[FREELANCE] Reply 2014 (Chapter 1)

Reply 2014 (New Poster)

Reply 2014

“Episode 1 : Eighteen”

2016 © yutakun

Lee Haeun (YG K+ Model), Do Kyungsoo (EXO), Lee Seokmin/Dokyeom/DK (Seventeen), Kim Han bin (iKON), Jung Soo jung (fx), Yoon Ye joo (Actress), Kim Taehyung/V (BTS), Um Yejin (YG K+ Model), Kim Sein (YG K+ Model), Kim Jiwon/Bobby (iKON), Jung Daehyun (B.A.P), Jo Yelim (YG K+ Model) || School Life, Friendship, Romance, Family || Chapter || General

 

Reply 2014 (Cast Introduction + Prolog)

.

.

.

.

 

“Ditahun 2014 dimana semua kenangan itu dimulai”

.

.

.

.

 

April, 2014

Seoul

Kota Seoul malam itu sibuk seperti biasa. Kendaraan beroda empat berlalu lalang dimana-mana. Bunyi klakson mobil pun terdengar di setiap jalan. Para pejalan kaki yang kebanyakan merupakan pegawai kantoran yang baru pulang dari kerja  juga ikut meramaikan jalanan kota Seoul.

Gedung-gedung pencakar langit dan apartemen-apartemen berkerlap-kerlip dengan lampu-lampu mereka. Cantik. Benar-benar cantik.

Sementara itu, disisi lain kota Seoul, di sebuah pasar, terjadi sebuah kegaduhan. Kegaduhan yang terjadi karena orang-orang berseragam sekolah yang sibuk berlarian. Mereka berlari karena dikejar. Dikejar oleh orang-orang bersetelan jas hitam di belakang mereka.

“YA! BERPENCAR! BERPENCAR!”

Aku membelokkan  badanku ke kanan begitu mendengar komando Daehyun dan berlari sekuat tenaga. Di belakangku, Kyungsoo dan Sein berlari mengikutiku, dan juga ditambah seorang namja dengan setelan jas hitam yang ikut berlari, atau lebih tepatnya mengejar kami.

YA PPALLIWA!” teriakku pada Kyungsoo dan Sein. Aku tak habis pikir, namja yang mengejar kami tidak lelah sama sekali, padahal kami sudah melakukan kejar-kejaran ini lebih dari dua puluh menit. Kakiku sakit tahu!

Bruk

Kyungsoo terjatuh dengan malangnya di tanah. Sein yang berlari tak jauh darinya segera menarik lengan Kyungsoo untuk berdiri dan lari. Aku membelokkan badanku ke kiri lalu ke kanan dan  terus berlari. Hingga tubuhku terhempas di sebuah halte bus. Detik selanjutnya, Sein dan Kyungsoo datang dengan keringat bercucuran dari wajah mereka.

Hosh…..hosh…..neo…gwenchanha?” tanyaku pada Sein dan Kyungsoo dengan deru napas yang tak teratur. Aku terlalu lelah berlari.

Mereka menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaanku. “Ajusshi eotte?” tanyaku lagi.

Molla, sepertinya ia kehilangan kita saat berbelok tadi” mendengar jawaban Sein, aku menghela napasku.

Suasana mendadak hening, hanya deru napas kami dan suara kendaraan yang berlalu-lalang yang terdengar.“Hahahahaha” suara tawa Kyungsoo membuatku menoleh pada namja itu. Lalu Sein tertawa bersama Kyungsoo. Aku tersenyum dan melayangkan pikiranku pada kejadian tadi.

“Haeun-ah, tangkap!” Bobby melempar bola basketnya padaku.

Aku, Seul, Yelim, Ye Joo, Kyungsoo, Taehyung, Bobby, dan Daehyun, baru saja pulang dari bimbingan malam kami. Kau tahu, bimbingan persiapan ujian masuk universitas. Setelah pertemuan orang tua minggu lalu yang membahas tentang persiapan ujian universitas, ibu tiba-tiba mendaftarkanku untuk bimbingan malam di tempat Kyungsoo dan Yelim belajar. Dan sepertinya ibu-ibu dari teman kelasku juga mendaftarkan anak mereka ditempat bimbingan yang sama dan kembali mempertemukan kami di kelas yang sama di bimbingan itu. Bukankah ini sebuah kebetulan?

