ALL I ASK [PART XII] — by Neez

aias-copy

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen / Others

Alternative Universe, School Life, Family, Romance, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I] || [PART II] || [PART III] || [PART IV] || [Part V] || [PART VI] || [PART VII] || [PART VIII] || [PART IX] || [PART X] || [PART XI]

© neez

Beautiful Poster Cr : Kenssi at storyexo.wordpress.com

BETA : IMA

PART XII

”Kau tidak pulang ke rumah?”

   Jaehee mendongak, konsentrasinya sedikit terpecah. Ia sedang duduk bersila di atas panggung kayu mengkilap yang sudah di dekorasi sedemikian rupa oleh tim Hyesoo. Besok, akhirnya adalah hari penentuan. Hari dimana ia akan menunjukkan pada dunia, pada para pencari bakat, dan pada kedua orangtuanya, hasil dari pendidikan yang ia tempuh selama nyaris tiga tahun ini. Latihan hari ini hanya diperbolehkan hingga jam makan siang, karena Guru Han ingin seluruh pemeran dapat istirahat dan tampil prima besok. Sebetulnya, Jaehee sudah pulang tadi siang, namun entah kenapa ia ingin kembali lagi ke sekolah. Ia masih belum bisa percaya bahwa besok ia akan benar-benar menjadi pemeran utama dari teater musikal sekolahnya.

   ”Kau sendiri? Bukankah tadi kau juga sudah pulang?” tanya Jaehee kembali, tersenyum sembari memperhatikan Joonmyun melangkah sedikit demi sedikit menaiki undakan dari samping panggung.

   Joonmyun mengangguk, mengacungkan flashdisk-nya. ”Aku gugup, dan Yixing tidak membantu sama sekali dengan berulangkali mengingatkan agar flashdisk berisi musik-musik untuk besok tidak tertinggal. Aku datang berniat untuk membuat copy-annya sebanyak mungkin.” Jaehee tertawa, dan Joonmyun jadi ikut tertawa. Pria itu duduk di hadapan gadis yang sudah ia anggap sahabatnya sendiri itu, bersila.

   ”Bagaimana perasaanmu?” tanya Joonmyun.

   Jaehee tidak langsung menjawab pertanyaan Joonmyun, melainkan menatap langit-langit panggung yang sudah dihiasi dengan wallpaper malam imitasi. Lampu-lampu kecil yang membuat suasana romantis, yang sebenarnya dikhususkan untuk adegan musikal besok. Tapi, Joonmyun merasa pendar lampu-lampu itu membuat Jaehee yang duduk bersila di panggung sambil tersenyum jadi amat sangat cantik. Apalagi gadis itu tidak mengenakan seragam sekolah. Ia mengenakan dress putih santai yang mengerut di bagian pinggang, dan rambutnya pun tidak dikuncir tinggi seperti biasanya.

   ”Aku masih tidak percaya kalau besok aku akan jadi pemeran utama. Kalau dipikir-pikir, jika kau bilang pada aku yang dulu bahwa aku akan jadi pemeran utama, aku akan menertawaimu keras-keras.” Sahut Jaehee setelah diam sejenak, dan kini mengarahkan pandangannya pada Joonmyun.

   ”Kau yang tidak pernah percaya diri,” Dengan main-main, Joonmyun memutar kedua bola matanya, ”Aktingmu bagus, Jaehee-ya.”

   ”Gomawo. Aku juga bisa mengatakan hal yang sama padamu,” kekeh Jaehee memainkan ujung dress putihnya.

   Joonmyun ikut tertawa. ”Mungkin karena aku suka Romeo & Juliet-nya.” Ujarnya merendah.

   ”Anhi,” geleng Jaehee. ”Bahkan banyak yang menyukai Romeo & Juliet tapi tetap saja tidak bisa berakting sebagus dirimu.”

   Joonmyun mengangguk, ”Baiklah, karena tidak banyak yang memuji aktingku, harus kukatakan terima kasih.”

   ”Ehm… apa teman-temanmu tahu kau bisa berakting?” tanya Jaehee tiba-tiba penasaran. Selama ini pembicaraan diantara mereka selalu berkisar mengenai akting, akting, dan akting saja. Juga musik sebenarnya, tetapi Jaehee tidak mau mengingat-ingat lagu How Did I Fall in Love With You lagi pokoknya, dan ia bersyukur lagu itu hanya muncul sekali dan bukan untuk scene-nya pula. Jaehee baru menyadari bahwa selama ini pembicaraan diantara mereka lebih banyak untuk kepentingannya, untuk membantunya. Sama sekali tidak ada untung bagi sisi Joonmyun sebenarnya.

   ”Mereka tahu. Jongin, Jongdae… Seolhyun,” Joonmyun mengangguk-angguk.

   ”Ah, keurae?” Jaehee juga ikut mengangguk paham. Tentu saja Kim Seolhyun tahu bahwa Joonmyun pandai berakting. Dan mendadak ingatannya melayang pada kejadian satu pekan yang lalu.

   Ketika Joonmyun……….

   ”Omong-omong, aku belum menerima kompensasi apa pun karena telah membantumu berakting.”

   Jaehee mendongak, cukup kaget setelah ia mengingat-ingat bagaimana Joonmyun menciumnya dengan penuh hasrat, meski dalam konteks mengajarinya akting saja. Tadinya kepalanya berputar membayangkan jangan-jangan Joonmyun juga mengajari Seolhyun berciuman, namun pertanyaan Joonmyun barusan lebih membuatnya kaget.

   ”A…apa itu?”

   Joonmyun tertawa geli melihat ekspresi wajah Jaehee yang nampak panik dan sedikit ketakutan. Gadis ini memang lucu, Joonmyun benar-benar menyukainya. ”Astaga, kita sudah berteman selama ini dan kau masih saja berpikir aku akan melakukan sesuatu yang akan melukai, atau menjatuhkan dirimu. Geez, aku tersinggung…” dengan kekanakkan Joonmyun menjulurkan lidahnya.

   Tapi yang ada di otak Jaehee malah betapa pink-nya lidah itu, dan… rasanya kalau kita teruskan, isi otak Jaehee sudah melampaui batas usia tujuhbelas tahun. Dan salahkan pada Romeo & Juliet yang membuat otaknya tidak sesuci sebelum ia mendalami peran Juliet dan menonton video referensi untuk adegan ranjang.

   ”Memang kau ingin apa?” tanya Jaehee masih curiga. ”Kau kan sering menertawaiku, tentu saja aku punya hak untuk curiga, Kim Joonmyun-ssi.”

   ”Aaww, uri Jaehee benar-benar,” Joonmyun mencubit pipinya keras, mengabaikan pekik protes dari Jaehee yang terdengar seperti suara tikus yang mencicit. ”Seperti yang kau bilang tadi, katamu aktingku bagus.”

   Jaehee mengangguk, masih mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah, karena jujur saja, Joonmyun senang sekali mencubiti pipinya dengan gemas, yang baginya sangat menyedihkan. Ia punya sepupu laki-laki yang gemar mencubit pipinya. Jadi pastilah Joonmyun menganggap dirinya sebagai saudari perempuan saja, tidak lebih.

   ”Jadi kau mau minta apa? Traktir?”

   ”Anhi,” Joonmyun nampak berpikir lamat-lamat, ”Seperti yang tadi kau bilang, aktingku… menurutmu bagus?”

   ”Tapi itu benar.”

