergi ke rumahku. Kapan saja”

Wendy tersenyum simpul.

“Gwenchana, nanti malam Irene Eonni pulang”

“Begitu”

“Hmm”

~

Pukul 9 pagi, Chanyeol dan Sehun tiba di perusahaan.

“Anda kesusahan? Saya akan membawakan tas untuk Anda dengan senang hati” Seohyun menghampiri Chanyeol. Sehun melihat itu merasa risih dengan perkataan Seohyun yang jelas dibuat-buat. Begitupun Wendy dan Seulgi.

“Baiklah” Chanyeol mengangguki tawaran Seohyun. Sehun hanya meliriknya.

Chanyeol mengumumkan sesuatu.

“Hari ini tolong serahkan proposal yang Saya tugaskan kemarin” Suruh Chanyeol. Seohyun menggigit bibir bawahnya. Ia belum mengerjakan proposal itu.

Saat Wendy dan Seulgi menata semua proposal itu dan bersiap menyerahkannya pada Chanyeol, Seohyun menghentikan Mereka.

“Kalian pasti lelah terus disuruh-suruh. Sini, biar Aku saja yang menyerahkannya pada Direktur” Seohyun tersenyum palsu. Wendy dan Seulgi berpandangan.

Akhirnya Mereka menyerahkan proposal tersebut pada Seohyun.

Seohyun tersenyum menang. Saat akan memberikannya pada Chanyeol, Seohyun mengganti nama Wendy dengan miliknya, agar Ia tidak perlu kena marah karena belum membuat proposal yang ditugaskan.

“Direktur, ini proposalnya” Seohyun tersenyum centil.

“Baiklah, taruh saja di meja. Semua sudah terkumpul?” Tanya Chanyeol.

“Sepertinya sudah. Ah tidak, setahu Saya Son Wendy belum membuatnya”

Mwo? Bukankah Aku sudah bilang pada semuanya untuk mengumpulkan sekarang?”

“Entahlah Direktur. Saya tidak tahu pikiran Son Wendy” Ujar Seohyun.

“Cepat panggil Dia kesini” Suruh Chanyeol.

Ne” Seolhyun menuruti. Saat berbalik Ia tersenyum evil. Menyebalkan!.

~

“Kau, kenapa dengan jalan pikiranmu? Kau pikir apa yang kukatakan kemarin hanya lelucon?” Chanyeol berkata datar pada Wendy di ruangannya.

“Apa maksud Anda?” Wendy bingung.

“Cih. Kau berakting sekarang?” Chanyeol tersenyum meremehkan. Wendy sungguh bingung. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Saya sungguh tidak mengerti perkataan Anda” Wendy masih belum maksud.

“Bukankah Aku menyuruh setiap orang membuat proposal? Atau setidaknya curahkan ide untuk edisi bulan ini! Kau tahu ‘kan Kalau perusahaan Kita selalu nomor 1? Aku tidak tahu harus bagaimana jika Kita menjadi nomor 2 atau 3 bahkan 10 hanya karena masalah kecil seperti ini!” Seru Chanyeol agak keras membuat Wendy terkejut.

“Apa maksud Anda Saya tidak mengumpulkan proposal?” Tanya Wendy dengan wajah takutnya saat melihat Chanyeol marah.

“Kau masih bertanya?” Chanyeol berkata sarkastik.

“Saya sudah mengumpulkannya tadi pada Seohhyun Sunbae” Wendy berkata apa adanya. Kejadiannya memang begitu bukan?

“Aku sudah memeriksanya dan hanya Kau yang belum mengumpulkannya!”

“Saya yakin sudah mengumpulkannya barusan” Wendy meyakinkan Chanyeol. Ia bahkan sangat ingat saat mengerjakannya semalam di rumah Seulgi dan membacanya ulang tadi.

Wendy mencoba melihat berkas yang ditumpuk di meja Chanyeol. Yang paling atas, Ia melihat nama Seohyun tertera disitu. Padahal dari covernya, Ia merasa proposal itu miliknya. Ia mengambilnya dan menganalisisnya. Semua isi proposal ini benar-benar mirip dengannya. Tadi, apakah Seohyun mengerjainya?

