[FREELANCE] Isn’t Love Story Chapter 7 – Dinner

FIX-1

Title: Isn’t Love Story Chapter 7 – Dinner

Writen By: Vartstory

Main Character:

Kim Jongin | Jung Jihyun | Park Hyunji | Oh Sehun

Supporting Character:

Yook Sungjae | Park Soo Young/ Joy | Yoon Hyena | Jackson Wang | Do Kyungsoo | Kang Ahra

Genre:

Romance | Friendship | School

Leght:

Chaptered

 CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER 3 CHAPTER 4 CHAPTER 5 CHAPTER 6 

“Datang ke rumah Hyunji sekarang juga, bantu Hyunji untuk mempersiapkan acara ulang tahunnya. Kali ini, jangan membuat ayah kecewa padamu. Jangan membuat ayah menggantimu dengan Hyena sebagai ahli waris ayah.”

Jongin meremas stir mobilnya dengan keras, lagi-lagi ayahnya merusak kebahagian yang sedang dirinya rasakan. Sungguh Jongin membenci semua yang berhubungan dengan pertunangannya dengan Hyunji. Sejak pertama kali ayahnya mengatakan jika dirinya akan dijodohkan dengan Hyunji, tak pernah sekalipun ayahnya mendengar pendapatnya. Dan pada saat itu, Jongin berharap besar kepada Hyunji untuk menolak perjodohan ini di depan orang tua mereka, namun yang dilakukan Hyunji malah menyetujui rencana perjodohan mereka bahkan Hyunji sama sekali tidak menolak saat pertunangannya diadakan satu minggu setelah Hyunji menyetujui perjodohan mereka.

Saat itu Jongin benar-benar marah sekaligus kecewa kepada Hyunji, bahkan Jongin sempat menghilang beberapa jam sebelum pertunangan mereka dimulai. Walau pada akhirnya Jongin berhasil di temukan di bawa paksa oleh anak buah ayahnya untuk datang ke pertunangannya yang diadakan tertutup dan hanya dihadiri oleh orang-orang  terdekatnya termasuk juga Sehun, sahabatnya. Yang saat itu terlihat sangat marah kepada Jongin.

“Kau tahu kan kalau aku menyukai Hyunji, tapi kenapa kau menyetujui pertunangan ini Kim Jongin??!!!

“Aku tidak menyetujuinya.”

“Kalau kau tidak menyetujinya kenapa pertunangan ini tetap terjadi?!!! Ingat, mulai saat ini kau bukan lagi sahabatku.”

Tapi kali ini bukan hanya Hyunji yang menyulut emosinya, namun ucapan ayahnya perihal menggantinya dengan Hyena sebagai pewaris Empire Group. Jujur saja, Jongin sebenarnya sama sekali tidak peduli jika ayahnya tidak mewarisi Empire kepadanya tapi tidak kepada Hyena. Karena Hyena sama sekali tidak pantas mewarisi semua aset Empire, Hyena hanya akan membuat Empire berada di dalam kekacauan.

Jongin sampai di rumah Hyunji yang berada di kawasan Cheongdam-dong, dan bersiap menampilkan senyum palsunya di depan ibu Hyunji. Ibu Hyunji yang melihat calon menantunya tiba, langsung tersenyum hangat.

Ibu Hyunji lalu mempersilahkan Jongin duduk, “Maaf sudah menyuruhmu datang tiba-tiba Jongin, apa bibi dan Hyunji menganggu acaramu?”

“Tidak bi,” ya kalian mengganggu acaraku “sama sekali tidak.”

Hyunji yang melihat Jongin datang langsung menampilkan senyumannya, walaupun saat ini hatinya sangat bertentangan. Ucapan Jongin tadi pagi, terus membayanginya. Hyunji sekarang yakin, kali ini Jongin pasti akan benar-benar muak dan membenci dirinya.

Hyunji yang sudah berpakaian rapi menghampiri Jongin yang berada di ruang tamu. Hari ini mereka akan ke butik untuk membeli gaun yang akan Hyunji pakai di hari ulang tahunnya.

“Kau sudah siap?” tanya Jongin, ah tentu saja pertanyaan Jongin ini hanyalah sekedar basa basi. Sekaligus karena Jongin tidak ingin terlalu lama berada di rumah Hyunji. Lelah rasanya jika terlalu lama berpura-pura bersikap jika semuanya baik-baik saja.