   ”Aku pernah bilang padamu kenapa aku ingin membantumu, salah satu alasannya karena kedua orangtuaku tidak begitu mendukung apa mimpiku, mereka hanya mendorongku untuk menjadi pianis sampai SMA, dan aku harus terjun ke dunia bisnis,” jelas Joonmyun panjang lebar, dan Jaehee menjadi cukup berkonsentrasi mendengarkannya. Baru saja ia berpikir bahwa ia tidak tahu banyak soal Joonmyun namun pria ini tiba-tiba saja bercerita mengenai dirinya dengan sendirinya.

   Tunggu, tunggu… bisnis?

   ”Tapi…” Jaehee mengerutkan dahinya, bingung. ”Bukankah kau… pianis? Maksudku, aku memang tidak bisa bermain piano, dan bukan orang yang ahli dalam musik, tapi… kau sangat berbakat dalam musik…”

   Joonmyun tersenyum lagi, ”Gomawo, pujianmu sangat berarti.” Lalu ia menghela napas, ”Tapi, ya begitulah… aku tidak keberatan meneruskan usaha keluargaku, tetapi sejujurnya aku punya banyak impian lain.”

   ”Hmm…” Jaehee mengangguk, bersimpati. Ia tahu betapa sulitnya meyakinkan ayahnya untuk dapat mengizinkannya terjun di dunia hiburan seperti ini, dan besok adalah hari penentuan dimana ia tak ingin ayahnya menyesal telah menyekolahkannya di sekolah seni. ”Lalu apa permintaanmu?” tanyanya penasaran setelah obrolan panjang lebar mereka mengenai keinginan.

   Joonmyun tiba-tiba tersenyum dan berdiri, mengulurkan tangannya yang ragu-ragu disambut Jaehee dan mereka berdua berhadapan. ”Would you grant my wish?”

   ”A…apa?” tanya Jaehee gugup.

   Joonmyun nyengir, ”To be a Romeo, agar aku bisa berakting sekali saja.” Mendadak, postur dan profil Joonmyun yang biasanya percaya diri, berubah menjadi seperti anak kecil pemalu yang ingin mengungkapkan keinginannya untuk dibelikan mainan mobil-mobilan baru pada orangtuanya.

   Jaehee jadi merasa iba.

   ”Of course, kau kan guruku, masa aku menolak? Biasanya juga berlatih bersamamu, kan?” tanya Jaehee balik.

   ”Ya tapi kan tidak di panggung. Kau beruntung memiliki kesempatan berdiri disini, disaksikan banyak orang besok.”

   Jaehee tersenyum miris dan mengangguk, ”Dan itu semua karena bantuanmu. Kalau begitu, kaja! Mau mulai darimana? Kita berperan seperti biasanya saja, atau semua dari awal sampai akhir kita lakukan?”

   ”Tentu saja dari awal sampai akhir.”

   ”Jinjja?!” Jaehee membelalakkan kedua matanya. Ia tak percaya Joonmyun mau melakukannya all out! Bukankah selama ini Joonmyun hanya berakting di bagian yang ada Julietnya saja? Karena ia membantu Jaehee saja, kan?

   Joonmyun mengangguk, ”Kau pikir aku tidak bisa?” tantang Joonmyun dengan mata berkilat-kilat jail.

   ”A…anhi, tapi… kau tahu dialognya? Kau tahu…?”

   Joonmyun melipat kedua tangannya, memiringkan kepalanya. ”Kenapa tidak kita coba saja, Jaehee-ya?”

   ”A…arasseo,”

 

*        *        *

Awalnya, Minseok datang kembali ke sekolah karena merasa khawatir dengan penampilannya besok. Ia tidak bisa duduk diam di rumahnya tanpa mengecek ulang naskah, takut ada yang terlupa, takut ada yang tertinggal. Keputusan Guru Han untuk membubarkan tim musikal Romeo & Juliet lebih awal justru semakin membuat Minseok gugup.

   Awalnya, Minseok kira, yang akan kembali ke sekolah hanya dirinya saja. Ia kira, yang memiliki demam panggung untuk acara sebesar ini hanya dia saja—mungkin yang lain juga, tetapi tidak separah sampai harus ke sekolah seperti dirinya.

   Dan tentu saja Minseok salah…

   Minseok mendorong pintu auditorium HHCC dan berniat menyalakan lampu yang menyorot ke bangku-bangku penonton, karena tebakannya auditorium akan sangat gelap. Tapi ia kaget melihat lampu panggung masih menyala, dan mendengar musik-musik—bukan musik biasa, tapi musik yang ia kenali sebagai soundtrack untuk pertunjukkan Romeo & Juliet besok. Minseok pikir, tim tata musik masih tinggal untuk mengecek persiapan besok, dan memang benar, ada Kim Joonmyun yang muncul dari sisi panggung. Baru mulut Minseok terbuka hendak menyapanya, saat ia mendengar Joonmyun berdialog.

   Berdialog.

   Logat English British yang digunakan di dalam naskah Romeo & Juliet yang Joonmyun lafalkan, amat sangat kental. Minseok terperangah di tempatnya sendiri. Cara Joonmyun bergerak, berbicara, dan bernyanyi! Wajahnya yang tampan, tersenyum dengan damai, dan sebagai laki-laki, sulit bagi Minseok untuk tidak mengagumi Joonmyun, damn!

   ”Say it’s true, there’s nothing like me and you… I’m not alone, tell me you feel it too…”—Jika tadi Minseok terkejut, kali ini Minseok benar-benar berpegangan pada kursi penonton terdekat. Ia kira Joonmyun hanya berakting sendirian saja, karena hendak mencoba-coba. Tapi???

   Jaehee?!

   Jaehee berputar dari sisi panggung yang lain sambil bernyanyi. Ia bahkan tidak menggunakan mikrofon kepala yang biasa mereka kenakan saat tampil, agar suara mereka terdengar hingga seluruh auditorium yang besar ini. Karena auditorium kini sunyi, maka Minseok dapat mendengar dengan jelas suara keduanya tanpa bantuan mikrofon.

   Ada dua buah film yang menurut Minseok, pemeran utamanya memiliki chemistry yang super hebat, sehingga ia yakin kedua aktris dan aktor tersebut akan berkencan segera setelah ia menyaksikan film tersebut. Yang pertama, Twilight, film yang diperankan oleh Kristen Stewart dan Robert Pattinson. Kedua, adalah The Amazing Spiderman, yang diperankan Andrew Garfield dan Emma Stone. Benar saja, setelah film tersebut ditayangkan, para pemeran langsung terjerat cinta lokasi, meskipun sekarang sudah kandas. Hollywood~

   Dan Minseok kini merasakannya!

   ”Mr Kim,”

   ”Kepala Sekolah,” Minseok menoleh dan mendapati Kepala Sekolah Jung berjalan ke arahnya dari dalam kegelapan. Ya, kegelapan. Entah dari mana Kepala Sekolahnya ini muncul begitu saja. Untung dia tidak berteriak. Karena, Kepala Sekolah Jung menempelkan telunjuk di bibirnya sambil mengedikkan kepala ke panggung.

   Minseok kembali menatap ke arah panggung.

   ”Bagaimana menurutmu, Mr Kim?”

   ”Me…mereka?”

   Kepala Sekolah Jung mengangguk, tangannya mengetuk-ngetuk kursi yang ada di depannya. ”Bagaimana akting mereka?”

   Minseok berdecak kagum. ”Saya tidak menyangka akting Kim Joonmyun-ssi sebagus ini, Kepala Sekolah. Dan… mereka saling mengenal?”

   Kepala Sekolah Jung tersenyum penuh arti.

