[FREELANCE] I Need You

poster FF I Need You

Tittle    : I Need You

Author/twitter : Missellyot (Twitter: @yuditayu)

Cast     : Kim Seokjin (BTS), Park Soojeong (OC)

Genre  : Romance, Drama, Sad

Rating : PG-17

Length : One Shoot

Disclaimer: FF ini sudah pernah di publish di angelinblack.wordpress.com

***

I need you girl

Why am I in love alone, why am I hurting alone

I need you girl

Why do I keep needing you when I know I’ll get hurt?

***

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi bukan juga waktu yang lama. Empat tahun menjadi waktu yang singkat jika dihubungkan dengan perjalanan cinta namun akan menjadi waktu lama jika dalam hubungan percintaan kaulah yang menjadi pejuang tunggal. Seorang gadis dengan perawakan tinggi dan kulit putih pucat menghembuskan nafasnya kasar. Beberapa kali ia melihat ponselnya yang ia geletakkan begitu saja di atas meja kayu coklat. Tak ada perubahan barang sedikitpun. Layar ponselnya masih berwarna hitam kelam, tak ada tanda-tanda sebuah pesan atau panggilan masuk. Tepat empat hari sudah ia hanya bisa memandang lesu ponselnya.

“Apa sebegitu sibuknya sampai kau tak punya waktu hanya sekedar untuk memberikan kabar padaku oppa?” Ia bermonolog sendiri sembari melihat wallpaper ponselnya yang menampakkan punggung lebar seorang pria, pria yang sudah empat tahun mengisi relung hati juga pikirannya.

Ia beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya, mengambil mantel coklatnya, tas, juga syal hitam. Gadis itu, Park Soojeong, melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari apartemen miliknya. Pikirannya kalut. Ia kesal, sedih, merindu, namun tak ada yang bisa ia perbuat. Ia hanya bisa berusaha menikmatinya walaupun rasa lelah mulai menggerogoti hatinya.

Tanpa arah tujuan, ia terus melangkahkan kakinya. Tanpa ia sadari, ia telah berdiri di sebuah minimarket. Ia pun mendorong pintu minimarket, yang seluruhnya terbuat dari kaca transparan, dengan pelan. Melangkahkan kakinya pelan, mata gadis itu tertuju pada satu titik. Iapun menghentikan langkahnya tepat di sebuah rak yang mendisplay aneka ramyeon cup. Iapun mengambil salah satunya lalu tersenyum kecut. Senyum yang menyiratkan antara kekecewaan, rasa perih, dan kenangan indah.

“Semuanya jadi 1000 won. Apa ada tambahan lain, Tuan?” Ucap gadis yang berdiri di balik meja kasir ramah. Yang ditanya hanya memberikan senyum sambil menyerahkan selembar uang.

“Tidak terimakasih.” Ucap pria itu singkat. “Dan bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan Tuan? Umurku masih 21 tahun Nona.”

Gadis di balik meja kasir itu tersentak, merasa bersalah lalu membungkukkan badannya. “Ah joesonghaeyo. Aku hanya tak tau harus memanggilmu apa.” Jawab gadis itu kemudian. Ekspresi  rasa bersalahnya membuat pria itu terkekeh geli. Menurutnya gadis itu lucu.

“Aniya, tak apa.” Jawab pria itu sambil tersenyum ramah membuat pipi gadis itu bersemu merah. Kemudian, gadis itu mengambil selembar plastik berwarna putih berniat memasukkan barang belanjaan pria itu ke dalamnya.

“Tidak perlu.” Potong pria itu cepat. Tangannya tak sengaja menyentuh tangan gadis itu akibat gerakan refleknya. Detik berikutnya gadis itu menarik tangannya pelan dan pria itu tersadar akan perbuatannya. “Ah mian. Tak perlu di bungkus. Aku ingin memakannya di sini.”

“Ah ye. Kau bisa menyeduhnya di sana. Dan di sana kau juga bisa membuat kopi kalau kau mau.” Dengan ramah gadis itu menjelaskan pada pelanggan tunggalnya. Ya, memang hanya pria itulah pelanggannya saat ini mengingat tak ada orang lain yang berbelanja di minimarket tempatnya bekerja.

Selanjutnya pria itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia pun membalikkan tubuhnya menuju tempat yang di tunjuk gadis itu untuk menyeduh ramyeon instan yang baru saja dibelinya. Dan baru beberapa langkah meninggalkan meja kasir, pria itu mebalikkan tubuhnya kembali.

“Namaku Jin. Kim Seokjin. Senang bertemu denganmu.”

Soojeong tersadar dari lamunannya. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Kenangan yang indah sekaligus menyakitkan. Ia merindukan pria itu. Pria yang selalu tersenyum. Pria yang selalu bersikap lembut padanya. Tak ingin larut dalam masa lalunya, gadi situ mengulurkan tangannya memgambil sebuah cup ramyeon instan lalu membawanya menuju meja kasir.

“Semuanya jadi 1000 won. Apa ada tambahan lain, Nona?” Ucap pria yang berdiri di balik meja kasir ramah. Kalimatnya sama persis seperti yang ia ucapkan empat tahun lalu kepada prianya.

Soojeong menggelangkan kepalanya. “Tidak. Terimakasih.” Ucapnya singkat. Setelah menyerahkan uangnya, ia berjalan menuju pojok minimarket, menyeduh ramyeon yang dibelinya dan tak lupa membuat satu cup kecil americano panas. Ia pun duduk di bangku yang disediakan minimarket sendiri. Sambil menunggu ramyeonnya matang, Soojeong mengambil ponsel yang ia ketakkan di kantung mantel coklatnya. Ia mengusap layar ponselnya itu. Raut wajahnya berubah sendu. Prianya tak kunjung memberikannya kabar. Setelah menatap ponselnya selama beberapa detik, ia menekan tombol lock pada ponselnya lalu memasukkannya kembali ke kantung mantelnya.