“Bobby-ah, tangkap ini!” aku melempar bola berwarna orange itu kembali ke pemiliknya. Tapi, karena lemparanku yang terlalu tinggi, bola itu meleset dari tangannya dan……

Prang

Memecahkan kaca pintu masuk sebuah klub malam.

Ups?

“IGE MWOYA?!” ajusshi berjas hitam tiba-tiba keluar dari tempat itu dan menatap pintu masuk klub itu dengan tatapan horror . Aku dan yang lainnya membeku di tempat kami, terlalu syok untuk mencerna kejadian barusan.

“YA HAKSAENG! INI PERBUATAN KALIAN KAN?!” ajusshi itu berjalan mendekat ke arah kami ketika mata elangnya menangkap kami yang berdiri ketakutan. Di belakangnya ia diikuti oleh dua ajusshi lain dengan setelan jas yang sama.

“Lari! Lari! Lari!” komando Bobby yang menyuruh kami lari, membuat kami spontan meninggalkan tempat itu dan berlari sekuat tenaga.

“HAKSAENG! BERHENTI KALIAN!”

Dan begitulah aksi kejar-kejaran itu terjadi. Heol.

“Sein-ah annyeong!” aku melambaikan tanganku pada Sein lalu berlari menyusul Kyungsoo yang berjalan beberapa meter dariku.

Neo gwenchanha?” aku menganggukkan kepalaku atas pertanyaan Kyungsoo.

“Besok aku akan kesana dan meminta maaf” pernyataan yang keluar dari mulutku membuat Kyungsoo menolehkan kepalanya ke arahkudan berhenti, “Neo micheoseo? Kau bisa mati jika ke sana lagi!”

Ani. Aku akan meminta maaf. Lagi pula itu salahku, karena aku yang melempar bolanya” ujarku.

Kyungsoo menghela napasnya, “Aku akan menemanimu.”

Kutatap Kyungsoo dengan tatapan tak percayaku, “Baiklah. Sepulang dari bimbingan besok malam” aku tersenyumdan kembali melangkahkan kakiku.

“Kenapa kau mau minta maaf?” tanya Kyungsoo tiba-tiba.

“Hmm…..karena aku merasa itu salahku dan aku harus bertanggung jawab. Lagi pula, aku tak ingin punya skandal sebelum debutku menjadi model nanti” candaku.

Kyungsoo menoyor kepalaku membuat tawaku meledak, “Aku tak ingin nanti diberitakan jelek seperti ‘Model Lee Haeun melakukan tindak kriminal sebelum debut’ itu akan sangat jelek untuk imageku nanti tahu.”

“Memangnya di usiamu yang sekarang kau bisa jadi model?” tanya Kyungsoo.

Heol. Kyungsoo-ya, bahkan model umur sepuluh tahun pun ada saat ini” jawabku.

Aku tiba-tiba berlari meninggalkan Kyungsoo dan berteriak, “AKU LEE HAEUN AKAN JADI MODEL TOP KOREA!!”

“Hei! Jangan berteriak!” panik Kyungsoo.

Aku hanya tertawa mendengarnya dan terus berlari menyusuri jalanan remang-remang ini menuju rumahku.

Aku menatap selebaran kertas putih di hadapanku. Lebih tepatnya salah satu kolom yang berada di sana. Beberapa menit yang lalu, ketua kelas kami, Kim Jinhwan, datang dengan setumpuk kertas di tangannya. Ia bilang kertas itu adalah kertas profil yang akan kami isi untuk buku album kelas kami nanti. Dan salah satu kolomnya yang membuatku frustasi adalah kolom cita-cita.

Aku benar-benar bingung ingin menulis apa. Model? Itu memang mimpiku sejak lama, tapi aku tak yakin akan impianku yang satu itu. Sebut saja diriku ini tidak jelas, dua hari yang lalu aku berteriak ingin menjadi model dan sekarang aku ragu bisa mencapainya atau tidak.Aku beranjak dari bangkuku dan berjalan menuju kursi Sein yang sibuk berkutat dengan ponsel putihnya. Yakin dan percaya ia sedang mengurus fansite miliknya di twitter.

“Kau menulis apa di kolom cita-cita?” tanyaku padanya.

Sein menyodorkan kertas profilnya tanpa menatapku. Matanya hanya terfokus pada benda persegi panjang itu di tangannya. Heol.

Cita – cita : Menjadi istri Seungri oppa

Mataku rasanya ingin copot begitu melihat jawaban Sein, “YA! Apa itu yang kau sebut dengan cita-cita?” aku mengembalikan kertas profil Sein dan menatap gadis itu tak percaya.