“Ya aku sudah siap. Kalau begitu kami berangkat, bu.” Hyunji berpamitan kepada ibunya, begitu juga dengan Jongin yang membungkuk hormat kepada ibu Hyunji.

Hyunji berjalan mengekori Jongin dan masuk ke dalam mobil tunangannya itu. Ah bahkan Hyunji merasa aneh jika menyebut Jongin sebagai tunangannya, karena Jongin bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai tunangannya.

Saat berada di dalam mobil, keadaan berubah seketika. Tidak ada lagi Jongin yang ramah saat berada di hadapan ibunya tadi, yang ada hanyalah Jongin yang dingin, Jongin yang selama beberapa tahun belakangan ini dikenalnya.

“Aku harus mengantarmu kemana?” Suara dingin Jongin memecah keheningan diantara mereka.

“Butik langganan keluargamu.” Hyunji menjawab pertanyaan Jongin, lalu setelah itu tidak ada satupun lagi kata yang keluar dari mulut mereka berdua.

Bahkan saat sudah berada di butik pun, mereka atau lebih tepatnya Jongin sama sekali tidak bersuara. Hanya Hyunji yang mengeluarkan suaranya, itu juga karena dia harus menanyakan perihal baju yang di pesannya kepada pegawai butik.

Sebenarnya Hyunji sangat tidak nyaman dengan situasi ini, namun Hyunji tau jika dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk mencairkan suasana. Jangankan untuk berbicara dengan Hyunji, untuk menatap Hyunji pun sepertinya tidak ingin.

“Aku sudah selesai, kau tak usah mengantarku karena aku mempunyai janji dengan temanku.” Bohong. Hyunji bahkan tak pernah mengatur janji pada siapapun. Hal ini dilakukannya karena tau Jongin sudah sangat jengah.

Namun sebelum Jongin beranjak meninggalkannya, Hyunji tiba-tiba menahan lengan Jongin, “Maafkan aku, Jong. Maaf karena aku sudah egois, maaf karena aku sudah merusak persahabatanmu dengan Sehun. Maaf karena aku sudah merusak semuanya.”

Jongin menatap Hyunji tajam dan menghempaskan genggaman tangan Hyunji pada lengannya, “Apa kau pikir hanya dengan meminta maaf semuanya akan kembali seperti dulu? Percuma, kau tahu itu.”

Benar apa yang Jongin katakan, semuanya percuma. Mungkin satu-satunya cara untuk memperbaiki semuanya ialah dengan memutuskan pertunangan mereka tapi Hyunji tidak bisa melakukan itu. Hyunji tidak bisa mengecewakan kedua orang tuanya yang sangat bahagia akan pertunangan mereka.

Dan tanpa berkata apapun lagi, Jongin masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Hyunji. Kejam memang. Tapi kalau saja waktu itu Hyunji tidak egois, mungkin Jongin tidak akan bersikap seperti ini kepadanya.

Jongin melajukan mobilnya tak tentu arah. Jongin tidak mungkin pulang kerumahnya dalam suasana hati yang sedang tidak baik seperti ini, pulang kerumah dan bertemu dengan dua wanita itu akan semakin memperburuk suasana hatinya.

Dan disinilah Jongin, memarkirkan kendaraanya tepat di seberang kedai bubur tempat Jihyun bekerja. Memperhatikan gadis itu melayani pelanggan dari kejauhan. Entah apa yang tadi dipikirkannya, tiba-tiba dirinya mengendarai mobilnya menuju tempat kerja Jihyun.

Jongin terus berada di seberang kedai bubur tempat Jihyun bekerja hingga Jihyun dua rekannya menutup kedai buburnya. Saat melihat Jihyun keluar, Jongin buru-buru menyalakan mesin mobilnya lalu memutar balik mobilnya dan mengendarinya perlahan hingga tepat berada di samping Jihyun.

“Sunbae.” Jihyun terkejut dengan kemunculan Jongin yang tiba-tiba, belum lagi Jongin masih memakai seragam sekolah lengkap. Persis seperti terakhir kali Jongin meninggalkan kedai bubur tempatnya bekerja.

Kai menghampiri Jihyun dan membuka pintu mobilnya, “Masuklah, aku akan mentraktirmu makan sekarang.”