Tak lama, ia merasakan ponselnya bergetar. Dengan cepat ia menambil ponselnya. Matanya berbinar ketika ia melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Satu buah pesan yang telah ia tunggu semenjak 4 hari yang lalu.

From: Seokjin Oppa

Hai, kau baik-baik saja? Maafkan aku karena baru bisa memberimu kabar. Jadwalku membuatku gila. Ku harap kau bersabar. Secepatnya aku akan menemuimu. Aku merindukanmu.

Seulas senyum terbentuk di wajah Soojeong. Dadanya bergemuruh saking senangnya. Akhirnya pria itu membalas pesannya walaupun sudah sangat terlambat menurutnya. Dengan cepat, Soojeong membalas pesannya.

To: Seokjin Oppa

Aku baik-baik saja oppa. Ku harap oppapun begitu. Aku selalu dan sangat merindukanmu.

Selanjutnya Soojeong menekan tombol send pada layar ponselnya. Ia pun bisa bernafas dengan benar setelahnya. Memang belum sepenuhnya lega karena masih terselip rasa rindu yang sangat dalam pada prianya.

Soojeong menyandarkan punggungnya dengan masih menggenggam erat ponselnya. Sungguh ia sangat merindukannya. Ia tau bahkan sangat tau jika inilah konsekuensi yang harus ia jalani. Memiliki kekasih yang berstatus sebagai idol tidaklah mudah. Mereka tak bisa berkencan dengan bebas, tak bisa bertemu setiap hari, sekedar saling bertukar kabarpun tak bisa mereka lalukan setiap hari. Bohong memang ketika ia mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Soojeong ingin berteriak bahwa ia tak baik-baik saja. Ia sangat sangat merindukannya. Soojeong ingin bertemu dengannya. Ia ingin memeluk Jin erat. Namun untuk kesekian kalinya, ia harus memendamnya dalam-dalam. Soojeong tak ingin menjadi egois. Ia hanya berharap waktu akan mengerti atas kerinduanya dengan berjalan dengan cepat sehingga ia bisa memeluk Jin kembali.

***

Untuk yang kesekian kalinya Soojeong membenahi letak syalknya. Angin malam menusuk tulang dan persendian gadis itu. Sudah hampir satu jam ia duduk di bangku taman yang sepi ini. Jarum jam di tangannya telah menunjukkan bahwa saat ini sudah hampir jam 1 malam namun sosok yang ia tunggu tak kunjung datang. Tadi Jin mengiriminya pesan. Katanya, pria itu ingin bertemu dengan Soojeong. Memang sudah lebih dari satu minggu mereka tak saling bertatap muka. Soojeong mencoba memahami kesibukan pria itu walaupun terkadang rasanya ia ingin menyerah. Dan akhirnya waktu yang ia nanti datang. Ia akan segera bertemu dengan kekasihnya, Jin.

Ponsel Soojeong berdering. Iapun dengan segera meraihnya. Matanya berbinar ketika nama Jin tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama Soojeong langsung menjawabnya.

“Oppa?” Ucapnya gembira. “Kau dimana? Aku sudah menunggumu dari tadi.”

Tak ada jawaban dari seberang. Kening gadis itu berkerut. “yeoboseo?” Ucapnya lagi memastikan Jin benar-banar ada di seberang sana.

Kemudian ia berdiri dari duduknya lalu berjalan kecil. Soojeong hanya berpikir mungkin sinyalnya tak begitu bagus, jadi ia mencoba berjalan.

“Oppa? Kau bisa mendengarku?” Tanya gadis itu lagi. Usahanya membuahkan hasil. Jin menjawab.

“Yeo-yeoboseo.” Jawab Jin kemudian.

“Oppa? Kau dimana eoh?” Ucap Soojeong tak sabaran. “Aku sudah lama menunggu. Bukankah kita janji bertemu dari satu jam yang lalu? Tubuhku hampir membeku karena menunggumu oppa.” Katanya merajuk. Biasanya cara ini akan berhasil. Jika Soojeong sudah merajuk seperti ini, biasanya Jin akan menyerah dan untuk menebus kesalahannya, ia akan membawakan berbagai macam makanan kesukaan Soojeong.

“Miane, Soojeong-ah.” Terdengar suara Jin lemah. Soojeong menangkap sebuah kejanggalan dalam suara Jin. Ia menggigit bibir bawahnya berharap bahwa yang ia pikirkan tidak akan terjadi.

“Waeyo oppa? Kau akan ke sini kan?” Ucapnya sedikit bergetar. Dadanya sesak. Tidak, tidak lagi untuk kali ini. Soojeong memohon dalam hatinya.

Terdengar Jin menghela nafasnya. “Maafkan aku Soojeong. Sepertinya aku tak bisa menemuimu.” Nyeri Soojeong rasakan di ulu hatinya. Seperti ada petir yang menyambar kepalanya saat Jin mengatakan kalimat yang paling ia hindari untuk di dengar saat ini. “Tiba-tiba PDnim meminta kami untuk datang menemuinya.”

Soojeong menghela nafas kesal. Air mata rasanya sudah ingin membobol pertahanannya namun ia masih berusaha menahannya. “Ah begitu kah?” Ucapnya lirih. Soojeong mencoba tegar tapi ia yakin nada kekecewaan pasti sangat terdengar oleh Jin.