“Haeun-ah, aku sudah memimpikannya sejak kita sekolah menengah pertama. Dan aku tak main-main akan cita-citaku ini” Sein menjawab dengan menggebu-gebu.

Heol.

Aku beranjak dari hadapan Sein menuju meja Yelim. “Kau menulis apa di kolom cita-cita?” pertanyaan yang sama yang kulontarkan pada Sein kutanyakan pada Yelim.

Ia menggeser tangannya yang tadi menutupi kolom itu. Aku membungkukkan badanku untuk melihatnya dengan jelas.

Cita – cita : Penyanyi di SM Entertainment

Well, setidaknya cita-cita Yelim masuk akal. Aku menganggukkan kepalaku dan beranjak pergi dari meja gadis itu ke meja Ye Joo. Merasa mengerti aku mendatangi mejanya, Ye Joo menyodorkan kertas profilnya padaku.

Cita – cita : Guru TK

Aku mengembalikan kertas putih itu dan menatap Ye Joo dengan badanku yang terduduk lemas di kursi kosong di depan meja gadis imut itu. Semua punya cita-cita, sementara aku bingung ingin menulis apa di cita-citaku.

“’Biar kutebak. Kau pasti bingung ingin menulis apa di kolom cita-cita” aku menganggukkan kepalaku.

“Bukannya kau ingin jadi model?” Ye Joo menatapku bingung.

Aku menghela napas, “Aku bahkan tak tahu apa aku benar-benar ingin jadi model”

“Bukannya kau sudah memimpikannya sejak kecil?”

“Tapi aku tak yakin akan jadi model atau tidak”

“Haeun-ah, dalam meraih mimpi,besarnya kekuatan yang miliki bukan segalanya, karena konsisten dalam mewujudkan mimpi tanpa rasa putus asa adalah segalanya. Kalau kau selalu berusaha untuk menjadi model, aku yakin suatu saat aku akan melihatmu di cover-cover majalah terkenal” nasihat Ye Joo membuat badanku yang tadinya duduk lesu seketika tegak.

Gadis ini benar. Aku tersenyum pada Ye Joo, “Gomawo Ye Joo-ah” ucapku.

Aku kembali pada kursiku dan menatap kertas profilku. Ku ambil pulpen biruku dan mulai menggoreskan tintanya pada kolom cita-cita ku yang tadinya kosong.

Sebuah senyuman mengembang di wajahku. Aku beranjak dari kursiku dan mengumpulkan kertas profil itu pada Jinhwan.  Namja bermata sipit itu melihat kertas profilku sejenak dan melihatku.

“Semoga beruntung dengan cita-citamu” aku tersenyum pada Jinhwan dan berjalan pergi menuju mejaku.

“OPPA! TANDA TANGAN DISINI!”

OPPA SARANGHAE!!”

OPPA TERIMALAH KUEKU INI!!!”

Dan masih banyak lagi variasi teriakan oppa oppa. Aku menatap yeoja-yeoja yang sedang menggila itu sedang mengerumuni seorang namja berperawakan tinggi dengan rambut cokelat dan kacamata hitam yang bertengger manis menutupi kedua bola matanya. Siapa lagi kalau bukan, Lee Seokmin a.k.a Dokyeom a.k.a DK, TOP 5 acara hits SuperstarK.

Ne…ne…ne…khamsamidha” Seokmin berjalan keluar melewati gadis-gadis dengan beberapa hadiah ditangannya sembari menebarkan senyumannya. Heol.

Bobby yang berdiri di depan pintu berseru begitu melihat Seokmin berjalan menuju arah kelas,  “Mari kita sambut TOP 5 kita, uri Lee Seokmin!” namja tinggi itu memasuki ruangan kelas dan disambut oleh teriakan dan tepuk tangan yang memekakkan telinga.

Seokmin tersenyum dan ber-tos ria pada siapapun yang ia lewati sepanjang jalannya menuju kursinya yang terletak di depan mejaku.

Heol. Lepaskan kacamata konyol itu” ujarku padanya, Seokmin melepaskan kacamatanya dan menyelipkannya di kerah seragam sekolah yang ia kenakan, membuat tingkat ke sok-an Seokmin dimataku sekarang adalah 80%. Namja itu menaruh hadiah-hadiah yang ia dapatkan di meja dan berteriak pada seluruh isi kelas untuk mengambil hadiah itu dari mejanya.