“Bukankah sudah jelas Kau tidak menaati aturan? Keluar sekarang dan jalani hukuman! Keliling taman perusahaan 5 kali! Aku tidak mau tahu. Dan Aku sungguh prihatin dengan orang tak bertanggung jawab sepertimu!” Ujar Chanyeol tegas dan keras.

Wendy memberanikan diri menatap manik mata Chanyeol. Mata Wendy berkaca-kaca. Cairan bening siap tumpah dari dalam sana.

“Baiklah. Akan Saya laksanakan” Wendy menunduk kembali saat airmatanya hampir saja jatuh.

Wendy keluar dari ruangan Chanyeol dan keluar untuk menjalani hukuman. Taman di sekeliling perusahaan sangat luas.

Seulgi yang melihat Wendy keluar mengejarnya.

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Seulgi.

“Direktur bilang Aku tidak mengumpulkan proposal. Padahal jelas-jelas proposalku ada di mejanya dan berada di tumpukan paling atas” Wendy lesu.

Mwo? Bagaimana bisa? Apa Dia buta atau bagaimana?” Seulgi berkata tidak terima.

“Seohyun Sunbae mengatasnamakan dirinya di proposalku. Sebenarnya Ia yang tidak mengumpulkan proposal”

Mwo!?!?” Seulgi berteriak keras. Wendy sampai menutupi telinganya. “Jinjja?”

“Hmm”

“Lalu kenapa Kau melaksanakan hukuman ini? Kau kan tidak bersalah Wendy!” Seulgi menunjukkan protesnya.

“Apabila Aku mengatakan kalau proposal itu milikku begitu saja, pasti Direktur Park tidak akan mempercayaiku dan Dia pikir otakku terganggu. Biarlah Dia tahu sendiri” Wendy tersenyum pahit. “Kau masuklah. Aku harus menjalani hukuman ini. Jangan sampai Kau ikut-ikutan dihukum karena membelaku” Ucap Wendy.

“Ta—”

Belum selesai Seulgi bicara, Wendy sudah berlari menjalani hukuman.

Wendy menitikkan airmata saat menjalankan hukuman yang seharusnya tak Ia dapatkan.

Appa! Sepahit inikah hidup?” Gumam Wendy.

*****

Seulgi melihat Sehun akan keluar. Seulgi mengikutinya.

“Sehun! A.. Ani, Wakil Direktur Oh!” Panggil Seulgi pada Sehun.

Sehun menoleh dan mendapati Seulgi mengulum senyum. “Ada apa?”

“Bisakah Kita bicara sebentar?” Tanya Seulgi.

“Baiklah. Tapi Aku tidak punya banyak waktu” Ucap Sehun.

“Tidak lama kok”

“Baiklah. Ada apa? Sepertinya penting”

Seulgi menghela nafas. “Begini, Kau kenal baik dengan Direktur Park kan?”

Sehun mengangguk. Sebenarnya bertatapan dengan Sehun sedekat ini setelah sekian lama memang membuatnya gugup.

“Tadi Aku dan temanku jelas-jelas sudah mengumpulkan proposal yang kemarin di tugaskan. Tetapi oranglain mengatasnamakannya di proposal milik temanku. Jadi temanku sedang dihukum sekarang. kau bisa membantuku meyakinkan Direktur kalau proposal itu milik temanku kan?” Seulgi menjelaskan.

“Bagaimana ya? Aku sangat sibuk”Sehun pura-pura berpikir. Entah kenapa menggoda gadis ini terasa menyenangkan. Seperti dulu di Senior High School juga begitu.

“Berhenti sombong! Kau tidak pantas seperti itu OhSehun! Aku tahu Kau sangat sukses sekarang, tapi tidakkah Kau ingin membantu teman lamamu yang malang ini? Jika Kau tidak ingin membantu tinggal bilang! Kenapa berbelit-belit?” Seulgi memasang muka masamnya.
“Kau hanya tinggal bilang mau atau tidak” Seulgi ingin berbalik meninggalkan Sehun.