“Maaf kan aku. Aku tau pasti kau kecewa. Tapi kuharap kau bisa mengerti, Soojeong-ah.” Ucap Jin lagi mencoba menenangkan hati gadisnya yang hasilnya justru membuat hati Soojeong semakin tak tenang.

Soojeong tersenyum getir. Ia sudah sangat mengerti Jin bahkan sampai detik ini. Mengerti yang bagaimana lagi yang Jin maksudkan? Bukankah selama ini sudah cukup Soojeong bersabar dan menahan kerinduannya yang mendalam pada pria itu? Apa itu tak cukup?

“Arasso oppa.” Soojeong berucap lirih. Ia menarik nafas berat lalu menghembuskannya kasar. Air mata rasanya sudah menetes dan menganak di pipi putihnya.

“Kau kembalilah ke apartemen. Udara sangat dingin. Aku tak ingin kau sakit.” Ucap Jin kemudian. Soojeong tersenyum mendengar perkataan Jin walaupun ia yakin Jin tak akan bisa melihat senyumnya yang terlihat getir.

“Ne oppa.” Jawab Soojeong kemudian. “Selamat malam oppa.” Soojeong mengakhiri pembicaraannya dengan Jin. Iapun melangkah kakinya kembali yang sempat terhenti tadi. Bukan ke arah apartemennya, ia malah melangkahkan kakinya menuju bangku taman yang ia duduki tadi. Kepalanya tertunduk dan isakan lolos dari mulutnya.

“Kenapa aku yang merasakan cinta dan sakit seorang diri, oppa?”

***

“Wah ini sangat enak.” Ucap Jin dengan senyum mengembang di wajahnya. Sangat manis, membuat gadis yang duduk di sampingnya ikut tersenyum. “Aku tak menyangka kau bisa memasak.”

Mata gadis itu membulat.. “Ya oppa! Kau meremehkanku eoh?” Ucap gadis itu tak terima. “Aku pandai memasak tau.”

Jin terkikik. Matanya menghilang tergantikan dengan dua garis lurus. Setelahnya ia kembali mengambil potongan kimbab yang tersusun rapi di sebuah kotak makan berwarna pink dalam genggamannya. Ia tak mengeluarkan suara sama sekali. Begitu pula dengan gadis yang duduk di sampingnya itu. Ia hanya berpangku tangan memandang wajah Jin bahagia. Ia sangat senang usahanya membuat kimbab tak sia-sia. Ternyata Jin menyukai kimbab buatannya.

Selama ini, Soojeong merasa iba pada pria itu. Setiap malam Jin datang ke minimarket tempatnya bekerja hanya untuk makan ramnyeon cup. Awalnya Soojeong berpikir mungkin pria itu hanya ingin memakan ramyeon itu saja. Tapi lama kelamaan itu menjadi kebiasaan Jin. Ketika Soojeong memberanikan diri berbicara pada pria itu, saat itulah ia mengetahui kalau ramyeon itu ia makan karena pria itu merasa lapar setelah latihannya usai. Ya memang saat itu Jin sedang berlatih keras untuk mempersiapkan debutnya. Jadi setelah itu, Soojeong memutuskan untuk membuatkan bekal untuk Jin.

“Ah, kenyang.” Ucap Jin membuyarkan lamunan Soojeong. Tangan kekarnya mengelus perut yang sudah terisi penuh oleh kimbab. “Gomawo, Soojeong.”

Soojeong tersenyum gembira mendapati kotak makan berwarna pink yang ia bawa telah kosong tak bersisa. Iapun mengambil kotak itu dari pangkuan Jin dan selanjutnya ia menyerahkan sebotol air mineral dari tas coklatnya. Jin pun menerimanya dengan senang. Setelah membereskan peralatan makan, Soojeong menyandarkan punggungnya pada bangku taman yang ia dan Jin duduki. Kepalanya ia tengadahkan ke langit menikmati gemerlap bintang.

“Aku mau jadi bintang.” Ucap Soojeong tiba-tiba membuat Jin mengalihkan pandangannya pada Soojeong.

“Wae?” Tanya Jin tak mengerti maksud perkataan Soojeong.

Soojeong tak lantas menjawab pertanyaan Jin. Ia justru menegakkan duduknya dan menatap Jin selama beberapa saat sebelum ia tundukkan kepalanya.

“Kalau jadi bintang pasti senang.” Ucap Soojeong kemudian.” Mereka tak perlu kuatir tak bertemu bulan setiap hari. Karena meteka selalu ada di sekitar bulan.” Entah mengapa Soojeong menjadi semelankolis ini. Ia seperti tidak menjadi Soojeong yang biasa kali ini.

Jin tertawa pelan lalu meniru Soojeong yang tadi menengadahkan kepalanya melihat bintang. “Tapi bukankah walau terlihat dekat sebenarnya mereka berada pada jarak yang sangat jauh?” Kening Jin berkerut.

Soojeong terhenyak mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Jin. Ia baru menyadari sesuatu hal yang selama ini tak pernah terpikirkan olehnya. Selama ini ia hanya iri pada bintang yang selalu bisa terus bersama bulan. Tak lernah terpikirkan olehnya jika sebenarnya jarak bintang dan bulan satu sama lain sangatlah jauh. Bukankah itu benar-benar menggambarkan keadaannya saat ini? Memang saat ini ia bisa terus bertemu dengan Jin. Tetapi ia mulai tersadar mungkin sebentar lagi ia tak akan bisa bertemu dengan pria itu setiap hari. Sama seperti halnya dengan bintang dan bulan, Soojeong dan Jin memang hidup di bawah langit yang sama namun mereka adalah dua orang yang sangat berbeda. Sebentar lagi Jin akan menjadi seseorang yang terkenal yang digilai wanita. Sedangkan dirinya hanya seseorang yang kelewat biasa.