Aigoo, sudah lama tak melihatmu Lee Haeun” tangan besar Seokmin mengacak-acak rambut cokelatku, membuat tangan kecilku menampar tangannya untuk pindah dari rambutku.

“Jangan sentuh rambutku!” kesalku.

Seokmin terkekeh, “Haeun-ah, makan siang nanti mari bertemu di tempat biasa”. Aku mengangguk pada Seokmin dan beberapa menit kemudian Kim Seonsangnimmemasuki kelas.

Aku berjalan menuju seorang namja yang duduk membelakangiku yang kuyakini adalah Seokmin dengan dua buah Kimbab segitiga ditanganku. Pantatku mendarat di bangku berwarna cokelat itu. Aku menyodorkan kimbab segitiga itu pada Seokmin dan menerima susu yogurth rasa anggur kesukaanku darinya.

Suasana sejenak hening, hanya terdengar suara angin bersemilir dan suara kunyahan yang datang dari mulut kami masing-masing. Aku menghentikan kunyahanku dan menoleh menatap Seokmin yang sedang menikmati kimbabnya.

Seakan sadar aku menatapnya, Seokmin berbalik menatapku, “Wae? Ada yang ingin kau katakan?”

Aku tersentak kaget, “Huh?”

Seokmin terkekeh, “Katakanlah”

“Umm…neo gwenchana?” aku menatap Seokmin, menunggu reaksinya atas pertanyaanku.

“Eo, aku baik-baik saja” jawabnya santai.

Mian, aku tak bisa datang hari itu, Donghae oppa tiba-tiba memintaku menemaninya pergi”ucapku tertunduk.

“Aigoo….kau tak usah merasa bersalah seperti itu. Lagi pula Bobby dan lainnya hadir mendukungku” Seokmin tersenyum.

Aku mengangguk kecil dan kembali menatapnya,“Bagaimana rasanya?” tanyaku.

“Huh? Maksudmu?” tanya Seokmin tak mengerti.

“Maksudku, perasaanmu menjadi TOP 5” jelasku.

“Hmmm..tentu saja aku senang” Seokmin tersenyum. Bukan, itu bukan senyuman karena senang. Senyumannya adalah senyuman kesedihan.

Heol, ekspresimu bahkan tak menunjukkan kesenangan” aku memutar bola mataku.

“Setidaknya impianku untuk menyanyi di stasiun TV menjadi kenyataan” aku mengangguk kecil, “Apa ada agensi yang menawarimu?”

“Eo, ada”

Jinjja! Nugu?YG? JYP?”

“Pledis”

Eh?

Seokmin menatapku dan tertawa, “YG dan JYP menawariku, tapi kutolak.”

Wae?

“Aku sudah lama menjadi trainee Pledis. Kau tak tahu ya?”

Pernyataan Seokmin membuat kedua tanganku melayangkan pukulanku kepadanya. Namja itu benar-benar membuatku kesal! Heol.

Telur gulung, kimchi, kacang hitam, rumput laut kering, seolleongtang, dan berbagai jenis hidangan lainnya menghiasi meja makan berbentuk persegi panjang itu. Aku yang baru saja menyelesaikan ritual pagiku mengikuti jejak kakakku, Lee Donghae, yang sedang menikmati sarapan paginya. Ah, biarku perkenalkan kalian pada kakakku ini.

Namanya Lee Donghae. Umur 23 tahun. Pendidikan Seoul Nasional University jurusan Musik. Ia pandai menyanyi dan sudah mengikuti berbagai macam audisi untuk beberapa agensi besar, tetapi tak ada satupun yang mau menerimanya. Ibuku bilang alasan ia tak diterima adalah karena ia sudah terlalu tua untuk menjadi penyanyi dan menari di atas panggung seperti idola boy grup muda lainnya. Heol.

Sumpit yang kupegang bergerak cepat mencuri telur mata sapi yang berada di atas mangkuk kakakku yang berhasil membuatnya berteriak padaku, “YA! Apa yang kau lakukan!?” telur itu kumasukkan kedalam mulutku dan kukunyah dengan menampilkan senyuman mengejekku yang kutujukan untuk Donghae oppa.

Setelah menelan telur yang kucuri itu, aku menatap kakakku yang sedang makan dengan kesal, “Oppa.”

“Mwo?” jawabnya ketus.

“Kau ingat tidak hari ini hari apa?” tanyaku memutar-mutar ujung rambutku.