   ”Saya tidak mengerti.” Minseok menggosokkan tangannya yang mendadak merinding. Kenapa banyak hal yang tidak masuk akal terjadi hari ini?

   Kepala Sekolah Jung tiba-tiba meletakkan tangannya di pundak Minseok. ”Mr Kim, bisa bicara sebentar? Kita keluar dari sini…”

 

*        *        *

D-Day

Kamar Ganti Auditorium

Hanlim Hall Convention Center

 

”Yang sudah sampai langsung ganti kostumnya, tim kostum akan mengepaskan pakaian kalian jika dirasa ada yang kebesaran, atau bahkan kekecilan.”

   ”Yang belum di make up, langsung make up!”

   ”Yang belum sarapan, Kepala Sekolah Jung sudah menyiapkan sarapan!”

   Jongdae mengembuskan napasnya melalui mulut dan menyaksikan bayangannya sendiri di depan kaca, ditengah-tengah kehirukpikukan persiapan penampilan teater musikal Romeo & Juliet. Hanlim Art School memiliki reputasi bagus diantara banyak sekolah seni di Korea Selatan, pertunjukan teater musikalnya selalu menghasilkan aktris-aktor musikal terbaik. Tidak hanya aktor dan aktris, pemeran pendukung, produser, sutradara, dan semua elemen dalam teater musikal ini bisa menjadi sukses hanya karena satu pertunjukan ini saja. Jongdae menggosokkan kedua tangannya dengan bersemangat.

   ”Wow,”

   Jongdae menoleh, dan tidak seperti dirinya yang percaya diri seperti sebelumnya. Wajahnya memerah. Tentu saja, selain karena gugup memikirkan penampilannya nanti, Jongdae juga gugup dengan pakaian ala-ala abad pertengahan berwarna merahnya.

   ”Harus kukatakan aku terkesan. Dan… woah, rambutmu jika tidak dibelah tengah sangat keren, Kim Jongdae-ssi.” Puji Baek Jinmi, yang mengenakan kemeja putih dan celana jins pinsil, serta sneakers yang pasti akan memudahkannya untuk bergerak kesana-kemari saat pertunjukan nanti.

   ”Terima kasih, Jinmi-ssi.” Jongdae merapikan rambutnya yang sudah di tata oleh tim penata rambut.

   ”Jangan diapa-apakan lagi!” larang Jinmi sambil menahan tangan Jongdae yang sudah bergerak untuk merebahkan poninya lagi. ”Tampan kok,” pujinya sambil memberi ibu jari. ”Dan ya ampun, tanganmu berkeringat.”

   ”Aku sangat gugup. Apa ini… normal, Jinmi-ssi?”

   Jinmi terkekeh, mengangguk. ”Normal, kok. Normal sekali malah… ini kan peran pertamamu di depan orang banyak. Tapi kau kan sering bernyanyi, harusnya kau baik-baik saja.” Jinmi membesarkan hati Jongdae.

   ”Ah, padahal peranku sangat kecil, maafkan aku sudah berlebihan.”

   ”Hey,” Jinmi menggelengkan kepalanya. ”Tidak ada peran kecil, peran besar. Semua peran sangat penting dan menentukan jalannya musikal ini, Jongdae-ssi. Kau sudah berusaha keras untuk menjadi Tybalt, halsuisseo! Seperti tadi yang kukatakan, kau kan biasa bernyanyi di depan orang banyak.”

   Jongdae mengangguk, senang. ”Gomawoyo, Jinmi-ssi.”

   ”Aku harus mengecek pemeran lainnya, good luck~” Jinmi pergi dan tiba-tiba saja, Kim Seolhyun dan Kim Jongin sudah ada di hadapan Jongdae sekarang. Jongdae tidak begitu memperhatikan sebelumnya, tapi sepertinya seluruh keluarga dan kerabat dekat para pemeran datang untuk memberikan dukungan.

   ”Jongdae-ya!” seru Seolhyun sambil tersenyum sumringah, membawakan buket bunga besar. ”Semoga berhasil ya~”

   Jongdae menerima buket dan menatap bunga-bunga tersebut dengan penuh terima kasih, ”Kalian… baik sekali. Kim Jongin, kemana saja kau selama ini, eoh? Kakimu sudah sembuh?!” tanya Jongdae heboh pada Jongin yang tersenyum sok cool, dan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana jinsnya.

   ”Tentu saja, aku kan harus menonton temanku berakting, walaupun aktingnya standar.”

   “YA!”

   Seolhyun terkikik dan buru-buru melerai, ”Jongin!” tegurnya sambil nyengir, gadis itu menyisipkan rambutnya dibalik telinga lagi dan menatap para pemeran yang tersebar di seluruh ruangan ganti dengan tatapan iri. ”Sayang sekali tahun ini aku tidak bisa tampil di festival musim semi,” sesalnya.

   ”Jangan khawatir, Cantik, masih ada festival tahunan,” bujuk Jongin juga menatap sekeliling dengan kurang nyaman. ”Oh iya, Seolhyun-ah, apa tidak sebaiknya kita duduk sekarang jika ingin dapat tempat yang enak?”

   ”Ah, iya benar juga…” gumam Seolhyun.

   Jongdae berdecak, ”Kau tidak mau bertemu Joonmyun? Eyy, kenapa kau masih bersikap seperti anak kecil, eoh? Temuilah dia… dia ada di ruang tata suara, walaupun dia tidak berakting tetapi ia memiliki posisi penting juga di pertunjukan ini.”

   “Ara,” sahut Jongin malas. ”Aku juga kan mendukung dia. Aku hanya masih sebal. Kaja, Seolhyun-ah, kita harus cari duduk…”

   Seolhyun mengangguk, mengacungkan kepalan tangannya pada Jongdae dan menepuk-nepuk pundaknya sebelum mengikuti Jongin yang terburu-buru keluar dari dalam kamar ganti. Sayang sekali, ketika Jongin dan Seolhyun baru saja keluar, Joonmyun masuk ke dalam kamar ganti menghampiri Jongdae.

 

*        *        *

”Hei, Jongin! Kau mau kemana?” Seolhyun mengernyitkan dahinya saat melihat Jongin mencari-cari seseorang setelah keluar dari kamar ganti para pemain di sisi panggung auditorium HHCC. Penonton sudah mulai mengisi bangku-bangku auditorium yang berundak semakin ke belakang di daerah pit, karena reputasi Hanlim sebagai sekolah seni yang menelurkan aktris-aktor musikal berbakat, tidak heran bukan hanya warga Hanlim dan keluarga sendiri yang datang untuk menyaksikan, melainkan orang-orang luar penikmat musikal juga. Sementara, Jongin tadi buru-buru keluar dari kamar ganti karena hendak mendapatkan spot bagus untuk menonton musikal, bukan? Kenapa dia malah berjalan semakin jauh ke belakang jika di barisan depan masih ada beberapa bangku kosong?

   Jongin berhenti mendadak dan menoleh ke belakang dengan salah tingkah, ”Ah, mianhae… aku mau ke kamar mandi, kau cari tempat duduk dan kabari aku nanti ya, Cantik. Bye~” buru-buru Jongin pergi meninggalkan Seolhyun yang menggeleng-geleng heran dengan kelakuan temannya, namun memutuskan untuk mengabaikan dan mencari tempat duduk untuk mereka berdua. Sebenarnya ia ingin bertemu Joonmyun juga, namun pria itu tidak terlihat sama sekali, jadi ya apa boleh buat.

To       : 1

          Dimana? Apa kau menonton musikal?