“Sebentar lagi aku akan debut.” Ucap Jin yang telah berganti posisi menghadap pada Soojeong. “Aku pasti akan sangat sibuk untuk promosi.”

Soojeong menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Ya, aku tau, oppa.”

“Mungkin aku tidak bisa bertemu denganmu setiap hari seperti sebelumnya.” Ucap Jin lagi yang lagi-lagi  Soojeong jawab dengan anggukan kepala. Mendengarnya membuat hatinya berdenyut. Ya saat itu pasti akan datang. Saat di mana ia tak bisa lagi bertemu dengannya.

“Aku tak ingin saat debut nanti aku justru tak bisa fokus dan malah memikirkan hal  yang lain.” Ucap Jin dengan nada yang sangat serius membuat kening Soojeong berkerut mencoba menerka kemana arah pembicaraan pria itu.           

“Maksud oppa? Memang hal lain apa yang membuat oppa tak fokus?” Tanya Soojeong heran.

Jin diam selama beberapa detik sebelum pada akhirnya ia melakukan suatu aksi yang membuat Soojeong terkejut bukan kepalang. Jin mengecup kening Soojeong lembut selama beberapa saat. Lalu setelahnya ia menggenggam tangan Soojeong erat.

“Kau.” Ucap Jin kemudian membuat Soojeong makin tak mengerti. “Kaulah yang menghilangkan fokusku Soojeong-ah. Wajahmu selalu ada di pikiranku. Aku, sepertinya aku, benar-benar telah jatuh terlalu dalam oleh pesonamu. Aku mencintaimu Soojeong-ah. Mau kah kau menjadi kekasihku?” Jin berhasil menyelesaikan perkataannya. Sedangkan Soojeong, ia hanya bisa membulatkan matanya terkejut akan semua perkataan Jin. Dadanya bergemuruh. Di perutnya seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan membuatnya geli.

“Soojeong-ah. Bagaimana? Apa jawabanmu?” Tanya Jin kembali karena tak mendapat respon apapun dari gadis di hadapannya.

“Eo…itu…aku…” ucap Soojeong tak jelas. Matanya tak lagi memandang Jin. Bola matanya justru bergerak liar. Otaknya tak dapat berfikir jernih.

Jin tersenyum melihat tingkah Soojeong. Iapun mencoba memahami gadis itu. Mungkin kata-katanya membuat gadis itu sangat terkejut. Ia tau karena memang ini sangat mendadak. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk berkata demikian.

“Tak apa jika kau tak bisa menjawabnya sekarang.” Ucap Jin lembut lalu menggenggam tangan Soojeong lembut.

“Ani oppa.” Jawab Soojeong cepat. Matanya telah memandang mata Jin kembali. “Ne oppa. Aku mau menjadi kekasihmu.”

Jin terkejut mendengar jawaban Soojeong yang tiba-tiba. Otaknya sempat berhenti bekerja selama beberapa detik sebelum kemudian tercipta senyum yang sangat lebar di wajah tampannya. Dengan perlahan ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Soojeong. Ia melihat Soojeong sedikit terlihat gelisah namun ia tak peduli. Ia semakin mendekatkan wajahnya lalu setelahnya bibirnya telah menempel sempurna pada bibir merah muda Soojeong. Tanpa ada sedikit keraguan dalam dirinya, Jin menggerakkan bibirnya pelan, melumat lembut bibir manis gadis itu.

“Gomawo, Soojeong-ah”

***

Because of you, I’m becoming ruined

I wanna stop, I don’t want you anymore

I can’t do it, this sucks

Please don’t give me any excuses

***

            Soojeong mengerjapkan matanya beberapa kali. Terasa perih dan panas. Entah sudah berapa liter air mata yang keluar dari kedua bola matanya. Gadis itu lelah, tubuhnya lelah, hatinya lelah, pikirannyapun demikian. Hidupnya menjadi sangat berantakan. Semenjak malam itu, malam di mana ia berpikir akan menjadi malam yang indah, air matanya tak hentinya mengalir. Bodoh memang. Gadis itu tau, tapi hatinya menjadi lemah karena cinta yang ia miliki untuk seorang pria, yang bahkan ia tak tau lagi bagaimana hatinya saat ini. Tubuh gadis itu menghangat ketika ia sadari sinar matahri telah menembus celah jendela yang dilapisi oleh kain berwarna putih tulang. Soojeong menggeser tubuhnya, meringkuk, menatap nanar selembar kertas yang di atasnya tercetak wajah seorang pria dan wanita yang tersenyum lebar. Mereka terlihat sangat bahagia memiliki satu sama lain. Lantas ia tersenyum getir, mengingat kenyataan yang terlampau beda dengan apa yang ada di dalam selembar foto itu. Sebutir air mata kembali jatuh menetes, membuat sprei yang ia tiduri terasa lembab. Sampai kapan ia harus menanggung rindunya seorang diri tanpa prianya?

            Setelah malam itu berlalu, hidupnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Memang tak ada waktu yang pasti untuk Jin menghubunginya. Tapi semenjak itu, tak satupun pesan yang pria itu kirimkan untuknya. Awalnya Soojeong berpikir kalau memang Jin sedang sangat sibuk. Memang, yang ia tau dari layar kaca, BTS, boy group dimana Jin berada, sedang melakukan promosi untuk album terbaru mereka. Soojeong sadar posisinya. Mau tak mau memang ialah yang harus mengalah. Tapi kesabarannya mulai menipis saat beberapa pesan yang ia kirimkan pada Jin  tak satupun mendapatkan balasan. Telfonpun tak mendapat jawaban. Soojeong tak mau egois. Ia sama sekali tak berharap Jin akan terus menghubunginya setiap saat. Tapi, bisakah satu kali saja Jin membalas pesannya? Bisakah sekali saja pria itu menjawab panggilannya?