Donghae oppa menghentikan makannya dan menatapku kaget, sementara aku yang ditatap malah memasang wajah senangku. Tiba-tiba saja namja berambut cokelat dihadapanku ini berdiri dari kursinya dan berlari keluar setelah mengambil tas ransel dan jaketnya yang tergeletak di sofa ruang tv milik kediaman keluarga kami.

“OPPA KAU MAU KEMANA?!” teriakku berdiri melihat Donghae oppa tiba-tiba berlari keluar rumah.

“AKU BARU INGAT HARI INI ADALAH HARI JADIANKU DENGAN DARA!GOMAWO TELAH MENGINGATKANKU!” hatiku mencelos ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut Donghae Oppa. Jinjja!

Well, sekedar menginfokan. Hari ini adalah hari jadiku a.k.a hari ulang tahunku. Ulang tahunku yang ke delapan belas. Dan aku berharap seseorang akan mengucapkanku selamat ulang tahun ketika aku bangun pagi hari ini seperti ulang tahunku tahun lalu, tapi aku tak mendapatkannya. Bahkan ketika aku membuka ponselku, tak ada satu pun sms maupun line atau kakaotalk yang masuk mengucapkan tiga kalimat itu padaku. Ini sedih. Benar-benar sedih.

Helaan napas keluar dari mulutku. Nafsu makanku sekarang hilang. Aku mengambil tas ranselku dan berjalan keluar meninggalkan rumah setelah mengenakan sepatu sneakers putih milikku. “Eomma, aku pergi!” dan teriakanku dibalas pula dengan teriakan kalimat ‘oke’ dari ibuku yang berada di dapur.

Kyungsoo dan aku berjalan memasuki kelas bersama. Rumah kami bersebelahan, jadi memungkinkan kami untuk selalu bersama-sama berangkat sekolah. Aku duduk di bangkuku dan menguburkan kepalaku di tanganku yang kuletakkan di meja.

“Kau kenapa Haeun-ah?” suara imut khas Ye Joo terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihatnya. Sebuah senyuman kembali menghiasi wajahku ketika melihatnya. Ia adalah sahabatku sejak sekolah menengah pertama, mana mungkin ia lupa ulang tahunku bukan?

“Ye Joo-ah, kau ingat tidak hari ini hari apa?” tanyaku sambil memutar-meutar ujung rambutku. Hal yang sama yang kulakukan pada Donghae oppa saat sarapan tadi.

“Eo” sebuah senyuman tercipta di wajahku ketika mendengar gumaman itu dari mulut Ye Joo, “Bukankah Kim Seonsaengberjanji untuk membagikan hasil ujian Matematika hari ini?” dan senyuman itu sirna pula ketika mendengar lanjutan kalimatnya. Heol.

Aku kembali menguburkan wajahku di tangan dan menghela napas panjang. Ini akan menjadi hari yang panjang.

Tingkat kekesalanku sudah berada diujung kepala! Jika sekarang aku adalah karakter kartun, mungkin kalian bisa melihat asap keluar dari telingaku! Tak ada satu pun orang terdekatku yang mengingat hari ini hari ulang tahunku. Ditambah lagi, aku sempat beberapa kali dihukum ketika di sekolah tadi. Pertama, aku dihukum oleh Cho Seonsaeng karena tidak mengumpulkan tugas biologiku padanya! Dan parahnya adalah aku satu-satunya yang tak mengumpulkan tugas itu. Padahal aku yakin, seingatku Cho Seonsaeng tak memberikan tugas apapun pada kami ketika minggu lalu ia masuk. Kalau pun ada, aku sudah pasti menulisnya di buku catatan kecilku ini!

Kedua, aku dihukum oleh Lim Seonsaeng karena tidak membawa pakaian olahraga! Padahal aku membawanya! Jelas-jelas tadi pagi aku memasukkannya di dalam tasku, tetapi ketika kucari hasilnya nihil. Tidak ada sama sekali!

Ketiga, aku dihukum oleh Jeon Seonsaeng karena ulah Taehyung! Gara-gara namja alien itu, aku disuruh menerjemahkan buku sejarah Korea ke bahasa Inggris sebanyak lima lembar. Jika saja saat itu Taehyung tidak menusuk pundakku dengan pulpennya, aku tak akan teriak kaget dan membuat diriku dihukum!

Kyungsoo yang berjalan disampingku menatapku yang sedang menggerutu kesal. “Neo gwenchana?” tanyanya hati-hati.