   Jongin menyelipkan ponselnya kembali ke dalam saku celana jinsnya sambil keluar dari dalam auditorium. Di luar, masih banyak orang-orang yang berbincang-bincang, mengomentari poster Romeo & Juliet yang terpasang di seluruh dinding auditorium, dan kaca-kaca HHCC. Dan juga melihat papan pengumuman yang menampilkan jadwal seluruh pertunjukan festival musim semi di Hanlim.

From   : 1

          Tentu saja. Aku sudah di dalam. Kau dimana?

   Jongin mengetikkan pesannya dengan cepat sebelum melangkah jauh meninggalkan pintu utama auditorium yang semakin dipenuhi oleh orang-orang yang ingin masuk.

To       : 1

          Aku diluar. Kutunggu di pintu tribun H!

   Balasan yang datang sangat cepat.

From   : 1

          Uhhh!!! Tunggu disana, jangan kemana-mana!

   Pintu masuk bagian tribun H, tidak pernah ramai. Bahkan jarang ada yang mau duduk di tribun bagian H, karena kurang mendapatkan pengelihatan yang bagus ke panggung. Tetapi jika Jongin ingin bertemu dengan gadis itu, ya tentu saja harus di…

   ”YA!”

   Jongin menoleh dan seringai licinnya keluar saat melihat gadis yang ia kirimi pesan sejak tadi tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya. Jongin heran, gadis itu selalu menggerutu, dan memasang tampang sok galak jika bertemu dengannya, padahal…

   ”Kau bilang mau menonton bersamaku!” seru Jongin sebelum gadis itu sempat mengomel.

   Si gadis memijit hidungnya dengan kedua tangannya, ”Aku datang kesini dengan kedua orangtuanya, Jongin, apa yang akan dikatakan mereka jika aku menontong denganmu? Lagipula…” gadis itu kembali memberengut dan melipat kedua tangannya, menatap Jongin tajam, tapi yang ditatap tidak merasa terintimidasi sama sekali. ”Kau dengan Seolhyun.”

   ”Kau tahu aku mau menonton bersamamu,” Jongin menarik tangan gadis itu dan membawanya ke dalam tribun H, si gadis dengan panik menoleh ke kanan dan ke kiri, takut ada yang melihat namun tidak melepaskan tangan Jongin.

   ”Tapi…”

   ”Kau selalu bersama pria itu!”

   Si gadis memutar matanya, ”Apa kau serius akan kesal karena hal itu?”

   ”Tentu,” seperti anak kecil, Jongin mendudukan gadis di kursi tribun H paling bawah, dan paling ujung, dan ia duduk disebelahnya.

   ”Tapi kau bersama Seolhyun juga, Jongin.”

   ”Sekarang aku bersamamu, titik. Ayolah, kau sudah janji mau nonton ini bersamaku, harusnya kau senang aku mau menyaksikan sahabatmu.”

   Hana menghela napas dan menyandarkan tubuhnya, ”Kalau Jaehee mencariku bagaimana, Jongin? Kau seperti anak kecil. Pinggangmu kan sudah sembuh, lalu kau mau apalagi?”

   ”Aku mau bersamamu, masa kau masih tidak mengerti?!”

   Hana hanya memutar kedua matanya, tidak menjawab namun Jongin tahu gadis itu menahan senyumannya. ”Tapi aku harus kembali, kau tahu itu, kan?”

   ”Lee Hana,” rengek Jongin.

   ”Jongin!” Hana menatap Jongin tajam, suaranya pun demikian.

   Jongin terpaksa mengalah dan cemberut.

*        *        *

   Joonmyun yang juga mengenakan kemeja putih yang digulung sedikit ke arah siku, dan jins biru muda. Sepertinya staff sengaja memakai dresscode yang sama, karena Jongdae ingat pakaian yang Jinmi kenakan tadi.

   ”Hai, semoga berhasil ya!” sapa Joonmyun sambil menepuk pundak sahabatnya tersebut. Kedua matanya kemudian melebar melihat buket bunga di tangan Jongdae. ”Woah kau dapat bunga, Jongdae-ya?”

   Jongdae tersenyum, ”Tadi Seolhyun dan Jongin kesini, mengucapkan semoga berhasil. Kau juga semoga berhasil ya,” ia menepuk balik lengan Joonmyun yang tertawa dan mengangguk. ”Aku benar-benar gugup.”

   ”Kau akan baik-baik saja, kau sudah berusaha keras.”

   Saat keduanya berbincang-bincang, mereka bisa merasakan suasana ruang ganti yang semula riuh karena obrolan para pemeran, staff, keluarga dan kerabat yang datang, kini berganti menjadi sedikit panik?

   ”Ada apa?” Jongdae menoleh ingin tahu.

   Joonmyun yang juga bersandar di meja rias menoleh ke arah ujung kamar ganti besar itu dan mendapati Guru Han, Kepala Sekolah Jung, Baek Jinmi, dan Park Chanyeol nampak sedikit panik dan membuat pemeran-pemeran lain, staff, bahkan keluarga dan kerabat ikut penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.

   ”Entahlah… sepertinya ada yang tidak beres,” gumam Joonmyun ikut tegang.

   Jinmi sedikit berlari melewati mereka dengan ponsel di telinganya seperti mencoba menghubungi seseorang. Guru Han terlihat meremas-remas kedua tangannya, dan Chanyeol menggunakan walkie talkie-nya.

   ”Ada apa ya?” suasana yang hingar bingar itu kini berubah menjadi sunyi, hanya suara Park Chanyeol yang memastikan seluruh lighting berfungsi.

   Solar dan Yixing muncul dari sisi panggung tempat Jinmi menghilang barusan. Ekspresi keduanya juga tidak baik.

   ”Solar, ada apa?” bisik Jongdae ingin tahun.

   Solar meremas kedua tangannya dan menggigit bibirnya, ”Sepertinya pertunjukan Romeo & Juliet terancam batal,”

   ”Wae?!”

   Hampir semua orang di kamar ganti menatap Jongdae dan Joonmyun yang berseru kaget barusan, namun Yixing yang biasanya bersikap kekanakan malah memelototi keduanya. Yixing juga tersenyum tidak enak pada orang-orang yang menatap mereka.

   ”Apa yang terjadi, Solar?” tanya Joonmyun lebih pelan dari sebelumnya, ia mulai panik sekarang. Bagaimana mungkin Romeo & Juliet ini akan dibatalkan? Apa yang terjadi? Bagaimana dengan… Jaehee?! Hanya itu yang ada dalam pikirannya sekarang. Ia juga lalu menatap Jongdae yang sedikit gemetaran. Meskipun Jongdae tidak menekuni ilmu akting, Joonmyun tahu betul betapa keras usaha Jongdae mempersiapkan perannya.

   Solar melirik ke arah kamar ganti dimana Jinmi menghilang dengan membawa telepon genggamnya tadi, lalu menoleh kembali pada Joonmyun, Yixing (yang sepertinya sudah tahu, karena wajahnya masam), dan Jongdae.

   ”Sepertinya Kim Minseok tidak datang.” Jawab Solar pelan. ”Jinmi-ssi sedang panik menghubunginya.”

   Joonmyun dan Jongdae harus menahan mulut mereka untuk tidak berseru seperti tadi. Yixing menghela napasnya dan mengecek arlojinya, ”Ini buruk! Aku tidak tahu apa yang pria itu pikirkan sampai belum datang juga, atau memutuskan tidak datang.”

   ”Apa sesuatu terjadi padanya?” tanya Jongdae cemas.