Pupil mata Jihyun membulat saat mendengar ajakan Jongin, “Sekarang?”

“Bukankah kau sudah setuju jika sewaktu-waktu aku akan mentraktirmu makan?” Belum sempat Jihyun membalas ucapan Kai, Kai sudah terlebih dahulu menarik Jihyun untuk memasuki mobilnya dan menutup pintu mobilnya itu.

Kai mengajak Jihyun menuju restaurant yang terletak tidak jauh dari tempat Jihyun bekerja, restaurant yang menyajikan galbi sebagai hidangan utamanya. Restaurant yang dari luar terlihat sangat modern, tetapi dibagian dalam sama sekali jauh dari kesan modern.

Kai dan Jihyun dipersilahkan duduk oleh salah satu pelayan, kemudian pelayan tersebut menyerahkan sebuah buku menu kepada Kai dan juga Jihyun. Jihyun membaca daftar makanan yang terdapat dalam menu, tenggorokannya serasa tercekat saat membaca harga yang tertera untuk masing-masing makanan.

“Pesan saja apapun yang kau inginkan.”

Pesan apapun yang Jihyun inginkan? Ya Tuhan, bagaimana Kai bisa berbicara seenteng itu sedangkan saat ini Jihyun sedang sibuk menghitung jumlah uang yang akan Kai keluarkan di restaurant ini. Restaurant yang bahkan untuk seporsi saeng galbi dihargai 77.000 won yang berarti tiga kali lipat dari harga bubur termahal di tempatnya bekerja dan harga termurah untuk menu makanannya adalah 30.000 won itu juga hanya seporsi bulgogi.

Kai diam-diam mengamati Jihyun yang sedang sibuk dengan buku menunya. Melihat ekspresi Jihyun yang membulatkan matanya saat membaca harga yang tertera di menu, sungguh menggemaskan bagi Kai.

Lalu Kai mengambil buku menu yang berada di genggaman Jihyun “Biar aku yang memesankannya untukmu.” Titah Kai, lalu Kai memanggil pelayan yang berada tidak jauh darinya dan memesan makanan pilihannya kepada pelayan tersebut.

Tidak butuh waktu lama, pelayan tersebut datang bersama troli yang berisi beberapa makanan yang tadi di pesan Kai. Salah satunya adalah saeng galbi, king crab legs, ribeye, dan beberapa hidangan sampingan lainnya.

Lagi-lagi Kai dibuat gemas oleh tingkah gadis yang berada di hadapannya saat ini. Saat melihat semua makanan yang dibawakan oleh pelayan, secara tidak sadar Jihyun membulatkan matanya dan menatap semua makanan tersebut tanpa berkedip. Bagi Jihyun semua makanan ini terlalu banyak untuk disajikan bagi dua orang. Pelayan tersebut kemudian memanggang daging yang akan disantap oleh Kai dan Jihyun.

“Kau bekerja di kedai bubur tadi setiap hari?” Pertanyaan Kai memecah keheningan diantara mereka.

Jihyun lalu menganggukkan kepalanya, “Kecuali hari minggu.”

“Kau sudah lama mengenal Sungjae dan Soo Young?” Terlalu banyak pertanyaan basa-basi memang tapi setidaknya menurut Kai pertanyaannya itu tidak terlalu buruk. Daripada dia dan Jihyun harus diam tanpa bicara apapun, karena hal itu terlihat lebih buruk.

“Kalau Sungjae, aku sudah mengenalnya sejak duduk di sekolah dasar, sedangkan Soo Young aku mengenalnya beberapa bulan setelah mereka resmi berkencan.”

Kai dan Jihyun terus berbincang, menceritakan dan bertanya banyak hal. Yang tentunya semua percakapan itu di dominasi oleh Kai. Sedangkan Jihyun hanya menjawab pertanyaan yang di lontarkan Kai. Jihyun sendiri bukannya takut pada Kai, namun dia hanya bingung untuk sekedar melontarkan pertanyaan untuk senior yang berada di hadapannya saat ini.

Selama hampir satu jam, akhirnya mereka selesai menyantap makanan yang Kai pesan. Walau begitu masih banyak daging yang tersisa. Jihyun merasa sayang jika daging-daging tersebut di tinggal begitu saja, tapi Jihyun juga tidak bisa meminta pelayan untuk membungkusnya karena Kai saat ini masih berada di hadapannya.