Dan sekarang ia baru menyadari, ialah pejuang tunggal dalam hubungannya dengan Jin. Ya, dia sendiri yang memperjuangkan hubungan ini. Tidak dengan Jin, hanya Soojeong seorang diri. Kenyataan inilah yang membuat tekatnya membulat. Ia ingin menghentikan semua ini. Ia tak mau menyakiti hatinya lebih dalam dan ia juga tak ingin menjadi seseorang yang egois dengan mengharap Jin akan terus ada untuknya. Begini lebih baik. Gadis itu akan mencoba melepasnya, melepas pria yang sudah menjadi seperti oksigen dalam hidupnya, meski ia tau akibat yang akan ia terima karenanya. Tak ada pilihan, berjuang sendiri akan membuatnya sakit, melepasnyapun akan sakit. Tapi untuk saat ini ia akan melepasnya. Ya, ini akan menjadi lebih baik untuknya, juga bagi Jin.

Soojeong melepas pandangannya dari foto yang ia genggam semenjak beberapa menit yang lalu. Ponselnya bergetar. Gadis itu meraih ponselnya. Ia tak bisa menggambarkan bagaimana rasa sakit dalam hatinya ketika ia melihat nama siapa yang ada di layar ponselnya. Dadanya sesak, seolah semua oksigen dalam kamarnya menghilang seketika. Jemarinya bergetar. Ibu jarinya mengambang. Sebagian hatinya berbisik untuk menjawab panggilan dari pria yang selalu ada dipikirannya, namun sebagian hatinya membisikkan untuk tak menjawabnya. Akhirnya ia memutuska untuk bangkit, berjalan menuju meja riasnya yang ada di seberang ranjangnya. Tangan mungil Soojeong menarik pelan sebuah laci di meja riasnya. Sejenak ia memandangi ponselnya yang masih saja bergetar. Tapi ia telah memantapkan hatinya. Sedetik kemudian Soojeong meletakkan ponselnya ke dalam laci, lalu ia mendorong lacinya hingga tertutup rapat, meredam bunyi yang ditimbulkan dari panggilan yang tak kunjung ia jawab.

Air mata gadis itu terus mengalir tanpa henti yang membuat pipi halusnya basah. Gadis itu kembali meringkuk di atas ranjangnya. Kepalanya berdenyut, seperti akan meledak. Hatinya sakit seperti ada ribuan bilah pisau yang menyayatnya.

“Maafkan aku oppa.” Ucapnya lirih entah pada siapa. “Ku rasa inilah yang terbaik.”

***

Mata yang terpejam kemudian terbuka lebar saat gadis itu mendengar suara bel yang cukup nyaring. Ia mengucek matanya pelan. Soojeong bangkit dari tidurnya menuju meja riasnya. Lantas ia tersenyum kecut mendapati pantulan dirinya dalam kaca, begitu menyeramkan dan menyedihkan. Matanya bengkak, merah, dan rambutnya yang terlihat kusut. Tangannya bergerak meraih ikat rambut berwarna merah muda yang tergeletak di atas meja riasnya. Iapun mengikat rambutnya asal, berharap setidaknya tamu yang datang tidak lari terbirit-birit karena melihat penampilannya yang begitu menyeramkan. Soojeong berdiri diam sejenak di depan cermin, kemudian ia tersenyum. Jauh lebih baik, meski masih terlihat gurat kesedihan di wajahnya. Lalu iapun melangkahkan kakinya meninggalkan kamar pribadi gadis itu.

            Soojeong berlari kecil ketika bel semakin nyaring terdengar oleh telinganya. Tanpa keraguan sedikitpun, ia putar kenop pintu apartemennya yang berwarna putih. Telah berdiri di hadapan gadis itu seorang pria berperawakan tinggi, kulit putih, dengan senyuman yang menawan. Tubuh gadis itu membeku seketika. Tak ada senyuman terbentuk di wajahnya, meski tamunya sudah mengembangkan senyum miliknya lebar.

            “Kejutan….” Ucap pria itu dengan nada yang gembira. Setangkai bunga mawar berwarna merahmuda, warna yang menjadi favorit bagi gadis yang berdiri dihadapannya, ia ulurkan di hadapan wajah gadisnya.

            Tak ada reaksi dari Soojeong, hanya pandangannya yang terfokus pada bunga mawar merah muda di hadapannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun ia menahan dengan sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah begitu saja.

            “Ini, ambillah.” Ucap Jin lagi karena tak ada tanggapan dari Soojeong. “Ada apa? Kau tak menyukainya?”

            Soojeong mengerjapkan matanya. Hatinya melemah melihat raut wajah kecewa pria di hadapannya itu. Dengan keraguan yang menyelimuti hatinya, iapun mengambil bunga mawar merah muda itu dari tangan Jin.

            “Terimakasih.” Sahut Soojoeng kemudian, membuat bibir pria itu melengkung ke atas. Soojeongpun mempersilahkan Jin masuk setelahnya. Ia berjalan beberapa langkah di depan pria itu. Ya, memang gadis itu sedikit menghindari Jin. Ia tak mau hatinya kembali melemah.

            Terdengar langkah berat Jin dari balik tubuh Soojeong. Jujur, Soojeong ingin sekali berjalan berdampingan dengan pria itu, mengaitkan jemarinya di antara jemari pria itu, menggandeng tangan pria itu, mengistirahatkan kepalanya di bahu lebar milik pria itu, memeluk pria itu. Terlalu banyak yang ingin gadis itu lakukan bersama Jin. Melepas kerinduan yang selama ini terpendam dalam hatinya. Tapi ia memilih untuk memendamnya kembali. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan pria itu. Tangannya menggenggam bunga mawar erat, mencoba mendapat kekuatan darinya.