   ”Jika memang sesuatu terjadi padanya… entahlah, tapi kalau dia memang sengaja tidak datang, kupatahkan lehernya!” geram Yixing.

   Joonmyun menoleh ke arah Kepala Sekolah Jung yang wajahnya tanpa senyuman sama sekali, berkali-kali ia mengecek arlojinya, dan Guru Han yang terlihat pucat pasi. Saat itu juga, pikiran Joonmyun melayang pada Jaehee.

   ”Jaehee? Dia ada?”

   Yixing mengangkat bahu, ”Aku pun belum melihatnya hari ini, tetapi sepertinya dia ada. Tak ada yang mencarinya seperti mencari Minseok.”

   ”Kuharap Minseok hanya terlambat datang,” Joonmyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jinsnya. Jantungnya mulai berdebar-debar tidak karuan, cemas. Ia harus mengalihkan pikirannya, semua pasti baik-baik saja, sugestinya. ”Aku akan mengecek musik sekali lagi. Kalian mau ikut?” tawarnya, tetapi Solar nampak cemas dan Yixing masih nampak kesal. Hanya Jongdae yang mengangguk, mempersilakannya untuk pergi dari situ.

   Joonmyun menuruni undakan menuju kamar ganti yang digunakan sebagai ruang tata musik, dan menemukan Baek Jinmi tengah menelepon seseorang dan dari suaranya yang bergetar, Joonmyun yakin sesuatu yang buruk tengah terjadi.

   Tiba-tiba saja Jinmi menghela napas dan menurunkan benda tipis tersebut dari telinganya sambil memijit pelipisnya dan berbalik, kedua matanya melebar dengan kaget saat mendapati ada Joonmyun disana.

   ”Joonmyun-ssi,”

   ”A-apa yang terjadi, Jinmi-ssi? Benarkah yang kudengar dari Solar… Minseok-ssi tidak datang hari ini? Dia… dia hanya terlambat kan?” dari suara Joonmyun yang bergetar, Jinmi tahu bahwa pria itu sama gugup dan cemasnya seperti dia, sampai-sampai Joonmyun lupa bersikap dingin.

   Jinmi memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jinsnya dengan lemas dan menggeleng. ”Solar benar. Minseok tidak akan bisa datang… sepertinya Romeo & Juliet tidak akan jadi ditampilkan,” ia tersenyum sedih, kedua matanya berkaca-kaca.

   ”Ta…tapi kenapa?!”

   ”Kim Minseok-ssi masuk rumah sakit semalam, keracunan makanan. Ia tidak boleh keluar rumah sakit karena sepertinya keadaannya cukup parah. Orangtuanya sendiri yang menghubungiku barusan…” jawab Jinmi sambil mengusap matanya. ”A…aku hanya… astaga,” ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha mengendalikan diri. ”Bagaimana… memberitahu mereka semua… kalau pekerjaan mereka tidak jadi ditampilkan? Hyesoo dan timnya… mereka sudah berusaha keras… seluruh pemain… kalian, penata musik…” dan Baek Jinmi terisak-isak di hadapan Joonmyun.

   Joonmyun perlahan-lahan mendekat dengan ragu ke arah Jinmi, mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk bahu Jinmi.

   ”Astaga, kenapa ini harus terjadi padaku? Pada kita semua?” isaknya sedih.

   ”Apa… apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk meneruskan pementasannya, Jinmi-ssi?” tanya Joonmyun hati-hati.

   Jinmi mendongak, wajah bersimbah air mata. ”Tak ada lagi yang bisa menggantikan Min…seok…” Jinmi terdiam menatap wajah Joonmyun dalam-dalam. ”Joonmyun-ssi? A…apa kau… astaga! Benar! Kau!”

   Joonmyun meneguk ludahnya dalam-dalam.

   ”Joonmyun-ssi, kau… kau bisa menggantikan Minseok. Benar, kau bisa menggantikannya… kau bisa!” ekspresi Jinmi yang tadinya sedih kini berganti menjadi bersemangat. Ia buru-buru menghapus air matanya. ”Kau… kau bisa, kan? Kumohon…”

   ”Aku… aku bisa,” ujar Joonmyun ragu-ragu.

   ”Kalau begitu, tolong gantikan Minseok, jebal butakhaeyo…”

   Joonmyun menggigit bibirnya terlihat ragu-ragu. Matanya beranjak dari sosok memohon Baek Jinmi, sang sutradara yang bekerja keras membangun karakter para pemeran. Ia mengingat semua orang yang bekerja untuk Romeo & Juliet. Tim tata musiknya, yang bekerja tanpa lelah mempersiapkan musik di tahun akhir mereka agar mereka bisa meraih mimpi mereka sebagai musisi.

   Tim tata panggung, yang bekerja dengan kreativitas mereka membangun kembali masa abad pertengahan agar sesuai dengan skrip asli Romeo & Juliet. Tim lighting yang sudah memanjat-manjat panggung, berusaha memantulkan cahaya yang indah bagi para pemain. Dan tentu saja para pemain.

   Jongdae yang berusaha keras belajar akting. Dan tentu saja… Jaehee, yang bersusah payah membangun kepercayaan dirinya, melewati berbagai seleksi, dan rintangan, hingga akhirnya berhasil.

   Joonmyun masih ingat jelas betapa bahagianya gadis itu semalam di tengah panggung, membayangkan hari yang ia tunggu-tunggu tiba.

   ”Aku akan jadi Romeo… tapi dengan satu syarat…”

 

*        *        *

Jinmi masuk ke kamar ganti kembali, dan wajahnya seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya. Yixing, Solar, dan Jongdae yang masih berdiri bersama-sama dan saling berbicara dengan nada pelan dan cemas.

   ”Ayo semua, siap-siap! Kita akan tampil dalam waktu…” Jinmi diam sejenak dan melirik arlojinya, ”Tiga puluh menit lagi.”

   ”Ne?!” kali ini Yixing yang memekik.

   Chanyeol yang berdiri di ujung ruangan membelalak, namun karena ia memang sejak tadi berusaha agar menjaga para pemeran tidak panik, maka ia meneruskan memberikan pengarahan pada seluruh tim. Hyesoo mengusap matanya dan tersenyum lega, usahanya dan usaha timnya tidak jadi terbuang sia-sia. Hanya Kepala Sekolah Jung dan Guru Han yang masih terlihat bingung, sementara para pemain kembali bersiap-siap karena Chanyeol sudah mulai mengomandoi mereka untuk mempercepat persiapan.

   ”A…apa yang terjadi, Miss Baek?” tanya Guru Han sambil buru-buru menghampiri Jinmi.

   ”Semua sudah teratasi, Guru Han dan Kepala Sekolah tenang saja, semua akan berjalan dengan lancar. Serahkan pada kami,” jawab Jinmi dengan senyum penuh keyakinan. Guru Han nampak ingin terus bertanya, namun ia tahu Jinmi sudah harus bersiap-siap juga.

   ”Baiklah, semoga sukses ya.” Guru Han tersenyum, Kepala Sekolah Jung menepuk bahu Jinmi dan berkata, ”Kuserahkan padamu.”

   ”Ne, yeolshimihageseumnida.” Jinmi membungkuk dalam-dalam.

   Yixing mendekatinya begitu Guru Han dan Kepala Sekolah Jung meninggalkan kamar ganti. ”Jadi?”

   ”Tenang saja, Yixing-ah, semua akan berjalan lancar. Kalian bisa lanjutkan persiapan kalian, oke?” kata Jinmi sambil tersenyum dan menoleh sedikit pada Jongdae yang memperhatikan. ”Ayo, Jongdae-ssi, kau juga harus bersiap-siap.”