Dan sekarang Jihyun merasa bersyukur, karena Kai kini sedang meninggalkannya menuju kamar kecil. Dengan segera Jihyun meminta pelayan untuk membungkuskan makanan yang masih tersisa. Tidak menunggu lama, pelayan tersebut datang dengan membawa beberapa bungkus makanan sisa Jihyun dan Kai kepada Jihyun. Jihyun pun buru-buru memasukkan makanan tersebut ke dalam tasnya agar Kai tidak mengetahui hal tersebut.

Namun ternyata Kai tengah mengamatinya dari kamar kecil yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya dengan Jihyun tadi. Sebenarnya Kai ingin melarang Jihyun membungkus makanan tersebut dan membelikan Jihyun makanan baru untuk Jihyun bawa pulang. Tapi Kai enggan melakukan hal tersebut, takut kalau Jihyun merasa malu jika dirinya ketahuan membungkus makanan sisa.

Kai lalu menghampiri Jihyun dan pura-pura tidak mengetahui apapun, “Sudah selesai?” tanyanya yang dibalas anggukan oleh Jihyun.

“Terima kasih atas makanannya sunbae.” Jihyun membungkukkan badannya sesaat mereka sampai di area parkir.

“Rumahmu berada dimana? Aku akan mengantarmu.” Ucap Kai, karena Kai tentu ingin bertanggung jawab karena sudah membuat Jihyun pulang terlambat. Bagaimana pun juga Kai tetaplah seorang pria walaupun mungkin ini pertama kalinya dia bersikap seperti ini.

Jihyun menggelengkan kepalanya, “Tidak usah sunbae. Aku sudah terlalu merepotkanmu, aku akan pulang sendiri saja.”

“Tapi ini sudah hampir tengah malam, tidak baik jika seorang gadis pulang seorang diri di jam seperti ini.”

“Aku tak apa sunbae, aku juga sudah beberapa kali pulang larut malam seperti ini jika kedai sedang sangat ramai.” Jihyun menolak tawaran Kai karena dirinya merasa tidak enak, selain itu Jihyun juga tidak ingin mengambil resiko dilihat oleh ibunya. Karena ibunya bisa saja marah karena Jihyun sudah melanggar janjinya.

“Baiklah, tapi kau tidak boleh pulang menggunakan bus. Terlalu bahaya.”

Kai yang memang tidak ingin membuat Jihyun merasa tidak nyaman olehnya, menyetujui permintaan Jihyun untuk tidak mengantarnya pulang. Kai lalu memberhentikan sebuah taksi, lalu mengatakan sesuatu kepada sang supir sembari mengeluarkan beberapa lembar won kepada sang supir taksi.

“Naiklah, aku sudah mengatakan kepada supir taksi ini untuk mengantarmu sampai rumah.”

Dan lagi, tanpa sepersetujuan Jihyun, Kai mendorong Jihyun agar masuk ke dalam taksi. Lalu buru-buru Kai menutup pintu dan menyuruh sang supir untuk melajukan mobilnya. Kai tersenyum tipis saat memandangi taksi yang di tumpangi Jihyun mulai menjauh. Pilihannya untuk mentraktir Jihyun saat ini ternyata tidak salah, Jihyun bisa membuat suasana hatinya menjadi sedikit lebih baik.

“Hei Sehun!! Kau serius dengan ucapanmu itu?” tanya Jackson sambil memegang stick billiard yang berada di tangannya.

“Ucapan yang mana?” Sehun bertanya balik, sambil tetap fokus kepada dart board yang berada beberapa meter di hadapannya.

Jackson mendengus saat Sehun kembali melemparkan pertanyaan kepadanya, “Soal anak baru itu.” Dan kembali memfokuskan dirinya pada bola billiard, dia tidak ingin kalah lagi dari Kyungsoo kali ini.

Saat ini Jackson, Sehun dan Kyungsoo sedang berkumpul bersama. Dulu sewaktu hubungan Kai dan Sehun belum memburuk, mereka berempat hampir setiap hari berkumpul disini. Namun sekarang disaat ada Kai bersama Kyungsoo dan Jackson, pasti Sehun tidak ada bersama mereka, begitu juga sebaliknya.