Sehun menahannya.

Arasseo-arasseo, Aku akan membantumuchingu” Sehun membuat Seulgi kembali menatapnya.

Jinjja?” Kini wajah Seulgi berbinar. Terlihat manis dan imut, seperti anak kecil.

“Dengan 1 syarat” Sehun mengangkat telunjuknya. Muka Seulgi kembali masam. Sehun heran, bagaimana gadis itu bisa mengubah-ubah raut mukanya begitu cepat?

“Kau harus mentraktirku makan setiap hari” Ucap Sehun tersenyum menang.

“Aish dasar curang! Lupakan saja!”

“Aku bercanda. Kenapa Kau marah? Haha. Kau sangat imut. Baiklah, Aku akan membantumu”Sehun mengacak-acak rambut Seulgi gemas.

Seulgi merona saat mendengar Ia dibilang imut.

“Wow, lihatlah dirimu, Kau tidak berubah sama sekali. Pipimu merona saat mendengar Kau dipuji”

“Eish hentikan. Katanya Kau mau membantuku? Ayo sekarang saja”

“Tidak bisa sekarang, Aku harus pergi mengecek busana yang akan digunakan saat pemotretan”

“Sehun, temanku butuh kejelasan sekarang. tidak bisa diundur mengeceknya?”

“Bisa sih, tapi bagaimana kalau Aku juga dihukum Direktur Park? Kau yang bertanggung jawab?”

Jaebal” Seulgi memasang aegyo-nya. Jika bukan demi Wendy, Ia tidak sudi melakukan hal itu. Dia sudah dewasa sekarang, mana bisa dibandingkan dengan aegyo-nya dulu?

“Huh, lihatlah wajahmu itu. Arasseo. Akan Aku sampaikan sekarang”

“Yey!” Seulgi tersenyum girang sekali.

*****

Chanyeol menyerapi kata-kata Sehun.

“Jadi Kau bilang Seohyun yang belum mengumpulkan proposal itu?” Tanya Chanyeol.

“Ya, begitulah. Coba hyung periksa lagi. Bukankah laporan kemarin Son Wendy yang membuatnya? Coba saja cocokkan bahasanya. Jika memang Seohyun yang membuat proposal itu pasti banyak penyusunan kata yang berbeda dengan laporan kemarin”

Chanyeol berpikir lagi. “Arasseo” Ucap Chanyeol.

Chanyeolpun membuka laporan kemarin dan membuka lagi proposal yang diberi nama Seohyun itu. Ia mencocokkan bahasanya.

Tata tulis dan bahasanya banyak yang sama. Dan sepertinya proposal itu memang Wendy yang membuatnya. Bahkan ditengah-tengan proposal ada nama Son Wendy. Chanyeol merasa bersalah pada Wendy.

Sehun melihat raut muka Chanyeol.

“Benar kan Hyung?”

“Sehun-ah, tolong panggilkan Seohyun kesini”

Sehun menggerakkan bola matanya lalu mengangguk.

*****

Seulgi mencari Wendy yang katanya sedang duduk karena lelah. Ia mencoba mencari sosok Wendy. Namun tak ada. Samar-samar, Ia melihat kerumunan orang mengelilingi sesuatu.

“Cepat bawa saja Dia ke rumah sakit” Ujar seorang Pria. Seulgi mempunyai firasat buruk. Ia mendekat. dan benar saja. Wendy pingsan.

Seulgi sangat khawatir.

Ahjussi ppalliyo! tolong temanku”

~TBC~

 

4 responses to “[FREELANCE] All Is Patient

  1. wahhh aku suka kalo ada ff yg ada seulgi sama wendynya, apalagi ama cy dan sehun *-* jd gk sabar mau tau kelalanjutannya. wendy kasian bgt ya dihukum pdahal dia gk salah… kejam bgt astaga seohyun, gk di pilem gk disini kejam/? . oke keep writing and hwaiting juseyo author-nim!~

  2. Kayaknya seru nih thorr, aku nggak tahu artis2 korea sihh, tapi aku penasaran sama jalan ceritanya author, semangat thor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s