“Oppa duduklah, aku ambilkan minum.” Ucap Soojeong berlalu tanpa melihat Jin. Jin sadar akan sikap gadisnya itu, tapi ia tetap menutup mulutnya. Ia akan menunggu suasana yang tepat untuk memastikan semuanya. Untuk menetralkan pikirannya, ia pun meletakkan tubuhnya di atas sebuah sofa berbahan beludru dengan nyaman. Jin memejamkan matanya. Otaknya berpikir keras, mencoba membaca situasi yang membuatnya tak nyaman.

“Ini minumnya, oppa.” Terdengar suara Soojeong, membuat Jin membuka matanya dan menegakkan duduknya. Iapun tersenyum pada gadis itu walau tak ada balasan dari gadis itu.

            “Terimakasih.” Ucap Jin tulus lalu meneguk pelan ice coffe yang Soojeong bawakan untuknya. Soojeong hanya menganggukkan kepalanya.

            Jin meletakkan gelas yang ia genggam ke atas meja. Setelahnya, ia memfokuskan pandangannya pada Soojeong. Gadis itu terlihat berbeda dari terakhir kali ia lihat, entahlah dua bulan yang lalu? Atau sebulan yang lalu? Entahlah, pria itu tak begitu yakin. Menyadari itu, terselip rasa bersalah. Ia bahkan tak mampu mengingat kapan terakhir kalinya ia menemui gadis itu. Mata gadis itu sembab, merah, dan lihatlah walaupun ia mengikat rambutnya keatas, sangat terlihat jelas rambutnya berantakan. Tak serapih setiap Jin melihat gadis itu sebelum ini.

            “Hei, kau kenapa, eoh?” Tanya Jin lembut. Tangannya meraih tangan Soojeong yang semenjak tadi dikaitkan oleh gadis itu erat. “Kenapa matamu sembab? Kau menangis?”

Tak ada jawaban dari Soojeong. Gadis itu hanya diam dan menundukkan kepalanya dalam. Apa yang gadis itu sedang sembunyikan, Jin sama sekali tak mengetahuinya. Terakhir kali ia menelfon gadis itu, di malam ia membatalkan sendiri janjinya, ia merasa gadis itu terdengar baik-baik saja.

            Jin menghela nafas pelan. “Baiklah kalau kau belum ingin menceritakannya padaku.” Sahut Jin kemudian masih menggenggam tangan Soojeong. Bahkan Soojeong mendapati tangannya diusap lembut oleh pria itu. Nyaman, tapi hatinya perih.

            “Aku merindukanmu, Soojeong-ah.” Jin berucap kembali, mencoba mengutarakan isi hatinya pada gadis yang telah lama tak ia jumpai. “Tidakkah kau merasakan demikian?”

            Soojeong menggigit bibir bawahnya mendengar perkataan Jin. Jujur, iapun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Jin. Bahkan mungkin lebih. Ia sangat merindukakan sosok pria yang tengah menggenggam tangannya erat.

            “Hari ini aku bebas. Jadwalku kosong. Jadi, aku bisa seharianbersamamu. Bukankah ini menyenangkan?” ucap Jin penuh dengan semangat. Dan Soojeong, ia masih berusaha mengontrol dirinya sendiri. “Kau mau kemana? Aku bisa mengantarmu kemana saja. Aku sudah meminjam mobil dari manajer hyung.”

            “Aniya, aku mau di sini saja.” Akhirnya Soojeong bersuara setelah ia mencoba meredam gemuruh dalam dadanya.

            “Baiklah, jika itu maumu.” Sahut Jin kemudian. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita memasak sesuatu? Menonton film bersama? Atau kau mau____”

            “Oppa,” Ucap Soojeong memotong ucapan Jin. Jin terdiam. Keningnya berkerut. “Aku..aku ingin mengatakan sesuatu pada oppa.”

            “Apa itu?” ucap Jin lembut.

            Tak langsung menjawab, Soojeong menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya pelan. Mungkin ini saatnya ia mengutarakn semua yang ia inginkan pada Jin.

            “Apa oppa akan sangat sibuk nantinya?” Tanya Soojeong.

            Jin menghela nafasnya kasar. Ia menyentuh bahu gadis di sampingnya lalu menghadapkannya pada dirinya. “Iya, aku akan sangat sibuk. Aku ada dalam masa promosi album yang baru,” ucapnya hati-hati tak ingin menyakiti gadisnya. “Tapi kau tenang saja, tidak akan lama. Aku akan kembali menemuimu setelah semuanya selesai. Dan jika saat itu datang, kau boleh meminta apaun dari ku. Kau ingin kemana, akan aku antarkan.” Jin mengusap kepala Soojeong lembut, lalu setelahnya ia mengecup puncak kepalanya.

            Soojeong mebuka mulutnya kembali. “Apa oppa____”

            “Ah, aku juga ingin memberi tahumu bahwa besok sampai dua minggu kedepan aku harus pergi ke LA. Kau takapa?” Sela Jin sebelum Soojeong berhasil menyelesaikan kalimatnya. Dan perkatannya sukses membuat hati Soojeong kembali terasa nyeri. Ke LA selama dua minggu? Itu artinya, ia tak akan bisa menghubungi pria itu kembali.

            “Aku tak apa oppa. Aku mengerti.” Ujar Soojeong lemah. Detik berikutnya gadis itu mendapati tubuhnya telah berada dalam dekapan Jin. Tangan kiri pria itu melingkar erat di punggungnya sedangkan tangan kanannya mengelus kepala Soojeong lembut.