   ”Ah… ne,” wajah Jongdae memerah dan buru-buru menghadap kaca untuk mempersiapkan diri kembali.

   Jinmi meninggalkan Jongdae yang membuka naskahnya kembali sambil merapikan rambut dan pakaiannya, Jinmi mendekati Chanyeol. ”Yeol-ah,”

   ”Yap?”

   ”Jangan ganggu para pemeran utama di kamar ganti sampai tiba giliran mereka, oke?”

   Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, namun senyuman jail muncul di wajahnya yang tampan. ”Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, Baek Jinmi, tapi aku rasa aku akan amat sangat menyukainya.”

   Jinmi tersenyum dan mengangkat bahu.

   ”Baiklah, tidak ada yang akan menganggu para pemeran utama, meski aku penasaran siapa yang jadi Romeo-nya,” Chanyeol merendahkan suaranya di bagian akhir, dan Jinmi memukul bahunya main-main sambil melewatinya.

 

*        *        *

Oh my God,” pekik Jaehee sambil menatap pantulan wanita cantik di cermin besar. Wanita cantik itu memiliki rambut panjang indah yang yang dibuat bergelombang dengan cantik, mengenakan gaun putih panjang yang berhenti diatas mata kakinya. Gaun tersebut mengerut di bagian pinggang dan dada, sehingga meski Jaehee malu, ia harus mengakui bahwa belahan dadanya nampak penuh dan… entahlah? Menarik? Jaehee buru-buru menggelengkan kepalanya, untuk menghentikan otaknya berpikir yang tidak-tidak. Pakaian Juliet memang selalu seperti ini. Ia mengangkat kedua tangannya, dan kain gaun yang menutupi kedua tangannya terjatuh dengan cantik. Jaehee juga harus mengacungkan jempol pada gadis yang merias wajahnya dengan… entahlah ia terlihat berbeda.

   Tok. Tok. Tok.

   ”Masuk,” kata Jaehee sambil berbalik, dan terkejut mendapati Joonmyun dalam stelan kemeja putih yang digulung hingga siku dan denim biru.

   Joonmyun baru saja membuka mulutnya untuk menyapa Jaehee saat ia terpana melihat penampilan gadis itu. Seharusnya, Joonmyun tidak boleh menatap Jaehee dari ujung rambut hingga ujung kaki, namun ia tidak bisa menahan diri. Dia tahu Jaehee cantik, tapi hari ini… Jaehee benar-benar menjadi wanita paling cantik di matanya.

   Rambutnya indah, dan astaga bibirnya yang berwarna merah muda itu.

   ”Woah, kau…”

   Wajah Jaehee sudah memerah, bahkan mungkin kini ia sudah berubah menjadi kepiting rebus karena rasanya seluruh bagian tubuhnya menunjukkan bahwa ia tengah malu. ”A…apa aku… seburuk itu?”

   ”Astaga, tentu saja tidak!” seru Joonmyun buru-buru sambil menutup pintu. ”Kau… kau sangat cantik.” Kenapa kau harus terbata-bata Kim Joonmyun, kau tidak pernah besikap seperti ini sebelumnya!

   ”Gomawo,” Jaehee tersipu. ”Tim make up sangat hebat memang.” Ia menyelipkan rambut bergelombangnya dibelakang telinga dan Joonmyun bisa melihat rona merah bak apel yang ada di kedua puncak pipinya. Jaehee kemudian menatap Joonmyun ingin tahu, ”Kau mau mengucapkan semoga berhasil padaku?”

   Joonmyun nampak salah tingkah. ”Te…tentu saja. Kau harus berha…sil di depan nanti, oke?” bisiknya khawatir, entah kenapa ia jadi jauh lebih gugup sekarang. Ia tidak berani mengatakan pada Jaehee bahwa ialah yang akan menjadi Romeo, alih-alih Minseok yang harus dibawa ke rumah sakit hari ini.

   ”Kau baik sekali,” Jaehee mengerucutkan bibirnya yang dipoles lipgloss pink. Dan kepala Joonmyun semakin kosong, karena bagaimana mungkin Jaehee bisa begitu cantik, tapi menggemaskan di sisi lain, dan gaun itu!

   Kenapa Joonmyun merasa gaun itu ilegal dipakai Jaehee?! Siapa sih yang membuat gaun itu? Joonmyun tahu Jaehee memiliki figur tubuh yang indah, meski mungil. Tetapi, selama ini Joonmyun tidak pernah memikirkannya, dan merasa entahlah… terganggu? Anhi, mana mungkin! Tapi…

   ”Joonmyun-ah?”

   ”Eh?”

   ”Kenapa melamun?” Jaehee dengan kedua mata besarnya yang bulat menatapnya dengan ingin tahu.

   Joonmyun tertawa tak enak, karena sumpah dia baru kali ini salah tingkah di hadapan seorang wanita, dan lebih parahnya wanita yang membuatnya salah tingkah benar-benar tidak merasa sama sekali bahwa seluruh eksistensinya telah membuat Joonmyun membatu. Damn, Bae Joohyun saja tidak pernah membuatnya seperti ini!

   ”Entahlah, mungkin karena sebentar lagi kita akan mulai,” ujarnya menunduk dan berusaha memelankan detak jantungnya yang memutuskan marathon di saat-saat genting seperti ini. Dan Jaehee terkekeh, malah mendekat dan menepuk-nepuk kepalanya (ya tinggi Jaehee bertambah karena ia memakai sepatu dengan hak yang cukup tinggi).

   ”Kau selalu menyemangatiku jika aku tidak percaya diri. Halsuisseo, Joonmyun-ah. Kenapa jadi kau yang gugup sekarang.”

   Wajah Joonmyun memerah.

   ”Ehem,” Joonmyun akhirnya tertawa, berusaha rileks.

   Tok. Tok. Tok.

   ”Lima belas menit lagi ya,”

   Jaehee dan Joonmyun menoleh, namun pintu tidak dibuka, hanya suara saja yang menandakan Chanyeol ada di depan kamar ganti, sebelum langkah-langkah kakinya meninggalkan kamar ganti Jaehee.

   ”Aku harus pergi,” Joonmyun pamit. ”Semoga berhasil, Jaehee-ya.”

   ”Ne, kau juga.” Jawab Jaehee riang sambil melambaikan tangannya ke arah Joonmyun yang menghilang tanpa menoleh lagi ke belakang. Jaehee hanya dapat melihat kedua telinga pria tampan itu. ”Omo, dia pastilah gugup juga. Aku harap setelah Romeo & Juliet ini kami masih bisa berteman dengan baik.” Jaehee menghela napas dalam-dalam dan melipat kedua tangannya sebelum memeriksa bayangan dirinya lagi di cermin.

 

*        *        *

Tok. Tok. Tok.

   ”Jaehee-ya,” kepala Chanyeol muncul ke dalam kamar ganti Jaehee, Jaehee yang duduk sambil membaca naskahnya mendongak. ”Showtime! Lima menit lagi adeganmu…”

   Jaehee mengembuskan napas dengan mulutnya, tak bisa dihindari ia juga tegang. Tapi ia juga bersemangat sekali. Lorong kamar ganti sudah sepi, para pemeran kini sudah berkumpul di kamar ganti yang terletak di sisi panggung, menunggu giliran mereka untuk tampil. Semuanya tersenyum menatap Jaehee yang berjalan dengan setengah menunduk karena malu diperhatikan oleh para pemeran lain.

   ”Halsuisseo.”

   ”Jaehee-ya, hwaiting!”