Sehun menyeringai lalu melemparkan sebuah anak panah yang tepat mengenai titik merah di tengah dart board, “Menurutmu apa aku terlihat seperti seorang yang sedang bermain-main?”

“Jangan bermain-main dengan perasaan seseorang jika kau tidak ingin ikut terperangkap di dalamnya.” Kali ini Kyungsoo yang sedari tadi hanya berfokus kepada permainan billiardnya dengan Jackson, akhirnya bersuara. Dari awal mendengar ucapan Sehun tentang Jihyun, Kyungsoo tidak pernah setuju. Kyungsoo takut jika nantinya Sehun malah terperangkap oleh permainannya sendiri dan nantinya bukan hanya Jihyun ataupun Kai yang sakit tapi juga Sehun sendiri.

“Terperangkap di dalamnya? Maksudmu tertarik dengan anak baru itu?” Sehun menahan tawanya saat mendengar ucapan Kyungsoo, ada kesan meremehkan di dalam tawa yang dikeluarkannya itu. “Kau bercanda? Kau dengar ya, aku seorang Oh Sehun tak akan mungkin jatuh pada perangkapku sendiri. Dan lagi, gadis itu sama sekali tidak menarik untukku.”

Kyungsoo menghembuskan nafasnya berat, dirinya sangat paham tabiat sahabatnya yang satu itu. Percuma menasihati Sehun seperti apapun, karena Sehun tak akan pernah mendengarnya. “Tidak ada yang menjamin kalau kau tak akan ikut terjebak dalam permainanmu sendiri.” Kyungsoo melanjutkan sambil mengarahkan stick billiardnya kepada salah satu bola yang berada di ujung meja.

“Bagaimana jika yang Kyungsoo katakan benar, kalau kau akan tertarik pada anak baru itu? Lagipula jika dilihat-lihat anak baru itu tidak terlalu buruk, hanya butuh sedikit polesan, dia pasti akan masuk jejeran wanita yang diincar para pria di sekolah.”

Sehun mendengus kesal, bagaimana bisa dua sahabatnya itu mengatakan jika dirinya akan tertarik dengan si anak baru? “Ku bilang tidak akan! Aku tidak akan tertarik padanya!”

Jackson tiba-tiba menyeringai lalu menatap Kyungsoo dan Sehun secara bergantian, “Berani bertaruh?”

Sehun menaikkan sebelah alisnya dan mengangguk samar, “Kalau aku menang kau harus mengumpulkan semua gadis yang sedang dan pernah kau kencani secara bersamaan.”

“YAAA KAU GILA?!!” Jackson memekik tidak terima, bagaimana bisa Sehun menyuruhnya melakukan hal konyol seperti itu. Bertemu semua gadis yang dia kencani secara bersamaan itu sama saja bunuh diri.

“Jadi kau tidak mau? Ah baiklah, kalau begitu kau tinggal pilih bertemu dengan semua gadis yang kau kencani atau berkencan dengan Yoon Hyena selama satu hari?”

Mendengar nama Hyena, Jackson langsung bergidik ngeri, “Aku pilih yang pertama.” Membayangkan berkencan dengan Hyena saja Jackson enggan, lagipula mana mungkin dirinya berkencan dengan gadis yang sangat terobsesi dengan seorang Oh Sehun. “Dan jika kau kalah, kau harus mewarnai rambutmu dengan warna pelangi. Selain itu kau juga harus makan malam bersama dengan anak baru itu, Jongin dan juga Hyunji, bagaimana?” Jackson tersenyum licik, sungguh dia sangat mendewakan ide brialiannya yang tiba-tiba muncul untuk membalas sahabatnya itu.

“Untuk yang pertama aku mau dan yang kedua, jangan harap aku mau melakukannya. Lagipula, aku hanya menyuruhmu melakukan satu hal tapi kenapa kau menyuruhku melakukan dua hal?” Sungguh apa yang Jackson pikirkan sehingga menyuruhnya melakukan double date dengan Kai dan juga Hyunji? Bertemu dengan mereka berdua saja, sudah membuat suasana hatinya memburuk.