            “Aku pasti akan sangat merindukanmu, Soojeong-ah.” Sahut Jin lalu mengecup kening Soojeong selama beberapa detik, kemudian ia kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jin. Matanya mulai memanas, tapi ia tak boleh menangis. Tidak sekarang, tidak dihadapan Jin. Menangis justru membuatnya akan semakin lemah.

“Jika aku sudah di LA, kau harus berjanji satu hal padaku,” Jin meletakkan dagunya di puncak kepala Soojeong. “Kita harus saling bertukar kabar. Kirimi aku pesan, dan aku akan menelfonmu. Dan, hei, tadi kenapa kau tak jawab telfonku, eo?”

            Soojeong diam sejenak sebelum menjawabnya. “Tadi, aku tidur. Jadi aku tak mendengar panggilan oppa.” Ucapnya seadanya. Merasa tak nyaman dengan jawabannya sendiri, gadis itu semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan Jin. Soojeong menghirup aroma tubuh pria ituselagi ia masih mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Tak lupa ia lingkarkan kedua tangannya dipinggang Jin erat.

Jin yang merasakan dirinya dipeluk erat oleh Soojeong, justru semakin mengeratkan pelukannya juga. Entahlah, ia hanya merasa harus melakukannya. Berulangkali juga ia mengecup puncak kepala Soojeong seakan tak pernah habis rasa sayangnya pada gadis itu. Selama beberapa menit, mereka berdua hanya saling menikmati pelukan masing-masing dengan keheningan.

            “Oppa,” ucap Soojeong lirih. Suaranya teredam oleh pelukan Jin padanya. “Bagaimana kalu kita akhiri saja hubungan kita?”

***

You can’t do this to me
All of the things you said are like a mask
It hides the truth and rips me apart
It pierces me, I’m going crazy, I hate this
Take it all away, I hate you

I’m sorry I hate u
I love you I hate u
Forgive me

***

Suara teriakan gadis-gadis menjadi sebuah sambutan untuk Soojeong kala ia meginjakkan kakinya di sebuah gedung. Sejauh mata memandang, yang bisa gadis itu lihat hanyalah kerumunan para gadis remaja dengan berbagai aksesoris yang melekat di tubuh mereka. Tak jarang juga ia melihat spanduk-spanduk warna-warni di rentangkan tinggi-tinggi. Soojeong menghela nafasnya, memantapkan hatinya untuk melangkah memasuki gedung yang menjulang tinggi di hadapannya itu. Bukan, gedung itu bukanlah mall atau sejenisnya. Ia datang ke sana untuk suatu keperluan. Demi kelangsungan hidupnya.

Tanpa aksesoris ataupun baju yang mencolok, Soojeong melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut. Beberapa kali ia merasakan sepatunya terinjak oleh segerombolan wanita yang mencoba berebut untuk masuk ke dalamnya, dan Soojeong dapat memakluminya.Hatinya sempat meragu, apa ini adalah keputusan yang tepat untuknya? Namun, ia kembali membulatkan tekatnya. Ia harus masuk jika tak ingin menyesal seumur hidupnya.

Setelah melewati beberapa lorong, akhirnya Soojeong sampai di tempat tujuan. Sepertinya ia sedikit terlambat, terlihat dari panjangnya antrian yang telah terbentuk. Iapun berjalan dan mengantri pada sebuah barisan di antara barisan yang lain. Barisan yang dipilihnya cukup panjang, walau tak sepanjang barisan yang ada di sebelah kanannya. Ia merasa sangat asing dengan susana di sekitarnya. Ya, Soojeong memang belum pernah datang ke acara-acara seperti ini. Ini adalah kali pertama untuknya. Walau begitu, gadis itu tetap sabar berdiri di posisinya, untuk menanti gilirannya. Iapun mengambil sebuah benda berbentuk kotak dengan sebuah cover berwarna biru. Ia genggam benda itu erat-erat seolah tak ingin kehilangannya. Beberapa kali ia mendengar gadis di depannya berbicara sambil berbisik dengan gadis lain di barisan yang sama.

“Bukankah ia sangat tampan?” ucap seorang gadis berambut coklat.

“Sangat sangat tampan.” Sahut gadis lainnya. “Wanita yang menjadi kekasihnya kelak pasti akan sangat beruntung.

Mendengarnya, Soojeong tersenyum kecut. Mata Soojeong beralih memandang ke depan. Di mana di sana terdapat sebuah meja panjang yang dilapisi kain merah maroon berada. Di balik meja itu terdapat tujuh orang pria dengan senyum lebar menyambut setiap wanita yang menghampirinya. Dan ketika Soojeong menemukan sosok itu, ia tersenyum. Ya, ia berdiri tepat di barisan di mana sosok itu berada. Ia tetap sama. Tak ada perubahan. Hanya saja, ia terlihat semakin tampan.

“Kau pasti bercandakan?” Suaranya bergetar. Ia tak lagi memeluk gadisnya.

“Tidak oppa.” Sahut gadis yang tadi didekap erat oleh pria itu. “Aku rasa inilah yang terbaik untuk kita.”

Tangan pria itu beralih menyentuh kedua pundak gadis yang ada di hadapannya. Tatapannya menajam berusaha mencari jawaban dari lawan bicaranya.

“Tapi kenapa? Bukankah selama ini kita baik-baik saja?” Tanya pria itu lagi, frustasi.

Yang ditanya menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak oppa, selama ini aku tidak baik-baik saja.” Sahut gadis itu kemudian. Tatapannya terfokus pada satu arah, mata lelaki itu. Ia berusaha meyakinkan pria di hadapannya melalui matanya. “Aku mencintaimu, sangat. Tapi kurasa ini yang terbaik. Aku tak mau terjatuh lebih dalam dan aku tak mau egois.”