   Jaehee bertemu Jinmi yang tersenyum di samping panggung dengan clip board di tangan, dan walkie talkie di tangan yang lain. ”Rise and shine, Oh Jaehee~” ujarnya sambil menyingkap tirai yang menutupi undakan tangga ke panggung, mempersilakan Jaehee naik untuk memulai adegan pertamanya, yang akan disaksikan oleh seluruh dunia.

   ”JULIET! JULIET!”

   Jaehee menghitung hingga angka tiga, dan barulah ia setengah berlari ke tengah panggung, bicara pada gadis yang kini berperan sebagai Ibu dan Susternya yang berteriak-teriak memanggil dirinya.

   ”Madam I’m here, what is your will?” tanya Jaehee dengan napas memburu, karena berlari dan karena ia memang harus berlari.

   Secara keseluruhan, Jaehee percaya diri untuk mengatakan adegan pertamanya berjalan sama lancarnya seperti latihan. Ia juga bisa mendengar decak kagum dari para penonton, yang untuk pertama kalinya Jaehee saksikan begitu banyak dan membludak hingga yang paling atas dan paling belakang sedikit berdiri untuk benar-benar menyaksikan adegan di atas panggung. Ia ingin mencari kedua orangtuanya, Hana, dan Joon yang suaranya terdengar tapi wujudnya tak terlihat, tapi memutuskan itu bisa menunggu sembari Jaehee kembali ke balik panggung saat scene dimana ia akan bertemu dengan Minseok untuk pertamakalinya. Hyesoo menyerahkan topeng putih cantik pada Jaehee yang membawanya naik ke atas, mengikuti para pemeran Lord Capulet, Lady Capulet, Suster, dan Jongdae yang berperan sebagai sepupunya Tybalt. Jaehee bisa melihat Minseok di sisi lain panggung, juga menggunakan topeng bersama para pemeran Benvolio, dan Mercutio di scene pesta topeng yang diadakan oleh Lord Capulet.

   Jaehee berdiri di sisi Jongdae, memperhatikan pemeran ayahnya mengucapkan sambutan atas kedatangan para tamu di pesta ini dan meminta mereka untuk menikmatinya. Kemudian Jaehee harus berdansa dengan pemeran Paris setelah Lord Capulet dan Lady Capulet memaksanya sebagai Juliet untuk melakukan pendekatan dengan pria yang dikenal sebagai bujangan nomor satu di kota Verona tersebut.

   Hingga akhirnya adegan itu tiba. Saat Romeo yang mengenakan topeng, menarik tangannya dengan lembut dan set panggung dipindahkan sedemikian rupa, hingga kini panggung hanya diisi oleh Minseok dan Jaehee saja.

   Minesok meraih tangan Jaehee kembali dan mengecupnya, meski rasanya familiar Jaehee mengabaikannya dan tersenyum malu atas gesturnya.

   “If I profane with my unworthiest hand This holy shrine, the gentle sin is this:My lips, two blushing pilgrims, ready stand To smooth that rough touch with a tender kiss.” (Tanganmu seperti tempat suci yang sepertinya tanganku tidak pantas untuk menyentuhnya. Jika kau merasa tidak nyaman karena sentuhan tanganku, bibirku disini ada sebagai peziarah yang akan membuatmu merasa lebih baik dengan kecupan).

   Well, suara ini…

   Minseok membuka topengnya, dan kedua mata Jaehee melebar kaget saat melihat bahwa sebenarnya, bukan Minseok yang ada disana.

   Joonmyun, dengan dua mata cokelatnya, menatapnya lurus.

   ”J…Joonmyun?” bisik Jaehee kaget.

-Part XII Keutt-

Hola~

Nulis ini cekikikan sendiri, mudah-mudahan kalian ikut terbawa indahnya bunga-bunga ya~ banyak cinta bermekaran di part ini, sudah mulai ada tanda-tanda banyak pasangan /?/ hayo main tebak-tebakan, ada berapa pasang yang lagi jatuh cinta?

Akhirnya FF ini mulai berjalan ke tengah cerita, mudah-mudahan lancar terus sampai penghabisan ya. Jangan lupa komennya, karena komen kalian itu semangat dan motivasi untuk aku nulis. Oh iya, untuk yang merasa udah memenuhi syarat untuk dapat password, boleh langsung email ke aku ya di jjstory.pw@gmail.com, pasti dibales kalo dari situ…

sampai jumpa di part berikutnya dan di [IM]PERFECTION ya~

XoXo

Neez,

 

80 responses to “ALL I ASK [PART XII] — by Neez

  1. yeaayyy akhirnya joonmyun jd romeo nya jae hee sampai kaget gitu liat joonmyun jd romeonya
    gimana reaksi ortu mereka y ? hmmm moga aja g ada perang antar keluarga ….
    xiumin g sakit kan cuma pura2 , pasti kepala sklh jung ngomong sesuatu ke xiumin
    kasian juga sih xiumin udah capek2 latihan g jd pentas tp gppa lah yg penting kan joonmyun jd peran romeo nya
    waaahhh g nyangka jong in sm hana seakrab itu , mereka pacaran kah ? kpn jadian nya ?pdhl mereka setiap ketemu berantem mulu udah kayak tom and jerry
    tp seneng juga sih kalo jong in sm hana
    aduuuuuuhhhhh kakak jd penasaran sm lanjutan critanya

  2. Finally aku ketinggalan banyak part wkwk. Kak ya ampun ini lgsg loncat aja kesini,kangen sama ff ini astaga>< Lanjutkan ya kak~

  3. Kenapa setelah semalam minseok bicara dg kepala sekolah jung dia langsung keracunan makanan?? Apa yg mereka bicarakan?? Apa minseok benar2 keracunan makanan atau itu hanya skenario kepsek jung biar joonmyun bisa jadi main cast buat pertunjukan???
    Banyak bgt oart yg bikin penasaran. Aku juga udah g sabar liat reaksi kedua keluarga kalau tau jaehee dan joonmyun berada dalam satu panggung pertunjukan dan menjadi pasangan.
    Author mo nanya itu yg disuruh kirim email yg belum dpt password chapter sebelumnya apa yg pengen dapat pw buat chapter2 selanjutnya?????

  4. Ok mari main trbak-tebakan… yg prtama wth!! Jongin-hana… njirrr mrka pcran gtu??? O ya ampun.. ni otg 2 memang.. hahahha
    Yg kdua tntu sja jahee-junmyeon.. ceileh udah mulai nmbuh cinta di hati junmyeon..
    Dn heol… aku malah brpikir jongdae suka sma baek jimin… sang sutradara.. ok aku nunggu bgt part slnjutnya.. fighting..

  5. Woah daebak part ini. Semua momen di part ini sangat suprising, di luar dugaan Joonmyun yg menggantikan Minseok. But finally my wish is granting, he becomes the actor. Tapi apakah orang tua Joonmyun akan memarahi atau justru mendukungnya? Selain itu, ternyata Jongin have special relationship with Hana.
    Aku penasaran awal mula hubungan mereka. So aku sangat tunggu chapter selanjutnya and keep fighting!

  6. omg!!! di awal sempet ngira junmyun yg jd remeo tp trnyat minseokk dan d akhir ternytaaa bnerrr junmyun yg jd romeoooo tnp d sangkaaaa2 >< aaakkk g sabar liattt pertunjukann merekaaa.

    dan astaga hahahaha hana jongin wkkw trnyta merek sudah sedekat ituuu hihihi..
    pasangan yg jtuh cinta: junhee, kaina, chen jinmi?