“Yaa kau tahu, kau menyuruhku mengumpulkan semua gadis yang pernah dan sedang berkencan denganku itu sama saja kau menyuruhku masuk ke dalam kandang singa. Kau tidak tahu bagaimana sadisnya gadis-gadis itu? Lagipula kenapa kau tidak menyutujui permintaanku yang kedua? Kenapa kau takut? Ah kau takut benar kan? Kau takut jika nantinya kau menyukai gadis itu dan harus melakukan double date dengan Jongin dan juga Hyunji.” Jackson sengaja memancing Sehun karena Jackson tau kalau Sehun benar-benar tidak suka jika dibilang penakut.

“Aku tak pernah takut pada apapun, kau tahu itu.” Nah benar kan, rencana Jackson sepertinya berhasil. Karena kini Sehun sudah terpancing olehnya.

“Kalau begitu kau setuju?” Tanya Jackson, sedangkan Sehun yang ditanya hanya diam tanpa kata yang Jackson artikan jika diam adalah iya. Jackson pun tertawa kecil karena dengan mudahnya membuat Sehun menyetujui taruhan konyolnya. Sedangkan Kyungsoo hanya menggeleng melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

Keesokan harinya, Jihyun masuk sekolah seperti biasa. Semuanya berjalan lancar hingga jam istirahat berbunyi. Jihyun yang sama sekali tidak merasa lapar, memutuskan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan.

Namun saat sedang berjalan di koridor sekolahnya, Jihyun dihadang oleh sekumpulan siswa yang tengah menonton sesuatu. Jihyun yang penasaran, berjalan maju untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan ternyata lagi-lagi Oh Sehun berbuat onar, kali ini Jihyun melihat Sehun tengah menatap tajam seorang gadis yang tengah berdiri di hadapannya. Sepertinya gadis itu menumpahkan sesuatu ke seragam Sehun, karena kini terdapat noda berwarna orange dari seragam sekolah Sehun.

“Dimana matamu? Apa kau buta huh?” Sehun menatap tajam gadis itu, tatapannya sungguh membuat semua orang yang berada di koridor tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

“Ma…maaf, aku tidak sengaja.” Gadis yang tengah ditatap Sehun hanya bisa menunduk ketakutan.

Jihyun merasa iba pada gadis itu, haruskah dia membantunya? Tapi bagaimana jika nanti dirinya akan membuat Sehun bertambah marah.

“Maaf katamu? Apa kau pikir maaf saja cukup? Jika maaf saja berguna, untuk apa ada polisi?”

Sungguh saat ini Sehun benar-benar marah, Sehun lalu mengambil gelas minuman yang tengah di pegang gadis itu dan mengarahkannya ke atas kepala gadis tersebut. Tapi sebelum Sehun menumpahkan minuman tersebut diatas kepala gadis tersebut, seseorang sudah terlebih dahulu menepis tangannya dan membuat gelas minuman itu terlempar ke lantai.

Sehun menggeram kesal, lalu menatap orang yang dengan beraninya menepis tangannya seperti tadi. Orang itu, Jung Jihyun hanya terdiam menatap gelas minuman yang kini sudah berada di lantai.

“Kau tahu apa yang telah kau lakukan nona Jung?” Sehun menatap Jihyun tajam, sungguh Jihyun membuatnya bertambah kesal. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis ini, sampai berani melawannya seperti ini?

Jihyun menarik nafasnya perlahan, berusaha untuk menguatkan serta menyemangati dirinya sendiri, “Aku hanya ingin membantunya.”

Sehun menatap Jihyun yang berada di hadapannya, “Membantunya katamu? Kau pikir kau siapa huh? Apa karena kemarin aku bersikap baik padamu dan meminta nomormu, kau sudah merasa menjadi yang paling hebat?”

Jihyun terlihat tidak terima dengan perkataan Sehun. Belum lagi, kini semua siswa/i yang berada di koridor saling berbisik karena mendengar perkataan Sehun kalau dirinya meminta nomor telepon Jihyun.

“Pertama, memangnya kau siapa hingga aku merasa hebat hanya karena kau meminta nomor teleponku? Dan kedua, aku hanya ingin membantunya, dia seorang gadis dan kau malah bersikap kasar seperti itu padanya? Tidak kah kau malu?”

Sehun mendengus lalu berjalan, mengikis jarak diantara dirinya dan Jihyun, sungguh gadis ini benar-benar menantangnya. Semua orang yang berada di koridor, memandang tidak percaya kearah Jihyun. Tidak percaya karena Jihyun benar-benar berani melawan seorang Oh Sehun.