“AKU TAK BAIK BAIK SAJA! ARA!” teriakku yang membuat Kyungsoo mematung di tempat.

Aku berjalan memasuki rumahku dengan kesal. Bulir air mata sudah keluar dari pelupuk mataku. Jika sudah kesal seperti ini, aku biasanya menangis hingga terlelap.

Begitu melepas sepatuku dan memakai sendal rumahku, aku berjalan masuk ke dalam rumahku yang gelap gulita. Kalau keadaan rumah seperti ini, ayah, ibu, dan Donghae oppa pasti belum sampai. Padahal ini sudah waktunya makan malam. Dan sepertinya aku akan menyantap makan malamku sendirian. Bukankah ini terdengar sedih untuk ukuran seseorang ynag sedang berulang tahun?

Aku berjalan menuju saklar lampu yang terletak tak jauh dari tempatku berdiri.

Klek.

“SURPRISE!”

Kaget.

Aku benar-benar kaget sekarang.

 Ayah, ibu, Donghae oppa, Dara noona, dan teman-teman kelasku sekarang berada di hadapanku dengan balon dan topi ulang tahun. Kyungsoo yang tadinya kutinggal, kini berada di belakangku dengan kue ulang tahun di tangannya.

Saengilchukkae Lee Haeun

Dan kupikir aku benar-benar menangis sekarang.

Setelah meniup lilin dan memotong kue, ibu memanggil teman-temanku untuk menyantap masakannya di meja makan. Ibu sepertinya memasak besar-besaran hari ini.

Taehyung, Sein, Bobby, Seokmin, Ye Joo, Kyungsoo, Yelim, Daehyun, dan aku menyantap makanan kami dengan lahap. Canda tawa keluar dari mulut kami begitu melihat beberapa hasil jepretan dari kamera milik Yelim yang menangkap momen-momen surprise tadi.

“Ya, Haeun-ah. Kami benar-benar minta maaf atas kejadian hukumanmu hari ini. Itu bagian dari rencana” jelas Daehyun tiba-tiba.

“Eo, kami minta maaf ketika pelajaran Biologi tadi. Sebenarnya tak ada tugas, kami hanya ingin mengerjaimu dengan bantuan Cho Seonsaeng” aku membulatkan mataku tak percaya. Cho Seonsaeng si guru killer itu mau saja mengerjaiku atas permintaan muridnya. Ini tak bisa dipercaya! Lelaki berusia 43 tahun itu bahkan tak pernah tersenyum pada murid-muridnya, bagaimana bisa ia mau ikut hal konyol seperti ini! Daebak!

“Kami juga minta maaf telah menyembunyikan baju olahragamu” ucap Yelim. Aku mengangguk memaafkan dan memeluknya.

“Ah, aku juga minta maaf!” sahut Taehyung, “Gara-gara aku mencolekmu dengan pulpen tadi siang, kau malah dihukum oleh Jeon Seonsaeng karena kau berteriak kaget. Padahal aku hanya ingin meminjam penghapusmu saja.”

Sontak aku melayangkan pukulanku padanya. Hukuman ynag kuterima dari Jeon Seonsaeng bukan termasuk dalam rencana mereka, jadi pantas-pantas saja kalau Taehyung mendapatkan pukulanku. Tanganku pegal tahu!

Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan bagiku. Di usiaku yang menginjak ke delapan belas tahun aku mulai mereview segala hal yang terjadi padaku saat usiaku tujuh belas tahun. Mengenai cita-cita labilku yang ingin menjadi model, aku sudah memantapkannya. Karena beberapa hari kemudian aku ikut casting untuk menjadi model di Esteem. Salah satu agensi model besar dan ternama di Korea. Walaupun pada akhirnya aku tak lolos. Well, itu sedih. Tapi aku tak putus semangat. Aku akan terus berusaha. Bahkan sampai umurku 72 tahun, jika aku masih bisa menjadi model, aku akan terus menjadi model. Walaupun aku yakin tak ada model setua itu.

Lee Haeun Hwaiting!!!

Annyeonghaseyo readers! Author yutakun kembali datang ^^

Melihat chapter sebelumnya, saya meminta maaf karena terdapat beberapa typo, dimana saya sendiri ngakak bacanya. Maafkan author sekali lagi. Selanjutnya bakalan lebih teliti lagi. Semangat readers sekalian!!!

 

One response to “[FREELANCE] Reply 2014 (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s