Pria di hadapannya telah kehabisan kata-kata. Ia hanya ingin hubungannya tak berakhir. Semenjak ia bertemu dengan gadis di hadapannya pada malam itu, hidupnya berubah. Ia berubah menjadi pria yang penuh percaya diri, berubah menjadi pria yang tangguh. Tak pernah terfikir olehnya hidup tanpa gadis itu. Mungkin ia akan mati, pikirnya. Karena baginya, presensi gadis itu sama dengan oksigen yang ia butuhkan setiap saat untuknya bertahan hidup. Ya, ia membutuhkan gadisnya, ia membutuhkannya sama seperti ia membutuhkan oksigen.

“Percayalah oppa,” Sahut gadis itu kemudian. “Jika hubungan ini kita teruskan, maka kita akan sama-sama tersakiti.”

Lagi-lagi Jin hanya terdiam. Ia tak mengerti mengapa hubungannya akan berakhir tragis seperti ini.

“Maafkan aku oppa,” Soojeong terisak pelan. “Aku benci dengan keadaan ini. Aku benci harus menyimpan rinduku seorang diri.” Isakannya semakin terdengar jelas oleh indera pendengaran Jin. “Berulang kali kau membuatku menunggu tanpa kepastian. Berulang kali juga kau membatalkan janji yang telah kau buat sendiri.”

“Tapi, Soojeong-ah____” ucap Jin yang tak mampu menyelesaikan kalimatnya sendiri.

“Aku mencintaimu oppa, sangat. Tapi aku benci dengan keadaan ini.” Sahut Soojeong cepat. “Jadi kumohon, lepaskan aku oppa.”

Mata Soojeong kembali terasa panas mengingat kejadian itu. Dirinya sadar akan kesalahannya, tapi inilah yang terbaik untuknya. Tak ada pilihan yang tepat untuknya, bahkan sampai sekarang. Bertahan atau melepas sama-sama membuatnya sakit. Karena secara tidak sadar, ia tetap membutuhkan sosok itu.

Tanpa ia sadari, Soojeong telah berada tak jauh dari meja panjang berwarna merah itu. Hanya berjarak lima orang sebelum gilirannya tiba dan itu membuat pikirannya semakin tertarik pada masalalu.

“Maafkan aku oppa,” Kini gadis itu tak bisa menahan kesedihannya lagi. Air matanya telah tumpah membasahi pipinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri. Namun tiba-tiba ia merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya. Jin telah membawanya kedalam pelukan pria itu.

“Boleh aku meminta satu permintaan darimu?” Suara pria itu terdengar parau. Soojeong menjawabnya dengan sebuah anggukan. Lalu setelahnya, ia merasakan kedua tangan kekar pria di hadapannya menyentuh sisi wajahnya, membuat wajahnya terangkat. Dan detik berikutnya, ia merasakan kehangatan di bibirnya. Jin menciumnya lembut. Tak ada paksaan dan tuntutan sama sekali. Lama Jin menautkan bibirnya di bibir Soojeong dan gadis itu sama sekali tak memberontak, ia justru menikmatinya. Ya, dia menikamati saat-saat terakhir bersama pria yang ia cintai.

Beberapa saat kemudian, Jin telah melepaskan tautannya. “Jika itu yang terbaik menurutmu, maka aku tak akan memaksamu.” Ucapnya parau. “Tapi aku ingin kau tau, aku akan selalu membutuhkanmu karena aku mencintaimu.”

Soojeong mengulurkan tangannya kedepan, menyerahkan benda berbentuk segi empat ke hadapan pria di hadapannya.

“Kau ingin aku menulis apa di sini?” ucap pria itu tanpa melihat Soojeong yang berdiri di hadapannya.

Soojeong menghela nafas mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. “Kau terlihat baik-baik saja.” Sahut Soojeong kemudian.

“Ya?” Tanya pria itu memastikan.

“Kau terlihat baik-baik saja oppa.” Ucap Soojeong lagi membuat pria di hadapannya menoleh.

“Soojeong?” ucap pria itu tak percaya.

Seulas senyum ia tunjukkan pada pria yang ada di hadapannya itu, Jin. Namun di balik senyum itu, terdapat rasa yang bercampur aduk dalam hatinya. Senang karena ia dapat bertemu lagi dengan pria yang ia cintai, tapi juga sedih karena ia tersadar pria itu bukan lagi miliknya.

“Kau terlihat sangat tampan oppa.” Ucap Soojeong kemudian. Dilihatnya Jin masih terdiam melihatnya. Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini mendapati dirinya berdiri di hadapan Jin setelah enam bulan tak pernah bertemu sekalipun. “Kau juga terlihat baik-baik saja.”

Jin berusaha menetralkan air mukanya. Ia memberikan seulas senyum pada Soojeong. Tanpa memberikan sepatah katapun pada Soojeong, tangan pria itu dengan lincah menuliskan sesuatu pada CD yang tadi Soojeong berikan padanya. Setelah merampungkan tulisannya, ia menyerahkan kembali CD itu pada pemiliknya, Soojeong.

“Aku memang terlihat baik-baik saja,” ucap Jin kemudian. “Tapi tidak dengan hatiku. Aku membutuhkanmu.”

Dan Soojeongpun tersadar, sama seperti pria itu, ia juga membutuhkan Jin dalam hidupnya. Namun sekali lagi, rasa saling membutuhkan itu yang membuat keduanya merasa tersakiti….

***

One response to “[FREELANCE] I Need You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s