  7. Awwwww…ini cekikik udah mirip kunti. Sumpaaahhh,,sweetu bangett. Aku curiga sm kepsek jung pas ngajak bicara minsoek, jgn2 dia yg ngracun minsoek biar masuk rs.wkkkk semacam kongkalikong gitu.
    Itu si jong in maksudnya gmana yak sama hana?ngumpet2 segala, pdhl dia sndiri yg kena kibul duluan.

  8. gak nyangka banget apa yg terjadi d part ini… wooaaa.. daebak…

    ini yg memang aku inginkan dr awal, joonmyun la yg jd romeo ny… wahh… senang nya hatiku..
    tp knp minseok tiba2 mmbatalkn diri, ap benar dia sakit? jd penasaran ap yg d bicarakan minseok sm kepala sekolah jung.

    gak hanya jaehee yg kaget joonmyun jd romeo.. pasti semuanya.. wah gimana ya reaksi org tua mrk.. bakalan panas ini..
    kepala sekolah jung mah pastii tenang2 aja. atau.. ini emang rencana nya ckkk…

    heoolll.. daebak.. jongin hana.. mereka uda jadian ni.. gimana proses nya…
    ahh… lucunya liat hub’an mrk yg saling backstreet ini..

    hmmm… ad brp pasang ya.. selain joonmyun jaehee, jongin hana.. kayak ny ad lg deh…

    sumpah kak part ini keren banget…

  9. oh my god. ini kece asli suka suka sukaa.. udh keduanya sama2 ga peka apaa.. uhh.. di kira permintaan junmyeon ‘pacaran’ eh taunya minta jd romeo ini abang..
    ciee mukanya mateng.. segitu terkesimanya ini abang liat jaehee yg luar biasa cantiknya sampe gagap gitu haha😄
    dan akhirnya terkabul.. romeonya jd junmyeon huahhh.. entahlah berasa histeris sendiri ini.. udh kaya org gila senyum2 + gregetan sendiri.. tp apaan ya syarat junmyeon penasaran.. apa cuman ‘pemeran utama ga boleh di ganggu’ itu aja?? kayanya ada yg lain..
    jaehee sampe kaget gitu minseok berubah jd junmyeon.. tp gakan buat mereka ngeblank atau jd awkward moment ntarnyaa.. berharap aja lancar.. fighting..
    kalo junmyeon jd romeo terus itu keluarga mereka gimana? udh ini perang dunia kedua lah jd..
    tp minseok ko bisa keracunan makanan yaa? berasa ada yg salah sama ga kehadiran minseok.. moga aja ga di sengaja..
    mulai bermunculan couple2annya..
    jongin-Hana kalian tuh yaa lucu bgt.. pengen tabok haha .v
    ini masih otw tengah cerita udin kece gini..apalg konflik..
    okee sekian kealayannya. semangat terus.. goof luck kaa 😀

  10. sungguh gak nyangka kalo akhirnya yang jadi pemeran romeo nya itu joonmyun hahahaha seneng sihhh agak kalhwatir nanti pasti kan orangtua jaehee dan joonmyun bakalan datang. dan nanti mereka tau kalo anak mereka dipasangin untuk meranin juliet sama romeo mah berabe ahahahaha

    dan yang buat aku kaget banget itu hana sama jongin. wtf sejak kapan mereka jadi dekat kaya gitu???😂😂 and kalo gak salah tebak mereka kayak udah pacaran gitu. bener gak aih unnie? hhahaha

    okayy next nya pokoknya ditunggu

  11. Syarat apa yg diajuin junmyeon?? Jaehee gatau gitu kalo dia yg gantiin minseok?
    Woahh, kalo junmyeon yg jadi romeonya, para orangtua oh-kim gimana reaksinya?? Pasti abis ini ditentang abis2an:/
    Menuju klimaks yah eonn, siap2 hati dehh \menguras hati eonn/ wkwkwk

  12. kenapa joonmyun tidak memberi tau kalau dia yang akan enjadi romeo? imbasnya, jaehee jadi kaget kan? joonmyun, joonmyun.😀 iya, aku penasaran, agaimana reaksi kedua orangtuanya nanti ya? *tambah penasaran.
    semangat thor, buatngelanjutin episod selanjutnya😀 hehe

  13. Daebak!! Aku gregetan bangeeet Kak Neez, aduuh ceritamu iniiiii…. Bingung mau komen apalagi pokoknya jempols!! Semangat yaa kak, sangat sangat ditunggu chapter 13 nyaaa

  14. Kayanya minseok gak bener2 keracunan makanan deh, kemaren malem nya dia ngomong sesuatu kan sm kepala sekolah?? Jaehee kaget banget itu kayanya kkk

  15. Pingback: ALL I ASK [PART XIII] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. akhirnya..joonmyun yg jadi romeonya, yeayyyyyyyy ^^
    tapi..itu minseok nya bener2 sakit ato gimana ya?
    dan..jongin sm hana lucuu juga wkwkwk, ditunggu kelanjutannya🙂

  17. OMG kemana aja aku masa kelewatan part ini😂😂😂😂😂
    Finally they meet each other on the stage kyaaaaaa makin menghayati ini mah :”)
    CIEEE KAINA UDAH RESMI NIH AWWWW

  18. Pingback: ALL I ASK [PART XIV] — by Neez | SAY KOREAN FANFICTION·

  19. Hore,. Akhirnya mereka bisa jd romeo juliet benran di panggung.. Penasaran syarat nya joongmyun apa pke topeng terus ya selama di pangguang?

  20. ahhhhhh astaga aku seneng banget, trs trs trss itu joonmyun kasih syarat apa kak?? , duh aku penasaran gimana perasaan nya jaeheeee seneng ato gimana ternyata takdir 😂😂 berpihak kepada mereka, so apakah orang tua kedua ny lihat mereka akting 😂😂 tunggu saja nanti aku penasaran

  21. INI PASTI KEPALA SEKOLAH SEKONGKOL SAMA MINSEOK!!!! OH MYYY AKU KIRA GAK BAKAL MUNGKIN JOONMYEON JADI ROMEO DAN TERNYATAAAA 😍😍😍😍😍
    AKKKKKKKK SENENG BANGEETTTTT
    PENASARAN GIMANA MEREKA BAKAL ACTING 😍😍😍😍
    LANJUT YA KAK 💞💞💞

  22. SO DAMN FUCKIN CRAZY!😀 kerreeen bgt di part ini_ smpe2 rsax smw komen utk tiap adegan ga bisa dibahas satu-satu. Jaehee….. Joonmyun…… How lucky You are….. Aaah…! aku g bisa byagkan dlm pementasan sebesar itu terancam btal! klo q jd Jinmi bisa stress 3 bulan Thor… dan kamu Joonmyun,bner2 jd dewa penyelamat bwt smw org! pgen komen pnjg tp g bs diungkapin smw_ msih trheran2 ap yg sbnrnya dibicarakn KepSek dg Minseok_n g ykin dy bneran krcunan mknn._Dtgu aj lh smw klnjtn crita LUAR BIASA ini!😀

  23. Astagah. Smpe kepala sekolahnya sm Minseok ikutan sekongkol buat jadiin junmyeon romeo. Wkw. Ak ngebayangin smpe senyum2 sndr. Btw gmn reaksi orgtua jaehee sm temen2 junmyeon ya. Wkw. Smgt kak nulisnya^^ yehet!

  24. Aku juga senyum senyum sendiri baca part ini hihi setelah meluangkan waktu pagi hariku kesampaian juga baca part ini hihi ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s