Di tengah semua ketegangan itu, suara seorang pria menginterupsi mereka dan memecah kerumunan siswa yang sedang menonton Sehun dan Jihyun, “Bisakah kalian tidak mengalangi jalanku?”

Kai berjalan santai kearah Jihyun dan Sehun lalu menatap Sehun dan Jihyun secara bergantian, “Kau pergi dari sini.” Kai mengusir gadis yang tadi menumpahkan minuman kepada Sehun.

Sehun menatap Kai dengan sengit, “Kau yang seharusnya pergi dari sini tuan Kim.”

Kai mengindahkan perkataan Sehun dan menarik lengan Jihyun “Dan kau ikut aku.” Lalu menaruh beberapa ribu won ke dalam saku baju Sehun. “Ku pikir itu cukup untuk biaya laundry bajumu.” Ucap Kai lalu berjalan meninggalkan Sehun yang kini tengah menahan amarahnya.

Sehun lalu mengambil uang yang diberikan Kai lalu melemparnya, “Sialan kau Kim Jongin. Kau pikir kau siapa hah?!!!”

Semua orang yang melihat kejadian itu berbisik-bisik membicarakan kedatangan Kai yang tiba-tiba membawa Jihyun. Mereka merasa aneh dengan kejadian yang beberapa saat terjadi, karena tak biasanya Kai menolong orang seperti tadi.

Sehun yang masih kesal menatap semua orang disekelilingnya dengan tajam, “Apa yang kalian liat hah? Pergi dari sini.”

Semua siswa yang menonton kejadian tadi segera membubarkan diri, karena tidak ingin mengambil resiko terkena amukan Oh Sehun.  Sehun menatap lorong yang tadi Jihyun dan Kai lewati dengan tatapan tajam. Sungguh mereka berdua telah mempermalukannya di depan umum.

Sedangkan di sisi lain, Kai membawa Jihyun menuju rooftop sekolah. Karena satu-satunya tempat yang aman dan pastinya tidak ada seorang pun yang berada disini. Dirasa sudah cukup aman, Kai melepaskan genggamannya pada tangan Jihyun.

Namun pada saat Kai berbalik hendak memarahi Jihyun, Jihyun sudah terlebih dahulu bergumam sendiri. Sama seperti kemarin saat Kai menemuinya.

“Ah Jung Jihyun, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bertindak bodoh? Riwayatmu benar-benar tamat kali ini. Lagipula kenapa mulut ini lancang sekali, sih?”

Kai tertawa kecil melihat tingkah Jihyun lalu Kai memutar tubuh Jihyun agar bisa berhadapan dengannya. Jihyun yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menunduk. Sepertinya Jihyun sudah bergumam terlalu keras.

“Aku tahu yang kau lakukan tadi adalah untuk menolong gadis itu, tapi kau harus tahu tadi kau berhadapan dengan siapa.” Jihyun hanya terdiam tanpa membalas perkataan Kai, “Sehun bukanlah lawan yang sebanding untukmu, dan ku yakin Sehun juga tidak akan melepasmu begitu saja. Secara tidak langsung, tadi kau sudah mempermalukannya.”

Jihyun menghembuskan nafas pasrah, “lalu aku harus bagaimana?”

Kai tersenyum lalu memegang kedua pundak Jihyun dan membungkukkan sedikit badannya agar bisa sejajar dengan Jihyun, “Aku akan melindungimu.”

Mendengar perkataan Kai, lantas Jihyun mendongak kaget. Bagaimana bisa seorang Kai, menawarkan diri untuk melindunginya. Bahkan mereka belum lama kenal ya walaupun mereka sudah menghabiskan waktu bersama kemarin tapi tetap saja hal itu sulit untuk Jihyun percayai.

9 responses to “[FREELANCE] Isn’t Love Story Chapter 7 – Dinner

  1. merindukan ff ini😀
    ciee jihyun dinner sama jong in, oiya itu jihyun kenapa harus masuk ke lingkaran setan sih? hiiiiiiii serem, untung ada kai😀
    semangat thor, buat ngelanjutin chap selanjutnya…….

    • sebenernya part ini udah selesai dari kapan tau hehe tp berhubung yang kirim ff di skf banyak jadi baru di post sekarang. Btw ini di blog aku udah sampai part 10 loh, kalau mau baca bisa di vartstory.wordpress.com ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s